Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk
memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang
lebih baik. Kenyataannya, para pelajar seringkali tidak mampu mencapai
tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai
mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan
belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar. Sementara itu,
setiap siswa dalam mencapai sukses belajar, mempunyai kemampuan yang
berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan
tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan, sehingga menimbulkan masalah
bagi perkembangan pribadinya.
Menghadapi masalah itu, ada kecendrungan tidak semua siswa mampu
memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang
baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah
yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai
masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat.
Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus berperan turut membantu
memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Seperti diketahui, sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal sekurang-kurangnya memiliki 3 fungsi
utama yaitu :
• fungsi pengajaran, yakni membantu siswa dalam memperoleh
kecakapan bidang pengetahuan dan keterampilan.
• fungsi administrasi,
• fungsi pelayanan siswa, yaitu memberikan bantuan khusus
kepada siswa untukmemperoleh pemahaman diri, pengarahan diri
dan integrasi sosial yang lebih baik, sehingga dapat menyesuaikan
diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.

1
Setiap fungsi pendidikan itu, pada dasarnya bertanggung jawab
terhadap proses pendidikan pada umumnya. Termasuk seorang guru yang berdiri
di depan kelas, bertanggung jawab pula atau melekat padanya fungsi
administratif dan fungsi pelayanan siswa. Hanya memang dalam pendidikan,
pada dasarnya sulit memisahkan secara tegas fungsi yang satu dengan fungsi
yang lainnya, meskipun pada setiap fungsi tersebut mempunyai penanggung
jawab masing-masing. Dalam hal ini, guru atau pembimbing dapat membawa
setiap siswa kearah perkembangan individu seoptimal mungkin dalam
hubungannya dengan kehidupan sosial serta tanggung jawab moral. Salah
satu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas dan
peranannya ialah kegiatan evaluasi.
Penelitian oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus
dalam penelitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan
bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kesulitan belajar menulis, 9 %
mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan
berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar
mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang.
Melihat fenomena pendidikan diatas, evaluasi diagnostik dianggap perlu
dan memiliki fungsi atau peranan yang sangat penting untuk mengatasi kesulitan
belajar siswa terutama untuk mngetahui tingkat kemampuan belajar siswa secara
individual. Untuk itulah penulis memilih evaluasi diagnostik sebagai tema
tulisannya dalam rangka menyelasikan tugas akhir Mata Kuliah Evaluasi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka penulis
merumuskan masalah yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan evaluasi diagnostik?
2. Bagaimanakan kedudukan evaluasi diagnostik dalam evaluasi?
3. Apakah perbedaan evaluasi diagnostik, formatif dan sumatif?
4. Bagaimanakah peran dari evaluasi diagnostik?

2
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memaparkan peranan atau fungsi penting dari evaluasi diagnosis
2. Membangun kesadaran sekolah dan guru khususnya agar tidak menafikkan
peranan penting dari evaluasi diagnosis serta dapat menyelenggarakannya
pada sekolah masing-masing

D. Manfaat
Berdasarkan tujuan penulisan di atas, maka penulis mengharapkan tulisan
ini dapat bermanfat bagi :
1. Mahasiswa : sebagai salah satu referensi ilmu yang kiranya dapat
diaplikasikan pada saat mengajar nantinya.
2. Sekolah dan guru : sebagai salah satu referensi ilmu dan motivator yang
kiranya dapat mendorong pihak sekolah terutama guru sebagai tenaga
pengajar untuk menyelanggarakan evaluasi diagnostik pada sekolahnya
masing-masing.

3
BAB II
LANDASAN TEORITIS

Menurut Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah


proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara
pemberian tes kepada pembelajar.
Karena merupakan kelompok kesulitan yang heterogen, kesulitan belajar
memiliki banyak Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative
Evaluation of Student Learning) dikemukakan, bahwa: “Evaluasi adalah
pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan
ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau
anak didik”.
Secara garis besar Abdurrahman M. (1999) mengklasifikasikan kesulitan
belajar kedalam dua kelompok, yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan
perkembangan dan kesulitan belajar akademik.

4
BAB II
ISI

A. Evaluasi Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui
kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga
dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam
beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir
pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input.
Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal
atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses
evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang
masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara
dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi
diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi
yang telah dipelajarinya.

