Anda di halaman 1dari 14

`

PENGELOLAAN RANTAI PASOKAN©


(SUPPLY CHAIN MANAGEMENT)

Witono Adiyoga

Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung – 40391

©
Materi pelatihan disampaikan pada Traning of Trainers (TOT) Pengembangan Teknologi Inovatif Bawang merah, 24-29
Agustus 2005, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang
SCM: Latar Belakang

Sepanjang tahun 1990an, para akademisi maupun pebisnis di Eropa dan Amerika mulai
banyak menaruh perhatian terhadap konsep pengelolaan rantai pasokan (supply chain management =
SCM) dalam penyelenggaraan kegiatan agribisnis. Oleh karena itu, konsep dan aplikasi SCM telah
menjadi topik kunci penelitian dan fokus komersial dalam agribisnis selama satu dekade yang lalu.
Dalam lima tahun terakhir, ketertarikan terhadap SCM bahkan berkembang ke arah identifikasi potensi
dan implikasi penerapan konsep tersebut di negara-negara berkembang.
Perhatian terhadap SCM timbul sebagai akibat dari adanya berbagai perubahan dalam
lingkungan operasional sektor pangan dan agribisnis. Namun demikian, berbagai argumentasi
mengindikasikan bahwa pendorong utama ketertarikan terhadap SCM adalah adaya pertumbuhan
intensitas kompetisi atau persaingan dalam menyerap pengeluaran konsumen. Sejalan dengan
perkembangan sektor eceran, diferensiasi produk makanan yang semakin tinggi, perbaikan kualitas
produk dan kemampuan untuk menyelenggarakan transportasi produk secara efektif dari sisi biaya,
telah memberikan penawaran rangkaian alternatif pilihan produk yang lebih beragam bagi konsumen.
Pada tingkat konsumen, kekuatan-kekuatan penghela yang mengubah sistem agribisnis diantaranya
temasuk, peningkatan sensitivitas konsumen terhadap aspek kualitas, keamanan, kesehatan dan
nutrisi produk makanan. Konsumen juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap asal dan cara
produksi produk makanan tersebut, bahkan termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan
langsung dengan nilai produk makanan (non-food values), misalnya masalah lingkungan atau pertanian
berkelanjutan. Konsumen merespon dengan mempraktekkan kemampuannya untuk memilih. Hal ini
secara tidak langsung menyisipkan kekuatan konsumen yang lebih besar (dibandingkan sebelumnya)
terhadap sistem produksi pangan/makanan dan sistem pemasaran. Pada gilirannya, hal ini meyakinkan
para pemasok pangan bahwa keberhasilan pasar akan sangat bergantung pada kemampuan untuk
merespon (responsiveness) permintaan konsumen.
Reorientasi ke arah rantai pasokan yang dihela permintaan konsumen (consumer driven
chains) menekankan bahwa meningkatnya kekuatan konsumen telah menggugurkan asumsi yang
biasanya dipasang di tingkat usahatani atau agribisnis. Asumsi yang menyatakan bahwa tugas
pemasok semata-mata hanya memasok produk tanpa harus memperhatikan kebutuhan konsumen
atau eksistensi pasar dari produk tersebut, tidak lagi berlaku. Pertanian tradisional dan bisnis-bisnis
pangan yang secara kuat memberikan penekanan terhadap harga produk, tidak dilengkapi dengan
kemampuan untuk merespon terhadap permintaan konsumen yang semakin beragam. Secara
individual bisnis-bisnis tersebut memiliki keterbatasan untuk merespon permintaan konsumen dengan
efektif. Setiap bisnis/usaha hanya merepresentasikan bagian dari proses produksi produk pangan
bersangkutan serta proses-proses lainnya (pengangkutan, pengolahan dan penjualan eceran) yang
membawa produk tersebut ke tangan konsumen. Dalam kaitan ini, SCM dapat memberikan suatu
cara/metode mengkonseptualisasikan pengelolaan dari perubahan-perubahan yang dibutuhkan di
dalam suatu sistem, untuk merespon kebutuhan konsumen secara efektif. Konsep ini didasarkan pada
integrasi dan koordinasi upaya semua unit bisnis yang terlibat dalam proses-proses produksi dan
penyampaian (delivery) produk.
Perubahan-perubahan di lingkungan makro juga terjadi sejalan dengan perubahan-perubahan
di tingkat konsumen. Perubahan ini termasuk berbagai kecenderungan menuju konsolidasi organisasi
(pada tingkat faktor input, usahatani, pengolah dan supermarket) yang pada dasarnya diarahkan untuk
menekan biaya produksi melalui economies of scale dan juga meraih pangsa pasar serta kekuatan
kompetitif dalam pasar produk yang semakin mengglobal.

