Anda di halaman 1dari 64

Step I

Clearing Unfamiliar Terms

Tidak ada kata dalam kasus yg ditanyakan

Step II
Problem Definition

1. Kaitan pusing pada kasus, simptomnya, faktor pencetus, dan


penatalaksanaan
2. Hubungan mual, muntah pada gangguan nukleus vestibularis
3. Kaitan membuka mata dan terbaring dengan pusing pada kasus
4. Penyakit gangguan keseimbangan dan faktor yang mempengaruhi
5. Infeksi pada telinga yang berimbas pada gangguan keseimbangan
6. Kelainan pada telinga
7. Benda asing dalam telinga
8. Farmakologi umum obat gangguan keseimbangan

1
Step III dan Step IV
Brain Storming dan Analyze the Problem

1. Kaitan pusing pada kasus, simptomnya, faktor pencetus, dan


penatalaksanaan
Perasaan seolah - oleh penderita bergerak atau berputar atau seolah - olah benda
di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual
dan kehilangan keseimbangan. Pasien ini dapat kita katakana terkena vertigo yang
biasanya berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa
jam bahkan hari atau bisa kambuh setiap waktu. Penderita kadang merasa lebih
baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa berlanjut meskipun penderita tidak
bergerak sama sekali.
Vertigo biasanya muncul karena adanya gangguan sistem Vestibular (misalnya
terdapat gangguan pada struktur telingga bagian dalam, saraf Vestibular, batang
otak, dan otak kecil / Cerebellum). Sistem Vestibular bertanggung jawab untuk
mengintegrasikan rangsangan terhadap indera dan gerakan tubuh, selain itu sistem
tersebut bertugas menjaga agar suatu obyek ada di fokus penglihatan saat tubuh
bergerak. Ketika kepala bergerak, sinyal ditransmisikan ke labirin, yang terdapat
di telinga bagian dalam. Labirin kemudian membawakan informasi ke saraf
Vestibular yang kemudian diteruskan ke batang otak dan otak kecil, yang
berfungsi mengontrol keseimbangan, postur, dan koordinasi gerak.

Factor pencetus dari vertigo ini adalah


a. Keadaan lingkungan (mabuk darat, mabuk laut / Motion Sickness)
b. Obat - obatan (Alkohol, Gentamisin)
c. Kelainan sirkulasi (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya
aliran darah ke salah satu bagian otak)
d. Kelainan di telinga (endapan kalsium pada salah satu kanalis
semisirkularis di dalam telinga bagian dalam)
 Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
 Herpes Zoster

2
 Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
 Peradangan saraf vestibuler
 Penyakit Meniere
e. Kelainan Nerologis
 Sklerosis multipel
 Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya
atau keduanya
 Tumor otak
 Tumor yang menekan saraf vestibular

2. Hubungan mual, muntah pada gangguan sistem vestibularis


Gangguan pada sistem vestibularis, yang terdiri dari cerebellum, batang otak, dan
apparatus vestibularis di telinga; mengakibatkan teraktivasinya reseptor trigger
zone yang terdapat pada pons (batang otak) sehingga menimbulkan rasa tidak
enak di epigastrium, lalu keluar suara tidak enak (retching) selanjutnya yang
terjadi adalah muntah.

3. Kaitan membuka mata dan terbaring dengan pusing pada kasus


System vestibularis terdiri dari empat masukan utama; yaitu : masukan
penglihatan, masukan kutaneus, masukan propioseptif, dan masukan apparatus
vestibularis. Yang mana berkaitan dengan mata, maka orang yang mengalami
vertigo akan terganggu control bola mata terutama pada bagian musculusnya.
Pengangkatan mata yang sakit terjadi akibat gangguan pada ke neuron motorik
otot-otot mata eksternal; contohnya : pada muscular elevator palprebae.

4. Penyakit gangguan keseimbangan dan faktor yang mempengaruhi (L.O)

5. Infeksi pada telinga yang berimbas pada gangguan keseimbangan


Sakit-sakit telinga, sumbatan-sumbatan telinga dan kondisisi-kondisi lainnya yang
berhubungan dengan telinga adalah kejadian-kejadian yang umum, terutama pada

3
anak-anak. Pada banyak kasus-kasus, kondisi-kondisi alergi menyumbang pada
terulangnya serangan (penyakit) dari persoalan-persoalan yang berhubungan
dengan telinga. Infeksi-infeksi telinga, atau otitis media, adalah umum diantara
anak-anak. Prosedur-prosedur seperti pneumatic otoscopy dan tympanometry
dapat digunakan untuk mendeteksi beberapa persoalan-persoalan telinga.

Infeksi-Infeksi Telinga
Infeksi-infeksi telinga adalah kondisi-kondisi yang melibatkan dan seringkali
peradangan dari area-area berbeda dari telinga. Mereka paling sering berasal dari
infeksi virus, jamur dan bakteri. Pada kebanyakan kasus-kasus, infeksi-infeksi
telinga adalah tidak serius dan hilang dengan sendirinya. Bagaimanapun, infeksi-
infeksi bakteri dapat memerlukan perawatan dengan antibiotik-antibiotik.
Dibiarkan tidak terawat, infeksi-infeksi ini dapat menjurus ke komplikasi-
komplikasi serius, terutama untuk anak-anak kecil.
Infeksi-infeksi telinga dapat terjadi pada telinga luar, tengah dan dalam. Telinga
luar adalah bagian telinga yang tampak. Itu termasuk keseluruhan bagian luar
telinga (auricle), yang terdiri dari tulang rawan dan kulit, dan daun telinga.
Telinga luar juga termasuk saluran telinga (jalan terus yang membawa suara dari
luar tubuh ke gendang telinga). Gendang telinga (tympanic membrane) adalah
suatu membran tipis yang berlokasi pada ujung paling dalam dari saluran telinga
yang memisahkan telinga luar dan telinga tengah.
Telinga tengah adalah ruangan kecil sebesar kacang polong berlokasi tepat
dibelakang selaput gendang telinga. Itu secara normal terisis dengan udara yang
masuk ke area itu melalui saluran-saluran eustachian/eustachian tubes (kanal-
kanal yang pergi dari belakang hidung dan tenggorokan menuju telinga tengah).
Saluran-saluran eustachian (kadangkala disebut saluran-saluran auditory)
mencegah penumpukan tekanan didalam telinga-telinga. Mereka umumnya tetap
tertutup, namun terbuka selama menelan dan menguap untuk mengimbangi
tekanan udara pada telinga tengah dengan tekanan udara diluar telinga. Telinga
tengah juga mengandung tulang-tulang kecil yang mengirim getaran-getaran dari
selaput gendang telinga ke telinga dalam.

4
Telinga dalam terdiri dari cochlea (struktur yang mengandung organ yang
diperlukan untuk mendengar) dan labyrinth (rongga-rongga saling berhubungan
yang membantu memelihara keseimbangan). Syaraf yang berakhir pada telinga
dalam merubah getaran-getaran suara kedalam signal-signal menuju ke otak yang
mengizinkan terjadinya pendengaran.
Kebanyakan infeksi-infeksi telinga terjadi pada telinga luar atau tengah – infeksi-
infeksi telinga dalam adalah jarang. Infeksi-infeksi telinga tidak menular.
Bagaimanapun, infeksi-infeksi virus (seperti selesma, influensa) yang dapat
mendahuluinya adalah menular dan dapat menjurus ke infeksi-infeksi telinga.
Infeksi-infeksi telinga adalah lebih umum pada anak-anak daripada orang-orang
dewasa karena saluran-saluran mereka lebih pendek dan sempit, membuat mereka
lebih sulit untuk mengalir. Sebagai tambahan, jaringan adenoid (adenoid tissue)
dibelakang tenggorokan lebih besar dan dapat menghalangi tabung-tabung
eustachio.
Dibiarkan tak terawat, infeksi-infeksi telinga kadangkala dapat menyebabkan
komplikasi-komplikasi yang lebih serius. Ini dapat termasuk:
• Gendang telinga yang pecah. Dapat terjadi ketika gendang telinga
berlubang disebabkan oleh tekanan cairan didalam telinga tengah. Setelah
pecah, cairan mengalir keluar dari kanal telinga, membebaskan tekanan
dan nyeri didalam telinga tengah. Operasi mungkin diperlukan untuk
memperbaiki lubang,walaupun lubang-lubang umumnya sembuh sendiri.
Lubang-lubang jarang terjadi dan pendengaran umumnya tidak melemah.
• Infeksi-infeksi telinga tambahan. Infeksi-infeksi telinga tengah yang
tidak dirawat dapat memecah gendang telinga, berakibat pada kebocoran
nanah kedalam saluran telinga dan menyebabkan suatu infeksi telinga luar.
Sebagai tambahan, infeksi-infeksi telinga luar yang tidak dirawat dapat
berakibat pada terulangnya infeksi-infeksi.
• Cellulitis. Suatu infeksi kulit melingkupi telinga luar (external ear).
Infeksi-infeksi telinga luar yang tidak dirawat atau tidak merespon pada
perwatan dapat terulang dan menjurus ke cellulitis.
• Cholesteatoma. Penumpukan dari puing-puing selular (cellular debris)
didalam telinga tengah. Ini umumnya adalah akibat dari infeksi-infeksi

5
kronis telinga. Ia dapat menyebabkan kerusakan struktur-struktur didalam
telinga tengah.
• Kerusakan struktural didalam telinga. Tulang-tulang kecil dari telinga
tengah dan struktur-struktur lain didalam telinga dapat menjadi rusak jika
infeksi telinga tengah dibiarkan tidak terawat dan gagal untuk menghilang
secara spontan.
• Kehilangan Pendengaran Permanen. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan
struktural pada telinga tengah. Dapat juga terjadi dengan infeksi-infeksi
telinga dalam. Anak-anak yang mengalami kehilangan pendengaran,
bahkan untuk sementara , pada usia muda dapat mempunyai kesulitan-
kesulitan dalam penerimaan bahasa dan perkembangan kemampuan
bicaranya.
• Acute mastoiditis. Terjadi ketika infeksi telinga menyebar ke tulang
mastoid (mastoid bone) dibelakang telinga-telinga. Komplikasi ini tidak
umum dan umumnya berakibat dari infeksi telinga tengah.
• Meningitis. Infeksi yang menyebabkan peradangan dari membran-
membran yang melindungi otak dan spinal cord. Ini dapat terjadi sebagai
akibat dari suatu infeksi telinga dan adalah suatu kelainan serius yang
berpotensi mematikan.

Tipe-Tipe dan Perbedaan-Perbedaan


Ada beberapa tipe-tipe yang berbeda dari infeksi-infeksi telinga. Ini termasuk:
• Otitis media. Akibat-akibat dari peradangan dan penumpukan cairan
didalam telinga tengah. Jika ada cukup bakteri berkembang diarea ini,
cairan dapat menjadi terinfeksi. Otitis media adalah tipe infeksi telinga
yang paling umum pada anak-anak muda, terjadi paling sering antara umur
6 bulan dan 24 bulan. Sekitar 75% dari anak-anak mengembangkan otitis
media pada saat mereka berumur 3 tahun, dan separuh dari anak-anak ini
memdapat tiga kali atau lebih infeksi-infeksi telinga selama waktu ini,
menurut National Institutes of Health. Ini membuat otitis media sebagai
penyakit paling umum pada bayi-bayi dan anak-anak muda.

