Anda di halaman 1dari 7

Akuntansi dan Manajemen Pajak

RESTRUKTURISASI HUTANG

DISUSUN OLEH :

Julius Sandhika W 2004130195


Sheila Casta Salawas 2007130051
Deasy Lestari 2007130144
Hendy Crhisyanto 2007130160

Kelas A

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


FAKULTAS EKONOMI
BANDUNG
2010
Restrukturisasi Hutang

Pengertian

Restrukturisasi adalah menyusun ulang.

Utang adalah sesuatu yang dipinjam. Seseorang atau badan usaha yang meminjam
disebut debitur. Entitas yang memberikan utang disebut kreditur.

Istilah kredit berasal dari bahasa Latin “credere” (“credo” dan “creditum”) yang
kesemuanya berarti kepercayaan.

Kreditur adalah pihak ( perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang


memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang
diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) dimana diperjanjikan bahwa
pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak
kedua ini disebut sebagai peminjam atau yang berhutang.

Secara singkat dapat dikatakan pihak yang memberikan kredit atau pinjaman
kepada pihak lainnya. Terminologi kreditur ini sering digunakan pada dunia keuangan
khususnya merujuk pada pinjaman jangka pendek, obligasi jangka panjang, dan hak
tanggungan.

Istilah debit berasal dari bahasa Latin “debitum” yang berarti berhutang.

Debitur adalah pihak yang berhutang ke pihak lain, biasanya dengan menerima
sesuatu dari kreditur yang dijanjikan debitur untuk dibayar kembali pada masa yang akan
datang. Pemberian pinjaman kadang memerlukan juga jaminan atau agunan dari pihak
debitur. Jika seorang debitur gagal membayar pada tenggat waktu yang dijanjikan, suatu
proses koleksi formal dapat dilakukan yang kadang mengizinkan penyitaan harta milik
debitur untuk memaksa pembayaran.

Dalam makalah ini penulis membatasi pembahasan hanya pada restrukturisasi


hutang saja agar lebih mendalam dan yang berhubungan dengan perpajakan.
Pengertian Restrukturisasi Hutang

Restrukturisasi hutang merupakan suatu proses untuk merestruktur hutang


bermasalah dengan tujuan untuk memperbaiki posisi keuangan debitur dan untuk
meminimalisasikan kerugian kreditur.

Restrukturisasi hutang adalah pembayaran hutang dengan syarat yang lebih lunak
atau lebih ringan dibandingkan dengan syarat pembayaran hutang sebelum dilakukannya
proses restrukturisasi hutang, karena adanya konsesi khusus yang diberikan kreditur
kepada debitur. Konsesi semacam ini tidaklah diberikan kepada debitur apabila debitur
tersebut tidak dalam keadaan kesulitan keuangan. Konsesi semacam ini dapat berasal dari
perjanjian antara kreditur dengan debitur, atau dari keputusan pengadilan, serta dari
peraturan hukum.

Restrukturisasi hutang perlu dilakukan untuk mengatasi kredit yang bermasalah


yang sedang dialami oleh perusahaan, baik perusahaan manufaktur, perusahaan jasa,
maupun perusahaan dagang. Kredit yang bermasalah ini mempunyai dampak yang sangat
luas terhadap seluruh aspek perekonomian. Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul
akibat dari adanya kredit macet ini, pemerintah Indonesia memberikan atau
memprioritaskan untuk melakukan restrukturisasi hutang pada sektor perbankan dengan
pertimbangan bahwa sektor perbankan diumpamakan. Sebagai jantungnya perekonomian
Indonesia, yang dimana apabila perbankan tersebut sehat maka perekonomian negara pun
juga mengarah ke arah yang positif dan akan berdampak ke semua sektor perekonomian.

Dari sisi debitur, restrukturisasi hutang merupakan suatu tindakan yang perlu
diambil sebab perusahaan tidak memiliki lagi kemampuan atau kekuatan untuk memenuhi
commitment-nya. kepada kreditur. Commitment yang dimaksud adalah dimana debitur
tidak dapat lagi memenuhi perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dengan kreditur,
sehingga mengakibatkan gagal bayar. Dan apabila perusahaan tidak melakukan
restrukturisasi hutangnya maka akan timbul wanprestasi atau cacat yang dapat
mengakibatkan masalah besar bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Dampak yang
akan timbul tersebut, antara lain:

1. Pihak debitur akan mengalami kesulitan untuk memperoleh dana di masa yang
akan datang nantinya.
2. Nilai saham yang dimiliki oleh pihak debitur akan mengalami penurunan,
disamping itu nilai usaha yang dimilikinya pun juga akan mengalami penurunan
nilai.
3. Pihak kreditur dapat mengumumkan bahwa pihak debitur yang bermasalah
tersebut sudah pailit atau bangkrut.
4. Beban dan biaya yang dikeluarkan oleh pihak debitur akan dapat membengkak
atau lebih besar daripada biasanya di dalam memperoleh dana di masa yang akan
datang.
5. Pihak debitur akan memiliki reputasi yang jelek di dalam dunia usaha.

Alasan Restrukturisasi

Alasan untuk diadakannya restrukturisasi hutang bagi pihak debitur adalah sebagai
berikut:

1. Untuk dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing yang lebih bagus.
Penataan dan perbaikan sektor keuangan perusahaan akan dapat dicapai apabila
perusahaan tersebut dalam kondisi sehat, efisiensi, dan kuat.
2. Dengan melakukan proses restrukturisasi hutang maka perusahaan akan dapat
memiliki lebih banyak lagi alternatif pilihan pembayaran, yaitu caranya
berunding dengan kreditur dan melalui suatu argument yang cukup, sehingga
tercapai kesepakatan atau win-win soluation. Argument yang dimaksud adalah
dimana pihak debitur mampu menunjukan bahwa keadaannya benar-benar
dalam posisi kesulitan keuangan.

Jenis Hutang

Ada beberapa jenis hutang yang perlu direstrukturisasi, diantaranya:

 Kredit kurang lancar : kredit yang masih bisa dibayar oleh kreditur, namun
pembayarannya tidak sesuai dengan jatuh tempo yang disepakati sebelumnya.
 Pinjaman yang diragukan : pinjaman yang sudah diragukan kemampuan sang
debitur untuk membayar pokok pinjaman beserta bunganya.
 Pinjaman yang macet : pinjaman yang sudah benar-benar tidak bisa dilunasi
oleh sang debitur.
Proses Restrukturisasi

Menurut IAI dalam PSAK No.54 (1999: 1), restrukturisasi hutang bermasalah
terjadi jika berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum, kreditur memberikan konsesi
khusus kepada debitur yaitu onsesi yang tidak akan diberikan dalam keadaan tidak
terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. Konsesi ini dapat berasal dari perjanjian
antara kreditur dan debitur, atau dari keputusan pengadilan, atau dari peraturan hukum.
Restrukturisasi hutang bermasalah dapat terjadi sebelum, pada, atau sesudah tanggal jatuh
tempo hutang yang tercantum dalam perjanjian, dan akan terdapat rentang waktu diantara
saat perjanjian, keputusan pengadilan, dan sebagainya. Dengan tanggal efektif persyaratan
baru atau terjadinya peristiwa lain yang merupakan pelaksanaan restrukturisasi, yang
dimaksud dengan ini yaitu tanggal efektif pelaksanaan merupakan saat restrukturisasi.

Model Restrukturisasi Hutang

Dalam dunia usaha ada beberapa metode restrukturisasi hutang perusahaan antara lain
yaitu:

1. Reschedulling
Reschedulling adalah upaya untuk memperpanjang jangka waktu dalam
pengembalian hutang atau penjadwalan kembali terhadap hutang debitur pada
pihak kreditur. Dan ini biasanya dengan cara memberikan tambahan waktu lagi
kepada debitur di dalam melakukan pelunasan hutangnya,
2. Debt To Asset Swap
Debt To Asset Swap merupakan pengalihan harta yang dimiliki oleh pihak debitur
dimana pihak debitur sudah tidak sanggup lagi untuk melunasi kewajibannya lagi
kepada pihak-pihak yang memberi pinjaman kepadanya. Dan pengalihan harta
atau aset yang dimiliki oleh debitur ini ditujukan untuk dikuasai oleh kreditur,
pihak bank, atau BPPN. Penguasaan atas aset ini bersifat sementara waktu saja,
yaitu sampai nanti betul-betul terjual dan dapat dipakai untuk melunasi hutang
debitur,
3. Debt To Equity Swap
Debt To Equity Swap merupakan suatu langkah yang diambil oleh pihak kreditur
karena kreditur tersebut melihat dan mengamati bahwa perusahaan dari debitur
yang mengalami masalah keuangan tersebut mempunyai nilai ekonomi yang
sangat bagus di masa yang akan datang, dan ini merupakan cara yang bagus bagi
kreditur untuk menambah laba, yaitu dengan cara reklasifikasi tagihan debitur
menjadi penyertaan
4. Hair Cut
Hair Cut merupakan potongan atau pengurangan atas pembayaran bunga dan
hutang yang dilakukan oleh pihak debitur, Pihak kreditur menyetujui
restrukturisasi hutang debitur dengan metode hair cut karena untuk
mengantisipasi kerugian yang lebih besar jika pihak debitur tidak dapat
membayar hutangnya yang terlampau besar tersebut, misalnya hutang debitur
tersebut tidak dapat lagi terbayar semuanya, jika hal ini sampai terjadi maka pihak
kreditur akan mengalami kerugian yang cukup membawa pengaruh dalam dunia
usahanya. Sedangkan jika dilihat dari pihak debitur, debitur sangat senang karena
kewajibannya dapat berkurang sehingga beban yang harus dikeluarkan
perusahaan pun dapat ditekan.

Dalam menentukan dan memilih metode yang sesuai dalam melakukan


restrukturisasi hutang maka sangat tergantung pada tujuan dari pihak debitur dan kreditur.
Apabila pada pihak debitur sudah tidak mempunyai lagi prospek pada usahanya di masa
yang akan datang secara pasti maka pemilik maupun para pengelola perusahaan mungkin
akan mengambil keputusan untuk tidak mengambil langkah restrukturisasi hutangnya
karena perusahaan sudah tidak lagi mempunyai nilai ekonomi lagi dan apabila tetap
melakukan restrukturisasi hutangnya bisa-bisa terjadi pemborosan dana. Dan jika dilihat
dari pihak kreditur mereka akan meiihat upaya restrukturisasi hutang debitur tersebut
sebagai suatu tindakan yang tidak ekonomis dan efisien sebab perusahaan debitur tersebut
sudah tidak memiliki prospek yang bagus di masa yang akan datang. Banyak faktor-faktor
yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan oleh kedua belah pihak sebelum melakukan
restrukturisasi.
Peraturan mengenai Restrukturisasi Hutang

Restrukturisasi hutang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2001


mengenai pemberian keringanan Pajak Penghasilan kepada Wajib Pajak yang melakukan
restrukturissi utang usaha melalui lembaga khusus yang dibentuk pemerintah.
Restrukturisasi hutang hanya dapat dilakukan oleh Satuan Tugas Prakarsa Jakarta.

Keringanan pajak diberikan pada kreditur dan juga debitur berdasar rekomendasi
Komite Kebijakan Standar Keuangan yang berada di bawah koordinasi Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian.

Selain itu, dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (1) huruf k
mengatur pembebasan pajak dengan mengurangi Pendapatan Kena Pajak debitur sebesar
pembebasan pajak yang diterima debitur bagi debitur yang menerima pembebasan hutang
hinga batasan 350 juta Rupiah. (Pembebasan itu tidak menjadi penghasilan bagi debitur)

Kreditur juga menerima keringanan pajak berupa pengurangan penghasilan sebesar


pembebasan pajak yang diberikan kreditur seperti diatur di dalam UU PPh pasal 6 ayat (1)
huruf h. Hal ini juga berlaku bagi pembebasan bunga. ( Tidak akan mengurangi peghasilan
kena pajak kreditor)

Berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor Kep. 28/PJ71999 :


pengakuan penghasilan atas pembebasan hutang bagi wajib pajak tertentu memutuskan
bahwa keuntungan dari penghapusan hutang dari kreditur dalam pelaksanaan program
pemerintah, pengakuan penghasilan atas penghapusan hutang tersebut dapat diakui
bertahap selama 5 tahun, tiap tahun sebesar 20% dari total penghapusan hutang.

Kreditur juga dapat memilih untuk mengakui keuntungan pembebasan hutang


tersebut secara sekaligus. Kreditur harus melaporkan hal ini kepada Kantor Pelayanan
Pajak setempat, jika tidak, maka kreditur akan dianggap mengakui keuntungan
pembebasan hutang tersebut secara sekaligus.

Penghapusbukuan dan Pembebebasan Hutang

 Penghapusbukuan : Kreditur menghapus hutang debitur tanpa menghilangkan


kewajiban debitur.
 Pembebebasan Hutang : Kreditur membebaskan debitur dari kewajiban melunasi
hutangnya pada kreditur.