SCM: Tinjauan Teoritis

Pengelolaan rantai pasokan adalah pengelolaan secara keseluruhan proses produksi,


distribusi dan pemasaran yang memungkinkan konsumen mendapatkan pasokan produk yang

1
diinginkan. Folkerts and Koehorst (1998) mendefinisikan rantai pasokan sebagai suatu kumpulan unit-
unit usaha yang saling bergantungan (interdependent), bekerja sama secara erat untuk mengelola
pengaliran barang dan jasa sepanjang rantai nilai tambah (value-added chain) produk pertanian dan
pangan, dalam rangka merealisasikan suatu nilai bagi pelanggan pada tingkat biaya terendah yang
memungkinkan. Terminologi lain adalah rantai permintaan (demand chain) yang sering digunakan
untuk memberikan penekanan pada kebutuhan konsumen. Terminologi lain yang juga erat kaitannya
adalah rantai nilai (value chain) yang menyoroti kontribusi dari bagian-bagian fungsional rantai (di
dalam suatu unit usaha maupun antar unit usaha) terhadap pengembangan nilai pelanggan di
sepanjang rantai pasokan. Konsumen memang menentukan ukuran pasar dan preferensi, namun tidak
berperan aktif dalam pengelolaan rantai pasokan. Implementasi perbaikan-perbaikan praktis yang
memungkinkan rantai menjadi lebih kompetitif dan lebih responsif memerlukan pengelolaan aktif yang
diinisiasi oleh satu atau lebih anggota/partisipan rantai pasokan.
Perlu diperhatikan bahwa di negara-negara maju, SCM mengimplikasikan fokus terhadap
hubungan antara agribisnis unit atau bisnis ke bisnis. Hal ini berbeda dari fokus industri atau komoditas
yang secara tradisional diadopsi dalam penelitian agronomi atau dalam analisis ekonomi pertanian
perbaikan suatu unit usaha. Ini juga berbeda dengan model komunitas atau partisipatoris yang
biasanya membentuk basis untuk studi-studi pembangunan ekonomi wilayah dan pengelolaan
sumberdaya alam. Fokus terhadap unit bisnis cenderung mengarah pada kesimpulan bahwa
kebanyakan studi SCM adalah pemain industri skala besar dan di pasar produk yang bernilai tinggi
serta terdiferensiasi, bukan hanya sekedar pasar komoditas.
SCM merupakan suatu bidang studi yang didukung oleh berbagai disiplin ilmu. Berbagai
disiplin tersebut secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:

• Ekonomi biaya transaksi (Transaction-cost economics)


Bidang ilmu ini memberikan penekanan pada analisis biaya yang berkaitan dengan pertukaran
barang dan jasa (Hobbs, 1996). Jenis biaya yang dianalisis termasuk: (a) biaya untuk memperoleh
informasi, (b) biaya yang berhubungan dengan proses negosiasi serta pembuatan kontrak, (c) biaya
yang berkaitan dengan property rights, serta (d) biaya monitoring dan perubahan susunan/tata
kelembagaan, yang mendefinisikan terjadinya berbagai proses transaksi bisnis antar perusahaan.
Ekonomi biaya transaksi memberikan penekanan terhadap spesifisitas aset. Asumsi yang
dikenakan adalah semakin spesifik suatu aset, semakin tinggi insentif untuk mengembangkan
hubungan dan kerjasama jangka panjang yang memungkinkan aset tersebut dapat memberikan
kontribusi jangka panjang terhadap profitabilitas.
• Teori agensi (Agency theory)
Teori ini melibatkan pendefinisian bentuk kontrak yang paling tepat untuk melindungi hubungan
kerjasama antar anggota rantai pasokan (Eisenhardt, 1989). Tujuan utamanya adalah untuk
menghasilkan kontrak atau kesepakatan yang dapat memberikan suatu keseimbangan sehubungan
dengan adanya asimetri terhadap akses informasi antar partisipan, ketidak-pastian outcome serta
tingkat aversi risiko yang berbeda antar partisipan rantai pasokan. Teori agensi bersifat
komplementer dengan teori ekonomi biaya transaksi. Secara bersama-sama, kedua teori tersebut
menetapkan fokus terhadap perbaikan efisiensi ekonomis kegiatan bisnis yang dilakukan antar
perusahaan.
• Kekuatan dan hubungan kekuatan (Power and power relationships)
Boehlje dkk (1998) berargumentasi bahwa kekuatan dari suatu bisnis terhadap bisnis lainnya
bergantung pada struktur ekonomi dari hubungan yang terjadi. Kekuatan biasanya berhubungan
dengan ketergantungan, dan ketergantungan erat kaitannya dengan ketersediaan alternatif.
Semakin banyak alternatif yang dimiliki oleh suatu bisnis/unit usaha, maka semakin kurang
ketergantungannya terhadap bisnis lainnya. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin kecil
kemungkinan bisnis tersebut akan dipengaruhi oleh kekuatan (real atau perceived) bisnis lainnya.

