Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu bidang pembangunan nasional yang

bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Pendidikan itu

berlangsung dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Karena itu

penyelenggaraanya merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu bentuk

penyelenggaraan pendidikan adalah seperti yang terdapat pada jenjang pendidikan

tingkat dasar yang merupakan titik awal dari proses pendidikan formal.

Sekolah dasar adalah bagian dari program pendidikan dasar sembilan tahun.

Program ini wajib bagi semua warga negara. Hal ini berarti bahwa sekolah dasar

berfungsi untuk menampung semua anak usia sekolah 6-12 tahun dari apapun latar

belakangnya. Lembaga ini mengembangkan kemampuan peserta didik dapat

mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya.

Secara umum disepakati bahwa sekolah dasar merupakan awal pembentukan

kepribadian dan fikiran serta penguasaan bahasa anak yang ikut menentukan

perkembangan selanjutnya. Sebagai jenjang pendidikan yang paling rendah, sekolah

dasar berfungsi pula membekali peserta didik dengan pengetahuan, ketrampilan dan

sikap dasar yang dibutuhkan untuk menjadi warga negara yang baik.
2

Dilihat dari fungsi dan peranannya yang strategis serta penting itu, sekolah

dasar sangat mengandalkan peran interaksi pendidik dan peserta didik. Di sinilah

ditanamkan dasar-dasar pendidikan sebagai lanjutan dari pendidikan keluarga

terutama dalam pengembangan aspek intelektual, moral dan sosial. Namun dalam

perjalanannya pendidikan dasar tidak lepas dari berbagai masalah.

Rendahnya kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah yang dihadapi

bangsa Indonesia saat ini. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Human Development

Report UNDP tahun 2001, mutu pendidikan Indonesia berada pada urutan ke 102 dari

negara-negara di dunia (dalam Laporan Komisi Nasional Pendidikan, 2001). Urutan

tersebut masih berada di bawah posisi Vietnam yang berada pada urutan ke 101.

Kondisi ini didukung oleh hasil survai The Political and Economic Risk Consultancy

(PERC) yang berbasis di Hongkong. Survai ini menyimpulkan bahwa kondisi

pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke 12, lebih rendah dari peringkat

pendidikan Vietnam yang menempati ke 11 di antara 12 negara (dalam Laporan

Komisi Nasional Pendidikan, 2001).

Rendahnya mutu pendidikan diperkirakan oleh Komisi Nasional Pendidikan

sekurang-kurangnya karena empat hal berikut: Pertama, kurangnya sarana dan

prasarana yang dimiliki oleh sekolah. Kedua, kurangnya dana yang diberikan untuk

pendidikan. Ketiga, kurangnya profesionalisme guru yang ditandai oleh rendahnya

tingkat penguasaanya terhadap mata pelajaran dan belum terpenuhinya kualifikasi

yang dipersyaratkan sebagai seorang guru yang baik. Akhirnya, kurangnya perhatian
3

pemerintah terhadap kesejahteraan guru berupa pemberian imbalan yang memadai,

perumahan serta transportasi yang cukup dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rendahnya mutu pendidikan

diperkirakan karena kurangnya fasilitas yang dimiliki, kurangnya dana serta

lemahnya sistem manajemen yang dimiliki oleh sekolah.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan tentu saja akan berimbas

pada mutu pendidikan yang dihasilkan terutama di sekolah-sekolah negeri. Karena itu

wajar masyarakat mendambakan kehadiran sekolah yang berkualitas yang dikelola

secara profesional dan efektif. Dengan demikian tuntutan masyarakat seperti

tingginya tingkat prestasi belajar murid yang dibarengi oleh nilai-nilai agama akan

terpenuhi. Di samping itu harapan terhadap anak-anak yang memiliki ilmu

pengetahuan dan teknologi serta keimanan dan ketaqwaan yang teguh yang tercermin

dalam tingkah laku mereka sehari-hari akan tercapai.

Salah satu sekolah dasar yang banyak diminati oleh masyarakat di Kota

Padang adalah Sekolah Dasar Islam Terpadu Adzkia (selanjutnya disingkat dengan

SDIT Adzkia). Sekolah ini berlokasi di Jalan Taratak Paneh No. 7, Kecamatan

Kuranji, Kota Padang. Sekolah ini bernaung di bawah Yayasan Adzkia Padang,

sebuah lembaga berbadan hukum yang berkedudukan di Kota Padang, yang didirikan

berdasarkan Akta Notaris Nomor 97 tanggal 16 Desember 1996. Yayasan ini

bertanggung jawab dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Tugasnya

meliputi pengelolaan penerimaan murid baru, keuangan, administrasi,

kepegawaian/personalia sekolah, alat-alat dan perlengkapan, gedung, sarana dan


4

prasarana pembelajaran. Termasuk juga tugasnya hal-hal yang berkaitan dengan

pengadaan rumah dinas guru dan pimpinan sekolah, pemberian ijazah, perpustakaan,

sarana ibadah, olah raga, kesenian dan kepramukaan. Seluruh personalianya berusaha

bekerja dengan baik sesuai dengan motto “ mengabdi dan berprestasi dalam ridha

Allah”.

Yayasan Adzkia (selanjutnya disebut Yayasan) berusaha dengan segenap

potensi dan kemampuan serta kemauannya mengembangkan pendidikan yang

bernuansa Islami. Untuk itu SDIT Adzkia mengembangkan sistem pendidikan

terpadu. Keterpaduan ini meliputi: (a) pendidikan sekolah umum dan agama, (b)

kognitif , afektif dan psikomotorik, (c) sekolah, orang tua dan masyarakat dan (d)

guru dan anak didik.

Dengan keterpaduan semacam ini kegiatan belajar-mengajar senantiasa

didorong untuk berusaha menciptakkan suasana hubungan yang harmonis antara guru

dan anak didik. Hal tersebut diharapkan akan dapat menumbuhkan rasa aman,

tentram, nyaman, dan senang dalam diri anak didik, sehingga membuat anak didik

betah belajar.

