Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki perairan pantai yang


sangat baik karena posisi geografisnya yang strategis serta berpeluang sebagai
pusat perdagangan komoditi perikanan. Melihat peluang tersebut, maka
diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan sumber daya hayati perairan yang
masih rendah produktifitasnya.
Pengembangan budidaya rumput laut Gracillaria Sp di Kabupaten
Pemalang telah dilaksanakan semenjak tahun 2002. Sentral lokasi pengembangan
tersebut adalah di Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami. Hal ini disebabkan oleh
kondisi geografis dan potensi lahan Desa Pesantren yang dapat mendukung
pembudidayaan rumput laut. Letak geografis Desa Pesantren berjarak kurang
lebih 1 km dari pantai dan budidaya rumput laut sebagian besar dilakukan di area
tambak. Usaha budidaya rumput laut sejalan dengan tujuan di atas mengingat
budidaya rumput laut memiliki teknik budidaya yang mudah serta prospek
pemasarannya yang bagus.
Karya tulis ini menguraikan secara rinci penanganan budidaya rumput
laut Gracillaria Sp meliputi : aspek pemilihan lokasi, teknologi metode
budidaya, pemeliharaan, perawatan, penanggulangan hama dan penyakit, serta
panen dan pasca panen.

B. Alasan Pemilihan Judul

Karya tulis ini diberi judul “Budidaya Rumput Laut” karena di dalamnya
berisi keterangan mengenai pembudidayaan rumput laut secara mendetail,
sehingga kelak dapat digunakan sebagai pedoman untuk orang-orang yang ingin
merintis usaha budidaya rumput laut.
Penulis juga ingin menunjukkan serta menjelaskan potensi kelautan yang
dimiliki oleh Kabupaten Pemalang sehingga kelak banyak masyarakat yang
mengetahui pelaksanaan budidaya rumput laut di Desa Pesantren, Kecamatan
Ulujami, Kabupaten Pemalang dan mau ikut serta untuk mendukung atau terlibat
secara langsung dalam kegiatan budidaya rumput laut tersebut.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka susunan rumusan


masalah yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Apa sajakah jenis rumput laut potensial yang dapat dibudidayakan?
2. Apa saja teknik budidaya rumput laut yang biasa digunakan?
3. Bagaimana proses panen dan pasca panen dalam budidaya rumput laut?
4. Bagaimanakah cara manajemen budidaya rumput laut yang baik?

1
D. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah :


1. Menjelaskan jenis rumput laut potensial.
2. Menjelaskan teknik budidaya rumput laut.
3. Menjelaskan proses panen dan pasca panen rumput laut.
4. Menjelaskan manajemen budidaya rumput laut.

E. Manfaat Penulisan

Dalam karya tulis ini dapat diambil manfaat sebagai berikut :


1. Menambah pengetahuan pembaca tentang budidaya rumput laut.
2. Mengetahui jenis rumput laut potensial.
3. Mengetahui teknik budidaya rumput laut.
4. Mengetahui proses panen dan pasca panen rumput laut serta memahami
manajemen budidaya rumput laut.

F. Metode Penulisan

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode :

a. Metode Interview
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengadakan tanya jawab langsung dengan Bapak C. Handoyo
selaku sekretaris kelompok pembudidaya rumput laut ’Rumput
Mulyo’.
b. Metode Observasi
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengadakan pengamatan secara langsung di lokasi budidaya
rumput laut Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami, Kabupaten
Pemalang.
c. Metode Kepustakaan
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara membaca buku dan artikel yang berkaitan dengan budidaya
rumput laut.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberi gambaran secara singkat tentang isi karya tulis ini, maka
penulis menyusun karya tulis ini dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I, Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah, alasan pemilihan judul,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,
metode penulisan dan sistematika penulisan.

2
BAB II, Rumput Laut Potensial
Berisi keterangan mengenai jenis rumput laut potensial
beserta kandungan dan manfaat dari unsur-unsur yang
ada di dalam rumput laut.
BAB III, Teknik Budidaya Rumput Laut
Mengenai faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan lokasi pembudidayaan rumput laut beserta
keterangan mengenai teknik budidaya rumput laut
yang sering digunakan oleh para pembudidaya rumput
laut.
BAB IV, Panen dan Pasca Panen
Menjelaskan proses pembibitan, penanaman,
pemupukan dan pemanenan rumput laut beserta hal-
hal yang sebaiknya dilakukan selama proses tersebut.
BAB V, Manajemen Budidaya Rumput Laut
Berisi keterangan mengenai teknik sampling dan
manajemen budidaya rumput laut berupa teknik
pemeliharaan rumput laut serta penjelasan tentang
hama dan penyakit yang biasa menyerang rumput laut.
BAB VI, Penutup
Berisi simpulan dan saran.

3
BAB II
RUMPUT LAUT POTENSIAL

A. Rumput Laut

Rumput laut (seaweeds) atau yang biasa juga disebut ganggang (latin:
algae) terdiri dari empat kelas, yaitu:
1. Rhodophyceae (ganggang merah)
2. Phaeophyceae (ganggang cokelat)
3. Chlorophyceae (ganggang hijau)
4. Cyanophyceae (ganggang hijau-biru)

B. Kandungan Rumput Laut

Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah
(Rhodophyceae) karena mengandung agar - agar, keraginan, porpiran, furcelaran
maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan
cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang
memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak
mengandung pigmen klorofil, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid,
dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung
cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan - bahan
tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung yodium.

C. Jenis Rumput Laut Potensial

Rumput laut potensial yang dimaksud di sini adalah jenis-jenis rumput laut
yang sudah diketahui dapat digunakan di berbagai industri sebagai sumber karagin,
agar-agar dan alginat. Karaginofit adalah rumput laut yang mengandung bahan
utama polisakarida karagin, agarofit adalah rumput laut yang mengandung bahan
utama polisakarida agar-agar dan keduanya merupakan rumput laut merah
(Rhodophyceae). Alginofit adalah rumput laut coklat (Phaeophyceae) yang
mengandung bahan utama polisakarida alginat.

