Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang


Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya. Sehingga
tugas makalah ini dapat saya selesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Dalam tugas ini saya mengambil judul “Penyakit Pada Tanaman Kelapa
Sawit” dengan harapan tugas ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan
referensi bagi para penanam kelapa sawit, khususnya kita sebagai
mahasiswa. Agar kita dapat lebih mengena penyakit apa yang sering
menyerang tanaman kelapa sawit. Tugas makalah ini merupakan salah
satu tugas untuk matakuliah Bahasa Indonesia.
Saya berterima kasih kepada Imam Suhardi selaku dosen Bahasa
Indonesia yang telah memberikan tugas, bimbingan serta acuan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini. Saya juga berterima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu baik materil maupun moril sehingga
makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu.
Akhir kata penulis hanya bisa berharap dengan adanya makalah
ini dapat menjadi bahan bacaan dan pertimbangan bagi para penanam
kelapa sawit, mahasiswa dan bagi masyarakat umum. Khususnya bagi
penulis sendiri, mengingatkan bahwa tidak hanya manusia saja yang
dapat terkena penyakit tumbuhan pun dapat terkena penyakit. Terlebih
lagi ini merupakan salah satu tanaman yang sangat berpotensi besar
dalam perekonomian kita.

Purwokerto, 20 Desember 2008

Penulis

1
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar belakang masalah

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang


memberikan kontribusi penting pada pembangunan ekonomi Indonesia,
khususnya pada pembangunan agroindustri. Luas perkebunan kelapa
sawit di Indonesia tahun 1996 telah mencapai 2 juta ha dengan tingkat
produksi terbesar kedua setelah Malaysia. Pada tahun 2010 luas
perkebunan kelapa sawit direncanakan akan mencapai 7 juta ha,
sehingga Indonesia diharapkan akan menjadi negara penghasil minyak
sawit terbesar di dunia. Dalam rangka mengantisipasi dan mendorong
perkembangan kelapa sawit serta mencegah berbagai masalah yang akan
timbul, diperlukan adanya wahana untuk kerjasama yang baik antra
peneliti, pengembang, industriawan, pengusaha, peminat dan pelaku
lainnya di bidang perkelapa sawitan, baik dari kalangan pemerintah,
perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan maupun dari
kalangan industri, pengusaha dan peminat serta pelaku lainnya. Hal ini
penting untuk dapat menjamin keberlanjutan pengembangan perkelapa-
sawitan di Indonseia.
Dalam rangka mencapai proyeksi dan mengantisipasi produksi
minyak sawit yang akan berlimpah, diperlukan kerjasama yang baik antara
para peneliti, peminat, pemerhati dan pelaku, baik dari kalangan
pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian maupun dari kalangan
swasta untuk pengembangan perkelap-sawitan di Indonesia. Hal ini
penting untuk menjamin keberlanjutan perkelapa-sawitan di Indonesia,
secara terpadu dari sektor hulu sampai sektor hilir. Dengan demikian

2
dapat diharapkan sustainabilitas produksi dapat terjamin dan nilai tambah
industri hilir pengolahan sawit dapat dinikmati oleh bangsa Indonesia.
Namun ada gangguan yang mungin dapat menyebabkan produksi
pertanian kita dalam hal ini kelapa sawit menjadi turun. Itu di sebabkan
oleh penyakit pada tanaman. Gangguan tersebut akan masih terasa jika
digunakan kultivar tanaman tertentu secara luas dengan teknologi maju.
Banyak diantara kultivar tanaman yang dapat berproduksi tinggi tidak
tahan terhadap penyakit-penyakit penting. Atau walaupun dapat
diketemukan kultivar yang tahan hanya terbatas terhadap satu atau
beberapa macam penyakit saja sedangkan sering terjadi, satu macam
tanaman dapat terganggu pertumbuhannya oleh berbagai macam
penyakit. Gangguan penyakit tidak. saja terbatas di pertanaman, tetapi
terdapat pula diternpat penyimpanan, ditempat pemasaran dan
sebagainya. Jadi akan sangat berbahaya sekali usaha peningkatan
produksi pertanian, jika tidak memperhatikan terhadap kemungkinan
adanya gangguan oleh penyakit tumbuhan.

