Anda di halaman 1dari 18

Tujo Hadi Sumarto (Wawan Poultry Shop)

Jl. Godean Km. 7,5, Yogyakarta

Setiap hari, bisa menjual 25-30 ton ayam potong ke Jkt, Bgr dan beberapa
daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menunjang usahanya, ia memiliki 20
truk besar dan Colt pikap, serta 10 buah sepeda motor. Tersedia pula gudang seluas
4.000 meter persegi dan tiga lokasi kandang dengan kapasitas sekitar 4.000 ekor
ayam. Uang yang berputar dalam bisnis ayam potong itu ditaksir rata-rata mencapai
Rp. 200 juta per hari. Dari ayam ini, Tujo telah memetik hasilnya: dua rumah besar
jadi tempatnya berteduh, salah satunya yang bernilai Rp. 850 juta baru dibangun di
atas tanah seluas 550 meter2.

Kiat Sukses Beternak Broiler

Poultryindonesia.com, Tips. Untuk dapat terus bertahan di bidang usaha


ternak ayam broiler, harus tahu faktor-faktor apa saja yang merupakan
penentu keberhasilan usaha ternak tersebut.

Fakta membuktikan dari tahun ke tahun kebutuhan masyarakat terhadap daging


broiler terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk
mengkonsumsi daging broiler, terjadi juga peningkatan terhadap usaha peternakan
ayam broiler. Tetapi sangat disayangkan animo peternak terhadap komoditi yang
satu ini tidak disertai kestabilan keuntungan yang dapat diraih oleh peternak,
sehingga seringkali kita engar banyak peternak yang gulung tikar.

Menurut Wirama Yuda (1996), ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh peternak
atau calon peternak, agar usahanya dapat berkesinambungan, diantaranya adalah :

1. Kandang

Sebelum memulai usaha ternak broiler, kita harus mempunyai kandang yang
memenuhi syarat-syarat teknis dan kesehatan ternak, antara lain : tidak bocor waktu
hujan, ventilasi cukup dan sinar matahari tidak dapat masuk secara langsung ke
dalam kandang. Jarak antar kandang tidak terlalu rapat, dengan jarak minimal antar
kandang selebar satu kandang. Saluran-saluran air atau pembuangan di sekitar
kandang harus lancar. Lantai kandang harus miring ke satu atau dua arah untuk
mempercepat proses pembersihan dan mencegah menggenangnya air di dalam
kandang. Bahan-bahan dan konstruksi kandang harus kuat dan tahan lama sehingga
tidak cepat rusak ataupun membahayakan pekerja.

2. Peralatan kandang

Peralatan kandang yang vital seperti tempat pakan (feeder), tempat minuman
(drinker), pemanas, seng pelindung anak ayam (chick guard), layar/tirai penutup
kandang dan alat semprot desinfektan (sprayer) harus tersedia dalam jumlah yang
cukup. Sebab jika peralatan tersebut kurang dari kebutuhan berdasarkan jumlah
ayam yang dipelihara, dapat menimbulkan problem- problem : berat badan standar
akan sulit tercapai. Jumlah ayam yang kerdil akan tinggi. Problem penyakit yang
timbul akan lebih sering dan sulit untuk diatasi. Angka kematian tinggi serta kualitas
rata-rata ayam secara keseluruhan akan jelek.

3. Anak ayam DOC

Anak ayam umur sehari (DOC) yang baik mempunyai ciri-ciri : bulu kering dan
bersih, berat tidak dibawah standar (minimal ± 39 gr/ekor), lincah, tidak mempunyai
cacat tubuh dan tidak menunjukkan adanya penyakit-penyakit tertentu seperti
ompalitis, ngorok ataupun pullorum yang dapat dilihat dari adanya kotoran berwarna
putih yang melekat pada dubur.

4. Pakan

Pakan yang baik adalah yang cukup mengandung zat-zat makanan yang
dibutuhkan oleh ayam (protein, lemak, abu, serat kasar, energi, vitamin dan asam-
asam amino). Hal ini dapat dilihat dari standar kebutuhan zat-zat makanan pada
masing-masing eriode pemeliharaan yang dapat dipenuhi oleh pakan tersebut. Yang
juga tidak kalah penting tapi sering terlupakan adalah pakan tersebut harus tidak
menyebabkan diare, sebab diare dapat menyebabkan litter menjadi basah sehingga
konsentrasi amoniak di dalam kandang meningkat. Pada akhirnya dapat
menimbulkan penyakit dan problem berat badan.

5. Obat-obatan

Meliputi antibiotika, vaksin dan vitamin yang dibutuhkan untuk membantu


mempertahankan kesehatan ayam, ataupun mengobati ayam bila terserang
penyakit. Pemilihan dan pemakaian obat-obatan yang digunakan harus tepat sesuai
dengan kasus yang dihadapi. Oleh sebab itu, diagnosa penyakit tidak boleh salah
untuk keefektifan terapi pengobatan yang dijalankan. Yang wajib untuk dipahami
peternak, adalah obat-obatan ini hanya sebagai pendukung, bukan faktor utama
yang menyebabkan ayam menjadi sehat. Sebab, faktor utama untuk menghasilkan
ayam yang sehat adalah sanitasi dan tata laksana pemeliharaan yang benar. Obat-
obatan yang bagus dan mahal tidak akan bermanfaat banyak bila sanitasi dan
manajemen pemeliharannya buruk. Malah dapat menimbulkan kerugian, karena
problem penyakit akan sering muncul dan sulit untuk diatasi, yang pada akhirnya
biaya produksi menjadi tinggi.