1. Karaginofit
Rumput laut yang mengandung karaginan adalah dari marga
Eucheuma. Karaginan ada tiga macam, yaitu iota karaginan dikenal dengan
tipe spinosum, kappa karaginan dikenal dengan tipe cottonii dan lambda
karaginan. Ketiga macam karaginan ini dibedakan karena sifat jeli yang
terbentuk. Iota karaginan berupa jeli lembut dan fleksibel atau lunak.
Kappa karaginan jeli bersifat kaku dan getas serta keras, sedangkan lambda
karaginan tidak dapat membentuk jeli, tetapi berbentuk cair.

4
a. Jenis Potensial
E. cottonii dan E. spinosum merupakan rumput laut yang
secara luas diperdagangkan, baik untuk keperluan bahan baku
industri di dalam negeri maupun untuk ekspor. Sedangkan E. edule
dan Hypnea sp. hanya sedikit sekali diperdagangkan dan tidak
dikembangkan dalam usaha budidaya. Hypnea biasanya
dimanfaatkan oleh industri, sebaliknya E. cottonii dan E. spinosum
dibudidayakan oleh masyarakat pantai. Dari kedua jenis tersebut E.
cottonii yang paling banyak dibudidayakan karena permintaan
pasarnya sangat besar. Jenis lainnya Chondrus sp., Gigartina sp.
dan Iridaea sp. tidak dapat ditemukan di Indonesia.
b. Wilayah Pengembangan
Rumput laut Eucheuma di Indonesia umumnya tumbuh di
perairan yang mempunyai terumbu karang. la melekat pada substrat
karang mati atau kulit kerang dan batu gamping di daerah intertidal
dan subtidal. Rumput laut dari jenis ini tersebar hampir diseluruh
perairan Indonesia.

2. Agarofit
Agarofit adalah jenis rumput laut penghasil agar. Jenis-jenis rumput
laut tersebut adalah Gracilaria sp. Gelidium sp. dan Gelidiella sp. Agar-
agar merupakan senyawa kompleks polisakarida yang dapat membentuk
jeli. Kualitas agar-agar dapat ditingkatkan dengan suatu proses pemurnian
yaitu membuang kandungan sulfatnya. Produk ini dikenal dengan nama
agarose. Kualitas agar-agar yang berasal dari Gelidium/Gelidiella lebih
tinggi dibanding dari Gracilaria. Dalam skala industri agar-agar dari
Gelidium mutunya dapat ditingkatkan menjadi agarose, tetapi Gracilaria
masih dalam skala laboratorium.
a.Jenis Potensial
Jenis yang dikembangkan secara luas baru Gracilaria sp. Di
Indonesia, Gracilaria umumnya dibudidayakan di tambak. Jenis ini
mempunyai thallus berwarna merah ungu dan kadang-kadang
berwarna kelabu kehijauan dengan percabangan alternate atau
dichotomy, perulangan lateral berbentuk silindris, meruncing di
ujung dan mencapai tinggi 1-3 cm serta berdiameter 0,5-2 mm.
b. Wilayah Pengembangan
Gracilaria sp. banyak dibudidayakan, di perairan Sulawesi
Selatan (Jeneponto, Takalar, Sinjai, Wajo, Paloppo, Bone, Maros);
Lombok Barat dan Pantai Utara Jawa (Serang, Tangerang, Bekasi,
Karawang, Brebes, Pemalang, Tuban, dan Lamongan). Gracilaria
yang dipanen langsung dari alam kualitasnya kurang baik karena
tercampur dengan jenis lain. Gelidium sp. belum dibudidayakan
karena seluruh produksi Gelidium dihasilkan dari alam.

5
3. Alginofit
Alginofit adalah jenis rumput laut penghasil alginat. Jenis rumput
laut coklat penghasil alginat tersebut adalah Sargasssum sp., Turbinaria
sp., Laminaria sp., Ascophyllum sp., dan Macrocystis sp.
a.Jenis Potensial
Di Indonesia, Sargassum sp. dan Turbinaria sp. merupakan
satu-satunya sumber alginat. Kandungan alginat dalam kedua
rumput laut coklat tersebut relatif tergolong rendah, sehingga secara
ekonomis kurang menguntungkan. Sargassum sp. dan Turbinaria
sp. Belum dibudidayakan di Indonesia, permintaan Sargassum sp.
masih sangat terbatas.
Di dunia, Sargassum sp. ada sekitar 400 spesies; sedangkan
di Indonesia dikenal ada 12 jenis yaitu : Sargassum duplicatum,
S.hitrix, S.echinocarpum, S.gracilinum, S.obtuspfolium, S.binderi,
S.polyceystum, S.microphylum, S.crassifolium, S.aquafolium,
S.vulgare, dan S.polyceratium. Hormophysa di Indonesia dijumpai
satu jenis yaitu H.tricuetra dan Turbinaria sp. ada 4 jenis yaitu
T.conoides, T.conoides, T.ornata, T.murrayana dan T.deccurens.
b. Wilayah Penyebaran
Algae coklat Sargassum sp. termasuk tumbuhan
kosmopolitan, tersebar hampir diseluruh perairan Indonesia
Penyebaran Sargassum sp. di alam sangat luas terutama di daerah
dengan terumbu karang di semua wilayah perairan.

D. Manfaat Rumput Laut

1. Sebagai bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics,


antihehmethes, antihypertensive agent), pengurang kolesterol dan
insektisida.
2. Karena kandungan gizi yang tinggi, mampu meningkatkan sistem
kerja hormonal, limfatik, dan juga saraf. Meningkatkan fungsi pertahanan
tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah, serta sistem
pencernaan.
3. Obat tradisional untuk batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan,
sakit perut, demam, rematik.
4. Kandungan yodium digunakan untuk mencegah penyakit gondok.
5. Kandungan klorofil rumput laut bersifat antikarsinogenik,
kandungan serat, selenium dan seng yang tinggi pada rumput laut dapat
mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat
mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi rumput laut memperkecil
resiko kanker bahkan terdapat kemungkinan rumput laut dapat digunakan
untuk mengobati penyakit kanker.
6. Kandungan vitamin C dan antioksidannya dapat melawan radikal
bebas.