I.II Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk


1. Memberikan informasi bagi para penanam tanaman kelapa sawit
penyakit dan hama apa yang dapat menyerang tanaman kelapa
sawit.
2. Sebagai sebuah referensi bagi para mahasiswa yang ingin belajar
tentang penyakit tanaman kelapa sawit.

I.III Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah penulis merumuskan masalah sebagai


berikut :
1. Bagaimana Sejarah singkat Kelapa sawit ?

3
2. Apa itu kelapa sawit ?
3. Apa penyakit yang biasa menyerang kelapa sawit ?

4
BAB II
LANDASAN TEORI

Penyakit pada tanaman adalah berupa


jamur/bakteri/virus/nematoda yang merusak tanaman (akar, batang, daun,
bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan
tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasilnya rendah.
Fitopatologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari
penyakit tumbuhan. Berasal dari gabungan kata bahasa Yunani: phyton
berarti tumbuhan; pathos berarti sakit atau menderita; logos berati ilmu
atau pengetahuan. Secara biologis tumbuhan dikatakan sakit bila tidak
mampu melakukan kegiatan fisiologis secara normal, yang meliputi
respirasi, fotosintesis, penyerapan gizi yang diperlukan dan lain-lain.
Selain itu tanaman sakit juga tidak dapat menunjukkan kapasitas
genetiknya, seperti berdaya hasil tinggi, morfologi yang normal dan lain-
lain.
Studi ilmu penyakit tumbuhan meliputi studi tentang penyebab
penyakit, studi tentang interaksi antara penyebab penyakit - tumbuhan
inang dan lingkungan, studi tentang fisiologi tanaman sakit. Studi penyakit
tumbuhan dalam populasi tumbuhana disebut epidemiologi.
Berdasarkan penyebabnya penyakit tumbuhan dikelompokkan
dalam:
1. penyakit yang disebabkan oleh penyebab non hidup (abiotik),
penyakit demikian bersifat tidak menular (noninfectious)
2. penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jasad hidup (biotik), yang
bersifat menular.

Penyebab penyakit abiotik antara lain adalah kekurang unsur hara,


suhu yang sangat rendah ataupun sangat tinggi, pencemaran (polusi).

5
Penyekait tumbuhan biotik antara lain adalah jamur (fungi), bakteri,
fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan parasitik.
Di Indonesia, kegiatan penelitian penyakit tumbuhan telah
berlangsung sejak era penjajahan Belanda (Hindia Belanda). Penelitian
banyak ditujukan pada penyakit tanaman perkebunan yang diusahakan
oleh Belanda, antara lain tebu, tembakau, karet, kopi, kakao dan lain-lain.
Peneliti dalam bidang ilmu ini kebanyakan adalah orang-orang
Belanda, sehingga saat awal kemerdekaan terjadi kekurangan tenaga
peneliti. Salah satu ahli ilmu penyakit tumbuhan pada awal kemerdekaan
adalah Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwijaya, seorang Guru Besar pada Fakultas
Pertanian Universitas Indonesia di Bogor yang sekarang menjadi Institut
Pertanian Bogor. Selanjutnya jumlah ahli ilmu penyakit tumbuhan makin
bertambah banyak, dan pada tanggal 3 - 5 Agustus 1970 mengadakan
pertemuan di Perkebunan Teh Pagilaran (milik UGM, dan membentuk
organisasi profesi bernama Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI).
Setiap dua tahun PFI menyelenggarakan Kongres dan Seminar
Ilmiah; kongres terakhir pada tahun 2003 diselenggarakan di Purwokerto,
Jawa Tengah. Pendiri organisasi yang saat ini masih ada kebanyakan
telah purna tugas, mereka antara lain adalah Prof. Dr. Ir. Haryono
Semangun (Guru Besar Emeritus Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir.
Sutrino Hadi (Guru Besar Emeritus Institut Pertanian Bogor) dan Prof. Dr.
Mien Achmad Rifai (Guru Besar Universitas Indonesia).

6
BAB III
Pembahasan

III.I Sejarah singkat mengenai kelapa sawit

Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan atau industri berupa


pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai
penghasil minyak sayur ini berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai
tempat dimana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya,
tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara dan
Pasifik selatan.
Kelapa sawit pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di
Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan
sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada
saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat
Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide
membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari
Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".
Kelapa sawit di Indonesia diintroduksi pertama kali oleh Kebun
Raya pada tahun 1884 dari Mauritius (Afrika). Saat itu Johannes Elyas
Teysmann yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya. Hasil introduksi
ini berkembang dan merupakan induk dari perkebunan kelapa sawit di
Asia Tenggara. Pohon induk ini telah mati pada 15 Oktober 1989, tapi
anakannya bisa dilihat di Kebun Raya Bogor. Selain di Kebun Raya
Bogor,kelapa sawit tersebut kemudian ditanam di Pulau Sumatra terutama
Sumatera Utara, Lampung dan Aceh. Sehingga kota-kota tersebut
menjadi pusat penanaman kelapa sawit yang pertama kali terbentuk di

7
Indonesia. Perkebunan kelapa sawit itu pertama dibangun di Tanahitam,
Hulu Sumatera Utara oleh Schadt seorang Jerman pada tahun 1911.
Walaupun perkebunan kelapa sawit ditanam pertama kali di pulau
Sumatra, namun sentra penanaman ini berkembang ke Jawa Barat (Garut
selatan, Banten Selatan), Kalimantan Barat, dan Timur, Riau, Jambi, Irian
Jaya.
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan
dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda
adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt.
Pada tahun 1911 perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai
Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123
ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat
(terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala
Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama
dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor
menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri
penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan
pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang,
produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940. Usaha
peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil
(buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok
utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman
digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal
perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga
minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi
alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor
hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan
merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

8
Pada tahun 1995 luas perkebunan kelapa sawit adalah 2.025 juta, dan
diperkirakan pada tahun 2005 luas perkebunan menjadi 2.7 juta hektar
dengan produksi minyak sebesar 9.9 ton/tahun.

III.II Deskripsi singkat kelapa sawit

Merupakan palem pohon yang tingginya dapat mencapai hingga 30


m, dengan daun di ujungnya. Daun tersusun spiral, berpelepah daun
dengan serabut di bagian ujungnya, tangkai daun dengan berduri.
Perbunggan tunggal, di ketiak daun, bunga tunggal, berbulir atau
bertongkol. Perbuahan terdiri atas 500 - 3000 buah bergerombol, buahnya
membulat atau lonjong, tidak bertangkai. Biji biasanya satu, kadang 2 atau
3, dengan testa coklat tua.
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24
meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan
samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh
mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Kelapa sawit berbentuk seperti jenis palma lainnya, daunnya
tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah
berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman
salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang
tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan
menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon
(monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga
sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk
lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan
mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril
sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi
benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.Buah sawit mempunyai

9
warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang
digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap
pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah
sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan
asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan
rontok dengan sendirinya.

III.III Jenis-jenis Penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit

Kelapa sawit merupakan suatu komoditas yang penting bagi


negara kita. Kelapa sawit juga telah dikenal luas dalam masyarakat kita,
namun terkadang masyarakat kita belum begitu mengetahui jenis-jenis
penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit. Kalaupun ada yang
mengetahui hanya beberapa pengusaha perkebunan kelapa sawit yang
mengetahuinya.
Karena itulah apabila potensi yang sungguh besar ini sangatlah
sayang apabila sampai terkena penyakit serta hama. Karena itulah di
jaman modern ini. Pengendalian hama dan penyakit pada perkebunan
kelapa sawit telah dapat menggunakan teknologi pengendalian yang
ramah lingkungan.Teknologi tersebut antara lain adalah pengendalian
dengan menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, feromon, dan
biofungisida.
Sebab kehadiran hama dan penyakit di pertanaman tumbuhan jelas
amat merugikan bagi perkembangbiakan dan pertumbuhan kelapa sawit
itu sendiri. Langkah pengendalian hanya bisa dilakukan bila para petani
mengenal dengan baik gejala serangan atau penyakit yang ditimbulkan
masing-masing organisme penyebabnya. Budidaya tanaman tumbuhan
seperti kelapa sawit memerlukan pengamatan yang cermat. Dengan
begitu , serangan hama maupun organisme penyebab penyakit dapat
segera dikendalikan.

