Anda di halaman 1dari 4

FISIOLOGI DARAH DAN SISTEM KERJA JANTUNG PADA DOC ( Day Old Chicken )

Fitriyani (3415081985), Rani Dwi Destiyani (3415083250),


Tyas Putri Utami (3415083255) , Rosid Marwanto (3415083259)
Mahasiswa Program Pendidikan Biologi Reguler 2008

Abstrak
The purpose of this research is to know the structure of erythrocyte and leucocyte of DOC, the
influence of hypo and hypertonic liquid to the size of blood, the correlation between the DOC
weight and heart beat, the temperature influence to heart beat, and the anorganic-salt influence
to heart beat. This research was held at 8th November 2010. The research was conducted by
observation of the structure of erythrocyte and leucocyte of DOC and the influence of hypo and
hypertonic liquid to the size of blood used microscope. The result of this research shows that
there are different among venule, capiler and arteriol, the velocity of blood flow is influenced by
mechanic and temperature stimulus, and there are heme and fibrin in blood.
Keyword :, , fibrin, frog, hemin, microsirculation, velocity of blood flow

Pendahuluan Jantung aves terdiri dari empat ruang—atrium


kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri).
Secara umum, istilah darah dipakai untuk
Jantung dilindungi oleh endokardium dan tidak
menjelaskan fluida (cairan) yang beredar
memiliki sinus venosus, ruang yang seharusnya
(bersirkulasi) dalam tubuh yang berfungsi untuk
menjadi sinus venosus bersatu dengan atrium
mengangkut gas, nutrien dan bahan sisa
kanan. Ventrikel kanan sebagian mengelilingi
metabolisme. Pada vertebrata darah beredar dalam
ventrikel kiri, bentuknya crescentic, bagian
pembuluh darah, karena itu peredarannya disebut
belakang dari rongga sirkuler dalam potongan
peredaran darah tertutup, sedangkan istilah
transversal.
hemolimfe dipakai untuk menjelaskan cairan yang
Nodus SA (Sinoatrial) menentukan tempo untuk
bersirkulasi pada peredaran darah terbuka.
keseluruhan jantung, tetapi pacu jantung itu sendiri
Darah manusia mengandung komponen 1). Plasma
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dua kumpulan
darah terdiri dari protein plasma dan zat terlarut
saraf yang saling berlawanan satu sama lain
lain, 2). Elemen-elemen seluler yang terdiri dari sel
bekerja dalam mengatur dan menyesuaikan denyut
darah merah (eritrosit), sel drah putih (leukosit), dan
jantung. Pacu jantung juga dikontrol oleh hormon
keping darah (trombosit).
yang disekresikan ke dalam darah oleh kelenjar.
Tonisitas larutan bergantung sebagian pada
Suhu tubuh adalah faktor lain yang menentukan
konsentrasi zat terlarut yang tidak dapat melintasi
pacu jantung. Peningkatan suhu sebesar 10C saja
membran, relatif terhadap yang terdapat dalam sel.
akan meningkatkan denyut jantung sekitar 10
Jika sel hewan direndam dalam lingkungan yang
denyut per menit.
isotonik terhadap sel, tidak akan ada pergerakan
Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung
netto air melintasi membran plasma. Dalam
antara lain; usia, ukuran tubuh, posisi tubuh, latihan
lingkungan isotonik, volume sel hewan stabil. Pada
fisik, dan faktor lain seperti kerja otot, suhu tubuh,
larutan hipertonik, sel akan kehilangan air ke
ketinggian tempat dan suhu lingkungan. Hewan
lingkungan, mengerut dan mungkin mati. Jika
yang kecil memiliki kecepatan denyut jantung lebih
menempatkan sel pada larutan yang hipotonik
besar dibandingkan dengan hewan yang bertubuh
terhadap sel, air akan memasuki sel lebih cepat
lebih besar. Kecepatan denyut jantung akan
daripada keluar dari sel dan sel akan membengkak
meningkat karena pengaruh suhu eksternal yang
serta lisis (meletus) seperti balon air yang
tinggi.
kepenuhan.
Otot jantung harus disuplai bukan hanya dengan
material organik untuk menghasilkan energi tetapi