Suasana ini membuat tingginya keinginan masyarakat untuk memasukkan

anak mereka ke sekolah tersebut walaupun dengan biaya yang relatif cukup tinggi

seperti SPP yang besarnya lebih dari Rp. 130.000 per bulan. Biaya ini tinggi bila

dibandingkan dengan biaya sekolah dasar negeri maupun swasta yang lain seperti ,

misalnya, SDIT Ulul Albab yang besarnya Rp. 50.000. Atau SD Betha dengan biaya

sebesar Rp. 40.000, atau dengan sekolah dasar negeri pada umumnya dengan SPP di
5

bawah Rp. 10.000. Walaupun SPP-nya tinggi seperti disebutkan, namun minat orang

tua/ wali murid tetap cukup besar untuk mendaftarkan anak mereka ke SDIT Adzkia.

(wawancara dengan Kepala Sekolah, 20 Juni 2003). Dari laporan Kepala Tata usaha

SDIT Adzkia penulis memperoleh informasi bahwa pada tahun ajaran 2002-2003 dari

sebanyak 115 orang terdaftar yang diterima sebanyak 60 orang, kemudian pada tahun

ajaran 2003-2004 tidak kurang dari 128 orang yang mendaftarkan anaknya namun

yang diterima tidak lebih dari 90 orang yang diterima (wawancara dengan Kepala

Tata Usaha, bulan Juli 2003).

Tingginya keinginan masyarakat tersebut cukup beralasan. SDIT Adzkia

merupakan sekolah dasar terbaik dari 20 sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah negeri

dan swasta yang ada di Kecamatan Kuranji. Di samping itu SDIT Adzkia selalu

meraih predikat juara/peringkat I pada ujian subsumatif catur wulan. Kemudian dari

hasil ujian sumatif yang dikeluarkan oleh FORSIL (Forum Silaturahim SD Islam se-

Indonesia) sekolah ini mempunyai nilai rata-rata di atas 6,5 sementara sekolah lain di

bawahnya. Kemudian di bidang ekstrakurikuler SDIT Adzkia telah mampu pula

menunjukkan prestasinya yang baik. Sekolah ini menjadi juara I hifzil Qur’an juz 30

tingkat Propinsi Sumatra Barat tahun 2000. Kemudian menjadi juara II tartil tingkat

Propinsi Sumatra Barat tahun 2002. Selanjutnya menjadi juara I MTQ tingkat Kota

Padang tahun 1998. Terakhir SD ini juga menjadi juara umum lomba hafal Qur’an,

praktek shalat dan adzan antar sekolah dasar dan taman pendidikan Qur’an se-Kota

Padang pada bulan April tahun 1999.


6

Dari informasi yang penulis dapatkan di atas, disimpulkan bahwa SDIT

Adzkia adalah lembaga pendidikan yang menunjukkan prestasi yang

menggembirakan di saat mutu pendidikan di Indonesia secara umum mengalami

kemerosotan. Hal ini cukup menarik untuk diteliti dan dibicarakan agar lembaga-

lembaga pendidikan yang lain terutama di Sumatra Barat terdorong untuk memajukan

pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan hasil grand tour yang penulis lakukan di SDIT Adzkia ini dalam

bulan Juni 2003 penulis menemukan hal-hal berikut:

1. Tujuan

Tujuan SDIT Adzkia ini mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap


serta kemampuan dasar yang diperlukan untuk mengisi kehidupan peserta didik di
tengah-tengah masyarakat, serta berusaha mempersiapkan peserta didiknya untuk
memenuhi standar kualitas yang diharapkan masyarakat sekaligus untuk menempuh
pendidikan di tingkat lanjutan.
Berkaitan dengan tujuan di atas SDIT Adzkia berusaha memposisikan,

memantapkan dan mengembangkan keberadaannya dengan melengkapi segala

keperluan yang persyaratkan demi terselenggaranya pendidikan yang sesuai dengan

konsep pendidikan Islam, dimana konsep dan operasional SDIT adzkia

mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, agar bumi Allah SWT ini

dimakmurkan oleh insan kamil yang mereka menyeru manusia ke jalan Allah,

menegakkan amal makruf nahi mungkar, berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.

Seperti tertulis dalam mottonya “ berprestasi dalam ridha Allah.

2. Program Studi
7

Kurikulum SDIT Adzkia merupakan perpaduan tiga bentuk kurikulum. Ketiga

kurikulum itu ialah: (a) kurikulum SD tahun 1994 oleh Departemen Pendidikan

Nasional, (b) kurikulum madrasah ibtidaiyah, Departemen Agama RI, yang meliputi

aspek aqidah, akhlak, fiqih, ibadah dan shirah dan (c) kurikulum khusus pesantren

terpadu Adzkia dengan mata pelajaran tilawah dan tahsin dengan metode qiro’ati

serta tahfiz dengan metode setor dan takrir (mengulang).

Penggabungan kurikulum ini menghasilkan 11 mata pelajaran untuk kelas I

dan II yang meliputi Al-Qur’an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fiqih, Bahasa Indonesia,

PPKN, Matematika, IPA, Kesenian, Keterampilan, qiro’ati dan Pendidikan Jasmani.

Untuk kelas III, IV, V dan VI diberikan 5 mata pelajaran tambahan yakni Tahfidzul

Qur’an, IPS, Sejarah Islam, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

3. Program Penunjang

Di samping program reguler akademik, seperti yang digariskan kurikulum di


atas, SDIT Adzkia mengembangkan pula program-program penunjang. Program ini
berupa latihan percakapan harian dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab,
ketrampilan komputer dan sempoa. Di samping itu diprogramkan juga kunjungan ke
luar sekolah (seperti ke musium, PLTA, panti asuhan, instansi pemerintah dan lain-
lain). Akhirnya peserta didik juga dibekali dengan mata pelajaran kertrampilan hidup
(life skill) seperti ketrampilan menjahit, menyulam dan memasak.

4. Persyaratan Peserta Didik

Untuk dapat diterima di SDIT Adzkia, para calon murid disyaratkan

memenuhi hal-hal berikut. Pertama, persyaratan administratif berupa biaya-biaya

wajib yang harus dibayar. Biaya-biaya dimaksud termasuk biaya pembangunan, biaya
8

sumbangan pendidikan (SPP) bulan pertama, biaya sumbangan komite sekolah, biaya

kesehatan, biaya buku paket, biaya busana seragam olah raga dan biaya atribut SD.

Semuanya berjumlah Rp 1.434.000,-. Di samping itu disyaratkan pula membayar

biaya pilihan (opsional) untuk 4 stel busana seragam sekolah sebesar Rp. 140.000,-

dan biaya komsumsi makan siang dan kudapan (snack) berjumlah Rp 102.500,- per

bulan. Kedua, persyaratan usia yakni minimal lima setengah tahun. Ketiga,

persyaratan fisik dan motorik yang tercermin pada pertumbuhan yang normal.

