Anomali Pertumbuhan Ekonomi Ditulis oleh: Dr.

Bambang Heru Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan indikator kinerja makro yang sangat populer, dan dalam hitungannya merupakan derivasi dari PDB (produk domestik bruto) atau GDP (gross domestic product). Popularitasnya disebabkan banyaknya kaitan penggunaan indikator tersebut dengan kegunaan praktis dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan. Sering kita baca/dengar berita dari media tentang tingkat defisit anggaran, pendapatan per kapita, investasi, maupun kontribusi ekonomi sektoral, yang semuanya dikaitkan dengan besaran PDB. Di tengah meluasnya penggunaan indikator tersebut, masih sering terjadi salah tafsir sehingga masyarakat seolah dihadapkan kepada anomali, dan secara ekonomi merugikan. Ada pendapat, apabila pertumbuhan ekonomi tinggi, secara otomatis seluruh masyarakat akan tambah sejahtera serta kemiskinan dan pengangguran berkurang. Benarkah analisis tersebut? Mungkin benar, tetapi tidak sepenuhnya, atau bahkan mungkin sebaliknya.

Sesuatu yang sering dibanggakan banyak pihak adalah bahwa di tengah krisis ekonomi dunia, ekonomi Indonesia masih tumbuh 4,5% (2008 sebesar 6%). Dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,34%, jelas ekonomi per kapita rata-rata masih tumbuh di atas 3%. Namun, kesimpulan akan lain apabila dimasukkan variabel pemerataan, dan di sinilah masalah muncul sehingga analisis yang berbasis pertumbuhan tanpa mengacu kepada pengertian konsep dan definisi serta tata cara penghitungannya sering membuat kesimpulan menjadi bias. Kalau hanya sebagai kajian akademis masih 'baik-baik saja'. Celakanya apabila digunakan untuk kebijakan ekonomi, bisa menjerumuskan dan merugikan. Secara konseptual, setiap aktivitas ekonomi akan menghasilkan nilai tambah (value added)â¼³nilai yang ditambahkan atas nilai bahan baku/input antara--yang merupakan balas jasa faktor produksi--tenaga kerja, tanah, modal, dan kewiraswastaan. Penjumlahan value added di suatu wilayah teritorial (Indonesia) dan dalam selang waktu tertentu (triwulan, setahun) menghasilkan PDB wilayah tersebut. Dengan demikian, penguasaan faktor produksi menentukan kepemilikan nilai tambah. Selanjutnya, pertambahan riil PDB dalam triwulan/setahun dinamakan pertumbuhan ekonomi triwulan/tahun bersangkutan. Kata riil mengacu kepada PDB yang telah 'dihilangkan' inflasinya sehingga pertumbuhan ekonomi sudah 'bersih' dari pengaruh perubahan harga dan merupakan pertumbuhan jumlah 'kuantitas' produk. Benarkan pertumbuhan yang terjadi telah menyejahterakan masyarakat? Masalah penguasaan faktor produksi dan besaran kontribusi sektoral menjadi faktor nyata 'melesetnya' interpretasi yang merugikan masyarakat, dan berikut ini diberikan uraian anomali akibat salah interpretasi. Pertama, produksi pertambangan di Indonesia dengan kondisi faktor produksi tenaga kerja berpendapatan rendah, umumnya pelakunya adalah masyarakat Indonesia. Tenaga ahli, yang

