Anda di halaman 1dari 16

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERGANTUNGAN:

FAKTOR-FAKTOR PERKEMBANGAN, SOSIAL, DAN


NEUROBIOLOGIS

Michele Preyde dan Gerald Adams

Kedewasaan didefinisikan dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama,


kedewasaan ialah sebuah masa yang penuh dengan berbagai pengalaman yang
menyenangkan, titik tolak untuk menjadi orang dewasa muda yang progresif dan
produktif. Yang kedua ialah masa terjadinya konflik dalam diri dan adanya
permasalahan dalam keluarga yang tidak hanya berperan dalam pertumbuhan
remaja, tetapi juga bisa menyebabkan disfungsi, apatis, dan merasa asing. Selain
itu, kedewasaan bisa menjadi sebuah proses penting bagi seseorang atau yang
lainnya, tetapi tidak diragukan lagi, kedewsaan memberikan baik kesempatan dan
masalah bagi setiap orang dewasa. Pembahasan bab ini memfokuskan pada salah
satu masalah yang sering muncul pada remaja – ketergantungan.
Dalam bab ini, kita akan memfokuskan perhatian kita pada beberapoa
permasalahan. Apa yang kami tulis, jika berhasil, akan mengarahkan pemahaman
Anda. Kami akan membahas masalah mengenai pengertian ketergantungan, dan
mengungkapkan tantangan yang dihadapi ketika melakukan penelitian ilmiah
mengenai permasalahan ini – seperti memperkirakan nilai rata-ratanya.
Kemudian, kami akan membahas beberapa teori tentang ketergantungan yang
lebih menarik. Yang terakhir, kami akan membahas beberapa faktor
perkembangan, sosial, dan neurobiologis yang berperan terhadap masalah
ketergantungan pada remaja. Penjelasan singkat ini diharapkan dapat
menjembatani Anda dengan berbagai pemikiran dalam buku ini.

DEFINISI KETERGANTUNGAN

Ada banyak konsep-konsep tentang ketergantungan. Ketergantungan sering


dianggap sebagai masalah pribadi dan sosial – dalam kasus pertama,
ketergantungan dilihat sebagai kelemahan dalam diri remaja yang kehilangan
kontrol atau motivasi; sedangkan pada kasus kedua, ketergantungan berhubungan
dengan kondisi lingkungan yang miskin dan kurangnya kesempatan. Kriteria
tentang definisi ketergantungan sangat ambigu.
Setidaknya ada dua faktor yang berperan dalam keambiguan konsep
ketergantungan. Cara bagaimana ketergantungan dikonseptualisasikan berubah
sepanjang waktu, dan tidak ada definisi yang dapat diterima secara umum –
definisi ketergantungan berubah dari waktu ke waktu. Sebelumnya,
ketergantungan disamakan dengan ketergantungan (dependence) psikologis
(West, 2006). Pada umumnya, ketergantungan dianggap sebagai respon terhadap
hal-hal yang dilakukan seseorang sebagai adaptasi psikologis terhadap narkoba,
dimana seseorang akan mengalami sakau jika tidak mengkonsumsi narkoba. Oleh
karena itu, ketergantungan ialah kondisi dimana seseorang membutuhkan,
contohnya narkoba, agar tidak ada reaksi fisik maupun psikologis … (and which
often involves tolerance and dependence) (Carpenter, 2001).
Para ahli sekarang meyakini bahwa ketergantungan hanya diakibatkan oleh
penggunaan zat-zat tertentu. Beberapa ahli (termasuk konselor ketergantungan)
masih memegang prinsip ini (Walters dan Gilbert, 2000). Selain itu, penjelasan
para ahli menyebutkan adanya pembatasan objek ketergantungan hanya pada
narkoba. Contohnya, The Merck Manual, sebuah buku panduan bio medis,
ketergantungan didefinisikan sebagai penyalahgunaan zat-zat tertentu (Berkow
dkk., 1997: Bag. 15 bab 195), khususnya dalam membandingkan dan
membedakan konsep ketergantungan (dependence) fisik dan psikologis.
Ketergantungan, sebuah konsep tanpa definisi yang pasti dan dapat diterima secara
umum. Digunakan untuk mengacu pada sebuah gaya hidup yang dicirikan oleh keinginan
yang sangat kuat untuk mengkonsumsi narkoba; bisa terjadi tanpa adanya ketergantungan
(dependence) fisik. Ketergantungan menimbulkan resiko. Oleh karena itu, penggunaan
narkoba harus dihentikan, apakah remaja yang ketergantungan itu mengerti atau tidak dan
setuju atau tidak.