10
Berikut disajikan beberapa gejala serangan hama dan penyakit penting
yang biasa menyerang tanaman kelapa sawit :

1. Penyakit Akar (Blast disease)


Gejala serangan :
- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab :
Jamur <I>Rhizoctonia lamellifera</I> dan <I>Phytium</I> sp.
Cara pengendalian :
- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
-Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman

2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)


Gejala serangan:
- Daun berwarna hijau pucat
- Jamur yang terbentuk sedikit
- Daun tua menjadi layu dan patah
- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
Penyebab :
Jamur <I>Ganoderma applanatum</I>, <I>Ganoderma
lucidum</I>, dan <I>Ganoderma pseudofferum</I>.
Cara pengendalian dan pencegahan :
- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman

3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)


Gejala serangan:
- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan

11
Penyebab :
Jamur <I>Fomex noxius</I>.
Cara pengendalian :
-Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan
membuang bagian tanaman yang terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)


Gejala serangan :
-Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah
patah.
Penyebab :
Jamur <I>Ceratocytis paradoxa</I>.
Cara pengendalian :
-Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya
dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)


Gejala serangan:
-Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna
kecokelatan.
Penyebab :
-Belum diketahui dengan pasti.
Cara pengendalian :
- Memotong bagian kuncup yang terserang.

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)


Gejala serangan :
- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab :

12
Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian :
-Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.

7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)


Gejala serangan:
-Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan
di bagian tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab :
Jamur <I>Fusarium oxysporum</I>.
Cara pengendalian :
-Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda.
Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan
pada tanaman muda dapat berkurang.

8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)


Gejala serangan :
- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat
dan yang terserang
Penyebab :
Jamur <I>Melanconium</I> sp., <I>Glomerella cingulata</I>, dan
<I>Botryodiplodia palmarum</I>.
Cara pengendalian :
- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur
dan pemupukan berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu
pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.

13
9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan :
-Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan
sobek.
Penyebab:
-Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian :
-Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat
karier penyakit ini.

10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)


Gejala serangan:
-Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau
pangkal pelepah daun. Penyakit ini menyerang tanaman
berumur 3 – 10 tahun.
-Menyerang buah yang matang dan dapat menembus daging
buah, sehingga menurunkan kualitas minyak sawit.
Penyebab :
Jamur <I>Marasmius palmivorus</I>.
Cara pengendalian :
-Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi
kebun, terutama pada musim hujan.
-Tindakan pencegahan dilakukan dengan melakukan
penyerbukan buatan dan sanitasi kebun terutama pada musim
hujan.
-Membuang semua bunga dan buah yang membusuk dan
membakar tandan buah yang terserang.
-Dapat disemprot dengan menggunakan Difolatan atau
Actidone dengan konsentrasi 0,2 % atau sebanyak 0,7 liter/ha
dengan interval waktu 2 minggu sekali.

14
III.IV Penjelasan Singkat

Dari beberapa penyakit yang dapat menyerang tanaman kelapa


sawit, berikut adalah penjelasan yang lebih rinci mengenai salah satu
penyakit tersebut :
1. Penyakit Busuk Pangkal Batang
Penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit
disebabkan oleh jamur Ganodermaboninense Pat., suatu jamur tanah
hutan hujan tropik. Jamur G. boninense bersifat saprofitik (dapat hidup
pada sisa tanaman) dan akan berubah menjadi patogenik bila bertemu
dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. BPB
dapat menyerang tanaman mulai dari bibit hingga tanaman tua, tetapi
gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di kebun.
Busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit dapat dikendalikan
dengan menggunakan biofungisida Marfu-P. Hasil uji aplikasi Marfu-P
menunjukkan bahwa 1 bulan setelah perlakuan masih dijumpaiadanya
Ganoderma danTrichoderma pada potongan akar. Ganoderma pada
akar kelapa sawit sudah melapuk setelah 3 bulan perlakuan
Trichoderma. Bahan aktif biofungisida Marfu- P adalah sporakonidia
dan klamidospora jamur Trichoderma koningii (isolat MR 14). Harga
biofungisida Marfu-P hanya Rp4.000/kg. Perkembangan BPB perlu
dipantau setiap 6 bulan hingga tanaman berumur 5 tahun. Apabila
dijumpai gejala BPB, maka tindakan pengobatan harus segera
dilaksanakan. Jika pengobatan tidak memungkinkan, perlu dilakukan
eradikasi. Selain efektif dan efisien mengendalikan BPB pada kelapa
sawit, pengendalian dengan biofungisida juga bersifat ramah
lingkungan. Biofungisida Marfu-P banyak digunakan oleh perusahaan
perkebunan kelapa sawit milik Negara dan swasta.