Bisnis jasa bukan hanya perbankan. dan sasaran yang dibidik tidak tercapai. Pengambil kebijakan publik dapat terjebak dalam misinterpretasi. dan diizinkan masuk ke daerah kecil didampingkan dengan ritel tradisional yang sering berpenampilan kumuh dan kurang menarik pengunjung. . PDB yang tercipta lebih banyak menguntungkan Indonesia. Namun. apabila pertumbuhan ekonomi terjadi karenanya. Gambaran tersebut lebih menunjukkan pertumbuhan yang tidak berkualitas. Peran asing sudah mendominasi. Ritel modern yang berjaringan luas. Jumlah ekspatriat sedikit total nilai gaji dan tunjangannya besar. misalkan perbankan. Kendatipun lokasi bisnis di Indonesia. Nilai tambah yang tercipta dan merupakan hak pekerja hanya bagian kecil. Demikian juga modalnya dari mereka sehingga walaupun dicatat di Indonesia. apabila sektor perdagangan tumbuh. secara matematis lebih menggambarkan pertumbuhan yang besar. PDB-nya lebih dinikmati mereka. bisnis kuliner yang berbentuk waralaba memang sebagian besar faktor produksinya dimiliki dan dikuasai bangsa Indonesia. hanya sedikit tenaga kerja yang diserap. Mereka melayani aktivitas ekonomi Indonesia.umumnya pendapatannya jauh lebih tinggi. yang 'lebih tumbuh' adalah mereka. bukan berarti secara 'bersih' dinikmati Indonesia. Pemerintah mendapat pajak dari aktivitas ekonomi ini. sedangkan ritel kecil. Bahkan kebijakan yang didasarkan pertumbuhan ekonomi seperti itu sangat mungkin merugikan. Dengan uraian anomali pertumbuhan ekonomi tersebut. usaha besar jumlahnya sedikit. Kelima. Fee waralaba asing akan mengalir 'ke luar'. Ada media menggambarkan keterjepitan pasar tradisional. Dengan analogi itu. Karuan saja. yang besar tumbuh besar dan yang kecil semakin kecil dan mungkin mati. Data sebuah perusahaan tambang menunjukkan bahwa jumlah uang untuk membayar tenaga ekspatriat berbanding terbalik dengan jumlah tenaga kerjanya. sebaliknya sebagian (besar) lainnya adalah milik penguasa faktor produksi. untuk perusahaan jasa. ternyata yang lebih menikmati adalah asing. Padahal. jelaslah bahwa pertumbuhan ekonomi semacam itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan. teknologinya sudah tidak asing bagi masyarakat dalam negeri. produk air kemasan merek terkenal sudah menjadi milik perusahaan multinasional. mungkin lebih parah. yang tentu saja ada bagian (besar) faktor produksi yang dikuasai mereka. dan terkategorikan sebagai 'kebocoran' ekonomi Indonesia. adalah ekspatriat. Bagaimana kalau banyak bisnis pertambangan semacam itu? Mungkin nantinya sumber daya habis. yang jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan dengan milik asing. Dengan demikian. Karena usaha jasa saat ini sarat dengan ICT (information-communication technology). sebaliknya usaha kecil jumlahnya banyak. Keempat. Walaupun tanahnya milik Indonesia. efisien. dan kinerjanya dicatat dalam PDB negeri ini. dalam penggunaannya dikuasai asing. Kedua. sedangkan usaha kecil masih menjadi perbincangan untuk didorong maju. Usaha besar sering merupakan afiliasi asing yang operasionalisasinya sangat efisien. dan semua transaksi keuangan dalam perekonomian hampir pasti akan dikelola sektor tersebut. Ritel besar berkontribusi besar ke PDB. kendatipun jumlahnya 'sangat banyak' kontribusinya kecil. nilai tambahnya sebagian besar juga milik asing. karena sebagian besar faktor produksinya dimiliki dan dikuasai asing. Ketiga. dan pro-growth menjadi tidak pro-job dan pro-poor.

