Anda di halaman 1dari 3

1

TANGGAPAN TERHADAP PENGHENTIAN PENYALURAN


KREDIT USAHA TANI (KUT) HORTIKULTURA1
Witono Adiyoga dan Rofik Sinung-Basuki
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jalan Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung-40391

Dalam konteks pembangunan ekonomi, khususnya ekonomi pedesaan, kredit


berperan tidak saja sebagai salah satu unsur pelancar pembangunan, tetapi juga sebagai
akselerator adopsi teknologi baru, yang pada dasarnya diarahkan untuk mencapai
peningkatan produksi, nilai tambah dan pendapatan petani. KUT merupakan salah satu bentuk
fasilitas kredit yang diberikan kepada petani sejalan dengan gagasan di atas dan selaras
dengan penggunaan pendekatan formasi kapital dalam pembangunan ekonomi. Perluasan
KUT padi/palawija dan hortikultura yang dimulai pada MT 1998/1999 bahkan ditujukan untuk
membantu pembangunan jalur distribusi input dan output yang berbasiskan koperasi. Sejalan
dengan itu, perluasan KUT padi/palawija dan hortikultura diharapkan juga dapat memacu
pengembangan lembaga pembiayaan alternatif dan pembangunan kembali pasar-pasar
tradisional yang berada pada kondisi kritis.
Berbagai sasaran di atas tampaknya belum sepenuhnya tercapai, terutama dikaitkan
dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama antara Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi
pada tanggal 13 Oktober 1999 yang memutuskan bahwa komoditas hortikultura tidak lagi
termasuk ke dalam penyaluran KUT MT 1999/2000. Penghentian KUT untuk komoditas
hortikultura juga tercermin dari Surat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan
Industri pada tanggal 23 September 1999 yang ditujukan kepada Gubernur BI, Menteri
Keuangan, Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi. Dalam surat tersebut ditetapkan bahwa
komoditas yang diprioritaskan mendapatkan KUT MT 1999/2000 adalah padi, jagung dan
kedelai, dengan sasaran areal tanam 50% di Jawa dan 25% di luar Jawa. Beberapa
kemungkinan yang melatar-belakangi pengambilan keputusan ini adalah: (a) ketersediaan
dana yang relatif terbatas sehingga penetapan skala prioritas perlu dilakukan, dan (b)
keragaan skim kredit - distribusi dan tingkat pengembalian - yang meleset jauh di luar rencana.
Sementara itu, pengamatan terhadap perkembangan hortikultura, terutama dalam kurun waktu
3-5 tahun terakhir, memberikan gagasan argumentasi bahwa kedua pertimbangan di atas
sebenarnya masih belum dapat memberikan justifikasi yang cukup kuat untuk menghentikan
penyaluran KUT hortikultura sepenuhnya.
Penetapan prioritas terhadap padi, jagung dan kedelai tampaknya masih didasarkan
pada alasan klasik keamanan pangan, tanpa mempertimbangan potensi hortikultura (misalnya,
kentang dan pisang) yang juga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pemenuhan
kebutuhan pangan/karbohidrat. Sementara itu, dampak KUT terhadap sasaran peningkatan
produksi, misalnya untuk padi, juga sebenarnya masih diragukan dapat tercapai. Upaya
intensifikasi melalui bantuan KUT diduga hampir tidak mungkin lagi dapat meningkatkan
produktivitas padi (sudah termasuk salah satu yang tertinggi di Asia). Secara implisit, hal ini
menunjukkan bahwa pada kondisi yang ada sekarang (impor beras, jagung dan kedelai sudah
relatif tinggi), keamanan pangan tidak mungkin dapat terwujud tanpa dukungan
pengembangan komoditas pangan lainnya, khususnya hortikultura. Lebih jauh lagi,
kebijaksanaan menyangkut pemilihan prioritas komoditas tersebut secara tidak langsung juga

