Anda di halaman 1dari 5

ix

Ringkasan
ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN FISIKA
SMA/MA NEGERI DI DKI JAKARTA TAHUN 2007/2008

I. Pendahuluan
Ujian Nasional diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan kepada Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP).
Pemetaan kemampuan siswa secara menyeluruh berdasarkan hasil
ujian nasional penting dilakukan agar dapat memberikan gambaran profil
kompetensi siswa SMA/MA dalam mata pelajaran fisika di propinsi DKI
Jakarta. Pembahasan terhadap daya serap mata pelajaran atau sub pokok
bahasan berdasarkan hasil deskripsi ujian nasional fisika SMA/MA tahun
2007-2008 juga akan menjadi sumber informasi yang berguna dalam
pengambilan kebijakan dan perbaikan proses pembelajaran fisika SMA/MA di
DKI Jakarta.

II. Kajian Teori


A. Kompetensi Siswa
Kompetensi menurut Kepmendiknas 045/U/2002 adalah seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Klasifikasi kompetensi mencakup :
1. Kompetensi lulusan, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai oleh
peserta didik setelah tamat mengikuti pendidikan pada jenjang atau
satuan pendidikan tertentu. Misalnya kompetensi lulusan SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA/MA dan SMK. Dilihat dari tujuan kurikulum,
kompetensi lulusan termasuk tujuan institusional.
2. Kompetensi standar, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai
setelah siswa menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu pada setiap
jenjang pendidikan yang diikutinya. Misalnya kompetensi yang harus
dicapai oleh mata pelajaran IPA di SD, matematika di SD dan lain
sebagainya. Dilihat dari tujuan kurikulum, kompetensi standar termasuk
pada tujuan kurikuler.
3. Kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai siswa
dalam penguasaan konsep atau materi pelajaran yang diberikan dalam
kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Dilihat dari tujuan kurikulum,
kompetensi dasar termasuk pada tujuan pembelajaran. 1
Kompetensi siswa yang harus dimiliki selama proses dan sesudah
pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi,
analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi,
inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah),
kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri,
pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif,

1
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana Prenada Media, 2006), h.69.
x

empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang


mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). 2

B. Teori Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari proses
pembelajaran. Pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan
dengan prestasi belajar siswa Dia adalah salah satu alat untuk menentukan
apakah suatu pembelajaran telah berhasil atau tidak.
Menurut Ralph Tyler dalam Arikunto, ”evaluasi merupakan sebuah
proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana dalam hal apa,
dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai” 3. Arikunto juga membagi
evaluasi ke dalam dua Menurut Dimyati yang dimaksud dengan evaluasi hasil
belajar adalah “proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan
penilaian dan/atau penguluran hasil belajar”. Berdasarkan pengertian
evaluasi hasil belajar kita dapat ketahui bahwa tujuan utamanya adalah untuk
mengetahui tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala
nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Hasil dari kegiatan evaluasi hasil
belajar pada akhirnya difungsikan dan ditujukan untuk : a) diagnostik dan
pengembangan, b) seleksi, c) kenaikan kelas, dan d) penempatan.4 Secara
lebih khusus evaluasi juga akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang
terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.

C. Penilaian dan Ujian Nasional


Menurut Permendiknas No 20 Tahun 2007 tanggal 11 Juni 2007 yang
dimaksud dengan Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta
didik.
Popham dalam Tatang5 mengartikan penilaian (penilaian pendidikan)
sebagai suatu upaya formal untuk menentukan status siswa yang berkenaan
dengan ketertarikan terhadap variabel-variabel pendidikan. Variabel
pendidikan dapat berupa pengetahuan tentang materi pelajaran,
keterampilan-keterampilan yang perlu dikuasai, dan sikap-sikap positif dalam
pendidikan. Pengertian ini menekankan bahwa penilaian sebagai suatu
upaya “formal”, karena seorang manusia selalu memberikan status atau
penilaian terhadap orang lain. Guru juga melakukan pertimbangan informal
terhadap siswa yang bukan termasuk penilaian, seperti secara sepintas
menunjuk seseorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan
atau berdasar perasaannya memilih seorang siswa untuk mengerjakan soal
yang diberikan.
Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan sebagai upaya untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional diamanatkan oleh Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
2
Erman Suherman, Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa,
http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-
kompetensi-siswa/
3
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 3.
4
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), h. 200.
5
Tatang Y. Mencermati Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah,
(Surabaya, FMIPA-UNES), h. 11-12.
xi

kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). UN merupakan


kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara
nasional. Adapun tujuannya adalah untuk menilai pencapaian kompetensi
lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu.

