P. 1
BAB 4 Persediaan

BAB 4 Persediaan

|Views: 5,131|Likes:
Dipublikasikan oleh Melisa Witaryo

More info:

Published by: Melisa Witaryo on Dec 09, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

Akuntansi Dasar 2 - Modul

BAB 4 Persediaan – (inventory)
Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian persediaan 2. Menjelaskan sistem akuntansi dalam persediaan 3. Menjelaskan bagaimana persediaan dinilai 4. Menghitung nilai persediaan akhir sistem periodik dan sistem perpetual dengan metode FIFO, LIFO dan rata-rata (average) 5. Menjelaskan perhitungan harga pokok penjualan dan laba kotor

PENGERTIAN PERSEDIAAN
Persediaan barang dagangan (merchandise inventory) merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali dalam kegiatan operasional normal perusahaan. Persediaan pada perusahaan pabrikan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan dalam proses dan persediaan barang jadi. Dasar-dasar Persediaan Neraca dalam perusahaan manufaktur dan dagang menggambarkan persediaan merupakan aktiva lancar yang jumlahnya sangat besar. Laporan rugi laba, persediaan merupakan hal yang sangat menentukan keuntungan atau hasil usaha. Pendapatan kotor, (penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan) diawasi oleh manajemen perusahaan, pemilik maupun pihak-pihak lain. Karakteristik Persediaan Barang Dagangan 1. Persediaan Barang Dagangan dimiliki oleh perusahaan 2. Dalam bentuk siap untuk dijual Pengelompokan Persediaan dalam Lingkungan Pabrikan (manufacturing) 1. Persediaan pabrikan mungkin bukan merupakan persediaan yang siap dijual 2. Diklasifikasikan dalam tiga kategori: a. barang jadi, siap dijual kepada konsumen

@BCL@3C0A3668 (inventory)

48

Prosedur pendokumentasian. Persediaan barang dalam perjalanan. Kepemilikan barang masih berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli. penghitungan persediaan dilakukan oleh karyawan yang bukan bertugas mengawasi persediaan. FOB (Free on Board) destination point. sedang dalam proses produksi. Verifikasi intern yang independen. Pengelolaan Fisik Persediaan Prinsip-prinsip pengendalian intern untuk persediaan meliputi: 1. komponen atau bahan yang siap untuk digunakan dalam proses produksi Penentuan Kuantitas Persediaan Dalam mempersiapkan laporan keuangan perlu ditentukan: 1. 2. 4. masing-masing bagian dalam pengelolaan persediaan wajib menggunakan otorisasi yang otentik. beberapa tahap produksi (belum selesai) c. 3. FOB (Free on Board). @BCL@3C0A3668 (inventory) 49 . penghitungan ulang persediaan oleh petugas yang lain dan dilakukan penandaan terhadap item barang persediaan. menimbang atau mengukur jumlah barang persediaan secara fisik yang ada di perusahaan. shipping point. Kepemilikan barang. 2. Penandaan hanya dilakukan sekali. meliputi pihak yang berhak menerima persediaan. 2. Penyelenggaraan pertanggungjawaban. menggunakan penandaan barang dengan dokumen yang sudah dinomori sebelumnya (prenumbered) Kepemilikan Persediaan dalam Perjalanan 1. 3. Pemisahan tugas. Jumlah unit dalam persediaan dengan cara menghitung. bahan baku atau mentah. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.Akuntansi Dasar 2 .Modul b.