6
Otitis media terjadi ketika virus-virus, jamur atau bakteri-bakteri
menyebabkan saluran-saluran eustachian membengkak dan menjadi
terhalangi. Tanpa udara mengalir ke atau dari telinga tengah, tekanan
didalam telinga meningkat. Ini dapat menjadi luar biasa tidak nyaman dan
dapat terasa seperti balon yang ditiup besar sekali, siap untuk meletus.
Infeksi-infeksi telinga tengah juga menyebabkan akumulasi cairan dan
produksi nanah didalam telinga tengah. Ini dapat membatasi kemampuan
dari getaran-getaran suara untuk berpergian dari selaput gendang telinga
ke telinga dalam, menyebabkan kehilangan pendengaran sementara.
Sebagai tambahan, gendang telinga dapat berubah pink atau merah, dan
penumpukan cairan dan nanah yang dihaslkan didalam telinga tengah
dapat menekan gendang telinga, menyebabkannya meregang secara ketat
atau menonjol. Bagaimanapun, penumpukan cairan didalam telinga tengah
dapat juga terjadi tanpa suatu infeksi , seringkali sebagai akibat dari cairan
berlebihan yang dihasilkan selama episode selesma atau influensa
sebelumnya. Bentuk ini disebut otitis media dengan effusion. Otitis media
dengan effusion kadangkala mendahului suatu episode dari otitis media
dan hampir selalu mengikutinya (seperti cairan tetap didalam telinga
bahkan setelah infeksinya telah hilang). Seluruh infeksi-infeksi telinga
tengah mungkin akut (suatu episode tunggal yang singkat) atau kronis
(dimana infeksi-infeksi berulang-ulang).
• Otitis externa. Juga disebut telinga perenang (swimmer's ear) atau
external otitis, dia melibatkan peradangan, iritasi atau infeksi dari saluran
telinga (jalan terusan yang membawa suara dari luar tubuh ke gendang
telinga/eardrum) dan/atau telinga luar (bagian yang tampak dari telinga,
termasuk daun telinga). Meskipun dengan nama julukannya, itu dapat
terjadi tanpa berenang. Apa saja yang menyebabkan mikroorganisme
masuk kedalam retakan pada lapisan dari saluran telinga atau dimana saja
pada telinga luar dapat menyebabkan telinga perenang ( swimmer’s ear).
Infeksi terjadi pada telinga luar ketika kanal telinga dihadapkan pada
kelembaban yang berlebihan yang menyebabkan suatu pertumbuhan cepat
dari bakteri dan jamur yang secara normal ada didalam kanal telinga. Kulit

7
dapat menjadi lembab, melemahkan kadar keasaman yang secara normal
hadir pada lapisan kanal telinga yang membantu mencegah infeksi. Ini
dapat menjurus ke peradangan kanal telinga yang dapat melebar ke telinga
luar, menyebabkan nyeri/sakit. Cairan juga dapat menjadi terperangkap
didalam kanal telinga disebabkan oleh penimbunan dari lilin telinga (ear
wax).
Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan kondisi ini termasuk goresan-
goresan atau luka-luka goresan dari benda-benda (termasuk alat bantu
pendengaran dan penyumbat telinga) yang diletakkan kedalam saluran
telinga atau dari luka fisik pada telinga luar. Itu dapat juga terjadi dari
ekspose pada bahan-bahan kima yang mengiritasi (seperti hairspray,
pewarna rambut) atau air yang terkontaminasi. Pembersihan lilin telinga
yang berlebihan dari saluran telinga juga dapat menjurus ke otitis externa.
Infeksi-infeksi telinga luar adalah umum pada anak-anak dan orang-orang
dewasa.
• Labyrinthitis. Infeksi dari telinga dalam yang mempengaruhi
keseimbangan dan pendengaran. Ini adalah jarang dan dapat terjadi dalam
dua bentuk yang berbeda:
o Viral labyrinthitis. Infeksi telinga dalam disebabkan oleh virus-
virus (seperti virus-virus yang menyebabkan measles, mumps atau
flu). Viral labyrinthitis umumnya hilang dengan sendirinya, tanpa
perawatan, dan tidak meninggalkan komplikasi-komplikasi jangka
panjang.
o Bacterial labyrinthitis. Infeksi telinga dalam disebabkan oleh
bakteri-bakteri, seperti ketika suatu infeksi telinga tengah (otitis
media) menyebar ke telinga dalam, atau sebagai akibat penyebaran
dari meningitis (peradangan dari pelindung otak dan spinal cord).

Faktor-Faktor Risiko dan Penyebab-Penyebab


Infeksi-infeksi telinga paling sering terjadi sebagai akibat infeksi virus, jamur atau
bakteri. Kebanyakan kasus-kasus infeksi telinga diantara anak-anak terjadi setelah
selesma atau influensa, dan mempengaruhi telinga tengah (otitis media). Infeksi

8
dapat juga terjadi sebagai akibat dari penghadapan pada kelembaban yang
berlebihan atau luka pada telinga luar atau saluran telinga (swimmer’s ear).
Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko infeksi-infeksi telinga
termasuk:
• Ekspose pada orang-orang dengan penyakit-penyakit menular (seperti
selesma, influensa)
• Tidak diberikan asi (air susu ibu)
• Tusuk (tindih) telinga (Ear piercings)
• Lilin (wax) telinga yang berlebihan
• Benda-benda asing didalam saluran telinga
• Luka-luka pada telinga luar
• Penggunaan bahan-bahan kimia yang mengiritasi (seperti hair spray,
pewarna rambut) dekat telinga
• Tiduran sewaktu minum dari botol bayi
• Penggunaan dot (bayi)
Anak-anak kecil lebih rentan terhadap infeksi-infeksi telinga dari pada grup
dengan umur berapa saja. Kebanyakan anak-anak di Amerika mengalami satu
atau beberapa infeksi-infeksi telinga pada saat mereka masuk sekolah, dengan
otitis media yang paling sering didiagnosis. Banyak anak-anak mengalami infeksi
telinga yang berulang.
Anak-anak terutama lebih mudah terserang infeksi-infeksi telinga karena sistim
pertahanan tubuh (immune systems) mereka belum berkembang sempurna sampai
kira-kira umur 7 tahun. Sebagai tambahan, anak-anak mempunyai ukuran
struktur-struktur yang berbeda didalam telinga, hidung dan tenggorokan yang
kemungkinan besar menjurus ke peningkatan tekanan dan cairan didalam telinga
tengah. Sebagai contoh, tabung-tabung eustachio (eustachian tubes) mereka kecil
dan sempit, dan lebih mudah tersumbat. Tabung-tabung ini horizontal pada anak-
anak, jadi virus-virus dan bakteri-bakteri dapat dengan mudah dipindahkan dari
hidung ke telinga tengah. Adenoid pada belakang dari tenggorokan atas (dekat
tabung-tabung eustachio) besar pada anak-anak, yang mana dapat berinteraksi
dengan mulut lubang dari saluran-saluran dan berkontribusi pada peningkatan
tekanan didalam telinga tengah.

9
Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko infeksi-infeksi telinga termasuk
jenis kelamin (anak-anak laki sedikit lebih berisiko dari anak-anak perempuan),
sejarah keluarga dari infeksi-infeksi telinga dan kelahiran prematur (dini). Anak-
anak yang dilahirkan dengan Down syndrome, cleft palate atau kondisi-kondisi
medis tertentu lainnya dapat juga mempunyai perbedaan-perbedaan struktur
dalam sistim pernapasannya (respiratory system) yang dapat membuat infeksi-
infeksi telinga lebih mungkin terjadi. Beberapa studi-studi menyarankan bahwa
anak-anak dengan alergi dapat lebih mudah mengembangkan infeksi-infeksi
telinga tengah disebabkan oleh pembengkakkan tabung-tabung eustachio yang
berhubungan dengan alergi yang dapat terjadi dengan pembengkakkan dari
lorong-lorong hidung.

Tanda-Tanda dan Gejala-Gejala


Tanda-tanda dan gejala-gejala dari infeksi-infeksi telinga dapat berbeda-beda,
tergantung pada lokasi dan penyebab persoalan. Seringkali, gejala-gejala dari
infeksi-infeksi telinga didahului oleh gejala-gejala selesma atau influensa,
terutama pada anak-anak. Orang tua-orang tua dihimbau untuk waspada terutama
pada tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi telinga setelah anaknya menderita
penyakit-penyakit ini.
Gejala-gejala yang sering dihubungkan dengan infeksi-infeksi telinga termasuk:
• Nyeri/sakit telinga
• Gatal atau ketidaknyamanan lain dalam telinga atau saluran telinga
• Kulit yang memerah dan bengkak pada telinga luar atau saluran telinga
• Pengaliran dari telinga
• Kehilangan pendengaran (umumnya sementara)
• Tinnitus atau telinga berdengung
• Demam
• Menggigil
• Iritasi
• Nafsu makan berkurang
• Kepeningan (Pusing)
• Mual dan muntah

10
• Diare
Anak-anak yang pendengarannya terpengaruh oleh infeksi-infeksi telinga yang
berulang dapat mengalami perkembangan yang lemah dan tertunda atas
kemampuan berbicaranya. Untuk sebab ini, adalah penting untuk merawat infeksi-
infeksi telinga dengan segera untuk memastikan bahwa cairan didalam telinga
menghilang dan pendengaran kembali normal. Infeksi-infeksi telinga dalam
(labyrinthitis) dapat mempengaruhi keseimbangan dan berakibat pada suatu
sensasi memutar (vertigo).

Metode-Metode Diagnose
Dalam mendiagnosis suatu infeksi telinga, seorang dokter akan melaksanakan
suatu pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyusun suatu sejarah medis yang
teliti. Perhatian khusus diberikan pada tenggorokan, sinus, kepala, leher dan paru-
paru. Dokter kemungkinan besar akan menanyakan tentang sejarah yang baru-
baru ini dari selesma-selesma atau alergi-alergi.
Pada kasus telinga perenang (swimmer’s ear), infeksi dapat terlihat jelas dari
gejala-gejala seperti kemerahan dan kelembutan dari telinga luar atau saluran
telinga. Kulit menyerupai eksim (eczema), dengan suatu penampakan yang
bersisik.
Dalam mendiagnosis otitis media, dokter mungkin menggunakan suatu alat
khusus yang diterangkan dengan sinar (otoscope) untuk melihat pada saluran
telinga dan gendang telinga tanda-tanda dari kemerahan atau pembengkakkan.
Pada beberapa kasus-kasus, lubang-lubang dalam gendang telinga (perforations)
terlihat jelas.
Mungkin suatu gelembung dipasang pada otoscope yang dapat mendorong udara
kedalam saluran telinga untuk menguji mobilitas (gerakan) gendang telinga. Suatu
infeksi telinga tengah – dimana cairan atau tekanan didalam telinga tengah
menekan pada gendang telinga – dapat membatasi gerakan dari gendang telinga.
Pasien-pasien yang mengalami terulangnya infeksi-infeksi telinga dapat
menjalankan pengujian pendengarannya untuk memastikan infeksi-infeksi tidak
menyebabkan kerusakan menetap (permanen).

11
Pada kasus-kasus yang berat atau berulang, seorang anak dapat dirujuk pada
seorang spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT) untuk menyelidiki
pilihan-pilihan perawatan tambahan , seperti operasi penempatan dari saluran-
saluran pengaliran telinga pada telinga-telinga anak-anak.

Pilihan-Pilihan Perawatan
Pada banyak kasus-kasus, infeksi-infeksi telinga hilang dengan sendirinya melalui
suatu periode waktu, seringkali dalam 24 sampai 48 jam, tanpa perlu obat-obatan
resep. Pasien-pasien seringkali diberi semangat untuk hanya memonitor infeksi
mereka dan menjaga dan mencatat apa saja yang memperburuk kondisi mereka –
suatu pendekatan dikenal sebagai “watchful waiting.”
Ketika menunggu tubuh untuk sembuh, pasien-pasien dapat mengambil beberapa
tindakan-tindakan untuk menghilangkan ketidaknyamanan. Ini dapat termasuk
menggunakan suatu handuk hangat atau botol air hangat pada telinga dan
menggunakan obat-obatan tanpa resep/over-the-counter (OTC) untuk
menghilangkan gejala-gejala ketidaknyamanan.
Pada beberapa kasus-kasus, obat-obatan dengan resep mungkin perlu untuk
merawat infeksi telinga seseorang. Antibiotik-antibiotik (pil-pil atau tetes-tetes
mata) digunakan untuk melawan infeksi-infeksi yang berasal dari bakteri-bakteri,
dimana corticosteroids dapat membantu mengurangi gatal dan peradangan.
Kadangkala, ketika saluran telinga meradang atau membengkak, suatu sumbu
kapas ditempatkan kedalam telinga untuk mengizinkan obat tetes telinga
berpergian ke ujung kanal. Bakteri-bakteri semakin meningkat menjadi kebal
(resistant) terhadap banyak antibiotik-antibiotik umum. Ini berarti bahwa seorang
pasien mungkin harus mencoba lebih dari satu tipe antibiotik sebelum
menemukan satu yang efektif. Pasien-pasien dengan alergi-alergi dapat juga
diberikan obat-obatan untuk mengurangi atau mencegah gejala-gejala alergi pada
bebrapa kasus-kasus. Ini dapat membantu mencegah atau mengurangi
pembengakkan dari tabung-tabung eustachian, mengizinkan cairan untuk mengalir
dari telinga tengah.
Pasien-pasien sering dihimbau untuk memelihara telinga-telinga bersih dan kering
selama perawatan. Ini dapat termasuk pencegahan dari air masuk ketelinga-telinga

12
sewaktu mandi pancuran, sedang shampo dan mandi. Pasien-pasien mungkin juga
mau menghindari segala situasi yang menempatkan tambahan tekanan pada
telinga, yang dapat meningkatkan nyeri/sakit yang berhubungan dengan infeksi-
infeksi telinga. Situasi-situasi yang harus dihindari termasuk perjalanan udara dan
olahraga menyelam (scuba diving).
Operasi mungkin diperlukan ketika infeksi-infeksi telinga menetap meskipun
diberikan terapi antibiotik. Pada kasus-kasus ini, suatu prosedur untuk
menciptakan suatu pembukaan secara operasi pada gendang telinga
(myringotomy) mungkin dilaksanakan. Ini membebaskan tekanan dan
mengizinkan cairan mengalir keluar dari telinga tengah. Pada beberapa kasus-
kasuss, tabung-tabung telinga (tympanostomy tubes) mungkin dimasukkan
kedalam gendang telinga untuk mengizinkan udara masuk kedalam telinga dan
cairan-cairan mengalir keluar. Pada banyak kasus-kasus, tabung-tabung ini keluar
sendiri dan tidak perlu dikeluarkan dengan operasi.

