Anomali Pertumbuhan Ekonomi Ditulis oleh: Dr.

Bambang Heru Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan indikator kinerja makro yang sangat populer, dan dalam hitungannya merupakan derivasi dari PDB (produk domestik bruto) atau GDP (gross domestic product). Popularitasnya disebabkan banyaknya kaitan penggunaan indikator tersebut dengan kegunaan praktis dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan. Sering kita baca/dengar berita dari media tentang tingkat defisit anggaran, pendapatan per kapita, investasi, maupun kontribusi ekonomi sektoral, yang semuanya dikaitkan dengan besaran PDB. Di tengah meluasnya penggunaan indikator tersebut, masih sering terjadi salah tafsir sehingga masyarakat seolah dihadapkan kepada anomali, dan secara ekonomi merugikan. Ada pendapat, apabila pertumbuhan ekonomi tinggi, secara otomatis seluruh masyarakat akan tambah sejahtera serta kemiskinan dan pengangguran berkurang. Benarkah analisis tersebut? Mungkin benar, tetapi tidak sepenuhnya, atau bahkan mungkin sebaliknya.

Sesuatu yang sering dibanggakan banyak pihak adalah bahwa di tengah krisis ekonomi dunia, ekonomi Indonesia masih tumbuh 4,5% (2008 sebesar 6%). Dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,34%, jelas ekonomi per kapita rata-rata masih tumbuh di atas 3%. Namun, kesimpulan akan lain apabila dimasukkan variabel pemerataan, dan di sinilah masalah muncul sehingga analisis yang berbasis pertumbuhan tanpa mengacu kepada pengertian konsep dan definisi serta tata cara penghitungannya sering membuat kesimpulan menjadi bias. Kalau hanya sebagai kajian akademis masih 'baik-baik saja'. Celakanya apabila digunakan untuk kebijakan ekonomi, bisa menjerumuskan dan merugikan. Secara konseptual, setiap aktivitas ekonomi akan menghasilkan nilai tambah (value added)â¼³nilai yang ditambahkan atas nilai bahan baku/input antara--yang merupakan balas jasa faktor produksi--tenaga kerja, tanah, modal, dan kewiraswastaan. Penjumlahan value added di suatu wilayah teritorial (Indonesia) dan dalam selang waktu tertentu (triwulan, setahun) menghasilkan PDB wilayah tersebut. Dengan demikian, penguasaan faktor produksi menentukan kepemilikan nilai tambah. Selanjutnya, pertambahan riil PDB dalam triwulan/setahun dinamakan pertumbuhan ekonomi triwulan/tahun bersangkutan. Kata riil mengacu kepada PDB yang telah 'dihilangkan' inflasinya sehingga pertumbuhan ekonomi sudah 'bersih' dari pengaruh perubahan harga dan merupakan pertumbuhan jumlah 'kuantitas' produk. Benarkan pertumbuhan yang terjadi telah menyejahterakan masyarakat? Masalah penguasaan faktor produksi dan besaran kontribusi sektoral menjadi faktor nyata 'melesetnya' interpretasi yang merugikan masyarakat, dan berikut ini diberikan uraian anomali akibat salah interpretasi. Pertama, produksi pertambangan di Indonesia dengan kondisi faktor produksi tenaga kerja berpendapatan rendah, umumnya pelakunya adalah masyarakat Indonesia. Tenaga ahli, yang

dan semua transaksi keuangan dalam perekonomian hampir pasti akan dikelola sektor tersebut. sedangkan ritel kecil. Pemerintah mendapat pajak dari aktivitas ekonomi ini. yang jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan dengan milik asing. sebaliknya usaha kecil jumlahnya banyak. misalkan perbankan. sebaliknya sebagian (besar) lainnya adalah milik penguasa faktor produksi. Dengan uraian anomali pertumbuhan ekonomi tersebut. Padahal. Keempat. efisien. yang 'lebih tumbuh' adalah mereka. Kendatipun lokasi bisnis di Indonesia. apabila pertumbuhan ekonomi terjadi karenanya. dan sasaran yang dibidik tidak tercapai. dan kinerjanya dicatat dalam PDB negeri ini. sedangkan usaha kecil masih menjadi perbincangan untuk didorong maju. Dengan demikian. PDB-nya lebih dinikmati mereka. jelaslah bahwa pertumbuhan ekonomi semacam itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan.umumnya pendapatannya jauh lebih tinggi. dan pro-growth menjadi tidak pro-job dan pro-poor. Jumlah ekspatriat sedikit total nilai gaji dan tunjangannya besar. Ritel modern yang berjaringan luas. Bagaimana kalau banyak bisnis pertambangan semacam itu? Mungkin nantinya sumber daya habis. dan diizinkan masuk ke daerah kecil didampingkan dengan ritel tradisional yang sering berpenampilan kumuh dan kurang menarik pengunjung. Fee waralaba asing akan mengalir 'ke luar'. Mereka melayani aktivitas ekonomi Indonesia. Walaupun tanahnya milik Indonesia. secara matematis lebih menggambarkan pertumbuhan yang besar. teknologinya sudah tidak asing bagi masyarakat dalam negeri. ternyata yang lebih menikmati adalah asing. Pengambil kebijakan publik dapat terjebak dalam misinterpretasi. Kelima. yang besar tumbuh besar dan yang kecil semakin kecil dan mungkin mati. usaha besar jumlahnya sedikit. nilai tambahnya sebagian besar juga milik asing. mungkin lebih parah. bukan berarti secara 'bersih' dinikmati Indonesia. kendatipun jumlahnya 'sangat banyak' kontribusinya kecil. Peran asing sudah mendominasi. Kedua. bisnis kuliner yang berbentuk waralaba memang sebagian besar faktor produksinya dimiliki dan dikuasai bangsa Indonesia. Ada media menggambarkan keterjepitan pasar tradisional. produk air kemasan merek terkenal sudah menjadi milik perusahaan multinasional. adalah ekspatriat. . Karuan saja. Dengan analogi itu. Data sebuah perusahaan tambang menunjukkan bahwa jumlah uang untuk membayar tenaga ekspatriat berbanding terbalik dengan jumlah tenaga kerjanya. apabila sektor perdagangan tumbuh. PDB yang tercipta lebih banyak menguntungkan Indonesia. Demikian juga modalnya dari mereka sehingga walaupun dicatat di Indonesia. dan terkategorikan sebagai 'kebocoran' ekonomi Indonesia. yang tentu saja ada bagian (besar) faktor produksi yang dikuasai mereka. untuk perusahaan jasa. Karena usaha jasa saat ini sarat dengan ICT (information-communication technology). karena sebagian besar faktor produksinya dimiliki dan dikuasai asing. Nilai tambah yang tercipta dan merupakan hak pekerja hanya bagian kecil. Bisnis jasa bukan hanya perbankan. Ketiga. dalam penggunaannya dikuasai asing. hanya sedikit tenaga kerja yang diserap. Usaha besar sering merupakan afiliasi asing yang operasionalisasinya sangat efisien. Namun. Ritel besar berkontribusi besar ke PDB. Bahkan kebijakan yang didasarkan pertumbuhan ekonomi seperti itu sangat mungkin merugikan. Gambaran tersebut lebih menunjukkan pertumbuhan yang tidak berkualitas.

