Anda di halaman 1dari 15

PERTANIAN MASUKAN ENERGI LUAR RENDAH DAN PERTANIAN BERKELANJUTAN - LEISA

(LOW-EXTERNAL-INPUT AND SUSTAINABLE AGRICULTURE) SERTA PROSPEK


PENERAPANNYA PADA USAHATANI SAYURAN

Witono Adiyoga, Nani Sumarni dan Udin S. Nugraha


Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung-40391

Dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan produksi sayuran, kebijakan umum pengembangan
yang ditempuh pada dasarnya masih bertumpu pada teknik budidaya konvensional yang
mengutamakan penggunaan input berenergi tinggi. Sarana produksi tersebut dihasilkan dari
sumberdaya alam yang non-renewable dan secara ekonomis maupun ekologis cenderung semakin
mahal. Intensitas dan frekuensi penggunaan pupuk buatan, hormon tumbuh, dan pestisida yang
semakin meningkat, dikhawatirkan dapat menjadi ancaman yang serius terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan hidup. Pada beberapa kasus, intensitas penggunaan input kimiawi ini malahan dapat
dapat menghambat pencapaian sasaran produksi sayuran (counterproductive). Beberapa kondisi
berikut ini bahkan mengindikasikan bahwa sistem pertanian konvensional bukan pilihan yang tepat
untuk meningkatkan produktivitas sayuran di negara-negara berkembang, karena:
1. Pertanian konvensional dianggap gagal dalam melaksanakan misi ketahanan pangan.
Introduksi pupuk kimia dan pestisida sintetis pada kebanyakan kasus telah meningkatkan
output per hektar dan produksi total. Namun demikian, peningkatan produksi tersebut
pertumbuhannya cenderung semakin melambat, bahkan pada beberapa kasus
mengindikasikan adanya penurunan produksi. Penyebab utama dari kondisi ini adalah: (a)
penurunan kesuburan tanah, (b) kerusakan biodiversitas dan lingkungan, (c) degradasi atau
kerusakan sumberdaya air, serta (d) peningkatan populasi hama dan resistensi.
2. Kesalahan sistem. Akar masalah pertanian konvensional berasal dari introduksi pupuk dan
pestisida kimiawi yang telah menstimulasi sistem produksi untuk berperilaku independen
terhadap proses pengaturan alami dan sumberdaya lokal, namun sangta bergantung kepada
sumberdaya yang non-renewable. Keadaan ini telah mendorong berkembangnya pertanaman
monocropping dan spesialisasi wilayah dalam sistem pangan yang mengarah pada semakin
meningkatnya masalah hama dan pengelolaan hara, sejalan dengan rusaknya siklus alami.
Untuk memecahkan masalah ini, bahkan lebih banyak pupuk dan pestisida kimiawi harus
digunakan, sehingga terbentuklah suatu vicious circle.
3. Pengaruh jangka panjang terhadap kesuburan lahan dan erosi tanah. Penurunan kesuburan
tanah dikompensasi oleh petani dengan meningkatkan aplikasi pupuk kimiawi. Hal ini malahan
memperberat permasalahan, karena salah satu penyebab penurunan kesuburan adalah
pengelolaan bahan organik tanah yang kurang tepat. Pada saat pupuk sintetis lebih banyak
menggantikan cara alami pengelolaan hara, seperti rotasi tanaman serta daur ulang bahan
organik, maka bahan organik tanah semakin tererosi. Hilangnya bahan organik akan
menyebabkan tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi fisik (oleh angin dan air), kapasitas
retensi air menurun dan penyerapan unsur hara terganggu.
4. Penurunan keamanan pangan dan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia.
Penggunaan pestisida berlebih, terutama di negara-negara berkembang, sudah menjadi
ancaman serius bagi kesehatan manusia, khususnya petani dan pekerja di sektor pertanian.
Pengaruh jangka panjang kadar/kandungan rendah berbagai jenis pestisida di dalam makanan
belum dapat diketahui secara pasti, namun risiko kesehatan yang ditimbulkannya jelas tinggi.
Penggunaan pestisida berlebih juga mengarah pada tertimbunnya substansi yang tidak
dikehendaki di dalam makanan, misalnya kandungan nitrat yang lebih tinggi karena
penggunaan pupuk nitrogen atau kandungan kadmium sebagai akibat dari kontaminasi fosfat.
5. Hilangnya biodiversitas dan menurunnya kualitas lingkungan. Introduksi sistem pertanaman
monokultur dan varietas silangan moderen telah menyebabkan hilangnya keragaman genetik

1
sebesar 75% selama abad dua puluh (Pretty, 1995). Kehilangan habitat merupakan ancaman
utama terhadap biodiversitas dan kegiatan pertanian berpengaruh terhadap 70% spesies
burung dan 49% spesies tanaman yang terancam. Pengaruh langsung negatif dari pertanian
konvensional adalah polusi nitrat, fosfat dan pestisida terhadap air. Penelitian menunjukkan
bahwa 60% pupuk nitrogen yang diaplikasikan tidak diserap tanaman, tetapi hilang mencemari
air tanah dan aair permukaan.

Beberapa hal tersebut memberikan gambaran bahwa sistem produksi pertanian konvensional
cenderung menciptakan banyak sumber pencemaran yang mengakibatkan degradasi lingkungan dan
perusakan sumberdaya alam baik di tingkat lokal, nasional dan global. Pengkajian lebih lanjut
mengenai proporsi jumlah input-output selama beberapa tahun bahkan mengindikasikan bahwa sistem
konvensional menjadi semakin tidak efisien dan boros.

Argumentasi tersebut ditambah dengan isu pertanian berkelanjutan mendorong berbagai pihak untuk
mencari dan mempertimbangkan teknologi alternatif yang dipandang kompatibel dengan asas-asas
lingkungan, sehingga dapat tetap menjamin kelestarian dan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya
alam bagi generasi mendatang.

PERTANIAN LEISA

Salah satu teknologi alternatif yang semakin sering dijajagi penerapannya adalah Pertanian Masukan
Energi Luar Rendah dan Pertanian Berkelanjutan atau LEISA (Low-External-Input and Sustainable
Agriculture). LEISA merupakan teknik budidaya yang diarahkan agar dapat secara optimal
menggunakan sumber daya yang tersedia di lokasi setempat. Hal ini ditempuh melalui perpaduan
berbagai komponen sistem usaha tani, seperti tanaman, binatang, tanah, air, iklim, dan manusia,
sehingga komponen-komponen tersebut saling melengkapi dan sinergis satu sama lain. Metode LEISA
juga mengupayakan penggunaan input eksternal hanya bila diperlukan, yaitu untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara yang defisien di ekosistem serta meningkatkan kinerja sumberdaya biologis,
fisik dan manusia yang tersedia. Penggunaan input eksternal diusahakan yang dapat didaur ulang
secara maksimal, dan berdampak negatif paling minimal bagi lingkungan.

LEISA tidak diarahkan untuk memenuhi sasaran produksi maksimum dalam jangka pendek, tetapi
ditujukan untuk memperoleh produksi yang memadai dan stabil dalam jangka panjang. LEISA
berusaha untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan sumber daya alam dan
memanfaatkan semaksimal mungkin proses-proses alami. LEISA menggabungkan secara maksimal
pengetahuan dan praktek-praktek pertanian tradisional, praktek pertanian layak ekologi yang
dikembangkan di tempat-tempat lain, dan perkembangan ilmu-lmu pertanian mutakhir berwawasan
lingkungan.

Sistem LEISA yang dianggap sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan dan umumnya dilakukan
oleh petani kecil seringkali diragukan kemampuannya untuk dapat memecahkan masalah kebutuhan
pangan. Rasa skeptis sering timbul sehubungan dengan kecukupan bahan organik dan tenaga kerja
untuk mendukung operasionalisasi sistem ini, serta produktivitas sistem yang relatif rendah. Sukar
untuk membuktikan apakah kritik tersebut valid atau tidak, karena ketersediaan data untuk komparasi
sangat terbatas. Walaupun demikian, beberapa kajian cenderung memberikan konfirmasi bahwa
kondisi lokal merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan sistem tersebut. Lebih jauh lagi
diindikasikan bahwa sistem LEISA yang sukses biasanya dikembangkan oleh petani (kecil) sendiri
sebagai respon terhadap tekanan penduduk, kesempatan pasar dan ketersediaan lahan yang semakin
langka.

2
Pergeseran dari sistem konvensional ke LEISA akan menimbulkan berbagai perubahan signifikan.
Salah satu perubahan yang paling nyata adalah komposisi penggunaan input. Bersamaan dengan
pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida sintetis, peningkatan penggunaan input yang lain,
misalnya bahan organik dan tenaga kerja, dapat terjadi. Rotasi tanaman juga mungkin berubah dan
mempengaruhi produktivitas, variabilitas produksi, produksi total dan pendapatan (pada saat ini dan
masa yang akan datang). Hal-hal tersebut pada akhirnya akan berpengaruh terhadap ketahanan
pangan dan lingkungan. Perubahan- perubahan yang terjadi sering dipengaruhi dan mempengaruhi
perubahan sosial di dalam masyarakat. Beberapa isu yang perlu dicermati sehubungan dengan upaya
merealisasikan pergeseran paradigma dari sistem produksi konvensional ke sistem produksi rendah
input eksternal, diantaranya adalah: (1) input tenaga kerja, terutama berkaitan dengan perbedaan
intensitas penggunaan, (b) input-input lainnya yang bergeser titik berat sumbernya, dari off-farm ke on-
farm, (c) rotasi tanaman sebagai salah satu alat penting dalam pengendalian masalah hama penyakit
dan pemeliharaan kesuburan lahan, (d) hasil produksi atau produktivitas, serta (e) produksi total
usahatani.

Beberapa potensi dampak dari penerapan LEISA diantaranya adalah:


• Produktivitas jangka panjang
Melindungi dan mempertahankan kesuburan lahan mengandung implikasi jaminan kapasitas
produktif bagi generasi akan datang. Namun demikian, faktor utama yang akan menentukan
apakah petani akan tertarik untuk melakukannya akan sangat bergantung kepada manfaat yang
dapat dipetik dari perubahan tersebut. Oleh karena itu, keamanan dari status penguasaan lahan
merupakan faktor yang sangat menentukan. Jika keamanan status penguasaan lahan tidak
terjamin, tidak akan ada insentif bagi petani untuk menanamkan investasinya dalam metode
produksi yang akan memberikan pendapatan di masa depan. Petani akan lebih tertarik untuk
menerapkan sistem produksi yang dapat menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek.
• Ketahanan dan stabilitas pangan
Prinsip diversifikasi di dalam LEISA memungkinkan adanya pengurangan risiko yang ditimbulkan
oleh variabilitas produksi. Hal ini mengimplikasikan kecilnya kemungkinan terjadi ledakan produksi
atau kegagalan produksi secara sekaligus dari semua cabang usaha yang dilakukan, sehingga
dapat berkontribusi terhadap ketahanan dan stabilitas pangan untuk konsumsi. Ketahanan pangan
tidak selalu dapat tercapai melalui swasembada pangan. Harga premium untuk produk LEISA
berpotensi untuk meningkatkan pendapatan petani, sehingga dapat pula berkontribusi secara tidak
langsung terhadap ketahanan pangan lokal atau rumah tangga. Karakteristik proses produksi
LEISA (ketergatungan rendah terhadap input eksternal) memungkinkan petani menekan biaya
produksi, sehingga dapat meningkatkan status ketahanan pangannya.
• Dampak lingkungan
Pengurangan penggunaan input sintetis berdampak langsung terhadap lingkungan, karena
kebutuhan enerji fosil non-renewable serta pencucian nitrogen dapat ditekan. Petani meningkatkan
kesuburan lahan dengan menggunakan pupuk kandang, limbah tanaman, kacang-kacangan dan
pupuk hijau serta pupuk alami lainnya. Petani LEISA lebih mengandalkan pengendalian hama
penyakit secara alami, daripada penggunaan pestisida sintetis yang dapat membunuh organisme
berguna, menyebabkan resistensi serta menimbulkan polusi air dan tanah. Teknik penyiapan lahan
(terasering, tanaman penutup tanah) dapat mengurangi erosi, pemadatan, salinitas dan degradasi
lahan, terutama melalui penggunaan rotasi tanaman dan bahan organik yang diarahkan untuk
memperbaiki kesuburan dan struktur tanah.
• Dampak sosial
Pengelolaan LEISA banyak mengandalkan pengetahuan lokal dari interaksi kompleks serta
keragaman kondisi antar lokasi yang cenderung kurang memihak areal produksi luas. Dengan
demikian, LEISA memiliki potensi untuk memperbaiki distribusi dan akses terhadap sumberdaya
produktif, yaitu lahan. Penerapan LEISA mengharuskan petani untuk melakukan eksperimentasi

3
teknik-teknik baru, memperkenalkan cara pengelolaan baru untuk tenaga kerja, serta menentukan
pilihan-pilihan tepat. Hal ini hanya dimungkinkan jika petani berpartisipasi dalam kegiatan penelitian
dan implementasinya. Komponen penelitian on-farm dapat mendukung perkembangan masyarakat
pedesaan dan menciptakan pengetahuan baru yang akan bermanfaat bagi semua petani.

Pengalaman di negara-negara maju yang telah menerapkan LEISA secara luas menunjukkan adanya
trend yang cukup konsisten menyangkut karakteristik petani LEISA (dibandingkan dengan petani
konvensional), yaitu: (a) memiliki lahan garapan lebih sempit, (b) menerapkan pola tanam yang lebih
beragam, (c) mencapai produktivitas tanaman yang secara umum lebih rendah, dan (d) memiliki aset,
ekuitas, pendapatan kotor dan pendapatan bersih yang relatif lebih rendah. Karakteristik ini
mengimplikasikan beberapa hal sebagai berikut: (a) petani LEISA lebih sedikit membeli input dari luar,
karena kebutuhannya yang spesifik tidak dapat terpenuhi oleh pasar, (b) jika petani LEISA
menginginkan tingkat pendapatan yang setara dengan petani konvensional, maka perlu
mengembangkan sumber pendapatan tambahan, dan (c) petani LEISA yang lebih memiliki diversifikasi
usaha, cenderung lebih berpeluang untuk menurunkan/meminimalkan variabilitas pendapatan
tahunannya.

PROSPEK PENERAPAN LEISA PADA USAHATANI SAYURAN

Potensi keberhasilan atau prospek penerapan LEISA ini sebenarnya sukar untuk ditaksir. Beberapa
faktor yang perlu dicermati dalam mengevaluasi atau menaksir kelayakan LEISA, diantaranya adalah:
• Parameter-parameter yang merefleksikan “greater sustainability" tidak selalu mengimplikasikan
praktek budidaya LEISA;
• Pada prakteknya akan sukar untuk membedakan pengaruh antar faktor terhadap sistem usahatani,
pengenalan sistem LEISA mungkin bukan satu-satunya penyebab perubahan yang terjadi (sebagai
contoh, kondisi cuaca yang kurang menguntungkan selama bertahun-tahun);
• Beberapa parameter (misalnya, produktivitas atau hasil) perlu dirata-ratakan selama periode
tertentu, karena banyak faktor selain sistem pengelolaan LEISA yang berpengaruh terhadap
variabilitas produksi (misalnya, cuaca);
• Banyak perubahan yang terjadi hanya dapat diamati dalam jangka panjang (misalnya perubahan
produksi atau perubahan kualitas tanah);
• Oleh karena LEISA termasuk “an under-researched area”, kondisi-kondisi yang pada awalnya
tampak sukar mungkin dapat diatasi setelah diperoleh pengalaman yang memadai, atau
sebaliknya;

Penelitian LEISA yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian masih relatif terbatas ditinjau dari
cakupan topik maupun komoditasnya. Beberapa hasil penelitian LEISA diantaranya adalah: (a)
pemberian pupuk organik (ampas tebu ataupun bokasi jerami) dapat menurunkan pemberian 1500
kg/ha NPK 15-15-15 menjadi 500 kg/ha NPK 15-15-15 dan masih dapat meningkatkan hasil umbi
kering bawang merah; (b) teknik pengendalian hama dan penyakit LEISA (pengolahan tanah sempurna,
sanitasi, tumpangsari cabai merah-tomat, pemupukan 60 t/ha pupuk kandang kuda + 750 kg/ha NPK
16-16-16, penyemprotan insektisida 1 kali/minggu dan perangkap kuning) dapat menekan penggunaan
insektisida sebesar 50%, meningkatkan populasi fauna di dalam dan di atas permukaan tanah, serta
mempertahankan hasil cabai sebesar 5,87 t/ha dan tomat sebesar 23,82 t/ha; (c) pengurangan dosis
pupuk NPK 16-16-16 dari 750 kg/ha ke 250 kg/ha menurunkan pertumbuhan, hasil buah dan serapan
NPK cabai merah, namun penurunannya tidak menunjukkan beda nyata; dan (d) pengamatan tingkat
kesuburan tanah pada akhir percobaan menunjukkan kemungkinan untuk penanaman berikutnya,
tanpa penambahan pupuk kandang (Sumarni, 2003). Relatif terbatasnya jumlah penelitian serta

4
comprehensiveness pengkajian LEISA secara tidak langsung juga mencerminkan orientasi program
penelitian yang belum menempatkan topik tersebut pada skala prioritas utama.

Beberapa komponen teknologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (sampai 2005) yang diharapkan
dapat mendukung program pengembangan LEISA pada komoditas sayuran, diantaranya adalah:

Pemuliaan

Varietas Keterangan
Kentang
• Tenggo • Beradaptasi luas
• Hasil tinggi (lebih tinggi dari Granola)
• Tahan penyakit busuk daun
• Bentuk dan kulit umbi baik

• LBr-40 (REPITA) • Beradaptasi pada daerah marginal sehingga dpt ditanam dengan input rendah
• Tahan busuk daun (hanya perlu 3-4 kali aplikasi pestisida selama musim tanam

• Amudra • Beradaptasi baik di ekosistem dataran tinggi


• Hasil tinggi
• Bentuk dan kulit umbi baik

• Manohara • Beradaptasi baik di ekosistem dataran tinggi


• Hasil tinggi
• Bentuk dan kulit umbi baik

• Cipanas • Beradaptasi baik di ekosistem dataran tinggi


• Hasil tinggi
• Toleran terhadap Phytopthora

• Granola • Beradaptasi baik di ekosistem dataran tinggi


• Hasil tinggi
• Bentuk dan kulit umbi baik

Cabai Merah
• Tanjung – 2 ( cabai • Asal seleksi individu tanaman dari populasi bersegresi di daerah Brebes
besar) • Umur mulai panen (hari setelah tanam) = + 58 hari
• Tinggi tanaman + 55 cm
• Tipe tumbuh menyebar
• Posisi tangkai bunga saat anthesis merunduk
• Warna mahkota bunga putih
• Warna buah muda hijau
• Warna buah tua merah
• Diameter buah + 1.3 cm
• Panjang buah + 11.2 cm (sedang)
• Tebal kulit buah + 1.1 mm
• Ujung buah runcing
• Kadar capsaicin 2.4 mg/g
• Berat 1000 biji 4.2 (gr)
• Penampang melintang buah agak bergelombang
• Potensi hasil 6 – 19,9 (ton / ha)
• Agak peka terhadap hama penghisap daun (thrips)
• Agak toleran terhadap penyakit antraknose
• Keunggulan
o Ukuran sesuai dengan preferensi konsumen.

5
o Umur panen genjah
o Panen serempak sehingga masa panen pendek
o Dapat ditanam di dataran rendah – dataran tinggi
o Kualitas olahan kering baik (khususnya warna merah tidak berubah setelah
diolah)

• Lembang – 1 (cabai • Asal seleksi individu tanaman dari populasi yang bersegresi di daerah Pangalengan
keriting) • Umur mulai panen (hari setelah tanam) + 63 hari
• Tinggi tanaman + 65 cm
• Tipe tumbuh kompak
• Posisi tangkai bunga saat anthesis merunduk
• Warna mahkota bunga putih
• Warna buah muda hijau
• Warna buah tua merah
• Diameter buah + 0.8 (ramping) (cm)
• Panjang buah + 11.8 (cm)
• Tebal kulit buah + 0.7 (mm)
• Ujung buah runcing
• Kadar capsaicin 1.2 (mg / g)
• Berat 1000 biji 3,0 (gr)
• Penampang melintang buah bergelombang
• Potensi hasil 5.6 – 19 (ton / ha)
• Agak toleran terhadap hama penghisap daun (thrips)
• Agak toleran terhadap penyakit antraknose
• Keunggulan
o Ukuran sesuai dengan preferensi konsumen.
o Dapat ditanam di dataran medium – dataran tinggi

Bawang Merah
• Kramat 1 • Asal hasil persilangan Maja dengan Lokal Cipanas
• Umur panen : 60 hari
• Warna umbi: merah tua
• Produksi umbi: 24,3 ton/ha umbi kering
• Keunggulan: produksi tinggi
• Daya adaptasi: cocok untuk dataran rendah

• Kramat 2 • Asal hasil persilangan Maja dengan Lokal Cipanas


• Umur panen: 62 hari
• Warna umbi: merah muda
• Produksi umbi: 24,3 ton/ha umbi kering
• Keunggulan: produksi tinggi
• Daya adaptas: cocok untuk ketinggian ≤ 800 meter,
• Ditanam pada musim penghujan / kering

Hama Penyakit

Pengendalian hama-hama penting pada tanaman cabai merah


• Pengelolaan • Pengelolaan ekosistem yang baik akan mengakibatkan pertanaman sayuran memiliki
ekosistem dengan “ketahanan lingkungan”. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tanaman tidak sesuai
cara bercocok tanam (sinkron) dengan siklus perkembangan hama atau kurang sesuai secara nutrisi, iklim
mikro tidak sesuai dan populasi musuh alami meningkat serta lebih beragam:
• Membersihkan kebun dari buah busuk terserang lalat kemudian dibenamkan dalam
tanah agar telur dan larvanya terbunuh.
• Pengolahan tanah yang baik dapat mematikan pupa yang ada di dalam tanah dan
memungkinkan hama tersebut terkena kondisi yang tidak menguntungkan seperti
panas oleh sinar matahari maupun kondisi dingin.

6
• Pemupukan Berimbang: keseimbangan nutrisi (nitrogen, fosfor, dan kalium) dan
dosis penggunaan pupuk yang tepat adalah penting untuk mendukung
pertumbuhan tanaman dan melindungi serangan OPT.
• Penggunaan pupuk kandang yang matang dapat mengurangi serangan
Gryllotalpha sp.
• Penggunaan mulsa plastik hitam-perak pada pertanaman cabai dapat mengurangi
serangan hama T. parvispinus dan kutudaun persik (M. persicae). Penggunaan
mulsa mampu mengurangi serangan hama karena mulsa menghalangi preferensi
hinggap pada waktu terbang dengan adanya refleksi cahaya matahari yang
dipantulkan mulsa dan mulsa dapat mengurangi persentase pembentukan pupa di
dalam tanah.
• Menjaga kebersihan kebun (sanitasi) dapat mengurangi serangan A. ipsilon,
Gryllotalpha
• Populasi hama biasanya meningkat pada kondisi kering (T. parvispinus, P. latus).
Oleh karena itu pengairan yang cukup merupakan salah satu cara pengendalian
yang tepat.

• Penanaman varietas • Beberapa klon cabai diketahui tahan/toleran terhadap serangan OPT cabai antara lain
tahan Tanjung – 2 dan Lembang – 1 toleran terhadap pengisap daun.

• Pemanfaatan musuh • Penggunaan predator Menochilus sexmaculatus Fabricius (Tribus : Coccinellini)


alami (predator) sebanyak 300 ekor/0.5 ha dan insektisida nabati ternyata dapat menekan populasi kutu
kebul sebesar 70% dan penyakit virus kuning sebesar 10% (Kasus Lampung).
Penggunaan predator M. sexmaculatus (1 ekor/tanaman) dan insektisida imidaklorpid
100 SL dapat mengurangi insiden penyakit virus kuning sebesar 72.18%)

• Pengendalian secara • Ulat tanah (A. ipsilon) yang keluar pada senja dan malam hari dikumpulkan lalu dibunuh.
mekanis

• Penggunaan Penggunaan perangkap (feromonoid seks, perangkap likat dan perangkap ME) untuk
perangkap mendeteksi dan memantau populasi hama (imago) sangat diminati di negara berkembang
karena kepraktisannya. Perangkap tidak hanya penting sebagai alat untuk menetapkan
perlu/tidaknya digunakan insektisida, tetapi juga penting untuk menetapkan kapan insektisida
harus digunakan. Beberapa jenis perangkap yang dapat digunakan untuk hama – hama
penting pada tanaman cabai merah antara lain :
• Perangkap likat warna biru atau putih untuk menekan serangan Thrips. Perangkap likat
sebaiknya dipasang segera setelah tanaman cabai merah tumbuh. Jumlah perangkap
yang dibutuhkan adalah sebanyak 40 buah/ha.
• Feromonoid seks S. exigua, S. litura dan H. armigera untuk menekan serangan ulat
bawang. 40 buah perangkap/ha di pasang segera setelah tanaman cabai merah.
Feromonoid seks dipasang di atas waskom yang diberi air sabun atau karton
berperekat.
• Perangkap baki kuning untuk menekan serangan kutudaun. Jumlah perangkap yang
diperlukan adalah sebanyak 40 buah/ha. Perangkap baki kuning diberi air sabun untuk
menjebak kutudaun.
• Perangkap kuning dapat digunakan untuk menekan serangan lalat pengorok daun L.
huidobrensis dan B. tabaci.

• Penggunaan • Beberapa jenis tanaman dapat digunakan untuk mengurangi serangan kutu kebul
“companion planting” antara lain tumpangsari antara cabai dengan tagetes. Penanaman jagung atau gandum
di sekitar tanaman cabai.
• Tanaman tinggi yang berwarna kuning (misalnya jagung atau bunga matahari) dapat
dipakai sebagai “border” yang merupakan “perangkap” (trap crop) di sekeliling
pertanaman cabai. Kutu daun bersayap yang bermigrasi akan hinggap lebih dahulu
pada trap krop tersebut.

• Penggunaan bio - Beberapa jenis insektisida nabati yang diketahui efektif untuk mengendalikan OPT cabai
pestisida merah

7
Nama Tumbuhan Bagian Tumbuhan Hama Sasaran
Melaleuca (Melaleuca bracteata) Daun B. dorsalis
Selasih (Ocium sanctum) Daun B. dorsalis
Mimba (Azadirachta indica) Daun dan Biji S. litura, M. persicae
Bengkuang (Pachyrrhyzus erosus) Biji H. armigera
Pahitan (Eupatorium inulifolium) Daun S. litura
Tagetes (Tagetes erecta) Daun S. litura, B. tabaci
Culan (Aglaia odorata, A. Harmsiana) Daun H. armigera
Eceng Gondok (Echinochlora crosgalli) Batang dan daun B. tabaci
Campuran Serai, Mimba dan Lengkuas Batang, Daun dan T. parvispinus
(Andropogon nardus, Azadi-rachta indica dan Rimpang
Alpinia galanga)
Sirsak (Annona muricata) Daun dan Biji S. litura, T. parvispinus
dan H. Armigera

• Penggunaan umpan Umpan beracun yang terdiri dari dedak dan insektisida asefat dengan perbandingan 10:1
beracun atau dedak dan insektisida asefat dengan perbandingan 20 :1 dapat digunakan untuk
mengendalikan Gangsir dan ulat tanah. Umpan beracun diletakkan disekitar tanaman atau
disekitar lubang yang dibuat oleh gangsir.

Pengendalian hama-hama penting pada tanaman bawang merah


Spodoptera exigua • Tracer 120 SC (Spinozad:120gr/l)
• Atabron 50 EC(klorfluazuron 50 gr/l)
• Midic 20 F (Tebufenozoine)
• Prodigy 100 EC (Diahridrazine)
• SeNPV 15 larva
Larva terinfeksi digerus lalu kemudia diencerkan dengan 1 liter ir, ke dalam larutan tersebut
ditambah agristik (perekat/perata) 1ml/l air
Larutan siap disemprot pada pertanaman bawang merah untuk memeperoleh larutan NPV
sebanyak 1 tangki semprot (17 liter) diperlukan sebanyak 255 ekor larva exigua yang
terinfeksi

Liriomiza huidobrensis • Trigard 50 WP (Cyromazine)


• Agrimec 18 EC (Abamectin)
• Padan 50 SP ( Kartap Hidroklorida)
• Tracer 120 SC (Spinosad 120gr/l)

Pengendalian hama-hama penting pada tanaman kentang


Pthorimaea operculela • Curacron 500 EC
• Rampage 100 EC
• Supracide 25 WP
• Supracide 40 EC

• Pengendalian hayati : Hama ini dapat dikendaliakan dengan cara kultur teknis antara
lain tidak menanam kentang pada musim panas, pengairan yang sesuai untuk
mencegah keretakan tanah yang memungkinkan masuknya ulat ke dalam umbi, guludan
untuk menutup umbui, menggunakan feromoid seks untuk menangkap dan memonitor
populasi hama di lahan, dan jika diperlukan dapat menggunakan insektisida selektif.
Perlakuan insektisdia biologi seperti Bacillus thuringiensis atau Baculovirus dapat
digunakan pada umbi-umbi di gunang, khususnya umbi bibit. Tanaman penolak seperti
lantana membantu melindungi umbi-umbi di gudang penyimpanan

Myzus persicae • Perfertion 400 (Dimetoat)


• Buldok 25 EC (betasiflutrin)
• Confedor 200 Sl (Imidakkloprid)
• Fifronil (Regent 50 EL) 2 ml /l

8
Bemisia tabaci • Confedor 200 SC (Imidacklorpid)
• Terlstar (bifentrin)
• Termizidin (endosulfan)
• Decis (deltametrin)

Liriomiza huidobrensis • Trigrad 50 EC (Cyromazine)


• Agrimec 18 EC( Abamectin)
• Marshal 200 EC (Karfosulfan)
• Tracer 120 ( Spinosid)
• Buldok 40 EC) Betasiflutrin

Pengendalian penyakit penting pada tanaman cabai, bawang merah dan kentang
• Penyakit antraknose • Pengendalian penyakit antraknose dilakukan dengan penyemprotan oleh : Fungisida
pada cabai disebab- kontak Clorotalonil (1 g/l ) interval 7 hari; Bio pestisida Agonal 866 (1g/l);Tigonal
kan oleh cendawan (1g/l);Phrogonal 866( 1g/l) dengan interval 7 hari.
Colletrotricum • Pengedalian penyakit bdc dilakukan penyemprotan oleh fungisida sintetik
gloeosporioides dan difenoconazol (0.5-1g/l) intrval 7-10 hari dan digilir dengan Clorotalonil (1g/l) dan
Colletrotichum penggunaan fungidida sintetis tidak boleh lebih dari empat kali selama
capsici , bercak daun pertumbuhantanaman dilapangan. Biopestisida Agonal 866, Tigonal 866 dan Phrogonal
Cercospora (bdc) 866 dengan konsentrasi masing 1g/l. Penggunaan bio pestisida dapat digilir dengan
( Cercospora pestisida sintetis apabila serangan penyakit mengalami ledakan.
capsici ).

• Penyakit bercak • Penyakit bercak ungu bdS,antraknose dikendalikan dengan melakukan penyemprotan
ungu ( Alternaria dengan fungisida sintetis kontak Clorotalonil (1g/l);dengan interval 7 hari; fungidida
porii); penyakit sintetis sistemik difencinazole, cyproconazole, hexaconazole, propiconazole, imazalil
antraknose dengan konsentrasi formulasi masing masing 1g/l.. Bio fungisida Agonal 866
(Colletotricum (1g/l),Tigonal 866 (1g/l) Phrogonal 866 0.5-0.7 g/l) dengan interval 7 hari. Penggunaan
gloeosporioides ); fungisida sintetis sistemik tidak boleh lebih dari empat kali penyemprotan di dalam satu
penyakit moller kali periode tanam, ini harus digilir dengan fungisida sintetis kontak untuk menghindari
(Fusarium patogen resisten terhadap fungisida. Penggunaan biofungisida dapat digilir dengan
oxysporum ); fungisids sintetik kontak atau sistemik apabila akan terjadi ledakan penyakit menurut
penyakit busuk daun diseases forcasting.
basah (bdb) • Penyakit emun buluk (P.destruktor ) dikendalikan dengan Clorotalonil (1g/l) dan
(Peronospora fungisida oomycetes (Cymoxanil, metalaxyl, propomocarb, oxadixyl, dimethomorph)
destructor); penyakit masing-masing dengan konsentrasi formulasi 1g/l) Pola penyemprotan sesuai denga
bercak daun pergiliran tersebut di atas.(biofungisida dan clorotalonil)
Stemphylium bdS). • Penyakit moller (F. oxysporum) dikendalikan dengan cara perlakuan bibit dengan
(Stemphylium fungisida sintetis kotak atau biofungisida dengan dosis 1g/kg bibit, rotasi tanaman,
vesicarium) pada memilih bibit yang berkwalitas.
bawang merah

• Penyakit pada • Penyakit busuk daun dikendalikan dengan fungisida oomycete


tanaman kentang sistemik(cymoxanil,metalaxyl,propomocarb,oxadicxyl,dimethomorph masing (1g/l )
ialah penyakit busuk digilir dengan fungisida clorotalonil dan Agonal. 866 (1g/l).
daun (Phythopthora • Penanaman varitas yang tahan.
infestans ), bercak • Penyakit bercak daun ( A. solani) dikendalikan dengan mempergunakan fungidsida
daun (Alternaria sintetis sistemik (golongan triazole antara lain; ifenconazole,hexaconazole,tebukonazole
solani ), imazalil) dan clorotalonil. Penggunaan fungisida sistemik tersebut harus digilir dengan
clorotalonil
• Pengendalian penyakit nematoda kista emas ( Globodera rostochiensis) dengan
mempergunakan varitas tahan Antinema,Specula, Target, Mario, Elvira,Granola,
Miranda, Multa, Crista,Pirola..

Pengendalian penyakit akibat bakteri pada cabai, bawang merah dan kentang
• Colletrotichum • Biopestisida : Pseudomonas fluorecens MBO 001 50 WP (PfMBO 001 WP)
gloeosprorides • Biopestisida Bacillus subtilis BE 001 50 WP (BsBE 001 50 WP)

9
• Biofungisida tersebut efektif untuk mengendalikan penyakit antraknose (Colletrotichum
gloeosprorides) pada cabai dengan dosis 0,7 –1 gram / liter
• Aplikasi disemprotkan pada tanaman menjelang berbuah (50 hari setelah tanam)
dengan interval waktu aplikasi 1 minggu sekali
• Biofungisida ini ini aman, tidak toksik, mampu menekan penyakit setara dengan
fungisida sintetik (Bion-M 1/48 WP)
• Dapat meningkatkan produksi buah sehat sebesar 40%-50% di lapangan dan dapat
meningkatkan produksi bush sehat sebesar 66,73% di rumah kasa.
• Biopestisida Ampuh dikombinasikan dengan PfM BO 001.50 WP mampu
mengendalikan antracnose setara dengan fungisida sintetik Bion M 1/48 WP, sekitar
40% terhadap jumlah buah yang sehat juga terhadap bobot kering buah cabai
• Xanthomonas Perlakuan seed (seed coat) dengan PfM BO 001 50 WP mengendalikan bakteri
camppestris Xanthomonas camppestris subsp vesicatoria pada biji cabai. Cara: 1 gram biopestisida PfM
BO 001 50 WP + 10 ml aquadest steril sampai terbentuk pasta encer lalu biji dimasukan dan
dicampur sampai rata. Selanjutnya dikering anginkan . Setelah kering masukkan ke dalam
kantong alumunium foil dan kedap udara.

• Ralstonia Perlakuan seed (seed coat) dengan PfM BO 001 50 WP mengendalikan bakteri layu
solanacearum (Ralstonia solanacearum pada umbi bibit kentang. Cara: 1 gram biopestisida PfM BO 001 50
WP + 10 ml aquadest steril sampai terbentuk pasta encer lalu umbi kentang dimasukan dan
dicampur sampai rata. Selanjutnya dikering anginkan. Setelah kering masukkan ke dalam
kantong waring/net plastik dan disimpan di tempat yang dingin

• • Penggunaan mikroba berguna mikoriza dengan dosis 2,5-5 gr per tanaman bawang
merah dapat meningkatkan hasil umbi dan jumlah anakan bawang merah.

• Perlakuan manajemen tanah dikombinasikan dengan mulsa plastik hitam perak mampu
mengendalikan penyakit layu bakteri lebih dari 70 % dan meningkatkan hasil lebih dari
80 %

Strategi reduksi pestisida kimia sintetik dengan menggunakan biopestisida dari beberapa
grup/kelompok menurut jenis biota
• Indigenous Virus SeMNPV (multi envelope nuclear polyhedrosis) – effectif menekan Spodoptera exigua Hbn.
Group (Shallots – Pada komunitas bawang merah hingga 64% dan 61% pada S.litura. Penggunaan perangkap
Hot peppers relay sex-pheromone sebagai indicator tingkat populasi hama terkait, menambah effisiensi
cropping) penggunaan SeMNPV.

• Indigenous Biopestisida yang dibuat dari toksin indigenus (domestic) setelah diisolasi dan yang telah diuji
Beneficial Toxins secara mendalam dari masing masing fraksi potensial, serta dibubuhi macam-macam limbah
Group sebagai carrier, secara umum disebut biotoksin dengan beberapa nama dagang ‘Bionok dan
Biotok’. Beberapa komponen katalisator yang berbeda telah ditambahkan berasal dari limbah
limbah yang banyak dan mudah diperoleh seperti kulit Garcinia. Jenis biotoksin yang
digunakan untuk :

• Pada komunitas bawang merah :

Beda penekanan hama S.exigua pada komunitas bawang merah di Brebes, 78.02-94%;
tinggi tanaman 3.19%, diameter beda 7.61% dan berat jenis beda 8.82% lebih kecil
kekerasan 28.89% lebih rendah.
Perlakuan biotoksin pada bawang merah di lapangan dengan kondisi agro-ekosistem
Pacet diperoleh hasil yang cukup baik bila dibandingkan dengan hasil insektisida kimia
sintetik dan sangat berpengaruh terhadap pada berat basah, berat kering lokal ataupun
berat kering eskip. Berat kering dari perlakuan petani masing-masing 98,4 g, 71,7g,
dan 54,4 g lebih kecil dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan teknologi Balitsa
yakni masing-masing 114,7 g, 95,8 g dan 99,5 g.
• Pada komunitas cabai merah :

10
Biotoksin telah berhasil mengendalikan S.litura sebesar 31.78%, bilamana dikombinasikan
dengan Bacillus thuringiensis kemampuan pengendalian meningkat hingga 55.56%. Laju
fekunditas berhasil direduksi dengan perlakuan tersebut hingga 18-74%. Laju daya lulus
hidup berhasil dihambat hingga 50-74%.

Pada konsentrasi LC50 5.8 x 10 -2 ppm biotoksin dapat terjadi mortalitas Bactrocera
dorsalis.

Bactrocera dorsalis mempunyai siklus sebagai berikut: Lamanya telur 8 –10 hari, larva
instar 1 berkisar 2 hari, larva instar 2 berkisar antara 2 hari, larva instar 3 berkisar 2 hari,
larva instar 4 berkisar 2 hari, larva instar 5 berkisar 2 hari, mas pupa berkisar 11 – 12
hari. Periode telur sampai imago 9 sampai 10 hari.

Aplikasi Formula biotoksin mampu mempertahankan bahkan meningkatkan Indeks


biodiversitas yang lebih tinggi dari pada yang terjadi dengan perlakuan insektisida kimia
hal ini menunjukkan , Formula biotoksin merupakan biopestisida yang aman.
Pengaruh formulasi Bionok 001 terhadap serangga non seperti lebah (Aphis melifera)
masih dalam tahap persiapan lahan karena percobaannya harus dilakukan di lapangan
pada musim hujan, agar tanaman yang ditanam tidak mengalami kekeringan.
Percobaan dilaksanakan di kebun petani di Lembang.

• Indigenous • Verticillium leucanii telah berhasil digunakan untuk menekan Thrips tabaci Lind. Pada
Beneficial Fungi tanaman bawang merah dan bawang putih, penekanan berkisar 56-60%, dengan
group menggunakan carrier ‘SDS’ .

• Dari hasil penelitian aplikasi biopestisida di Pakem, Jogyakarta ternyata Pf M


(Pseudomonas solanacearum M.) dikombinasikan dengan biopestisida Ampuh mampu
menekan hama hama S.litura, Myzus persicae,dan lalat buah (Bactrocera dorsalis
compleks) dan whitefly namun masih kurang mapu menekan Thrips parvispinus secara
optimal.

• Trichoderma harsianum :
- mengandung exotoxin yaitu harzinopiridone yang berperan sebagai fungisida
- mengendalikan penyakit utama pada bawang (Alternaria porii) dan anthracnose
dan Cercospora pada cabai; anthracnose pada mentimun; penyakit
Pseudoperonospora cubensis pada mentimun.
- pengendali penyakit ‘soil borne diseases’ al Fusarium, Ralstonia, Rhizoctonia
solani, Phytium, dll.

• Mekanisme kerja :
o Bekerja sebagai fungisida sistemik
o Menghambat perkembangan mycelia
o Menghambat sporulasi

• T.harsianum dan T. megaterium :

Berperan sebagai fermentor dalam proses fermentasi unsur unsur NPK dalam pupuk
organik menyebabkan tanaman menjadi lebih kuat sistim jaringan hingga produksi
menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa Trichoderma.

• Berpotensi sebagai • Gleocladium sp.


fungisida ‘foliar • Berperan sebagai pengendali penyakit ‘soil born pathogens’ yang
application’ yang disebabkan oleh S- clerotium rolfsii (southern blight) pada tanaman
effektif bawang dan cabai
• Mekanisme : menghasilkan metabolit sekunder berupa polipeptida
bersifat sebagai fungisida sistemik.
• Berpotensi sebagai biopestisida effektif khusus untuk penyakit target :
tular tanah

11
• Peningkatan peran • Steinernema carpocapsae berhasil digunakan untuk menekan hama Helicoverpa pada
predator tanaman cabai merah dan tomat. Nilai LC50 nematoda S. carpocapsae terhadap H.
armigera adalah 1111.601 sedangkan LT50 adalah 69.851 jam bagi kepadatan 1000 ji.
Sedangkan kepdatan nematoda S. carpocapsae yang efektif adalah 800 ji dan 1000 ji
masing-masing dapat menyebabkan mortalitas sebesar 85% dan 95% pada 72 jam
setelah aplikasi dan efikasinya setara dengan Bacillus thuringiensis.

• Predator Rhyncochoris sp. (Reduviidae). Belum begitu efefktif berperan dalam


komunitas cabai namun sangat promising sebagai pemangsa jenis jenis ulat Noctuidae,
demikian pula dengan terjadinya perbedaan indeks biodiversitas yang terjadi sebesar
60.85% - 64.72%.

Agronomi

Kultur Teknis Cabai Merah

Ekosistem : Tipologi lahan kering dataran tinggi dan dataran medium.

Waktu tanam : Akhir musim hujan/awal musim kemarau

Benih :

Sebelum disemai benih/biji direndam dalam air hangat (50°C) selama 1 jam.

Tujuannya :
• Menyeleksi benih, benih yang terapung dibuang.
• Mempercepat perkecambahan benih.
• Menghilangkan hama penyakit yang menempel pada kulit benih.

Kebutuhan benih untuk 1 ha ± 300 – 400 g.

Pesemaian :

• Tempat pesemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m, diberi atap/naungan plastik transparan yang menghadap
ke arah Timur.
• Media persemaian berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos steril (1:1).
• Benih disebar di permukaan bedengan dan ditutup lagi dengan daun pisang.
• Setelah benih berkecambah (± 7 hari sejak semai) tutup daun pisang dibuka, dan setelah bibit berumur 12-14 hari
dipindahkan ke dalam bumbungan daun pisang dengan media yang sama (campuran tanah dan pupuk kandang steril).
• Bibit siap ditanam di lapangan pada umur 4-5 minggu sejak semai.

Pengolahan tanah :

• Lahan dicangkul sedalam 30 cm.


• Dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,2 m dan tinggi 30 cm, serta jarak antar bedengan 30 cm.
• Dibuat jalur-jalur tanaman. Tiap bedengan terdapat 2 baris tanaman dengan jarak antar barisan tanaman 60 cm.
• Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran dengan Dolomit (1,5 ton/ha) 3-4 minggu sebelum tanam.
• Tanah dalam setahun diolah hanya 1 kali, untuk penanaman selanjutnya tidak perlu diolah lagi.

Pemupukan :

• Pupuk dasar terdiri atas pupuk kandang kuda (60 t/ha) dan pupuk NPK 16-16-16 (500 kg/ha) diberikan 7 hari sebelum
tanam dengan cara dihamparkan pada jalur-jalur penanaman dan ditutup dengan tanah.
• Pupuk susulan yaitu NPK 16-16-16 (250 kg/ha) diberikan dengan cara dicor, yaitu dilarutkan dalam air (2 g/l) kemudian
disiramkan pada lubang-lubang tanaman (100-200 ml per tanaman) setiap 2 minggu sekali, dimulai pada umur 1 bulan
sesudah tanam.

12
• Penggunaan mikroba dekomposer (campuran Azotobacter, Bacillus sp, Pseudomonas fluorescent dan Trichoderma
sp) telah dicoba dengan cara dicampurkan dengan pupuk kandang (5 ml larutan mikroba/kg pupuk kandang), namun
hasilnya tidak nyata meningkatkan hasil cabai merah.

Pemulsaan :

• Mulsa plastik hitam perak dipasang sesudah pemberian pupuk dasar (7 hari sebelum tanam).
• Sebelum dipasang mulsa, bedengan disiram dengan air sampai mencapai kapasitas lapang (lembab tapi tidak becek).
• Kegunaan mulsa antara lain : menekan pertumbuhan gulma, memelihara kelembaban dan temperatur tanah, dan
struktur tanah.

Penanaman dan Sistem Tanam :

• Sistem tanam tumpangsari cabai merah + kubis lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem tanam cabai
merah monokultur.
• Cabai merah ditanam dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm.
• Kubis ditanam diantara tanaman cabai merah dalam barisan, 1 bulan sesudah tanam cabai merah.

Kultur Teknis Bawang Merah

Ekosistem : Tipologi lahan sawah dataran rendah.

Bibit : • Umbi bibit harus berasal dari tanaman cukup tua (70-80 hari setelah
tanam)
• Bibit telah disimpan 2,5 – 4 bulan dalam bentuk ikatan.
• Bibit berukuran sedang dengan diameter 1,5 – 1,8 cm (± 5 g per umbi),
sehat, keras, dan permukaan kulitnya mengkilap.
• Kebutuhan bibit ± 1 ton/ha.

Pengolahan Tanah :

• Pada lahan bekas sawah, tanah dibuat bedengan terlebih dahulu dengan ukuran lebar 1,75 m, kedalaman parit 50-60
cm, dengan lebar parit 40-50 cm, dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan.
• Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering, kemudian tanah bagian atas/permukaan bedengan diolah lagi
sampai gembur.
• Bila pH tanah kurang dari 5,6 disarankan diberi kapur/dolomit 1-1,5 ton/ha minimal 2 minggu sebelum tanam.

Cara Tanam dan Pemupukan :

• Sebelum tanam, lahan yang telah diolah diberi pupuk kandang (10 ton/ha) atau kompos ampas tebu atau bokasi jerami
(5 ton/ha).
• Pupuk NPK (15-15-15) dosis 500 kg/ha diberikan 2 kali, yaitu 1 dan 3 minggu setelah tanam masing-masing ½ dosis.
• Bawang merah ditanam dengan jarak tanam 15 cm x 20 cm.
• Pemotongan ujung bibit dapat dilakukan untuk mempercepat keluarnya tunas.

Beberapa catatan berkenaan dengan komponen teknologi budidaya yang telah dihasilkan:

1. Sebagian besar komponen teknologi tidak dirancang secara spesifik untuk keperluan LEISA.
Sebagai contoh, berbagai varietas sayuran dirakit berdasarkan kondisi penggunaan input eksternal
optimum. Dengan demikian, berbagai varietas sayuran tersebut kemungkinan akan menunjukkan
respon yang kurang optimal jika dibudidayakan menggunakan metode LEISA.
2. Berbagai komponen teknologi tersebut pada umumnya belum diverifikasi di tingkat petani pada
skala non-penelitian (luas), terutama disebabkan oleh kendala non-teknis, misalnya berkaitan

13
dengan ketidak-mampuan penyediaan bibit atau produksi massal biopestisida. Sebagai
konsekuensi dari keterbatasan ini, informasi mengenai kelayakan teknis dan finansial serta
konsistensi keragaan teknologi bersangkutan menjadi tidak lengkap.
3. Berbagai komponen teknologi tersebut tidak didukung oleh informasi mengenai diseminasi atau
status dan profil adopsinya di tingkat petani. Dengan demikian, berbagai komponen teknologi
tersebut sampai saat ini seolah-olah masih relevan, up to date dan sesuai dengan permasalahan
yang dihadapi petani. Sementara itu, mungkin saja beberapa komponen teknologi sebenarnya
sudah obsolete, bahkan sebelum diadopsi oleh petani.

Terlepas dari berbagai kelemahan yang masih terkandung dalam komponen-komponen teknologi yang
telah dihasilkan, perlu disadari bahwa ketersediaan teknologi pada dasarnya hanya merupakan salah
satu faktor penentu keberhasilan penerapan LEISA. Oleh karena potensi masalah dan sumberdaya
yang tersedia untuk memecahkan masalah tersebut sangat beragam, maka penerapan metode LEISA
pun akan sangat beragam dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Sebagai contoh, di suatu lokasi yang
ketersediaan bahan organik dan tenaga kerja pertanian cukup berlimpah, penggunaan kompos sebagai
salah satu upaya untuk memelihara kesuburan lahan akan lebih tepat dibandingkan dengan rotasi
tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa kendala penerapan LEISA antar lokasi akan sangat berbeda dan
beragam. Dengan demikian, penentuan kesesuaian penerapan LEISA harus mengacu kepada
pertimbangan-pertimbangan agro ekologis (ketersediaan sumberdaya alam, kelayakan teknis
usahatani, ekspektasi masalah hama penyakit dan variabilitas hasil), ekonomis (kebutuhan tenaga
kerja, keuntungan bersih usahatani, produktivitas jangka panjang dan kemungkinan pemasaran hasil
atau harga premium), sosial (sistem kepercayaan, status penguasaan lahan, hambatan-hambatan
sosial dan minat investasi swasta) serta kelembagaan (institusi penghasil teknologi, transfer teknologi,
pasar, kelembagaan petani dan kelembagaan finansial usahatani).

14
IMPLIKASI PENGEMBANGAN LEISA

Semakin meningkatnya kesadaran konsumen global dan nasional terhadap kualitas makanan dan
lingkungan hidup, mengharuskan produsen sayuran di Indonesia untuk lebih mempertimbangkan
penerapan sistem produksi yang akrab lingkungan. Beberapa hal yang perlu diperbaiki untuk
mendukung pengembangan LEISA diantaranya adalah:
1. Upaya penyamaan persepsi diantara para pakar, pengambil keputusan, petugas lapangan,
dunia usaha, LSM serta masyarakat tentang pertanian berkelanjutan berwawasan lingkungan.
Beberapa pihak masih menganggap bahwa LEISA identik dengan pertanian primitif, tradisional
dan subsisten serta produktifitas rendah, sehingga tidak akan dapat mengejar ketahanan
pangan.
2. Perubahan bertahap kebijakan pemerintah agar tidak lagi mengutamakan pencapaian sasaran
produksi sayuran jangka pendek, sehingga dapat menghindarkan petani dari ketergantungan
terhadap penggunaan masukan produksi berenergi tinggi, seperti pupuk buatan dan pestisida.
Secara eksplisit memasukkan LEISA sebagai bagian sentral dari kebijakan pembangunan
pertanian secara keseluruhan.
3. Perhatian lebih serius terhadap kearifan dan pengalaman masyarakat tradisional dalam
memanfaatkan dan mengelola ekosistem secara berlanjut, sebagai bagian yang perlu diterima
serta dipertimbangkan di berbagai kegiatan penelitian maupun perakitan rekomendasi
teknologi budidaya sayuran.
4. Memperkuat dukungan peraturan perundang-undangan terhadap pelaksanaan pertanian
berkelanjutan berwawasan lingkungan serta sosialisasi dan implementasinya di lapangan .
5. Meningkatkan dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan terhadap konsep LEISA
berdasarkan prioritasi yang tegas serta pemanfaatan optimal pendekatan partisipatoris.

Kendala utama adopsi LEISA pada dasarnya adalah kelayakan ekonomisnya. Pengembalian dari
penerapan LEISA harus cukup atraktif dibandingkan dengan sistem konvensional maupun kegiatan off-
farm. Sementara itu, pemerintah perlu pula mempertimbangkan kemungkinan bahwa biaya untuk
mendukung pengembangan LEISA akan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya untuk
memperbaiki kerusakan sumberdaya alam akibat eksploitasi sistem konvensional. Pengalaman di
negara maju menunjukkan bahwa faktor terpenting yang dapat menjamin keberhasilan penerapan
LEISA adalah perilaku dari pengambil keputusan. LEISA harus didiskusikan secara terbuka dengan
mempertimbangkan setiap keunggulan dan kelemahannya, serta tetap memposisikannya sebagai
salah satu alternatif sistem produksi .

15