B. Kedudukan Evaluasi Diagnostik Dalam Evaluasi.


Posisi evaluasi dalam pembelajaran dapat penulis gambarkan secara jelas
melalui skema berikut:

5
Dari skema terlihat bahwa evaluasi tetap mengacu kepada rencana awal.
Dia tidak dibuat berdasarkan proses perkembangan pembelajaran yang
berlangsung, tapi berdasarkan perencanaan awal. Proses pembelajaran hanya
berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan. Mereka yang gagal harus mengikuti
proses kembali, sedangkan yang sudah berhasil, dapat mengikuti tahap
berikutnya.
Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga fungsi besar evaluasi. Tagliante
(1996) menyebutnya "Trois grands fonctions de l'évaluation." Tiga fungsi itu
adalah fungsi pronostik, fugsi diagnostik, dan fungsi sertifikasi.
Pertama, fungsi pronostik, yaitu tes awal proses pembelajaran untuk
mengetahui kondisi obyektif dari pembelajar. Hasil yang diperoleh digunakan
untuk menentukan dimana posisi pembelajar, misalnya apakah dia termasuk
pemula dalam sebuah materi atau dia sudah pantas menerima kelanjutan materi
tersebut dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Fungsi pronostik juga berguna untuk memprediksi kompetensi lanjutan
yang mungkin dapat dicapai oleh pembelajar. Artinya, dengan hasil tes yang ada,
dapat direncanakan kompetensi apa yang dapat dikuasai pada tahap berikutnya.
Menyamaratakan kemampuan pembelajar pada awal proses akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan pembelajar itu. Selaku pembelajar, tiap
individu berbeda-beda kemampuan dasarnya. Perbedaan itu harus dicermati dan
diakomodir dengan memberikan perlakuann yang berbeda juga. Perbedaan itu
meliputi pemberian materi lanjutan yang akan dibahas, penugasan, dan
penghargaan. Penghargaan di sini lebih bersifat penguatan (réinforcement). Ini
berhubungan dengan kejiwaan. Penghargaan minimal yang bisa diberikan adalah
dengan "ucapan selamat" atas usahanya untuk mengetahui sesuatu lebih cepat dari
orang lain.
Dari segi proses dan pemilihan materi bahasan memang sedikit agak
menyulitkan pengajar dalam mengelola kelas. Namun itu akan berakibat
kondusifnya suasana kelas yang dapat mengarahkan pembelajarnya lebih
berprestasi lagi. Akan tercipta situasi yang penuh dengan kompetisi sehat yang

6
menjadi pemicu bagi setiap individu untuk tampil. Atmosfer akademik dalam
suasana saling berkompetisi sangat berkontribusi terhadap pencapaian target
pembelajaran. Memberi perlakuan yang sama berarti kurang menghargai
kemampuan seseorang yang lebih dari yang lainnya. Bagi pengajar, menyamakan
atau generalisasi ini akan mempermudah dia dalam bertugas. Namun efek yang
bisa timbul adalah munculnya kebosanan dan rasa pesimis dari mereka yang
memiliki kemampuan lebih.
Yang kedua, fungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang menganalisis
kemampuan pembelajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Fokusnya
adalah membantu mereka bagaimana supaya mampu memiliki kompetensi sesuai
dengan yang diharapkan. Evaluasi ini berlangsung sepanjang proses
pembelajaran. Tujuan utamanya adalah membantu pencapaian tujuan
pembelajaran itu sendiri. Evaluasi diagnostik, memungkinkan seorang pengajar
mempertahankan metode yang digunakan atau segera menggantinya. Fungsi ini
dapat diwujudkan dalam bentuk tes formatif, yang mengevaluasi pembelajar pada
setiap sub pokok bahasan, atau sub unit suatu pelajaran. Jadi, tes itu tidak hanya
dilakukan sekali diakhir suatu periode pembelajaran, melainkan ada tes-tes
pengontrol atau pendamping dari tes akhir. Bentuk dan pelaksanaannyapun tidak
sekaku yang ada selama ini, seperti mid semester, tidak, tapi bisa lebih dinamis,
yang sedemikian rupa bisa dirancang oleh pengajar.
Yang ketiga, fungsi sertifikasi. Evaluasi saat ini berguna untuk
menyatakan kedudukan atau peringkat seseorang dalam sebuah pembelajaran.
Evaluasi dilaksanakan di akhir sebuah periode pembelajaran, umpama di akhir
semester, program, paket, atau tingkat. Ujian DELF dan DALF juga termasuk di
sini, walaupun tidak ada proses pembelajaran resmi sebelumnya. Namun, dia
lebih kepada pensertifikasian tingkat kemampuan bahasa Prancis seseorang.
Fungsi sertifikasi dalam evaluasi pembelajaran sama sekali tidak menggiring
pembelajar untuk meningkatkan kemampuan akademisnya, karena dia
dilaksanakan terakhir. Tujuannya hanya menyatakan status dan mendapatkan
laporan hasil belajar atau sertifikat
Pada tulisan ini, penulis ingin memperdalam bahasan bagaimana fungsi