6. Manajemen pemeliharaan

Faktor-faktor di atas dapat berfungsi dengan baik bila manajemen atau


tatalaksana pemeliharaan yang dijalankan benar. Manajemen yang baik akan
meningkatkan efisiensi faktor-faktor produksi, sehingga memperkecil beban
pengeluaran, yang pada akhirnya dapat memperbesar keuntungan yang diperoleh.

7. Pemasaran

Akhir dari masa pemeliharaan ayam broiler akan bermuara pada pemasaran,
sehingga tahap pemasaran ini tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan suatu usaha.
Akan sia-sia kerja yang baik apabila penanganan pemasaran broilernya dilakukan
kurang rapi dan terencana karena dapat mengurangi perolehan peternak. Pemasaran
yang baik adalah yang tepat waktu, memakan waktu yang sesingkat-singkatnya dan
dengan harga jual yang relatif tinggi. Akan tetapi harga jual di sini tentu saja
mengikuti pasaran yang berlaku. Oleh sebab itu, faktor ketepatan waktu dan
lamanya proses pengangkatan ayam dari kandang sangat penting diperhatikan.
Pemasaran yang terlambat, walau hanya satu-dua hari, akan memperbesar biaya
produksi terutama untuk pakan. Sedang proses pengangkutan ayam dari kandang
yang berlarut-larut akan menimbulkan stres pada ayam sehingga akhirnya akan
meningkatkan angka kematian, yang tentu saja menjadi beban peternak.

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan
sumbernya : www.poultryindonesia.com
Usia ayam menginjak satu minggu

Usia Ayam 26 hari uk 0,9-1,2kg

Kandang ayam
Mengenai budidaya ayam broiler pedaging

1. SEJARAH SINGKAT
Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras
unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya
produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya
ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana
pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging
ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini
ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai
kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu
pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak
peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah
Indonesia.

2. J E N I S
Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar
dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya. Sebab
semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya produktifitas relatif
sama. Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaannya tidak
menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa
yang akan dipelihara, peternak dapat meminta daftar produktifitas atau
prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras
pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA,
Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro,
Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma,
Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex,
Bromo, CP 707.

3. PERSYARATAN LOKASI
1. Lokasi yang cukup jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2. Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3. Lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu
oleh keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.

4. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3
(tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan),
breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)

4.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan


4.1.1. Perkandangan
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras
meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C,
kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang
sesuai dengan aturan, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari
pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang
disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu
atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam remaja ± 1 bulan sampai
2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam
dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk
kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting
kuat, bersih dan tahan lama.

4.1.2. Peralatan
a. Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap
yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang.
Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit
padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan
kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.

b. Indukan atau brooder


Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan
1-3 m dengan alat pemanas di tengah. Fungsinya seperti induk ayam yang
menghangatkan anak ayamnya ketika baru menetas.

c. Tempat bertengger (bila perlu)


Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding
dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar.
Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari
tempat bertelur.

d. Tempat makan, minum dan tempat grit


Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari
bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak
berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus

e. Alat-alat rutin
Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti: suntikan,
gunting operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.

4.2. Pembibitan
Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya
• pertumbuhan dan perkembangannya normal
• ternak berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya.
• tidak ada lekatan tinja di duburnya.

4.2.1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk


Beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old
Chicken)/ayam umur sehari:
a. Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c. Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d. Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f. Tidak ada letakan tinja diduburnya.

4.2.2. Perawatan Bibit dan Calon Induk


Dilakukan setiap saat, bila ada gejala kelainan pada ternak supaya
segera diberi perhatian secara khusus dan diberikan pengobatan sesuai
petunjuk Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan yang bertugas di
daerah yang bersangkutan.

4.3. Pemeliharaan
4.3.1. Pemberian Pakan dan Minuman
Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase
starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
• kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-
24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-
0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
• kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat)
golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor,
minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3
(umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29
hari) 91 gram/hari/ekor.
• Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur
4 minggu sebesar 1.520 gram.

b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:


• kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-
21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P)
0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
• kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur
yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu
ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-
50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161
gram/hari/ekor.
• Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829
gram.

4.3.2. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang


dikelompokkan dalam 2 fase:
a. Fase starter (umur 1-29 hari),
kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu
• minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor
• minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor
• minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor
• minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu
adalahsebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari
pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air
minumnya. Banyaknya gula adalah 50 gram/liter air.

b. Fase finisher (umur 30-57 hari),


terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu
• minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor
• minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor
• minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor
• minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor.
Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.

