Anda di halaman 1dari 40

Makalah Student Centered Learning – Ilmu Material 2010

Gipsum

Kelompok 5 :
Adi Nugroho (021011079)
Laily Iman Sari (021011080)
Diesta Dhania (021011083)
Febtrias Mandrabuti P. (021011084)
Ayesha Apriliana (021011085)
Firman Fath (021011086)
Raisa (021011089)
Ismardiyanti W. P. (021011090)
Fitransyah Indradi (021011091)
Irham M. Adinugraha (021011092)
Kristiara Sitaresmi (021011093)
Sari Kemaladini (021011094)
Notaricia Sartika F. S. P. N. (021011095)
Aureola Mayantika (021011096)
Konita Nasir (021011097)
Mirna C. P. (021011098)
Yohana Natalia (021011099)

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Airlangga 2010
PRAKATA

Kami ucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas berkat
rahmat dan izinnya, kami dapat menyelesaikan makalah Ilmu Material Kedokteran
Gigi yang berjudul “Gipsum”. Adapun makalah ini disusun oleh :

1. Irham M. Adinugraha (021011092) selaku ketua kelompok yang bertanggung


jawab dalam memimpin jalannya diskusi serta yang mengatur dan membagi
tugas setiap anggota kelompok. Koordinator juga bertugas mengingatkan serta
membantu setiap anggota kelompok dalam melaksanakan tugasnya.
2. Ismardiyanti Windhia Putri (021011090) selaku sekretaris kelompok yang
bertanggung jawab mencatat hasil diskusi secara keseluruhan serta membantu
ketua kelompok dalam membagi dan mengatur tugas setiap anggota kelompok,
dan sekretaris juga bertugas membantu setiap anggota kelompok dalam
menjalankan tugasnya.
3. Diesta Dhania (021011083) selaku koordinator tim makalah yang bertanggung
jawab dalam pembuatan makalah yang berupa softcopy maupun hardcopy, dan
koordinator juga bertanggung jawab dalam mengatur dan membagi tugas pada
tiap anggota tim makalah dalam merapikan dan menata makalah.
4. Aureola Mayantika (021011096) selaku koordinator tim power point yang
bertanggung jawab dalam pembuatan power point untuk presentasi dan
bertugas mengatur dan membagi tugas pada anggota tim power point dalam
pengerjaannya.
5. Febtrias Mandrabuti (021011084) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
6. Ayesha Apriliana (021011085) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
7. Yohana Natalia (021011099) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
8. Sari Kemaladini (021011094) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
9. Laily Iman Sari (021011080) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
10. Firman Fath (021011086) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
11. Adi Nugroho (021011079) selaku anggota tim makalah yang bertugas
membantu koordinator dalam menata makalah agar menjadi lebih rapi dan
sistematis serta menambahkan materi jika terdapat materi yang lebih benar.
12. Notaricia Sartika (021011095) selaku anggota tim powerpoint yang
bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan
powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat
powerpoint menjadi lebih baik dan menarik.
13. Raisa (021011089) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung jawab
membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan powerpoint, serta
bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi lebih
baik dan menarik.
14. Konita Nasir (021011097) selaku anggota tim powerpoint yang bertanggung
jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan powerpoint,
serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat powerpoint menjadi
lebih baik dan menarik.
15. Mirna Cathryna Putri (021011098) selaku anggota tim powerpoint yang
bertanggung jawab membantu koordinator tim powerpoint dalam pengerjaan
powerpoint, serta bertanggung jawab dalam merapikan dan membuat
powerpoint menjadi lebih baik dan menarik.
16. Fitransyah Indradi (021011091) selaku distributor materi yang bertanggung
jawab dalam mengumpulkan materi mentah dari setiap anggota kelompok dan
mengolah serta merapikan materi mentah tersebut dan memberikannya pada
koordinator tim makalah dan koordinator tim powerpoint untuk diolah lebih
lanjut. Distributor juga bertanggung jawab dalam mencetak makalah.
17. Kristiara Sitaresmi (021011093) dari setiap anggota kelompok dan mengolah
serta merapikan materi mentah tersebut dan memberikannya pada koordinator
tim makalah dan koordinator tim powerpoint untuk diolah lebih lanjut.
Distributor juga bertanggung jawab dalam mencetak makalah.

Kami berharap makalah ini dapat membantu kami dan semua orang yang
berada di bidang ilmu kedokteran gigi. Dan kami juga berharap makalah yang telah
kami buat dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa-
mahasiswa ilmu kedokteran gigi dalam memahami materi-materi yang perlu diketahui
tentang gipsum.

Kami juga mengucapkan terima kasih atas segenap bantuan dan bimbingan
dosen pembimbing serta kerja keras tim penyusun sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik. Demikian pengantar yang dapat kami berikan, semoga
makalah ini bias bermanfaat bagi semua.

Surabaya, 24 November 2010

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
I
PENDAHULUAN

Gipsum merupakan produk samping dari beberapa reaksi kimia, umumnya


digunakan sebagai konstruksi dalam industri atau material bahan bangunan, digunakan
juga di bidang pendidikan, bidang seni, di bidang kedokteran umum maupun
kedokteran gigi. Dalam bidang kedokteran gigi, penggunaan gipsum ini sangat
meluas, dan juga salah satu bahan yang sering digunakan. Penggunaan bahan tersebut
dapat digunakan dalam membuat model untuk gigi tiruan, yang terdapat campuran
plaster didalam kandungannya, plaster jenis lain yang dikenal sebagai stone gigi,
diaduk dengan air,dituang ke dalam cetakan, dan dibiarkan mengeras, cetakan plaster
yang mengeras tersebut berfungsi sebagai mold untuk membentuk model positif, atau
model plaster. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa diperlukan kehadiran pasien.
Selain itu, ada juga produksi gipsum sintesis yang merupakan terobosan karena
mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan menjadi produk baru
yang bernilai ekonomi. Sebagai wallboard, gipsum yang diproduksi secara benar
ternyata memiliki kualitas lebih baik daripada gypsum yang diperoleh dari
penambangan. FYI, AS merupakan Negara perintis dalam memproduksi gipsum
sintesis. Seringnya pemakaian bahan gipsum ini dalam bidang kedokteran gigi
dikarenakan terdapat banyak keuntungan yang dapat dirasakan, yaitu mudah
penggunaannya, harganya terjangkau, ketepatan dan kestabilan dimensi baik, mamapu
menghasilkan detail halus dari bahan cetak. Dan ada juga kerugiannya, gypsum
memiliki bahan radioaktif yag tidak baik untuk kesehatan tubuh. Untuk kerugian
tersebut, kita dapat menanggulanginya dengan cara penanggulangan yang dapat
menghindarkan kita dari bahan radioaktif tersebut saat sedang proses menggunakan
gypsum.
II
PEMETAAN MATERI

Gipsu
m

n
e
P
g
a
n
u
e
K
y
c
e
t
r
a
S
a
n
u
g
e
K
D
m
l
o
d
e
k
s
K
c
r
t
m
l
a
e
g
a
k
o
d
a
r
e
t n
u
m
a
r
U
-
y
s t
n
a
ti
r
u
n
m
g
i
G
Penge
g
i

rtian
III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Gypsum


3.1.1 Gypsum Secara Umum

Beberapa orang mengenal gypsum setelah menjadi suatu produk, seperti papan
gypsum, list profil gipsum, maupun gypsum yang digunakan dibidang kesehatan
untuk membantu pemulihan kesehatan orang yang mengalami patah tulang. Batu
gypsum putih terbentuk secara alami dengan sendirinya pada era geologi 100 sampai
200 juta tahun yang lalu. Jika didefinisikan secara kimia, batu gypsum disebut dengan
kalsium sulfat dihidrat dengan rumus kimia CaSO4.2H20. Terbentuk sebagai batu
endapan oleh adanya penguapan air laut.
Dalam sejarah bumi, lapisan gypsum tertutup oleh gumpalan lain dari batu
yang semuanya terkena pengaruh kekuatan geologis. Karena naiknya tekanan, lapisan
gypsum kehilangan air kristal dan kalsium sulfat anhidrit terbentuk. Jika kalsium
sulfat anhidrit yang bebas air dihubungkan kembali dengan air, maka dengan perlahan
akan mulai membentuk kembali menjadi gypsum. Jenis ini digali melalui
pertambangan terbuka dan pertambangan bawah tanah. Tidak seperti pertambangan
bahan baku lain, penggalian gypsum hanya memerlukan bidang permukaan yang
relatif kecil. Oleh karena itu, gangguan terhadap alam dapat diminimalisasi dari segi
ruang dan waktu.
Selain gipsum alami, terdapat pula gipsum yang terbentuk dari limbah hasil
produksi, sebagai contoh adalah limbah pembuatan pupuk dan proses Desulfurisasi
Batubara yang juga dapat menghasilkan gipsum. Kedua bahan baku gipsum tersebut,
baik alami maupun hasil proses (limbah) dapat dipergunakan sebagai bahan baku
pembuatan papan gipsum dan gipsum powder, tetapi apakah kualitasnya sama, hal
inilah yang perlu diteliti lebih lanjut.
3.1.2 Kegunaan Gipsum Secara Umum

1. Gipsum terutama digunakan untuk dinding dan langit-langit; dikenal di


konstruksi sebagai Drywall .
2. Bahan perekat
3. Penyaring dan sebagai pupuk tanah.
4. Plester dari Paris (splints bedah; cetakan pengecoran, pemodelan)
5. Campuran bahan pembuatan lapangan tenis.
6. Sebagai pengganti kayu pada zaman kerajaan-kerajaan.
7. Sebagai pengental tofu karena memiliki kadar kalsium yang tinggi.
8. Sebagai penambah kekerasan untuk bahan bangunan
9. Untuk bahan baku kapur tulis
10. Sebagai indikator pada tanah dan air
11. Sebagai agen medis pada ramuan tradisional China.
12. Menambahkan untuk air yang digunakan untuk homebrewing.
13. Sebuah komponen dari semen Portland yang digunakan untuk mencegah
flash pengaturan beton .
14. Tanah / potensi air pemantauan (tanah ketegangan kelembaban).
15. Pada periode abad pertengahan digunakan untuk membuat Gesso yang
digunakan untuk surat-surat diterangi dan disepuh dengan emas dalam
manuskrip.

3.1.3 Gypsum dalam bidang Kedokteran Gigi

Gypsum adalah mineral yang ditambang dari berbagai belahan dunia,


merupakan produk samping dari beerapa proses kimia. Secara kimiawi, gypsum yang
dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat. Gypsum pada
kedokteran gigi digunakan untuk membuat model studi dari rongga mulut serta
struktur maksilo-fasial dan sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium
kedokteran gigi yang melibatkan pembuatan protesa gigi. Gips adalah kalsium sulfat
dihidrat,CaSO4.2H2O. Saat mengeras, dimana suhunya cukup tinggi untuk
menghilangkan kadar airnya, gips berubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat,
(CaSO4)2.H2O,dan pada temperatur lebih tinggi. Gypsum sendiri dapat dibagi menjadi
dua jenis secara umum sebelum diklasifikasikan yaitu : Plaster dan stone gigi.
Kandungan utama plaster dan stone gigi adalah kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4) 2.
H2O atau CaSO4. . H2O. bergantung pada metode pengapuran bentuk hemihidrat yang
berbeda dapat diperoleh. Bentuk ini disebut α-hemihidrat dan β-hemihidrat. Adanya
penulisan α-hemihidrat dan β-hemihidratini menurut kandungan mineral yang ada
didalamnya. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 156).
Produk gypsum telah digunakan secara meluas dalam kedokteran gigi untuk
membuat model studi dari rongga mulut dan struktur maksilo-facial dan sebagai
piranti penting untuk pekerjaan laboratorium kedokteran gigi yang melibatkan
pembuatan protesa gigi. Berbagai jenis plaster digunakan untuk membuat cetakan dan
model dimana protesa dan restorasi kedokteran gigi dibuat. Bila plaster diaduk dengan
silica maka dikenal dengan bahan tanam gigi. Bahan tanam tersebut digunakan untuk
membentuk mold guna mengecor restorasi gigi dengan logam yang dicairkan.
( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 155).
Penggunaan gypsum dalam kedokteran gigi juga dapat diperlihatkan dalam
membuat gigi tiruan. Misalnya, campuran plaster of Paris dan air ditempatkan dalam
sendok cetak dan ditekan pada jaringan rahang. Plaster dibiarkan mengeras dan
kemudian cetakan dikeluarkan. Dokter gigi sekarang memiliki bentuk negative dari
jaringan yang dibentuk tersebut yang dibuat dalam rongga mulut. ( Kenneth J.
Anusavice, 2004 : 155).
Bila jenis plaster lain yang dikenal dengan stone gigi, yang sekarang diaduk
dengan air sekarang diaduk dengan air kemudian dituang kedalam cetakan model
negative yang tadi lalu dibiarkan sampai mengeras. Lalu cetakan plaster yang
mengeras tersebut menjadi mold untuk menjadi model positif atau model master. Pada
model inilah gigi tiruan dibuat tanpa kehadiran pasien. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 :
155).
3.1.4 Kegunaan gypsum dalam bidang kedokteran gigi