juga dengan garam anorganik untuk melakukan 100X)
aktivitasnya. Erirosit Berbentuk lonjong, inti
tidak terlihat, dan
Metodologi
berwarna ungu tua.
Leukosit Berbentuk bulat tidak
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 8
beraturan, inti tidak
Nopember 2010. Praktikum ini terdiri dari 5
terlihat, berwarna ungu
kegiatan yaitu pengamatan struktur eritrosit dan
muda.
leukosit DOC, eksperimen pengaruh larutan
hipotonik dan hipertonik terhadap ukuran sel darah Sebagian besar vertebrata mempunyai eritrosit
DOC, pengamatan korelasi berat badan DOC berbentuk lonjong dan berinti kecuali mamalia
terhadap denyut jantung, pengamatan pengaruh (Guyton, 1976). Eritrosit berbentuk elips, pipih
suhu terhadap denyut jantung, dan eksperimen dan bernukleus yang berisi pigmen-pigmen
pengaruh garam-anorganik terhadap denyut pernapasan yang berwarna kuning hingga
jantung. merah yang disebut hemoglobin yang berfungsi
Pada kegiatan pertama dibuat ulasan darah mengangkut oksigen (Frandson, 1992). Eritrosit
pada dua object glass yang berbeda. Pada object DOC seharusnya memiliki inti, namun pada
glass pertama diteteskan larutan Bromtimol Biru pengamatan tidak terlihat adanya inti. Hal ini
(BTB) sedangkan object glass kedua diberi larutan dikarenakan perbesaran yang digunakan hanya
Turk. Kemudian ditutup dengan cover glass dan 100X sehingga eritrosit yang diamati terlihat
diamati di bawah mikroskop. sangat kecil.
Kegiatan kedua dibuat ulasan darah pada
Pada hasil pengamatan, leukosit
object glass kemudian diamati ukuran sel darah di
berbentuk bulat tidak beraturan dengan inti yang
bawah mikroskop. Setelah itu, ulasan darah ditetesi
tidak terlihat dikarenakan perbesaran yang
larutan NaCl 0,4% lalu diamati kembali dan
digunakan hanya 100X.
dibandingkan ukuran selnya dengan ukuran sel
sebelum diberi larutan. Selanjutnya dilakukan b. Pengaruh larutan hipotonik dan
kegiatan yang sama untuk larutan NaCl 0,7%, hipertonik terhadap ukuran sel darah DOC
0,9%, dan 1%.
Pada kegiatan ketiga DOC ditimbang terlebih Larutan Keterangan
dahulu kemudian dihitung denyut jantungnya
NaCl 0,4% Lebih kecil dari ukuran
selama satu menit dengan cara meraba bagian
sebelum diberi larutan
apeks jantung.
NaCl 0,7% Lebih besar dari
Kegiatan keempat DOC dibedah dan diamati
ukuran yang diberi
denyut jantungnya. Lalu diberi air es dan
larutan NaCl 0.4%
dibandingkan kecepatan denyut jantungnya dengan
sebelum pemberian air es. Selanjutnya dilakukan NaCl 0,9% Lebih kecil dari ukuran
kegiatan yang sama untuk air ledeng dan air panas. yang diberi larutan
Lalu pada kegiatan kelima jantung DOC ditetesi NaCl 0.7%
larutan KCl 0,4% dan dibandingkan kecepatan
NaCl 1% Lebih kecil dari ukuran
denyut jantungnya dengan setelah pemberian air
yang diberi larutan
panas. Kemudian dilakukan kegiatan yang sama
NaCl 0.9%
dengan larutan NaCl 0,7% dan CaCl2 1%.
Pada percobaan dengan menggunakan NaCl
a. Pengamatan struktur eritrosit dan
0,4%, didapatkan hasil ukuran sel yang lebih
leukosit DOC
kecil dibandingkan dengan ukuran sel sebelum
Sel darah Keterangan (perbesaran
diberi larutan. Seharusnya pada pemberian memungkinkan terjadinya perbedaan persepsi.
NaCl 0,4% ukuran sel terlihat lebih besar. Selain itu, pengamat sedikit kesulitan untuk
Kesalahan ini disebabkan kesalahan pengamat membedakan denyut jantung dengan denyut
dalam membandingkan ukuran sel pada kedua pernapasan.
kondisi tersebut, karena setelah sel ditetesi d. Pengaruh suhu terhadap kecepatan
NaCl 0,4% jarak antar sel terlihat menjadi lebih denyut jantung
renggang. Suhu Kecepatan denyut
jantung
Pada percobaan dengan menggunakan NaCl Air es Lebih lambat dari
0,7% didapatkan hasil ukuran sel yang lebih sebelum pemberian
besar, hal ini dikarenakan terjadinya perbedaan air es
tekanan osmotik antara larutan NaCl 0,7% Air ledeng Lebih cepat dari

