Anda di halaman 1dari 15

PERMINTAAN UANG DI INDONESIA:

PENDEKATAN DATA BULANAN

Aliasuddin

Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala

ABSTRACT

Most of studies on money demand in Indonesia use yearly and quarterly data. None

of the studies uses monthly data because the data of income are not available in

Indonesia. But, the studies on the demand for money utilize monthly data especially in

developed countries. The researchers in developed countries use a proxy data of income

such as industrial production index (IPI). Even though IP can be used as proxy, but the

data are also not available in Indonesia. To overcome the problem, this study tries to

utilize wholesale price index (WPI) as proxy of income. The data are available monthly

in Indonesia.

Based on this approach, this study analyzes the demand for money in Indonesia

over the period January 1990 to December 2001, total of months are 144 months. This

study estimates six equations of money demand. As usual money demand theory states,

the equations are estimated by using OLS technique.

The results are consistent, both theoretically and statistically. Based on these, the

WPI is a good proxy of income, even it is better than the income itself. According to this,

the WPI is appropriate proxy in other studies, not only in money demand theory but also

in other studies that use money as one of the variables in the studies.

Keywords: money demand, monthly data, Indonesia.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


PENDAHULUAN

Banyak studi tentang permintaan uang di Indonesia didasarkan pada data tahunan

atau kuartalan. Pendekatan ini dilakukan sesuai dengan ketersediaan data yang pada

umumnya hanya data tahunan atau kuartalan. Sedangkan di negara maju tersedia data

bulanan, setidaknya dengan menggunakan data proksi. Penggunaan data proksi ini sudah

sangat umum digunakan dalam penelitian-penelitian bidang ekonomi di negara-negara

maju. Namun, penggunaan ini belum lazim dalam studi empiris di Indonesia. Untuk itu,

perlu dilakukan pemikiran untuk menghilangkan hambatan-hambatan karena ketiadaan

data. Penggantian data sangatlah umum dalam penelitian seandainya data tersebut

mempunyai relevansi dan sangat sarional secara teori.

Banyak studi empiris di Indonesia menggunakan data tahunan atau data kuartalan

sebagai akibat keterbatsan data pendapatan yang tidak tersedia dalam bentuk bulanan.

Harun (1985), misalnya, menggunakan data kuartalan untuk mengestimasi permintaan

akan uang di Indonesia. Puteh (1996) menggunakan data kuartalan dalam menganalisis

faktor-faktor dominan mempengaruhi permintaan uang di Indonesia. Effendi dan

Aliasuddin (1998) menggunakan data tahunan dalam analisis kestabilan parameter

permintaan uang di Indonesia. Aliasuddin (1999) menganalisis tentang dampak krisis

terhadap permintaan uang di Indonesia dengan menggunakan data kuartalan. Semua

studi permintaan uang di Indonesia sebelum tahun 1995 menggunakan data tahunan.

Seandainya analisis dilakukan terhadap data kuartalan, maka harus dilakukan intrapolasi

terhadap data pendapatan karena tidak tersedia data pendapatan kuartalan.

Banyak studi lain yang dilakukan di Indonesia tentang permintaan uang, baik yang

dilakukan oleh peneliti Indonesia maupun peneliti lainnya dari luar. Peneliti asing yang

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


melakukan penelitian tersebut adalah Aghevli (1977) menganalisis tentang uang, harga

dan neraca pembayaran. Parikh et.al. (1985) menganalisis model ekonometrika terhadap

model sektor moneter di Indonesia termasuk di dalammnya permintaan uang. Gupta dan

Moazzami (1989) melakukan penelitian tentang permintaan uang di Asia termasuk di

dalamnya Indonesia.

Selanjutnya, para peneliti Indonesia yang melakukan penelitian tentang permintaan

uang di antaranya Nasution (1983) yang membahas tentang lembaga keuangan di

Indonesia termasuk permintaan uang. Boediono (1985) melakukan penelitian tentang

permintaan uang di Indonesia dari tahun 1975 hingga 1984. Insukindro dan Sugiyanto

(1987) juga melakukan penelitian yang sama. Kiranajaya (1990) melakukan kajian

tentang permintaan uang di Indonesia dari tahun 1973 hingga 1987. Terakhir,

Insukindro (1992) melakukan penelitian tentang permintaan uang dinamis di Indonesia.

Semua penelitian ini menggunakan data kuartalan dan tahun karena ketiadaan data

bulanan pada pendapatan.