2
Konsolidasi yang terjadi antar perusahaan agribisnis dalam dua dekade terakhir pada dasarnya
berkaitan erat dengan upaya meraih kekuatan pasar (real atau perceived). Pada tingkat hulu
(upstream), bisnis-bisnis kecil yang terfragmentasi biasanya memiliki kekuatan individual yang
sangat kecil. Kenyataan ini seharusnya memberikan insentif kuat bagi bisnis-bisnis tersebut untuk
bekerja sama.
• Pemasaran hubungan (Relationships marketing)
Teori ini bergerak keluar meninggalkan konsep hubungan pembeli-penjual yang bersifat
advesarial ke arah strategi pemasaran kooperatif dan kolaboratif untuk menghadapi persaingan
yang semakin ketat (Gronroos, 1994; Morgan and Hunt, 1994). Teori ini mempertimbangkan
pentingnya komitmen dan rasa saling percaya dalam hubungan bisnis. Sementara itu, hubungan
tersebut juga bersifat dinamik dan hanya dapat dikembangkan sejalan dengan waktu.
• Teori jejaring kerja (Network theory)
Teori ini mempertimbangkan kenyataan bahwa jika perusahaan A berbisnis dengan
perusahaan B dan perusahaan B kemudian berbisnis dengan perusahaan C, maka perusahaan A
dapat mempengaruhi keragaan bisnis perusahaan C walaupun keduanya tidak berbisnis secara
langsung. Konsep strategi jejaring kerja memberikan penekanan bahwa perusahaan-perusahaan
dapat memperoleh posisi kompetitif yang lebih kuat jika bekerja secara kooperatif, dibandingkan jika
beroperasi secara individual (Easton, 1992). Jejaring kerja dengan hubungan rantai pasokan jangka
panjang yang didukung oleh rasa saling percaya (trust) serta saling memberi pengetahuan
(knowledge sharing) memiliki posisi lebih baik untuk membebankan biaya bisnis yang lebih rendah
dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang hanya mengandalkan pada transaksi sesaat/
seketika (spot transactions). Disamping menekankan pada pentingnya keterampilan untuk
memelihara hubungan kerja, konsep jejaring kerja juga menggaris-bawahi pengembangan oleh
setiap perusahaan menyangkut kapabilitas yang bersifat unik dan sukar ditiru.
• Pengelolaan produksi/operasi dan logistik (Production/operations management and logistics)
Bidang kajian ini memberikan penekanan terhadap efisiensi operasional melalui minimisasi
inventori dan penawaran tepat waktu (just-in-time supply). Kontribusi kajian ini terhadap SCM
adalah sebagai suatu pendekatan manajemen yang dapat digunakan untuk merencanakan
perolehan keuntungan melalui efisiensi operasional.

SCM merupakan pendekatan holistik yang merepresentasikan langkah signifikan ke luar dari
analisis usahatani atau agribisnis individual yang cenderung terisolasi dari konteks lebih luas. Hal ini
juga dapat dianalogikan melalui perbandingan antara penelitian tanaman/komoditas (crop research)
dengan penelitian sistem usahatani (farming system research). Penelitian sistem usahatani memiliki
potensi lebih tinggi untuk mengoptimalkan luaran produksi dan perlindungan sumberdaya alam (pada
tingkat sistem).

SCM: Relevansi di Negara Berkembang

Studi mengenai rantai pasokan berhasil mengidentifikasi beberapa prinsip yang dapat
digunakan sebagai indikator keberhasilan SCM, yaitu:
• Memberikan fokus terhadap kepentingan konsumen dan pelanggan
• Menciptakan dan memanfaatkan nilai (bersama-sama) dengan semua partisipan rantai
• Menjamin tersedianya produk yang sesuai dengan spesifikasi konsumen/pelanggan
• Memberikan layanan logistik dan distribusi yang efektif
• Merupakan suatu strategi informasi dan komunikasi yang melibatkan semua partisipan rantai
• Mendorong hubungan efektif yang dapat memberikan daya ungkit serta kepemilikan bersama

3
Petani di negara-negara berkembang menghadapi tekanan biaya-harga yang serupa dengan
petani di negara maju. Kebutuhan untuk mencukupi pangan penduduk yang tumbuh cepat cenderung
menghasilkan kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk menahan agar harga pangan tetap murah.
Kebijakan ini mengakibatkan penciptaan inovasi dan penanaman investasi menjadi tidak menarik,
walaupun modal dan kapasitas manajemen yang dibutuhkan tersedia.
Semakin meningkatnya penduduk total serta penduduk perkotaan mengakibatkan semakin
tumbuhnya kelas konsumen yang pada dasarnya merupakan peluang bagi petani di negara
berkembang. Dalam jangka pendek, kelas konsumen tersebut diharapkan akan meningkatkan
pengeluarannya untuk mengkonsumsi produk yang lebih berkualitas dan lebih beragam dibandingkan
dengan penduduk yang berpendapatan lebih rendah. Proyeksi ke depan (Coates et al., 1997)
menunjukkan bahwa pertumbuh-an permintaan pangan, terutama dikaitkan dengan volumenya, akan
datang dari konsumen kelas menengah di negara-negara berkembang padat penduduk, seperti China,
India, Indonesia dan negara-negara di Amerika Selatan. Sebagian permintaan tersebut dipenuhi oleh
pasokan domestik yang juga harus bersaing dengan pasokan impor. Kompetisi yang terjadi pada
dasarnya berbasis harga produk dan adanya kompetitor ini secara tidak langsung menunjukkan adopsi
bertahap standar kualitas dunia (world quality standard). Kondisi ini sebenarnya merupakan insentif
untuk penerapan SCM yang lebih baik di negara-negara berkembang. Agar kesempatan untuk
memasok produk bagi kelas-kelas konsumen yang tumbuh dapat dimanfaatkan oleh petani (Indonesia),
upaya yang harus ditempuh adalah membangun kapasitas produsen domestik agar dapat menandingi
produk dari negara pengimpor yang ditawarkan ke pasar (Asia). SCM dapat digunakan sebagai suatu
pendekatan konseptual untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Penerapan SCM mensyaratkan adanya kerjasama erat antar unit usaha atau partisipan di
sepanjang rantai pasokan. Kerjasama antar partisipan ini dapat:
o Mengurangi risiko pasar dan mengembangkan strategi bersama
o Menciptakan nilai tambah, meningkatkan efisiensi dan keunggulan kompetitif
o Membentuk platform bersama untuk memasuki pasar baru atau mengembangkan
produk baru.
Pada tingkat pengecer, sasaran penerapan SCM pada dasarnya adalah pengurangan-pengurangan
biaya operasional, biaya untuk memperoleh bahan baku, biaya pemasaran dan biaya distribusi.