dengan plasma sel. Larutan yang hipotonik sebelumnya


Air panas Lebih cepat dari
terhadap plasma dapat mengakibatkan sel
sebelumnya
tersebut menggembung karena masuknya air ke Kecepatan denyut jantung akan meningkat karena
dalam sel melalui membran plasma sel yang pengaruh suhu eksternal yang tinggi.
semi-permeabel. Pada pengamatan sel yang
diberi larutan NaCl 0,7% tampak paling besar e. Pengaruh garam-anorganik terhadap
dikarenakan terjadinya kesalahan pada kecepatan denyut jantung DOC
pengamatan pertama sehingga perbedaan Garam-anorganik Kecepatan denyut
ukuran tampak signifikan. jantung
KCl 0,4% Lebih lambat dari
Pada percobaan yang menggunakan larutan sebelum
NaCl 0,9% dan 1% menunjukkan ukuran sel pemberian air
yang lebih kecil dari percobaan sebelumnya. Hal panas
ini sesuai dengan prinsip peristiwa osmosis NaCl 0,7% Lebih lambat dari
karena larutan NaCl 0,9% dan 1% bersifat setelah pemberian
hipertonik terhadap plasma sel. KCl
CaCl2 1% Lebih lambat dari
Berdasarkan hasil percobaan, larutan NaCl setelah pemberian
yang isotonik dengan sel darah DOC berkisar NaCl
antara 0,7% – 0,9%. Penambahan sedikit tetesan CaCl2 memulihkan

c. Korelasi berat badan DOC terhadap kekuatan kontraksi otot jantung. Dari eksperimen

denyut jantung ditemukan bahwa denyut jantung paling baik ketika


disuplai dengan KCl, NaCl dan CaCl 2. Jika
DOC Berat Denyut
konsentrasi KCl tinggi, otot jantung relaksasi dan
/menit
I (kelompok 35, 27 gram 38 mungkin akan berhenti seluruhnya. Disisi lain CaCl2
6) meningkatkan tonus jantung dan dalam keadaan
II (kelompok 34, 7 gram 40
berlebih dapat mengakibatkan tertahannya sistol.
5)
Peran utama dari NaCl adalah untuk mensuplai
Seharusnya berbanding terbalik dengan
tekanan osmotik yang tepat, meskipun ion Na+
kecepatan denyut jantung. Semakin tinggi
esensial dalam generasi potensial aksi
berat badan, semakin rendah frekuensi denyut
(Schottelius,1973). Peningkatan konsentrasi K+ di
jantung dan sebaliknya. Pada percobaan
CES menyebabkan beda potensial antara CIS dan
didapatkan hasil yang berbeda, hal ini
CES berkurang. Karena tingkat perubahan voltase
dikarenakan percobaan ini dilakukan oleh dua
dari keadaan ”istirahat” yang berkurang tersebut ke
pengamat yang berbeda sehingga
puncak potensial aksi lebih kecil daripada keadaan
”istirahat” normal ke puncak, terjadi penurunan
intensitas potensial aksi yang menyebabkan
jantung menjadi lemah. Peningkatan konsentrasi
Ca2+ CES dapat meningkatkan kekuatan kontraksi
jantung melalui pemanjangan fase datar potensial
aksi dan peningkatan potensial aksi Ca2+ sitosol.
Hasil pengamatan menunjukkan jantung
yang ditetesi garam-garam anorganik tersebut
menjadi semakin lemah. Hal ini terjadi karena
perbedaan persepsi pengamat dalam
membandingkan kecepatan denyut jantung. Selain
itu, kondisi jantung DOC yang sudah lama dibedah
menjadikan penurunan frekuensi denyut jantung.
Kesimpulan

Daftar Pustaka
Campbell, Neil A. 1999. Biologi jilid 3 Edisi kelima.
Jakarta: Erlangga.

Schottelius, Byron A. dan Dorothy D. Schottelius.


1973. Textbook of Physiology seventeen
edition. Saint Louis: The C.V Mosby
Company.

Parker, T. Jeffery dan William A. Haswell. 1978.


Textbook of Zoology Volume II:
Vertebrates. London: The Macmillan
Press.