Akibat keterbatasan ini maka intrapolasi menjadi variabel proksi yang digunakan

oleh para peneliti. Berdasarkan pada keterbatasan tersebut maka penggunaan data lain

sebagai variabel proksi sangat memungkinkan. Penggunaan data lain menjadi terobosan

alternatif pendekatan analisis data bulanan, sekaligus menghilangkan keterbatasan data

yang ada.

Padahal analisis permintaan akan lebih mendalam bila dilakukan dengan

menggunakan data bulanan. Banyak studi di negara-negara lain menggunakan data

bulanan sehingga analisis menjadi lebih komprehensif. Soto dan Tapia (2001), misalnya,

menggunakan data bulanan dalam mengestimasi stabilitas permintaan uang di Chili.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Mereka menggunakan data bulanan, karena tidak tersedia data bulanan terhadap

pendapatan maka digunakan data produksi sektor industri sebagai proksi terhadap

pendapatan. Sriram (1999) mengevaluasi 32 buah permintaan uang di 15 negara dengan

menggunakan data indeks produksi sebagai proksi terhadap pendapatan bulanan. Gillman

dan Labus (2001) juga menggunakan data indeks produksi industri sebagai proksi untuk

data pendapatan bulanan. Cuthbertson dan Bredin (2001) menyatakan bahwa penggunaan

data indeks produksi bulanan lebih baik dibandingkan dengan data pendapatan itu sendiri.

Berdasarkan pada penjelasan ini maka sangat memungkin untuk menggunakan data

lain yang mampu menggantikan data pendapatan bulanan. Diketahui bahwa data indeks

produksi di Indonesia juga tidak tersedia, namun ada data lain yang sangat potensial

untuk digunakan yaitu data indeks harga perdagangan besar (IHPB). IHPB ini

menggambarkan peningkatan permintaan dan produksi yang diperdagangkan sehingga

dapat mewakili data pendapatan bulanan sebagai proksi data pendapatan. Penggantian

data ini sangat memungkinkan karena data ini tersedia setiap bulannya.

Karena penggunaan data proksi sangat memungkinkan maka penelitian ini

menggunakan data bulanan dalam analisis permintaan uang. Berdasarkan persyaratan ini

maka teori permintaan uang digunakan sebagai dasar analisis dalam permintaan uang

dengan pendekatan data bulanan.

Ada dua kelompok yang membahas permintaan uang. Pertama kelompok klasik

yang dipelopori oleh Fisher dengan teori kuantitas uang (Insukindro, 1993). Menurut

Fisher bahwa jumlah proporsional dengan harga, dengan asumsi kecepatan uang dan

transaksi dianggap tetap. Toeri Fisher ini banyak diprotes karena tidak dianggap sebagai

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


teori permintaan uang. Walau demikian, kelompok klasik mengembangkan teori lanjutan

tentang permintaan uang yang didasarkan pada Teori Fisher tersebut.

Kelompok kedua adalah kelompok Keynes. Keynes menyatakan bahwa ada tiga

alasan orang meminta uang. Pertama, orang meminta uang untuk memenuhi transaksi

harian. Permintaan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan. Semakin tinggi

pendapatan maka semakin besar permintaan uang untuk tujuan transaksi. Alasan kedua

adalah untuk memenuhi transaksi yang tak terduga, seperti sakit atau kebutuhan yang tak

terduga lainnya. Permintaan uang ini juga dipengaruhi oleh pendapatan, semakin besar

pendapatan maka semakin besar permintaan uang untuk berjaga-jaga, sebalinya maka

permintaan uang untuk tujuan ini semakin sedikit. Alasan terakhir, orang menyimpan

uang untuk tujuan spekulasi. Permintaan uang ini dipengaruhi oleh tingkat bunga, jika

tingkat bunga tinggi maka semakin sedikit permintaan uang karena menyimpan uang

kontan akan mengalami kerugian, lebih baik disimpan di bank. Jika tingkat bunga rendah

maka orang kurang berminat untuk menyimpan uang di bank karena hasil yang diperoleh

sedikit, sehingga orang akan menyimpan uang kontan. Berdasarkan teori Keynes ini

maka permintaan uang dapat dinyatakan dengan (Dornbusch dan Fisher, 1994):

M d M d
d d
M = M (Y, i)  0 dan 0 (1)
Y i

di mana, Md adalah permintaan uang, Y adalah pendapatan, i adalah tingkat bunga

nominal. Persamaan (1) menyatakan permintaan uang nominal, sedangkan permintaan

uang riil dinyatakan (Insukindro, 1993):

m d m d
d d
m = m (y, r)  0 dan 0 (2)
y r

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


d Md
di mana m adalah permintaan uang riil dinyatakan sebagai dan y adalah
P

Y
pendapatan rill yang dinyatakan sebagai dan r adalah tingkat bunga riil yang
P

dinyatakan sebagai r = i – inf, di mana P adalah harga, inf adalah inflasi. Permintaan

uang turut dipengaruhi oleh tingkat harga karena kenaikan harga memaksa orang untuk

meminta uang yang lebih banyak dengan tujuan untuk mempertahankan transaksi yang

telah biasa dilakukan selama ini. Dengan ini maka persamaan (1) disesuaikan dengan

cara memasukkan variabel harga, sehingga persamaan (1) dinyatakan sebagai berikut

(Insukindro, 1993):

M d M d M d
d d
M = M (Y, i, P) ,  0 dan 0 (3)
Y P i

Persamaan (2) dan (3) digunakan dalam mengestimasi permintaan uang dengan

menggunakan data bulanan di Indonesia. Agar estimasi lebih sesuai dengan tingkah laku

masyarakat, fungsi permintaan uang yang digunakan dicari dengan mengakomodir

tingkat bunga dan harga yang diharapkan. Setiap konsumen selalu bersikap rasional dan

melakukan antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan harga dan tingkat bunga sehingga

harga dan tingkat bunga yang diharapkan sangat relevan dimasukkan dalam persamaan

(2) dan (3). Persamaan (2) dan (3) tidak dapat diestimasi karena data permintaan uang

tidak tersedia. Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka diasumsikan terjadi

keseimbangan permintaan uang dengan jumlah uang beredar

Md = Ms (4)

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Jika asumsi pada persamaan (4) terpenuhi maka data yang digunakan adalah data

jumlah uang beredar (JUB). JUB ini terdiri dari M1 dan M2.

METODE PENELITIAN

Estimasi persamaan (2) dan (3) dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat

terkecil (OLS). Estimasi dilakukan dengan menggunakan Shazam Professional Edition

Version 9 (Whistler, et.al., 2001).

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan yang diperoleh dari

Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Data tersebut adalah data sekunder yang

telah tersedia dan hanya dilakukan pengolahan tertentu sesuai dengan kebutuhan model

analisis permintaan uang ini. Data ini meliputi periode mulai Januari 1990 hingga

Desember 2001, dengan jumlah bulan sebanyak 144.

Data yang digunakan adalah data jumlah uang beredar baik M1 maupun M2, Indeks

Harga Konsumen (IHK) sebagai data mewakili inflasi, Inflasi yang digunakan untuk

menghitung tingkat bunga riil, yaitu selisih tingkat bunga nominal dan inflasi. Indeks

Harga Perdagangan Besar (IHPB) digunakan sebagai proksi pendapatan, dan tingkat

bunga deposito satu bulan yang berasal dari bank milik pemerintah. Penggunaan IHPB

diharapkan mampu mewakili pendapatan karena dalam Produk Domestk Bruto (PDB)

pun dikenal ada pendekatan produksi sebagai salah satu metode penghitungannya.

Penggunaan indeks implisit PDB dapat digunakan sebagai proksi pendapatan, namun

indeks ini tidak tersedia dalam bentuk data bulanan. Untuk itu, IHPB dipilih sebagai

alternatif pengganti indeks implisit pendapatan tersebut Dengan demikian maka IHPB

dengan sendirinya dapat pula digunakan sebagai proksi pendapatan karena barang yang

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


terjual dihitung sebagai penerimaan atau pendapatan. Perkembangan penjualan yang

tercermin pada IHPB menggambarkan peningkatan penerimaan atau pendapatan.

Berdasarkan pada penjelasan ini maka IHPB sangat beralasan untuk digunakan sebagai

proksi pendapatan.

Model-model yang diestimasi terdiri dari model permintaan uang riil, baik M1

maupun M2. Selanjutnya, permintaan uang nominal, M1 dan M2. Selain itu, diestimasi

pula model permintaan uang yang dapat menghasilkan elastisitas pendapatan terhadap

permintaan uang, sehingga variabel dari model yang diestimasi ditransformasikan

menjadi logaritma alamiah, kecuali tingkat suku bunga karena memang dalam persentase.

Dengan demikian ada enam persamaan, masing-masing tiga persamaan untuk M1 dan

M2.

HASIL ESTIMASI DAN PEMBAHASAN

Pengujian Asumsi Klasik

Sebelum analisis permintaan uang dengan menggunakan data bulanan dilakukan

maka pertama sekali dilakukan pengujian terhadap kemungkinan pelanggaran asumsi

regresi linear klasik dalam model estimasi dalam penelitian ini. Kemungkinan

pelanggaran yang dilakukan ini adalah multicollinearity, heteroskedasticity dan serial

correlation.

Pelanggaran asumsi yang pertama memperlihatkan bahwa tidak terjadi hubungan

yang kuat antar-variabel bebas dalam penelitian ini. Hasil ini dibuktikan oleh koefisien

korelasi parsial antar-variabel bebas yang sangat rendah, antara pendapatan dan tingkat

bunga sebesar 0,2077, antara pendapatan dan inflasi sebesar 0,0711, dan antara inflasi

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


dan tingkat bunga sebesar 0,4498. Angka-angka ini menunjukkan bahwa tidak terjadi

hubungan yang kuat antar variabel bebas.

Dua asumsi klasik lainnya tidak mampu dipenuhi karena uji terhadap

homoskedasticity tidak mampu dipenuhi karena semua uji memperlihatkan adanya

heteroskedasticity. Hasil pengujian heteroskedasticity ini tidak ditampilkan dalam

laporan ini. Heteroskedasticity ini sangat mungkin terjadi mengingat data M1 dan M2

merupakan data kumulatif, sehingga semakin lama semakin besar dan berpotensi untuk

menimbulkan heteroskedasticity. Walau terjadi heteroskedasticity, jika koefisien

estimasi sesuai dengan teori dan signifikan secara statistik maka pelanggaran tersebut

dapat diabaikan. Selanjutnya, asumsi tidak adanya serial correlation tidak terpenuhi

karena semua persamaan menghasilkan DW yang mendekati nol. Dengan kata lain

terjadi korelasi positif antar-waktu dalam residual persamaan-persamaan tersebut.

Secara teori dinyatakan bahwa pelanggaran asumsi –– heteroskedasticity dan serial

correlation –– tidak mengakibatkan bias pada koefisien estimasi, namun standard errors

membesar atau t-rasio menjadi lebih kecil. Namun, dalam penelitian ini menunjukkan

bahwa hasil estimasi sangat baik karena semua koefisien sesuai secara teori dan

signifikan secara statistik.

Hasil Estimasi

Meskipun ada dua asumsi klasik tidak terpenuhi, namun hasil estimasi masih sesuai

dengan teori dan signifikan secara statistik. Karena ada tiga pasang persamaan yang

diestimasi maka hasil estimasi ditampilkan dalam tiga kelompok. Hasil estimasi pertama

adalah permintaan uang dalam arti riil seperti yang ditampilkan di Tabel 1.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Tabel 1. Hasil Estimasi Permintaan Uang Riil

Permintaan Uang (M1) Permintaan Uang (M2)


Variabel
Koefisien t-rasio P-Value Koefisien t-rasio P-Value
r -2,35 -2,061 0,041 -14,07 -2,101 0,037
y 342,48 8,187 0,000 1932,60 7,959 0,000
Konstanta -86,98 -1,288 0,200 -849,01 -2,204 0,029
R2 0,3673 0,3406
R
2 0,3584 0,3312
F-hit 311,2130 36,412
DW 0,0858 0,1633

Tabel 1 memperlihatkan bahwa semua variabel signifikan pada tingkat keyakinan

95 persen, baik pada permintaan uang dalam arti sempti (M1) maupun dalam arti luas

(M2). Koefisien pendapatan dinyatakan oleh teori harus positif dan tingkat bunga positif.

Hasil estimasi juga memperlihatkan tanda koefisien yang sesuai dengan teori dan

signifikan secara statistik. Walaupun kedua variabel bebas sangat signifikan, namun

kedua variabel ini hanya mampu mempengaruhi permintaan uang sebesar 35,84 persen

untuk M1 dan 33,12 persen untuk M2. Berarti ada variabel lain yang masih belum

terakomodir dalam persamaan ini karena kedua variabel ini hanya berpengaruh kurang

dari setengah.

Selanjutnya, hasil estimasi permintaan uang nominal dalam koefisien elastisitas

karena datanya telah diubah dalam bentuk logaritma alamiah, kecuali tingkat bunga

karena sudah dalam bentuk persentase. Ada tiga variabel bebas yang digunakan baik

pada M1 maupun pada M2, ketiga variabel tersebut adalah pendapatan, tingkat bunga

nominal, dan harga (IHK). Hasil estimasi memperlihatkan bahwa semua variabel

mempunyai tanda sesuai dengan pernyataan teori dan signifikan secara teori. Secara teori

dinyatakan bahwa kenaikan harga akan diikuti oleh peningkatan permintaan uang yang

proporisonal. Dengan ini maka nilai koefisien tersebut harus sama dengan satu,

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


sedangkan nilai estimasi hanya sebesar 0,2755 dan 0,3179 masing-masing untuk M1 dan

M2. Hasil estimasi secara lengkap disajikan di Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Elastisitas Estimasi Permintaan Uang

Permintaan Uang (M1) Permintaan Uang (M2)


Variabel
Koefisien t-rasio P-Value Koefisien t-rasio P-Value
lnY 1,3768 14,350 0,000 1,6845 9,017 0,000
i -0,0052 -2,097 0,038 -0,1208 -2,495 0,014
LnP 0,2755 4,103 0,000 0,3179 2,394 0,018
Konstanta 2,0570 3,924 0,000 1,7233 1,705 0,090
R2 0,7000 0,4595
R
2 0,6935 0,4479
F-hit 108,8710 39,6730
DW 0,2949 1,4173

Untuk memastikan koefisien ini sama dengan satu maka dilakukan uji restriksi

dengan menggunakan uji Wald. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai koefisien tersebut

benar tidak sama dengan satu. Hasil uji disajikan di Tabel 3, di mana hipotesis nol yang

menyatakan bahwa koefisien harga sama dengan satu ditolak.

Tabel 3. Hasil Uji Restriksi Koefisien Harga

Hipotesis Statistik Wald DF P-Value Keputusan


H0: LnP = 1 M1 = 116,4005 M1 = 1 M1 = 0,000 M1: Tolak H0
Ha: LnP ≠ 1 M2 = 26,4093 M2 = 1 M2 = 0,000 M2: Tolak H0

Estimasi terakhir dilakukan terhadap permintaan uang nominal. Pada persamaan ini

ada tiga variabel bebas yang digunakan, harga, tingkat bunga diharapkan, dan

pendapatan. Hasil estimasi memperlihatkan bahwa semua variabel mempunyai tanda

sesuai dengan yang dinyatakan teori dan signifikan secara statistik. Hasil estimasi secara

lengkap disajikan di Tabel 4.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Tabel 4. Hasil Estimasi Permintaan Uang Nominal

Permintaan Uang (M1) Permintaan Uang (M2)


Variabel
Koefisien t-rasio P-Value Koefisien t-rasio P-Value
P 131,42 3,041 0,003 671,43 2,618 0,100
i -280,41 -2,123 0,035 -1825,50 -2,329 0,021
Y 471,55 20,380 0,000 2558,00 18,630 0,000
Konstanta -68324 -9,914 0,000 -4075160 -9,964 0,000
R2 0,8398 0,8130
R
2 0,8364 0,8090
F-hit 244,7160 202,886
DW 0,2925 0,4735

Hasil estimasi dengan menggunakan data bulanan dari Januari 1990 hingga

Desember 2001 telah disajikan di Tabel 1, 2, dan 4. Semua hasil tersebut konsisten baik

ditinjau dari segi teori maupun secara statistik yang dinyatakan sangat signifikan.

Berdasarkan hasil ini maka sangat memungkinkan penggunaan data lain dalam hal ini

IHPB sebagai proksi pendapatan. Koefisien pendapatan dan harga secara teori

dinyatakan positif dan sesuai dengan hasil estimasi dalam penelitian ini. Tingkat bunga

nominal dan riil dinyatakan mempunyai koefisien negatif dan hasil penelitian ini juga

negatif. Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa hasil estimasi dengan menggunakan

data pengganti ini relatif lebih baik dibandingkan dengan menggunakan data interpolasi

data pendapatan seperti yang disajikan oleh hasil-hasil penelitian terdahulu di Indonesia.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil estimasi permintaan uang menunjukkan bahwa ada dua asumsi regresi linear

klasik yang dilangar, heteroskedasticity dan serial correlation. Namun, pelanggaran ini

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


tidak sampai menyebabkan hasil estimasi yang tidak sesuai dengan teori dan tidak

signifikan secara statistik. Dengan kata lain, hasil estimasi masih sangat valid karena

kedua pelanggaran tersebut tidak menyebabkan bias pada koefisien estimasi.

