Anda di halaman 1dari 6

Ekstraksi Nikel PT.

Internasional Nickel Indonesia (INCO),


Sorowako, Sulawesi Selatan
Abstrak

Nickel berasal dari Laterite (Ni Oxides) hasil proses pelapukan batuan Ultramafik dan
Sulfida (Ni Sulphides) hasil dari proses magmatisme.
Salah satu perusahaan yang melakukan eksplorasi dan penambangan nikel laterit di
beberapa wilayah Sulawesi bagian Tengah, Tenggara dan Selatan adalah PT. International
Nickel Indonesia, Tbk (PT INCO). Perusahaan multinasional yang diakuisisi sahamnya sejak
tahun 2007 oleh Companhia Vale do Rio Doce (CVRD) yang kini bernama Vale, dan berubah
menjadi Vale Inco, ltd; telah beroperasi sejak tahun 1968, terutama di wilayah Sorowako. Nikel
PT INCO diperoleh dengan mengambil mineral dari endapan nikel laterit yang mengandung
unsur nikel dalam jumlah besar, antara lain limonite dan saprolite, kemudian diolah secara
pyrometallurgical dan dihasilkan nikel dalam bentuk matte nikel.

Deskripsi Proses Ekstraksi Metallurgis PT. INCO

Pyrometallurgy yaitu proses meleburkan bijih menjadi metal dengan memanfaatkan suhu
yang tinggi untuk mendapatkan metalnya.
Secara umum proses pengolahan bijih nikel jalur pyrometallurgy dibagi dalam beberapa tahap
seperti berikut:.

1.Kominusi
Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga bisa terlepas dari bijihnya.
Berbeda dengan pengolahan emas, dalam tahap kominusi untuk nikel ore ini hanya dibutuhkan
ukuran maksimal 30 mm sehingga hanya dibutuhkan crusher saja dan tidak dibutuhkan grinder

.
2Drying
Drying atau pengeringan dibutuhkan untuk mengurangi kadar moisture dalam bijih. Biasanya
kadar moisture dalam bijih sekitar 30-35 % dan diturunkan dalam proses ini dengan rotary dryer
menjadi sekitar 23% (tergantung desain yang dibuat). Dalam rotary dryer ini, pengeringan
dilakukan dengan cara mengalirkan gas panas yang dihasilkan dari pembakaran pulverized coal
dan marine fuel dalam Hot Air Generator (HAG) secara Co-Current (searah) pada temperature
sampai 200 C.

3.Calcining
Tujuan utama proses ini adalah menghilangkan air kristal yang ada dalam bijih,air kristal yang
biasa dijumpai adalah serpentine (3MgO.2SiO2.2H2O) dan goethite (Fe2O3.H2O). Proses
dekomposisi ini dilakukan dalam Rotary Kiln dengan tempetatur sampai 850 oC menggunakan
pulverized coal secara Counter Current. Di samping menghilangkan air kristal, pada proses ini
juga biasanya didesain sudah terjadi reaksi reduksi dari NiO dan Fe2O3. Dalam teknologi Krupp
rent, semua reduksi dilakukan dalam rotary kiln dan dihasilkan luppen. Sedangkan dalam
technology Electric Furnace, hanya sekitar 20% NiO tereduksi secara tidak langsung dalam
rotary kiln menjadi Ni dan 80% Fe2O3 menjadi FeO sedangkan sisanya dilakukan dalam electric
furnace. Produk dari rotary kiln ini disebut dengan calcined ore dengan kandungan moisture
sekitar 2% dan siap dilebur dalam electric furnace.

4.Smelting
Proses peleburan dalam electric furnace adalah proses utama dalam rangkaian proses ini. Reaksi
reduksi 80% terjadi secara langsung dan 20% secara tidak langsung pada temperature sampai
1650 C.

5.Refining
Pada proses ini yang paling utama adalah menghilangkan/memperkecil kandungan sulfur dalam
crude Fe-Ni dan sering disebut Desulfurisasi. Dilakukannya proses ini berkaitan dengan
kebutuhan proses lanjutan yaitu digunakannya Fe-Ni sebagai umpan untuk pembuatan Baja
dimana baja yang bagus harus mengandung Sulfur maksimal 20 ppm sedangkan kandungan
Sulfur pada Crude Fe-Ni masih sekitar 0,3% sehingga jika kandungan sulfur tidak diturunkan
maka pada proses pembuatan baja membutuhkan kerja keras untuk menurunkan kandungan
sulfur ini.

