Anda di halaman 1dari 23

Warga Pulau Terluar Butuh Teknologi

SENIN, 25 OKTOBER 2010 | 18:08 WIB


Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Bandung - Masyarakat dan tentara penjaga pulau-pulau terluar Indonesia
membutuhkan teknologi mutakhir. Selain untuk bertahan hidup, juga supaya wilayah Indonesia
tak dilanggar atau dicaplok negara lain. 

Menurut Ketua Ekspedisi Jelajah 92 pulau terluar dari Wanadri Irwanto Iskandar, ada 31 pulau
terpencil itu yang dihuni penduduk antara 3-300 kepala keluarga. "Mereka membutuhkan air
bersih, listrik, dan sambungan telekomunikasi," ujarnya di sela pameran dan lokakarya "Menjaga
Tepian Tanah Air" di Campus Center Timur Institut Teknologi Bandung, Senin (25/10).

Adapun staf ahli Panglima TNI Bidang Politik Keamanan Nasional Mayor Jenderal Liliek
Kushadiyanto mengatakan, kehadiran teknologi itu setidaknya diperlukan bagi 12 pulau terluar
yang rawan dimasuki atau direbut negara lain. Diantaranya alat untuk pengelolaan air tawar dan
sinyal telepon seluler atau radio komunikasi. 

"Juga radar seperti untuk wilayah selatan Papua, Merauke, yang masih bolong sehingga bisa
dimasuki pesawat Australia," ujarnya. Dari catatan TNI, selusin pulau terluar yang rawan
diganggu negara lain misalnya Pulau Rondo, Berhala, Sekatung, Nipah, Marore, dan Rote.

Rektor ITB Akhmaloka mengatakan, kampusnya telah memiliki beberapa teknologi yang bisa
dipakai seperti penjernih air laut portable, juga panel surya. Alat tersebut siap dipakai jika
pemerintah berminat. "Universitas bikin teknologinya, tapi bukan pabrik. Tinggal koordinasinya
dengan pemerintah mau disalurkan ke mana," kata dia.

ANWAR SISWADI 
Panglima TNI Prioritaskan Lindungi Daerah Perbatasan
SABTU, 02 OKTOBER 2010 | 11:25 WIB
Besar Kecil Normal

 
Tiga orang prajurit marinir melakukan patroli rutin di sekitar Pulau Nipah, Batam, Kepulauan Riau
(16/1). Pulau Nipah merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara
Singapura. ANTARA/Feri
TEMPO Interaktif, Jakarta- Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan akan
mengutamakan pengawasan dan perlindungan di daerah-daerah perbatasan. Agus juga
menekankan perhatian terhadap pulau-pulau terluar tanah air dalam kepemimpinannya. "Daerah
perbatasan dan pulau terluar menjadi prioritas dalam program pembangunan 5 tahun ke depan,"
ujarnya usai upacara serah terima jabatan di Markas Besar TNI Cilangkap, Sabtu (2/10).

Agus mengatakan, penjagaan dan perlindungan terhadap daerah perbatasan dan pulau terluar
sejalan dengan visi TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara. Untuk mendukung
perwujudan program tersebut, Agus menambahkan, TNI juga akan memperkuat alutsista (alat
utama sistem persenjataan) sebagai sarana pembangunan kekuatan. 

Penguatan alutsista yang dimiliki TNI akan dilakukan secara bertahap namun pasti. "Kita paham
bahwa membangun kekuatan besar dalam waktu singkat tidak mungkin. Pasti harus bertahap,"
terang dia.

Laksamana TNI Agus Suhartono hari ini resmi menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso yang
telah 2 tahun 9 bulan memimpin TNI. Dengan banyaknya keterbatasan dan kendala yang
dihadapi TNI, Agus juga mengharapkan dukungan dari para sesepuh TNI, masyarakat,
pemerintah, dan parlemen. 
STRATEGI PENGEMBANGAN PERBATASAN WILAYAH KEDAULATAN
NKRI

oleh :
Eddy MT. Sianturi, SSi dan Nafsiah, SP, 
Peneliti Puslitbang Strahan Balitbang Dephan

Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara.


Perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah
kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan dan keutuhan wilayah.
Penentuan perbatasan negara dalam banyak hal ditentukan oleh proses historis, politik,
hukum nasional dan internasional. Dalam konstitusi suatu negara sering dicantumkan
pula penentuan batas wilayah.

Pembangunan wilayah perbatasan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari


pembangunan nasional. Wilayah perbatasan mempunyai nilai strategis dalam
mendukung keberhasilan pembangunan nasional, hal tersebut ditunjukkan oleh
karakteristik kegiatan antara lain :

a. Mempunyai dampak pentingbagi kedaulatan negara.

b. Merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi


masyarakat sekitarnya.

c. Mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang


dilaksanakan di wilayah lainnya yang berbatasan dengan wilayah maupun antar negara.

d. Mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan, baik skala regional
maupun nasional.

Ketahanan wilayah perbatasan perlu mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh


karena kondisi tersebut akan mendukung ketahanan nasional dalam kerangka NKRI.

Keamanan wilayah perbatasan mulai menjadi concern setiap pemerintah yang wilayah


negaranya berbatasan langsung dengan negara lain. Kesadaran akan adanya persepsi
wilayah perbatasan antar negara telah mendorong para birokrat dan perumus kebijakan
untuk mengembangkan suatu kajian tentang penataan wilayah perbatasan yang
dilengkapi dengan perumusan sistem keamanannya. Hal ini menjadi isu strategis karena
penataan kawasan perbatasan terkait dengan proses nation state building terhadap
kemunculan potensi konflik internal di suatu negara dan bahkan pula dengan negara
lainnya (neighbourhood countries). Penanganan perbatasan negara, pada hakekatnya
merupakan bagian dari upaya perwujudan ruang wilayah nusantara sebagai satu
kesatuan geografi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan (Sabarno,
2001) .

Kondisi Daerah Perbatasan Saat Ini

Pada umumnya daerah pebatasan belum mendapat perhatian secara proporsional.


Kondisi ini terbukti dari kurangnya sarana prasarana pengamanan daerah perbatasan
dan aparat keamanan di perbatasan. Hal ini telah menyebabkan terjadinya berbagai
permasalahan seperti, perubahan batas-batas wilayah, penyelundupan barang dan jasa
serta kejahatan trans nasional (transnational crimes). Kondisi umum daerah perbatasan
dapat dilihat dari aspek Pancagatra yaitu :

 Aspek Ideologi.

Kurangnya akses pemerintah baik pusat maupun daerah ke kawasan perbatasan dapat
menyebabkan masuknya pemahaman ideologi lain seperti paham komunis dan liberal
kapitalis, yang mengancam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dari
rakyat Indonesia. Pada saat ini penghayatan dan peng-amalan Pancasila sebagai ideologi
negara dan falsafah hidup bangsa tidak disosialisasikan dengan gencar seperti dulu lagi,
karena tidak seiramanya antara kata dan perbuatan dari penyelenggara negara. Oleh
karena itu perlu adanya suatu metoda pembinaan ideologi Pancasila yang terus-
menerus, tetapi tidak bersifat indoktrinasi dan yang paling penting adanya keteladanan
dari para pemimpin bangsa.