SCM: Deskripsi Rantai Pasokan Sayuran

Rantai pasokan sayuran merupakan saluran yang memungkinkan:


• Produk sayuran bergerak dari produsen ke konsumen
• Pembayaran, kredit dan modal kerja bergerak dari konsumen ke produsen sayuran
• Teknologi didiseminasikan diantara partisipan rantai pasokan, misalnya produsen, pengepak dan pengolah
• Hak kepemilikan berpindah dari produsen sayuran ke pengepak atau pengolah, kemudian ke pemasar
• Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir dari pedagang pengecer ke
produsen sayuran
Uraian di atas menunjukkan bahwa rantai pasokan sayuran merupakan suatu sistem ekonomi
yang mendistribusikan manfaat dan juga risiko diantara berbagai partisipan yang terlibat di dalamnya.
Dengan demikian, rantai pasokan sayuran secara tidak langsung telah mengembangkan mekanisme
internal serta insentif untuk menjamin ketepatan berbagai komitmen produksi maupun delivery.
Rantai pasokan yang terjadi pada dasarnya merupakan bentuk pelayanan yang sudah
melembaga untuk menjembatani produsen dan konsumen sayuran. Intervensi pemerintah terhadap
rantai pasok sayuran ini cenderung terbatas pada dukungan ketersediaan infrastruktur fisik, misalnya
jalan dan bangunan pasar. Perdagangan sayuran seluruhnya ditangani oleh pihak swasta. Hal ini
mengimplikasikan bahwa rantai pasok sayuran secara umum cenderung beroperasi berdasarkan
kekuatan penawaran dan permintaan.

4
Beberapa jenis rantai pasok sayuran yang berhasil diidentifikasi diantaranya adalah:
1. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – pedagang
pengumpul antar wilayah – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang
pengecer - konsumen
2. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar –
transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer - konsumen
3. produsen – pedagang komisioner - transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau
bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer - konsumen
4. produsen – pengepak - transporter/pengangkut – supermarket - konsumen

Rantai pasokan pertama dan kedua diestimasi menyerap sekitar 80% dari total pasok sayuran.
Sisanya sekitar 20% dipasarkan melalui rantai pasok ketiga dan keempat. Gambaran tersebut
menunjukkan bahwa rantai pasokan sayuran masih didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang
outlet utamanya adalah pasar-pasar tradisional. Diagram di bawah ini menggambarkan berbagai
elemen rantai pasokan sayuran (di Jawa Barat). Tanda panah menunjukkan aliran fisik produk sayuran.

PRODUSEN

TRANSPORTER/PENGANGKUT

BANDAR ATAU PEDAGANG PENGEPAK


PEDAGANG PENGUMPUL REGIONAL
PENGUMPUL LOKAL ASSEMBLY TRADER

TRANSPORTER/PENGANGKUT

PEDAGANG BESAR/ PEDAGANG BESAR/


GROSIR DI BANDUNG GROSIR DI JAKARTA

PEDAGANG PENGECER PEDAGANG PENGECER SUPER MARKET


DI BANDUNG DI JAKARTA RESTORAN DAN HOTEL

KONSUMEN

5
Tabel berikut ini memberikan deskripsi mengenai berbagai elemen utama di dalam rantai pasokan
sayuran di Jawa Barat serta nilai tambah yang diberikan oleh setiap elemen.