Sesuai dengan definisi biomedis, ketergantungan juga dijelaskan sebagai


penyimpangan perilaku biologis (Leshner, 2001) sebagai akibat dari serangkaian
perubahan yang terjadi di otak; adaptasi syaraf ini disebabkan oleh pengalaman
yang berulang-ulang. Hipotesanya ialah bahwa kerusakan pada korteks bagian
depan pada otak merusak kemampuan pengambilan keputusan yang berpengaruh
terhadap penyimpangan perilaku terhadap, dalam masalah ini, narkoba. Konsep
ketergantungan berawal dari perspektif ini, walaupun mungkin terlalu berfokus
pada narkoba, ini sangat membantu memahami konsep yang berhubungan dengan
penyimpangan dalam penggunaan zat-zat tertentu.
Bahkan dalam pembatasan istilah ketergantungan hanya pada suatu zat
tertentu (contohnya narkoba), definisi ketergantungan masih bisa dikatakan
longgar. Pemahaman yang ada muncul lebih jauh dari definisi yang lebih luas
yang mencakup sindrom dengan gejala yang heterogen, meliputi masalah perilaku
yang mendorong (dan mungkin kesadaran yang mendorong) munculnya keinginan
terhadap sesuatu. Ada penggunaan istilah “ketergantungan” yang lebih luas –
yaitu, penggunaan istilah ini diperluas meliputi ketergantungan terhadap
bermacam objek, seperti kecanduan berjudi, internet, dan seks. Kata kunci
“ketergantungan” yang lainnya yaitu … (ideas of compulsivity), beresiko
mengalami hal yang merugikan/membahayakan, dan masalah dengan motivasi.
West (2006) menyebutkan bahwa definisi ketergantungan sebagai sebuah
sindrom meliputi … (reward-seeking) yang berakibat pada … (significant harm).
Menurutnya, ketergantungan ialah masalah sistem motivasional seseorang.
Ketergantungan juga mencakup dorongan hati, merasa menginginkan sesuatu, dan
rasa (sense) identitas seseorang (West, 2006). Ini juga bisa mencakup
ketergantungan (dependence) – baik fisik atau psikis – dan mabuk. Ini merupakan
bentuk akibat dari keputusan yang dibuat seseorang, perasaan emosional yang
muncul terhadap sesuatu yang diinginkan; ini merupakan bagian dari perilaku
kebiasaan (habitual behaviour), dan sebagian besar mencakup perilaku dan
perasaan.
Yang serupa dengan definisi ini ialah perilaku yang menimbulkan dorongan
(compulsive behaviour), terhadap sesuatu yang diinginkan, yang berakibat pada
… (risk of harm) dan tindakan yang bisa menimbulkan masalah. Bagaimana
konsep ketergantungan ini dilihat mempengaruhi bagaimana masyarakat dan para
ahli meresponnya, dan bagaimana penelitian terhadap permasalahan ini dilakukan.
Walters dan Gilbert (2000) berusaha untuk menjelaskan definisi operasional
dari konsep ketergantungan. Dalam penelitian sebelumnya, Walters (1999)
mengemukakan bahwa mungkin ada empat kata kunci dari definisi operasional
ini: … (a general progression element) (terdiri dari ketergantungan [dependence]
fisik maupun psikiologis), penuh perhatian, merasa kurang kontrol, dan terus-
menerus menunjukkan wajah yang kurang menyenangkan. Walters dan Gilbert
(2000) bertanya pada klien yang mengikuti kelas pendidikan narkoba (n = 31),
dan Anggota (n = 20) dari Asosiasi Psikologi Amerika (hanya Divisi
Ketergantungan), untuk menjelaskan konsep ketergantungan. Tidak hanya
seorang yang memberikan definisi yang mengandung keempat kata kunci
tersebut. Lebih jauh lagi, di antara kedua kelompok tersebut terdapat perbedaan.
Respon para ahli pada awalnya 50% ialah ketergantungan fisik, dan serempak
mereka mendefinisikan ketergantungan sebagai serangkaian perilaku yang
mempunyai karakteristik tersendiri. Tetapi, “para ahli senior mungkin
memasukkan ketergantungan (dependence) fisik dalam definisi ketergantungan
versi mereka daripada para ahli junior” (Walter dan Gilbert, 2000: 218). Para ahli
junior lebih mendefinisikan ketergantungan sebagai perilaku yang didorong
karena kebiasaan (compulsive-habitual behaviour). Perbedaan ini mungkin
menindikasikan adanya perubahan dalam konsep ini. Sebaliknya, respon awal dari
kelompok klien (mendekati 30%) menyebutkan bahwa ketergantungan
dikarenakan kurangnya kontrol, dan mereka mendefinisikan ketergantungan
sebagai sebuah cara pandang terhadap sesuatu (fokus terhadap kurangnya kontrol,
merasa harus terus berperilaku seperti yang biasa mereka lakukan, dan tidak mau
memulai). Walters dan Golbert menyatakan bahwa mungkin saja ada definisi
operasionalnya. Tetapi seseorang yang ketergantungan mungkin saja mempunyai
definisi sederhana tentang sikapnya. Oleh karena itu, kriteria ketergantungan bisa
bervariasi berdasarkan usia dan pengetahuan. Walaupun demikian, tanta definisi
operasional, konsep ketergantungan sangat sulit untuk mendapatkan kredibilitas
ilmiah.
Ketergantungan juga dijelaskan sebagai sebuah proses yang dinamis
(Shaffer dan Albanese, 2005) yang intensitasnya fluktuatif – bahwa mereka yang
mengalami ketergantungan bisa mengalami masa ketika mereka harus menahan
rasa kecanduan, … (exacerbation), dan mengontrol penggunaan barang yang
membuat mereka ketergantungan. Pendapat mengenai konsep ini juga muncul
untuk membedakan para ahli dan klien (Walters dan Gilbert, 2000). Tetapi, para
klien yang mendapat pelayanan psikologis masalah ini cenderung melihat
ketergantungan sebagai sebuah kebutuhan, keinginan, dan kurangnya kontrol.
Para ahli (psikolog masalah ketergantungan) menunjukkan kecenderungan untuk
melihat ketergantungan sebagai perilaku yang muncul karena adanya dorongan,
adanya ketergantungan (dependence) fisik, dan kurangnya kontrol.
Ada bermacam definisi ketergantungan. Karena makna yang sulit dipahami
dan tidak adanya definisi yang jelas, akhirnya dilakukanlah penelitian dan praktek
klinis, seperti penentuan nilai rata-rata dan penelitian terhadap epidemiologi,
penilaian, dan pengobatan. Meskipun demikian, hasil dari penelitiannya
terakumulasi dalam sifat dasar ketergantungan dan masa remaja.

SEKILAS TENTANG TEORI KETERGANTUNGAN

Banyak teori dikemukakan untuk menjelaskan definisi ketergantungan,


mulai dari penjelasan personal atau interpersonal hingga penjelasan kontekstual.
Teori yang berlawanan menjelaskan bahwa jalan menuju ketergantungan itu
berbeda untuk setiap orangnya, dan bahwa ketergantungan itu sangat unik.
Dalam hipotesis batu loncatan, mariyuana diyakini sebagai langkah pertama
menuju narkoba jenis lainnya. Cohen (1972) mengemukakan bahwa mereka yang
kecanduan narkoba biasanya mencoba beberapa jenis narkoba sebelum akhirnya
ketergantungan. Kandel (1975) mengemukakan … (a multiple-stage progress
theory), sebuah teori yang mengemukakan bahwa remaja yang mengkonsumsi
zat-zat aditif (narkoba) biasanya melalui empat tahapan terlebih dahulu, diawali
oleh bir atau anggur atau keduanya, kemudian berlanjut mencoba rokok atau
minuman keras, lalu mariyuana, dan terakhir menggunakat zat-zat psikoaktif dan
obat-obatan terlarang. Kandel menyebutkan bahwa obat-obatan legal … (are
necessary intermediates between non-use and marijuana). Teori batu loncatan dan
… (multiple stage progress theories) membawa kita menuju perkembangan teori
yang sedang populer … (gateway theory) (Demoss, 1992), dimana teori ini
menyatakan bahwa ketergantungan dimulai oleh narkoba yang tidak terlalu keras
(jenis ringan) lalu berlanjut pada narkoba jenis keras. Teori-teori yang
mengemukakan bahwa tidak ada pola yang konsisten untuk penggunaan narkoba,
yaitu seperti:
(1) gerbang menuju narkoba tidak harus berawal dari narkoba jenis ringan yang kemudian
berlanjut pada pemakaian narkoba jenis keras atau obat-obatan terlarang … (2) narkoba
jenis apapun bisa membuka jalan untuk narkoba jenis lainnya karena diikuti oleh
peningkatan resiko yang disebabkan oleh penggunaan narkoba jenis lainnya … (3) dua jenis
narkoba merupakan pintu gerbang menuju narkoba jenis lainnya. (Chen dkk., 2002: 802)

Pemahaman tentang gerbang menuju narkoba ini telah berkembang lebih


dari 30 tahun. Bisa dilihat bahwa tidak ada proses linear dari narkoba jenis ringan
pada narkoba jenis keras, tetapi ada kemungkinan penggunaan narkoba diawali
setelah mencoba satu atau beberapa jenis narkoba. Bagaimana teori ini berlaku
untuk ketergantungan pada zat-zat aditif lainnya sama sekali tidak jelas.
Teori kelompok teman sebaya (Oetting dan Beauvais, 1986)
menggambarkan hubungan antara penggunaan zat-zat pada remaja dan
penggunaan zat-zat pada teman sebaya mereka. Bagi kelompok remaja yang
bermasalah dengan penggunaan zat-zat tertentu, masalah ketergantungan ini
muncul untuk menormalkan dan menguatkan perilaku. Salah satu pertanyaan
penting mengenai teori ini adalah, apakah remaja dalam memilih teman, mereka
memilih teman yang menjadi pengguna zat-zat tertentu, atau apakah teman sebaya
mereka menyuruh remaja menggunakan zat-zat terlarang? Simons-Morton dan
Chen (2006) melaporkan bahwa ada pengaruh timbal balik; tetapi “sosialisasi
merupakan pengaruh yang lebih sesuai daripada memilih teman sebaya” (Simon-
Morton dan Chen, 2006: 1211).
Teori atribusi berhubungan dengan bagaimana oarng menjelaskan perilaku
orang lain. Proses membuat sebuah atribut merupakan sebuah cara untuk
menjelaskan perilaku seseorang … (in an effort to make sense of the world).
Perilaku seseorang bisa dihubungkan dengan penyebab internal (contohnya,
karakter dasar seseorang) atau penyebab eksternal (situasi). Hal yang harus
diperhatikan ialah bahwa atribusi dibuat dari informasi yang kurang bahkan
kadang tidak lengkap. Hal lainnya yang harus menjadi perhatian ialah bahwa
kesalahan atribusi mungkin saja terjadi – kenyatannya, kesalahan atribusi yang
utama sering terjadi; yaitu perilaku remaja sering dihubungkan dengan sifat
internal mereka (pembawaan lahir) sementara penyebab eksternal seringkali
diabaikan. Atribusi negatif pada remaja bisa benar-benar membahayakan. Teori
atribusi telah digunakan untuk menggambarkan penggunaan kata ketergantungan
sebagai label dan bisa meningkatkan rasa ketidaktanggungjawaban, belajar
berputus asa, dan tidak peduli (Davies, 1997). Begitupun juga penggunaan istilah
“ketergantungan” membawa pada kondisi putus asa karena … (self fulfilling
prophecy), ketergantungan (dependence), dan … (low self-efficacy) (Walters,
1999). Teori atribusi bisa membantu menjelaskan ketergantungan pada remaja dan
bagaimana orang lain melihat remaja yang mengalami ketergantungan. Ini bisa
dilengkapi dengan tes … (self-efficacy) dan teori kognitif sosial.
Teori kognitif sosial (Bandura, 1977) digunakan untuk menjelaskan perilaku
sebagai sesuatu yang dipelajari … (symbolically) melalui pemrosesan respon
informasi terpusat sebelum perilaku “ditampilkan” – yaitu, seorang individu
mengamati perilaku orang lain kemudian membentuk gambaran simbolis mereka
yang menjadi model. Individu menerapkan proses motivasional ketika dia
memilih perilaku saat ditunjuk sebagai model, atau memilih perilaku model yang
menurutnya efektif untuk tujuannya. Penguatan (reinforcement) merupakan
sebuah respon mekanis yang memperkuat perilaku dengan memberikan pengaruh
informasional dan motivasional. Orang-orang menunjukkan reaksi evaluasi diri
dan reaksi atas respon yang datang dari luar sebagai panduan untuk bersikap di
masa yang akan datang. Reaksi evaluasi diri bisa membawa seseorang pada
perasaan … (self-efficacy). Menurut Bandura (2000: 212):
… (self-efficacy) ialah kepercayaan seseorang terhadap kemampuan diri untuk
menunjukkan kontrol terhadap berbagai kejadian yang mempengaruhi kehidupannya.
Kepercayaan … (efficacy) membentuk dasar-dasar … (human agency). Jika orang-orang
percaya bahwa perilaku mereka itu mengandung akibat, maka dorongan untuk berperilaku
sangat sedikit.

Bandura (1999, 214) menegaskan bahwa … (self-efficacy) bisa


meningkatkan perubahan keinginan melalui beberapa proses, termasuk afektif,
kognitif, pilihan (choice), dan motivasional. … (self efficacy) bisa mempengaruhi:
setiap fase perubahan seseorang – usaha awal untuk mengatasi penyalahgunaan narkoba, …
(achievement of desired changes), proses penyembuhan dari sakit, dan perawatan jangka
panjang untuk kehidupan yang bebas narkoba. Tantangan utama yang dihadapi mantan
pecandu narkoba ialah menggunakan kembali narkoba setelah sembuh dari ketergantungan.

Wilayah yang … (vulnerability) bisa teridentifikasi ketika menilai persepsi


remaja tentang … (self-efficacy). Dalam teori kognitif sosial, keluarga biasanya
merupakan pembentuk karakter yang paling mempengaruhi dan pengatur perilaku
dan kepercayaan apa yang dianut seseorang; namun demikian, banyak pihak lain
bisa terlibat dalam proses ini, termasuk teman, terutama teman satu kelompok.
Contohnya, penelitian baru-baru ini mengemukakan bahwa perilaku merokok
yang dilakukan oleh teman dekat merupakan pihak yang sangat mempengaruhi di
antara siswa remaja putra, sementara perokok yang lebih tua sangat
mempengaruhi siswa remaja putri (Leatherdale dkk., 2006). Teori kognitif sosial
berfungsi untuk menjelaskan beberapa observasi tentang mereka yang mengalami
ketergantungan, terutama mereka yang menjadi model perilaku dalam keluarga
dan teman sebaya, dan pengaruh … (self-efficacy) seseorang terhadap proses
penyembuhan.
West (2006) melakukan tinjauan yang komperhensif tentang beberapa teori
untuk menghasilkan teori baru tentang motivasi agar bisa menjelaskan
ketergantungan, dan mengelompokkan sejumlah teori ke dalam tiga tipologi
utama. Kelompok pertama terdiri dari teori-teori yang mengemukakan bahwa
ketergantungan dilakukan dikarenakan pilihan yang dibuat. Pilihan-pilihan ini
bisa saja rasional, irasional, stabil, atau tidak stabil. Kelompok kedua mencakup
konsep dorongan hati, paksaan, dan kontrol diri. Yang paling diperhatikan ialah
model “penyakit” (disease model), dimana ketergantungan dijelaskan sebagai
dorongan hati yang sangat kuat yang diakibatkan karena perubahan patologis di
dalam otak. Pengelompokkan ini juga mencakup konsep-konsep lain, seperti
kepribadian sebagai faktor yang mempengaruhi, … (self-efficacy), dan mengatur
diri sendiri. Kelompok ketiga menjelaskan teori-teori yang menjelaskan
ketergantungan sebagai sebuah kebiasaan atau hasil dari pembelajaran
instrumental. West khusus membahas teori-teori klasik, … (operant), dan teori
pembelajaran sosial di antara teori-teori lainnya. Ini mungkin bisa dibantah, tetapi
dalam teori pembelajaran sosial, individu secara aktif mencari karakter model dan
memperhatikannya lalu kemudian menirunya - … (suggesting) bahwa teori ini …
(misclassified). Yang terakhir, West mengemukakan teori barunya tentang
motivasi, yang berisi lima elemen level tinggi (PRIME: plans, responses,
impulses, motives, dan evaluations – rencana, respon, keinginan, motif, dan
evaluasi) yang saling mempengaruhi satu sama lain dan dipengaruhi sistem
lainnya, seperti kondisi emosional. Dalam teori PRIME yang dikemukakan oleh
West ini, ketergantungan dijelaskan sebagai (West, 1006: 147):
sebuah konsep sosial, bukan sebagai objek yang bisa didefinisikan secara berbeda.
Mengacu pada teori yang dikemukakan sebelumnya, ketergantungan dilihat sebagai sebuah
kondisi yang kronis dari “sistem motivasion” dimana perilaku ingin memperoleh reward
(hadiah) menjadi “di luar kontrol". Ini sering menghasilkan sindrom-sindrom tertentu,
seperti “sindrom ketergantungan (dependence) alkohol yang gejala-gejalanya yaitu sangat
menginginkannya dan menarik diri dari masyarakat, tetapi ini bukan permasalahannya.

