Anda di halaman 1dari 115

Novel by Yatna Pelangi

Stop play a game


before game stoped you
Penulis :
Yatna Pelangi

Editor :
Nurul Sri Nawangsih.

Lay outer dan disign cover :


Hendro Purwoko

ii
Jakarta adalah gudang. Gudang orang nyari kerjaan, gudang artis, gudang orang
yang pengen jadi artis, gudang tempat jual diri buat jadi artis, gudang copet, gudang
curanmor, gudang penipu, gudang banjir, gudang gelandangan, gudang pengamen, gudang
penikmat hiburan malam, dan gudang kemacetan. Pokoknya bikin sewot deh.

Kalo udah sewot, orang-orang pada pusing. Karena pusing, orang berpikir yang
nggak-nggak. Trus muncul deh sensasi-sensasi yang bikin pusing pula. Katanya sih
pemerintah udah berusaha nanganin semuanya. Nyediain lowongan kerja bagi orang yang
butuh kerja, rumah singgah buat gelandangan biar ga tidur di emper toko dan bawah
jembatan, banjir canal yang sampe sekarang blon selesai buat ngatasin banjir, dan busway
buat ngatasin kemacetan.

Busway? Ehm, ehm...transportasi yang satu ini emang banyak dipilih orang karena
bikin nyaman. Bebas kemacetan dan ber-AC pula. Tapi, bukan Jakarta namanya kalo ga
pake desek-desekan. Mau naek busway kudu rela dulu ngantri bejubel-jubel plus ngerasain
bonus bau kecut Parfum campur keringet. Belon lagi acara senggol-senggolan dan dorong-
dorongan kayak lagi nonton dangdutan. Tangan, sikut, dengkul dan bokong, jadi sasaran
empuk buat disenggol.

iii
Catatan Yatna

Gak kerasa hampir satu dekade saya berkecimpung didunia persilatan LGBT, lesbian, gay,
biseksual dan Transgender. Ada banyak cerita dan ada banyak kenangan yang tersimpan
rapi didalam kantong hati , gak keitung berapa kantong kenangan itu, dimulai dari kota
Yogyakarta, Jakarta, Batam, Kepulaun Riau, dan kembali lagi ke Jakarta. Banyak sekali
curhatan-curhatan kawan-kawan yang saya simpan, dari mulai cerita duka sampai cerita
bahagia yang semuanya itu saya rangkum dalam novel perdana saya ini.

Pada lembar ini saya menghaturkan terima kasih kepada gusti Allah yang masih mengizinkan
saya menghirup udara di Bumi ini. Dan kedua orang tua dan adik-adik saya Juga buat
kawan-kawan yang udah percaya berbagi cerita dengan saya, terutama tiga tokoh yang ada
dalam novel ini, yaitu Mista, Fadil dan Andi. Awalnya sempat stress juga ngikutin perjalanan,
naik kereta api, bus way, dan angkot. Tapi lama-kelamaan mengasikkan juga ya cyiin. Juga
ada mas dodo, orang yang satu ini adalah orang yang paling banyak mengajarkan tentang
pengorganisiran komunitas, saking keasikan mengorganisir gak kerasa ternyata saya sudah
melewati 10 tahun berada dikomunitas.

Selanjutnya ada Hendro yang mendigsn cover novel hingga layout, tanpa lu mengkin novel
ini hanya jadi tulisan berdebu, mbak…..,yg rela meluangkan waktunya mengedit tulisan
hingga jadi tambah renyah, Mumu aloha yang kalau ketemu selalu melontarkan kata “mana
karyamu, ayolah nulis jangan nyerah kamu pasti bisa”. Kemudian ada Kamel Koordinator
Institut Pelangi Perempuan yang telah memberikan fasilitas kantornya hingga novel ini
selesai.

Dan juga untuk kawan-kawan tercinta saya : di Yogya ada Uki,Oki,Tita,Dave, Hana dan
Asmar. Menuliskan nama kalian jadi inget Puncak kayangan Parang tritis. Di Jakarta ada
Kawan-kawan Institut Pelangi Perempuan, Ino, Ratna, Panca, Deo, Joewe. Trus ada Kawan-
kawan seperjuangan di Arus Pelangi ada King oey, Iyek, Andre, Deasya,Ipung dan Devina.
Juga ada kawan-kawan di Yayasan Srikandi Sejati, Luluk azura dan satu lagi namanya Kak
Inez orang yg paling jago buat Pisgor ama Capcay. Juga ada hartoyo, Ricky dan Aldo di
Ourvoice. Dan juga teman-teman baru saya di Genk Jomblo, ada Jo, Kevin,yaedy,Rizky hary,
Sakti. Serta ada Arya, gila gwe salut ama lu yg mempertahankan hubungan cinta selama 15
iv
tahun. dan dua adikku manis Junot dan Irvan.

Sebenernya masih sekarung nama yg ingin saya tuliskan sebagai tanda terima kasih, tapi
saya kawatir ntar yang baca malah ngira ini novel apa buku sensus, heheheh…saya hanya
bisa mengucapkan salam buat temen-temen yg ada diluar Jakarta, seperti Aceh (faizal),
Medan (ame), Palembang(farez),Lampung(Gio), Bandung (Indra),Batam (panca),Kepri
(Tono),Makasar (Ino), Surabaya(all staf gaya Nusantara), Bali (sinta).

Karena zaman sekarang bukan zaman gajah mada, tapi udah zaman lady gaga jadi bwat
kawan-kawan yang mau bergabung dengan komunitas LGBT sudah sangat mudah, nama-
nama diatas adalah sahabat pelangi yang bisa kalian hubungi. Tapi ada yang mesti diingat
bahwa dunia organisasi tidaklah menjanjikan apa-apa, karena kerja-kerja diorganisasi
adalah kerja-kerja ideologis yang sangat berbeda dengan dunia kapitalis.

Dan yang pasti dari zaman alm. Eyang harto, habibie,megawati, alm gusdur sampe zaman sby,
masalah yang dihadapi kelompok LGBT tetap sama yaitu masih kencengnya diskriminasi di
negeri ini, harus diakui menjadi minortas sangat rentan dengan perlakuan diskriminasi, tapi
Negara ini udah parah banget bow….masa wakil-wakil rakyat yang bertengger di senayan
dengan seenak jidatnya membuat undang-undang yang mengkrimalkan LGBT dan itu
dituangkan dalam UU AP (undang-undang anti pornogafi). dan beberapa Perda diantaranya
Perda Palembang dan Tangerang.

Dampak dari diskriminasi ga tangung-tangung bow, sampe-sampe ada kawan-kawan kita


yang harus rela dipecat gara-gara ketauan di gay, miris banget kan. Dan yang paling kena
banget adalah teman-teman waria, mereka nyebong dan ngamen dijalan bukan karena
cita-cita mereka,itu semua karena pemerintah tidak memberikan perlakuan yang sama
pada setiap warga negaranya mengakses pekerjaan. Jadi mau tidak mau dan suka tidak
suka untuk kedepan kita haruslah jeli memilih calon-calon penguasa negeri ini, ya paling
tidak pilihlah calon-calon dan partai-partai tidak homophobic dan mengerti apa itu hak azasi
manusia baik secara teori maupun praktek.

Dan mengenai homophobic ini adalah catatan saya selanjutnya, homophobic adalah suatu
sikap yang dimiliki seseorang yang tidak menyukai/menerima lgbt. Sikap tidak suka ini
sering sekali berujung pada kekerasan. Atau sering juga disebut hate crime.contoh yang
nyata dari homophobic adalah dengan adanya aksi-aksi fundamentalis yang sering banget
melarang kegiatan-kegiatan LGBT, mereka ga peduli apapun jenis kegiatan minumnya tetep
teh botol sosro,ehhh salah maksud saya apapun yang dilakukan LGBT pasti dilabrak jika
mereka mengetahuinya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagimana menyikapi mereka?.

v
banyak cara untuk meredam hate crime diantaranya adalah bergabung dengan organisasi-
organisasi yang sudah ada, seperti Arus Pelangi, Ardhanary Instutut, Institut Pelangi
Perempuan, Yayasan Srikandi Sejati, Gaya Nusantara, Our Voice.Dll. diorganisasi kita bias
banyak belajar bagaimana menyusun strategi bersama untuk menyikapi homophobic selain
itu kita bisa menambah ilmu pengetahuan tentan isu-isu LGBT, ya…memang sich secara
individual kita bisa juga menyuarakannya tapi bukankah lebih baik kita menyapu dengan
seikat lidi dibanding dengan sebatang lidi?

Sebagai penutup izinkan saya mengcupakan terima kasih sekali lagi untuk kawan-kawan
yang telah meluangkan waktunya mau membaca karya perdana saya ini. Karena novel
ini berasal dari potongan cerita kawan-kawan maka saya kembalikan lagi cerita ini untuk
kawan-kawan sebagai hadiah cinta menyambut tahun baru 2011.

Salam pelangi

Yatna pelangi

vi
vii
viii
“allahu akbar, allahu akbar…” GUBRAK!! Mista yang lagi asyik-asyiknya mimpi naek
mobil porsche sambil bikin pulau di bantal (baca: ngiler) langsung terjatuh dari tempat
tidur sambil kentut sedikit demi mendengar suara adzan subuh yang berkumandang
tepat di telinganya. Bukan karena adzannya fales, tapi karena corong masjid ngadepnya
persis ke depan jendela kamarnya. Jadi mau nggak mau, Mista pasti terbangun tiap adzan
berkumandang. Ga jarang Mista kudu rela jatoh dari tempat tidur dengan berbagai pose,
mulai dari pose ala model, pose ikan terbang, kodok ngorek, sampe kutu loncat, kayak yang
dialaminya barusan.

Ya, rumah Mista emang dempetan sama masjid. Bahkan corong masjid persis ada di
sebelah jendela kamar Mista yang kebetulan punya ventilasi agak gede. Tokek budek yang
sering nongkrong di luar tembok kamarnya aja pasti langsung jatoh dengan pose ala Mr.
Bean tiap denger adzan. Apalagi Mista yang kupingnya masih normal.

Dengan mata masih setengah merem dan iler yang mengering di sudut bibir, Mista
pergi ke kamar mandi buat beli odol. Ya nggaklaaah... Maksudnya buat ngambil wudhu, gitu
loh. Tapi belom sampe kamar mandi, DUAKK!! Pala Mista kejeduk pintu kamar mandi yang
ternyata tertutup rapat. Ya iyalah ketutup, orang di dalem kamar mandi ada nyokapnya.
Lagian kok bisa–bisanya Mista nggak tau kalo di kamar mandi ada orang.

“Aduuuuh! Umi…! Ngomong atuh kalo Umi ada di dalem kamar mandi… ” gerutu
Mista setengah kesal. Yeee…, kenapa juga si Mista malah nyalahin Nyokapnya. Salah sendiri
jalan sambil merem. Akhirnya terpaksa deh Mista harus ngantri nunggu Nyokapnya keluar.

“Kunaon kamu teh, Mis?” tanya Nyokapnya bingung, begitu keluar dari kamar
mandi.

“Habis…, adzannya kekerasan sih… Mi… jadi Mista kaget deh. Saking kagetnya
sampe jatoh dari tempat tidur. Eeeeh, habis jatoh dari tempat tidur, kejeduk pintu kamar
mandi, lagi.” mulut Mista manyun sepuluh senti sampe muka gantengnya ilang.

Mista emang ganteng. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dan bibirnya tipis
kayak Keanu Reeves. Dengan tinggi badan seratus tujuh puluh limaan senti dan berat badan
enam puluh limaan kilo, badannya termasuk ideal. Pokoknya kalo doi jalan sendirian, pasti
semua mata ngeliatin doi. Soalnya kadang doi nggak sadar kalo di pipinya masih ada nasi
nempel. Hue he he…

Sebenernya, kalo Mista sadar, punya rumah deket masjid itu buanyak keuntungannya.
Pertama, Mista jadi nggak perlu beli jam weker baru buat ngegantiin jam weker ayam

1
berkokoknya yang kokoknya udah berubah jadi kekek saking falesnya.

Kedua, Mista juga ga perlu beliin jam weker butut tuanya itu batere baru, karena
sebelum weker bututnya bunyi, adzan pasti udah keburu tereak-tereak duluan di kuping
Mista.

Ketiga, mau nggak mau Mista selalu bisa bangun pagi buat menghirup udara segar,
bersih dari PPKN, alias polusi, polisi, kolusi, dan nepotisme.

Keempat, Mista jadi nggak pernah absen shalat shubuh walaupun sambil ketiduran
selama kurang lebih satu jam waktu pas lagi sujud.

Kelima… apa lagi ya? Pokoknya banyak deh keuntungan punya rumah deket masjid.
Gak bisa disebutin atu-atu. Kebanyakan. Kalo ditulis semua tar judul novel ini ganti jadi
“Keuntungan Memiliki Rumah Dekat Masjid.” Gubrak.

Seharusnya Mista sekali-kali ngasih kado buat para adzaners yang udah setia
ngebangunin doi tiap pagi dengan suara-suara mereka yang merdu –cie ile…- tanpa
ngarepin honor. Tapi kurang kerjaan amat nanya-nanya ulang tahun adzaners. Salah-salah
dikira naksir, lagee… Tapi ga pa pa kalee kalo ada yang cucok… cuit cuiiiww… tokkeeeek.
HUS!! Lagian, kalaupun Mista punya niat baik ngasih kado, mana sempet si Mista nanya-
nanya ultahnya adzaners. Mista kan mahluk kantoran, yang tiap hari harus berangkat kerja
pagi-pagi buta, dan pulang malem dengan badan lemah, letih, lesu, dan kening berkerut
kayak curut kejepit pintu mikirin setumpuk kerjaan yang belom kelar. Pernah juga seh ada
yang nawarin bisnis baru, nyari tokek, soalnya tokek kan lagi mahal sekarang. Tapi biar pun
bayarannya gede, Mista menolak menangkap tokek budek yang terus berkeliaran di sekitar
rumahnya. Habis, sebelum masjid dibangun, tokek itulah yang berjasa ngebangunin tidur
Mista. Tokek lagi tokek lagi deh. Lama-lama bisa ketularan budek kayak tokeknya Mista,
lagi. Gawat.

Kewajiban yang kemudian jadi kebiasaan Mista tiap pagi setelah sholat adalah nyari
tempat nongkrong. Bukan Kafe, tapi WeCe. Lagian mana ada Kafe buka subuh-subuh. Nah,
Setelah menunaikan dua kewajiban tersebut, biasanya Mista ngobrak-ngabrik lemari, nyari
baju Superman buat berubah. Ya nggaklaah.., Maksudnya nyari baju buat dipake kerja, dan
pastinya gak lupa mandi, lalu ngemut secangkir kopi anget-anget tai ayam sampe bibirnya
dower.

“Mau nyarap apa, a‘a?” Tanya Nyokap Mista dengan penuh kelembutan, kadang-
kadang malah sampe ga kedengeran saking lembutnya. Biarpun Mista udah kerja, tapi

2
Nyokap Mista selalu merhatiin Mista kayak dulu Mista masih bayi. Mista dikasih makan,
dikelonin, ditimang-timang…

“ista agi engen aci uduk.. Mi.” jawab Mista. Artikulasinya nggak jelas karena dia
ngomong dengan mulut penuh cangkir kopi. -–maksudnya sambil ngemut cangkir kopi,
getoh…--

“Ya udah. Umi berangkat dulu ya. O iya... bangunin Tika tuh, suruh sholat” pesan
Nyokapnya Mista sambil ngeloyor pergi.

Tika adalah adik bungsu Mista yang kuliah di IPB semester enam. Ga tau kenapa
adek Mista semata wayang ini emang rada susah bangun. Mungkin dia udah ketularan tokek
budek itu, kali. Habis, Tika punya hobi yang rada aneh. Orang laen sih demen ngasih makan
kucing, anjing, ayam, ato ikan, eeeh… Tika malah demen ngasih makan en maen sama
tokek. Pokoknya Tika sama tokek budek itu sohiban deket banget deh. Udah saling tahu
isi hati masing-masing. Soalnya mereka sering banget ketauan lagi curhat-curhatan. Tika
curhat, terus tokeknya pasti bales curhat dengan suara khasnya, tokkeeeek…

“Aa...Bi yati ga jualan nasi uduk. Anaknya lagi sakit, jadi dia repot. Nih, Umi beli
pisang goreng, sama cucur kesukaanmu.” Tiba-tiba Nyokapnya Mista udah nongol di depan
mata Mista sambil bawa keresek yang segera ditaruhnya di meja makan.

“Aseeek…, Nuhun nya, Mi” jawab Mista seraya langsung melahap makanan
kesukaannya.

Bolak-balik Bogor-Jakarta saban hari sebenarnya sangat melelahkan buat Mista.


Bukannya ga mampu bayar kos di Jakarta, tapi itu gak mungkin Mista lakuin karena
Nyokapnya sampai saat ini masih sedih atas kepergian Bokapnya.

Bokap Mista emang udah meninggal setaon yang lalu. Bagi Nyokapnya, Bokapnya
Mista adalah pahlawan tanpa tanda tompel. Walaupun Nyokap Mista bawel dan rewel tapi
Bokap Mista tetep setia dan nurut banget ama dia. Bukannya Bokap Mista ikut ikatan suami-
suami takut istri, tapi Bokapnya Mista mencintai Nyokap Mista dengan sepenuh hati.

Sekali waktu, Mista pernah iseng-iseng nanya ke Nyokapnya soal pengganti


Bokapnya. Ga taunya Mista malah dicurhatin panjang lebar sampe dua jam. Padahal Mista
lagi ngantuk berat. Demi ga bikin Nyokapnya tersinggung, Mista ngolesin balsem di matanya
yang bagian bawah. Alhasil selama dengerin Nyokapnya curhat, matanya Mista berair mulu,
sambil nangis-nangis karena kepedesan. Tinggal Nyokapnya Mista yang cengo liat anaknya
nangis-nangis. Padahal ceritanya nggak sedih-sedih amat.
3
Dulu emang sempet ada yang pernah pedekate sama Nyokapnya Mista. Awalnya
sih baek.., biasalah.. namanya orang pedekate… apa aja dibawa buat oleh-oleh. Mulai dari
Kripik nangka, martabak bangka, bunga asoka, tabungan berjangka, sampe setrika. Tapi
ujung-ujungnya, ketahuan deh kalo laki-laki itu ternyata laki-laki hidung belang, udah punya
bini. Mending bininya satu, usut punya usut seh katanya bininya udah sembilan. Wuset
dahh!! Terang aja Nyokapnya Mista langsung ilfil sambil ngupil. Dia pun langsung berpantun
: “Beli stroberi dipasar kenari, dari pada dipoligami mending dibeliin peti mati”

Mista maksa nyengir sambil nahan pedih di mata denger curhatan Nyokapnya.

“Coba, ta… Gimana Umi nggak sakit hati digituin. Lagian, mentang-mentang diijinin
nabi buat poligami, jadi seenaknya aja sama perempuan. Terang aja nabi ngijinin laki-laki
berpoligami, karena nabi laki-laki. Coba nabinya perempuan yang semua keputusan pake
perasaan, pasti gak mungkin deh poligami jadi sunnah” cerocos Nyokapnya Mista puanjang
lebar.

“HWAAAAA!!!” Mista pun langsung menangis sejadi-jadinya begitu mendengar kata-


kata terakhir dari Nyokapnya. Bukan karena sedih, tapi karena udah nggak tahan sama
pedesnya balsem yang makin lama bukannya malah ilang, tapi malah makin masuk ke
mata.. Alhasil, curhat Nyokapnya hari itu pun selesailah sudah.

Waktu udah nunjukin jam lima pagi lebih tiga puluh menit waktu Indonesia bagian
barat. Kue cucur sama pisang goreng mini dan secangkir kopi udah ludes masuk perut Mista.
Tanpa ba bi bu lagi, Mista pun dengqn khusyu nyium tangan Nyokapnya dan bercipika-cipiki
ria, lalu ngacir ninggalin rumah setelah sebelumnya sempet ga sengaja nginjek buntut tokek
yang baru aja jatoh dari atas. Tika yang udah bangun, dan ternyata baru aja beres ngobrol
sama tu tokek, langsung menjerit histeris.

“Tokekkuuuuu…” teriaknya seraya dengan tanpa ragu mengambil tokek itu dengan
tangannya. Mista bergidik liat tingkah adeknya dan langsung mengambil langkah seribu
menuju tempat kerja setelah sebelumnya minta maaf sama Tika yang tersedu-sedu karena
tokek kesayangannya keinjek.

Sampai di stasiun kereta api puluhan orang udah nampak mengantri di loket.
Barisan yang semrawut terlihat cukup panjang. Ada yang sibuk nelpon, sms-an, dengerin
musik, pacaran sambil nyopet, bengong sambil ngupil, bahkan ada yang sempet-sempetnya
pake bulu mata sambil garuk-garuk pantat.

4
Setelah beli tiket dan berjuang melawan rasa bosan sampe jenggotan, akhirnya
Mista berhasil dengan sukses naek kereta ekonomi setelah sebelumnya ikut aksi dorong-
dorongan, sikut-sikutan, jambak-jambakan, bahkan sampe jeduk-jedukan kepala demi
mendapatkan tempat, kayak ikutan jadi figuran film-film perangnya Steven Spielberg. Itu
pun belom cukup. Biarpun udah dapet tempat duduk, kadang Mista juga harus melawan
atau bertahan dari burket, copet, jambret, pelet, dan didi petet. Wuseeet…

Demi menjalani tugasnya sebagai Kepala Bagian Manager Pengendalian/Operasional


di jasa layanan transportasi yang lagi ngetrend di Jakarta alias Busway, Mista bela-belain
setengah mati naek kereta api tiap hari. Maunya sih naek kapal terbang, tapi apa daya
dompet ga mendukung. Soalnya dia mengabdikan sebagian isi dompetnya buat Nyokapnya
dan mbiayain kuliah adek semata wayangnya. Buat ngatasin rasa boringnya ngejalanin
rutinitas sehari-hari yang bikin kepala pusing, Mista pasti nyempetin diri buat melampiaskan
hobby chating, travelling, mancing, nguping dan maen sulingnya tiap ada kesempatan.

Dulu seh Mista pernah punya hubungan cinta sama someone special. Tapi setelah
menjalin cinta selama lima tahunan, tiba-tiba cintanya kandas gitu aja di tengah jalan, gara-
gara boyfriendnya tiba-tiba merit tanpa sungkem. Boyfriendnya seh maseh pengen jalin
hubungan diem-diem ama Mista. Tapi Mista yang menganut aliran anti-poligami, langsung
aja dengan tegas menyatakan NO WAY, biarpun di belakang mantan boyfriendnya doi nangis
nangis kambing sambil terkencing-kencing.

Ups… be te we.. kok boyfriend seh? Ga salah tu bo..? Mista kan cowok.. Ssst…,
diem-diem aja ya. Sebenernya Mista itu udah lama jadi gay, bo… Tapi dia masih keep
secret. Ga ada orang kantoran yang tau bahwa doi gay. Doi cuma terbuka sama sesama
orang komunitasnya doang. Kalo sampe Nyokapnya tau, bisa mati deh Mista. Bukan karena
takut dimarahin ato ga diaku anak lage.., tapi bisa-bisa Nyokapnya langsung masuk Rumah
Sakit saking shocknya. Padahal Mista kan sayang banget sama Nyokap semata wayangnya
itu. Makanya kalo di luar komunitasnya, doi ga mau show up. Lagian kaum gay kan masih
kurang diterima juga di masyarakat luas. Apalagi di Indonesia. So…, kalo di kantor, doi cuma
mau buka identitas sebenernya sama dua sohib kentelnya, Fadil dan Andi yang satu nusa,
satu bangsa, dan satu bahasa sama Mista.

5
6
Pagi hari di kos-kosan, persis kayak di kamar mandi umum. Penuh nuh. Ngantrinya
hampir kayak ngantri di puskesmas. Apalagi kosannya Fadil yang isinya cowok ganjen
semua. Ngantri jam empat, baru dapet giliran mandi jam enam. Gimana enggak kalo
kebiasaan anak kosnya pada aneh semua. Ada yang suka mandi sambil nyanyi, joget-joget,
makan jambu monyet, bahkan ada yang sambil balet. Malahan pernah ada yang mandi
sampe satu jam, sampe anak-anak kosan yang belom pada mandi sempet ngadain arisan
plus bikin rapat RTK alias Rumah Tangga Kos-kosan buat menindak pelaku kejahatan yang
lagi asik memonopoli kamar mandi. Akhirnya, melalui musyawarah dan mufakat, tercapailah
sebuah kesepakatan buat mendobrak pintu dan menangkap serta mengadili langsung si
pelaku kejahatan itu.

Setelah didobrak pake gergaji, batu satu ton, TNT, Nuklir, dan lain sebagainya,
akhirnya pintu kamar mandi dengan sukses terbuka lebar. Eh, ternyata si pelaku kejahatan
yang ngakunya lekong eslong, lagi asyik-asyiknya luluran plus meni pedi sambil ketiduran
sampe ga denger apa-apa. Walhasil, anak kosan yang udah pada gondok karena baru pada
makan gembok, tanpa ampun langsung menyeret si pelaku kejahatan dan membuangnya
ke tempat sampah. Tapi dasar pelaku kejahatannya turunan kebo, biarpun udah diseret dan
dibuang ke tempat sampah, tetep aja doi tidur dengan pulasnya.

Semenjak itu, dibuat kesepakatan dilarang mandi lama-lama. Maksimal lima belas
menit. Lebih dari itu akan dilakukan penggerebekan dan pendobrakan secara paksa oleh
pihak yang berwajib. Ga tanggung-tanggung kesepakatan tersebut disaksikan oleh pak
eRTe setempat dan juga notaris serta ditanda tangani di atas materai enam ribu rupiah.

Karena kesepakatan tersebut, akhirnya Fadil dan anak-anak kosannya ga perlu


lagi ngantri berjam-jam. Bahkan mereka punya kebiasaan baru yaitu bawa kentongan yang
dipukul tiap lima menit sekali buat ngingetin yang lagi mandi supaya ga lupa diri.

Yah.., tinggal di kosan emang kadang repot dan bikin bete. Yang di atas itu baru
satu contoh resiko tinggal di kos-kosan. Belom lagi yang laen. Misalnya, soal alat-alat
mandi yang langsung ludes des walau baru ketinggalan satu detik. Itu aja belom cukup.
Dulu, waktu jaman purbakala, Fadil sampe pernah masuk ICU karena hampir geger otak.
Pasalnya, doi kepeleset di kamar mandi waktu mau maen bilyar. Ya nggaklah, maksudnya
waktu mau mandi. Setelah diusut-usut sampe kusut, ternyata Fadil kepleset cairan berlendir
yang mengalir dari dinding marmer kamar mandi. Dan setelah diselidiki lebih jauh, pake
uji laboratorium dan tes DNA segala, ternyata cairan itu berasal dari oknum-oknum ga
bertanggung jawab yang coli seenaknya tanpa disiram. Howeeek! Cuah! Yah, maklumlah,

7
namanya juga kosan cowok, gitu looh…

Tapi, Fadil lebih rela berbete-bete ria ngantri di kamar mandi dan kehilangan alat
mandi serta masuk ICU beratus-ratus kali dari pada harus tinggal sama kakaknya. Biarpun
udah ditawarin beratus-ratus kali sampe mulut kakanya berkuah-kuah, Fadil tetap teguh
sama pendiriannya. Baginya, tinggal sama sodara sama aja kayak tinggal di penjara. Semua
serba pake pengawasan dan aturan. Mau ngapa-ngapain pake rembukan dulu kaya rapat
eRTe yang bikin bete. Ujung-ujungnya keputusan yang diambil berdasarkan kepentingan
bersama. Kalo udah gitu ga bisa ngelak lagi. Giliran ada yang salah, pada rebutan deh cuci
tangan. So, ngekos adalah pilihan terakhir bagi Fadil yang ga demen diawasin.

Fadil lahir dari mix ARBI alias Arab dan betawi. Ayahnya Arab dan Ibunya betawi
asli. Dia sendiri adalah anak bontot dari enam bersaudara. Kakak-kakaknya udah sukses
dan eksis di Jakarta lebih dulu. Ortunya sendiri tinggal di kepulauan seribu, karena beberapa
tanah milik keluarga udah digusur jadi gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Selain itu,
udara di kepulauan seribu lebih cocok sama paru-paru mereka yang udah tua.

Waktu SMP Fadil pernah naksir guru ngajinya yang mukanya mirip Indra Brugmann
kejebur selokan. Karena Fadil ga bisa dan ga mungkin ngungkapin perasaannya secara
langsung, akhirnya doi cuma bisa melampiaskannya di buku diari kesayangan. Tapi entah
karena keasyikan maen pelor sambil makan telor, Fadil teledor. Doi naro buku diarinya
sembarangan. Walhasil semua tentang perasaan sama guru ngajinya, ketauan deh sama
bokapnya. Untung bokapnya ga step. Tapi Fadil langsung dihijrahkan ke Pondok Pesantren.
Maksudnya seh biar Fadil banyak belajar ilmu agama biar insap dan banyak ngucap. Eh,
ternyata Bokapnya salah. Bukannya insap, Fadil malah tambah sarap. Gimana ga, orang di
Pondok Pesantren isinya lekong smuwa. Justru di Pondok Pesantren itulah Fadil malah bisa
menyalurkan smuwa-muwanya. Di sana doi menjalin cinta dengan santri sekamarnya. Tapi,
sama dengan Mista, doi bener-bener keep secret. Ga ada seorang pun yang tau tentang
penyimpangan orientasi seksualnya. Setelah balik lagi ke Jakarta, Fadil pun makin kuat
dengan pilihannya. Ia memilih menjalani hidup sebagai gay dengan tetap menjalankan
shalat lima waktu.