Tabel 1 Elemen, deskripsi dan nilai tambah dalam rantai pasokan sayuran di Jawa Barat
Elemen Deskripsi Nilai Tambah
Produsen Petani yang menghasilkan serta memanen sayuran, dan o Produksi
untuk beberapa saluran distribusi tertentu juga melakukan o Panen
kegiatan pengkelasan o Pengkelasan (grading)
Pedagang Pedagang yang membeli sayuran (terutama tomat, kubis, o Panen
tebasan kubis bunga serta sayuran daun lainnya) pada saat o Pengkelasan
tanaman masih di lapangan.
Pedagang Pedagang lokal yang mengumpulkan/membeli sayuran o Pengumpulan
pengumpul dalam volume yang relatif besar dari petani atau beberapa o Sortasi
lokal/desa petani dan memasarkannya ke pusat-pusat konsumsi. o Pengkelasan
o Pengangkutan
Pedagang Jenis pedagang yang berdomisili di luar sentra produksi ini o Pengumpulan
pengumpul membeli sayuran dan memasar-kannya ke pasar-pasar o Sortasi
antar wilayah grosir dan pengecer. Sayuran dibeli dari petani atau o Pengkelasan
bandar.
o Pengangkutan
Pengepak Jenis usaha yang melakukan pembelian, sortasi, o Jaminan kualitas
pengkelasan, pengepakan/pengemasan serta memberikan o Pengkelasan
pelayanan penyimpanan jangka pendek. Elemen ini juga o Pengemasan
mengkoordinasikan transportasi produk serta
o Koordinasi transpor dan
negosiasi
o Penyimpanan jangka pendek
terkontrol
o Kontrak pemasokan sayuran
Transportasi Pemberi jasa angkutan produk sayuran dari sen-tra o Pengangkutan
produksi ke pengecer. Kegiatannya menca-kup
pengangkutan produk ke lokasi-lokasi spesi-fik dalam
kerangka waktu yang telah ditentukan.
Restoran/ Jenis usaha yang mengkonversikan sayuran menjadi o Pengolahan sayuran segar
Hotel/Peng- makanan atau hasil olahan menjadi makanan
olah o Pemasaran dan distribusi
Pedagang Jenis usaha yang menjual sayuran dalam volume yang o Pemasaran, penjualan dan
besar/grosir relatif besar dan melayani berbagai klien. distribusi ke pengecer
o Jaminan kualitas
o Penyimpanan jangka pendek
terkontrol
Pengecer/Supe Jenis usaha yang mengoperasikan toko-toko pengecer o Jaminan kualitas
rmarket. untuk menjual sayuran o Distribusi
o Promosi

Masalah utama yang secara umum berhasil diidentifikasi sepanjang rantai pasokan sayuran (di
Jawa Barat) diantaranya adalah:

• Variabilitas harga yang tinggi


• Kehilangan hasil dan susut yang tinggi
• Respon terhadap pemesanan yang relatif lambat

6
• Kurangnya pengawasan kualitas sepanjang rantai, termasuk kurangnya alat transportasi
serta gudang penyimpanan berpendingin
• Kurangnya perencanaan produksi secara umum serta metode produksi yang relatif masih
sederhana/konvensional
• Kemampuan terbatas untuk memenuhi permintaan spesifikasi produk
• Kurangnya informasi pasar sepanjang rantai pasokan
• Kurangnya rasa kepercayaan antar elemen yang terlibat di dalam rantai pasokan
• Kesulitan koordinasi antar pemasok-pemasok skala kecil

Tindakan generik dalam konteks SCM yang disarankan untuk menangani masalah-masalah di
sepanjang rantai pasokan sayuran secara bertahap adalah sebagai berikut:

• Kebijakan dan inisiatif pemerintah yang dapat menciptakan fair competition, antara lain:
• Menetapkan regulasi untuk mengawasi jumlah pasokan dan tujuan pasar produk tertentu pada
periode waktu tertentu
• Menetapkan dan melaksanakan regulasi yang mengatur transaksi (tempat, volume dan
kualitas) dan metode pembayaran, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mencegah
penipuan kualitas, spekulasi harga serta malpraktek lain yang merugikan partisipan rantai
pasokan
• Menerbitkan surat ijin atau lisensi bagi pedagang pengumpul dan pedagang besar untuk
melakukan kegiatan perdagangan
• Menetapkan dan melaksanakan regulasi tentang standar kualitas (standarisasi dan grading)
serta kemanan produk sayuran yang diperdagangkan
• Membangun dan memperbaiki infrastruktur fisik, misalnya pasar pengumpul di sentra
produksi
• Menginisiasi pemasaran kolektif, misalnya melalui koperasi atau kelompok tani
• Memberikan informasi pasar, tidak hanya menyangkut harga produk, tetapi juga volume
pasokan dan permintaan serta kapan produk tersebut dibutuhkan
• Menginisiasi pengaturan pasokan/produksi untuk menghindarkan kelebihan pasokan dan
memperbaiki perencanaan usahatani
• Mendorong penerapan sistem kontrak agar dapat menjamin stabilisasi harga dan
kontinuitas pasokan

• Kegiatan penelitian yang diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan:


• Bagaimana cara untuk menyediakan informasi pasar tepat waktu bagi petani?
• Bagaimana trend pasar serta peramalan jangka panjang yang dapat membantu partisipan
rantai untuk menentukan jenis produk atau jasa?
• Bagaimana suatu rantai tertentu dapat menjajagi opsi baru dan mengidentifikasi segmen
pasar?
• Bagaimana pembentukan kelompok-kelompok dapat dilakukan berdasarkan orientasi
kesempatan komersial dan keberhasilan bisnis?
• Bagaimana memberikan akses kepada kelompok tani agar dapat meningkatkan kapasitas
manajemen bisnisnya?
• Bagaimana membangun kepercayaan dan kredibilitas antar berbagai stakeholders
sepanjang rantai pasokan?
• Bagaimana mendistribusikan benefit secara merata sepanjang rantai pasokan?
• Bagaimana agar sistem kontrak dan akses terhadap kredit dapat diberlakukan untuk petani
kecil?

7
• Bagaimanakah cara untuk mengintegrasikan pengembangan rantai pasokan dengan isu-
isu lain pada tingkatan sistem, misalnya lingkungan, kebutuhan industri dan komunitas?

