Anda di halaman 1dari 4

POLITIK ANGGARAN PENDIDIKAN;

Cermin Keberpihakan Negara Terhadap Nasib Pendidikan Bangsa


oleh Najmu Laila1

Ketika berbicara mengenai hak warga negara pada satu sisi, maka kita tak bisa luput
untuk kemudian membicarakan kewajiban negara pada sisi yang berlainan. Artinya, ketika
ada hak warga negara, maka timbul kewajiban negara untuk memenuhi hak tersebut. Salah
satu cara pemenuhannya adalah melalui anggaran keuangan negara.
Secara umum, pengertian anggaran adalah rencana keuangan yang mencerminkan
pilihan kebijakan untuk suatu periode pada masa yang akan datang. Sedangkan secara sempit,
pengertian anggaran adalah suatu pernyataan tentang perkiraan pengeluaran dan penerimaan
yang diharapkan akan terjadi pada suatu periode di masa yang akan datang, serta data
pengeluaran dan penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi di saat itu dan di masa yang
lalu.
Dari pengertian tersebut, kita dapat mengetahui bahwa anggaran mencerminkan
serangkaian kebijakan yang dipilih oleh pemerintah. Inilah yang kemudian disebut dengan
politik anggaran. Artinya, komitmen dan kehendak politik pemerintah untuk memenuhi hak-
hak warga negaranya harus diwujudkan dengan menyediakan anggaran yang cukup untuk
memenuhi hak-hak tersebut. Lantas, bagaimana politik anggaran pemerintah terhadap
pendidikan?
Dalam konteks anggaran, menempatkan pendidikan sebagai hak warga negara berarti
menyediakan anggaran yang cukup untuk menyelenggarakan pendidikan yang layak bagi
setiap warga Negara. Sejak amandemennya yang keempat, konstitusi telah mengamanatkan
pemerintah untuk memprioritaskan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk
memenuhi penyelenggaraan pendidikan nasional. Ketentuan tersebut diperjelas lagi dengan
pasal 49 ayat 1 UU No. 20/2003 yang menyebutkan, ’’Dana pendidikan selain gaji pendidik
dan biaya kedinasan dialokasikan minimal 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) pada sektor pendidikan minimal, dan minimal 20% dari anggaran pendapatan dan
belanja daerah (APBD).”
Angka 20% tersebut adalah angka minimal yang harus dipenuhi di luar pembayaran
gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan. Artinya, ketika angka tersebut belum cukup
untuk memenuhi hak atas pendidikan maka pemerintah harus meningkatkan alokasi dana
bagi sektor pendidikan. Disinilah keberpihakan anggaran terhadap pendidikan harus terlihat.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah hal tersebut sudah dapat dipenuhi
oleh pemerintah? Apakah pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan yang layak bagi
setiap warga negaranya? Tulisan berikut ini akan menyoroti lebih jauh mengenai
perbandingan anggaran pendidikan dalam APBN khususnya dalam kurun waktu lima tahun
terakhir.

Sebuah Perbandingan
Dilihat dari sumber-sumbernya, biaya pendidikan pada tingkat makro (nasional)
berasal dari: 1) Pendapatan negara dari sektor pajak (yang beragam jenisnya); 2) pendapatan
dari sektor non-pajak, misalnya dari pemanfaatan sumber daya alam dan produksi nasional
lainnya yang lazim dikategorikan ke dalam “gas” dan “non-migas”; 3) Keuntungan dari
ekspor barang dan jasa; 4) usaha-usaha negara lainnya, termasuk dari divestasi saham pada
BUMN, dan 5) Bantuan dalam bentuk hibah (grant) dan pinjaman luar negeri (loan) baik dari
lembaga-lembaga keuangan internasional (seperti Bank Dunia, ADB, IMF, IDB, JICA)

1
Mahasiswa Fakultas Hukum UI Angkatan 2008, Anggota Divisi Kajian Dept. Kastrat BEM UI 2010 dan
Anggota Lembaga Kajian Keilmuan FHUI.
maupun pemerintah, baik melalui kerjasama multilateral maupun bilateral. Alokasi dana
tersebut dituangkan dalam RAPBN setiap tahun.2
Anggaran pendidikan nasional menurut fungsinya dalam Belanja Pemerintah Pusat
dapat dikatakan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan paling signifikan
terjadi pada tahun 2006. Menurut data pokok APBN 2005 – 2010 yang dikeluarkan oleh
Departemen Keuangan RI, pada tahun 2005 anggaran untuk pendidikan adalah sebesar Rp.
29.307,9 miliar. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan pada tahun 2006, yaitu
menjadi sebesar Rp. 45.303,9 miliar, atau dengan kata lain sebesar 11,8% dari total
keseluruhan APBN 2006.
Pada tahun 2007 anggaran untuk pendidikan mengalami kenaikan secara nominal
dibandingkan pada tahun, yaitu menjadi sebesar 12 %. Anggaran tersebut terdiri atas fungsi
pendidikan di Kementerian dan Lembaga (Rp. 57,9 triliun), dana alokasi khusus pendidikan
(Rp. 6,9 triliun), serta dana alokasi umum pendidikan non-gaji (Rp. 7,2 triliun).3
Setelah keluarnya putusan MK yang mengharuskan APBN sesuai dengan konstitusi
yaitu minimal sebesar 20%, maka APBN pada tahun 2008 sektor pendidikan memperoleh
jatah anggaran sebesar 20%. Namun faktanya, angka 20% tersebut diperoleh setelah
memasukkannya anggaran gaji pendidik ke dalam anggaran pendidikan. Padahal, anggaran
gaji pendidik seharusnya masuk ke dalam sektor anggaran rutin Negara, bukan ke dalam
sektor pendidikan. Usut punya usut, anggaran pendidkan setelah dikurangi gaji guru hanya
mencapai 12% dari total anggaran. Tidak jauh berbeda dengan anggaran pendidikan pada
tahun 2007.
Secara lebih rinci, alokasi anggaran pendidikan dalam APBN pada tahun 2008 dapat
dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Alokasi Anggaran Pendidikan dalam APBN 2008 (dalam triliun rupiah)


