Anda di halaman 1dari 10

Strategi Coping Pengguna Narkotika dan Obat Terlarang di Kotamadya Surakarta

B. Latar Belakang

Di tengah perkembangan jaman yang semakin maju dan sarat dengan


perubahan yang terjadi di segala bidang menuntut manusia untuk selalu berfikir
dan berprilaku selaras dengan perkembangan tersebut. Seperti halnya yang
terjadi di negara kita, Indonesia tercinta ini yag berniat menyejajarkan diri
dengan negara-negara berkembang lain. Untuk menyikapi itu maka Indonesia
mengalami era keterbukaan arus informasi dan teknologi yang masuk ke
indonesi tidak dapat terbendung lagi.
Perubahan yang terjadi di segala bidang seringkali menimbulkan masalah pada
diri generasi muda. Kenyataannya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak
generasi muda yang mengalami ketergantungan pada obat-obat terlarang atau
Narkotika.hal ini merupakan penyebab terjerumusnya mereka kedalam
penyalahgunaan Narkotika obat-obatan serta zat-zat adiktif lainnya. Menurut
Harianto (1993), yang menjadi penyebab para remaja di Indonesia menggunakan
obat-obatan terlarang adalah karena sifat dari remaja yang ingin tau dan ingin
mencoba sesuatu yang belum ia ketahui, karena tekanan dari teman sebaya,
pertentangan dengan orang tua.
Generasai muda merupakan golongan yang rentang terhadap penyalah gunaan
Narkotika dan psikotropika, karena selain memiliki sifat dinamis, energik, selalu
ingin tau dan ingin mencoba. Dari berbagai media masa dapat diketahui bahwa
mereka yang menggunakan narkoba adalah berasal dari kalangan remaja,
mahasiswa dan pelajar serta eksekutif muda seperti dalam pemberitaan
beberapa media massa bahwa jumlah pelajar yang terjerat Narkotika dan obat-
obatan terlarang semakin besar tiap tahun kebanyakan adalah pelajar SLTA dan
SLTP, ini dengan ditunjukkannya daftar hitam sekolah-sekolah yang terjangkiti
Narkotika dan obat-obatan terlarang serta berdasarkan survei di lapangan
ditemukan fakta bahwa hampir 2000 siswa SLTP dan SLTA Jakarta positif
menggunakan Narkotika dan seper limanya adalah pengedar ( Gatra, 24 Februari
2006 ). Dan menyikapi masalah obat-obatan terlarang ini pemerintah berserta
aparat keamanan dan masyarakat secara tegas menyatakan perang terhadap
para pengedar, pemakai dan semuanya yang terlibat dalam peredaran obat-
obatan terlarang ini. Dibentuknya BNN ( Badan Narkotika Nasional ) dan unit
Restik ( Reserse Narkotika ) di jajaran kepolisian dan gerakan nasional anti
Narkotika sebagai wujud nyata dari sikap tegas tersebut, dibentuknya lembaga-
lembaga tersebut untuk mengantisipasi serta memberantas peredaran Narkotika
yang menyebabkan dampak meningkatnya kriminalitas sebagai akibat dari
pemakaian Narkotika, ini terungkap dalam satu kasus kriminalitas dimana
seorang adik tega membunuh kakaknya dengan sebilah pedang hanya gara-gara
kakak tidak mau dimintai uang saat adik sedang ketagihan, keduanya warga
kramat Jakarta ( Media Indonesia, 27 Mei 2006 ). Berbagai peristiwa diatas
sangat meprihatinkan kita semua. Bersamaan dengan hal ini maka berdirilah
lembaga rehabilitasi Narkotika yang bertujuan membina dan menyembuhkan
para korban obat-obatan terlarang. Dalam proses rehabilitasi Narkotika itu
semua dikembaliakan kepada para korban Narkotika, apakah memiliki keinginan
untuk sembuh dan hidup normal kembali atau sebaliknya. Dalam hal ini akan
kelihatan adanya kemampuan individu dalam menghadapi masalah, tekanan dan
tantangan yang dihadapi yang oleh Lazarus (1976) disebut sebagai Coping
behaviour yang disebut juga strategi Coping.