Deskripsi Sistem Penambangan PT. INCO


Kegiatan penambangan yang dilakukan diawali dengan kegiatan eksplorasi. Data hasil
kegiatan eksplorasi tersebut digunakan dalam proses perencanaan tambang (mine planning)
sebagai bahan masukan, pedoman atau acuan dalam pelaksanaan penambangan (mine operation).
Sistem penambangan yang dilakukan oleh PT Inco adalah open cast, yaitu penambangan terbuka
yang aktifitasnya meliputi mengupas, membongkar dan menggali bahan galian yang terdapat di
permukaan. Secara umum tahapan kegiatan tersebut sebagai berikut :
 Pengupasan lapisan tanah penutup dan limonit setebal 15 – 20 meter ditimbun di
tempat tertentu atau digunakan langsung untuk menutupi daerah bekas
penambangan.
 Penggalian lapisan tanah ketiga yang berkadar nikel tinggi (bijih nikel) setebal 7 –
10 meter diangkut ke stasiun penyaring.
 Pemisahan bijih di stasiun penyaring berdasarkan ukurannya. Produk akhir hasil
penyaringan bijih tipe Blok Timur adalah –18/-6 mesh, sedangkan produk akhir
hasil penyaringan bijih tipe Blok Barat adalah – 4 mesh.
 Penyimpanan bijih yang telah disaring ditimbun di tempat tertentu untuk
pengeringan dan penyaringan ulang di pabrik.
 Penghijauan (revegetasi) lahan-lahan daerah bekas tambang (purna tambang), mulai
dari penimbunan material, pembuatan terasering dan penanaman kembali.

Deskripsi Sistem Pengolahan PT. INCO


Material ROM (Run of Mine) dimasukkan screening station (SS) menghasilkan screening
station product (SSP) yang disimpan dalam stockpile dalam keadaan basah. SSP dikeringkan
dalam Dryer Kiln menghasilkan Dryer Kiln Product (DKP) yang disimpan di Dried Ore Storage
(DOS) untuk diolah menjadi produk akhir.
Secara garis besar tahapan pengolahan adalah sebagai berikut :
 Pengeringan dalam tanur pengering (dryer kiln), untuk menurunkan kadar air dalam
bijih laterit dan memisahkan bijih yang berukuran + 25 mm dan –25 mm.

(dryer kiln)

 Kalsinasi dan reduksi dalam tanur pereduksi (reduction kiln), untuk menghilangkan
kandungan air dari dalam bijih, mereduksi sebagian nikel oksida menjadi nikel
logam dan sulfidasi.

(reduction kiln)
 Peleburan dalam tanur listrik (electric furnace), untuk melebur kalsin hasil
kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa lelehan matte dan terak.

(electric furnace)

 Pengkayaan dalam tanur pemurni (converter), untuk meningkatkan kadar Ni dalam


matte dari ±27% menjadi >75%.
 Granulasi dan pengemasan, untuk mengubah bentuk matte cair menjadi butiran-
butiran. Matte diangkut dengan ladel ke dalam tundish, dituang perlahan-lahan
sambil disemprot dengan air bertekanan tinggi.
 Nikel matte dingin yang berbentuk butiran-butiran halus ini, yang kemudian
dikeringkan dengan tanur pengering, disaring dan siap dikemas dalam kantong
dengan kapasitas 3 ton.

(Diagram Pengolahan Nickel)


Daftar Pustaka

Ahmad, Waheed., 2006. Laterit : Mine Geology at PT. International Nickel Indonesia. PT.
International Nickel Indonesia : Sorowako, South Sulawesi

Ahmad, Waheed., 2006. Laterite : Fundamental of Chemistry, Mineralogy, Weathering


Processes and Laterit Information. PT. International Nickel Indonesia : Sorowako, South
Sulawesi

Endang S., Bambang N. Widi, dkk., 1998, Laporan       Eksplorasi Mineral Logam Mulia &
Logam Dasar di Daerah Wotu dan sekitarnya Kabupaten Luwu Propinsi Sulawesi Selatan,
Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung

Simanjuntak, T.O., Rusmana, E., Surono dan Supanjono, J.B., 1991, Geologi Lembar Malili,
Sulawesi, Puslitbang Geologi, Bandung

Widhiyatna D., 1997, Laporan Eksplorasi Geokimia Regional Bersistem daerah Kabupaten
Kendari, Luwu Propinsi Sulawesi Selatan, Direktorat Sumber Daya Mineral, Bandung