Ketergantungan bisa bervariasi berdasarkan tingkat keparahan kasusnya dan


merupakan bukti adanya pola perilaku yang berbeda, mulai dari kecanduan
minuman keras hingga … (a chronis and sustained level of behaviour). Namun
tidak selalu bahwa perilaku tersebut menggambarkan ketergantungan. West
(2006: 175) mengemukakan bahwa ada tiga tipe utama abnormalitas yang
menyebabkan ketergantungan, seperti di bawah ini:
1. Abnormalitas dalam sistem motivasi seorang individu yang muncul
secara independen dalam perilaku ketergantungan, seperti
kecenderungan untuk merasa takut, depresi, atau … (impulsiveness).
2. Abnormalitas dalam sitem motivasi yang muncul dari perilaku
ketergantungan itu sendiri, seperti … (of a strongly entrenched habit or
an acquired drive).
3. Abnormalitas dalam lingungan fisik atau sosial, seperti adanya
tekanan dari lingkungan sosial atau tekanan lainnya yang sangat kuat
yang masuk ke dalam aktivitas individu.

Teori West tentang ketergantungan ini sangat menarik karena menjangkau


neurobiologi, psikologi, dan ilmu sosial. West berusaha untuk … (address) segi-
segi masalah ketergantungan, mencakup awal ketergantungan, bagaimana
mengakhirinya, ketergantungan yang kronis, dan ketergantungan lagi (kambuh
kembali). Dalam teori PRIME-nya tentang motivasi, West menjelaskan konsep
ketergantungan dan membantu mengembangkan pemahaman sejumlah
manifestasinya. Teori yang baru digagas ini bisa membuktikan bermanfaat untuk
memahami ketergantungan pada remaja.

FAKTOR PERKEMBANGAN, SOSIAL, DAN NEUROBIOLOGIS YANG


BERHUBUNGAN DENGAN MASALAH KETERGANTUNGAN
… (the etiology) ketergantungan tidak seluruhnya jelas, tetapi apa yang
diketahui ialah bahwa ketergantungan ialah sebuah proses yang kompleks
(Berkow dkk., 1997; West, 2006). Faktor yang mempengaruhi katergantungan
mencakup karakteristik fisik seperti pengaruh genetis, kepribadian, dan kelas
sosial-ekonomi. Faktor psikologis yang berpengaruh terhadap ketergantungan
termasuk cenderung merasa takut, depresi atau … (impulsiveness), dan, terutama,
… (distress) emosional dimana narkoba bisa menyembuhkan ketegangan
emosional. Keadaan sosial, seperti tekanan dari kelompok atau teman sebaya,
mengasingkan diri dari masyarakat, tekanan dari lingkungan atau dari media
massa, juga merupakan faktor penting yang berpengaruh ketika mengembangkan
pemahaman tentang masalah ketergantungan pada remaja.
Walaupun definisinya berbeda, tingkat penggunaan zat aditif pada remaja
telah dilaporkan di beberapa negara. Secara umum, mayoritas (~ 80-90%) di
Prancis dan Anerika melaporkan mereka pernah mengkonsumsi alkohol saat lulus
SMA (Essau dkk., 2002). Tingkat rata-ratanya pada remaja, secara umum, cukup
bervariasi. Contohnya, di Kanada, tingkat remaja yang senang berjudi berbeda-
beda (Gupta dan Derevensky, 1998). Lebih dari 80% siswa SMA melaporkan
pernah berjudi tahun lalu, 35,1% berjudi bulan lalu; tetapi tingkat patologis judi
bisa diketahui dengan pengukuran menggunakan DSM-IV yaitu 4,5%. Di
Amerika, alkohol ialah minuman yang sangat populer di kalangan remaja – 25%
remaja berumur 13 tahun melaporkan telah meminum alkohol pada 30 hari
terakhir (Grant dan Dawson, 1997). Ini penting juga bahwa, sebagai tambahan
untuk masalah definisi dan metodologis dalam melaporkan tingkat rata-rata, tidak
cukup jelas berapa banyak figur-figur di atas menggambarkan kelompok remaja
yang bermacam-macam di seluruh dunia.
Kebanyakan faktor yang mengandung resiko sudah dikelompokkan menurut
klasifikasinya. Beman (1995) telah mengklasifikasikan faktor-faktor resiko yang
berhubungan dengan ketergantungan, di antaranya yaitu faktor resiko demografis,
sosial, perilaku, dan individual. Sullivan dan Farrell (2002) telah … (organize)
pengklasifikasian mengenai … (early initiation to substance use), faktor genetis-
biologis, psikologis, faktor yang berhubungan dengan teman sebaya, keluarga,
sekolah, dan kelompok, kejadian-kejadian yang traumatis dan negatif, dan banyak
faktor beresiko lainnya. Para ahli yang lainnya telah mengembangkan klasifikasi
berdasarkan faktor intrapersonal, interpersonal, dan lingkungan (environmental)
atau faktor kontekstual. Dalam bab ini, faktor resiko akan dibahas dalam
klasifikasi faktor perkembangan, sosial, dan neurobiologis.

FAKTOR PERKEMBANGAN

Perkembangan psikologis bisa … (be compromise) oleh masalah


ketergantungan dan kesehatan mental. … (the comorbidity) gangguan mental dan
ketergantungan pada zat-zat aditif sangat tinggi (Kessler dan Walters, 2002).
Penelitian pada remaja yang tinggal dalam suatu komunitas atau tinggal di panti
rehabilitasi … (appears to confirm two models) (Newcomb dkk., 1997): yang
pertama, masalah kesehatan mental remaja bisa dilihat untuk … (precede)
perilaku ketergantungan; sementara di sisi lain, perilaku ketergantungan juga bisa
memperburuk masalah kesehatan mental. Ketika studi kepustakaan tentang tipe-
tipe ketergantungan berkembang, maka kita bisa membedakan pola yang sama
dalam bidang masalah yang lainnya, seperti kecanduan judi. Penelitian yang
dilakukan di Cina menjelaskan hubungan antara kesehatan mental dengan
kecanduan internet atau benda elektronik lainnya. Mahasiswa yang kecanduan
internet ditunjuk untuk membedakan mereka dengan mahasiswa yang tidak
kecanduan internet dalam sejumlah level (Xiaoming, 2005). Mahasiswa yang
kecanduan internet menunjukkan skor negatif lebih banyak yang berkaitan dengan
masalah kesehatan mental, dukungan sosial, kepuasan dalam hidup, ketakutan
untuk berinteraksi, … (self-rating depression), dan harga diri daripada mereka
yang tidak kecanduan internet. Wang dan He (2000: 316) menyimpulkan bahwa:
Kecanduan game elektronik menyebabkan munculnya masalah kepribadian (seperti rindu
akan … (stimulation, emotionally, enxiety, dan concealment) dan masalah kesehatan mental
(seperti somatization, sensitifitas terhadap hubungan interpersonal, permusuhan, dan
paranoid).

Tentu saja mungkin ada beberapa tantangan, seperti pengalaman negatif


dalam hidup, yang membuat remaja mudah mengalami ketergantungan.
Keluarga diyakini memberikan pengaruh yang sangat penting terhadap
perkembangan anak. Keluarga sebagai orang yang memberi perhatian yang selalu
ada baik secara emosional ataupun secara fisik penting untuk kesehatan kejiwaan
anak dan remaja. Kesulitan hubungan antara orang tua-anak bisa berlangsung
selama masa kanak-kanak dan remaja. Formoso, dkk. (2000) menunjukkan bahwa
kurangnya perhatian dari keluarga, kurangnya keahlian parenting yang positif,
dan manajemen keluarga yang kurang baik merupakan faktor-faktor penting yang
menyebabkan perilaku menggunakan zat-zat terlarang atau kriminalitas pada
remaja. Sebaliknya, pengawasan dan monitoring yang dilakukan secara intens
bisa mengurangi resiko percobaan menggunakan narkoba (Chilcoat dkk., 1995).
Dengan demikian, interaksi dengan orang tua yang positif bisa melindungi remaja,
sementara kurangnya interaksi orang tua membuat anak beresiko mengalami
penggunaan zat-zat terlarang dan ketergantungan.
Penelitian diawali dengan penegasan tentang adanya hubungan antara
ketergantungan pada remaja dengan kelompok etnis yang berbeda. … (the
association among substance use) dan pengalaman awal yang tidak
menyenangkan ditunjukkan dalam … (victimization) di antara remaja di Afrika
Selatan (Morojele dan Brook, 2006). Gabungan antara permasalahan keluarga dan
kesulitan-kesulitan lain yang dialami dalam keluarga serta masalah alkohol
dilaporkan muncul di antara komunitas warga Australia pribumi yang tinggal di
tempat terpencil (remote area) (Kelly dan Kowalyszyn, 2003). Di Taiwan, ada
sedikit perbedaan antara siswa Han dan pribumi mengenai penggunaan minuman
beralkohol dan penyalahgunaannya (Yeh dan Chiang, 2005). Bagi remaja-remaja
Han, masalah minuman beralkohol dialami oleh pria, orang tua yang peminum,
rumah tangga yang single parent, dan teman sebaya yang juga peminum,
sementara untuk siswa pribumi, masalah minuman beralkohol dialami oleh pria,
orang tua yang peminum, dan teman sebaya yang juga peminum – contohnya,
struktur keluarga hanya muncul bersama dengan masalah minuman beralkohol
yang dialami oleh siswa Han. Sementara persamaan dalam karakteristik remaja
dengan permasalahan ketergantungan bisa dilihat di berbagai etnis, beberapa etnis
… (experience) gabungan yang unik antara faktor-faktor personal, interpersonal,
keluarga dan faktor sosio-ekonomi yang mempengaruhi sifat-sifat ketergantungan.
Contoh yang sesuai diberikan olah remaja yang tinggal di First Nations …
(reserves) di Kanada.
FAKTOR-FAKTOR SOSIAL