7
diagnostik sebuah evaluasi bisa terwujud. Fungsi pronostik dan sertifikasi tidak
terlalu banyak berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajar. Konsep fungsi
diagnostik menurut Tagliante (1996) adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi bertujuan untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam
mengikuti pelajaran, yang selanjutnya akan diberikan perlakuan
yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapainya.
2. Evaluasi berlangsung selama proses pembelajaran.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merespon dua prinsip itu adalah :
Pertama, untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam mencapai tujuan
pembelajaran, seorang pengajar dapat merancang sebuah tes yang benar-benar
valid. Valid itu maksudnya adalah mengukur apa yang hendak diukur
(Arikunto,1989). Validitas benar-benar berorientasi kepada hasil tes.
Wesche dalam Paul Cyr (1998) menjelaskan bahwa validitas itu merupakan
proses membandingkan kompetensi pembelajar dengan kompetensi harapan yang
telah di standarkan. Dalam pengertian yang lebih sedehana, dapat dilihat kamus
Robert Poche. Disana dinyatakan bahwa valid (validation) adalah kemampuan
dalam melakukan sesuatu. Jadi pengajar tak perlu membuat validitas soal sampai
menggunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson.
Cukup dengan langkah-langkah sederhana sebagai berikut :
1. Tetapkan tujuan pembelajaran.
2. Tentukan kompetensi yang harus dimiliki dengan mencantumkan
standar minimal.
3. Tentukan jenis tesnya, lisan atau tertulis.
4. Bandingkan hasil tes dengan standar.
5. Temukan titik lemah pembelajar.
6. Buat Kesimpulan.
Hal yang akan diungkap dalam kesimpulan hanya dua, sesuai skema di atas,
yaitu berhasil atau gagal. Kalau berhasil dapat melanjutkan materi pada sesi
berikutnya, dan kalau gagal, mengulang. Yang dikatakan berhasil adalah mereka
yang memperoleh skor memenuhi standar minimal dari kompetensi yang
ditetapkan. Dan proses mengulang bagi yang gagal tidak mesti dia harus kuliah

8
tambahan lagi, misalnya ada kuliah sore, tidak. Tapi, harus ada kebijakan
pengajar, umpama pemberian tugas atau yang lainnya.
Kedua, evaluasi dilaksanakan sepanjang proses pembelajaran.
Bentuknyapun tidak sekaku dan seformal tes yang ada. Pengajar punya kebebasan
menentukan bentuk evaluasinya. Yang penting di sini adalah perencanaan dan
pengorganisasiannya. Jadi pembelajaran itu tidak hanya menganalisis, diskusi,
dan presentasi selama satu semester, tapi ada evaluasi yang benar-benar
mengiring pembelajar agar dia berhasil dalam mencapai tujuan.

C. Perbedaan Evaluasi Diagnostik, Formatif Dan Sumatif.


Ada perbedaan dalam konsep dasar evaluasi diagnosis, formatif, maupun
sumatif. Adapun perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Perbandingan Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif

Ditinjau
Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif
dari
Fungsinya • Mengelompo • Umpan • Memberi
kkan siswa balik bagi tanda telah
berdasarkan siswa, mengikuti
kemampuann guru suatu
ya maupun program,
program dan
• Menentukan untuk menentukan
kesulitan menilai posisi
belajar yang pelaksana kemampuan
dialami an suatu siswa
unit dibandingka
program n dengan
anggota
kelompokn
ya
Mengukur tujuan
Cara • Memilih tiap- • Mengukur
memilih instruksional umum
tiap semua
tujuan keterampilan tujuan
yang prasarat instruksio
dievaluasi nal
• Memilih khusus
tujuan setiap

9
program
pembelajaran
secara
berimbang

• Memilih
yang
berhubungan
dengan
tingkah laku
fisik, mental
dan perasaan
Skoring • Menggunaka • Menggun • Menggunak
(cara n standar akan an standar
menyekor) mutlak dan standar relatif
relatif mutlak