4.4. Pemeliharaan Kandang


Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan
merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya
dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan
memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan
pada label yang dari poultry shoup.
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan
kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan
dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera
disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa
maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang
dipelihara.

5. HAMA DAN PENYAKIT


5.1. Penyakit

5.1.1. Berak darah (Coccidiosis)


Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi,
bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap
kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal,
Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline,
amprolium, cxaldayocox.

5.1.2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)


Gejala: ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok,
lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer
kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-
mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang
tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera
dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk
areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya

5.2. Hama
5.2.1. Tungau (kutuan)
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan
bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan
ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat
sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian
semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi
0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien.
Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah
menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.

6. P A N E N
6.1. Hasil Utama
Untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil utamanya adalah berupa
daging ayam
6.2. Hasil Tambahan
Usaha ternak ayam broiler adalah berupa tinja atau kotoran kandang dan
bulu ayam.

7. PASCA PANEN
7.1. Stoving
Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya
ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)
7.2. Pemotongan
Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar
keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal
ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk.
7.3. Pengulitan atau Pencabutan Bulu
Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas
(51.7- 54.4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik.
Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau
dibakar dengan nyala api biru
7.4. Pengeluaran Jeroan
Bagian bawah dubur dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan
ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual / diikutsertakan pada
daging siap dimasak dalam kemasan terpisah
7.5. Pemotongan Karkas
Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai.
Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih,
kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan
dan dikemas.

Pola Pembiayaan Ayam Ras Pedaging


Penelitian Kerjasam dengan Bank Indonesia Banjarmasin

KESIMPULAN

a. Usaha budidaya ayam ras pedaging (UMKM) di Kab. Banjar dilaksanakan melalui 2 (dua) model

yaitu Pola Mandiri dan Pola Kemitraan. Pola Mandiri dilaksanakan peternak melalui pembiayaan

sendiri baik biaya investasi (kandang dan peralatan) maupun biaya operasional (bibit,pakan, obat

dan vaksin) termasuk pemasaran ayam. Sedangkan Pola Kemitraan dilaksanakan kemitraan antara

peternak plasma (UMKM) dengan pengusaha besar (perusahaan Inti) yang lazim disebut Pola Inti-

Plasma. Tanggung jawab peternak Plasma adalah menyediakan kandang, peralatan dan tenaga

kerja sendiri, sedangkan tanggung jawab Inti adalah menyediakan sapronak (bibit, pakan, obat dan

vaksin) termasuk pemasaran ayam melalui kesepakatan harga yang tertuang sebagai kontrak

kerjasama Inti-Plasma di awal usaha.

b. Mekanisme pembiayaan bank yang dapat menjamin keamanan kredit pada usaha budidaya ayam

ras pedaging model Pola Mandiri dapat dilakukan kerjasama antara pihak Bank dengan peternak

atau kelompok ternak dimana jumlah kredit, pembayaran angsuran pokok dan angsuran bunga

disesuaikan dengan kemampuan produksi ayam ras pedaging oleh peternak. Sedangkan untuk Pola

Kemitraan, pembiayaan dapat dilakukan oleh bank kepada pihak Inti dari Perusahaan Kemitraan
dengan persetujuan semua plasma peminjam kredit. Pencairan dana sebaiknya dilakukan melalui

rekening Inti dimana plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan tetapi yang diterima

dalam bentuk sapronak (bibit, pakan, obat dan vaksin). Plasma hanya melaksanakan proses

produksi dalam pemeliharaan ayam saja. Perusahaan Inti akan memotong sebagian hasil penjualan

plasma untuk disetorkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman, dan sisanya dikembalikan

kepada petani sebagai margin usaha.

c. Pola pembiayaan budidaya ayam ras pedaging disusun berdasarkan data dan informasi yang

dikumpulkan dari beberapa nara sumber yaitu peternak ayam ras pedaging, Perusahaan Kemitraan

(Inti), Dinas Peternakan Kabupaten Banjar, Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan,

Penyuluh (PPL), dan lembaga keuangan Perbankan di Kabupaten Banjar.

d. Wilayah usaha budidaya ayam ras pedaging yang dijadikan model adalah beberapa desa dan

kecamatan di Kabupaten Banjar, sedangkan peternak respondennya adalah peternak ayam ras

pedaging baik Pola Mandiri maupun peternak plasma Pola Kemitraan (Inti-Mitra).

e. Pola budidaya ayam ras pedaging yang dilakukan peternak di Kab. Banjar adalah sistem All In -

All Out, dimana ayam dari anakan (starter) hingga siap panen (finisher) ditepatkan pada satu

kandang yang sama menggunakan kandang tipe panggung.

Cakupan Aspek Tekhnis yang dilakukan adalah:

1. Skala usaha ayam ras pedaging yang dijadikan model analisis kelayakan adalah pada skala usaha

ekonomis minimal yaitu skala usaha 2.500 ekor ayam, dengan dasar pada skala usaha tersebut

merupakan skala minimal usaha yang paling efisien dalam memberikan keuntungan dan merupakan

kemampuan optimal seorang tenaga kerja kandang dalam teknis pemeliharaan ternak ayam ras

pedaging baik peternak Pola mandiri maupun Pola Kemitraan

2. Bibit ayam umur satu hari (DOC)yang digunakan peternak adalah bibit unggul pedaging dengan

strain: strain Multi Breeder (MB), strain Patriot, strain CP 707, strain Wonokoyo dan strain Super

Chick.

3. Persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam budidaya ayam ras pedaging adalah model

kandang tipe panggung, prosedur tatalaksana pemeliharaan fase starter (1-4 minggu) dan fase

finisher ( 4 minggu-panen), tatalaksana pemberian pakan dan minum, program vaksinasi dan

kesehatan ayam, tatalaksana panen sesuai prosedur teknis pemeliharaan ayam ras pedaging yang

baku.
4. Umur ekonomis usaha adalah 5 tahun sesuai umur ekonomis investasi kandang dan peralatan

ayam ras pedaging, dan setelah itu kandang dan peralatan ayam harus diremajakan lagi.

Aspek Pemasaran yang dilakukan adalah:

1. Pemasaran ayam ras pedaging dilakukan dalam bentuk ayam hidup. Pada Pola Mandiri, wilayah

pemasaran ayam sebagian besar dijual ke pedagang ayamm (broker) di luar provinsi Kalimantan

Selatan, meliputi kota Pangkalan Bun, Kapuas, Muara Teweh (KalTeng), serta kota Balikpapan,

Samarinda (KalTim). Oleh karena itu Pola Mandiri ini hanya layak untuk diusahakan jika pasar pada

dua propinsi itu tetap terbuka Sementara Pola Kemitraan pasar ayam Plasma sepenuhnya menjadi

tanggung jawab pihak Inti Perusahaan Kemitraan yang sebagian besar dipasarkan pada pedagang

ayam (broker), makromarket dan industri pengolahan hasil di wilayah Kalimantan Selatan.

2. Rantai pemasaran ayam ras pedaging dari tingkat peternak baik peternak mandiri Pola Mandiri

maupun peternak plasma. Pola kemitraan umumnya melalui rantai tataniaga yang cukup ringkas.

Harga ayam di tingkat peternak mandiri adalah Rp. 14.000 per Kg bobot pada kisaran bobot ayam

2,2 Kg, sementara di tingkat peternak plasma (Kemitraan) sesuai harga kontrak adalah Rp. 12.990

per Kg bobot pada kisaran bobot ayam 1,62 Kg.

3. Pendapatan yang diterima pada Pola Mandiri, dengan asumsi produksi mortalitas ayam 3%, umur

panen 42-49 hari, konsumsi 3,46 Kg/ekor/panen, konversi 1,57, bobot panen 2,2 Kg/ekor, dan

frekuensi panen 6 kali/tahun, dicapai total bobot panen 32.010 Kg/tahun. Dengan harga jual

Rp.14.000/Kg dicapai proyeksi produksi dari hasil penjualan sebesar Rp. 74.690.000/siklus dan Rp.

448.140.000/tahun dan pendapatan (laba) sebesar Rp. 11.610.000,-/siklus dan Rp.

69.660.000,-/tahun. Pada Pola Kemitraan, dengan asumsi produksi mortalitas ayam 3%, umur

panen 31-35 hari, konsumsi 2,58 Kg/ekor/panen, konversi 1,58 , bobot panen 1,62 Kg/ekor, dan

frekuensi panen 6 kali/tahun, dicapai total bobot panen 23.571 Kg/tahun. Dengan harga jual Rp.

12.990/Kg dicapai proyeksi produksi hasil penjualan sebesar Rp.51.031.215/siklus dan

Rp.306.187.290/tahun dan pendapatan (laba) sebesar Rp. 3.247.965,-/siklus dan

Rp.19.487.790,-/tahun.

Aspek Finansial usaha ayam ras pedaging meliputi:

1. Biaya investasi budidaya ayam ras pedaging Pada Pola Mandiri, dengan sistem All In - All Out

sebesar Rp.120.580.000,- terdiri dari biaya investasi, tanah, rumah jaga, kandang dan peralatan

Rp.57.500.000,- dan biaya operasional Rp.63.080.000,-

2. Pada Pola Kemitraan sebesar Rp. 75.283.250,- terdiri dari biaya investasi kandang dan peralatan
dianggap Rp.27.500.000,- dan asumsi tanah tempat usaha dan rumah jaga pada saat menjadi

plasma telah memiliki dan tidak memerlukan biaya investasi untuk hal itu, dan biaya operasional

sebesar Rp.47.783.250,-

Dampak Ekonomi dan Sosial yang ada akibat usaha budidaya ayam yang dilakukan adalah:

1. Terjadinya perbaikan ekonomi dengan peningkatan pendapatan keluarga petani ternak.

2. Perbaikan tingkat kesejahteraan keluarga petani ternak.

3. Peningkatan kemampuan daya beli rumah tangga, peningkatan status kesehatan keluarga, dan

peningkatan konsumsi gizi keluarga dengan peningkatan konsumsi protein hewani

4. Terbukanya banyak kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat dengan adanya kegiatan

peternakan ayam ras pedaging ini, baik sebagai peternak ayam, tenaga kerja kandang, pedagang

ayam, penjual ayam potong, penjual dan pengolah pupuk kotoran ayam, pengolah produk makanan

ayam dan usaha lain baik di sektor hulu maupun hilir dari kegiatan usaha peternakan ayam ras

pedaging ini.