91 juta menjadi 11.15 persen. Sungguh pun begitu. yakni dari 0. Sementara Bali dan Nusa Tenggara 2.88 persen (2010). Hal ini juga sejalan dengan hasil kajian Bank Dunia tentang semakin membaiknya distribusi pengeluaran penduduk Indonesia (Agust Supriadi. Sedangkan Maluku dan Papua hanya . kontribusi produk domestik bruto (PDB) masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera.6 persen dan Sulawesi 4.51 juta pada periode yang sama. Angka kemiskinan di desa memang menurun sekitar 690 ribu jiwa.14 menjadi 37.14 persen menjadi 7.7 persen. kita juga mendapat informasi yang menggembirakan. tampaknya.97 persen. berarti distribusi pendapatan semakin merata dan demikian pula sebaliknya. Tentu itu semua menjadi berita yang menggembirakan bagi kita semua. rasio gini di pedesaan cenderung meningkat. tanpa menafikan kenyataan positif yang ada. Demikian pula halnya dengan kelompok penduduk 40 persen menengah.7 persen.288 persen menjadi 0. Kedua. Jawa memberikan kontribusi 57.352 persen. Karena itulah.1 juta. dari 20. yakni dari 0. angka kemiskinan di kota menurun lebih besar. Seperti diketahui. sekitar 810 ribu jiwa. Data yang dirilis BPS beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa secara nasional rasio gini Indonesia pada 2010 menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. tahun ini ekonomi akan tumbuh sekitar enam persen.357 menjadi 0. pertama. Sebaliknya.96 persen (2009) menjadi 19. Sedangkan rasio gini di perkotaan menurun.33 persen (2010). ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian kita. Jadi.62 juta (3/2009) menjadi sekitar 19.15 persen (2009) menjadi 13. misalnya. 2010). antara lain. informasi tentang pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Padahal.Pertumbuhan dan Ketimpangan Ekonomi Ditulis oleh: Agus Suman HARI-hari ini kita sedang merayakan hari ulang tahun ke-65 kemerdekaan RI. Selain itu. Atau menurun sekitar 1. penurunan angka rasio gini di atas mengindikasikan adanya perbaikan dalam distribusi pendapatan di Indonesia.41 persen (2/2010). yakni dari 8. Hasil kajian lembaga tersebut mencatat bahwa kontribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terendah meningkat dari 18. Di tengah kemeriahan itu. Kalimantan 9.5 persen.362 persen menjadi 0. Misalnya. kelompok penduduk 20 persen teratas menurun dari 44. hingga saat ini komposisi penduduk di Indonesia masih didominasi penduduk desa yang mencapai 56 persen.297persen. pada periode yang sama. Tetapi. Diperkirakan. ukuran ketimpangan dalam distribusi pendapatan dapat tecermin. yakni dari 0. dari 11. dalam rasio gini.331. tingkat kemiskinan di pedesaan masih lebih besar daripada di kota. sedangkan Sumatera 23.6 persen.93 juta (3/2010). sedangkan penduduk kota hanya sekitar 44 persen. Dari data BPS juga terungkap bahwa sekitar 80 persen kontribusi PDB dalam struktur ekonomi pada kuartal kedua 2010 masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Beberapa catatan tersebut. meningkat dari 36. Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Semakin kecil angka rasio gini.90 persen menjadi 42. tingkat kemiskinan berkurang dari 14.

Antara 2000 hingga 2002 saja konversi lahan sawah mencapai 563. Kemudian. lahan sawah malah berkurang dan tinggal 7. ketimpangan antara desa dan kota di wilayah barat Indonesia mencapai 200 persen. ketika jumlah penduduk mencapai 205. Ketika jumlah penduduk mencapai 147. semakin lama semakin berkurang dengan tingkat pertumbuhan yang semakin cepat.9 persen. jasa-jasa 4. Jadi. Perkembangan desa dan kota yang tidak seimbang tersebut menyebabkan tumbuhnya kesenjangan. dan restoran menyumbang 13. yakni 24. Itu menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian. hotel. peternakan. Tidaklah mengherankan jika pertumbuhan sektor itu menjadi begitu lamban dan tentu saja memprihatinkan kita semua. yakni hanya tumbuh 3 persen.9 persen. Ketiga.000. seperti disampaikan Direktur Perkotaan dan Pedesaan Bappenas Hayu Parasati (2010). baik yang beririgasi maupun yang tidak beririgasi. lahan beririgasi dan nonirigasi tersedia sekitar 8. Sedangkan perdagangan. listrik.378.000 ha atau rata rata 188. dan jasa 5. tapi akan lebih baik lagi bila pertumbuhan ekonomi berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penurunan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu patut disyukuri.9 persen. keuangan.7 persen. Bandingkan dengan sektor-sektor lain seperti pengangkutan dan komunikasi yang mencapai tingkat pertumbuhan tertinggi.9 persen. dari sisi lapangan usaha. Posisi tersebut berada di bawah industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar. Sektor pertanian pada semester I 2010 ini tercatat paling rendah tingkat pertumbuhannya jika dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. kehutanan. Padahal.4 persen. dan air bersih 6. Dan ketika penduduk berjumlah 179. lahan beririgasi dan nonirigasi tersedia 7 juta ha. sedangkan di wilayah timur Indonesia mencapai 100 persen. sementara penduduk terus bertambah.7 persen. pertambangan dan penggalian 11 persen.000 ha per tahun.4 persen.2 juta ha. sektor perdagangan. pengangguran. yaitu 12. konstruksi 7. hotel. industri pengolahan 4 persen.6 persen.1 persen. gas. ketimpangan antarsektor juga tinggi.946 (1990).4 persen.132. realestat. Tapi pada 2000.298 (1980). serta pertambangan dan penggalian 3. Hal itu terlihat dari data perkembangan lahan dan pertambahan penduduk yang terlihat bertolak belakang. yakni 15. dan perikanan masih cukup tinggi. dan ketimpangan. sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap PDB pada kuartal II-2010 ini.490. tampak bahwa lahan pertanian.75 juta ha (2002). dan restoran tumbuh 9.memberikan kontribusi 1. Kondisi tersebut masih diperparah oleh semakin berkurangnya lahan pertanian di tengah pertambahan penduduk yang cukup tinggi. . tetapi menghadapi pertumbuhan yang sangat lambat. Saat ini.

lebih baik.9 triliun menjadi Rp 1. dan analis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2011 bisa. pertumbuhan ekonomi tahun ini dipatok 5. Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekspor. kuatnya permintaan dari China dan India. Pertumbuhan itu akan mendorong pendapatan per kapita tahun 2015 yang diproyeksikan berada di kisaran 5. pendapatan per kapita penduduk Indonesia sudah mencapai 3. Uni Eropa.4 persen pada tahun depan.5 persen juga lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2011 sebesar 6. transparan. Dari proyeksi kuartalan. BI pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan mencapai 6 hingga 6. . juga tercermin dalam penurunan dana cadangan risiko fiskal tahun 2011 dari Rp 4. Amerika. Kisaran pertumbuhan ekonomi tahun 2011 yang mencapai 6. Tahun 2030. asalkan dapat dikelola dengan baik.3 persen.9-6. Capaian pada kuartal 11/2010 hanya 6.000 dolar AS. dominasi China dalam kegiatan ekspor dunia dengan harga barang yang jauh lebih kompetitif bisa menjadi batu sandungan bagi pemerintah dalam menggenjot ekspor guna mencapai pertumbuhan ekonomi 6. antara lain membaiknya perekonomian AS dan Eropa pascakrisis keuangan global. sedangkan pertumbuhan ekspor disebabkan. inflasi 5. kecenderungan ekspor lebih tinggi dibanding impor.Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Ditulis Oleh: Ryan Kiryanto Bank Indonesia (BI) memperkirakan. kinerja sektor eksternal. Ini proyeksi yang realistis dan berdasarkan kondisi objektif sumber daya yang ada. dan kurs Rp 9. ekonom. Argumen yang mengemuka nyaris sama.000 hingga 6. Indonesia diharapkan sudah masuk lima negara besar di dunia setelah China. Saat ini.4 perse/i.1 triliun. Optimisme pemerintah. dan akuntabel. pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2010 mencapai 6. Ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga. karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.2 persen. Ke depan. Hasil capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2010 akan menjadi modal berharga memasuki tahun 2011.7 persen.3 persen atau lebih tinggi dibanding realisasi pada dua kuartal sebelumnya. suku bunga indeks tiga bulan 6.000 per dolar AS.5 persen.000 dolar AS. Peningkatan konsumsi rumah tangga banyak disebabkan oleh pembiayaan konsumsi seiring peningkatan optimisme konsumen dan rendahnya impor. Ini bakal menciptakan surplus. Meski demikian. Optimisme menaikkan pendapatan per kapita bukan omong kosong. faktor China perlu dijadikan salah satu variabel atau faktor penentu berhasiltidaknya pemerintah mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi ini. selain karena penguatan harga komoditas internasional.2 persen. Sebagai catatan. dan India. Hampir semua lembaga keuangan.5 persen. Masalahnya. diproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2010 berada di kisaran 5. yang mendapatkan justifikasi proyeksi Standart Chartered (Stanchart) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI. peningkatan investasi seiring permintaan domestik dan eksternal.

