Anda di halaman 1dari 7

VEM SAYANG AYAH DAN BUNDA

Dia adalah Vem, seorang gadis kecil yang masih usia enam tahun. Dia
adalah gadis yang lucu, manis, cantik, cerdas dan selalu ceria. Setiap tingkah
lakunya selalu membuat orang yang melihatnya tertawa dan kagum dengannya.
Walau dia masih duduk di Taman Kanak-Kanak “ Kasih Ibu”, tapi dia sudah
mendapatkan gelar anak berprestasi. Dia sangat pandai dalam bernyanyi dan
sudah lebih dari tiga piala yang diterimanya dalam lomba-lomba yang diikutinya.
Hmm,, memang anak yang berbakat dan bisa dibanggakan. Dalam bergaul dengan
teman-teman sekelas ataupun lain kelas, Vem juga sangat ahli. Dia pandai dalam
beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain. Semua itu tidak luput dari didikan
orang tuanya. Inilah yang membawanya mempunyai perilaku yang seperti itu.
Wajar saja, Ibu Vem adalah seorang Guru BK di salah satu SMA terfavorit di
daerahnya. Sedangkan, Ayahnya seorang Guru Agama di SMP Muhammadiyah 1
yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

Minggu pagi udara begitu dingin dan sangat mendukung untuk Vem
molor. Maksudnya, sulit untuk dibangunkan (hha.ha.ha.). Maklum, mari libur
biasanya anak-anak suka memaleskan diri. Melihat tingkah-laku anaknya,
bundanya pun beraksi!!!

“Vem cantik, hayo bangun. Lihat tuh mataharinya udah bangun duluan.
Enggak malu juga sama ayam dibelakang, udah dari tadi bernyanyi. Cepat bangun
terus mandi biar wangi. Mau ikut bunda nggak?? ”

Dengan sedikit kantuk, Vem langsung menjawab, “ikuuuuuttt bunda, eh


memangnya mau kemana?”

Sambil tersenyum dan mengajak Vem untuk beranjak dari tempat


tidurnya, “ udah mandi dulu, nanti kalau sudah beres semua bunda kasih tahu,
OK. Yang penting sekarang adek mandi terus dandan yang cantik. Itu bajunya
sudah bunda siapkan di meja belajar.”

1
“iiihhhh bunda, kasih tahu bocoran sedikiiiiitt ajah. Hmm. . .ya??? kalau
tidak, adek mau tidur lagi ajah. ”

“TIDAK, hayo cepat. Itu ayahmu sudah menunggu. Tinggal adek yang
belum mandi. Ini baunya masih kecut (hhe.he.he.)”

“OK. Bunda. Siap !! ”

Memang dari setahun yang lalu Vem sudah diajarkan Bundanya untuk
mulai mandiri yaitu mandi sendiri (Hhe.he.he.). Karena kalau tidak dibiasakan
seperti itu, yang ada anak nanti akan manja dan jadi malas. Bisa jadi akan menjadi
kebiasaan yang buruk dan tidak baik juga buat perkembangannya.

“Bundaaaaaaa,, adek sudah siap.” Sambil berlari menuju ruang makan.


“Hmmmmmm,, baunya enak. Bunda pagi ini masak apa?? ”

“Bunda masak makanan kesukaan kamu”

“Nasi goreng blue band”, kata Vem dan Bundanya bersamaan.

“Asyiiiiiiiiikkkk”. Dengan perasaan senang Vem memulai hari ini dengan


sarapan ala Bunda Quen. Hhe.he.he.

“jangan lupa sebelum makan berdo’a dulu,” Kata ayah.

“Iya ayah, Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma bariklana fimma


rozaqtana wakinna adza bannar. Amin.”

Setelah selesai sarapan merekapun bersiap-siap dan beranjak ke mobil.


Dalam fikiran Vem masih menerka-nerka, mau kemana hari ini???.

“sudah siap?? Sebelum berangkat jangan lupa untuk berdo’a kepada


ALLAH SWT”, kata ayah Vem.

Bersama-sama merekapun berdo’a,“Bismillahirrohmanirrohim. Bismillahi


tawakkaltu ‘alallah lahaula walakuata illabillah. Amin.”

