Anda di halaman 1dari 20

Laporan Diskusi Kelompok Tutorial

BLOK GASTROINTESTINAL SYSTEM


SEMESTER 5

Nama : Ahmed Mawardi


NIM : 080100239
Kelas tutorial: A1
Tutor : Prof. Med. dr. Jazanul Anwar, Sp.FK.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .........................................................................................................................2
PENDAHULUAN .................................................................................................................3
ISI LAPORAN.......................................................................................................................4
1. Nama/Tema Blok ..................................................................................................4
2. Fasilitator...............................................................................................................4
3. Data Pelaksanaan ..................................................................................................4
4. Pemicu...................................................................................................................4
5. Tujuan Pembelajaran.............................................................................................5
6. Pertanyaan Yang Muncul dalam Curah Pendapat.................................................5
7. Jawaban Atas Pertanyaan ......................................................................................5
A. Anatomi dan Fisiologi Telinga ......................................................................5
B. Histologi Telinga Tengah...............................................................................6
C. Fisiologi Pendengaran....................................................................................6
D. Otitis Media Akut...........................................................................................7
1) Definisi....................................................................................................7
2) Etiologi....................................................................................................7
3) Faktor Risiko...........................................................................................7
4) Klasifikasi ...............................................................................................8
5) Patogenesis dan Patofisiologi .................................................................8
6) Gejala Klinis dan Stadium Klinik ...........................................................9
7) Diagnosis dan Pemeriksaan ....................................................................10
8) Diagnosis Diferensial..............................................................................11
9) Penatalaksanaan ......................................................................................11
10) Pencegahan .............................................................................................12
11) Komplikasi ..............................................................................................12
12) Prognosis dan Indikasi Rujukan..............................................................12
8. Ulasan....................................................................................................................13
9. Kesimpulan ...........................................................................................................14
10. Referensi ..............................................................................................................14

LAMPIRAN ..........................................................................................................................15

2|laporan diskusi kelompok blok special senses system


PENDAHULUAN

Sampai saat ini, masalah THT masih cukup tingi dijumpai di Indonesia. Survei Kesehatan
Indra 1993-1996 yang dilaksanakan di 8 provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi
morbiditas THT sebesar 38,6%. Dalam skala yang lebih luas, Survei Multi Center Study di
Asia Tenggara menunjukkan Indonesia termasuk 4 negara dengan prevalensi ketulian yang
cukup tinggi.

Salah satu keluhan yang sering dijumpai adalah otitis media akut. Otitis media akut (OMA)
merupakan suatu peradangan pada telinga tengah karena infeksi yang berlangsung tiba-tiba
(< 3 minggu).

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media
supuratif dan non-supuratif, dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis. Otitis
media akut termasuk kedalam jenis otitis media supuratif. Selain itu, terdapat juga jenis otitis
media spesifik, yaitu otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitik, dan otitis media adhesiva.

Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada saluran pernapasan atas.
Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media
sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di
Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun.
Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor, antara lain usia <5 thn, otitis
prone (pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia <6 bln, 3 kali dalam 6 bln
terakhir), infeksi pernapasan, perokok, dan laki-laki.

3|laporan diskusi kelompok blok special senses system


ISI LAPORAN

1. NAMA/TEMA BLOK

BLOK SPECIAL SENSES SYSTEM.


Otitis Media Akut

2. FASILITATOR

Prof. Med. dr. Jazanul Anwar, Sp.FK.

3. DATA PELAKSANAAN

1. Tanggal Tutorial : 19 Oktober 2010 & 22 Oktober 2010


2. Pemicu Ke : 4
3. Pukul : 10.30 – 13.00 WIB & 09.30 – 12.00 WIB
4. Ruangan : Ruang Diskusi Anatomi 1

4. PEMICU

Seorang ibu membawa anak perempuannya, yang berusia 5 tahun, ke praktek dokter
umum dengan keluhan telinga kanan berair sejak 1 hari yang lalu, cairan berwarna putih
kekuningan. Sebelumnya pasien mengeluh sakit pada telinga kanan sejak 4 hari yang lalu
disertai demam dan berkurang setelah pasien minum obat parasetamol. Riwayat pilek
sejak 1 minggu yang lalu. Ibu pasien mengeluh anak sering tidak mendengar kalau
dipanggil.