Diperkirakan. Sedangkan Maluku dan Papua hanya . rasio gini di pedesaan cenderung meningkat.41 persen (2/2010). tanpa menafikan kenyataan positif yang ada. hingga saat ini komposisi penduduk di Indonesia masih didominasi penduduk desa yang mencapai 56 persen. Tetapi. yakni dari 0.62 juta (3/2009) menjadi sekitar 19. Jadi. kelompok penduduk 20 persen teratas menurun dari 44.331. yakni dari 0. Selain itu. tingkat kemiskinan di pedesaan masih lebih besar daripada di kota.1 juta.352 persen. pertama.93 juta (3/2010). Jawa memberikan kontribusi 57. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. yakni dari 0. misalnya. Padahal. tahun ini ekonomi akan tumbuh sekitar enam persen. Sementara Bali dan Nusa Tenggara 2. Sedangkan rasio gini di perkotaan menurun. yakni dari 8.15 persen (2009) menjadi 13. Hasil kajian lembaga tersebut mencatat bahwa kontribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terendah meningkat dari 18.362 persen menjadi 0. Data yang dirilis BPS beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa secara nasional rasio gini Indonesia pada 2010 menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di tengah kemeriahan itu.7 persen. antara lain. Angka kemiskinan di desa memang menurun sekitar 690 ribu jiwa.33 persen (2010). meningkat dari 36.357 menjadi 0.96 persen (2009) menjadi 19. kita juga mendapat informasi yang menggembirakan. dari 11.88 persen (2010).97 persen. penurunan angka rasio gini di atas mengindikasikan adanya perbaikan dalam distribusi pendapatan di Indonesia. Tentu itu semua menjadi berita yang menggembirakan bagi kita semua. Atau menurun sekitar 1.51 juta pada periode yang sama. Demikian pula halnya dengan kelompok penduduk 40 persen menengah. berarti distribusi pendapatan semakin merata dan demikian pula sebaliknya. pada periode yang sama. sedangkan penduduk kota hanya sekitar 44 persen.14 menjadi 37. tingkat kemiskinan berkurang dari 14.6 persen. tampaknya.Pertumbuhan dan Ketimpangan Ekonomi Ditulis oleh: Agus Suman HARI-hari ini kita sedang merayakan hari ulang tahun ke-65 kemerdekaan RI.15 persen. Karena itulah. Beberapa catatan tersebut. Misalnya. kontribusi produk domestik bruto (PDB) masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera.5 persen. Seperti diketahui. Semakin kecil angka rasio gini. ukuran ketimpangan dalam distribusi pendapatan dapat tecermin. Kedua. informasi tentang pertumbuhan ekonomi yang cukup baik.297persen. Sebaliknya.7 persen. sekitar 810 ribu jiwa. Sungguh pun begitu. sedangkan Sumatera 23.90 persen menjadi 42.14 persen menjadi 7. dari 20. angka kemiskinan di kota menurun lebih besar. 2010).91 juta menjadi 11.6 persen dan Sulawesi 4. Hal ini juga sejalan dengan hasil kajian Bank Dunia tentang semakin membaiknya distribusi pengeluaran penduduk Indonesia (Agust Supriadi. dalam rasio gini. Dari data BPS juga terungkap bahwa sekitar 80 persen kontribusi PDB dalam struktur ekonomi pada kuartal kedua 2010 masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian kita.288 persen menjadi 0. Kalimantan 9.

yakni 24. keuangan. jasa-jasa 4. sektor perdagangan.946 (1990). gas.000 ha atau rata rata 188. Itu menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian.000. dan ketimpangan. dari sisi lapangan usaha. Kondisi tersebut masih diperparah oleh semakin berkurangnya lahan pertanian di tengah pertambahan penduduk yang cukup tinggi.7 persen. Ketika jumlah penduduk mencapai 147. kehutanan.1 persen. Padahal. hotel. Kemudian.490. realestat.75 juta ha (2002). serta pertambangan dan penggalian 3.9 persen. Perkembangan desa dan kota yang tidak seimbang tersebut menyebabkan tumbuhnya kesenjangan.4 persen. Antara 2000 hingga 2002 saja konversi lahan sawah mencapai 563. tapi akan lebih baik lagi bila pertumbuhan ekonomi berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penurunan tingkat kemiskinan. baik yang beririgasi maupun yang tidak beririgasi.4 persen. Posisi tersebut berada di bawah industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu patut disyukuri. Tapi pada 2000. dan jasa 5. dan perikanan masih cukup tinggi. sementara penduduk terus bertambah. Jadi.2 juta ha.132. Hal itu terlihat dari data perkembangan lahan dan pertambahan penduduk yang terlihat bertolak belakang.9 persen. semakin lama semakin berkurang dengan tingkat pertumbuhan yang semakin cepat. tampak bahwa lahan pertanian.memberikan kontribusi 1. yaitu 