Keempat, persyaratan perkembangan mental yang sehat dengan kriteria kemampuan

dasar dan kemampuan emosional yang normal dan responsif. Kelima, persyaratan

kematangan sosial dengan kriteria komunikasi verbal yang lancar dan kemampuan

melaksanakan tugas yang diberikan. Akhirnya, persyaratan kemampuan membaca Al-

Qur’an.

5. Hasil

Menurut laporan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kuranji tahun

2002/2003 SDIT Adzkia adalah sekolah dasar terbaik dari 20 sekolah dasar/madrasah

ibtidaiyah negeri dan swasta yang ada di Kecamatan Kuranji. Hal ini terlihat dari

keberhasilanya meraih sejumlah kejuaraan. Termasuk di dalamnya adalah (a) predikat

juara/peringkat I pada ujian catur wulan (cawu) subsumatif, (b) juara I hifzil Qur’an

juz 30 tingkat Propinsi Sumatra Barat tahun 2000, (c) juara II tartil tingkat Propinsi

Sumatra Barat tahun 2002, (d) juara I Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat

Kota Padang tahun 1998, (e) juara umum lomba hafal al-Qur’an, praktek shalat dan
9

adzan antar Sekolah dasar dan taman pendidikan al-Qur’an/ taman pendidikan seni

al-Qur’an (TPA/TPSA) se-Kota Padang pada tahun 1999.

6. Sarana dan Prasarana

Kemajuan pendidikan SDIT Adzkia didukung oleh sarana dan prasarana yang

cukup memadai yang terdiri dari gedung (ruang belajar) berlantai tiga (milik sendiri),

ruang perpustakaan, ruang unit kesehatan sekolah (UKS), sebuah mushalla, sebuah

halaman yang cukup luas dan lapangan tempat bermain yang cukup. Di samping itu

juga terdapat ruang dokter dan psikolog.

7. Kepemimpinan

Kepala sekolah secara sepintas terkesan berhasil membina kerjasama dengan

guru-guru dan pegawai sekolah. Hal ini terlihat dari kemampuanya membina

komunikasi yang baik di kalangan personil sekolah, kemampuan menggerakkan staf,

serta mengoptimalkan kemampuan sumberdaya sekolah.

Kepala sekolah, guru-guru dan pengurus Yayasan minimal dalam seminggu

mengadakan pertemuan bersama. Rapat ini bertujuan untuk memecahkan masalah

dan persoalan yang timbul di samping membicarakan ide-ide baru untuk kemajuan

dan peningkatan prestasi belajar siswa. Kepala sekolah terkesan sangat bersungguh-

sungguh dalam melaksanakan tugasnya. Dia berkeyakinan bahwa tugas sekolah

merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Kesungguhan

dalam melaksanakan tugas ini dapat dilihat, pada satu pihak, dari kehadirannya yang
10

sering lebih dulu dari kedatangan guru-guru dan, dipihak lain dari kepulangannya

yang terakhir dari pihak lainnya.

Sejauh yang dapat diamati kepala sekolah memiliki kepribadian yang baik.

Dia murah senyum, ramah, sopan terhadap siapa saja, baik kepada guru-guru,

karyawan ataupun murid-murid. Terlihat juga bahwa guru-guru dan karyawan

diposisikannya sebagai midranya bukan sebagai bawahannya. Hal ini terlihat dari

gaya komunikasinya yang baik kepada setiap pihak. Tambahan lagi murid-murid

diperlakukannya seolah-olah seperti anak kandungnya sendiri. Hal ini terlihat dari

gaya dan perlakuannya terhadap murid-murid yakni, ramah, sopan, bercanda dengan

murid-murid bahkan tidak segan-segan menggendong mereka.

8. Tenaga Pengajar

Tenaga pengajar rata-rata masih berusia muda. Para pendidik dan pengasuh

terdiri dari lembaga-lembaga profesional lulusan berbagai perguruan tinggi seperti

UI, IPB, UNP, IAIN, UNAND, STIQ, UNJA, UNRI dan lembaga pendidikan lain

yang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

9. Proses Pembelajaran

Pembelajaran berlangsung dari jam 7.30 WIB sampai jam 16.00 WIB (full

day school). Pembelajaran di kelas I, II dan III diorganisir masing-masing oleh dua

orang wali kelas sedangkan di kelas IV, V dan VI masing-masing dua orang wali

kelas ditambah dengan guru bidang studi.


11

Pembelajaran seperti dikatakan sebelumnya, mengikuti kurikulum yang

diintegrasikan antara kurikulum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kurikulum

Departemen Agama, dan kurikulum SDIT Adzkia sendiri. Kegiatan pembelajaran

dilakukan tidak saja dalam kelas tetapi juga di luarnya. Termasuk ke dalam kegiatan

kelas ini antara lain shalat berjamaah, makan bersama, mengaji, dan menghafal doa-

doa.

Dari pengamatan di atas, peneliti berkesimpulan bahwa keberhasilan SDIT

Adzkia tidak terlepas dari proses pembelajaran yang efektif. Selanjutnya untuk

memperoleh informasi yang lebih banyak tentang ini kegiatan grand tour telah

dilakukan dengan diiringi kegiatan mini tour. Dalam mini tour penulis akan melihat

fungsi-fungsi manajemen pembelajaran yang dikemukakan oleh Siagian (1990)

meliputi perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi dan pengawasan. Hal

ini dilakukan dalam untuk melihat berhasil tidaknya suatu proses manajemen,

sebagaimana yang dikemukakan oleh Handoko (1996) manajemen suatu organisasi

yang benar harus melaksanakan seluruh fungsi manajemen yang ada.

1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan yang dilakukan dalam manajemen pembelajaran di SDIT Adzkia

menghasilkan satuan pelajaran (SP). Satuan pelajaran ini telah dipersiapkan sebelum

proses pembelajaran dilaksanakan.

Dalam rangka menunjang pencapaian tujuan pembelajaran guru-guru

khususnya ataupun sekolah umunya sudah mempersiapkan segala sesuatu yang


12

berhubungan dengan perlengkapan pembelajaran baik yang dibawa sendiri maupun

yang telah disiapkan oleh sekolah seperti OHP, papan tulis, maket, organ tubuh

manusia atau gambar tengkorak manusia untuk mata pelajaran IPA, maket kubus,

selinder, tabung untuk mata pelajaran matematika, peta untuk mata pelajaran IPS,

dalan lain-lain sebagainya.

