Anda di halaman 1dari 2

1

UPAYA ANTISIPASI JANGKA PENDEK-MENENGAH UNTUK MENEKAN GEJOLAK PENING-


KATAN HARGA BAWANG DAN CABAI MERAH MENGHADAPI BULAN PUASA DAN IDUL FITRI:
MASUKAN BALITSA UNTUK RAPIM DEPTAN

Witono Adiyoga
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung - 40391

Peningkatan kebutuhan bawang merah dan cabai merah menghadapi bulan puasa dan Idul Fitri
merupakan kejadian rutin yang secara umum telah diantisipasi oleh semua partisipan rantai pasok
kedua komoditas tersebut. Berdasarkan observasi lima tahun terakhir, permintaan bawang dan cabai
merah pada bulan-bulan tersebut diperkirakan akan meningkat sampai 10%. Peningkatan permintaan
ini biasanya terjadi mulai satu minggu sebelum memasuki bulan puasa sampai satu minggu setelah
Idul Fitri.

Peningkatan permintaan ini cenderung selalu diikuti oleh gejolak peningkatan harga yang seringkali
tidak terjelaskan oleh kurva permintaan-penawaran. Pada kondisi normal, kenaikan harga secara
implisit mencerminkan kurangnya kemampuan penawaran (pasokan) dalam mengimbangi peningkatan
permintaan. Sementara itu, produsen/petani sesuai dengan rasionalitasnya selalu meng-antisipasi dan
mempertimbangkan fenomena rutin tersebut di dalam perencanaan produksinya. Pada waktu di luar
bulan/hari-hari besar, hal ini seringkali menimbulkan kelebihan penawaran yang mengaki-batkan
rendahnya harga produk. Dengan demikian, gejolak peningkatan harga bawang dan cabai merah pada
bulan-bulan tersebut cenderung bersifat given serta lebih dipengaruhi oleh faktor-fator psikologis,
spekulatif dan kenaikan harga produk/barang lain secara umum. Upaya antisipatif dan penanggulangan
terintegrasi tetap harus dilakukan untuk menekan gejolak harga sampai pada batas-batas kewajaran.

Pertumbuhan produksi rata-rata tahunan (1969-2006) bawang dan cabai merah berturut-turut adalah
2,8% dan 1,1% per tahun. Produksi bawang dan cabai merah pada tahun 2006 masing-masing tercatat
794.929 ton dan 736.019 ton. Berdasarkan tingkat pertumbuhannya, proyeksi produksi bawang dan
cabai merah pada tahun 2008 secara moderat diperkirakan mencapai 817.187 ton dan 744.115 ton.
Mengacu pada perkiraan konsumsi/kapita bawang dan cabai merah pada tahun 2008 sebesar 2,25
kg/kapita dan 1,55 kg/kapita serta perkiraan jumlah penduduk 240 juta orang, maka total konsumsi
untuk masing-masing komoditas tersebut adalah 540.000 ton dan 372.000 ton. Dengan demikian,
surplus pasokan bawang dan cabai merah pada tahun 2008 diperkirakan masih cukup besar, sehingga
ketersediaan produk (sisi penawaran/pasokan) masih tetap terjaga.

Berdasarkan data harga bulanan Mei-Desember 2007, koefisien variasi harga bawang merah, cabai
merah besar dan cabai merah keriting pada tingkat pasar produsen, secara berturut-turut adalah 33.64,
15.14 dan 24.06 persen, sedangkan di tingkat pasar konsumen, masing-masing adalah 23.45, 13.71
dan 24.09 persen. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga atau ketidakstabilan harga bawang
merah dan cabai merah besar di tingkat produsen lebih tinggi daripada di tingkat konsumen.
Sementara itu, ketidakstabilan harga cabai merah keriting di tingkat produsen dan konsumen
cenderung hampir sama. Informasi ini memberikan indikasi bahwa petani bawang merah dan cabai
merah besar menanggung risiko harga yang lebih tinggi dibandingkan konsumen. Variasi harga
bulanan yang serupa diperkirakan akan juga terjadi pada tahun 2008, sehingga upaya-upaya perbaikan
stabilitas harga harus lebih lebih diarahkan untuk mengurangi risiko harga di tingkat produsen/petani.

Berdasarkan perkiraan masih surplusnya produksi/ketersediaan pasokan bawang dan cabai merah,
upaya antisipasi jangka pendek dan menengah yang dapat dilakukan untuk menekan gejolak
peningkatan harga kedua komoditas tersebut diantaranya adalah:
2

• Pemantauan dan pengawalan ketat instansi teknis terhadap aspek budidaya bawang dan
cabai merah untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya anomali produksi atau
kegagalan panen yang disebabkan oleh serangan hama penyakit dan cekaman
lingkungan (terutama kekeringan).
• Peningkatan diseminasi informasi pasar dan pengawasan distribusi produk untuk menjaga
stabilitas marjin tataniaga serta meminimalkan kegiatan spekulatif pedagang bawang dan
cabai merah.
• Penyediaan fasilitas gudang dan perbaikan teknologi penyimpanan yang efisien (terutama
untuk bawang merah) agar produsen/petani dapat memiliki keleluasaan untuk mengatur
penjualan dengan tujuan mendapatkan harga dan posisi tawar yang lebih menguntungkan
• Perbaikan dan pengembangan pengaturan/sinkronisasi produksi antar sentra bawang dan
cabai merah (sesuai dengan pola tanam setempat) mengacu pada upaya pemasokan
komplementer, sehingga kontinuitas pasokan tetap terjaga.
• Pengembangan daerah sentra produksi baru bawang dan cabai merah yang lebih tersebar
secara regional agar dapat mengurangi fluktuasi harga yang disebabkan oleh anomali
produksi serta menekan marjin pemasaran yang disebabkan oleh biaya pengangkutan
yang tinggi.

Anda mungkin juga menyukai