5. Berkembangnya sektor usaha penjualan sapronak ayam ras pedaging dengan tumbuhnya toko

atau kios penjualan saprodi termasuk peralatan pakan-minum, pakan dan obata obatan ayam yaitu

poultry shop saprodi, pakan dan obat-obatan ayam.

6. Tumbuhnya sektor usaha pengadaan bahan pakan ayam seperti bahan dedak padi, jagung giling,

tepung ikan, mineral dan vitamin pakan (premik) dan lainnya.

7. Tumbuhnya sektor lain seperti home industri pengolah produk ayam ras broiler

8. Tumbuhnya home industri pengolah hasil pemotongan ayam yaitu pengolah usus dan ceker ayam

berupa keripik usus dan keripik kulit ceker ayam.

Dampak Lingkungan yang timbul akibat usaha budidaya ayam yang dilakukan adalah:

1. Bau kotoran ayam ras pedaging adalah polusi pertama yang muncul dan cukup mengganggu

masyarakat sekitar sebagai dampak peternakan ayam, namun bau ini dapat dieliminir oleh sebagian

besar peternak dengan mencampur pakan atau air minum ayam dengan larutan probiotik EM-4 atau

NASA yang dapat memfermentasi kotoran dan mengurangi bau yang ada.

2. Lalat juga merupakan dampak lingkungan yang muncul di sekitar peternakan ayam ras pedaging,

akibat adanya kotoran ayam. Upaya desinfeksi kandang dengan desinfektan destam secara rutin

oleh peternak mampu mengurangi jumlah lalat yang ada.

3. Sumber kontaminasi penyakit dari burung, insekta dan hewan melata. Upaya sanitasi dan higiene

di lingkungan peternakan umumnya mampu mencegah terjadinya wabah penyakit atau datangnya
hewan melata yang berbahaya di daerah peternakan ayam ras pedaging.

f. Asumsi pada analisis kelayakan usaha budidaya ayam ras pedaging yang dilakukan, biaya

investasi dan biaya operasional (modal kerja) diperhitungkan bersumber dari perbankan. Untuk

menyederhanakan perhitungan maka tingkat suku bunga diasumsikan sama dengan tingkat suku

bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebesar 16% dari bank pada saat survey.

g. Hasil analisis kelayakan finansial pada Pola Mandiri, terhadap usaha budidaya ayam ras pedaging

menunjukkan secara finansial layak untuk diusahakan. Hasil analisis menunjukkan pada discount

rate 16% memberikan nilai NPV sebesar Rp. 54.320.350,-; Gross B/C rasio 1,16; Net B/C rasio

1,01; Pay Back Period (PBP) 2 tahun 4 bulan dan ROI sebesar 17,16%. Dan IRR 86,15%,

diasumsikan layak sepanjang pasar ayam di Kalteng dan Kaltim masih tetap terbuka. Pada Pola

Kemitraan, terhadap usaha budidaya ayam ras pedaging menunjukkan secara finansial layak untuk

diusahakan. Hasil analisis menunjukkan pada discount rate 16% memberikan nilai NPV sebesar Rp.

36.303.020,-; Gross B/C rasio 1,06; Net B/C rasio 1,00; IRR 65,09%, PBP 3 tahun 8 bulan dan ROI

sebesar 6,79%.

h. BEP volume produksi total selama 5 tahun pada Pola Mandiri sebesar 137.135,71 Kg dan BEP

harga ayam ras pedaging sebesar Rp. 11.995,62,- /Kg. Pada Pola Kemitraan, BEP volume produksi

total selama 5 tahun adalah sebesar 110.353,9 Kg dan BEP harga ayam ras pedaging sebesar Rp.

12.163,23,- /Kg.

i. Berdasarkan analisis sensitivitas pada scenario 1 dan 2 dimana terjadi penurunan penerimaan 5%

atau kenaikan biaya operasional 5% baik Pola Mandiri masih layak, tetapi Pola Kemitraan

menunjukkan tidak layak usaha, berdasarkan parameter financial yang ada. Sementara pasca

scenario 3 dimana secara akumulatif terjadi kenaikan biaya operasional 5% dan terjadi penurunan

penerimaan 5% kedua model sudah tidak layak secara finansial di mana kedua model menunjukkan

NPV yang negative.