• Kegiatan penelitian teknis yang berkaitan dengan pengembangan rantai dingin (cold chain
development), perbaikan masa simpan (shelf life improvement), asuransi kualitas (quality
assurance) dan keamanan pangan (food safety)

SCM: Kesimpulan

• Sektor agribisnis yang berubah dengan cepat diindikasikan oleh adanya peningkatan sensitivitas
konsumen terhadap aspek kualitas, keamanan, kesehatan dan nutrisi produk makanan. Konsumen
juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap asal dan cara produksi produk makanan tersebut,
bahkan termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan nilai produk makanan
(non-food values), misalnya masalah lingkungan atau pertanian berkelanjutan.
• Kondisi tersebut di satu sisi dapat berpotensi memarjinalkan petani kecil pedesaan dari proses
pembangunan. SCM dapat digunakan sebagai suatu pendekatan konseptual untuk menghindarkan
keadaan tersebut, jika pengembangannya diintegrasikan dengan proses pembangunan pedesaan
serta diawali dengan pembangunan rancangan organisasional atau kelembagaan yang melibatkan
petani kecil.
• As with all supply chain building whose goal is empowerment (Associate Professor Ray Collins and
Dr Ximing Sun, School of Natural and Rural Systems Management, The University of Queensland,
Australia)
• It takes time – it is a long journey
• It takes money – it is expensive
• It takes commitment – it is hard work
• It takes patience – it is slow work
• It takes skilled intervention
• It is worth it

8
TAHAPAN UNTUK MEMBANGUN RANTAI PASOKAN PERTANIAN
(Adaptasi dari “Building Agri Supply Chains: Issues and Guidelines”, Jan van Roekel, Director, Agri Chain Competence
Center; Ronald Kopicki, World Bank, Supply Chain Advisor; Carry J.E. Broekmans, Agri Chain Competence Center and
Dave M. Boselie, Wageningen UR - Agricultural Economics Research Institute, LEI).

Fase 1: Fase Analisis atau Orientasi

Langkah pertama dalam proyek pengembangan rantai pasokan terdiri dari:


• Analisis masalah sepanjang rantai pasokan
• Identifikasi pelaku atau partisipan dalam rantai pasokan
• Ambisi dari pelaku-pelaku yang terlibat dalam rantai pasokan

Berbagai pertanyaan yang harus dijawab dalam fase ini diantaranya:

• Siapa sajakah pelaku/pemain di dalam rantai pasokan?


• Bagaimanakah peran mereka (pelaku/pemain) masing-masing?
• Bagaimanakah kompetensi mereka (pelaku/pemain) masing-masing?
• Bagaimanakah hubungan diantara mereka (pelaku/pemain)?
• Siapakah yang akan terpilih sebagai mitra dalam proyek pengembangan?
• Jenis aliansi strategis serta rancangan organisasional seperti apakah yang paling
diinginkan (baik dengan pihak publik dan swasta)?
• Akan seperti apakah dampak sosial ekonomi dari proyek rantai pasokan?
• Bagaimanakah persepsi dari stakeholders berkaitan dengan definisi dan ambisi pelaku ?
• Bagaimanakah tingkat teknologi yang berlaku/ada sekarang dan penghela organisasional
seperti apakah yang dibutuhkan?
• Bagaimanakah tingkat pelayanan dari sistem pasokan yang ada sekarang?
• Bagaimanakah struktur biaya dan nilai tambah dari rantai pasokan yang sedang diamati?
• Apakah ada informasi menyangkut profitabilitas produk (kategori) langsung?
• Bagaimanakah kategori kualitas serta sistem pemantauan kualitas yang ada?
• Seperti apakah preferensi pelanggan dan bagaimanakah agar kepuasan konsumen dapat
dicapai?

Melalui penggunaan analisis SWOT:


• Definisikan kekuatan dan kelemahan dari mitra rantai anda
• Identifikasi kesempatan dan ancaman dari lingkungan rantai pasokan

Dalam rangka memprioritaskan jenis rantai pasokan yang akan dikembangkan, maka akan sangat
membantu jika dilakukan pendekatan portfolio untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan kepen-
tingan komersialnya. Sebagai contoh, portfolio produk dari Kraljic mengklasifikasikan produk
berdasarkan dua kriteria utama:
• Risiko finansial dari suatu produk (dampaknya terhadap turnover, keuntungan dan risiko
keamanan produk)
• Risiko pasokan dari suatu produk (jumlah pemasok potensial, lokasi pemasok, ketahanan
simpan dan situasi kelangkaan produk atau musiman)

Untuk kegunaan analisis, produk pada akhirnya dibagi ke dalam empat kategori, yaitu:
• Produk rutin (routine product)
• Produk pengungkit (leverage product)

9
• Produk penghambat (bottleneck product)
• Produk strategis (strategic product)

Strategi pembelian dari masing-masing kategori produk akan berbeda. Barang-barang strategis yang
mengandung risiko pasokan dan risiko finansial tinggi biasanya lebih memerlukan upaya
pengembangan.

Luaran dari fase pertama ini adalah identifikasi tantangan-tantangan utama serta bangunan langkah
menuju formulasi strategi.

Fase 2: Fase Definisi

Pada fase kedua, pendalaman yang diperoleh pada fase sebelumnya harus diterjemahkan ke dalam
rencana strategis dan aksi. Pendekatan kerangka logis (logical framework approach) dapat digunakan
untuk menentukan sasaran, tujuan, metodologi, input dan output:

• Apakah sasaran proyek secara keseluruhan?