Buat ukuran cowok…, Fadil oke juga seh. Muka doi lebih cenderung ngikut Bokapnya,
alias muka arab. Mata dan hidungnya tajem sampe bisa nyilet orang, mukanya agak lonjong
kekotak-kotakan, badannya rada gempal, kulitnya item item tai ayam, dan yang bikin semua
cewek dan cowok nggak nahan ngliat doi… --maksudnya ga tahan kebelet pengen pipis.. Hue
he he..— adalah bulu-bulu halus di sekitar pipinya. Bikin geli deh bo… Orang kadang Fadil

8
aja kegelian sendiri karena dikilikitik bulunya. Yaah, singkatnya seh Fadil lumayan ganteng
n sekseh (seksi maksudnya…), enak buat dijadiin umpan ketapel. Apalagi ditambah anunya
yang mmh… Pokoknya Mmmmh deh! Ga bisa diungkapin.

Setelah ikut ngantri di kamar mandi sambil ngantuk-ngantuk suntuk, Fadil pun
langsung ngacir menuju tempat kerja. Boro-boro ngopi n nyanyi dulu. BAB alias Buang
Aer Besar aja nggak sempet. Malah kadang Fadil sampe kelupaan pake baju saking buru-
burunya. Makanya pantatnya sering digigit anjing tetangga karena kelupaan pake celana.

Buat bisa nyampe ke tempat kerjanya, Fadil kudu rela ikut desek-desekan dan
gelantungan di bus kota yang kalo pagi minta ampun bejubelnya. Untungnya seh kalo pagi
orang-orangnya maseh pada wangi. Coba siangan dikit. Bau keringet yang kecut campur
kentut udah jadi aroma khas bus kota. Tapi bagi Fadil, mendingan naek bus kota daripada
naek kereta. Soalnya naek bus kota lebih banyak pilihan. Kalo kira-kira diliat dari luar di
dalem bus ga ada yang cucok, mending ga usah naek deh. Tapi kalo ada yang cucok…,
colok terus… sampe dapet nomer HaPenya. Hue he he.. dasar si Fadil. Lagian, mau kerja
aja sempet-sempetnya pilih-pilih bus kota. Adanya juga sampe kantor langsung didamprat
bos karena telat.

Fadil satu kantor sama Mista. Doi adalah Manager Sarana dan Prasarana di jasa
layanan transportasi Jakarta, Busway. Waktu luangnya banyak dihabisin buat berendem di
kolam renang, nyelem, nonton filem dan makan arem-arem. Tapi Fadil rada-rada penakut.
Mau pipis ke toilet aja kadang minta dianterin. Tapi doi ga mau ngaku kalo doi penakut.
Cuma Mista dan Andi yang tahu. Makanya doi sering jadi bahan cengan dua sohibnya.

9
10
Waktu Andi masih berniat ngekos di Jakarta dengan visi dan misi kebebasan,
BoNyoknya (baca; bokap nyokap) ngebuatin rumah di Tangerang. Makanya Andi ngurungin
niatnya bwat ngekos. Buat apaan? Buang-buang uang doang. Lagian rumah itu bakal bikin
Andi suangat bebas. Bebas dari ancaman razia pendatang dari kelurahan, bebas dari aturan
ibu kos yang kejam, bebas dari tagihan bulanan yang melilit kocek, dan masih banyak lagi
kebebasan lain yang bisa diperoleh Andi dengan menempati rumah itu. Soalnya, BoNyok
Andi kan tinggal di Ujung Pandang. So, Andi bakal bisa bugil, ngupil, nyempil dan gokil
semau-maunya. Kecuali saat ada Bi Cicih si panitia perlengkapan (pembokat kaleee) yang
siap melayani semua kebutuhan biologis Andi. Eit.. maaf, tolong kata biologis jangan dibaca.
Cukup semua kebutuhan Andi aja. Sebab kebenarannya masih diperiksa dan diselidiki oleh
KPK. Hui hi hi..

Nah, karena rumah Andi di Tangerang, perjalanannya ke kantornya yang di Jakarta


otomatis ga jauh beda kisahnya sama Mista dan Fadil. Andi juga bergelantungan dan desek-
desekan. Tapi doi lebih milih naek Busway daripada naek bus kota ato kereta. Soalnya doi
bisa puas ngadem sambil merem kayak Tukiyem asyik makan bayem. Sampe-sampe Andi
pernah pake celana rombeng, biar mirip ama tarzan O..uwouwo…

Enak bener ya jadi Andi. Mau rumah dibeliin, minta duit berapa aja dikasih, bahkan
doi punya villa pribadi di Puncak. Tapi kalo Andi minta mobil, tar dulu…

Dahulu kala, saat Tarzan masih bergelantungan bersama monyetnya. Eit.. loh kok
jadi tarzan seh… gini cerita sebenernya. Pokoknya, Nyokap Andi tuh udah trauma ama
kelakuan Andi. Sejarah mencatat bahwa Andi pernah memecahkan rekor MURI dalam
menghancurkan mobil pemberian orang tua.

Pertama, waktu kuliah di Jogja. Pas lagi wisata ke Puncak Kayangan (sebuah
dataran tinggi di sekitar Pantai Parangtritis) bareng-bareng temennya, mobilnya jatoh
dengan sukses ke jurang karena rem tangannya ga difungsiin. Menurut juru kunci puncak
yang terkenal dengan aura spiritual, mobil Andi menemui jodohnya yang bersemayam di
kerajaan Nyi Roro Kidul. (ga masuk akal kalee..)

Kedua, mobil Andi nabrak aki-aki yang lagi ngerumpi sambil makan gudeg di
Kasongan. Pasalnya Andi baru aja kesenengan karena doi baru beli asbak berbentuk kenti
yang udah lama dicarinya. Karena kesenengan, di mobil doi ngliatin tu asbak terus sambil
ngayal kemana-mana dan ga liat jalan. Alhasil begitu deh. Untung aja tu aki-aki kagak
mati karena punya tenaga dalem. Coba kalo mati, bisa-bisa Andi didemo orang sekampung
yang pro sama tu aki-aki supaya ngebalikin nyawanya lagi. Nah lo…, emang nyawa bisa

11
dibalikin?

Ketiga, Andi pernah nabrak panggung acara penyerahan sertifikat rekor MURI
kategori parade kencing berdiri dengan jumlah peserta 1001 orang, karena matanya
jelalatan ngliatin lekong cucok. Maka, polisi yang kebetulan selalu kebagian menangani
kasus kecelakaan yang dilakukan oleh Andi dan kebetulan lagi ikutan lomba, langsung
mengusulkan pada panitia bahwa Andi layak untuk mencatat rekornya. Jadilah hari itu ada
dua penyerahan sertifikat. Satu sertifikat parade kencing berdiri dengan peserta terbanyak,
dan yang satu sertifikat penghancur mobil terbanyak.

Nah, dari ketiga kasus itu, maka Nyokap Andi mengeluarkan pernyataan yang
berbunyi ; “dari pada kehilangan anak semata wayang mendingan kehilangan kutang
segudang.” Setelah itu, pintu Andi untuk minta mobil, ditutup sudah.

BoNyok Andi tinggal di luar pulau Jawa. Tepatnya di Sulawesi. Ini membuat Andi
terbiasa mengelola keuangannya secara mandiri. Selain itu Andi punya kebiasaan yang
nyerempet nyerempet jiwa sosial kalo kepepet. Sebagai contoh, Andi menyisihkan lima
persen dari penghasilanya tiap bulan untuk disumbangkan ke sebuah panti asuhan di
Sulawesi Selatan. Kadang-kadang doi nyumbangin pakaian bekasnya sama pemulung, dan
menghibahkan isi septiktanknya pada petani yang lagi mbutuhin pupuk. Bahkan Andi sempet
kepikiran pengen nyumbang kemaluannya pada tetangganya yang impoten. Gubrak.

Andi juga ga kalah ganteng sama dua sahabatnya. Alisnya panjang bak kambing
item beriringan, wajahnya tegas kayak unggas, bulu matanya lentik dan keriting karena
pernah ga sengaja kesundut korek api, matanya sama rata, ditambah burung pipit yang
menclok terus di pipinya ga mau lepas, bikin senyumnya manis kayak gula, sampe tiap
kali Andi senyum, semut-semut pasti berdatangan pengen nyobain manisnya senyum Andi.
Selain itu, tinggi badannya yang 180 senti dan berat badan proporsional, bikin semua cewek
dan cowok juga semua kendaraan yang lewat, langsung pada berhenti buat ngliatin Andi
sambil ngiler. Makanya Andi juga pernah ditangkep polisi gara-gara dianggep biang pembuat
kecelakaan dan kemacetan.

Sama kayak kedua temennya, doi kerja di jasa layanan TransJakarta, Busway,
di posisi Finance Departement. Di selang-selang kesibukannya yang bejibun, Andi wajib
ngeluangin waktunya buat dugem, denger musik sambil makan keripik, plus maen icik-icik.
Andi juga berjiwa pemimpin. Saking berjiwa pemimpinnya, apa aja dipimpin. Bebek aja
dipimpin.

12
Kisah cintanya kandas karena boyfriendnya ga bisa balik ke Jakarta nungguin
sanak sodaranya yang kena lumpur lapindo di Jawa Timur. Sejak saat itu Andi lebih milih
konsentrasi sama kerjaan dari pada harus mikirin cinta.

Mista, Fadil dan Andi udah sohiban sejak jaman nabi adam masih hidup. Hihi...
ga ding… Mereka mulai sohiban semenjak penerimaan karyawan baru di jasa layanan
transportasi busway. Biarpun sohiban erat, tapi mereka bertiga punya bejibun perbedaan.
Diantaranya beda emak, beda bapak, beda nama, beda rumah, beda sekolah, beda sejarah,
beda tinggi badan, beda berat badan, dan ratusan perbedaan yang kalo ditulis ga bakal abis-
abis. Yang ada kitanya keburu tua. Tapi yang jelas, ada persamaan yang membuat mereka
tambah nempel kayak perangko.

Pertama, mereka sama-sama menyandang predikat The Jomblo Gay.

Kedua, mereka sama-sama hobi naek kendaraan umum. Jadi bukannya ga sanggup
beli kendaraan. Tapi rasa cinta mereka terhadap kendaraan umum udah kayak cintanya
Romeo en Juliet ato Samson dan Delilah. Yah, untungnya aja mereka ga nepsong buat
nyipokin belahan jiwa mereka itu. Kalo iya, mereka bisa langsung dijeblosin ke RSJ sama
masyarakat karena dianggap gila.

Bagi mereka betiga, naek kendaraan umum adalah obat stress paling mujarab bwat
ngelupain sejenak segudang kerjaan kantor. Anjuran ngunjungin tempat sepi kayak gunung,
pantai atau kuburan buat ngilangin stress, adalah hal yang basi bagi mereka betiga. Kata
mereka, itu membutuhkan nyali yg cukup tinggi, waktu yang tepat, dan ga bisa dilakuin saat
kocek lagi melarat. Tapi hobi yang mereka miliki, ga perlu anggaran dan waktu yang khusus.
Cukup dengan tiga ribu rupiah bagi yang naek kereta api, tiga ribu lima ratus rupiah bagi
yang naek Busway dan dua ribu lima ratus rupiah bagi yang naek bus dalam kota.

Tapi ada beberapa hal yang mengurangi kenikmatan mereka melakukan hobinya.
Yaitu:

Pertama, kalo kendaraan umum yang mereka tumpangin sepi penumpang. Soalnya
ga ada yang bisa dijadiin mangsa.

Kedua, kalo kendaraan umum yang mereka tumpangin isinya rata-rata perempuan.
Gubrak. Maklum… gay gitu loh, bo…

13
Walaupun mereka bekerja satu kantor mereka berusaha seprofesional mengkin,
dan ga show of tentang orientasi sexual mereka yaitu gay karena berbagai macam
pertimbangan. Salah satunya karena di kantor tersebut masih banyak bergentayangan
orang-orang yang homopobic, alias anti-homo. Padahal seh kalo di kalangan orang yang
satu nusa satu bangsa sama mereka, udah ketauan banget. Patung Pancoran aja tau kalau
mereka itu adalah gay.

14
15
Waktu udah nunjukin pukul lima sore hari. Tanda buat para pekerja kantoran buat
go home, alias balik ke rumahnya masing-masing. Tapi ada juga yang kelayapan dulu buat
refreshing, cari makan, or cari gebetan baru bagi yang maseh jomblo ato bagi yang pengen
punya pacar lebih dari satu. Sore itu, Mista, Fadil dan Andi lebih milih bwat nongkrong
di Coffee Shop langganan mereka dulu daripada langsung pulang ke habitatnya masing-
masing. Itung-itung ngeceng dan ngelepas lelah sambil minum kopi.

Coffee Shop langganan mereka itu terletak di jantung ibu kota Jakarta. Tempatnya
strategis dan prestis karena terletak di daerah bisnis. Selain itu, Coffee Shop ini juga udah
dikenal di seantero jagad sejak zaman rezim Suharto sebagai tempat ‘berburu’. Rama-
Rama pemburu duta, dan Shinta-Shinta penjaja cinta siap nemenin siapa aja asal harganya
cocok.

Hilir mudik kendaraan, pedagang asongan, dan kerlap kerlip lampu jalan yang udah
mulai dinyalain menjelang malem seh udah jadi bonus yang membosankan bagi warga
Jakarta yang ingin menikmati kopi di pelataran depan. Tapi bagi warga luar Jakarta, bonus
gratis tersebut bisa jadi alat cuci mata yang paling tokcer, sekaligus cindera mulut alias
bahan cerita seru buat diceritain ke temen-temennya kalo balik ke kampung.

“Gays.., bosen ga seh lu semua pada ngejomblo?” Andi tiba-tiba aja nyeletuk
membuka pembicaraan.

“Yah, Ndi. Baru aja duduk. Narik napas aja belom sempet, lu udah ngomongin
masalah jomblo. Bikin bete aja neh.” Tiba-tiba bibir Mista jadi jontor kayak habis kejedot
tembok saking bete denger omongan Andi.

“Bukannya getoh… Masalahnya bentar lagi taon baru neh.. Udah tinggal sebulan
lageh.. Lagian kan udah satu taon kita ngejomblo.” Bales Andi

“Trus, maksud loh?” tanya Fadil cuek bebek sambil ngiderin pandangannya nyari
gebetan yang bisa dibuat cemilan.

“Ah, pada ga seru amat seh.. Emang pada ga bosen apa sama idup yang begini-gini
aja.” Desak Andi. Maksudnya seh mau ngasih semangat… Tapi apinya kurang gede kale, jadi
yang laen adem ayem aja.

“Ya emang yang namanya idup begini-begini aja. Kalo mau beda, pergi aja ke
neraka sono. Pasti ga gitu-gitu aja deh.” Celetuk Mista rada males.

“Neh…, maksud aku, aku punya ide seru bwat bikin hidup kita agak berwarna dikit.”

16
Andi nyoba ngasih usul. Untung bukan ngasih bisul.

“Kalo lu mau hidup lu berwarna mah gampang atuh. Sok, sekarang ambil cat aer,
habis itu gwe cemong-cemong deh muka lu. Beres. Jadi muka lo berwarna, dan kalo muka
lu berwarna, pasti idup lu juga baru. Soalnya orang sekeliling lu pasti pada ngliatin lu semua
kayak ngliatin topeng monyet.” Canda Mista.

“Ah.. lu becanda aja, Mis. Aku serius, nih. Gimana kalo kita buat permainan
menjelang taon baru ini?” usul Andi sambil garuk-garuk pantat.

“Permaenan apaan? Halma” tanya Fadil ga interest sambil ngilik-ngilik kuping. Abis
Andi ngomongnya sambil garuk-garuk pantat, gimana mau pada interest?

“Sebulan lagi kan taon baru…” Demi membuat kedua temennya tertarik, Andi
sekarang ngomong sambil berdiri dengan gaya bak penyair lagi baca puisi. Tapi ternyata
Fadil dan Mista masih cuek bebek.

“So, gays… Find Your Boyfriend, buat jadi temen kencan lu pas pergantian taon.”
Lama-lama Andi ngomong sambil joget sampe semua yang dateng ke Coffee Shop pada
ngliatin, dikirain ada orgil nyasar. Demi ngliat Andi ngomong sambil berjoget ria, Mista dan
Fadil kontan langsung menarik Andi supaya duduk lagi di kursinya.

“Lu jangan kayak monyet lepas dari kandang gitu atuh. Ngerakeun wae, yeuh…”
kata Mista setengah berbisik saking malunya. Mukanya udah merah merona kayak tomat
busuk.

“Abis lu bedua pada ga merhatiin seh.” Pelotot Andi yang hampir ngamuk.

“Iya, iya. Sekarang kita perhatiin. Untung Satpam belom datengin lu. Ga bosen lu,
mampir lagi ke kantor polisi? Apaan barusan lu bilang? Find Your Boyfriend?” Fadil mencoba
meyakinkan kembali. Kali aja kupingnya udah rada kesumbat.

“Iya, Find Your Boyfriend…. Buat jadi temen kencan lu pas pergantian taon nanti.“
ulang Andi lagi.

“Ah, aya-aya wae sih elu mah. Sok gimana, jelasin lebih lanjut. Daripada lu joget
lagi. Tar kita yang repot.”

“Jadi gini…” jelas Andi mulai bersemangat karena usahanya bwat bikin temen-
temennya merhatiin omongannya berhasil dengan sukses. “Selama sebulan ini, kita kudu
nyari someone yang bisa kita jadiin teman kencan pas pergantian taon nanti.” Jelas Andi

17
dengan wajah senang benderang.

“Kalo permainan berarti ada yang menang dan ada yang kalah nih?” tanya Fadil
kayak orang bloon. Sebenernya sih doi cuma pengen nyenengin Andi doang. Daripada Andi
putus asa terus masuk Rumah Sakit Jiwa? Bisa-bisa Fadil diseret juga ke kantor polisi karena
udah bikin orang jadi stress.

“Ya iyalaaaah…. Kalo diantara kita ada yang kalah dia pasti harus dapat hukuman.
Dan hukumanya aku serahin ke kalian berdua. Gimana? Mau pada ikutan ga?”. Tawar Andi
pada dua sahabatnya yang kini lagi liat-liatan sambil mengernyitkan dahi, persis berenyit.

“Hmmm… kalo ada hukumannya segala seh, kayaknya boleh juga tuh. Seru.”
Gumam Mista sambil muterin kepala kaya orang lagi tripping. “Bolehlah. Tapi gimana dulu
aturan maennya?”

“Nanti dulu dong. Fadil Gimana? Mau ikutan ga?” tanya Andi sama Fadil yang kini
ikut-ikutan muterin kepalanya, alias mikir.

“Siplah. Kalo Mista ikut, ane juga ikut…” jawab Fadil akhirnya. Andi nyengir kaya
kuda saking seneng usulnya diterima.

Tiba-tiba aja dateng seorang waiter buat nanyain pesenan mereka. Di dadanya
terpampang nama yang cukup jelas. ‘Dika’ namanya. Karena waiter itu waiter baru…, kontan
aja Fadil sama Mista ngliatin Dika sambil netesin liur. Habis, Dika emang lumayan manis seh.
Kayak kue tar. Enak dijilat.

“Sore.., Mau pesen apa, mas?” tanya Dika sambil memasang senyum manis yang
selalu dibagiin gratis sama pelanggan-pelanggannya.

“Baru ya?” Fadil bukannya jawab pertanyaan Dika, malah nanya yang laen. Ga malu
lagi kliatan ilernya udah netes.

“Iya, mas..” Dika tetap menjaga supaya senyumnya ga ilang. “Pesen apa?”

“Pesen baso deh, dua.” Omongan Fadil jadi ngelantur kemana-mana.

“Heh! Bloon! Ini Coffee Shop, bukan warung baso!!!” Andi njitak pala Fadil sampe
benjol. Fadil pun langsung tersadar dari bayangannya yang udah kemana-mana. “Lagian,
iler lu lap dulu noh! Malu-maluin tanah air, lu!” sambung Andi lagi. Bukannya malah takut,
Dika malah ketawa, bikin mukanya tambah kliatan muanisss banget. Fadil hampir lupa diri
lagi. Untung suara Andi segera nyadarin doi.

18
“Kelamaan lu. Aku expresso ya, mas.” Pesen Andi, yang langsung dicatat dengan
gesit oleh Dika.

“Gwe Black Coffee dong” sambung Mista yang diem-diem sebenernya juga ngiler
ngliat Dika. Tapi Mista lebih kekontrol. Sebelum ilernya jatoh, udah keburu diisep duluan
ma doi.

“Lu apa, dil?!!” tanya Andi sewot.

“Eehh…Saya pesen Hot Chocolate ya. Yang putih kayak kamu.” Sahut Fadil grogi.
Tiba-tiba aja suaranya jadi serak kayak suara kodok, tanpa sadar bahwa doi salah ngomong
lagi.

“Woi!! Sadar Woi!! Di sini ga sedia Hot Chocolate putih, o’on!!” teriak Andi, kali ini
pas di kuping Fadil yang masih cengo ngliatin Dika.

“Eh, maksudnya Hot Chocolate aja.” Ralat Fadil masih grogi. Dika mencatat semua
pesanan sambil senyum-senyum, bikin Fadil tambah melayang.

“Ada pesenan lain, snack ato lainnya?” tanya Dika tetap sopan sambil terus menebar
senyum manisnya.

”Itu dulu deh, mas.” Jawab Andi sambil terus melototin Fadil.

“Oke, saya ulangi ya. Satu expresso, satu black coffee dan satu Hot chocolate.
Ditunggu sebentar ya mas. Kalo ada yang ingin dipesan lagi, panggil saya saja, nama saya
Dika” tuntas Dika. Lantas dia pun pergi dari hadapan mereka betiga, meninggalkan Fadil
dan Mista yang masih pada ngiler sama ketampanan Dika.

“Brondong… brondong…” gumam Fadil sambil terus ngeliat ke arah Dika


menghilang.

“Husss! Mau dilanjutin ga, neh?!” Andi memotong lamunan Fadil.

“Iye iye… ane disini. Gimana aturan maennya?” sahut Fadil cepet.

“Tumben lu nyautnya cepet. Pengen cepet-cepet ngegaet si Dika ye?” tanya Andi
curiga.

“Kagak…” Fadil ngelak. ”Udah buruan, gimana aturan maennya”

“Ya udah. Jadi permainannya gini… Kita kan masih punya waktu satu bulan menuju
pergantian taon. Itu berarti waktu kita buat cari BF alias boyfriend adalah empat minggu.”

19
Terang Andi berusaha seterang-terangnya sampe ga nyadar kalo dia cuma ngulang kalimat
doang. Mista sama Fadil cuma ber-ham ham hem hem daang ngedengerin penjelasan
Andi.

“Nah,” lanjut Andi lagi “Kita akan melakukan pertemuan evaluasi di minggu kedua.
So, lima belas hari kemudian, dimulai dari sekarang, kita akan mengadakan evaluasi dan
membahas langkah selanjutnya. Sampe sini ada pertanyaan ga?” gaya Andi lama-lama jadi
kayak guru matematika. Mista sama Fadil geleng-geleng semua. Muka mereka berkerut-
kerut saking seriusnya.

“Nah, kalo di minggu kedua itu ternyata kita udah punya pasangan semua, berarti
kita harus buat kesepakatan baru.”

“Kesepakatan naon deui?” celetuk Mista.

“Gini, kalo di minggu kedua kita udah punya temen kencan semua, itu berarti draw.
Setelah itu kita harus segera mutusin teman kencan kita. Lalu kita lanjutin permainan kita
pake step kedua.” jelas Andi.

“Kok tiba-tiba ada step kedua segala? Step satunya mana?” putus Mista yang
kayaknya mulai pusing dengan penjelasan Andi

“Ini baru mau gue jelasin… Sabar dong, Mis…” Andi menenangkan. “Step pertama,
kita diharuskan nyari teman kencan di kendaraan umum sesuai alat transportasi yang kita
tumpangin setiap hari. Contohnya gwe ke kantor naik busway, brarti gwe harus nyari temen
kencan di dalem busway. Trus Fadil nyari di bus kota, dan elo brarti harus nyari di kereta api,
ta.” Jelas Andi. Fadil dan Mista manggut-manggut.

“Step kedua, kita diharuskan nyari temen kencan lewat hobi masing-masing.
Misalnya aku hobi dugem, so aku akan cari teman kencan di diskotik. Fadil, karena suka
renang, berarti harus cari di kolam renang. Dan karena Mista suka chatting, berarti lu harus
cari temen kencan di dunia maya. Gimana? Clear lom...?” Yang laennya lagi-lagi manggut-
manggut kayak orang Jepang.

“Clear, clear.” jawab Fadil mulai paham.

“Trus, mengenai hukumannya gimandang?” tanya Mista.

“Maaf menganggu, ini pesanannya” Tiba-tiba aja wajah Dika udah nongol lagi di
depan mereka betiga, sambil meletakkan cangkir atu-atu di atas meja. Kontan aja semua
lamgsung ga konsen, terutama Fadil yang udah nelenin ludah terus biar ga ngiler.

20
“Makasih ya…” kata Fadil dengan tampang semanis mungkin. Dika pun membalas
senyum Fadil dan langsung pergi setelah beres ngelakuin tugasnya.

“Woiiii... konsen, konsen…” Andi berusaha menyadarkan temen-temennya yang


pada terpana.

“Iye..iye… trus gimane neh?” kata Fadil segera tersadar lagi setelah baru aja
kesambit setan cakep yang namanya Dika.

“Jadi gene.., Karena kita betiga.., so aku pengen semua nyiapin hukuman. Jadi tar
yang kalah harus njalanin ketiga hukuman itu. Gimane?” tawar Andi.

“Tar dulu, jadi maksud lo, misalnya kalo gwe kalah, gwe harus jalanin hukuman dari
lo bedua, dan jalanin hukuman yang gwe bikin sendiri juga?” tanya Fadil memastikan.

“Exactly white.” Kata Andi dengan sok pede pake bahasa Inggris.

“Tar dulu, maksud lo exactly right?” inget Mista.

“Iya, exactly tight..”

“Right, bloon” tegur Fadil gemes. Habis andi emang suka sok-sokan pake bahasa
Inggris, tapi sering banget salah.

“Iya, exactly right” Andi nyengir kesenengan kayak hantu yang lagi nakut-nakutin
manusia. Kalo ga inget bahwa yang ada di depan mereka adalah sohib mereka ndiri, Mista
sama Fadil pasti udah lari terbirit-birit. “So, sekarang waktunya nentuin hukuman.”

“Waduuuh…, hukumannya dua aja dong, Ndi… Jadi misalnya kalo gwe yang kalah,
hukuman lo bedua doang yang dipake. Hukuman yang gwe bikin kagak usah…” Fadil
memasang tampang persis kucing yang lagi merayu tuannya.

“Eit… ga usah la yaw… Tadi kan lo udah setuju buat ikutan game ini. So, pool is the
pool, n noway to turn back” Tandas Andi setandas-tandasnya.

“Tar dulu, maksud lo Rule is the rule?” tanya Mista meyakinkan diri.

“Iya, fool is the fool.” Jawab Andi.

“Jauh amat sih Ndi?!!!” Rule, bloon… rule… Rule is the Rule.” Protes Fadil. Matanya
sampe mau keluar saking ngototnya.

“Iya, pokoknya itu. Bawel amat sih lo pada. Ga mulai mulai neh tar. Ya udah
langsung aja. Kita mulai ya. Siapa duluan neh yang mau nentuin hukuman?”

21
“Gwe.”

“Ok, Mis. Lu duluan. Kayaknya lo paling semangat neh, dibanding Fadil. Fadil sih
letoy…”

“Hukuman dari gwe gini” Mista menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya


dengan semangat sampe keluar asep, persis dukun santet. “Yang kalah, dikasih bonus
‘kucing’ (cowok panggilan)”

“Waaah… enak banget itu mah. Lo pasti udah siap-siap kalah ya, Mis?” Tuduh Fadil.

“Belom selesei, ndut… Nah, udah gitu, doi harus buat video bokep sama tu ‘kucing’
tentunya sama hidden camera.”

“Wah, gawat lo…” celetuk Fadil lagi.

“Lo tenang aja, dil… Aturannya, tu video ga boleh disebar… cuman buat lucu-lucuan
kita doang… Jadi abis kita tonton bareng, langsung musnahin tu video, tanpa ampun!
Gemana?” kini giliran Mista yang nyengir kayak hantu sampe bikin sepasang muda-mudi
yang lagi mesra-mesraan di meja yang ada di depan Mista, langsung kabur demi melihat
cengiran mautnya. Fadil dan Andi manggut-manggut denger hukuman dari Mista.

“Boleh juga tuh.” Celetuk Fadil “Tapi habis itu videonya bener-bener langsung
dibuang ya. Salah-salah tar tu video bisa bikin heboh orang seIndonesia lagi.”

“Siiip. Itu tar jadi urusan aku.. Tenang aja dil…” Andi menenangkan kayak malaikat
yang nongol bawa payung di siang bolong. “Soal ‘kucing’ juga, biar aku yang tanggung. Ok.
Hukuman dari Mista disepakatin. Sekarang hukuman dari elo, dil.” Lanjut Andi. Sekarang
semua mata tertuju ke arah Fadil.

“Oke! Siapa takut. Gwe juga udah nyiapin hukuman yang ga kalah dari hukumannya
Mista.” Sahut Fadil dengan pedenya. “Hukuman dari gwe adalah sebuah hukuman yang
sangat seru dan mengharu biru juga menyenangkan sebagaimana yang bisa kita temukan
di tempat-tempat hiburan yang sangat…”

“KELAMAAN!!” teriak Mista dan Andi serempak di kuping Fadil. “Bilang aja lo belom
nemuin hukuman yang bagus. Iya kan.” Tuduh Mista dengan mata yang menyipit, bikin
mukanya kayak Andi Lau kejebur oli.

“Kata siapa? Gwe udah nemu kok.” Otot Fadil.

“Ya udah, buruan! Ngulur waktu aja elu mah.” Mista langsung gondok. Lehernya

22
ngembung kayak kodok.

“Iye.., sabhar… sabhar… Orang sabhar disayang Tuhan” kata Fadil dengan gaya bak
Ustad Mansyur. Tapi mukanya langsung berubah serius demi melihat dua temennya udah
mau ngelempar cangkir kopinya masing-masing ke kepala Fadil.

“Iya iya.., hukuman dari gwe gene…, yang kalah harus foto bugil dengan pose ala
model-model kalender bokep. Tar yang motret gwe ndiri deh, biar ga nyebar ke tangan-
tangan yang ga berwenang. Getoh. Gimane? Bagus kan ide gwe?” Fadil tersenyum lebar
tanpa nampakin giginya.