SARAN

a. Pemberian kredit pada usaha budidaya ayam ras pedaging di Kabupaten Banjar sangat sesuai

diberikan kepada pengusaha skala mikro dan kecil, mengingat usaha ini baik Pola Mandiri maupun
Pola Kemitraan sangat potensial untuk diberdayakan dan dikembangkan .

b. Direkomendasikan pemberian bantuan pinjaman kredit usaha terutama peternak ayam ras

pedaging yang ada di Kec. Karang Intan dan Kec. Martapura karena selain budidaya ayam secara

teknis oleh peternak berhasil, kedua wilayah tersebut merupakan wilayah pengembangan

peternakan ayam ras pedaging terbesar di Kab. Banjar dan bukan merupakan zona penyakit

endemik ayam pedaging, sehingga perkembangan populasi ayam dapat ditingkatkan.

c. Skema penurunan angka inflasi daging berasal dari ayam ras di Kalimantan Selatan dapat

dilakukan melalui pemberian kredit pinjaman bank terutama pada peternak plasma pada Pola

Kemitraan, dengan alasan: a) walaupun hasil analisis finasialnya tidak sebaik pada Pola Mandiri

namun jumlahnya sangat besar sehingga mampu meningkatkan populasi ayam secara signifikan.,

dan; b) pangsa pasar ayam pada pola ini sebagian besar adalah pasar lokal di Kalimantan Selatan

sehingga akan berdampak besar pada penurunan inflasi daging berasal dari ayam ras pedaging.

d. Skema penurunan angka inflasi ayam ras pedaging (daging) pada Pola Kemitraan, dapat

dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah peternak plasma baru yang direkrut oleh Inti. Hal ini

bertujuan untuk meningkatkan tidak hanya jumlah plasma yang ada (peternak yang berusaha)

akan tetapi sekaligus meningkatkan jumlah populasi ayam ras pedaging sampai pada tingkat

populasi tertentu, yang masih menjamin keseimbangan permintaan dan penawaran produk ayam

ras pedaging di pasaran agar harga tetap stabil dan tetap menguntungkan peternak. Disisi lain

kondisi ini akan mampu menurunkan angka inflasi daging ayam ras di Kalimantan Selatan.

e. Skim kredit perbankan yang diberikan, pihak Inti atau Perusahaan Kemitraan bertindak sebagai

avalis kredit bagi plasmanya, termasuk sebagai suplyer sapronak (bibit, pakan, obat dan vaksin),

pemasaran ayam ras pedaging plasma, sekaligus pemotong dan pembayar angsuran plasma,

dimana sisanya diserahkan sebagai margin usaha bagi plasmanya.

f. Berdasarkan keterbatasan kemampuan peternak UMKM budidaya ayam ras pedaging dalam

menyediakan agunan yang dipersyaratkan bank, seyogyanya pemerintah daerah dapat memberikan

penjaminan sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2008, apabila secara tekhnis dan kelayakan finansial

usaha ayam ras pedaging yang dilakukan dianggap layak usaha.


g. Adanya model pilot project atau demplot percontohan, sebagaikajian lending model yang

dihasilkan dalam penelitian ini berupa paket program budidaya ayam ras pedaging skala 2500 ekor

berikut kandang dan peralatan di Kabupaten Banjar, dimana peserta atau sasarannya adalah

Sarjana Peternakan baru atau kelompok ternak yang diseleksi dan dimagangkan sebelumnya di

perusahaan besar penyelenggara budidaya ayam ras pedaging.

h. Pendanaan dan pembinaan pilot project budidaya ayam ras pedaging, harus didukung oleh pihak

Dinas Peternakan Kabupaten dan Provinsi, Bappeda Kabupaten dan Provinsi, Community Sosial

Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan besar, serta pihak-pihak Bank terkait. Dukungan

banyak pihak bertujuan mengingat modal usaha (biaya investasi dan biya operasional) yang cukup

besar.

i. Disarankan adanya penentuan harga dasar ayam ras pedaging berdasarkan harga BEP usaha dan

disparitas kenaikan harga pakan yang dilakukan setiap bulan, dimana keuntungan peternak plasma

ditetapkan berada 5% di atas suku bunga deposito. Dengan demikian usaha ini akan lebih

menggairahkan peternak plasma dalam usahanya karena masih lebih menguntungkan. Penetapan

harga harus melibatkan tidak hanya perusahaan Inti, tetapi juga Dinas Peternakan, Brooker dan

Plasma, dengan harapan margin di tingkat peternak tetap menguntungkan dan terjaga pada tingkat