6
7. Kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus
besar, melancarkan pencernaan dan dapat meningkatkan kadar air dalam
feses.

7
BAB III
TEKNIK BUDIDAYA RUMPUT LAUT

A. Lokasi

Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput


laut adalah pemilihan lokasi, sehingga sering dikatakan kunci keberhasilan
budidaya rumput laut terletak pada ketepatan pemilihan lokasi. Hal ini dapat
dimengerti karena relatif sulit untuk membuat perlakuan tertentu terhadap kondisi
ekologi perairan laut yang selalu dinamis, sehingga besarnya hasil produksi rumput
laut di beberapa daerah sangat bervariasi. Dalam pemilihan lokasi yang tepat untuk
budidaya rumput laut, perlu ditekankan pertimbangan atas faktor resiko,
pencapaian, ekologis, higienis, dan sosial-ekonomi.
Pemilihan lokasi dilakukan dengan pendekatan beberapa faktor secara
menyeluruh dengan menggunakan skala penilaian tertentu untuk menentukan layak
atau tidaknya suatu lokasi budidaya. Kecocokan lahan budidaya Gracilaria sp.
sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi kondisi lingkungan fisik,
kimia dan biologi.

B. Faktor Penentu Pemilihan Lokasi

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya


rumput laut adalah sebagai berikut :

1. Faktor Resiko

Faktor resiko merupakan salah satu faktor non-teknis yang perlu


mendapat pehatian dalam pemilihan lokasi budidaya, yang meliputi :

a. Keterlindungan
Untuk menghindari kerusakan fisik sarana budidaya rumput
laut, maka diperlukan lokasi yang terlindung dari pengaruh angin
dan gelombang yang besar. Lokasi yang terlindung biasanya di
perairan teluk atau perairan yang terlindung atau terhalang oleh
pulau.
b. Keamanan
Masalah pencurian dan sabotase mungkin saja dapat terjadi
pada lokasi tertentu, sehingga upaya pengamanan baik secara
perorangan maupun secara kelompok harus dilakukan. Upaya
pendekatan dan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar
lokasi juga perlu dilakukan.

8
c.Konflik Kepentingan
Pemilihan lokasi sebaiknya tidak menimbulkan konflik
dengan kepentingan lain. Beberapa kegiatan perikanan
(penangkapan ikan, pemasangan bubu, dll) dan kegiatan non
perikanan (pariwisata, perhubungan laut, industri, taman laut) dapat
berpengaruh negatif terhadap aktivitas usaha rumput laut.
d. Aspek Peraturan dan Perundang-Undangan
Untuk menguatkan kelanjutan usaha budidaya rumput laut,
maka pemilihan lokasi harus tidak bertentangan dengan peraturan
pemerintah serta harus mengikuti tata ruang yang telah ditetapkan
oleh pemerintah daerah setempat.

2. Faktor Pencapaian

Pemilik usaha budidaya rumput laut cenderung memilih lokasi yang


berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring
pertumbuhan dan penjagaan keamanan dapat dilakukan dengan mudah.
Kemudian lokasi diharapkan berdekatan dengan sarana jalan,
karena akan mempermudah dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya,
bibit, hasil panen dan pemasarannya. Hal tersebut akan mengurangi biaya
pengangkutan.

3. Faktor Ekologis.

Faktor ekologis suatu lokasi merupakan faktor terpenting, dalam


menentukan keberhasilan usaha budidaya. Parameter ekologis yang perlu
diperhatikan antara lain :

a. Ketersediaan Bibit
Lokasi yang terdapat stok alami rumput laut yang akan
dibudidaya, merupakan petunjuk lokasi tersebut cocok untuk usaha
budidaya rumput laut. Apabila tidak terdapat sumber bibit,
pembudidaya dapat memperolehnya dari lokasi lain dan sebaiknya
didatangkan dari daerah terdekat dengan memperhatikan kaidah-
kaidah penanganan bibit dan pengangkutan yang baik. Pada lokasi
dimana Gracilaria bisa tumbuh, biasanya terdapat pula jenis lain
seperti Euchema cottonii dan Sargassum.
b. Arus
Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh
makanan melalui aliran air yang melewatinya atau melalui sintesa
bahan makanan di sekitarnya dengan bantuan sinar matahari.
Gerakan air yang cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran
pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya
fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air. Gerakan air
akan membawa unsur hara, menghilangkan kotoran yang menempel
pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya

9
fluktuasi suhu air yang besar. Kecepatan arus yang baik adalah 20-
40 cm/detik dengan suhu berkisar 20-28oC dan pH berkisar 7,3-8,2.
Indikator suatu lokasi yang memiliki arus yang baik adalah adanya
pertumbuhan karang lunak yang bersih dari kotoran dan cenderung
miring ke satu arah.
c.Dasar Perairan
Dasar perairan yang sesuai adalah berupa pecahan-pecahan
karang dan pasir kasar. Kondisi dasar perairan yang demikian
merupakan indikator adanya gerakan air yang baik, sedangkan
apabila dasar perairan yang terdiri dari karang yang keras,
menunjukkan dasar itu terkena gelombang yang besar dan apabila
dasar perairan terdiri dari lumpur, menunjukkan gerakan air yang
kurang.
d. Kedalaman
Kedalaman perairan sangat tergantung dari metode budidaya
yang akan dipilih. Metode lepas dasar dilakukan pada kedalaman
perairan tidak kurang dari 30-60 cm pada waktu surut terendah,
sedangkan metode rakit apung, rawai dan jalur pada perairan
dengan kedalaman sekitar 2-15 m. Kondisi ini untuk menghindari
rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan
sinar matahari.
e.Kadar Garam
Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhan Gracillaria
sp. adalah berkisar 28-35 ppt. Salinitas yang baik berkisar antara
28-34 ppt dengan nilai optimum adalah 33 ppt. Untuk memperoleh
perairan dengan salinitas demikian perlu dihindari lokasi yang
berdekatan dengan muara sungai.
f. Kecerahan
Rumput laut memerlukan cahaya sebagai sumber energi
guna pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan perkembangannya yang normal. Lokasi yang
potensial hendaknya dipilih yang memiliki kecerahan air tinggi.
Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang
jernih atau tingkat kecerahan yang tinggi sekitar 2-5 m. Air keruh
mengandung lumpur dapat menghalangi cahaya matahari ke dalam
air serta dapat menutupi permukaan thallus yang dapat
menyebabkan thallus membusuk sehingga mudah patah. Lokasi
yang baik bagi budidaya rumput laut memiliki kecerahan lebih dari
1,5 m pada pengukuran dengan alat secchi disk.
g. Organisme Pengganggu
Lokasi budidaya diusahakan pada perairan yang tidak
banyak terdapat organisme pengganggu misalnya ikan, bintang laut,
bulu babi dan penyu serta tanaman penempel.