15
BAB IV
PENUTUP

IV.I KESIMPULAN

Memang tidak dapat dihindari bahwa kehadiran hama dan penyakit


pada tumbuh-tumbuhan jelas membawa kerugian kepada para pengusaha
tanaman tumbuhan.Selain dapat mengurangi jumlah produksi tanaman,
serta juga dapat membawa penyakit kepada kesehatan manusia jika
tanpa sengaja manusia memakan tumbuhan yang berpenyakit tersebut.
Dengan itu, langkah-langkah pengendalian dan pencegahan yang
sewajarnya haruslah dilaksana dan dipatuhi.
Selain itu dengan mengetahui langkah-langkah lian penyakit
tersebut dapat membantu kita dalam mencegah penyebaran penyakit-
penyakit pada tanaman yang ia kembang biakan.

Sehingga dari tulisan di atas dapat di simpulkan bahwa :


1. Ada beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang tanaman
kelapa sawit.
2. Penyakit-penyakit tersebut menyerang bagian-bagian tertentu dari
kelapa sawit itu, misalkan ada yang menyerang bagian batang,
daun, akar dan lain-lain.
3. Dari jenis-jenis penyakit tersebut beberapa di antaranya telah di
temukan cara pengendaliannya dan ada beberapa yang belum di
ketahui cara pengendaliannya.
4. Dalam pengobatan penyakit yang menyerang tumbuhan dalam hal
ini dapat di lakukan dengan menggunakan cara alami yaitu
menggunakan jamur.

16
DAFTAR PUSTAKA

Darmadi,Didi. diakses pada tanggal 3 Januari 2009, pukul 22.10


“http://mablu.wordpress.com/2008/01/24/hama-dan-penyakit-
tanaman-kelapa-sawit/”.

Ditulis pada April 21, 2008 oleh poltekcwe, Artikel Penyakit Penting
Pada Tanaman Kelapa Sawit ,diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 21.04.
“http://politeknikcitrawidyaedukasi.wordpress.com/2008/04/21/ha
ma-dan-penyakit-kelapa-sawit/”.

Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. Artikel Pengendalian Hama


dan Penyakit Tanaman, diakses pada tanggal 26 Desember
2008, pukul 20.40.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_frontpage&Itemid=1”.
Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. . Artikel Pengendalian
Hama dan Penyakit Tanaman diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 20.45.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=35&Itemid=25”.

Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. . Artikel Pengendalian


Hama dan Penyakit Tanaman diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 20.50.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=5&Itemid=6&limit=1&limitsta
rt=0”.

17
Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. . Artikel Pengendalian
Hama dan Penyakit Tanaman diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 20.40.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=40&Itemid=25&limit=1&limits
tart=0”.

Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. . Artikel Pengendalian


Hama dan Penyakit Tanaman diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 20.40.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=40&Itemid=25&limit=1&limits
tart=1”.

Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia. . Artikel Pengendalian


Hama dan Penyakit Tanaman diakses pada tanggal 26
Desember 2008, pukul 20.40.
“http://seafast.ipb.ac.id/maksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=40&Itemid=25&limit=1&limits
tart=2”.

Kementrian Negara Riset dan Teknologi. Diakses pada 3 januari


2009, pukul
22.00.”http://www.pirba.ristek.go.id/jenis_bencana.php?
intid=13&strlang=ind”.

Wales, Jimmy. diakes pada 26 Desember 2008, pukul 20.30.


“http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit”.

18
Wales, Jimmy. diakses pada 3 Januari 2009, pukul 20.56.
“http://id.wikipedia.org/wiki/Fitopatologi” .

Warta Penelitian dan pengembangan Pertanian Vol.29, No.2.2007.


diakses pada 26 Desember 2008, pukul 20.35. “www.pustaka-
deptan.go.id/publikasi/wr292074.pdf”.

19

Beri Nilai