Anda di halaman 1dari 11

Resensi Novel

Supernova

Disusun oleh:

M.Radian Satyananda
XI IPS I
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkah dan karunia-Nya kepada kami sehingga saya dapat menyelesaikan resensi
dari novel “Supernova” karya Dewi Lestari. Adapun penulisan resensi ini untuk menyelesaikan
salah satu tugas Bahasa Indonesia. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
khususnya guru pembimbing kami Ibu Heriyana yang banyak membantu dalam penyelesaian
tugas resensi ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa resensi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, dengan kerendahan hati kami mohon perkenaan para pembaca untuk memberikan saran
dan kritik. Khususnya guru pembimbing kami Ibu Heriyana.
Harapan kami resensi ini bermanfaat bagi pembaca khususnya keluarga besar SMAN 34 Jakarta

Terima kasih.

Penyusun.
SUPERNOVA
Judul novel : Supernova

Pengarang : Dewi Lestari

Tahun terbit : 2009

Penerbit : Truedee Books

Kota terbit : Bandung

Warna Buku : Biru Metalik

Tebal Buku : 163 Halaman

Sinopsis

Dhimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman
Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical
School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan
mahasiswa yang bersekolah di Amrik. Pertama kali bertemu mereke terlibat dalam percakapan
yang saling menyudutkan satu samalain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka,
Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah
Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint,
sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay. Ternyata tak disangka-sangka
bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun
mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya
bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan
di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu
tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang
berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

Sepuluh tahun berlalu, mereka bertemu lagi di Jakarta, di rumah Ruben, mereka merancang
sebuah cerita roman yang mereka impi-impikan. Mereka memulai dengan mereka-reka tokoh,
tokoh yang mereka inginkan adalah muda, usia produktif, urban, metropolis, punya akses
teknologi dan informasi yang baik, berdomisili di Jakarta, intelek, profesional, pemegang
kekuasaan. Maka muncullah tokoh Ferre yang gila kerja, ambisius, pemegang kekuasaan. Rana
seorang wanita yang telah berrumah tangga yang mempunyai pekerjaan seorang reporter dari
sebuah majalah wanita terkenal. Rana mendapatkan tugas untuk mewawancarai Ferre,
ternyata dari pertemuan tersebut ternyata berkelanjutan menjadikan sebuah perselingkuhan,
antara Ferre dan Rana. Ferre terobsesi oleh cerita yang dibacakan oleh neneknya yaitu seorang
kesatria yang jatuh cinta kepada seorang putri. Ferre bercita-cita menjadi seotang ksatria
tersebut. Berikut adalah potongan cerita komik …

Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari

Sang Puteri naik ke langit

Ksatria kebingungan.

Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.

Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.

Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.

Ksatria lalu belajar pada burung gereja.

Burung gereja hanya mampu mengajarkannya sampai ke atas menara.

Ksatria kemuudian berguru pada burung elang.

Burung elanng hanya mampu membawanya ke puncak gunung.

Tak ada unggas bersayap yang mampou terbang  lebih tinggi lagi.

Ksatria sedih, tapi tak putus asa.

Ksatria memohon pada angin.

Angin mengajarkannya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan.

Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk
langit.

Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.

Samapai satu malam ada Bintang jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.

Ia menawarkan Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.

Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Kastria tak mampu mendarat tepat di Puterinya, maka ia akan mati.

Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,

Menjadi  serbuk yang membedaki langit, dan tamat.

Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi

sebuah nyawa.

Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.

Bintang Jatuh menggenggam tangannya.

“Inilah perjalanan Sebuah Cinta Sejati”, ia  berbisik, “tutuplah matamu, Ksatria.

Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya”.

Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria

mungil,

namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta. Dan ia merasakannya….”Berhenti!”

Bintang Jatuh melongok ke bawah, dan ia pun melihat sesosokputeri cantik yang

kesepian

Bersinar  bagai Orion di tengah kelamnya galaksi. Ia pun jatuh hati.

Dilepaskannya genggaman itu. Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.

Ksatria melesat menuju kehancuran.

Sementara sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.

Ksatria yang malang.

Sebagai balasannya di langit kutub dilukiskan Aurora.

Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.

