Anda di halaman 1dari 12

TEGANGAN PERMUKAAN

I. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan suatu zat cair.
2. Menggunakan alat-alat penentuan tegangan permukaan suatu zat cair.
3. Menentukan tegangan permukaan zat cair.
4. Menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur.

II. Dasar Teori


Bila dua fase dicampurkan maka batas antara fase – fase tersebut dinamakan antar
permukaan. Batas antara zat cair atau zat padat dengan udara lazimnya disebut
permukaan. Sedangkan batas antara zat cair dengan zat cair lain yang tidak bercampur
atau antara zat padat dengan zat cair disebut antar permukaan (Astuti dkk., 2008).
Bila fase - fase berada bersama - sama, batas antara keduanya disebut suatu
antarmuka. Beberapa jenis antarmuka dapat terjadi, bergantung pada apakah kedua fase
yang berdekatan adalah dalam keadaan padat, cair, atau gas. Secara umum, antarmuka
dapat dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni antarmuka cairan dan antarmuka padatan.
Antarmuka cair membicarakan tentang penggabungan dari suatu fase air dengan suatu
fase gas atau fase cair lain. Bagian antarmuka padat membicarakan tentang sistem yang
mengandung antarmuka padat/gas dan antarmuka padat/cair (Astuti dkk., 2008).
Istilah permukaan biasanya dipakai bila membicarakan suatu antarmuka gas/padat
atau suatu antar muka gas/cair. Setiap permukaan adalah suatu antarmuka. Jadi, suatu
permukaan meja membentuk suatu antarmuka gas/padat dengan udara di atasnya, dan
permukaan dari suatu tetes air membentuk suatu antarmuka gas/cair. Setiap partikel dari
zat, apakah itu sel, bakteri, koloid, granul, atau manusia, mempunyai suatu antarmuka
pada batas sekelilingnya (Astuti dkk., 2008).
Di dalam zat cair, satu molekul dikelilingi oleh molekul-molekul lainnya yang
sejenis dari segala arah sehingga gaya tarik menarik sesama molekulnya (gaya kohesi),
sama besar. Pada permukaan zat cair terjadi gaya tarik menarik antara molekul cairan
dengan molekul udara (adhesi). Gaya adhesi lebih kecil bila dibandingkan dengan gaya
kohesi sehingga molekul di permukaan zat cair cenderung tertarik ke arah dalam. Tetapi
hal ini tidak terjadi karena adanya gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan zat cair
yang mengimbangi besarnya gaya kohesi antar molekul di dalam zat cair terhadap
molekul sejenisnya di permukaan. Akibatnya, molekul tersebut tetap berada di
permukaan. Gaya ini disebut tegangan permukaan. Atau dengan kata lain tergangan
permukaan adalah gaya per satuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan
untuk mengimbangi tarikan dalam.Sedangkan tegangan antar permukaan adalah tegangan
pada antar permukaan dua cairan yang tidak bercampur atau antara permukaan zat padat
dengan cairan. Tegangan antar permukaan selalu lebih kecil daripada tegangan
permukaan karena gaya adhesi antara dua zat cair yang tidak bercampur selalu lebih
besar daripada gaya adhesi antara zat cair dengan udara. Bila dua zat cair dapat
bercampur dengan sempurna, maka tegangan antar permukaan tidak eksis. Tegangan
permukaan dinyatakan sebagai gaya per satuan panjang yang diperlukan untuk
memperluas permukaan suatu zat. Simbol yang digunakan untuk tegangan permukaan
adalah γ dan satuannya adalah dyne cm-1 (Astuti dkk., 2007).
Tegangan permukaan juga dapat digambarkan dengan suatu kerangka kawat tiga
sisi dimana suatu batang yang dapat bergerak diletakkan. Suatu film (lapisan tipis) sabun
dibentuk di daerah ABCD dan dapat direntangkan dengan menggunakan gaya f (seperti
suatu massa yang menggantung) pada batang yang dapat bergerak dengan panjang L,
yang bekerja melawan tegangan permukaan dari film sabun tersebut. Bila massa
diangkat, film akan mengkerut karena tegangan permukaannya. Tegangan permukaan (γ)
dari larutan yang membentuk film tersebut merupakan suatu fungsi dari gaya yang harus
dipakai untuk memecah film dari fungsi dari panjang batang yang dapat bergerak yang
berhubungan dengan film tersebut. Karena film sabun tersebut mempunyai dua
antarmuka gas (satu di atas dan satu di bawah bidang kertas), panjang total bidang yang
berhubungan sama dengan dua kali panjang batang tersebut. Jadi didapatkan suatu rumus:

Dimana :
♣ fb = gaya yang dibutuhkan untuk memecah film
♣ L = panjang dari batang yang dapat bergerak (Astuti dkk., 2008).
Dari beberapa metode (cara) yang ada untuk mendapatkan tegangan permukaan
dan tegangan antarmuka, hanya metode kenaikan kapiler, dan Du Nouy ring yang akan
diuraikan. Keterangan yang terperinci untuk metode-metode lain, seperti berat tetesan,
tekanan gelembung, tetesan sessile, dan lempeng Wilhelmy, lihat risalah dari Harkins dan
Alexander, Drost - Hansen, dan Hiemenz. Tetapi, perlu dicatat bahwa pemilihan suatu
metode tertentu sering bergantung pada apakah tegangan permukaan atau tegangan
antarmuka yang akan ditentukan, ketepatan dan kemudahan yang diinginkan, ukuran
sampel yang tersedia, dan apakah efek waktu pada tegangan permukaan akan diteliti atau
tidak. Dalam kenyataan, tidak ada satu pun metode yang terbaik untuk semua sistem
(Martin dkk., 1990).
1. Metode Kenaikan Kapiler
Bila suatu tabung kapiler diletakan dalam cairan di sebuah beaker (gelas piala),
biasanya cairan itu naik ke pipa sampai ketinggian tertentu. Hal ini disebabkan
bilamana kekuatan adhesi antara molekul-molekul cairan dan dinding kapiler lebih
besar daripada kohesi antara molekul-molekul cairan, sehingga cairn itu membasahi
dinding kapiler, menyebar dan meninggi dalam pipa. Dengan mengukur kenaikan ini
dalam kapiler, memungkinkan kita dapat menentukan metode kenaikan kapiler tidak
dapat diketahui tekanan-tekanan antarmuka (Martin dkk., 1990).
Bayangkan suatu tabung kapiler yang mempunyai jari-jari dalam r dicelupkan
dalam suatu cairan yang membasahi permukaannya. Cairan tersebut terus naik dalam
tabung karena adanya tegangan permukaan, sampai pergerakan ke atas persis
diimbangi oleh gaya gravitasi ke bawah karena bobot dari cairan tersebut (Martin
dkk., 1990).
Komposisi gaya vertikal ke atas yang dihasilkan dari tegangan permukaan
ciran tersebut pada setiap titik pada keliling lingkaran permukaan batas adalah :
α = γ cos θ
Total gaya ke atas sekeliling lingkaran dalam tabung tersebut adalah :
2πrγ cos θ
Dimana:
∗ θ = sudut kontak antara permukaan cairan dan dinding kapiler
∗ 2πr = keliling lingkaran dalam dari kapiler tersebut. Untuk air dan
cairan - cairan yang umum dipakai lainnya, sudut θ tidak berarti, yakni,
cairan tersebut membasahi dinding kapiler sehingga cos θ dianggap sama
dengan satu untuk tujuan-tujuan praktis (Martin dkk., 1990).
Gaya gravitasi yang bekerja melawan (massa < percepatan) adalah luas
penampang - melintang kolom πr2, kali tinggi kolam cairan sampai titik terendah dari
meniskus h, dikalikan dengan perbedaan bobot jenis cairan ρ dan uapnya ρo kali
percepatan gravitasi, yaitu : πr2h (ρ - ρo) g + w. Bagian persamaan terakhir yaitu w,
ditambahkan untuk memperhitungkan bobot cairan di atas h dalam meniskus. Bila
cairan telah naik sampai tinggi maksimumnya, yang bisa dibaca dari kalibrasi dari
tabung kapiler, gaya-gaya yang melawan berada dalam kesetimbangan, dan dengan
demikian tegangan permukaan dapat dihitung. Bobot jenis dari uap, sudut kontak,
dan w biasanya dapat diabaikan, jadi didapatkan :
2πrγ = π r2hρg

1
γ = rhρg
2
Kenaikan kapiler bisa juga diterangkan sebagai akibat adanya perbedaan
tekanan antara kedua lengkungan meniskus cairan dalam kapiler. Pada persamaan
∆P = 2γ/r, bahwa tekanan dari sisi yang cekung dari permukaan yang lengkung
adalah lebih besar daripada tekanan pada sisi cembung. Ini berarti bahwa tekanan
dalam cairan yang langsung di bawah meniskus lebih kecil daripada tekanan di luar
tabung pada ketinggian yang sama. Akibatnya, cairan akan menaiki kapiler sampai
tekanan hidrostatik yang dihasilkan menyamai perbedaan antara kedua lengkungan
meniskus. Dengan menggunakan simbol yang sama seperti sebelumnya dan
mengabaikan sudut kontak maka didapatkan :
∆P = 2γ/r = ρgh
di mana ρgh adalah tekanan hidrostatik. Dengan menyusun kembali persamaan di

1
atas memberikan γ = rρgh/2 yang identik dengan persamaan γ = rhρg, yang
2
diturunkan berdasarkan gaya - gaya adhesif melawan gaya - gaya kohesif.

2. Tensiometer Du Nouy
Tensiometer Du Nouy, dipakai secara luas untuk mengukur tegangan
permukaan dan tegangan antarmuka. Prinsip dari alat tersebut bergantung pada
kenyataan bahwa gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina-
iridium yang dicelupkan pada permukaan atau antarmuka adalah sebanding dengan
tegangan permukaan atau tegangan antarmuka (Martin dkk., 1990).
Gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin dengan cara ini diberikan oleh
suatu kawat spiral dan dicatat dalam satuan dyne pada suatu penunjuk yang
berkalibrasi. Tegangan permukaan diberikan oleh rumus :
yang dibaca pada penunjuk dalam dyne
γ= 2 ×keliling cincin
× faktor koreksi

Sebenarnya, alat tersebut mengukur bobot dari cairan yang dikeluarkan dari
bidang antarmuka tepat sebelum cincin tersebut menjadi lepas. Suatu faktor koreksi
perlu dalam persamaan di atas karena teori sederhana tersebut tidak
memperhitungkan variabel- variabel tertentu seperti jari-jari dari cincin, jari-jari dari
kawat yang dipakai untuk membentuk cincin, dan volume cairan yang diangkat
keluar dari permukaan. Kesalahan sebesar 25% bisa terjadi bila faktor koreksi tidak
dihitung dan dipakai. Metode perhitungan faktor koreksi telah diuraikan oleh
Harkins Dan Jordan dan, suatu ketepatan kira-kira 0.25% dapat diperoleh dengan
pengerjaan yang cermat (Martin dkk., 1990).
Fenomena antarmuka dalam farmasi adalah faktor-faktor yang berarti yang
mempengaruhi absorpsi obat pada bahan pembantu padat dalam bentuk
sediaan,penetrasi/penembusan molekul melalui memnran biologis ,pembentukan dan
kestabilan serta dispersi dari partikel yang tidak larut dalam media cair untuk
membentuk suspensi (Astuti dkk., 2008).
3. Wilhelmy
Metode ini menggunakan lempeng wilhelmy sebagai alat untuk
mengukurnya. Lempeng wilhelmy adalah lempeng tipis yang digunakan untuk
mengukur tegangan permukaan atau antarpermukaan antara udara dengan larutan atau
antar senyawa dalam larutan. Pada metode ini, lempeng harus diletakkan tegak lurus
dengan tegangan antar permukaan, dan tekanan yang digunakan yang diukur. Metode
Ludwig Wilhelmy ini berkembang dan digunakan untuk persiapan dan monitoring dari
Langmuir - Blodgett film (Anonim, tt).

4.
Gambar 1. Metode Lempeng Wilhelmy
Lempeng wilhelmy biasanya menggunakan lempeng yang berukuran
beberapa cm2.. Lempeng ini sering terbuat dari kaca atau platina yang agak berat untuk
dapat terbasahi sempurna. Tekanan pada lempeng yang terendam diukur dengan
menggunakan tensiometer atau microbalance dan untuk menghitung tegangan
permukaan digunakan rumus :
F
α=
2 − cos Φ
dimana  adalah panjang dari lempeng wilhelmy yang terendam dan θ
adalah sudut antara larutan dengan lempeng. Namun pada prakteknya sudut ini sulit
ntuk diukur sehingga metode ini jarang digunakan (Anonim, tt).

III. Alat dan Bahan


a. Alat
− Tensiometer Digital

Gambar 1. Alat Tensiometer


Keterangan gambar tensiometer:
1 : Konektor untuk tombol TD 1 E
2 : Indikator tinggi air
3&4 : Alat pengatur ketinggian kaki tensiometer
5 : Tombol penggerak manual
6 : Meja sampel
Keterangan Gambar Alat pengatur digital:
1 : Tombol pengatur jenis pengukuran
2 : Tombol pengatur tara, angka 0 (PT)
3 : Tombol pengatur kalibrasi (PK)
− Cawan petri
− Bunsen
b. Bahan
− Air
− Minyak nabati
IV. Cara Kerja
 Kalibrasi Alat
Sebelum melakukan percobaan, alat yang digunakan harus dikalibrasi terlebih
dahulu dengan cara sebagai berikut:
1. Cincin dipasangkan pada kaitnya.
2. Tensiometer dihidupkan dengan memindahkan tombol TD 1 E ke posisi ON.
3. Lalu posisi mode uji dipindahkan ke simbol cincin.
4. Pembacaan pada layar diatur dengan potensiometer tara (PT) sehingga sama
dengan 00,0.
5. Pemberat kalibrasi 500 mg dipasang pada kait untuk menambah berat cincin.
6. Harga kalibrasi untuk cincin yang digunakan dihitung melalui persamaan berikut:
GKR . g
FKR =
2πd
Keterangan: FKR = Harga kalibrasi cincin (nM.m-1)
GKR = Pemberat kalibrasi (g)
g = Gaya gravitasi (cm.detik-1)
d = Garis tengah cincin (cm)
 Pengukuran Tegangan Permukaan
1. Meja sampel digerakkan ke bawah serendah mungkin dan cairan uji di dalam
cawan petri diletakkan di atas meja sampel.
2. Meja sampel bersama cairan uji digerakkan ke atas perlahan-lahan sampai cincin
berada kira-kira 2-3 mm di bawah permukaan cairan.
3. Kemudian meja dengan cairan uji digerakkan kembali ke bawah secara perlahan-
lahan sampai cincin menarik lamela ke luar permukaan cairan. Pada saat ini nilai
yang tertera pada layar akan naik. Nilai ini akan mencapai maksimumnya sampai
sesaat sebelum lamela pecah. Nilai maksimum yang diperoleh merupakan
besarnya tegangan permukaan cairan yang belum dikoreksi.
4. Faktor koreksi cincin dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
0,000918 .OS ruk
f =
0,8759 + D

Keterangan OSruk : tegangan permukaan yang belum dikoreksi (nM.m-1)


D : bobot jenis cairan yang diuji (g.cm-3)
5. Kalikan harga tegangan permukaan yang diperoleh dengan faktor koreksi yang
dihitung. Hasil kali tersebut adalah harga tegangan permukaan mutlak dalam
mN.m-1.
 Penentuan Tegangan antar Permukaan
1. Meja sampel digerakkan ke bawah dan cincin diambil dari kaitnya.
2. Cincin dibersihkan dengan cara memanaskannya pada nyala api etanol sampai
berwarna merah.
3. Biarkan cincin menjadi dingin dan dilembabkan dengan air kemudian
dipasangkan kembali pada kaitnya.
4. Cawan petri diisi sampel yang mempunyai bobot jenis lebih besar, misalnya air.
5. Meja sampel digerakkan ke atas sampai cincin tercelup kira-kira 2-3 mm di bawah
permukaan cairan.
6. Secara perlahan-lahan cairan berbobot jenis lebih kecil ditambahkan sampai
mencapai ketebalan kira-kira 1 cm.
7. Kemudian meja dengan cairan uji digerakkan kembali ke bawah secara
perlahan-lahan sampai cincin menarik lamela ke luar dari fase cairan yang berada
di sebelah bawah. Pada saat ini nilai yang tertera pada layar akan naik. Nilai ini
akan mencapai maksimumnya sampai sesaat sebelum lamela pecah. Nilai
maksimum yang diperoleh merupakan besarnya tegangan antar permukaan cairan
yang belum dikoreksi.
8. Faktor koreksi cincin dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
0,000918 .OS ruk
f = 0,8759 +
D1 − D 2

Keterangan D1 : bobot jenis cairan yang berada di bawah (g.cm-3)


D2 : bobot jenis cairan yang berada di atas (g.cm-3)

9. Nilai tegangan antar permukaan dua cairan yang diperoleh dikalikan dengan
faktor koreksi yang telah dihitung. Nilai yang diperoleh adalah besarnya tegangan
antar permukaan mutlak dua cairan dalam mN.m-1.

V. PEMBAHASAN
Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang yang harus diberikan sejajar
pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan permukaan mempunyai
satuan dyne/cm dalam sistem cgs (Martin et al., 1990). Hal ini sebanding dengan keadaan
yang terjadi bila suatu objek yang menggantung di pinggir jurang pada seutas tali ditarik
ke atas oleh seseorang yang memegang tali tersebut dan berjalan menjauhi tepi jurang.
Tegangan permukaan muncul pada permukaan cairan/padatan dengan udara. Simbol yang
digunakan untuk tegangan permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne cm -1 (Astuti
dkk., 2009).
Selain tegangan permukaan, ada juga istilah tegangan antarmuka. Tegangan
antarmuka adalah gaya per satuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair
yang tidak bercampur dan seperti tegangan permukaan memiliki satuan dyne/cm.
Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesi
antara 2 fase cair yang membentuk suatu antarmuka adalah lebih besar daripada bila
suatu fase cair dan suatu fase gas berada bersama-sama. Jadi bila 2 cairan bercampur
dengan sempurna tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi (Astuti dkk., 2009).
Metode - metode yang dapat digunakan dalam mengukur besarnya tegangan
permukaan dan tegangan antarmuka suatu sampel antara lain metode pipa kapiler, metode
cincin DuNuoy, dan metode wilhelmy. Dalam memilih metode pengukuran tegangan
permukaan maupun tegangan antarmuka adalah ketepatan dan kemudahan yang
diinginkan, digunakan untuk mengukur tegangan permukaan atau tegangan antarmuka,
ukuran sampel yang tersedia, dan keperluan penelitian terhadap efek waktu pada
tegangan permukaan (Martin et al., 1983).
Tensiometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur tegangan permukaan
atau tegangan antarmuka cairan. Pengukuran tegangan permukaan atau antar muka
dilakukan dengan menggunakan tensiometer berdasarkan pada pengukuran tekanan atau
gaya dari interaksi suatu lempeng dengan permukaan atau antarmuka dua zat cair yang
tidak saling bercampur. Tensiometer yang baik adalah tensiometer yang tertutup, kedap
udara, tabung berisi air (barel) dengan ujung keropos pada salah satu ujungnya dan gauge
vakum di sisi lain. Sebuah tensiometer berpori terdiri dari cangkir, dihubungkan melalui
sebuah benda tegar tabung vakum untuk mengukur, dengan semua komponen diisi
dengan air. Cangkir yang berpori biasanya terbuat dari keramik karena kekuatan
struktural serta permeabilitas untuk aliran air. Tubuh tabung biasanya transparan
sehingga air dalam tensiometer dapat dengan mudah dilihat. Sebuah tabung vakum
Bourdon gauge biasanya digunakan untuk pengukuran potensial air. Pengukur vakum
dapat dilengkapi dengan saklar magnet untuk irigasi otomatis kontrol. Sebuah
manometer air raksa juga dapat digunakan untuk akurasi yang lebih besar, atau tekanan
transduser dapat digunakan untuk merekam secara otomatis dan terus-menerus
tensiometer pembacaan (Harrison, 2009).
Salah satu kegunaan tensiometer yang paling bermanfaat adalah untuk mengukur
atau memonitoring status air lahan. Alat ini terdiri dari suatu poros (biasanya terbuat dari
ceramic) yang dihubungkan ke suatu pengukur hampa udara (mekanik atau elektronik
transducer) melalui suatu tabung tabung yang berisi air. Ketika potensi matrik lahan lebih
rendah ( lebih negatif) dibanding tekanan yang sejenis di dalam tensiometer, air bergerak
sepanjang gradien energi potensial kelahan melalui cangkir poros. Air mengalir ke dalam
lahan sampai keseimbangan dicapai dan pengisapan di dalam tensiometer sama dengan
matrik potensi lahan. Ketika lahan dibasahi, arus bergerak ke arah yang terbalik, dan air
masuk ke dalam tensiometer sampai suatu keseimbangan baru dicapai (Harrison, 2009)
Tensiometer DuNouy merupakan salah satu jenis tensiometer yang digunakan
untuk mengukur tegangan permukaan dan antar muka. Prinsip dari tensiometer ini
bergantung pada kenyataan bahwa gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin
platina iridium yang dicelupkan pada permukaan atau antar muka adalah sebanding
dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka. Gaya yang diperlukan untuk
melepaskan cincin dengan cara ini diberikan oleh suatu kawat spiral dan dicatat dalam
satuan dyne pada suatu petunjuk yang dikalibrasi. Tegangan permukaan dinyatakan
dengan rumus :

Faktor koreksi diperlukan dalam perhitungan karena tidak memperhitungkan


variabel-variabel tertentu seperti jari-jari cincin, jari-jari kawat, dan volume cairan
yang diangkat keluar dari permukaan (Martin et al., 1983).
Selain tensiometer Du Noy, dapat juga digunakan tensiometer digital dalam
pengukuran tegangan permukaan dan antarmuka.

Sebelum melakukan percobaan, alat yang digunakan harus dikalibrasi terlebih


dahulu. Harga kalibrasi untuk cincin yang digunakan dihitung melalui persamaan
berikut:
GKR . g
i. FKR =
2πd
Keterangan:
FKR : Harga kalibrasi cincin (nM.m-1)
GKR : Pemberat kalibrasi (g)
g : Gaya gravitasi (cm.detik-1)
d : Garis tengah cincin (cm)

VI. KESIMPULAN
1. Tegangan permukaan adalah gaya sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan
ke dalam, sedangkan tegangan antarmuka adalah gaya yang terdapat pada antarmuka
dua fase cair yang tak bercampur.
2. Metode - metode yang dapat digunakan dalam mengukur besarnya tegangan
permukaan dan tegangan antarmuka suatu sampel antara lain metode pipa kapiler,
metode cincin DuNuoy, dan metode wilhelmy.
3. Tensiometer bekerja berdasarkan pengukuran tekanan atau gaya dari interaksi suatu
lempeng dengan permukaan atau antarmuka dua zat cair yang tidak saling bercampur.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, K. W., N. M. P. Susanti, I. M. A. G. Wirasuta, dan I. N. K. Widjaja. 2007. Petunjuk


Praktikum Farmasi Fisika. Jimbaran: Jurusan Farmasi F.MIPA UNUD.

Astuti, K. W., N. M. P. Susanti, dan I. N. K. Widjaja. 2008. Buku Ajar Farmasi Fisika.
Jimbaran: Jurusan Farmasi F.MIPA UNUD.

Harrison, D. S. dan A. G. Smajstria. 2009. Tensiometer Untuk Penjadwalan Irigasi


Available at : http://edis/ifas/ufl.edu
Opened at : 07 Desember 2009

Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid 2. Jakarta :
UI Press