Anda di halaman 1dari 18

1

PROSPEK PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK DI INDONESIA1

Witono Adiyoga

Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung - 40391

Pendahuluan

Pengembangan sistem agribisnis sebagai strategi utama pembangunan pertanian


perlu pula didukung oleh komitmen yang tinggi untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan
(sustainable agriculture). Dalam konteks ini, pertanian berkelanjutan berperan sebagai
suatu paradigma yang digunakan untuk acuan dalam perencanaan atau pengambilan
keputusan. Elemen-elemen esensial dalam pertanian berkelanjutan diantaranya adalah: (a)
perlindungan terhadap sistem ekologis, (b) pemerataan atau keadilan antar generasi, dan
(c) efisiensi penggunaan sumberdaya (Dunlap et al., 1992; Bosshard, 2000). Ketiga elemen
tersebut merupakan isu-isu terpisah yang tidak dapat dikombinasikan secara sederhana dan
masih menjadi bahan diskusi hangat, terutama menyangkut indikator-indikator pengukur-
annya (Andreoli and Tellarini, 2000; Steiner, et al., 2000, Lefroy, et al., 2000; Sands and
Podmore, 2000). Terlepas dari tantangan kesulitan pengukuran tersebut, tampaknya sudah
menjadi kesepakatan umum bahwa setiap elemen keberlanjutan di atas tetap harus diper-
timbangkan dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan kebijakan pembangun-
an pertanian (Pannell and Schilizzi, 1999; Clemetsen and Laar, 2000; Kniper, 2000).
Produksi intensif dan permintaan sayuran sepanjang tahun, selain dihadapkan pada
masalah konversi lahan produktif yang berjalan cepat (akibat kebutuhan non-pertanian yang
secara sosio-ekonomis dianggap lebih mendesak, misalnya perumahan dan industri), juga
menghadapi masalah-masalah lain meliputi polusi air tanah (akibat penggunaan material
kimiawi berlebih dan tidak tertatanya sistem drainase), penurunan produktivitas lahan (akibat
pengelolaan lahan yang cenderung eksploitatif, tanpa memperhatikan upaya reklamasi),
tingginya tingkat residu (akibat penggunaan pestisida kimiawi yang cenderung berlebih),
rendahnya kualitas produk dan tingginya kehilangan hasil lepas panen (akibat kurang
diperhatikannya proses penanganan produk dan serangan/eksplosi hama penyakit sebagai
konsekuensi terganggunya keseimbangan ekologis) (Jansen et al., 1994). Berbagai masalah
tersebut pada dasarnya merupakan indikasi bahwa sistem usahatani sayuran diduga semakin
menjauhi alur model pengembangan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pengembangan
pertanian/sayuran organik dapat ditawarkan sebagai salah satu bentuk sistem produksi yang
sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan.

Pertanian/Usahatani Organik

Pertanian organik pada awalnya dikembangkan dari filosofi seorang antropolog


Jerman (Rudolf Steiner-1913) yang secara teoritis mempertimbang-kan manusia sebagai
salah satu bagian dari keseimbangan kosmik dan berkewajiban untuk memahami cara hidup
harmonis dengan lingkungannya. Teori ini kemudian diaplikasikan di bidang pertanian oleh
H. Pfeiffer pada awal tahun 1920’an dan melahirkan biodynamic agriculture yang
selanjutnya berkembang di Eropa sebagai organic agriculture (Viandes, 1999).

1
Makalah materi pelatihan “Teknik budidaya sayuran organik bagi petani”. 10 April 2008, di
Kelompok Tani Nabila, Tarogong, Garut. Kerjasama Balitsa - Amarta untuk Program Pelatihan
Penanganan Segar Sayuran dan Buah.
2

Pada dasarnya tidak ada definisi tunggal untuk pertanian organik, karena
terminologi ini lebih tepat diarahkan untuk mencirikan suatu gerakan (movement), bukan
suatu kebijakan (policy). Batasan pertanian organik lebih sering digambarkan melalui
deskripsi: (a) suatu agro-ekosistem yang secara mandiri dan persisten memelihara
keseimbangan lingkungan, (b) sejauh memungkinkan, sistem ini memanfaatkan sumberdaya
lokal dan sumberdaya yang dapat diperbaharui, (c) secara holistik menggabungkan aspek
ekologis, ekonomis dan sosial dari produksi pertanian, baik ditinjau dari perspektif lokal
maupun global, (d) alam dipertimbangkan secara utuh beserta dengan nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, dan manusia memiliki kewajiban moral untuk melakukan
usahatani dengan cara-cara yang memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan
sistem produksi (Kristensen, 2000). Secara lebih spesifik, pertanian organik adalah suatu
sistem produksi yang tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimiawi buatan, tetapi
bertumpu pada pengembangan diversitas bilogis dan pemeliharaan/perbaikan kesuburan
tanah (Organic Farming Research Foundation, 1998). Pertanian organik dikembangkan
berdasarkan sejumlah prinsip dan gagasan yang diarahkan untuk: (a) mendorong interaksi
konstruktif antara metode produksi dengan sistem dan daur ulang alami, (b) mendorong
dan meningkatkan daur ulang biologis dalam sistem usahatani yang melibatkan mikro
organisme, flora dan fauna tanah, tanaman dan hewan, (c) memelihara dan meningkatkan
kesuburan tanah secara berkelanjutan, (d) memelihara keaneka-ragaman hayati yang
terdapat di dalam sistem produksi, termasuk habitat tanaman dan hewan, (e)
menggunakan seoptimal mungkin sumberdaya dapat diperbaharui yang berasal dari sistem
usahatani itu sendiri, (f) meminimalkan segala bentuk polusi yang mungkin timbul dari
kegiatan usahatani, (g) mempromosikan penggunaan dan pemeliharaan air secara tepat
dan sehat, dan (I) mempertimbangkan dampak yang lebih luas dari kegiatan usahatani
terhadap kondisi sosial dan ekologis (Ikerd, 1999; Benbrook, 1998; Fairweather, 1999).
Substansi dari prinsip ekologis dan sasaran pertanian organik menggaris-bawahi
kedudukan manusia sebagai bagian integral dari alam, dan alam merupakan entitas yang
kompleks, sehingga manusia tidak dapat sepenuhnya memahami konsekuensi serta
pengaruh yang ditimbulkannya terhadap alam. Berdasarkan asumsi fundamental tersebut,
beberapa prinsip pengembangan yang sesuai dengan filosofi pertanian organik dapat
ditentukan, yaitu: (a) Prinsip siklikal (The cyclical principle) yang didasarkan pada
kenyataan bahwa nutrisi dapat didaur ulang dan digunakan lagi, dan dengan pertolongan
sinar matahari, sumberdaya dapat diperbaharui kembali. Melalui pendekatan yang sama,
ma-nusia juga harus mendaur-ulang nutrisi, menghindarkan penggunaan sumber-daya yang
tidak dapat diperbaharui, dan mencegah eksploitasi sumberdaya alam secara berlebih, (b)
Prinsip pencegahan (The precautionary principle) yang merekomendasikan kehati-hatian
dalam pemanfaatan teknologi baru, karena manusia merupakan bagian dari siklus alami
dan alam merupakan suatu entitas yang sangat kompleks, sehingga manusia menemukan
kesulitan untuk memperkirakan konsekuensi tindakannya. Konsekuensi alami dari prinsip
pencegahan adalah perlu didahulukannya teknologi lama yang dikenal pengguna dan
berfungsi baik, dibandingkan dengan teknologi baru yang dikembangkan secara lebih
teoritis, dan (c) Prinsip kedekatan (The nearness principle) yang menaruh perhatian
terhadap upaya untuk mengamankan aspek-aspek sosial khusus dari pertanian organik,
misalnya transparansi, keselamatan, humanitas dan keadilan sosial. Kontak langsung antara
produsen dengan konsumen dapat mengurangi alienasi yang seringkali merupakan
ciri/karakteristik masyarakat moderen. Pembelajaran yang berbasis pada pengalaman lokal
serta penelitian ke dalam sistem secara keseluruhan akan merupakan komponen sentral
untuk mengamankan nilai-nilai sosial dan kultural hubungan manusia dengan alam
(Kristensen, 2000).
Secara umum terdapat beberapa prinsip yang mencirikan pertanian organik
bersertifikat, yaitu: (a) biodiversitas; (b) diversifikasi dan integrasi usahatani; (c) keberlan-
jutan; (d) nutrisi tanaman alami; (e) pengendalian hama alami; dan (f) integritas. Prinsip-
prinsip usahatani organik tersebut dimanifestasikan ke dalam praktek-praktek budidaya
yang mengkombinasikan alternatif metode tradisional dengan metode kontemporer.
3

