Anda di halaman 1dari 5

1

1. Keimanan
a. Hadis ini menjelaskan tentang rukun iman, rukun Islam dan ihsan, dengan kata lain
menjelaskan tentang Tauhid, Fiqih dan Akhlak. Beriman akan adanya hari kiamat
termnasuk rukun Iman. Datangnya hari kiamat tidak diketahui oleh siapapun kecuali
Allah, namun terdapat tanda-tanda akan terjadinya kiamat, di antaranya adalah jika anak
sudah banyak yang durhaka kepada orangtuanya. Iman ialah keyakinan terhadap rukun
iman yang diucapkan dengan lidah, dibenarkan dengan hati, dan dipraktikkan dengan
perbuatan. Islam ialah berserah diri atau tuduk kepada peraturan-peraturan yang
ditertapkan Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan semua
larangannya. Ihsan ialah memperbaiki atau memperindah setiap amal yang dilaksanakan,
misalnya shalat dalam konsep Fiqih adalah melaksanakan ibadah yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam dengan cara-cara yang telah ditentukan, namun kalau
menurut konsep Fiqih, shalat ditambah dengan kekhusyu’an/menghadirkan hati
mengingat Allah, seolah-olah sedang berhadapan dan melihat-Nya.
b. Kualitas dan kuantitas iman itu fluktuatif (kadang meningkat, kadang menurun. Di
antara hal yang menurunkan kualitas dan kuantitas iman adalah ketika berzina, ketika
minum khamar, dan ketia mencuri. Ketika melakukan ketiga hal tersebut, imannya
keluar dari dadanya, sebab jika dia beriman, tentu dia tidak akan melakukan hal
tersebut. Imannya akan kembali lagi setelah dia menyadari kesalahannya, lalu
menyesali dan bertobat kembali.
c. Rukun Iman yang disebutkan di atas adalah pokok-pokok keiman. Iman itu mempunyai
cabang-cabang yang memperindahnya atau yang menjadi tanda-tandanya. Di antara
cabang atau tanda-tanda orang beriman itu adalah rasa malu. Malu yang dimaksud
adalagh malu kepada Allah dan malu kepada manusia kalau berbuat dosa.

2. Hidup Bermasyarakat (Aktualisasi Iman)


a. Iman harus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya adalah
melalui solidaritas sesama mukmin, dengan mencintai dan saling menolong sesama
mukmin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Jika tidak mempunyai sifat ini,
maka dikatakan oleh Nabi bahwa orang tersebut imannya belum sempurna. Dalam hadis
yang lain disebutkan bahwa orang mukmin yang satu dengan yang lain adalah ibarat
sebuah bangunan yang saling menguatkan.
2

b. Aktualisai iman lainnya adalah dalam bentuk menjaga hak-hak tetangga dengan tidak
menyakitinya, baik dengan perkataaan ataupun perbuatan, memuliakan tamu, dan
berkata secara proporsional yaitu perkataan yang baik dan menyenangkan bagi
pendengarnya, atau diam sama sekali dari berkata yang tidak baik. Tetangga sebagai
orang dekat setelah anggota keluarga mempunyai hak-hak yang wajib dipenuhi, di
antara jika memasak maka lebihkan masakan untuk diberikan kepada tetangga, terutama
apabila tetangga tergolong kurang mampu. Tamu juga wajib dihormati, dan batas
bertamu yang wajib dilayani menurut para ulama adalah 3 hari tiga malam. Islam
mengatur adab penerim tamu dan orang yang bertamu. Penerima tamu hendaknya
jangan merasa keberatan dengan kehadiran tamu, misalnya karena merasa tamu menjadi
beban ekonomi karena harus menjamu. Tamu datang membawa dan memakan
rezekinya sendiri. Sikap diam (tidak bicara) dilarang jika diam dari kebenaran, misalnya
mengetahui sesuatu namun tidak mau bicara sebagai saksi dalam pengadilan.
c. Aktualisasi iman yang lainnya adalah memberikan rasa aman bagi orang lain, dengan
tidak menyakiti sesama muslim baik dengan tangannya ataupun lidahnya melalui
umpatan, makian, ghibah, namimah dan sejenisnya. Dalam hal-hal tertentu, ghibah
dibolehkan, misalnya ghibah dengan tujuan memberikan penjelasan atau duduk perkara
di muka hakim (Pengadilan), ghibah untuk memperingatkan orang lain misalnya
berkata: “Hati-hati, si A itu suka mencuri”. Aktualisasi iman lainnya adalah hijrah atau
beralih atau meninggalkan sesuatu yang dilarang, atau beralih dari sesuatu yag kurang
baik kepada yang lebih baik.