D. Peran Evaluasi Diagnostik


Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau
yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar
Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari
segi input, proses, ataupun out put belajarnya.
W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin
dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu :
1. faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu
sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat,
kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya;
dan
2. faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan
sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial
dan sejenisnya.
Prognosis merupakan langkah untuk memperkirakan apakah masalah yang
dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif
pemecahannya. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih
dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang

10
kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.
Dengan tes diagnosis itu akan dapat diketahui letak kelemahan seorang
siswa. Jika kelemahan sudah ditemukan, maka guru atau pembimbing sebaiknya
mengetahui hal-hal apa saja yang harusdilakukan guna menolong siswa tersebut.
Tes dignostik kesulitan belajar sendiri dilakukan melalui pengujian dan studi
bersama terhadap gejala dan fakta tentang sesuatu hal, untuk menemukan
karakteristik atau kesalahan-kesalahan yang esensial. Tes dignostik kesulitan
belajar juga tidak hanya menyangkut soal aspek belajar dalam arti sempit yakni
masalah penguasaan materi pelajaran semata, melainkan melibatkan seluruh
aspek pribadi yang menyangkut perilaku siswa.
Tujuan tes diagnostik untuk menemukan sumber kesulitan belajar dan
merumuskan rencana tindakan remidial. Dengan demikian tes diagnostik
sangat penting dalam rangka membantu siswa yang mengalami kesulitan
belajar dan dapat diatasi dengan segera apabila guru atau pembinbing peka
terhadap siswa tersebut. Guru atau pembimbing harus mau meluangkan
waktu guna memerhatikan keadaan siswa bila timbul gejala-gejala kesulitan
belajar. Agar memudahkan pelaksanaan tes diagnostik, maka guru perlu
mengumpulkan data tentang anak secara lengkap, sehingga penanganan
kasus akan menjadi lebih mudah dan terarah.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang dilaksanakannya ujian
akhir nasional (UAN) dengan standar nilai 5,01, boleh jadi bagi sebagian siswa
sangat berat. Salah satu antisipasinya pihak sekolah atau guru, harus memberi
perhatian khusus terhadap perbedaan kemampuan individual siswa tersebut.
Perhatian yang dimaksud yakni dengan menyelenggarakan tes diagnostik. Jika tes
itu dilaksanakan dengan efektif dan efesien, penulis yakin permasalah perbedaan
kemampan siswa akan terselesaikan dengan baik

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulkan sebagai
berikut:
1. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui
kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa
sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.
2. Fokus evaluasi diagnosis adalah membantu mereka bagaimana supaya
mampu memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi ini
berlangsung sepanjang proses pembelajaran.
3. Beberapa karakteristik evaluasi diagnosis yang memebadakannya dengan
evaluasi yang lain adalah :
 Berdasarkan fungsi ; mengelompokkan siswa berdasarkan
kemampuannya, menentukan kesulitan belajar yang dialami.
 Cara memilih tujuan yang dievaluasi ; memilih tiap-tiap
keterampilan prasarat, memilih tujuan setiap program pembelajaran
secara berimbang, memilih yang berhubungan dengan tingkah laku

12
fisik, mental dan perasaan.
 Skoring (cara menyekor) ; menggunakan standar mutlak dan
relatif.
4. Fungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang menganalisis kemampuan
pembelajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran untuk
menemukan sumber kesulitan belajar dan merumuskan rencana
tindakan remidial.

B. SARAN
Berdasarkan pemaparan masalah di atas, ada beberapa saran yang dapat
diberikan penulis :
1. Perlu diadakan penelitian yang memfokuskan pada bagaimana pengaruh
penyeelenggaraan evaluasi diagnostik terhadap peningkatan prestasi
akademik siswa.
2. Berdasarkan pada pentingnya pelaksanaan evaluasi diagnosis bagi siswa,
disarankan agar tiap sekolah dan guru khususnya untuk menyelenggarakan
evaluasi diagnosis di sekolah masing-masing.

13
DAFTAR PUSTAKA

Nawangsari dkk. 2009. Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan


Belajar pada Siswa Sekolah Dasar di Surabaya. Surabaya ; Universitas
Airlangga.

Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:


Penerbit Rineka Cipta.

Yusuf, M. Sunardi, Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan bagi Anak


dengan Problema Belajar. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri.

Karyadi . 2009. Diagnosa Kesulitan Belajar. http: //karyadi24.wordpress.com.


diakses pada tanggal 20 Maret 2009.

14
15