1. Memperoleh cetakan yang akurat jaringan rongga mulut.


2. Restorasi.
3. Piranti orthodonti.

4. Impression Plaster, digunakan dalam pengambilan cetakan untuk rahang


yang edentulous (tidak ada gigi).
5. Plaster of Paris
a) Mounting atau pemasangan model pada artikulator atau
okludator.
b) Sebagai bahan study model.
c) Sebagai bahan tanam pada proses flasking.
d) Sebagai bahan impression (impression material) yang
dimodifikasi dengan bahan kimia.
6. Dental stone
a) Sebagai bahan pembuatan model dan die.
b) Sebagai binder bagi bahan investment yang sesuai untuk
penuangan alloy pada suhu dibawah 1200 derajat celcius.
7. Investment Gips untuk Prosedur Inlay Casting, bahan ini digunakan
untuk memperoleh mold dalam proses casting, pada pembuatan inlay,
crown dan bridge.
8. Investment Gips untuk Chrom Cobalt Base Alloy, bahan ini digunakan
sebagai bahan tanam dalam prosedur casting pada pembuatan metal
prothesa, partial prothesa dan bridge.

3.1.5 Syarat-syarat Gypsum dalam bidang Kedokteran Gigi

1. Sifat mekanis baik, artinya harus kuat sehingga tidak mudah rusak atau
tergores selama proses pembuatan piranti restorasi atau saat ukir malam,
dll.
2. Dapat mereproduksi detail yang halus dengan batas yang tajam.
3. Memiliki stabilitas dimensional yang baik (menunjukkan perubahan
dimensi yang sangat kecil saat setting dan hendaknya cukup stabil).
4. Kompatibel dengan bahan cetak, tidak terjadi interaksi antara permukaan
cetakan dengan permukaan model, die.
5. Murah dan mudah dipergunakan.

3.2 Sifat-Sifat Gypsum

3.2.1 Sifat Kimia (komposisi) Gypsum

Bahan dasar gypsum adalah mineral gypsum kalsium sulfat dihidrat


(CaSO4.2H2O). Apabila dipanaskan, CaSO4.2H2O akan kehilangan 1,5 grmmol H2O
yang kemudian akan menjadi kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4)2.H2O, yakni produk
gypsum yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi. Berikut dibawah ini adalah
proses reaksi nya :
2CaSO4.2H2O + pemanasan (CaSO4)2.H2O + 3H2O
Calcium Calcium
Sulfate Sulfate
Dehydrate Hemihydrate
Hasil yang diperoleh dari pemanasan merupakan bubuk (powder). Bila kalsium
sulfat hemihidrat dicampur dengan air, maka akan terjadi reaksi kimia :

(CaSO4)2.H2O + 3H2O 2CaSO4.2H2O + 3900 kal/gmol

Reaksi yang terjadi exothermic yang menghasilkan panas. Bila 1 gmol kalsium sulfat
hemihidrat bereaksi dengan 1,5 gmol air (H2O), maka akah dihasilkan 1gmol kalsium
sulfat dihidrat dan panas yang dikeluarkan sebesar 3900 kalori

3.2.2 Sifat Fisik Gypsum

Gipsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan,
gipsit alabaster, satin spar dan selenit. Gipsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
tempat terjadinya, yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk
sekitar fumarol vulkanik, efflorescence pada tanah atau gua-gua kapur, tuduh kubah
garam, penudung oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping.

Gipsum alami yang berwarna putih kekuningan

Butiran Gipsum
3.2.3 Viskositas

Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan


bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai "kekentalan", atau
penolakan terhadap penuangan. Viskositas berkisar 21.000-101.000 centipoises (cp)

 Perbandingan dari dental stone high strength diaduk dengan tangan dan
dengan vacuum

 Viskositas dari dental stone high strength dan impression plaster

Material Viskositas (cp)


Dental stone high strength
A 27.000
B 29.000
C 50.000
D 54.000
E 101.000
Impression Plaster 23.000

3.2.4 Compressive Strength


Kekuatan kompresi atau biasa disebut compressive strength
merupakan kekuatan yang diperoleh bila kelebihan air yang dibutuhkan
untuk hidrasi hemihidrat tertinggal dalam contoh bahan uji. Besarnya
Kekuatan kompresi dari beberapa produk gipsum yang paling rendah ialah 12
MPa dan yang paling tinggi 38 MPa atau sekitar 7000psi. Berikut data
kekuatan kompresi dari macam-macam gipsum :
1. Plaster cetak (type I) memiliki kekujatan kompresi 580 ± 290
psi
2. Plaster model (type II) memiliki kekuatan kompresi 1300 psi
3. Stone type III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam 20,7
Mpa atau sekitar 3000 psi, tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa atau
sekitar 5000psi
4. Type IV memiliki kekuatan kompresi 34,5 Mpa atau sekitar 5000 psi
5. Ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini, dan
memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan
stone gigi type IV, kekuatan kompresi type V ini sekitar
7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan
menurunkan lebih jauh rasio W/P
Compressive strength ini berhubungan dengan rasio W/P dan
pengadukan. Jika air yang digunakan lebih banyak, maka compressive strength
nya turun. Berikut ialah compressive strength dari 3 tipe gypsum yang berbeda
1 jam setelah pengerasan :
o Model Plaster 12,5 MPa
o Dental Stone 31 MPa
o Dental Stone High strength 45 MPa

3.2.5 Surface Hardness and Abrasion Resistance


Surface Hardness (kekerasan permukaan) dan abrasion resistance
(ketahanan abrasi) sangat penting diperhatikan agar tidak banyak atau bahkan
tidak ada kehilangan bentuk pada model selama proses manipulasi untuk
mempelajari oklusi atau membuat restorasi.
Morfologi partikel gypsum menentukan sifat produk gypsum. Dua
faktor yang berkontribusi terhadap kekuatan dan daya tahan abrasi produk
akhir ialah : bentuk partikel dan porositas
Untuk meningkatkan kekerasan pada permukaan gypsum yang telah
mengeras, dapat ditambahkan epoxy atau monomer metal metakrilat

3.2.6 Setting expansion

Semua produk gips mengalami setting expansion (perubahan dimensi/ekspansi


selama proses pengerasan). Ekspansi pada dental plaster biasanya 0,00%-0,30%. Pada
dental stone 0,00%-0,20%, dental stone high strength 0,00%-0,10%, dan pada dental
stone high strength high expansion adalah 0,10%-0,30%.