2
Dan seperti biasa, Vem yang sangat bersemangat. Hhmmmm.
“Berangkaaaaaaaaatttt”.

Sambil menikmati pemandangan kota, disepanjang jalan Vem selalu saja


bernyanyi. Suaranya lucu, dan lumayan bagus untuk usia yang masih enam tahun.
Vempun juga masih bertanya-tanya dipikirannya. Setelah melihat Mall
Hypermart, Vem menghentikan nyanyiannya dan dia baru tahu ternyata mereka
mau belanja bulanan. Setiap awal bulan, Vem bersama ayah dan bundanya
berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari selama sebulan. soalnya ayah dan bunda
Vem adalah seorang PNS, jadi segala kebutuhan sehari-hari seperti shampoo,
sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi dan semacamnya beli diawal bulan. Inilah
yang ditunggu-tunggu Vem, karena berbelanja adalah hal yang sangat
menyenangkan baginya. Tapi, dia tidak akan mengambil sembarang barang kalau
bundanya tidak mengijinkan dan menyetujuinya. Itu sudah merupakan peraturan
yang harus Vem taati. Karena dari awal bunda Vem sudah mendidik Vem untuk
tidak semaunya sendiri.

Sesampai di TKP, Vem menemani ibunya dalam memilih-milih barang


sedangkan ayahnya seperti biasa, menunggu sambil melihat-lihat buku di Toko
buku Gramedia tidak jauh dari lokasi mereka belanja. Bila di rumah ada waktu
santai ayahnya selalu membaca, biasanya beliau suka membaca buku tentang
islami, itulah hobi beliau.

Selesai memilih-milih barang, mata Vem tertuju pada sebuah benda yang
tergantung sangat indah dibagian accsesories. Vem pun menghampirinya, dan
melihat. Vem sangat terkagum dan sangat menginginkan benda itu jadi miliknya.
Benda itu adalah kalung mutiara yang berwarna putih berkilauan. Tapi,
keinginannya itu sedikit memudar, karena tidak mungkin bundanya mau
membelikannya karena sebelum dia menemukan benda itu dia sudah minta bando
yang juga sangat indah. Saking inginnya Vem dengan benda itu, dia
memberanikan diri bertanya pada bundanya.

3
“Bunda, adek boleh ambil benda ini? ” sambil menunjukkan kalung
mutiara itu ke bundanya.

“Adek, tadi udah minta bando sekarang minta itu. Bunda tidak akan kasih
ijin.”

Vem merasa kecil hati, karena saat ini dia benar-benar menginginkan
kalung mutiara itu, tapi dia tidak bisa mendapatkannya. Karena bundanya tidak
mengijinkan. Lalu Vem punya ide untuk mengembalikan bando itu sebelum jadi
miliknya. “Bunda, adek tuker bando itu dengan kalung mutiara ini ya??” sambil
dikasihkannya kalung itu ke bundanya. Dia memandangnya dengan penuh harap
dan cemas.

Melihat sorot mata Vem yang manandakan bahwa dia sangat


menginginkan kalung itu. Dilihatnya harga kalung itu, ternyata lebih mahal dari
bandonya. Sebenarnya beliau bisa-bisa saja membelikan bando serta kalungnya,
tapi itu akan tidak baik pada perkembanganya Vem. Jadi, Vem harus belajar untuk
konsisten sedini mungkin. Hmm, sambil tersenyum bunda Vem berkata, “Nah,
kalau begitu bunda setuju, kembalikan bando ini pada tempatnya tadi. Terus
karena harga kalung mutiara ini lebih mahal dari bandonya, bunda potong uang
saku sebulan ini ya, setuju?? ”

Tanpa pikir panjang Vem pun menyetujuinya. “terima kasih bunda…”.


Sambil berlari mengembalikan bando yang tidak jadi dia beli. Kebahagiaan Vem
terpancar dari wajahnya. Dia merasa senang dan lega. Setelah sekitar tiga puluh
menit lebih, sekarang waktunya untuk mengantri di kasir.

Setelah Vem mempunyai benda barunya yaitu kalung mutiara, dia menjadi
tidak terlalu peduli dengan benda-benda yang pernah dia sukai. Dia sangat
menyukai kalungnya dan selalu merawatnya. Setiap dia mau mandi, dilepasnya
kalung itu dari lehernya, karena kata bundanya bila kalung itu kena air akan cepat
rusak.