Apa yang terjadi pada pasien tersebut ?

More info :

Status Lokalisata

Pada pemeriksaan :

Otoskopi telinga kanan : pada liang telinga dijumpai sekret mukoid, membran timpani
tampak perforasi sentral yang kecil. Otoskopi telinga kiri : liang telinga normal,
membran timpani utuh, refleks cahaya (+). Pemeriksaan rinoskopi anterior : mukosa
hidung hiperemis, konka inferior dan media eutrofi, sekret dijumpai. Pemeriksaan
rinoskopi posterior dan laringoskopi indirek normal. Pemeriksaan kultur dan sensitifitas :
Streptococcus Sp.

4|laporan diskusi kelompok blok special senses system


Tes pendengaran sederhana :
Telinga kanan : rinne test (−), weber lateralisasi ke kanan, scwabach memanjang
Telinga kiri : rinne test (+), scwabach sama dengan pemeriksa

Play Audiometri :
Telinga kanan : tuli konduktif ringan 30 dB
Telinga kiri : normal

Apakah kesimpulan anda mengenai penyakit pasien ini sekarang ?

5. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Menguasai sistem indra khusus (special senses system), meliputi anatomi, fisiologi,
histologi, dan patologi;
2. Memahami gangguan-gangguan pada sistem indra khusus;
3. Memahami penyakit otitis media akut (acute otitis media) serta konsep
patogenesisnya;
4. Menjelaskan penyakit otitis media akut, berdasarkan pengertian ilmu biomedik dan
klinik;
5. Menyusun penatalaksanaan penyakit otitis media akut secara farmakologi maupun
nonfarmakologi.

6. PERTANYAAN YANG MUNCUL DALAM CURAH PENDAPAT

A. Bagaimana anatomi telinga?


B. Bagaimana gambaran histologi telinga tengah?
C. Bagaimana proses fisiologi pendengaran?
D. Apa batasan / definisi dari penyakit otitis media akut?
E. Apa saja yang menjadi penyebab (etiologi) dari penyakit otitis media akut?
F. Faktor apa saja yang menjadi risiko penyakit otitis media akut?
G. Bagaimana pengkalasifikasian penyakitnya?
H. Bagaimana patogenesis dan patofisiologi penyakit otitis media akut?
I. Bagaimana gejala klinis penyakit otitis media akut berdasarkan stadium kliniknya?
J. Bagaimana mendiagnosis penyakit otitis media akut dan pemeriksaan apa saja yang
diperlukan untuk menunjang diagnosis tersebut?
K. Apa yang menjadi diagnosis diferensialnya?
L. Bagaimana penatalaksanaan penyakit otitis media akut?
M. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit otitis media akut?
N. Komplikasi apa yang dapat ditimbulkan oleh penyakit otitis media akut?
O. Bagaimana prognosis dan apa indikasi rujukan penyakit otitis media akut?

7. JAWABAN ATAS PERTANYAAN

A. Anatomi dan Fisiologi Telinga

Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga
luar dan tengah menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi

5|laporan diskusi kelompok blok special senses system


cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut. Telinga dalam berisi
dua sistem sensorik yang berbeda: koklea, yang mengandung reseptor-reseptor untuk
mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf untuk mendengar; dan
apparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan.1,2

Telinga luar terdiri atas aurikula (daun telinga, pinna), meatus akustikus eksternus,
dan membrana timpani. Yang termasuk dalam telinga tengah adalah cavum timpani
yang di dalamnya terdapat tulang-tulang pendengaran, yaitu maleus, inkus, dan stapes.
Dinding telinga tengah bagian bagian medial terdapat 2 area yang berlapis membran,
yaitu jendela oval dan jendela bundar. Telinga tengah berhubungan dengan faring
melalui tuba eustachius.1,2

Bagian koklearis telinga dalam yang berbentuk seperti siput adalah suatu sistem
bergelung yang terletak di dalam tulang temporalis. Jika gulungannya dibuka, koklea
dibagi menjadi: Skala vestibuli yang berhubungan dengan vestibular berisi perilimfa;
Skala timpani yang berakhir pada jendela bulat berisi perilimfa; Skala media/duktus
koklearis berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut membran basalis, dimana
terdapat organ corti dan sel rambut sebagai organ pendengaran. Bagian lain dari
telinga tengah adalah kanalis semisirkularis dan vestibula. Kanalis Semisirkularis
terdiri dari 3 duktus yang masing-masing berujung pada ampula (sel rambut, krista,
kupula), yang berikatan dengan system keseimbangan tubuh dalam rotasi. Vestibula
terdiri dari sakulus dan utrikel yang mengandung makula. Berkaitan dengan sistem
keseimbangan tubuh dalam hal posisi.1,2