Secara umum Coping diatikan sebagai tuntutan baik eksternal maupun internal
yang timbul akibat situasi yang mengancam. Strategi Coping tidak hanya
meliputi bentuk-bentuk dorongan dan cara-cara menghadapi masalah yang tidak
realistis dan diluar kesadaran individu. Mulai dari bentuk usaha dalam
menghadapi masalah-masalah secara positif, patologis dan tidak evektif. Meraka
dapat menggunakan strategi mana yang dianggap paling sesuai dengan
masalah yang ada. Menurut Lazarus (1976) Coping dibedakan atas dua bentuk
yaitu bentuk direck action dan bentuk palliation. Direck action atau tingkah laku
langsung adalah mengatasi masalah dengan cara melakukan sesuatu untuk
menghadapi masalah, sedang pallition adalah tingkah laku pertahanan diri yang
disebut defense mechanism atau bentuk defensif.

C. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Mengapa para pengguna Narkotika dan obat-obat terlarang melakukan
strategi Coping ?
2. Bagaimana jenis-jenis masalah strategi Coping yang dilakukan oleh pengguna
Narkotika dan obat-obatan terlarang ?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi Coping pada pengguna
Narkotika dan obat terlarang ?

D. Tujuan Program
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan pengguna Narkotika dan obat-obatan terlarang yang
melakukan strategi Coping.
2. Mengetahui jenis-jenis strategi Coping yang dilakukan oleh pengguna
Narkotika dan obat-obatan terlarang.
3. Mencari faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi Coping tersebut.

E. Luaran Yang Diharapkan


Luaran yang diharapakan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana bentuk strategi Coping yang digunakan pengguna Narkotika dan
obat-obat terlarang, beserta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi
Coping tersebut. Memberikan informasi kepada lembaga rehabilitasi Narkotika
dan obat-obatan terlarang dalam meningkatkan kualitas dalam pembinaan.

F. Kegunaan Program
1. Diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran
bagi lembaga rehabilitasi Narkotika dan obat-obatan terlarang dalam
meningkatkan kualitas pembinaan maupun kuantitasnya.
2. Untuk mencari titik temu antara ilmu pengetahuan yang bersifat teori dengan
kenyataan yang ada di lapangan.
3. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penyusun
khususnya dan masyarakat pada umumnya, yang berkaitan dengan obat-obatan
terlarang.

G. Tinjuan Pustaka
A. Strategi Coping
1. Pengertian srategi coping
Menurut Roter (Anwar, 1993) bagaimana idividu menilai situasi yang dihadapi
dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian. Selanjutnya dimisalkan bahwa
individu dengan pusat pengendali internal akan cenderung menghadapi situasi
yang bersumber pada dirinya sendiri. Sebaliknya individu dengan pusat
pengendali ekternal akan cenderung menganggap bahwa setiap keadaan yang
dihadapi sebagai akibat dari luar dirinya. Semakin kabur informasi yang diterima
mengenai suatu hal, akan semakin jelas pengaruh karakteristik kepribadian
terhadap penilaian individu pada situasi yang dihadapi. Ada dua penilaian yang
mendahului munculnya strategi individu yaitu penilaian primer dan penilaian
sekunder. Melalui penilaian primer, individu akan menilai tingkat ancaman
permasalahan terhadap dirinya. Dalam penilaian sekunder, individu akan menilai
potensi dirinya untuk menghadapi masalah yang dinilai mengancam dirinya.
Selanjutnya individu akan memunculkan suatu strategi tertentu untuk mengatasi
masalah tersebut. Menurut Pestonjee (1992), coping memiliki tiga efek, yaitu
secara psikis, sosial dan fisik, adapun secara psikis, coping memberikan efek
pada kekuatan psikis (perasaan tentang konsep diri dan kehidupan), reaksi
emosi, tingkat depresi atau kecemasan, atau keseimbangan antara perasaan
yang positif atau negatif. Sedangkan secara sosial coping memberikan pengaruh
pada fungsi seperti keberadaan di dalam lingkungan dan sosialisasi serta
hubungan interpersonal, secara fisik dampak coping tidak terlalu besar yaitu
sekitar perkembangan dan kemajuan suatu penyakit.
Newman (1997), mengaitkan coping dengan tahap-tahap perkembangan.
Mereka berpendapat bahwa coping tidak hanya mempertahankan keseimbangan
dalam menghadapi ancaman, akan tetapi coping dapat dimengerti sebagai
tingkah laku yang mengikuti perkembangan dan pertumbuhan individu. Disini
ada pandangan bahwa tingkah laku coping sebagai usaha yang aktif untuk
menghadapi stress dan membuat solusi-solusi baru guna menghadapi tantangan
dari tiap-tiap tahap perkembangan dan konfrontasi antara individu dengan
lingkungan yang dihadapi sebagai komponen paling penting dalam coping.