BUDIDAYA TANAMAN ORGANIK


Prinsip dan Praktek

diversifikasi nutrisi
pengendalian
biodiversitas dan integrasi keberlanjutan tanaman integritas
hama alami
usahatani alami

rotasi tanaman rotasi tanaman rotasi tanaman rotasi tanaman rotasi tanaman catatan

pupuk hijau pupuk kandang pupuk hijau pupuk hijau pupuk hijau dokumentasi

tanaman kompos tanaman pupuk kandang tanaman


penutup tanah penutup tanah penutup tanah

pupuk kandang tumpangsari tumpangsari kompos kompos

kompos penataan lahan pengendalian pupuk tumpangsari


usahatani biologis alami/hayati
(farmscaping)

tumpangsari mulsa penataan lahan pupuk daun pengendalian


usahatani biologis
(farmscaping)

pengendalian pupuk kandang penataan lahan


biologis usahatani
(farmscaping)

penataan lahan kompos sanitasi


usahatani
(farmscaping)
mulsa pengolahan
tanah
pestisida
alami/hayati

Perkembangan Pertanian/Usahatani Organik Global

Pertanian organik berkembang cepat di seluruh dunia pada beberapa tahun terakhir
ini dan diusahakan disekitar 120 negara. Jika pertanian organik yang belum bersertifikat
dimasukkan, maka dapat dipastikan bahwa sistem tersebut telah berkembang di lebih
banyak negara. Berikut ini adalah beberapa pointers mengenai perkembangan pertanian
organik global:

EROPA
• 690.000 hektar; 190.000 usahatani
• Italy memiliki lahan pertanian organik terluas dan jumlah usahatani organik
terbanyak
• Lahan pertanian organik meningkat 8% per tahun
4

• Pasar terbesar adalah Jerman, diikuti oleh Italy, and Perancis


• Pertumbuhan di pasar Eropa mencapai 10% per tahun

USA
• 2200.000 hektar; 12.000 usahatani
• Pertumbuhan lahan usahatani organik tertinggi di dunia (+30% per tahun)
• Faktor penting penentu pertumbuhan
– Peningkatan permintaan konsumen akan makanan bergizi dan sehat
– Peningkatan distribusi melalui semakin banyaknya toko makanan sehat
konvensional

AFRIKA
• 435.000 hektar; 118.000 usahatani
• Pertanian organik berkembang terutama di negara-negara Afrika bagian selatan
• Pertumbuhan dihela oleh peningkatan permintaan dari negara-negara industri
• Pasar organik di Afrika cenderung kecil, kecuali untuk Egyp dan South Africa)
• Tunisia and Egypt sudah memiliki sistem regulasi organik
• Negara-negara Afrika Timur juga sudah memiliki regulasi organik regional sejak
2007

ASIA
• 2900.000 hektar; 130.000 usahatani
• Negara terpenting berdasarkan luas lahan organiknya: China, India, Bangladesh, Sri
Lanka, Korea and Thailand
• Pasar terbesar adalah Japan dan yang mulai berkembang: China, Malaysia,
Singapore and Thailand
• Sertfikasi dilakukan oleh organisasi asing: China, Japan,
• Thailand dan Israel sudah melakukan pengawasan dan sertifikasi organik sendiri

AUSTRALIA/OCEANIA
• 11.900.000 hektar; 2.700 usahatani
• Uni Eropa mengimpor 70% kebutuhan organiknya dari Australia

LATIN AMERICA
• 5.800.000 hektar; 180.000 usahatani
• Negara dengan proporsi luas lahan organik terluas: Uruguay, Mexico and Argentina
• Perdagangan produk organik terutama berorientasi ekspor
• Dukungan pemerintah relatif rendah, kecuali untuk Brazil, Bolivia, Costa Rica
(penelitian dan pendidikan) dan Argentina serta Chile (ekspor)
• Dukungan tinggi dari lembaga donor internasional untuk penyuluhan dan
pengembangan asosiasi

Grafik di bawah ini menunjukkan 10 negara yang memiliki pertanian organik terluas dan 10
negara yang memiliki persentase areal tertinggi di bawah sistem pengelolaan organik.
5
6

Tabel di bawah ini memperlihatkan beberapa indikator sosio-ekonomis negara-negara


penghasil dan pengonsumsi produk organik.

Negara Nilai pasar Konsumsi per Pertumbuhan Rata-rata


organik (US$ kapita (US$) pasar (%/tahun) premium (%)
mill.)
Argentina 3 0,08 25 -
Australia 132 6,95 60 35
Austria 152 19,00 - 10-50
Brazil 150 0,87 20 25-35
Canada 571 18,42 25 10-50
France 610 10,34 25 25-50
Germany 1 800 21,95 10 30
Hongkong - - 15 15
Italy 900 15,79 20 20-200
Japan 3 000 23,81 - 10-30
Korea 61 1,30 - 50
Mexico 15 0,15 - 30-40
New Zealand 16 4,44 50 10-100
Philippines - - 10-20 20-30
Poland - - - 10-30
Portugal - - - 10-15
Spain - - - 20-50
Taiwan 9,5 0,43 30 > 400
UK 650 11,02 100 25-100
USA 6 000 21,98 20 10-20

Perkembangan Pertanian Organik di Indonesia

Sebagian besar petani, khususnya di luar Jawa, mungkin dapat dikategorikan


sebagai petani organik, karena tidak ditargetkan sebagai partisipan revolusi hijau, dan
sampai saat ini masih melanjutkan usahataninya secara tradisional. Sementara itu, di
daerah lain banyak petani yang tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan akan pupuk dan
pestisida pada saat harganya meningkat, sebagai dampak dari krisis ekonomi. Hal ini
mengimplikasikan bahwa argumentasi metode pertanian organik menjadi sangat relevan.
Beberapa kelompok tani dan lembaga swadaya masyarakat memandang pertanian organik
sebagai suatu cara untuk melawan dampak kerusakan yang diakibatkan oleh revolusi hijau
dan membebaskan petani dari dominasi revolusi hijau – ketergantungan terhadap pupuk,
pestisida serta input kimiawi lainnya.
Namun demikian, kepedulian/kesadaran publik mengenai arti pertanian organik dan
permintaan konsumen untuk produk organik masih sangat rendah (belum ada skim nasional
untuk sertifikasi dan pelabelan produk organik). Pemilik toko yang menjual produk organik
di Yogyakarta (didirikan pada tahun 1997 oleh Consortium of Fair Trade Community,
dengan bantuan pendanaan dari Oxfam) mengeluhkan kesulitan untuk mencari pelanggan
yang bersedia membeli produk organik dengan harga lebih tinggi dibandingkan dengan
produk konvensional.
7

Grafik berikut ini menunjukkan tahapan pengembangan pertanian organik yang


dirancang Departemen Pertanian untuk Go Organik 2010.