Sistem pencatatan ini pada akhir periode dibutuhkan ayat jurnal penyesuaian sebagai berikut: Untuk persediaan awal : Ikhtisar Rugi Laba (income summary) Persediaan (inventories) xxx xxx @BCL@3C0A3668 (inventory) 50 . Barang konsinyasi merupakan persediaan barang dagangan milik consignor. ataupun retur) 2. Sistem Akuntansi Persediaan 1.Modul GAMBAR 4.Akuntansi Dasar 2 .1 . Karakteristiknya: 1. Perpetual (perpetual inventory system) Sistem pencatatan perpetual selalu membuat catatan setiap terjadinya mutasi persediaan (pembelian. 2.Syarat Penjualan Barang Konsinyasi Konsinyasi: Pemegang atau penjual barang (consignee) bukan merupakan pemilik barang. penjualan. Periodik (periodic inventory system) Pada akhir periode akuntansi dengan menggunakan sistem pencatatan periodik harus melakukan pengecekan fisik terhadap persediaan (stock opname of inventories) dengan cara mengukur dan menghitung berapa jumlah barang yang ada di gudang. Kepemilikan tetap berada ditangan pemilik barang (consignor) sampai barang tersebut terjual. bukan persediaan milik consignee.

@BCL@3C0A3668 (inventory) 51 . b. masuk terakhir keluar pertama Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu.Modul Untuk persediaan akhir : Persediaan (inventories) Ikhtisar Rugi Laba (income summary) xxx xxx PENILAIAN PERSEDIAAN 1. Metode Rata-rata (average method) Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli. masuk pertama keluar pertama Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu. sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). LIFO (Last In First Out). c. FIFO (First in First Out).Akuntansi Dasar 2 . yaitu: a. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flow approach) Dalam pendekatan ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem perpetual yang masing-masing ada tiga cara penilaian persediaan. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah. Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.

Gross Profit Method Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Retail Method Metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran. b. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak normal. Lower Cost of Market Yaitu metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar. Nilaii persediaan akhir dengan harga pokok akan diketahui dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaan yang tersedia untuk dijual dengan pendekatan harga pokok dibandingkan dengan pendekatan ritel.Modul 2. misalnya cacat. misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas bawah (floor limit) dan tidak boleh lebih tinggi dari batas atas (ceiling limit). Pokok dari metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilai pasar (replacement value) dan nilai perolehan (cost). Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan persediaan akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran dapat dirumuskan sebagai berikut: @BCL@3C0A3668 (inventory) 52 . menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan pada persentase laba kotor yang telah diketahui dan menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok penjualan terhadap penjualan c. Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan. Nilai pasar yang akan dipilih harus dibatasi. Biasanya diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan. Dasar penilaian persediaannya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rata selama beberapa tahun. rusak dan kadaluarsa.Akuntansi Dasar 2 . yaitu: a. Langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1) 2) 3) mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan.

000 10.000 Rp.15.000 Rp.000 12.800.15.000 Rp.400. LIFO dan rata-rata (average)! b) Hitunglah harga pokok penjualan dan laba kotor! Jawaban : Persediaan Akhir 1.17.000 Harga/unit 9.000 Rp.000 Total Harga 1. 9.000 10.200.000.000 unit 700 unit 300 unit a) FIFO (masuk pertama keluar pertama) Persediaan akhir @BCL@3C0A3668 (inventory) 53 .000 Rp.Modul Barang sedia dijual menurut harga pokok Persediaan akhir menurut harga pokok = Barang sedia dijual menurut harga eceran X Persediaan akhir menurut eceran Contoh Soal: Tanggal 2 Jan 10 Maret 5 April 7 Mei 21 Sept 18 Nov 20 Nov 10 Des Keterangan Persediaan awal Pembelian Penjualan Penjualan Pembelian Pembelian Penjualan Penjualan Kuantitas 200 unit 300 unit 200 unit 100 unit 400 unit 100 unit 200 unit 200 unit Harga Rp.000 4.000 3.000 Rp. Sistem Periodik Persediaan awal (2 Jan 2001) Pembelian Barang tersedia untuk dijual Penjualan Persediaan akhir (31 Des 2001) Barang tersedia untuk dijual: Tanggal 02/01 10/03 21/09 18/11 Keterangan Persediaan awal Pembelian Pembelian Pembelian Unit 200 300 400 100 1.11.000 a) hitunglah nilai persediaan akhir (per 31 Desember 2001) sistem periodik dan sistem perpetual dengan metode FIFO.10.000 1.Akuntansi Dasar 2 .000 11.18.12.000 Rp.400.000 200 unit 800 unit 1.

