Anda di halaman 1dari 22

c 

Telah dilakukan percobaan ³momen inersia´ yang bertujuan untuk


menerapkan penggunaan hukum II Newton pada gerak rotasi serta menentukan
momen inersia sistem benda yang berbentuk roda sepeda. Prinsip yang digunakan
pada percobaan ini adalah hukum Newton II pada gerak rotasi. Momen inersia adalah
ukuran resistansi atau kelembaman sebuah benda terhadap perubahan dalam gerak
rotasi. Percobaan dilakukan dengan melilitkan seutas tali pada sistem benda, sistem
benda yang digunakan pada percobaan ini menggunakan sistem benda yang berwujud
roda sepeda. Kemudian salah satu ujung diberi beban. Pada saat tali dilepaskan waktu
jatuh beban pada tali sampai lantai di hitung dengan menggunakan stop watch.
Setelah beban mencapai permukaan lantai dari ketinggian tertentu, waktu tempuh
beban untuk mencapai jarak ³h´ dicatat. Sehingga dapat diketahui percepatan roda
yang berputar dari waktu tempuh benda jatuh dan ketinggiannya. Berdasarkan
percepatan putar roda dan massa beban maka nilai momen inersia dapat diketahui
.Berdasarkan perhitungan dari hasil percobaan diperoleh nilai momen inersia pada
jari-jari roda 25 cm sebesar 0,03261 dan pada jari-jari roda 2,5 cm sebesar 0,04604.
Momen inersia pada roda kecil lebih besar dari pada momen inersia pada roda besar.

?
rcr? ?

cc?

???r
?
Sebuah benda tegar tersusun atas banyak partikel terpisah yang mempunyai
massa masing-masing. Jika suatu benda dikenai suatu gaya maka benda tersebut akan
bergerak denagan kecepatan tertentu. Gerakan yang dilakukan oleh benda bisa berupa
gerakan translasi,rotasi maupun gerak translasi-rotasi.hukum II Newton bisa
diterapkan dalam berbagai gerak dinamik termasuk pada gerak rotasi.

Salah satu hasil aplikasi hukum II Newton pada gerak rotasi adalah
didapatkannya momen inersia. Pada dasarnya dalam penentuan momen inersia harus
dilakukan perkalian antara massa masing-masing partikel dengan jarak
porosnya.inersia merupakan kecenderungan atau sifat nyata dari suatu benda untuk
mempertahankan posisi atau gerakannya.untuk benda yang wujudnya tidak beraturan,
Dalam menentukan momen inersia benda tersebut digunakan hukum II Newton pada
gerak rotasi.oleh karena itu,dilkukan percobaan momen inersia untuk mengetahui
penerapan hukum II Newton pada gerak rotasi dalam menentukan momen inersia
pada system benda tegar berwujud roda sepeda.

 ?V   ?  ?
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mencoba mengenalkan dan
menerapkan hukum II Newton pada gerak rotasi serta untuk menentukan momen
inersia sistem suatu benda berwujud roda sepeda.


?  ?
Permasalahan yang muncul pada percobaan momen inersia ini adalah
mengenalkan dan menerapkan hukum II Newton pada gerak rotasi serta untuk
menentukan momen inersia sistem suatu benda berwujud roda sepeda.
rcr? ?

cc?V  ?

?V ?

Untuk mengatur putaran dari sutau bendar seperti pada gambar 1.a di bawah,
benda berupa piringan berputar akibar gaya dari F1 dan F2 yang berada disisi piringan
tersebut. Penerapan terhadap letak titik yang dikenai olah gaya ini merupakan hal
yang penting. Hal ini akan berbeda ketika terdapat dua buah gaya yang bekerja pada
piringan berada segaris saling berlawanan seperti pada gambar 1.b yang
menyebabkan piringan tersebut tidak berputar.

Gambar 1.a Gambar 1.b

Gambar 1. Gambar 1.a menunjukkan Gaya yang menyebabkan piringan berputar,


gambar 1.b Gaya yang menyebabkan benda tidak berputar dan garis kerjanya
sepanjang sumbu tersebut

Gambar 2.a Gambar 2.b


Gambar 2. Sebuah gaya Fi bekerja pada partikel ke-i suatu piringan yang diputar
terhadap pusatnya. Gambar 2.a lengan l adalah jarak tegak lurus dari garis kerja ke
sumbu putar, gambar 1.b Gaya yang komponennya diuraikan

Pada gambar 2.a menunjukkan bahwa terdapat satu buah sebuah gaya Fi pada
partikel massa i di dalam piringan. Kemudian terdapat suatu garis yang memiliki
jarak dari gaya tersebut yang saling tegak lurus. Garis ini dinamakan dengan lengan
gaya l dari gaya. Torsi dapat berputar karena adanya gaya yang mendorong atau
menekannnya. Torsi menyebabkan kecepatan angular terhadap obyek, dalam gambar
yang dijelaskan yaitu berupa piringan. Lengan gaya pada gambar adalah l = risinD ,
dimana D merupakan sudut antara Fi dan posisi vektor ri yang mempunyai jarak dari
pusat piringan. Besarnya torsi akibat gaya ini adalah

   D................................ 1

Torsi dikatakan bergerak positif apablia bergerak berlawanan arah dengan


jarum jam dan bergerak negatif apabila searah dengan jarum jam. Apabila ditinjau

dapat di uraikan menjadi dua komponen yaitu     D


pada gambar 2.b gaya 
sepanjang garis radial
 dan    D yang saling tegak lurus terhadap garis
radial. Komponen radial tidak memberikan pengaruh putaran terhadap piringan. Torsi
yang tegak lurus terhadap 

dapat dituliskan dengan 



. Sehingga dapat dituliskan

................................. 2

Sehingga dapat di tulis bahwa nilai torsi adalah

  ..................................3

Pada persamaan 3 di atas Besarnya torsi terdapat sudut D yang merupakan


sudut antara r dan F, arahnya tegak lurus kepada bidang yang dibentuk oleh r dan F.
Arahnya dapat ditentukan dengan kaidah tangan kanan bagi perkalian vektor antar
dua vektor, yaitu ayunkan r ke arah F melalui sudut terkecil diantaranya dengan jalan
mengepalkan jari-jemari tangan kanan, arah yang ditunjukkan oleh ibu jari yang
dutegakkan menyatakan arah .(Tipler.2001 ,266-267)

Dimensi torsi sama dengan dimensi gaya kali jarak atau bial dinayatakan
dakam dimensi dasar M,L,T dimensinya adalah ML2T-2. Dimensi ini sama dengan
dimensi usaha, tetap torsi dan usaha adalah dua besaran fisis yang sangat jauh
berbeda. Perbedaannya antar lain torsi adalah besaran vektor, sedangkan usaha adalah
besaran skalar. Satuan torsi yang biasa dipakai diantaranya Newton-meter.
(Halliday.1999,340-341)

 ?  ? ?

Momen inersia dapat dimiliki oleh setiap benda, manusiapun memiliki momen
inersia tertentu. Besarnya momen inersia bergantung pada berbagai bentuk benda,
pusat rotasi, jari-jar rotasi, dan massa benda. Pada penentuan momen inersia bentuk
tertentu seperti bola silinder pejal, plat segi empat, atau bentuk yang lain cenderung
lebih mudah dari pada momen inersia benda yang memiliki bentuk yang tidak
beraturan. Bentuk yang tidak beraturan ini tidak bias dihitung jari-jarinya, sehingga
terdapat istilah jari-jari girasi. Jari-jari girasi ini adalah jari-jari dari benda yang
bentuknya tak beraturan dihitung dari pusat rotasinya. Jari-jari girasi inilah yang
membantu pada proses perhitungan jari momen inersia benda, tetapi pada setiap sisi
benda yang tidak beraturan ini yang menyebabkan momen inersia yang tidak
beraturan sulit untuk dihitung.(Giancolli, 1989, hal 226)

Benda tegar yang berotasi terdiri dari massa yang bergerak, sehingga memiliki
energi kinetik. Hal ini dapat dinyatakan energi kinetik ini dalam bentuk kecepaian
sudut benda dan sebuah besaran baru yang disehut momen inersia. Untuk
mengembangkan hubungan ini, misalkan sebuah benda yang lerdiri dari sejumlah
besar partikel dengan massa m1, m2, m3,.....pada jarak r1,r2,r3.....dari sumbu putar.
Apabila diberi nama masing-masing partikel dengan subskrip i, massa partikel ke-i
adalah mi, dan jaraknya dari sumbu pular adalah ri. Partikel tidak harus seluruhnya
berada pada satu bidang, sehingga dapat ditunjukkan bahwa rt adalah jarak legak
lurus dari sumbu terhadap partikel ke-i.

Ketika benda tegar berotasi di sekitar sebuah sumbu tetap, laju Vi dari partikel
ke-i diberikan oleh Persamaan v, = ri Ȧ, di mana Ȧ adalah laju sudut benda. Setiap
partikel memiliki nilai r yang bcrbeda. Tetapi Ȧ yang sama untuk semua (kalau tidak.
benda tidak akan tegar). Energi kinelik uniuk partikel ke-i dinyatakan sebagai
± ±
  =    ..................................4

Energi kinetik total benda adalah jumlah energi kinetik dari semua partikelnya adalah

...................5
Dengan mengeluarkan faktor Ȧ2/2 dari persamaan, didapat :

...................6
Besaran di dalam kurung , di dapat dengan mengalikan massa masing-masing partikel
dengan kuadrat jarakn ya dari sumbu putar dan menambahkan hasilnya, dinyatakan
dengan I dan disebut sebagai momen inersia. Sehingga momen inersia dapat di
nyatakan sebagai
  ± ±  ± ±       ...................7
(zemansky.1991, 293-294)
Dalam persamaan ini, jarak ri adalah jarak dari partikel ke-i ke sumbu rotasi.
Biasanya, jarak ini tidak sama dengan jarak partikel ke-i ke titik asal, walaupun untuk
sebuah cakram dengan titik asakbya di pusat sumbu, jarak-jarak ini adalah sama.
Momen inersia adalah ukuran resistansi atau kelembaman sebuah benda terhadap
perubahan dalam gerak rotasi. Momen inersia ini tergantung pada distribusi massa
benda relatif terhadap sumbu rotasi benda. Momen inersia adalah sifat benda ( dan
sumbu rotasi ), seperti massa m yang merupakan sifat benda yang mengukur
kelembamannya terhadap perubahan dalam gerak translasi.
Untuk sistem yang terdiri dari sejumlah kecil partikel-partikel diskrit, dapat
dihitung momen inersia terhadap sumbu tertentu langsung berdasarkan persamaan di
atas. Untuk kasus benda kontinu yang lebih sederhana, seperti cincin momen inersia
terhadap sumbu tertentu dapat dihitung dengan menggunakan kalkulus.(Tipler.
2001,267-268)

? 

?  ? ?
? Apabila elemen massa m sangat kecil atau pada benda-benda kontinu maka
persamaan momen inersia dituliskan dalam bentuk integral yaitu
ó    
..................................8
Dengan r adalah jarak elemen massa dm dari sumbu rotasi. Salah satu bentuk benda
yang memiliki momen inersia adalah piringan tipis. Tinjau piringan tipis berjari-jari r
yang mempunyai massa persatuan luas . Piringan diputar terhadap sumbu ( tegak
lurus bidang gambar ) yang melalui titik O tepat pada sumbu simetrinya. Momen
inersia dihitung melalui persamaan dalam bentuk integral, dalam hal ini
disubstitusikan
 , dengan    adalah elemen luas sehingga
 ±
ó            ..................................7

Oleh karena massa piringan


 
  
        ...............................8
Maka momen inersia piringan tipis terhadap sumbu simetrinya dinyatakan sebagai
±
ó   ..........................9

Gambar 3
Gambar 3. Penampang piringan tipis
(dosen-dosen fisika.2008 ,90-91)
 ?   ?? ? ??  ? ?

Gambar 4 menunjukkan sebuah benda tegar yang berputar terhadap sebuah


sumbu tetap melalui titik O yang tegak lurus pada bidang gambar.

Gambar 4

Gambar 4. Gaya luar Fi dan gaya dakhil fi yang bekerja terhadap partikel bermassa mi

Titik besar merupakan salah satu partikel benda yang mempunyai massa mi. Partikel
itu mengalami gaya luar Fi dan juga gaya dakhil fi, yaitu resultan gaya-gaya yang
dilakukan terhadapnya oleh semua oartikel lain dari benda itu.Apabila tinjauan gaya
hanya pada Fi dan fi yang terletak pada bidang yang tegak lurus pada sumbu.
Berasarkan hukum kedua Newton,

Fi + fi = miai .................................10
Maka, apabila setiap gaya tersebut diuraikan dan percepatan menjadi percepatan
radial persamaannya adalah :

V             ..................................11

V           . .................................12

Apabila kedua ruas persamaan dikalikan dengan jarak ri dari partikel ke sumbu,
diperoleh

V             ..................................13


Suku pertama diruas kiri adalah momen inersia § ,gaya luar terhadap sumbu, dan
suku kedua adalah momen gaya dakhil.

Karena benda itu tegar, maka semua partikel memiliki percepatan sudut  yang sama
dan oleh karena itu

§    .................................14

Jumlah    adalah momen inersia benda terhadap sumbu yang melalui titik
O,sehingga

§     .................................15


Artinya apabila sebuah benda tegar diputar terhadap suatu sumbu tetap, maka
resultan gaya putar (torsi) luar terhadap sumbu itu sama dengan hasil kali
kelembaman benda itu terhadap sumbu dengan percepatan sudut.

Jadi percepatan sudut sebuah benda tegar terhadap suatu sumbu tetap
ditentukan berdasarkan persamaan yang bentuknya tepat sama seperti persamaan
seperti percepatan linear sebuah partikel :

V     .................................16


Gaya putar resultan § terhadap sumbu bersesuaian dengan gaya resultan F,


percepatan sudut  bersesuaian dengan percepatan sudu linear a, dan momen
kelembaman I terhadap subu bersesuain dengan massa m. (Zemansky.1991, 219-221)

?
rcr? ?

V    ?? rcc?

??c? ?r ?

Pada percobaan ini alat yang digunakan adalah Roda sepeda beserta statip 1
set, Electric stop clock 1 buah, Anak timbangan 1 set, Rollmeter 1 buah, Waterpas 1
buah, Tempar beban 1 buah,dan Tali secukupnya.

 ???

!

 
h 

Gambar 5. Percobaan dengan satu beban

Pertama alat disusun seperti gambar 4, sumbu statip dipastikan tegak lurus
dengan bidang diuji dengan waterpass. Selanjutnya ditentukan berat benda dan kita
tentukan beratnya 50gram, dan 100gram,. Kemudian ditentukan tinggi benda dan
disini kita gunakan tinggi 30cm, 40cm, dan 50cm. Setelah itu benda dijatuhkan dari
ketinggian yang tadi ditentukan dan kemudian didapatkan waktu benda jatuh
menyentuh tanah dengan menggunakan stopwatch. Dari tiap ketinggian tadi kita
melakukan 5 (lima) kali percobaan. Setelah kita gunakan roda dengan jari ± jari besar
selanjutnya kita gunakan roda dengan jari ± jari kecil. Untuk roda dengan jari ± jari
kecil percobaan dilakukan sama seperti pada roda dengan jari-jari besar.

?
rcr? ?

cc c?cVc?c? rccc?

?c ??

4.1.1 Tabel Percobaan dengan jari ± jari = 2,5 cm (Roda kecil)

t(sekon)
No m(gram) h(cm) "
1 2 3 4 5

1 30 1,19 1,15 1,19 1,19 1,18 1,18

2 50 40 1,47 1,47 1,47 1,5 1,5 1,482

3 50 1,59 1,6 1,59 1,6 1,59 1,594

4 30 1,05 1,02 1,05 1,05 1,06 1,046

5 100 40 1,14 1,14 1,17 1,14 1,14 1,146

6 50 1,24 1,21 1,24 1,24 1,21 1,228

4.1.1. Tabel Percobaan dengan jari ± jari = 25 cm (Roda besar)

t (sekon)
No m (gram) h (cm) "
1 2 3 4 5

1 30 14,63 14,94 14,87 14,91 14,65 14,8

2 50 40 16,12 16,2 16,21 16,25 16,25 16,206

3 50 17,51 17,81 17,57 17,54 17,8 17,646

4 30 11,5 11,54 11,53 11,44 11,47 11,496

5 100 40 13,94 13,87 13,91 13,88 13,75 13,87

6 50 15,12 15,19 15,16 15,16 15,16 15,158


4.1.2. Perhitungan

Diketahui : m = 50 grm = 0,05 Kg

h = 30 cm = 0,3 m

R = 25 cm = 0,25 m

t = 1,18 s

Ditanyakan : I =.....?

Jawab : h=½at

a = 2h/t2

a = 2.0,5/1.182

a = 0.72

I = m R2 (g/a-1)

I = 0.03 . 0,252 (10/0,72-1)

I = 0.02423 Kg m2

Dengan menggunakan cara diatas, maka akan didapatkan nilai I pada roda
besar sebagai berikut :

4.1.2.1 Tabel Jari-jari roda besar ( R = 25 cm )

No m (kg) h (cm) r2 ¼" a I

1 0,5 0,05 0,000625 311,381 0,0032 0,09728

2 0,5 0,04 0,000625 262,634 0,0038 0,06563

3 0,5 0,03 0,000625 219,040 0,0046 0,04105

4 1 0,05 0,000625 229,765 0,0087 0,03587

5 1 0,04 0,000625 192,377 0,0104 0,02402


6 1 0,03 0,000625 132,158 0,0151 0,01237

I rata-rata = 0.03261

4.1.2.2 Tabel Jari-jari roda kecil (R = 2.5 cm)

No m (kg) h (m) r2 ¼" a I

1 0,5 0,05 0,0625 2,5408 0,39 0,07628

2 0,5 0,04 0,0625 2,1963 0,46 0,05241

3 0,5 0,03 0,0625 1,3924 0,72 0,02423

4 1 0,05 0,0625 1,5080 1,33 0,02044

5 1 0,04 0,0625 1,3133 1,52 0,01392

6 1 0,03 0,0625 1,0941 1,83 0,00838

I rata-rata = 0.04604

 ??

4.2.1 Tabel Regresi Grafik Percepatan terhadap Momen Inersia pada Roda besar

No. x y x.y x2

1 0,72 0,02423 0,0174456 0,5184

2 0,46 0,05241 0,0241086 0,2116

3 0,39 0,07628 0,0297492 0,1521

4 1,83 0,00838 0,0153354 3,3489


5 1,52 0,01392 0,0211584 2,3104

6 1,33 0,02044 0,0271852 1,7689

ê 6,25 0,19566 0,1349824 8,3103

   

  #    


   ?
   

 = -0.038 = 0.0856

y = 0.0856 ± 0.038x

4.2.2. Tabel Regresi Grafik Percepatan terhadap Momen Inersia pada Roda kecil

No. x y x.y x2

1 0,0046 0,04105 0,00018883 0,00002116

2 0,0038 0,06563 0,00024939 0,00001444

3 0,0032 0,09728 0,00031130 0,00001024

4 0,0151 0,01237 0,00018679 0,00022801

5 0,0104 0,02402 0,00024981 0,00010816

6 0,0087 0,03587 0,00031207 0,00007569

ê 0,0458 0,27622 0,001498184 0,0004577

   

  #    


   ?
   

= -5.646 = 0.0465

y = 0.0465 ± 5.646x
4.2.3.1 Grafik Percepatan terhadap Momen Inersia pada Roda berjari-jari 25 cm

º   
     
ï ï
ï ï
ï ï
ï ï
ï ï
º 
ï ï   
ï ï
 
   
ï ï 
ï ï
ï ïï ï ïï ï ïï ï ïï ï ïï ï ï

4.2.3.2 Garfik regresi pada jari-jari 25 cm

º   
     

ï 

ï

ï ï

ï ï
º   
ï ï
     

ï ï

ï 
ï ïï ï ïï ï ïï ï ïï ï ïï ï ï
4.2.4.1 Grafik Percepatan terhadap Momen Inersia pada Roda Berjari-jari 2,5 cm

º   
      

ï
ï  ï  ï       



º   
 
      






4.2.4.1 Garfik regresi pada jari-jari 25 cm

 º   
     

ï ï
ï ï
ï ï
ï ï
ï ï
ï ï º   
ï ï
     

ï ï
ï ï

ï
ï  ï  ï       


?  ?

¢#$#%&

%& '&&!(&&  &))*


+&,  ! )&  ! && & & & &! &,!
! & &!# %  -) !) !( &   !( * +&, 
! )& # %&  !( && & & !( !&)
&))  & -) &! ! &  !# .( && &))
&!)&& &!!&)&)),& )
!&!!(&!&) ! &)/&)) !
! &)( &   ! &  &! !(  &( !
&)( &)&&#

'&&!-! &)(&&!! /


& & ) ! &) (& )-)- -) && ! ! & &
&&,/!& &!&-&( & & )&(&))
&-&!& &!& &) ! &)&&
! ! ( &  !  !& &(&( -) & &)
&-(&&!-!( &(&/
&&/ & & )/ & & )&(#

 %!  ! &/   & !( && ,
-) !   & &    &  & , -) & #
. ! -) !( !  !& ,  & & &) ,
-) !&  &!    & (# 0& &  &/ 
& &  & &&    & / & & &  -)
!(&(&&#0&(/)! !&,&))&
& &) , -) !&  &!    & (# 0& &
&))  , -) ! ) & (# %! &  
!! &&-)  ! & #
%!   ! & (  ! ) &)( ! -)  !&)
! &# 0& &  &/  & &  & && 
 &/& & & -)!(&(&&#0&(/)
!  !& , &)) & & &) , -) !&  &!
   & (# 0& & &))  , -) ! )
& (# *-  !  & ( , -) ! &( &&  
(&(! ! !1!&/&!&)&, !)&
# .&) )  -) (& ! )- &  &  -) !(
 (& & & !&) )& - &! (& & # 2(  &)
)&&-)!(& #

%! &  & ! &!   &- / & 
!(!&)&((&( !!&!()(!&
&/ ( -) &(( ! ! !(&   &   &-&
(# ! & !)))-)&-$3/¢3/43 #%!
& &-& & ( ! &)) &&/ &),! 
!(#0 ,  ( !& & (( ( ! ! !(&  /! !
 & &-& & (  ,   ! & !& !&)
&)& &   & ! &)) - & !  &
&-& &(&,/ & & !&&&
&! !)#

%& !&)&))!&!&)!& (


&!  &-& ( & & &!&)&)))&
& &/  &! &  ( & &- !&) &))
&   +&, ! )& # %! &! &  !
!( &- & & -)    ! & & # 
& &  &! & -  & & & -)  ,(  !
!&) -)&&!&!#5& & & !-)!(,( 
&)) !  ! !/ (  !  &! & ! &&
& &!( & #
V  -) &) !&) & &/& & 
 & & -) !(  & &/ ! &  &
  -) !) &  & & -) !(  &
&/&!&&&!)(&))-&
 & & ) &# .( (   &! ) ! &) (&
& &  )/&)) & & -  & & )-
&-&))&!(& & &-& &(#

6&!) )&&!&) & & /&(


)  & & !&) & &  !( &!) &(/
& &  &! & &  ) & &- )  &
& (/&))&(-#

6&! )  &)&  & &  &!  & & !
! & !&)  4  ! &(& &)& (& &! (
&)!!-)&(! &(&#%!7!)( & & 
! !  8 !) ( & &#9  &)& ! &(& )
& & ) & &   &! & &!  & &/(
 & !&) & -) !) , & & &!)
&(!&) & & /&!) ! &  !!& (!&)
/4  !!  )  &)& -) &( &)  ! ) &
&/& & ( ) & & & & ) & & #*( 
&!)&(!&)&)& &  !!&/(!&(&
&) , &  -) ! &( & &! &-& &
(/&)) & &) &!  &- & & # 5& & (- )
& &  !!& (/&-&(&& !) &)&!
& (&(&) #

%! &  !) ( &)  && )


 &! &&( &)#5&!! !&
! &) (# . &) ( -) &( !( ! &(& ,
:(((!(&!3#3$/(&,!-)
! &(& ! &  -) &( !(   # 0&( / !
&) ( && & , && !   & / -
-) ! (& ( &&  ( , ! ! & !&) 
&;33)-<<#=4>#(&,,-)!&(
&) & &) &!  &&( ( &) ! (
& /& &- ) & & &! &)) ! --
,& &!!&)& & &  #

. ( ! ! ( &) !  ! &(& , & & (
& & &!/&&&&-!&(-/!
! & -)&(!(! ! &(&)&& !
!&&&3/3$?;! !!& (! ! &(&)&
&&&3/3¢?3¢#


rcr??

 c

Dari data yang diperoleh pada percobaan Momen Inersia maka dapat
disimpulkan bahwa:

1)? Pada roda besar dengan jari-jari 25 cm, momen inersia roda sepeda
bernilai 0,03261
2)? Pada roda kecil dengan jari-jari 2,5 cm, momen inersia roda sepeda
bernilai 0,04604