APBN Tahun
NO RINCIAN
2008
I Denominator
1. Total Belanja Negara 854, 66
2. Total Belanja Negara (tidak termasuk belanja Pegawai) 726, 36
3. Total Belanja Pemerintah Pusat 573,43
4. Belanja Pemerintah Pusat (tidak termasuk belanja pegawai, hutang, 227,93
subsidi, dana bencana, belanja lain-lain)
II Numerator
1. Anggaran Fungsi Pendidikan dalam Belanja Negara 64,03
2. Anggaran Fungsi Pendidikan (non-gaji pendidikan dan anggaran 51,27
pendidikan kedinasan)
3. Anggaran Fungsi Pendidikan (termasuk gaji pendidik namun tidak 63,68
termasuk pendidikan kedinasan
4. Anggaran Fungsi Pendidikan dalam Belanja Negara termasuk DAK 58,29
Pendidikan (tidak termasuk gaji pendidik dan anggaran pendidikan
kedinasan)
5. Anggaran Fungsi Pendidikan dalam Belanja Negara (termasuk DAK 71,04
Pendidikan, gaji pendidik dan anggaran pendidikan kedinasan)
6. Anggaran Fungsi Pendidikan dalam Belanja Negara (tidak termasuk 57,70
DAK Pendidikan, belanja pegawai pada Perguruan Tinggi anggaran
2
Dedi Supriadi, Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006) hal.
5
3
Sumber: Kompas, edisi 2 Oktober Tahun 2007, hal. 12 kolom 3-7
pendidikan kedinasan)
Sumber : Seknas FITRA, data diolah dari dokumen APBN 2008

Kenaikan anggaran pendidikan yang cukup signifikan juga terjadi pada tahun 2009, yaitu
mencapai Rp. 89.918,1 miliar. Penurunan justru terjadi pada tahun 2010, dimana anggaran
pendidikan turun menjadi Rp. 77.401,7 miliar. Untuk lebih lengkapnya, APBN untuk sektor
pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

(dalam miliar rupiah)


Sub Fungsi 2005 2006 2007 2008 2009 2010
LKPP LKPP LKPP LKPP APBN RAPBN RAPBN
Pendidikan Anak Usia 281,7 306,3 444,1 496,2 665,6 632,4 880,2
Dini
Pendidikan Dasar 12.310,4 22.773, 22.494,5 24.627,5 38.297, 37.140,5 31.704,0
9 5
Pendidikan Menengah 3.963,0 4.703,9 4.118,3 3.842,7 7.660,5 7.429,1 5.423,8
Pendidikan Non Formal 1.207,2 837,3 1.202,8 779,4 1.355,8 1.314,9 952,4
dan Informal
Pendidikan Kedinasan 659,0 722,2 213,1 274,3 195,0 189,1 182,5
Pendidikan Tinggi 7.055,7 9.729,0 6.904,4 13.096,4 24.279, 23.545,9 20.872,8
1
Pelayanan Bantuan 2.564,3 3.863,5 5.078,4 11.089,7 16.253, 15.762,5 16.427,6
Terhadap Pendidikan 1
Pendidikan Keagamaan 69,7 2.081,5 192,4 287,7 645,9 626,4 501,7
Litbang Pendidikan 1.020,0 259,8 550,8 803,5 565,7 548,6 456,8
Pendidikan Lainnya 177,0 26,5 9,644,6 0,8 - - -
TOTAL 29.307,9 45.303, 50.843,4 55.298,0 89.918, 87.463,4 77.401,7
9 1
Sumber : Data Pokok APBN 2005 – 2010, dikeluarkan oleh Departemen Keuangan RI