“Biasa aja kaleeee” Mista dan Andi kompakan lagi ngeledek Fadil.

“Nah kalo lu yang kalah tar yang moto siape?”

“Ya siape kek.. Lu kek… lu kek. Asal jepret aja kan bisa.”

“Ya udah. Gimana Mis? Lu setuju ga sama hukumannya Fadil?” tanya sang moderator
dengan sok tegas.

“Ah, cuma begetoh doang mah siapa yang takut. Lanjuuut.”

“Ok. Hukumannya Fadil disepakatin” Andi mengetok meja tiga kali sama sendok
yang diumpamain palunya pak hakim. “Brarti sekarang tinggal hukuman dari aku.” Kata Andi
sambil sedikit mendramatisir suasana, bikin Fadil dan Mista nunggu dengan deg-degan.

“Kalo hukuman dari aku sih gampang. Yang kalah harus beli dua ekor kambing,
terus..”

“Aaaaah… Mati deh gwe. Ga mau, ga mau!!” teriak Mista tiba-tiba.

“Apaan sih lu? Orang aku belom beres kok udah maen ga mau ga mau aja.” Protes
Andi.

“Ga mau, pokoknya gwe ga mau kalo yang ntu, mah.” Kata Mista heboh sendiri
kayak bebek lagi cari induknya. “Ngegituin kambing kan maksud lo?”

“Ngegituin gimane?

“Ngegituin… ngegituin….” Mista berusaha jelasin sambil ngeden-ngeden. Untung aja


ga mencret di celana.

“Ngegituin, ngegituin. Yang jelas ah bahasanya. Tar salah persepsi bahaya, lagi.”
kata Andi lagi. Mista yang udah ga bisa ngejelasin pake mulut lagi, akhirnya harus jelasin

23
pake tangan. Doi masukin jempolnya diantara jari tengah dan jari telunjuknya sendiri, dan
mengacungkannya ke Andi.

“Waah… Makanya, otak lo seh isinya bokep mulu. Mikirnya ga jauh dari sempak.”
Andi langsung menepuk jidat Mista setelah tau maksudnya. “Dengerin dulu yang bener pake
dua kuping lu. Ato kalo kurang, aku sumbangin neh kuping aku satu buat lu. Dasar ngeres.”
Gerutu Andi.

“Trus apaan dong?” tanya Mista.

“Hukuman dari aku ga pake jorok-jorokan deh. Setelah lu beli dua ekor kambing, lu
sumbangin deh tu kambing ke orang-orang kampung yang membutuhkan. Biar malem taon
baruan kita dapet berkah. Ga dosa mulu.” Tandas Andi.

“Ooooh…, disumbangin. Dasar lu otak sumbangan.” Celetuk Mista rada malu, tapi
sempet-sempetnya ngeledekin Andi. Maksudnya seh biar doi ga malu-malu amir… Orang si
Amir aja ga malu-maluin..

“Udah. Pada setuju ga neh sama hukuman gwe?”

“Hukuman lu mulia amat seh… Padahal hukuman kita bedua, isinya dosa semua.”
Fadil sempet-sempetnya nyeletuk.

“Ya biarin. Kan biar taon baru tar, dosa sama pahalanya setimpal. Gitu loh bo…”

“Iya juga ya. Ya udah, ane setuju.” Sambut Fadil.

“Lo gimana Mis…?

“Ah, cuman gitu doang mah setuju ajalah. Sipil itu mah.” Mista menjentikkan
jarinya.

“Ok, berarti.. tiga hukuman udah disepakatin. Dan aku ulangin. yang kalah harus
ngejalanin tiga hukuman itu. sampe sini clear?

“Clear.” Mista dan Fadil jawab barengan.

“Oke, good. Nah, sebelom aku akhirin, ada beberapa aturan permainan lagi yang
harus kita jalanin.”

“Aduh, lieur urang yeuh. Banyak amat sih peraturannya Ndi.” Protes Mista.

“Eit.., inget yang barusan ga? Cool is the cool, n no way to turn back.” Tegas Andi
agak sedikit lebih kejam dibanding tadi. “kalo banyak protes, tar aku joget lagi loh.” Ancam

24
Andi sambil melotot.

“Jangan.. jangan.. sok atuh apa lagi aturannya. Tapi bukan Cool, Ndi… Rule…” ralat
Mista sambil rada ketakutan denger ancemannya Andi.

“Eit…, jangan protes. Aku joget neh..” ancem Andi.

“Iya ga ga. Udah cepetan lanjut.” Mista nyerah.

“Jangan dipotong ya, omongan aku. Kalo sampe dipotong, tar kalian aku hukum
suruh ngambilin upilku yang kebetulan belom dibersihin ini, loh.” Lagi-lagi Andi ngancam.
Kali ini kayaknya ancamannya lebih kejam. Kontan aja Mista ama Fadil langsung diem beribu
bahasa. Ngeluarin suara ‘hmm’ aja nggak berani.

“Oke, Aturannya gini,” lanjut Andi setelah ngeliat kedua sohibnya pada bungkem
semua kayak dijejelin arem-arem sepuluh biji.

“Pertama, setiap kejadian, sekecil apapun, wajib ditulis di sebuah buku diari kecil
yang tar bakal aku bagiin satu persatu... Dan jangan lupa bwat membawanya waktu
pertemuan kita selanjutnya di minggu kedua.

“Kedua, dilarang berkomunikasi sebelum minggu kedua kecuali ada hal yang sangat
URGENT.

“Ketiga, diharamkan merebut pacar orang, karena itu adalah bentuk kekerasan non
fisik yang bisa menyebabkan orang berdarah-darah hatinya.”

“Keempat, alias aturan terakhir, diharuskan membeli nomer baru selama permainan
ini berlangsung, dan setelah permainan berakhir, kita buang semua nomer tersebut.
Gemana, clear semua?” Andi mengakhiri segudang peraturannya yang bikin Fadil dan Mista
pusing dan muter kayak baling-baling. Mista dan Fadil pun ngangguk-ngangguk tanda
setuju. Tapi ga tau pada ngerti apa nggak.

“Pas malem taon baru, kita harus kumpul di sini udah dengan pasangan masing-
masing. Habis itu kita berangkat ke Villaku yang ada di Puncak. Segala peralatan akan
aku siapin, termasuk hidden camera dan studio foto. Tapi kalo kambing, tanggung sendiri-
sendiri ya…” demikian pesen terakhir Andi.

Setelah kesepakatan disetujui dan cangkir-cangkir udah pada kosong, mereka


bertiga pun kembali ke habitatnya masing-masing.

25
26
Biasanya Mista, Fadil dan Andi selalu ngerumpi dulu di kantin bwat ngegosipin
berbagai hal. Mulai dari gosip terhangat selebritis, harga sembako, atasan yang galak,
karyawan baru yang cucok, sampe harga tokek yang lagi meroket. Tapi di hari pertama
ini mulut mereka kayak dibordir ama mesin jahit. Ga ada obrolan sama sekali di antara
mereka. Boro-boro ngobrol. Sapa-sapaan aja ga.. Kalo ga sengaja papasan di kantor,
mereka langsung saling melengos. Mereka bener-bener memegang teguh kesepakatan
yang udah mereka omongin kemaren.

Tingkah mereka yang tiba-tiba jadi rada aneh ini, tentu aja mengundang pertanyaan
besar bagi orang-orang di sekitar mereka. The gosipers yang ga pernah mau ketinggalan
berita, udah pada was wes wos aja di belakang mereka betiga. Apalagi para paparazzi yang
menyebar di seluruh penjuru kantor. Tentunya mereka langsung berburu berita sampe
tuntas buat ngasih makan para gosipers yang udah pada kelaperan nyari mangsa.

Kayak yang satu ini neh. Namanya Bu Minah. Jabatan doi di situ adalah sebagai
bu kantin ngerangkep paparazzi yang ga ngarepin honor. Buat doi, ngasih makan orang
plus ngasih bonus gosip, adalah kepuasan yang ga bisa dibayar pake duit berapa pun.
Pengabdiannya sebagai paparazzi udah ga perlu diragukan lagi. Makanya the gosipers
seneng banget nongkrong di situ. Kantin Bu Minah emang udah jadi kantor berita dan pusat
gosip seputaran kantor.

Pagi-pagi, Bu Minah udah injit-injit semut, alias berjingkat-jingkat, ngintipin tingkah


laku tiga serangkai yang tiba-tiba pada diem-dieman itu. Yang pertama bikin curiga doi,
adalah kedatangan Mista yang ga diikutin kedua sohib kentelnya. Padahal biasanya pagi-
pagi tiga serangkai itu udah nongkrong kayak kucing garong cari ikan sotong.

“Mis..,. tumben makannya sendirian. Yang laen pada kemana?” Dengan hati-hati,
biar ga dicurigai, Bu Minah nanya ke Mista yang lagi asik sms-an.

“Tau.” Jawab Mista acuh tak acuh, yang langsung disambut dengan rasa penasaran
yang tambah gede di hati Bu Minah. Bu Minah langsung nyengir kuda. Tingkah laku Mista
menandakan bahwa emang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka bertiga yang harus
dicari tau sebabnya buat disebar ke para gosipers yang ada di seantero kantor.

“Lagi pada marahan ya?” jiwa paparazzi Bu Minah mulai ga tertahankan lagi. Tapi
doi masih ja’im, jangan sampe pertanyaannya terkesan nyelidikin banget. Tar Mista ga mau
ngasih info. Bisa gatot alias gagal total deh usahanya berburu berita.

“Ah, ga. Lagi males aja ngegerombol kaya ikan tongkol” sahut Mista sekenanya. Bu

27
Minah manggut-manggut sambil ngelirik Mista dengan penuh selidik.

Jiwa paparazzinya semakin menjadi waktu ngeliat Fadil dateng dan sama sekali
ga tegor-tegoran sama Mista. Bahkan Fadil duduk di tempat yang agak jauh dari tempat
duduk Mista. Apalagi, dugaan bahwa telah terjadi sesuatu di antara tiga sejoli itu, diperkuat
ketika Bu Minah ngliat Mista langsung melengos liat ke arah laen begitu Fadil dateng. Rasa
penasaran Bu Minah yang asalnya cuma segede rumah, langsung jadi segede gedung
bertingkat ngliat kejadian itu. Tapi demi membuat Mista dan Fadil ga curiga, Bu Minah
belagak adem ayem, ga nunjukin muka penasarannya.

“Bu, soto ama teh botol ya. Jangan pedes” pesen Fadil sama Bu Minah.

”Lagi pada marahan ya, Dil? Kok jauh-jauhan?” Bu Minah memberikan pertanyaan
yang sama ke Fadil.

“Ah, ga. Lagi males aja ngegerombol kaya goreng jengkol”, sebuah jawaban
yang hampir sama keluar dari mulut Fadil. Sama-sama berakhiran ol. Cuma kalo Mista
belakangnya ikan tongkol, ini goreng jengkol. Bu Minah langsung mengernyitkan dahi.
Otaknya mulai muter kayak komedi puter.

“Bu, rendangnya dong ama teh botol” ga berapa lama tampang Andi udah nongol di
depan hidung Bu Minah. Kontan aja Bu Minah yang lagi sibuk muter otak mikirin ol-nya Mista
dan Fadil, kuaget setengah mati.

“E pistol, e borgol, e be’ol, e kon..” untung aja Bu Minah udah keburu nyetop
latahnya sendiri. “Aduuuh, Ndi. Kamu ini ngaget-ngagetin aja.

“Yee.., malah nyalahin saya. Makanya kalo kerja jangan sambil ngelamun.” Jawab
Andi sambil ngeloyor menuju meja makan. Lagi-lagi Bu Minah menemukan keanehan. Andi
juga duduknya jauh-jauhan sama dua sejolinya. Mereka sama sekali ga bertegur sapa.
Paling cuma ga sengaja ngelirik, abis itu langsung melengos.

“Lagi pada marahan ya, Ndi?” lagi-lagi Bu Minah melontarkan pertanyaan yang
sama ke Andi sambil nganter makanan yang dipesen Andi.

“Ga. Lagi males aja ngegerombol kaya dodol” Yups... Akhirnya Bu Minah dengan
sotoy-nya ngambil kesimpulan sementara dari investigasi singkatnya, bahwa Andi, Mista
dan Fadil lagi marahan gara-gara ‘…ol’ Setelah menyimpulkan demikian, Bu Minah pun
sibuk. Dia pun langsung nyiapin alat paparazzinya yang berupa handphone, trus langsung
motret sana motret sini dan bisik sana bisik sini. Semua yang dateng ke kantin, dibisikin

28
sama doi. Sampe kucing lewat aja ikut dibisikin.

“Eh, trio Mista, Fadil dan Andi lagi marahan lho…”

“Kenapa emangnya?”

“Tau. Tapi yang pasti sih, mereka marahan gara-gara ol ol gitu deh...” Begitu kira-
kira gosip yang disebar gratis ke seluruh pengunjung yang mampir ke kantinnya.

Kantor pun menjadi heboh. Berita menyebar cepet banget lebih cepet dari pencarian
google. Semua bisik-bisik ngomongin trio macan itu.

“Katanya si Mista, Fadil n Andi pada marahan gara-gara ol, ya?”

“Katanya Bu Minah seh getoh.”

“Marahan gara-gara apa ya? Marahan gara-gara rebutan ongol-ongol?”

“Ah, masa gara-gara rebutan ongol-ongol. Gara gara jambu bol kale.”

“Bukan. Gara-gara bo’ol kale.” Begitulah kira-kira gosip yang dengan hangat
menyebar di kantor hari itu. Sedangkan Fadil, Mista dan Andi, pura-pura cuek bebek.
Bukannya mereka ga tau kalo mereka lagi digosipin. Justru mereka seneng. Serasa jadi
selebritis gitu loh… Lagian mereka punya prinsip, Anjing menggonggong, kafilah tetep ke
dugeman. Dan tingkah mereka yang bikin orang penasaran itu, terus berlanjut sampe
menjelang minggu kedua, kayak yang udah disepakatin.

29
30
Hari ke-1

Dasar si Andi, aya-aya wae. Awalnya gwe malaysia ikutan taruhan kaya model
begindang. Tapi akhirnya gwe ngerasa tertantang juga seh. Demi persahabatan gwe terima
tantangan ini. Lagian emang seh, gwe ngerasa hidup gwe gini-gini aja. Dinamikanya ga ada,
boring, bosen dan bete. Habis, di rumah juga yang diadepin itu-itu doang. Tingkah adek gwe
yang rada aneh karena suka ngobrol sama tokek, n curhatan Nyokap gwe.

Ni hari kayaknya gwe sial deh. Masa naek kereta isinya aki-aki smuwa. Abis itu aki-
akinya pada doyan ngelirikin gwe smuwa lage. Untung aja ga pake ngelus-ngelus paha. Kalo
ga, hiiii… mending gwe kabur aja deh dari tu kereta, biarpun kudu loncat dari jendela juga.
Biar aja gwe mati kecelakaan, daripada gwe harus mati dielusin aki-aki. Hooeekss..

Hari ke-2

Kemaren kereta isinya aki-aki smuwa, sekarang isinya pewong smuwa. Buete dah
gwe. Mana tu pewong tingkahnya sama kayak aki-aki kemaren lage. Pada ngelirikin gwe,
senyam senyum, mesam mesem… dikiranya gwe naksir kale. Ih, ga deh.

Hari ke-3

Ga tau kenapa hari ini perasaan gwe lagi bete banget. Pikiran gwe melayang-layang
inget mantan gwe yang sekarang entah dimana en sama siapa. Hiks.. sedeh deh gwe.
Padahal barusan waktu pulang kantor ada brondong cekong nongol persis di depan idung
gwe. Untung ga gwe kira lalat. Kalo ga, udah mati kali tu anak gara-gara gwe tabok pake
jurus Tai-chi, alias jurus tai kuching. He he he… Yah, tu brondong sebenernya udah senyam
senyum sih, bo… Tau senyum ma siapa. Ga tau senyum ma gwe, ga tau senyum ‘ma nenek
grandong yang berdiri di belakang gwe, bodo amat deh, bukan urusan gwe. Pokoknya gwe
lagi ga nepsong.

Hari ke-4

Hari ini gwe ketemu sama someone yang rada cucok, bow. Dari lobang idungnya
aja udah ketauan kalo dia gay. Karena mood gwe lagi bagus, gwe deketin aja doi pelan-
pelan sambil ngesot kayak suster ngesot. Waktu udah deket, gwe lirik-lirik ke diana. Diana

31
oks juga bow.., apalagi kalo diliat dari deket. Mukanya kayak Leonardo Dicaprio. Tapi ada
bopeng-bopengnya dikit, sih.. Ya, gapapalah… Nobody’s perfect gitu loh..

Dengan segala cara dan usaha, gwe nyoba narik perhatian diana. Tapi ga sambil
joget-joget kayak Andi. Si Andi mah norak. Gwe seh pelan pelan aja narik perhatiannya,
ga frontal getoh. Gwe liatin, ehh... lama-lama dibales senyum. auw...auw... Sluuurp… rada
klasik seh emang. Tapi begitulah, boleh dibilang itu adalah teori gwe, yang ga pernah gwe
kasih tau ke lo pada. Tapi karena hari ini gwe lagi baek, gwe kasih tau deh.

Sebenernya rumusnya gampang aja seh... Kalo kita ngelempar senyum ma orang
yang baru pertama ketemu trus dia bales ngelempar sendal itu namanya minta dihajar.
Nah, tapi kalo dibales ma senyuman lagi, --asal jangan senyuman ala kuntilanak-- itu
tandanya diana juga tertarik sama kita. Ini menurut gwe loh. Terus, kalo senyum sampe
berapa kali maseh dibales juga, itu tandanya diana minta dipepet. So, pepet langsung en
ajak ngobrol. Kalo nyambung, minta no hape-nya, sepatunya, bajunya, celananya, anunya…
dll deh. Nah, beberapa jam kemudian coba aja sms peres-peres nanya keadaanya. Abis
itu ajak jenjongan ketumbaran deh. Kalo diana mau, manfaatin itu sebagai moment bwat
ngorek tentang siapa diana. Selanjutnya terserah deh mau pada ngapain. Tapi, kita harus
percaya sama yang namanya proses, jenggong buru-buru, karena ada pepatah bilang, easy
come, easy go.

Inget dont try this at home, kadang teori selalu berbeda dengan alam nyata, bisa
aja cocok buat gwe tapi gak cocok buat lo bedua.

Back to gebetan gwe. Nah waktu gwe udah berada dalam jarak yang cukup deket
sama inceran gwe, gwe peres megang pundaknya deh. Maksudnya seh bwat mempertahankan
diri kalo kalo kereta yang gwe naekin ngerem mendadak. --Padahal mana ada kisahnya
kereta ngerem mendadak. Ada juga kecelakaan jadinya. Yah, maklumlah. Namanya juga
alasan bwat pedekate. Ya ga, gays..? He he he..— Nah, abis itu, pelan-pelan deh gwe
nyentuh tangannya. Ehhh, diana diem aza. Gwe tambahin sentuhan gwe di tangannya jadi
sedikit lebih agresif, eeeh… tangan dia gerak-gerak. (aseek aseek..) Begitu gwe ngelirik, eh
diana senyum. Senyumnya manis banget bo! Sumpah! Biarpun ada tai giginya dikit… Tapi
gapapalah… Lagi-lagi, nobody’s perfect gitu loh… Karena diana senyum, langsung aja gwe
remes tangannya. Ternyata dibales! Ouw...auw..! Gwe hepi bukan alang kepalang, euy!
Untung gwe bisa nahan diri supaya ga jingkrak-jingkrak di kereta. Kalo ga, mungkin gwe
udah dibuang sama penumpang kereta karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

Kereta brenti di Pasar Minggu. Tangan diana udah narik tangan gwe bwat ikut turun!

32
Hepi banget dong gwe.., dengan semangat empat lima, gwe ikutin ajakannya. Tapi pas mau
turun, tas gwe nyangkut ke badan orang laen, trus jatoh deh! Gondok gwe! Padahal Diana
udah keburu turun. Waaaa!!! Dengan panik karena takut ketinggalan moment, gwe buru-
buru nyari tas gwe. Tapi waktu tas gwe udah ketemu, kereta udah keburu jalan. Hiks… sedih
gwe, sedih… Usaha keras gwe harus gagal karena tas gwe jatoh. Akhirnya demi ngilangin
kesedihan gwe, gwe maen suling deh di deket pintu kereta sambil bercucuran aer mata.

Hari ke-5

Yes! Pagi-pagi udah sempet ada yang ngasih sinyal ke gwe. Lumayan manis seh
anaknya.. Tapi begitu gwe berusaha deket, eeh... diana malah keburu turun di UI. Gigit jari
lagi dah gwe. Keseeeeel!! Tapi gapapa deh. Kalo jodoh besok pasti ketemu lagi.

Pulang kantor di gerbong kereta api isinya lekong semua! Wihi!! Seneng banget
gwe! Sumpah! Mata gwe langsung jelalatan kemana-mana. Sampe orang di sekeliling gwe
pada nyingkir semua karena gwe pelototin. Takut kali ya? Mang mata gwe kalo melotot
serem ya? Abis lekongnya manis manis sih, bo… Sayang aja di antara sekian banyak lekong
manis itu ga ada yang sekaum sama kita. Makanya mereka pada kabur waktu gwe lirik-lirik.
Hiks… sedih.

Waktu gwe lagi asyik-asyiknya jelalatan kayak lalat, eh tiba-tiba gwe ngeliat di
belakang gwe ada santri pake sorban dan jubah putih. Naujubilah gwe kaget banget. Saking
kagetnya gwe sampe loncat. Pala gwe sampe kejedot atap kereta api. Langsung kebayang
di otak gwe tu santri lagi melototin gwe, nasehatin gwe, nunjuk-nunjuk gwe sambil baca
ayat-ayat Al-Quran bwat ngusir setan-setan di otak gwe. WAKS!! Rasanya pengen
ngacir saat itu juga. Tapi kereta malah tambah penuh dan badan gwe makin terdesak,
sampe mepet banget sama tu santri. Mampus!

Gwe bener-bener gak bisa bergerak, gays! Keringet dingin gwe udah ngucur banyak
banget. Tau kenapa gwe tegang abiz!! Badan gwe kakuuu banget kayak batang pohon. Pas
lagi tegang-tegangnya gitu, eh… keretanya ngerem. Dan secara ga sengaja, tangan gwe
nyentuh anunya alias kentinya tu santri! HUAAA!! Gwe ponik banget. Mulut gwe langsung
komat kamit, bedoa supaya tu santri ga nyeramahin gwe. Pas gwe lagi sibuk-sibuknya
bedoa, eeeh…, kereta ngerem lageee… Dan kali ini tangan gwe nyentuh pas di kepala
anunya. Hampir aja gwe teriak. Tapi untung aja gwe masih bisa nahan diri. Gwe mematung
seribu bahasa dengan keringet dingin yang maikin banyak netes dari dahi gwe, dan mulut

33
yang tambah komat-kamit.

Bukannya makin kosong, tambah lama kereta yang gwe naekin makin penuh aja.
Saking panasnya, lama-lama otak gwe jadi kerasukan setan. “Udah…, peges aja anunya…”
bisik tu setan kurang ajar di telinga gwe. Asalnya seh gwe ga mau dengerin bisikan tu setan.
Tapi karena tu setan giat banget ngebisikin gwe, lama-lama gwe kepengaruh juga. Iyalah
gapapa. Kerjain aja sekalian tu santri… Belom tentu ketemu lagi ini, batin gwe yang udah
kerasukan setan.

Dug.. dug.. dug.. jantung gwe berdebar kenceng banget pas baru mau mulai
ngerjain tu santri. Tapi gwe nyoba tenang, dengan keringet dingin yang terus berlinang-
linang. Setelah berkali-kali ngirup nafas panjang, akhirnya dengan segala kekuatan tenaga
dalam yang gwe punya, gwe beraniin nyentuh anunya lagi dikit. Karena diana kayaknya
adem ayem aja, gwe jadi lebih nekat. Gwe pegang lagi deh. Eh, ternyata tu santri emang
BeTe alias Butuh Tentuhan (Sentuhan maksudnye…) Ternyata anunya diana lama-lama
ngecong juga, bow!! Gwe tambah deg-degan bo!!! Sumpah!! Eh, tiba-tiba keretanya ngerem
lagi. NGIK! Karena gwe ga siap pegangan, tangan gwe kali ini telak banget megang anunya!!
HWAAA!!! Ternyata diana ga pake cd, booo!!! Dan anunya ternyata gedong jugaaa…!!!
Untung aja gwe udah keburu nyampe tujuan. Jadi gwe bisa langsung kabur seribu langkah.
Daripada tu santri minta tambah Hua ha ha!! Ga la yaw! Tar dia begituan sama gwe sambil
ceramah lage!! Tidaaak!!!

34
35
Hari ke-1

Bahlul... ini namenye permainan aneh dan nyeleneh. Seumur hidup, gwe ga pernah
ngelakuin hal-hal kaya gini. Dasar emang Andi rada-rada sableng. Tapi seru seh.. Mirip
buku-buku misteri yang pernah gwe baca… (apa juga hubungannya?)

Hari pertama ini, gwe kenalan sama esmud alias eksekutif muda. Tampangnye keren
bo.. Rapi en perlente. Yah, namanya juga esmud. Kalo pake celana rombeng mah pengamen
namenye.

Ceritenye gene neh…,

Waktu ntu, penumpang kan kagak begitu banyak, jadi gwe kedapetan duduk di
kursi. Tapi pertama gwe kedapetan duduk bareng nenek-nenek ganjen yang suka peres
megang-megang paha gwe buat pegangan. Untungnye ntu nenek turun duluan. Nah, kagak
lama, nongol deh tu esmud. Untung aja gwe ga ngiler. Sumpah gwe kagak bo’ong! Yah..,
sebenernya ludah gwe udah ngumpul seh… Tapi keburu gwe telen sebelom jatoh.

Tanpa banyak ba-bi-bu, langsung aja gwe ajak dia ngobrol. Alhamdulillah ternyata
responnya ke gwe bagus. Namanya Ino, gays... Orangnya putih, bersih, dan nyambung
kalo diajak ngobrol. Waktu diana turun, gwe sampe bela-belain ikut turun, ga peduli tujuan
gwe masih jauh. Pokoknya pepet terusss… demi ngedapetin nomer telponnya. Untung
perjuangan gwe kagak sia-sia. Alhamdulilah nomor Ino si esmud itu sekarang udah di
tangan gwe. Jadi gwe ngerayain keberhasilan gwe dengan minum esklamud alias es kelapa
muda di pinggir jalan.

Hari ke-2

Mulai bangun tidur, gwe ma Ino udah kirim-kiriman breaking news, lho bo… Jadi
acara gwe ngantri di kamar mandi tiap pagi jadi agak berwarna. Alhamdulillah gwe ma
diana cepet banget akrab. Kayak guling ama bantal. Gwe seh yakin kalo dia suka ‘ma gwe.
Bukanya ge-er lho bo.. Tapi kebacalah kalo ada orang yang suka ama kita. ‘Ner ga? Besok
kita janjian ketemuan. Cihuuuy…

Hari ke-3

Gwe kagak nyangka Ino romantis abis! Diana pinter banget cari tempat nongkrong

36
yang gratis, bo. Kita berdua ngobrol ngalor-ngidul di atas jembatan layang sambil nonton
kemacetan jalanan. Diana beli gorengan, gwe yang beli teh botol. Diana beli rokok, gwe
yang beli apinya. Diana beli ‘kucing’, gwe yang bayarin... ehhhh, enak aja! Kalo yang satu
ntu ga la yaw… Sori sori aje. Wah pokoknya malam ini serasa Jaka sembung sama si Putung.
Gwe melambung, bung!

Besok kita janjian kencan lagi!!! Aseek…!! �

Hari ke-4

Wiii..!! Ga nyangka ternyata Ino orangnya kagak gengsian. Gwe kira diana kagak
mau kalo gwe ajak makan di pinggir jalan. Tapi ternyata diana malah seneng banget tuh.
Diana nepsong banget makan pecel ayam Pak Giyam yang letaknya tepat di pinggiran jalan
besar. Diana doyan makanin ayam sampe ke tulang-tulangnya. Bahkan diana sampe nambah
dua piring, dan piring piringnya ikutan dimakan juga. Wiii… debus kaleee… Pokoknya Ino
serru banget deh bo…

Besok malam Ino ngajak gwe nonton film!! auw...auw!!! Aseeek!!! �

Hari ke-5

Kayak yang gwe omongin kemaren, malem ini kita janjian nonton film di bioskop.
Walaupun Ino romantis, tapi diana doyan nonton film horor lho. Padahal gwe males banget
nonton genre film satu itu. Bikin deg-degan dan jantungan.

Tapi…, ternyata ada untungnya juga ye… nonton film horor sama gebetan… Huo
ho ho… Habis, tiap gwe terkaget-kaget karena ada adegan setan, Ino langsung ngeremes
tangan gwe sambil senyum. Habis itu lama-lama Ino narik pala gwe bwat bersandar di
pundaknya. Wihiiii!!! Aseeeek…!

Pertamanya seh gwe deg-degan, tapi lama-lama… karena keasyikan, gwe malah
ketiduran. WAKS!! Iya, gwe ketiduran saking pundaknya enak bwat dipake tidur. Dan diana
baru bangunin gwe setelah film kelar! HWAAA!!! Perasaan gwe campur aduk, tau! Sebel,
malu, sedih. Sebel dan sedih, karena gwe kudu ketinggalan momen bersejarah. Soalnya kan
waktu itu adegannya lagi romantis bangeeeet!! Malu, karena ternyata gwe tidurnya mangap
sambil ngiler! Ga tau ngorok apa kagak. Moga-moga sih kagak. Tapi kayaknya ga mungkin.
Karena lu tau kan gays… gwe kalo tidur, dimana aja, posisi apa aja.., pasti ngorok. Iiiih!