10
h. Pencemaran
Lokasi yang telah tercemar, baik yang berasal dari limbah
rumah tangga, aktivitas pertanian, maupun limbah industri harus
dihindari untuk budidaya rumput laut. Sebaiknya hindari pula lokasi
budidaya yang berdekatan dengan muara sungai, karena pada saat
musim penghujan, air yang berasal dari sungai merupakan sumber
sampah, kotoran dan lumpur. Kondisi ini akan menutupi permukaan
thallus rumput laut dan akan mempengaruhi pertumbuhannya.

4. Faktor Higienis

Lokasi budidaya sebaiknya terhindar dari cemaran yang berasal dari


limbah rumah tangga maupun industri. Selain itu cemaran sampah dan
kotoran lumpur yang umumnya terjadi pada daerah aliran muara sungai
sebaiknya dihindari. Hal ini disebabkan karena rumput laut umumnya dapat
menyerap polutan (bahan pencemar) seperti logam berat, sehingga jika
terakumulasi dalam jaringan tanaman akan berdampak pada konsumen.

5. Faktor Sosial-Ekonomi

Aspek sosial-ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam


penentuan lokasi antara lain keterjangkauan lokasi, tenaga kerja, sarana dan
prasarana, serta kondisi sosial masyarakat.
Pemilik usaha budidaya rumput laut biasanya memilih lokasi yang
berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring dan
penjagaan keamanan dapat dilakukan dengan mudah. Kemudian lokasi
diharapkan berdekatan dengan sarana jalan, karena akan mempermudah
dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit dan hasil panen.

a. Keterjangkauan Lokasi
Lokasi budidaya yang dipilih yang mudah dijangkau.
Umumnya lokasi budidaya relatif berdekatan dengan pemukiman
penduduk agar lebih mudah melakukan pemeliharaan.
b. Tenaga Kerja
Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal di
sekitar lokasi budidaya. Menggunakan tenaga lokal dilakukan
sebagai upaya untuk menghemat biaya produksi dan sekaligus
membuka peluang atau kesempatan kerja.
c.Sarana dan Prasarana
Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan
prasarana perhubungan yang memadai untuk memudahkan dalam
pengangkutan bahan, bibit, hasil panen dan pemasarannya.
d. Kondisi Sosial Masyarakat
Kondisi sosial masyarakat yang kondusif memungkinkan
perkembangnya usaha budidaya rumput laut.

11
C. TEKNIK BUDIDAYA

Dalam perkembangannya teknik budidaya rumput laut Gracilaria sp. di


masing-masing daerah oleh masyarakat disesuaikan dengan kebiasaan dan kondisi
lokasi tersebut.
Secara umum teknik budidaya rumput laut Gracilaria sp. terdiri dari dua
sistem yaitu sistem lepas dasar dan sistem dasar (tebar). Sistem yang sering
digunakan yaitu sistem tebar karena prosesnya lebih cepat dan tidak memerlukan
alat/bahan yang sulit serta lebih ekonomis, rumput laut cukup ditebar di area
tambak, yang perlu dilakukan oleh pembudidaya yaitu memperhatikan sirkulasi air
dalam tambak. Dalam perkembangannya sistem ini telah berkembang lagi menjadi
beberapa metode, yaitu sistem apung, sistem rakit apung dan sistem jalur.

1. Sistem Dasar (Tebar)

Tahap awal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan


budidaya Gracilaria dengan sistem dasar dalam tambak, antara lain adalah
keadaaan tambak yang akan digunakan (termasuk dasar tambak sebagai
substrat), kualitas air dalam tambak dan sekitarnya, serta bibit tanaman
bagus, baik jenis dan kualitasnya.

a.Keadaan Tambak
 Keadaan dasar tambak yang paling ideal adalah pasir yang
mengandung lumpur atau tanah yang mengandung pasir dengan
sedikit lumpur. Perlu diusahakan supaya dasar tambak tidak
terlalu banyak mengandung lumpur (ketebalan lumpur
maksimal 15 sampai 20 cm) dan bila dipandang perlu, dapat
dilakukan pengurasan lumpur.
 Tambak harus bersih dari tanaman lain yang dapat
membusuk, terutama yang dapat meningkatkan derajat
keasaman dasar tambak. Derajat keasaman (pH) dasar tambak
berkisar antara 6 sampai 9 dan yang paling ideal adalah sekitar
6,8-8,2. Untuk mengurangi keasaman dapat dilakukan
penebaran kapur terlebih dahulu.
 Tambak harus memiliki saluran air yang baik dan bersih
(tidak terlalu banyak mengandung lumpur), serta setiap petak
tambak diusahakan memiliki 2 buah pintu air, yang akan
berfungsi sebagai pintu untuk masuk dan keluarnya air.
 Pasang-surut air laut harus mempengaruhi kondisi air di
dalam tambak untuk melakukan pergantian air.
 Gelombang atau arus air di dalam tambak (sebagai akibat
angin atau pengaruh pasang surut) diupayakan tidak terlalu
besar, sehingga tidak mengakibatkan berkumpulnya tanaman
pada suatu tempat. Akan tetapi gelombang dan arus air di dalam
tambak harus cukup untuk memberikan gerakan bagi tanaman.

12
 Pematang tambak supaya diusahakan cukup rapi dan dapat
digunakan sebagai sarana jalan dalam pengelolaan tambak dan
dapat difungsikan pula sebagai tempat penjemuran hasil panen
dengan menggunakan alas.

b. Kualitas Air
° °
 Salinitas air berkisar antara 12 °° - 30 °° dan yang ideal
° °
sekitar 15 °° - 25 °° .
 Suhu air berkisar antara 180o-300oC dan yang ideal sekitar
200o-250oC.
 pH air dalam tambak berkisar antara 6-9 dan yang ideal
sekitar 6,8-8,2.
 Air tidak mengandung lumpur sehingga kekeruhan
(turbidity) air masih memungkinkan bagi tanaman untuk
menerima sinar matahari.

c.Cara Tanam
 Tambak yang keadaan dan kualitas airnya sudah
memenuhi syarat dibersihkan dari kotoran.
 Tambak dikuras dengan mengeluarkan dan memasukan air
laut pada saat pasang- surut sehingga air yang ada dalam tambak
merupakan air segar (baru).
 Bibit ditanam dengan cara menebarkannya secara merata
di dalam tambak pada saat keadaan cuaca cukup teduh, yaitu
pada pagi hari atau sore hari.
 Kepadatan bibit untuk 1 hektar pada penanaman pertama
ditebar sekitar 1 ton bibit/ha.

Catatan :
 Apabila pada panen pertama laju pertumbuhan perhari (DGR)
tidak kurang dari 3%, atau hasil panen basah sekitar 4 kali berat bibit yang
ditanam, maka pada penanaman kedua dapat ditebar dengan kepadatan menjadi 2
ton/hektar.
 Apabila DGR dapat mencapai di atas 4%, atau hasil panen basah
sekitar 6 kali berat bibit yang ditanam, maka pada penanaman berikutnya dapat
ditebar bibit sehingga kepadatan mencapai sekitar 3-4 ton bibit/hektar.
 Kedalaman air dalam tambak harus diatur, sehingga dapat
menunjang pertumbuhan tanaman dan juga meningkatkan isi kandungan dari
tanaman. Pada 4 minggu pertama, air dalam tambak supaya dipertahankan pada
kedalaman sekitar 30-50 cm, dengan tujuan agar pertumbuhan cabang lebih cepat.
Pada minggu kelima sampai minggu keenam atau ketujuh air dipertahankan pada
kedalaman sekitar 50-80 cm dengan tujuan memperlambat pertumbuhan cabang
sehingga tanaman dapat meningkatkan isi kandungan.

13
 Pada musim kemarau suhu air di dasar tambak diusahakan supaya
tidak terlalu tinggi dan apabila suhu air tinggi maka kedalaman air perlu ditambah,
sehingga suhu di dasar tambak dapat dipertahankan pada kondisi normal.

2. Sistem Lepas Dasar (Patok)

Metode ini merupakan perbaikan dari metode sebelumnya. Dimana


pada daerah yang telah ditetapkan (lokasi budidaya) dipasang patok-patok
secara teratur berjarak antara 50–100 cm. Pada sisi yang berlawanan
dengan jarak 50–100 m juga diberi patok dengan jarak yang sama. Satu
patok dengan patok lainnya dihubungkan dengan tali jalur yang telah berisi
rumput laut tersebut. Pada jarak 3 meter diberi pelampung kecil yang
berfungsi untuk menggerakan tali tersebut setiap saat agar tanaman bebas
dari lumpur (adanya sedimentasi).
Penanaman rumput laut dengan metode lepas dasar bersusun dua
dilakukan dengan cara pemasangan patok-patok (tiang kayu) pada dasar
perairan dengan ketinggian sekitar 100 cm dari dasar perairan. Tali utama
direntangkan diantara dua patok pada ketinggian pengikatan sekitar 30 cm
di atas dasar perairan (susun pertama) dan juga 30 cm dari susun pertama
direntangkan tali utama (susun kedua). Tali ris direntangkan pada tali
utama dengan jarak antara tali ris sekitar 25–50 cm sehingga jarak tanam
antar ikatan tidak kurang dari 25 cm.

3. Sistem Rakit Apung

Metode ini sering disebut metode rakit kotak, dibentuk dari empat
buah bambu yang dirakit sehingga berbentuk persegi panjang dengan
ukuran 2,5-4 x 5-8 m. Pada rakit tersebut dipasang tali pengikat rumput laut
secara membujur dengan jarak 30 cm kemudian rumput laut (bibit) diikat
pada tali tersebut. Berat bibit yang digunakan berkisar antara 50-100 gram.
Setelah rumput diikat maka rakit tersebut ditarik dan ditempatkan pada
lokasi yang telah ditetapkan dengan menggunakan dua buah jangkar pada
kedua ujung rakit tersebut dengan kedalaman perairan berkisar antara 0,5–
10 meter.

4. Sistem Apung (Metode Long Line)

Konstruksi metode ini semuanya terbuat dari tali PE. Adapun teknik
pembuatan konstruksinya sebagai berikut :
a.Menyiapkan tali PE Ø 10 mm sebagai tali jangkar. Kedua ujung
tali tersebut dihubungkan kemudian dirancang hingga berbentuk
persegi panjang berukuran 100 x 30 m. Pada keempat sudut
dilengkapi dengan empat buah pelampung yang berfungsi
mempertahakan konstruksi agar tetap berada pada permukaan air.

14
b. Agar konstruksi tersebut tetap pada posisi yang diharapkan
maka pada keempat sudut yang sama diikatkan tali PE Ø 8 mm
sebagai tali jangkar yang dilengkapi dengan enam buah jangkar.
c.Setelah selesai menyiapkan konstruksi maka tahap berikutnya
adalah menyiapkan tali jalur yang terbuat dari tali PE Ø 4 mm. Tali
tersebut dipotong 30 m sesuai dengan panjang konstruksi.
d. Pada satu tali jalur dipasang 120 tali PE Ø 2 mm coban
(tali titik) berjarak 25 cm yang berfungsi sebagai tempat mengikat
bibit yang akan digunakan. Bibit yang digunakan adalah tanaman
muda dari hasil budidaya.
e.Sebelum diikat bibit tersebut dipotong agar ukurannya sesuai
dengan bobot yang dikehendaki. Untuk mengetahui perkembangan
tanaman, ditentukan beberapa sampel dengan berat rata-rata 100
gram kemudian setiap minggu dilakukan penimbangan sampel
tersebut.

5. Sistem Jalur (Metode Kombinasi)

Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dan metode


long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar,
pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali PE Ø 8 mm
sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5x7 m. perpetak. Satu
unit metode ini terdiri dari 7–8 petak dan pada kedua ujung setiap unit
diberi jangkar. Kegiatan penanaman diawali dengan mengikat bibit rumput
laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE Ø 2 mm. Setelah bibit diikat
pada tali jalur maka tali jalur tersebut dipasang pada kerangka yang telah
tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 25x30 cm.

15
BAB IV
PANEN DAN PASCA PANEN

A. Pembibitan

Tanaman yang dipilih untuk bibit adalah Gracilaria yang pada usia
panennya memiliki "kandungan agar-agar" yang cukup tinggi dan memiliki
"kekuatan gel" yang tinggi pula. Pemeriksaan di laboratorium oleh pakar sebelum
tanaman dijadikan bibit dapat membantu memilih bibit yang baik dan dapat
mencegah menyebarnya bibit yang berkualitas rendah.
Bagian tanaman yang dipilih untuk bibit adalah thallus yang relatif masih
muda dan sehat, yang diperoleh dengan cara memetik dari rumpun tanaman yang
sehat pula dengan panjang sekitar 5-10 cm. Dalam memilih bibit perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Thallus yang dipilih masih cukup elastis.
2. Thallus memiliki banyak cabang dan pangkalnya lebih besar dari
cabangnya, ujung thallus berbentuk lurus dan segar.
3. Bila thallus digigit/dipotong akan terasa getas (britel).
4. Bebas dari tanaman lain (epipit) dan kotoran lainnya.
5. Tidak terdapat bercak dan terkelupas.
6. Warna spesifik (cerah), umur 25–35 hari, berat bibit 50–100
gram.

B. Penanaman

Kegiatan penanaman untuk semua metode relatif sama (kecuali metode


dasar yang telah dijelaskan di bab sebelumnya), penanaman diawali dengan
mengikat rumput laut (bibit) ke tali jalur yang telah dilengkapi dengan tali pengikat
rumput laut. Pengikatan bibit rumput laut harus dilakukan di lokasi yang terlindung
dari sinar matahari langsung, umumnya dilakukan ditepi pantai di bawah pohon
atau pondok yang disiapkan khusus. Berat bibit yang ditanam berkisar antara 50-
100 gram/ikatan. Jarak antar tali jalur untuk metode rakit dan metode jalur relatif
sama yaitu 30–35 cm, sedangkan jarak tanam antar tali jalur untuk metode patok
juga relatif sama dengan dengan metode long-line yaitu 50-100 cm dan jarak
antara titik tanaman berkisar antara 20-25 cm. Setelah selesai mengikat rumput laut
maka tali jalur yang berisi rumput tersebut diikatkan pada kerangka yang telah
tersedia.

C. Pemupukan

Seperti pada tanaman lain, rumput laut Gracilaria juga memerlukan nutrisi
pada pertumbuhannya seperti nitrogen, phosphat dan kalium serta oksigen.
Penggunaan pupuk dalam budidaya ini akan tergantung kepada kualitas nutrisi di
dalam air tambak. Untuk itu dianjurkan dilakukan analisis kualitas air tambak

16
untuk mengetahui kandungan nitrogen, phosphat dan kalium. Hasil analisa
tersebut dapat digunakan untuk menetapkan jumlah pupuk yang perlu digunakan.
Pada prinsipnya, pada empat minggu pertama, tanaman memerlukan lebih
banyak nutrisi nitrogen, sedangkan dua atau tiga minggu sebelum panen tanaman
memerlukan lebih banyak nutrisi phosphat. Kendala yang dihadapi dalam
pemupukan adalah seringnya perggantian air di dalam tambak, karena itu pupuk
dalam bentuk pelet relatif lebih efektif karena dapat melepas nutrisi secara
bertahap.
Apabila di dalam tambak mudah tumbuh alga hijau, maka hal ini
menunjukkan bahwa kandungan nitrogennya sudah cukup. Dari hasil pengamatan
maka dianjurkan bahwa pada 4 minggu pertama diperlukan sekitar 10 kg/ha pupuk
yang banyak mengandung nitrogen, dan ditebar secara bertahap. Sedangkan untuk
2-3 minggu berikutnya diperlukan sekitar 5 kg/ha pupuk yang lebih banyak
mengandung phosphat yang ditebar secara bertahap. Penebaran lebih tepat
dilakukan pada saat setelah dilakukan penggantian air tambak.

D. Panen

Akhir dari kegiatan proses produksi budidaya rumput laut adalah


pemanenan, oleh sebab itu kegiatan pemanenan hingga penanganan pasca panen
harus dilakukan dengan memperhatikan hal-hal yang akan berpengaruh terhadap
kualitas produk yang akan dihasilkan. Secara umum kebutuhan akan rumput laut
Gracillaria sp. adalah untuk mendapatkan bahan agar-agar/jeli yang terkandung
dalam rumput laut tersebut. Untuk mendapatkan rumput laut yang memiliki
kandungan agar-agar/jeli sesuai dengan kebutuhan industri maka beberapa hal
yang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Umur
Umur rumput laut akan sangat menentukan kualitas dari rumput laut
tersebut. Jika rumput laut tersebut akan digunakan sebagai bibit maka
pemanenan dilakukan setelah rumput laut berumur 45-60 hari karena pada
saat itu tanaman belum terlalu tua. Sedangkan jika rumput laut tersebut
dipanen untuk dikeringkan maka sebaiknya pemanenan dilakukan pada saat
rumput tersebut berumur 1,5 bulan atau lebih karena pada umur tersebut
kandungan agar-agar/jeli cukup tersedia.
2. Cuaca
Hal kedua yang sangat penting pada saat panen adalah cuaca. Jika
pemanenan dan penjemuran dilakukan pada cuaca cerah maka mutu dari
rumput laut tersebut dapat terjamin. Sebaliknya jika pemanenan dan
penjemuran dilakukan pada cuaca mendung akan terjadi proses fermentasi
pada rumput laut.
3. Cara Panen
Pembudidaya yang memiliki usaha dalam jumlah besar serta
menggunakan sistem lepas dasar, sistem apung, sistem rakit apung atau
sistem jalur hendaknya melakukan kegiatan pemanenan dengan cara

17
melepaskan tali jalur yang berisikan rumput laut siap panen. Rumput laut
tersebut diangkut ke tepi pantai kemudian dirontokan dengan jalan
memasang dua patok kayu dalam satu lubang kemudian kedua ujung patok
atas direntangkan. Setelah itu dua sampai tiga ujung dari tali jalur yang
berisikan rumput laut hasil panen tersebut dimasukkan ke antara kedua
patok tersebut dan ditarik sehingga rumput laut rontok dan siap untuk
dijemur. Hal ini akan menimbulkan luka yang cukup banyak pada rumput
laut tersebut. Kondisi ini akan memberikan dampak yang kurang baik
dimana pada luka tersebut akan mengakibatkan keluarnya air termasuk
kandungan agar dan karagenan yang ada dalam rumput laut tersebut. Oleh
sebab itu pemanenan yang baik adalah meminimalkan luka pada rumput
laut dari setiap hasil panen tersebut.
4. Beberapa cara panen dan pasca panen hasil budidaya rumput laut yang
seharusnya dilakukan dengan metode dasar (tebar).
a. Panen dapat dilakukan setelah tanaman berusia sekitar 45-60 hari
(akan sangat tergantung pada kesuburan lokasi penanaman) atau
dengan memilih tanaman yang dianggap sudah cukup matang untuk
dikeringkan. Sedangkan tanaman yang masih belum matang atau
bagian tanaman yang masih muda dipetik untuk kemudian ditanam
kembali sebagai bibit baru. Sebelum dikeringkan hasil panen dicuci
terlebih dahulu dengan menggunakan air tambak untuk
menghilangkan lumpur dan kotoran lainnya. Apabila tidak ada
permintaan lain dari pembeli maka keringkan langsung dengan sinar
matahari dengan dialasi gedek, kerai bambu, daun kelapa atau
dengan menggunakan bahan lainnya.
b. Untuk pengeringan selama musim penghujan, dapat dilakukan
dengan mengangin-anginkan rumput laut di atas rak (dengan
ketebalan setitar 5-8 cm) atau dengan cara diikat dalam bentuk
rumpun dan digantung di dalam gudang. Dapat pula dilakukan
dengan menggunakan alat pengering khusus, seperti menggunakan
penghembus udara panas.
c. Pengeringan diusahakan sampai pada kekeringan yang cukup
dengan kandungan air sekitar 12%, sehingga pada saat
penyimpanan, kandungan air pada rumput kembali menjadi sekitar
maksimal 18%. Apabila diremas dan terasa sakit pada telapak
tangan, artinya kekeringan rumput laut sudah cukup baik. Rasio
basah : kering pada umumnya sekitar 9:1 atau 8:1.
d. Rumput laut kemudian diayak untuk merontokkan butir-butir halus
garam dan debu yang masih melekat serta sekaligus melakukan
sortir ulang. Hasilnya kemudian dimasukan ke dalam karung dan
penyimpanan dilakukan di gudang yang terhindar dari embun, air
hujan atau air tawar lainnya. Gudang harus ditata sedemikian rupa,
sehingga memiliki sirkulasi udara yang cukup baik.

18
BAB V
MANAJEMEN BUDIDAYA RUMPUT LAUT

A. Sampling

Untuk mengetahui pertumbuhan rumput laut yang ditanam, maka selama


satu periode penanaman perlu dilakukan beberapa kali sampling. Sampling
pertama dilakukan pada saat bibit akan ditanam untuk mengetahui berat awal.
Sampling kedua dilakukan setelah tanaman berumur tiga minggu (21 hari).
Sedangkan sampling ketiga dilakukan pada saat panen. Suatu kegiatan budidaya
rumput laut dikatakan baik apabila laju pertumbuhan rata-rata/hari minimal 3 %.
Untuk mengetahui presentase laju pertumbuhan perhari dapat menggunakan
rumus:  1

Wn n −1 
  x100 %
α= 

Wo  

Keterangan :
α = laju pertumbuhan harian (% gr bt/hari)
Wn = Bobot rata-rata akhir (gr)
W0 = Bobot rata-rata awal (gr)
n = Waktu pengujian

B. Manajemen Budidaya Rumput Laut

Keberhasilan usaha budidaya rumput laut harus didukung dengan usaha


perawatan selama masa pemeliharaan, bukan hanya terhadap tanaman itu sendiri
tapi juga fasilitas budidaya yang digunakan. Oleh karena itu, peranan pengelola
(pembudidaya) rumput laut sangat diperlukan dalam pembudidayaan rumput laut.
Pemeliharaan rumput laut dari semua metode budidaya adalah relatif sama.
Kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan rumput laut tersebut adalah
meliputi : pembersihan lumpur, kotoran dan biofouling yang menempel pada
thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan;
penggantian tali, patok, bambu serta pelampung yang rusak; penjagaan tanaman
dari serangan predator dan pemantauan pertumbuhan rumput laut secara berkala
serta mempertahankan salinitas dan nutrisi baru.
Untuk mempertahankan salinitas dan nutrisi baru, perlu dilakukan
pergantian air minimal setiap tiga hari sekali pada saat surut dan pasang. Pada
musim kemarau pergantian air supaya dilakukan lebih sering untuk menghindari
auhu dan salinitas yang terlalu tinggi sebagai akibat dari penguapan air. Sedangkan
pada musim hujan pergantian air harus diatur untuk menjaga salinitas dalam
tambak tidak terlalu rendah. Karena itu pada saat pergantian air perlu diperhatikan
salinitas air pada saluran pembagi/induk.

19
Memelihara rumput laut berarti mengawasi terus menerus, konstruksi
budidaya dan tanamannya. Pemeliharaan dilakukan pada saat ombak besar maupun
saat laut tenang.
Hal-hal yang harus dilakukan dalam pemeliharaan adalah :
1. Bersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu,
sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan
makanan.
2. Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar
sampah-sampah yang menyangkut bisa larut kembali.
3. Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau
putus, segera diperbaiki dengan cara mengencangkan ikatan atau
mengganti dengan tali baru.
Bila menggunakan metode dasar, maka perlu dilakukan perawatan/
pemeliharaan pada tambak dan tananan dengan melakukan hal-hal sebagai
berikut : membuang tanaman lain (rumput dan alga lainnya) serta kotoran dari
dalam tambak supaya tidak nengganggu pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp.
serta perawatan pintu-pintu air, saluran air dan perawatan pematang tambak.

C. Hama dan Penyakit

Hama rumput laut yang biasa dijumpai adalah larva bulu babi (Tripneustes)
dan larva teripang (Holothuria sp.). Hama lainnya antara lain ikan beronang
(Siganus sp.), bintang laut (Protoneustes nodulus), bulu babi (Diadema dan
Tripneustes sp.) dan penyu hijau (Chelonia midas). Serangan ikan beronang
umumnya bersifat musiman sehingga setiap daerah memiliki waktu serangan yang
berbeda. Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi hama tersebut adalah
dengan cara memperbaiki/memodifikasi teknik budidaya, sehingga tanaman
budidaya berada pada posisi permukaan air. Selain itu, juga dapat diterapkan pola
tanam yang serentak pada lokasi yang luas serta melindungi areal budi daya
dengan memasang pagar dari jaring.
Sedangkan penyakit yang dapat menyerang rumput laut adalah penyakit
bakterial, jamur dan ice-ice. Penyakit bakterial yang disebabkan oleh Macrocystis
pyrifera dan Micrococcus umumnya menyerang budi daya Laminaria sp.,
sedangkan penyakit jamur yang disebabkan oleh Hydra thalassiiae menyerang
bagian gelembung udara rumput laut Sargassum sp. Penyakit ice-ice (sebagian
orang menyebutnya sebagai white spot) merupakan kendala utama budi daya
rumput laut Kappaphycus/Eucheuma.
Gejala yang diperlihatkan pada rumput laut yang terserang penyakit
tersebut adalah antara lain: pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna
thallus menjadi pucat atau warna tidak cerah, dan sebagian atau seluruh thallus
pada beberapa cabang menjadi putih dan membusuk. Penyakit tersebut terutama
disebabkan oleh perubahan lingkungan seperti arus, suhu dan kecerahan.
Kecerahan air yang sangat tinggi dan rendahnya kelarutan unsur hara nitrat dalam
perairan juga merupakan penyebab munculnya penyakit tersebut.

20
BAB VI
PENUTUP

Dari uraian materi tersebut di atas, maka diambil beberapa kesimpulan dan
saran sebagai berikut :

A. Simpulan

1. Agar usaha budidaya rumput laut yang dilakukan memberikan


hasil yang baik maka penentuan lokasi budidaya harus dilakukan dengan
benar serta memperhatikan faktor resiko dan faktor pencapaian.
2. Penentuan metode budidaya yang akan digunakan harus
disesuaikan dengan kondisi lokasi budidaya dan kebiasaan masyarakat
setempat serta memperhatikan asas ramah lingkungan.
3. Metode budidaya yang biasa digunakan oleh para pembudidaya
rumput laut ada 5 macam, yaitu sistem dasar (metode tebar), sistem lepas
dasar, sistem apung, sistem rakit apung atau sistem jalur.
4. Agar mendapatkan hasil panen yang baik, maka perlu dilakukan
manajemen budidaya rumput laut yaitu memelihara dan mengawasi terus
menerus, konstruksi budidaya dan rumput laut itu sendiri.

B. Saran

1. Diperlukan bimbingan dan pembinaan dari instansi terkait kepada


pembudidaya rumput laut melalui peningkatkan pengetahuan tentang aspek
biologi dari produk yang dibudidayakan serta teknik budidaya dan
operasionalnya mulai dari perencanaan, proses produksi, panen dan
penanganan hasil panen serta pemasaran dengan dukungan dari kebijakan
pemerintah yang memihak ke pembudidaya.
2. Agar mutu rumput laut hasil panen dapat memenuhi kualitas
ekspor, maka kegiatan panen dan penanganan pasca panen harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.Panen harus dilakukan setelah tanaman berumur 45 hari.
b. Kurangi luka pada rumput laut (thallus) saat panen.
c.Penjemuran harus dilakukan di atas para-para atau media yang
disiapkan khusus sebagai tempat penjemuran.
d. Distribusi rumput laut baik bibit maupun hasil pengolahan
pasca panen hendaknya dilakukan dengan baik agar mutu rumput
laut tetap dapat dipertahankan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Saputra, Dion Ragil. 1999. Jenis Rumput laut Potensial. Jakarta : Pustaka Obor.
Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Garrow, J.S. and James, W.P.T. 1993. Carbohydrate. Human Nutrition and Dietetics.
London : Livingstone.
Sediaoetama, A.D. 1999. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. Jakarta :
Dian Rakyat.
Winarno, F.G., Fardiaz, S. dan Fardiaz, D. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput
Laut. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Anggadireja, Jana T., A. Zatnika, Surip P. 2008. Rumput Laut-Seri Agribisnis.
Jakarta : Penebar Swadaya.

22
--LAMPIRAN--

23
FOTOGRAFI

Hasil panen rumput laut Gracilaria sp. Rumput laut jenis Eucheuma Cottoni.
di desa Pesantren.

Hasil panen rumput laut Eucheuma Proses penjemuran rumput laut setelah
Cottoni di desa Pesantren. dibersihkan dari kotoran.

Pembudidaya rumput laut desa Sekretaris pembudidaya rumput laut


Pesantren sedang menyiapkan tali rafia desa Pesantren, Bapak Cipto Handoyo
untuk menanam rumput laut E.cottoni yang tengah mengamati keadaan
dengan metode long line. thallus rumput laut E.cottoni

24
Rumput laut Gracilaria sp. yang telah Pengawas dari Dinas Kelautan dan
dikeringkan. Perikanan Pusat

Rumput laut jenis Hypnea Cervicornis. Pengangkutan rumput laut hasil


budidaya untuk dipasarkan.

Rumput laut jenis Hypnea. Rumput laut jenis Hypnea Cornuta

25
26
27