Sumber: Departemen Pertanian, 2005

Namun demikian, sampai dengan 2008, tampaknya Indonesia masih satu langkah tertinggal
dibanding target rencana pengembangan yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah
beberapa pointers perkembangan pertanian organik di Indonesia:
• Produksi pertanian organik Indonesia diperkirakan tumbuh kurang lebih 10% per
tahun (Indro Surono peneliti Elsspat dan Biocert, 2004).
• Perkembangan cukup pesat yang ditandai dengan semakin banyaknya supermarket,
outlet, dan model pemasaran alternatif di berbagai kota yang menjual produk
organik (di Jakarta tahun 2001, hanya ada dua toko/outlet, sekarang ini lebih dari
12 supermarket, restoran, dan outlet khusus yang memasarkan produk organik).
• Perkembangan juga tergambar dari semakin banyak organisasi nonpemerintah
pendamping petani yang mengembangkan pertanian organik, kelompok petani atau
perusahaan swasta yang bergerak di pertanian organik.
• Beberapa jaringan atau organisasi nasional yang peduli pada pengembangan
pertanian organik, diantaranya Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia (Jaker
PO) dan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina).
• Produk pertanian organik Indonesia hampir semuanya adalah produk pertanian
belum diolah (fresh product), sedangkan produk pertanian organik olahan sangat
sedikit.
• Produk organik asal Indonesia yang terkenal adalah produk tanaman keras seperti
kopi, vanili dan rempah-rempah yang kebanyakan dihasilkan dari daerah wild
harvested.
• Belum ada data resmi luas lahan organik di Indonesia dari pemerintah. Dalam buku
“The World of Organic Agriculture, Statistic and Emerging Trends 2004” karangan
Helgar Willer dan Minou Yussefi, yang dipublikasikan oleh IFOAM disebutkan luas
lahan yang ditangani (under management) secara organik di Indonesia sekitar
8

40.000 ha (0,09% dari total lahan pertanian). Indonesia berada di peringkat ke-37
dunia.
• Sebagian besar produk yang dipasarkan di pasar lokal adalah sayuran segar dan
beras, sebagian besar belum disertifikasi.
• Produk organik utama Indonesia yaitu beras, sayuran, buah-buahan, kopi, mete,
rempah-rempah, herbal, minyak kelapa murni, madu, produk liar (wild product),
dan udang. Khusus untuk kopi, mete, dan udang telah diekpor ke pasar Eropa, AS,
dan Jepang (Prawoto & Surono 2005).

Perkembangan pertanian organik, terutama sayuran, di Indonesia secara tidak langsung


juga tercermin dari variasi yang terungkap berdasarkan komparasi tiga usahatani organik di
bawah ini.

Pertanian Organik A:

Lokasi Pertanian Organik A adalah di Desa Sukawening, Kecamatan Ciwidey, ketinggian


rata-rata 1200 m dpl, dan waktu tempuh 1,5-2 jam dari kota Bandung. Usahatani ini
mengusahakan sekitar 3 hektar lahan, yang terdiri dari 2 hektar untuk pengusahaan
sayuran dan peternakan terpadu, dan 1 hektar untuk hutan bambu.

Penyiapan lahan/pengolahan tanah

Pengolahan lahan dilaksanakan dengan sistim pengolahan lahan minimal, yang ditujukan agar
struktur tanah tidak rusak. Kedalaman olah + 30 cm, tidak menggunakan pacul, tetapi dengan
alat gacok/garpu. Lahan olah dibagi menjadi bedengan-bedengan, dengan lebar 1 m, panjang
10 m, tinggi bedengan + 20 cm dan sedikit lebih tinggi untuk musim penghujan, serta jarak
antar bedengan 0.5 m. Untuk menghindari erosi, bagian pinggir bedeng ditanami rumput pahit
atau rumut madu dan secara periodik rumput dipotong untuk kompos atau pakan ternak.
Sementara itu, kelembaban bedengan dijaga melalui penggunaan penutup tanah dari limbah
organik. Urutan kerja pengolahan lahan adalah sebagai berikut: (1) pematokan lahan untuk
bedengan dengan ukuran lebar 1 m dan panjang 10 m, (2) jarak antar bedengan 0.5 m, (3)
rumput dibersihkan, (4) rumput dikumpulkan untuk bahan kompos, (5) tanah digarpu, (6)
tanah dihaluskan dengan menggunakan gacok, (7) dibuat lubang tanam untuk tanaman yang
menggunakan bumbunan atau dibuat garitan untuk tanaman yang tidak menggunakan
bumbunan. Untuk tanah cadas/kurang subur, pengolahan tanah dilakukan dengan menggali
sedalam + 60 cm dan menukar/membalikkan lapisan olah tanah, yaitu tanah atas disimpan
dibawah dan tanah bawah disimpan diatas.

Penanaman

Lubang tanam yang telah disiapkan pada tahapan pengolahan tanah diisi dengan
pupuk organik. Lubang tersebut dibiarkan terbuka selama 1 minggu jika pupuknya belum
terlalu matang, atau dibiarkan selama 3 hari untuk pupuk yang telah matang. Untuk tanaman
yang menggunakan bumbunan, penanaman langsung dilakukan diatas pupuk kandang.
Sementara itu, untuk tanaman yang tidak menggunakan bumbunan, benih disebar diatas
garitan dan selanjutnya ditutup dengan pupuk kandang yang sudah matang.
Keputusan dalam memilih jenis tanaman terutama didasarkan pada prediksi keadaan
musim. Untuk satu musim, rata-rata jenis sayuran/tanaman yang diusahakan berkisar antara
15-20 jenis. Sebagai contoh, pada musim hujan jenis tanaman yang biasanya dikembangkan
adalah tanaman sayuran daun, seperti: kubis, pakcoy, sosin dan petsay. Untuk musim
peralihan atau kemarau biasanya dipilih tanaman sayuran buah, seperti: tomat, kapri, terung
dll. Sementara itu, tanaman umbi-umbian, seperti wortel dan lobak, dapat ditanam setiap
9

saat. Jenis sayuran yang permintaannya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sayuran
lain, diantaranya adalah bayam, selada, pecai, wortel, kacang buncis, dan jagung.
Sistem produksi organik A paling tidak pernah mencoba dan sedang mengembangkan
kurang lebih 50 jenis tanaman yang secara sederhana diklasifikasikan sebagai berikut :

No Kategori Tanaman

1. Tanaman akar Wortel, bit, lobak, empon-empon (laja/laos, jahe dll)

2. Tanaman kubis-kubisan Pecai, caisin, choy putih, kubis bulat, kubis tunas

3. Tanaman sayuran buah Jagung (baby corn, sweet corn), cabai, tomat, terung, labu
siam, oyong, baligo, labu besar

4. Tanaman kacang-kacangan Kacang panjang, kacang kapri, buncis putih, buncis hitam,
kacang tanah, kacang merah (perdu dan rambat)