B. Histologi Telinga Tengah

Permukaan luar mambrana timpani dilapisi epitel pipih berlapis; bagian tengah
disusun oleh lapisan jaringan ikat yang terdiri dari serat kolagen, elastin, dan
fibroblas; dan permukaan bagian dalamnya dilapisi epitel pipih selapis. Dinding
kavum timpani dilapisi oleh epitel pipih selapis dengan lamina propria yang melekat
erat pada periosteum. Pada kavum timpani terdapat tulang-tulang pendengaran:
maleus, inkus, dan stapes. Tulang-tulang ini memiliki sendi sinovial dan, seperti
struktur rongga ini, ditutupi oleh epitel selapis gepeng. Di telinga tengah terdapat 2
otot kecil yang berinsersi di maleus dan stapes. Tuba eustachius menghubungkan
kavum timpani dengan nasofaring. Sepertiga dekat kavum timpani ditunjang tulang
kompak yang dilapisi oleh epitel kolumnar, dua pertiga medial ditunjang kartilago
elastik yang dilapisi pseudostratified columnar epithelium.3

C. Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran
tersebut menggetarkan membran timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya
ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandigan luas membran timpani dan
jendela oval. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang
akan menggerakkan jendela oval sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.1

6|laporan diskusi kelompok blok special senses system


Karena luas permukaan membrana timpani 22 x lebih besar dari luas jendela oval,
maka terjadi penguatan 15-22 x pada jendela oval. Getaran diteruskan melalui
membran Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak
relatif antara membran basalis dan membran tektorial. Proses ini merupakan rangsang
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga
kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan
ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotrans-
mitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius,
lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius melalui saraf otak statoacustikus sampai ke
korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.1

Persepsi auditif terjadi setelah proses sensori atau sensasi auditif. Sensori auditif
diaktifkan oleh adanya rangsang bunyi atau suara. Persepsi auditif berkaitan dengan
kemampuan otak untuk memproses dan menginterpretasikan berbagai bunyi atau
suara yang didengar oleh telinga.1

D. Otits Media Akut

1. Definisi

Otitis media akut (OMA) ialah peradangan telinga tengah yang mengenai sebagian
atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Jika gejala
sudah lebih dari 3 minggu disebut subakut, dan disebut kronik jika telah lebih dari 11
minggu. Otitis media akut yang rekuren adalah jika terjadi setidaknya 3 kali dalam 6
bulan atau setidaknya 4 kali dalam satu tahun.4,5,6

2. Etiologi

Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media.
Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan
invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu, infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling
sering.4,5,6
Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus,
Haemophilus Influenzae, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Moraxella cataralhis, Pneumococcus, dan Pseudomonas. Sekitar 15% dari otitis
media akut disebabkan oleh virus (respiratory syncytial virus, parainfluenza,
influenza, enteroviruses, adenovirus).6
Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya
otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya
pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.5

3. Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya otitis media akut antara lain adalah:6


– Memberi minum dengan botol ketika posisi tidur;

7|laporan diskusi kelompok blok special senses system


– Day care attendance;
– Formula feeding/pacifier;
– Merokok di dalam rumah;
– Laki-laki lebih sering daripada perempuan;
– Riwayat keluarga;
– Riwayat saudara kandung yang mengalami otitis media;
– Penyakit yang mendasari (contoh, cleft palate, Down syndrome, allergic
rhinitis);
– Usia predominan: insiden tertinggi usia 6-18 bulan; jarang pada dewasa;
– Anak-anak 80-90% akan terserang OMA setidaknya satu kali sampai usia 3
tahun.

4. Klasifikasi

Berdasarkan durasi terjadinya otitis media akut, pengklasifikasian dapat dibagi


menjadi:
 Akut: gejala terjadi selama 0 – 3 minggu;
 Sub akut: gejala terjadi selama 4 – 12 minggu;
 Kronik: gejala terjadi > 12 minggu;
 Rekuren: gejala terjadi ≥ 4 episode dalam 1 tahun atau ≥ 3 episode dalam 6 bulan.

5. Patogenesis dan Patofisiologi

Otitis media akut sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustachius.
Saat bakteri melalui saluran eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran
tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan
datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan
membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya
terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar
saluran eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah
terkumpul di belakang gendang telinga.

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ
pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran
yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih
banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran
pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat,
cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena
tekanannya.

Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa
hal:
 Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
 Saluran eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek
sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.

8|laporan diskusi kelompok blok special senses system


 Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan
dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa.
Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran eustachius sehingga adenoid
yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran eustachius. Selain itu adenoid
sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga
tengah lewat saluran eustachius.

6. Gejala Klinis dan Stadium Klinik


Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia
anak – anak umumnya keluhan berupa:4
 rasa nyeri di telinga dan demam.
 biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya.
 pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan
pendengaran dan telinga terasa penih.
 pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan
sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit.

Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi menjadi 5
stadium:4

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius


Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah adanya gambaran retraksi membran
timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah, karena adanya
absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada
kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin terjadi, tetapi tidak dapat
dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan
oleh virus atau alergi.

2. Stadium Hiperemis (Presupurasi)


Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau
seluruh membran timpani tampak hiperemis atau edema. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.

3. Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial,
serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan
membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini,
pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga
bertambah hebat.

4. Stadium Perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi
kuman yang tinggi, maka dapat terjadi rupture membran timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Pasien yang tadinya gelisah
sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan pasien dapat tidur nyenyak.

5. Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh maka keadaan membran timpani perlahan-lahan
akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan

9|laporan diskusi kelompok blok special senses system


akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka
resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.

7. Diagnosis dan Pemeriksaan

Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.


 Penyakitnya muncul mendadak (akut);
 Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di
telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
o menggembungnya gendang telinga;
o terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga;
o adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga;
o cairan yang keluar dari telinga;
 Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya
salah satu di antara tanda berikut:
o kemerahan pada gendang telinga;
o nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menunjang diagnosis, yaitu:


1. Tes suara bisik.
2. Tes Garpu Suara, meliputi tes Rinne, Weber, dan Schwabach.
3. Tes dengan Audiometer
4. Tes dengan “Impedance”meter
5. Timpanometri, yaitu untuk mengetahui keadaan dalam kavum timpani.
6. Otoskopi, bukan untuk tes diagnostik, melainkan untuk melakukan pemeriksaan
fisik.

Klasifikasi frekuensi berdasarkan ISO dan ASA


ISO 1964 (dB) ASA 1951 (dB)
Normal -10 – 26 -10 – 15
Ringan 27-40 16-29
Sedang 41-55 30-44
Sedang-berat 56-70 45-59
Berat 71-90 60-79
Sangat berat > 90 > 80

Gambaran hasil timpanometri, yaitu:


 Tipe A : normal
 Tipe B : terdapat cairan di telinga tengah
 Tipe C : terdapat gangguan fungsi tuba Eustachius
 Tipe AD : terdapat gangguan rangkaian tulang pendengaran
 Tipe As : terdapat kekakuan pada tulang pendengaran (otosklerosis)

10 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
8. Diagnosis Diferensial

Dalam menegakkan diagnosis otitis media akut harus dipikirkan diagnosis


diferensial, antara lain:6
– Otitis externa;
– Otitis media dengan efusi (OME);
– Barotitis media;
– Herpes infeksi telinga.

9. Penatalaksanan

OMA umurnya adalah penyakit yang sembuh dengan sendirinya dalam 3 hari tanpa
antibiotic (80% OMA). Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau terjadi
perburukan gejala, antibiotic diberikan. American Academic of Pediatrics (AAP)
mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi harus segera di terapi dengan
antibiotic sebagai berikut :7

Usia Diagnosis Pasti Diagnosis Meragukan


< 6 Bulan Antibiotik Antibiotik
Antibiotik jika gejala berat,
6 bulan – 2 tahun Antibiotik
observasi jika gejala ringan.
Antibiotik jika gejala berat,
2 tahun Observasi
observasi jika gejala ringan.

Gejala ringan : nyeri telinga ringan dan demam < 39oC dalam 24 jam terakhir.
Gejala berat : nyeri telinga sedang – berat / demam 39oC.

Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pada stadium oklusi, tujuan terapi
dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung
HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1%
dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa. Selain itu,
sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.4

Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila
membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik
yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan
kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan
penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan
minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4 x 50-100 mg/KgBB,
amoksisilin 4 x 40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4 x 40 mg/kgBB/hari.4

Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan
miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga perlu
diberikan agar nyeri dapat berkurang.4

Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta
antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.4

11 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat
dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar sekret diduga telah
terjadi mastoiditis.4

10. Pencegahan

Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:


 Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak,
 Pemberian ASI minimal selama 6 bulan,
 Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring, dan
 Penghindaran pajanan terhadap asap rokok,
 Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

11. Komplikasi

Otitis media kronik ditandai dengan riwayat keluarnya cairan secara kronik dari satu
atau dua telinga. Jika gendang telinga telah pecah lebih dari 2 minggu, risiko infeksi
menjadi sangat umum. Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan
sekitar telinga tengah, termasuk otak. Namun komplikasi ini umumnya jarang terjadi.
Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran
permanen. Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi
pendengaran anak serta menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa.

Komplikasi yang serius adalah:6


 Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis);
 Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler);
 Kelumpuhan pada wajah;
 Tuli;
 Peradangan pada selaput otak (meningitis);
 Abses otak.

Tanda-tanda terjadinya komplikasi:


• sakit kepala;
• tuli yang terjadi secara mendadak;
• vertigo (perasaan berputar);
• demam dan menggigil.

12. Prognosis dan Indikasi Rujukan

Anak yang segera diobati dengan antibiotik biasanya mengurangi gejala. Gejala OMA
secara spontan berkurang dalam 2/3 anak yang menderita OMA dalam 24 jam dan
80% dalam 2-7 hari (number needed to treat = 17).6

Menurut standard kompetensi dokter indonesia, otitis media akut bagi dokter umum
berada pada tingkat kemampuan 3a, yaitu mampu membuat diagnosis klinik
berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta

12 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
oleh dokter (misalnya: pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang
relevan (bukan kasus gawat darurat).8

Beberapa keadaan yang memerlukan rujukan pada ahli THT adalah:


 Anak dengan episode OMA yang sering. Definisi “sering” adalah lebih dari 3 kali
dalam 6 bulan atau lebih dari 4 kali dalam satu tahun
 Anak dengan efusi selama 3 bulan atau lebih, keluarnya cairan dari telinga, atau
berlubangnya gendang telinga
 Anak dengan kemungkinan komplikasi serius seperti kelumpuhan saraf wajah atau
mastoiditis (mastoiditis: peradangan bagian tulang tengkorak, kurang lebih
terletak pada tonjolan tulang di belakang telinga)
 Anak dengan kelainan kraniofasial (kraniofasial: kepala dan wajah), sindrom
Down, sumbing, atau dengan keterlambatan bicara
 OMA dengan gejala sedang-berat yang tidak memberi respon terhadap 2 antibiotik

8. ULASAN

Pada tutorial ada silang pendapat tentang fisiologi pendengaran. Ada anggota kelompok
mengatakan bahwa suara yang masuk dari luar akan sama frekuensinya sampai ke dalam
telinga. Sedangkan anggota kelompok yang lain mengatakan bahwa frekuensi akan
diturunkan. Pada tutorial kedua masih belum ada titik temu karena memang masing-
masing sumber bacaan mengatakan hal demikian, sehingga silang pendapat masih
berlanjut. Akhirnya pada pleno pakar didapat kejelasan bahwa suara yang masukakan
diredam, frekuensinya akan diturunkan oleh tulang-tulang pendengaran.

Dalam hal ini juga masih banyak yang belum jelas karena keternatasan waktu dan pustaka.
Diantaranya adalah apakah penggunaan antibiotik topikal dapat diberikan. Pada pleno
pakar dijelaskan bahwa pada stadium tertentu memang dapat diberikan antibiotik topikal
berupa tetes telinga. Untuk stadium awal (oklusi) diberikan dekongestan nasal untuk
membuka saluran eustachius yang tersumbat.

Sebagian masyarakat, khususnya daerah terpencil atau pedesaan, infeksi saluran napas
bagian atas seperti flu atau pilek pada anak tidak dianggap sebagai penyakit. Sehingga
anak dibiarkan terpajan penyakit tersebut bahkan sampai berbulan-bulan. Keadaan ini
akan menjadi faktor risiko terjadinya otitis media akut. Infeksi akan menyebar ke telinga
tengah melalui saluran eustachius, pada akhirnya anak akan menderoita otitis media akut.

Pada otitis media akut stadium perforasi anak tidak akan merasa sakit. Dalam hal ini juga
orang tua sering membiarkan keadaan tersebut karena anak tidak mengeluh kesakitan.
Selanjutnya keadaan ini akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik.

9. KESIMPULAN

Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar
terdiri atas aurikula (daun telinga, pinna), meatus akustikus eksternus, dan membrana
timpani. Telinga tengah adalah cavum timpani yang di dalamnya terdapat tulang-tulang
pendengaran, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Telinga tengah berhubungan dengan faring

13 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
melalui tuba eustachius. Telinga luar dan tengah menyalurkan gelombang suara dari udara
ke telinga dalam yang berisi cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut.
Telinga dalam berisi dua sistem sensorik yang berbeda: koklea, yang mengandung
reseptor-reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf untuk
mendengar; dan apparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan.

Otitis media akut (OMA) ialah peradangan telinga tengah yang mengenai sebagian atau
seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Sumbatan pada tuba
eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media. Selain itu, infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling sering.
Kuman penyebab OMA antara lain Streptococcus hemoliticus, Haemophilus Influenzae,
Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Moraxella cataralhis, Pneumococcus,
Pseudomonas, dan juga virus (respiratory syncytial virus, parainfluenza, influenza,
enteroviruses, adenovirus).

Patogenesis penyakit otitis media akut dapat berasal dari infeksi saluran napas bagian atas
yang menyebar ke telinga tengah melalui saluran eustachius. Anak-anak akan lebih sering
terkena otitis media akut karena saluran eustachiusnya masih pendek dan horizontal
sehingga penyebaran infeksi kuman lebih mudah terjadi daripada orang dewasa.

Pasien pada pemicu mengalami otitis media akut stadium supurasi. Penatalaksanaan
dengan diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat
sampai 3 minggu.

10. REFERENSI

1. Drake, Richard L. Gray’s Anatomy for Student. Copyright © 2007 Elsevier Inc. All
rights reserve
2. Sherwood, Laurelee. Sistem Saraf Perifer: Divisi Aferen; Indera. Dalam: Santoso,
Beatricia I (edt). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta: Penerbit buku
Kedokteran EGC. 2001; 149-194.
3. Junqueira, Luiz Carlos dan José Carneiro. Sistem Fotoreseptor dan Audioreseptor.
Dalam: Dany, Frans (edt). Histologi dasar Teks dan Atlas Edisi 10. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2007; 451-470.
4. Djaafar Z A, Helmi, dan Ratna D Restuti. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher, edisi ke-6.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007;64-77.
5. Paparella, Michael E. Et al. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Dalam: Harjanto
Effendi dan R A Kuswidayati Santoso (edt). BOIES Buku Ajar Penyakit THT. 1997;
88-118.
6. Alhabbal, Mohammad. Otitis Media. In: Frank JD (edt). The 5-Minute Clinical
Consult 2008 - 16th Ed. 2008.
7. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No. 5
May 2004, pp. 1451-1465. available from http://aappolicy.aappublications.org/cgi/
content/full/pediatrics;113/5/145
8. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia.2006

14 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
Lampiran

Anatomi Telinga

Gambar 1: Anatomi Telinga (atas) dan Telinga Tengah (bawah)

15 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
Gambar 2 : Telinga Tengah dan Koklea:

(a) Anatomi umum telinga tengah dan


koklea dengan gulungan koklea dibuka;
(b) Potongan melintang koklea;
(c) Pembesaran organ corti.

Gambar 3 : Transmisi Gelombang Suara


16 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
Pathogenesis dan Patofisiolog OMA

Gambar 4 : Saluran Eustachius anak lebih pendek dan horizontal dibandingkan


dengan dewasa

Gambar 5: Skema Patogenesis Otitis Media Akut

17 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
Gambar 6 : Skema Patofisiologi Otitis Media Akut

18 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
19 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m
20 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k s p e c i a l s e n s e s s y s t e m