4
Setiap malam sebelum Vem tidur, ayahnya yang selalu memberikan cerita-
cerita pengantar tidur. Karena Vem sangat suka dengan cerita ayahnya, hingga dia
benar-benar tertidur. Tapi, paling sering Vem selalu bertanya bila ayahnya selesai
bercerita. Pada suatu malam ketika selesai bercerita dan Vem belum tidur, ayah
Vem bertanya, “Dek, adek sayang enggak sama ayah?? ”

“yaiyalah yah,, Vem sayaaaaaaang banget sama bunda dan ayah”

“kalau Adek sayang ayah, bolehkah kalung itu ayah minta?? ”

Vem terkejut dan otomatis berkata, “Ogah ah,, ayah ambil ajah “si Bona”
boneka gajahku pemberian dari tante Rara. Aku juga sangat menyanyanginya…”.

“yaudah, enggak apa-apa deh. Sekarang adek cepetan tidur yaa. Besok
harus masuk sekolah lagi.” Sambil mencium dahi Vem dan beranjak pergi dari
kamar Vem.

Beberapa hari kemudian, terlihat Vem masih sangat menyayangi benda


itu. Dirawatnya kalung mutiara itu, dan selalu dipakai dilehernya. Saat malam
datang, ayah Vem mencoba bertanya lagi setelah selesai bercerita.

“Dek, Adek sayang nggak sih sama ayah??”

“iiiihhh,, ayah bertanya itu lagi. Adek tuh sampai kapanpun selalu sayang
sama bunda dan ayah. Kenapa sih yah? ”

“kalau adek memang benar-benar sayang ayah, biar kalung mutiara itu jadi
milik ayah ya?”

“Hmmmmm,, tidak ayaaaaaahh…..ayah mau??? ambil saja Teddy Bear


ini.” Kata Vem sambil diberikannya boneka yang selalu menemaninya tidur setiap
malam kepada ayahnya.

Beberapa malam selanjutnya, ketika ayah Vem pergi kekamar untuk


memberikan cerita pengantar tidur, terlihat Vem sedang sedih. Dihampirilah Vem
sama ayahnya.

5
“ada apa Vem?? Kenapa Vem sedih??”, ayahnya bertanya.

Ternyata Vem menangis dengan menggenggam sesuatu di tangannya.


Setelah dibuka, ternyata ada kalung mutiara kesayangan Vem. Vem berkata,
“kalau ayah mau kalung ini, ambilah yah….Vem sayang ayah.” Sambil memeluk
ayahnya.

Ayahnya pun tersenyum melihat tingkah laku anaknya ini. Sambil


mengambil kalung yang ada ditangan Vem, ayahnya mengambil kalung mutiara
asli dari saku bajunya. Bentuknya sama persis seperti punya Vem. “adek, sudah
tidak usah sedih dan menangis lagi. Ini ayah kasih kalung walau agak sedikit
berbeda dengan kalung tadi, tapi ini tidak akan rusak kalau kena air.”

Vem pun tersenyum dan memeluk ayahnya, “ayaaaaaaaaaaaaaaaaahhh,,


Vem sayaaaaaaaaaaaaaang sekali dengan ayah. Terima kasih ayah.”

“ayah juga sayaaaaaaaaaaaaaaang sekaliiiiiii dengan Vem”.

Melihat kelakuan suami dan anaknya membuat bunda Vem terharu


melihatnya. Merekapun saling memeluk, dan terlihat sekali kebahagiaan terwujud
disana.

“bunda, ayah, Vem sayang dengan kalian. Terima kasih atas semuanya.”

“iyah Vem,, bunda dan ayah juga sayang denganmu.” Sambil berpelukan.

Malam itulah malam yang terindah bagi Vem. Setelah itu Vem pun tidur
dengan cerita-cerita dari ayah dan bundanya. Vem merasa senang dan tertidur
pulas sampai pagi menjelang.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang DIA meminta


sesuatu dari kita, karena DIA berkenan untuk menggantikannya dengan yang
lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Vem :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita

6
yakin Allah tidak akan mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya
dengan yang lebih baik.

Sekian…..

Anda mungkin juga menyukai