Keenam persamaan permintaan uang yang diestimasi dengan menggunakan data

bulanan dan salah satu variabelnya diganti dengan variabel proksi, IHPB sebagai

pengganti data pendapatan, menghasilkan koefisien yang konsisten secara teori dan

signifikan secara statistik. Berdasarkan hasil ini, IHPB dapat digunakan sebagai proksi

pendapatan dan lebih baik daripada data pendapatan hasil intrapolasi. Penggunaan data

ini menghilangkan hambatan penelitian karena ketiadaan data terutama data pendapatan

dalam bentuk bulanan. Data ini dapat digunakan dalam penelitian lain yang

menggunakan pendapatan sebagai salah satu variabelnya.

Saran

Keterbatasan data di Indonesia telah menyebabkan terhambatnya kajian empiris di

bidang ekonomi. Namun, keterbatasan ini tidak menghalangi para peneliti yang mau

berusaha untuk mencari variabel pengganti lainnya sebagai proksi. Banyak data yang

relevan dan sangat rasional untuk digunakan sebagai proksi. Berdasarkan hasil ini

dianjurkan kepada para peneliti untuk berusaha mencari alternatif pengganti terhadap

data yang tidak tersedia.

REFERENSI

Aghevli, B.B. 1977. Money, Prices and the Balance of Payments: Indonesia 1968 – 1973.
Journal of Development Studies, 3, 37–57.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Aliasuddin. 1999. Analisis Dampak Krisis terhadap Permintaan Uang di Indonesia.
Darussalam: Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.

Bank Indonesia. Beberapa penerbitan. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia.


Jakarta: BI.

Boediono. 1985. The Demand for Money in Indonesia, 1975 – 1984. Bulletin of
Indonesian Economic Studies, 21, 74–94.

Cuthbertson, K. and D. Bredin. 2001. Money Demand in the Czech Republic Since
Transition. Central Bank of Ireland Technical Paper No. 3/RT/01.

Dornbusch, R. and S. Fisher. 1994. Macroeconomics. Sixth Edition. International


Edition. New York: McGraw-Hill, Inc.

Effendi, R. and Aliasuddin. 1998. Kestabilan Parameter Permintaan Uang di Indonesia.


Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 1,1, 48-55.

Gupta, K.L. and B. Moazzami. 1989. Demand for Money in Asia. Economic Modelling.
6, 467 – 473.

Harun, S. 1985. Demand for Real Money Balances in Indonesia 1968.4 – 1980.4.
Unpublished Thesis. Nashville, Tennessee.

Insukindro, dan C. Sugiyanto. 1987. Pasar Modal, Deregulasi Perbankan dan Permintaan
Uang di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 2, 15–30.

Insukindro. 1992. Dynamic Specification of Demand for Money: A Survey of Recent


Development. Jurnal Ekonomi Indonesia. 1, 8–23.

-------------.1993. Ekonomi Uang dan Bank: Teori dan Pengalaman di Indonesia.


Yogyakarta: BPFE.

Kiranajaya, W. 1990. Seleksi Model Permintaan Uang di Indonesia: 1973 – 1987. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis di Indonesia, 2, 37-48.

Nasution, A. 1983. Financial Institution and Policies in Indonesia. Institute of Southeast


Asia Studies.

Parikh, A., A. Booth, and R.M. Sundrum. 1985. An Econometric Model of Monetary
Sector of the Indonesian Economy. Journal of Development Studies. 21, 406–421.

Puteh, A. 1996. Faktor-faktor Dominan yang Mempengaruhi Permintaan Uang di


Indonesia (1980 – 1992). Tesis Tidak Dipublikasikan. Banda Aceh: Program
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.


Sriram, S. 1999. Survey on the Literature on Demand for Money: Theoretical and
Empirical Work with Special Reference to Error-Correction Model. IMF Working
Paper No. 64.

Soto, R. and M. Tapia. 2001. Seasonal Cointegration and the Stability of the Demand for
Money. Central Bank of Chile Working Paper No. 103.

Gillman, M. and M. Labus. 2001. Money Demand in a High Inflation Period:


Yugoslavia. Central European University Working Paper.

Whistler, D., K.J. White, S.D. Wong, and D. Bates. 2001. Shazam: The Econometric
Computer Program Version 9, User’s Reference Manual. Canada: Northwest
Econometrics, Ltd.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, 2002, halaman 53–66.