2. Jenis-jenis strategi coping


Pada dasarnya strategi coping untuk mengatur stress dapat dimasukan dalam
dua dimensi umum yang terpisah satu sama lain, yaitu:
a. Maninfestasi coping. Maninfestasi coping dimana cara coping dapat dibagi
menjadi strategi kognitif dan behavioural. Teknik coping kognitif adalah
percobaan intrapsikis untuk menghadapi situasi stess dan konsekuensinya,
sedangkan coping behavioural terjadi dari tindakan-tindakan nyata untuk
mengatasi stress.
b. Fokus coping. Fokus coping dapat dibadakan menurut sasaran dari strategi
coping, yaitu coping yang difokuskan pada problem dan coping yang difokuskan
pada emosi. Coping yang difokuskan pada problem terutama dilakukan untuk
memodifikasi hubungan antar situasi dan person, yang menimbulkan stress.
Fokus emosi meliputi usaha untuk mengatur gangguan emosi yang disebabkan
oleh stressor. fungsi tingkah laku dibedakan menjadi dua yaitu coping tepusat
pada masalah (Problem Focused Coping/PFC) dan terpusat pada emosi (Emotion
Focused Coping/EFC).PFC adalah usaha untuk mengurangi stress yang
dirasakannya dengan mengahadapi masalah yang menimbulkannya secara
langsung, sedangkan EFC adalah usaha individu untuk mengurangi stress
dengan cara mempertimbangkan masalah afeksinya (Folkman dan Lazarus,
1985).
Lazarus dan Folkman (dalam Aldwin dan Revenson, 1987), mengemukakan
bahwa coping terdiri dari strategi yang bersifat kognitif dan behavioural. Strategi
tersebut terbagi menjadi dua bentuk, yaitu strategi yang digunakan untuk
mengatasi situasi yang menimbulkan stress (problem focused coping) dan
strategi coping untuk mengatasi emosi negatif yang menyertainya (emotion
focused coping).
Menurut Billing dan Moos ( dalam Robiah, 1999), serta Pearlin dan Schooler
(1978) strategi coping yang termasuk dalam problem focused coping dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Information seeking (pencarian informasi) yang meliputi usaha untuk
mendapatkan informasi yang relevan dengan masalah yang ada serta orang lain
yang dapat bertukar pikiran dan membantu menyelesaikan masalah.
b. Problem solving (pemecahan masalah), yang meliputi usaha untuk
memikirkan dan mempertahankan alternatif penyelesaian masalah yang
mungkin dilakukan dengan atau melakukan tindakan tertentu yang lebih tertuju
pada cara-cara penyelesaian masalah langsung.
Aldwin dan Reveson (1987), mengemukakan tiga macam strategi coping yang
termasuk dalam problem focused coping yaitu:
a. Controlless (kahati-hatian), yaitu individu memikirkan dan mempertimbangkan
secara matang beberapa aternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan,
meminta pendapat dan pandangan orang lain tentang masalah yang
dihadapinya, bersikap kehati-hatian sebelum melakukan sesuatu.
b. Instrumental action (tindakan instrumental), yang meliputi tindakan individu
yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta menyusun
langkah-langkah apa yang akan dilakukan.
c. Negotiation (negosiasi) yaitu usaha-usaha yang ditunjukkan kepada orang lain
yang terlibat atau menjadi penyebab masalah yang dihadapinya untuk ikut serta
memikirkannya atau menyelasaikan masalahnya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi coping