Berawal dari cerita tadi, maka awal perselingkuhanpun terjadi, ternyata Rana sang reporter
sangat serasi sekali dengan tokoh Puteri yang diimpikan oleh Ferre. Meskipun Ferre tahu bahwa
Rana telah menikah. Arwin suami Rana adalah seorang ningrat yang santun, mereka menikah
pada usia muda dengan alasan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Rana
menyadari betul akan perselingkuhannya dengan Ferre, tetapi mereka bahagia. Arwin,
suaminya yang sangat baik tersebut belum menyadari perselingkuhan istrinya, ia sangat
memperhatikan sekali kesehatan Rana, dan ia juga berencana bahwa tahun ini mereka harus
segera mendapatkan momongan. Rana mulai terlihat malas berkumpul bersilaturahmi dengan
keluarga bersanya, Rana yang mulai banyak kegiatan yang ternyata adalah waktu dimana ia bisa
bersama dengan Ferre, Rana yang mulai malas menjadi istri yang baik, Rana yang cu’ek
terhadap keadaannya.

Dilain pihak Bintang jatuh yang diperankan oleh Diva sangatlah sempurna, yang ia kejar
hanyalah dollar. Ia sangat menjaga fisiknya, karena fisik yang ia miliki tersebut merupakan
komoditi dolar yang ia tambang. Meskipun pada dasarnya ia memiliki pekerjaa menjadi
peragawati terkenal yang sangat profesional. Ia sangat menghargai waktu. Setiap detiknya
adalah dolar yang tidak boleh disia-siakan. Ia terlahir menjadi anak panti asuhan, yang setiap
detiknya selalu mendengar ejekan teman-temannya mengenai postur tubuhnya. Tetapi direlug
hatinya yang paling dalam ia adalah seorang dcermawan yang sangat memperhatikan nasib
supirnya. Segala keperluan sopirnya ditenggungnya. Ia memberikan modal kepada istri sopirnya
untuk dapat mandiri. Menjadikan anak sopirnya menjadi anak asuhnya. Siapa sangka ia adalah
seorang “Pelacur” yang profesinal, ia menghormati waktu, ia mengeruk dolar dari komoditi
yang ia miliki.

Kehidupan terus bergulir, Rana yan g resah dan Ferre yang plin-plan membuat keputusan,
menjadikan beban mereka semakin bertambah. Klimaksnya terjadi pada saat Arwin mulai
mengetahui bahwa Rana berselingkuh, ia mengetahui tetapi ia merasa bahwa ia tidak dapat
membahagiakan Rana, mungkin Rana akan bahagia bersama dengan Ferre. Ia akan merelakan
Rana untuk bersama dengan Ferre. Rana merasa hal tersebut menjadikannya sakit, sehingga ia
harus dirawat di sebuah rumah sakit.

Ketika Ferre mengetahui bahwa kekasihnya sakit, ia nekad untuk menemuinya, dan meminta
keputusan dari Rana tentang keputusan yang akan diambil oleh Rana. Di lain pihak Arwin
berjanji bahwa kalau Rana sembuh ia akan melepaskan Rana agar dapat bersatu dengan Ferre.
Ketika ditanyakan tentang keputusan Rana, ia menjawab, bahwa ia akan berterusterang kepada
Arwin tentang perselungkuhannya dengan Ferre, dan akan memilih Ferre.

Arwin mengetahui kegalauan yang dirasakan oleh Rana. Arwin mengatakan bahwa ia
sebenarnya sudah mengetahui perselingkuhan antara Rana dan Ferre. Ia merelakan Rana untuk
dapat bersatu dengan Ferre, tetapi Rana merasakan bahwa Arwin teramat mencintainya, Arwin
yanng selalu memujanya. Ada satu makna yang ia tangkap bahwa cinta
yang  membebaskannya, Rana mengahambur mendapatkan pelukan Arwin, didekapnya erat-
erat. Rasanya bukan pelukan perpisahan, namun sebaliknya, pelukan seseorang yang kembali.
Ferre terhenyak ketika membaca selembar kertas yang berada dalam genggamannya yang
berisikan :

Tidak ada yang saya sesali. Saya harap kamu juga demikian.

Tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan ini semua. Saya yakin kamu mengerti.

Dan tidak ada yang saya cintai lebih dalam selain perasaan indah yang pernah kita miliki

(dan semoga masih akan terus kita miliki). Tapi saya bukan Puteri yang kamu cari.

Di satu titik, perasaan indah itu telah mengkristal, dan saya akan menyimpannya.

Selamanya.

Kamu adalah yang teristimewa, Ferre.

Kamu telah memberi saya kekuatan untuk mendobrak belenggu itu. Sekarang saya bebas.

Tapi, tidak berarti kita harus berjalan bersama.

Ijinkan aku kembali  berjalan di setapak kecilku.

Rana.

Ferre merasa terguncang dengan adanya surat tersebut. Ia tadinya bermaksud untuk
mengakhiri hidupnya dengan sepucuk pistol yang ia koleksi, ternyata  tak didasarinya bahwa
tetangga depan, yang ternyata Diva seorang peragawati tenar tangah mengamati
perbuatannya. Tetapi niatnya tersebut diurungkannya. Berhari-hari ia tidak makan, minum
keluar rumah, bahkan pekarangan rumahnyapun sepi, para tetangga menyangka Ferre telah
mengakhiri hidupnya. Sehingga mereka berkumpul di halaman depan, ingin meyakinkan apa
sebenarnya yang terjadi pada Ferre. Setelah sahabatnya Ale menelpon Ferre, Feree akan
membukakan pintu depan asalkan para tetangganya bubar. Ternyata di dalam kerumunan itu
terdapat Diva, yang ternyata tetangga Ferre, hanya saja Ferre tidak menyadari dan mengenal
Diva secara jauh.

Setelah kejadian tersebut ternyata Ferre dan Diva menjadi sahabat yang baik dan akrab.
Mereka merasa senang mendapatkan tetangga yang saling pengertian. Tetapi Diva tetaplah
Diva yang tidak mau terikat oleh seseorang meskipun oleh Ferre sekalipun. Ia adalah seorang
peragawati profesional, seorang penjual komoditas yang handal. Ferre bersedia membantu
Diva yang ingin mendirikan sekolah yang mencerdaskan pembelajarnya. Ferre akhirnya dapat
hidup secara normal lagi tanpa harus teringat akan Rana, yang meniti jalan setapaknya.

 
 

Analisis Intrinsik

Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan novel Supernova ini adalah sebagai berikut.

Ruben      : keras kepala, haus akan ilmu pengetahuan, pelajar yang gigih mempertahankan
pendapatnya, sinis, ia adalah seorang yang menyukai jenisnya.

Dhimas    : lemah lembut, pengalah, pintar, mencintai sastra, pandai mengapresiasikan sastra,
ulet dan tekun, ia seorang yang menyukai jenisnya.

Ferre        : muda, kreatif, gila kerja, metropolis, urban, gigih dan giat, gila teknologi, ambisi,
ganteng, kaum borjuis, menyukai lawan jenis yang telah mempunyai suami.

Rana        : muda, kreatif, gila kerja, feminim, cantik, lugu, naif, perasa, tidak dapat menahan
perasaan ketika ia mulai jatuh cinta kepada pria yang bukan suaminya.

Diva        : muda, cantik, agresif, pintar, gila kerja, metropolis, cu’ek, berani menggambil risiko,
dermawan, dengan kecantikannya, kemolekan tubuhnya ia menjual dirinya menjadi seorang
peragawati profesional dan merangkap sebagai seorang pelacur kelas papan atas.

Arwin       : muda, ningrat, taat adat, penyabar, pengertian, setia, ganteng, ulet dan rajin, ia
memiliki sifat yang penyabar sehingga mengetahui istrinya selingkuh ia menyadari betul akan
arti kebahagiaan istrinya, ia tidak marah, malah ia mengijinkan istrinya untuk bersatu dengan
selingkuhannya. Ia adalah tipe pria idaman setiap wanita, ia terlahir dari keluarga ningrat.

Ale          : urakan, sahabat setia, gagah, ia sangat menghargai persahabatan, hal tersebut
terlihat dengan mendukung Ferre dalam berbagai hal. Ia sangat beruntung dalam soal
percintaan, ia memiliki seorang kekasih yang sangat pengertian.

Gio          : laki-laki yang suka tantangan, mandiri, polos dalam pergaulan sex, ganteng,
mempunyai hobi hiking, selalu menjelajah alam, ia adalah pacar dari seorang Diva, enak diajak
berbicara, pria yang romantis.

 
Tokoh dan penokohan yang terdapat dalam novel Supernova dibedakan berdasarkan jenisnya
sebagai berikut.

a.     Tokoh utama adalah Dhimas dan Ruben, Ferre, Rana.Tokoh tambahan adalah Arwin, Diva
Ale dan Gio. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel dan
selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot secara
keseluruhan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculan dalam keseluruhan cerita
cenderung sedikit, tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitan dengan
tokoh utama, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

b.    Tokoh antagonis adalah Dhimas, Ruben, Rana, Ferre, Diva. Tokoh protagonisadalah Arwin.


Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik. Tokoh protagonis adalah tokoh
yang kita kagumi, yang dapat dikatakan pahlawan (hero) atau tokoh yang merupakan
pengejewantahan nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh ini menampilkan sesuatu yang sesuai
dengan pandangan kita, harapan-harapan kita sebagai pembaca. Akan tetapi dalam tokoh
Arwin pembaca sangat mengagumi perasaan cintanya kepada Rana yang dengan iklas
merelakan Rana untuk dapat bersatu dengan Ferre. 

c.     Tokoh sederhana adalah Ferre, Rana, Arwin, Gio dan Ale. Tokoh kompleksadalah Dhimas,
Ruben, Diva. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu,
satu sifat yang tertentu saja, contohnya Arwin ia memiliki sifat setia dan sabar kepada istrinya,
ia tidak memiliki sifat yang lain lagi. Tokoh kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap
berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Tokoh ini lebih sulit
dipahami, terasa kurang familier, tingkah lakunya tak terduga, penuh  kejutan.

d.    Tokoh statis adalah Ale, Gio, Arwin. Tokoh berkembang adalah Ruben, Dhimas, Ferre, Rana
dan Diva. Tokoh Statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan,
tokoh ini tampak seperti kurang terlibat dan terpengaruh oleh adanya perubahan-perubahan
lingkungan yang trejadi karena adanya hubungan antar manusia. Tokoh ini relatif memiliki
watak dan sikap yang relatif tetap, tak berkembang, sejak awal sampai akhir cerita. Sedangkan
tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan
perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa serta plot yang dikisahkan.
Ia berinteraksi dengan lingkungannya baik lingkungan sosial, alam, maupun yang lainnya, yang
kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak dan tingkah lakunya.

Tema

Tema utama dalam novel Supernova ini adalah tentang perselingkuhan, antara Ferre dan


Rana. Tema tambahan yang terdapat dalam novel Supernova adalah tentang percintaan yang
tak wajar (sesama jenis) yaitu antara tokoh Ruben dan Dhimas. Masalah kesetiaan seorang
suami (Arwin) dan kesetiaan seorang sahabat (Ale).
 

Latar atau Setting

Dalam novel Supernova ini digunakan latar cerita di Indonesia, khususnya Jakarta, Bandung dan
Amerika Serikat. Tokoh Dhimas dan Ruben diceritakan sedang bersekolah di Amerika Serikat
sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa mereka berkeinginan untuk menciptakan
sebuah karya sastra spekatakuler yang menceritakan tentang perselingkuhan yang berlatarkan
di Indonesia terutama di Jakarta.

Alur atau Plot

Alur atau plot adalah dalah urutan cerita, kejadian atau jalannya cerita yang terdapat dalam
novel. Plot juga dapat diartikan sebagai struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun
secara logis. Plot dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagaimana uraian berikut.

a.     Berdasarkan kriteria urutan waktu, untuk novel Supernova ini menggunakan plot atau alur
campuran yaitu plot atau alur maju dengan plot sorot balik. Alur atau plot maju, artinya
peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa-peristiwa yang pertama
diikuti oleh peristiwa yang kemudian. Dengan ungkapan lain, secara runtut cerita dimulai
dari tahap awal (pengembangan situasi, pengenalan tokoh dan peristiwa, pemunculan
konflik); tahap tengah (konflik meningkat, klimaks) dan tahap akhir (penyelesaian). Dalam
novel ini terdapat pula plot sorot balik, tetapi porsinya lebih sedikit, dan hanya bersifat
mengingatkan atau memberitahukan kepada pembaca tentang asal-muasal permasalahan. Plot
sorot balik hanya bersifat memberitahukan kejadian awal saja.

b.    Berdasarkan kriteria jumlah, novel Supernova ini menggunakan sub-subplot artinya dalam


novel ini memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan. Dengan ungkapan lain, terdapat
lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidupnya, dengan lebih dari satu
permasalahannya dan konflik yang dihadapinya. Yang menjadi plot utama (main plot) adalah
kisah Dhimas dan Ruben, sedangkan yang menjadi plot-plot tambahan (sub-subplot) adalah
kisah Ferre dan Rana. Subplot di sini merupakan bagian dari plot utama. Ia berisikan cerita
“kedua” yang ditambahkan dan bersifat memperjelas serta memperluas pandangan terhadap
plot utama. Sub-subplot ini mendukung efek seluruh cerita.

c.     Berdasarkan kriteria kepadatan, novel Supernova ini termasuk kepada plot padat, artinya


cerita disajikan secara cepat, peristiwa-peristiwa fungsional terjadi susul-menyusul dengan
cepat, hubungan antarperistiwa juga terjalin secara erat, dan pembaca dipaksa untuk terus-
menerus mengikutinya. Hubungan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya berkadar
fungsional tinggi, tak dapat dipisahkan atau dihilangkan salah satunya. Jika pemisahan itu
dilakukan, pembaca akan merasa kehilangan cerita, kurang dapat memahami hubungan sebab
akibat, atau bahkan kurang memahami cerita secara keseluruhan.

d.    Berdasarkan kriteria isi, novel Supernova termasuk ke dalam plot pemikiran artinya dalam


plot ini mengungkapkan sesuatua yang menjadi bahna pemikkiran, keinginan, perasaan dan
berbagai macam obsesi, dan lain-lain hal yang  menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia. 

Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) adalah cara dan atau pandangan yang digunakan pengarang
sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang
membentuk cerita. Hakekatnya merupakan strategi, tehnik, siasat, yang secara sengaja dipilih
pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Dalam novel Supernova ini sudut
pandang yang digunakan adalah pandangan orang pertama atau “aku” yang menjadi tokoh
utama. Hal tersebut terlihat dengan adanya “si aku” yang menjadi tokoh utama praktis menjadi
tokoh protagonis ataupun antagonis. Hal itu memungkinkan pembaca menjadi merasa benar-
benar terlibat. Pembaca akan mengidentifikasikan dirinya menjadi tokoh “aku”. Dengan
demikian, tokoh akan memberikan empati secara penuh kepada pembaca. Pembaca akan
merasakan peristiwa yang dialami tokoh walau hanya secara imajinatif. Pembaca akan ikut
mengalami dan merasakan semua petualangan dan pengalaman si “aku”.

Amanat

Amanat atau pesan moral yang akan disampaikan pengarang kepada pembaca dalam
novel Supernova ini adalah tentang pesan religius atau agama, meskipun mereka bersekolah
jauh di luar negeri akan tetapi agama yang dianut harus tetap dipegang teguh. Meskipun
pengetahuan manusia sudah canggih, agama jangan sampai dinomorduakan. Terlihat dengan
adanya tokoh Dhimas dan Ruben mereka terseret menjadi dua kekasih yang sebenarnya
menurut agama manapun tidak dibenarkan berpacaran dengan sesama jenis. Kemudian tokoh
Ferre dan Rana mereka melanggar aturan agama, mereka selingkuh.Selain itu terdapat kritik
sosial yang pedas yang disamapaikan secara langsung oleh tokoh Diva. Ia menyoroti tentang
kepincangan yang terjadi di masyarakat. Kita sebagai pembaca diberikan pesan agar lebih peka
terhadap keadaan orang yang tidak mampu.

Gaya Penulisan

Bahasa yang digunakan dalam penulisan novel Superova ini adalah bahasa tidak baku (gaul).
Bahasa novel ini terkadang diselingi oleh istilah sains. Sekalipun demikian, novel ini enak dibaca
justru mungkin karena bahasa yang digunakannya tidak baku atau bahasa gaul. Dengan
demikian, pembaca merasa terbuai, dan terhanyut di dalam kisah yang disajikan penulis.