37
Sebel! Sebel! Gwe udah takut banget diana jadi ilfil sama gwe. Emang seh…, diana sempet
senyum senyum… tapi diana ga ngomong apa-apa tuh. Mungkin diana ga mau bikin gwe
malu kali ye…

Untung si Pitung nabung. Maksud gwe…, untung aja Ino ga ilfil ma gwe.. buktinya
pas gwe nawarin dia bwat nginep di kosan gwe, diana ga nolak, bo! Wihiii!! Rasanya gwe
pingin jingkrak-jingkrak sambil tereak di depan mukanya karena tawaran gwe diterima.
Tapi gwe nyadar diri kalo gwe blom sikat gigi. Jadi gwe tahan supaya ga tereak tereak di
mukanya. Tar salah-salah diana bisa pingsan karena bau mulut gwe. Pokoknya hari ini aseek
deh bo…

38
39
Hari ke-1

Wihi… kalo begini caranya kan hidup jadi lebih bersemangat. Ya ga, gays…? Bangun
tidur, ku terus mandi.. Tidak lupa menggosok gigi… Huss! Kok aku jadi nyanyi seeeh…
Pagi-pagi, baru hari pertama, aku udah papasan sama brondong SMA, bo!! Anaknya lucu
abis! Manis, tingginya seratus tujuh puluh sentian, badannya ceking, idungnya mancung,
dan tampangnya ga kalah sama brondong-brondong model majalah Aneka. Diana satu
kebangsaan sama Mista, alias dari suku sunda.

Waktu lagi ngantri, ceritanya diana ada di sebelah aku. Trus, entah diana nguntit,
entah kebetulan, di dalem busway, kita duduk sebelahan deh. Eh, ternyata diana anaknya
supel banget. Baru aja duduk sedetik, diana udah ngajak ngobrol duluan. Mana ngobrolnya
ga ada titik komanya kayak kereta api, lage. Sebelum diana turun, diana sempet nanya dulu
nomer hape aku. Ya kukasih aja tanpa banyak omong. Kali aja diana bisa nyangkut sama
aku.

Dasar ni brondong agresif abis. Belom juga semenit diana turun dari busway, eeeh…
diana udah sms. Diana ngajak ketemuan di halte kalideres sorenya, tempat tadi aku ama dia
ketemu. Ya udah, daripada ga ada gebetan, akhirnya sorenya sepulang kantor, aku tunggu
dia di halte kalideres. Eh, dasar brondong kurang ajar. Satu jam aku tungguin sampe pake
acara ketiduran segala, diana ga nongol-nongol juga. Ya udah aku pulang aja. Keki deh.

Hari ke-2

Dasar emang jodoh ato sial, pagi ini, aku ketemu lagi sama brondong yang
kemaren. Diana minta ampun sampe nyembah-nyembah segala kayak belalang sembah
karena kemaren ga nepatin janji. Katanya seh diana kecopetan waktu pulang sekolah. En
Hapenya ikut kecopetan juga. Jadi semua nomor penting juga ikut raib, termasuk nomorku.
Habis itu, diana minta nomer aku lagi, dan ngajak janjian sore ini, di tempat yang sama
kayak kemaren.

Sorenya waktu aku turun dari busway, tu brondong udah nunggu. Waktu liat aku
dari jauh, dia udah pasang senyum ala model kalo mau difoto. Pake kedap kedip en pasang
pose segala, lagi. Habis itu, baru aja ketemu, diana langsung minta nginep di rumah aku.
Busseet.. Katanya seh diana udah minta izin ama nyokapnya dengan alasan ada tugas
kelompok yang harus diserahin besok. Ga tau kenapa, aku kayak kehabisan kata-kata mlulu

40
kalo berhadapan ama brondong atu ini. Mungkin aku kalah agresif kali ya.. So, aku ga bisa
nolak deh.

Setelah sampe di rumah dengan selamet, doi langsung ngajak mandi bareng!
Gubrak! Gile ni brondong. Tapi gapapalah. Aku turutin aja kemauannya. Akhirnya terjadilah
peperangan seru di kamar mandi. Ni brondong ternyata bener agresif abis, bo!! Diana yang
mulai duluan. Sumpah!! Abis itu… yaaah…, ga usah aku tulis detil kalee…

Sesudah selesai mandi kita ngobrol di ranjang panjang lebar. Tapi ujung-ujungnya,
diana curhat tentang ekonomi keluarganya yang lagi sekarat. Wah... lama-lama kerasa
banget nih brondong ada maunya sama aku. Ditambah lagi, habis itu diana ngaku, kalo
diana itu ternyata ‘kucing’. Gubrak. Pantes aja orangnya nyosoran.

Yaah…, dasar emang ini hari na’as gwe kali ya… Sebenernya seh aku males ngasih
duit. Ya iyalaaah…, habis gimana enggak. Orang aku ga ngalling dia. Diana yang minta
sendiri, masa aku harus bayar. Akhirnya aku janjiin bayar dia besok pagi. Daripada diana
tar akting nangis nangis, ngadu sama ortunya kalo diana diperkosa sama aku, dan ortunya
nglapor polisi trus aku ditangkep lagi? Haah… ga deh. Bukannya takut sama polisi.., tapi aku
udah bosen berurusan sama polisi. Polisinyga juga udah bosen kalee burusan sama aku…
Yaah.., you know laah.. Makanya daripada begitu, mending aku cari amannya aja.

Hari ke-3

Pagi-pagi aku udah harus ngeluarin duit lumayan banyak buat bayar tu brondong.
Lama-lama aku jadi makin trauma neh ama brondong. Apalagi abis kejadian semalem.
Abis brondong tuh masih seneng berpetualang seh… Coba sana, coba sini… emangnya kita
kue tar dicoba-coba..? Ih. Abis itu, di depan kita seh ngomong cinta mati, tapi di belakang
kita, diana ngibarin bendera “The Jomblo Gays”. Lagian kebanyakan pada matre. Cape deh
urusan sama brondong….

Untungnya aku ketemu sama legan alias lekong ganteng. Matanya bagai danau..,
bibirnya merah bagai darah.., dan giginya seruncing gigi anjing (drakula kalee...). Awalnya
kita udah liat-liatan. Tapi aku yang punya inisiatif deketin dia duluan. Karena diana udah
ngebales pandangan aku, langsung aja aku to the point peres ngedeketin tanganku ke
tangan dia. Eh, ternyata diana diem aja tuh. Baru aja aku mau mulai lebih agresif, eh.. diana
ga sengaja garuk kepala. Dan saat itu juga aku liat ada cincin terpasang di jari manisnya...
Gubrak. Aku langsung manyun n diem seribu bahasa.

Aku percaya sama hukum karma. Kalo kita nyakitin orang, kita pasti disakitin. Kalo

41
kita ninggalin, kita pasti bakal ditinggalin. N kalo kita nyeleweng, kita pasti diselewengin.
Makanya aku punya prinsip dalam diri aku bahwa aku ga akan meong sama yang berbau
punya orang. Daripada suatu saat aku yang digituin… Ih, amit-amit deh.

Hari ke-4

Wiii…, hari ini aku dapat kenalan yang tampangnya mirip Dimas Seto. Namanya
Angga Kurniawan Setya Wastawan nan Rupawan. Ga tau kenapa diana ngasih nama lengkap
selengkap-lengkapnya. Untung ga ditambahin: ‘Jemuran Kudisan Kejebur Selokan’. Hihi..
Kayaknya diana bangga banget gitu deh sama namanya. Padahal mukanya seh ga rupawan
rupawan amat. Tapi, diana itu tipikal aku banget. Sederhana dan berpenampilan apa
adanya.

Pertama ketemu jantungku deg-degan banget. Di tangannya udah ada gelang warna
pelangi, maskot lambang gay seluruh dunia, yang menjelaskan tentang begitu beragamnya
warna dan pluralisme, termasuk pilihan orientasi seksual yang berbeda-beda. --jangan pada
nanya tentang sejarah kenapa warna pelangi dipakai untuk lambang gay, ya. kepanjangan
tar jelasinnya. Cari di Google aja. Tar catetan aku malah kaya bahan skripsi, lagee.--

Karena diana tipikal aku banget, terang aja dengan semangat empat lima aku
langsung nyosor deketin diana.. Eh..eh.. ternyata diana juga nyosoran. Tanpa banyak
curigation, langsung aja aku ajak dia ke rumah. Eh, di perjalanan diana malah minta
ijin nginep. Terang aja aku sambut diana dengan senang hati dan lapang dada selapang
lapangan bola yang ada di depan rumah aku.

Eh, sampe di rumah ternyata lampu mati. Mungkin Pe eL eN tau kali yee…, kalo
aku mau kencan… Huo ho ho.. Jadi suasananya romantis abis. Kita candle light dinneran…,
ngobrol panjang dengan cuma diterangi cahaya lilin…, sampe akhirnya ketiduran deh.
Wihi…..

Hari ke-5

Malam ini Angga main lagi ke rumah, bo… Diana keliatan seger banget biarpun baru
pulang dari kantor. Ga tau mata aku yang udah agak rusak, ga tau diana yang emang udah
siap-siap mau kencan sama aku. Jadi diana dandan dulu sebelum ketemu aku. Whatover..,
yang penting diana kliatan cakep abis.

42
Malam itu kita banyak ngobrol di ranjang, dan akhirnya tangan pada ngegerayang
sampe kita pada kayang... Eh, waktu udah mau melayang, ternyata WaKS! Badan diana
penuh panu. GUBRAK. Terang aja aku langsung ilfil dan ga nepsong lagi. Muka Angga juga
langsung berubah demi ngliat aku ilfil. Tampangnya jadi rada sedih gitu deh. Aku jadi ga
tega ngliatnya. Tapi gemana… udah terlanjur ilfil seh… Akhirnya malem itu, kita tidur diem-
dieman sambil belakang-belakangan kayak suami istri lagi marahan.

Hari ke-6

Pagi-pagi banget Angga udah pamit pulang. Trus waktu berangkat ke kantor, aku
ketemu sama seorang gadun yang mukanya wise banget. Tu gadun cakep deh bo…, Matanya
teduh kaya mata Richard Gere! Beneran! Yaah, rada meleset dikit laaah… Rambutnya yang
udah bihunan alias ubanan, nambah seksi penampilannya. Tapi aku belom sempet ngapa-
ngapain. Deketin aja ga bisa. Abis buswaynya lagi penuh seh bo… Hiks.. padahal aku naksir
berat.

Sore harinya bukannya aku yang jalanin misi, malah ada orang yang ngelancarin
aksi. Nekat banget lagi orangnya. Pertama diana megang celana aku. Karena aku diem
aja, diana tambah nekat. Diana ngegeserin badannya supaya bisa lebih mepet ke aku. Abis
itu, diana nempelin tanganya ke celana aku. Awalnya aku nikmatin aja. Tapi lama-lama
tanganya malah ngegerayang lebih keras kayak mau ngelecong kenti aku. HIII..!! Seyeeem.
Untung busway berenti. Aku langsung berdiri dan berniat ambil langkah seribu. Tapi, CIIIT!
langsung aku rem langkah aku karena gadun tadi pagi tiba-tiba aja nongol di depan mata
aku. Wihiiii!! Aseeek… Kali ini aku ga mau lagi kehilangan momen. Waktu busway yang aku
naekin ngerem, aku sengaja jatohin badan aku ke badannya diana. Biar kayak di film-film...
Hue he he... N ternyata... tu gadun nyambut, bo!! Diana ngliatin aku sambil ngeremes
tangan aku pelan. Sek Aseeek… Romantis banget bo.., kalo di film, adegan kayak gitu pasti
dibikin slow motion. Coba kalo ada remote, aku slow motion juga adegan barusan.

Emang seh…, belom ada kata-kata di antara kita. Ciee… Tapi masing-masing udah
nangkep sinyal. Langsung aja aku bisik-bisik ke diana minta nomer HaPe. Eeeh.., diana
bales bisikin aku, ngajak aku tidur di apartemennya. Ihik! Aseeek! So sweet bangeeet deh
pokoknya,

43
44
Gara-gara Bu Minah, semua orang di kantor jadi sibuk nyari -–ol yang nyebabin
Mista, Andi dan Fadil ga sapa-sapaan. Lama-lama, --olnya trio kempit ini pun jadi trend baru
di kalangan orang sekantor. Semua demen ngobrol pake akhiran ol di belakangnya.

“Eh, mau kemanol, lu?”

“Mau ke toiletol. Mau ikutol lu?”

“Ih, sori aja ya, ol. Gwe masih banyak kerjolan (kerjaan maksudnye…) neh.”

Gitu deh kira-kira. -–olnya Mista, Fadil en Andi, bahkan udah jadi bahasa baru orang
sekantor.

Sementara itu, Mista Andi dan Fadil pada ga nyadar kenapa temen-temen
sekantornya pada ber-ol ol ria. Mereka cuma bertanya-tanya aja dalam hati kenapa tiba-tiba
orang sekantor jadi kena virus baru. Tapi karena mereka betiga lagi pada asik sama misi,
mereka cuek aja, ga mau tau dan ga mau ikut-ikutan trend. Mereka asyik dengan dunianya
sendiri, karena mereka semakin mendekati target yang udah disepakatin.

MISTA

Cowok yang bertampang mahasiswa yang sempet ngasih sinyal ke Mista pas hari
kelima ternyata emang bukan jodohnya. Nyatanya Mista ga pernah lagi ketemu sama doi.
Untung jodohnya juga bukan santri yang doi kerjain. Mista juga ga pernah berharap ketemu
ketemu lagi sama tu santri. Amit-amit deeeeh… Bisa mampus doi kalo sampe ketemu lagi.
Jangan-jangan bisa giliran Mista yang ganti dikerjain. Hua ha ha… Mending Mista ngabur aja
begitu liat idung tu orang.

Untungnya di hari ketujuh, Mista ketemu gadun bule yang namanya Hubert. Hubert
berusia 50 tahun dan bekerja di perusahaan export import mebel. Kayaknya seh Mista cocok
banget sama Hubert. Baru hari pertama aja mereka udah nempel kayak kembar siam.
Dan semenjak kenal Hubert, Mista jadi jarang pulang ke rumahnya di Bogor bwat nengok
Nyokap, Tika dan tokek budeknya. Soalnya doi ditawarin tinggal bareng di apartemen
Hubert yang letaknya di depan stasiun.

FADIL

Ino yang diincernya ternyata cuma seminggu di Jakarta. Rupanya doi cuma training
doang di Jakarta. So, abis training, doi kudu pulang ke kotanya di Makasar. Akhirnya di hari

45
keenam Fadil manyun suranyun dan berlinangan aer mata. Abis doi udah demen banget
sama Ino. Lagian, waktu Ino kudu pulang, hubungan mereka lagi romantis banget. Mereka
mesra-mesraan semaleman sambil ngobrol panjang lebar. Ga taunya besoknya Ino pamit.
Huwaaa!!! Fadil pun sedih bukan alang kepalang sambil jeduk-jedukin palanya di tiang terus
makan bacang.

Untungnya di hari ketujuh Fadil udah dapetin temen kencan lagi bwat ngobatin sakit
hatinya sama Ino. Fadil kenalan sama yang namanya Rizky. Doi seh ngakunya mahasiswa
semester tiga di salah satu Universitas swasta di Jakarta, ga tau Universitas apa. Tapi Fadil
masa bodo. Mau Rizky mahasiswa Universitas Atmajaya kek, Trijaya kek, Kopaja kek, yang
penting doi udah ndapetin seseorang yang bisa diajak kencan di akhir minggu kedua.

ANDI

Inget gadun romantis yang bikin Andi kesemsem dan langsung ngajak Andi ke
apartemennya itu kan? Ternyata di hari ketujuh, gadun yang dia impiin itu cuma tinggal
cerita. Pasalnya, waktu Andi diajak ke apartemennya, ternyata disana udah ada brondong
yang nungguin. Trus, gadun itu ngajak Andi suma bwat diajak three some... WAKS! Terang aja
Andi ngabur langsung sambil tereak tereak keluar dari tu apartemen. Untung doi ga dikejar
sama Satpam dan ga dikejar tu gadun, trus diperkosa. Kalo ga, WAAA! Tidaaaaak!!!

Setelah Andi melarikan diri dari apartemen dan menyusuri jembatan sambil
menerawang putus asa, memandang langit sambil makan kunyit saking stressnya, eh, doi
ketemu sama esmud. Eh, ga tau esmud ga tau bukan ding. Gayanya sih mirip esmud, tapi
bisa aja ternyata tukang cabud rumpud. Namanya Yudo. Doi klimis dan manis. Kata Andi
she… bwat ukuran cowok, Yudo tu sempurna. Tapi matanya Andi kan suka kelilipan sepatu…
Tapi yang jelas, yang paling bikin Andi tambah kesemsem sama Yudo, karena Yudo rajin
shalat, biarpun shalatnya berantakan. Shalat dzuhur jadi dua rakaat, shalat ashar tiga
rakaat, eh, shalat shubuh malah empat rakaat. Trus baca Al-Qur’annya kebalik, lagi. Waktu
Andi nanya, katanya Yudo menganut aliran Islam baru. Waduh. Ga tau deh. Andi ga peduli.
Yang penting doi udah dapet temen kencan.


Kayak yang udah disepakatin, minggu kedua mereka kudu ketemuan di Coffee Shop
biasa. Fadil sama Mista, udah duluan nongolin batang idungnya. Tapi mereka ga ngobrol
satu sama lain. Mereka nungguin Andi bwat ngasih tanda bisu-bisuan mereka udah selesai.
Tapi yang ditungguin ga nongol nongol juga. Ya udah, iseng-iseng Fadil cuap-cuap sama
HaPenya, sedang Mista asik bersms ria sama Hubert.

Ga lama muncul deh Andi sang ketua sekte. Karena bisu-bisuannya belom dinyatakan
berakhir, terang aja Fadil dan Mista cuek bebek biarpun Andi udah nongol di depan mata
mereka. Mereka tetep aja asik dengan kegiatan masing-masing. Andi yang asalnya udah
siap-siap pasang senyum manis, langsung bete liat kelakuan temen-temennya. Hampir lima
menit Andi ngebiarin dua sohibnya sibuk dengan diri sendiri. Menit berikutnya Andi mulai
ngerasa ga di hargai, makin ga di hargai, makin murah harganya, makin rendah, (lama-lama
kayak lagi lelangan..) sampe akhirnya Andi naik pohon. (naik pitam maksudnye...) Lalu…,

“BRAK!! N” Andi langsung berdiri sambil ngegebrak meja dengan keras. Sebenernya
tangannya sakit banget seh… Tapi demi harga dirinya yang setinggi langit, doi kepaksa
nahan sakit. Terang aja semua orang yang ada di Coffee Shop ngliatin Andi termasuk Mista
dan Fadil yang seketika langsung menghentikan kegiatannya.

“Aku ga terima diperlakukan kayak gini! Masa aku dateng kalian semua cuek aja
kayak ikan cue?!! Hargain aku sedikit bisa ga seeeh…?!” Andi tereak tereak kayak orang gila.
Sebelum Satpam nongol, Mista dan Fadil yang udah hapal sama kelakuan Andi yang kadang
suka aneh itu, langsung nenangin temennya sambil nyuruh duduk.

“Sori…sori… kan kita lagi bisu-bisuan…” Fadil mencoba menenangkan.

“Kalo udah sampe sini bisu-bisuannya udah selesai dong, gaaayss….” Kata Andi
sambil setengah teriak, setengah ngeden. Untung ga mencret.

“Idddiiih… mana gwe tau, Ndi. Orang barusan gwe sama Fadil aja masih diem-
dieman, ga ngomong sepatah kata pun. Kan kita nunggu elo buat ngasih tanda bahwa bisu-
bisuan kita selesai. Getoh! Elu mah, darting (darah tinggi) mulu seh…” jelas Mista sambil
ngayem-ayemin atinya sendiri.

“Ya udah, sekarang bisu-bisuannya selesai.” Andi menutup kesepakatan mereka


dengan mengetok meja tiga kali kayak di persidangan.

“Selamat sore... pada serius amat. Kemana aja kok baru pada keliatan?” Ga lama,
waiter yang dua minggu lalu udah bikin Fadil jungkir balik plus ngiler ngiler, nongol di depan
mereka. “Mau ngorder apa, mas?” tanya Dika dengan ramahnya. Ga usah diceritain deh
48
gimana tingkah lakunya Fadil Cs. Yang pasti hampir sama kayak dua minggu yang lalu deh.
Singkat cerita, waktu semua makanan yang dipesan udah terkumpul, Dika pun melenggang
meninggalkan trio ketek itu.

“Gimana? Kalian udah pada dapet teman kencan untuk malam pergantian
tahun nanti, blom?“ seperti biasa Andi sebagai moderator dan ketua jurusan membuka
pembicaraan lebih dulu.

“Udah dong…” jawab Fadil dengan songongnya.

“Biasa aja kaleee… Gwe juga udah gitu lohh..” ledek Mista sambil majuin bibir
bawahnya ke arah Fadil.

“Aku juga udah. Brarti kita seri.” Kata Andi. “Nah, kalo gitu, sesuai dengan peraturan
kemaren, sekarang saatnya kita pake step kedua. Putusin temen kencan lo, dan kita cari lagi
hingga menjelang taon baru. Yang ga dapet, brarti kena hukuman. Gimana?” Wajah Mista
dan Fadil yang barusan masih berseri-seri, langsung kusem kayak baju yang udah ga dicuci
sebulan.

“Tapi gwe udah terlanjur sayang..”, jawab Mista, yang segera disambung dengan
anggukan dari Fadil. Tampang mereka semua jadi ketarik kebawah.”

“Eit, ga ada manyun manyunan ya, gays.. Tool is the tool”

“Rule kale, boo…” inget Mista dan Fadil.

“Iya…, pokoknya itu.” Andi ga mau disalahin. Masa ketua disalahin… Mau dikemanain
harga dirinya yang setinggi langit itu.

“Brarti…” lanjutnya “mulai besok kita kudu ngelanjutin step kedua. Setelah
mutusin temen kencan kita masing-masing, kita kudu nyari temen kencan sesuai hobi
masing-masing. Gwe cari di diskotik karena gwe doyan dugem, Fadil cari di swimming pool
karena doyan berenang, dan Mista nyari di dunia maya. Oks?” tandas Andi berusaha bwat
bertampang kejam. Fadil dan Mista lagi-lagi cuma manggut-manggut doang.

“Sip... gitu dong... o iya pada bawa buku kecil kan?” Mista dan Fadil manggut-
manggut lagi dengan loyo. “Ya udah, sekarang kita saling tuker, yuk. Biar tau pengalaman
masing-masing. Tapi ga boleh dibawa pulang, ya. Dan besok, kita mulai step kita yang
kedua. Ok?” Lagi-lagi Mista dan Fadil manggut manggut. Dan tanpa kata-kata sepatah pun,
mereka pun bertukar buku diary.

49
50
Hari ke-16

Di kantor pagi-pagi buta blom ada siapa-siapa. Ya iyalaah sapa yang mau ngantor
subuh-subuh, kecuali satpam jaga malem. Maksudnya, pagi-pagi di kantor, Mista, Fadil dan
Andi kliatan linglung. Muka mereka pada merah, bibir pecah-pecah, dan susah buang air
besar (gejala panas dalem, kaleee). Saking linglungnya, Fadil yang tadinya mau ke westlife
alias WeCe, malah ngelamun di kantin. Sebaliknya, Mista yang mau ke kantin, malah
ke toilet numpang ngaca. Andi yang mau motocopy dokumen, malah keluar kantor beli
gorengan.

Untuk membunuh rasa cinta emang gampang-gampang susah, kayak kutil nempel
di mata kaki. Karena semua yang akan dilakukan ada hubungannya dengan perasaan. Kalo
udah berhubungan sama perasaan, urusannya bisa panjang. Berbagai kasus bunuh diri dan
pembunuhan yang ditayangin di TiPi juga ga sedikit yang berurusan dengan perasaan. Ada
yang bunuh pacarnya ndiri, ada yang bunuh diri dengan berbagai cara, mulai dari nyilet nadi,
gantung diri, nenggak obat sipilis, sampe terjun bebas. Belom lagi kalo PDI alias Persatuan
Dukun Indonesia udah turut campur. Gawat deh. Untungnya Mista, Fadil dan Andi ga sampe
segitunya. Paling linglung doang. Mereka bingung gimana cara yang tepat bwat mutusin
temen kencan mereka. Jangan sampe mereka yang bunuh diri gara-gara diputusin.

Hari ke-16, Pukul 18:30 WIB

Mista sampe di apartemennya Hubert yang keitung mewah, bwat ukuran Mista yang
cuma punya rumah sederhana di Bogor sana. Waktu Mista buka pintu, ruangan itu masih
gelap lap. Blom ada sapa-sapa. Rupanya Hubert blom pulang.

Sebenernya Mista berat banget mutusin Hubert. Ya iyalaaah... jarang banget gitu
loh, doi punya kesempatan tinggal di apartemen mewah. Blom lagi Hubert orangnya baik
dan perhatian banget sama Mista. Apa aja dikasih, deh. Mista mau makan dikasih, mau
rokok dikasih, mau laptop dikasih. Malah Mista pernah dikasih ayam idup lima puluh ekor!
Untung di kampungnya banyak orang yang mebutuhkan. Tapi tetep aja Mista bingung
ditanya-tanyain Nyokapnya tentang asal usul tu ayam. Makanya Mista berat banget deh
ninggalin Hubert.. Walaupun bagi Mista, Hubert lebih kayak pengganti Bokapnya yang udah
ga ada.

“Krek...jeklek”. terdengar suara pintu dibuka. Ga lama keliatan batang hidungnya


Hubert yang segede burung betet. Hubert membawa keresek putih dari supermarket.

51
“Malam”. sapa Hubert sambil menebar senyum manisnya sama Mista yang masih
rebahan diatas sofa.

“Malam sayang” Jawab Mista,

“Nih, pesananmu.” Hubert menaruh satu kantong kresek berisi buah-buahan.

“Makasih sayang...” jawab Mista terharu. Dalam hati Mista udah nangis darah ngliat
kebaikan Hubert sama dia. Huaaa!! Kenapa seeh…, hari ini gwe harus mutusin diana…!!!
Andi kezzam! Hati Mista tereak-tereak ga mau nerima kenyataan.

“Hun...” tiba-tiba aja muka Hubert kliatan serius. Mista tambah panik. Waduh, kok
tiba-tina muka Hubert jadi serius getoh seh… gemana neh kalo diana ngajak gwe kawin.
Tambah berat deeh perjuangan gwe mutusin diana. Aaakhh!! Tidaaak!! Tolong gwe, Tuhan!
Hati Mista berdebar-debar.

“There’s something I need to talk to you.” Lanjut Hubert lagi dengan seriusnya.
Muka Mista pelan-pelan memerah kayak isi semangka, saking nahan debaran di jantungnya
yang loncat-loncat kayak kutu loncat.

“Ada apa sih, babe?” tanya Mista penuh tanya sambil gemeteran. Soalnya muka
Hubert serius banget.

“I’m so sorry to say this. But.., aku harus tetap mengatakannya padamu.”

“A.. apa sih, babe. Bikin aku penasaran aja.” Mista nyoba buat nyairin suasana. Tapi
yang ada, suasana malah tambah tegang kayak di Pengadilan.

“I don’t want to make u sad, but…” Hubert menghela nafas panjang. Kayak di film-
film gitu deeh… “I have to go.“ lanjutnya. Rambut Mista langsung berdiri demi mendengar
kata-kata dari Hubert.

“WHAT?!!” Secara ga sadar Mista tereak dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Ga tau apa yang ada di pikirannya. “U have to go kemana?” lanjut Mista campur-campur.

“Easy, Mista… Easy…” Hubert mencoba menenangkan Mista yang dikiranya stress
karena doi pamit pergi.

“Saya harus kembali ke Eropa. But, don’t worry.. Walau kita berpisah, I will always
love u forever and ever. I’m promise.” Kata Hubert meyakinkan pake judul-judul lagu barat.
Begitu denger kata-katanya Hubert, Mista senengnya minta ampun. Yippie!! Gwe ga perlu
mutusin diana, hati Mista berjoget-joget ria. Untung aja badannya ga ikutan joget. Kalo ga,

52
Hubert bisa nyangka doi stress beneran karena mau ditinggal.

Mista lega banget. Permainannya selesai, tanpa harus repot. Habis ini tinggal ganti
nomer HaPe, beres. Akhirnya malam itu, Mista bisa tidur nyenyak senyenyak bayi.

Hari ke-17

Mista nongol sendirian di kantor. Fadil dan Andi ga kliatan batang idungnya. Apa di
belakang gwe mereka ngadain konspirasi, ya? Mista sempet negative thinking. Tapi semua
itu segera doi tepis jauh-jauh. Pis. Ah, mungkin mereka lagi pada flu kali. Soalnya cuaca di
Jakarta beberapa hari ini emang lagi rada ga enak. Pikir Mista positif. Akhirnya hari ketujuh
belas dihabisin Mista bwat chatting nyari gebetan baru, sesuai kesepakatan.

Hari ke-18

Mista kira hari ini doi bakal sendirian lagi. Soalnya pagi-pagi, Andi sama Fadil masih
juga ga kliatan. Tapi waktu doi nongkrong di warung Bu Minah, tiba-tiba aja Fadil nongol
sambil tergopoh-gopoh, bikin Mista cengo.

“Gwe.. nyerah, Mis! Nyerah!” kata Fadil begitu sampe di depan hidung Mista, sampe
Mista bisa nyium bau parfum Fadil yang udah nyampur sama bau keringet.

“Nape lo? Ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba lo kayak orang kesamber geledek
getoh. Duduk dulu, Ndut… Tarik napas… Baru ngomong..” Mista berusaha nenangin Fadil
yang kayak orang kesetanan.

“Pokoknya gwe minta, stop permainan ini” kata Fadil lagi sambil lari-lari di tempat
saking paniknya..

“Yo’i.. Yo’i... tapi jelasin dong kenapa?” Mista masih berusaha cool sambil ngambil
nasi dari ba-cool.

“Gwe baru aja kerampokan, Mis!”

“Apa...??!!” Mista kaget bukan alang kepalang demi mendengar kata-kata Fadil.
Centong nasinya sampe loncat kena pala kucing. Untung kucing. Coba kalo orang. Udah
dihajar habis-habisan si Mista.