200.000.800. 11.000 b) LIFO (masuk terakhir keluar pertama) Persediaan akhir Tanggal 02/01 10/03 Jumlah Unit 200 100 300 Harga/unit Total harga (Rp) Rp. 10.000.000 1.000 Rp.000 2.Modul Tanggal 21/09 18/11 Jumlah Unit 200 100 300 Harga/unit Total harga (Rp) Rp. 12.400.800.400.000 Total harga 1.000 9.000.000 2.200.000.000 Total harga 200 100 200 200 700 9.000.400.000 12.000 4.200. 10.000.000 10.000 1.000 12.000 unit = Rp.000 3.000 200 200 300 300 200 200 200 400 100 400 100 200 100 300 Total harga unit Persediaan Harga /unit 9.000 11.120.000 1.000 1.000 4.000 2.200.000 8.000.000 1.000 12.800.400 = 300 unit x Rp.000 1.200.000 / 1. 9.000 2.000 7. FIFO (masuk pertama keluar pertama) Tanggal unit 02/01 10/03 05/04 07/05 21/09 18/11 300 400 100 20/11 10/12 Total 800 Pembelian Harga /unit 10.400.000 1.000 4.800.000.200.000.000 3.000 10.000 3. 3.200.200.400.000 11.000 1.000 2.400 = Rp.000 unit Harga Pokok Penjualan Harga /unit 1.000 c) Rata-rata (average) Harga rata-rata per unit Persediaan akhir = Rp.000 10.000 10.000 1.000 2.000 3.000.400.000 10.800. Sistem Perpetual a.Akuntansi Dasar 2 .000 10. 10.000 2.000 11. 10.000 Rp.000 2.000 11.000 12.000 2.000 11.000 3.600.000 10.000 @BCL@3C0A3668 (inventory) 54 .

.000 11.880.000 10.400.000) 7.000 LIFO 1.100.000 9.740 10.000 1.000 1.000 1.200.000 9.000 11. LIFO (masuk terakhir keluar pertama) Tanggal unit 02/01 10/03 05/04 07/05 21/09 18/11 300 400 100 20/11 10/12 Total 800 Pembelian Harga /unit 10.000.800.000 1.000 1.000 1.800.400.000 7.000 1.000 1. Rata-rata (average) Tanggal unit 02/01 10/03 05/04 07/05 21/09 18/11 20/11 10/12 Total 300 400 100 800 Pembelian Harga /unit 10.000 10.000.120.800.000 @BCL@3C0A3668 (inventory) 55 .200.000 11.000 11.800.920.000 unit Harga Pokok Penjualan Harga /unit 2.000 3.000 4.000 4.600.000 (3.000.000 3.000 2.000 (2.000 Harga Pokok Penjualan 1.148.600 9.600.000 3.000 1.000 200 200 300 200 300 200 200 400 200 400 100 200 300 200 100 300 Total harga unit Persediaan Harga /unit 9.372.400.800.000 4.000 Total harga 1.600 9.000 1.000 9.920.224.000.000 7.960.000 11.Akuntansi Dasar 2 .000 11.400.400.200.300.000 11.000 12.000 Rata-rata 1.000) 7.100.800.530 10.800.000 2.000 9.000 7.000 4.600.000 1.000 3.740 unit Harga Pokok Penjualan Harga /unit 1.740 10.000 8.000.740 10.000.600 10.000 3.000 9.000 9.000 12.000 c.Modul b.000 4.000 10.000 (3.800.740 Total harga 1.520.000 2.000 8.000 8.000 3. Sistem Periodik FIFO Persediaan awal Pembelian Barang tersedia utk dijual Persediaan akhir Harga Pokok penjualan 1.600 9.600 10.000 9.000 12.000 1.000 12.148.000 1.400.000 2.600.000 Total harga 200 100 200 200 700 9.000 9.000 6.600.800.800.280.000 8.200.600.000 2.200.000 1.176.000 10.320.000 1.224.800.000) 7.000 Total harga 200 100 100 100 200 700 10.800.000 200 500 300 200 600 700 500 300 300 Total harga unit Persediaan Harga /unit 9.000 10.000 1.000 8.000 1.500.400.800.900.800.400.000 5.000 11.000 10.000.

000 Rata-rata 11.000 (7.500.280.000 11.000.600.600.000) 4. Sistem Perpetual FIFO Persediaan awal Pembelian Barang tersedia utk dijual Persediaan akhir Harga Pokok penjualan 1.600.900.400.500.000) 4. Rp.500.000 1.000 LIFO 1.000 (7. Periodik (FIFO) Mencatat Pembelian: Pembelian Utang usaha/Kas Rp. 15.224.500.000.000) 4.400.000 17.000 (7.000) 7.500. Sistem Perpetual FIFO Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor 11.500.000.000 Rata-rata 1.400. Sistem Periodik FIFO Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor 11. Rp.000 8.000 @BCL@3C0A3668 (inventory) 56 .000 18.000 10.000 8.500.Akuntansi Dasar 2 .000 (7.000.176.000 (7.000 Penjualan Tanggal 05/04 07/05 20/11 10/12 Total Unit 200 100 200 200 700 Harga/unit Rp.220.000) 4. Rp.400.000 15.600.800.176.000) 4.324. 8.000 10.000 10.000) 7.000.000) 7.600.000 Rata-rata 11.000 3.000 8.000 3.000 LIFO 11.000 (7.800.Modul 2.900.500.000 Jurnal 1.500.000 (3.000 Laba Kotor 1.000 2. 8.000 Total harga (Rp) 3.000 (3.000) 3.600.000 (2.500.500.800.500.000 Rp.400.000 LIFO 11.600.

10. termin 2/10.500. 11.n/30 Penjualan Kuantitas 100 unit 500 unit 100 unit 300 unit 100 unit 50 unit Harga Rp.n/30 Penjualan Pembelian. 1.n/60 Pembelian.800.000 Rp.000 Rp.000 Rp.000 Rp. 8.12.000 Rp.500. 11. 1. 7.000 Rp.600.000 Rp.000.800.000 Rp 20.400.Modul Mencatat Penjualan: Piutang Usaha/Kas Penjualan Penyesuaian untuk Persediaan: Ikhtisar Rugi Laba Persediaan Persediaan Ikhtisar Rugi Laba 2.500. 11.600.000 Rp. Perpetual (FIFO) Mencatat Pembelian: Persediaan Utang Usaha/Kas Mencatat Penjualan: Piutang Usaha Penjualan Harga Pokok Penjualan Persediaan Rp.30. 7. termin 2/10.000 Rp.000 KASUS 4.500. 3. Khatulistiwa selama bulan September 2008 sebagai berikut: Tanggal 1 Sept 5 Sept 12 Sept 22 Sept 27 Sept 30 Sept Keterangan Persediaan awal Pembelian.000 Rp.000 Rp.15.400.000.25.000 @BCL@3C0A3668 (inventory) 57 .1 Dibawah ini terdapat catatan mengenai persediaan PT.Akuntansi Dasar 2 . termin 5/10.000 Rp. 11. 8. 3.000 Rp.000 Rp.000 Rp.

2.000 Unit persediaan akhir: = Persediaan yang tersedia untuk dijual – unit terjual = 800 unit – 350 unit = 450 unit Nilai unit akhir: = 100 unit @ Rp.000 = Rp. 10.000 = 250 unit @ Rp.000 = Rp.000)+(500xRp.Modul Diminta: tentukan nilai persediaan akhir.Akuntansi Dasar 2 .000 = 100 unit @ Rp. 6.000.000 – Rp. harga pokok penjualan dan laba kotor jika diasumsikan perusahaan menerapkan sistem periodik FIFO dan sistem perpetual LIFO.000 450 unit Harga pokok penjualan: = Nilai persediaan yang tersedia untuk dijual – nilai persediaan akhir = Rp.500.500.15.12.500. 1.500.000)+(100xRp.20.000.000)+(100xRp. 12. 15.500. 10.000)] = Rp.000 = Rp.000.000 = Rp. 3. Jawaban : Periodik FIFO Persediaan yang tersedia untuk dijual (unit) ialah: = 100 + 500 + 100 + 100 = 800 unit Persediaan yang tersedia untuk dijual: = [(100xRp. 4.000 = Rp. 10.000 @BCL@3C0A3668 (inventory) 58 . 6. 20.

4.900.000.000.000 = Rp.2 Data yang berhubungan dengan persediaan PT.600.000.000 1.600.000 12. 9.330 Rp.000 10.Akuntansi Dasar 2 .000.000 1.000.000.000 1.000 1.000 – Rp.325 Rp.000 10.000.000.000 12.000.000 6.000 12.000 3.328 Rp.000 3.000 Total harga 1.000 2.000.500. 4.000 12. 4.000 20.000.000 unit Harga Pokok Penjualan Harga /unit 1.000.000 12.000 10.000 Pembelian Harga /unit 12.000 1.600.900.000 Total harga 100 200 50 350 15.600.900.000 6.000 20. Andromeda adalah sebagai berikut: Tanggal 1 Juli 8 Juli 9 Juli 13 Juli 19 Juli 23 Juli 25 Juli Keterangan Persediaan awal Pembelian Penjualan Pembelian Penjualan Pembelian Penjualan Kuantitas 55 unit 25 unit 60 unit 40 unit 30 unit 50 unit 10 unit Harga Rp.000 12.000 – Rp.000.600 Rp. 5.500.400.000 100 100 500 100 500 100 100 300 100 300 100 100 300 50 450 Total harga unit Persediaan Harga /unit 10.000 KASUS 4.000 10.000 15.000 2.000 Jadi dengan metode perpetual LIFO dapat diketahui hal-hal sebagai berikut: Nilai persediaan akhir Harga Pokok penjualan Laba kotor Rp.000.000 Perpetual LIFO Tanggal unit 01/09 05/09 12/09 300 100 22/09 27/09 100 30/09 Total 700 9.000 = Rp.000 4.000 1.000 15.000 20.000 1.000 = Rp.000 3.000 1.000 5.620 @BCL@3C0A3668 (inventory) 59 .000 Rp.000 6.100.Modul Laba Kotor: = Hasil penjualan – Harga pokok penjualan = Rp. 9.000 20.000. 4.500.000 10.000.400 Rp.500.000 2.000.320 Rp. 5.000 1.600.

Andromeda menggunakan penetapan harga pokok metode LIFO dengan sistem persediaan periodik dan perpetual. 325 = 70 unit = Rp.325)+(40xRp. 320)+(25xRp.475 Harga pokok penjualan = Nilai persediaan tersedia untuk dijual – nilai persediaan akhir = Rp.Modul Diminta: Hitunglah harga pokok persediaan pada 31 Juli 2005 jika PT.120+16.Akuntansi Dasar 2 . 55.500 = Rp.875 = Rp.345 Jumlah unit persediaan akhir = unit tersedia untuk dijual – unit yang terjual = 170 unit – 100 unit = 70 unit Nilai persediaan akhir (70 unit) = 55 x Rp.600 = Rp.870 @BCL@3C0A3668 (inventory) 60 . 22.345 – Rp. 32.125+13. 55.330) = 17. 320 = 15 x Rp.600+8.328)+(50xRp. 17. 4.475 = Rp. 22. Jawaban: Periodik LIFO Unit tersedia untuk dijual = 55 + 25 + 40 + 50 = 170 unit Nilai persediaan tersedia untuk dijual = [(55xRp.

