Anda di halaman 1dari 46

1

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan pemakaian teknologi
informasi saat ini sudah semakin meningkat
di berbagai industri. Hal ini terjadi dengan
suatu kesadaran bahwa pemanfaatan
informasi yang baik dan benar tidak hanya
akan memberikan efisiensi dan
meningkatkan produktivitas, tetapi juga akan
meningkatkan layanan dan keunggulan
bersaing organisasi.
Kesadaran pemanfaatan teknologi
Gambar 1.1
informasi tersebut dilanjutkan dengan proses
Aspek-Aspek Organisasi
implementasi teknologi informasi, baik dari
sisi perangkat lunak (software) maupun
perangkat keras (hardware) dan
infrastruktur. Tentu saja dengan harapan
agar teknologi informasi yang dibangun
mampu memberikan manfaat sesuai dengan
yang diharapkan.
Untuk bisa menerapkan pengelolaan teknologi informasi yang baik, diperlukan
perencanaan strategis pengembangan sistem dan teknologi informasi sehingga pola
investasi dan pengembangan sistem yang akan dilakukan berjalan sesuai dengan
tahapan-tahapan yang telah ditentukan sebelumnya. Rencana strategis ini dituangkan
dalam bentuk dokumen yang disebut IT Master Plan.

1.2. Area Teknologi Informasi


Dalam IT Master Plan ini, tinjauan terhadap teknologi informasi dilakukan secara
menyeluruh.Tinjauan dilakukan bukan hanya terhadap aspek teknologi informasi
semata, melainkan juga aspek-aspek lainnya yang terkait erat dengan teknologi
informasi, yaitu aspek organisasi, manajemen risiko, manajemen proyek, investasi, dan
aspek support terhadap sistem dan infrastruktur informasi.
2

Gambar 1.2 – Area Teknologi Informasi

Tabel 1.1 - Komponen Teknis & Infrastruktur


End User Appliances Berbagai peralatan yang digunakan oleh pengguna, IT
Master Plan PT.Indofarma (Persero) Tbk. seperti :
notebook, PC, dan printer.
Data Center Appliances Berbagai peralatan untuk pusat data PT. Indofarma
(Persero) Tbk., seperti : server, kelistrikan (UPS),
pengamanan terhadap api, aliran udara (AC).
Network Appliances Berbagai peralatan untuk infrastruktur jaringan seperti
: router, switch dan modem; hingga ke infrastruktur
jaringan yang dimiliki (kabel, fiber optic, wireless
device).

Communications Berbagai infrastruktur untuk berkomunikasi internal


maupun eksternal yaitu : LAN, koneksi internet,
konvergensi dengan teknologi suara (voice over IP).

Office Software Berbagai aplikasi yang dibutuhkan di level individu


(pengguna) seperti : office software.
Technology Platform Berbagai platform teknologi yang digunakan sebagai
landasan pengembangan solusi (aplikasi bisnis) di
kemudian hari, bahasa pemprograman, seperti :
database, system operasi, dan bahasa pemrograman

User & Infrastructure Berbagai solusi untuk melakukan manajemen


Management terhadap peralatan yang dimiliki dan telah disebutkan
pada butir-butir di atas (bandwith management,
firewall, antispam dan antivirus, manajemen server),
serta manajemen pengguna (Active Directory).
3

Tabel 1.2 - Komponen Aplikasi


Applications Merupakan aplikasi bisnis yang dikembangkan untuk
digunakan dalam suatu proses bisnis dan memiliki
kemungkinan untuk kepentingan bersama besar untuk
digunakan secara bersama-sama

Tabel 1.3 - Komponen Manajemen


Investments & Project Merupakan suatu set kebijakan dan prosedur dalam
Management melakukan investasi di teknologi informasi dan
menjalankan implementasi teknologi informasi agar
hasilnya maksimal

Policies & Organization Merupakan suatu upaya dalam bentuk struktur


organisasi, kebijakan dan prosedur yang memastikan
semua aspek teknologi informasi memiliki suatu
landasan.

Support & Operation Merupakan suatu paket kebijakan dan prosedur dalam
rangka memastikan semua aspek teknologi informasi
dapat berjalan dengan baik

Risk Control Merupakan suatu set kebijakan dan prosedur yang


memastikan bahwa semua resiko yang timbul akibat
penggunaan dan implementasi teknologi informasi
telah dikaji dan senantiasa diamati dalam
penggunaannya di level operasional.

1.3. Asumsi Perancangan


Untuk menjaga validitas dan reliabilitas dari perancangan ini, maka diambil beberapa
asumsi perancangan yang dijabarkan sebagai berikut:
Perancangan yang dilakukan selama kurang lebih 30 hari ini mengambil data pada
Bank Rakyat Indonesia Tbk.
Metode pengambilan data yang digunakan adalah workshop, focus group discussion
(FGD), wawancara dan studi dokumentasi.
Analisis investasi yang dilakukan merupakan prediksi biaya yang dibutuhkan untuk
pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi.
Activity plan atau rencana kerja yang dibuat berdasarkan pada kebutuhan Sistem
maupun Teknologi Informasi yang dihasilkan dari perancangan ini.
4

2. PROFIL BANK BRI


2.1 Sejarah Singkat
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah
salah satu bank milik pemerintah yang
terbesar di Indonesia. Pada awalnya
Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan
di Purwokerto, Jawa Tengah oleh
Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan
nama Hulp-en Spaarbank der
Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau
Bank Bantuan dan Simpanan Milik
Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Dan pada tanggal 16
Desember 1895, dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama
di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun
1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif
kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi
Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960
dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari
BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian
berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke
dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan
Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan
baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (BKTN) diintegrasikan
dengan nama Bank Negara Indonesia Unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi
Bank Negara Indonesia Unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-Undang
Pokok Perbankan dan Undang-Undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang
Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral
dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-
masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor
Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan
kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
5

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun


1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi
perseroan terbatas.Sampai sekarang PT. BRI (Persero) yang didirikan sejak tahun
1895 tetap konsisten memfokuskan pada pelayanan kepada masyarakat kecil,
diantaranya dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil.
Seiring dengan perkembangan dunia perbankan yang semakin pesat maka
sampai saat ini Bank Rakyat Indonesia mempunyai unit kerja yang berjumlah 4.447
buah, yang terdiri dari 1 Kantor Pusat BRI, 12 Kantor Wilayah, 12 Kantor Inspeksi /SPI,
170 Kantor Cabang (dalam negeri), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor Cabang
Khusus, 1 New York Agency, 1 Caymand Island Agency, 1 Kantor Perwakilan
Hongkong, 40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P.POINT,3.705 BRI UNIT
dan 357 Pos Pelayanan Desa.
BRI sebagai perusahaan terbuka berkomitmen mematuhi seluruh ketentuan
perundang-undangan yang berlaku dalam kegiatan operasional bank maupun pasar
modal. Hal tersebut telah mendorong BRI untuk selalu mengutamakan prudential
banking dan kepentingan stakeholders.
BRI menerapkan nilai-nilai perusahaan (corporate value) yang menjadi
landasan berpikir, bertindak, serta berperilaku setiap insan BRI sehingga menjadi
budaya kerja perusahaan yang solid dan berkarakter. Nilai-nilai tersebut adalah
Integritas, Profesionalisme, Kepuasan Nasabah, Keteladanan, dan Penghargaan
kepada SDM. Komitmen ini juga diwujudkan dalam bentuk tata kelola perusahaan
sebagai berikut:
Mengintensifkan program budaya sadar risiko dan kepatuhan kepada setiap pekerja
di seluruh unit kerja.
Mengintensifkan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh unit kerja.
Menjabarkan dan memonitor setiap kemajuan yang dicapai perusahaan ke dalam
rencana tindakan yang terukur (RKA) dan dapat dipertanggungjawabkan oleh setiap
unit kerja.

2.2 Visi dan Misi Bank Rakyat Indonesia


VISI
“Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah”

MISI
Untuk mewujudkan visi tersebut, BRI menetapkan tiga misi yang harus dilaksanakan
yaitu :
6

BRI melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan memprioritaskan


pelayanan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menunjang
perekonomian masyarakat.
BRI memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang
tersebar luas dan didukung sumber daya manusia (SDM) yang profesional dengan
melakukan praktek tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
BRI memberikan keuntungan dan manfaat seoptimal mungkin kepada berbagai
pihak yang berkepentingan

2.3 Business Focus


Salah satu karakteristik dari Bank Rakyat Indonesia Tbk. yang tetap dan tidak berubah
sejak konsepsi adalah komitmennya untuk memberikan bantuan kepada usaha mikro,
kecil dan menengah (UMKM). Komitmen ini tercermin dalam alokasi kredit untuk sektor-
sektor yang mempengaruhi mata pencaharian penduduk dan jasa keuangan lainnya.

2.4 Struktur Organisasi & Manajemen


Gambar 2.1
7

Dewan Komisaris
PresidenKomisaris : Bunasor Sanim
Wakil Presiden Komisaris : Soedarjono
Komisaris : Agus Suprijanto
Komisaris : Heru Lelono
KomisarisIndependent : Aviliani
Komisaris Independent : Baridjussalam Hadi
Komisaris Independent : Adhyaksa Dault

Dewan Direksi
Presiden Direktur : Sofyan Basir
Director Pelaksana I : Sarwono Sudarto
Director Pelaksana II : Sulaiman Arif Arianto
Director Pelaksana III : A. Toni Soetirto
Director Pelaksana IV : Lenny Sugihat

2.5 Produk Layanan Perbankan


Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang konsisten berpijak pada sumber dana murah
telah memberikan keuntungan bagi BRI terutama dalam menjaga kestabilan Net
Interest Margin.
Pengalaman dan sukses pada pembiayaan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM), semakin memantapkan BRI untuk tetap memberikan pelayanan
terbaik pada segmen UMKM dan tetap menjadikan segmen UMKM sebagai fokus bisnis
BRI.

Tabel 2.1 Layanan Jasa Perbankan BRI


Layanan Simpanan Layanan Pinjaman
Deposito Mikro
Deposito BRI Rupiah Kupedes
Deposito BRI Valas Ritel
Depobri On Call (DOC) Kredit Agunan Kas
SertiBRI Kredit Express
Giro Kredit Investasi
GiroBRI Rupiah Kredit Modal Kerja
GiroBRI Valas Kredit Modal Kerja Ekspor
Tabungan Kredit Modal Kerja Impor
BritAma Kredit Modal Kerja Konstruksi
Simpedes BRI Guna
Tabungan Haji Kredit Waralaba
BRI Prioritas Kredit SPBU
BritAma Dollar Kredit Resi Gudang
8

Kredit Talangan BBM


Kredit Modal Kerja Konstruksi - BO I
Menengah
Agribisnis
Bisnis Umum
Program
KPEN-RP
KPR & KPRS Bersubsidi
Kredit Ketahanan Pangan dan
Energi
KUR BRI

Layanan Jasa Perbankan


Jasa Bisnis Kelembagaan
Bank Garansi Cash Management
Kliring Salary Crediting
Remittance SPP Online
SKBDN Cash Management BRI
Jasa Keuangan E-banking
Bill Payment ATM BRI
CEPEBRI SMS Banking BRI
Inkaso Phone Banking BRI
Penerimaan Setoran Treasury
Transaksi Online Foreign Exchange
Transfer dan LLG Money Market
Jasa Lain Fixed Income Securities (FIS)
Setoran Pajak Derivative dan Structured Treasury
Dana Orang Tua Asuh Products
Western Union
Denda Tilang
Zakat dan Infaq
Layanan Ekspor / Import

Produk Konsumer Produk Jasa Investasi


Kartu Kredit Reksadana
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Dana Pensiun Lembaga Keuangan
Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) (DPLK) BRI
Kredit Multi Guna (KMG) OBLIGASI NEGARA RITEL (ORI)
Kiosk
9

2.6 Pemetaan Proses Bisnis


Pemetaan proses bisnis ini berguna untuk menganalisis aktivitas spesifik yang ada di
Bank Rakyat Indonesia Tbk. sehingga kelak dapat menciptakan nilai dan keuntungan
yang kompetitif bagi perusahaan. Jika dipetakan ke dalam Porter Value Chain, maka
aktivitas spesifik yang terjadi di Bank Rakyat Indonesia dapat digambarkan seperti
dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2
Value Chain Porter (Rantai Nilai Porter)

Aktivitas spesifik di Bank Rakyat Indonesia terbagi 2 jenis, yaitu :

Primary activities Supported activities


Inbound logistics, aktivitas yg Procurement, berkaitan dengan
berhubungan dengan penanganan proses perolehan input/sumber
material sebelum digunakan. daya.
Operations, akivitas yg berhubungan Human Resources Management,
dengan pengolahan input menjadi Pengaturan SDM mulai dari
output. perekrutan, kompensasi, sampai
Outbound logistics, aktivitas yg pemberhentian.
dilakukan untuk menyampaikan Technological Development,
produk ke tangan nasabah. pengembangan peralatan, software,
Marketing & sales, aktivitas yang hardware, prosedur, didalam
berhubungan dengan pengarahan transformasi produk dari input
konsumen agar tertarik untuk menjadi output.
membeli produk. Firm Infrastructure, terdiri dari
Service, aktivitas yang departemen-departemen atau
mempertahankan atau meningkatkan fungsi-fungsi (akuntansi, keuangan,
nilai dari produk. perencanaan, GM, dsb) yang
melayani kebutuhan organisasi dan
10

mengikat bagian-bagiannya menjadi


sebuah kesatuan.

Value Chain Porter (Rantai Nilai Porter)


a. Primary Activities
1) Inbound logistic
Pengelolaan likuiditas yang sehat, dengan jumlah kas atau setara kas yaitu
sebesar 22,66%. Tercatat pada tahun 2009 laba bersih Bank BRI adalah
sebesar Rp 7,31 Triliun, dibandingkan dengan perolehan laba pada periode
yang sama tahun 2008 yang sebesar Rp 5,96 Triliun yang terdiri dari kas,
giro pada bank lain dan BI, efek-efek, portfolio Sertifikat Bank Indonesia, dan
obligasi.
Program Anti Pencucian Uang dan Kenali Nasabah Anda (penanganan
uang yang masuk).
2) Operations
Pemeliharaan rekening skala besar maupun kecil, kliring, setoran, tarikan
transfer, dls.
Compliance Group, yang mengawasi jalannya operasi agar sesuai dengan
peraturan dari Bank Indonesia.
Pemantauan kredit
Program Anti Pencucian Uang dan mengenali nasabah.
Audit Control Management
3) Outbound logistics
Dec-08 Dec-09
Layanan Bank BRI untuk seluruh
Kantor Pusat 1 1
masyarakat Indonesia juga semakin
Kantor Wilayah 14 17
mengakar dengan adanya jaringan Kantor Inspeksi 13 14
ATM BRI sebanyak 3.778 unit, 1 1
6.398 Electronic Data Capture Kantor Cabang 376 456
KCP 337 364
(EDC), 20 Cash Deposit Machine,
Kantor Kas 179 246
dan 60 Kiosk BRI. BRI Unit 2,987 4,493
BRI Memiliki 3918 Total Unit Kerja Teras BRI - 79
dan pada tahun 2010 akan Uker Luar Negeri 2 2
menambah 15 Kantor Cabang, 100
Sendik & Pusdik 7 7
Sentra Layanan Prioritas 1 5
Kantor Unit BRI, 25 Kantor Cabang
Sentra Kredit Konsumer 42
Pembantu, 50 Kantor Kas, dan 300 Total Unit Kerja 3,918 5,727
kantor Teras BRI1

1
www.kadin-indonesia.or.id/id/doc/3.%20BRI.ppt
11

Electronic Channel BRI juga semakin bertambah dengan adanya layanan


phone banking, sms banking dan internet banking bagi seluruh nasabah
Bank BRI.
Jalur distribusi pelayanan yang seimbang antara jaringan kantor cabang
konvensional.

4) Marketing & sales


Tersedianya teller dan information center yang cukup untuk menyampaikan
informasi bagi calon konsumen atau konsumen.
Strategi periklanan yang gencar di televisi dan promosi berupa
penyelenggaraan undian-undian tabungan berhadiah. Selain itu, adanya
Corporate Social Responsibility yang memberikan beasiswa dan bantuan
tenaga pengajar di bidang perbankan di beberapa universitas besar,
pendirian Yayasan Baitul Maal BRI. Meskipun tidak bersifat komersil namun
dapat menambah nilai BRI dimata masyarakat.
Lengkapnya fasilitas dan layanan bank ditambah dengan paket-paket
tabungan yang menarik, serta dimbangi dengan perkembangan teknologi,
merupakan suatu nilai plus tersendiri bagi Bank Rakyat Indonesia Tbk.
Penawaran suku bunga tabungan yang tinggi.
Penataan lokasi kantor cabang dan ATM yang strategis dan nyaman, agar
dapat berfungsi lebih efektif sebagai penyedia produk dan layanan prima
perbankan kepada nasabah.
Produk-produk kredit customer yang inovatif dan kompetitif.
5) Service
Layanan setoran, tarikan, kliring, transfer
Kartu kredit : BRI VISA and MasterCard Credit Card, BRI Golf Card and BRI
Lady Card.
Perbankan elektronik : BRI ATM, BRI Visa Electron Debit Card, BRI Visa
Electron Distribution Card, e-BRILink, BRINetB@nk, Electronic Draft
Captured (EDC).
Layanan transaksi perbankan : Call Centre 14042, pengiriman uang, Mass
Fund Transfer System (MFTS), Inkaso, Bank Drafts, Banc assurance.
Produk Treasury : Transaksi Valuta Asing, Transaksi Spot, Transaksi
Forward.
Fasilitas kredit : BRI Home Loan, BRI Car/Motor Loan, Kredit Modal Kerja,
Kredit Investasi, Kredit Ekspor, Trust Receipt (T/R).
Bank Garansi : Payment Bond, Tender Bond, Advance Payment Bond,
Performance Bond, Bank Garansi Bapeksta, Bank Garansi Bea Cukai.
12

Fasilitas Ekspor Impor : Letter of Credit (L/C), Negosiasi Wesel Ekspor,


Diskonto Wesel Ekspor, Document against Acceptance Financing (D/A),
Forfeiting, Documentary Collections, Warehouse Receipt Financing, SLBC
(Stand by Letter of Credit).
Layanan lainnya : BRI Travel Center, Safe Deposit Box, Pick up and
Delivery Service, layanan setoran online 24 jam, Call Center.

b. Supporting Activities
1) Procurement
Struktur pendanaan, 75% berasal dari pihak ketiga berupa rekening
tabungan atau giro.
Dari bunga pemberian kredit dan bunga-bunga lainnya, Obligasi Pemerintah
Republik Indonesia, provisi dan komisi lainnya, dan transaksi mata uang
asing.
Laba dari penjualan surat-surat berharga.
Saham-saham yang diterbitkan sebagai salah satu media perolehan
modal/kas. Saham-saham ini diperdagangkan di BEJ dan BES.
Perputaran dari hasil transaksi bulanan yang rata-rata Rp. 530 trilyun.

2) Human Resources Management


Adanya Unit Training Human Resources, yang bertanggung jawab atas
pengembangan dan pelaksanaan program-program pengembangan SDM,
diantaranya : Management Development, Information Technology
Development
Dealer Development, Human Resources Development. (Total SDM sejumlah
65,094 yang terdiri dari Pegawai tetap 36,940 orang dan pegawai kontrak
28,154 orang pada tahun 2009).

3) Technological Development
Teknologi perbankan yang canggih, memungkinkan layanan pembayaran
elektronik dengan volume transaksi lebih dari Rp. 30 trilyun/bulan.
Internet Banking, Mobile Banking, Phone Banking, Call Center.
Migrasi teknologi kartu kredit agar sesuai dengan standar baru Euro Master
Visa (EMV), sehingga keamanan dan fleksibilitas kartu kredit akan
bertambah.
Peningkatan fitur layanan bernilai tambah di ATM.
13

4) Firm Infrastructure
Management Information System, Accounting, Operations, Financial,
Human Resources Department.
Layanan perbankan elektronik

2.7 Analisis SWOT


Berdasarkan hasil penelitian Melalui analisa SWOT (SWOT adalah singkatan dari
Strengths (kekuatan) dan Weaknesses (kelemahan) interen perusahaan, serta
Opportunities (peluang) dan Threaths (ancaman) dalam lingkungan yang dihadapi
perusahaan). Analisis SWOT merupakan cara sistematis untuk mengidentifikasi faktor-
faktor dan strategi yang menggambarkan kecocokan paling baik diantaranya dapat
dilihat situasi dan kondisi yang dihadapi oleh Bank Rakyat Indonesia pada masa
sekarang.

Strenghths/kekuatan
Adalah suatu keunggulan sumber daya, keterampilan atau kemampuan lainnya
yang relatif terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar yang dilayani atau
hendak dilayani oleh perusahaan.
• Sebagai bank milik pemerintah, yang berperan dalam mewujudkan visi
pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan.
• Status badan hukum berupa persero (PT) berdasarkan undang-undang
perbankan, dengan fokus bisnis pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM), BRI telah menginspirasi berbagai pihak untuk lebih
mendayagunakan sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian
Indonesia.
• Adanya komitmen yang kuat dari Komisaris dan Direksi untuk menerapkan
Good Corporate Governance (GCG) pada setiap kegiatan usaha BRI dengan
membangun pemahaman, kepedulian dan komitmen semua organ
perusahaan dan seluruh jajarannya.
• BRI go public dan pemerintah melepas 30% kepemilikan sahamnya kepada
publik. Dengan komposisi saham publik yang mencapai 43%, saham BRI aktif
diperdagangkan di pasar modal. Kini, BRI semakin kokoh berdiri di tengah-
tengah perekonomian Indonesia dari desa sampai ke kota.
• Nama yang sudah sangat dikenal (strong brand recoqnition)
• Hubungan baik dengan lembaga keuangan internasioanal dan otoritas
moneter
• Total investasi teknologi informasi BRI sebesar US$ 100 juta per tahun
• Divisi R & D yang selalu inovatif
14

Weaknesses/kelemahan
Adalah keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, keterampilan dan
kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan.
• Koordinasi yang belum berjalan dengan baik dari kantor pusat hingga unit
terkecil
• Dukungan yang belum memadai dikarenakan alur birokrasi yang panjang.
• Tingkat keterampilan karyawan rata-rata rendah
• Jumlah karyawan terlalu besar
• Minimnya biaya promosi
• Belum terpenuhinya Tingkat Kesehatan Bank yang diperlukan untuk
memperluas jaringan.
• Tidak adanya kesamaan Standard baku mengenai Infrastruktur di tiap-tiap
unit
• Kwalitas pelayanan kepada nasabah masih rendah.
• Lemahnya fungsi control mengenai pengadaan barang TI di tubuh BRI
• Kurangnya kesadaran peremajaan peralatan IT.
• Belum melibatkan Business Intelligence dalam proses bisnisnya.

Opportinities/peluang
Adalah merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan
perusahaan.
• Keluarnya kebijakan Pemerintah untuk menyalurkan kredit kecil mikro
• Masyarakat mulai “bank minded”
• Tingkat pertumbuhan ekonomi yang mulai meningkat
• Keluarnya deregulasi di bidang investasi
• Jaminan kemanan dalam hal perbankan oleh pemerintah.
• BRI memiliki lebih dan 5.000 kantor yang berada di seluruh, baik di kota-kota
besar maupunkota kecil, bahkan di daerah pedesaan

Threaths/ancaman
Adalah merupakan situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan
perusahaan.
• Serangan Pasif dan pasif terhadap jaringan komunikasi dan data.
• Adanya deregulasi perbankan sehingga mempermudah syarat pendirian bank
yang dapat menjadi competitor.
15

• Bank non pemerintah yang terus mengembangkan pengelolaan produk dan


atau aktivitas baru, yang ditunjang dengan penerapan IT yang memadai yang
berorientasi pada kepentingan nasabah.
• Bank Pembangunan Daerah yang terus berkembang sejalan dengan otonomi
daerah yang memberikan kemudahan-kemudahan bagi usaha mikro dengan
suku bunga yang relative rendah.
• Ancaman likuiditas yang masih cukup tinggi
• Krisis ekonomi global
• Tingkat kepuasan pelayanan kepada nasabah yang masih rendah
• Peluncuran produk yang sama dari competitor
• Iklan dan promosi besar-besaran dari para pesaing
• Berkembangnya Pasar Modal

Tabel 2.3 – Analisa SWOT Bank Rakyat Indonesia


16

Dari analisa SWOT yang menggambarkan situasi dan kondisi yang di hadapi
oleh BRI, maka strategi yang telah dijalankan oleh perusahaan adalah ;
a. Ekspansi pinjaman dengan focus pada pembiayaan UMKM dengan perbaikan
features produk dan kemudahan akses layanan kredit.
b. Ekspansi kredit usaha skala besar diutamakan untuk BUMN dan sektor
swasta dibidang agribisnis, infrastruktur serta sektor usaha lain yang produktif.
c. Peningkatan kualitas layanan didukung oleh Sumber Daya Manusia yang
profesional, teknologi informasi yang handal dan jaringan kerja yang luas.
d. Peningkatan kompetensi karyawan, melalui training, seminar, workshop
sesuai dengan keperluan masing-masing bagian.
e. Pengembangan fitur-fitur baru di bisnis mikro, ritel, consumer banking,
treasury, dan internasional untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya
antara lain meliputi penambahan fitur ATM, kartu kredit, trade finance serta
cash management.
f. Peningkatan kegiatan komunikasi pemasaran untuk meningkatkan product
awareness dan membentuk Corporate Image di mata masyarakat.
17

3. ANALISA IMPLEMENTASI SISTEM & TEKNOLOGI INFORMASI


3.1 Lapisan Sistem Informasi
3.1.1 Inventarisasi Aplikasi Yang Ada
Beberapa sistem informasi yang digunakan Bank Rakyat Indonesia (BRI)
antara lain :
a. Core Banking System (CBS).
Aplikasi real time online yang menghubungkan kantor pusat dengan unit BRI
yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.
b. Electronik Banking
Untuk melayani nasabah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, BRI secara terus
menerus melakukan penyempurnaan dan pengembangan fitur-fitur layanan
electronic banking.
c. Enterprise Data Model
Enterprise Data Model, penyediaan monitoring tools, dan pengembangan
query builder untuk mendukung pengembangan operasional bank secara
lengkap dan terpadu.
d. Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan
Untuk menjaga kepercayaan nasabah dan untuk meminimalisi resiko
operasional dari gagalnya sistem aplikasi dan infrastruktur teknologi informasi,
Bank BRI telah menyiapkan BusinessContinuity Plan dan Disaster Recovery
Plan yang merupakan bagian dari Business Continuity Management
Perusahaan.
e. Avaibility Jaringan Komuniksi
BRI harus menjaga dan memelihara availability jaringan komunikasi yang ada.
Availability ini dilakukan derigan monitoring secara terus menerus melalui
Enterprise Monitoring System serta redundancy dan diverifikasi media
komunikasi dengan menggunakan satelit, terrestrial, dan wireless.
f. Security System
BRI secara rutin melakukan evaluasi dan audit terhadap keamanan
infrastruktur teknologi.

3.1.2 Analisa Imlementasi Sistem Informasi


Pada application portfolio matrix dibawah ini bias diperhatikan peran dari masing-
masing aplikasi SI pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) :
18

Gambar 3.1 - IS Portfolio Matrix


STRATEGIC HIGH POTENTIAL
a. Electronik Banking
b. Enterprise Data Model.
c. Business Continuity Plan dan
Disaster Recovery Plan.
d. AvaibilityJaringanKomuniksi.
e. Security System

KEY OPERATIONAL
SUPPORTING
a. Company Website
Core Banking System(CBS)
b. E-mail

CORE BANKING SYSTEM(CBS)


Selama tahun 2007 telah dilakukan penambahan unit kerja online yaitu dengan
mengimplementasi aplikasi Core Banking System yang disebut aplikasi BRINETS
pada 720 BRI Unit. Dengan implementasi ini jumlah BRI Unit yang terhubung
secara real time online pada tahun 2007 bertambah sebanyak 720 lokasi menjadi
1.690 lokasi, tersebar di tiga wilayah waktu.

ELECTRONIK BANKING.
Untuk melayani nasabah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, BRI secara terus
menerus melakukan penyempurnaan dan pengembangan fitur-fitur layanan
electronic banking. Melalui media elektronik memungkinkan nasabah untuk
memperoleh informasi, melakukan komunikasi dan melakukan transaksi
perbankan melalui ATM, phone banking, electronic fund transfer, dan mobile
phone. Dengan menggunakan BRI Card, nasabah dapat melakukan transaksi
tunai dan non tunai di lebih dari 1.262 ATM BRI, lebih dan 28.226 ATM Bersama,
ATM Prima dan ATM Link, ratusan ribu ATM berlogo Cirrus dan Bankcard -
Jaringan Kerjasama ATM Malaysia - MEPS, layanan perbankan meialui SMS
Banking, M-ATM Bersama dan Call BRI. Fitur-fitur ATM juga ditambahkan,
seperti pembayaran Kartu kredit, KTA/Personal Loan, tagihan PLN, tagihan
Telkom, cicilan kendaraan bermotor, tagihan seluler, Universitas terbuka,
ticketing, dan registrasi e-banking.

ENTERPRISE DATA MODEL


Pengembangan Sistem Informasi Manajemen dilaksanakan dengan
penyempurnaan tingkat akurasi dan timeliness data serta mengintegrasikan
informasi dan data sesuai dengan kebutuhan bisnis meialui pengembangan
Enterprise Data Model, penyediaan monitoring tools, dan pengembangan query
19

builder untuk mendukung pengembangan operasional bank secara lengkap dan


terpadu, memberikan kemudahan kepada bisnis dalam membuat laporan-laporan
sesuai kebutuhan internal dan eksternal.

BUSINESS CONTINUITY PLAN DAN DISASTER RECOVERY PLAN


Untuk menjaga kepercayaan nasabah dan untuk memitigasi risiko operasional
dari gagalnya sistem aplikasi dan infrastruktur teknologi informasi, Bank BRI telah
menyiapkan Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan yang
merupakan bagian dari Business Continuity Management Perusahaan. Secara
periodik dilaksanakan uji coba pada sistem aplikasi dan infrastruktur yang kritikal,
dengan tujuan agar kegiatan usaha BRI dapat tetap berjalan saat terjadi
gangguan pada sarana teknologi informasi yang dipergunakan.
Selam itu, BRI juga menyiapkan Disaster Recovery Center (DRC) pada lokasi
yang berbeda dengan Data Center sebagai fasilitas pengganti jika Data Center
mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi, seperti tidak adanya aliran
listrik ke ruang komputer, kebakaran, ledakan atau kerusakan pada komputer.

AVAIBILITY JARINGAN KOMUNIKSI


Sebagai bank dengan jaringan kerja dan operasional yang terbesar di Indonesia
serta adanya pertumbuhan dan pertambahan yang agresif dari unit kerja yang
real time on-line, BRI harus menjaga dan memelihara availability jaringan
komunikasi yang ada. Availability ini dilakukan derigan monitoring secara terus
menerus melalui Enterprise Monitoring System serta redundancy dan diversifikasi
media komunikasi dengan menggunakan satelit, terrestrial, dan wireless.

SECURITY SYSTEM
BRI secara rutin melakukan evaluasi dan audit terhadap keamanan infrastruktur
teknologi. Evaluasi dan audit ini dilakukan untuk mengurangi resiko kelemahan
dan kerawanan terhadap keamanan infrastruktur teknologi informasi. Kelemahan
pada sistem (vulnerability) diidentifikasi, kemudian dibuat langkah perbaikan yang
tepat berdasarkan Standard dan Prosedur Vulnerability Management. Selain itu,
BRI mulai melakukan inisiasi untuk sertifikasi Operational IT Security, yang
comply terhadap standansasi (ISO 27001:2005) yang telah diakui secara
internasional.
20

3.1.3 Analisis SWOT Sistem Informasi di Bank Rakyat Indonesia Tbk

3.1.4 BRI Goals Schema


Sebelum menentukan system informasi apa yang dibutuhkan oleh Bank Rakyat
Indonesia (BRI), maka perlu dilakukan analisa terlebih dahulu untuk memetakan
strategi bisnis BRI terhadap system informasi yang dibutuhkan. Teknik analisa
yang digunakan adalah dengan menggunakan metode “Balance Scorecard”.
Bank Rakyat Indonesia Tbk. adalah
sebuah organisasi bisnis yang
CRITICAL SUCCESS
MISSION
FACTOR berorientasi profit, bersifat kompetitif
untuk merebut market share dan
memiliki tujuan yang unik dalam
meningkatkan customer satisfaction.
GOALS Untuk itulah Bank Rakyat Indonesia
Tbk. menerjemahkan misinya ke
dalam strategi serta target yang ingin
dicapai.
Gambar 3.1 – BRI Goals Schema
21

Adapun Target Goal yang ingin dicapai Bank Rakyat Indonesia pada tahun buku
selanjutnya adalah :
Memperkuat Dana Pihak Ketiga
Mendominasi dana murah berbasis penabung ritel individu
Peningkatan perolehan retensi dana TSA sebesar Rp. 120 Triliun
Monitoring terhadap cash flow debitur secara lebih intensif
Mengantisipasi bila terjadi penurunan kinerja usaha debitur
Melakukan ekspansi kredit dengan memprioritaskan UMKM dan
perusahaan berorientasi ekspor secara selektif.
Standarisasi dan perbaikan kualitas layanan melalui peningkatan aspek
physical, people dan process.
Pengembangan jaringan kerja, untuk memperluas akses pasar

3.1.5 Balance Score Card


Balance Score Card merupakan sistem manajemen strategis yang
menterjemahkan visi dan strategi suatu organisasi ke dalam tujuan dan ukuran
operasional secara berimbang baik itu secara financial maupun non financial,
Tujuan dan ukuran operasional tersebut kemudian dinyatakan dalam 4 perspektif
yaitu perspektif Financial, Customer, Internal Business Process, serta
Learning &Growth.

Gambar 3.2 - Balance Score Card Schema


22

a. Balance Score Card Preparation


Sebelum menentukan sistem informasi apa yang dibutuhkan oleh Bank
Rakyat Indonesia Tbk maka diperlukan persiapan terlebih dahulu.
1. Strategic Focus
Gambar 3.3 - Balance Score Card Phase Mencari & menetapkan
strategi
2. Assessment
Melihat hasil penilaian
audit, membuat &
menerapkan ukuran baru
serta menganalisa dan
membuat laporan
3. Change Planning &
Implentation
Menerapkan rencana
perbaikan
4. Continuous Improvement
Membuat jalur, melanjutkan
sistem yang sudah ada,
menguji kembali alur
sistem.

Ke-empat phase tersebut untuk mendapatkan hasil yang berkelanjutan.

b. Sistem dan Teknologi Informasi Perspektif


Misi dan Strategi penerapan SI/IT diliihat dari sudut pandang :
Finance, yaitu untuk :
Mengurangi Resiko Kerugian;
Memperkecil & Mengefisiensikan penggunaan biaya;
Memberikan kontribusi yang optimal bagi stakeholder;
Meningkatkan profitabilitas, laba operasi, Return on Assets, Return On
equity, etc.
23

Internal Business Process, yaitu untuk :


Menjadi Bank terkemuka yang ditunjang dengan penggunaan TI/SI yang
memadai;
Persiapan Layanan Global Network Banking;
Mempercepat respond time danMeningkatkan Keakuratan kinerja TI/SI;
Meningkatkan keamanan informasi TI/SI;
Membangun tata kelola perusahaan yang baik;
Memangkas waktu transaksi;
Mengurangi antrian.

Learning & Growth, yaitu untuk :


Meningkatkan kompetensi karyawan;
Meningkatkan motivasi & produktifitas kerja;
Meningkatkan kwalitas layanan;
Peningkatan kapabilitas SI/TI;

Customer, yaitu untuk :


Memberikanpelayanan yang memuaskan kepada pelanggan;
Meningkatkan kemudahan & kenyaman bertransaksi;
Meningkatkan tingkat kepercayaan nasabah;

3.1.6 BRI Key Performance Indicator


Key Performance Indicator adalah ukuran kinerja
keberhasilan bisnis, KPI dapat beragam tetapi
biasanya mewakili nilai, tren, atau tujuan. KPI
menyajikan informasi untuk eksekutif atau manajer
dari perusahaan sebagai target organisasi secara
terpadu secara cepat dan akurat.

Bank Rakyat Indonesia Tbk mentargetkan untuk menarik dana tabungan


sebesar Rp 5 triliun dengan nasabah baru berjumlah 1 juta hingga Juni 2012.
Untuk menambah jumlah nasabah, BRI akan membuka cabang dan
pelayanan di beberapa kota sebanyak 1000 kantor hingga akhir tahun ini,
dari 5000 yang sudah ada menjadi 6000.
Hingga Juni 2009, total aset BRI mencapai Rp 267 triliun, atau meningkat 23
persen dari tahun sebelumnya. Total kredit juga mengalami peningkatan 35%
dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 184 triliun. DPK naik 23% dibanding
24

periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 216 triliun. Sedangkan


CAR berada di posisi 14,69% dengan LDR sebesar 85%
Tabungan Britama memberikan kontribusi sebanyak 40% hingga 50%
terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK) keseluruhan BRI.
Tingkat kinerja BRI pada seluruh atributnya masih dibawah garis efficient
service. Oleh karena itu kinerja perlu ditingkatkan agar mencapai tingkat
harapan yang dinginkan nasabah atau paling tidak sampai pada garis efficient
service. Secara total indeks kepuasan nasabah BRI adalah 58,67 persen.

3.1.7 Proposed Information System with Balance Score Card Tabular

3.1.8 Critical Success Factor Applying Information System/Information


Technology
Hardware & Software Selection
Hardware & software dipilih dengan seksama disesuaikan dengan tingkat
kebutuhan dan sumber daya perusahaan yang ada agar tidak terjadi over
investment dalam pembelian perangkat, over budgeting dalam perawatan,
menekan resiko kesalahan untuk meningkatkan nilai manfaat dari sistem yang
akan diterapkan.

System Performance Management


Kestabilan dan ketangguhan system harus tetap dijaga dengan didukung
manajemen perusahaan dengan komitmen yang kuat dalam menerima
perubahan dan perbaikan system demi mendapatkan data informasi yang
akurat, daya tahan system terhadap kecepatan perkembangan IT, dan
termonitor konsistensinya.
25

Human Resources Skill Assessment


Penilaian keberhasilan dari suatu sistem adalah dengan adanya peningkatan
kinerja sumber daya manusia, namun keberhasilan peningkatan kinerja harus
dibarengi dengan peningkatan standar kemampuan dan keahlian si pengguna
dalam beradaptasi dengan sistem.

Defined Solutions
Sistem Informasi / Teknologi Informasi dibangun guna menawarkan solusi dari
permasalahan dengan melihat business core perusahaan dalam meraih
peluang atau kesempatan atau untuk meningkatkan nilai tambah.

Demand
Sistem Informasi / Teknologi Informasi diharapkan dapat meningkatkan
keterkaitan kebutuhan antara perusahaan, mitra kerja dan masyarakat
sehingga SI / TI menjadi kebutuhan pokok dalam core business perusahaan.

Qualifying
Kualifikasi Sistem Informasi / Teknologi Informasi harus dipertegas
peruntukannya agar dapat digunakan dengan baik dan dipahami dengan
mudah, siapa yang bertanggungjawab, seimbang dengan nilai investasi atau
resiko yang akan timbul di lain waktu.

Clarity
Pembangunan Sistem Informasi / Teknologi Informasi harus transparan
sesuai dengan prospek kebutuhan perusahaan dan tingkat keberhasilan
dalam penerapannya agar mudah mengukur dan mengevaluasi
penggunaannya setiap periode waktu.

Existing Expansion
Pengembangan Sistem Informasi / Teknologi Informasi yang sedang berjalan
dengan baik dapat dengan mudah diadaptasi oleh pengguna sehingga
mempercepat waktu implementasi dan pengawasan.
26

3.1.9 Proposed Application Portfolio Matrix IS

Gambar 3.4 - Application Portfolio Matrix IS

Proposed Application Descriptions


Business Intelligence
BRI Business intelligence System dikategorikan sebagai aplikasi untuk
mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan akses ke data guna
membantu pengguna mengambil keputusan bisnis secara lebih baik. Aplikasi ini
mencakup aktivitas sistem pendukung keputusan, query, reporting, online
analytical processing (OLAP), statistical analysis, forecasting, dan data mining.
Singkat kata, Business intelligence dibutuhkan untuk mengubah data mentah
menjadi informasi pendukung pengambilan-keputusan perusahaan dan proses
bisnis.

Anatomy of a Business Intelligence System


Solusi Business Intelligence System yang kompleks dan biasanya mencakup
beberapa komponen yang berjalan pada sistem yang berbeda (Gambar 3.5).
Sistem ini berisi informasi yang berharga bagi organisasi
27

Gambar 3.5 -Anatomy of a Business Intelligence System

Adapun kegunaan Business Intelligence System di Bank Rakyat Indonesia


adalah :
Menjadi Bank terkemuka yang ditunjang dengan penggunaan SI/TI di
Indonesia
Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan Informasi
pengambil keputusan bagi pihak manajemen dalam proses bisnis
Forecasting

Critical Success Factors of BRI Business Intelligence System


Implementation
Bisnis berbasis metodologi dan manajemen proyek
Visi yang jelas dan perencanaan
Komitmen dukungan manajemen & sponsor
Pengelolaan data dan kualitas
Pemetaan solusi untuk kebutuhan pengguna
Kinerja pertimbangan dari sistem BI
Kerangka kerja yang kuat dan dapat diupgrade
28

Customer Relationship Management (CRM)


Customer Relationship Management merupakan strategi dan usaha untuk
menjalin hubungan dengan pelanggan dan memberikan pelayanan yang
memuaskan bagi pelanggan. CRM mengintegrasikan strategi penjualan,
pemasaran, dan pelayanan yang terkoordinasi.CRM menyimpan informasi
pelanggan dan merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan
perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang
memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut.

Tujuan CRM yaitu :


Menggunakan hubungan dengan nasabah untuk meningkatkan keuntungan
Menggunakan informasi untuk memberikan pelayanan yang memuaskan.
Mendukung proses sosialisai produk berulang kepada nasabah.
Meningkatkan standar & prosedur pelayanan kepada nasabah

Peran CRM dapat bertindak sebagai “front office” perusahaan. Aplikasi CRM ini
berperan dalam interaksi dengan pelanggan. CRM Operasional mencakup
proses otomatisasi yang terintegrasi dari keseluruhan proses bisnis, seperti
otomatisasi pemasaran, penjualan, dan pelayanan. CRM diimplementasikan
dalam bentuk aplikasi web. Melalui web, suatu perusahaan dapat memberikan
pelayanan kepada pelanggan. Peran CRM yang lainnya bertindak sebagai “back
office” perusahaan. Aplikasi CRM ini berperan dalam memahami kebutuhan
pelanggan. CRM melaksanakan analisis pelanggan dan pasar, seperti analisis
trend pasar dan analisis perilaku pelanggan.

CRM sebenarnya merupakan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas interaksi


yang berkesinambungan, baik dengan pelanggan baru maupun lama. Untuk
beberapa hal, sama dengan mencari cara untuk memperoleh pelanggan baru
melalui pemasaran, penjualan bertarget dan yang lebih pintar. Bagi yang lain,
fokus pada segmentasi pelanggan, yakni memberikan layanan jasa dan produk
yang lebih fokus. Sementara yang lainnya memandang CRM sebagai suatu cara
untuk meningkatkan interaksi layanan pelanggan, baik melalui hubungan muka
temu muka, call centre maupun web dan kanal nirkabel ( wireless channels ).

Tiga unsur kunci keberhasilan BRI Customer Relationship Management (CRM)


System

Seluruh staff dan karyawan harus menyadari dan mendukung penerapan


CRM System.
29

Proses, harus pula disesuaikan dengan inisiatif CRM, khususnya dari sisi
bagaimana meningkatkan proses agar dapat memberi pelayanan yang lebih
baik kepada pelanggan.
Teknologi. Perusahaan juga harus memilih teknologi mana yang tepat untuk
mendukung peningkatan proses bisnis, menyediakan data terbaik bagi
karyawan, dan memudahkan penggunaannya

Solusi CRM bukanlah solusi teknologi, melainkan solusi strategis guna mencapai
sasaran bisnis yang diinginkan. Bagaimana CRM mendorong peningkatan proses
bisnis, baik itu terkait dengan pelayanan pelanggan, peningkatan efisiensi,
peluang cross-selling dan up-selling , penyelarasan proses penjualan dengan
pemasaran, peningkatan customer profiling and targeting , pengurangan biaya
dan peningkatkan jumlah pelanggan, serta keuntungan perusahaan secara
keseluruhan.
Gambar 3.6
Business Service Hub Architecture

Berikut adalah fungsionalitas yang dibutuhkan dari CRM untuk menunjang


kebutuhan di Bank Rakyat Indonesia :

Account & Contact Management


Bagian Pemasaran dapat menyimpan, monitor dan menelusuri semua
informasi penting tentang consumer dan prospek termasuk profil, kontak,
30

status, dokumen terkait dengan bagian pemasaran, aktifitas dan


kesempatan pada setiap daftar. Selain itu, semua informasi dapat dibagi
kepada pengguna yang sudah diberikan aksesnya untuk waktu yang bisa
ditentukan dari departemen lain untuk memaksimalkan layanan konsumen
lainnya. Modul ini dapat digunakan untuk menelusuri data penggunaan
produk dan menganalisa promosi produk yang akan datang.

Opportunity Management
Pihak Manajemen dapat mengelola jalur penggunaan produk oleh pengguna
dan promosi produk dengan menelusuri dan mendeteksi prospek menjadi
peluang. Daftar peluang detailnya antara lain yang terkait dengan daftar
prospek, kontak, jenis produk yang diminta, dan anggaran.

Activity Management
Dengan fungsi ini pengguna dapat menambah dan menelusuri semua
aktifitas penggunaan produk dan interaksinya terkait dengan konsumernya
dan prospek termasuk janji, kontak, kontak person, email, percakapan
telepon dan dokumen.

Document Management & Letter Templates


Disini, pengguna dapat menyimpan semua dokumen dengan folder yang
disediakan satu lokasi. Pengguna yang memiliki otorisasi dengan mudah
mengakses dokumen penting seperti proposal, penawaran, permintaan,
perjanjian, kontrak, dll. Kemudian, fungsi ini juga dapat digunakan untuk
pembuatan suatu template dokumen seperti untuk surat perkenalan atau
proposal dan dengan hanya mengubah detil kliennya sehingga
mempersingkat waktu untuk berinteraksi dengan kliennya.

Customer Service
Bagian pemasaran dapat mengelola kasus-kasus yang berkaitan dengan
pelanggan, memberikan layanan/dukungan terhadap permintaan layanan
pelanggan secara otomatis berdasarkan pada kasus yang sesuai, mengatur
schedulling, routing dan workflow.

Decision Support System (DSS)


Decision Support System (DSS) sebagai sebuah system yang memberikan
dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer yang
relative kecil yang bekerja sebagai team pemecah masalah, dalam memecahkan
31

masalah semi terstrukitur dengan memberikan informasi atau saran mengenai


keputusan tertentu.Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan
khusus, maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai
kemampuan untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi

Tujuan implementasi BRI Decision Support System yaitu :


Membantu manajer dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan
masalah semi terstruktur
Mendukung keputusan manajer, dan bukannya mengubah atau mengganti
keputusan tersebut
Meningkatkan efektivitas menajer dalam pembuatan keputusan, dan
bukannya peningkatan efisiensi

Gambar 3.7
Decision Support System Analysis Layer
32

Pada dasarnya informasi dari BRI Decision Support System, yaitu untuk
mendefinisikan masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pendefinisian
masalah adalah usaha definisi dari pendekatan system. Ia juga berkaitan dengan
fase intelegensi. Selanjutnya manajer menggunakan informasi untuk
memecahkan masalah yang telah diidentifikasi. Hal ini merupakan usaha
pemecahan menurut pendekatan sistim dan berkaitan denga fase desain dan
pemilihan.

Pada umumnya, laporan berkala dan khusus digunakan terutama dalam usaha
definisi, dan simulasi dalam usaha pemecahan. Laporan berkala dapat di
rancang untuk menidentifikasi masalah atau masalah yang kemungkinan besar
akan muncul, manajer juga melakukan query terhadap database untuk
menemukan masalah atau mempelajari lebih jauh lagi mengenai masalah yang
telah diidentifikasi. Simulasi dapat juga membuka masalah yang tersembunyi,
karena kelemahan cenderung akan kelihatan menonjol ketika operasi
perusahaan diubah secara matematis. Laporan berkala dan khusus dapat juga
membantu manajer untuk memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi
keputusan alternative, mengevaluasi dan memilih alternative tersebut, dan
memberikan informasi lanjutan.

E-Learning System
E-Learning System adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang
memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-
Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web
yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi
e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal
maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun
termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar
dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD,
selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di
tempat di mana dia berada.

Walaupun e-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-Learning


disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-
masing, yaitu:
Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang
disampaikan.
33

Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain


materi dari SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan unsur
metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih
menarik untuk dipelajari.
Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan
gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk
dipelajari.
Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang
mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa
dengan siswa lainnya.

Karyawan dapat melihat modul-modul yang pembelajaran, mengambil tugas-


tugas dan ujian yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya
dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain.

3.1.10 Proposed IS Key Performance Indicator


Key Performance Indicators atau sering disebut sebagai KPI merupakan daftar
tolok ukur yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan
kinerja.Dengan penerapan teknologi-teknologi yang diusulkan diharapkan dapat
meningkatkan kinerja dari masing-masing bagian.Performance Indicator
terhadap penerapan teknologi usulan dapat dilihat dalam table berikut :

NO FAKTOR INDIKATOR SATUAN


a. Jumlah keputusan yang dihasilkan oleh a. Angka
pihak manajemen.
b. Waktu yang dibutuhkan untuk b. Angka
Bussiness merealisasikan keputusan.
1
Intellegence c. Jumlah inovasi pemasaran c. Angka
d. Jumlah ide baru dalam mendukung d. Angka
strategi bisnis.

a. Persentease retensi (belanja ulang) a. Angka


Nasabah pengguna produk.
2 CRM
b. Jumlah Komplain b. Angka
c. Jumlah Komplain yang bisa ditangani c. Angka
a. Persentase peningkatan kompetensi a. Angka
3 E-Learning karyawan
b. Persentase efisiensi biaya training. b. Angka
34

3.2 Analisisi Manajemen & Organisasi Sistem/Teknologi Informasi


3.2.1 Organisai IS/IT
Kompetensi TI diperlukan dalam menjalankan fungsi-fungsi yang mencakup
empat fungsi utama, yaitu: Strategy & Management, Investment & Project, Risk
Control, dan Operations. Pemetaan unit-unit Bank Rakyat Indonesia dapat dilihat
pada Gambar 3.8 berikut ini.

Gambar 3.8 -Application Portfolio Matrix IS

3.2.2 Operation Aspect


Aspek ini memang sebagian besar menjadi tanggung jawab dari unit Teknologi
Informasi, yang ada ada pada Bank Rakyat Indonesia Tbk. oleh Bagian TI.
Namun operasional dan dukungan bagi aplikasi bisnis belumlah dituangkan
dalam suatu kebijakan mendasar, karena proses pengembangan (investasi dan
proyek) dilakukan oleh masih-masing unit kerja.

3.2.3 Investment / Project Aspect


Untuk investasi dan kegiatan infrastruktur — yang berwarna hijau pada gambar di
atas proses ini sudah cukup baku karena hanya melibatkan Bagian TI (sebagai
pengguna) dan Divisi Logistik (pengadaan). Namun untuk aplikasi bisnis — yang
berwarna merah pada Gambar 3.8 — proses investasi dan proyek masih amat
bergantung pada user (departemen yang memiliki inisiatif). Hal ini cukup riskan
mengingat untuk memilih solusi serta melakukan implementasi dibutuhkan suatu
kompetensi yang memadai pada hal-hal yang amat berhubungan dengan
teknologi informasi seperti : perumusan kebutuhan, penyusunan spesifikasi,
penentuan vendor atauteknologi, implementasi, hingga ke manajemen proyek.
IT Master Plan Bank Rakyat Indonesia Tbk. Ini adalah aspek terpenting yang
membuat maturitas teknologi informasi Bank Rakyat Indonesia Tbk. belum dapat
dikategorikan sebagai “Repeatable”, karena hal ini mengakibatkan :
35

Unit dengan suatu permasalahan baru bisa menemukan solusi teknologi


informasi apabila diunit tersebut terdapat sumber daya manusia yang
mengerti mengenai potensi perbaikanmelalui aplikasi bisnis di unit tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif untuk memperbaiki proses melalui
teknologi informasi bersifat sporadis.
Dalam proses akuisisi (pembelian ataupun pembuatan di internal), diperlukan
suatu keputusan mengenai kriteria teknis maupun kriteria bisnis untuk dapat
menentukan solusiterbaik yang akan dipilih. Akibat bergantung pada sumber
daya manusia di unit tersebut, maka pemilihan teknologi, solusi, dan metoda
implementasi tidak didasarkan atas suatu pemahaman yang integral
melainkan pada apa yang diketahui oleh sumber daya di unittersebut.
Pada saat aplikasi bisnis telah terinstalasi terdapat potensi konflik
kepentingan antara unit pengguna dan Bagian TI. Dalam hal dukungan
operasional karena aplikasi bisnis tersebut berjalan di atas infrastruktur yang
dikelola oleh Bagian TI. Terlebih apabila hal ini tidak dibicarakan di awal
pengerjaan/implementasi.

3.2.4 Strategy & Management Aspect


Fungsi strategi dan manajemen teknologi informasi masih tidak diletakan di
tempatstrategis di Bank Rakyat Indonesia Tbk. Pendekatan dalam
pengembangan berbagai kegiatan sehubungan dengan teknologi informasi
(portfolio kegiatan) masih bersifat bottom-up tanpa „diawasi‟ oleh suatu fungsi
manajemen yang sifatnya strategis. Akibat dari hal ini adalah :
• Kegiatan-kegiatan TI bersifat parsial tanpa melihat efektifitas kolektif (integral)
di level perusahaan, karena kegiatan-kegiatan tersebut terwujud dari
kepentingan unit-unit yang melontarkan inisiatif.
• Kegiatan-kegiatan TI yang melibatkan berbagai unit kerja (yang biasanya
berdampak lebih besar) sulit diwujudkan, karena hanya mengandalkan
komunikasi antara unit-unit kerja tersebut tanpa arahan dari manajemen yang
lebih tinggi.
• IT Master Plant Bank Rakyat Indonesia Tbk. kegiatan-kegiatan TI menuntut
perubahan yang harus disertai dengan perubahan prosedur kerja atau
kebijakan perusahaan. Tanpa fungsi Strategy and Management ini, akan sulit
mencapai hal tersebut.
• Tidak terdapat suatu keputusan-keputusan mendasar mengenai teknologi
informasi seperti platform teknologi, kebijakan outsourcing, dan sebagainya.
36

3.2.5 Operation Aspect


Aspek ini memang sebagian besar menjadi tanggung jawab dari unit Teknologi
Informasi, yang ada ada pada Bank Rakyat Indonesia Tbk. oleh Bagian TI.
Namun operasional dan dukungan bagi aplikasi bisnis belumlah dituangkan
dalam suatu kebijakan mendasar, karena proses pengembangan (investasi dan
proyek) dilakukan oleh masih-masing unit kerja.
Aspek ini sebenarnya amat terkait dengan fungsi lainnya, karena fungsi bersifa
tmengantisipasi resiko yang ditimbulkan di proses lainnya. Saat ini, karena fungsi
Investment & Project serta fungsi Strategy & Management yang belum optimal,
maka peran Risk & Control pun masih belum optimal. Hal ini terlihat dari :
• Belum terdapat kebijakan-kebijakan fundamental mengenai TI seperti :
kerahasiaan informasi, manajemen outsourcing, dan seterusnya.
• Belum terdapat mekanisme audit untuk semua kegiatan implementasi
teknologi informasi, yang bertujuan memberikan umpan balik (feedback)
terhadap kebijakan atau prosedur sehubungan dengan TI

3.2.6 Skills Framework For The Information Age (SFIA)


IT Steering Committee
IT Steering Committee merupakan forum lintas sektoral yang melakukan
persetujuan prinsip akan aspek strategis teknologi informasi. Beberapa fungsi
yang harus dijalankan oleh Steering Committee:
Memberikan persetujuan prinsip akan arah dan rencana jangka panjang
teknologi informasi di organisasi.
Memberikan persetujuan prinsip akan komitmen organisasi dalam bentuk
alokasi anggaran, alokasi sumber daya manusia, dan dukungan terhadap
implementasi.
Mengambil keputusan-keputusan kritis yang harus diambil sebagai akibat dari
implementasi teknologi informasi seperti : perubahan metoda costing, struktur
organisasi, perubahan proses kerja utama, serta penetapan kebijakan
sehubungan teknologi informasi yang bersifat mendasar.

Mengingat IT Steering Committee perlu terdiri dari manajemen teknologi


informasi dan juga manajemen pengguna (user), di BRI diusulkan agar IT
Steering Committee merupakan forum para Kepala Divisi.

Divisi Sistem Informasi Management (SIM)


Yang ada sekarang harus dikembangkan hingga bisa mencakup bukan hanya
fungsi operasi, melainkan juga dalam hal Investment & Project costing. Namun
37

dalam menjalankannya, perlu dilakukan pemisahan fungsi yang jelas antara


kedua fungsi utama tersebut, karena secara prinsip kedua fungsi tersebut harus
dipisah untuk menghindari benturan kepentingan (conflict of interest).Untuk dapat
menjalankan kedua fungsi ini, Bagian SIM yang ada sekarang perlu
dikembangkan menjadi Divisi Teknologi Informasi. Namun sebelum jabatan yang
dibutuhkan diadakan, fungsi-fungsi yang dijalankan harus dilaksanakan terlebih
dahulu.

Kepala Divisi Teknologi Informasi


Kepala Divisi Teknologi Informasi bertugas mengkordinasikan kegiatan TI di
lingkungan Bank Rakyat Indonesa dan juga berperan sebagai :administrator
keamanan informasi, yang bertugas menerapkan, memantau, menegakkan
kebijakan dan prosedur keamanan informasi, serta melaporkan masalah yang
berhubungan dengan keamanan informasi kepada direksi.

Operations
Berikut adalah tugas dan tanggung jawab jabatan-jabatan pada bagian ini.
• Kepala Bagian Operasi Teknologi Informasi bertugas untuk
mengkoordinasikan kegiatan operasi teknologi informasi, yaitu administrasi
dan helpdesk. Juga berperan menyimpan dan memelihara semua backup
data dan aplikasi. Di samping itu juga perlu berperan sebagai pemilik proyek
TI (kecuali sistem informasi) dan mengelola vendor TI : kualifikasi vendor dari
berbagai aspek, dan terlibat dalam proses pembelian.

• Kepala Seksi Administrasi Infrastruktur TI mengepalai kegiatan di data


center, mengelola inventaris infrastruktur TI, menyetujui kegiatan-kegiatan
yang berhubungan dengan infrastruktur TI (perangkat keras, jaringan) dan
manajemen pengguna.

• System Engineer bertanggungjawab dalam mengelola semua peralatan


infrastruktur TI secara teknis, mengelola sistem operasi, account pengguna,
dan melakukan proses pemeliharaan infrastruktur sesuai kebijakan dan
prosedur yang berlaku.

• Security Engineer, bertugas dalam melakukan pengaturan keamanan di


piranti-piranti seperti firewall dan proxy, memantau log keamanan dan kondisi
keamanan fisik, melakukan pengujian keamanan, melakukan pelatihan yang
38

berhubungan dengan keamanan informasi, serta melaporkan masalah-


masalah yang berhubungan dengan keamanan informasi.

• Helpdesk TI, bertugas untuk menangani permintaan support dan berbagai


pertanyaan dari para pengguna yang berhubungan dengan infrastruktur,
sistem informasi. Selain kontak dengan para pengguna, juga harus
melakukan pencatatan atas kasus yang terjadi serta melakukan analisis untuk
meminimalisasi persoalan yang dialami pengguna. Bantuan spesifik dapat
ditugaskan kepada system engineer dan security engineer.

Investment & Project, tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan di
sektor Investment & Project dalam struktur di atas ditangani oleh Bagian Proyek
Sistem Informasi :
• Kepala Bagian Proyek Sistem Informasi, bertanggung jawab atas seluruh
kegiatan pengembangan sistem, dukungan sistem, dan pelaksanaan
portofolio proyek.

• Kepala Seksi Pengembangan Sistem Informasi, Memimpin dan


mengembangkan keterampilan tim pengembangan sistem informasi, dan
memastikan semua aspek yang penting diperhatikan dalam pengembangan
sistem dilaksanakan oleh pihak eksternal yang menerima tugas
pengembangan sistem informasi.

• Business Analyst, Membantu pengguna dalam mendefinisikan kebutuhan


akan suatu solusi berbasis teknologi informasi, termasuk dalam
mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi akibat penerapan solusi
teknologi informasi tersebut. Hasilnya akan didokumentasikan dalam format
standar. Software Architect, membuat arsitektur dan rancangan solusi
(spesifikasi teknis) dari sistem informasi yang dapat menjawab kebutuhan
pengguna, serta sesuai dengan berbagai kebijakan Bank Rakyat Indonesia di
area teknologi informasi.

• Software Developer, bertugas untuk implementasi pengembangan perangkat


lunak dalam penulisan program.

• Kepala Seksi Manajemen Proyek dan Dukungan Sistem Informasi


bertugas mengelola portofolio proyek sistem informasi dan dukungan
39

terhadap sistem informasi yang digunakan di lingkungan Bank Rakyat


Indonesia.

• Project Manager, bertanggungjawab dalam merencanakan dan


melaksanakan kegiatan implementasi sistem informasi dengan
mengkoordinasikan seluruh stakeholder (pengguna, manajemen, vendor,
bagian Operasi TI), serta memastikan bahwa kegiatan dapat berjalan dalam
waktu dan biaya sesuai yang direncanakan, serta dengan keluaran sesuai
dengan spesifikasi yang diharapkan.

• Helpdesk Aplikasi, bertugas menjawab pertanyaan dari pengguna sistem


informasi mengenai kesulitan dalam menjalankan fungsionalitas sistem.

• Software Tester, Memastikan aplikasi sistem informasi yang dibuat baik oleh
pihak internal maupun eksternal sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan sebelumnya.

User Units
Unit pengguna, dalam kegiatan implementasi sistem informasi, memiliki peran
sebagai :
• Pemilik Proyek (untuk sistem informasi), sponsor atau pemilik kegiatan
sistem informasi adalah unit pengguna. Bagian Sistem Informasi bertindak
lebih sebagai „konsultan‟ internal yang menjadi penghubung dengan pihak-
pihak teknis lainnya.

• Pemegang Komitmen Pengguna, unit pengguna memiliki fungsi sebagai


pihak yang harus berusaha agar sistem informasi dapat benar-benar
digunakan oleh para personilnya.

Logistic Division
Divisi Logistik memiliki peran dalam administrasi dan pelaksanaan pembelian,
namun khusus untuk sistem informasi, harus menggalang koordinasi antara
pengguna dan Divisi Teknologi Informasi.

Internal Audit
Teknologi informasi menghadapi berbagai risiko yang harus senantiasa dikontrol
melalui berbagai mekanisme. Dalam rangka tatakelola perusahaan yang baik
(good corporate governance), Tata kelola Teknologi Informasi (IT Governance)
40

merupakan salah satu komponennya. Dan salah satu mekanisme yang dapat
dilakukan untuk menjamin IT Governance adalah audit sistem informasi. Audit
sistem informasi berguna untuk menjamin sistem informasi dan teknologi
informasi di lingkungan BRI terkendali dengan memadai dan memenuhi
kebutuhan bisnis. Audit perlu dilakukan dengan standar yang diterima oleh
umum. Mengingat audit sistem informasi harus dilakukan oleh tim yang
independen dari pelaksana teknologi informasi, pelaksanaan audit dilakukan oleh
Bagian SPI. Secara berkala, audit oleh pihak ketiga juga perlu dilakukan untuk
memperoleh kepastian dari pihak eksternal.

Nantinya, dalam proses pengembangan dan penerapan aplikasi system informasi


yang diusulkan, maka kompetensi IT yang harus dimiliki oleh tiap resource sesuai
pedoman SFIA adalah sebagai berikut :

3.2.7 IS Competencies
IS Competencies Table
41

4. TAHAPAN DAN ESTIMASI BIAYA/INVESTASI DALAM PENERAPAN


SISTEM
4.1 Tahapan Penerapan Sistem Informasi
Untuk penerapan sistem informasi yang dibutuhkan, tidak dapat diimplementasikan
secara keseluruhan pada tahun yang sama. Implementasi sistem informasi yang
disarankan membutuhkan waktu 5 tahun. Dalam kurun waktu 5 tahun tersebut, kita
dapat uraikan sebagai berikut :

Tahun 1 : Implementasi Ruangan Data Center


Tahun 2 : Implementasi infrastruktur data center
Tahun 3 : Implementasi E-Learning
Tahun 4 : Implementasi CRM dan Bussiness Intelligence
Tahun 5 : Sistem Pendukung : Disaster Recovery Plan (DRP)

4.2 Work Breakdown


42
43

4.3 Proposed Sistem Information Benefit


Nilai anggaran tersebut akan tertutup jika kinerja dari system yang dibangun dapat
memenuhi indicator kinerja yang ditetapkan, nilai pengembalian biaya dan investasi
yang dianggarkan diperoleh berdasarkan perhitungan sebagai berikut :
44

4.4 Cost/Investment& Benefit Estimation


Dari rincian biaya tersebut, diperlukan anggaran sebagai berikut :
Total Biaya Operasional : Rp. 195.000.000.000
Total Investasi : Rp. 2.025.000.000 -
Total Biaya dan Investasi : Rp. 192.975.000.000

Total Benefit dari sistem yang di usulkan sebesar Rp. 192.975.000.000,-

4.5 Proposed Sistem Information Risk


Business Intelligence
Beberapa faktor yang mengakibatkan resiko implementasi Business Intelligence:
Kemungkinan perencanaan yang tidak matang cukup besar karena faktor kesulitan
yang cukup tinggi.
Kemungkinan terdapat Kualitas data yang kurang baik
Perubahan organisasi tidak terantisipasi dengan baik.
Pengembangan BI hanya mengandalkan tenaga outsourcing
45

Kesulitan memilih sistem atau model BI yang sesuai dengan kebutuhan organisasi
pemerintah
Tingkat Kesulitan menentukan ukuran-ukuran kinerja organisasi yang harus dicapai
Masih rendahnya kemampuan dan kemauan organisasi untuk berubah, dalam
mengadopsi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan layanan yang
diminta oleh publik.

Customer Relationship Management (CRM)


Resiko dalam menimplementasikan Customer Relationship Management (CRM), yaitu :
Pada aplikasi TI, terbuangnya feature atau kelebihan-kelebihan yang ditawarkan TI
dengan percuma.
Pelanggan tetap mengeluh.
Hubungan dengan pelanggan tetap transaksional.
Tidak ada peningkatan efisiensi.
Staf sales dan marketing masih saling menyembunyikan data.
Keuntungan perusahaan masih stagnan.

Decision Support System (DSS)


Resikonya adalah :
Kualitasnya bisa tidak terjaga.
DSS bukanlah untuk membuat proses pengambilan keputusan yang efisien

Resiko potensial kualitas dapat diklasifikasi dalam 3 kategori:


Tool dan fasilitas dibawah standar
Resiko yang berhubungan dengan proses pengembangan (contoh :
pengembangan sistem yang mnghasilkan hasil yang salah),
Resiko manajemen data (misal : kehilangan data).

E-Learning
Dalam penerapannya, e-learning juga memiliki beberapa keterbatasan dan kendala
yang harus dipikirkan solusinya, seperti sebagai berikut
Investasi. Walaupun e-learning pada akhirnya dapat menghemat biaya pelatihan,
akan tetapi memerlukan investasi yang sangat besar pada permulaannya. Sehingga
bila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan kerugian besar. Investasi ini
dalam bentuk kapital atau pun sumber daya manusia,
46

Budaya. Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan


kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pelatihan melalui komputer, dimana hal ini
baru dimiliki oleh sebagian kecil sumber daya manusia kita. Oleh karena itu, change
management yang handal sangat diperlukan untuk menjamin kesuksesan
penerapan e-learning ini
Teknologi dan Infrastruktur. E-learning membutuhkan perangkat komputer,
jaringan yang handal, dan teknologi yang tepat. Akan tetapi, ketersediaaan
infrastruktur dan teknologi ini masih belum memadai bagi beberapa perusahaan.
Desain Materi. Penyampaian materi dalam bentuk e-learning, tentu berbeda
dengan penyampaian materi dalam training konvesional. Penyampain materi melalui
e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner-centric. Saat ini masih sangat
sedikit instructional designer yang berpengalaman dalam membuat suatu paket
pelajaran e-learning yang memadai.