3. Ikhlas Beramal
a. Motivasi setiap perbuatan akan menentukan nilai pahalanya. Jika motivasinya selain
Allah, maka tidak ada nilainya/pahalanya, sebab Allah akan memberikan imbalannya
sesuai dengan morivasinya. Jika seseorang beribadah seperti melakukan hijrah
motivasinya adalah mendapatkan keridhaan / pahala dari Allah, maka Allah akan
memberikan apa yang menjadi niatnya, namun jika niatnya agar memperoleh kekayaan,
maka Allah juga akan memberikan kekayaan kepadanya, namun tidak memberikan
pahala kepadanya, disertai ancaman siksa karena tidak ikhlas dalam beramal. Sebab
perbuatan yang tidak ikhlas dalam beramal termasuk syirik yang tersembunyi. Jika
seseorang beriniat ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan pahalanya, dan
memberikan pula hal-hal yang bersifat keduniaan, namun jika motivasinya hanya
3

masalah keduniaan, maka hanya mendapatkan hal-hal keduniaan tersebut, tidak


mendapatkan pahala, dan bahkan akan mendapat siksa. Hadis ini berlaku umum dalam
hal setiap ibadah, bukan hanya dalam masalah hijrah saja. Al-‘Ibratu bi ‘umuumil
Lafzhi, laa bi khushushis Sabaab.
b. Rasul saw menjelaskan bahwa hal yang paling beliau khawatirkan dari umatnya adalah
syirik kecil (tersembunyi), yaitu Riya (tidak ikhlas), sebab syirik ini (riya) banyak orang
yang tidak menyadarinya, dan orang lain tidak mengetahuinya. Kalau syirik yang nyata,
seperti menyembah selain Allah, bisa dilihat oleh orang lain sehingga bisa menegur atau
membetulkannya, dan pelakunya sendiri menyadari atau mengetahui bahwa hal itu
adalah terlarang. Namun riya, pelakunya sendiri tidak menyadari bahwa perbuatan itu
adalah syirik. Riya termasuk syirik sebab menyekutukan Allah dalam beribadah, seakan
ada yang lain selain Allah yang dapat memberikan pahala, atau ada tujuan lain dari
ibadah yang dilakukan selain Allah, padahal tujuan ibadah adalah semata-mata untuk
mencapai keridaan-Nya.

4. Tingkah Laku Terpuji


a. Di antara akhlak terpuji yang merupakan buah dari iman adalah bersih hati, dan lisan
yang jujur. Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari dosa, prasangka jahat, dengki,
dan dendam/kebencian terhadap sesma muslim.
b. Sifat jujur, banyak sekali manfaatnya dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Di dunia,
orang yang jujur disukai semua makhluk, dan di akhirat didi Allah dicacat sebagai
orang yang jujur dan dijanjikan masuk sorga, begitu pula sebaliknya bagi orang yang
tidak jujur. Menurut para ulama, dalam hal tertentu, dusta dibolehkan misalnya untuk
melindungi seseorang dari orang yang ingin membunuhnya secara zalim.