Setiap orang akan mereaksi situasi yang sama dalam bentuk yang berbeda-beda
dan dengan beberapa cara. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi coping
antara lain:
a. Jenis kelamin.
b. Umur dan perkembangan.
c. Tingkat pendidikan.
d. Stress dan kecamasan.
e. Situasi.
f. Persepsi, Intelektual dan kesehatan.
g. Situasi sosial ekonomi
Handayani (2000), dalam sekripsi kesarjanaannya menambahkan pula faktor-
faktor yang berperan dalam strategi menghadapi masalah, antara lain:
a. Konflik dan stress.
b. Jenis pekerjaan.

B. Pengguna Narkotika Dan Obat Terlarang


1. Pengertian Pengguna Narkotika Dan Obat Terlarang
Yang dimaksud dengan pengguna Narkotika dan obat terlarang adalah pemakai
narkoba secara tetap dan bukan untuk tujuan pengobatan atau digunakan tanpa
mengikuti aturan takaran yang seharusnya (Yatim dalam Hawari, 1996). Menurut
Joewono (1996), pengguna Narkotika dan obat terlarng adalah individu yang
menggunakan Narkotika dan obat terlarang dalam jumlah berlebihan, secara
berkala atau terus menerus berlangsung cukup lama sehingga dapat merugikan
kesehatan jasmani, mental dan kehidupan sosial.
Menurut Simanjuntak (1996) dalam mencari sebab timbulnya perbuatan jahat,
sebab yang tunggal atau unilateral pada dasarnya tidak ada, sebab-sebab itu
beraneka ragam satu sama lain berkaitan. Secara garis besar sebab yang
menimbulkan perbuatan jahat individu terletak dalam dua faktor yaitu faktor
intern dan faktor ekstern. Menurut Hawari (1996) pengguna Narkotika dan obat
terlarang adalah individu yang mengalami gangguan jiwa yaitu gangguan
kepribadian, kecemasan dan depresi, sedangkan penyalahgunaan Narkotika dan
obat terlarang merupakan perkembangan lebih lanjut dari gangguan jiwa
tersebut.

2. faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba


Faktor Intern
1. Personalitiy (kepribadian)
2. Intelegensi Quotient (IQ)
3. Kedudukan individu dalam keluarga
Faktor Extern
1. Lingkungan keluarga
2. Dishasmonisasi keluarga
3. Kurang pendidikan agama

3. Narkotika Dan Obat Terlarang


Narkotika dan obat terlarang yamg dilarang penyalahgunaannya oleh hukum
dan pemerintah karena merugikan kesahatan serta memicu tingginya angka
kriminalitas, antara lain:
a. Ecstasy
b. Heroin dan Opiat
c. Kokain
d. Amfetamin dan stimulasi lainnya
e. Kannabis
f. LSD (Lysergic Acid Dietthllamide)
g. Hipnasedatif
h. Minor Traquilliser