12. dan air bersih 6.378. ketimpangan antarsektor juga tinggi. industri pengolahan 4 persen. peternakan. dan restoran tumbuh 9.4 persen. sedangkan di wilayah timur Indonesia mencapai 100 persen. lahan beririgasi dan nonirigasi tersedia 7 juta ha. lahan sawah malah berkurang dan tinggal 7. Saat ini.000 ha per tahun. pengangguran. hotel. sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap PDB pada kuartal II-2010 ini.6 persen. tetapi menghadapi pertumbuhan yang sangat lambat. dan restoran menyumbang 13. yakni hanya tumbuh 3 persen. Tidaklah mengherankan jika pertumbuhan sektor itu menjadi begitu lamban dan tentu saja memprihatinkan kita semua.7 persen. Sedangkan perdagangan. Ketiga. Bandingkan dengan sektor-sektor lain seperti pengangkutan dan komunikasi yang mencapai tingkat pertumbuhan tertinggi. Dan ketika penduduk berjumlah 179. konstruksi 7.9 persen. listrik. seperti disampaikan Direktur Perkotaan dan Pedesaan Bappenas Hayu Parasati (2010). pertambangan dan penggalian 11 persen. lahan beririgasi dan nonirigasi tersedia sekitar 8.9 persen. . yakni 15.298 (1980). Sektor pertanian pada semester I 2010 ini tercatat paling rendah tingkat pertumbuhannya jika dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. ketimpangan antara desa dan kota di wilayah barat Indonesia mencapai 200 persen. ketika jumlah penduduk mencapai 205.

4 perse/i.5 persen. yang mendapatkan justifikasi proyeksi Standart Chartered (Stanchart) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI. dan kurs Rp 9. pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2010 mencapai 6. Masalahnya. Optimisme menaikkan pendapatan per kapita bukan omong kosong. Uni Eropa. Ini bakal menciptakan surplus. BI pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan mencapai 6 hingga 6.000 per dolar AS. peningkatan investasi seiring permintaan domestik dan eksternal. diproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2010 berada di kisaran 5. Dari proyeksi kuartalan.9 triliun menjadi Rp 1.7 persen.2 persen.4 persen pada tahun depan. Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekspor.000 hingga 6. karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kisaran pertumbuhan ekonomi tahun 2011 yang mencapai 6. Saat ini. dan India. inflasi 5. Ini proyeksi yang realistis dan berdasarkan kondisi objektif sumber daya yang ada.1 triliun. pendapatan per kapita penduduk Indonesia sudah mencapai 3.lebih baik. Sebagai catatan.000 dolar AS. asalkan dapat dikelola dengan baik. Hampir semua lembaga keuangan. . Peningkatan konsumsi rumah tangga banyak disebabkan oleh pembiayaan konsumsi seiring peningkatan optimisme konsumen dan rendahnya impor. Optimisme pemerintah. ekonom.3 persen. Pertumbuhan itu akan mendorong pendapatan per kapita tahun 2015 yang diproyeksikan berada di kisaran 5. kuatnya permintaan dari China dan India.000 dolar AS. selain karena penguatan harga komoditas internasional. Argumen yang mengemuka nyaris sama. dan analis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2011 bisa. kecenderungan ekspor lebih tinggi dibanding impor. kinerja sektor eksternal.5 persen juga lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2011 sebesar 6. dominasi China dalam kegiatan ekspor dunia dengan harga barang yang jauh lebih kompetitif bisa menjadi batu sandungan bagi pemerintah dalam menggenjot ekspor guna mencapai pertumbuhan ekonomi 6. Ke depan. suku bunga indeks tiga bulan 6. Ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga. sedangkan pertumbuhan ekspor disebabkan.3 persen atau lebih tinggi dibanding realisasi pada dua kuartal sebelumnya. dan akuntabel.Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Ditulis Oleh: Ryan Kiryanto Bank Indonesia (BI) memperkirakan.2 persen. transparan. Capaian pada kuartal 11/2010 hanya 6. faktor China perlu dijadikan salah satu variabel atau faktor penentu berhasiltidaknya pemerintah mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi ini. Indonesia diharapkan sudah masuk lima negara besar di dunia setelah China. antara lain membaiknya perekonomian AS dan Eropa pascakrisis keuangan global. Meski demikian.9-6. Hasil capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2010 akan menjadi modal berharga memasuki tahun 2011. pertumbuhan ekonomi tahun ini dipatok 5. Amerika. Tahun 2030. juga tercermin dalam penurunan dana cadangan risiko fiskal tahun 2011 dari Rp 4.5 persen.