Potensi terjadinya konflik dalam Pilkada cenderung lebih tinggi dari Pemilu mengingat faktor emosional yang lebih kental dan mengerucutnya dukungan terhadap sedikit pasangan calon pemimpin daerah. Situasi di atas membawa kesulitan dalam memprediksi pertumbuhan ekonomi Sulut secara cukup akurat di tahun ini walaupun adanya tren meningkat sejak tahun 2005. Secara ekonomi.5 persen . moderat (6. Pertanyaan di atas hanya dijawab oleh masyarakat serta pemerintah kabupaten/kota dan provinsi di Sulut sendiri lewat komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. dan optimis (7. Selain itu tingkat inflasi dapat ditekan pada tingkatan yang rendah. pertanyaan yang muncul adalah apakah Sulut dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan capaian tersebut di tahun 2010 ?. kembali lagi dibutuhkan komitmen masyarakat dan pemain politik untuk memperlakukan Pilkada sebagai pesta demokrasi bukannya penghancuran demokrasi ataupun pesta democrazy . Lembaran ekonomi Sulut 2009 telah ditutup dengan capaian yang menggembirakan sebab ekonomi tumbuh hampir dua kalinya pertumbuhan ekonomi nasional. Kemungkinan tingkat pertumbuhan ini didasarkan pada asumsi bahwa Pilkada di Sulut akan berjalan cukup lancar mengingat masyarakat Sulut memiliki kematangan berpikir di atas rata-rata masyarakat Indonesia. Namun demikian. Komitmen tersebut menghadapi tantangan tersendiri mengingat tahun 2010 merupakan tahun politik karena provinsi dan separuh kabupaten/kota di Sulut melakukan pemilihan kepada daerah (Pilkada).56 persen dan 9.Pertumbuhan Ekonomi Ditulis Oleh: Dr. kalangan usaha akan memperhitungkan potensi konflik sehingga akan mengambil posisi menunggu dan melihat (wait and see). skenario moderat yang paling mungkin terjadi.8 persen). yaitu sekitar delapan persen. Tindakan ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Sulut pada tahun ini terutama pada semester I. Oleh sebab itu. Namun demikian.8 persen). Prediksi pertumbuhan ekonomi terbaik hanya dapat dibuat dalam tiga skenario. Di sisi lain. sekitar empat persen dan tingkat penganggguran dan kemiskinan dapat diturunkan masing-masing menjadi 10. pertumbuhan ekonomi di tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2009.79 persen.6. yaitu pesimis (6.2 persen . Pilkada memberi dampak ambigu (mendua). . Agus Tony Tahun baru memberi tantangan dan juga harapan akan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Di satu sisi. pengeluaran untuk Pilkada akan mendorong terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat. Dari ketiga skenario tersebut. Dengan kata lain.4 persen).9 persen 7. keikutsertaan sebagian pejabat kunci di kabupaten/kota dan provinsi dalam Pilkada dapat mengakibatkan kegiatan pembangunan oleh pemerintah agak terbengkalai pada semester I dan awal semester II terutama bila para bawahan tidak mampu menjalankan kebijakan yang telah digariskan.