4. Dampak Penyalahgunaan Obat Terlarang


Berbagai dampak atau akibat yang ditimbulkan sebagai akibat dari
penyalahgunaan Narkotika dan obat terlarang menurut Hawari (1996) antara
lain:
a. ketergantungan fisik/jasmaniah (physical dependence) adalah suatu lama.
keadaan yang ditandai oleh gangguan jasmaniah yang hebat apabila pemberian
suatu obat dihentikan, keadaan ini timbul sebagai akibat hasil penyesuaian diri
terhadap adanya obat dalam tubuh secara terus menerus dalam jangka waktu
yang cukup
b. Keutungan psikis/psikologis (psychological dependence) adalah suatu keadaan
dimana suatu obat menimbulkan perasaan puas dan nikmat sehingga
mendorong seseorang untuk memakai lagi secara terus menerus atau secara
berkala sehingga diperoleh kesenangan/kepuasan.
Tanda-tanda umum orang yang menyalahgunakaan obat-obat terlarang antara
lain:
a. Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian.
b. Sering membolos, menurunkan disiplin dan nilai-nilai pelajaran
c. Menjadi mudah tersinggung, suka marah-marah sering menguap dan
mengantuk, malas, tidak mempedulikan hygiene dan lain-lain
d. Suka mencuri yang dimulai dengan barang-barang kecil untuk membiayai
obat-obat terlarang
e. Selalu memakai baju lengan panjang untuk menyembunyikan luka suntikan
pada lengannya dan suka memakai kaca mata hitam untuk menyembunyikan
perubahan wajah/ekspresi atau menghilangi/melindungi sinar tajam pada pupil
matanya akibat penyalahgunaan obat-obat terlarang.
H. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah diskriftif kuallitatif yaitu prosedur penelitian yang
menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku
dari orang-orang yang diamati (Moleong, 1990:3)
2. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah apa yang menjadi perhatian suatu penelitian (arikunto,
1988: 99). Objek penelitian ini adalah pengguna Narkotika dan obat-obat
terlarang yang berdomisili di Kotamadya Surakarta dan sekitarnya.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Kotamadya Surakarta, Propinsi Jawa Tengah.
4. Sumber Data Dan Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah mengambil sampel sebanyak empat
orang, karena sudah dianggap bahwa sampel sejumlah itu sudah mewakili
komunitas pengguna Narkotika dan obat-obatan terlarang. Sampel sejumlah
empat orang dimana subjek penelitian adalah sebagai berikut:
a. Usia 20-25 tahun
b. Pria
c. Pendidikan minimal SMA
d. Berdomisili di Kotamadya Surakarta dan sekitarnya
5. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara
terstruktur, kuesioner, dan observasi partisipan. Wawancara tersruktur adalah
wawancara yang mengungkapkan motivasi, maksud atau penjelasan dari
responden (Moelong, 1989:153). Kuesioner adalah metode pengumpulan data
yang berbentuk pertanyaan yang harus dijawab atau diisi oleh responden
dibawah pengawasan peneliti (Busono, 1988:74). Adapun observasi partisipan
adalah metode penelitian untuk mengumpulkan data yang dicirikan adanya
interaksi sosial antara peneliti dengan yang diteliti.
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis isi
(content analysis) yaitu telaah sistematis atau catatan-catatan atau dokumen
sebagai sumber data (Faisal, 1982:133).
7. Teknik Penyajian Data
Teknik penyajian data dalam penelitian ini menggunakan metode penyajian
informal. Metode penyajian informal merupakan metode penyajian data berupa
perumusan dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:145).

I. Jadwal Penelitian

Jenis kegiatan Tahun 2007/2008


Oktober November Desember Januari
Tahap persiapan
a. Studi Pustaka
b. Survei Awal
X

X
Tahap Penelitian
a. Penyedian Data
b. Klasifikasi Data
c. Analisis Data
X
X
X

Tahap Penyusunan
a. Penulisan Laporan
b. Penyerahan Laporan
X
X
J. Nama dan Biodata Dosen Pembimbing

1. Nama :
2. NIP/NIS/NPP/NIK :
3. Status Dosen :
4. Tempat / Tgl. Lahir :
5. Jenis Kelamin :
6. Pangkat/ Golongan :
7. Jabatan Struktural :
8. Jabatan Akademik :
9. Pendidikan Tinggi :
10. Alamat :

K. Jurtifikasi Anggaran
a. Peralatan
No Nama Alat Satuan Volum Harga Sastuan Jumlah(Rp)
1. Sewa Kumputer dan Printer Minggu 2 300.000 300.000
2. Biaya Lstrik - - - 350.000
3. Flasdisk Buah 2 150.000 300.000
Total Anggaran 950.000

b. Makalah

No Uraian Satuan Volume Harga satuan Jumlah(Rp)