Di satu sisi. Potensi terjadinya konflik dalam Pilkada cenderung lebih tinggi dari Pemilu mengingat faktor emosional yang lebih kental dan mengerucutnya dukungan terhadap sedikit pasangan calon pemimpin daerah. keikutsertaan sebagian pejabat kunci di kabupaten/kota dan provinsi dalam Pilkada dapat mengakibatkan kegiatan pembangunan oleh pemerintah agak terbengkalai pada semester I dan awal semester II terutama bila para bawahan tidak mampu menjalankan kebijakan yang telah digariskan. . pengeluaran untuk Pilkada akan mendorong terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat. kembali lagi dibutuhkan komitmen masyarakat dan pemain politik untuk memperlakukan Pilkada sebagai pesta demokrasi bukannya penghancuran demokrasi ataupun pesta democrazy . Oleh sebab itu.9 persen 7. Pertanyaan di atas hanya dijawab oleh masyarakat serta pemerintah kabupaten/kota dan provinsi di Sulut sendiri lewat komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. kalangan usaha akan memperhitungkan potensi konflik sehingga akan mengambil posisi menunggu dan melihat (wait and see). Agus Tony Tahun baru memberi tantangan dan juga harapan akan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.8 persen).Pertumbuhan Ekonomi Ditulis Oleh: Dr. Pilkada memberi dampak ambigu (mendua).4 persen). pertanyaan yang muncul adalah apakah Sulut dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan capaian tersebut di tahun 2010 ?. moderat (6. Selain itu tingkat inflasi dapat ditekan pada tingkatan yang rendah. skenario moderat yang paling mungkin terjadi. Di sisi lain. Kemungkinan tingkat pertumbuhan ini didasarkan pada asumsi bahwa Pilkada di Sulut akan berjalan cukup lancar mengingat masyarakat Sulut memiliki kematangan berpikir di atas rata-rata masyarakat Indonesia. Tindakan ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Sulut pada tahun ini terutama pada semester I. yaitu pesimis (6. Namun demikian.56 persen dan 9.6. Prediksi pertumbuhan ekonomi terbaik hanya dapat dibuat dalam tiga skenario. Dengan kata lain. Dari ketiga skenario tersebut. pertumbuhan ekonomi di tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2009.8 persen). Komitmen tersebut menghadapi tantangan tersendiri mengingat tahun 2010 merupakan tahun politik karena provinsi dan separuh kabupaten/kota di Sulut melakukan pemilihan kepada daerah (Pilkada). yaitu sekitar delapan persen.5 persen .2 persen .79 persen. Lembaran ekonomi Sulut 2009 telah ditutup dengan capaian yang menggembirakan sebab ekonomi tumbuh hampir dua kalinya pertumbuhan ekonomi nasional. Secara ekonomi. Namun demikian. sekitar empat persen dan tingkat penganggguran dan kemiskinan dapat diturunkan masing-masing menjadi 10. Situasi di atas membawa kesulitan dalam memprediksi pertumbuhan ekonomi Sulut secara cukup akurat di tahun ini walaupun adanya tren meningkat sejak tahun 2005. dan optimis (7.

(5) Melakukan intensifikasi pertanian dan perkebunan lewat penerapan cara pertanian moderen mengingat keterbatasan lahan yang ada dan untuk meningkatkan produktivitas. Ini didasarkan pertimbangan bahwa harga minyak dunia relatif stabil pada kisaran 68-80 dollar AS per barel selama beberapa bulan terakhir dan diperkirakan akan bertahan sampai akhir 2010.Situasi ini ditambah dengan tindakan wait and see di kalangan dunia usaha akan mengganggu pertumbuhan ekonomi pada delapan bulan pertama sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun ini. (2) Masyarakat harus lebih arif dalam menggunakan hak pilih (tidak mengorbankan kesejahteraan selama lima tahun untuk uang yang relatif kecil) agar terpilih pemimpin yang benar-benar mau berjuang untuk kesejahteraan masyarakat serta memiliki visi yang besar dan jelas. . Inflasi yang rendah serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi kurang bermakna apabila tingkat pengangguran dan kemiskinan masih belum membaik. yaitu berkisar antara empat persen sampai enam persen. (4) Memperkuat sarana dan prasarana pariwisata serta memperbanyak jumlah iven nasional dan internasional untuk menjaga momentum WOC/CTI dan Sail Bunaken. Dengan kata lain. maka kenaikan dalam tingkat pengangguran dan kemiskinan bukan tidak mungkin akan terjadi bila tidak ada perhatian serius untuk mencegahnya. Pada 2009. Inflasi yang tinggi akan memperparah daya beli masyarakat pada kelompok-kelompok tersebut. Untuk menjaga momentum kinerja ekonomi Sulut yang baik pada 2009 dan meminimalisasi dampak negatif dari Pilkada. maka pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. kalangan dunia usaha. Bila dikaitkan dengan kondisi politik di Sulut tahun ini. kedua faktor tersebut mengalami perbaikan walaupun belum signifikan dan tahun ini diperkirakan keduanya akan bertengger pada angka yang kurang lebih sama bila pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta dunia usaha dan masyarakat tidak melakukan upaya menciptakan pembangunan yang lebih berkualitas. (1) Memperkuat komitmen untuk menjaga kelancaran Pilkada. Demikian juga BI rate (tingkat bunga Bank Indonesia) diperkirakan akan relatif stabil. Tingkat inflasi tahun ini diperkirakan tidak berbeda jauh dengan tahun 2009. maka tingkat inflasi perlu dijaga agar tidak menyengsarakan mereka yang berpendapatan tetap serta mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sehubungan perkiraan akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi. (6) Mengembangkan pesisir pantai sebagai daerah perikanan dan ekowisata. serta masyarakat perlu melakukan beberapa tindakan berikut. (7) Memperbaiki koordinasi antar Satuan Kerja terkait pada tiap tingkat pemerintahan dan antar tingkat pemerintahan sehingga program yang dijalankan menghasilkan nilai sinergisitas yang tinggi. distribusi hasil pembangunan perlu selalu ditingkatkan. (3) Melakukan pemetaan mengenai kompetensi inti (core competency) tiap daerah di Sulut agar pembangunan tiap daerah lebih tepat sasaran sesuai kompetensi tiap daerah.

yaitu orang-orang yang menggapai sukses di dunia ini adalah orang-orang yang terbangun dan mencari keadaan yang mereka inginkan. (10) Mempercepat realisasi penambahan suplai listrik yang selama ini menjadi kendala utama investasi di Sulut. mengacu pada kalimat bijak dari George Bernard Shaw. . Akhirnya. maka pembangunan Sulut ke depan harus meninggalkan cara-cara tradisional dan beralih pada cara-cara kreatif dalam alokasi sumber daya agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi kesejahteraan masyarakat. dan jika tidak menemukannya.(8) Memberikan kepastian hukum serta meminimalkan tindakan-tindakan yang mengganggu dunia usaha. (11) Mempercepat pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur perhubungan untuk memperluas jangkauan pembangunan dan menekan tingkat inflasi yang disebabkan oleh masalah distribusi. (9) Melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan. (12) Memperhatikan unsur waktu dalam pengeluaran pemerintah agar dampak multiplier dari anggaran bisa lebih optimal. mereka akan menciptakannya .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful