Anda di halaman 1dari 4

Menyembuhkan luka sejarah

Refleksi kaum muda atas tragedi 1965

PELAJARAN 1965

Rangkuman

Salah satu lembaran sejarah hitam republik Indonesia adalah targedi 1965. Tragedi
yang paling mencolok adalah peristiwa G30S/PKI. Sebuah tragedi dimana para petinggi
angkatan darat ditangkap dan dibunuh. Tragedi yang disebabkan oleh adanya operasi militer
yang konon katanya dipelopori oleh anggota militer Republik Indonesia sendiri yaitu Letkol
Untung, Kolonel Abdul Latief dan Brigjen Soepardjo. Tragedi yang sampai saat ini dikatakan
sebagai pemberontakan PKI ( Partai Komunis Indonesia) terhadap pemerintahan Indonesia
pada saat itu. Informasi yang ada saat ini tentang peristiwa itu adalah narasi-narasi yang
mengatakan bahwa itu semua adalah pemberontakan dan sebagian mengatakan peristiwa itu
adalah kudeta. Dari definisi kedua kata tersebut mungkin dapat diambil pendapat yang paling
cocok untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Berdasarkan kutipan dari Baskara T.
Wardaya SJ, dosen Sejarah di USD Yogyakarta, Secara etimologis istilah tersebut memiliki
makna yang berbeda. Istilah pemberontakan dalam bahasa Inggris adalah rebellion, yang
berarti “open defiance of or resistance to an established government” atau suatu tindakan
menentang/resistensi secara terbuka terhadap pemerintah yang ada. Istilah itu perlu dibedakan
dengan istilah coup d’etat (kudeta), yang berarti perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh
tentara bersama sipil; dengan istilah pronounciamento yang berarti perebutan kekuasaan yang
semua pelakunya adalah tentara; dan dengan istilah putsch yang pengertiannya adalah
perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh sekelompok tentara (Asvi: 2005).

Dari sudut pandang mahsiswa, maslah ini merupakan sebuah pelajaran yang dapat
merubah pandangan perbedaan. Pemberontakan merupakan lahir dari sebuah perbedaan.
Tetapi pemberontakan merupakan tindakan negatif yang banyak menelan korban. Belajar dari
pengalaman pelajaran tragedi pada tahun 1965, semua warga Indonesia baik yang
berkepentigan dalam politik ataupun tidak, hendaknya melihat bahwa pemberontakan yang
terlahir dari perbedaan itu tidaklah menguntungkan. Semua tindakan pemberontakan atau
kudeta hanyalah membuat suatu system yang baru tetapi belum tentu sukses bagi semua
kepantingan kalangan masyarakat.
PELAJARAN 1965