Setting expansion bisa dikontrol dengan memanipulasi variable. Campuran


yang kental dan cara pengadukan yang cepat bisa meningkatkan jumlah setting
expansion, sedangkan campuran yang lebih encer atau cair dan cara pengadukan yang
lambat dapat mengurangi jumlah setting expansion.

Tabel perubahan dimensi yang terjadi


selama proses pengerasan gypsum.
(sumber : A.R. Docking)
3.3 Macam-macam Gypsum
3.3.1 Plaster cetak ( type I )

Dinamakan plaster of paris. Merupakan jenis bahan bangunan berdasarkan


kalsium sulfat hemihidrat. Digunakan dari bahan bangunan mirip adukan semen dan
didapat dari pemanasan 150°C. Setelah pengeringan, plaster tetap sangat lembut dan
mudah dimanipulasi dengan alat logam maupun ampelas. Cocok sebagai finishing,
bukan bahan materi. Karena waktu setting cepat, dibutuhkan retardans untuk
memperlambat. Gipsum tipe I saat ini jarang digunakan dalam kedokteran gigi, lebih
banyak diganti dengan lginate atau bahan elastomer. Gipsum tipe I biasa nya
digunakan untuk mencetak rahang tak bergigi dan memiliki kekuatan kompresi 580 + 290
psi.

Gambar 1. Bahan Plaster cetak Gambar 2. Gypsum type I

3.3.2 Plaster model ( type II )

Dinamakan Plaster of model. Tipe ini umumnya digunakan di laboratorium


sebagai model studi pembangunan mengartikulasikan batu gips. Pada dasarnya bahan
gypsum tipe II sama dengan tipe I namun lebih kuat. Setting time ±3 menit dan mudah
dimanipulasi. Gipsum tipe II memliki harga paling murah diantara ypsum yang lain.
Biasanya berwarna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang pada umumnya
berwarna dan memiliki kekuatan kompresi 1300 psi.
Gambar 3. Bahan Plaster model Gambar 4. Gypsum type II, Extra White,
Modelling

Gambar 5. Gypsum type II for general use

3.3.3 Dental stone ( type III )

Dinamakan Dental stone. Gypsum tipe III memiliki kandungan utama kalsium
sulfat hemihidrat dan merupakan hasil pengapuran gypsum. Gipsum tipe III lebih kuat
dari tipe II karena memerlukan air lebih sedikit serta ideal untuk pembuatan model
dari full atau partial denture, model ortodonsi dan lain lain. Secara tradisional, gypsum
tipe III berwarana kuning atau putih dan memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam
20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000psi).

Gambar 6. Gypsum type III for orthodontic

Gambar 7. Gypsum type III for models

3.3.4 Dental stone, high strength low expansion (type IV)


Dinamakan Dental stone high strength low expansion. Persyaratan utama bagi
bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi
pengerasan minimal. Digunakan sebagai die stone untuk pembuatan model restorasi.
Gipsum tipe IV memiliki kekuatan kompresi 5000psi atau amper 2x lebih kuat dari
tipe III.

Gambar 8. Gypsum type IV Gambar 9. Extra-hard die stone

Gambar 10. Extra-hard gypsum Type IV for orthodontic models

3.3.5 Dental Stone, high strength high expansion (tipe V)

Dinamakan Dental stone high strength high expansion. Gipsum tipe V


merupakan produk gipsum yang paling tinggi daya kompresi dan kekuatannya.
Biasanya digunakan sebagai casting atau pembentukan positif logam, juga digunakan
untuk crown, brides, dies, maupun cetak parsial. Gipsum ini berwarna biru atau hijau
serta paling banyak membutuhkan biaya dibandingkan semua produk gips. Ini
merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini dan memiliki kekuatan kolpresi
yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi type IV, kekuatan kompresi type V ini
sekisatar 7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih
jauh rasio W:P. Ekspansi pengerasan ditingkatkan dari maksimal 0,10% - 0,30%.
halaman kosong ini berisi table yang sudah di fotokopi fian

3.4 Pembuatan Gypsum


Berbagai jenis produk gipsum digunakan dalam kedokteran gigi secara
kimiawi identik, dalam arti, bahwa mereka terdiri dari kalsium sulfat hemihidrat,
tetapi mereka mungkin berbeda dalam bentuk fisik tergantung pada metode yang
digunakan untuk pembuatan mereka. Ada berbagai cara pemanasan untuk
mendapatkan kalsium sulfat hemihidrat, yaitu :
3.4.1 Plaster
Pemanasan gypsum pada suhu 110-130oC dan menggunakan ketel
terbuka yang berhubungan langsung dengan udara, maka dihasilkan
tipe βhemihidrat yang merupakan bahan dasar gypsum tipe I dan II.
Bentuk Kristal seperti spongy dan tidak beraturan (ireguler) dan
partikel porous. Berikut ini adalah reaksi kimia nya :
110-130oC
CaSO4,2H2O CaSO4,1/2H2O
ketel terbuka βhemihidrat

3.4.2 Hidrocal
Merupakan cara pembuatan gypsum untuk mendapatkan β-calcium
sulfate hemihydrate yang merupakan bahan dasar gypsum III (dental
stone). Langkah nya ialah Gipsum didehidrasikan di bawah udara lalu
diuapkan pada suhu 125oC. Bentuk kristal beraturan dan tidak porous.
Bentuk bubuk berupa partikel prismatic, lebih homogeny dan tidak
padat

3.4.5 Densite
Gypsum tipe IV dan V dihasilkan dari pemanasan gypsum dalam
autoclaf dan ditambahkan bahan kimia, yaitu larutan 30% kalsium
klorida. Setelah pemanasan, larutan klorida dicuci dengan air panas
100oC dan dihasilkan αhemihidrat berbentuk bubuk padat yang sangat
halus dan kurang porus. Perbedaan tipe IV dan V yaitu pada tipe IV
ditambah garam tambahan untuk mengurangi setting expansion
120-130oC
CaSO4,2H2O CaSO4,1/2H2O
Autoclaf + CL αhemihidrat

3.5 Manipulasi
Plaster atau gips hendaknya dicampur dengan air atau larutan PE dengan
perbandingan 100gr dengan 50 sampai 60ml. Harus dijaga agar tidak terbentuk
gelembung udara sewaktu mengaduk karena gelembung ini dapat muncul di
permukaan dan dapat menyebabkan ketidaktepatan hasil cetakan (Combe,1992)
Untuk lebih detailnya, manipulasi dipengaruhi oleh hal hal sebagai berikut :

3.5.1 Pemilihan
Untuk proses awal, harus dilakukan pemilihan gips berdasarkan
aplikasi yang akan dibuat. Sebagai contoh dental plaster dipilih karena
rendahnya kebutuhan fisik dan biaya yang digunakan dalam proses manipulasi.
Namun ada kalanya kita memilih dental stone karena dibutuhkan kekuatan dan
akurasi yang bagus dalam working castnya. Di beberapa instansi, sebuah
kombinasi yang terdiri dari satu atau lebih produk gypsum sangat cocok karena
dapat mengurangi pengeluaran biaya.

3.5.2 Perbandingan W/P ( rasio air/bubuk)


Banyaknya air dan hemihidrat harus diukur secara akurat dari beratnya.
Rasio air terhadap bubuk hemihidrat biasanya tercermin dalam rasio W/P atau
hasil bagi yang diperoleh bila berat (atau volume) dari air dibagi dengan berat
bubuk. Perbandingan atau rasio biasanya disingkat sebagai W/P. Misalnya,
perbandingan W/P adalah 0,6, bila 100gr stone gigi dicampur dengan 60 ml
air. Perbandingan W/P adalah faktor penting dalam menentukan sifat fisik dan
kimia dari produk gypsum akhir. Misalnya, semakin tinggi perbandingan W/P,
semakin lama waktu pengerasan dan semakin lemah produk gypsum.
Meskipun perbandingan W/P bervariasi untuk untuk merek plaster atau stone
tertentu, berikut ini adalah beberapa kisaran umum yang dianjurkan: Plaster
tipe II 0,45-0,50. Stone tipe III 0,28-0,30 dan stone tipe IV 0,22-0,24

3.5.3 Temperatur
Temperatur air yang ideal adalah sama dengan suhu ruangan (25 oC).
Karena apabila suhu air kurang 100 F akan mempercepat setting sedangkan
bila suhu air lebih 100 F akan memperlambat setting, dan jika suhu air
mencapai 212 F maka gips tidak akan setting.

3.5.4 Pencampuran (mixing)


Begitu pengadukan dimulai, pembentukan kristal ini meningkat, pada
saat yang sama, kristal-kristal diputuskan oleh spatula pengaduk dan
didistribusikan merata dalam adukan dengan hasil pembentukan lebih banyak
nukleus kristalisasi. Jadi, waktu pengadukan berkurang
a) Secara manual :
1. Air dimasukkan terlebih dahulu ke dalam rubber atau
plastic bowl kurang lebih hingga 130mm
2. Setelah itu, masukkan bubuk gypsum ke dalam nya secara
perlahan
3. Diamkan selama 20 detik
4. Aduklah dengan spatula berbentuk round-edge yang
lebarnya sekitar 20-25mm dan panjangnya 100mm
5. Aduklah selama 1 menit (2 putaran/detik) hingga halus,
homogen, dan permukaan nya mengkilap
6. Jika hasil porus, dapat ditanggulangi dengan menggunakan
vibrasi yang gunanya membantu mengalirkan adonan ke
dalam cetakan dan mengeluarkan gelembung udara

b) Menggunakan Vacuum Mixer :


3.5.5 Waktu Pengerasan Awal–Waktu Kerja
Setelah dicampur selama 1 menit,working time dimulai. Selama
viscositas dari campuran bertambah, bahan tidak lagi mengalir dan mulai
megeruh. Saat mulai mengeruh berarti campuran telah mencapai initial setting.
Atau bisa dilihat pada awal campuran dimana bahan menjadi kaku tetapi tidak
keras dan tidak dapat dibentuk serta terjadi ekspansi termis atau adanya panas.
Pada umumnya, initial setting terjadi selama 8 –10 menit mulai dari awal
pengadukan

3.5.6 Waktu Pengerasan Akhir (Finnal Setting Time)


Finnal setting dicapai saat bahan dapat dengan aman dibentuk, tetapi
memiliki kekuatan dan resistensi yang minimal. Saat final setting reaksi kimia
selesai dan model terasa dingin saat disentuh.Sebagian besar pabrik
merekomendasikan 1 jam sampai akhirnya bahan bisa dengan aman dilepas
dari cetakan.
Final Setting Time harus:

o Aman untuk dimanipulasi


o Kekerasan dan ketahanan abrasi minimal
o Reaksi kimia sempurna
o Dingin bila dipegang permukaannya
3.5.7 Control Setting Time

3.5.7.1 Metode Control Setting Time


Kelarutan hemihidrat dapat ditingkatkan atau dikurangi, misal bila
kelarutannya ditingkatkan, maka kejenuhan dari kalsium sulfat akan lebih
besar. Kecepatan deposisi kristalin juga ditingkatkan. Beberapa Metode untuk
mengendalikan waktu pengerasan yaitu:

1. mengurangi atau meningkatkan kelarutan hemihidrat


2. mengurangi atau meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi
3. waktu pengerasan juga dapat dikurangi maupun ditingkatkan

3.5.7.2 Faktor-faktor Control Setting Time


Faktor-faktor yang dapat memengaruhi pengendalian waktu pengerasan
yaitu :

1. Ketidakmurnian
Bila proses pengapuran tidak sempurna sehingga tetap terdapat
partikel gypsum, atau bila pabrik menambahkan gypsum waktu
pengerasan akan diperpendek karena peningkatan dalam potensi
nucleus kristalisasi. Bila ortorombik anhidrat juga ada, periode
induksi akan ditingkatkan; proses tersrbut dapat berkurang bila
terdapat heksagonal anhidrat