Makalah disampaikan untuk materi diskusi kelompok pada “Rapat Kerja Penyusunan Prioritas dan Desain
Penelitian Hortikultura”, 20-22 Desember 1999, Segunung.
2

menghilangkan peluang untuk mengubah pola konsumsi dan mengurangi ketergantungan


yang sangat tinggi terhadap beras.
Kriteria nilai ekonomis tampaknya juga kurang mendapat perhatian dalam
menentukan komoditas prioritas yang dibantu KUT. Berbagai studi empiris sebenarnya telah
menunjukkan bahwa komoditas hortikultura memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi
dibandingkan dengan padi, jagung dan kedelai. Pada tahun 1996, sumbangan sub-sektor
hortikultura terhadap produk domestik kotor (GDP) mencapai Rp. 47 triliun. Secara umum,
rata-rata pertumbuhan ekspor komoditas hortikultura masih menunjukkan pola yang meningkat
dari tahun ke tahun, dan Indonesia secara konsisten masih merupakan net exporter. Khusus
untuk sayuran dan buah-buahan Indonesia, besaran nisbah akselerasi (acceleration ratio) di
beberapa negara tujuan (Jepang, Amerika, Hongkong dan Singapura) masih > 1,0 (memiliki
daya saing cukup tinggi). Berkaitan dengan pemberian kredit, nilai ekonomis suatu komoditas
secara tidak langsung dapat juga digunakan sebagai acuan kelayakan usaha, yang pada
dasarnya merupakan indikator kesanggupan pengembalian kredit. Berdasarkan argumentasi
potensi kontribusi komoditas hortikultura, terutama sayuran dan buah-buahan, terhadap upaya
mewujudkan keamanan pangan, serta nilai ekonomisnya sebagai cerminan kelayakan usaha,
justifikasi skala prioritas yang hanya menempatkan padi, jagung dan kedelai dalam skim KUT
MT 1999/2000 patut dipertanyakan.
Berdasarkan data sampai bulan September 1999, dana KUT 1998/1999 yang telah
dicairkan adalah sebesar Rp. 7,6 triliun (jauh lebih besar dibandingkan dengan realisasi dana
tahun sebelumnya, yaitu Rp. 374 miliar). Dari besaran tersebut, dana KUT yang disalurkan
untuk komoditas hortikultura lebih kurang sebesar Rp. 1,7 triliun. Perbedaan realisasi dana
KUT yang cukup besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada dasarnya terjadi karena
ada beberapa perubahan skim kredit (prosedur mudah dan bunga rendah) yang dianggap
sebagai salah satu upaya terobosan untuk memulihkan perekonomian di lapisan bawah.
Sebagai contoh, tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan penyerapan KUT MT 1998/1999
dan MT 1999 untuk bawang merah di Kabupaten Cirebon.

MT 1998/1999 MT 1999
Realisasi (Rp) 3.012.871.000 40.817.432.000
Luas Areal (ha) 293, 955 2.155,800
Jumlah Kelompok Tani (kelompok) 27 144
Jumlah Petani (orang) 480 2.832

Perkembangan realisasi KUT yang sangat drastis antar musim tanam ini memberikan
gambaran bahwa aspek utama yang mendapat perhatian dalam proses penyaluran adalah
besarnya kredit yang terserap. Berbagai ekses, misalnya penerima kredit fiktif dan penyalah-
gunaan kredit, tampaknya kurang mendapat perhatian. Lebih jauh lagi, aspek perencanaan
yang bersifat antisipatif berkenaan dengan kapasitas pasar dalam menyerap output juga sama
sekali tidak diperhitungkan.
Menurunnya harga sayuran mulai bulan September 1999, terutama untuk jenis
sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya bawang merah, cabai dan kentang,
pada dasarnya merupakan akibat dari kelebihan pasokan. Harga beberapa jenis sayuran
bahkan sampai turun jauh di bawah titik impas, sehingga hampir dapat dipastikan bahwa
petani akan mengalami kesulitan dalam mengembalikan kredit KUT. Jika kemungkinan tingkat
pengembalian yang rendah ini (jatuh tempo 31 Maret 2000 dan 30 September 2000)
3

digunakan sebagai salah satu pertimbangan penghentian KUT hortikultura, maka secara tidak
langsung terdapat semacam kecenderungan untuk membebankan semua kesalahan kepada
pihak petani. Sementara itu, kekurang-telitian pengelola KUT yang cenderung memandang
penyaluran kredit dari sisi target penyerapannya saja, sebenarnya juga memiliki andil cukup
besar terhadap terjadinya kelebihan penawaran komoditas hortikultura. Berdasarkan
argumentasi ini, justifikasi distribusi dan tingkat pengembalian kredit yang melandasi
penghentian KUT hortikultura juga patut dipertanyakan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa penghentian penyaluran KUT hortikultura
sebenarnya bukan alternatif satu-satunya yang dapat ditempuh. Kebijaksanaan lain sebagai
suatu alternatif yang patut dipertimbangkan adalah meneruskan penyaluran KUT hortikultura
secara lebih selektif, terarah dan terencana. Fenomena pasar yang terjadi serta potensi
pengembangan komoditas hortikultura perlu dicermati secara seimbang dan terpadu dalam
merespon kebutuhan bantuan modal.
Beberapa usulan perbaikan skim penyaluran KUT hortikultura yang patut dikaji secara
lebih teliti adalah:
• Karakterisasi dan seleksi petani penerima kredit harus dilakukan secara lebih teliti,
misalkan berdasarkan kriteria prioritas klasifikasi petani menengah ke bawah (lahan
garapan < 1 ha), pengalaman bertani dan/atau jenis pekerjaan pokok/utama.
• Pemilihan LSM sebagai pendamping/pembina koperasi perlu lebih selektif dan
diprioritaskan untuk LSM yang beroperasi di sekitar daerah penyaluran kredit.
• Jenis komoditas hortikultura serta areal tanam yang akan didanai harus dipilih dan
ditetapkan sesuai dengan: (a) pola tanam dominan di wilayah tertentu, (b) elastisitas
permintaan komoditas bersangkutan, serta (c) estimasi kapasitas pasar dalam menyerap
hasil panen.
• Perlu perbaikan mekanisme seleksi, pelaksanaan dan monitoring yang terlepas dari
adanya kesan bahwa pihak-pihak yang terkait berusaha mencapai target semata-mata
karena dimotivasi oleh korelasi positif antara target pencapaian dengan fee yang akan
diterima.
• Perlu pengelolaan terpadu serta koordinasi yang kuat antar instansi terkait tanpa harus
memberikan kesan pemerataan pekerjaan yang justru menambah kompleksitas
pengelolaan. Sebagai ilustrasi, bunga kredit sebesar 10,5% pada MT 1998/1999
didistribusikan kepada: bank pelaksana (2%), koperasi/LSM (5%), Perum PKK (1,5%),
PPL (1%) dan dana titipan pemerintah (1%), sedangkan pada MT 1999/2000 bahkan
menjadi lebih kompleks, yaitu bank pelaksana (2%), PPL (0,5%), Satgrak Kecamatan
(0,2%), Satgrak Desa (0,3%), Operasional Koperasi/LSM (2,5%), Kelompok Tani (0,5%),
Marjin Koperasi/LSM (1%), Tim KUT Pusat (0,2%), Tim KUT Propinsi (0,3%), Tim KUT
Kabupaten (0,5%) dan dana cadangan risiko KUT (2,5%). Semakin banyaknya pihak
yang terlibat ini diharapkan bukan menambah rantai birokrasi, tetapi memperketat
pelaksanaan seleksi calon penerima KUT dan memperkuat pemantauan penggunaan
serta pengembalian kredit.

Mengacu pada kenyataan empiris bahwa bantuan kredit sangat diperlukan dalam proses
jangka panjang formasi kapital petani hortikultura, kemungkinan membuka kembali penyaluran
KUT hortikultura secara lebih selektif, terarah dan terencana, tampaknya merupakan alternatif
pemecahan masalah yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Anda mungkin juga menyukai