5. Tanaman keras Mangga, jeruk, nangka, jambu

6. Tanaman sayuran daun Bayam merah, bayam hijau, kangkung darat potong, selada
merah, selada hijau, siong bak, peterseli

7. Tanaman pakan ternak Ubi jalar, rumput gajah

8. Tanaman pengusir OPT Bawang-bawangan, sintek, kacang babi, kenikir, kemangi

9. Tanaman perangkap OPT Tanaman bunga-bungaan yang berwarna merah dan kuning
(bunga matahari, jamur kotok )

10. Tanaman bunga-bungaan Bunga gerbera, bunga anggrek, bunga gladiul

11. Tanaman pupuk hijau Crotalaria, kacang-kacangan

12. Tanaman obat Katuk, ginseng, jawer kotok, kirinyuh, peppermint, babadotan

Sistim pertanaman yang digunakan adalah sistim intercropping, sequential cropping,


alley cropping dan companion planting. Pertanaman dalam satu bedeng terdiri dari minimal 2
jenis tanaman. Tanaman bertajuk tinggi (tanaman sayuran buah) biasanya ditanam dibagian
tengah bedeng, sedangkan tanaman bertajuk rendah ditanam dipinggir bedeng. Jarak tanam
untuk tanaman bertajuk tinggi 50-60 cm, sedangkan untuk tanaman bertajuk rendah 5 - 50
cm tergantung jenis tanaman. Sistem rotasi yang dilakukan mengikuti urutan sebagai berikut:
legume crop - leaf crop - fruit crop - root crop - legume crop. Penyulaman dilakukan pada
pertanaman yang ditanam dalam bentuk semaian (misalnya, tomat, kubis dll.), sedangkan
penjarangan dilakukan pada tanaman yang ditanam dalam bentuk benih/biji (misalnya,
wortel). Penyulaman maupun penjarangan biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 2 - 4
minggu. Beberapa hal lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan kombinasi jenis
tanaman tumpangsari adalah: (a) penyinaran/pemerataan cahaya, (b) perakaran tanaman,
dan (c) faktor ekonomis.

Penyiangan

Berdasarkan luasan lahan yang diusahakan, penyiangan dilakukan sepuluh hari sekali.
Lahan usaha dibagi menjadi sepuluh bagian dan penyiangan dimulai dari bagian pertama,
berurut sampai bagian kesepuluh, kemudian penyiangan berikutnya kembali lagi ke bagian
10

pertama. Sebagian limbah penyiangan yang layak dikonsumsi hewan dimanfaatkan untuk
pakan ternak. Sementara itu, limbah yang tidak layak untuk pakan ternak ditumpuk dipinggir
kebun sampai membusuk dan matang. Limbah tersebut selanjutnya digunakan sebagai pupuk
serasah atau ditimbun dalam lubang tanah dicampur dengan pupuk kandang menjadi bahan
kompos.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan adalah pupuk serasah, yaitu limbah pertanian/gulma yang tidak
termanfaatkan untuk pakan ternak, pupuk kompos (campuran serasah/limbah dengan pupuk
kandang) dan pupuk kandang. Semua jenis pupuk tersebut dihasilkan dari kebun dan/atau
ternak sendiri. Rata-rata dosis penggunaan pupuk + 20 ton per ha. Pupuk diberikan sepanjang
garitan bedengan, setelah benih/biji disebar (bayam, wortel, dll.), atau diletakkan pada
lubang tanam untuk tanaman yang harus dibumbun terlebih dahulu (kubis, tomat, petsay,
dll.). Untuk tanaman yang pertumbuhannya dianggap agak lambat atau terhambat, biasanya
ditambahkan pupuk N dalam bentuk cair. Pupuk N tersebut berasal dari rendaman daun
crotalaria (+ 5 kg) dicampur air (+ 20 liter) yang direndam selama 2 minggu. Aplikasi pupuk
dilakukan dengan menyiramkannya ke tanah di sekitar tanaman.

Pengendalian hama penyakit

Organisme pengganggu yang sering diidentifikasi menyerang berbagai jenis tanaman


yang diusahakan, diantaranya adalah: (a) ulat dan penyakit kawat pada kubis-kubisan, (b)
pelentung serta kutu loncat pada kangkung dan bawang daun, (c) ulat grayak pada cabai, (d)
ulat buah dan busuk daun pada tomat serta cabai, (e) layu pada tomat, dan (f) penyakit karat
dan kutu daun pada kacang-kacangan. Konsep pengendalian yang digunakan pada dasarnya
mengacu pada tindakan sanitasi dan perawatan rutin. Tindakan tersebut dimaksudkan agar
gejala serangan hama penyakit dapat dideteksi secara lebih awal , sehingga kerusakan akibat
serangan dapat diminimalkan. Pada sistem ini, penggunaan pestisida organik (bio-pestisida)
tetap diposisikan sebagai alternatif pengendalian yang terakhir. Berbagai upaya organik
diarahkan untuk mewujudkan keseimbangan ekosistem, sehingga pengendalian hama dan
penyakit dapat terjadi dengan sendirinya (alami). Secara ringkas, beberapa metode
pengendalian yang ditempuh, diantaranya adalah:
♦ Menghindarkan penanaman tanaman tertentu pada musim tertentu, karena pada musim
tersebut, tanaman bersangkutan diperkirakan sangat peka terhadap serangan hama/
penyakit (misalnya, tomat pada musim hujan)
♦ Menggunakan sistem pertanaman berganda atau kombinasi (misalnya, tomat dengan kubis
– bau atau aroma tanaman tomat tidak disukai hama plutella)
♦ Menggunakan sistem pengendalian mekanis (misalnya, membuang ulat atau memusnahkan
tanaman yang terserang layu)
♦ Memutuskan siklus hidup hama/penyakit (misalnya, melalui pemberaan lahan, rotasi
tanaman dan tidak menggunakan mulsa tanaman sejenis)
♦ Menanam tanaman pengusir hama disekitar tanaman yang diusahakan
♦ Menanam tanaman perangkap disekitar tanaman yang diusahakan
♦ Menyemprot dengan bio-pestisida (dibuat dari 5 genggam daun kacang babi, direbus
dengan air 10 liter, setelah dingin disemprotkan pada tanaman tanpa harus dicairkan
lagi).

Panen dan pasca panen

Panen dilakukan dua kali dalam seminggu, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Hasil
panen dipersiapkan untuk dijual tanpa perlakuan khusus. Setelah dibersihkan di kebun, hasil
panen diikat dan langsung diangkut ke daerah konsumen (delivery order) untuk dipasarkan
per kilogram atau per paket.
11

Pembibitan

Pada awalnya, sumber pengadaan bibit berasal dari toko/kios sarana produksi. Sejauh
memungkinkan, benih/bibit untuk pertanaman selanjutnya diperoleh dari upaya pembibitan
sendiri. Dengan demikian, sebagian besar varietas tanaman yang digunakan adalah open
polinated. Proporsi jumlah benih/bibit yang digunakan adalah 25% dari luar (toko) dan 75%
berasal dari pembibitan sendiri.