Mengurai Permasalahan
Anggaran untuk sektor pendidikan dalam APBN hendaknya tidak dimaknai sebagai
sekedar deretan angka yang ketika sudah mencapai satu nominal tertentu maka sudah
tuntaslah kewajiban pemerintah terhadap nasib pendidikan bangsa. Lebih dari itu, anggaran
pendidikan harus dimaknai sebagai sebuah usaha sungguh-sungguh dari pemerintah untuk
menyelenggarakan sebuah sistem pendidikan bermutu, yang dapat diakses oleh setiap warga
negara Indonesia tanpa terkecuali.
Kewajiban perintah untuk memenuhi hak pendidikan warga negara, tidak selesai
dengan hanya sekedar memenuhi angka 20% dalam APBN. Jika pencapaian angka tersebut
yang menjadi tolak ukurnya, maka kewajiban pemerintah telah dapat dikatakan cukup jika
angka itu telah terpenuhi. Yang seharusnya menjadi tolak ukur pemerintah adalah kualitas
pendidikan nasional, bukan sekedar terpenuhinya anggaran pendidikan secara kuantitas.
Artinya, jika angka 20% dalam APBN masih dirasa belum cukup untuk menyelenggarakan
satu sistem pendidikan yang bermutu, maka sudah seharusnyalah pemerintah menambah
besaran anggaran pendidikan.
Fakta empiris menunjukkan bahwa besarnya dana pendidikan berpengaruh secara
linear kepada prestasi dan kualitas pendidikan.4 Para ahli baik ahli ekonomi, sosiologi dan
pendidikan berdasarkan penelitiannya sampai kepada kesimpulan bahwa mutu hasil
pendidikan, ditentukan oleh mutu proses pendidikan, dan mutu proses pendidikan
dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya pendidikan dan sumberdaya pendidikan
dipengaruhi oleh ketersediaan dana dan ketersediaan dana dipengaruhi oleh kebijaksanaan
yang ditempuh.5 Terlebih lagi, apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, anggaran
pendidikan nasional Indonesia jelas tertinggal. Berdasarkan Data Balitbang Depdiknas Tahun
2003, menyebutkan bahwa 2003, anggaran pendidikan Singapura telah mencapai 27% dari
jumlah keseluruhan ABPN, Malaysia telah mencapai 22% yang 2008 naik menjadi 26%,
Thailand 21%.
Alasan klasik yang kerap kali diungkapkan pemerintah berkaitan dengan peningkatan
anggaran pendidikan adalah, bahwa jika anggaran pendidikan semakin meningkat maka
anggaran untuk sektor lain akan berkurang. Permasalahan tersebut sebetulnya tidak dapat
dijadikan sebagai sebuah alasan karena dapat disiasati dengan pengelolaan dana APBN yang
efektif. Penambahan terhadap sektor pendidikan dapat berasal dari pemangkasan pos-pos
yang tidak krusial dan tidak memenuhi rasa keadilan rakyat seperti anggaran perjalanan dinas
para pejabat serta belanja barang dan jasa. Lagi-lagi semua itu kembali pada political will
dari pemerintah itu sendiri. Selama ini, penyebab rendahnya pemenuhan hak pendidikan
warga negara adalah bukan karena terbatasan masalah dana, melainkan lebih kepada
komitmen serta kemauan pemerintah dan DPR dalam menggunakan dana APBN untuk sektor
pendidikan.
Selain itu, harus ada kejelasan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Pelimpahan kewenangan penyelenggaraan
pendidikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah melalui asas desentralisasi tidak
boleh menjadi alasan pembenar terhadap tidak meratanya akses dan kualitas pendidikan.
Jangan sampai pelimpahan wewenang yang pada mulanya diharapkan menjadi jawaban bagi
pemerataan dan efektifitas pelaksanaan pendidikan, malah berakibat pada kemunduran
kualitas pendidikan. Hal tersebut patut menjadi catatan mengingat tidak semua pemerintahan
daerah memiliki kemampuan, baik dari sisi kapasitas personel dan anggaran, yang merata.
Pada akhirnya, walaupun pendidikan adalah hak setiap warga negara namun
pemenuhannya sangat tergantung pada komitmen negara. Kenyataan-kenyataan yang ada
menunjukan bahwa negara belum dapat memenuhi hak atas pendidikan bagi seluruh warga
negara. Hal tersebut tentu saja harus menjadi cambuk bagi negara, mengingat pendidikan
selain sebagai Hak asasi warga negara juga merupakan hal yang sangat essensial dalam
membangun karakter dan moral bangsa. Kita selaku warga negara juga memiliki kewajiban
mendorong Negara untuk memenuhi kewajibannya sehingga dapat terselenggara pendidikan
yang layak bagi seluruh warga negara Indonesia.

4
Drs. Suharto, “ Menyoal Anggaran Pendidikan “.
5
Prof.Dr. H.Soedjiarto, “Catatan Tambahan Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi”, dalam “ Penyiasatan
Anggaran Pendidikan 20% , yang disusun oleh ICW dan Koalisi Pendidikan, diakses dari situs:
www.antikorupsi.org, pada tanggal 6 Juni 2010, pukul 20:15 WIB.

Anda mungkin juga menyukai