Metode-Metode Pencegahan
Orang-orang dapat mengambil berbagai tindakan-tindakan untuk membantu
mencegah terjadinya infeksi-infeksi telinga. Sering mencuci tangan mencegah
penyebaran kuman-kuman yang menyebabkan infeksi-infeksi pernapasan yang
sering menjurus pada infeksi-infeksi telinga. Menghindari orang sakit selesma
atau influensa juga dapat membantu mencegah infeksi-infeksi pernapasan yang
dapat menjurus pada infeksi-infeksi telinga. Perawatan yang efektif dari alergi-
alergi dan asma juga mengurangi risiko mengembangkan suatu infeksi telinga.
Menghindari ekspose pada asap rokok bekas (second-hand) dapat mengurangi
kejadian infeksi-infeksi telinga pada anak-anak.
Anak-anak paling berisiko mengembangkan infeksi-infeksi telinga tengah.
Membuat anak-anak tidak berbahaya dengan vaksin pneumococcal membantu
mencegah infeksi-infeksi dari organisme yang paling sering dihubungkan dengan
infeksi-infeksi telinga tengah. Anak-anak dengan sejarah terulangnya infeksi-
infeksi telinga kadang-kadang diberikan dosis rendah antibiotik untuk beberapa
minggu sebagai suatu tindakan pencegahan.

13
Langkah-langkah lain yang dapat diambil untuk membantu mencegah infeksi-
infeksi telinga termasuk:
• Jangan masukkan barang apa saja kedalam saluran telinga. Apa saja,
termasuk jari-jari dan sumbu kapas yang dimasukkan kedalam telinga
dapat melukai jaringan yang melapisi saluran dan menyebabkan suatu
infeksi telinga.
• Ambil tindakan pencegahan yang memadai sebelum dan sesudah
berenang. Beberapa orang mungkin dihimbau menggunakan penyumbat-
penyumbat telinga ketika berenang atau mandi untuk memelihara saluran
telinga tetap kering. Keringkan telinga-telinga dengan handuk atau hair
dryer sesudah berenang dapat juga menurunkan risiko infeksi-infeksi
telinga. Dokter-dokter kadangkala menyarankan penggunaan tetes telinga
khusus sesudah berenang.
• Berikan asi (air susu ibu) pada bayi-bayi. Air susu ibu menyediakan
antibodi-antibodi yang membantu membuat anak-anak kurang peka
terhadap infeksi-infeksi, termasuk infeksi-infeksi telinga.
• Monitor penggunaan dot pada bayi-bayi. Bayi-bayi (terutama yang
berumur antara 6 dan 12 bulan) yang menggunakan dot-dot mempunyai
risiko yang lebih tinggi mengembangkan infeksi-infeksi telinga.
Bagaimanapun, pada bayi-bayi muda, penggunaan dot dapat membantu
mengurangi risiko sindrom kematian mendadak bayi/sudden infant death
syndrome (SIDS). Menghisap jempol tidak tampak meningkatkan risiko
infeksi telinga.
• Sewaktu menyusu dengan botol, pegang anak-anak pada posisi duduk
yang tegak. Tiduran waktu minum mempromosikan infeksi karena cairan
dapat berjalan naik ke tabung-tabung eustachio (eustachian tubes),
meningkatkan risiko infeksi.

6. Kelainan pada telinga


Kelainan Pada Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga
(meatus auditorius eksternus).

14
Kelainan pada telinga luar meliputi:
- penyumbatan
- infeksi
- cedera
- tumor.

PENYUMBATAN
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan
gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara.
Dokter akan membuang serumen dengan cara menyemburnya secara perlahan
dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga keluar nanah,
terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka
tidak dilakukan irigasi.
Jika terdapat perforasi gendang telinga, air bisa masuk ke telinga tengah dan
kemungkinan akan memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang
dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap.
Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau
reaksi alergi pada kulit saluran telinga, dan tidak mampu melarutkan serumen
secara adekuat.

Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya,


terutama manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan.
Biasanya benda-benda tersebut oleh dokter dikeluarkan dengan bantuan kait yang
tumpul.
Benda-benda yang masuk terlalu dalam lebih sulit dikeluarkan karena memiliki
resiko menimbulkan cedera pada gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran
di telinga tengah.
Kadang manik-manik dari kaca atau logam dikeluarkan dengan cara irigasi.
Jika anak meronta-ronta atau pengeluaran benda sulit dilakukan, bisa dilakukan
pembiusan umum.

OTITIS EKSTERNA

15
Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada saluran telinga.
Infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya
pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel).
Otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang (swimmer's ear).

Sejumlah bakteri atau jamur (lebih jarang) bisa menyebabkan otitis eksterna
generalisata; bakteri stafilokokus biasanya menyebabkan bisul.
Orang-orang tertentu (penderita alergi, psoriasis), eksim atau dermatitis pada kulit
kepala) sangat peka terhadap otitis eksterna.
Cedera pada saluran telinga ketika sedang membersihkannya atau masuknya
air/bahan iritan (misalnya hari spray atau cat rambut) bisa menyebabkan otits
eksterna.

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel
kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga.
Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa
mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang
mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan
air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah
dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.

Gejala-gejala dari otitis eksterna generalisata adalah gatal-gatal, nyeri dan


keluarnya cairan berbau busuk.
Jika saluran telinga membengkak atau terisi oleh nanah dan sel-sel kulit yang
mati, maka bisa terjadi gangguan pendengaran.

Biasanya jika daun telinga ditarik atau kulit didepan saluran telinga ditekan, akan
timbul nyeri.
Dengan menggunakan otoskop, kulit pada saluran telinga tampak merah,
membengkak dan penuh dengan nanah dan sel-sel kulit yang mati.

16
Bisul menyebabkan nyeri yang hebat.
Jika bisul ini pecah, akan keluar darah dan nanah dari telinga.

Untuk mengobati otitis eksterna generalisata, pertama-tama dilakukan


pembuangan sel-sel kulit mati yang terinfeksi dari saluran telinga dengan alat
penghisap atau kapas kering. Setelah saluran telinga diersihkan, fungsi
pendengaran biasanya kembali normal.
Biasanya diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik selama
bebarapa hari. Beberapa tetes teling ada yang mengandung kortikosteroid untuk
mengurangi pembengkakan.
Kadang diberikan obat tetes telinga yang mengandung asam asetat untuk
mengembalikan keasaman pada saluran telinga.

Untuk mengurangi nyeri pada 24-48 jam pertama bisa diberikan acetaminophen
atau codein.
Infeksi yang sudah menyebar keluar saluran telinga (selulitis) diobati dengan
antibiotik per-oral (melalui mulut).

Bisul dibiarkan pecah dengan sendirinya karena jika sengaja disayat bisa
menyebabkan penyebaran infeksi.
Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik tidak efektif.
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan bisa dilakukan
pengompresan hangat (sebentar saja) dan pemberian obat pereda nyeri.

PERIKONDRITIS
Perikondritis adalah suatu infeksi pada tulang rawan (kartilago) telinga luar.
Perikondritis bisa terjadi akibat:
- cedera
- gigitan serangga
- pemecahan bisul dengan sengaja.

17
Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan lapisan jaringan ikat di sekitarnya
(perikondrium).
Kadang nanah menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago, menyebabkan
kerusakan pada kartilago dan pada akhirnya menyebabkan kelainan bentuk
telinga.
Meskipun bersifat merusak dan menahun, tetapi perikondritis cenderung hanya
menyebabkan gejala-gejala yang ringan.

Untuk membuang nanahnya, dibuat sayatan sehingga darah bisa kembali mengalir
ke kartilago.
Untuk infeksi yang lebih ringan diberikan antibiotik per-oral, sedangkan untuk
infeksi yang lebih berat diberikan dalam bentuk suntikan.
Pemilihan antibiotik berdasarkan beratnya infeksi dan bakteri penyebabnya.

EKSIM
Eksim pada telinga merupakan suatu peradangan kulit pada telinga luar dan
saluran telinga, yang ditandai dengan gatal-gatal, kemerahan, pengelupasan kulit,
kulit yang pecah-pecah serta keluarnya cairan dari telinga.
Keadaan ini bisa menyebabkan infeksi pada telinga luar dan saluran telinga.
Dioleskan larutan yang mengandung alumunium asetat (larutan Burow).
Untuk mengatasi gatal-gatal dan peradangan bisa diberikan krim atau salep
corticosteroid.
Jika daerah yang terkena mengalami infeksi, bisa diberikan salep atau obat tetes
antibiotik.

CEDERA
Cedera pada telinga luar (misalnya pukulan tumpul) bisa menyebabkan memar
diantara kartilago dan perikondrium.
Jika terjadi penimbunan darah di daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan
bentuk telinga luar dan tampak massa berwarna ungu kemerahan.
Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah
ke kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga.

18
Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol, yang sering ditemukan pada
pegulat dan petinju.

Untuk membuang hematoma, biasanya digunakan alat penghisap dan penghisapan


dilakukan sampai hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi (biasanya selama 3-7
hari).
Dengan pengobatan, kulit dan perikondrium akan kembali ke posisi normal
sehingga darah bisa kembali mencapai kartilago. Jika terjadi robekan pada telinga,
maka dilakukan penjahitan dan pembidaian pada kartilagonya.
Pukulan yang kuat pada rahang bisa menyebabkan patah tulang di sekitar saluran
telinga dan merubah bentuk saluran telinga dan seringkali terjadi penyempitan.
Perbaikan bentuk bisa dilakukan melalui pembedahan.

TUMOR
Tumor pada telinga bisa bersifat jinak atau ganas (kanker).
Tumor yang jinak bisa tumbuh di saluran telinga, menyebabkan penyumbatan dan
penimbunan kotoran telinga serta ketulian.
Contoh dari tumor jinak pada saluran telinga adalah:
Kista sebasea (kantong kecil yang terisi sekresi dari kulit)
Osteoma (tumor tulang)
Keloid (pertumbuhan dari jaringan ikat yang berlebihan setelah terjadinya cedera).
Seruminoma (kanker pada sel-sel yang menghasilkan serumen) bisa tumbuh pada
sepertia saluran telinga luar dan bisa menyebar.
Untuk mengatasinya dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dan
jaringan di sekitarnya.
Kanker sel basal dan kanker sel skuamosa seringkali tumbuh di pada telinga luar
setelah pemaparan sinar matahari yang lama dan berulang-ulang.
Pada stadium dini, bisa diatasi dengan pengangkatan kanker atau terapi
penyinaran.
Pada stadium lanjut, mungkin perlu dilakukan pengangkatan daerah telinga luar
yang lebih luas.

19
Jika kanker telah menyusup ke kartilago, dilakukan pembedahan.

Kanker sel basal dan sel skuamosa juga bisa tumbuh di dalam atau menyebar ke
saluran telinga.
Keadaan ini diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat kanker dan jaringan di
sekitarnya yang diikuti dengan terapi penyinaran.

7. Benda asing dalam telinga


Manifestasi klinis :
Rasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri
akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak
serta melukai dinding liang telinga.

Penatalaksanaan :
Pasien harus kooperatif untuk membantu keluarnya benda asing dalam telinga.
Binatang di liang telinga harus dimatikan lebih dulu dengan tetesan pantokain,
silokain, minyak atau alkhohol sebelum dikeluarkan. Benda asing yang besar
ditarik dengan pengait serumen, sedangkan yang kecil diambil dengan cunam atau
pengait.

8. Farmakologi umum obat gangguan keseimbangan (L.O)

20
Step V
Formullating Learning Issues

1. Pemeriksaan vertigo
2. Pemeriksaan penyakit menierre
3. Pemeriksaan dan penatalaksanaan Otitis Media Akut (OMA)
4. Farmakologi pada gangguan telinga
5. Kelainan telinga pada gangguan keseimbangan

Step VI
Independent Study
• Arif mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Tiga. Jakarta :
Media Aesculapius FK UI.
• Boeis, dkk. 1997. Boeis: Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC
• Soepardi, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT kepala dan leher edisi
enam. Jakarta : FK UI
• Otitis Media (Ear Infection). Available from
http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp
• Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No.
5 May 2004, pp. 1451-1465. available from
http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;113/5/145
• Ramilo O. Role of respiratory viruses in acute otitis media: implications for
management. Pediatr Infect Dis J. Dec 1999;18(12):1125-9[Medline].
• Hashisaki GT. Complications of chronic otitis media. In: Canalis RF, Lambert
PR, eds. The Ear: Comprehensive Otology. Lippincott; 2000:433-45.
• Daly KA, Giebink GS. Clinical epidemiology of otitis media. Pediatr Infect
Dis J. May 2000;19(5 Suppl):S31-6. [Medline].
• Devillier P, Roche N, Faisy C. Clinical pharmacokinetics and
pharmacodynamics of desloratadine, fexofenadine and levocetirizine : a
comparative review. Clin Pharmacokinet. 2008;47(4):217-30.

21
• Purohit A, Melac M, Pauli G, Frossard N. Twenty-four-hour activity and
consistency of activity of levocetirizine and desloratadine in the skin. Br J Clin
Pharmacol 2003;56:388-94.
• Grant JA, Riethuisen JM, Moulaert B, DeVos C. A double-blind, randomized,
single-dose, crossover comparison of levocetirizine with ebastine,
fexofenadine, loratadine, mizolastine, and placebo: suppression of histamine-
induced wheal-and-flare response during 24 hours in healthy male subjects.
Ann Allergy Asthma Immunol 2002;88:190-7.
• Pelle E, McCarthy J, Seltmann H, et al. Identification of histamine receptors
and reduction of squalene levels by an antihistamine in sebocytes. J Invest
Dermatol. May 2008;128(5):1280-5.
• Sherwood, Laurale. 2001. Fisiologi Tubuh Manusia dari Sel ke Sistem edisi
dua. Jakarta : EGC.
• Simons FE. Safety of levocetirizine treatment in young atopic children: An 18-
month study. Pediatr Allergy Immunol. Sep 2007;18(6):535-42.
• Sype JW, Khan IA. Prolonged QT interval with markedly abnormal ventricular
repolarization in diphenhydramine overdose. Int J Cardiol. Mar
18 2005;99(2):333-5.
• Thakur AC, Aslam AK, Aslam AF, Vasavada BC, Sacchi TJ, Khan IA. QT
interval prolongation in diphenhydramine toxicity. Int J Cardiol. Feb
15 2005;98(2):341-3.

22
Step VII
Reporting

1. Pemeriksaan vertigo
Definisi
Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-
olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai
dengan mual dan kehilangan keseimbangan.

Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa
jam bahkan hari.
Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus
berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.

Benign Paroxysmal Positional Vertigo.


Benign Paroxysmal Positional Vertigo merupakan penyakit yang sering
ditemukan, dimana vertigo terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari
1 menit.
Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun,
berguling diatas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu
terjadinya episode vertigo ini.
Penyakit ini tampaknya disebabkan oleh adanya endapan kalsium di dalam salah
satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam.
Vertigo jenis ini mengerikan, tetapi tidak berbahaya dan biasanya menghilang
dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.
Tidak disertai hilangnya pendengaran maupun telinga berdenging.

Penyebab
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ
keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam.
Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak.

23
Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang
menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya sendiri.
Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan
tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba.
Penyebab umum dari vertigo:
1. Keadaan lingkungan
- Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan
- Alkohol
- Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi
- Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena
berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral
dan arteri basiler
4. Kelainan di telinga
- Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga
bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
- Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
- Herpes zoster
- Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
- Peradangan saraf vestibuler
- Penyakit Meniere
Kelainan neurologis
- Sklerosis multipel
- Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau
keduanya
- Tumor otak
- Tumor yang menekan saraf vestibularis.

Gejala
Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita
merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar.

24
Diagnosa
Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat dan penyebab dari vertigo.
Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga
bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah
gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari
gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa
dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba - tiba atau dengan
meneteskan air dingin ke dalam telinga.

Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan


dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata
tertutup. Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga
yang mempengaruhi keseimbangan dan pendengaran. Selain itu kita bisa secara
pribadi mengadakan terapi rehabilitasi vestibular merupakan terapi fisik untuk
menyembuhkan vertigo, Tujuan terapi ini adalah untuk mengurangi pusing,
meningkatkan keseimbangan dan mencegah seorang jatuh dengan mengembalikan
fungsi sistem vestibular. Pasien melakukan latihan agar otak dapat menyesuaikan
dan menggantikan penyebab vertigo. Keberhasilan terapi ini tergantung pada
beberapa faktor pasien yang meliputi usia, fungsi kognitif (memori, kemampuan
mengikuti petunjuk, kemampuan koordinasi dan gerak, dan kesehatan pasien
secara keseluruhan (termasuk sistem saraf pusat) serta kekuatan fisik. Pasien yang
datang ke dokter akan menjalani beberapa latihan yang akan melatih
keseimbangan dalam tingkat yang lebih tinggi, meliputi gerakan kepala, gerakan
mata dan berjalan.
Kita bisa melakukannya dengan bantuan orang lain tapi harus hati - hati dan tidak
boleh gegabah, berikut ini caranya :
a. Pertama - tama duduk dalam keadaan tegak dan lemas.
b. Tidurlah dengan bantuan orang ke dua untuk menidurkan anda pelan -
pelan (badan ditidurkan ke belakang)
c. Diharap kepala berada di bawah tempat tidur dengan bantuan orang ke dua
untuk memegang (putar pelan - pelan ke kanan dan putar pelan - pelan ke kiri)

25
d. Badan diputar ke kiri dan ke kanan pelan - pelan (diharap dengan bantuan
orang lain untuk menyangga kepala)
e. Berdirilah pelan - pelan ke depan (diharapkan dengan bantuan orang lain
untuk membangunkan)

Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang


mempengaruhi keseimbangan dan pendengaran.

Pemeriksaan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, yang bisa menunjukkan
kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf.

Jika diduga suatu infeksi, bisa diambil contoh cairan dari telinga atau sinus atau
dari tulang belakang.

Jika diduga terdapat penurunan aliran darah ke otak, maka dilakukan pemeriksaan
angiogram, untuk melihat adanya sumbatan pada pembuluh darah yang menuju
ke otak.

Pemeriksaan Fisis dan Neurologis


Pemeriksaan fisis dasar dan neurologis sangat penting untuk membantu
menegakkan diagnosis vertigo. Pemeriksaan fisis dasar yang terutama adalah
menilai perbedaan besar tekanan darah pada perubahan posisi. Secara garis besar,
pemeriksaan neurologis dilakukan untuk menilai fungsi vestibular, saraf kranial,
dan motorik-sensorik.
Sistem vestibular dapat dinilai dengan tes Romberg, tandem gait test, uji jalan di
tempat (fukuda test) atau berdiri dengan satu atau dua kaki. Uji-uji ini biasanya
berguna untuk menilai stabilitas postural jika mata ditutup atau dibuka.
Sensitivitas uji-uji ini dapat ditingkatkan dengan teknik-teknik tertentu seperti
melakukan tes Romberg dengan berdiri di alas foam yang liat.
Pemeriksaan saraf kranial I dapat dibantu dengan funduskopi untuk melihat ada
tidaknya papiledema atau atrofi optik. Saraf kranial III, IV dan VI ditujukan untuk
menilai pergerakan bola mata. Saraf kranial V untuk refleks kornea dan VII untuk

26
pergerakan wajah. Fungsi serebelum tidak boleh luput dari pemeriksaan. Untuk
menguji fungsi serebelum dapat dilakukan past pointing dan diadokokinesia.
Pergerakan (range of motion) leher perlu diperhatikan untuk menilai rigiditas atau
spasme dari otot leher. Pemeriksaan telinga ditekankan pada pencarian adanya
proses infeksi atau inflamasi pada telinga luar atau tengah. Sementara itu, uji
pendengaran diperiksa dengan garputala dan tes berbisik.
Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai pergerakan mata seperti adakah
nistagmus spontan atau gaze-evoked nystagmus dan atau pergerakan abnormal
bola mata. Penting untuk membedakan apakah nistagmus yang terjadi perifer atau
sentral. Nistagmus sentral biasanya hanya vertikal atau horizontal saja dan dapat
terlihat dengan fiksasi visual. Nistagmus perifer dapat berputar atau rotasional dan
dapat terlihat dengan memindahkan fiksasi visual. Timbulnya nistagmus dan
gejala lain setelah pergerakan kepala yang cepat, menandakan adanya input
vestibular yang asimetris, biasanya sekunder akibat neuronitis vestibular yang
tidak terkompensasi atau penyakit Meniere.
Uji fungsi motorik juga harus dilakukan antara lalin dengan cara pasien menekuk
lengannya di depan dada lalu pemeriksa menariknya dan tahan hingga hitungan ke
sepuluh lalu pemeriksa melepasnya dengan tiba-tiba dan lihat apakah pasien dapat
menahan lengannya atau tidak. Pasien dengan gangguan perifer dan sentral tidak
dapat menghentikan lengannya dengan cepat. Tetapi uji ini kualitatif dan
tergantung pada subjektifitas pemeriksa, kondisi muskuloskeletal pasien dan
kerjasama pasien itu sendiri.
Pemeriksaan khusus neuro-otologi yang umum dilakukan adalah uji Dix-Hallpike
dan electronystagmography (ENG). Uji ENG terdiri dari gerak sakadik, nistagmus
posisional, nistagmus akibat gerakan kepala, positioning nystagmus, dan uji
kalori.
Pada dasarnya pemeriksaan penunjang tidak menjadi hal mutlak pada vertigo.
Namun pada beberapa kasus memang diperlukan. Pemeriksaan laboratorium
seperti darah lengkap dapat memberitahu ada tidaknya proses infeksi. Profil lipid
dan hemostasis dapat membantu kita untuk menduga iskemia. Foto rontgen, CT-
scan, atau MRI dapat digunakan untuk mendeteksi kehadiran neoplasma/tumor.
Arteriografi untuk menilai sirkulasi vertebrobasilar.

27
Pengobatan
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Obat untuk mengurangi vertigo
yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan skopolamin.

Skopolamin terutama berfungsi untuk mencegah motion sickness, yang terdapat


dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama beberapa hari.
Semua obat diatas bisa menyebabkan ngantuk, terutama pada usia lanjut.
Skopolamin dalam bentuk plester kulit memiliki efek mengantuk yang paling
sedikit.

2. Pemeriksaan penyakit menierre


Definisi Penyakit Meniere
Penyakit Meniere adalah kekacauan dari aliran cairan-cairan dari telinga dalam.
Meskipun penyebab dari penyakit Meniere tidak diketahui, ia mungkin berakibat
dari kelainan dalam cara cairan telinga dalam diatur. Pada kebanyakan kasus-
kasus hanya satu telinga yang terlibat, namun kedua telinga mungkin dipengaruhi
pada kira-kira 10% sampai 20% dari pasien-pasien. Penyakit Meniere secara khas
mulai antara umur 20 dan 50 tahun (meskipun telah dilaporkan pada hampir
semua kelompok umur). Pria-pria dan wanita-wanita sama-sama dipengaruhi.
Gejala-gejala mungkin hanya gangguan minor, atau dapat menjadi melumpuhkan,
terutama jika serangan-serangan dari vertigo berat/parah, seringkali, dan terjadi
tanpa peringatan. Penyakit Meniere juga disebut idiopathic endolymphatic
hydrops.
Gejala-Gejala Penyakit Meniere
Gejala-gejala dari penyakit Meniere secara khas termasuk paling sedikit beberapa
dari yang berikut:
• Episodic rotational vertigo: Serangan-serangan dari perasaan memutar
yang disertai oleh disequilibrium (perasaan ketakseimbangan), mual, dan
adakalanya muntah. Ini biasanya adalah gejala yang paling menyusahkan.
Vertigo biasanya berlangsung 20 menit sampai dua jam atau bahkan lebih

28
lama. Selama serangan-serangan, pasien-pasien adalah sangat
dilumpuhkan, dan ketiduran mungkin mengikutinya. Perasaan
ketakseimbangan mungkin berlangsung untuk beberapa hari.
• Tinnitus: Suara meraung, berdengung, seperti mesin, atau berdering dalam
telinga. Ia mungkin episodik (kadang-kadang) dengan serangan vertigo
atau ia mungkin tetap. Biasanya tinnitus memburuk atau akan tampak
tepat sebelum timbulnya vertigo.
• Kehilangan pendengaran: Ia mungkin sebentar-sebentar pada awal
timbulnya penyakit, namun melalui waktu ia mungkin menjadi kehilangan
pendengaran yang tetap. Ia mungkin melibatkan semua frekwensi-
frekwensi, namun paling umum terjadi pada frekwensi-frekwensi yang
lebih rendah . Suara-suara yang keras mungkin menjadi tidak nyaman dan
tampak menyimpang pada telinga yang terpengaruh.
• Kepenuhan telinga: Biasanya perasaan penuh ini terjadi tepat sebelum
timbulnya serangan vertigo.
Mendiagnosa Penyakit Meniere
Diagnosis dari penyakit Meniere terutama dibuat dari sejarah dan pemeriksaan
fisik. Tinnitus atau kepenuhan telinga (aural fullness) perlu hadir untk membuat
diagnosis. Audiogram adalah bermanfaat untuk menunjukan kehilangan
pendengaran, dan untuk menyampingkan kelainan-kelainan lainnya. Adalah
seringkali berguna, jika dapat dilakukan secara aman, untuk mempunyai
audiogram selama atau segera setelah serangan vertigo. Ini mungkin menunjukan
karakteristik kehilangan pendengaran frekwensi rendah. Ketika penyakitnya
berlanjut kehilangan pendengaran biasanya memburuk.
Tes-tes lain seperti auditory brain stem response (ABR), tes komputer dari
syaraf-syaraf pendengaran dan jalan-jalan kecil otak, computer tomography (CT
scan) atau, magnetic resonance imaging (MRI) mungkin diperlukan untuk
menyampingkan tumor yang terjadi pada syaraf pendengaran atau keseimbangan.
Tumor-tumor ini adalah jarang, namun mereka dapat menyebabkan gejala-gejala
yang serupa dengan penyakit Meniere. Evaluasi neurologikal yang penuh
dilakukan untuk menyampingkan penyebab-penyebab lain dari vertigo.
Merawat Penyakit Meniere

29
• Obat-Obat: Diuretic (pil air) seperti triamterene (Dyazide, Maxzide)
digabungkan dengan diet rendah garam, adalah perawatan utama dari
penyakit Meniere. Obat-obat anti-vertigo seperti meclizine (Antivert,
Bonine, Meni-D, Antrizine) atau diazepam (Valium) mungkin
menyediakan pembebasan sementara selama serangan-serangan vertigo.
Obat-obat anti-mual [contohnya, promethazine (Phenergan)] adakalanya
juga diresepkan. Keduanya obat-obat anti-vertigo dan anti-mual mungkin
menyebabkan keadaan mengantuk.
• Operasi: Jika serangan-serangan vertigo tidak terkontrol secara medis dan
melumpuhkan, satu dari prosedur-prosedur operasi berikut mungkin
direkomendasikan tergantung pada situasi perorangan pasien:
o endolymphatic shunt (Prosedur operasi dimana tabung ditempatkan
pada kantong endolymphatic yang mengalirkan cairan yang
berlebihan dari telinga).
o selective vestibular neurectomy
o labyrinthectomy (pengangkatan labyrinth telinga secara operasi)
dan delapan seksi syaraf.
Meskipun tidak ada penyembuhan yang nyata untuk penyakit Meniere, serangan-
serangan vertigo dapat dikontrol pada hampir semua kasus-kasus. Jika anda
mempunyai vertigo tanpa peringatan, anda harus tidak mengendarai mobil, karena
kegagalan untuk mengontrol kendaraan mungkin berbahaya untuk diri anda
sendiri dan orang lain. Keamanan mungkin menuntut anda membatalkan naik
tangga-tangga, dan berenang.

3. Pemeriksaan dan penatalaksanaan Otitis Media Akut (OMA)


Infeksi-infeksi telinga adalah kondisi-kondisi yang melibatkan dan seringkali
peradangan dari area-area berbeda dari telinga.
Paling sering berasal dari infeksi virus, jamur dan bakteri. Pada kebanyakan
kasus-kasus, infeksi-infeksi telinga adalah tidak serius dan hilang dengan
sendirinya. Bagaimanapun, infeksi-infeksi bakteri dapat memerlukan
perawatan dengan antibiotik-antibiotik. Dibiarkan tidak terawat, infeksi-

30
infeksi ini dapat menjurus ke komplikasi-komplikasi serius, terutama untuk
anak-anak kecil.
Infeksi ini sering terjadi pada penderita alergi yang sering mengalami infeksi
berulang atau sering sakit batuk pilek hilang timbul berulang-ulang.
Infeksi-infeksi telinga dapat terjadi pada telinga luar, tengah dan dalam. Telinga
luar adalah bagian telinga yang tampak. Itu termasuk keseluruhan bagian luar
telinga (auricle), yang terdiri dari tulang rawan dan kulit, dan daun telinga.
Telinga luar juga termasuk saluran telinga (jalan terus yang membawa suara dari
luar tubuh ke gendang telinga). Gendang telinga (tympanic membrane) adalah
suatu membran tipis yang berlokasi pada ujung paling dalam dari saluran telinga
yang memisahkan telinga luar dan telinga tengah.
Telinga tengah adalah ruangan kecil sebesar kacang polong berlokasi tepat
dibelakang selaput gendang telinga. Itu secara normal terisis dengan udara yang
masuk ke area itu melalui saluran-saluran eustachian/eustachian tubes (kanal-
kanal yang pergi dari belakang hidung dan tenggorokan menuju telinga tengah).
Saluran-saluran eustachian (kadangkala disebut saluran-saluran auditory)
mencegah penumpukan tekanan didalam telinga-telinga. Mereka umumnya tetap
tertutup, namun terbuka selama menelan dan menguap untuk mengimbangi
tekanan udara pada telinga tengah dengan tekanan udara diluar telinga. Telinga
tengah juga mengandung tulang-tulang kecil yang mengirim getaran-getaran dari
selaput gendang telinga ke telinga dalam.
Telinga dalam terdiri dari cochlea (struktur yang mengandung organ yang
diperlukan untuk mendengar) dan labyrinth (rongga-rongga saling berhubungan
yang membantu memelihara keseimbangan). Syaraf yang berakhir pada telinga
dalam merubah getaran-getaran suara kedalam signal-signal menuju ke otak yang
mengizinkan terjadinya pendengaran.
Kebanyakan infeksi-infeksi telinga terjadi pada telinga luar atau tengah – infeksi-
infeksi telinga dalam adalah jarang. Infeksi-infeksi telinga tidak menular.
Bagaimanapun, infeksi-infeksi virus (seperti selesma, influensa) yang dapat
mendahuluinya adalah menular dan dapat menjurus ke infeksi-infeksi telinga.
Infeksi-infeksi telinga adalah lebih umum pada anak-anak daripada orang-orang
dewasa karena saluran-saluran mereka lebih pendek dan sempit, membuat mereka

31
lebih sulit untuk mengalir. Sebagai tambahan, jaringan adenoid (adenoid tissue)
dibelakang tenggorokan lebih besar dan dapat menghalangi tabung-tabung
eustachio.
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput
permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis
media non supuratif, yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan
lambat.

Otitis Media Akut, otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah
yang bersifat akut atau tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki
penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika
terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat
mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim
pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut
ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau
peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media,
pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas,
kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering.

Patofisiologi
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di
saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya
saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah
putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai
hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan
jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di
telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan

32
organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan
pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).
Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran
hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan
terasa nyeri.1 Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya
dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA),
otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika
Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media
sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali
atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode
sebelum usia sepuluh tahun.4 Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi
pada usia 3-6 tahun.

Penyebab
• Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun
bakteri.
• Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya.
• Virus ditemukan pada 25% kasus da da dan n kadang menginfeksi telinga
tengah bersama bakteri.
• Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae,
diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu
diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh
bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini
dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka
kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.

Anak Lebih Mudah Terserang OMA


Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa
hal
• sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.

33
• saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih
pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
• adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang
berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding
orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius
sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran
Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi
tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia
anak – anak umumnya keluhan berupa
• rasa nyeri di telinga dan demam.
• Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
• Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan
pendengaran dan telinga terasa penih.
• Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak
gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga
yang sakit.

Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.
• Penyakitnya muncul mendadak (akut)
• Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga
tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di
antara tanda berikut:
o menggembungnya gendang telinga
o terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga
o adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga
o cairan yang keluar dari telinga
• Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut:

34
o kemerahan pada gendang telinga
o nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal
Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik
daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran,
demam, sulit makan, mual dan muntah, serta rewel.4,6,7 Namun gejala-gejala ini
(kecuali keluarnya cairan dari telinga) tidak spesifik untuk OMA sehingga
diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata.6
Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop (alat untuk memeriksa liang dan
gendang telinga dengan jelas).4 Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang
telinga yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi
kemerahan atau agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga.
Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik
(pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang
dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang telinga
terhadap perubahan tekanan udara).6 Gerakan gendang telinga yang berkurang
atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini
meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya diagnosis OMA
dapat ditegakkan dengan otoskop biasa.4
Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosentesis (penusukan
terhadap gendang telinga).6 Namun timpanosentesis tidak dilakukan pada
sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis antara lain adalah OMA pada
bayi di bawah usia enam minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah
sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak memberi respon
pada beberapa pemberian antibiotik, atau dengan gejala sangat berat dan
komplikasi.8
OMA harus dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai
OMA. Untuk membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut.4
Gejala dan tanda OMA Otitis media dengan
efusi
Nyeri telinga, demam, + -
rewel
Efusi telinga tengah + +
Gendang telinga suram + +/-

35
Gendang yang +/- -
menggembung
Gerakan gendang + +
berkurang
Berkurangnya pendengaran+ +

Penanganan
Antibiotik
1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.
2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan
antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk
berkurangnya pendengaran.
3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak
membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik
diberikan.4,6 American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan
OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan
antibiotik sebagai berikut:
Usia Diagnosis pasti Diagnosis meragukan

< 6 bln Antibiotik Antibiotik


6 bln – 2 th Antibiotik Antibiotik jika gejala berat; observasi jika
gejala ringan
2 thn Antibiotik jika gejala Observasi
berat; observasi jika gejala
ringan

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam
<39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang
– berat atau demam 39°C.
Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam
bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis
meragukan pada anak di atas dua tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-
up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa
observasi.

36
British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk
menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan
terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah.
Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian
besar anak adalah amoxicillin.
• Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician)
menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan
risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko
tinggi.
• Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun,
dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam
tiga bulan terakhir.
• WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan
maksimumnya 500 mg.
• AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait
dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan
dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada
data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah
menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang
resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi
terhadap antibiotik.
• Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72
jam.
• Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua
mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam,
kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak
memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik
lini kedua. Misalnya:
• Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan
Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang
kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain

37
menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak
membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.4
• Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan
cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime.
• Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah
azithromycin atau clarithromycin
• Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-
trimethoprim.
• Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak
membaik dengan amoxicillin.
• Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil,
pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari.
• Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA
umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan
spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin.
Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak
jenis bakteri, memiliki risiko yang lebih besar. Bakteri normal di tubuh
akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu.
Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik
akan lebih besar. Karenanya, pilihan ini hanya digunakan pada kasus-
kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua.
• Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada
anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.
• Pada usia enam tahun ke atas, pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Di
Inggris, anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari.
• Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam
jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih
dari tujuh hari. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari
dianggap cukup pada otitis media. Pemberian antibiotik dalam waktu yang
lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri.

Analgesia/pereda nyeri

38
• Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).
• Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti
paracetamol atau ibuprofen.
• Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus
dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti
muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran
cerna.

Obat lain
• Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau
dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak.
• Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan.
• Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk
mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya
dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat
berat atau ada komplikasi.
• Cairan yang keluar harus dikultur.
• Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya
OMA tidak memiliki bukti yang cukup.4

Pencegahan
Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
• pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak,
• pemberian ASI minimal selama 6 bulan,
• penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring,
• dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
• Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

Komplikasi
• Otitis media kronik ditandai dengan riwayat keluarnya cairan secara
kronik dari satu atau dua telinga.

39
• Jika gendang telinga telah pecah lebih dari 2 minggu, risiko infeksi
menjadi sangat umum.
• Umumnya penanganan yang dilakukan adalah mencuci telinga dan
mengeringkannya selama beberapa minggu hingga cairan tidak lagi keluar.
• Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga
tengah, termasuk otak. Namun komplikasi ini umumnya jarang terjadi.
• Salah satunya adalah mastoiditis pada 1 dari 1000 anak dengan OMA
yangtidak diobati.
• Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran permanen.
• Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi
pendengaran anak serta menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara
dan bahasa.
• Otitis media dengan efusi didiagnosis jika cairan bertahan dalam telinga
tengah selama 3 bulan atau lebih.
Komplikasi yang serius adalah:
 Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)
 Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
 Kelumpuhan pada wajah
 Tuli
 Peradangan pada selaput otak (meningitis)
 Abses otak.Tanda-tanda terjadinya komplikasi:
• sakit kepala
• tuli yang terjadi secara mendadak
• vertigo (perasaan berputar)
• demam dan menggigil.

Rujukan
Beberapa keadaan yang memerlukan rujukan pada ahli THT adalah;
• Anak dengan episode OMA yang sering. Definisi “sering” adalah lebih
dari 4 episode dalam 6 bulan.4 Sumber lain menyatakan “sering” adalah
lebih dari 3 kali dalam 6 bulan atau lebih dari 4 kali dalam satu tahun

40
• Anak dengan efusi selama 3 bulan atau lebih, keluarnya cairan dari
telinga, atau berlubangnya gendang telinga
• Anak dengan kemungkinan komplikasi serius seperti kelumpuhan saraf
wajah atau mastoiditis (mastoiditis: peradangan bagian tulang tengkorak,
kurang lebih terletak pada tonjolan tulang di belakang telinga)
• Anak dengan kelainan kraniofasial (kraniofasial: kepala dan wajah),
sindrom Down, sumbing, atau dengan keterlambatan bicara7
• OMA dengan gejala sedang-berat yang tidak memberi respon terhadap 2
antibiotik

4. Farmakologi pada gangguan telinga


Ada beberapa pengobatan gangguan keseimbangan (pada telinga) selain obat-obat
yang diminum, yaitu rehabilitasi/fisioterapi dalam hal ini latihan gerakan kepala
dan badan. Pertama kali umumnya harus dibantu oleh dokter untuk
melakukannya.
Di sini saya membicarakan latihan terapi gangguan keseimbangan/vertigo akibat
perubahan posisi kepala ( istilah medis : BPPV - Benign Paroxysmal Positional
Vertigo ).
Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley
manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver
dan Brand-Darroff exercise (saya belum menemukan istilahnya dalam bahasa
Indonesia). Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk
membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.
Dari beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT atau
Semont Liberatory, jika masih terasa ada sisa baru dilakukan Brand-Darroff
exercise.
Latihan CRT / Epley manouver :

41
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan keseimbangan /
vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di
pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang,
kemudian putar kepala ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka
menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk
dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai
(4), masing-masing gerakan ditunggu lebih kurang 30 – 60 detik. Dapat
dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang kali sampai terasa vertigo hilang.
Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai
360′, mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai
berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul
vertigo, berhenti dulu tapi jangan balik lagi, sampai hilang, setelah hilang
berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.
Latihan Semont Liberatory :

42
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh
ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2)
dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian
tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik,
baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat dilakukan dari arah sebaliknya,
berulang kali.
Latihan Brand-Darroff exercise :

Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama
posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian
balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri,
masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang
kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.

43
Mungkin ada yang bertanya, apasih gunanya gerakan kepala dan badan itu,
mungkin kalau saya terangkan akan membuat kepala jadi mumet /vertigo, tapi itu
adalah gerakan yang telah dilakukan penelitian dan telah berhasil.
Sebaiknya juga harus diperiksakan terlebih dahulu untuk memastikan penyebab
vertigo / gangguan keseimbangannya.

Tatalaksana vertigo terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu kausal, simtomatik dan
rehabilitatif. Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga
terapi lebih banyak bersifat simtomatik dan rehabilitatif.
Terapi simtomatik bertujuan meminimalkan 2 gejala utama yaitu rasa berputar
dan gejala otonom. Untuk mencapai tujuan itu digunakanlah vestibular suppresant
dan antiemetik. Beberapa obat yang tergolong vestibular suppresant adalah
antikolinergik, antihistamin, benzodiazepin, calcium channel blocker, fenotiazin,
dan histaminik. [Tabel 4]
Antikolinergik bekerja dengan cara mempengaruhi reseptor muskarinik.
Antikolinergik yang dipilih harus mampu menembus sawar darah otak (sentral).
Idealnya, antikolinergik harus bersifat spesifik terhadap reseptor vestibular agar
efek sampingnya tidak terlalu berat. Sayangnya, belum ada.
Benzodiazepin termasuk modulator GABA yang bekerja secara sentral untuk
mensupresi repson dari vestibular. Pada dosis kecil, obat ini bermanfaat dalam
pengobatan vertigo. Efek samping yang dapat segera timbul adalah terganggunya
memori, mengurangi keseimbangan, dan merusak keseimbangan dari kerja
vestibular.
Antiemetik digunakan untuk mengontrol rasa mual. Bentuk yang dipilih
tergantung keadaan pasien. Oral untuk rasa mual ringan, supositoria untuk muntah
hebat atau atoni lambung, dan suntikan intravena pada kasus gawat darurat.
Contoh antiemetik adalah metoklorpramid 10 mg oral atau IM dan ondansetron 4-
8 mg oral.
Terapi rehabilitasi bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan
kompensasi sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibular.
Mekanisme kerja terapi ini adalah substitusi sentral oleh sistem visual dan
somatosensorik untuk fungsi vestibular yang terganggu, mengaktifkan kendali

44
tonus inti vestibular oleh serebelum, sistem visual dan somatosensorik, serta
menimbulkan habituasi, yaitu berkurangnya respon terhadap stimulasi sensorik
yang diberikan berulang-ulang.

Tabel 4. Terapi Obat Antivertigo


Golongan Dosis oral Antiemetik Sedasi Mukosa Ekstrapiramidal
Kering
Flunarisin 1x5-10 mg + + - +
Sinarizin 3x25 mg + + - +
Prometasin 3x25-50 mg + ++ ++ -
Difenhidrinat 3x50 mg + + + -
Skopolamin 3x0,6 mg + + +++ -
Atropin 3x0,4 mg + - +++ -
Amfetamin 3x5-10 mg + - + +
Efedrin 3x25 mg + - + -
Proklorperasin 3x3 mg +++ + + ++
Klorpromasin 3x25 mg ++ +++ + +++
Diazepam 3x2-5 mg + +++ - -
Haloperidol 3x0,5-2 mg ++ +++ + ++
Betahistin 3x8 mg + + - +
Carvedilol Sedang - - - -
Karbamazepin diteliti - + - -
Dilantin 3x200 mg - - - -
3x100 mg

BPPV
Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo vestibular
perifer yang paling sering ditemui, kira-kira 107 kasus per 100.000 penduduk, dan
lebih banyak pada perempuan serta usia tua (51-57 tahun). Jarang ditemukan pada
orang berusia dibawah 35 tahun yang tidak memiliki riwayat cedera kepala.
Dari namanya, jelas bahwa vertigo ini diakibatkan perubahan posisi kepala seperti
saat berguling di tempat tidur, membungkuk, atau menengadah ke atas.
Mekanisme pasti terjadinya BPPV masih samar. Tapi penyebabnya sudah

45
diketahui pasti yaitu debris yang terdapat pada kanalis semisirkularis biasanya
pada kanalis posterior. Debris berupa kristal kalsium karbonat itu dalam keadaan
normal tidak ada. Diduga debris itu menyebabkan perubahan tekanan endolimfe
dan defleksi kupula sehingga timbul gejala vertigo.
Salah satu cara yang sangat mudah dikerjakan untuk mendiagnosis BPPV adalah
uji Dix-Hallpike, yaitu dengan menggerakkan kepala pasien dengan cepat ke
kanan, kiri dan kembali ke tengah. Uji itu dapat membedakan lesi perifer atau
sentral. Pada lesi perifer, dalam hal ini positif BPPV, didapatkan vertigo dan
nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, menghilang dalam waktu
kurang dari 1 menit, berkurang dan menghilang bila uji diulang beberapa kali
(fatigue). Berbeda dengan lesi sentral, periode laten tidak ditemukan, vertigo dan
nistagmus berlangsung lebih dari 1 menit, dan bila diulang gejala tetap ada (non
fatigue).
Obat tidak diberikan secara rutin pada BPPV. Malah cenderung dihindari karena
penggunaan obat vestibular suppresant yang berkepanjangan hingga lebih dari 2
minggu dapat mengganggu mekanisme adaptasi susunan saraf pusat terhadap
abnormalitas vestibular perifer yang sudah terjadi. Selain itu, efek samping yang
timbul berupa ngantuk, letargi, dan perburukan keseimbangan.
Tanpa obat bukan berarti tidak ada terapi untuk mengurangi gejala vertigo pada
BPPV. Adalah manuver Epley yang disinyalir merupakan terapi yang aman dan
efektif. Manuver ini bertujuan untuk mengembalikan debris dari kanalis
semisirkularis posterior ke vestibular labirin. Angka keberhasilan manuver Epley
dapat mencapai 100% bila dilatih secara berkesinambungan. Bahkan, uji Dix-
Hallpike yang semula positif menjadi negatif. Angka rekurensi ditemukan 15%
dalam 1 tahun. Meski dibilang aman, tetap saja ada keadaan tertentu yang menjadi
kontraindikasi melaksanakan manuver ini yaitu stenosis karotid berat, unstable
angina, dan gangguan leher seperti spondilosis servikal dengan mielopati atau
reumatoid artritis berat.
Setelah melakukan manuver Epley, pasien disarankan untuk tetap tegak lurus
selama 24 jam untuk mencegah kemungkinan debris kembali lagi ke kanal
semisirkularis posterior. Bila pasien tidak ada perbaikan dengan manuver Epley
dan medikamentosa, pembedahan dipertimbangkan.

46
Penyakit Meniere
Contoh lain dari vertigo vestibular tipe perifer adalah penyakit Meniere (Meniere
disease) atau hidrops endolimfatik. Penyakit ini lebih “memilih” orang kulit putih.
Di Inggris, prevalensinya sebesar 1 per 1000 penduduk. Laki-laki atau perempuan
mempunyai risiko yang sama. Bisa terjadi pada anak-anak namun paling sering
antara usia 20-50 tahun.
Pada penyakit ini terjadi gangguan filtrasi endolimfatik dan ekskresi pada telinga
dalam, menyebabkan peregangan pada kompartemen endolimfatik.
Penyebabnya multifaktor. Dari kelainan anatomi, genetik (autosom dominan),
virus, autoimun, vaskular, metabolik, hingga gangguan psikologis.
Gejala penyakit Meniere lebih berat daripada BPPV. Selain vertigo, biasanya
pasien juga mengalami keluhan di telinga berupa tinitus, tuli sensorineural
terhadap frekuensi rendah, dan sensasi rasa penuh di telinga. Ada 3 tingkat derajat
keparahan penyakit Meniere.
Derajat I, gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan
vagal seperti pucat dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo
menyerang, pasien dapat merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama
20 menit hingga beberapa jam. Diantara serangan, pasien sama sekali normal.
Derajat II, gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul
gejala tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah.
Derajat III, gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif
memburuk. Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami
tuli total. Vertigo mulai berkurang atau menghilang.
Obat-obatan seperti proklorperasin, sinnarizin, prometasin, dan diazepam berguna
untuk menekan gejala. Akan tetapi, pemakaian proklorperasin jangka panjang
tidak dianjurkan karena menimbulkan efek samping ekstrapiramidal dan
terkadang efek sedasinya kurang dapat ditoleransi, khususnya kaum lansia.
Intervensi lain berupa diet rendah garam (<1-2 gram per hari) dan diuretik seperti
furosemid, amilorid, dan hidroklorotiazid. Namun, kurang efektif menghilangkan
gejala tuli dan tinitus.

47
Terapi ablasi sel rambut vestibular dengan injeksi intratimpani gentamisin juga
efektif. Keuntungan injeksi intratimpani daripada sistemik adalah mencegah efek
toksik berupa toksisitas koklea, ataxia, dan oscillopsia.
Pada kasus jarang dimana penyakit sudah kebal dengan terapi obat, diet dan
diuretik, pasien terpaksa harus memilih intervensi bedah, misalnya endolimfatik
shunt atau kokleosakulotomi.
Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe perifer umumnya baik, dapat
terjadi remisi sempurna. Sebaliknya pada tipe sentral, prognosis tergantung dari
penyakit yang mendasarinya. Infark arteri basilar atau vertebral, misalnya,
menandakan prognosis yang buruk. Semoga dengan kemajuan ilmu bedah saraf di
masa yang akan datang, vertigo tak lagi menjadi momok.

Antihistamin H1 yang lebih spesifik memperbaiki modalitas terapi.


Antihistamin H1 merupakan salah satu obat terbanyak dan terluas
digunakan di seluruh dunia. Fakta ini membuat perkembangan sekecil apapun
yang berkenaan dengan obat ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Semisal
perubahan dalam penggolongan antihistamin H1. Dulu, antihistamin-H1 dikenal
sebagai antagonis reseptor histamin H1. Namun baru-baru ini, seiring
perkembangan ilmu farmakologi molekular, antihistamin H1 lebih digolongkan
sebagai inverse agonist ketimbang antagonis reseptor histamin H1.
Suatu obat disebut sebagai inverse agonist bila terikat dengan sisi reseptor
yang sama dengan agonis, namun memberikan efek berlawanan. Jadi, obat ini
memiliki aktivitas intrinsik (efikasi negatif) tanpa bertindak sebagai suatu ligan.
Sedangkan suatu antagonis bekerja dengan bertindak sebagai ligan yang mengikat
reseptor atau menghentikan kaskade pada sisi yang ditempati agonis. Beda dengan
inverse agonist, suatu antagonis sama sekali tidak berefek atau tidak mempunyai
aktivitas intrinsik.
Penemuan modus operandi antihistamin H1 yang lebih spesifik tersebut,
bisa menjadi pertimbangan untuk pemberian obat secara tepat. Demikian juga
dengan perkembangan identifikasi serta pengelompokkan antihistamin.
Sebelumnya antihistamin dikelompokkan menjadi 6 grup berdasarkan struktur
kimia, yakni etanolamin, etilendiamin, alkilamin, piperazin, piperidin, dan

48
fenotiazin. Penemuan antihistamin baru yang ternyata kurang bersifat sedatif,
akhirnya menggeser popularitas penggolongan ini. Antihistamin kemudian lebih
dikenal dengan penggolongan baru atas dasar efek sedatif yang ditimbulkan,
yakni generasi pertama, kedua, dan ketiga.
Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang signifikan.
Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan menimbulkan efek antikolinergik
yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama kurang selektif dan
mampu berpenetrasi pada sistem saraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi
kedua. Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih kuat terikat dengan
protein plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak.
Sedangkan generasi ketiga merupakan derivat dari generasi kedua, berupa
metabolit (desloratadine dan fexofenadine) dan enansiomer (levocetirizine).
Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin
yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal. Faktanya,
fexofenadine memang memiliki risiko aritmia jantung yang lebih rendah
dibandingkan obat induknya, terfenadine. Demikian juga dengan levocetirizine
atau desloratadine, tampak juga lebih baik dibandingkan dengan cetrizine atau
loratadine.

Anti alergi Plus Anti inflamasi


Sebagai inverse agonist, antihistamin H1 beraksi dengan bergabung
bersama dan menstabilkan reseptor H1 yang belum aktif, sehingga berada pada
status yang tidak aktif. Penghambatan reseptor histamine H1 ini bisa mengurangi
permiabilitas vaskular, pengurangan pruritus, dan relaksasi otot polos saluran
cerna serta napas. Tak ayal secara klinis, antihistamin H1 generasi pertama
ditemukan sangat efektif berbagai gejala rhinitis alergi reaksi fase awal, seperti
rhinorrhea, pruritus, dan sneezing. Tapi, obat ini kurang efektif untuk mengontrol
nasal congestion yang terkait dengan reaksi fase akhir.
Sementara itu antihistamin generasi kedua dan ketiga memiliki profil
farmakologi yang lebih baik. Keduanya lebih selektif pada reseptor perifer dan
juga bisa menurunkan lipofilisitas, sehingga efek samping pada SSP lebih
minimal. Di samping itu, obat ini juga memiliki kemampuan antilergi tambahan,

49
yakni sebagai antagonis histamin. Antihistamin generasi baru ini mempengaruhi
pelepasan mediator dari sel mast dengan menghambat influks ion kalsium
melintasi sel mast/membaran basofil plasma, atau menghambat pelepasan ion
kalsium intraseluler dalam sel. Obat ini menghambat reaksi alergi dengan bekerja
pada leukotriene dan prostaglandin, atau dengan menghasilkan efek anti-platelet
activating factor.
Selain berefek sebagai anti alergi, antihistamin H1 diduga juga memiliki
efek anti inflamasi. Hal ini terlihat dari studi in vitro desloratadine, suatu
antihistamin H1 generasi ketiga. Studi menunjukkan, desloratadine memiliki efek
langsung pada mediator inflamatori, seperti menghambat pelepasan intracellular
adhesion molecule-1 (ICAM-1) oleh sel epitel nasal, sehingga memperlihatkan
aktivitas anti-inflamatori dan imunomodulatori. Kemampuan tambahan inilah
yang mungkin menjelaskan kenapa desloratadine secara signifikan bisa
memperbaiki nasal congestion pada beberapa double-blind, placebo-controlled
studies. Efek ini tak ditemukan pada generasi sebelumnya, generasi pertama dan
kedua. Sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk menguak misteri dari
efek tambahan ini.

Nasib Antihistamin H1 dalam Tubuh


Pemberian antihistamin H1 secara oral bisa diabsorpsi dengan baik dan
mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein
plasma berkisar antara 78-99%. Sebagian besar antihistamin H1 dimetabolisme
melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system. Konsentrasi
plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan
kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati.
Waktu paruh antihistamin H1 sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki
waktu paruh cukup panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam. Waktu
paruh metabolit aktif juga sangat berbeda jauh dengan obat induknya, seperti
astemizole 1,1 hari sementara metabolit aktifnya, N-desmethylastemizole, memiliki
waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa efek
antihistamin H1 rata-rata masih eksis meski kadarnya dalam darah sudah tidak
terdeteksi lagi. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada

50
anak dan jadi lebih panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, danm pasien
yang menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal
oxygenase lainnya.

Indikasi
Antihistamin generasi pertama di-approve untuk mengatasi hipersensitifitas,
reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi musiman atau tahunan, rhinitis
vasomotor, alergi konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini juga bisa digunakan
sebagai terapi anafilaksis adjuvan. Difenhidramin, hidroksizin, dan prometazin
memiliki indikasi lain disamping untuk reaksi alergi. Difenhidramin digunakan
sebagai antitusif, sleep aid, anti-parkinsonism atau motion sickness. Hidroksizin
bisa digunakan sebagai pre-medikasi atau sesudah anestesi umum, analgesik
adjuvan pada pre-operasi atau prepartum, dan sebagai anti-emetik. Prometazin
digunakan untuk motion sickness, pre- dan postoperative atau obstetric sedation.
Table 1. Indikasi Generasi Pertama yang Diakui FDA
Kategori
Batas Usia
Drug Name Indikasi Kehamilan

Azatadine > 12 tahun PAR, SAR, CU B


Azelastine > 3 tahun PAR, SAR, VR, AC C
Brompheniramine > 6 tahun AR, HR Type 1 C
Chlorpheniramine > 2 tahun AR B
Clemastine > 6 tahun PAR, SAR, CU B
Cyproheptadine > 2 tahun PAR, SAR, CU B
Dexchlorpheniramine > 2 tahun PAR, SAR, CU B
Hydroxyzine Bisa diberikan < Pruritus, sedasi, analgesia, C
6 tahun anti-emetik
Promethazine > 2 years old HR Type 1, Sedation, C
Motion sickness, Analgesia
Tripelennamine > 1 bulan PAR, SAR, CU B
*PAR = perennial allergic rhinitis, SAR = seasonal allergic rhinitis, CU = chronic
urticaria, HR Type 1 = hypersensitivity reaction type 1, AR = allergic rhinitis,
VMR = vasomotor rhinitis, AC = allergic conjunctivitis
Table 2. Indikasi Antihistamin Generasi II & III yang diakui FDA

51
Nama Obat Batas Usia Indikasi Kategori Kehamilan
Cetirizine > 2 tahun PAR, SAR, CIU B
Fexofenadine > 6 tahun SAR, CIU C
Loratadine > 2 tahun SAR, CIU B
Desloratadine > 12 tahun PAR, SAR, CIU C
*PAR = perennial allergic rhinitis, SAR = seasonal allergic rhinitis, CIU =
chronic idiopathic urticaria

Kontraindikasi
Antihistamin generasi pertama: hipersensitif terhadap antihistamin khusus atau
terkait secara struktural, bayi baru lahir atau premature, ibu menyusui, narrow-
angle glaucoma, stenosing peptic ulcer, hipertropi prostat simptomatik, bladder
neck obstruction, penyumbatan pyloroduodenal, gejala saluran napas atas
(termasuk asma), pasien yang menggunakan monoamine oxidase inhibitor
(MAOI), dan pasien tua.
Antihistamin generasi kedua dan ketiga : hipersensitif terhadap antihistamin
khusus atau terkait secara struktural.

Efek Samping
Antihistamin Generasi Pertama:
1. Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
2. Kardiovaskular – hipotensi postural, palpitasi, refleks takikardia, trombosis
vena pada sisi injeksi (IV prometazin)
3. Sistem Saraf Pusat - drowsiness, sedasi, pusing, gangguan koordinasi, fatigue,
bingung, reaksi extrapiramidal bisa saja terjadi pada dosis tinggi
4. Gastrointestinal - epigastric distress, anoreksi, rasa pahit (nasal spray)
5. Genitourinari – urinary frequency, dysuria, urinary retention
6. Respiratori – dada sesak, wheezing, mulut kering, epitaksis dan nasal burning
(nasal spray)
Antihistamin Generasi Kedua Dan Ketiga):
1. Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
2. SSP – mengantuk/ drowsiness, sakit kepala, fatigue, sedasi

52
3. Respiratori** - mulut kering
4. Gastrointestinal** - nausea, vomiting, abdominal distress (cetirizine,
fexofenadine)
*Efek samping SSPsebanding dengan placebo pada uji klinis, kecuali cetirizine
yang tampak lebih sedatif ketimbang placebo dan mungkin sama dengan generasi
pertama. **Efek samping pada respiratori dan gastrointestinal lebih jarang
dibanding generasi pertama.
Interaksi Obat
Precipitant Drug Object Drug Effect
Antihistamin Alkohol, depresan Menambah efek depresan SSP
SSP dan efek lebih kecil pada
antihistamin generasi kedua
dan ketiga.

Antifungi Azole dan loratadine, Meningkatkan kadar plasma


Antibiotik Makrolida : desloratadine object drug
azithromycin,
clarithromycin,
erythromycin, fluconazole,
itraconazole, ketoconazole,
miconazole
Cimetadine loratadine Meningkatkan kadar plasma
object drug
Levodopa promethazine Menurunkan efek levodopa
MAOIs: Antihistamin generasi Bisa memperlama dan
phenelzine, isocarboxazid, pertama memperkuat efek
tranylcypromine antikolinergik dan sedative
antihistamin, sehingga bisa
terjadi hipotensi dan efek
samping ekstrapiramidal

Protease Inhibitors: Antihistamin generasi Meningkatkan kadar plasma


ritonavir, indinavir, pertama, loratadine object drug

53
saquinavir, nelfinavir
Serotonin Reuptatke Antihistamin generasi Meningkatkan kadar plasma
Inhibitors (SSRIs): pertama object drug
fluoxetine, fluvoxamine,
nefazodone, paroxetine,
sertraline

Efikasi Klinis
Table 5. Efikasi Antihistamin
Studi/Ind Jumlah Grup Lama Penentuan
Design studi Hasil (b)
ikasi (a) Sampel Terapi (hari) efikasi
Meltzer, et al.( J Studi acak, 279 -Cet 10 2 Skor lengkap Cet > Lor
Allergy Clin double blind, mg /hari gejala utama = Pla
Immunol Alergi -Lor 10 dan total
1996;97(2):617- musim semi, mg /hari pada pasien.
626) outdoor. -Pla /hari
SAR
Prenner, et al. Acak, 659 Fex 60 Fase 1: Pasien dan Fase 1 -
( Clin Ther double blind, mg 2 x 14 dokter Lor > Fex
2000;22(6):760- 2 fase, sehari Fase 2: menentukan (pasien);
769) crossover Lor 10 16 total Lor = Fex
SAR treatment of mg/ hari keparahan (dokter)
non- gejala Fase 2 -
responders Lor = Fex
(pasien
&dokter)
Howarth, et al.( J Studi acak 722 Fex 120 14 Skor total Fex 120 =
Allergy Clin dan double mg/hari gejala Fex 180 =
Immunol blind Fex 180 Cet > Pla
1999;104(5):927) mg/hari
SAR Cet 10
mg/ hari

54
Pla /hari
Day, et al. Studi acak, 202 Cet 10 2 Skor lengkap Cet > Lor
( Allergy Clin double blind, mg/hari gejala utama = Pla
Immunol allergen Lor 10 dan total
1998;101(5):638- exposure mg/hari pada pasien.
645) unit Placebo/
SAR hari
Druce, et al. (J Acak dan 338 Bro 12 7 Gejala Bro > Lor
Clin Pharmacol double blind mg 2 x global oleh > Pla
1998;38(4):382- sehari peneliti dan
389) Lor 10 subjek
AR mg/hari
Pla 2 x
sehari
Berger et al. (Ann Acak dan 1070 Lor 10 7 Pengamatan Aze = Lor
Allergy Asthma double blind mg/ hari dokter akan + Bec
Immunol plus Bec kebutuhan
1999;82(6):535- 2 obat
541 ) semprot tambahan
SAR tiap untuk
hidung 2 rhinitis
kali alergi,
sehari pengamatan
Aze 2 global gejala
semprot pasien
tiap
hidung 2
kali
sehari
Sienra-Monge, et Double 80 (anak Cet 0.2 28 Tes Cet > Lor
al. (Am J Ther blind, 2-6 mg/kg histamine (wheal
1999;6(3):149-155 randomized, tahun) per hari kulit, jumlah response)
) longitudinal Lor 0,2 eusinofil, Cet = Lor

55
PAR mg/kg pengamatan (jumlah
per hari gejala total eusinofil)
oleh pasien Cet = Lor
dan dokter (gejala)

Breneman (Ann Acak, 188 Cet 10 28 Pengamatan Cet = Hyd


Pharmacother double blind, mg/hari gejala oleh > Pla
1996;30(10):1075- dan allergy Hyd 25 peneliti dan
1079) practice mg/3 x pasien
CIU settings sehari
Pla
Monroe, et al. Acak dan 203 Lor 10 12 Pengamatan Lor = Hyd
( Arzneimittel- double blind. mg/hari gejala oleh > Pla
Forschung Hyd 25 3 dokter dan
1992;42(9):1119- x sehari pasien
11121)
CIU
(a) PAR = perennial allergic rhinitis, SAR = seasonal allergic rhinitis, AR =
allergic rhinitis, CIU = chronic idiosyncratic urticaria
(b) Cet = cetirizine, Lor = loratadine, Pla = placebo, Fex = fexofenadine, Bro =
brompheniramine, Bec = beclomethasone, Aze = Azelastine, Hyd = hydroxyzine,

Strategi AM-PM
Keputusan untuk memilih suatu antihistamin untuk mengatasi gangguan
alergi semisal rhinitis alergica atau urtikaria idiosinkratik kronik harus
berdasarkan pada harga, frekuensi dosis, ketersediaan, kontraindikasi, dan efek
samping. Semua antihistamin generasi pertama kini telah ada dalam sediaan
generik serta sediaan OTC dengan harga lebih murah. Namun tidak demikian
halnya dengan antihistamin generasi kedua dan ketiga. Masalah perbedaan harga
ini menjadi suatu pertimbangan.
Meski sedikit lebih mahal, antihistamin generasi kedua dan ketiga secara
klinis menunjukkan efikasi tanpa efek sedatif yang menjadi karakteristik dari
generasi pertama. Sebenarnya rasa sedasi dan drowsiness sangatlah subjektif,

56
hanya dirasakan oleh individu dan tidak bisa jadi bukti klinis. Sebuah studi
mengevaluasi efek fexofenadine, diphenhydramine, alkohol, dan placebo terhadap
kemampuan mengendarai. Subjek yang memperoleh fexofenadine mampu
mengendarai selayaknya placebo. Sedang subjek yang menerima
diphenhydramine memiliki kemampuan mengendarai paling buruk, diikuti dengan
subjek yang menerima alcohol.
The Joint Task Force on Practice Parameters in Allergy, Asthma, and
Immunology menekankan bahwa efek sedasi dan gangguan performance dari
antihistamin generasi pertama adalah berisiko baik untuk individu maupun
masyarakat. Oleh karena itu, untuk mengatasi rhinitis alergi dan gangguan alergi
kronis lainnya direkomendasikan suatu strategi baru, yakni terapi
antihistamin“AM/PM”. Penderita diberikan antihistamin generasi kedua dan
ketiga yang lebih sedikit atau bahkan tidak ada efek sampingnya sebelum
pemberian antihistamin generasi pertama. Jadi, dosis siang hari generasi kedua
dan ketiga, sedangkan dosis malam hari diberikan generasi pertama. Selain bisa
mengoptimalkan terapi dengan efek samping minimal, strategi ini juga lebih
murah karena tetap bisa menggunakan antihistamin generasi pertama yang lebih
murah.

5. Kelainan telinga pada gangguan keseimbangan


Asal terjadinya vertigo dikarenakan adanya gangguan pada sistem keseimbangan
tubuh. Bisa berupa trauma, infeksi, keganasan, metabolik, toksik, vaskular, atau
autoimun. Sistem keseimbangan tubuh kita dibagi menjadi 2 yaitu sistem
vestibular (pusat dan perifer) serta non vestibular (visual [retina, otot bola mata],
dan somatokinetik [kulit, sendi, otot]).
Sistem vestibular sentral terletak pada batang otak, serebelum dan serebrum.
Sebaliknya, sistem vestibular perifer meliputi labirin dan saraf vestibular. Labirin
tersusun dari 3 kanalis semisirkularis dan otolit (sakulus dan utrikulus) yang
berperan sebagai reseptor sensori keseimbangan, serta koklea sebagai reseptor
sensori pendengaran. Sementara itu, krista pada kanalis semisirkularis mengatur
akselerasi angular, seperti gerakan berputar, sedangkan makula pada otolit
mengatur akselerasi linear.

57
Segala input yang diterima oleh sistem vestibular akan diolah. Kemudian,
diteruskan ke sistem visual dan somatokinetik untuk merespon informasi tersebut.
Gejala yang timbul akibat gangguan pada komponen sistem keseimbangan tubuh
itu berbeda-beda. [Tabel 1 dan 2]

Tabel 1. Perbedaan Vertigo Vestibular dan Non Vestibular


Gejala Vertigo Vestibular Vertigo Non Vestibular
Sifat vertigo rasa berputar melayang, hilang
Serangan episodik keseimbangan
Mual/muntah + kontinu
Gangguan pendengaran +/- -
Gerakan pencetus gerakan kepala -
Situasi pencetus - gerakan obyek visual
keramaian, lalu lintas

Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibular Perifer dan Sentral


Gejala Vertigo Vestibular Perifer Vertigo Vestibular Sentral
Bangkitan vertigo lebih mendadak lebih lambat
Derajat vertigo berat ringan
Pengaruh gerakan kepala ++ +/-
Gejala otonom (mual, ++ +
muntah, keringat)
Gangguan pendengaran + -
(tinitus, tuli)
Tanda fokal otak - +

Berdasarkan awitan serangan, vertigo dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu


paroksismal, kronik, dan akut. Serangan pada vertigo paroksismal terjadi
mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, lalu menghilang sempurna.
Suatu saat serangan itu dapat muncul lagi. Namun diantara serangan, pasien sama
sekali tidak merasakan gejala. Lain halnya dengan vertigo kronis. Dikatakan
kronis karena serangannya menetap lama dan intensitasnya konstan. Pada vertigo
akut, serangannya mendadak, intensitasnya perlahan berkurang namun pasien

58
tidak pernah mengalami periode bebas sempurna dari keluhan. Demikian papar
Abdulbar. [Tabel 3]

Jenis Vertigo Disertai Keluhan Tidak Disertai Timbul Karena


Berdasarkan Telinga Keluhan Telinga Perubahan Posisi
Awitan Serangan
Vertigo Penyakit Meniere, TIA arteri vertebro- Benign paroxysmal
paroksismal tumor fossa cranii basilaris, epilepsi, positional vertigo
posterior, transient vertigo akibat lesi (BPPV)
ischemic attack lambung
(TIA) arteri
vertebralis

Vertigo kronis Otitis media kronis, Kontusio serebri, Hipotensi ortostatik,


meningitis sindroma paska vertigo servikalis
tuberkulosa, tumor komosio, multiple
serebelo-pontine, sklerosis, intoksikasi
lesi labirin akibat zat obat-obatan
ototoksik

Vertigo akut Trauma labirin, Neuronitis -


herpes zoster otikus, vestibularis,
labirinitis akuta, ensefalitis
perdarahan labirin vestibularis, multipel
sklerosis

59
KESIMPULAN

Pasien pada kasus terkena penyakit menierre. Yang mana punya cirri-ciri adanya
kekacauan dari aliran cairan-cairan dari telinga dalam. Meskipun penyebab dari
penyakit Meniere tidak diketahui, ia mungkin berakibat dari kelainan dalam cara
cairan telinga dalam diatur. Pada kebanyakan kasus-kasus hanya satu telinga yang
terlibat, namun kedua telinga mungkin dipengaruhi pada kira-kira 10% sampai
20% dari pasien-pasien. Penyakit Meniere secara khas mulai antara umur 20 dan
50 tahun (meskipun telah dilaporkan pada hampir semua kelompok umur). Pria-
pria dan wanita-wanita sama-sama dipengaruhi. Gejala-gejala mungkin hanya
gangguan minor, atau dapat menjadi melumpuhkan, terutama jika serangan-
serangan dari vertigo berat/parah, seringkali, dan terjadi tanpa peringatan.
Penyakit Meniere juga disebut idiopathic endolymphatic hydrops.

60
Gejala-Gejala Penyakit Meniere
Gejala-gejala dari penyakit Meniere secara khas termasuk paling sedikit beberapa
dari yang berikut:
• Episodic rotational vertigo: Serangan-serangan dari perasaan memutar
yang disertai oleh disequilibrium (perasaan ketakseimbangan), mual, dan
adakalanya muntah. Ini biasanya adalah gejala yang paling menyusahkan.
Vertigo biasanya berlangsung 20 menit sampai dua jam atau bahkan lebih
lama. Selama serangan-serangan, pasien-pasien adalah sangat
dilumpuhkan, dan ketiduran mungkin mengikutinya. Perasaan
ketakseimbangan mungkin berlangsung untuk beberapa hari.
• Tinnitus: Suara meraung, berdengung, seperti mesin, atau berdering dalam
telinga. Ia mungkin episodik (kadang-kadang) dengan serangan vertigo
atau ia mungkin tetap. Biasanya tinnitus memburuk atau akan tampak
tepat sebelum timbulnya vertigo.
• Kehilangan pendengaran: Ia mungkin sebentar-sebentar pada awal
timbulnya penyakit, namun melalui waktu ia mungkin menjadi kehilangan
pendengaran yang tetap. Ia mungkin melibatkan semua frekwensi-
frekwensi, namun paling umum terjadi pada frekwensi-frekwensi yang
lebih rendah . Suara-suara yang keras mungkin menjadi tidak nyaman dan
tampak menyimpang pada telinga yang terpengaruh.
• Kepenuhan telinga: Biasanya perasaan penuh ini terjadi tepat sebelum
timbulnya serangan vertigo.

Mendiagnosa Penyakit Meniere


Diagnosis dari penyakit Meniere terutama dibuat dari sejarah dan pemeriksaan
fisik. Tinnitus atau kepenuhan telinga (aural fullness) perlu hadir untk membuat
diagnosis. Audiogram adalah bermanfaat untuk menunjukan kehilangan
pendengaran, dan untuk menyampingkan kelainan-kelainan lainnya. Adalah
seringkali berguna, jika dapat dilakukan secara aman, untuk mempunyai
audiogram selama atau segera setelah serangan vertigo. Ini mungkin menunjukan

61
karakteristik kehilangan pendengaran frekwensi rendah. Ketika penyakitnya
berlanjut kehilangan pendengaran biasanya memburuk.
Tes-tes lain seperti auditory brain stem response (ABR), tes komputer dari
syaraf-syaraf pendengaran dan jalan-jalan kecil otak, computer tomography (CT
scan) atau, magnetic resonance imaging (MRI) mungkin diperlukan untuk
menyampingkan tumor yang terjadi pada syaraf pendengaran atau keseimbangan.
Tumor-tumor ini adalah jarang, namun mereka dapat menyebabkan gejala-gejala
yang serupa dengan penyakit Meniere. Evaluasi neurologikal yang penuh
dilakukan untuk menyampingkan penyebab-penyebab lain dari vertigo.

Merawat Penyakit Meniere


• Obat-Obat: Diuretic (pil air) seperti triamterene (Dyazide, Maxzide)
digabungkan dengan diet rendah garam, adalah perawatan utama dari
penyakit Meniere. Obat-obat anti-vertigo seperti meclizine (Antivert,
Bonine, Meni-D, Antrizine) atau diazepam (Valium) mungkin
menyediakan pembebasan sementara selama serangan-serangan vertigo.
Obat-obat anti-mual [contohnya, promethazine (Phenergan)] adakalanya
juga diresepkan. Keduanya obat-obat anti-vertigo dan anti-mual mungkin
menyebabkan keadaan mengantuk.
• Operasi: Jika serangan-serangan vertigo tidak terkontrol secara medis dan
melumpuhkan, satu dari prosedur-prosedur operasi berikut mungkin
direkomendasikan tergantung pada situasi perorangan pasien:
o endolymphatic shunt (Prosedur operasi dimana tabung ditempatkan
pada kantong endolymphatic yang mengalirkan cairan yang
berlebihan dari telinga).
o selective vestibular neurectomy
o labyrinthectomy (pengangkatan labyrinth telinga secara operasi)
dan delapan seksi syaraf.
Meskipun tidak ada penyembuhan yang nyata untuk penyakit Meniere, serangan-
serangan vertigo dapat dikontrol pada hampir semua kasus-kasus. Jika anda
mempunyai vertigo tanpa peringatan, anda harus tidak mengendarai mobil, karena
kegagalan untuk mengontrol kendaraan mungkin berbahaya untuk diri anda

62
sendiri dan orang lain. Keamanan mungkin menuntut anda membatalkan naik
tangga-tangga, dan berenang.

DAFTAR PUSTAKA

• Arif mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Tiga. Jakarta :
Media Aesculapius FK UI.
• Boeis, dkk. 1997. Boeis: Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC
• Soepardi, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT kepala dan leher edisi
enam. Jakarta : FK UI
• Otitis Media (Ear Infection). Available from
http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp
• Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No.
5 May 2004, pp. 1451-1465. available from
http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;113/5/145

63
• Ramilo O. Role of respiratory viruses in acute otitis media: implications for
management. Pediatr Infect Dis J. Dec 1999;18(12):1125-9[Medline].
• Hashisaki GT. Complications of chronic otitis media. In: Canalis RF, Lambert
PR, eds. The Ear: Comprehensive Otology. Lippincott; 2000:433-45.
• Daly KA, Giebink GS. Clinical epidemiology of otitis media. Pediatr Infect
Dis J. May 2000;19(5 Suppl):S31-6. [Medline].
• Devillier P, Roche N, Faisy C. Clinical pharmacokinetics and
pharmacodynamics of desloratadine, fexofenadine and levocetirizine : a
comparative review. Clin Pharmacokinet. 2008;47(4):217-30.
• Purohit A, Melac M, Pauli G, Frossard N. Twenty-four-hour activity and
consistency of activity of levocetirizine and desloratadine in the skin. Br J Clin
Pharmacol 2003;56:388-94.
• Grant JA, Riethuisen JM, Moulaert B, DeVos C. A double-blind, randomized,
single-dose, crossover comparison of levocetirizine with ebastine,
fexofenadine, loratadine, mizolastine, and placebo: suppression of histamine-
induced wheal-and-flare response during 24 hours in healthy male subjects.
Ann Allergy Asthma Immunol 2002;88:190-7.
• Pelle E, McCarthy J, Seltmann H, et al. Identification of histamine receptors
and reduction of squalene levels by an antihistamine in sebocytes. J Invest
Dermatol. May 2008;128(5):1280-5.
• Sherwood, Laurale. 2001. Fisiologi Tubuh Manusia dari Sel ke Sistem edisi
dua. Jakarta : EGC.
• Simons FE. Safety of levocetirizine treatment in young atopic children: An 18-
month study. Pediatr Allergy Immunol. Sep 2007;18(6):535-42.
• Sype JW, Khan IA. Prolonged QT interval with markedly abnormal ventricular
repolarization in diphenhydramine overdose. Int J Cardiol. Mar
18 2005;99(2):333-5.
• Thakur AC, Aslam AK, Aslam AF, Vasavada BC, Sacchi TJ, Khan IA. QT
interval prolongation in diphenhydramine toxicity. Int J Cardiol. Feb
15 2005;98(2):341-3.

64