• Apakah tujuan spesifik yang bersifat mendetil dari suatu proyek rantai pasokan?
• Input dan kegiatan apa sajakah yang diperlukan untuk mencapai sasaran tersebut?
• Apakah keluaran/output yang diharapkan untuk setiap kegiatan yang telah direncanakan?
• Apakah risiko spesifik dari setiap tujuan dan kegiatan?
• Bagaimanakah berbagai risiko tersebut dapat ditangani?
• Bagaimanakah penjadwalan waktu dan perencanaan proyek rantai pasokan tersebut?
• Bagaimanakah struktur manajemen dari proyek pengembangan rantai pasokan tersebut?
• Bagaimanakah perencanaan anggaran dan finansial yang dibutuhkan?
• Apakah dibutuhkan investasi material pendamping?
• Pengetahuan seperti apakah yang dibutuhkan di sepanjang rantai pasokan dan di mana
pengetahuan tersebut dapat diperoleh?
• Akan seperti apakah kontribusi dari setiap partisipan dan motivasi apakah yang melatar-
belakangi kontribusi tersebut?

Oleh karena proyek rantai pasokan dapat dilakukan di berbagai negara dengan tatanan budaya yang
berlainan, maka perlu dilakukan penentuan indikator-indikator lokal yang mempengaruhi pemilihan dan
penggunaan alat-alat analisis.

Luaran dari fase kedua ini adalah detil perencanaan proyek untuk memperbaiki rantai pasokan
pertanian

Fase 3: Fase Pelaksanaan

Pelaksanaan rencana kerja: setelah semua stakeholders menyepakati rencana yang telah disusun,
eksekusi harus dilakukan sesuai jadwal. Untuk memberikan fasilitasi, organisasi proyek yang memadai
perlu dirancang untuk mendukung fase eksekusi.

Kelompok pengarah yang terdiri dari wakil setiap mata rantai pasokan, organisasi publik dan lembaga
finansial perlu dikoordinasikan. Kelompok pengarah ini memiliki ketua yang independen agar kelompok
tersebut dapat berfungsi secara efektif.

10
Pengelolaan sehari-hari harus didukung oleh seorang koordinator, karena proyek pengembangan
rantai pasokan biasanya terdiri dari berbagai komponen (logistik, teknologi, TQM dsb.) yang perlu
dikoordinasikan dan dikaitkan satu dengan yang lainnya. Koordinator sebaiknya dipilih dari salah satu
universitas atau lembaga penelitian yang berpartisipasi, karena dapat berperan sebagai penengah
antara stakeholders publik dan swasta. Koordinator sebaiknya memiliki pengalaman penelitian dalam
proyek internasional, memahami chain science dan berbagai ilmu terkait, memiliki pengalaman dalam
proyek manajemen, memiliki kemampuan negosiasi, serta mempunyai jaringan di dalam infrastruktur
ilmu pengetahuan menyangkut chain.

Umpan balik terhadap interim results; pada akhirnya akan mengarah pada berbagai penyesuaian
dalam proyek. Pengalaman praktis menunjukkan bahwa pengembangan rantai pasokan pada dasarnya
merupakan suatu pendekatan proses.

Perhatian khusus sangat diperlukan untuk transfer pengetahuan dan pelatihan, karena konsep rantai
pasokan cenderung merupakan konsep baru, terutama bagi pasar-pasar yang baru terbentuk
(emerging markets). Dalam rantai pasokan, semua partisipan harus memiliki pemahaman yang baik
mengenai berbagai konsep baru, misalnya rantai pemasaran, logistik, pengendalian/pengawasan
kualitas, sertifikasi, penjejakan dan penelusuran. Untuk menjamin keberlanjutan pengembangan rantai
pasokan maka disarankan agar melakukan investasi berkaitan dengan pengetahuan lokal mengenai
rantai pasokan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Hubungan antar pemasok dapat diperkuat dengan meningkatkan komunikasi, memberikan volume
perdagangan yang lebih besar atau melibatkan pemasok dalam pengembangan produk atau analisis
nilai. Pemberian volume perdagangan yang lebih besar merupakan salah satu upaya peningkatan
derajat hubungan tanpa harus mengalokasikan sumberdaya baru terhadap hubungan tersebut.
Perubahan pemasok perlu diawali dengan mempertimbangkan kembali peranan pemasok tersebut
terhadap posisi jejaring kerja. Pemasok dapat berperan penting dalam hubungannya dengan anggota
lain di dalam jejaring kerja. Pengembangan pemasok merupakan suatu fokus jangka panjang.

Luaran dari fase ketiga ini adalah rantai pasokan pertanian yang fungsional

Fase 4: Fase Evaluasi dan Pemantauan

Fase ini melibatkan pengujian terhadap hasil dari proyek serta penyesuaian kembali fase pertama,
sehingga berbagai tantangan baru dapat dihadapi. Evaluasi ini dapat bersifat kualitatif maupun
kuantitatif. Pengembalian ekonomis suatu investasi dapat dikalkulasi dari sudut pandang bisnis
ekonomi, namun perhatian perlu pula diberikan pada beberapa aspek, misalnya peningkatan
pengetahuan serta kerjasama antar partisipan di dalam rantai pasokan. Proses perencanaan menca-
kup perhatian terhadap dua isu, yaitu isu konsepsual dan isu teknis (Patton, 1987).