2. Kehalusan
Semakin halus ukuran partikel hemihidrat,semakin cepat adukan
mengeras; khususnya bila produk tersebut telah digiling selama
proses pembuatan. Tidak hanya kecepatan kelarutan hemihidrat
menjadi meningkat, tetapi juga nucleus gypsum lebih banyak,
karena itu kecepatan kristalisasi terjadi lebih cepat.
3. Rasio w/p
Perbandingan air dan bubuk yang tepat akan sangat menentukan
proses setting reaksi. Semakin banyak air yang digunakan untuk
pengadukan, semakin sedikit jumlah nukleus pada unit volume.
Akibatnya, waktu pengerasan diperpanjang.
 Penambahan air  setting time lambat. Penambahan satu
bagian air  mengurangi kekuatan sebesar 50%
 Pengurangan air  mempercepat setting time, lebih sukar
pencampuran dan manipulasi, ada udara terjebak, model tidak
akurat
 Pengurangan rasio W/P tidak dianjurkan bila adonan akan
dituangkan ke dalam hasil pencetakan. Pengurangan rasio w/p
diperbolehkan bila adonan akan digunakan untuk maenanam
model dalam articulator

4. Pengadukan (spatulation)
 Lebih panjang pengadukan akan mempercepat setting time
 Lebih cepat pengadukan akan menambah setting expansion

Efek Rasio W/P dan Waktu Pengadukan terhadap


Waktu Pengerasan Plaster of Paris
Rasio W/P Waktu Pengadukan (menit) Waktu Pengerasan (menit)
0.45 0,5 5,25
0,45 1,0 3,25
0,60 1,0 7,25
0,60 2,0 4,50
0,80 1,0 10,50
0,80 2,0 7,75
0,80 3,0 5,75
Dari Gibson CS, dan Johnson RN: J Soc Chem Ind 51:25T, 1932
5. Temperatur
Meski pun efek temperature pada waktu pengerasan cenderung
menyesatkan dan mungkin bervariasi dari satu plester (atau stone)
dengan yang lainnya, sedikit perubahan terjadi antara 0oC (32oF)
dan 50oC (120oF) tetapi bila temperature adukan plester-air
meningkat kurang lebih 50oC (120oF), peningkatan perlambatan
terjadi bertahap. Begitu temperatur mencapai 100oC (212oF), tidak
ada reaksi yang terjadi. Pada temperatur yang lebih tinggi, reaksi 2
terjadi kebalikan dengan kecenderungan Kristal-kristal gypsum
apapun yang terbentuh diubah menjadi hemihidrat.

6. Perlambatan atau percepatan


Metode yang paling praktis adalah dengan menambahkan
bahan kimia. Bahan kimia yang berfungsi untuk mempercepat
waktu pengerasan disebut aselerator, sedangkan bahan kimia yang
berfungsi untuk memperlambat waktu pengerasan disebut retarder.

3.5.7.3 Aselerator dan Retarder

Pabrik menambahkan accelerator dan retarder dalam bubuk untuk


mengubah kelarutan hemihidrat dalam air.

Aselerator

Aselerator yang sering digunakan adalah kalium sulfat. Larutan 2%


kalium sulfat mempersingkat setting time dari 10 menit menjadi 4 menit
daripada menggunakan air biasa (Craig, 1993). Ball mill accelerator (BMA)
adalah bubuk kristal gypsum yang sangat halus. BMA mempercepat
pembentukan kristal dengan cara pembentukan nucleation sites di mana
kristal-kristal dapat terbentuk secepatnya. Penambahan ini dapat menyebabkan
peningkatan densitas gypsum yang terbentuk dan penurunan makroporositas.
(Gmouh in Austin, 2007). Sulfat yang larut bertindak sebagai aselerator,
sementara bubuk gypsum (kalsium sulfat dihidrat) mempercepat proses reaksi.
Jadi bila ditambahkan aselerator, kelarutan hemihidrat naik, setting time
pendek  gunakan larutan garam potassium sulfat (K2SO4) 2% yang
ditambahkan dalam air, terra alba, Na2B4O7

Retarders

Sitrat, asetat, dan borat umumnya memperlambat reaksi. Retarder


umumnya bekerja dengan membentuk lapisan penyerap hemihidrat untuk
mengurangi kelarutan dan menghambat pertumbuhan Kristal-kristal gypsum
yang ada. Jenis retarder lain terdiri dari garam yang membentuk suatu lapisan
garam kalsium yang kurang larut dibandingkan dengan sulfat. Aksi bahan
kimia tambahan ini juga mempengaruhi sifat lain seperti ekspansi pengerasan.
(Anusavice, 2003). Borax (Na2B4O7.10H2O) adalah retarder yang baik
Penggunaan larutan borax 2% pada bubuk gypsum dapat memperpanjang
setting time menjadi beberapa jam. (Craig, 1993). Bila ditambahkan retarder,
kelarutan hemihidrat berkurang, setting time panjang  gunakan boraks,
sodium sitrat, asetat.

Kombinasi aselerator dan retarder dapat memperpanjang waktu


pengerjaan pada gypsum sekaligus membuat gypsum mengeras (set) dalam
jangka waktu yang masuk akal. (Austin, 2007). Accelerator dan retarder
dikatakan sebagai antiexpansion agent  dapat mengurangi terjadinya setting
expansion. Contoh akselerator : Kalsium asetat→1% setting expansion
linier untuk kompensasi pengkerutan logam saat dingin. Sedangkan
contoh retarder yaitu Natrium sulfat→mengurangi setting expantion 0,05%.
kekuatan kompresi suatu model plaster yang digambarkan terhadap waktu ketika
aselerator dan retarder ditambahkan pada plaster, Peningkatan kekuatan merupakan
ukuran kecepatan pengerasan atau kesempurnaan proses

3.6 Pengolahan Gypsum

3.6.1 Hindari terjebaknya udara


Adanya kandungan udara dalam pencampuran gips akan dapat
menyebabkan porositas pada hasil akhir dari gips. Sehingga terlebih dulu
menuangkan air ke dalam wadah setelah itu memasukkan powder.

3.6.2 Penyimpanan
Gips dapat menyerap air dari lingkungan. Kelembaban dan tempat yang
delat dengan sumber air akan berpengaruh buruk pada powdernya. Hal ini akan
mempengruhi waktu setting, sehingga gips sebaiknya disimpan dalam
kontainer tertutup.
3.6.3 Kebersihan
Peralatan manipulasi gips harus dijaga kebersihannya. Seperti yang
disebut diatas waktu setting gips akan lebih cepat karena pengadukan. Bowl,
spatula, dan vibrator harus segera dibersihkan segera sebelum setelah
menipulasi, sehingga tidak terkontaminasi bahan lain (Hatrich dkk,2003).