2. Pengorganisasian Pembelajaran

Dalam rangka pencapaian tujuan, guru-guru di SDIT Adzkia melakukan

pengorganisasian pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran yang dilakukan oleh

guru di SDIT Adzkia dapat terlihat dari bentuk pengorganisasian yang dilakukan guru

terhadap siswa antara lain berupa pembagian kelompok diskusi. Pembagian

kelompok diskusi ini dilakukan dalam rangka mengajar siswa agar lebih kreatif dalam

belajar serta dapat bekerjasama dengan teman-temannya dalam memecahkan masalah

yang ditugaskan oleh guru dan dalam rangka menghargai pendapat orang lain.

3. Motivasi Pembelajaran

Motivasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di SDIT Adzkia sejauh yang

dapat penulis diamati sudah berjalan dengan baik diantaranya bersemangatnya siswa

dalam belajar, tingginya perhatian siswa ketika guru menerangkan pelajaran,

sehingga membuat kondusifnya suasana pembelajaran dalam kelas.

4. Pengawasan Pembelajaran
13

Bentuk pengawasan pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa di

SDIT Adzkia antara lain:

a. Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa ketika akan memulai mata pelajaran.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelajaran yang sudah dipelajari

sebelumya sudah dipahami oleh siswa atau belum.

b. Adanya ulangan perminggu untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa

tentang mata pelajaran yang sudah dijelaskan.

c. Bagi siswa yang belum memperlihatkan penguasaanya untuk mata pelajaran

tertentu atau memiliki nilai yang belum memuaskan diberikan pelajaran tambahan

(remedial).

d. Memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa.

Dari pengamatan yang dilakukan selama mini tour, peneliti melihat bahwa

komponen yang ikut mempengaruhi keberhasilan SDIT Adzkia adalah proses

pemberian motivasi yang dilakukan oleh guru terhadap siswa di SDIT Adzkia. Hal ini

dirasa perlu sebab pemberian motivasi amatlah penting dalam pengembangan dan

pembinaan potensi siswa. Maka dengan pemberian motivasi yang dilakukan oleh

guru ini diharapkan siswa akan lebih giat lagi belajar.

B. Pertanyaaan dan Tujuan Penelitian

Sesuai dengan observasi terfokus yang ditetapkan di atas, maka pertanyaan

penelitian ini berupaya akan mencarikan jawaban pertanyaan:

1. Bagaimana cara guru memotivasi siswa agar mau belajar.


14

2. Apa kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam memotivasi siswa.

3. Apa bentuk sanksi-sanksi yang diberikan kepada siswa.

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah kemukakan di atas, maka

penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menganalisis tentang:

1. Bagaimana cara guru memotivasi siswa agar mau belajar.

2. Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam memotivasi siswa.

3. Bentuk sanksi-sanksi yang diberikan kepada siswa.

C. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kota Padang sebagai masukan berharga untuk

pengembangan sekolah di wilayahnya.

2. Kepala-kepala sekolah dasar di Kota Padang sebagai informasi dan pembanding

dalam pengelolaan sekolah.

3. Kepala Sekolah Dasar Islam Terpadu Adzkia, sebagai masukan dalam rangka

meningkatkan mutu sekolah dasar itu.

4. Para guru, agar dapat meningkatkan kinerja dalam melaksanakan peran dan

tugasnya sebagai pendidik, sehingga dapat meningkatkan mutu sekolah.

5. Peneliti berikutnya yang berkaitan dengan masalah strategi manajemen suatu

sekolah.
15

BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Manajemen Pembelajaran

Menurut Arikunto (1993) manajemen pembelajaran yaitu pengadministrasian,

pengaturan atau penataan suatu kegiatan penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan

sikap oleh subjek yang sedang belajar.

Sagala (2003) mendefinisikan manajemen pembelajaran adalah:

sebagai usaha dan tindakan kepala sekolah sebagai pemimpin


intruksional di sekolah dan usaha maupun tindakan guru sebagai
pemimpin pembelajaran di kelas dilaksanakan sedemikian rupa
16

untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan program


sekolah dan juga pembelajaran.

Duke (dalam Hasri, 2002) mengatakan manajemen pembelajaran adalah

ketentuan dan prosedur yang diperlukan guna mencapai dan memelihara lingkungan

tempat terjadinya kegiatan belajar dan mengajar.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen

pembelajaran adalah suatu tindakan di dalam pengadministrasian, pengaturan atau

penataan suatu kegiatan penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap oleh subjek

yang sedang belajar dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.

Menurut Sagala (2003) manajemen mengandung empat fungsi manajemen

yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengevaluasian.

1. Perencanaan Pembelajaran

Kemp (1994) menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran adalah tata cara

yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sedangkan pembelajaran

menurut Dick (1968) merupakan suatu proses sistematis yang terdiri dari beberapa

komponen seperti guru, siswa, materi dan lingkungan belajar. Keempat komponen ini

merupakan unsur penting untuk terwujudnya kesuksesan dalam belajar.

Menurut Suryosubroto (1997) perencanaan pembelajaran bermanfaat bagi

guru sebagai kontrol terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara mengajar.

Untuk merencanakan pembelajaran menurut Kemp (1994) guru harus memperhatikan

beberapa hal sebagai berikut:


17

a) Memperkirakan kebutuhan belajar untuk merancang suatu program pengajaran,

menyatakan tujuan, kendala dan prioritas yang harus diketahui.

b) Memilih pokok bahasan untuk dilaksanakan dan tunjukkan tujuan umum yang

akan dicapai.

c) Meneliti ciri siswa yang harus mendapat perhatian selama perencanaan, berkaitan

dengan kemampuan, kebutuhan dan minat siswa.

d) Menentukan isi pembelajaran dan menguraikan unsur tugas yang berkaitan

dengan tujuan.

e) Menyatakan tujuan belajar yang ingin dicapai dari segi isi pelajaran dan unsur

tugas.

f) Merancang kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah

dinyatakan.

g) Memilih sejumlah media untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

h) Merinci pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan dan

melaksanakan semua kegiatan.

i) Mengevaluasi hasil belajar dan hasil program pengajaran.

j) Menentukan persiapan siswa untuk mempelajari pokok bahasan selanjutnya

dengan memberi uji awal pada mereka.

Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah selanjutnya

disingkat dengan Dirjen Dikdasmen (1996) kegiatan-kegiatan yang dilakukan guru

dalam menyusun perencanaan pembelajaran meliputi:

a. Merumuskan tujuan pengajaran


18

b. Mengembangkan bahan pengajaran

c. Memilih dan mengembangkan metode pengajaran yang tepat

d. Memilih dan mengembangkan alat peraga yang sesuai

e. Memilih dan memanfaatkan sunmber belajar yang sesuai

f. Mengembangkan alat penilaian yang tepat menunjang pencapaian tujuan

pengajaran.

Semua sarana di atas, bermuara pada pembuatan satuan pembelajaran dengan

berpedoman pada garis-garis besar program pembelajaran, menyusun analisis materi

pembelajaran dan menyusun satuan pembelajaran.

2. Pengorganisasian Pembelajaran

Gardon (dalam Sagala, 2003) mengemukakan pengorganisasian adalah

terbaginya tugas kedaam berbagai unsur organisasi, dengan kata lain

pengorganisasian yang efektif adalah membagi habis dan menstrukturkan tugas-tugas

kedalam sub-sub atau komponen-komponen organisasi. Sedangkan Sutisna (dalam

Sagala, 2003) menyatakan bahwa pengorganisasian sebagai kegiatan menyusun

struktur dan membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha

mencapai tujuan bersama.

Sagala (2003) menjelaskan pengorganisasian pembelajaran terkait dengan

pembagian waktu, desain kurikulum, media dan kelengkapan pembelajaran, dan

lainnya yang terkait dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan belajar. Selanjutnya


19

Sagala (2003) menjelaskan pengorganisasian pembelajaran meliputi beberapa aspek

yaitu:

1). Mentediakan fasilitas, perlengkapan dan personel yang


perlukan untuk menyusun kerangka yang efisien dalam
meaksanakan rencana-rencana melalui suati proses penetapan
pelaksanaan pembelajaran yang diperlukan untuk
menyelesaikanya.
2). Pengelompokan komponen pembelajaran dalam struktur
sekolah secara teratur.
3). Membentuk struktur, wewenang dan mekanisme koordinasi
pembelajaran.
4). Merumuskan dan metepkan metode dan prosedur
pembelajaran dan
5). Memiih, mengadakan latihan dan pendidikan dalan upaya
pertumbuhan jabatan guru dilengakapi dengan sumber-
sumber lain yang diperlukan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

pengorganisasian pembelajaran adalah siatu kegiatan di dalam menyusun struktur dan

membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai

tujuan pembelajaran.

3. Penggerakan Pembelajaran

Terry (dalam Sagala, 2003) penggerakan berarti merangsang anggota-anggota

kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemampuan yang

baik. Sagala (2003) menjelaskan penggerakan pembelajaran di sekolah tugas

penggerakan dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin intruksional,

sedangkan dalam kontek kelas penggerakakan dilakukan oleh guru sebagai

penanggung jawab pembelajaran.


20

Selanjutnya Sagala (2003) menjelaskan penggerakan pembelajaran yang

dilakukan oleh guru meliputi:

1). Menyusun kerangka waktu dan biaya yang diperlukan baik


untuk institusi maupun pembelajaran secara rinci dan jelas.
2). Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam
merencanakan pengambilan keputusan.
3). Mengeluarkan intruksi-intruksi yang spesifik ke arah
pencapaian tujuan dan
4). Membimbing, memotivasi, dan memberi tuntunan atau arahan
yang jelas bagi siswa peserta didiknya

berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa

penggerakan pembelajaran merupakan suatu kegiatan di dalam merangsang murid-

murid untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan antusias dan kemampuan

yang baik sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.

4. Pengevaluasian Pembelajaran

Sudijono (1995) evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan

untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah

ditetapkan.

Dalam proses pembelajaran, evaluasi pendidikan lebih mengarah pada

evaluasi hasil belajar. Dimyati dan Mudjiono (2002) mengatakan bahwa evaluasi

hasil belajar adalah proses untuk menentukan nilai siswa melalui kegitan pengukuran

dan penilaian hasil belajar. Ini berarti membandingkan hasil belajar yang dicapai

siswa dengan tujuan yang telah direncanakan. Dalam evaluasi terdapat dua kegiatan

yaitu mengukur dan menilai. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan suatu
21

ukuran tertentu yang menjadi standar dan bersifat kuantitatif, sedangkan menilai

adalah mengambil suatu keputusan tentang sesuatu ukuran tertentu dan lebih bersifat

kualitatif.

Pelaksanaan evaluasi menurut Devies (1991) berfungsi untuk memberi umpan

balik kepada guru bagi pengontrolan tentang sesuai tidaknya pengorganisasian belajar

dan sumber belajar. Untuk melaksanakan evaluasi ini perlu dipahami prinsip-prinsip

yang ada dalam evaluasi seperti prinsip integritas, prinsip kontinuitas, dan prinsip

obyektifitas. Selanjutnya Devies (1991) menjelaskan prinsip integritas berarti bahwa

evaluasi hasil belajar harus dilakukan secara bulat, utuh dan menyeluruh, tidak

terpisah-pisah. Dengan kata lain evaluasi hasil belajar harus dapat mencakup berbagai

aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku pada

diri peserta didik.

Prinsip kontinuitas dimaksud adalah evaluasi hasil belajar dilaksanakan secara

teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu. Sedangkan prinsip

obyektifitas menekankan bahwa eveluasi hasil belajar harus dilakukan dengan sejujur

mungkin dan menghindari faktor-faktor yang bersifat subyektif. Prinsip ini sangat

penting, sebab apabila dalam melakukan evaluasi terdapat unsur-unsur subyektif,

maka akan menodai hasil evaluasi itu sendiri sehingga tujuan evaluasi tidak tercapai.