“Dimana? Siapa yang ngerampok lo?! Biar gwe gebukin sekarang orangnya.” Mista

53
mulai ikutan heboh. Doi udah berdiri dan celingak celinguk. Kali aja orang yang ngerampok
Fadil masih ada di sekitar situ.

“Perampoknya ga di sini, o’on.” Tegur Fadil.

“Trus?”

“Yang ngerampok gwe tu temen kencan gwe... Hape dan semua isi dompet gwe
ludes, ga ada sisa. Makanya gwe kemaren ga masuk.” Jelas Fadil.

“Kok bisa?!! Gimana critanya?!!” Mista tereak tereak heboh kayak orang kerasukan.
Semua yang ada di kantin, terutama Bu Minah, langsung ngliat ke arah mereka. Kira-kira
apa lagi yang bakal dilakuin trio tektek ini ya? Bisa jadi gosip baru lagi neh. Begitu yang ada
di pikiran mereka.

“Critanya gini, Mis… Lu duduk dulu napa?!! Kayak ngomong sama satpam aja, gwe
neh!” Protes Fadil. Soalnya justru sekarang Mista yang kayak dikejar-kejar setan. Pake lari
di tempat segala kayak Fadil barusan. Tapi akhirnya Mista pun menuruti kata-kata Fadil.

“Kemaren lusa, pas pulang kantor, gwe keluar sama Rizky bwat makan malem
bareng.” Fadil mulai bercerita waktu Mista udah duduk dan kliatan udah tenang. “Nah,
sepulang dari makan malem, gwe ma Rizky nonton film, trus pulang. Sebenernya pas lagi
nonton film, gwe udah berniat mau mutusin Rizky, kayak yang udah kita sepakatin sehari
sebelumnya. Tapi karena gwe kecapean, gwe ketiduran deh.”

“Yaaah!! Elu sih, kebo!” potong Mista seenak pantatnya sendiri.

“Belom bereSS!!” Fadil langsung melotot begitu Mista motong ceritanya. Mista pun
langsung mingkem kayak lagi makan bacem begitu dipelototin Fadil.

“Nah, pas adzan subuh, diana bangun trus minta eMeL.” Lanjut Fadil “Abis eMeL,
niatnya sih mau tidur lagi. Tapi sebelom tidur, doi bilang doi punya games seru. Gwe kira
apaan. Ga taunya, diana ngambil tali, trus ngiket tangan dan kaki gwe, nutup mulut gwe
pake lakban, ngambil HaPe dan dompet gwe, trus ngabur deh.

“Untung gwe masih bisa ngesot. Jadi gwe ngesot deh sampe pintu. Trus gwe jeduk-
jedukin pala gwe biar ada yang denger. Emang sih gwenya ketolong, tapi Rizky udah raib.
Dicari sama orang satu kosan juga ga ketemu. Abis gwe ngesotnya kelamaan kali ye...”

“Masih untung lu ga berubah jadi suster ngesot.” Celetuk Mista yang langsung
disambut dengan pelototan Fadil yang jadi dahsyat di saat-saat genting begini. Mista pun

54
langsung mingkem lagi.

“Makanya Mis... gwe minta, stop permainan ini sebelom terjadi apa-apa lagi Kapok
nih gwe. Maunya maen-maen. Malah dimaen-maenin orang.” Rayu Fadil sama Mista.

“Tapi kan keputusan ga ada di tangan gwe, Dil. Yang bikin permainan ini pertama
kali kan Andi. Lagipula kita udah sepakat bwat ngikutin permainan ini sampe titik darah
penghabisan. Jadi kalo mau berenti, kita kudu rembukan dulu betiga.” Tandas Mista dengan
memasang tampang bijaksana laksana gerhana nyebur kemana.. (apaaa coba??)

“Kalo gitu si Andi mana dong?!!” Fadil mulai rada histeris lagi.

“Nah! ‘tu dia. Kemaren diana kan kompakan sama elu. Kagak masuk kantor.” Jawab
Mista. Tapi ga lama, kedua sejoli itu mulai merasakan adanya sesuatu yang ngeganjal kayak
bantal. Mereka bedua saling liat-liatan.

“Jangan-jangan…” dua Mista dan Fadil berbarengan. Dengan gesit mereka langsung
bergegas, persis kayak adegan di film-film kalo sang tokoh utama udah nemuin pemecahan
persoalan. Mereka segera ngambil jaket, tas, ijin sama bos, dan sempet-sempetnya dulu
ngaca di toilet, pake gel rambut dan kaca mata item, lalu masang pose ala Power Rangers
yang mau beraksi. Habis itu, mereka pun berangkat buat menyelamatkan Andi dengan tetep
ngotot naek kendaraan umum (padahal kan ada taksi kalo ga ojek..).

Setelah beberapa jam.. (habis naek kendaraan umum seh..) mereka pun samape
di rumah Andi. Rumah Andi tampak sepi. Pager tertutup rapat, dan ga ada tanda-tanda
kehidupan sedikit pun. Biasanya Bi Cicih jam segitu suka nongkrong sambil ngerokok
(Ssst.., diem aja ya.. Soalnya ga ada yang tau kecuali penulis. Tar Bi Cicih bisa dipecat Andi
deh). Cuma semilir dedaunan aja yang tetep menghiasi Rumah itu. Mista dan Fadil kembali
curiga. Mereka bertatap-tatapan lagi dengan mata yang menyipit, kayak bintang-bintang
film Hongkong.

Mista dan Fadil pun menanyakan keberadaan Andi pada rerumputan, pada tembok,
pada langit dan pada cicak yang lagi nongkrong di pager rumah Andi, tapi ga kunjung dapet
jawaban. Ya iyalaah… orang semua yang ditanyain pada ga bisa ngomong. Mereka baru
dapet jawaban waktu mereka nanya sama pembantu tetangga sebelah yang kebetulan
baru aja mau berangkat pacaran. Ternyata mereka mendapatkan jawaban yang cukup
mengerikan!! (biar tegang)

“Waduh, dua hari ini, sepertinya ndak ada orang tuh di dalam. Mungkin pada pergi
semua kali, mas.” Begitu kata pembantu tetangga sebelah sambil lirak lirik ke Mista dengan
55
pandangan mesum. Ini semakin memperkuat tekad Fadil dan Mista untuk menemui RT di
situ dan minta ijin melakukan pendobrakan di rumah Andi.

Setelah rumah Andi berhasil didobrak, dengan gaya ala FBI, pak RT dan beberapa
warga diikuti Mista dan Fadil, langsung masuk ke rumah Andi. Ternyata, JENG JENG JENG…
(pake ilustrasi musik biar seru dikit) Bi Cicih ada di kamarnya dengan kondisi sangat
mengenaskan! Kaki dan tanganya diiket, dan mulutnya dilem. Sementara Andi ditemukan di
kamar mandi sedang dalam keadaan bugil dan terikat juga. Mereka bedua kliatan lemes dan
pucet karena udah dua hari terkurung di rumah tanpa makan dan minum.

Begitu ngliat keadaan Andi, kontan Mista dan Fadil langsung menubruk Andi,
memberikan handuk, membawanya ke tempat tidur, dan ga lupa ngasih Andi minuman dan
makanan. Setelah itu, mereka membiarkan Andi tenang untuk beberapa saat. Ketika Pak
RT beserta warga udah pergi dan kondisi rumah udah sepi, mereka pun baru membuka
pembicaraan.

“Lo udah tenangan kan, Ndi?” Mista membuka pembicaraan sambil mijit-mijit kaki
Andi kayak pembantu.

“Ga aku gapapa kok?” jawab Andi yang udah rada seger karena udah makan.

“Kok bisa sampe kayak gini sih, Ndi?” tanya Fadil dengan wajah prihatin.

“Ceritanya panjang, gays…” jawab Andi. Dengan sabar Mista dan Fadil nungguin
Andi siap cerita.

“Gini ceritanya Mis.., Dil..” Andi mulai membuka cerita. “Lo bedua udah baca kan di
buku diary aku tentang temen kencan aku yang namanya Yudo?” Mista dan Fadil manggut-
manggut.

“Nah, dua hari yang lalu, sepulang dari kantor, waktu aku udah nyiapin kata-kata
buat mutusin Yudo, Yudo malah nyiapin kejutan buat aku. Diana nyulap kamar mandi aku
sedemikian rupa deh. Diana menuhin bathtub aku sama mawar merah dan masang aroma
terapi dengan wewangian favorit aku. Romantis… banget pokoknya. Abis itu, kita mandi
bareng plus plus plus deh.

“Nah, abis itu, diana pamit keluar duluan. Mau shalat katanya. Eh, waktu aku
beres mandi dan udah pake baju mo makan malem, ternyata diana juga udah nyulap meja
makannya, bikin suasana yang romantiiis banget. Lengkap dengan candle light dinner dan
makanan kesukaanku kepiting goreng. Katanya seh diana sendiri yang masak. Terang aja

56
dong aku nanya, kenapa diana ngelakuin semua itu. Trus diana jawab, ini tanggal tujuh
belas dan tanggal tujuh belas itu adalah tanggal yang bersejarah buat dia, karena di tanggal
tujuh belas itulah diana pertama kalinya ngucapin cinta sama seorang lelaki yang sekarang
udah mati. So, katanya diana pengen tanggal tujuh belas kali ini dia buat komitmen yang
jelas sama aku. Terang aja aku gelagapan. Soalnya kan aku udah berniat mutusin diana hari
itu. Akhirnya sementara aku urungin dulu niat aku buat mutusin dia.

“Setelah makan malam kita pun tidur. Saat tidur dia meluk aku kenceng banget, dan
malem itu dia terus nyerocos tentang masa depan cinta kita, sampe aku ketiduran.

“Waktu aku bangun paginya, Yudo udah ga ada di samping aku. Tapi tau-tau diana
nongol bawa kemeja, celana, dasi, kaos dalem dan celana dalem baru semua. Dia bilang
dia yang beli. Pagi itu setelah mandi bareng dan melakukan morning sex, diana bilang mau
ngasih kejutan lagi buat aku. Diana nyuruh aku tutup mata. Terus, dia nutup mata aku sama
kaos dalemnya, ngiket tangan dan kaki aku sama tali sambil nenangin aku dan ngecup leher
aku. Aku sempet pesen ma dia supaya jangan dimerahin. Tapi aku ngerasa pasti merah.
Abis dia ngisepnya kenceng. Habis itu aku didudukin di lantai. Terus mata aku dibuka, dan
dia nutup mulut aku pake lakban.

“Terang aja aku mulai panik. Aku berusaha berontak, tapi ikatan di kaki dan tangan
aku kenceng banget. Sebelom dia pergi dia sempet motret aku, dan berbisik “I Love U” di
kuping aku. Setelah itu diana kabur deh. Kayaknya dia ngambil laptop, hp,ipod, handycam
dan gak tau apa lagi. Aku belom cek lagi semuanya. Kalo dompet sih udah pasti raib. Gitu
deh kira-kira kejadiannya.” Andi mengakhiri ceritanya.

“Gila. Psycho kali ya tu orang. Masih untung nyawa lo selamet.” Ujar Mista
bergidik.

“Yo’i…, untung aja kalian datengnya tepat waktu. Kalo datengnya seminggu lagi,
bisa-bisa nyawa aku udah ngelayang, kale.”

“Ih, jangan ngomong gitu ah, Ndi. Jadi serem gwe. Makanya, kita udahin aja
yuk permainan kita ini. Gwe takutnya ada kejadian yang lebih parah dari ini lagi. Habis,
cari temen kencan aja harus kejar target. Akhirnya kan kita jadi maen comot. Siapa aja
yang ada, asal nganggur, langsung kita jadiin temen kencan tanpa sempet tahu lebih jauh
mengenai tu orang. Ya akhirnya begini deh jadinya.” Jelas Fadil panjang lebar dengan
tampang ngeri kayak ikan teri.

“Maksud lo, lo pengen udahan? Ga inget sama kesepakatan kita?” Andi mulai

57
melotot lotot lagi sama Fadil.

“Masalahnya yang kecolongan bukan lo doang, Ndi…” Mista mencoba menenangkan


Andi yang kayaknya udah mau naik pitam lagi.

“Maksud lo?”

“Fadil juga baru aja kecolongan. Dan kejadiannya hampir sama kayak lu gitu deh.
Penipuan. Tangan kaki diiket, mulut dibungkem. Untungnya Fadil tinggal di kosan. Jadi
banyak yang nolongin. Kalo ga, ya kejadiannya bisa sama kayak lo juga. Baru ditemuin dua
hari kemudian. Iya kalo masih bernyawa, kalo ga?”

“Husss! Amit-amit ah! Jadi kayak doain gitu, lo.” Protes Fadil yang emang rada
penakut.

“Jadi Fadil kecolongan juga?” tanya Andi kembali memastikan. Fadil dan Mista
ngangguk-ngangguk kayak rocker. “Sama temen kencannya juga?” Andi kembali
memastikan. Fadil dan Mista kembali ngangguk ngangguk kayak boneka.

“Iya.., makanya gwe pengen udahan aja…” kata Fadil pelan. Takut didamprat Andi.
Untung dugaannya salah. Andi malah ngerutin keningnya ke segala penjuru. Mulutnya
manyun dan sedikit komat kamit. Mista dan Fadil udah siap-siap ngabur kalo-kalo Andi mulai
bertingkah laku aneh lagi.

“Kok bisa ya kita ngalamin kejadian yang sama?” Andi bergumam. “Jangan-jangan
ada Perserikatan kaum gay yang khusus dilatih buat ngerjain gay-gay jomblo yang ngebet
banget cari temen kencan kayak kita.” Gumamnya lagi dengan tampang serius kayak tikus
nyebur ke kakus.

“Ah, lu mah mikirnya kejauhan. Kebetulan aja kali kejadiannya bareng. Lagian
emang kitanya yang kurang ati-ati dan terlalu nafsu pengen menang.” Mista nyoba nepis
semua pikiran buruk yang terlintas.

“Makanya mendingan kita udahin aja deh…” kata Fadil,lagi-lagi dengan suara
pelan.

“Gak. Aku ga mau mengakhiri permainan ini. Kan udah ada kesepakatan bahwa
apapun yang terjadi, kita harus ngelanjutin permainan ini sampe tuntas.” Seperti biasanya
Andi ngotot sambil melotot. “Lagian Mista kan juga udah bilang kalo ini disebabin karena
kita kurang ati-ati. Jadi, lain kali kita harus lebih ati-ati aja kalo nyari temen kencan. Jadi
kejadian ini ga akan terulang.”

58
“Jadi maksud lo kita masih tetep mau lanjut neh?” tanya Mista lagi, nyoba nguji
keyakinan Andi.

“Iyalah.” Ternyata Andi emang bener-bener yakin.

“Ya udah, biasa aja dong, ga usah sambil melotot gitu. Kalo gwe sih ga masalah,
karena gwe ga ngalamin kejadian kayak yang lo bedua alamin. Tapi lu ndiri gimana, Dil?
Masih berani ga?” tanya Mista ke Fadil yang lagi asyik nunduk ngeliatin lantai sambil maen-
maenin kaki plus manyun.

“Gwe ikut aja deh.” Katanya lesu.

“Nah, gitu dong Dil. Jangan penakut, lo. Tapi buat kesononya, kita harus cari tau
betul siapa orang yang bakal kita kencanin, Jangan asal comot. Ok?” Mista dan Fadil pun
manggut-manggut seperti biasanya. “ O iya, soal duit dan HaPe lu yang ilang, biar tar
aku gantiin. Soalnya permainan ini kan ide aku. Jadi aku juga harus tanggung jawab.
Gemana?”

“Nah!! Kalo itu boleh tuh! Jadi gwe ga manyun-manyun amat.” Sambut Fadil dengan
wajah yang langsung berubah sumringah.

“Ok, berarti udah setuju semua ya. Permainan tetep dilanjutin.” Andi pun mengetuk
meja di sebelahnya dengan tangan.

Well, gitu deh, tingkah trio kempit yang nekat berburu cinta tanpa pandang bulu
mata. Mereka tetap teguh cari pasangan biarpun aral malang melintang di kebon pisang.
Ga ada kata menyerah biarpun mereka udah hilang arah. So, atas kesepakatan bersama,
permainan tetep lanjut sampe harga tokek turun lagi.

59
60
Mista Fadil dan Andi tetep masuk kantor dengan semangat. Kayaknya kejadian
perampokan itu udah ilang dari pikiran mereka. Yang ada di otak mereka sekarang cuma:
cari temen kencan lagi!

Kalo diliat dari hobi she, kayaknya Mista ga akan kesulitan cari pasangan kencan.
Tinggal ngasih a/s/l stat, Mista langsung bisa milih pasangan kencannya sesuai kriteria yang
doi pengen. Emang kadang rada gambling juga she.. Soalnya kan suka ada yang ngasih a/s/
l stat yang berbeda sama aslinya. Tapi itu she biasa. Paling nyiasatinnya ketemu dulu. Kalo
ga sreg, tinggal ngabur dengan alasan ada janji sama rekan bisnis. Beres deh.

Sepuluh hari menuju taon baru, ga tangung-tangung Mista udah dapetin seratus
teman kencan. Ga segitunya she…, maksudnya ya ga keitung aja saking banyaknya. Sampe-
sampe Mista tiap hari masuk kantor dengan rambut berantakan dan mata cekung karena
stress ngatur jadwal ketemuan sama temen-temen kencannya yang bejibun.

Sebenernya Fadil juga ga akan susah susah amat nyari temen kencan di kolam
renang. Di sono pasti banyak cowok kece yang seksi-seksi dan enak dipelototin. Enaknya
lagi, kalo di kolam renang lebih gampang nyium keberadaan kaum gay.

Tapi tentu aja Fadil punya kendala serius dengan hobinya. Mista sih enak karena doi
tinggal buka komputer doang, duduk, dan bisa nyari temen kencan kapan pun doi mau. Tapi
Fadil? Masa doi musti pergi ke kolam renang tiap hari? Sedangkan Senin sampe Jumat, doi
kudu ngantor. Berangkat pagi, pulang malem. Masa berenang malem-malem? Mau ketemu
siapa? Suster ngesot beserta temen-temen seperjuangannya? WAKS!! Terpaksa Fadil harus
nungguin hari Sabtu dan Minggu buat nyari temen kencannya.

Andi masih enak. Doi doyan clubbing. Di diskotik juga ga sedikit gay-gay yang BeTe
alias Butuh Tentuhan. So, doi tinggal pergi hunting aja tiap malem nyari orang yang mau
diajak kencan.

61
62
Hari ke-21

Yippie! Malam ini gwe janjian sama Michael. Diana brondong cucok ‘n cinere pula,
bo. Badanya ga ada cacatnya deh. Katanya diana mahasiswa salah satu Universitas swasta
di Jakarta. Eh, baru ketemu diana langsung ngajak gituan di warnet. Emang Butuh Tentuhan
banget kali ni anak. Ya udah, karena kita sama-sama doyan ke warnet, so kita mutusin buat
kencan di warnet. Katanya diana tau warnet yang tempatnya jaga privacy pelanggan banget.
WIH! Biarpun tempatnya emang rada tertutup, tetep aja gwe tegang. Abis, di tempat umum
gitu sih. Makanya biar ga kedengeran kemana-mana, mulut gwe, gwe bungkem deh pake
lem.

Eh, waktu eM eL, ternyata Michael itu tinta soneta alias blon sunat. Yiks! Gwe rada
jijik seh, bo! Tapi mau gemana lagi. Udah kepalang basah. Habis itu kita pulang deh ke
rumah masing-masing.

Hari ke-22

Hari ini gwe sms Michael tapi ga dibales, telpon juga ga diangkat. Ya udah, gwe
biarin aja. Toh masih banyak laki-laki lain di dunia ini yang nunggu sentuhan gwe. GUBRAK!
Narsis abis nih gwe.

Hari ke-23

Hari ini gwe chat, belom lama chat kira-kira dua puluh menitan udah ada yang
ngajak kencan. Langsung aja gwe samber. Kita ketemuan di mall, dan diana ngajak kencan
di kosannya. Namanya Nando. Diana hipersex banget, bo! Masa semalem kita bisa eM eL
sampe empat kali dengan berbagai macam gaya. Mulai dari gaya klasik, enam sembilan,
babi kecap sampe mandi kucing diperagain semua. Mampus gwe. Padahal besok kudu
ngantor.

Hari ke-24

Badan gwe hari ini pegel-pegel semua, bo. Ngantuk lagi. Sampe sempet ketiduran di
WeCe lama banget. Pas gwe bangun semua udah pada pulang termasuk lo bedua. Langsung
aja gue ngibrit daripada ada genderuwo nyamperin gwe ngajak kencan. Hiii!!

63
Habis itu gwe nyoba ngubungin Nando. Tapi ternyata kisahnya sama aja kayak
Michael. Diana raib begitu aja. Ga bisa dihubungin. Ternyata susah juga ya nyari temen
kencan yang bener lewat internet. Ya udahlah gwe ikhlasin aja. Yang penting semalem gwe
puas. Hua ha ha… Hus!

Hari ke-25

Hari libur, saatnya hunting. Laptop idup, langsung buka MIRC dan YM. Woow...ternyata
para chaters udah ngejembreng lebih duluan di chanel. Baru itungan detik, si Reza yang pake
nick SUSUK NYAI BLORONG, udah siap-siap nyurhatin gwe. Emang ni anak doyannya sejak
jaman dahulu kala curhaaat mulu. Bete deh gwe. Abis, biasanya curhatannya ga jauh-jauh
dari urusan sempak sama selingkuhan. Sekali-kali curhat tentang PKK alias Pengangguran,
Kebanjiran dan Kemiskinan, kek.

Untung aja abis itu ada orang baru yang nyela. Namanya Robi, umurnya dua puluh
taon. Diana anak palembang tapi sekarang tinggal di Bogor sama sodaranya sambil nyari
kerja. Robi maksa banget ngajak ketumbaran. Ya udah, karena gwe kosong, daripada
bengong, gwe ladenin ajakan diana.

Pas ketemu ternyata anaknya lebih cakep dari pic-nya, bo. Bener. Anaknya juga
supel. Nyambung banget obrolannya sama gwe. Kita ngobrol banyak, sampe akhirnya
nyerempet obrolan about sex. Doi ngajak eMeL di toilet umum!! Wusheeet dah ni anak.
Gilingan banget. Tapi, bwat pengalaman, gwe turutin aja maunya, biarpun sambil dag dig
dug. Kayaknya temen kencan yang dapetnya dari internet daya khayalnya tinggi-tinggi neh.
Abis dari kemaren orang yang gwe temuin aneh-aneh.

Yah, singkat cerita, kita jadi eM eL di toilet. Yaaah, you know laah apa yang kira-
kira terjadi di dalem. Ga perlu diceritain kan… Yang pasti gwe deg-degan. Untung tu anak
kelewongnya cepet banget.

Habis gituan, ga lama Robi nerima telpon. Katanya sih diana disuruh pulang buat
jaga rumah karena kakaknya mau ke kondangan. Ya udah. Selesai deh petualangan singkat
gwe di toilet umum. Langsung aja gwe balik terus mandi. Soalnya waktu janjian ma Robi,
gwe blom sempet mandi. Hihi… Sukurin tu anak makan daki gwe… Hue he he… Hus!

Hari ke-26

64
Hari ini gwe masuk ke Chanel #Jakarta dan pake nick Co2Co. Habis itu, iseng gwe
query nick Co_Single. Eh, ternyata, diana homopobic. Sial deh gwe. Tapi gwe ladenin aja
terus. Soalnya gwe paling demen bikin cowok model begini keki.

“Yang lo jalanin itu nggak umum. Abnormal meeen.” Blon apa-apa diana udah nyolot
duluan.

“Trus kenapa kalo abnormal? Lo pikir cuman orang gila doang yang bisa dibilang
abnormal? Orang jenius, yang IQ-nya di atas rata-rata juga abnormal, penderita autisme
juga abnormal. Tapi mereka juga berhak hidup kan? So, ada masalah apa dengan abnormal?”
jawab gwe. Ga lama balesannya udah nongol di layar.

“Tapi yang lo lakuin tu salah, men. Lo kan kodratnya laki dari lahir. Ga usah nyalahin
kodrat cuman karena ikut-ikutan trend deh..” Widiiih, pedes juga ni homopobic.

“Cewek juga kodratnya melahirkan n punya anak. Tapi kalo ternyata doi harus
diangkat rahimnya? Dan ga bisa punya anak? Apa doi salah?” bales gwe.

“Ya beda kasus lah, choy! Itu juga termasuk kodrat namanya! Gimana sih lu?!” Hihi..
ternyata diana mulai ngamuk.

“Terus, kalo ternyata gwe punya ketertarikan sama lawan jenis dari lahir gemana?
Itu kan kodrat. Kalo gwe maksain diri buat suka sama cewek, brarti gwe nyalahin kodrat
dong.” Ketik gwe di layar komputer. Ga lama doi udah bales lagi. Kayaknya ni orang napsu
banget pengen ngejatohin gwe.

“Tapi men, biar gimana... kntl itu kan didisain bwat dimasukin ke lobang mmk,
bukan lobang pntt!” Wakakak… kayaknya diana tambah panas tuh. Gwe jadi tambah seneng
ngeladenin diana.

“Kuping lo juga didisain bwat ngedengerin. Trus, apa itu brarti ga boleh buat
nyantolin kacamata?” bales gwe lagi. Makin lama gwe makin semangat bales diana. Untung
jari gwe ga kusut karena ngetik terlalu cepet.

“Heh! Lo sadar dong.., kitab suci agama manapun, ga ada yang ngebenerin
perbuatan lo.” Wushet dah… Udah berani bawa-bawa Kitab Suci segala nih orang.

“Tapi semua kitab suci juga bilang bahwa Tuhan Maha Pengasih, Penyayang,
Pengampun dan Maha Adil kan?!” bales gwe lagi.

“Pokoknya bagi gwe lu lebih rendah dari binatang. Binatang aja nggak ada yang

65
nglakuin yang lo lakuin.” Hoho… Abis ke Kitab Suci, langsung bawa-bawa binatang. Dasar.

“Wah, lo ga pernah nonton National Geographic, Discovery channel or Anima planet


ya, Bro? Asal lo tau aja ya, penguin, dolphin n bonobo tuh banyak yang pada asik homo-
homoan, lagee..” Hihi… untung aja gwe punya bahan buat ngejawab. Habis diana emang
kurang referensi seh.

“Udah ah.. debat lo gak mutu. Pokoknya perbuatan lo tu bikin gwe mo muntah.”
Wah, diana nyerah neh kayaknya. Padahal debatannya diana yang ga mutu. Kurang bahan
seh..

“Jadi itu yang lo mau. ‘Napa ga ngomong dari tadi, pake debat-debatan segala. Asal
lo sadar ya, tai lu juga ngebuat orang jijik, tau!” bales gwe rada sadis dikit. Tapi ternyata si
homopobic udah males beneran ngadepin gwe. Diana ga bales bales lagi. Berarti gwe sukses
membela kaum gay sampe titik darah penghabisan (biasa aja kaleee). Tapi gara-gara tu
orang, gwe jadi males chatting. Walhasil, gwe ga ngasilin apa-apa hari ini.

Hari ke-27

Malem ini sebelom sampe rumah, gwe mampir dulu ke supermarket. Di sono gwe
ketemu lekong yang bening banget, bo. Malah sampe ga kliatan saking beningnya. Tapi
karena gwe punya indra ke enam, gwe bisa ngliat diana. (apaan seh?)

Seperti biasa, gwe ngelempar umpan duluan ke dia. Eh, ternyata umpan gwe
disambut. (mancing ikan kalee) Dasar emang jodoh, pas mau bayar di kasir kebeneran dia
juga ada di belakang gwe ikutan ngantri. Setelah bayar gwe sengaja nunggu di depan pintu
keluar pura-pura nungguin angkot. Pas diana keluar, gwe sapa deh diana, trus gwe ajak
diana ngobrol sambil makan di warung capcay yang letaknya ga jauh dari Supermarket itu.
Eh, ternyata diana nerima ajakan gwe. Yah, biarpun gwe ma dia ga ketemu lewat internet,
tapi gapapa kan, buat sekedar ngisi kekosongan… Sambil makan, kita ngobrol panjang lebar
tentang kehidupan gay.

“Ga enak ya jadi gay.” Katanya membuka pembicaraan.

“’Napha emuangnya?” tanya gwe dengan mulut masih penuh makanan. Untung ga
ada nasi muncrat ke mukanya dia. Kalo ga, gwe bisa langsung dicium kalee.. Hihi.. kagak
ding.., maksud gwe digampar, getoh..

“Habis, hidup sebagai gay penuh dengan kepalsuan.” Katanya rada puitis sambil

66
nyedot lemon tea. “Di depan temen-temen kudu pura-pura naksir cewek terus. Kadang kita
harus punya pacar cewek biar gak ketauan. Padahal kita ga cinta ‘ma tu cewek....”

“Ya angan muaksain duiri unya puacar cewek dong khalo lu mang ga duemen.
Kayak gwe uaja. Jomblo forever.” Kata gwe rada acuh tak acuh, tetep sambil makan capcay.
Abis capcaynya enak sih, bo. Muka diana yang ganteng ternyata ga bisa ngalahin enaknya
capcay yang gwe makan.

“Bukan itu aja ga enaknya jadi gay. Kadang sering juga kita harus sakit hati kalo
ketemu orang yang kita suka, tapi ternyata sekali ML, ga ada beritanya lagi. Awalnya doang
ngomong cinta, sayang. Ujung-ujungnya sex juga. Pokoknya dunia gay ga luput dari yang
namanya have sex, have sex dan have sex. ‘Napa ya? Apa mungkin karena di kaum kita ga
ada yang bisa hamil, jadi bisa bebas ngesex seenak jempolnya ‘ndiri?’ curhatnya panjang
lebar sambil menerawang nyari kacang terbang. Wah wah… kayaknya diana baru patah hati
dan butuh bantuan gwe sebagai dokter cinta neh. Tapi baru aja gwe mo ngomong, nasehatin
diana dengan gaya ustad, eeeh… diana udah ngomong lagi.