6. 320=Rp.880 Rp.200 30 @ Rp. 320=Rp.125 20@Rp.328=Rp.400 40 @ Rp.320 = Rp.328=Rp. 8.6. 320=Rp.745 100 unit Rp.870 = Rp.120 20@Rp.870 = Rp.6.125 40 @ Rp.328=Rp 3.6.325 = Rp.8.280 20@Rp.840 - Saldo 55@Rp.735 @BCL@3C0A3668 (inventory) 61 .328 = Rp.16.200) – Rp.13.320=Rp.465 70 unit Rp. 48.465 = Rp.000+18.37.32.Akuntansi Dasar 2 .870] = (24.000+6. 320=Rp.400 10@Rp.200 – Rp.880 Harga pokok penjualan Persediaan akhir Jadi dengan menerapkan metode perpetual LIFO dapat diketahui sebagai berikut: Nilai Persediaan akhir sebesar Harga pokok penjualan sebesar Laba Kotor Rp.330 = Rp.330 Perpetual LIFO Tgl 01/07 08/07 09/07 13/07 19/07 23/07 Pembelian 25 @ Rp.17.13. 11.328 = Rp.6.400 10@Rp.32.13.32. 320=Rp.328=Rp 3.120 50 @ Rp. 15.500 Penjualan 25 @ Rp. 9.280 5@ Rp.17.200 – Rp.325=Rp.48.400 10@Rp. 3.500 25/07 10 @ Rp.600 55@Rp.125 35@ Rp. 330 = Rp. 32.280 40@Rp.32.320=Rp. 5.330 = Rp.600 25@ Rp.465 = Rp.Modul Laba Kotor = Hasil penjualan – harga pokok penjualan = [(400x60)+(600x30)+(620x10) – Rp.325 = Rp.3.22. 32.8.300 20@Rp. 22.200 31/07 115 unit Rp.400 20@Rp. 16.330=Rp.

500 unit 800 unit 1.9.200 unit 800 unit Harga Rp.230 Rp. Catatan akuntansi PT.000 Rp.Akuntansi Dasar 2 .6.500 Rp. Galactica menunjukkan pembelian dan pemakaian bahan dalam bulan Maret 2007 adalah sebagai berikut: Tanggal 1 Maret 4 Maret 8 Maret 11 Maret 25 Maret 30 Maret Keterangan Persediaan awal Pembelian Pembelian Penjualan Pembelian Pembelian Kuantitas 200 unit 300 unit 100 unit 250 unit 300 unit 300 unit Harga Rp.300 Rp.170 Rp. 2.330 Diminta: Hitung persediaan akhir:harga pokok penjualan. @BCL@3C0A3668 (inventory) 62 .6.Modul Soal-soal Latihan 1.250 Rp.400 unit 600 unit 1. Integro mencatat transaksi-transaksi persediaan selama periode bulan November 2004 sebagai berikut: Tanggal 1 Nov 3 Nov 4 Nov 8 Nov 9 Nov 11 Nov 13 Nov 23 Nov 29 Nov Keterangan Pembelian Penjualan Pembelian Pembelian Penjualan Penjualan Pembelian Penjualan Pembelian Kuantitas 600 unit 500 unit 1.200 Rp.5.000 Rp.6.500 Diminta : hitunglah jumlah persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP) dengan menggunakan metode periodik dan perpetual FIFO.6.10.200 unit 1.10.9.000 Rp. metode periodik dan perpetual LIFO. PT. dan laba kotor jika perusahaan menerapkan FIFO periodik dan rata-rata (average) perpetual.150 Rp.190 Rp.000 Rp.000 Rp.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->