Salah satu lembaran sejarah hitam republik Indonesia adalah targedi 1965. Tragedi
yang paling mencolok adalah peristiwa G30S/PKI. Sebuah tragedi dimana para petinggi
angkatan darat ditangkap dan dibunuh. Tragedi yang disebabkan oleh adanya operasi militer
yang konon katanya dipelopori oleh anggota militer Republik Indonesia sendiri yaitu Letkol
Untung, Kolonel Abdul Latief dan Brigjen Soepardjo. Tragedi yang sampai saat ini dikatakan
sebagai pemberontakan PKI ( Partai Komunis Indonesia) terhadap pemerintahan Indonesia
pada saat itu. Tanggal 30 september 1965, melalui pasukan cakrabirawa, PKI melakukan
kudeta dengan cara membunuh tokoh-tokoh tertinggi militer Indonesia. kekejaman PKI
terbukti dari adanya enam orang Jendral plus seorang Kapten yang telah menjadi korban.
Tidak hanya petinggi angkatan darat saja, putri dari seorang Jenderal juga menjadi korban
kekjaman PKI yang seakan-akan menjadi tumbal karena ayahnya lolos dari PKI, Ade Irma
Suryani namanya. Tinadakan kejam PKI berlanjut di lubang buaya, para tawanan di sekap dan
disiksa, kemaluannya dipotong, matanya dicungki dengan alat khusus, dan tubuhnya sesekali
dibakar api dari rokok. Dari tindakan itu semua sangatlah pantas kalau peristiwa itu disebut
tragedy G30S/PKI, dengan penekanan di kata “PKI” karena PKI adalah pelaku utama dari
peristiwa keji itu. Melihat dari fakta keji itu, rasanya sangat aneh kalau dibalik pemberontakan
itu adalah para anggota militer Indonesia. Anak bangsa yang membunuh anak bangsa sendiri.
Informasi yang ada saat ini tentang peristiwa itu adalah narasi-narasi yang mengatakan
bahwa itu semua adalah pemberontakan dan sebagian mengatakan peristiwa itu adalah
kudeta. Dari definisi kedua kata tersebut mungkin dapat diambil pendapat yang paling cocok
untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Berdasarkan kutipan dari Baskara T. Wardaya SJ,
dosen Sejarah di USD Yogyakarta, Secara etimologis istilah tersebut memiliki makna yang
berbeda. Istilah pemberontakan dalam bahasa Inggris adalah rebellion, yang berarti “open
defiance of or resistance to an established government” atau suatu tindakan
menentang/resistensi secara terbuka terhadap pemerintah yang ada. Istilah itu perlu dibedakan
dengan istilah coup d’etat (kudeta), yang berarti perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh
tentara bersama sipil; dengan istilah pronounciamento yang berarti perebutan kekuasaan yang
semua pelakunya adalah tentara; dan dengan istilah putsch yang pengertiannya adalah
perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh sekelompok tentara (Asvi: 2005). Dari definisi
tersebut, tindakan PKI lebih cocok disebut kudeta yang dilakukan oleh sekelompok tentara.
Tetapi masih sangat sering terdengar kalau tindakan PKI tersebut adalah pemberontakan.
Semua itu dikarenakan tindakan-tindakan PKI yang selalu dikaitkan dengan pemberontakan.
Meskipun demikian, baik itu pemberontakan ataupun kudeta, tindakan tersebut adalah
tindakan keji dan terkutuk yang telah merusak bangsa. Sejak saat itu, PKI menjadi suatu
simbol kekejaman. Setelah peristiwa itu, muncul peristiwa yang tidak kalah keji dan sadis
yaitu pembunuhan massal rakyat Indonesia yang dilakukan oleh rakyat Indonesia sendiri.
Berdasarkan kutipan dari Baskara T. Wardaya SJ, dosen Sejarah di USD Yogyakarta,
pergolakan sosial yang baru itu terjadi sekitar tanggal 20-21 Oktober ditandai dengan
pembunuhan massal yang berlangsung di Jawa Tengah, khususnya di daerah Klaten dan
Boyolali. Pada bulan Oktober pembunuhan terjadi di Jawa Tengah, selanjutnya pada bulan
November di Jawa Timur, dan baru pada bulan Desem-ber terjadi di Pulau Bali. Pembunuhan
itu sendiri berlangsung secara sungguh keji dan sungguh massal. Pada dinihari tanggal 23
Oktober 1965, misalnya, di Boyolali ada sekitar 250 orang yang dibunuh secara beramai-
ramai, termasuk seorang guru SD dan istrinya yang dilempar ke sumur dalam keadaan hidup-
hidup (Dommen: 1966, 8). Dalam keadaan katolik, banyak warga keturunan Cina di
Semarang, Yogyakarta dan Surakarta juga menjadi korban amuk massa. Tindakan kejam
serupa terjadi di berbagai tempat lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan sejumlah lokasi
di luar Jawa. Jumlah pasti tentang berapa korban yang tewas sulit ditentukan, tetapi umumnya
berkisar antara setengah juta sampai satu juta jiwa (Crib 1990:8; Fein 1993:8). Berdasarkan
fakta tersebut dapat dikatakan kalau peristiwa pembunuhan massal tersebut merupakan suatu
kejahatan kemanusiaan yang keji. Pada tahun 1965 juga terjadi tragedi kanigoro. Desa
Kanigoro dijadikan ajang pembantaian orang-orang PKI, dan mayat mereka dimasukkan ke
dalam sebuah tanah galian besar yang saat ini dikenal oleh warga masyarakat sekitar dengan
sebutan Makam Parik. Kembali lagi pada peristiwa G30S/PKI, akibat dari peristiwa tersebut
banyak masyarakat-masyarakat yang apabila memiliki kaitan dengan PKI maka dia akan
mendapat hukuman atau siksaan moral sebagai pribadi sendiri maupun sebagai warga Negara
Indonesia. Semua hak sebagai warga Negara tidak dapat dinikmati. Itu semua adalah ganjaran
bagi penyiksaan dan pemberontakan yang PKI lakukan terhadap bangsa Indonesia.
Dari sudut pandang mahsiswa, maslah ini merupakan sebuah pelajaran yang dapat
merubah pandangan perbedaan. Pemberontakan merupakan lahir dari sebuah perbedaan.
Tetapi pemberontakan merupakan tindakan negatif yang banyak menelan korban. Belajar dari
pengalaman pelajaran tragedi pada tahun 1965, semua warga Indonesia baik yang
berkepentigan dalam politik ataupun tidak, hendaknya melihat bahwa pemberontakan yang
terlahir dari perbedaan itu tidaklah menguntungkan. Semua tindakan pemberontakan atau
kudeta hanyalah membuat suatu system yang baru tetapi belum tentu sukses bagi semua
kepantingan kalangan masyarakat.
LEMBAR PERNYATAAN

ORISINALITAS KARYA

Judul Naskah Esai : Pelajaran 1965

Nama Penulis/Peserta : Agung Utomo

Tempat & Tanggal Lahir : Banda Aceh, 19 Agustus 1989

Pekerjaan : Mahasiswa

Domisili (Alamat Surat) : Komplek perumahan dramaga regency blok c no.23

Alamat Email : agungutomo44@yahoo.co.id

Telepon , Ponsel : 085782466559

Dengan ini saya menyatakan bahwa tulisan/ naskah yang saya ikutkan adalah benar-benar
hasil karya saya sendiri dan belum pernah diikutkan dalam segala bentuk perlombaan serta
belum pernah dimuat dimanapun. Apabila di kemudian hari terjadi tulisan/naskah saya tidak
sesuai dengan pernyataan tersebut diatas, maka serta-merta tulisan/naskah saya dianggap
gugur . Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.