Anda di halaman 1dari 7

Aluminium – Sejarah dan Karakteristik

Aluminium merupakan bahan tambang terbanyak ketiga yang ada di


bumi. Bahan ini terkandung di bebatuan dalam bentuk aluminium
silikat yang merupakan bahan paduan penting, namun bahan
terpenting logam jenis ini adalah bauxite yang mengandung 52%
Al2O3, 27.5% fe2O3 dan 20.5% H2O.
Bauxite dilebur dengan caustic soda dan calcined pada suhu 1200ºC
untuk menghasilkan alumina dengan tingkat kemurnian yang tinggi
yang kemudian alumina ini dilebur dengan menggunakan sel
elektrolitik untuk menghasilkan aluminium murni.

Properti Aluminium yang Menjadikan Material


Atraktif

Density/Kerapatan
Ringan mungkin adalah karakteristik aluminium yang paling dikenal,
dengan density 2.7 x 103 Kg/M3 atau kira-kira 35% dibanding baja.
Sifat-sifat tersebut dibarengi dengan karakteristik lain seperti anti
korosif dan kekuatan tensil yang baik membuat logam ini dijadikan
alternatif di bidang otomotif yang menuntut efisiensi dalam
pemakaian bahan bakar.

Tensile Strength/Kekuatan Tensil


Aluminium murni mempunyai kekuatan tensil sekitar 90 Mpa dan
dapat ditingkatkan menjadi 180 Mpa melalui perlakuan dingin.
Perlakuan dengan menggunakan heat treatment dapat meningkatkan
kekuatan tensil pada kisaran 570 Mpa dan bahkan lebih pada
beberapa alloy (7001). Gambaran ini menjadikan aluminium dapat

Provide by Wedha Page 1


disejajarkan dengan baja lunak yang mempunyai kisaran kekuatan
tensil sekitar 260 Mpa.

Corrosion Resistance/Ketahanan Karat


Aluminium mempunyai ketahanan karat yang bagus. Hal ini
dimungkinkan karena adanya lapisan oksida tipis yang membentuk
dan melindungi logam dari oksidasi lebih lanjut, kecuali terhadap
bahan-bahan tertentu dan kondis yang dapat merusak lapisan
protektif ini, logam akan tetap terlindungi dari korosi.
Aluminium mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap cuaca,
meskipun dalam atmosfir industri yang seringkali mengakibatkan
korosi pada kebanyakan logam. Ketahanan karat ini dapat dirusak
oleh beberapa asam, seperti kontak langsung dengan bahan alkaline
harus dihindari karena dapat mengakibatkan terkikisnya lapisan
oksida dan mengakibatkan korosif pada aluminium.

Electrical Conductivity/Konduktifitas Elektrik


Aluminium merupakan bahan logam yang mempunyai daya hantar
listrik cukup tinggi dan dapat digunakan sebagai konduktor listrik.
Tingkat konduktifitas listrik aluminium sekitar 27mΏ/cm (62% of
IACS). Karena aluminium mempunyai kerapatan sepertiga dari
tembaga, maka kapasitas daya hantar arus konduktor aluminium
setara hanya setengah massa dari konduktor tembaga.

Reflectivity/Reflektifitas
Daya pantul aluminium yang tinggi yaitu lebih dari 80% membuatnya
banyak digunakan sebagai peralatan lampu. Karakteristik pantul ini
juga digunakan sebagai bahan pembungkus, sebagai contoh atap
aluminium memantulkan sejumlah besar panas matahari sehingga
suatu bangunan tetap terasa dingin meskipun di musim panas. Pada
kondisi sama kemampuan pantul yang sangat bagus ini membuat
atap bangunan dari bahan ini tetap hangat di musim dingin.

Provide by Wedha Page 2


Aluminium di Bidang Perkapalan.

Ringan, kuat
dan anti korosi
menjadikan
aluminium
sebagai bahan
logam yang
sangat ideal
untuk pembu-
atan kapal baru.