Isu-isu konsepsual memfokuskan pada bagaimana partisipan yang terlibat memandang/memikirkan


evaluasi dan mencakup berbagai pertanyaan sebagai berikut:

• Siapakah stakeholders utama dari proses evaluasi ini?


• Apakah kegunaan dari evaluasi ini?
• Pendekatan, model/kerangka kerja apa yang digunakan untuk memberikan arah evaluasi?
• Apakah pertanyaan atau isu utama dari evaluasi ini?
• Apakah ada pertimbangan politis yang harus diperhitungkan di dalam evaluasi ini?

11
• Standar serta kriteria apa yang digunakan untuk memberikan penilaian dalam evaluasi ini?
• Sumberdaya apa sajakah yang tersedia untuk evaluasi ini?

Rancangan teknis yang diturunkan harus sejalan dengan arah konsepsi evaluasi. Rancangan teknis
adalah suatu rencana untuk pengumpulan dan analisis data. Rancangan teknis tersebut harus dapat
menjawab berbagai pertanyaan berikut ini:

• Metode apa yang akan digunakan (wawancara, lokakarya atau studi kasus)?
• Apakah yang akan menjadi unit analisis utama?
• Bagaimanakah strategi sampling yang akan digunakan?
• Seandainya ada, pembanding atau perbandingan apakah yang akan digunakan?
• Jenis data apakah yang akan dikumpulkan? Siapakah sumber data? Kapan data akan
dikumpulkan? Instrumen apakah yang akan digunakan?
• Bagaimanakah cara menjamin kualitas dan akurasi data yang dikumpulkan? Tingkat dan jenis
akurasi seperti apakah yang diperlukan?
• Analisis seperti apakah yang akan digunakan/dilakukan?
• Pernyataan atau temuan apakah yang akan diharapkan akan diperoleh dari hasil analisis?

Oleh karena rtantai pasokan berfungsi dalam lingkungan yang dinamis dan responsif terhadap
tantangan-tantangan baru, maka pengem-bangan rantai pasoikan harus dipandang sebagai suatu
proses siklikal yang sedang berjalan. Evaluasi harus mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan dan
aksi-aksi. Fase evaluasi harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

• Apakah tujuan dan target yang telah ditetapkan dapat tercapai?


• Apakah hasilnya dapat dicapai tepat waktu?
• Apakah semua kegiatan dapat dijalankan dalam kerangka anggaran yang diusulkan?
• Jika tidak, apakah alasan dari deviasi tersebut?
• Apakah strategi rantai pasokan akan sama pada 5-10 tahun ke depan?
• Tantangan atau masalah baru apakah yang akan dihadapi?
• Tipe hubungan antar pemasok seperti apa yang mungkin berkembang 5 tahun ke depan?

Pemantauan yang sedang berjalan harus mencakup pula aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif.
Laporan finasial empat-bulanan dapat memberikan gambaran menyangkut kemajuan proyek.
Kuesioner yang harus dijawab oleh semua stakeholders (pimpro, insitusi penelitian, perusahaan) dapat
memberikan gambaran menyangkut:

• Pengalaman positif yang dialami selama proyek berlangsung


• Faktor-faktor yang berperan penting terhadap keberhasilan proyek
• Keragaan stakehorlders berkaitan dengan visinya menyangkut sasaran proyek, komitmen
terhadap proyek, keterbukaan terhadap partisipan proyek lainnya
• Pengalaman penting yang dapat dipelajari dari proyek
• Komitmen berkaitan dengan partisipasi ke depan

Luaran dari fase keempat ini adalah kerjasama strategis di dalam atau sepanjang rantai pasokan.

12
Referensi:

Boehlje, M., Schrader, L. H. And Akridge, J. 1988. Observation on formation of food supply chains. In
Proceedings of the Third International Conference on Chain Management in Agribusiness and
the Food Industry, Wageningen Agricutural University, The Netherlands, 393-403.
Coates, J. F., Mahaffie, J. B. And Hines, A. 1997. 2025: Scenarios of US and global society reshaped
by science and technology. Greensboro, NC, Oakhill Press, 516 p.
Easton, G. 1992. Industrial networks: A review. In Axelson, B. And Easton, G. Eds. Industrial networks:
A new view of reality. London and New York, Routledge, 3-27.
Eisenhardt, K. M. 1989. Agency theory: An assessment and review. Academy of Management Review,
14, 57-74.
Folkerts, H., and Koehorst, H. 1998. Challenges in international food supply chains: Vertical
coordination in the European agribusiness and food industries. British Food Journal, 100, 385-
388.
Gronroos, C. 1994. From marketing mix to relationship marketing: Toward a paradigm shift in
marketing. Management Decision, 32, 4-20.
Hobbs, J. E. 1996. A transaction cost approach to supply chain management. Supply Chain
Management 1 (2), 15-27.
Morgan, R. M. and Hunt, S. D. 1994. The commitment-trust theory of relationship marketing. Jurnal of
Marketing, 58, 20-38.
Patton, M. Q. 1987. How to use qualitative methods in evaluation? Sage Publications. London.

13