5. Dosa-dosa Besar
a. Di antara dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh anak karena takut
anak makan bersamanya, dan berzina dengan istri tetangga. Membunuh anak adalah
dosa besar, namun membunu anak karena takut anak makan bersamanya adalah lebih
besar lagi dosanya, sebab dia menyekutukan Allah karena menganggap dialah yang
memberi rezeki makanan kepada anaknya, padahal Allahlah yang memberi rezeki
kepada setiap makhluk-nya, bukan orangtua kepada anaknya. Berzina adalah dosa
besar, namun berzina kepada istri tetangga lebih besar lagi dosanya, sebab tetangga
4

adalah orang yang harus dihormati dan dijaga hak-haknya sebagaimana dijelaskan pada
hadis sebelumnya.
b. Dalam hadis yang lain disebutkan yang termasuk dosa-dosa besar adalah menyekutukan
Allah, durhaka kepada kedua orangtua, membunuh tanpa hak, dan kesaksian palsu.
Orang yang membunuh dengan hak, seperti algojo yang melaksanakan qisas, tidaklah
berdosa, sebab ini adalah melaksanakan perintah Allah.
c. Tujuh hal yang merusak keimanan: 1. Syirik 2. Sihir 3. Membunuh tanpa hak 4.
Memakan harta anak yatim secara zalim 5. Memakan harta hasil riba. 6. Lari dari
medan perang, dan 7. Mrenuduh orang mukmin berbuat zina. Sihir dilarang sebab pada
hakikatmya melakukan sihir adalah bersekutu dengan jin dan setan, padahal Allah
melarang menjadikan mereka sebagai sekutu dan penolong. Membubuh dilarang sebab
setiap orang mempunyai hak hidup, dan Allah mempunyai hak disembah dari orang
tersebut, maka membunuh berarati merampas hak makhluk dan hak ALLAH. Lari dari
medan perang adalah boleh jika bertujuan untuk mengatur siasat dan strategi perang.

6. Etos Kerja
a. Amal ibadah yang utama di antaranya adalah: Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
jihad fi sabilillah, dan Haji yang Mabrur. Jihad fi sabilillah bisa dalam bentuk perang
melawan kaum kafir dengan fisik, pikiran atau harta, bisa pula di medan pendidikan
bagi guru agama, da’i atau pendakwah ke jalan Allah.
b. Amal lainnya yang utama adalah: Sedekah, sifat iffah, dan yang memberi lebih utama
dari yang meminta. ‘Iffah adalah merasa cukup dengan apa yang sudah ada dan
mensyukurinya. Yang memberi (tangan yang di atas) lebih utama apabila yang diberi
adalah orang yang meminta-minta (pengemis). Namun jika yang diberi tidak meminta,
maka keduanya sama, sebab yang memberi diberi keutamaan karena ada yang mau
menerimanya, dan yang menerima diberi keutamaan karena dia menyebabkan yang
memberi mendapat keutamaan.
c. Orang mukmin yang berkualitas lebih baik dari orang mukmin yang krang berkualitas,
baik kualitas keilmuannya, ibadahnya, maupun tindakan sosialnya. Karena itu,
hendaklah setiap mukmin menjadi yang terbaik dan paling bermanfaat bagi mukmin
lainnya dengan bersikap optimis, dan selalu memohon kepada Alah agar menjadi
mukmin yang terbaik, serta tidak merasa lemah (pesimis). Jika aterjadi sesuatu yang
5

tidak diinginkan, maka dia tidak bekata: Jika aku berbuat begini, maka hal ini tidak
akan terjadi hal ini, tapi dia berkata: Semuanya sudah ditakdirkan Allah.
d. Amal yang paling utama lainnya adalah: Hasil kerja sendiri, dan jual beli yang legal.
Dalam hadis-hadis ini Nabi saw berbeda-beda memberikan jawaban tentang amal yang
paling utama. Semuanya saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Nabi saw
memberikan jawaban sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sahabat yang bertanya. Jika
dilihat Nabi yang bertanya adalah orang yang tubuhnya kuat dan suka berperang, maka
baginya yang paling utama adalah jihad fi sabilillah. Jika yang bertanya adalah orang yang
berjiwa bisnis, maka jawaban Nabi adalah jual beli. Dalam hadis lain, diceritakan seorang
yang ingin ikut berperang, namun ibunya sakit dan tiada yang menunggu, maka Nabi
mengatakan jihadmu adalah melayani ibumu. Begitu juga seorang perempuan jihadnya
adalah di rumah tangga, karena sesuai dengan kondisi dan tabiatnya. Artinya, perempuan
boleh saja berjihad di medan perang, bukan hanya di rumah tangga kalau kondisi dan
situasinya sesuai.