D. Mata Pelajaran Fisika


Fisika sebagai salah satu cabang IPA yang pada dasarnya bertujuan
untuk mempelajari dan menganalisis pemahaman kuantitatif gejala atau
proses alam dan sifat zat serta penerapannya.6 Pendapat tersebut diperkuat
oleh pernyataan bahwa fisika merupakan suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari bagian-bagian dari alam dan interaksi yang ada di dalamnya.
Ilmu fisika membantu kita untuk menguak dan memahami tabir misteri alam
semesta ini. 7 Objek Fisika meliputi mempelajari karakter, gejala dan
peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda - benda mati atau benda
yang tidak melakukan pengembangan diri.

III. Metodologi Penelitian


Tujuan dai Penelitian ini adalah:
1. Memetakan tingkat daya serap mata pelajaran fisika SMA/MA Negeri di
DKI Jakarta.
2. Menentukan kompetensi dasar yang cenderung sulit dikuasai siswa.

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli – November 2008 dan
bertempat di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi
penelitian adalah siswa SMA/MA di DKI Jakarta yang mengikuti Ujian
Nasional tahun 2007/2008. Sampel penelitian adalah siswa SMA/MA Negeri
di DKI Jakarta yang mengikuti Ujian Nasional tahun 2007/2008 pada mata
pelajaran Fisika.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi dokumen yaitu
dengan mengumpulkan data SIM Hasil Ujian Nasional 2007/2008 dari
Puspendik. Analisis yang digunakan adalah analisis isi (content analisys).
Pada penelitian ini data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan
dideskripsikan untuk kemudian dianalisis dan diinterpretasikan berdasarkan
buku-buku dan peraturan-peraturan yang telah didokumentasi.

IV. Hasil dan Pembahasan Penelitian


A. Deskripsi Data Daya Serap di DKI Jakarta
Data yang diperoleh dari Pusat Penilaian Pendidikan menunjukkan
bahwa, soal Fisika SMA/MA UN 2007-2008 disusun dalam 2 paket, yaitu
paket A dan paket B. Tiap paket soal terdiri dari 40 butir soal, yang berdasar
pada 40 indikator dari 36 sub pokok bahasan. Peneliti kemudian
mengelompokkan 36 sub pokok bahasan menjadi 6 pokok bahasan utama
dalam fisika8, yaitu Mekanika (17 soal), Termodinamika (3 soal),
Gelombang/Akustik (3 soal), Elektromagnetik (9 soal), Optika (2 soal) dan
Fisika Modern (6 soal). Distribusi soal Fisika terlampir.

6
Wospakrik, Hans. J. Dasar-dasar Matematika untuk Fisika. (Bandung, ITB: 1994)., h.1
7
Yohanes Surya. Olimpiade Fisika. (Jakarta, Primatika Cipta Ilmu: 1997), h. 1
8
Halliday Resnick, Fisika Universitas
xii

Variasi daya serap adalah sebesar 938,003 dari 5.280 data yang
diolah, dengan standar deviasi 38,6268. Bila dilihat dari rata-rata daya serap
sebesar 58,05, maka standar deviasi daya serap di DKI Jakarta sangat
besar. Artinya bahwa daya serap di DKI Jakarta tidak homogen dan sangat
bervariasi. Hal ini juga ditunjukkan oleh besarnya rentang daya serap empiris
yang sama dengan rentang daya serap teoritis, yaitu dari 0 sampai 100.
Nilai median yang diperoleh adalah 61,91. Nilai median ini lebih besar
dari rata-rata daya serap, sehingga secara umum, soal fisika ini cenderung
sulit diserap oleh siswa. Karena dalam kondisi ideal, nilai median adalah
sama dengan rata-rata.

B. Daya Serap Fisika di DKI Jakarta per Pokok Bahasan


Di Propinsi DKI Jakarta daya serap siswa pada pokok bahasan
Elektromagnetik kategorinya ”Kurang’ dengan nila rata-rata sebesar 49,62.
Pada pokok bahasan Fisika Modern daya serap siswa kategorinya “Cukup”
dengan nilai rata-rata sebesar 62,84. Pada pokok bahasan
Gelombang/Akustik daya serap siswa kategorinya “Cukup” dengan nila rata-
rata sebesar 60,55. Pada pokok bahasan Mekanika daya serap siswa
kategorinya “Kurang” dengan nilai rata-rata sebesar 59,68. Pada pokok
bahasan Optik daya serap siswa kategorinya “Kurang” dengan nila rata-rata
sebesar 51,04. Pada pokok bahasan Termodinamika daya serap siswa
kategorinya “Cukup” dengan nila rata-rata sebesar 68,69.

C. Titik Lemah (Weakness Point) Daya Serap Fisika


Rendahnya rata-rata daya serap fisika dalam UN 2007-2008 dapat
disebabkan oleh adanya titik lemah dalam beberapa butir soal. Peneliti
kemudian mengambil butir soal yang memiliki daya serap dibawah 50%
sebagai titik lemah/titik kritis dalam daya serap fisika di DKI Jakarta. Ternyata
terdapat 13 butir soal di DKI yang memiliki daya serap di bawah 50%.
Secara umum, masih rendahnya daya serap pada hasil ujian nasional
mata pelajaran fisika mengindikasikan proses pembelajarannya belum dapat
berlangsung sebagaimana mestinya. Sesuai dengan karakteristik
pembelajaran mata pelajaran fisika, kegiatan pembelajaran seharusnya
dilakukan melalui kegiatan keterampilan proses, meliputi eksplorasi (untuk
memperoleh informasi, fakta), eksperimen, dan pemecahan masalah (untuk
menguatkan pemahaman konsep dan prinsip).

V. Kesimpulan dan Saran


Rata-rata daya serap fisika di DKI Jakarta adalah 58,05 + 30,63, dan
termasuk dalam kategori “kurang”, menjadi tanda bahwa fisika masih belum
terserap dengan baik oleh siswa DKI Jakarta. Selain itu, dari seluruh sebaran
data daya serap fisika yang diolah, juga menunjukkan hal yang sama, bahwa
di DKI Jakarta hanya 42,69% yang memiliki daya serap lebih dari kategori
“cukup”.
Hasil analisis menunjukkan daya serap fisika di DKI Jakarta untuk
pokok bahasan : (1) elektromagnetik adalah 49,62; (2) optika 51,04; (3)
mekanika 59,68; (4) gelombang 60,55; (5) fisika modern 62,84; dan (6)
termodinamika 68,69. Pokok bahasan elektromagnetik, optika dan mekanika
memperoleh kategori daya serap ”kurang”, sedangkan gelombang, fisika
modern dan termodinamika memperoleh kategori daya serap ”cukup”.
xiii

Terdapat 13 kompetensi dasar yang bahkan belum mencapai angka


50% untuk daya serapnya. Kelemahan utama ada pada pokok bahasan
elektromagnetik karena memiliki rata-rata daya serap terendah. Selain itu,
elektromagnetik juga merupakan pokok bahasan yang paling banyak memiliki
jumlah indikator kompetensi dasar yang daya serapnya belum mencapai
50%.
Saran bagi Dinas pendidikan sebagai instansi yang secara langsung
menaungi sekolah dan guru-guru. Hendaknya lebih banyak memfasilitasi
adanya peningkatan kompetensi guru fisika dalam hal penyelenggaraan
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan inovatif.
Untuk LPMP DKI Jakarta diharapkan dapat mengembangkan suatu
learning center bagi guru fisika, yang dapat melayani kebutuhan guru fisika
akan sarana belajar, sarana pengembangan diri dan pertukaran informasi.
Pengadaan laboratorium fisika terpadu, yang dapat dimanfaatkan oleh
seluruh sekolah di DKI Jakarta,
Sedangkan untuk sekolah hendaknya dapat mengembangkan suatu
manajemen informasi secara mandiri dalam pemanfaatan hasil UN, sebagai
landasan dalam melakukan perbaikan mutu proses pembelajaran.