3.7 Inovasi

1. Penggunaan Aditif untuk Meningkatkan Sifat Mekanik Produk Gypsum


Untuk kebanyakan aplikasi dental, hal ini akan sangat bermanfaat untuk
mengembangkan produk gipsum yang memiliki perubahan sifat mekanik. Kekuatan,
kekerasan permukaan, dan ketahanan yang baik terhadap abrasi merupakan
pertimbangan penting. Saat ini bahan gips yang tersedia adalah plester gigi dan dental
stone yang rapuh, dengan sedikit lekukan dan ketahanan abrasi. Telah ditemukan
bahwa untuk menghasilkan batu gigi dengan sifat mekanik unggul, yaitu dengan
penggabungan aditif. Combe dan Smith1 digunakan sebagai aditif lingnosulfonate
untuk mengurangi kebutuhan air pada dental stone. Aditif ini meningkatkan kekuatan
dan kekerasan batu. Kompensasi untuk peningkatan hasil dalam setting perluasan dan
setting time dicapai dengan penambahan kalium sulfat.

Alternatif aditif dapat mengurangi kebutuhan air pada produk gipsum, tapi
sistem aplikasi dental potensial seperti itu tampaknya tidak pernah diselidiki sampai
sekarang. Misalnya, Ridge dan Boell2 melaporkan bahwa pengaruh arabic gum dan
kalsium oksida. Dalam kombinasi, aditif ini mengurangi kebutuhan air, peningkatan
modulus pecah, dan mengurangi perluasan pengaturan dari plester. Pekerjaan ini
dilakukan untuk mempelajari efek dari aditif di atas pada sifat dari plester gigi dan
dental stone.

2. Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)


Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave
Tersedianya material baru yang lebih murah tentu akan menguntungkan bagi
industri konstruksi, apalagi jika memiliki kualitas lebih baik dan menggunakan bahan-
bahan alam.

PERSPEKTIF

Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) telah lama digunakan sebagai bahan
baku pembuat karung goni dan kertas. Dengan inovasi teknologi, serat Kenaf dapat
dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan semen-gypsum yang banyak
digunakan sebagai material bahan bangunan.

Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi


penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya menggunakan teknologi
autoclave.

Dengan pengerasan autoclave, papan semen-gypsum dapat mencapai


kekerasan dan kekuatan optimum dalam waktu maksimum 24 jam dari yang biasanya
membutuhkan waktu selama satu bulan. Hasilnya adalah papan yang lebih ringan
namun lebih kuat dan tahan rayap.

Faktor yang mendukung pemilihan :

 Sifat fisis dan mekanis lebih baik, terutama sifat mekanis dengan nilai
keteguhan rekat, keteguhan lentur, keteguhan patah lebih baik
 Kekuatan pegang sekrup lebih tinggi dibanding papan semen-gypsum biasa
 Ketahanan terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah

Potensi Aplikasi:

Dapat dikembangkan di industri bahan bangunan.

Inovator:
Nama : Dr.lr. Dede Hermawan, MSc

Institusi : IPB

Alamat : Kantor Direktorat Riset dan Kajian Strategis, Ged. Rektorat IPS Lt. 5,
Kampus IPS Darmaga Bogor, 16680

Status Paten: TELAH DIPATENKAN

3. Dempul Tulang dengan Gipsum

Bahan pengganti tulang yang lebih murah dan mudah didapat, menjadi
pemikiran drg. Ika Dewi Ana, PhD. Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, itu memulai penelitiannya tentang bahan pengganti tulang
pada 1999.
Sebenarnya, para ahli telah menggunakan koral sebagai bahan pengisi tulang
(bone filler) dan bahan perancah (scaffold). Tapi koral sulit diolah sesuai kebutuhan
individu yang memerlukan. Selain itu, prosesnya perlu jumlah koral yang besar karena
sedikit yang bisa dipakai sebagai bahan pengganti tulang. Para pencinta lingkungan
akan protes keras.
Ika berusaha menjawab tantangan itu dengan gipsum (CaSO4.2H2O). Betul,
itu bahan yang dipakai tukang bangunan untuk plester dinding hingga digunakan
dokter untuk balutan gips tulang yang patah. Gipsum sangat unik karena mudah
dibentuk sesuai kebutuhan. Selain itu, gipsum mudah diperoleh. Ika mengaku pernah
menemukan sedimen alami gipsum di Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Yogyakarta.
Gipsum juga bisa diambil dari produk sampingan alias limbah pabrik. Misalnya pada
industri keramik dan industri kimia. Produk yang dihasilkan berupa gipsum sintetis.

4. Pembuatan Telinga Palsu


Dalam bidang kedokteran umum, produk gypsum tipe IV digunakan untuk
pembuatan telinga palsu sedangkan produk gypsum tipe II digunakan untuk tangan
yang patah.

Gambar cetakan telinga yang terbuat dari gypsum

5. Resume Inovasi Gipsum – Antibacterial gypsum composition

Inovasi ini merupakan inovasi pada gipsum kedokteran gigi yang telah
dipatenkan oleh Doo Suek Nam pada tahun 2007. Inovasi ini dibuat agar para dokter
gigi dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih
mengantisipasi infeksi bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi.

Secara umum, gipsum plaster adalah gipsum yang sangat baik untuk membuat
gigi tiruan dengan berbagai model, baik gigi tiruan total, gigi tiruan parsial, mahkota,
jembatan gigi, dan lain lain. Dalam pembuatan gigi tiruan, diperlukan material cetak
seperti agar dan alginat.

Material yang digunakan dalam pembuatan gigi tiruan harus memiliki dimensi
yang tepat, tahan terhadap reaksi kimiawi, permukaannya lembut dan bisa kontak
dengan bermacam-macam material cetak, mudah dibentuk, dan setting time baik.
Untuk meningkatkan ketepatan dimensi, diperlukan penambahan zat yang dapat
mencegah ekspansi seperti tartrat, sulfat, atau oksalat.

Agar diperoleh gipsum dengan kekuatan yang baik, kekerasan yang baik, dan
permukaan yang lembut diperlukan penambahan metal sulfat dan melamin-
formaldehid resin pada gipsum plaster. Material cetak hidrokoloid seperti agar dan
alginat memiliki kekurangan yakni tidak memiliki permukaan yang lembut, akan
tetapi material komposit yang terbentuk dari agar dan alginat yang telah
dikembangkan akhir-akhir ini memberi kelebihan mudah dibentuk yang merupakan
sifat dari agar dan efisiensi harga dari alginate dan akhirnya banyak digunakan pada
aplikasi klinik.

Akan tetapi, komposisi material gipsum yang telah disebutkan sebelumnya


tidak memiliki fungsi antibakteri maupun sterilisasi. Hal ini tidak menutup
kemungkinan pada saat model gigi dibentuk di rongga mulut pasien, bermacam-
macam bakteri pathogen yang ada di rongga mulut hinggap di gipsum dan
menyebabkan infeksi pada model gipsum.

Inovasi yang dibuat oleh Doo Suek Nam ini dibuat untuk menyelesaikan
masalah yang disebutkan diatas dan inovasi nyata yang dihasilkan ialah komposisi
gipsum yang bersifat antibakteri agar dapat mencegah infeksi dari bakteri patogen.
Inovasi ini juga dibuat agar dapat menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut
pasien.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan komposisi material gipsum


yang terdiri dari model gigi α-plaster dan kumpulan zat antibakteri organic yang tediri
atas nitrogen. Biasanya zat antibakteri yang digunakan itu poliheksametilen guanidine
fosfat. α-plaster dan zat antibakteri dicampur dengan rasio 1000:1.

Pada komposisi material gipsum, zat antibakteri yang digunakan haruslah zat
yang aman dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia, tidak menyebabkan iritasi dan
cocok untuk pengobatan yang higienis baik. Terlebih lagi, poliheksametilen guanidine
fosfat yang berbentuk bubuk putih dengan pH 6.5-7 ini sangat efektif dalam
membasmi berbagai macam bakteri.
Metode pembuatan komposisi material gypsum antibakteri :

1. Gipsum alami dilumat hingga berukuran seperti buah apricot (30-50mm), lalu
dibagi-bagi hingga berukuran gula(0.3-0.5mm)
2. Material yang sudah dibagiibagi tersebut dikeringkan dengan suhu 180°C
dalam 2-3 jam, lalu material kering tersebut dimasukkan ke perapian dan
dipanaskan dengan temperature 700-800°C selama 2,5 jam
3. α-plaster yang dihasilkan dibagi dengan tahap sebelumnya dibagi dengan cara
disaring hingga berbentuk seperti tepung gandum(50µm)
4. Tambahkan poliheksametilen guanidine fosfat sebagai zat antibakteri ke α-
plaster yang didapat dari tahap sebelumnya agar menghasilkan komposisi
material gypsum antibakteri.

IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dalam serangkaian pembahasan yang ada, tim penulis menyimpulkan bahwa:


1. Gipsum adalah hasil tambang mineral yang didapat dari berbagai belahan
dunia. Bahan ini merupakan produk samping dari beberapa proses kimia.
Ditinjau dari sifat kimianya, gipsum yang dihasilkan untuk penggunaan
dalam bidang kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO4 .
2H2O) murni.
2. Gipsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses
evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin
bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gipsum berbentuk lapisan di
antara batuan-batuan sedimen seperti batu gamping, serpih merah, batu
pasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk lapisan
endapan dalam satuan batuan sedimen.
3. Dalam manipulasi gipsum, terdapat beberapa proses yang perlu
diperhatikan yaitu pemilihan tipe gipsum, suhu, pencampuran (mixing),
waktu pengerasan (initial- final setting time), serta penyimpanan dan
kebersihannya. Pada proses pengolahan gypsum itu sendiri harus tepat
dalam memperhitungkan takaran air/bubuk (rasio w/p), bahan separasi,
waktu pengadukan, proses pengadukan, dan kontaminasi.
4. Tahap setting time mempunyai metode khusus, yang dimulai dari
penambahan maupun pengurangan kelarutan hemihidrat, kemudian jumlah
nucleus kristalisasi sehingga sampai pada mengurangi maupun
mempercepat waktu pengerasan. Sedangkan beberapa faktor yang
mempengaruhi reaksi pengerasan gipsum yaitu kehalusan: semakin halus
ukuran partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras, rasio w/p:
semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan, semakin sedikit
jumlah nucleus pada unit volume. Lalu perlambatan dan percepatan:
metode yang paling efektif dan praktis untuk mengendalikan waktu
pengerasan adalah dengan cara menambahkan bahan kimia (aselerator)
tertentu pada adukan plaster atau stone gigi.

4.2 Rekomendasi (berupa Inovasi)


Berdasarkan keseluruhan pembahasan dalam makalah ini, tim penulis
mengajukan rekomendasi yang berisi beberapa inovasi yaitu:

2. Penggunaan Aditif untuk Meningkatkan Sifat Mekanik Produk Gypsum


Combe dan Smith1 digunakan sebagai aditif lingnosulfonate untuk
mengurangi kebutuhan air pada dental stone dengan cara meningkatkan
kekuatan dan kekerasan batu dan dapat mengurangi kebutuhan air pada
produk gipsum.

3. Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)


Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave
Serat Kenaf dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan
semen-gypsum yang banyak digunakan sebagai material bahan bangunan.
Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi
penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya
menggunakan teknologi autoclave.
4. Dempul Tulang dengan Gipsum
Bahan pengganti tulang yang lebih murah dan mudah didapat dengan
memakai gipsum (CaSO4.2H2O). Gipsum mudah dapat dari limbah
industri keramik dan industri kimia dengan produk yang dihasilkan berupa
gipsum sintetis.
5. Pembuatan Telinga Palsu
Dalam bidang kedokteran umum, produk gypsum tipe IV digunakan untuk
pembuatan telinga palsu sedangkan produk gypsum tipe II digunakan
untuk tangan yang patah.
6. Antibacterial gypsum composition
Inovasi ini dibuat agar para dokter gigi dan orang-orang yang
berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih mengantisipasi infeksi
bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi dengan cara
menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut pasien.
DAFTAR PUSTAKA

McCabe, John F. 1990. Applied dental Materials seventh edition

Ralph W. Phillips, M.S., D.Sc. Elements of Dental Materials

Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta: EGC

Craig, Robert G, and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material: 11th edition.
United State of America : Mosby
Van Noorth, Richard. 2002. Dental Material second edition. London : Mosby

Zwemer, Thomas J. 2008. Mosby’s Dental Dictionary 2nd Edition. Elsevier

McCabe, John F. .2008. Applied Dental Materials ninth edition. Oxford: Blackwell
Publishing

Anusavice, Kenneth J. .1996. Phillips Science of Dental Materials tenth edition.


Pennsylvania: W.B. Saunders Company

www.scribd.com/doc/39029910/Lap-Tut-Gypsum

Wahyu Winda, Skripsi Beberapa Sifat dan Kegunaan dari Bahan Gypsum, 2001,
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

find-docs.com

www.tukanggypsum.com

Anda mungkin juga menyukai