1. Pembuatan Proposal Eksemplar 5 100.000 500.000
2. Pengetikan Laporan Lembar 30 1500 45.000
3. Pneggandaan Laporan Eksemplar 5 70000 350.000
4. Penjilitan Laporan Eksemplar 5 30.000 150.000
Total Anggaran 1.045.000

c. Bahan Habis Pakai

No Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan Jumlah(Rp)


1. Kartu Data Pak 2 80.000 160.000
2. Pembelian Buku Buah 4 100.000 400.000
3. Kertas HVS Rem 3 60.000 180.000
4. Tinta Print Buah 3 100.000 300.000
5. Film dan cuci cetak Rol 1 100.000 100.000
6. Vocer Pulsa Buah 4 200.000 800.000
Total Anggaran 1.940.000

d. Trasportasi
No Nama Barang Satuan Volume Harga Satuan Jumlah(Rp)
1 Trasportasi Lokal(Solo) Orang 3 600.000 1.800.000
Total Anggaran 1.800.000

Biaya Keseluruhan : Rp 5.735.000,00

Daftar Pustaka

Astuti, F. D.2001. Hubungan Antara Asertivitas dengan Prestasi Kerja Karyawan.


Skipsi (Tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Darwin, F. W. 1990. Pemilihan Strategi Coping Berdasarkan tipe Kepribadian A
dan B, Locus Of Control Serta Tingkat Intensivitas Stess. Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Darojat , Z . 1977 . Makalah . ecstasy dan Permasalahannya , Yogyakarta .
Srawung ilmiah IKIP Hlm. 1
Haryanto , 1993, Terapi Korban Penyalah Gunaan Narkotika dengan Pendekatan
Agama (studi kasus di pondok pesantren surabaya). Laporan Penelitian Fakultas
Psikologi UGM . Yogyakarta.
Hawari , D . 1996. Al-Quran : Ilmu Kedokteran dan Kesehatan jiwa. Yogyakarta.
Istono , M . 1999. Hubungan Antara Tipe Kepribadian hardinass dan
Kecenderungan Menggunakan Program Focussed Coping Pada Wiraniaga. Skripsi
(tidak di terbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.
Joewono ,s . 1976. Gangguan penggunaan Zat . Jakarta : Gramedia.
Kusumawardani , R . A .1998. Perbedaan Strategi Coping Dilihat Dari tingkat
pendidikan dan Peran Jenis kelamin. Skripsi. Surakarta : Fakultas Psikologi UMS
Lazarus , R, S . 1976. Pattern Of Adjusment. New York : MC Gronce Hill.
Lincoln , Y . S , And Egon, G.G.1985. Naturalistic Inquiry Beverly Hills : Sage
Publication.
Mursidi,A . 1996. Makalah Ecstasy dan Permasalahannya. Yogyakarta : Srawing
Ilmiah IKIP.
Moleong, L . J . 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung : Remaja Rusda
Karya.
Nasution , S . 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Pearlin , L , A , and Schooler,C.1987. The Structure Of Coping. Journal of Health
and Social Behaviour . 2, No.19. P : 2-21.
Pestonjee , DM. 1992. Stress and Coping (The indian experience). New Delhi :
Sage Publication India Pvt. Ltd.
Robi’ah , N . 1992. Hubungan Antara Lingkungan Pergaulan dan Penyesuaian Diri
dengan Strategi Coping pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan) Surakarta :
Fakultas Psikologi UMS.
Simanjuntak ,B . 1984. Latar Belakang Kenakalan Remaja . Bandung : Alumni.
Sasmita , R . A.1983. Problema Kenakalan Anak-anak Remaja. Bandung :
Armicio.
Zamindari , V . 1999. Hubungan Antara Efikasi diri dengan Focused Coping dalam
Menghadapi Masalah. Skripsi (tidak diterbitkan).Yogyakarta : Fakultas psikologi
UGM.
Widodo , E dan Mukhtar.2000. Kontruksi ke arah Penelitian Deskriptif.
Yogyakarta : anyrous.
Gatra , Mayoritas Pemakai Narkoba Murid SLTP dan SLTA : 24 Februari 2006.
Media Indonesia , Tragedi Pembunuhan Gara-gara Narkoba : 21 Mei 2006.