Pemasaran

Produk hasil panen pada umumnya dipasarkan kepada konsumen tetap yang terdiri
dari konsumen rumah tangga dan rumah sakit. Segmen konsumen produk organik dapat
diklasifikasikan sebagai konsumen kelas menengah ke atas. Konsumen dapat melakukan
pemesanan melalui telpon dan pesanan kemudian dihantarkan. Dengan demikian, rantai
tataniaga yang berlaku relatif pendek, yaitu langsung dari produsen ke konsumen.
Pengalaman produsen untuk memasarkan sayuran organik melalui supermarket ternyata
kurang memuaskan karena pada beberapa kasus seringkali disubstitusi dengan produk non-
organik. Pada kasus seperti ini, produsen belum dapat menuntut melalui jalur hukum, karena
perangkat aturan mengenai pelabelan sayuran organik masih belum tersedia. Upaya
maksimal/agresif untuk mempromosikan produk organik masih belum dilakukan. Hal ini
disebabkan oleh pertimbangan kemampuan pasokan yang masih relatif terbatas serta harga
produk yang relatif lebih tinggi dibanding dengan harga produk sejenis dari pertanian non-
organik. Volume panen masih relatif rendah, yaitu berkisar antara 250-400 kg (berbagai jenis
sayuran) per waktu panen.

Pertanian Organik B:

Lokasi Perintis Pertanian Organik B adalah di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Bogor,
dengan ketinggian rata-rata 900 m dpl. Usahatani organik ini mengusahakan sekitar 4 ha
lahan, dengan luas lahan efektif 1,7 ha. Usahatani organik B merupakan usahatani perintis
(tertua, sejak tahun 1982) yang menggunakan pendekatan organik. Disamping melakukan
kegiatan usahatani, yayasan tersebut juga menyediakan atau memberikan pelatihan
pertanian organik. Tujuan pelatihan adalah untuk mempromosikan teknik budi-daya sayuran
organik dan perlunya mengkonsumsi sayuran sehat. Pengelolaan usahatani organik ditangani
oleh 11 kelompok(setiap kelompok terdiri dari 2 orang laki-laki dan satu orang wanita). Tiga
kelompok diserahi untuk menangani pembenihan/pembibitan dan 8 kelompok bertanggung
jawab untuk menangani kegiatan produksi (setiap kelompok menangani/menggarap 120-200
bedeng, setara dengan 250-400 m2).

Penyiapan lahan/pengolahan tanah

Pengolahan tanah pada dasarnya dilakukan dengan menerapkan sistem pengolahan


minimal (minimum tillage). Secara ringkas, pengolahan dan/atau penyiapan lahan dilakukan
dengan mengikuti tahapan: (a) lahan olah dibagi ke dalam bedengan-bedengan, dengan
ukuran lebar 1m, panjang 10 m dan jarak antar bedengan 50 cm, (b) lahan yang miring
diratakan dengan sistem terasering, (c) tanah dilonggarkan dengan menggunakan garpu, (d)
rumput dibersihkan dan permukaan tanah diratakan, (e) dibuat lubang tanam untuk tanaman
yang benihnya perlu disemai terlebih dahulu, atau dibuat garitan untuk jenis tanaman yang
menggunakan biji, (f) pada lubang tanam atau garitan diberikan pupuk kandang yang sudah
matang, dan (g) untuk menahan erosi pada setiap pinggiran bedengan ditanami rumput
madu. Perbedaan pengolahan lahan untuk musim kemarau dan musim hujan hanya terletak
pada ketinggian bedengan (untuk mengatur drainase air). Tinggi bedengan untuk musim
hujan 15-20 cm, sedangkan untuk musim kemarau 10-15 cm.
12

Penanaman

Kegiatan penanaman dilakukan setelah lubang tanam atau garitan diberi pupuk dasar,
berupa pupuk kandang/kompos matang. Jenis sayuran yang paling banyak ditanam adalah
wortel, sedangkan luas tanam sayuran lainnya diprogram cukup merata. Sistim pertanaman
yang dilakukan dalam setiap bedeng adalah sistim polikultur (2 s/d 4 jenis tanaman),
dengan memperhatikan: perakaran tanaman, kanopi daun, umur setiap jenis tanaman,
tinggi rendah tanaman dan pengambilan unsur hara dari setiap jenis tanaman.
Contoh kombinasi tanaman dalam satu bedengan:
• mentimun dengan kangkung -- mentimun ditanam di tengah, sedangkan kangkung
ditanam 2 alur pada setiap pinggir bedeng.
• bawang daun dengan wortel -- bawang daun di tengah bedeng, sedangkan wortel
ditanam beralur disetiap pinggir bedengan.
• buncis dengan kacang tanah -- buncis ditanam di tengah, sedangkan kacang tanah
ditanam beralur disetiap pinggir bedengan.
• bit dengan kacang tanah -- bit ditanam di tengah bedeng dan kacang tanah di bagian
pinggir bedeng
• kacang kapri dengan seledri -- kacang kapri ditanam di tengah bedengan dan seledri
di pinggir bedengan
• mentimun dengan kubis -- mentimun ditanam di tengah bedengan sedangkan kubis
ditanam di pinggir bedengan
• jagung dengan selada -- jagung ditanam di tengah bedeng, sedangkan selada di
pinggir bedeng
• bawang daun dan petsai -- bawang daun di tengah bedeng, sedangkan petsai ditanam
di pinggir bedeng.

Agak berbeda dengan Tidusaniy, keragaman jenis tanaman yang diusahakan di BSB
ternyata relatif lebih rendah, sebagai refleksi dari jenis usaha yang telah memiliki market
outlet lebih jelas. Berbagai jenis tanaman yang diusahakan, diantaranya adalah:

No Kategori Jenis Tanaman

1. Sayuran daun Brokoli, kubis (kubis merah, kubis putih), kubis bunga, kaelan, kenikir,
petsai (Nagaoka, Granat), caisim, sawi sendok/pakcoy, selada (selada
air, selada keriting, selada head), bayam, kangkung (kangkung darat,
kangkung air), seledri, petersely, bawang daun, bawang kucai dan
kemangi

2. Sayuran buah Tomat (tomat buah, tomat cherry), cabai, terung (terung lalab, terung
ungu), mentimun (mentimun lokal, mentimun taiwan), buncis, kacang
kapri, oyong, paria, zukini, jagung (jagung manis, jagung lokal, jagung
baby), labu siam

3. Sayuran umbi bit, wortel, lobak, radish dan ubi jalar

4. Sayuran bumbu Sereh, laos, kemangi

5. Kacang-kacangan Kacang tanah dan kacang merah

Pada musim hujan, selain tidak menanam jenis tanaman yang peka terhadap penyakit,
pengaturan jarak tanam juga dilakukan. Sebagai contoh, tanaman kubis pada musim
kemarau menggunakan jarak tanam 50 x 40 cm atau 50 x 50 cm, sedangkan musim
penghujan 60 x 60 cm. Selain itu, ketebalan mulsa juga diatur agar lebih tipis dibandingkan
dengan musim kemarau.
13

Penyiangan, penyulaman dan penjarangan

Dalam pertanian organik, kegiatan penyulaman, penjarangan dan penyiangan biasa


dilakukan seperti halnya pada pertanian konvensional. Penyulaman biasa dilakukan pada
tanaman yang tidak tumbuh atau mati setelah beberapa hari ditanam dan penjarangan
dilakukan pada tanaman yang ditanam disebarkan sepanjang alur/garitan (tanam biji
langsung) misalnya tanaman wortel. Melalui penjarangan ini diharapkan akan diperoleh jarak
tanam optimal, sehingga umbi wortel yang dihasilkan relatif lebih besar. Penyiangan
biasanya dilakukan dua kali, seperti halnya pada sistem pertanian konvensional, yaitu saat
rumput sudah dianggap mulai menggangu pertumbuhan tanaman. Limbah/sisa rumput dari
hasil penyiangan di musim kemarau dimanfaatkan untuk mulsa bedengan. Sementara itu,
limbah pada musim hujan, selain untuk mulsa juga dimanfaatkan sebagai bahan baku
campuran pembuatan kompos. Dalam pembuatan kompos, rumput ditumpuk berselang-seling
dengan pupuk kandang dan dibiarkan selama + 3 bulan sampai matang dan siap digunakan.

Pemupukan

Jenis pupuk organik yang digunakan antara lain adalah: pupuk kandang ayam, pupuk
hijau, pupuk kompos dan pupuk cair. Komposisi pupuk cair adalah: pupuk kandang 1 karung,
daun kacang-kacangan satu karung dan air sebanyak 1 drum (+ 200 liter). Campuran ini
dibiarkan di dalam drum selama 3 sampai 4 minggu. Pupuk cair disiramkan di sekitar
perakaran tanaman dengan dosis 1 kaleng susu (+ 200 cc) larutan per tanaman, terutama
untuk tanaman yang secara visual pertumbuhannya lambat atau tidak subur. Perlakuan
pupuk cair diberikan mulai tanaman berumur 2 minggu setelah tanam atau tergantung pada
kondisi tanaman bersangkutan. Interval yang digunakan adalah 3 hari sekali sampai tanaman
berumur 1 bulan atau 7 hari sekali sampai tanaman berumur 1.5 bulan. Jenis tanaman yang
biasa diberi pupuk cair diantaranya adalah: kubis, paria, mentimun dan brokoli (biasanya
diberikan pada musim kemarau).
Dosis penggunaan pupuk kandang/kompos agak bervariasi tergantung jenis
tanamannya. Sebagai contoh, untuk tanaman tomat, kubis, cabai dan terung dosis per pohon
adalah 0.5 kg, sedangkan untuk tanaman petsai, caisim, kaelan dan selada rata-rata 0.3 kg
per pohon. Pemberian pupuk kandang biasanya dilakukan satu kali setiap musim tanam.
Pupuk disimpan pada setiap lubang tanam, sepanjang garitan atau disebar dipermukaan
bedengan, kemudian diaduk dengan tanah dan diratakan kembali. Untuk penggunaan pupuk
hijau, pangkasan tanaman/daun pupuk hijau yang masih segar atau sudah layu dipendam ke
dalam tanah dan setelah itu, lahan dapat langsung ditanami.

Pengendalian hama penyakit

Salah satu upaya peengendalian yang biasa dilakukan pada sistem pertanian organik
adalah tidak menanam komoditas tertentu yang dianggap peka pada musim tertentu. Dalam
perencanaan pola tanam di lapangan, pengelola biasanya membagi musim menjadi musim
penghujan, peralihan dan kemarau. Pada musim penghujan, jenis tanaman yang dianggap
cocok adalah sayuran daun atau famili Brassica. Penanaman sayuran Solanaceae dihindari
pada musim ini, karena sayuran dari keluarga Solanaceae peka terhadap penyakit busuk
daun. Sementara itu, pada musim peralihan dan musim kemarau, semua jenis sayuran dapat
diusahakan. Namun demikian, perlu pula diperhatikan penanaman tanaman pendukung,
misalnya tanaman pengusir hama (kemangi, bawang-bawangan dan tagetes), karena pada
musim tersebut populasi hama cukup tinggi. Pengendalian hama dengan cara mekanis dan
penyemprotan dengan bio-pestisida merupakan kegiatan yang biasa dilakukan di pertanian
organik.
Jenis OPT yang sering ditemui antara lain: ulat Plutella, ulat Crosidolomia, ulat
Spodoptera, kutu anjing, aphid, bengkak akar, batang kawat, Phytopthora, Alternaria dan
layu bakteri. Berbagai metode pengendalian yang dilakukan adalah:
14

• Mekanis -- pengendalian OPT secara mekanis dilakukan apabila tingkat serangan


relatif rendah dan memungkinkan untuk dilakukan secara manual
• Pestisida botani -- penggunaan pestisida botani dilakukan apabila serangan OPT sudah
dianggap melewati ambang ekonomi. Contoh pestisida botani diantaranya:
• daun kacang babi ditumbuk, setelah agak halus dicampur air, lalu diaduk
dan disaring selanjutnya disemprotkan tanpa harus dicairkan lagi.
• daun Mindi dan buahnya ditumbuk dicampur air, disaring dan selanjutnya
disemprotkan pada tanaman
• daun Suren, dengan komposisi campuran: 2 ons daun suren dicampur
dengan satu liter air.
• Pengaturan jenis tanam – menyesuaikan jenis tanaman yang diusahaakan dengan
musim, misalnya pada musim hujan dihindari menanam jenis tanaman yang peka
terhadap serangan penyakit layu phytopthora (tomat, kentang, dll).
• Menanam jenis tanaman pengusir hama -- menanam jenis tanaman yang aroma atau
baunya tidak disukai oleh jenis hama-hama tertentu, misalnya bawang-bawangan,
kemangi, tegetes dll.
• Rotasi tanaman -- pergiliran tanaman untuk memotong siklus hidup OPT jenis
tanaman sefamili, disamping untuk memelihara tingkat kesuburan tanah. Pola rotasi
umum yang dilakukan adalah: jenis Brassica -- jenis sayuran buah -- jenis sayuran
akar/umbi -- jenis pupuk hijau. Sehubungan dengan pola rotasi tersebut, jenis
tanaman dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan kebutuhan unsur hara, yaitu (a)
kelompok boros hara -- jenis tanaman brassica, (b) kelompok kebutuhan hara sedang
-- cabe, buncis, wortel, bawang-bawangan, ubi jalar, dll., (c) kelompok pembangun
hara -- jenis tanaman kacang-kacangan. Kelompok tanaman pembangun hara ini
biasanya ditanam setelah rotasi tiga musim tanam sayuran.
• Sanitasi -- menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kebun
• Membakar tanaman yang sakit -- memotong siklus hidup penyakit, misalnya bengkak
akar pada tanaman kubis atau busuk daun pada tanaman tomat. Sisa pembakaran
tanaman masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
• Cara lain untuk memotong siklus OPT -- dalam 1 tahun hanya menanam satu kali jenis
tanaman yang sama dalam bedeng yang sama dan menanam tanaman kacang-kacang-
an dalam periode 2 tahun sekali pada setiap bedeng untuk mempertahankan
kesuburan.