 Aspek Politik.

Kehidupan sosial ekonomi di daerah perbatasan umumnya dipengaruhi oleh kegiatan di


negara tetangga. Kondisi tersebut berpotensi untuk mengundang ke-rawanan di bidang
politik, karena meskipun orientasi masyarakat masih terbatas pada bidang ekonomi dan
sosial, terutama apabila kehidupan ekonomi masyarakat daerah perbatasan mempunyai

ketergantungan kepada perekonomian negara tetangga, maka hal inipun selain dapat
menimbulkan kerawanan di bidang politik juga dapat menurunkan harkat dan martabat
bangsa. Situasi politik yang terjadi di negara tetangga seperti Malaysia (Serawak &
Sabah) dan Philipina Selatan akan turut mempengaruhi situasi keamanan daerah
perbatasan.

 Aspek Ekonomi.

Daerah perbatasan merupakan daerah tertinggal (terbelakang) disebabkan antara lain :

1) Lokasinya yang relatif terisolir (terpencil) dengan tingkat aksesibilitas yang rendah.

2) Rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat.

3) Rendahnya tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan


(jumlah penduduk miskin dan desa tertinggal).

4) Langkanya informasi tentang pemerintah dan pembangunan masyarakat di daerah


perbatasan (blank spot).

Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan dengan masyarakat negara


tetangga mempengaruhi watak dan pola hidup masyarakat setempat dan berdampak
negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme. Maka tidak jarang
daerah perbatasan sebagai pintu masuk atau tempat transit pelaku kejahatan dan
teroris.

 Aspek Sosial Budaya.

Akibat globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat,
teknologi informasi dan komunikasi terutama internet, dapat mempercepat masuk dan
berkembangnya budaya asing ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh
budaya asing tersebut banyak yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita, dan dapat
merusak ketahanan nasional, karena mempercepat dekulturisasi yang bertentangan
dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Masyarakat daerah perbatasan
cenderung lebih cepat terpengaruh oleh budaya asing, dikarenakan intensitas hubungan
lebih besar dan kehidupan ekonominya sangat tergantung dengan negara tetangga.

 Aspek Pertahanan dan Keamanan.

Daerah perbatasan merupakan wilayah pembinaan yang luas dengan pola penyebaran
penduduk yang tidak merata, sehingga menyebabkan rentang kendali pemerintah,
pengawasan dan pembinaan teritorial sulit dilaksanakan dengan mantap dan efisien.
Seluruh bentuk kegiatan atau aktifitas yang ada di daerah perbatasan apabila tidak
dikelola dengan baik akan mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan
keamanan, di tingkat regional maupun internasional baik secara langsung dan tidak
langsung. Daerah perbatasan rawan akan persembunyian kelompok GPK,
penyelundupan dan kriminal lainnya termasuk terorisme, sehingga perlu adanya
kerjasama yang terpadu antara instansi terkait dalam penanganannya.

Permasalahan Yang Dihadapi

Penanganan perbatasan selama ini memang belum dapat dilakukan secara optimal dan
kurang terpadu, serta seringkali terjadi tarik-menarik kepentingan antara berbagai pihak
baik secara horizontal, sektoral maupun vertikal. Lebih memprihatinkan lagi keadaan
masyarakat sekitar daerah perbatasan negara, seperti lepas dari perhatian dimana
penanganan masalah daerah batas negara menjadi domain pemerintah pusat saja,
pemerintah daerahpun menyampaikan keluhannya, karena merasa tidak pernah diajak
serta masyarakatnya tidak mendapat perhatian. Merekapun bertanya siapa yang
bertanggung jawab dalam membina masyarakat di perbatasan ? Siapa yang harus
menyediakan, memelihara infrastruktur di daerah perbatasan, terutama daerah yang
sulit dijangkau, sementara mereka tidak tahu dimana batas-batas fisik negaranya ?

Kenyataan di lapangan ditemukan banyak kebijakan yang tidak saling mendukung


dan/atau kurang sinkron satu sama lain. Dalam hal ini, masalah koordinasi yang kurang
mantap dan terpadu menjadi sangat perlu untuk ditelaah lebih lanjut. Koordinasi dalam
pengelolaan kawasan perbatasan, sebagaimana hendaknya melibatkan banyak instansi
(Departemen/LPND), baik instansi terkait di tingkat pusat maupun antar instansi pusat
dengan pemerintah daerah. Misalnya, belum terkoordinasinya pengembangan kawasan
perbatasan antar negara dengan kerjasama ekonomi sub regional, seperti yang ditemui
pada wilayah perbatasan antara Malaysia Timur dengan Kalimantan dengan KK Sosek
Malindo dan BIMP-EAGAnya, serta dengan rencana pengembangan Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Sanggau di Kalimantan Barat dan KAPET
SASAMBA di Kalimantan Timur yang secara konseptual dan operasional perlu diarahkan
dan dirancang untuk menumbuhkan daya saing, kompabilitas dan komplementaritas
dengan wilayah mitranya yang ada di negara tetangga.

Selain isu koordinasi dalam pengembangan kawasan perbatasan, komitmen dan


kebijakan Pemerintah untuk memberikan prioritas yang lebih tinggi dalam pembangunan
wilayah perbatasan telah mengalami reorientasi yaitu dari orientasi keamanan (security
approach) menjadi orientasi kesejahteraan/pembangunan (prosperity/development
approach). Dengan adanya reorientasi ini diharapkan penanganan pembangunan
kawasan perbatasan di Kalimantan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal
berikut :
a) Pendekatan keamanan yang diterapkan Mabes TNI di dalam penanganan KK Sosek
Malindo, walaupun berbeda namun diharapkan dapat saling menunjang dengan
pendekatan pembangunan.

b) Penanganan KK Sosek Malindo selama ini ternyata tidak tercipta suatu


keterkaitan (interface) dengan program pengembangan kawasan dan kerjasama
ekonomi regional seperti BIMP-EAGA, yang sebenarnya sangat relevan untuk
dikembangkan secara integrative dan komplementatif dengan KK Sosek Malindo.

c) Terkait dengan beberapa upaya yang telah disepakati di dalam pengembangan


kawasan perbatasan antar negara, khususnya di Kalimantan dengan KK Sosek
Malindonya, diperlukan pertimbangan terhadap upaya percepatan pengembangan
kawasan perbatasan tersebut melalui penanganan yang bersifat lintas sektor dan lintas
pendanaan.

Isu pengembangan daerah perbatasan lainnya secara umum diilustrasikan sebagai


berikut :

1) Kaburnya garis perbatasan wilayah negara akibat rusaknya patok-patok di perbatasan


Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur menyebabkan sekitar 200 hektare hutan
wilayah Republik Indonesia berpindah masuk menjadi wilayah Malaysia (Media
Indonesia, 21 Juni 2001). Ancaman hilangnya sebagian wilayah RI di perbatasan
Kalimantan Barat dengan Malaysia Timur akibat rusaknya patok batas negara setidaknya
kini menjadi 21 patok yang terdapat di Kecamatan Seluas, kabupaten Bengkayang,
memerlukan perhatian. Selain di Kabupaten Bengkayang, kerusakan patok-patok batas
juga terjadi di wilayah Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, masing-masing berjumlah
tiga dan lima patok (Media Indonesia, 23 Juni 2001).

