Anda di halaman 1dari 5

KUALITAS SEBAGAI ALTERNATIF

PENINGKATAN DAYA SAING

Untuk menghadapi persaingan yang kelasnya lebih tinggi dibutuhkan


persiapan yang jauh lebih matang.
Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, manusia, tenaga kerja, proses dan tugas serta lingkungan yang
memiliki atau melebihi harapan atau konsumen.
Berikut ini akan diulas dan dipaparkan peranan kualitas sebagai
alternatif peningkatan sumber daya saing.

A. KUALITAS PROFITABILITAS DAN DAYA SAING


Kualitas dapat mengurangi biaya, adanya pengurangan biaya ini pada
gilirannya akan memberikan keunggulan kompetitif berupa peningkatan
profitabilitas dan pertumbuhan. Kemudian kedua faktor ini dapat
memberikan sarana dan prasarana bagi investasi lebih lanjut dalam hal
perbaikan kualitas, misalnya untuk riset dan pengembangan.
Secara sederhana manfaat dari kualitas yang superior antara lain
sebagai berikut :
1. Loyalitas pelanggan yang lebih besar.
2. Pangsa pasar yang lebih besar.
3. Harga saham yang lebih tinggi.
4. Harga yang lebih tinggi.
5. Produktivitas yang lebih besar.

B. KOMPONEN PENUNJANG DAYA SAING

Telah dijelaskan pada pengantar bahwa kualitas menggambarkan


potensi yang dimiliki, dalam rangka persaingan sepatutnya memahami
dan menghayati apa saja yang menjadi acuan dalam memasuki dunia
persaingan yang begitu sangat ketat yang terdiri dari 3 (tiga) komponen,
yaitu :
1. Kebijakan
Kebijakan merupakan keputusan yang harus diambil organisasi untuk
memenangkan persaingan. Tanpa kebijakan berarti belum melangkah
menuju ke medan perang, dan sumber daya apa saja yang harus
digunakan untuk merebut kemenangan. Berkualitas tidaknya kebijakan
akan menentukan kemenangan di medan perang. Pembuatan
kebijakan akan sangat menentukan sasaran jangka pendek maupun
sasaran jangka panjang dari suatu organisasi.

2. Teknologi
Teknologi termasuk salah satu komponen penunjang daya saing.
Memasuki era globalisasi dan era informasi saat ini, teknologi
khususnya teknologi informasi menjadi komponen utama untuk
memenangkan persaingan. Sering juga disebut sebagai era teknologi
informasi, karena tanpa teknlogi informasi akan lenyap karena
kejamnya persaingan.

3. Sumber Daya Manusia (SDM)


Sumber daya manusia sebagai komponen penunjang daya saing,
termasuk yang menentukan guna memenangkan persaingan di era
saat ini. Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi pilihan atau
rebutan dari suatu organisasi. Organisasi yang membutuhkan SDM
yang berkualitas menjadikan persaingan dalam memperebutkannya,
dengan segala fasilitas yang ditawarkan untuk maksud tersebut.
Kompetensi yang dimiliki SDM akan sangat menentukan derap
langkah suatu organisasi menuju medan persaingan, sehingga SDM
sebagai komponen utama memasuki era saat ini.
4. BUDAYA KUALITAS SEBAGAI PENUNJANG DAYA SAING
Kualitas yang telah disepakati dalam suatu organisasi akan menjadi
budaya dalam organisasi tersebut, untuk menuju kondisi tersebut
memerlukan proses pergerakan ataupun perlawanan para anggota
organisasi tersebut. Proses menuju budaya kualitas sebagai berikut :

1. Mekanisme perubahan budaya


Proses ini memerlukan tahapan-tahapan jangka pendek
maupun jangka panjang, semuanya sangat tergantung warga
organisasi. Tahapan perubahan yang cepat dan lambat semuanya
akan terdapat untung dan rugi bagi organisasi, yang terpenting
kesiapan semua anggota organisasi sehingga mekanisme dapat
berjalan dengan lancar. Warga organisasi yang bertekad dan
komitmen membangun kualitas memerlukan waktu yang tidak terlalu
lama, yang penting menyadari saat ini telah berada di era globalisasi
yang penuh dengan persaingan. Untuk memenangkan persaingan
dibutuhkan SDM yang berkualitas, karena SDM yang berkualitas yang
mampu menghadapi dan memenangkan persaingan. Dengan
demikian mekanisme perubahan budaya menjadi budaya kualitas
suatu keharusan guna tidak tersisihkan dari persaingan dan guna
memenangkan. Misalnya suatu perguruan tinggi yang menganut
budaya tradisional menuju budaya kualitas dalam proses belajar
mengajar. Proses pembelajaran yang menggunakan transparansi
menuju menggunakan/berbasis teknologi informasi. Mekanisme
perubahan ini biasanya akan mendapat perlawanan dari dosen-dosen
senior/tua, karena perubahan tersebut membuat dosen senior/tua
akan tersiksa. Inventarisasi pada masing-masing perguruan tinggi
mengenai perubahan budaya akan berbeda-beda sangat tergantung
karakteristiknya.

2. Penolakan terhadap perubahan budaya


Penjelasan di atas telah menggambarkan mekanisme
perubahan budaya kemungkinan mulus dan tidak mulus
perubahannya. Perubahan budaya yang mulus mungkin proses waktu
dapat cepat atau lambat, sedangkan perubahan budaya yang tidak
mulus akan melalui pertentangan yang lama. Kedua hal tersebut
mengandung penolakan, kalau yang mulus unsur penolakan tidak
terlalu lama dan yang tidak mulus unsur penolakan cukup lama dan
dapat terjadi pertentangan selamanya.

3. Pembentukan budaya kualitas


Untuk mengubah budaya organisasi dari yang tradisional
menjadi budaya kualitas diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang dibutuhkan
2. Menuliskan perubahan-perubahan yang direncanakan
3. Mengembangkan suatu rencana utk melakukan perubahan.
4. Memahami proses transisi emosional
5. Mengidentifikasi orang kunci dan menjadikan mereka
pendukung perubahan.
6. Menerapkan hearts and minds approach.
7. Menerapkan strategi courtship (kemesraan).
8. Memberikan dukungan.

(1) Mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan, (2)


Menuliskan perubahan-perubahan yang direncanakan.