Panen dan pasca panen

Secara reguler, panen dilakukan tiga kali dalam seminggu, yaitu hari Senin, Rabu dan
Jumat. Penentuan jadwal panen pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh jenis tanaman
bersangkutan: (a) tanaman siap panen -- buncis, kacang kapri, kubis bunga, brokoli, (b)
jadwal panen sesuai permintaan atau kapasitas jual -- ubi jalar, wortel, pakcoy, selada, dan
(c) panen dilakukan dengan cara menseleksi terlebih dahulu, biasanya untuk tanaman yang
tidak habis sekaligus -- jagung, bayam, lobak, dan tomat. Sayuran yang tidak layak jual,
tetapi masih layak makan biasanya dibagikan kepada karyawan, sedangkan yang tidak layak
makan dimanfaatkan untuk makanan ikan (kolam), bahan kompos atau mulsa. Penyortiran
dilakukan berdasarkan ukuran (besar/sedang/kecil) dan layak/tidak layak jual secara visual
(terlalu tua, busuk atau bentuk tidak normal). Sementara itu, pengemasan dilakukan dalam
bentuk ikatan-ikatan kecil menggunakan tali bambu, untuk jenis sayuran seperti: buncis,
caisim, bayam, kangkung, selada, pakcoy, daun ketela pohon, lobak, bit, kenikir dll. Untuk
sayuran lain (wortel, baby corn, kapri, ubi jalar, labu siam dan tomat) pengemasan dilakukan
menggunakan kertas koran per 0.5-1 kg.
15

Pembibitan

Sebagian besar benih/bibit yang memungkinkan diproduksi/diperbanyak sendiri


dilakukan oleh kelompok produksi benih/bibit. Sebagian lagi sisanya diperoleh dari dari toko
sarana produksi. Proporsi jumlah benih/bibit yang digunakan adalah 20% berasal dari luar
(toko) dan 80% berasal dari pembibitan sendiri.

Pemasaran

Dua konsumen utama produk sayuran organik dari BSB adalah kelompok konsumen
rumah tangga berlangganan dan institusi rumah sakit (St. Carolus). Konsumen berlangganan
mendapatkan jatah pengiriman sayuran satu kali per minggu, yaitu hari Selasa (jadwal panen
Senin), atau hari Kamis (jadwal panen Rabu), atau hari Sabtu (jadwal panen Jumat).
Pengiriman seminggu sekali ini dilakukan karena keterbatasan volume sayuran yang dapat
dipanen sesuai jadwal. Jenis dan bobot sayuran yang dikirimkan kepada konsumen
disesuaikan dengan besarnya uang sumbangan yang diberikan kepada yayasan, sebagai
ongkos pengganti biaya produksi. Dengan demikian, pengiriman sayuran ke konsumen
biasanya dalam bentuk paket (terdiri beberapa jenis sayuran dengan bobot yang telah
ditentukan). Contoh beberapa paket sayuran ditunjukkan pada bagian akhir uraian ini.
Konsumen dapat menolak jenis sayuran yang kurang disukai, setelah dikonfirmasikan
terlebih dahulu dengan produsen. Konsumen juga dapat memesan jenis sayuran tertentu
dalam jumlah relatif lebih banyak dan mendiskusikan besarnya pembayaran yang
dibebankan, selama produsen masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan pesanan tanpa
harus merusak pola tanam yang telah ditetapkan. Intensitas komunikasi antara konsumen
dengan produsen relatif tinggi. Produsen juga memerlukan informasi mengenai jumlah
anggota keluarga disetiap keluarga konsumen sebagai dasar dalam menentukan jumlah dan
bobot sayuran dalam paket. Konsumen rumah tangga pada umumnya berdomisili di Jakarta,
namun ada pula pembeli yang datang langsung ke lokasi usahatani pada saat panen.
Konsumen tamu biasanya memperoleh sayuran dalam jumlah yang terbatas karena volume
panen sudah disesuaikan dengan permintaan pasar konsumen langganan.
Hasil panen sayuran langsung dikirim ke agen/kolektor/pengumpul di Jakarta dan
selanjutnya akan diambil oleh konsumen langganan sesuai dengan paket-paket yang telah
ditetapkan sebelumnya. Besarnya sumbangan atau harga jual sayuran pada umumya
ditetapkan berdasarkan nilai input produksi, biaya penelitian, dan nilai tambah yang
diperoleh konsumen apabila mengkonsumsi sayuran sehat. Pengalaman produsen
menunjukkan bahwa prospek usahatani produk organik cenderung semakin membaik. Hal ini
diindikasikan dari banyaknya permintaan konsumen yang terpaksa ditolak karena
keterbatasan volume panen serta luas lahan yang dimiliki produsen.

Pertanian Organik C:

Lokasi pertanian organik C adalah di Desa Langensari, Kecamatan Lembang,


Bandung, dengan ketinggian rata-rata 1200 m dpl. Pertanian organik tersebut berada di
daerah peri-urban Bandung, sehingga aksesnya ke konsumen secara fisik, jauh lebih baik
dibandingkan dengan dua pertanian organik terdahulu. Luas lahan yang diusahakan
sebenarnya relatif lebih sempit, yaitu 4 500 m2, namun lebih memperlihatkan karakteristik
integrated organic farming system dibandingkan dengan lainnya. Bermacam ternak (ayam,
kambing, angsa, bebek) diusahakan secara terintegrasi dengan usahatani sayuran.
Usahatani ini bahkan mampu menjual kelebihan produksi pupuk kandang ke petani lain.
Berbagai aspek usahatani/ budidaya (pengolahan tanah, penanaman, pemupukan,
pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen serta pembibitan) yang dilakukan
tidak jauh berbeda dengan kedua pertanian organik terdahulu. Usahatani ini juga memiliki
16

ciri-ciri ke"organik"an sebagai berikut: (a) tidak menggunakan pupuk buatan dan pestisida
kimiawi, (b) pengusahaan sayuran disesuaikan pada kemampuan lahan, dengan komposisi
penanaman komoditas yang lebih mengutamakan keamanan lahan jangka panjang, (c)
sistem pertanaman polikultur yang diarahkan untuk mendukung keseimbangan ekosistem.
Namun dari sisi pemasaran, sesuai dengan kemampuan pemasokan, usahatani ini cenderung
bersifat menunggu kunjungan tamu/pembeli. Walaupun demikian, pada saat-saat tertentu,
berdasarkan kese-pakatan sebelumnya, usahatani ini terkadang juga mengisi/memenuhi
permintaan konsumen langganan usahatani sayuran organik A, khususnya untuk sayuran
daun.

Berkaitan dengan bobot ke”organik”an, beberapa hal yang dapat ditarik dari hasil
karakterisasi untuk ketiga sistem di atas adalah:
• Secara umum, usahatani B merupakan yang terbaik (dengan skala usaha terbesar) dan
dapat digunakan sebagai acuan atau model untuk pengusahaan sayuran secara organik
• Usahatani A merupakan kedua terbaik (terutama karena relatif masih baru dan berada
pada tahap akhir perintisan). Usahatani ini termasuk skala sedang dan memiliki
kelebihan dibandingkan lainnya, karena mampu memasok susu kambing Etawa dalam
jumlah cukup besar.
• Usahatani C merupakan ketiga terbaik, karena relatif masih baru dan skalanya relatif
kecil. Namun demikian, usahatani ini lebih memperlihatkan karakteristik integrated
organic farming system dibandingkan dengan lainnya. Sebagai contoh, seluruh
kebutuhan pupuk kandang sudah dapat dipenuhi dari ternak sendiri.
• Ditinjau dari skala pengusahaan, usahatani B telah dapat dikategorikan ke dalam skala
semi-industri. Usahatani C masih termasuk ke dalam skala rumah tangga (kombinasi
antara motivasi bisnis dan kegemaran). Sementara itu, usahatani A terdapat di antara
keduanya.