2) Pengelolaan sumber daya alam belum terkoordinasi antar pelaku sehingga


memungkinkan eksploitasi sumber daya alam yang kurang baik untuk pengembangan
daerah dan masyarakat. Misalnya, kasus illegal lodging yang juga terkait dengan
kerusakan patok-patok batas yang dilakukan untuk meraih keuntungan dalam penjualan
kayu. Depertemen Kehutanan pernah menaksir setiap bulannya sekitar 80.000-100.000
m3 kayu ilegal dari Kalimantan Timur dan sekitar 150.000 m3 kayu ilegal dari Kalimantan
barat masuk ke Malaysia (Kompas, 20 Mei 2001).

3) Kepastian hukum bagi suatu instansi dalam operasionalisasi pembangunan di wilayah


perbatasan sangat diperlukan agar peran dan fungsi instansi tersebut dapat lebih efektif.
Contohnya, Perum Perhutani yang ditugasi Pemerintah untuk mengelola HPH eks PT.
Yamaker di perbatasan Kalimantan-Malaysia baru didasari oleh SK Menhut No.
3766/Kpts-II/1999 tanggal 27 Mei 1999, namun tugas yang dipikul Perhutani meliputi
menata kembali wilayah perbatasan dalam rangka pelestarian sumber daya alam,
perlindungan dan pengamanan wilayah perbatasan dan pengelolaan hutan dengan
sistem tebang pilih . Tugas ini bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah sehingga
diperlukan dasar hukum yang lebih tinggi.

4) Pengelolaan kawasan lindung lintas negara belum terintegrasi dalam program kerja
sama bilateral antara kedua negara, misalnya keberadaan Taman Nasional Kayan
Mentarang yang terletak di Kabupaten Malinau dan Nunukan, di sebelah Utara
Kalimantan Timur, sepanjang perbatasan dengan Sabah Malaysia, seluas 1,35 juta
hektare. Taman ini merupakan habitat lebih dari 70 spesies mamalia, 315 spesies
unggas dan ratusan spesies lainnya.

5) Kawasan perbatasan mempunyai posisi strategis yang berdampak terhadap hankam


dan politis mengingat fungsinya sebagai outlet terdepan Indonesia, dimana terjadi
banyak pelintas batas baik dari dan ke Indonesia maupun Malaysia. Ancaman di bidang
hankam dan politis ini perlu diperhatikan mengingat kurangnya pos lintas batas legal
yang disepakati oleh kedua belah pihak, misalnya di Kalimantan Barat dengan
Serawak/Sabah hanya ada 2 pos lintas batas legal dari 16 pos lintas batas yang ada.

6) Kemiskinan akibat keterisolasian kawasan menjadi pemicu tingginya keinginan


masyarakat setempat menjadi pelintas batas ke Malaysia berlatar belakang untuk
memperbaiki perekonomian masyarakat mengingat tingkat perekonomian Malaysia lebih
berkembang.

7) Kesenjangan sarana dan prasarana wilayah antar kedua wilayah negara pemicu
orientasi perekonomian masyarakat, seperti di Kalimantan, akses keluar (ke Malaysia)
lebih mudah dibandingkan ke ibukota kecamatan/kabupaten di wilayah Kalimantan.

8) Tidak tercipta keterkaitan antar kluster social ekonomi baik kluster penduduk
setempat maupun kluster binaan pengelolaan sumber daya alam di kawasan, baik
keterkaitan ke dalam maupun dengan kluster pertumbuhan di negara tetangga.

9) Adanya masalah atau gangguan hubungan bilateral antar negara yang berbatasan
akibat adanya peristiwa-peristiwa baik yang terkait dengan aspek ke-amanan dan politis,
maupun pelanggaran dan eksploitasi sumber daya alam yang lintas batas negara, baik
sumber daya alam darat maupun laut.

Berdasarkan isu strategis dalam pengelolaan daerah perbatasan negara selama ini,
dapat dikemukakan beberapa permasalahan yang menonjol di daerah perbatasan
sebagai berikut :

a) Belum adanya kepastian secara lengkap garis batas laut maupun darat.

b) Kondisi masyarakat di wilayah perbatasan masih tertinggal, baik sumber daya


manusia, ekonomi maupun komunitasnya.

c) Beberapa pelanggaran hukum di wilayah perbatasan seperti penyelundupan


kayu/illegal lodging, tenaga kerja dan lain-lain.

d) Pengelolahan perbatasan belum optimal, meliputi kelembagaan, kewenangan maupun


program.

e) Eksploitasi sumber daya alam secara ilegal, terutama hasil hutan dan kekayaan laut.

f) Munculnya pos-pos lintas batas secara ilegal yang memperbesar terjadinya out


migration, “economic asset” secara ilegal.

g) Mental dan professional aparat (stake holders di pusat dan daerah serta aparat
keamanan di pos perbatasan).

Perkembangan Lingkungan Strategis

Masalah perbatasan tidak terlepas dari perkembangan lingkungan strategis baik


internasional, regional maupun nasional. Dalam era globalisasi, dunia makin
terorganisasi dan makin tergantung satu sama lain serta saling membutuhkan. Konsep
saling keterkaitan dan ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh
dalam bidang-bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan
keamananan. Berbagai negara sambil tetap mempertahankan identitas serta batas-batas
teritorial negaranya, mereka membuka semua hambatan fisik, administrasi dan fiskal
yang membatasi gerak lalu lintas barang dan orang.
Perkembangan kerjasama ASEAN diharapkan akan dapat menciptakan keterbukaan dan
saling pengertian sehingga dapat dihindarkan terjadinya konflik perbatasan. Hal ini
didukung oleh semakin meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari sudut
sosial budaya maupun ekonomi. Dalam era reformasi dan dengan kondisi kritis yang
masih berkepenjangan, penanganan masalah perbatasan belum dapat dilakukan secara
optimal.

Strategi Pengembangan Daerah Perbatasan

Penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Konsepsi peng-elolaan perbatasan negara


merupakan “titik temu” dari tiga hal penting yang harus saling bersinergi, yaitu:

1) Politik Pemerintahan Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan


seluruh tumpah darah Indonesia dalam wadah NKRI.

2) Pelaksanaan otonomi daerah yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum,


dan mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama masyarakat di daerah-daerah.

3) Politik luar negeri yang bebas-aktif dalam rangka mewujudkan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Oleh sebab itu dalam penyusunan peraturan perundang-undangan harus selalu


memperhatikan dan berdasarkan tiga hal tersebut di atas.

Pembentukan Kelembagaan Khusus menangani Masalah Perbatasan. Persoalan pengelolaan


perbatasan negara sangat kompleks dan urgensinya terhadap integritas negara kesatuan RI,sehingga
perlu perhatian penuh pemerintah terhadap penanganan hal-hal yang terkait dengan masalah
perbatasan, baik antar negara maupun antar daerah. Pengelolaan perbatasan antar negara masih
bersifat sementara (ad-hoc) dengan leading sektor dari berbagai instansi terkait. Pada saat ini,
lembaga-lembaga yang menangani masalah perbatasan antar negara tetangga adalah:

1) General Border Committee RI-PNG diketuai oleh Panglima TNI.

