Anda di halaman 1dari 4

1

PERSPEKTIF KEBIJAKAN REFORMASI PEMASARAN


HORTIKULTURA: PILIHAN ATAU KEHARUSAN?1

Witono Adiyoga
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu517, Lembang, Bandung-40391

Sasaran untuk mewujudkan sistem produksi hortikultura berkelanjutan akan sulit


dicapai jika tidak disertai dengan upaya memperbaiki sistem kelembagaan pemasaran.
Mengacu pada tingginya ketidak-pastian (uncertainty) yang dihadapi usahatani hortikultura,
terutama yang bersumber dari ketidak-pastian pasar, perbaikan sistem kelembagaan
pemasaran sudah saatnya diposisikan pada urutan kepentingan yang mendapatkan prioritas
dalam program pengembangan sub-sektor hortikultura.
Perbaikan sistem pemasaran harus dipandang sebagai suatu proses jangka panjang
yang memerlukan investasi tinggi serta komitmen penuh. Pengalaman menunjukkan bahwa
proses tersebut justru seringkali dianggap sebagai kendala yang sukar diatasi (memiliki tingkat
kesulitan tinggi), sehingga upaya perbaikan sistem pemasaran cenderung kurang mendapat
perhatian serius, atau bahkan cenderung dihindari. Lebih jauh lagi, salah satu isu krusial yang
kurang dipahami secara menyeluruh, sehingga seringkali kurang dipertimbangkan, adalah
kendala-kendala reformasi sistem pemasaran yang bersifat sosial, ekonomi dan politis. Hal ini
sekaligus juga menunjukkan adanya kecenderungan upaya perbaikan yang lebih menekankan
perspektif teknis, dibandingkan dengan perspektif kelembagaan.
Berdasarkan uraian di atas, proposisi yang dapat diturunkan adalah: sistem
pemasaran hortikultura yang ada sekarang belum cukup memberikan jaminan dukungan
terhadap tingkat keberhasilan penerapan pendekatan agribisnis untuk komoditas hortikultura.
Operasionalisasi proposisi tersebut memberikan penekanan pada perlunya perbaikan sistem
pemasaran sebagai salah satu pra-kondisi yang harus dipenuhi dalam pengembangan
agribisnis hortikultura. Perbaikan sistem pemasaran merupakan salah satu tanggung jawab
pemerintah. Dalam kaitan ini, pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk memberikan
pelayanan dasar serta menciptakan kondisi kondusif agar dapat mendorong terwujudnya
sistem pemasaran yang efisien. Pada dasarnya, terdapat beberapa alternatif tindakan yang
dapat ditempuh pemerintah dalam rangka menjalankan proses reformasi pemasaran,
diantaranya:
• Reformasi peraturan atau regulasi. Pemerintah meninjau kembali kendala administratif
dan regulasi yang menghambat keragaan optimal lembaga pemasaran, dalam
menjalankan fungsi-fungsi pemasaran.
• Reformasi harga produk. Pemerintah perlu menjamin bahwa harga yang disepakati pada
setiap transaksi merupakan luaran dari mekanisme pasar
• Perbaikan efisiensi lembaga pemasaran. Langkah ini pada umumnya ditempuh sebagai
tahapan awal dari reformasi pemasaran
• Penekanan terhadap keterlibatan pihak swasta untuk menjalankan fungsi-fungsi
pemasaran.
• Mencabut subsidi dengan tindakan- tindakan yang terukur dan memiliki target yang jelas
• Reformasi kebijakan perdagangan luar negeri
• Mendukung tumbuhnya saluran-saluran pemasaran yang baru

1 Laporan Triwulanan T.A. 2000 Anggota Tim Analisis Kebijakan Puslitbanghorti


2

Pengalaman di banyak negara-negara berkembang menunjukkan bahwa reformasi


pemasaran telah memberikan manfaat bagi partisipan pasar, melalui:

• Peningkatan kebersaingan yang mengarah pada pengurangan biaya pemasaran


(berpotensi untuk memberikan manfaat baik bagi produsen maupun konsumen)
• Penghilangan kesempatan bagi kegiatan-kegiatan spekulasi non-produktif (rent-
seeking)
• Rasionalisasi kebijakan penetapan harga yang memungkinkan sum-berdaya
pertanian digunakan secara lebih produktif serta pengurangan beban fiskal dari
sistem pemasaran

Persepsi kurang tepat yang mengasumsikan bahwa sistem pemasaran secara otomatis akan
berkembang untuk mengimbangi peningkatan produksi perlu segera diluruskan. Pra-kondisi
utama untuk keberhasilan perbaikan sistem pemasaran adalah pendekatan terkoordinasi
antara spesialis pemasaran dan instansi pemerintah terkait yang bertanggung jawab dalam
merancang, mengimplementasikan dan melakukan sosialisasi program perbaikan. Pendekat-
an sistematis yang dapat dilakukan dalam memperbaiki sistem pemasaran adalah sebagai
berikut:

• Mendefinisikan tujuan program perbaikan -- sasaran program perbaikan serta target grup
• Mengidentifikasi sistem yang relevan untuk mencapai tujuan -- sistem agribisnis secara
keseluruhan atau sub-sistem pemasaran saja
• Menentukan komponen dari sistem yang akan diperbaiki -- institusi pemelihara stabilisasi
harga atau jaringan informasi pasar
• Mendefinisikan lingkungan di mana sistem bersangkutan akan beroperasi serta berbagai
faktor yang dapat menghambat dan mengkondisikan berfungsinya sistem tersebut
• Mendefinisikan luaran dari sistem yang hendak diperbaiki -- efisiensi penggunaan
sumberdaya dalam memberikan pelayanan pemasaran serta efektivitas dari sistem
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
• Menentukan secara konseptual berbagai macam keterkaitan yang mungkin terjadi antar
bagian-bagian dalam sistem -- harga tinggi akan cenderung mendorong peningkatan
pasokan atau harga rendah cenderung akan meningkatkan permintaan
• Melakukan delineasi alternatif tindakan yang teruji kelayakannya sesuai dengan
lingkungan operasi, ketersediaan sumberdaya serta kerangka waktu yang telah
ditetapkan dalam mencapai tujuan
• Melakukan evaluasi menyangkut konsekuensi yang mungkin ditimbulkan dari alternatif
tindakan yang dipilih, berkaitan dengan luaran dan keragaan sistem

Sesuai dengan kondisi aktual yang dihadapi, pendekatan sistematis di atas dapat pula
digunakan sebagai check list untuk menentukan langkah awal program perbaikan.
Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa perbaikan sistem pemasaran dilakukan
melalui:
• Pembangunan dan/atau perluasan pasar induk serta perbaikan fasilitas
pemasaran yang bersifat mendasar
• Perbaikan manajemen pasar dan sistem transaksi
• Penguatan koperasi pemasaran yang dioperasikan organisasi petani
• Pembuatan berbagai regulasi/peraturan pemasaran sesuai kebutuhan
• Pelatihan personil untuk spesialisasi pemasaran produk
• Pelaksanaan survai pasar dan penelitian yang berkesinambungan
3

Sejalan dengan perbaikan berbagai hal di atas, rekayasa sosial dan kelembagaan juga terus
digarap, terutama berkaitan dengan pemberlakuan serta penerapan berbagai regulasi pasar,
misalnya:

• Peraturan menyangkut sistem transaksi produk pertanian


• Peraturan menyangkut sistem pemasaran koperatif
• Peraturan menyangkut persetujuan kontrak produksi dan pemasaran
• Peraturan menyangkut penyusunan standarisasi dan grading produk untuk pasar
domestik dan pasar ekspor
• Peraturan menyangkut penyelenggaraan pasar-pasar pengumpul
• Peraturan menyangkut manajemen pasar induk
• Peraturan menyangkut manajemen dan supervisi pasar eceran
• Peraturan menyangkut operasionalisasi dan manajemen sistem informasi pasar
• Peraturan menyangkut pengawasan residu kimiawi

Berbagai peraturan di atas disusun untuk memberikan jaminan atas kepentingan dan hak
semua pihak yang terlibat dalam proses pemasaran. Disamping itu, peraturan tersebut
memberikan dasar hukum yang solid bagi pemerintah dalam mempromosikan perbaikan
sistem pemasaran.
Secara lebih kongkrit, pengalaman di negara-negara berkembang juga menunjukkan
pentingnya perbaikan fungsi pasar induk sebagai titik tumpu upaya perbaikan sistem
pemasaran secara keseluruhan. Keberhasilan operasionalisasi dan manajemen pasar induk
sangat bergantung pada upaya-upaya perbaikan yang ditempuh dengan:

• Memberikan penekanan pada hal-hal yang bersifat legislatif sebagai dasar acuan untuk
upaya perbaikan pasar
• Membentuk organisasi berbadan hukum yang bertugas untuk mengelola pasar induk
• Mendirikan pasar induk di sentra-sentra produksi utama dan pusat-pusat konsumsi
utama (kota besar)
• Meningkatkan keeratan hubungan antara koperasi pemasaran dengan pasar induk
berdasarkan fasilitasi yang diberikan pemerintah
• Membantu pasar induk dalam membangun sistem transaksi (misalnya, sistem lelang)
yang didukung oleh pemerintah serta memperkenalkan berbagai teknologi maju di
bidang pemasaran
• Mengatur imbalan bagi pelayanan yang diberikan oleh pasar induk secara layak
• Menstabilkan harga di pasar induk melalui perencanaan dini menyangkut volume
produk yang akan masuk ke pasar
• Membentuk sistem informasi pasar yang menghubungkan sentra-sentra produksi utama
dengan pasar-pasar induk
• Membentuk komisi penentuan harga yang bertanggung jawab untuk menentukan harga
minimal beberapa komoditas utama di pasar induk
• Mengatur transaksi berbasis borongan yang dilakukan di pasar induk
• Menyediakan fasilitas ruang yang cukup bagi pedagang besar dan jobber

Berbagai pengalaman dari negara lain mungkin saja diadaptasi untuk perbaikan sistem
pemasaran produk hortikultura di Indonesia melalui proses perencanaan yang matang dan
terkoordinasi. Reformasi pemasaran dapat mengurangi biaya pemasaran, mengurangi beban
fiskal yang disebabkan oleh inefisiensi dalam sistem pemasaran, meningkatkan integrasi pasar
dan pada beberapa kasus dapat menimbulkan respon produksi dan pemasaran yang
4

signifikan. Beberapa hal yang perlu mendapat catatan berkenaan dengan kemungkinan
kegagalan reformasi pemasaran adalah: (a) kegagalan untuk menyelesaikan konflik politis dari
berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda, (b) adanya inkonsistensi kebijakan yang
dilakukan pemerintah, dan (c) adanya respon yang kurang antusias terhadap upaya reformasi.
Reformasi sistem pemasaran hortikultura memang bukan merupakan tugas yang mudah, tetapi
tetap harus dilakukan, karena bukan sesuatu hal yang bersifat pilihan.

Anda mungkin juga menyukai