tertentu dan secara finansial masih layak usaha

Usaha Ternak Ayam Potong


28 SEPTEMBER 2009 OLEH BRIOOZORA 8 KOMENTAR

ayam potong
Daging ayam merupakan daging favorit di negara kita. Hampir 100% orang Indonesia suka makan daging
ayam, maka dari itu merupakan peluang yang sangat bagus berbisnis ternak ayam potong. Dulu pada waktu
flu burung melanda dunia, bisnis ini menjadi hancur. Sebab tidak ada yang berani makan daging ayam,
sehingga banyak para peternak yang gulung tikar. Sekarang berhubung issu flu burung sudah tidak ada,
kesempatan memulai bisnis ini menjadi bagus. Saatnya sekarang ini untuk memulai mumpung masi banyak
kandang-kandang bekas yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya untuk dibeli dengan harga murah
dibandingkan dengan membuat kandang baru yang tentu lebih mahal. Usaha ini biasanya dilakukan dengan
sistem kerja sama dengan peternak pembibitan ayam potong. Sehingga anda tidak perlu repot-repot
menyadiakan bibit, pakan dan obat-obatan, karena semua telah disiapkan oleh peternak pembibitan tadi.
Dengan sistem kerja sama ini anda hanya menyiapkan kandang beserta alat-alat untuk pemeliharaan ayam
potong dengan sistem bagi hasil 50%.
Dalam usaha pertanian, perkabunan, peternakan pokoknya agribisnis kita memiliki kemudahan, sebab
banyak orang-orang yang ahli di bidang ini terutama di desa-desa. Sehingga tidak ada kesulitan dalam
mencari pekerja yang ahli, dengan demikian kelancaran bisnis ini bisa dijamin. Namun kendala yang
biasanya dialami pada usaha agribisnis adalah pekerja yang nakal dan tidak jujur. Tapi hal ini jarang terjadi
sebab orang-orang desa kebanyakan jujur-jujur walaupun ada yang nakal tapi sedikit. Namun harus pandai-
pandai memilih pekerja yang jujur, jujur apa tidaknya pekerja dapat diketahui dengan sistem penghitungan
jumlah pakan yang dihabiskan berbanding jumlah hewan ternak, dengan perhitungan tadi dapat pula
diketahui berat ternak tanpa harus menimbangnya.
Langkah-langkah yang dibutuhkan
Mencari lokasi yang tanahnya kering (bukan daerah persawahan) untuk menempatkan kandang dengan
tujuan agar kandang tidak cepat rusak terutama kandang yang tiang-tiangnya terbuat dari bambu akan
cepat rusak jika lokasi terletak pada tanah basah (karena kandang dari tiang bambu murah), namun jika
tiang-tiang kandang terbuat dari kayu kelapa tidak masalah dibuat di atas tanah basah karena memakai
penyangga beton (kandang bertiang kayu kelapa lebih mahal).
Usahakan mencari kandang bekas untuk dibeli, sebab berarti pernah dipakai sehingga sudah
diperhitungkan oleh pemilik sebelumnya bahwa lokasi kandang bagus. Perlu diketahui apa penyebab
kandang bekas tadi berhenti dipakai untuk penanggulangan, tapi biasanya para peternak ayam potong yang
menutup usahanya kebanyakan disebabkan oleh kasus flu burung. Jika ini penyebabnya maka kandang
bekas tersebut baik untuk digunakan sebab kasus flu burung sudah reda (sudah tidak ada).
Jika tidak menemukan kandang bekas, buatlah kandang untuk ukuran isi 4000 ekor ayam. Biasanya sudah
ada tukang ahli dalam pembuatan kandang yang menawarkan jasa pembuatan kandang lengkap dengan
peralatan tempat pakan, penghangat, tempat air minum, dll.
Temui peternak pembibitan ayam potong untuk diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem
ini akan mempermudah dalam pengadaan semua yang dibutuhkan karena peternak pembibitan biasanya
menyediakan kebutuhan-kebutuhan ternak yang lengkap dan tidak perlu repot-repot dalam pemasarannya
karena biasanya mereka yang beli kembali hasil panen kemudian dihitung jumlah kebutuhan yang telah
dihabiskan baru setelah itu keuntungan dibagi. untuk ukuran kandang isi 4000 ekor diisi dengan 3700 ekor
agar kandang menjadi lega.
Mencari pekerja yang bertugas mengurus pakan dan minuman ternak dan memelihara sesuai dengan cara
yang benar dengan upah yang sesuai, untuk 3700 ekor ayam dibutuhkan 2 orang pekerja (setiap satu orang
diupah Rp600.000,-). Kemudian usahakan untuk selalu datang mengontrol setiap hari walaupun hanya
sebentar setiap sore pada waktu ternak diberi pakan.
Proses kerja usaha ini
Sehari sebelum bibit ayam didatangkan kandang harus dipersiapkan, letakkan terpal pada seluruh lantai
kemudian sebarkan gabah padi di atasnya dan siapkan pula terpal atau sambungan karung-karung untuk
menutup rapat dinding kandang. Ini bertujuan agar kandang tetap hangat. Kemudian siapkan 40 karung
pakan (setiap pengiriman pakan 40 karung, total pakan yang dihabiskan 260 karung per karung seberat
50kg).
Pada hari bibit ayam didatangkan siapkan triplek sebagai sekat yang dibuat melingkar dengan ketinggian