“Kadang gwe jadi ngerasa kesepian dan bingung. Apa sebenernya yang harus gwe
lakuin dalam menjalani kehidupan sebagai gay” lanjutnya sambil mulai menitik-nitikkan
benih-benih aer mata. Wah. Gawat. Gwe yang kelimpungan harus ngadepin lekong nangis.
Mampus. Mimpi apaaa gwe semalem. Ni orang kayaknya ga siap jadi gay, tapi maksain diri
deh Jadi ga siap dengan segala resiko. Tapi karena ni orang kayaknya butuh pertolongan
banget, terpaksalah gwe harus ngluarin kotak P3K gwe alias Pengertian, Perhatian,
Peringatan dan Kesabaran. Cieile ga sih gwe, bo?

“Sabar itu ibadah lo, bo…” gwe pun memulai aksi gwe sebagai dokter cinta. “Jadi
lu kudu sabar.” Lanjut gwe “Pada saatnya nanti juga lu bakalan ketemu sama soulmate lu,
yang bener-bener sayang sama lu apa adanya, dan ga melulu jalan sama lu cuma karena
pengen have sex doang.” Gwe mulai merancang jurus-jurus maut biar keraguan diana untuk
jadi gay pupus. Hwa ha ha… Kayaknya gwe jadi malaikat sekaligus setan deh nih. Bodo ah.

“Tapi bukan berarti cinta sejati itu tanpa sex, bro. Itu mah udah sepaket dari
sononya. Orang dalam kehidupan berumah tangga aja, sex itu ibadah kok. Berarti itu kan
emang paket cinta ysng di dalamnya meliputi perhatian, pengertian, kasih sayang, dan sex
tentunya. Tapi tentunya cinta yang sempurna itu ya yang sepaket itu. Kalo isinya cuma sex
doang ya brarti cintanya ga lengkap.

“Kalo lu nyari pacar yang serius, lu perlu ati-ati dong milih temen kencan. Jangan

67
sampe baru ketemu sehari, mentang mentang lu suka, langsung mau aja diajak ngesex.
Ja’im dikit kek. Kenalin dulu orangnya. Masih untung kalo orang yang ngajak lu kencan itu
orang bener. Kalo ternyata diana psycho yang demen bunuh orang yang habis ngesex ma
dia? Ato Masochis? Gimana? Elunya sendiri yang berabe kan? Bukannya nakut-nakutin.
Soalnya temen gwe juga pernah ngalamin kejadian kayak gitu, bo..

“Jadi intinya lu harus sabar. Itu doang kok, Bro. Gwe yakin suatu saat lu pasti nemuin
soulmate lu.” Kata gwe sambil begaya kayak orang lagi pidato di podium. Sebenernya gwe
tau, selama gwe ceramah, diana mulutnya udah mangap mangap aja kayak ikan kekurangan
aer karena pengen nyela omongan gwe. Tapi karena gwe males dengerin curhatan diana
lebih panjang, jadi gwe pura-pura kagak tau aja. Gwe ngomongnya sambil liat-liat langit,
rumput yang begoyang, sama ngeliatin tukang capcay yang ternyata makin ditelek-telek,
makin oke juga kayaknya. Saking aja gwe gengsi. Masa gwe yang ganteng ini naksir tukang
capcay! Ih, bisa jatoh harga diri gwe sebagai gay.

“Tulilit tulit tit tit tu.” Handphonenya diana bunyi deh. Ternyata Nyokapnya minta
dijemput secepatnya di rumah sakit yang ga jauh dari sini. Tanpa nglanjutin curhatnya, dia
pun langsung ngacir bwat jemput ibunya. Gwe bersyukur karena gwe ga perlu lagi dengerin
curhatannya yang too melancholic, dan akhirnya gwe bisa lebih bebas ngelirikin tukang
capcay yang manis kayak kecap. Abis itu, gwe cabz alias cabut balik ke rumah deh.

Hari ke-28

Malem ini gwe tujuannya ngapel ke rumah Dino. Gwe kenalan tadi siang pas lagi
nge-net. Tapi dasar emang sial. Ternyata di depan rumahnya ada anjing herder yang siap
mangsa gwe. Mampus!! Gwe langsung ngaciiiir ga liat-liat lagi ke belakang.

Hari ke-29

Huaaa!! Kerjaan kantor banyak banget seh?!! Ternyata gara-gara sibuk hunting cari
temen kencan, kerjaan kantor gwe jadi banyak yang terbengkalai. Mampus! Akhirnya hari
ini gwe kudu ikhlas ga chatting. Kalo chatting lage bisa-bisa besok gwe didamprat bos.

Hari ke-30

68
WAKS!! Gwe ga salah neh?!! Kok waktu cepet banget sih berlalu. Pas gwe nyoretin
tanggal di kalender, gwe baru sadar bahwa sekarang udah hari ke tiga puluh, dan itu artinya,
besok udah taon baru, dan artinya lage, tar malem adalah malem pergantian taon, yang
berarti, gwe bakal dihukum kalo ga dapet temen kencan hari ini juga! Mampus! Padahal
sampe detik ini gwe blom dapet orang yang mau gwe ajak kencan buat malem pergantian
taon! Mampus!! Mampus!!

Karena gwe blom dapet temen kencan, alhasil gwe buka laptop dimana-mana. Di
kereta api sambil berdiri, di angkot, di kantor, sampe di WeCe. Pokoknya chatting terus sampe
pusing! Smuwa lekong yang nongol, gwe ajakin kencan. Tapi ga da yang mau. Disangkanya
gwe orang gila kali ya? Abis gwe to the point banget seh... Kayak mo jual barang. Ngenalin
diri, ngajak kencan, trus langsung ngasih nomer HaPe. Tapi HaPe gwe blon manggil-manggil
sampe sejauh ini. Huuuwaaaa!!! Kayaknya gwe harus siap-siap kalah neh!

69
70
Hari ke-25

Hiks.. Sial banget she bo jadi gwe yang punya hobi berenang. Lo bedua she enak,
bisa berburu temen kencan kapan aja. Mista tinggal duduk doang buka laptop sambil ketak
ketik sampe jari kusut. Andi, masih bisa pergi ngedugem tiap malem. Nah gwe?! Kapan gwe
sempet ke kolam renang. Orang ngantor tiap hari. Nyampe kosan aja udah malem. Masa
gwe mo berendang malem-malem sih bo?!! Ada juga tar gwe ditemenin ma kuntilanak,
pocong, dan sejenisnya lageee!! Hiii!! Mending kalo pocongnya baru aja meninggal en
ganteng. Bisa sambil ngeceng dikit. Kalo pocongnya udah dikubur seratus hari, terus kakek-
kakek pula?!!! Tidaaaaak!!! Akhirnya gwe cuma punya kesempatan nyari gebetan hari Sabtu
en Minggu doang. Curang! Gwe baru sadar peraturan ini ga adil bwat gwe!! Tapi gimana lagi,
orang udah disepakatin. Tar si Andi melotot lagi deh ke gwe. Ya kan, Ndi? Ngaku lo!

Kemaren-kemaren gwe ga nulis diary. Buat apaan. Ga da gunanya kaleee.. Ada juga
tar isinya cuma: Gwe blom dapet temen kencan coz blom sempet ke kolam renang. Ngabisin
kertas aja. Tapi tiap Sabtu ma Minggu gwe pasti isi ‘ni diary. Gapapa kan gays?

Hari ini, Sabtu, adalah saatnya gwe hunting ke kolam renang. Maunya she
nongkrong di kolam renang dari pagi ampe sore. Tapi si Juna, sobat gwe, minta nemenin
gwe beli kado bwat calon Bfnya. Biasalaah…, lagi pedekate. Sebenernya gwe males banget
bo, nemenin diana. Habis diana tukang ngaret she. Ngaretnya parah lage. Janjian jam tujuh
pagi, baru dateng jam tujuh malem. Cape deh… Tapi gwe ga enak kalo ga nemenin diana.
Soalnya diana udah sohiban ama gwe selama tiga taon tiga bulan tiga hari tiga menit tiga
detik. Kalo gwe ga nurutin kemauannya diana, tar diana bilang gwe ga setia kawan lage. Yah
walaupun Juna tukang ngaret plus tukang kentut, Juna tetep sobat gwe.

Sekilas tentang hobi kentutnya si Juna, diana pernah numpang ngentut di smoking
room. Maksudnya she biar rada sopan dan ga pengen bikin gwe ngamuk-ngamuk gara-gara
dia kentut sembarangan… Tapi ternyata keputusannya bwat kentut di smoking room bikin
semuwa penghuni smoking room ngabur karena nyium bau kentutnya yang naujubillah.
Sejak itu, Juna jadi sadar bahwa kentutnya mengganggu kenyamanan orang sekelillingnya.
Dia jadi punya inisiatif ngumpulin orang-orang yang hobi kentut bwat demo di depan
Bunderan Hotel Indonesia, minta disediain kentut room di pusat-pusat perbelanjaan.
Supaya kentut mereka ga mengganggu kenyamanan orang-orang yang berbelanja. Udah
sarap kali tu anak, ye?

Ah, pokoknya mah hari ini gwe bete abis. Abis…, si Juna belanjanya lama bener.
Pake sok-sokan milih produk luar negri segala lagi. Katanya calon Bfnya kali ini ga demen

71
produk dalem negeri. Bego aja tu calon Bfnya si Juna. Diana ga tau apa, kalo produk luar
itu banyak yang berasal dari Indonesia. Abis diekspor, trus diimpor lagi deh ke Indonesia
dengan harga yang lebih mahal. Terus dibeli lagi lah sama orang-orang Indonesia yang
demen pamer, bilang bahwa itu produk luar negeri. Padahal mah yang buat orang kita juga.
Abis orang Indonesia kegedean gengsi sih. Jadi gampang dibodo-bodoin deh.

Gara-gara si Juna lama banget, gwe udah takut ga keburu hunting ke kolam renang
aja. Bisa terancam kalah neh gwe kalo begini caranya. Tapi setelah ngamuk-ngamuk sambil
joget kayak kelakuannya si Andi.., akhirnya Juna pun merelakan daku pergi. (Sori ya, Ndi,
gwe ikut-ikutan cara lu, dan ternyata cara lu ampuh juga. Huehehe…) Setelah itu, segera
aja gwe terbang pake sayap superman menuju kolam renang. Biarpun hari udah agak sore,
tapi lumayanlaah… seenggaknya gwe dapet satu gebetan hari ini.

Nama gebetan gwe kali ini Marcel. Dari namanya aja udah keren. Apalagi orangnya.
Tinggi, putih, mulus, badannya kotak-kotak, anunya aduhai… Huo ho ho… Pokoknya lumayan
banget deh buat jadi gebetan! Kalo lu bedua liat, pasti lu ngiri deh ma gwe. Diana orangnya
rada malu-malu kucing gitu deh. Tapi akhirnya setelah gwe pepet dengan pesona gwe yang
ga kalah sama Tom Cruise, akhirnya diana mau juga nyatain isi hatinya yang terdalam.
Diana ngajak bilas badan bareng, bo… Ihik! Aseeek! Abis itu…, lu bedua ga perlu tau kaleee…
Yang jelas, sepulang dari kolam renang, gwe ma diana kirim-kiriman sms romantis terus,
bo…

Hari ke-26

Hari ini, gwe janjian ma Marcel di mall. Tapi gwe tunggu-tungguin, diana ga nongol-
nongol. Sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam, Satu jam, dua jam… Malah tukang
baso lewat di depan mata gwe. WAKS! Kemana tu anak? Gwe sms, ga dibales-bales. Gwe
telpon, ga diangkat-angkat. Eh, terakhir, dibales juga sms gwe. Tapi bunyinya gini:

“Eh, setan! Jgn gnggu pcr gw! Awas kalo smp lo krm sms lagi. Gw santet, lu!”
demi ngebaca sms itu, gwe langsung terjengkang ke belakang saking kagetnya. Buset dah!
Jaman sekarang orang gampang bener mau nyantet orang. Daripada gwe disantet, mending
gwe nyerah aja. Ngeri gwe ma begituan.

Karena Marcel ternyata ga bisa jadi temen kencan gwe, kepaksa gwe kudu nyari
lagi. Dengan lemes gwe pun meluncur menuju kolam renang buat hunting lagi. Ternyata
gwe dapet lagi. Di kolam renang cari sesama gay emang enak. Dari jarak kilometer aja udah

72
kliatan.

Gebetan gwe kali ini namanya Ari. Yaah…, emang ga sekeren Marcel sih, bo.. Yang
ini rada kerempeng gitu anaknya. Tapi cucok juga. Kliatan sedikit jantan gitu loh… Daripada
ga ada, ya gwe pepet pepet juga. Dengan jurus maut ala gwe, akhirnya diana jatoh juga
di pelukan gwe. Huhuhu… Kita makan bareng di foodcourt, ketawa ketiwi, cekakak cekikik,
haha hihi, sampe akhirnya berakhir di kosan gwe. Sek aseeek… Moga-moga aja kali ini gwe
ga gagal lagi ngajak diana jadi temen kencan gwe pas taon baru nanti. Soalnya gwe ga akan
punya waktu lagi buat nyari.

Hari ke-27

Pas gwe bangun di pagi hari, Ari udah raib. Mampus! Kayaknya gagal lagi neh gwe.
Feeling gwe udah ga enak aja. Ternyata bener. Hampir sama aja kejadiannya kayak Marcel.
Gwe sms kagak dijawab-jawab, gwe telpon kagak ngangkat-ngangkat. Terakhir malah ga
bisa dihubungin lagi. Hiks! Gwe stress nih. Mana gwe kudu ngantor hari ini. Kayaknya gwe
bakal kalah deh, gays… Huwaaaa!!!

Karena ga ada yang bisa gwe lakuin bwat ngejar target cari temen kencan, pulang
kantor dengan lesu, gwe pergi aja ke Coffee Shop biasa. Gwe biarin badan gwe melayang-
layang ketiup angin (mungkin ga she?!!), dan pikiran gwe terbang menuju ke negeri antah
berantah. Habis gwe pikir, gwe udah pasti kalah. Jadi gwe nyerah aja deh. Gwe udah
berusaha semampu gwe kok.

Sampe di Coffee Shop, pikiran gwe malah tambah kalut lagi. Soalnya gwe tiba-
tiba jadi inget Adhie, mantan BF gwe yang dulu ketemuan di sini. Gwe ‘ma Adhie ngejalin
hubungan cinta jarak jauh karena diana kudu balik ke Surabaya. Tapi sayang terlanjur
sayang, gwe jalan ma dia cuma beberapa bulan doang. Setelah itu, nomer HaPenya ga
bisa dihubungin lagi. Huikss hikss.., mampir ke Coffee Shop bukannya hepi, malah makin
merana.

“Tumben mas, sendiri.” Tiba-tiba nongol wajah manisnya si Dika pujaan hati gwe
waktu pertama kali kita ngumpul di sini buat memulai game konyol ini.

“Gwe juga ga tau kenapa gwe sendiri.” Jawab gwe ngelantur. Habis pikiran gwe lagi
melanglang buana ke Hongkong, ke Inggris, ke Kutub utara… Kontan aja Dika langsung
mengulum senyum denger kata-kata gwe yang rada konyol. Tapi Dika tetep ngejaga
kesopanan. Diana ga ngetawain gwe. Kalo tiba-tiba diana ngakak di depan gwe, bisa
73
langsung ditangkep satpam kale.

“Mau pesen apa, mas?” Dika tetep berusaha ngejalanin tugasnya dengan baik.
Daripada dipecat?

“Apa aja deh. Terserah.” Jawab gwe sekenanya.

“Ya udah, Dika pilihin menu kesukaan mas Fadil aja ya.” Katanya sambil menulis di
kertas. Kontan aja gwe yang asalnya kagak konsen, ngomong sambil ngliatin meja yang ga
ada apa-apanya, langsung dengan dramatis dan rada slow motion, menatap Dika dengan
wajah penuh keheranan dan kebahagiaan. (Gubrak banget sih gwe…)

“Emang lu tau menu favorit gwe?” tanya gwe dengan mata yang kayaknya udah
berbinar-binar.

“Tau dong. Ditunggu sebentar ya, mas.” Dika mengeluarkan senyum mautnya
sebelum melenggang pergi dan dengan lincahnya melewati meja-meja pelanggan. Gwe
yang baru aja tersentuh hatinya, tetep mandangin Dika sampe Dika pun menghilang di
antara sekian banyak orang. (Jijai ga sih gwe, bo?) Abis, gimana ga bo. Seumur hidup gwe,
rasanya baru kali ini gwe ngerasa diperhatiin banget! Ketemu aja jarang-jarang, tapi diana
tau menu favorit gwe. Jelas aja gwe langsung kesemsem. Jangan-jangan diana udah naksir
gwe waktu pertama ketemuan…. Huahaha… Biar aja gwe Ge-eR. Yang penting, kayaknya
Dika bisa jadi sasaran yang empuk buat dijadiin temen kencan pas malem pergantian taon.
Emang sih, ini ga sesuai peraturan. Soalnya Dika kan kagak gwe temuin di kolam renang.
Tapi bodo amat ah. Daripada gwe gigit jari pas malem pergantian taon, mending gwe sama
si Dika.

Ga lama kemudian Dika udah nongol sambil bawa nampan. Ternyata diana bener-
bener tau makanan favorit gwe, bo. Brarti diana bener-bener perhatian ma gwe. Gwe makin
menjadi. Gwe kluarin pandangan maut gwe yang bisa bikin cowok paling ganteng di dunia
ini kesemsem ma gwe.

“Makasih ya, Dik” kata gwe plus ngelempar senyuman maut.

“Sama-sama, mas…” diana bales ngelempar senyum yang ga kalah manisnya sama
gwe. Sialan nih anak. Mau nyaingin gwe rupanya, batin gwe. Pas diana udah mau ngeloyor
pergi, gwe tarik deh tangannya dengan mesra.

“Tunggu dulu, Dik. Boleh ga mas tau nomer kamu?” tanya gwe dengan pede. Pelan-
pelan Dika ngelepasin tangannya dari tangan gwe. Gwe paham. Mungkin diana kagak mau

74
ketauan bosnya. Lagian kan ga enak diliatin orang kalo kita pegangannya lama-lama.

“Buat siapa ya, mas?” tanyanya sopan, bikin gwe tambah gemes. Gwe makan juga
lama-lama nih anak, batin gwe lagi.

“Ya buat aku lah. Masa buat perias mayat.” Jawab gwe sedikit becanda. Soalnya kalo
kebanyakan tar gwe disangka anggota srimulat lage…

“Oh, boleh.” Dika pun menuliskan nomernya di secarik kertas yang langsung dia
kasihin ke gwe.

“Thanks ya, Dik. Tar pasti aku hubungin.” Sambut gwe begitu Dika ngulurin kertas
yang berisi nomer telponnya. Dika pun ngeloyor pergi. Sip! Nomer Dika udah di tangan.
Saking senengnya gwe jingkrak-jingkrak di Coffee Shop itu sampe akhirnya ditangkep
satpam.

Sampe di kosan, gwe nges-m-s Dika deh ngajak janjian makan malem. Ternyata
diana mau ketumbaran ‘ma gwe. Diana sampe rela tuker shift sama temennya. Tuhkan!
Itu tandanya udah ada benin-benih cinta di hati diana bwat gwe. Gwe yakin banget deh,
bo. Setelah janjian, akhirnya gwe pun bisa tidur dengan tenang. Mungkin gwe bakal mimpi
indah nih malem ini.

Hari ke-28

Akhirnya gwe jadi juga makan malem sama Dika. Diana kliatan lebih cakep bo, kalo
ga pake seragam. Serius deh. Gwe yakin mata gwe blon buta. Ternyata gwe ma diana cocok
banget bo. Kalo ga lagi kerja, ternyata Dika juga orangnya supel dan ga ja’im. Ga kayak
yang gwe kira.

Tapi gwe kaget, bo. Di pertengahan obrolan, tau-tau diana nanyain tentang
permainan kita betiga. Wushet dah, intel kali ya ni anak.

“Gimana, mas? Udah dapet temen kencan lum?” tanya Dika tiba-tiba bikin jantung
gwe berloncatan kayak mutiara ke meja makan.

“Kok kamu tahu kalo aku lagi nyari temen kencan?” tanya gwe sambil balikin posisi
jantung gwe ke posisi sedia kala.

“Tau dong… Dika kan nguping.” Jawabnya. Weits, gila ni anak jujur kacang ijo
banget. Nguping kok ngaku. Untung sama gwe, kalo ma orang laen bisa didamprat kali ni

75
anak, ikut-ikut urusan orang.

“Gapapa kan kalo Dika nguping? Ga sengaja kok… Sori..” kayaknya diana bisa baca
gelagat gwe deh.

“Ya udahlah gapapa. Orang udah terlanjur, mau diapain lagi.” jawab gwe. “Gwe
pusing neh blon dapet temen kencan. Ga tau yang laen. Abis, hobi gwe paling sial she.”
Ujung-ujungnya gwe jadi curhat deh.

“Hobi sial? Maksudnya?”

“Lho? Katanya lu nguping… Seharusnya lu tahu dong yang gwe maksud.”

“Ga…, aku kan ngupingnya dikit doang, waktu nganter-nganter makanan. Itu juga
sekilas-sekilas.”

“Oh, kirain. Iya, jadi sekarang kami betiga harus nyari temen kencan sesuai hobi
masing-masing. Nah, kayak gwe hobi berenang, jadi gwe harus nyari temen kencan di
kolam renang. Getoh.”

“Susahnya apaan?” tanyanya dengan tampang rada blo’on.

“Ya susahlaah… Gwe kan ngantor, otomatis gwe cuma bisa nyari temen kencan
hari Sabtu n Minggu doang. Berarti dalam dua minggu, gwe cuma punya waktu empat kali
hunting ke kolam renang. Ga kayak yang laen. Si Mista hobinya chatting, bisa nyari kapan
aja. Si Andi hobinya dugem. Biarpun ngantor, dugem tiap malem kan masih tetep bisa. Nah
gwe? Masa mau ke kolam renang malem-malem?”

“Iya ya…” Dika manggut-manggut deh dengan tangan yang menopang dagunya.

“Makanya, lu mau ga jadi temen kencan gwe?” tembak gwe langsung ga pake malu-
malu lagi.

“Aku?!!” Dika langsung melotot kaget demi nerima tembakan dari gwe. Untung
diana ga mati. “Lho, kalo aku yang jadi temen kencan mas, ga sesuai sama peraturan dong.”
Dika tau-tau aja ngotot sambil maju-majuin dan menyot-menyotin bibirnya.

“Iya, gapapa. Mau kayak gimana juga aku udah dalam posisi kalah kok sekarang.
Mau nyari kapan lagi coba? Udah ga ada waktu menjelang malem pergantian taon. Daripada
gwe gigit jari, dihukum, plus ga punya temen kencan. Mending gwe nembak lu aja sekalian,
biar gwe punya temen buat malem taon baruan… Biar hidup gwe ga garing, Dik…” gwe mulai
melas-melas deh. Sebenernya gwe ga mau sih melas kayak gini. Tapi apa boleh buat. Gwe

76
udah putus asa banget, bo.

“Ih, ga mau ah. Dika ga mau masuk dalam permainan gilanya mas Fadil dan
temen-temennya mas Fadil itu. Lagian Dika udah punya pacar.” Tiba-tiba aja mukanya Dika
memerah kayak nahan emosi. Mampus. Gwe salah ngomong apa ya, kok diana kliatan
ngamuk? Batin gwe panik. Dika pun berdiri lalu ngeloyor pergi.

“Dika! Gwe bukan mau jadiin lo bahan permainan loh. Gwe mau serius berhubungan
sama lo! Dika!!” panggil gwe berharap diana berhenti. Tapi ternyata diana terus aja ngeloyor
pergi. Dikaaaaaaaa!!!! Gwe tereak dalam hati. Udah kayak adegan di sinetron sama film aja
nih. Abis itu gwe lemes, deh. Gagal udah usaha gwe. Hidup gwe kayaknya udah kagak ada
artinya lagi neh. Hiks… Padahal waktu tinggal dikit.

Hari ke-29

Udah hari ke-29 neh. Dan gwe blon dapet temen kencan. Gwe udah berusaha
ngubungin Dika, tapi lagi-lagi ga ada balesan. Kayaknya diana ngamuk berat. Temen kencan
ga dapet, malah kehilangan temen baru. Lagian gwe keGe-eRan amat ya, nganggep Dika
demen sama gwe. Jadi nyesel gwe nembak si Dika. Malah jadi kehilangan temen baru.

Hari ini gwe ngantor dengan keadaan pucet, lemah, ga bertenaga, loyo, dll. Mau
jalan dari ruang kantor ke toilet aja pake acara zig-zag kejeduk tiang berkali-kali. Tapi di
depan Andi sama Mista gwe pura-pura seger, biarpun habis itu loyo lagi. Iyalaah.., gwe ga
mau berkesan kalo gwe udah kalah. Habis, tampang mereka juga kayaknya pada seger gitu
sih. Jangan-jangan mereka udah punya lima temen kencan buat taon baru tar. Huwaaaaaaa!!
Kemana lagi gwe harus nyari temen kencan??!!

Hari ini gwe udah pasrah aja. Habis besok udah malem pergantian taon. Dan ga ada
lagi yang bisa gwe lakuin. Mista sih masih bisa sibuk chatting. Nah gwe?

Karena kecapekan, pulang dari kantor gwe langsung tepar deh tanpa sempet
mandi dulu. Habis itu gwe ngimpi seru banget. Gwe mimpi ketemu bidadara bidadara yang
ganteng-gantengnya selangit. Mereka beterbangan di angkasa. Begitu juga gwe. Eh, habis
gitu gwe gituan deh di langit ma mereka semua secara bergantian. Tapi pas lagi enak-
enaknya gitu, eh, tiba-tiba kemampuan terbang gwe ilang. Gwe jatoh jauuuuuuuuh banget
ke bumi. WAAAAAAA!!! Abis itu gwe sadar deh. Gwe lega ternyata itu cuma mimpi doang.
Rupanya ada yang lagi ngetok pintu gwe. Gwe sempet ngeri, gays… Habis udah jam satu
malem. Iya kalo yang bertamu orang beneran. Kalo orang jadi-jadian?!! Hwwwwaaaa!!!
77
“Siapa?” Dengan rada tegang gwe beraniin bersuara. Ga lupa gue lap dulu iler gwe
yang masih setengah basah.

“Dika, mas.” Jawab suara yang ada di balik pintu kamar gwe. WAKS!! Ga salah?!!
Malem-malem gene?!!

“Dika beneran apa Dika bo’ongan?” tanya gwe lagi.

“Ya beneranlaah. Mas Fadil jangan becanda dong… Cepet buka pintunya…” kata
suara di balik pintu itu lagi. Kayaknya sih emang Dika beneran. Soalnya, menurut ilmu yang
gwe pelajarin, yang namanya makhluk halus itu kagak bakal jawab kalo ditanya. Paling
ngegeleng, ngangguk, ngegeleng, ngangguk, kayak lagunya Project Pop neh. Leng geleng
geleng geleng geleng geleng geleng. Guk angguk angguk angguk angguk angguk angguk.
HuS! Malah jadi nyanyi she?!!

Akhirnya dengan keberanian yang udah ngumpul di ujung tanduk, gwe beraniin juga
buka pintu. Ternyata bener Dika. Begitu gwe buka pintu, diana langsung meluk gwe gitu,
bo!! Waaa…h Gwe langsung pasang tampang mesum. (Kebayang kan lu, bo?!)

“Kenapa Dik…?” tanya gwe pelan. Hal lain yang bikin gwe yakin kalo yang betamu
bener-bener Dika adalah karena:

Pertama, kakinya nyentuh tanah. Kedua, kalo diana hantu, pas diana mau meluk
gwe, pasti diana malah nembus badan gwe. Jadi gwe yakin kalo itu emang bener-bener
Dika. Wah… wah… ada apa gerangan ya… diana dateng malem-malem. Gwe udah nyengir
kuda aja karena penuh harap.

“Dika sebel, mas… sebel…” Dika langsung sesenggukan di dada gwe. (Padahal gwe
blon mandi… Ihik ihik… Sori ya, Dik.. Lagian mana tau gwe kalo lu mau dateng. Kalo tau sih
gwe pasti siap-siap dulu. Mandi, pake parfum tujuh rupa, dandan, dll deh)

“Ya udah kamu masuk dulu, baru kamu cerita semuanya tuntas ke mas, ya.” Jawab
gwe dengan lembut dan bijak bak pengisi-pengisi sandiwara radio jaman dulu.

Dika pun nurut. Diana masuk ke kamar gwe. Setelah itu, gwe kunci deh pintunya.
Yes!! Gwe joget-joget. Tapi dalam hati aja…. Di depan dia sih tetep ja’im dan sok wibawa…
Huehehe…

“Ok, sekarang kamu bisa cerita, kenapa tiba-tiba kamu dateng semalem ini dan
tau-tau nangis gitu?” Gwe duduk berhadap-hadapan sama dia yang lagi nunduk sambil
sesenggukan.

78
“Gini, mas.. Tadi waktu Dika pulang kerja, tau-tau Dika ngeliat seseorang yang
mirip pacar Dika lagi makan nasi goreng di pinggir jalan… Dia lagi becanda mesra gitu sama
cowok. Pertamanya sih aku cuek aja. Eh, lama-lama aku penasaran juga. Kok kayaknya
memang pacar aku sih. Aku pura-pura aja beli rokok di warung yang deket sama tukang
nasi goreng itu. Pas aku liat bener-bener, eh, ternyata itu bener-bener pacar aku. Saking
asyiknya sama cowok barunya, dia sampe ga nyadarin keberadaan aku. Aku kesel dan
marah banget. Akhirnya aku beraniin deketin dia dan langsung aku pukul mulutnya keras-
keras sampe berdarah. Habis itu aku langsung ngebut ngelariin motor aku ke sini. Dan
ternyata waktu aku ngeliat ke belakang, dia sama sekali ga berniat ngejar aku. Berarti
dia udah ga cinta sama aku. Aku benci banget sama dia, mas! Benci!!” Dika meraung lagi,
sampe gwe kira mau nerkam gwe.

“Udah, Sekarang kamu tenang aja dulu.” Kata gwe sok bijak. “Ada kalanya kita
harus ngalamin cobaan yang cukup berat dalam hidup. Semua itu ga lain adalah sebuah
proses pendewasaan. Diambil hikmahnya aja, Dik. Untung kamu tahu belangnya diana
sekarang. Coba kalo ntar ntar, pasti kamu lebih sakit lagi.” Cieeh.., udah wise blon sih kata-
kata gwe?

“Tapi Dika sebenernya masih cinta banget sama dia, mas. Dika ga rela banget
diperlakukan kayak gini.” Mulut Dika manyun manyun kayak minta dicium. (Apa gwenya aja
yang Fiktor alias Fikiran kotor ya?)

“Ya, siapa sih yang rela diselingkuhin. Cuma orang-orang berhati baja aja yang kuat
diperlakukan kayak gitu. Dan orang-orang model begitu cuma ada satu diantara seribu.
Yang laennya, ya persis kamu. Sakit hatilah, ga terimalah. Itu wajar banget kok.” Lanjut
gwe.., maksudnya habis ini gwe mau ngompor-ngmomporin dia supaya mau sama gwe…

“Sekarang, kamu cuma harus memutuskan aja. Kamu mau mempertahankan cinta
kamu sama dia, atau kamu hapus cinta kamu sama dia dan cari cinta yang laen. Kalo kamu
mau mempertahankan cinta kamu sama dia, berarti kamu harus siap memaafkan, dan
mungkin juga harus siap sakit hati lagi kalo suatu saat dia berbuat gitu lagi sama kamu.
Karena kalo itu udah jadi watak dia, susah bo. Biarpun diana udah minta maaf, mungkin
banget kalo suatu saat diana begitu lagi. Atau.. pilihan kedua, kamu hapus cinta kamu
sama dia dan cari yang laen. Emang rada susah ngelupain seseorang yang udah kita cinta
banget. Tapi dengan mengalirnya waktu, semua pasti bisa kamu lewatin. Toh kalo emang
jodoh suatu saat kamu bisa jadian lagi sama diana. So, semua terletak di tangan kamu,
Dik. Kamu yang harus ambil sikap.” Wusheet statement-statement bijaksana bisa keluar

79
dengan lancar dari mulut gwe. Padahal, kalo gwe sendiri yang ngalamin, bisa robek-robek
jantung gwe. Ngomong emang lebih enak sih daripada melakukan. Hihi… Tapi gapapalaaah…
Soalnya kayaknya Dika juga jadi rada tenang denger omongan gwe. Nenangin hati orang
kan pahala juga, bo.

Habis gwe omongin gitu, Dika diem aja. Kepalanya masih nunduk ke lantai.
Tangisnya udah agak redaan. Berarti jurus gwe manjur.

“Iya juga ya, mas. Sekarang semuanya tergantung Dika. Tapi Dika jadi bingung.
Kalo Dika mau ngotot sama cinta Dika, berarti Dika harus siap diinjek-injek lebih dari ini.
Tapi, Dika pasti susah banget ngelupain dia. Tapi daripada diinjek-injek, mending Dika milih
buat ngelupain dia aja. Emangnya Dika sepatu, bisa seenaknya diinjek-injek.” Yes!! Gwe
joget lagi dalam hati demi mendengar kata-kata Dika. Habis ini tinggal mempengaruhi dia
supaya mau sama gwe, deh. La la la la… Hip hip… Hurraaay…!!

“Ya udah kalo kamu udah mutusin gitu. Menurut mas, itu keputusan yang tepat dan
berani.” Kata gwe. Terang aja gwe dukung diana. Orang gwe ngincer diana…. Huohoho…
Jangan ngomong-ngomong ya, gays…

“Makasih ya, mas. Dika udah agak tenangan sekarang.” Kata Dika sambil megang
tangan gwe dan mandang mata gwe dengan berbinar-binar. Eh, sialan. Jantung gwe
langsung berloncatan jatoh ke lantai. Dan tiba-tiba, POK. Dika nyipok gweee!!!! POK. POK.
POK. Eeeh…, terus-terusan nih nyipoknya. Akhirnya ya gwe bales aja tanpa ragu-ragu. Buat
apa lagi nunggu kalo gandum udah jadi terigu. Yippie… Bener kan diana suka sama gwe…
Cuma kemaren dia ja’im aja kali… Selanjutnya…, bayangin sendiri aja deh sama lo bedua.
Yang penting gwe bakal punya temen kencan buat malem taon baruan nanti. Aseeek!!! �

Hari ke-30

Pagi-pagi buta Dika udah ngacir ke rumahnya. Diana sempet pamit sambil nyipok
kening gwe. Katanya diana ga mau ganggu ritual gwe sebelom berangkat ke kantor.
Pengertian banget deh ni anak. Ihik ihik… pokoknya gwe hepi banget.

Sekarang udah tanggal 31 Desember alias hari ke tiga puluh, alias hari terakhir
permainan. Tar malem adalah hari dimana permainan gila ini akan berakhir. Yang jelas gwe
ga bakalan jadi salah satu orang yang kena hukuman, karena gwe udah dapet Dika. Hua
ha ha.. Aku menang!!! Hua ha ha ha ha.. Huss!! Blon tentu ding. Soalnya si Dika cuma
senyum dikulum doang waktu gwe tanya dia mau apa ga jadi temen kencan gwe buat
80
malam pergantian taon tar. Katanya tar diana bakal sms. Tapi gwe yakin sih diana mau. Ga
tau deh. Pokoknya hari ini gwe hepi berat. Dan gwe melangkah di kantor dengan kepala
mendongak dan berjalan bak foto model. Tiap ada yang manggil, gwe akan noleh sambil
ngibasin rambut dan ngedipin mata. Makanya yang manggil gwe habis itu langsung ngabur.
He he he…

81
82
Hari ke-21

Aku rada demam nih, gays… Mau flu. Jadi aku rasa aku ga pergi dugeman deh.

Hari ke-22

Hari ini aku paksain buat dugeman biarpun ingus masih tumpah-tumpah dari lobang
idung. Begitu aku sampe diskotik, mata aku udah keliling-keliling sendiri cari mangsa.
Perasaan di situ semua oks deh. Aku jadi sempet bingung mau pedekate sama yang mana.
Akhirnya aku mengalir aja. Mana aja yang nempel ke hati hari ini, harus aku bikin takluk.
Wahaha… Seyem ga seh…

Begitu sampe aku langsung aja turun ke dance floor, joget-joget kayak uler keket.
Tapi ga lupa mata tetep jelalatan. Eh, ternyata ada juga yang akhirnya mampu menarik hati
aku. Orangnya cool banget. Jogetnya aja ga terlalu heboh, cuma pala doang yang digeleng-
gelengin. Badannya sih diem aja kayak patung. Unik juga nih orang, batin aku. Aku langsung
ngesot pelan-pelan ngedeketin tu orang. Waktu aku mendekat, dia senyum-senyum.

“Suka ke sini juga, Ndi?” tanyanya tiba-tiba. WAKS! Aku langsung kaget setengah
mati. Untung ga kejungkel. Kok diana bisa tau nama aku?

“Kok tau namaku Andi?” tanya aku penasaran banget. “Pernah ketemu dimana
ya?”

“Masa lupa sih?” diana tambah masang senyum misterius, bikin aku tambah
penasaran. “Kamu kan terkenal tukang ngancurin mobil.”

“ Lho? Kok tau sih?” Aku tambah kaget dan deg-degan aja bo… Lagian kok diana
bisa tau masa lalu aku pas di Jogja?

“Ya iyalaah… Aku kan yang nanganin kasus kamu waktu itu.” GUBRAK! Mampus!!
Ingus aku langsung keluar dari lobang idung. Lagian, tujuannya mau pedekate, eh, yang
dideketin malah polisi yang dulu nanganin kasus aku.

“L.. Lho? Kok? B.. Bisa ada di sini” tanya aku sambil rada gelagapan.

“Aku kan waktu itu cuma dinas aja di Yogya. Aslinya sih polisi sini.”

83
“Oh… Aduh, bentar ya, aku mau ke toilet dulu.” Tiba-tiba aku jadi kebelet pipis demi
ketemu orang itu. Lagian, kok polisi bisa ikut-ikutan dugeman sih. Sial aku hari ini. Abis ke
toilet, aku langsung ngacir deh. God…, mimpi apa aku semalem.

Hari ke-23

Sejak ketemu polisi kemaren, kayaknya aku jadi rada trauma gitu ke diskotik. Tar
tau-tau aku ketemu lagi sama polisi yang laen. Tapi demi misi, mau gimana lagi. Kepaksa
tiap malem aku harus hunting. Kalo ga, aku bisa kalah. Malu dong, masa aku yang punya
ide, aku juga yang kalah.

Malem ini aku pergi ke diskotik yang beda sama diskotik yang kemaren biar ga
boring dan ga ketemu lagi sama polisi yang kemaren. Kali ini aku ga langsung turun ke
dance floor, tapi nongkrong dulu di bar, sekalian nyelidikin orang yang mau aku gebet. Tar
salah-salah kejadian kayak kemaren terulang lagi deh.

Pas mata lagi keliling-keliling, tau-tau ada lekong duduk di sebelah aku dan langsung
ngajak ngobrol.

“Ga turun?” tanyanya.

“Ntaran ah.” Kata aku.

“Kamu cakep deh” katanya tanpa basa basi sambil agak berbisik di telinga aku dan
sedikit ngelus tangan aku. Wusheeeet agresif banget nih lekong atu. Abis itu dia pake nyentuh
tanganku pake tenaga dalem segala, lagi. Soalnya bulu kuduk aku langsung merinding. Tapi
aku ga mau kalah dong bo… Kalo diana gencar, aku harus lebih gencar lagi.

“Kamu juga.” Bales aku lagi, ga mau kalah. Tapi emang diana lumayan juga bo.
Tampangnya jantan banget. Bikin nepsong. Hehehe…

“Ikut aku keluar aja yuk.” diana ngajak aku keluar deh. Abis itu aku langsung dibawa
ke apartemennya. Trus ya… gitu deh… Pokoknya diana agresif dan berpengalaman banget,
bo. Oya, namanya Frans.

84
Hari ke-24

Hari ini aku berangkat ke kantor dari apartemennya.

“Tar balik lagi ke sini ya, Say.” Kata Frans sambil narik tangan aku dengan masih dalam
kondisi tiduran. Suaranya ngebas dan seksi banget.

“Oke.., tenang aja. Aku pasti bakal ke sini lagi kok say, pulang dari kantor” bales
aku ga kalah mesranya. Sampe di luar pintu kamarnya, aku pun langsung jingkrak-jingkrak
sampe tetangga yang baru aja mau keluar, nutup pintu lagi ga jadi keluar. Takut aku makan
kali, ya?

Di kantor aku semangat banget bo, meskipun waktu kerasa lama banget berlalu.
Rasanya aku pengen cepet balik ke apartemennya. Apalagi besok weekend. Jadi aku bakal
punya waktu banyak banget sama Frans. Diana emang non muslim sih, tapi gapapalah. Yang
penting aku udah punya cadangan temen kencan buat nemenin aku di malem pergantian
taon.

Sepulang dari kantor aku langsung menghilang buat pergi ke apartemennya.


Buat bikin diana seneng, aku beli buah-buahan buat oleh-oleh. Habis itu, aku menuju ke
apartemennya yang udah ga jauh sambil loncat-loncat kayak kelinci.

Pas buka kunci kamarnya, aku kaget banget, bo!! Soalnya apartemennya
berantakaaan banget kayak kapal pecah. Aku jadi rada panik gitu. Aku masuk, dan langsung
nyariin dia ke segala sudut ruangan. Di kamar, di kamar mandi, di dapur, di dalem lemari
di kolong meja, dan di luar jendela. Kali aja dia tau-tau stress, trus bunuh diri loncat dari
jendela. Tapi ternyata diana ga ada dimana-mana. Akhirnya aku punya inisiatif buat nelpon
dia dan nanyain keadaannya. Waktu aku telpon, aku kaget bukan alang kepalang. Ternyata
yang angkat telpon bukan dia.

“Kantor polisi pusat, silahkan sebutkan siapa anda dan keperluan anda dengan
saudara Frans.” Demi mendengar kata-kata polisi, langsung aja aku lempar telpon aku
jauh-jauh, dan aku tinggalin apartemen itu. Aku ga tau kenapa tiba-tiba Frans ada di kantor
polisi. Ga tau dia emang polisi, ato diana baru aja ketangkep polisi karena ada kasus. Tapi
kalo diliat dari kondisi apartemennya yang berantakan, polisi pasti baru aja ngegeledah
apartemennya. Apapun itu, yang pasti aku ga mau tau karena aku udah males berhubungan
dengan polisi. Mumpung cinta belom tumbuh di hati aku. Aku nutup kamarnya, ngucapin
selamat tinggal dalam hati, dan langsung cabut ke rumah.

85
Waktu sampe rumah aku lega banget. Home Sweet Home. Tinggal beli HaPe baru
lagi besok. Dan malem ini. aku milih untuk ga dugem aja buat nenangin hati.

Hari ke-25

Hari ini aku ada janji sama Roy temennya sepupu aku. Katanya diana mau jadiin aku
nara sumber buat skripsinya. Soalnya skripsinya mengangkat tentang pergulatan psikologis
seorang gay yang udah membuka dirinya di publik.

Waktu aku pertama kali ketemu diana di foodcourt salah satu mall di Jakarta,
aku langsung berkuah-kuah. Tapi aku tahan supaya aku ga ngiler. Kalo ga tar diana bisa
langsung lari. Aku harus tunjukin bahwa kaum gay bisa jaga napsu, ga asal maen sosor
aja. Aku harus kliatan friendly biar diana betah ngobrol sama aku. Roy tuh cakep banget,
bo. Badannya tinggi, putih, pake kacamata, dan kliatan banget diana otaknya pinter. Dari
matanya aja udah ketauan kalo dia tuh cerdas.

Obrolan seru pun terjadi di antara aku sama Roy. Sampe-sampe makanan pun
terabaikan saking asyiknya ngobrol. Ga kerasa tau-tau kita udah ngobrol selama kurang
lebih sepuluh jam. Bo’ong diiiiing…, maksud aku dua jam, sampe bibir aku keriting karena
ngomong terus. Setelah diana puas, dia pun langsung amit undur diri. Katanya diana banyak
janji sama orang. Karena nara sumbernya ga cuma satu.

Waktu diana pergi, aku pun melepas kepergian diana sambil memandangnya sampai
menghilang dari pandangan mata setelah sebelumnya melancarkan cipika cipiki dulu di
mukanya yang mulus. Sayang lu lekong eslong, Roy… Coba kalo gay.. batin aku sambil
bercucuran air mata.

Pas pulang dari mall, aku heran karena ada banyak orang yang mandangin aku
terus bisik-bisik. Pertamanya aku ga nyadar kenapa mereka kayak gitu. Ternyata, mereka
ngliat baju aku yang ada tulisannya “GAY RIGHT IS HUMAN RIGHT”. Pantesan aja mereka
pada bisik-bisik. Aku sih cuek aja. Udah biasa tuuuh… Lagian aku kan ga ganggu orang, ga
mengganggu ketertiban umum dan ga nyolong. Kenapa juga aku musti merasa terganggu
sama pandangan mereka. Paling-paling aku cuma nyanyiin lagunya Seurius aja dalam hati
“Gay juga manusia…!”

Malemnya aku pergi dugem ke gay club dan ketemu sama mahasiswa semester
pertama yang namanya Chiko (kayak nama guk guk ya, bo..?) Karena sama-sama Butuh
Tentuhan, kita bedua langsung to the point aja. Chiko ngajak aku ke rumahnya. Dan seperti
biasa… lo bedua ga usah tau deh…

86
Hari ke-26

Gara-gara tidur di tempatnya Chiko, semua jadi runyam. Soalnya, hari ini Nyokapnya
Chiko langsung aja nylonong masuk kamar dan langsung pingsan. Terang aja pingsan. Abis,
aku sama dia tidur dalam keadaan bugil karena ga sempet pake baju saking kecapekan
semalem.

Karena aku tipe orang yang bertanggung jawab, jadi aku tunggu dulu sampe
Nyokapnya sadar. Aku angkat Nyokapnya ke tempat tidur, aku kipasin, aku kasih minyak
angin, aku ciumin... WAKS!! Gak laah… Gwe ga cocok sama ibu-ibu. Habis itu Nyokapnya
sadar sih, tapi begitu diana liat aku, diana langsung pingsan lagi deh, bo… Terlalu shock kali
yeeee… tau anaknya begitu…. Yaaah.., daripada aku bikin Nyokapnya Chiko pingsan lagi,
mending aku ngacir aja deh.

Selang beberapa jam, Chiko sms aku. Gini sms-nya:

“Mas, Nykp ngamuk bgt. Aku dipingit. N mulai skrg, aq akn sll dikwl kl pegi kmn2.
Jd mgkn qt ga bkl bs ktm lg. Maaf. Chiko.”

Gagal lagi deh aku. Tau kenapa, berapa hari berturut-turut isinya gagaaaal mulu.
Apa sesulit ini jalan mencari soulmate..? Hwaaaa…!!

Malem ini lagi-lagi aku mutusin bwat ga pergi ke diskotik. Aku mau berduka cita
dulu.

ke- Hari 27

Hari ini aku janjian dugem sama temen aku Doni. Diana emang raja dugem juga.
Pas sampe sono, aku langsung tertarik sama cowok yang duduk di sebelahnya. Aku jatuh
cinta langsung pada pandangan pertama, bo… Pas dia berbalik natap aku dengan rada slow
motion, aku langsung melotot. Untung diana ga lari.

Tampangnya cute abis… Putih, matanya tajem tapi teduh, bibirnya ga tebel ga tipis
tapi proporsional banget sama tampangnya dia, bentuk mukanya ga kotak, ga bulet, ga
oval.. (trapesium dooong..), pake kacamata, dan ada jenggot tipis di dagunya. Seksi banget
bo… Tipe aku banget deh, pokoknya.

Langsung aja aku mepet-mepet Doni, minta dikenalin. Doni udah senyum-senyum

87
kucing aja. Kayaknya diana udah tau gitu kalo aku bakal naksir sama temennya. Untung Doni
baik hati. Aku diijinin kenalan sama tu cowok. Waktu jabatan, aku langsung deg-degan gitu
loh… Jantung aku kayak mau kabur pake F-1. Habis tangannya keker dan kuat. Jabatannya
diana juga kuat tapi tetep lembut. Apalagi waktu diana nyebutin namanya. Biarpun suasana
bising banget, tapi suaranya kayak bergema banget di telinga aku. (udah najis blon bo?)

“Arya” katanya dia waktu kenalan dengan suaranya yang merdu abis. Waaaaaw! Aku
serasa langsung melayang ke alam lain demi mendengar suara Arya.

“Aku Andi.” Balas aku. ‘Nama kita sama-sama dari A, ya..” tambahku lagi. Moga-
moga aja ga kliatan keganjenan. Tapi ternyata Arya menyambut kata-kata terakhir aku
dengan tawa kecil yang nampakin giginya yang putih bersih dan rapi. Waaaaaw… lagi-lagi
rohku melayang sebentar ke dunia lain. Untung aja baliknya cepet. Kalo ga, mungkin roh
aku udah disambit setan.

Musik yang dimainin DJ memaksa aku bwat ngedance. Seribu satu gaya pun aku
peragakan, mulai dari ngebor, ngecor, ngegergaji, ngaduk semen, sampe maku yang patah-
patah gwe lakuin. (tukang bangunan kalee) Tiba-tiba, Cling… Arya senyum ngliat aku.
Chiiiiit.. Goyangan aku langsung berhenti detik itu juga.

“Turun yuk” ajak aku ramah.

“Mau turun gimana, ga ada tangganya.” Jawab Arya dengan gaya coolnya yang
maut abis. Rasanya aku pengen makan tu anak saat itu juga. Krauk krauk…!

Karena Arya ga mau, ga ada hak untuk memaksakan kehendak, karena itu
pelanggaran HAM Cieile… ditempat dugem masih sempet-sempetnya ngomongin HAM.
Sebelom ninggalin Arya untuk melanjutkan aksi kesurupan kaya clubber lain, aku sempet
nyubit perutnya. Dan Arya tanpa ekspresi natap aku. Entah suka, marah, atau mengkin mau
ngelempar aku pake botol karena perutnya udah aku cubit. Whateverlah… yang pasti Arya
tetap terlihat anteng…

Ga kerasa udah jam tiga pagi. Mampus! Padahal besok aku harus ngantor nih.
Biasanya jam segini aku udah molor sampe Hongkong… Karena badan udah pegel-pegel,
tulang pada linu dan keringet udah mengering, aku putusin bwat balik ke rumah.

Pas aku mau balik, eh, kebetulan Arya mau balik juga. Ihiiii… asek nih, bisa
bareng.

“Boleh numpang ga?”. Tanyaku dengan penuh harap.

88
“Boleh”.jawabnya.

OMG... gayung bersambut, bo. Yes... tanpa pamit dan komat-kamit sama Doni
temenku si raja dugem, aku langsung kabur dari hingar-bingar ruang parti.

“Asik ya partinya.” Aku membuka pembicaraan

”Lumayan” jawab Arya sambil ngeliat terus ke jalan, ga nyadar kalo mata aku
berbinar-binar waktu mandangin tampangnya yang ganteng abis. Haaah…, beruntunglah
jadi kaum gay yang rata-rata isinya cowok ganteng smuwa.

“Lumayan gimana?” tanyaku lagi. Maksudnya sih mau ngerebut perhatiannya…,


bikin dia mandang ke aku barang dikiiit aja. Eh, ternyata usaha aku gagal. Diana tetep aja
ngomong sambil liat jalan.

”Yah, lumayan bikin gwe enjoy. Habis gwe udah lama ga dugem sih. Dulu sempet
sih doyan dugem… tapi lama-kelamaan cape juga, banyak waktu yang kebuang. Tadinya
buat istirahat malah dipake buat jingkrak-jingkrak tengah malem, bikin waktu istirahat
berkurang. Tapi kadang perlu juga haha-hihi kayak gini buat ngilangin stress.” Jawabnya.
Ampun DJ Nori..., Arya cool banget ngejawabnya. Bikin ati ayem dan melayang ke negeri
sebrang…

Jakarta di jam tiga pagi emang asik, ga ada tanda-tanda kemacetan. mobil yang
aku tumpangin ngalir tanpa hambatan. Sempet juga kepikir pura-pura lupa alamat rumah,
biar bisa lebih lama bareng Arya. Tapi gila kali ye… Mending kalo abis itu aku diajak ke
rumahnya. Kalo langsung dibawa ke RSJ karena dianggap amnesia? Kan repot.

Ga kerasa mobil Arya udah parkir di depan rumah aku. Aku segera turun dari
mobilnya, setelah sebelumnya terjadi peperangan antara otak dan pantat. Otakku
merintahin bwat segera turun, sedang pantatku masih betah duduk berlama-lama di jok
mobilnya. Untung abis itu otak aku yang menang. Kalo ga, mungkin aku udah dipelototin
Arya karena ga turun-turun.

Setelah itu Arya muter mobilnya dan mandang aku sebentar sambil senyum dan
ngebunyiin klaksonnya. Waduh bo… Senyumnya waktu itu.., cool abis… Dan adegan waktu
itu mirip kayak adegan di film-film korea. Romantis. Tapi tetep aja bagi aku kurang romantis.
Habis.., ga ada adegan cipok-cipokannya seh… Huehehe… Ga tau kenapa aku ga bisa
seagresif biasanya kalo sama Arya. Jangan-jangan aku jatuh cinta beneran nih… Hwaaaa…!
Mending kalo cintaku berbalas. Kalo aku bertepuk sebelah tangan? Hwaaaa lagiii!!

89
Hari ke-28

Hari ini di kantor pas jam istirahat, aku nyoba nelpon Arya. Ternyata, telpon aku
diterima dengan baik, bo. Malah, nada bicaranya kelihatan seneng. Jangan-jangan emang
diana berharap aku telpon dari semalem. Cuit Cuwiiiw… Malem ini aku sama dia janjian
nonton Festifal Film bareng. Dan dia bakal jemput aku pake mobilnya. Ihi! Ada untungya
juga ya BoNyok ga ngasih aku mobil lagi. Jadi aku bisa berangkat bareng Arya. Habis itu di
kantor tingkah aku jadi ga karu-karuan. Mau ke toilet malah mampir ke ruang bos (mampus!)
Mau ngerjain kerjaan yang belom kelar, malah bikin surat cinta di WeCe. Pokoknya macem-
macem deh. Abis arwah aku udah melayang-layang ngebayangin tar malem sih…

Malemnya Arya nongol seperti waktu yang dijanjiin. Alamak… Diana cakep banget
bo. Bajunya yang berwarna merah marun dengan kerah warna item, makin menampakkan
kulitnya yang putih bersih. Makanya begitu liat diana rahangku langsung kaku ga bisa
ditutup. Akhirnya diana kudu kerja keras dulu ngebantuin aku nutup mulut. Malau-maluin
aja aku.

Setelah nonton bioskop dan makan sambil bercengkrama, akhirnya tiba juga
waktunya buat pulang. Hiks.., aku sedih banget deh. Mana di bioskop ga adegan serem
yang bisa jadi alasan aku buat meluk diana, lagi. Untung aja waktu di mobil, diana curhat.
Itupun setelah aku pancing-pancing. Katanya sih diana baru aja patah hati dan sekarang lagi
sendiri. Yippie! Aku langsung loncat sampe kejeduk kap mobil. Untung diana ga tau. Kalo
tau kan malu aku…

Besok aku janjian nonton lagi…. ouw… ouw…

Hari ke-29

Pulang dari kantor aku langsung mandi dan siap-siap. Semua berjalan lancar. Diana
jemput aku di depan rumah dan kita pun meluncur bareng.

“Eh iya, Ndi.” Kali ini Arya ngebuka omongan duluan. “Kamu jangan kaget ya.” Aku
jadi deg-degan denger dia ngomong gitu.

“Kenapa?” tanya aku gemeteran. Untung ga mimisan.

“Tar, mantan aku mau dateng. Dan mau aku kenalin ke kamu.” Lanjutnya lagi. Aku

90
lemes deh. Dikirain mau nembak aku.

“Oh, ya udah gapapa.” Kata aku lemes. Emang, cowok satu ini ga murahan. Ga
gampang dideketin, apalagi diajak gituan. Mau ngungkapin perasaan aja kayaknya susah
banget. Emang, Arya bukan cowok sembarangan. Kayaknya aku jadi tambah jatuh cinta
sama dia.

Sampe di gedung bioskop, eks BF-nya udah nungguin. Ternyata eks Bfnya cuakep
juga bo…. Kalo diana jalan bedua sama Arya, pasti semua orang pada ngelirikin. Abis Arya
sama mantannya sama-sama kayak foto model sih. Jadi minder deh aku. Tapi rasa minder
itu segera aku buang ke tempat sampah di samping aku. PRUK. GROMBYANG.

Kita pulang bertiga. Pertama nganterin mantannya dulu, baru nganterin aku. Pas
perjalanan pulang, tiba-tiba aja ada setan yang merayu aku buat nembak Arya. Begitu
dirayu tu setan, badan aku langsung gemeteran, muka aku merah, jantung aku menderu,
dan dari ubun ubun, hidung dan telinga aku keluar asep.

“Tumben diem, Ndi.” Kata Arya sambil ngeliatin aku sesekali. Aku berharap semoga
aja diana ga liat asep yang keluar dari ubun-ubun, hidung dan telinga aku. Aku langsung
kayak tersengat listrik begitu denger suara dia yang merdu dan dalem banget.

”Eh.. eng.. enngakkk… gapapa” Jawab aku rada panik..

Sampe di depan rumah, kekuatan setan yang ngerayu aku semakin menjadi-jadi. Tu
setan udah ngejuntrung-juntrungin aku supaya aku cepetan ngungkapin perasaan. Karena
ga kuat sama rayuan tu setan, akhirnya aku pun ngeberaniin diri ngomong.

“Ar,” akhirnya suara aku keluar juga. Habis dari tadi kayak disumpel kaos kaki sih.
“Sebenernya aku mau jujur sama kamu.” Kata aku semakin ngeberaniin diri.

“Jujur apaan? Jujur ayam apa jujur kacang ijo?”. Candanya, bikin aku pengen
nerkam terus banting-banting diana di tempat tidur.

”Sebenernya.., aku… suka sama kamu” Oh god… aku jadi serasa kayak jadi cewek
SMA yang nembak kakak kelasnya. Gemeteran banget, bo…

Waktu denger aku ngomong gitu, Arya kayaknya langsung kaget setengah mati
kaya kena samber geledek di siang bolong. Matanya melotot dan rambutnya berdiri. Karena
ga sanggup nahan malu dan keburu kebelet pengen pipis, aku langsung ngacir menuju
rumah ninggalin Arya yang masih melotot. Apa pun yang terjadi, aku udah ga peduli lagi.
Yang penting aku udah jujur ngungkapin semua yang terpendam di hati aku.

91
Hari ke-30

Hari ini aku iseng-iseng buka e-mail di kantor, dan ternyata ada e-mail yang
datengnya dari Arya. Kontan aja aku jadi deg-degan banget, bo. Dengan tangan gemeteran,
aku buka e-mail dari Arya pelan-pelan.

Ndi…, Gwe suka sama lu. Lu anaknya supel, baek, perhatian, dan nyenengin. Yaah..,
biarpun kadang-kadang lu juga suka o’on. Sok-sokan ngomong bahasa inggris, tapi salah
mulu. Ga usah begayalaah.., kalo emang ga tau… He he.. Sori, itu cuma sekedar kritik yang
membangun, okey?

Tapi.., mengenai perasaan lu sama gwe semalem… soriii banget. Lu kan tau kalo
gwe baru aja putus cinta. Dan gwe belom sembuh dari sakit hati gwe. Jadi, buat sementara,
gwe blom bisa nerima siapa-siapa di hati gwe. Mungkin lu kecepetan kali nembaknya. Coba
kalo nunggu seminggu or sebulan lagi. Pasti gwe udah keburu punya pacar lagi. Hehe…
ga ding. Yaaah, gwe minta lo sabar aja ya nungguin sakit hati gwe ilang. Dan jangan
khawatir, perasaan lu semalem ga bakal gwe campakin ke tempat sampah kok, tapi pasti
gwe pertimbangin masak-masak. Kalo udah mateng, tar gwe bakal ngubungin lu. Doain aja
matengnya tar sore. Kalo matengnya tar sore, pasti tar sore gwe udah ngubungin lu. Don’t
cry, yaa…

Arya.