Bahan ini pertama kali digunakan pada kapal penum pang bertenaga
uap tahun 1891, kapal tersebut bernama Le Migron, didesain di
Swiss yang dipesan oleh Alfred Nobel dan digunakan untuk
mengangkut 8 penumpang. Ini adalah kapal pertama yang sebagian
materialnya menggunakan aluminium, dan merupakan peluang
besar aluminium untuk digunakan dalam dunia perkapalan.

Hanya berselang tiga tahun kemudian di tahun 1894, galangan


kapal Skotlandia Yarrow & Co memperkenalkan kapal type motor
torpedo sepanjang 58 meter yang terbuat dari bahan aluminium.
Kapal ini dinamakan “Falcon” yang dibangun atas pesanan Angkatan
Laut Kerajaan Rusia. Kapal tersebut mampu mencapai kecepatan 32
knots, yang merupakan rekor pada saat itu.

Satu tahun kemudian, kapal aluminium Defender memenangkan


satu perlombaan prestisius di Amerika (The America Cup), yang
merupakan bukti nyata kelebihan dari bahan metal ‘baru’ tersebut.

Provide by Wedha Page 3


Namun pada tahun 1895 harga aluminium sangat tinggi dan
mencapai 35% lebih mahal dibandingkan baja, yang membuat
penggunaan dari ‘logam ringan’ ini semakin rendah. Hal selanjutnya
yang diketemukan pada material ini adalah ‘korosi’.

Meskipun kelihatan aneh saat ini, diketahui bahwa kapal-kapal


pesiar dari bahan aluminium pada awal abad ditemukan korosi pada
beberapa permukaan lambungnya di air laut. Daya tahan dari semua
jenis kapal ini turun secara signifikan jika dibandingkan kapal-kapal
lain sejenis yang dibuat dari bahan baja.
Proses pengolahan yang tidak sempurna dan kurangnya pemahaman
terhadap sifat-sifat aluminium membuat bahan logam ini harus
berhadapan dengan berbagai permasalahan yang pada akhirnya
dapat dipecahkan beberapa dekade kemudian.

Pada tahun-tahun tersebut bahan logam baja menjadi bahan yang


paling populer di bidang perkapalan, tanpa memberikan alternatif
lain karena dari sisi kekuatan dan harganya yang lebih murah.
Bahan baja mempunyai banyak kelebihan kecuali beratnya.
Konstruksi kapal dengan kapasitas yang semakin lama semakin
bertambah membuatnya semakin berat dan sulit untuk dikontrol.
Sebagai contoh selama akhir abad semenjak 1910 berat maksimum
kapal meningkat lebih dari dua kali, mulai dari Titanic dengan berat
46,000 T sampai ke Golden Princess dengan berat 109,000 T.

Faktor berat ini sangat penting dalam bidang perkapalan karena


pada akhirnya akan menentukan kecepatan kapal dan kemampuan
angkut, terkait juga faktor ekonomis baik dari biaya yang dikeluarkan
penumpang untuk tiket dan konsumsi bahan bakar. Hal ini
meningkatkan motivasi untuk melakukan kajian lebih jauh pada
bahan aluminium dan kemampuan dari bahan tersebut. Diketahui

Provide by Wedha Page 4


kemudian bahwa penggunaan bahan ‘logam ringan’ dapat
mengurangi berat kapal sampai lebih dari 50%.

Kajian pertama berkaitan dengan sifat-sifat mekanis aluminium


dilakukan di awal abad, namun hanya oleh sebatas penelitian
terhadap daya tahan aluminium terhadap korosi di air laut dimana
terungkap bahwa dengan penambahan magnesium dan silikon dapat
membuat aluminium lebih tahan terhadap air laut. Alloy 5083
merupakan bahan dasar alloy untuk pembangunan kapal,
didaftarkan pertama kali oleh Asosiasi Aluminium pada tahun 1954,
meskipun bahan ini seringkali disebut dengan alloy bahan pembuat
kapal, bahan ini juga digunakan di banyak industri, termasuk
otomotif. Alloy 5083 sangat populer di bidang perkapalan karena
propertinya seperti kekuatan yang tinggi, ketahanan korosi, mudah
dibentuk, dan mempunyai karakteristik mampu las yang sangat baik.

Pada tahun 1960-an, pengembangan-pengembangan di bidang


teknologi telah banyak membantu dalam hal pengurangan biaya
pembuatan aluminium dan meningkatkan penggunaan bahan logam
ringan ini di bidang perkapalan. Aluminium digunakan sebagai
lambung kapal di kapal pesiar, bangunan atas, tiang utama, dan
infrastruktur pelabuhan. Pada tahun 1970, kapal penumpang dengan
kecepatan tinggi pertama kali dikenalkan di Skandinavia, sebuah
kapal Catamaran yang dibuat dengan bahan aluminium. Dengan
beratnya yang ringan dan kecepatan yang tinggi, mereka
membuktikan segi keuntungan ekonomis dan keunggulan dalam hal
kecepatan, dan menjadi standar untuk transportasi penumpang
selama beberapa tahun.

Di era sekarang, aluminium alloy yang digunakan di kapal


mempunyai tingkat korosi 100 kali lebih lambat dibandingkan baja.
Bandingkan saja, di tahun pertama pengoperasian, kecepatan korosi

Provide by Wedha Page 5


baja adalah 120 mm per tahun, sementara aluminium pada
kecepatan hanya 1 mm per tahun.

Kapal-kapal aluminium tidak terlalu banyak memerlukan perawatan


sebagaimana kapal-kapal baja, hal ini tentu saja berpengaruh pada
biaya perawatan dan repair yang lebih murah. Sebagaimana diatur,
semua kapal-kapal type sport dibuat dari aluminium, mulai dari
lambung sampai bangunan atas, dimana hal ini sangat berpengaruh
untuk memperoleh kecepatan kapal yang signifikan, lambung pada
kapal dengan kapasitas lebih besar dibuat dari baja, sementara
bangunan atas dan peralatan bantu lainnya dibuat dari aluminium
akan mengurangi berat kapal dan meningkatkan kapasitas muat dari
kapal itu sendiri.

Sampai sekarang, alloy 5083 sepertinya belum mempunyai


kompetitor diantara jenis aluminium alloy lainnya. Pada tahun 1995,
Pechinery Co. dari Perancis mendaftarkan aluminium alloy 5383,
yang merupakan pengembangan dari aluminium alloy 5083.
ketahanan material ini terhadap korosi ditingkatkan, dan kekuatan
terhadap benturan (impact strength) ditingkatkan mencapai 10%.
Dengan karakteristik yang kurang lebih sama dengan aluminium
alloy 5083, aluminium alloy 5383 menjadi pilihan sebagai bahan
baku utama untuk kapal-kapal besar dan kapal yang memerlukan
kecepatan tinggi.

Provide by Wedha Page 6


Pada tahun 1999, Corus Aluminium Walzprodukte GmbH (Koblenz,
Germany) mendaftarkan aluminium alloy 5059 bersama dengan
Asosiasi Aluminium Amerika, yang kemudian dinamakan Alustar.
Aluminium alloy baru ini membuktikan bahwa aluminium dapat
lebih kuat dibandingkan baja. Alloy ini mempunyai nilai kekuatan
dan yield point yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan slloy
steel-ringan S235, AlCu4SiMg (AA2014). Alloy jenis ini yang
dikembangkan untuk industri perkapalan mempunyai perbedaan
kekuatan yang cukup berarti dibandingkan alloy tradisional 5083.
yield point sebelum pengelasan meningkat sebesar 26% dan menjadi
28% setelah pengelasan (pengelasan lembarah heat-treated
H321/H116 terbuat dari aluminium grade AA5059).

Penelitian berlanjut, dan mungkin, dalam waktu yang sangat dekat,


para peneliti mungkin akan menemukan jenis material aluminium
alloy yang lebih ringan dan lebih kuat yang memungkinkan
pengembangan generasi baru pembangunan kapal dan struktur masa
depan.

Provide by Wedha Page 7