P. 1
cerpon

cerpon

|Views: 66|Likes:
Dipublikasikan oleh iwomend_nocry

More info:

Published by: iwomend_nocry on Dec 07, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2010

pdf

text

original

Kisah ini tentan hidupku, tertulis masa indah dan pedih yang akan selalu ku imgat sampai penghujung

usiaku. Namaku Kesya Davia Wijaya, nama yang indah bukan ? Setidaknya itu menurutku, karena hanya nama itulah satu-satunya peninggalan orang tuaku yang telah lama tak aku temui. Keluargaku telah lama aku tinggalkan, aku lebih senang menghabiskan waktu d tempat ini, ku temukan kehangatan dan kasih saying tulus dari mereka yang bahkan bukan keluargaku. Biarpun sederhana, rumah ini bagaikan istana bagiku. Rumah ini di bangun dari kasih sayang untuk penghuninya. Meskipun tak ada kemewahan layaknya istana raja, tapi rumah ini selalu memberikan kebagiaan dari senyuman tulus anak-anak kurang beruntung yang saat ini merupakan belahan dari jiwaku. Telah lama aku tinggal bersama mereka, seperti yang ku katakana mereka adalah bagian dari jiwaku. Sepuluh anak yang ditinggal orang tuanya, mereka memang kurang beruntung, tapi bukan berarti mereka tak bahagia. Ku pastikan seyuman mereka di rumah kasih sayang ini. Karena pahitnya hidup tampa kasih sayang pernah aku rasakan.

Pagi indah ini aku selalu terbangun dengan senyum, menyaksikan wajah lugu anak-anak yang masih tertidur membuat aku tak kuasa mengganggu mereka, tapi dengan sendirinya mereka akan terbangun oleh kokok ayam atau kicau burung dan setiap pagi mereka berjejer rapi di atas meja bundar tempat kami biasa menyantap makan. Beberapa dari mereka mengikutiku ke dapur, dengan cekatan mereka mengambilkan persediaan makanan di kulkas dan dengan nada manja mereka meminta aku segera memasaknya. Kembali aku tak kuasa aku menolak mereka anak-anak ini, walaupun tampa ibu tau ayahnya mereka tumbuh dengan budi yang luhur, selalu mernerima pada keadaan tidak pernah mengeluh dan selalu ingat pada tuhannya, andaisaja orang tua mereka tahu, anak-anak mereka ini adalah permata. Aku bangga pada mereka,sayangnya aku tak bias memberikan kemewahan untuk mereka, tapi tawa mereka selalu mengingatkan aku kasih sayang lebih berharga dari kemewahan dunia.

Anak perempuan di sebelahku ini bernama Adira. Umurnya 6 tahun dan bulan depan dia akan segeramasuk sekolah dasar. Adira anak yang paling dekat denganku, bukan berarti yang lain tidak. Adira ini selalu mengingatkan aku pada sahabatku Nova.

Adira anak kandung Nova. Nova meninggal karena kecelakaan. Dan saat kecelakaan itu Adira tertindih sepeda motor yang dikendarai Nova, hingga kakinya lumpuh sampai saat ini. Salman ayah Adira entah ada dimana. Yang pastinya sejak kecelakaan itu aku tak pernah melihat Salman. Aku sempat memmbawa Adira kekeluarga Salman karena aku Nova yatim piatu sejak ia masih kuliah. Tapi keluarga Salman menolak kehadiran Adira apalagi setelah tahu bahwa Adira lumpuh, terlebih keluarga Salman tidak pernah merestui pernikahan Salman dan Nova. Nova yang saat itu tidak bias selamat. Tidak berkata apapun tentang keberadaan Salman. Adira hanya sendirian di dunia ini tak mungkin aku tega menelantarkan dia. Aku tak ingin dia terbuang dengan kekuranganya. Aku akan merawatnya hingga dia dewasa dan bias bahagia dengan dirinya sendiri. Ada juga Fadel yang selalu ingin duduk di pangkuanku. Ibu kandung nya bernama Rosa. Orang yang sebenarnya dulu sangat membenciku. Aku dan Rosa bertemu di sebuah PUB tempat dulu aku berkerja. Rosa gadis yang cantik dan cukup menjdi primadona disana. Entah kenapa Rosa bisa terjun ke dunia hitam, hingga ia hamil di luar nikah, oleh laki-laki bajingan bernama Felix. Karena laki-laki itulah Rosa sangat membenciku. Dia mengira bahwa aku akan merebut Felix dari dirinya, padahal tak sedikitpun niatku merebut Felix dari Rosa.Dengan kebencianya Rosa terus menjahatiku sampai-sampai dia memfitnahku hingga akhirnya aku dikeluarkan dari pekerjaan, padahal saat itu aku benar benar butuh dengan pekerjaanku walaupun cuma menjdi seorang waiters Beberapa bulan kemudian aku bertemu Rosa disebuah halte di pinggir jalan, dia tengah berbadan dua dan sepertinya dia akan ke rumah sakit karena barang yang di bawanya seperti orang yang akan melahirkan. Tapi dia hanya duduk sendiri di tempat itu, tak ada orang yang memmbantunya ataupun mengantarnya pergi. Terisak dia menceritakan telah lama hidup sendri dengan keadaan hamil, orang-orang yang dulu didekatnya entah kemana setelah Rosa tak bisa menghasilkan uang lagi. Bahkan Felix meninggalkan dia karena hamil padahal janin yang di kandung Rosa tumbuh dari benih Felix. Sekarang ini dia kebingungan dengan biaya persalinan bayinya yang akan segera lahir. Jangankan untuk itu beberapa hari ini bahkan dia tidak makan karena tak punya uang. Belum sempat Rosa menyelesaikan ceritanya. Aku melihat darah mengalir di betisnya. Segera aku bawa Rosa ke rumah sakit yang kebetulan tak jauh dari tempat itu.

³ Tapi Key, aku tak punya uang seperserpun.´ Ucap Rosa ditengah perjalanan. ³ Sudahlah Ros, gak usah kamu pikirkan lagi itu, serahkan semua padaku !´ Ada gurat kesedihan dan penyesalan dari wajah Rosa. Tapi tak sedikitpun aku berpikir tentang kesalah Rosa di masa lalu, yang terpenting saat ini aku harus menolong Rosa dan bayinya. Agar bayinya bisa terlahir dengan selamat karena bayi itu tak mengerti apa-apa, kasihan jika ia harus menanggung kesusahan orang tuanya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->