2) Join Border Committee RI-PNG (JBC) diketuai oleh Menteri Dalam Negeri.

3) Join Border Committee RI-UNTAET (Timtim) diketuai oleh Dirjen Pemerintah Umum


Departemen Dalam Negeri.

4) Join Commisison Meeting RI – Malaysia (JCM) diketuai oleh Departemen Luar Negeri
yang sifatnya kerjasama bilateral.

Dalam penanganan masalah perbatasan agar dapat berjalan secara optimal perlu
dibentuk lembaga yang dapat berbentuk :

Forum/setingkatDewan dengan keanggotaan terdiri dari pimpinan Institusi terkait.


Dewan dibantu oleh sekretariat Dewan. Bentuk ini mempunyai kelebihan dan
penyelesaian masalah lebih terpadu dan hasilnya lebih maksimal, karena didukung oleh
instansi terkait. Sedangkan kelemahannya tidak operasional, keanggotaan se-ring
berganti-ganti, sehingga kurang terjadi adanya kesinambungan kegiatan.

Badan (LPND) yang mandiri terlepas dari institusi lain dan langsung di bawah presiden.
Bentuk ini mempunyai kelebihan bersifat otonom, hasil kebijakannya bersifat operasional
dan personil terdiri dari sumber daya manusia yang sesuai dengan bidang kerjanya.
Sedangkan kelemahannya dapat terjadi pengambil-alihan sektor, sehingga kebijakan
yang ditetapkan kurang didukung oleh sektor terkait.
Mewujudkan sabuk pengaman (koridor). Dalam menjaga kedaulatan Negara dan
keamanan. Untuk lebih mewujudkan keamanan negara RI Khususnya di wilayah
perbatasan dengan negara tetangga perlu diciptakan sabuk pengaman yang berfungsi
sebagai sarana kontrol dimulai dari titik koordinat ke arah tertentu sepanjang
perbatasan.

Penyusunan Program Secara Komprehensif dan Integral. Penyusunan program secara


integral dan komprahensif dalam hal ini melibatkan sektor-sektor yang terkait dalam
masalah penanganan perbatasan, seperti masalah kependudukan, lalu lintas
barang/perdagangan, kesehatan, ke-amanan, konservasi sumber daya alam.

Penataan batas negara dalam upaya memperkokoh keutuhan integritas NKRI. Penataan
batas seperti yang telah diuraikan di atas berupa batas fisik baik batas alamiah ataupun
buatan. Dengan kejelasan batas-batas tersebut akan memperjelas kedaulatan fisik
wilayah negara RI.

Pembangunan Ekonomi dan Percepatan Pertumbuhan Perekonomian Perbatasan Berbasis


Kerakyatan. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam
peningkatan ketahanan di daerah perbatasan. Kualitas sumber daya manusia ataupun
tingkat kesejahteraan yang rendah akan mengakibatkan kerawanan terutama dalam hal
yang menyangkut masalah sosial dan pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas
nasional secara keseluruhan. Oleh sebab itu perlu adanya peningkatan taraf hidup
masyarakat di daerah perbatasan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usaha
pertumbuhan perekonomian perbatasan yang berbasis kerakyatan antara lain:

1) Potensi sumber daya alam setempat

2) Kelompok swadaya masyarakat.

Sedangkan bentuk usaha percepatan pertumbuhan perekonomian perbatasan yang


berbasis kerakyatan antara lain:

Penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat adat/kelompok-kelompok swadaya


masyarakt yang sudak ada.

Pemberdayaan, pendam-pingan dan penguatan peran serta perempuan dalam kegiatan


perekonomian atau sosial.

Pengembangan wawasan kebangsaan masyarakat di kawasan perbatasan.

Menghidupkan peran lembaga keungan mikro dalam peningkatan pertumbuhan


perekonomian.

Identifikasi potensi dan pengembangan sektor-sektor unggulan di daerah perbatasan.

Sistem Keamanan Perbatasan

Sistem keamanan perbatasan dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam penataan sistem ke-amanan perbatasan


Indonesia dengan negara tetangga antara lain adalah Geografi, letak geografi Indonesia
sangat strategis, karena berada di jalur perdagangan internasional. Hal-hal penting yang
berkaitan dengan letak geografi antara lain :
Di wilayah laut, berbatasan dengan 10 negara (India,Malaysia, Singapura,Thailand,
ietnam, Philipina, Palau, PNG, Australia,Timor Lorosae).

Di wilayah darat, berbatasan dengan 3 negara (Malaysia,PNG dan Timor Lorosae).

Jumlah pulau 17.508, panjang pantai 80.791 Km, luas wilayah termasuk ZEE 7,7 juta
Km lautan 5,8 juta Km.

Perbandingan luas wilayah darat dan laut adalah 1 : 3.

b. Sumber kekayaan alam di perbatasan perlu mendapatkan pe-ngamanan/perhatian


serius yang meliputi :

1) Potensi pertambangan umum/migas

2) Potensi kehutanan

3) Potensi kehutanan/perkebunan

4) Potensi perikanan

Penutup

Daerah perbatasan merupakan kawasan khusus sehingga dalam penangannya


memerlukan pendekatan yang khusus pula. Hal ini disebabkan karena semua bentuk
kegiatan atau aktifitas yang ada didarah perbatasan apabila tidak dikelola akan mem-
punyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan, ditingkat regional maupun
internasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Permasalahan yang timbul
sering dikarenakan adanya kesan jenjang sosial di dalam masyarakat, hal semacam
inilah yang perlu untuk dihindari terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. Pena-
nganan yang mungkin dilakukan adalah secara adat, tetapi apabila sudah menyangkut
stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut akan menjadi urusan pemerintah.

Problematika Perbatasan Indonesia-Malaysia


Oleh: Wahyu Susilo

RI Tak Punya Badan Khusus Urus Perbatasan

Jakarta, Sinar Harapan


Saat ini tidak jelas departemen atau lembaga mana yang mendapat
tugas khusus 
menangani masalah perbatasan RI. Ketika hal ini ditanyakan kepada
Juru 
bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Marty Natalegawa, dia
mengakui memang 
belum ada departemen tertentu yang diberi tanggung jawab untuk
khusus 
menangani masalah perbatasan secara keseluruhan.

Namun, katanya, walau demikian Deplu mencanangkan konsep border


diplomacy 
yang intinya pendekatan yang sifatnya komprehensif dan
terkoordinasi.

"Terlepas dari siapa yang bertanggung jawab akhirnya harus


disampaikan 
melalui jalur diplomatik, jadi Deplu pastinya akan berperan," kata
Marty 
kepada SH usai press briefing di Departemen Luar Negeri, Pejambon,
Jumat 
(4/3).
Sebagaimana diketahui, masalah perbatasan RI dengan negara-negara
tetangga 
pada saat ini koordinasinya ditangani oleh instansi yang berbeda-
beda. 
Misalkan, perbatasan RI-Timor Leste ditangani Departemen Luar
Negeri, 
perbatasan RI-Papua koordinasi ada pada Mendagri, RI-Malaysia pada
masa lalu 
di bawah Panglima TNI dst.
Semasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri pernah ada
gagasan 
membentuk tim pengelola perbatasan negara guna memperjelas
siapa-siapa yang 
berhak menangani perbatasan, termasuk untuk menangani
perundingan perbatasan 
dengan para tetangga.

Namun gagasan itu masih angan-angan. Pada masa lalu juga pernah
ada panitia 
koordinasi wilayah nasional dan kini sudah tidak berfungsi lagi.

Berkaitan dengan ini Laksamana Muda (purn) Wahyono S.K., mantan


Deputi 
Penelitian Dewan Pertahanan Keamanan Nasional, mengatakan
perlunya hal ini 
segera dikoordinasikan.
"Maksudnya agar ada badan yang sehari-hari menyimpan berbagai file 
perbatasan laut atau darat," katanya. Menurut dia yang ada sekarang
sangat 
amatiran, jadi siapa yang ditunjuk maka dia yang menyimpan.
Wahyono mengusulkan sebaiknya lembaga itu setingkat direktorat
jenderal di 
bawah departemen tertentu. "Jadi di atasnya ada menteri, dan itu bisa
di 
Deplu, Dephan atau Depdagri," katanya.
Dalam catatan SH, saat ini, Indonesia memiliki sekurangnya 10
masalah 
perbatasan di laut yang belum tuntas. Dengan Australia telah
disepakati 
batas bersama ZEE, namun hingga saat ini belum meratifikasi.
Ancaman 
tenggelamnya Pulau Nipah akibat penambangan pasir berpotensi
mengubah garis 
perbatasan RI dengan Singapura, yang aktif melakukan reklamasi
menggunakan 
pasir dari Riau.
Dengan Malaysia, selain klaim di wilayah Ambalat juga belum
ditetapkan batas 
laut pasca keputusan ICJ yang memenangkan Malaysia soal Sipadan-
Ligitan. 
Indonesia dan Thailand juga belum tuntas menetapkan ZEE di Perairan
Selatan 
Laut Andaman. Pulau Miangas, yang meski secara de facto dan de jure
sah 
milik Indonesia, tetap saja Filipina suka menggunakan Treaty of Paris
1889 
ketimbang UNCLOS 1982 untuk tetap mengklaim pulau tersebut. Batas
laut RI - 
Timor Leste juga belum tuntas.

Harus Ada Armada


Sementara itu pengamat militer dari Centre for Strategic and
International 
Studies (CSIS) Begi Hersutanto kepada SH, menyatakan soal nota
diplomatik 
Indonesia tidak akan banyak mendapatkan tanggapan sejauh
Indonesia belum 
menempatkan armadanya untuk berpatroli di wilayah terluar
Indonesia. Sesuai 
dengan Konvensi Hukum Laut Internasional, klaim wilayah harus
dibarengi oleh 
pengakuan dan kehadiran armada di wilayah tersebut.
"Nah bagaimana kita bisa memperoleh pengakuan atas klaim kita
terhadap 
wilayah tertentu kalau kita tidak hadir secara nyata di sana? (Apabila-
red) 
baru setelah ada klaim negara lain, baru meletakkan patroli di sana,
itu 
kebijakan yang agak terlambat," kata Begi.
Menurutnya, patroli harus dilakukan secara rutin di titik terluar 
perbatasan. Jika tidak, akan muncul persepsi yang bisa menjadi
preseden 
buruk yaitu betapa mudahnya untuk menduduki wilayah Indonesia.
"Kalau sampai 
ini terjadi lagi kan konyol namanya. Seharusnya Indonesia belajar
banyak 
dari kasus Sipadan-Ligitan," Begi mengingatkan.
Ia menambahkan, jika pemerintah tidak berbenah, maka setiap nota
diplomatik 
tidak akan pernah mendapat perhatian serius. Oleh sebab itu kini
sudah 
waktunya Indonesia mengubah tatanan paradigma pertahanan,
dengan memperkuat 
angkatan laut.
Senada dengan Begi, mantan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong
mengatakan 
pemerintah seharusnya bersikap lebih tegas mengenai wilayah
perbatasan. 
Pengukuran wilayah-wilayah terluar harus segera dilakukan kembali
untuk 
menegaskan batas terluar wilayah Indonesia.

Pengadilan Internasional
Mengenai tidak jelasnya wilayah perbatasan Indonesia, menurut
Kepala Badan 
Pelatihan dan Pendidikan Departemen Pertahanan, Marsekal Muda
Koesnadi 
Kardi, menyebabkan lemahnya posisi Indonesia jika masalah
perbatasan dibawa 
ke pengadilan internasional seperti kasus Sipadan-Ligitan.
Ia berpendapat, hanya perbatasan dengan negara Papua Niugini dan
Timor Timur 
yang berbatasan darat dengan Indonesia, sedangkan perbatasan
dengan negara 
lainnya berupa lautan. Pada titik inilah pemerintah harus segera
berbenah. 
"Jika 
tidak, wilayah negara lain akan bertambah dan wilayah negara kita
akan 
berkurang," katanya kepada SH. Ia menegaskan, pemerintah
seharusnya 
mengembangkan strategi politik, strategi ekonomi dan strategi militer
secara 
bersamaan untuk menjamin keamanan nasional.
Komandan Pangkalan Angkatan Laut Letkol (Laut) Ibnu Parna
mengatakan, TNI AL 
terus mengintensifkan patroli di daerah perbatasan Indonesia dengan
Malaysia 
di perairan di Pulau Kalimantan, antara Selat Ambalat hingga Pulau
Karang 
Unarang.
Keempat KRI yang berpatroli di wilayah perbatasan akan bergantian
melakukan 
patroli, yakni KRI Wiratno, KRI Nuku, KRI Rencong, dan KRI Karel
Satsuit 
Tubun. KRI Wiratno membawa 60 personel TNI AL, KRI Nuku
membawa 60 personel, 
KRI Rencong membawa 65 personel, KRI KS Tubun membawa 120
personel.

Indonesia Tak Terima


Dalam press briefing, Marty menegaskan posisi Indonesia dalam soal
Ambalat 
masih sama yaitu perairan Laut Sulawesi di sebelah timur Pulau
Kalimantan 
adalah bagian dari wilayah Indonesia. Marty menegaskan Indonesia
tidak dapat 
menerima klaim Malaysia tentang keabsahan peta Malaysia tahun
1979 yang 
sering dinyatakan pihak Malaysia dalam setiap kesempatan.
"Yang lupa mereka sampaikan adalah peta termaksud adalah peta
yang 
dipermasalahkan bukan saja oleh Indonesia bahkan oleh sejumlah
negara di 
Asia Tenggara," kata Marty.
Inggris pun, kata Marty, pada saat itu mewakili Brunei Darussalam 
mempermasalahkan peta tersebut.
Tampaknya pihak Malaysia menggunakan keputusan berkaitan
Sipadan-Ligitan 
untuk menetapkan batas maritimnya, kata Marty. Hal itu tidak dapat
diterima 
Indonesia karena kepemilikan Malaysia atas Pulau Sipadan-Ligitan
tidak 
memberikan efek penuh terhadap batas maritim, dan sebagai bukan
negara 
kepulauan Malaysia tidak bisa menggunakan klausul yang dimiliki oleh
negara 
kepulauan seperti Indonesia.
Sehubungan dengan landas kontinen, Konvensi Hukum Laut Jenewa
1958 mengatur 
antara lain negara kepulauan memiliki hak berdaulat untuk
mengeksplorasi dan 
eksploitasi sumber alam atas landas kontinennya. Hak tersebut
eksklusif, 
dengan pengertian tidak ada negara lain yang dapat melakukan
eksplorasi dan 
eksploitasi sumber alam tanpa persetujuan khusus dari negara
kepulauan yang 
bersangkutan.
Malaysia telah menjawab nota protes tanggal 25 Februari lalu, yang
intinya 
menyampaikan bahwa wilayah itu adalah perairan Malaysia.