Remaja bisa menjadi sangat sensitif jika berhubungan dengan interaksi


sosial mereka. Mereka mungkin dianggap aneh oleh keluarganya, bisa menjadi
sangat sensitif karena tekanan dari teman sebaya dan mengalami … (angst in this
time of) perubahan yang sangat besar. Lebih jauh lagi, keputusan yang mereka
buat mungkin mengandung konsekuensi yang sangat besar, walaupun
keputusannya sering dibuat dalam kondisi pikiran yang … (invincible).
Usaha untuk menjelaskan pola ketergantungan dan penggunaan zat-zat
terlarang yang dialami remaja dikemukakan sebagai mekanisme psikososial yang
mendasari … (health inequities). …(health inequities) dilihat sangat relevan
dalam masa transisi yang penting antara anak-anak menuju orang dewasa.
Hubungan antara status sosioekonomi dan penggunaan zat-zat terlarang mendapat
lebih banyak perhatian; tetapi hubungannya sangat rumit (Goodman dan Huang,
2002). Bukti menunjukkan adanya hubungan antara status sosio-ekonomi yang
rendanh dengan perilaku merokok pada remaja, tetapi hubungannnya dengan
perilaku ketergantungan lainnya bervariasi. Begitu juga dengan mereka yang
secara sosial termarjinalkan, tingkat ketergantungannya sangat tinggi.
Di Kanada, ketergantungan pada remaja pada penduduk pribumi dikaitkan
dengan sejarah pemindahan mereka (contohnya, relokasi … (to reserves)),
kehilangan jalan hidup, … (mandatory residential schooling), dan usaha-usaha
pemerintah yang lainnya dalam mencampurkan budaya (Denov dan Campbell,
2002). Pengaruh perlakuan terhadap penduduk pribumi ini disebut-sebut sebagai
kehilangan kebudayaan tradisional dan identitas mereka secara signifikan,
hilangnya kontrol atas kondisi kehidupan mereka, menghancurkan ekonomi
tradisional, dan mengalami stres. Ini membawa pada pola perilaku merusak
“mempengaruhi penduduk pribumi untuk menyalahgunakan narkoba, bunuh diri,
dan perilaku lainnya yang bisa menyakiti diri sendiri” (Denov dan Campbell,
2002: 25). Tingkat rata-rata perokok di antara penduduk remaja Kanada asli
dilaporkan sebanyak 50% bagi mereka yang berumur 10-19 tahun, dan 82% bagi
mereka yang berumur 15-19 tahun (Retnakaran dkk., 2005). Gambaran ini lebih
tinggi dari rata-rata pada usia tertentu. Pada tahun 1990 dalam Davis Inlet, 80-
85% warga yang berumur sekurang-kurangnya 15 tahun merupakan pecandu
alkohol, dimana setengahnya melaporkan bahwa mereka mabuk setiap hari
(Wadden, 1991). Banyak remaja pribumi melaporkan bahwa mereka menghirup
narkoba sejak tahun 1970-an, dimana 62% suku Cree dan Inuit mengungkapkan
bahwa mereka … (sniffed gas) (York, 1990), dan menurut laporan jumlahnya
meningkat. … (Gas-sniffing) yang berkepanjangan sangat berbahaya, bisa
merusak ginjal dan hati, serta merusak sistem syaraf dan otak secara permanen.
Permasalahan sosial, yaitu perilaku antisosial dan agresif, juga merupakan hasil
dari … (gas –sniffing). Lebih dari 15 tahun yang lalu, banyak kelompok anak-
anak dan remaja ditemukan sedang … (sniff gas) dalam kondisi yang
membahayakan (contohnya, dalam temperatur yang dingin dengan cahaya lilin)
dan bahkan hingga mencoba bunuh diri dengan … (gas-sniffing) (Denov dan
Campbell, 2002). Tingkat rata-rata terbesar dalam penyalahgunaan narkoba
muncul di antara kelompok yang secara geografis dan secara sosial
termarjinalkan. Untuk remaja pribumi, tingkat rata-rata ketergantungan alkohol,
… (gas sniffing), dan bunuh diri dikaitkan denganm hidup mereka yang suram
dan kebingungan tentang jati diri mereka.
… (the course) dan akibat dari penyalahgunaan narkoba pada remaja telah
diuji berkenaan dengan tiga sampel utama: komunitas, proses rehabilitasi
(terutama bagi mereka menderita lagi ketergantungan) dan mereka yang sembuh
tetapi tidak direhabilitasi (Wagner dan Tarolla, 2002). Hasilnya ialah masalah
penyalahgunaan pada remaja bervariasi, dan bahwa “… (course) dan hasilnya
juga bervariasi” (Wagner dan Tarolla, 2002: 132). Ketergantungan yang kambuh
lagi dalam jangka waktu setahun rehabilitasi umum terjadi; dalam sampel
komunitas, … (comorbid psychopathology) signifikan dan mempunyai pengaruh
yang buruk terhadap hasil (outcome). Juga dilaporkan bahwa remaja yang sembuh
sdari ketergantungan tanpa rehabilitasi bertumpu pada usaha mereka sendiri,
pengaruh sosial yang positif, dan aktivitas yang terstruktur yang tidak
berhubungan dengan obat (Wagner dan Tarolla, 2002). Secara umum,
ketergantungan mungkin tidak sesuai dengan penelitian ini.
FAKTOR-FAKTOR NEUROBIOLOGIS