Kesimpulan

Secara umum, hasil observasi di ketiga usahatani di atas memberikan gambaran


sementara bahwa status pertanian organik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang
cukup baik, walaupun kontribusinya terhadap produksi total sayuran relatif masih kecil
(diperkirakan masih < 10%). Prospek pengembangan sayuran organik juga cenderung
menjanjikan, sebagaimana diindikasikan oleh masih banyaknya permintaan yang belum
dapat dipenuhi karena adanya keterbatasan pasokan.
Kegiatan karakterisasi juga mengidentifikasi beberapa hal yang memerlukan
dukungan penelitian, terutama menyangkut (a) pengelolaan gulma, (b) perencanaan
usahatani dan perancangan integrasi ekosistem, (c) pengelolaan kesuburan organik
terapan, dan (d) kualitas nutrisi dalam hubungannya dengan kultur praktis.
Strategi pembangunan pertanian yang menekankan pada kebijakan pengembangan
sistem agribisnis perlu didukung oleh kebijakan penyangga menyangkut sistem pertanian
berkelanjutan, agar masalah generasi kedua revolusi hijau yang sedang dihadapi tidak
semakin memburuk. Kebijakan penyangga tersebut harus lebih bersifat operasional, agar
tidak lagi hanya sekedar bersifat retorik atau jargon pembangunan. Sampai saat ini,
kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan pertanian organik di Indonesia sebagian
besar merupa-kan inisiatif dari lembaga swadaya masyarakat. Jika strategi pembangunan
di atas akan ditempuh, maka pemerintah perlu berperan lebih aktif lagi, karena pertanian
organik dan produk organik merupakan bagian integral dari pertanian berkelanjutan. Dalam
hal ini, pemerintah dapat berfungsi sebagai fasilitator melalui berbagai kebijakan spesifik
(misalnya, standarisasi proses/produk organik, pelabelan produk organik) yang dapat
memberikan insentif bagi produsen untuk mengadopsi sistem produksi organik dan insentif
bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk bersih/sehat. Lebih jauh lagi, operasionalisasi
kebijakan tersebut perlu dilaksanakan secara hati-hati dan konsisten, agar tidak terjebak
17

pada pola pikir pertanian konvensional yang selalu menekankan pada aspek teknis dan
skala makro. Operasionalisasi kebijakan harus disertai dengan kesadaran bahwa
pengembangan pertanian organik memiliki nilai-nilai dan ukuran tersendiri, berdasarkan
pada keselarasan alam. Beberapa nilai yang secara implisit terkandung dalam
pengembangan pertanian organik adalah: spesifik lokal, tingkat produksi optimal, sistem
produksi berkelanjutan, prinsip konservasi dan sesuai dengan budaya masyarakat
setempat.

Lampiran:

Komparasi usahatani organik berdasarkan prinsip-prinsip pertanian organik yang telah dilaksanakan

No Kegiatan Pertanian Organik A B C

1. Persiapan benih Sebagian besar benih/bibiit bersumber dari produksi √√ √√√ √


(Seed preparation) sendiri dan berasal dari tumbuhan alami
2. Pengolahan tanah Olah tanah minimal untuk memacu perkem-bangan √√√ √√√ √√√
(Land preparation) organisme tanah dan menjaga aerasi tanah
3. Penanaman Multikultur √√√ √√√ √√√
(Planting)
Rotasi tanaman √√√ √√√ √√√
Kombinasi tanaman dalam satu luasan lahan tertentu √√√ √√√ √√√
Tanaman pendamping (Companion planting) √√√ √√√ √√
Penanaman tanaman habitat predator, tanaman √√ √√√ √
pagar, penolak hama, perangkap hama
Tanaman pupuk hijau material pestisida hayati dan √√√ √√√ √√
obat-obatan
4. Pemupukan Menggunakan pupuk organik (pupuk hijau, kompos, √√√ √√√ √√√
(Fertilization) kandang)
5. Pengendalian hama Metode pengendalian mekanis (membuang ulat atau √√√ √√√ √√√
penyakit (Plant memusnahkan tanaman terserang layu)
protection)
Melakukan pengaturan waktu tanam √√ √√√ √√
Memutuskan siklus hidup hama/ penyakit (pemberaan √√ √√√ √
lahan, rotasi tanaman dan tidak menggunakan mulsa
tanaman sejenis)
Menyemprot dengan bio-pestisida √√ √√ √√
Sanitasi -- menjaga kebersihan lingkugan di sekitar √√ √√√ √
kebun
6. Panen dan pasca Terprogram/terjadwal dan menggunakan kemasan √√ √√√ √
panen (Harvest and daur ulang
post-harvest)
Catatan: semakin banyak jumlah tanda √ , semakin tinggi konsistensi usahatani bersangkutan melaksanakan
prinsip-prinsip usahatani organik

DAFTAR PUSTAKA

Andreoli, M and V. Tellarini. 2000. Farm sustainability evaluation: Methodology and practice.
Agriculture, Ecosystem and Environment, 77: 43-52.
Bosshard, A. 2000. A methodology and terminology of sustainability assessment and its
perspectives for rural planning. Agriculture, Ecosystem and Environment, 77: 29-41.
Clemetsen, M. and J. Laar. 2000. The contribution of organic agriculture to landscape
quality in the Sogn og Fjordane region of Western Norway. Agriculture, Ecosystem
and Environment, 77: 125-141.
18

Dunlap, R.E., C.E. Beus, R.E. Howell, and J. Waud. 1992. What is sustainable agriculture?
An empirical examination of faculty and farmer definitions. Journal of Sustainable
Agriculture. 3: 5-39.
Fairweather, J.R. 1999. Understanding how farmers choose between organic and
conventional production: Results from New Zealand and policy implications.
Agriculture and Human Values, 16: 51-63.
Ikerd, J. 1999. Organic agriculture faces the specialization of production systems: Specialized
systems and the economical stakes. Paper presented at the international conference,
" Organic Agriculture Faces the Specialization of Production Systems", Lyon, France,
December 6-9, 1999.
Jansen, H. G., D. Poudel, D. J. Midmore, R. K. Raut, P. R. Pokhrel, P. Bhurtyal & R. K.
Shrestha. 1994. Sustainable peri-urban vegetable production and natural resources
management in Nepal: Results of a diagnostic survey. Working Paper no. 8. AVRDC,
Taiwan.
Kniper, J. 2000. A checklist approach to evaluate the contribution of organic agriculture to
landscape quality. Agriculture, Ecosystem and Environment, 77: 143-156.
Kristensen, E.S. 2000. Principles of organic farming. Discussion document prepared for Danish
Research Center for Organic Farming Users Committee, November 2000. Denmark.
Lefroy, R.D.B., H. Bechstedt and M. Rais. 2000. Indicators for sustainable land management
based on farmer surveys in Vietnam, Indonesia, and Thailand. Agriculture, Ecosystem
and Environment, 81: 137-146.
Pannell, D.J. and S. Schilizzi. 1999. Sustainable agriculture: A question of ecology, equity,
economic efficiency or expedience? Journal of Sustainable Agriculture. 13(4): 57-66.
Sands, G. R. and T.H. Podmore. 2000. A generalized environmental sustainability index for
agricultural system. Agriculture, Ecosystem and Environment, 79: 29-41.
Steiner, K., K. Herweg and J. Dumanski. 2000. Practical and cost-effective indicators and
procedures for monitoring the impacts of rural development projects on land quality
and sustainable land management. Agriculture, Ecosystem and Environment, 81: 147-
154.
Viandes, M.H.R. 1999. History of organic farming. Meat Industry Documents, # 30 –
February 1999. France.

Anda mungkin juga menyukai