MASALAH PERBATASAN, KARENA PETA DASAR


SETIAP NEGARA BERBEDA
Monday, 30 August 2010 03:11

Jakarta, press3G- Terkait persoalan perbatasan Indonesia dengan Negara-Negara tetangganya,


Anggota DPD RI Aida Zulaika Nasution Ismeth kepada press3G di Senayan-Jakarta, belum lama
ini mengatakan,
penyebab belun terselesaikan, karena Peta dasar yang di pakai masing-masing Negara itu
berbeda.

“ Indonesia kini memakai peta 2009, sedangkan Malaysia memakai peta 1979 “ ujarnya.  Selain
itu, lanjut Aida, Singapura juga memisahkan diri dari Malaysia dan menyisahkan masalah
perbatasan. Sementara itu, perbatasan RI-Malaysia belum terselesaiakan saat Singapura
memisahkan diri. Karena itu Malaysia dan Singapura harus menuntaskan dulu persoalan
perbatasannya 

Anggota DPD RI Provinsi Kepulauan Riau itu mengungkapkan, sebagian perbatasan wilayak
Negara Indonesia dan Negara tetangga di dasarkan pada hasil perjanjian-perjanjian perbatasan,
antara penjajahan Belanda dan Inggris, sedangkan perkembangan hukum internasional sesudah
itu, tidak sepenuhnya disetujui oleh pihak yang terkait langsung, dalam hal ini Indonesia dengan
Malaysia.

Melalui Deklarasi juanda dan UNCLOS/ United Nation Convention on The Law of The Sea 1982
( Konvensi PBB tentang hukum laut internasional) Indonesia mengukuhkan diri sebagai Negara
kepulauan, sedangkan Malaysia hanya di akui sebagai Negara pantai. 
Salah satu konsekuensi Deklarasi Juanda dan UNCLOS 1982 adalah melebarnya wilayah laut
Negara Indonesia dan wilayah yuridikasi Indonesia. Yang di maksud dengan wilayah yuridikasi
berdasarkan Undang-undang No. 43 tahun 2008 tentang zona Ekonomi eksklusif, Landas
kontinen dan Zona Tambahan di mana Negara memiliki hak berdaulat dan kewenangan tertentu
laianya.

“ Panorama Deklarasi Juanda, UNCLOS 1982 dan UU wilayah Negara membuat batas wilayah
Indonesia masuk dalam wilayah yang di per-sengketakan “  ujar Aida. ApalagI, lanjutnya, pada
kawasan Selat Malaka dan Selat Singapura, jarak pulau terdepan Indonesia dengan Singapura dan
Malaysia kurang dari 200 mil lau

Masalah Perbatasan Republik Indonesia – Republik Demokratik


Timor Leste

Senin, 12 Juli 2010

Perlu diketahui, bahwa perbatasan antar negara Republik Indonedia


(RI) dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di Nusa Tenggara Timur
(NTT) terletak di tiga Kabupaten yakni di Belu, Kupang dan Timor Timur Utara
(TTU). Perbatasan di Belu terletak memanjang dari utara ke selatan bagian pulau
Timor, sedangkanperbatasan Kabupaten Kupang dan TTU berbatasan
dengan salah satu wilayah Timor Leste, yaitu di Oekusi yang terpisah dan berada
di tengah wilayah Indonesia. Garis batas antar negara di NTT terletak di sembilan
kecamatan. Satu kecamatan di Kabupaten Kupang, tiga kecamatan di TTU, dan
lima kecamatan di Kabupaten Belu. Permasalahan batas dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu, Unresolved dan Unsurveyed. Unresolved adalah masalah
perbatasan yang belum terselesaikan, sementara Unsurveyed maksudnya wilayah
yang belum bisa disurvey karena ada penolakan warga. Permasalah batas meliputi
tiga, Unresolved di Noel Besi/Citrana, Bijael Sunan/Oben dan Dilumil/Memo, serta
satu Unsurveyed area yaitu di Subina.

Masalah Unresolved di Noel Besi/Citrana.

Daerah sengketa terletak di dusun Naknuka, dengan luas lebih kurang


1,069 hektare. Warga yang tinggal di wilayah tersebut berasal dari Kec.
Citrana Distrik Oecusse dan ber KTP Timor Leste, masih ada hubungan
kekeluargaan dengan masyarakat RI yng berada di desa Natemnanu utara Kec.
Amfoang Timur, Kab. TTU-NTT. Warga yang tinggal di wilayah tersebut berjumlah
200 jiwa, yang meliputi 44 KK. 36 KK beragamaKatholik, dan delapan KK
beragama Protestan. Di daerah tersebut ada bangunan baru yaitu Balai
Pertahanan dan Perkebunan (Balai Pertanian, Perkebunan, Rumah Dinas, Aula
Pertemuan dan Gudang), serta LSM OACP(Oecussee Ambono
Community Programme) yang berjarak lebih kurang 2 Km dari Pamtas Yonif
744/SYB yang ada di Oepoil Sungai.

Pada November 2008, dilaksanakan pembangunan Pos Imigrasi RDTL, kemudian


sempat dihentikan , setelah diadakan musayarah antara aparat pemerintah dan
masyarakat. Tetapi kemudian ditemukan bagunan baruuntuk Kantor Pertanian dan
Balai Pertemuan dan diresmikan oleh Menteri Pertanian RDTL pada bulan

Mei 2009. Selanjutnya pada mingu ke empat bulan April 2010 ditemukan


pemasangan nama Gedungbertuliskan “MENESTERIO DA AGRI KULTURA”, dan
penggunaan mesin pertanian di daerah Naktuka, serta terdapat LSM
OACP (Oecussee Ambono Community Programme).

Masalah Unresolved di Bijael Sunan/Manusasi.

Daerah yang di sengketakan seluas lebih kurang 142,7 hektare, karena adanya


perbedaan persepsi traktat, dan terkait masalah adat. Sebagai informasi,
bahwa sebelum tahun 1893 daerah tersebut berada dalam kekuasaan masyarakat
Timor Barat (Belanda), namun antara tahun 1893 – 1966 sudah dikuasai
masyarakat Timor Timur (Portugal). Oleh karena itu, pada tahun 1966 garis batas
di sepanjang Sungai Noel Miomafo digeser ke utara mengikuti pncak gunung,
mulai dari puncak Bijael Sunan sampai barat laut Oben yang ditandai dengan pilar
Ampu Panalak. Pemindahan batas wilayah tersebut dilakukan secara adat dan
disaksikan oleh Gubernur Potugis, dan NTT pada saat itu belum ditemukan data
tertulis.

Masalah Unresolved di Dilumil/Memo.

Permasalahan di Dilumil/Memo Kabupaten Belu mencakup daerah seluas lebih


kurang 41,9 hektare, berada di delta Sungai Malibaka, akibat proses alamiah
(pengendapan). Pihak RI pada awalnya menghendaki batas wilayah RI-RDTL
berada disebelah timur delta, sedangkan pihak RDTL menghendaki di
sebelah barat delta.Perkembangan terakhir, sesuai pertemuan TSC-BDR RI-RDTL
tahun 2004, pihak RI menghendaki penarikan batas sesuai median line yang
membagi dua river delta, meski di wilayah tersebut belum ada konflik batas
wilayah dari masyarakat kedua negara.

Masalah Unsurveyed area di Subina-Oben.

Unsurveyed segment terdapat diantara Subina sampai  dengan  Oben  yang 


sebenarnya  merupakan permasalahan  klaim hak ulayat masyarakat
setempat. Masyarakat menolak daerah tersebut untuk di survey dan ditentukan
batasnya,

sehingga tim dari RI – RDTL batal melaksanakan survey. Hingga sekarang,


penyelesaian masalah Unsurveyedbelum ada titik temu. Mengingat, bahwa
kesepahaman yang ada serta sesuai kesepakatan bersama pemerintah RI – RDTL
sebagaimana tertuang dalam PA (Provisional Agreement) tanggal 8 Maret 2005,
bahwakedua belah pihak sepakat dan menghormati hukum adat di daerah yang
belum terselesaikan.

Terlepas dari itu semua, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri


telah mengeluarkan Nota Protes Nomor. D/00172/01/2010/59 tanggal 27 Januari
2010 tentang keberadaan bangunan dan aktiva masyarakat Timor Leste
di Unresolved Segment Noel Besi-Citrana, dan hingga sekarang pemertintah Timor
Leste belum memberi tanggapan atas protes tersebut.

Secara fakta, warga Timor Leste yang memasuki wilayah (Unresolved Segment)
tidak dilarang oleh Pos UPF, sedangkan warga Indonesia dilarang oleh petugasPos
TNI. Sementara pendapat masyarakat Nakuta (Timor Leste) menganggap
bahwa lahan tersebut sudah masuk wilayah Timor
Leste. Sehingga pernah pasukan patroli pas-pam TNI yang melaksanakan patroli
di wilayah Dusun Naktuka dianggap telah melanggar batas wilayah, dan pernah
dihadang oleh masyarakat setempat dengan menggunakan parang, dan memutus
jembatan serta memblokir jalan yang dilalui petugas TNI. Bahkan, pemangku adat
Kerajaan Amfoang Robby G.J. Manoh pada tanggal 12 Juni 2009 pernah
menyatakan, apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah untuk
menyelesaikan persoalan perbatasan, pihaknya menyatakan perang.

Dalam berbagai perundingan, kedua belah pihak sebenarnya sudah sepakat,


bahwa permasalahan batas wilayah kedua negara, tidak akan bisa diselesaikan
kalau hanya berpedoman pada treaty atau perjanjianBelanda-Portugis ketika
itu. Oleh karena itu, kedua negara sepakat menggunakan PA (Provisional
Agreement)yang ditandatangani tanggal 8 Mei 2005 tentang persetujuan kedua
negara agar mempertimbangkan hukum adat sebagai bagian dari
penyelesaian batas wilayah. (Tim Opini)
Pembangunan Perbatasan, Separatisme dan
Nasionalisme

Submitted by Polsan on Tue, 03/10/2009 - 09:47. 

 Analysis

Oleh: Mayor (Inf) Polsan Situmorang, SE., Kontributor TANDEF

Pasca reformasi, isu tentang perbatasan tidak pernah surut dari diskursus publik,
bahkan semakin hari semakin gencar sehingga menjadi komoditas publik dan politik
yang tiada habisnya. Kasus-kasus yang muncul pun silih berganti dan semakin
beragam, baik itu berupa isu maupun suatu fakta realitas di lapangan, baik tingkat lokal,
regional maupun internasional, dan isu yang terakhir adalah Askar Wataniah.
Pemerintah daerah yang berbatasan langsung tidak memiliki kewenangan yang eksplisit
untuk menangani kawasan perbatasan, selain dari aspek perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan, karena terkait dengan kewenangan yang tidak diserahkan oleh
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah kabupaten.

Mengapa Pasca Reformasi

Mengapa pasca reformasi isu perbatasan semakin mencuat ? Menurut hemat penulis
adalah terjadinya pergeseran paradigma dalam pelaksanaan pembangunan dari
sentralistis menjadi desentralistis. Paradigma yang mengandalkan sistem sentralistik
sangat menekankan pendekatan tradisional, sehingga lokasi yang jauh dari pusat
pemerintahan menjadi kurang diperhatikan bahkan terlupakan atau lebih ekstrim lagi
dilupakan. Dalam konsepsi pemikiran tradisional pada konsteks politik kewilayahan
bukan saja menyebabkan pemerintah lebih sibuk mengurus wilayah di lingkungan dan
disekitar pusat pemerintahan, tetapi memiliki kecenderungan kurang memperhatikan
wilayah yang lebih jauh dari pusat dan praktis melupakan daerah perbatasan. Sikap
tradisional sistem pemerintahan yang menjadikan wilayah perbatasan sebagai daerah
pinggiran dalam pertimbangan politik dan ekonomi merupakan suatu kesalahan masa
lalu yang tak bisa ditolerir lagi.

Paradigma ini erat kaitannya dengan trilogi pembangunan yang menjadi dasar bagi
Pemerintahan Orde Baru saat itu. Pendekatan trickle down effect pun tidak cocok untuk
menjawab dan menganalisa proses pembangunan kawasan perbatasan, karena tetesan
bahkan percikannya pun tidak sampai pada daerah-daerah perbatasan, sebagai daerah
terdepan dengan negara tetangga atau dunia internasional. Bahkan yang terjadi
merupakan hal kontradiktif, yakni terjadinya eksploitasi sumber daya alam, khususnya
kehutanan atau kayu (illegal logging) besar-besaran dengan satu alasan “sebagai
daerah sabuk pengaman atau daerah lini satu.”
Masyarakat di kawasan perbatasan dapat dikategorikan “mendiami tanah perjanjian”.
Karena masyarakat perbatasan dijanjikan dibangun unit sekolah baru mulai dari SD
sampai dengan SMA, akan direkrut menjadi anggota baru TNI, POLRI, APDN, siapapun
tahu bahwa mereka (masyarakat di kawasan perbatasan) memiliki kontribusi yang tak
ternilai dalam hal perjuangan di kawasan perbatasan, terutama pada saat curahan
politik konfrontasi terhadap Malaysia dan usaha penghancuran dan penumpasan unsur-
unsur yang dianggap sebagai pendukung PGRS/PARAKU pada tahun 1960-1970-an.
Tetapi sampai saat ini, perbatasan masih identik dengan daerah terbelakang, terisolir,
tertinggal, dan marginal, sehingga orientasi pemikiran, lebih dominan ke Serawak,
karena lebih maju dan secara geografis lebih dekat, harga barang-barang terjangkau
walaupun berkualitas. kondisi sosial budaya, tingkat pendidikan, dan kesehatan masih
dalam kategori yang rendah bahkan sangat memprihatinkan.

Siapapun yang pernah mengunjungi wilayah perbatasan akan tahu bahwa lebih mudah
untuk mendengar radio dan melihat TV negeri jiran. Maka apa yang dikatakan, kalau
penduduk di daerah perbatasan merasa lebih akrab dengan suasana sosial–politik,
bahkan kebudayaan dari negara tetangga merupakan sesuatu yang sangat lumrah. Jika
mau jujur dengan fakta sejarah, maka pada proses hukum yang lagi ditegakkan di tanah
air, kayu-kayu daerah lini satu perbatasan telah lama dieksploitasi, sehingga terjadi efek
negatif yang membahayakan, dan merugikan pihak RI, bila kawasan perbatasan
dirambah secara tak terkendali, oleh negara tetangga (polarization effect). Artinya,
sumber kekayaan alam dan SDM suatu negara, ditarik ke negara tetangga tanpa
memberikan manfaat bagi negara yang memiliki SDA dan SDM secara proporsional.

Terkait dengan efek polarisasi tersebut, sudah bukan rahasia umum lagi selama rezim
Orde Baru perbatasan lebih didominasi oleh HPH tertentu, tetapi belum begitu gencar
dikritisi oleh para pemerhati lingkungan hidup, supaya dikategorikan dan ditetapkan
sebagai pelaku illegal logging, daripada masyarakat yang menebang satu pohon
dihalamanya sekarang ini dituduh dan ditetapkan sebagai pelaku illegal logging.

Data dan fakta menunjukkan bahwa kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat,
merupakan provinsi yang berbatasan dengan negara bagian Serawak Malaysia.
Panjang garis perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak adalah 966 kilometer,
yang melintasi 113 desa dalam 15 kecamatan dan di 5 kabupaten. Aktivitas perlintasan
batas tradisional melalui jalur darat lebih banyak terjadi di (5) lima kabupaten perbatasan
tersebut. Oleh karena itu, selain pintu lintas batas resmi, di Kalimantan Barat juga
terdapat banyak pintu lintas batas tidak resmi. Di wilayah ini tercatat sebanyak 50 jalur
jalan setapak yang menghubungkan 55 desa di Kalimantan Barat dan 32 kampung di
Sarawak. Dari 50 jalan setapak tersebut, telah disepakati 16 desa di Kalimantan Barat
dan 10 kampung di Sarawak sebagai Pos Lintas Batas (PLB).

Dari PLB-PLB tersebut, Entikong sejak 25 Februari 1991 telah diresmikan sebagai Pos
Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) atau istilah dalam keimigrasian disebut dengan
Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI), menyusul disepakati melalui SOSEK MALINDO
Nanga Badau di Kapuas Hulu pada tanggal 17 Desember 1998 dan Aruk di Sambas
pada tanggal 12 Mei 2005 sebagai PPLB/TPI yang diharapkan bisa dioperasikan pada
tahun 2007, diharapkan dapat menyusul TPI Jagoi Babang Kab. Bengkayang. Namun
kenyataannya masih menunggu waktu karena selalu berubah-ubah dan banyaknya
kepentingan yang terjadi.

Fungsi Perbatasan

Dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Daerah


perbatasan adalah daerah batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
daerah batas wilayah negara tetangga yang disepakati bersama berdasarkan perjanjian
lintas batas (crossing border agreement) antara Pemerintah Republik Indonesia
Indonesia dan negara tetangga, berdasarkan peraturan perundang-undangan. Secara
teoritis, perbatasan memiliki fungsi yang sangat krusial dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Setidaknya terdapat 5 (lima) fungsi perbatasan negara: pertama sebagai
garis pertahanan suatu negara; kedua sebagai pelindung kegiatan ekonomi dalam
wilayah; ketiga fungsi hukum; empat batas wilayah kekuasaan negara, dan kelima,
sebagai aspek kepentingan suatu negara.

Batas negara pada dasarnya merupakan garda terdepan dalam hubungan dengan luar
negeri atau dunia internasional. Untuk itu, dikenal konsep daerah frontier dan boundary.
Frontier merupakan wilayah yang berada di depan, sedangkan boundary mengandung
makna garis batas, yang tegas dalam aspek politik, sesuai dengan kedudukan suatu
negara. Frontier dan boundary terkait dengan integrasi nasional dan kedaulatan NKRI.

NATO dan Wacana

Dalam mengatasi berbagai persoalan di perbatasan, pemerintah daerah kabupaten


yang berbabatasan langsung, selama ini seolah-olah berjuang masing-masing untuk
dirinya sendiri, belum diakomodir dan tidak terkoodirnir oleh pemerintah yang lebih atas
secara terfokus dan integral. Program dan kegiatan masih sangat parsial dan dibawah
payung atmosfer ego sektoral masing-masing leading sector. Padahal secara geopolitik
dan geostrategi, satu jengkal tanah di Desa Sungkung Kecamatan Siding Kab.
Bengkayang, satu jengkal tanah di Aruk Kecamatan Sajingan Kab. Sambas, Satu
jengkal tanah di Suluh Tembawang Kecamatan Entikong Kab. Sanggau, dan satu
jengkal tanah di Jasa Kecamatan Ketunggau Hulu Kab. Sintang serta satu jengkal tanah
di Badau Kec. Badau Kab. Kapuas Hulu merupakan tanah yang sah dalam bingkai
kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Nation State Indonesia) yang harus
djaga, dan dilindungi oleh seluruh warga Negara RI.

Apabila argumentasi klasik tetap menjadi alasan yang fundamental yakni wilayah NKRI
terlalu luas, maka jawabannya diperlukan strategi dan kebijakan khusus untuk
menangani persoalan-persoalan krusial di perbatasan. Strategi dan kebijakan yang
dimaksud adalah kebijakan yang integral dan holistik. Tidak waktunya lagi untuk mencari
“kambing hitam dan kambing putih”, mengedepankan aspek pertahanan dan keamanan
semata (security), tetapi aspek kesejahteraan (prosperity approach) yang selama ini
didengungkan dapat diimplementasikan secara bertahap. Aspek kesejahteraan juga
beragam sebagaimana yang tercantum dalam indek pembangunan daerah (regional
development index), yakni mulai dari pembangunan ekonomi, pembangunan manusia,
pembangunan lingkungan hidup, pembangunan insfruktur dasar, dan penyelenggaraan
pemerintahan daerah.

Pembangunan kawasan perbatasan bukan zamannya lagi dijadikan isu dan komoditas
politik oleh berbagai pihak, sebagai tempat rekreasi berbagai instansi, tetapi perlu
tindakan nyata secara profesional dan proporsional oleh pemerintah secara berjenjang.
Karena Wacana tanpa aksi nyata dan komitmen yang kuat akan sia-sia, dan kondisi
yang demikian akan bertentangan dengan keharusan konstitusional dari sebuah tatanan
negara modern. Akhirnya, Quo Vadis Pembangunan Perbatasan ? Masih menjadi
pertanyaan besar bagi segenap pihak yang konsen terhadap perbatasan antar negara.