Sebuah penelitian dilakukan ntuk memahami efek narkoba sebagai “hadiah”


biologis. Narkoba mempunyai kemampuan untuk mengaktifkan rangkaian
endogin otak (endogenous brain circuitry) (Wise dan Bozarth, 1985) dan
mekanisme syaraf – contohnya, … (blocking the dopamine reuptake mechanism)
(Wise, 1984). Baru-baru ini, Koob dkk., (2004) melakukan banyak penelitian dan
tinjauan untuk menentukan mekanisme neurobiologis yang terlibat dalam perilaku
ketergantungan pada narkoba. Koob dkk., (2004: 739) mendefinisikan
ketergantungan pada narkoba sebagai “penyimpangan perilaku akut yang
dicirikan dengan adanya dorongan untuk mengkonsumsi narkoba, tidak bisa
mengontrol konsumsi obat, dan rusaknya fungsi sosial dan pekerjaan seseorang”.
Koob menggarisbawahi kerangka heuristik tentang perubahan neuroadaptif dalam
… (brain neurocircuity) yang muncul untuk menjelaskan tahapan siklus
ketergantungan yang berbeda (Koob, 2000, 2003, 2006; Weiss dan Koob, 2001).
Dalam kerangka ini, dikemukakan bahwa perubahan neurobiologis yang utama
dalam kasus penyalahgunaan zat-zat aditif mencakup sistem … (a compromised
reward sistem), sistem ketegangan dalam otak yang … (over-activated), dan
fungsi korteks … (compromised). Koob berhasil mencapai model ini melalui
tinjauan beberapa tipe penelitian. Dari penelitian hewan, ditemukan bahwa
disregulasi dari mekanisme neurokimia tertentu dalam sistem … (brain reward
sistem) dan ketegangan otak memudahkan untuk ketergantungan kembali.
Perilaku mudah mengalami ketergantungan ini diketahui melalui penelitian
genetis yang melibatkan pengkodean gen dan elemen-elemen neurokimia dalam
… (the brain reward dan stress sistem). Dari … (human imaging studies),
ditunjukkan bahwa … (neurocircuits) berperan dalam perilaku mabuk berat,
ketergantungan yang sudah parah, dan mudah untuk mengalami ketergantungan
lagi. Dengan demikian, langkah besar dibuat dalam mengembangkan pemahaman
tentang mekanisme neurobiologis yang berperan dalam kasus ketergantungan
narkoba. Walaupun pemahaman ini masih belum sempurna, (Koob, contohnya,
mengemukakan bahwa arahan untuk penelitian selanjutnya harus meneliti
perubahan farmakologis tertentu), arahan selanjutnya harus mencakup usaha-
usaha untuk memahami faktor-faktor neurokognitif yang menyebabkan … (non-
substance related addiction).
Gagasan bahwa konsep ketergantungan tidak lagi dibatasi hanya pada obat-
obatan menjadi terkenal dalam beberapa bidang. Para peneliti telah berusaha
menunjukkan bahwa ketergantungan bisa meluas dan bisa diklasifikasi ulang
menjadi kategori ketergantungan non-farmakologis. Para peneliti sampai saat ini
berfokus pada membandingkan perilaku berjudi dengan konsep ketergantungan
tradisional. Dalam penelitian terakhirnya, Potenza (2006) dan Petry (2006)
menemukan bahwa … (current state of knowledge) dalam masalah ini
mengemukakan bahwa persamaan yang substansial terlihat di antara patologis
berjudi dan penyalahgunaan narkoba. Bahkan, persamaan dalam fungsi
neurokognitif juga ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang prospektif dengan
menggunakan sample yang diambil dari pusat rehabilitasi ketergantungan dan
pusat kesehatan mental. Goudriann dkk (2006) menemukan bahwa …
(pathological gamblers) dan kelompok yang mengalami ketergantungan alkohol
dicirikan dengan fungsi eksekutif yang berkurang (kemungkinan disfungsi …
(frontal lobe circuitry). Dengan demikian, ada perngembangan menjadi etiologi
neurokognitif umum bagi orang-orang yang mengalami ketergantungan
alkohol/berjudi.
Perkembangan masalah ketergantungan narkoba sangat kompleks,
meibatkan banyak penyebab seperti farmakologis, genetic, dan lingkungan.
Walaupun sejumlah penelitian telah menunjukkan efek ketergantungan narkoba
terhadap … (neural circuitry), namun factor neurobiologist yang mengikuti objek
keinginan lainnya tidak terlalu banyak diketahui.

Gas sniffing