Seorang guru harus mengetahui konsep-konsep evaluasi, karena

melaksanakan evaluasi adalah salah satu tugasnya. Prosedur yang harus dilalui oleh

guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar menurut Sudijono (1995) sebagai

berikut:
22

a) Menyusun rencana evaluasi hasil belajar, yang mencakup kegiatan: 1)

merumuskan tujuan, 2) menetapkan aspek-aspek atau ranah-ranah yang akan

dievaluasi, 3) memilih dan menentukan teknik evaluasi yang akan dugunakan, 4)

menyusun instrumen penilaian, 5) menetukan standar atau tolak ukur, dan 6)

menetukan frekuensi kegiatan evaluasi.

b) Menghimpun data, meliputi kegiatan melaksanakan pengukuran dengan

menyelenggarakan tes hasil belajar, atau dengan teknik non tes.

c) Melakukan verifikasi data, ayaitu menyaring data yang masuk agar diperoleh data

yang benar-benar akurat.

d) Mengolah dan menganalisis data

e) Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan terhadap hasil analisis data.

Hasil interpretasi tersebut merupakan kesimpulan hasil eveluasi yang mengacu

pada tujuan eveluasi itu sendiri.

f) Tindak lanjut hasil evelausi, dari hasil kesimpulan hasil eveluasi, guru dapat

mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan yang dipandang perlu sebagai

kegiatan evaluasi. Tindak lanjut disini bisa berupa pengayaan atau perbaikan.

Sedangkan menurut Dimiyati dan Mudjiono (2002) prosedur yang harus

dilakukan guru dalam mengevalausi hasil belajar adalah: a) menyusun rancangan, b)

menyusun instrumen, c) pengumpulan data, d) analisis data, dan e) penyusunan

laporan.

B. Pemberian Motivasi (motivating)


23

Wahjosumidjo (1999) mengemukakan bahwa motivasi adalah: dorongan yang

timbul pada diri seseorang untuk berprilaku mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Donal dalan Komaruddin (1994) berpendapat bahwa motivasi adalah suatu perubahan

energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan tumbuhnya perasaan dan reaksi

untuk mencapai suatu tjuan. Sedangkan Terry dalam Winardi (1986) berpendapat

bahwa motivasi menyangkut soal perilaku manusia dan motivasi dapat diaertikan

sebagai usaha seseorang untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan semangat,

kerena ia ingin melakukanya. Hersey dan Blanchard (1982) mengemukakan bahwa

manusia berbeda satu dengan yang lain tidak hanya dalam kemampuan melakukan

sesuatu, tetapi juga berbeda dalam kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemauan

dan dorongan untuk melakukan sesuatu itu disebut motivasi.

Disisi lain Kartini (1991) mengemukakan bahwa motivasi adalah:

1) gambaran peneyebab yang akan menimbulkan tingkah laku, menuju


pada suatu sasaran tertentu,
2) alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat,
3) ide pokok yang sementara berpengaruh besar terhadap tingkah laku
manusia, biasanya merupakan satu peristiwa masa lampau, ingatan, gambaran
fantasi dan perasaan-perasaan tertentu.

McDonald sebagaimana dikutip Hamalik (2000) mengatakan, “motivation is a

energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory

goal reaction” (Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang

yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan).

Perumusan motivasi di atas dijelaskan oleh Hamalik (2000) mengandung tiga

unsur yang saling berkaitan yaitu:


24

1). Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan-

perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu di dalam

sistem neurofisiologis dalam organisme tubuh manusia. Misalnya adanya

perubahan dalam sistem pencernaan akan menimbulkan lapar.

2). Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan. Mula-mula merupakan ketegangan

psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Hal ini akan menimbulkan kelakuan

yang bermotif. Perubahan ini mungkin akan disadari, mungkin juga tidak.

Misalnya, seseorang terlibat dalam diskusi. Kerena dia merasa tertarik pada

masalah yang akan dibicarakan, dia akan berbicara dengan kata-kata dan suara

yang lancar dan tepat.

3). Motivasi titandai oleh reaksi-reakisi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang

bermotivasi mengadakan respon-respon yang tertuju kearah suatu tujuan.

Respon-respon itu berfugsi mengurangi ketegangaan yang disebabkan oleh

perubahan energi dalam dirinya. Setiap respon merupakan suatu langkah untuk

mencapai tujuan. Misalnya seseorang ingin mendapat hadiah, maka ia akan

belajar mengikuti ceramah, bertanya, membaca buku, mengikuti tes dan

sebagainya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa motivasi

merupakan sesuatu yang berada dalam diri seseorang yang mendorongnya berbuat

untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi pada dasarnya berhubungan dengan faktor

psikologis seseorang yang menggambarkan keinginan, hasrat, kebutuhan dan

kepuasan.
25

1. Tipe- tipe Motivasi

Ada dua tipe Motivasi yang dikenal yaitu, (1) motivasi intrisik, dan motivasi

ekstrinsik.

1). Motivasi intrisik

Thornburgh (dalam Prayitno, 1989) berpendapat bahwa motivasi intrisik adalah

keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri (internal)

individu.

Di dalam proses belajar siswa yang termotivasi secara intrisik dapat dilihat dari

kegiatanya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena merasa

butuh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Grage dan Berline

(dalam Prayitno, 1989) mengemukakan bahwa siswa yang termotivasi secara

intrinsik aktifitasnya lebih baik dalam belajar dari pada siswa yang termotivasi

secara ekstrinsik.

2). Motivasi ekstrinsik

Crow dan Smidh (dalam Prayitno, 1989) mengatakan motivasi ekstrinsik adalah

motivasi yang keberadaanya karena pengaruh rangsangan dari luar. Sardiman

(2001) mengatakan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan

berfungsinya karena adanya peransang dari luar.

2. Bentuk-bentuk Pemberian Motivasi

a). Memberikan penghargaan dan celaan


26

Cumbo (dalam Prayitno, 1989) mengungkapkan penghargaan sangat efektif

untuk memotivasi siswa daam mengerjakan tugas, baik tugas-tugas yang harus

dikerjakan dengan segera, maupun tugas-tugas yang berlangsung terus-menerus.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Gloria L. Grace (dalam Prayitno, 1989)

dalam penelitiannya mengatakan bahwa sebagian siswa menampakkan hasil

belajar yang lebih baik jika mereka dipuji dan diberi penghargaan.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Hani Van se Riet (dalam Prayitno, 1989)

membuktikan bahwa celaan akan memperbaiki motivasi belajar siswa yang

nilainya rendah dan pujian memperlambat proses belajar mereka. Penelitian ini

dilakukan pada anak kelas V dan VI sekolah dasar. Hal yang sama juga

diungkapkan oleh Rudolf dkk (dalam Prayitno, 1989) mengatakan bahwa untuk

murid-murid yang masih muda dengan dicela cendrung hasil beajarnya lebih baik.

b). Persaingan atau kompetisi

Coleman (dalam Prayitno, 1989) mengemukakan bahwa pelaksanan kompetisi

dianggap baik, jika tujuannya untuk meningkatkan kebanggan kelompok yang

luas, misalnya sekolah atau masyarakat. Luba (dalam Prayitno, 1989)

menagatakan persaingan diantara siswa dengan dirinya sendiri rata-rata

meningkatkan hasil belajar 47%.

c). Pemberian hadiah

Prayitno (1989) mengungkapkan bahwa pemberian hadiah merupakan salah

alat untuk memotivasi siswa dalan belajar. Boggino dan Ruble (dalam Prayitno,
27

1989) menjelaskan bahwa hadiah dalam bentuk verbal lebih baik dari pada hadiah

dalam bentuk benda atau angka.

d). Pemberitahuan tentang kemajuan belajar

Crow dan Smidh (dalam Prayitno, 1989) mengatakan pemberitahuan tentang

kemajuan belajar akan menimbulkan kegembiraan dan keinginan untuk lebih

meningkatkan kegiatan belajar dalam diri siswa, jika ia mengetahui kemajuan

yang telah dicapainya.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Latar Entri, dan Kehadiran Peneliti

Menurut Spradey (1980) setidaknya terpenuhi tiga elemen utama untuk dapat
ditetapkan sebagai situasi sosial penelitian. Ketiga elemen itu adalah: pertama,
adanya lokasi (place) tempat melakukan aktivitas; kedua, terdapat para pelaku
(actors) kegiatan di tempat tersebut, dan ketiga, terdapat serangkaian kegiatan
(activities) yang dilakukan oleh aktor-aktor pada lokasi.
Penelitian ini dilakukan di SDIT Adzkia, Jl Taratak Paneh No. 07, Kelurahan

Korong Gadang, Kecamatan Kuranji (sekitar 6 km ke arah timur kota Padang).

Sekolah ini memiliki lebih kurang 375 orang murid yang pada umumnya berasal dari

kelurahan-kelurahan di sekitar wilayah Kota Padang. Mereka diasuh oleh sebanyak

37 orang guru. Para pelaku (aktors) situasi sosialnya adalah guru-guru, kepala
28

sekolah dan siswa. Selanjutnya, berbagai kegiatan (aktivities) situasi sosial penelitian

ini meliputi proses pembelajaran di kelas III C.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menjelalaskan proses

pemberian motivasi yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, kendala-kendala yang

dihadapi oleh guru dalam memotivasi siswa dan bentuk sanksi-sanksi yang diberikan

kepada siswa di SDIT Adzkia Padang. Metode ini dipandang tepat karena, sesuai

dengan pendapat Williams (1988) pendekatan kualitatif dipandang efektif dalam

mengungkapkan: 1) makna-makna perilaku individu, 2) deskripsi suatu situasi sosial

dan interaksinya yang kompleks yang dilakukan individu (aktor), 3) pengkajian untuk

menemukan informasi baru, 4) fokus yang mendalam dan rinci dari sesuatu yang

terbatas jumlahnya, 5) deskripsi dari fenomena yang digunakan untuk menyusun

teori, 6) fokus pada interaksi individu dan prosesnya, dan 7) uraian dengan konteks

dan kesimpulan.

Alasan lain digunakan metode kualitatif, seperti yang dikemukakan oleh

Faisal (1990) bahwa aktor-aktor saling berinteraksi sehingga suatu makna dapat

ditemukan penjelasannya. Selanjutnya Nasution (1992) menjelaskan pula bahwa

penelitian kualitatif pada hakekatnya merupakan kegiatan mengamati perbuatan

orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami

bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.


29

Menurut Sudjana (1989) penelitian kualitatif dalam pendidikan dapat

dilakukan bedasarkan beberapa alasan. Pertama, pendidikan sebagai proses sosialisasi

pada hakikatnya adalah interaksi manusia dengan lingkungan yang membentuknya

melalui proses belajar. Kedua, pendidikan senantiasa melibatkan komponen-

komponen manusia yakni tenaga pendidik dan siswa dengan komponen kurikulum,

sistem pendidikan, lingkungan pendidikan, ruang dan waktu serta sarana dan

prasarana pendidikan. Ketiga, pendidikan sebagai suatu sistem tidak hanya

berorientasi kepada hasil tetapi juga berorientasi kepada proses agar memperoleh

hasil yang optimal.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini menggunakan beberapa teknik, diantaranya:

observasi, wawancara dan studi dokumentasi.

1. Observasi

Observasi dilakukan secara langsung terhadap berbagai aktivitas para aktor di

SDIT Adzkia Padang. Adapun kegiatan yang peneliti amati adalah 1) proses

pemberian motivasi yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, 2) kendala-kendala

yang dihadapi oleh guru dalam memotivasi siswa dan 3) bentuk sanksi-sanksi yang

diberikan kepada siswa.

Observasi yang peneliti lakukan adalah observai langsung (participan

obserbation). Dalam hal ini peneliti melibatkan diri langsung ke dalam kancah

penelitian, cara yang demikian untuk memperoleh data lebih bermakna. Hal ini sesuai
30

dengan pendapat Bogdan dan Biklen (1992) yang mengatakan the researcher is the

key instrument. Peneliti sebagai instrumen utama, karena: pertama, peneliti lebih peka

dan lebih cepat bereaksi terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan. Kedua,

peneliti dapat menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi dan sekaligus dapat

mengumpulkan berbagai jenis data. Ketiga, sebagian besar situasi merupakan suatu

yang menyeluruh bagi semua seluk beluk situasi yang diamati. Keempat, peneliti

berinteraksi dengan manusia sehingga dapat memahami apa saja yang membutuhkan

pemikiran untuk memahaminya. Kelima, peneliti dapat menganalisis data yang

diperoleh sehingga dapat ditafsirkan maknanya. Keenam, peneliti dapat mengambil

kesimpulan dari data yang diperoleh pada suatu waktu tertentu dan dapat segera

menggunakanya sebagai tanggapan timbal balik untuk memeroleh informasi baru,

dan ketujuh, peneliti dapat menerima dan mengolah respon yang menyimpang dan

yang bertentangan untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman

aspek yang diteliti (Nasution, 1992).

Data yang diperoleh dari observasi dibuat ke dalam catatan lapangan dan

catatan refleksi. Catatan lapangan berisi tulisan atau catatan mengenai segala sesuatu

yang didengar, dilihat, dialami selama pengumpulan data. Data yang ditulis tersebut

berasal dari hasil pengamatan, hasil wawancara, dan pemeriksaan dokumen. Dalam

catatan lapangan berisikan deskripsi tentang orang-orang, tempat, peristiwa, aktivitas

aktor. Catatan lapangan merupakan ide, refleksi, dan sumber insprasi dalam

melakukan analisis temuan dan menetapkan temuan.


31

2. Wawancara

Peneliti menyadari bahwa tidak semua data dapat diperoleh melalui observasi,

karena itu digunakan juga wawancara dengan informan untuk menemukan data yang

lebih terfokus. Dengan wawancara ini peneliti menggali apa saja yang diketahui dan

dialami subyek penelitian yang menimbulkan motivasi.

Penentuan informan dengan menggunakan teknik bola salju (snowbal

sampling). Adapun informan dalam penelitian ini adalah guru-guru, kepala sekolah

dan siswa SDIT Adzkia Padang. Jumlah informan yang diwawancarai tidak dibatasi,

tetapi berhenti setelah masalah terjawab. Kriteria orang yang dapat dijadikan

informan menurut Faisal (1990) antara lain: 1) informan cukup lama dan menyatu

dengan aktivitas yang menjadi sasaran penelitian, 2) informan teribat secara penuh

(aktif) pada lingkungan yang menjadi sasaran penelitian dan 3) informan mempunyai

waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi.

3. Dokumentasi

Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi arsip, dokumen

pribadi, dokumen resmi, foto dan data statistik yang berkaitan dengan pembelajaran

di SDIT Adzkia Padang. Pengkajian dokumen resmi meliputi apa yang dimiliki oleh

sekolah dan guru-guru sehubungan dengan prestasi belajar siswa, jumlah siswa

keseluruhan, jumlah siswa yang ikut ujian akhir nasional, serta daftar siswa yang

melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), dan daftar siswa yang putus

sekolah.
32

D. Teknik Analisis Data

Analisis data penelitian ini mengikuti metode yang dikemukakan oleh Miles

dan Hubermans (1992) dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) reduksi data, 2)

penyajian data, 3) menarik kesimpulan dan verifikasi.

Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk proses pemilihan,

pengeditan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan infomasi

data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Selanjutnya data yang berupa

sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan

pengambilan tindakan dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk matrik. Format

matriks merupakan abstraksi atau penyederhanaan dari data kasar yang diperoleh dari

catatan lapangan. Penyusunan matriks dan penentuan data kasar yang masuk ke

dalamnya serta pengkodean dilakukan berdasarkan kasus atau topik bahasan. Data

yang terdapat dalam matriks tersebut dilakukan penarikan kesimpulan yang

dideskripsikan secara naratif. Matriks dalam penelitian ini penulis modivikasi sesuai

dengan masalah peneitian. Model matriks tersebut adalah:

1. Matriks konteks peristiwa

Matriks konteks peristiwa menggambarkan proses pemberian motivasi yang

dilakukan oleh guru terhadap siswa, kendala-kendala yang dihadapi oleh guru

dalam memotivasi siswa dan bentuk sanksi-sanksi yang diberikan kepada siswa.

2. Matriks daftar cek (cheklist matrix)


33

Matriks daftar cek merupakan matriks yang dipakai untuk memantau komponen

atau dimensi penelitian, yang berisikan tanda-tanda singkat yang bertujuan

untuk mengetahui apakah proses pemberian motivasi yang dilakukan oleh guru

terhadap siswa di kelas ada atau tidak, apakah kendala-kendala yang dihadapi

oleh guru dalam memotivasi siswa ada atau tidak dan bentuk sanksi-sanksi yang

diberikan kepada siswa ada atau tidak.

3. Matriks tata waktu

Matriks tata waktu merupakan deskripsi perkembangan antar waktu termasuk

deskripsi verbal tentang kondisi yang terjadi pada waktu proses pemberian

motivasi, kendala yang dihadapi dalam memotivasi siswa dan bentuk sanksi

yang diberikan kepada siswa.

4. Matriks tata peran

Matriks tata peran merupakan matriks yang berisi deskripsi gugusan peranaan

(informan) tertentu yang merefleksikan pandangan tentang proses pemberian

motivasi, kendala yang dihadapi dalam memotivasi dan sanksi yang diberikan

kepada siswa.

5. Matriks pengaruh

Matriks pengaruh merupakan matriks yang mendeskripsikan pengaruh langsung

atau tidak langsung atas komponen atau dimensi peneitian berdasarkan

kecendrungan yang terjadi.

6. Matriks dinamika lokasi


34

Matrik dinamika lokasi mendiskripsikan tentang proses pemberian motivasi

yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, kendala-kendala yang dihadapi oleh

guru dalam memotivasi siswa dan bentuk sanksi-sanksi yang diberikan kepada

siswa.

E. Teknik Penjaminan Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan

teknik pemerksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Menurut Linculn dan

Guba (dalam Moleong, 2000) ada empat kriteria yang diguanakan, yaitu;

keterpercayaan (cridibility), keteralihan (transferability), ketergantungan

(dependability) dan kepastian (confirmability). Agar keabsahan data dapat

dipertanggung jawabkan, maka dilakukan triangulasi (triangualation), yaitu

membandingkan derajat kepercayaan suatu informasi melalui sumber data, alat dan

waktu yang berbeda.

Triangulasi data penelitian ini dilakukan pada saat observasi lapangan.

Catatan lapangan yang diperoleh dikomunikasikan lagi kepada informan yang

memberikan data sebelumnya atau kepada informan lainnya. Untuk memenuhi

kriteria triangulasi sumber, peneliti menkonfirkasikan data hasil pengamatan dengan

hasil wawancara, data yang disampaikan didepan umum dengan data yang

disampaikan secara pribadi. Kriteria triangulasi metode diperoleh melalui


35

pengamatan yang dikonfirmasikan dengan data yang diperoleh menggunakan metoda

yang sama dari informan yang berbeda.

Triangulasi juga dilakukan dengan teori yang relevan, yaitu teori yang dapat

memberikan penjelasan terhadap temauan penelitian. Triangulasi teori dimaksudkan

untuk saling mempertentangkan antara temuan penelitian dengan teori tersebut.