Anda di halaman 1dari 8

BAB I

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Mendengar istilah bimbingan dan konseling (BK) tersirat kesan bahwa individu yang
berurusan dengan petugas tersebut sedang bermasalah. Anggapan seperti ini tentu ada benarnya.
Namun, persoalannya menjadi lain, tatkala individu yang bermasalah ditujukan kepada orang-
orang tertentu. Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat di sekolah-sekolah. Umumnya, siswa
yang berhubungan dengan guru BK adalah mereka yang dikategorikan nakal. Istilah nakal
biasanya diidentifikasikan dengan perilaku siswa yang sering bolos, terlibat tawuran,
perkelahian, terlambat, dan lain-lain. Singkatnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK
adalah, mereka yang sudah tercatat dalam “buku hitam” sekolah. Jarang sekali (untuk tidak
menyebut tidak ada), siswa yang pintar, rajin, dan berkelakuan baik berhubungan dengan guru
BK. Dengan kata lain, guru BK hanya melirik siswa –siswa yang terhitung bandel. Karenanya,
sangat beralasan bila kemudian guru BK diidentikkan sebagai “polisinya sekolah”.

Pendapat dan atau pelaksanaan BK di sekolah-sekolah yang hanya untuk siswa yang
masuk kategori nakal, jelas tidak dapat dibenarkan. Karena, pada hakikatnya, BK ditujukan
untuk semua siswa. Bukan siswa-siswa tertentu. Hanya saja, model BK yang mereka perlukan
dapat saja brbeda. BK untuk siswa pintar, tentu beda dengan model BK untuk siswa yang
berkemampuan akademik rata-rata, dan di bawah rata-rata. Seswa yang sering terlibat tawuran,
tentu butuh model BK yang lain dengan BK yang diperlukan tuk siswa yang pintar. Begitu pula
seterusnya, semua siswa membutuhkan BK. Dalam pelaksanaannya, guru BK yang bertindak
sebagai polisi sekolah, jelas tidak menguntungkan bagi pelaksanaan BK itu sendiri. Karena, BK
akan berjalan efektif dan dapat mencapai tujuan, bila Guru BK sudah menjadi pengayom atau
tempat curhat para siswa. Bukan untuk membentak-bentak siswa atau menakut-nakuti siswa.
Bila guru BK memposisikan diri sebagai polisi sekolah, masalah yang dihadapi siswa akan sulit
dipahami. Apalagi mencarikan solusinya, atau bisa jadi solusi yang diberikan tidak tepat dan
menjadi masalah baru. Karenanya, tidak semua guru bisa menjadi guru BK.
1
2. Rumusan masalah

• Bagaimana kedudukan bimbingan konseling di sekolah?


• Apa peranan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan BK di sekolah?
• Apa saja gejala-gejala dan jenis masalah siswa?
• Bagaimana upaya penanganan masalah belajar?

3. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini secara umum adalah untuk menambah wawasan kami,
mahasiswa TP’08, yang nantinya akan berkecimpung dalam dunia pendidikan, dan pastinya
harus mengerti tentang apa manfaat dan peranan adanya bimbingan dan konseling di sekolah.
Dan secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi
Pendidikan kami sebagai mahasiswa dengan membuat makalah ini.

2
BAB II

Pembahasan

1. Kedudukan Bimbingan Konseling di sekolah

Bimbingan dan konseling menangani masalah-masalah atau hal-hal di luar garapan


pengajaran, tetapi secara tidak langsung menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan
pengjaran di sekolah itu. Kegiatan ini dilakukan secara khusus terhadap semua siswa agar
dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya secara penuh (Mortensen &
Schemuller, 1969).

Bimbingan dan konseling sangat diperlukan di setiap sekolah. Hal ini didukung
oleh beberapa factor, seperti yang dikemukakan oleh Koestoer Partowisastro (1982),
yaitu :

a) Sekolah merupakan lingkungan hidup kedua sesudah rumah, dimana anak dalam
waktu sekian jam (± 6 jam) hidupnya berada di sekolah.
b) Para siswa yang usianya relative muda sangat membutuhkan bimbingan, baik
dalam memahami keadaan dirinya, mengarahkan dirinya, maupun dalm mengatasi
berbagai macam kesulitan.
Kehadiran konselor di sekolah dapat membantu tugas guru (Lundquist dan Chamely
yang dikutip oleh Belkin, 1981), yaitu dalam hal :

a) Mengembangkan dan memperluas pandangan guru tentang masalah afektif yang


mempunyai kaitan erat dengan profesinya sebagai guru.
b) Mengembangkan wawasan guru bahwa keadaan emosionalnya akan
mempengaruhi proses belajar-mengajar.
c) Mengembangkan sikap yang lebih positif agar proses belajar siswa lebih efektif.
d) Mengatasi masalah-masalah yang ditemui guru dalam melaksanakan tugasnya.
Konselor dan guru merupakan suatu tim yang saling menunjang terciptanya proses
pembelajaran yang lebih efektif di sekolah. Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan
konseling tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan sekolah.
3
2. Peranan Guru Mata Pelajaran dalam Pelaksanaan BK di
Sekolah

Peranan guru dalam pelaksanaan bimbingan di sekolah dapat dibedakan menjadi


dua, yaitu :

1) Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di Kelas


Guru perlu mempunyai gambaran yang jelas tentang tugas-tugas yang harua
dilakukannya dalam kegiatan bimbingan. Hal ini dapat memotivasi guru untuk
berperan secara aktifdalam kegiatan bimbingan dan mereka merasa ikut bertanggung
jawab atas terlaksananya kegiatan itu. Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985)
menyatakan bahwa fungsi bimbingan dalam proses belajar-mengajar itu merupakan
salah satu kompetensi guru yang terpadu dalam keseluruhan pribadinya. Artinya, guru
harus mampu menyesuaikan diri dengan karakteristik siswa dan suasana belajarnya.

Selain itu, Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengemukakan


beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai
dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu :

a. Perlakuan terhadap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa


sebagai individu, siswa memiliki potensi untuk berkembangdan maju serta
mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri.
b. Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa.
c. Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, rendah hati, dan
menyenangkan.
d. Pemahaman siswa secara empatik.
e. Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu.
f. Penampilan diri secara asli (genuine) tidak berpura-pura di depan
siswa.
g. Kekonkritan dalam menyatakan diri.
h. Penerimaan siswa secara apa adanya.
i. Perlakuan terhadap siswa secara permissive.

4
j. Kepekaan terhadap perasaan yang dinyatakan oleh siswa dan
membantu siswa untuk menyadari perasaannya itu.
k. Kesadarn bahwa tujuan mengajar bukan terbatas pada penguasaan
siswa terhadap bahan pengajaran saja, melainkan menyangkut pengembangan
siswa menjadi individu yang lebih dewasa.
l. Penyesuaian diri terhadap keadaan yang khusus.

Abu Ahmadi (1977) mengemukakan tugas sebagai guru dan pembimbing dalam
melaksanakan proses belajar-mengajar, yaitu :

a. Mengusahakan agar siswa-siswa dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan,


sikap, minat, dan pembawaannya.
b. Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku social yang baik. Tingkah
laku siswa yang tidak matang dalam perkembangan sosialnya ini dapat merugikan
dirinya sendiri maupun teman-temannya.
c. Menyediakan kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil
yang lebih baik. Guru dapat memberikan fasilitas waktu, alat, atau tempat bagi
para siswa untuk mengembangkan kemampuannya.
d. Membantu memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan, dan
minatnya.

Selain itu, guru juga dapat melakukan tugas-tugas bimbingan dalam proses
pembelajaran seperti :

a. Melaksanakan kegiatan diagnostic kesulitan belajar. Dalam hal ini, guru mencari
atau mengidentifikasi sumber-sumber kesulitan belajar yang dialami oleh siswa,
dengan cara:
• Menandai siswa yang diperkirakan mengalami masalah, dengan jalan
melihat prestasi belajarnya yang paling rendah atau dibawah nilai rata-rata di
kelasnya.

5
• Mengidentifikasi mata pelajaran dimana siswa mendapat nilai rendah
(dibawah rata-rata kelas).
• Menelusuri bidang/bagian dimana siswa mengalami kesulitan yang
menyebabkan nilanya rendah.
• Melaksanakan tindak lanjut, apakah perlu pelajaran tambahan dengan
bimbingan dari guru secara khusus, atau tindakan-tindakan lainnya.
b. Guru dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya
kepada siswa dalam memecahkan masalah pribadi. Masalah-masalah yang belum
terpecahkan dan di luar kewenangan guru dapat dialih tangankan (referral) kepada
konselor yang ada di sekolah itu atau kepada ahli lain yang dipandangnya tepat
untuk menangani masalah tersebut.

2) Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas


Tugas-tugas bimbingan itu, antara lain :

a. Memberikan pengajaran perbaikan (remedial teaching).


b. Memberikan pengayaan dan pengembangan bakat siswa.
c. Melakukan kunjungan siswa (home visit).
d. Menyelenggarakan kelompok belajar, yang bermanfaat untuk :;
 Membiasakan anak untuk bergaul dengan teman-temannya,
bagaimana mengemukakan pendapatnya dan menerima pendapat dari teman
lain
 Merealisasikan tujuan pendidikan dan pengajaran melalui belajar
secara kelompok.
 Mengatasi kesulitan-kesulitan, terutama dalam hal pelajaran secara
bersama-sama.
 Belajar hidup bersama agar nantinya tidak canggung di dalam
masyarakat yang lebih luas.
 Memupuk rasa kegotongroyongan.

6
3. Upaya Penanganan Masalah Belajar
Bimbingan in diberikan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-
masalah pribadi yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Dalam kurikulum
SMA tahun 1975 Buku III C tentang Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan
dinyatakan ada beberapa masalah pribadi yang memerlukan bantuan konseling,
yaitu masalah akibat konflik antara :

a. Perkembangan intelektual dengan emosionalnya.


b. Bakat dengan aspirasi lingkungannya.
c. Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkungannya.
d. Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkungannya.
e. Situasi sekolah dengan situasi lingkungannya.
f. Bakat dan pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan
keengganan mengambil pilihan.
Upaya penanganan dari masalah-masalah pribadi yang dapat diberikan
bimbingan dan konseling di sekolah juga dikemukakan oleh Downing (1968),
terutama dalam membantu :

a. Menciptakan suasana hubungan social yang menyenangkan.


b. Menstimulasikan siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam
kegiatan belajar-mengajar.
c. Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
d. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
e. Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.

BAB III
7
Penutup

1. Kesimpulan

Memberikan layanan pendidikan dan dalam rangka mendampingi pengembangan


individu demi kemajuan dan pembangunan bangsa dan negara merupakan tugas dan tanggung
jawab sebagai guru, termasuk juga guru bimbingan dan konseling (BK).

Derasnya arus komunikasi dan informasi melalui media cetak dan elektronik sangat
berpengaruh terhadap perkembangan sikap mental anak didik. Pengaruh arus komunikasi
tersebut berdampak positif maupun negatif. Mengingat kondisi anak didik kita masih dalam
tingkatan labil, mereka masih mudah sekali terpengaruh dan masih dalam taraf proses mencari
jati diri.

Berkaitan dengan hal tersebut maka guru BK di sekolah-sekolah sangatlah diperlukan


keberadaannya. Sebab guru BK memiliki tugas dan peran yang cukup penting dalam upaya
membantu peserta didik untuk mengenal lingkungan, memahami diri, serta mampu merancang
masa depan, mengatasi masalah yang dialami dalam proses belajarnya.Seperti juga guru mata
pelajaran yang lain, guru BK juga memiliki tugas yang sama yaitu meningkatkan mutu
pendidikan, meskipun tidak mengajar.

2. Saran