60cm berdiameter 4 meter, sekat dengan diameter tersebut untuk menampung sekitar 600 ekor bibit ayam.
Jadi untuk 3700 ekor ayam diperlukan enam lingkaran skat.
Letakkan sebuah kompor penghangat (kompor khusus untuk penghangat ayam) di tengah-tengah setiap
lingkaran skat, kemudian letakkan 15 tempat pakan (talam berdimeter 50cm) dan 8 unit tempat air minum di
setiap skat.
Beri pakan dan air minum setiap pagi dan sore, setiap sore air dicampur dengan obat anti stress (disediakan
oleh bos bibit). Setelah 4 atau 5 hari ternak diberi vaksin Ende dengan cara diteteskan pada mata ternak.
Kemudian tempat pakan (talam) diganti dengan tempat pakan khusus ayam yang ditaruh dengan
menggantungkannya setinggi 2cm dari lantai kandang dan terpal penutup dinding dibuka bagian atasnya.
Sekat diperbesar sesuai dengan kepadatan ternak yang semakin besar.
Pada hari ke12 diberikan vaksin Rumboru yang dicampurkan pada susu skin (susu untuk pertumbuhan bulu
ayam), kemudian alas kandang (terpal dan gabah) dibongkar dan alat penghangat berhenti dipakai,
kemudian lingkaran skat dan terpal penutup dinding dibuka. Kandang dibersihkan jika musim panas cukup
sekali saja dibersihkan, namun jika musim hujan maka kandang harus dibersihkan setiap seminggu setelah
hari ke12. Skat diganti dengan skat ruang kandang dengan bambu yang di buat di setiap jarak 10 meter
diberi jarak 2 cm antara bambu-bambu skat, setiap sekat tetap berisi 600 ekor ayam, kemudian tempat
pakan ditambah menjadi 26 unit dan digantungkan lebih tinggi dari permukaan lantai kandang menjadi 6 cm.
Pada hari ke18 ternak diberikan vaksin Ende yang dicampurkan pada susu skin, setiap pemberian vaksin
dilakukan pada waktu sore. Kemudian seminggu sebelum panen yakni di hari ke 28, obat anti stress
berhenti diberikan.
Segala sesuatunya mulai dari jumlah pakan, obat anti stress, vaksin, semua dihitung dan dicatat untuk
dijadikan data yang akan dicocokkan dengan data peternak bibit (boss yang mensuplai segala kebutuhan
tadi) agar penghitungan bagi hasil menjadi benar. Begitu pula pada waktu panen semua ternak yang
dikeluarkan untuk dijual harus ditimbang dan dicatat untuk dijadikan data. Adapun ayam yang afkir dipisah
penimbangan dan pendataannya, sebab harganya lebih murah dari yang normal, jika yang normal berharga
Rp14.000,- per kg maka yang afkir berharga Rp10.000,-.
Panen biasanya dilakukan 6 kali selama satu tahun. Setelah panen kandang dibiarkan selama tiga hari
menunggu sampai kotoran ternak kering baru setelah itu dibersihkan dan kotoran dikumpulkan dalam
karung-karung bekas pakan dapat dijual seharga Rp2000,- kepada petani untuk dijadikan pupuk, dalam
sekali panen bisa menghasilkan 150 karung kotoran. Begitu pula dengan karung bekas pakan dapat dijual
seharga Rp2000,-. Hasil penjualan kotoran dan karung bekas dapat menutupi ongkos air PDAM dan listrik
dan minyak tanah bahan bakar penghangat kandang.
Jumlah biaya yang dihabiskan dan keuntungan yang dihasilkan.
Sewa tanah beserta kandang yang dapat menampung 4000 ekor ayam Rp15.000.000,- per tahun.
Biaya gaji 2 orang pekerja Rp600.000,- per orang per sekali panen Rp1.200.000,- .
Biaya bibit per kardus isi 100 ekor Rp370.000,- total harga 37 kardus berisi 3700 ekor bibit ayam
Rp13.690.000,-(dibayar setelah panen).
Biaya pakan per kwintal Rp265.000,- pakan yang dihabiskan sekali panen adalah 130 kwintal seharga
Rp265,000,- kali 130 kwintal sama dengan Rp34.450.000,-.(dibayar setelah panen)
Biaya 20 bungkus obat anti stress yang dihabiskan selama sekali panen adalah Rp240.000,-(dibayar
setelah panen).
Biaya 24 botol vaksin selama sekali panen Rp360.000,- (dibayar setelah panen).
Dari 3700 ekor bibit biasanya dapat dipanen 3500 ekor per ekor rata-rata memiliki berat 1,5kg, maka hasil
penjualan sekali panen Rp14.000,- dikali 5250kg (berat 3500 ekor ayam) sama dengan Rp73.500.000,-.
Keuntungan yang didapat adalah : hasil penjualan Rp73.500.000,- dikurangi jumlah total biaya pakan, bibit,
obat anti stress, vaksin Rp48.740.000,- sama dengan Rp24.760.000,-.
Karena sistem kerja bagi hasil dengan penyuplai bibit dan kebutuhan 50%-50%, maka keuntungan yang
didapat dibagi dua menjadi Rp12.380.000,- per sekali panen.
Modal yang harus disiapkan pada awalnya adalah untuk pembiayaan kandang. Jika menyewa kandang
orang maka cukup Rp15.000.000,-.
Jika menyewa tanah 10 tahun dan membikin kandang sendiri untuk isi 4000 ekor maka jumlah modal yang
harus disiapkan uang sewa tanah Rp10.000.000,- plus biaya kandang Rp60.000.000,- sama dengan
Rp70.000.000,-.
Pemasaran
Untuk pemasaran hasil panen karena memakai sistem kerja sama maka sudah diurus oleh klien pembibitan
sehingga kita tidak perlu memikirkan pemasaran.