(1) Memperkuat komitmen untuk menjaga kelancaran Pilkada. yaitu berkisar antara empat persen sampai enam persen. Ini didasarkan pertimbangan bahwa harga minyak dunia relatif stabil pada kisaran 68-80 dollar AS per barel selama beberapa bulan terakhir dan diperkirakan akan bertahan sampai akhir 2010. Demikian juga BI rate (tingkat bunga Bank Indonesia) diperkirakan akan relatif stabil. Tingkat inflasi tahun ini diperkirakan tidak berbeda jauh dengan tahun 2009. Untuk menjaga momentum kinerja ekonomi Sulut yang baik pada 2009 dan meminimalisasi dampak negatif dari Pilkada. distribusi hasil pembangunan perlu selalu ditingkatkan. maka tingkat inflasi perlu dijaga agar tidak menyengsarakan mereka yang berpendapatan tetap serta mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. kedua faktor tersebut mengalami perbaikan walaupun belum signifikan dan tahun ini diperkirakan keduanya akan bertengger pada angka yang kurang lebih sama bila pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta dunia usaha dan masyarakat tidak melakukan upaya menciptakan pembangunan yang lebih berkualitas. Dengan kata lain. Bila dikaitkan dengan kondisi politik di Sulut tahun ini. Sehubungan perkiraan akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi. (3) Melakukan pemetaan mengenai kompetensi inti (core competency) tiap daerah di Sulut agar pembangunan tiap daerah lebih tepat sasaran sesuai kompetensi tiap daerah.Situasi ini ditambah dengan tindakan wait and see di kalangan dunia usaha akan mengganggu pertumbuhan ekonomi pada delapan bulan pertama sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun ini. (4) Memperkuat sarana dan prasarana pariwisata serta memperbanyak jumlah iven nasional dan internasional untuk menjaga momentum WOC/CTI dan Sail Bunaken. Inflasi yang tinggi akan memperparah daya beli masyarakat pada kelompok-kelompok tersebut. Inflasi yang rendah serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi kurang bermakna apabila tingkat pengangguran dan kemiskinan masih belum membaik. Pada 2009. (2) Masyarakat harus lebih arif dalam menggunakan hak pilih (tidak mengorbankan kesejahteraan selama lima tahun untuk uang yang relatif kecil) agar terpilih pemimpin yang benar-benar mau berjuang untuk kesejahteraan masyarakat serta memiliki visi yang besar dan jelas. . (6) Mengembangkan pesisir pantai sebagai daerah perikanan dan ekowisata. serta masyarakat perlu melakukan beberapa tindakan berikut. kalangan dunia usaha. maka pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. (5) Melakukan intensifikasi pertanian dan perkebunan lewat penerapan cara pertanian moderen mengingat keterbatasan lahan yang ada dan untuk meningkatkan produktivitas. maka kenaikan dalam tingkat pengangguran dan kemiskinan bukan tidak mungkin akan terjadi bila tidak ada perhatian serius untuk mencegahnya. (7) Memperbaiki koordinasi antar Satuan Kerja terkait pada tiap tingkat pemerintahan dan antar tingkat pemerintahan sehingga program yang dijalankan menghasilkan nilai sinergisitas yang tinggi.

(12) Memperhatikan unsur waktu dalam pengeluaran pemerintah agar dampak multiplier dari anggaran bisa lebih optimal. mereka akan menciptakannya . mengacu pada kalimat bijak dari George Bernard Shaw. Akhirnya. . (10) Mempercepat realisasi penambahan suplai listrik yang selama ini menjadi kendala utama investasi di Sulut. dan jika tidak menemukannya. (9) Melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan. (11) Mempercepat pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur perhubungan untuk memperluas jangkauan pembangunan dan menekan tingkat inflasi yang disebabkan oleh masalah distribusi. yaitu orang-orang yang menggapai sukses di dunia ini adalah orang-orang yang terbangun dan mencari keadaan yang mereka inginkan. maka pembangunan Sulut ke depan harus meninggalkan cara-cara tradisional dan beralih pada cara-cara kreatif dalam alokasi sumber daya agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi kesejahteraan masyarakat.(8) Memberikan kepastian hukum serta meminimalkan tindakan-tindakan yang mengganggu dunia usaha.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful