Anda di halaman 1dari 4

Lelly Andriasanti

Nomor Tugas 53
NIP 1006743595

Tugas Review Film


STATE OF PLAY
Mata Kuliah Teori Keamanan Internasional

Film yang berdurasi 128 menit ini menyajikan berbagai macam intrik, konflik, dan
skandal dalam proses pengambilan kebijakan, khususnya bidang pertahanan keamanan. Aktor-
aktor yang terlibat dalam proses tidak hanya melibatkan kalangan pemerintah seperti badan
legislatif dan eksekutif, tapi juga media dan industri militer yang merupakan bagian dari
pressure group dalam film ini. Karena itu, konflik kepentingan antar aktor cukup terasa, di
samping ruang lingkupnya yang terbatas dalam ranah domestik.
Konflik kepentingan merupakan hal yang lumrah dalam proses pengambilan kebijakan,
apalagi bidang pertahanan keamanan merupakan wilayah strategis yang menyangkut kapabilitas
power dan eksistensi suatu negara. Di Amerika Serikat (AS), kebijakan pertahanan keamanan
sangat dipengaruhi oleh Iron Triangle yang terdiri dari Pentagon, industri militer atau Private
Military Company (PMC), dan kongres, baik kubu Republik maupun Demokrat.1 Namun, durasi
yang terbatas membuat sutradara Kevin Macdonald hanya menampilkan dua dari Iron Triangle,
yakni Pointcorp sebagai PMC dan sosok Stephen Collins (Ben Affleck) yang berasal dari
kalangan kongres.
Permasalahan pertahanan yang coba diputuskan kongres dalam film ini berkutat pada
penggunaan tentara bayaran yang berasal dari PMC dalam operasi militer AS di luar negeri,
tepatnya di Irak dan Afganistan. AS memang sering menggunakan jasa PMC, terutama ketika
George W. Bush melancarkan politik globalnya dalam perang melawan terorisme. Di sisi lain,
PMC ternyata tidak hanya digunakan untuk operasi militer di luar negeri, tapi juga dimanfaatkan
di dalam negeri, baik oleh pemerintah maupun individu. Seperti halnya yang terungkap dalam

1
Tidak hanya Republik, kubu Demokrat juga menunjukan dukungannya dalam hal belanja pertahanan Negara.
Steven Kosiak & Elizabeth Heeter, Post-Cold War Defense Spending Cuts: A Bipartisan Decision. (Washington
DC: The Center for Strategic and Budgetary Assessments, 31 Agustus 2000), http://www.csbaonline.org.
film, PointCorp yang merupakan PMC memiliki fasilitas paling lengkap, luas, modern, dan
mutakhir sehingga pemerintah AS dapat memanfaatkannya untuk melatih tentara regulernya.2
Di sisi lain, keterlibatan PMC yang terlalu jauh dalam administrasi dan operasionalisasi
pemerintah dirasa cukup mengancam kerahasiaan Negara. Sebab, kebocoran data dan informasi
negara dapat terjadi setiap saat, sehingga dimungkinkan terjadinya privatisasi pertahanan dan
keamanan. Tidak hanya itu, individu yang menyewa tentara bayaran pun akan membahayakan
keselamatan warga sipil yang tak berdosa dan berakibat pada jatuhnya korban. Jika demikian
kondisinya, lalu seberapa pentingnya keberadaan PMC dan tentara bayaran bagi pertahanan dan
keamanan negara?

PMC, Tentara Bayaran dan Eksistensinya


Sejak pasca Perang Dingin, Gedung Putih memangkas anggaran pertahanannya hingga
16,9 persen antara akhir pemerintahan Reagen (1989) dan pemerintahan Bush (1993). 3 Otomatis,
hal ini berdampak pada pengurangan jumlah personil militernya dari yang semula 1,5 juta
menjadi hanya setengahnya.4 Kondisi ini tentu sangat riskan. Agar tidak menimbulkan ancaman
bagi stabilitas dalam negeri, Gedung Putih menunjuk Halliburton yang semula hanyalah
perusahaan jasa pengolahan minyak dan gas bumi agar membentuk wadah bagi mantan tentara
reguler AS yang terkena resionalisasi berupa PMC. Dari sinilah, PMC tumbuh menjadi industri
militer dan merekrut tentara bayaran dari seluruh dunia.
Dalam pasal 47 (2) Protokol Tambahan I 1977, tentara bayaran dapat didefinisikan
berdasarkan enam kriteria. Pertama, tentara bayaran adalah setiap orang yang direkrut secara
lokal maupun dari luar negeri untuk bertempur di dalam suatu sengketa bersenjata. Kedua, orang
yang secara nyata ikut serta dalam permusuhan. Ketiga, tentara bayaran bukan warga negara dari
suatu pihak yang bersengketa ataupun bukan penduduk wilayah yang dikuasai oleh suatu pihak
dalam sengketa. Selain itu, ia juga bukan anggota angkatan perang suatu pihak dalam sengketa.
Kelima, seorang tentara bayaran tidak dikirim oleh suatu negara yang bukan pihak dalam
sengketa untuk bertugas resmi sebagai anggota dari angkatan perangnya. Sedang kriteria yang
2
Hal ini serupa dengan keberadaan Blackwater sebagai PMC dunia yang paling mutakhir di dalam kelengkapan dan
sarananya. Blackwater sendiri memiliki luas total 2.400 hektar are dan diperlengkapi dengan miniatur kota sebagai
tempat berlatih perang kota, sehingga dapat dimanfaatkan tentara reguler AS untuk berlatih.
3
Ibid.
4
Moshe Schwartz, “Department of Defense Contractors in Iraq and Afghanistan: Background and Analysis,” dalam
CRS Report for Congress. (Congressional Research Service, 2009), h. 1.
terakhir ialah tentara bayaran mempunyai motifasi untuk ikut serta dalam permusuhan terutama
karena keinginan untuk mendapat keuntungan pribadi yang dijanjikan oleh atau atas nama pihak
dalam sengketa. Kompensasi yang dijanjikan tentunya jauh melebihi yang dijanjikan kepada atau
dibayarkan kepada kombatan yang memiliki pangkat atau fungsi dalam kekuatan bersenjata dari
pihak tersebut.5
Motif mencari keuntungan pribadi inilah yang menyebabkan keberadaan tentara bayaran
cukup merugikan. Dalam the Prince, Niccolo Machiavelli mengungkapkan, pemimpin dapat
mempertahankan negaranya hanya apabila menggunakan kekuatan militer dari warga negaranya
6
sendiri. Dia menilai, tentara bayaran dan tentara tambahan tidaklah berguna dan berbahaya.
Sekalipun tentara bayaran adalah orang yang berkualitas, mereka tetap tidak bisa dipercaya.
Pasalnya, kedua tentara tersebut tidak dapat dijamin kesetiaan atau nasionalismenya. Bahkan,
mereka cenderung bersifat disintegratif, ambisius dan tanpa disiplin.
Hal ini tidak lepas dari loyalitas mereka yang terbatas pada keuntungan pribadi semata.
Padahal, nasionalisme yang merupakan loyalitas kepada negara adalah kebajikan militer seorang
tentara. Hal ini seperti yang diungkapkan Clausewitz dalam On War, di mana semangat
nasionalis menjadi kekuatan moral yang amat penting dalam memenangkan peperangan.7
Kesimpulan yang dapat ditarik dari film ini antara lain: Pertama, eksistensi tentara
bayaran maupun PMC tidaklah mendukung pertahanan dan keamanan suatu negara. Keberadaan
mereka justru melemahkan kapabilitas power, karena menyebabkan ketergantungan negara
kepada sektor swasta.
Kedua, penggunaan tentara bayaran dapat melukai nilai-nilai moral kemanusiaan, karena
berkontribusi pada jatuhnya korban sipil yang tidak bersalah. Hal ini tidak hanya terjadi pada
wilayah domestik, tapi juga penempatan tentara bayaran dalam operasi militer di luar negeri.
Buktinya, dalam operasi militer di Irak, tidak sedikit tentara bayaran yang disewa AS terlibat
dalam berbagai kasus criminal. Misalnya, pembunuhan dan pembantaian terhadap warga sipil
Irak, narkotika sampai prostitusi anak-anak yang berakibat rusaknya citra AS dan militernya di
Irak.

5
Article 47 (2) of Additional Protocol I of 1977.
6
Niccolo Machivelli, The Prince (Alih Bahasa: Novriati). (Jakarta: PT Gramedia, 2010), h. 104.
7
Carl von Clausewitz, On War (Alih Bahasa: J.J. Graham). (London: London Reprinting, 1909), h. 152-153.
Referensi

Article 47 (2) of Additional Protocol I of 1977.

Machivelli, Niccolo. The Prince (Alih Bahasa: Novriati). (Jakarta: PT Gramedia, 2010).

Schwartz, Moshe. “Department of Defense Contractors in Iraq and Afghanistan: Background and
Analysis,” dalam CRS Report for Congress. (Congressional Research Service, 2009).

Clausewitz, Carl von. On War (Alih Bahasa: J.J. Graham). (London: London Reprinting, 1909).

Kosiak, Steven & Elizabeth Heeter. Post-Cold War Defense Spending Cuts: A Bipartisan
Decision. (Washington DC: The Center for Strategic and Budgetary Assessments, 31
Agustus 2000). http://www.csbaonline.org.