Hikss… kok jadi nggantung gene seeeh… Rasanya aku jadi dilema banget. Padahal
tar malem udah pergantian taon. Kalo Arya ga ngubungin gwe tar sore, berarti gwe kalah
doooong. Gemena neeeeeh??!!!!

BEBERAPA JAM MENJELANG PERGANTIAN TAHUN

Wah…wah… gawat neh. Kayaknya trio tahu gejrot ini sama-sama panik karena blon
dapet temen kencan buat malem pergantian taon yang tinggal beberapa jam lagi. Tapi
karena masing–masing dari mereka ga mau ketauan kalo mereka lagi di ujung tanduk kebo,
alias dalam bahaya karena terancam kalah, tiap ketemu muka sama anggota trio tikus
lainnya, mereka pura-pura seger buger kayak abis makan burger. Padahal abis itu, mereka
langsung menciut lagi plus deg-degan karena beberapa jam lagi, bakal ketauan siapa yang
kalah siapa yang menang.

92
Pukul 16:00 WIB

MISTA

Wihiii! Mista makin panik. Doi mondar mandir dengan rambut berantakan persis
kayak monyet nyebur oli. Kemana pun doi pergi, laptop selalu nempel sama doi. Setelah
berjuang seharian chatting ngumpet-ngumpet kayak ulet cupet.., kayaknya akhirnya doi
ketemu juga yang mau diajak malem taon baruan. Begitu dapet, Mista langsung loncat-
loncat di WeCe sambil joget-joget maju mundur kayak babi ngepet.

FADIL

Fadil yang tadi pagi berjalan dengan begitu percaya diri bak foto model, mulai
kliatan lemes. Soalnya Dika sama sekali blom ngasih kabar ke doi. Doi udah sempet sms,
tapi Dika ga bales. Oh, akankah semuanya berakhir begitu saja setelah kita melewati malam
yang begitu indahnya, Dika… batin Fadil sok puitis. Tapi yang jelas, keringet dingin segede-
gede jagung mulai bercucuran dari keningnya Fadil.

ANDI

Andi ga jauh beda sama Fadil. Doi juga digantung sama Arya. Ga ada harapan lain
selain ngarepin Arya sms ato nelpon dia, dan bilang bahwa dia udah siap menjalin hubungan
sama Andi.

Pukul 17.00 WIB

Pulang kantor trio curut itu ga lupa mengadakan briefing dulu kayak kambing mau
maling.

“Jangan lupa, ya…” Andi sebagai ketua sekte mencoba mengingatkan anak buahnya
masing-masing. “Jam sembilan di Coffee Shop dengan pasangan masing-masing.” Andi
melotot seperti biasa. Padahal hatinya juga kayak dicubit-cubit kalo inget bahwa Arya belon
juga ngubungin doi.

“Iyaaa… Siiip Udah tau.” Mista dan Fadil juga sok-sokan tenang. Biar ga dikira bahwa

93
mereka belon dapet temen kencan gitu…

“Ya udah kalo gitu. Sekarang kita balik ke habitat masing-masing. Majuuu jalan.”
Perintah Andi bak pemimpin Paskibraka. Mereka bertiga pun keluar kantor dan menuju ke
tempat tinggal masing-masing kecuali Mista. Karena Mista ga bakalan sempet buat balik
dulu ke rumahnya yang ada di Bogor, doi udah nyiapin baju ganti di tasnya buat tar malem.
Habis itu doi langsung menuju mall tempat doi sama temen chattingnya janjian.

Pukul 18.00 WIB

Mista udah sampe di mall tempat doi janjian sama calon temen kencannya.

“gw di pntu dpn pake baju ijo n clana jin item.” Sms Mista sama temen kencannya.

“Ok. Lagi otw neh. Tgg ya bo..” ga berapa lama nongol balesannya. Pas udah sekitar
lima menit Mista nunggu, tau-tau ada yang nepuk bahunya dari belakang.

“Mista bukan ya?” kata suara yang udah nepuk bahu dia. Suaranya halus banget
kayak cewek. Dengan deg-degan, Mista pun berbalik ke arah orang itu. Ga taunya..,
WAKS!!

“Kok lo banci sih?!!” Mista hampir tereak demi ngeliat orang yang di belakangnya.
Dandanannya cewek abis. Cantik banget. Kalo ga ditelek-telek, orang ga bakalan nyadar kalo
doi sebenernya banci. “Lo yang janjian sama gwe kan?!” lanjut Mista mencoba memastikan,
takut kalo doi salah orang.

“Iya, napa sih emangnya kalo gwe banci? Kan lu juga gay.., hampir setipe sama
gwe..” balesnya dengan mulut manyun.

“Aduuh sori bo… gwe emang gay, tapi gwe ga nyari temen kencan banci. Gwe nyari
temen kencan gay juga. Yang penampilannya cowok bener. Not like u, u know…” tandas
Mista. Gaya ngomongnya jadi ikutan ngondek juga deh.

“Ih! Amit-amit! Sombong lu ye ga mau sama banci! Awas lu ye, tar malem gwe
doain lu ketemu sama kuntilanak berkaki enam!!” sumpahnya kesal lalu segera pergi dari
hadapan Mista dengan melenggak-lenggok, ngelebihin cewek. Setelah doi pergi, kontan aja
Mista langsung lemes. Udah jam setengah tujuh, dan doi belon dapet temen kencan.

Pukul 18:30
94
Fadil baru aja nyampe di kosannya, dan doi masih dag dig dug karena Dika sama
sekali belon ngasih kabar. Waktu doi buka pintu kamarnya, ternyata persis di bawah pintu
kamarnya ada seamplop surat. Dengan cepat doi langsung menyambar surat itu. Ternyata
dari Dika. Dengan deg-degan, Fadil membuka surat itu perlahan lalu membacanya.

Dear mas Fadil yang baik…

Pertama Dika mau ngucapin makasih banget atas semua perhatian mas sama
aku semalem. Semalem adalah bagian yang terindah dalam hidup Dika. Dika ga pernah
ngerasain kasih sayang yang begitu dalem kayak yang Dika rasain semalem.

Kedua, Dika mau bilang, kalo Dika udah mulai merasakan gelombang cinta sama
mas Fadil. Dan Dika yakin, seiring berjalannya waktu, Dika pasti bisa mencintai mas Fadil
dengan tulus, karena ternyata mas Fadil baik banget.

Fadil melayang. Doi sampe nahan napas saking deg-degannya. Setelah narik napas
panjang berkali-kali biar ga jantungan, Fadil pun meneruskan membaca.

Walaupun Dika ga tau apakah kebaikan mas Fadil itu dibuat-buat ato ga, demi bisa
ngajak aku menjadi bagian dari permainan mas Fadil dan temen-temen mas Fadil.

Ketiga, Dika mau bilang kalo Dika mau jadi pacar mas Fadil..

DUG DUG DUG DUG!! Jantung Fadil langsung berdebar kenceng banget, sampe
bergema di kamarnya. Tapi Fadil menahan diri untuk ga bersorak dulu. Soalnya surat yang
doi baca belom selesai.

Tapi… ga buat masuk dalam permainan mas Fadil dengan temen-temen mas Fadil.
Maksudnya Dika, Dika mau jadi pacar mas Fadil setelah permainan mas Fadil dan temennya
mas Fadil kelar. Dengan kata lain, Dika ga bisa jadi temen kencan mas Fadil buat malem
pergantian taon ini. Segitu aja yang mau aku bilangin. Thx buat semuanya.

Salam,

Dika

BOOM!! Fadil langsung pingsan bergedebum demi membaca kata-kata terakhir dari
Dika.

Pukul 18:40 WIB

95
Andi baru aja sampe rumah. Mukanya lesu, dekil dan lucek kayak karung goni.
Soalnya Arya blon kunjung nelpon. Mau cari temen kencan lagi ga mungkin karena waktu
udah makin sempit. Andi pusing tujuh keliling.

Pukul 18:45 WIB

Mista juga pusing dan linglung. Semuanya gagal. Sambil nungguin waktu bergulir,
Mista nongkrong di jembatan sambil mandangin mobil-mobil yang lewat dan ga lupa maen
suling sambil bercucuran aer mata. Doi maenin lagu sedih, biar sesuai dengan suasana
hati doi. Tapi lumayan sih, gara-gara doi maenin sulingnya sahdu banget, akhirnya banyak
yang ngasih uang ke doi. Doi yang asalnya ga niat maen, malah makin berangasan maen
sulingnya karena banyak yang ngasih duit. Gapapalah buat ngabisin waktu, pikir Mista
karena matanya udah ijo ngliat duit.

Pukul 19:00 WIB

Fadil bangun dari pingsannya, dan bertekad untuk sampe ke Coffee Shop duluan
buat nemuin Dika.

Pukul 19:30 WIB

Sampe jam segini, Arya blon juga ada kabar beritanya. Andi udah panik setengah
mati. Moga-moga aja bukan gwe tar yang kalah, batin Andi resah banget. Hati Andi udah
ciut banget. Mau nelpon duluan, tar malunya setengah mati. Habis, perpisahan terakhir
mereka kemaren begitu sih. Lagian Arya juga udah bilang bakal ngabarin. Kalo sampe Andi
yang ngabarin duluan.., tar dikiranya si Andi cowok apaan lagi.

Daripada nungguin Arya yang blon juga sms or telpon, Andi pun kepaksa mandi
dan bersiap-siap berangkat. Kali aja tar Arya sms pas aku udah di jalan. Batin Andi masih
berharap.

Pukul 20:30 WIB

Fadil sampe duluan di Coffee Shop. Dari tempat duduknya, Fadil udah celingak
celinguk, berharap yang dateng buat nanyain pesenannya adalah Dika.
96
“Pesen apa mas?” ga lama ada waiter yang datengin Fadil. Fadil menoleh dengan
penuh harap. Ternyata yang dateng bukan Dika. Fadil kecewa banget.

“Ga dulu deh. Aku masih nungguin temen.” Jawab Fadil dingin sambil pura-pura
celingak celinguk nyariin temen. Waiter itu pun berlalu. Hwaaaa!! Kemana Dika??!!! Fadil
tereak-tereak dalam hati. Aer matanya mancur kayak aer mancur.

97
GAME IS OVER

Pukul 21:00 WIB

Mista, Fadil dan Andi udah pada ngumpul di Coffee Shop. Tentu aja ga sama
pasangan masing-masing. Tapi mereka ga tetep belagak bagaikan pemenang. Ga ada yang
mau nunjukin tampang panik or sedih.

“Kok ga pada bawa pasangan masing-masing seh?” Andi membuka pembicaraan.


Sebenernya doi deg-degan juga she ngomong gitu. Tapi gimana lagi. Doi kan ketua
kelompok. Jadi doi yang harus mulai duluan walaupun doi juga ga bawa pasangan.

“Lu juga. Pasangan lu mana?” balas Mista. Tentu aja Andi agak sedikit tertohok. Tapi
doi nyoba tetep tenang kayak karang gigi.

“Pasangan gwe sih katanya datengnya agak telat… Tenang aja.. Doi pasti bentar lagi
dateng.” Kata Andi bo’ong. Jelas aja bo’ong. Orang Arya sampe sekarang blon telpon-telpon.
Cuma aja Andi masih berharap Arya nelpon dia.

“Kalo pasangan gwe sih udah di sini… Tapi doi tadi numpang ke WeCe.” Kata Fadil
ga mau kalah.

“Perasaan lo dari tadi sendiri deh, Dil..” tegor Mista yang emang dateng kedua
setelah Fadil.

“Tau tuh, emang lama banget ke WeCenya. Lagi boker trus ambeyen kali, jadi ke
WeCenya lama.” Fadil ngeles. Sebenernya doi emang masih berharap bisa ketemu Dika dan
ngerayu Dika supaya mau jadi temen kencannya.

“Nah, pasangan lu kemana,. Mis?” tanya Andi sama Mista.

“Lagi di jalan. Paling bentar lagi dateng.” Sahut Mista bo’ong juga, ga mau kalah
sama yang laennya.

“Gwe liat pasangan gwe dulu deh ke toilet. Lama bener. Jangan-jangan doi
kerampokan.” Kata Fadil lagi. Sebenernya sih doi cuma cari-cari alasan aja bwat nemuin
Dika. Habis ngomong gitu, Fadil pun ngeloyor pergi sambil jelalatan nyari Dika

Setelah keliling-keliling slama beberapa menit lebih beberapa detik, akhirnya Fadil
ngeliat sosok Dika. Tanpa banyak gaya lagi, Fadil pun langsung ngedeketin Dika. Maunya
sih langsung nyamber tangannya, tapi doi malu karena banyak orang. Lagian Fadil ga mau
harga diri Dika di tempat kerjanya jadi rusak gara-gara doi.

98
“Aku tunggu di toilet ya.” Bisik Fadil sambil lalu seraya berharap Dika mau nemuin
doi di toilet. Dika ga ngerespon. Tapi Dika tau kalo itu suara Fadil. Fadil pun pergi ke toilet
dan menunggu Dika. Selang beberapa menit, Dika dateng.

“Ada apa, mas?” tanyanya.

“Aku udah baca suratmu.’

“Terus?”

“Kamu serius mau pacaran sama aku?”

“Serius. Tapi habis permainan mas Fadil sama temennya mas Fadil kelar.”

“Masa kamu ga mau nolongin aku sih, biar aku ga kalah. Kalo aku kalah, aku
dihukum loh.” Fadil mulai memelas-melas lagi.

“Dihukum apaan?”

“Bikin film bokep sama ‘kucing’ yang disewain Andi, foto bugil ala model bokep,
sama beli kambing dua.”

“Waduh…” Dika lumayan kaget juga denger hukumannya.

“Kan… Masa kamu ga kasian sama aku….” Fadil makin melas sambil nungging-
nungging begitu ngeliat perubahan ekspresi wajah Dika.

“Tapi itu sih urusan mas.”balas Dika cuek bebek. Doi pasang tampang cool banget
cool-kas. “Kan itu udah resiko. Makanya laen kali ga usah deh, maen-maen kayak gitu…
Udah ya, aku mau kerja dulu.” Dengan masang tampang galak, Dika pun ngeloyor pergi.

“Dika!! Dik!!” Fadil mau narik tangan Dika tapi Dika udah keburu keluar dari toilet.
Saking keselnya Fadil sampe menghentak-hentakkan kakinya di lantai, koprol, backrol, push
up dan sit up, abis itu melolong kayak serigala, bikin orang-orang yang pada mau masuk
toilet ngabur semua. Dikiranya penunggu toilet lagi ngamuk kali.

Dengan lesu, lemes dan kepala yang tertunduk, Fadil pun kembali ke meja tempat
Andi dan Mista masih nunggu. Itupun nyampenya dengan susah payah. Abis Fadil jalan
sambil nunduk dan ga liat-liat jalan sih. Alhasil untuk bisa sampe ke meja yang dituju, Fadil
pake acara nyasar dulu ke meja orang, nubruk sana nubruk sini, kepleset, jatoh, dan lain-
lain, hingga akhirnya Fadil sampe dengan muka biru-biru, dan pala benjol-benjol. Kontan aja
Andi dan Mista yang ngeliat Fadil benjol-benjol langsung berdiri.

99
“Kenapa lu, Dil?!!” tanya mereka khawatir. Fadil geleng-geleng lesu.

“Temen kencan lu bener-bener kerampokan dan lu juga digebukin perampoknya


ya?!!” tebak Mista dengan sotoy-nya dan sok gentle-nya. Fadil geleng-geleng lesu, abis itu
duduk dengan lemah. Andi dan Mista yang ngeliat tingkah laku Fadil yang aneh, langsung
ikutan duduk sambil megangin pundak dan tangan Fadil, habis itu dengan serius nungguin
Fadil ngomong.

“Gwe ngaku kalah deh, Mis, Ndi.” Kata Fadil lesu. Rupanya Fadil udah terlalu putus
asa sampe akhirnya mau ngakuin kekalahannya.

“Lho? Kenapa? Apa hubungannya sama benjol-benjol lu ini? Bukannya temen kencan
lu ada di toilet…? Terus kerampokan?” tanya Andi.

“Sebenernya temen kencan yang gwe maksud tuh Dika… Diana udah mau sih jadi
pacar aku. Tapi ga sekarang. Karena katanya diana ga mau jadi korban permainan gwe
sama lu bedua.” Jelas Fadil. Matanya mulai berkaca-kaca deh.

“Lho kok Diana bisa tau permainan kita betiga.” Tanya Mista rada kaget.

“Diana ga sengaja nguping, bo…” kata Fadil masih lemes. Mulutnya lagi-lagi manyun
sampe nyentuh lantai.

“Oooh…” respon Mista dan Fadil berbarengan.

“Trus? Benjol lu nih sebabnya apaan? Dihajar Dika?” tanya Mista yang rupanya
masih juga penasaran sama penyebab benjol-benjolnya Fadil.

“Ya enggak laah… Mas Dika ngehajar gwe… Orang Dika sayang sama gwe kok…”

“Trus?” paksa Mista dan Andi.

“Ini tuh karena gwe too stress mikirin gwe yang bakalan kalah dari permainan… Jadi
gwe jalannya ngelantur. Kesandung sana kesandung sini… Jatoh sana jatoh sini… getoh!”
tandas Fadil yang abis itu langsung manyun lagi.

“Oooh…” kontan aja Andi dan Mista ber-Oooh ria. Sebenernya dalam hati, mereka
pada cekikikan. Kikik.. kikik… Tapi mereka ga mau kedengeran Fadil. Takut Fadil lebih stress
lagi.

“Ya udah, berarti lu tinggal nunggu hukuman aja tar pas malem taon baru.. Kan tar
dicariin ‘kucing’.. jadi jangan manyun lagi dong…” rayu Andi.

100
“Nah, temen kencan lu bedua mana?” setelah agak tenangan dan nyadar kalo
pasangan Mista dan Andi juga blon dateng, Fadil pun nanya.

“Tau nih, blon dateng juga. Aku coba telpon dulu ah.” Kali ini giliran Mista yang
beraksi. Doi mencet-mencet HaPenya. Tentu aja pura-pura.

“Halo, Yo..” Mista mulai beraksi, akting sana akting sini. Udah persis kayak pemaen
sinetron. Tapi biar ga ketauan, doi pura-pura berdiri dan keliling ke tempat yang agak jauh
dari Andi dan Fadil.

“Oh… jadi lu mau langsung aja ke Puncak. Ngomong dong… Ya udah kalo gitu gwe
tungguin di sono ye.. Bener loh.. Yuk. C u… Bye… Mmmuuuah..” Hihi.. akting Mista bagus
juga tuh. Fadil sama Andi ga curiga sama sekali. Tinggal Andi yang keder duluan. Apa doi
bisa segentle Fadil yang dengan lapang dada mengakui kekalahannya? Jelas aja ga. Andi
sama sekali ga mau kalah.

“Jadi temen lu mau langsung ke Puncak nih? Emang masih keburu?” Kita juga
kayaknya udah telat banget nih kalo mau ke puncak. Tar kalo taon baruan di jalan kan ga
seru…” kata Andi.

“Iya ya…”

“Gimana kalo di rumah aku aja biar deket? Trus naek Busway biar cepet.” Usul
Andi.

“Yah, lu mah ga ngomong. Ya udah aku sms dulu temen kencan aku supaya dateng
ke rumah lu aja.” Mista belagak ngirim sms.

“Jadi setuju nih semuanya? Kalo gitu yuk capcus..” ajak Andi. Mereka betiga pun
akhirnya berangkat ke rumah Andi.

Pukul 23:00 WIB

Mista, Fadil dan Andi udah nyampe di rumah Andi. Karena Fadil udah ngaku kalah,
maka Andi pun nyiapin hidden camera dan nyiapin studio foto dadakan. Untung aja Bi Cicih
udah diusir ke kampung, jadi mereka bisa lebih leluasa berekspresi.

Pukul 23;45

Setelah nyiapin semuanya, mereka pun duduk betiga nonton TiPi sambil makan
kacang, popcorn, dan semua makanan yang udah disiapin Andi dari jauh hari.
101
“Kok kayaknya temen kencan lu ga ada tanda-tanda kehidupannya, Mis?” tegor
Andi. Mista yang udah agak lupa sama urusan temen kencan saking keasyikannya makan
popcorn, langsung keselek pas ditanya gitu sama Andi. Doi buatuk-buatuk hebat banget
sambil loncat-loncat ngelilingin rumah Andi yang lumayan gedong itu.

Waktu doi udah rada tenang, doi pun bingung cari-cari jawaban. Matanya udah
muter ke segala penjuru, tapi ga ketemu juga alesan yang tepat buat ngbo’ong lagi.

“Temen kencan gwe… ee… kencan temen gwe… gwe kencan temen… kencan gwe
temen… eee… gemana yah?” Kata-katanya jadi kebulak-balik deh saking bingungnya cari
jawaban. Sedangkan Andi udah melototin doi karena udah nangkep gelagatnya yang ga
beres.

“HWAAAAAAA!!!” Akhirnya Mista pun meraung sekeras-kerasnya karena udah ga


nemu alasan laen. “Gwe ngaku kalah, Ndi…, Dil… Sebenernya gwe juga blon nemuin temen
kencan. Tadi gwe janjian sama temen cyber, ga taunya diana bencong. Ga jadi deh gwe
dapet temen kencan.. HWAAAAAAAAA!!!!” Mista meraung lagi.

“Jadi lo juga blon dapet temen kencan??!!!” Andi melotot terkaget-kaget. Mista
ngangguk sambil bercucuran aer mata.

“Iya, Ndi… gwe juga kalah… sama kayak Fadil…” jelas Mista memelas. Andi geleng-
geleng. Geleng-geleng karena keheranan. Kok bisa seh betiga ga ada yang dapet temen
kencan satu pun?!! Andi pun menunduk. Doi nimbang-nimbang, apa doi mau ngejatohin
harga dirinya apa ga. Tapi waktu menjelang taon baru emang tinggal beberapa menit lagi.

“Kalo gitu kita betiga samma dong.” Aku Andi. Akhirnya, Andi membiarkan harga
dirinya terbang bersama pepohonan, dan nyampur sama kacang dan popcorn yang
dimakannya.

“Maksud loh?!!” Fadil dan Mista melotot berbarengan, setengah ga percaya.

“Lo juga ga dapet temen kencan?!!” tanya Mista yang kerasa pedeeees banget di
telinga Andi yang memiliki harga diri tinggi. Tapi karena Andi emang udah ngaku kalah..,
akhirnya doi cuma bisa ngangguk lemes dan membiarkan Mista menginjak-injak harga
dirinya.

“Udah ada seh… orang yang ngisi hati aku dan udah aku tembak pula.” Andi
nyeritain kisahnya sambil nunduk dengan mulut maju sebelas setengah kurang seperenam
belas senti. “Tapi katanya diana blon sembuh dari sakit hatinya. Tapi.., tadi di email doi

102
ngomong, kalo diana berubah pikiran, diana bakal ngubungin aku. Tapi ternyata ditunggu
sampe jam segini diana blon ngasih kabar juga. Aku sebel. Aku kira cuma aku sendiri yang
kalah. Makanya dari tadi aku akting, pura-pura udah punya temen kencan. Ternyata kalian
juga blon punya.”

“Ya ampuuuun!!! Jadi malem taon baruan kita tetep jomblooooo…. dooong” celetuk
Mista. Tiba-tiba mereka bertiga secara ga sengaja pandang-pandangan satu sama laen.
Awalnya mukanya pada cemberut semua. Tapi begitu saling pandang-pandangan, lama-
lama… kelek mereka kayak kilikitik pake upil. Mereka pun ketawa ketiwi, ngetaiwiin nasib
mereka ‘ndiri.

“Jangan-jangan kita emang ditakdirkan buat jomblo selamanya.” Celetuk Fadil


masih sambil cekikikan. Tapi cekikikannya langsung berubah jadi cekekek karena jitakannya
Mista yang ga pake acara nglakson dulu..

“Huss!! Ga macem-macem lu, Dil!!” kata Mista sambil njitakin palanya Fadil yang
langsung benjol. “Tar kalo sampe gwe beneran jomblo seumur hidup, lo gwe santet ye!”

“Aduuh sakeet!!” Fadil bales njitak pala Mista tapi ga kena. Fadil pun jadi manyun.
“Trus gemana neeh bo… Rule-nya…”

“Harusnya Rule tetep Rule dong bo… kayak yang lo bilang. Ya nggak Ndi?” Mista
nyindir Andi yang kayaknya udah rada pucet karena kalah juga.

“Terserah. Kalo mau sewa ‘kucing’, mau sewa berapa? Satu?”

“Dih?! Kok satu seeh.. Masa gwe mau pake bekas lu sama Fadil… Dih, enggak deh.”
Mista maju-majuin mulutnya kayak bebek.

“Trus berapeeee…?? Mau tigaa? Mampus dong dompet akyuuu… Belon beli kambing.
Trus tar kalo kambingnya enem mau dikemanain bo..?? Tapi gapapalah. Kalo lu bedua mau
tetep disewain ‘kucing’, gwe sewain nih sekarang.”

“Ga ah. Ga seru. Orang udah jelas kalah semua juga. Apa serunya.” Kata Mista

“Iya ya.”

“Trus gimana neh… Mentah nih omongan kita kemareeen??” sindir Fadil.

“Ada ide ga?” tanya Andi ke temen-temennya.

“Maen betiga aja.” Fadil iseng nyeletuk yang langsung disambut dengan jitakannya
Mista lagi.
103
“Enak aja, lo! Kita betiga? Gwe sama lo?? Sama Andi?? GA DEEEH Hoowweeek bisa
muntah nih gwe.”

“Lagian siapa juga yang mau ama lo!! Dassar! Brengsek lo!” Andi jadi ikutan sewot
deh.

“Trus, apaan dong…” Fadil mulai manyun suranyun lagi.

Tiba-tiba aja semua pada diem. Ga tau nyari ide, ga tau ngelamun, ga tau ngapain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00:00. Di luar, orang udah pada tatat tetet tatat tetet
bunyiin terompet. Acara di TiPi juga udah sampe ke acara kembang apian. Mista, Fadil
dan Andi tatap-tatapan. Lalu ketawa mereka pun meledak, dan HWAAAAAAAAAAAAA!!!!!!
Mereka pun berteriak berbarengan.

104
EPILOG

Akhirnya malem taon baru mereka bikin video yang isinya adalah aksi mereka pas
taon baruan. Mereka jogat joget bugil sambil lempar-lemparan bantal dan nyanyi keras
keras mulai dari pop, rock, sampe dangdut. Habis itu mereka tetep foto-fotoan ala model
bokep. Soal kambing, biar ga kebanyakan, seorang cuma beli satu. Abis itu dibagiin deh ke
orang-orang yang kurang mampu.

Sehari setelah taon baru, Dika ngubungin Fadil dan ngajak candle light dinneran. Di
situ mereka buat komitmen buat pacaran, hidup sepenanggungan, berat sama dipikul ringan
sama dijinjing.., tong kosong nyaring bunyinya… Lho kok jadi peri bahasa peribahasaan nih?
Pokoknya intinya mereka jadian deh.

Seminggu kemudian, Arya ngubungin Andi yang udah memupuskan harapannya


untuk mendapatkan Arya. Ternyata Arya menyatakan udah siap buat menjalin hubungan
dengan cowok laen. Dan cowok yang doi pilih adalah Andi. Andi pun langsung melayang-
layang, dan seperti biasa, pake acara joget-joget dulu di kantor, bahkan pake ngadain show
segala.

Sebulan kemudian, Hubert gadun bule yang dulu pernah ninggalin Mista ke Belanda
ternyata balik lagi ke Jakarta. Kepulangannya ke Jakarta itu ga lain buat memboyong Mista
ke Belanda dan merit di sana..

Yaaah.., walaupun di malem taon baru mereka sama sekali ga dapet temen kencan,
Tapi akhirnya mereka ngedapetin orang yang mereka impi-impikan selama ini dan ga jomblo
lagee…
TENTANG PENULIS

Yatna pelangi lahir 3 maret disebuah kota kecil yaitu Tanjung


Pinang Kepulauan Riau. Salah satu Pendiri Arus Pelangi ini
punya Hobby menulis, menari dan berteater. Tiga hobby
tersebut dijadikannya sebagai alat mengorganisir kawan-
kawannya sejak duduk dibangku sekolah dasar. Setelah
menyelesaikan SMU di KEPRI kemudian melanjutkan ke
perguruan tinggi di Yogyakarta. Dan dikota Yogya-lah dia
bertemu dengan dua sahabat baiknya Dodo dan Uki yang
kemudian membentuk sebuah komunitas yang dinamakan
Pelangi Yogya.

Hoby menulisnya terus diasah dengan mengikuti pelatihan


yang diadakan oleh lembaga non formal yaitu Fiksi Mix dan di
Yayasan Pantau. Pengetahuan yang didapatkan dari pelatihan
tersebut dijadikan sebuah pacuan untuk terus menulis hingga lahirlah Novel
perdana “Game is Over yang diangkat dari potongan pengalaman kisah gay”.
Karya kedua yang mengangkat tema tentang cinta sedarah incest. Antara Ayah
dan Anak yang diberi Judul “Dedi, Ilove you”. Siap diluncurkan di tahun 2011.

Kontak : email yatna_pelangi@yahoo.co.id

Fb : yatna pelangi dua

Tweeter : @yatna_pelangi

Hendro atau yang akrab dipanggil eno ini adalah seorang


pengajar disebuah Universitas swasta di Jakarta dan bekerja
di sebuah perusahaan swasta. Mengambar adalah hobby
sejak kecil. Laptop adalah pacar keduanya. Membuat
website, mendesign gambar adalah makanan sehari-harinya
dan menurutnya hasil karya design dari seorang LGBT itu
sangatlah punya kekhasan sendiri dibandingkan karya-karta
design hetero.

Kontak : hendroprwk08@gmail.com
Tunggu novel selanjutnya di 2011

DADDY, I LOVE YOU


(diangkat dari kisah nyata)
Sebuah kisah cinta sedarah (incest) antara ayah dan anak