Anda di halaman 1dari 3

ANALISA “STAKEHOLDER”

DALAM PENGEMBANGAN STRATEGI ADVOKASI

Oleh : Bob Susilo Kusumobroto, SKM, MPH

Pendahuluan

ANALISA DILAKUKAN SEDINI MUNGKIN

Analisa stake holder hendaknya dilakukan sedini mungkin pada awal program untuk
mengidentifikasikan berbagai kelompok yang tertarik, berkait dan berminat dengan issue
tertentu seperti kesehatan reproduksi, lingkungan dll.

Identifikasi pandangan dan karakteristik dari setiap stake holder ini sangat penting, yang
merupakan dasar untuk pelaksanaan tahap berikutnya dalam prakarsa advokasi. Identifikasi
yang spesifik ini dapat menghasilkan suatu “propil stakeholder”.

Semakin spesifik informasi pada setiap stakeholder, maka semakin mudah untuk memastikan
ketetapan informasi, pesan, dan investasi yang akan dilakukan.

Katagori stakeholder

Dalam advokasi sesuatu program dapat dibagi dalam empat katagori yaitu

4. Penerima advokasi
5. Mitra
6. Pembuat keputusan
7. Musuh atau lawan

Penerima advokasi (beneficiaries)


Atau stakeholder primer
Adalah individu atau kelompok yang memperoleh manfa’at secara langsung dari hasil suatu
kegiatan advokasi. Jika dimobilisasi secara tepat maka penerima advokasi merupakan
pendukung yang paling terpercaya dan meyakinkan. Namun sayang memobilisasi penerima
advokasi ini susah dilaksanakan bahkan tidak mungkin

Mitra dan sekutu atau stakeholder sekunder


Adalah individu, kelompok maupun organisasi yang mempunyai pandangan atau posisi yang
sama dan siap bergabung didalam suatu koalisi untuk mendukung isue tertentu.

Membangun kemitraan adalah penting, untuk itu perlu dilakukan identifikasi dan kontribusinya
dalam usaha advokasi. Mitra perlu keyakinan dan dorongan terus menerus. Untuk
mempererat kemitraan perlu adanya tujuan yang jelas, Pembagian indformasi dan
pengalaman belajar, komunikasi yang terbuka dan jujur, serta adanya pertemuan rutin.

Membuat keputusan atau stakeholder kunci


Adalah mereka yang berkepentingan dengan kekuasaan atau otoritas untuk bertindak
mempengaruhi perubahan atau kebijakan yang diharapkan.
Yang termasuk di dalam kelompok ini adalah para pembuat undang-undang, anggota
parlemen, anggota kabinet, pemuka masyarakat, pemimpin agama, pemimpin tradisional dsb.
Tidak dapat diragukan bahwa keputusan adalah merupakan target yang bermakna dalam
suatu program advokasi.
Untuk itu kelompok ini mendapat perhatian yang lebih dalam upaya advokasi dibandingkan
dengan kelompok lainnya.

Musuh atau penentang


Adalah individu atau kelompok yang memiliki sikap yang bertentangan atau berbeda dalam
suatu masalah tertentu dengan sikap dimana advokasi itu dilakukan. Musuh, jangan dilihat
sebagai lawan yang harus ditentang, melainkan sebagai seseorang yang memiliki kayakinan
dan sikap yang berbeda terhadap issue tertentu. Pentingnya identifikasi musuh ini guna
menentukan posisi mereka tentang suatu masalah dan menentukan dasar untuk dialog.
Untuk melihat semuanya itu perlu adanya usaha untuk melakukan identifikasi dan analisis
terhadap stakeholder kita, dapat dilihat pada tabel berikut ini. (lihat tabel 1).

Mengidentifikasi dan menganalisa stakeholder


(tabel 1)

Katagori sub/ Besaran/Ukuran/ Pengaruh


stakeholder group lokasi Peng.dan potensial Hambatan
sikap thd upaya
kelompok kelompok thd advokasi dan cara
masalah/
isu mengatasi
1 2 3 4 5 6
Pengambil
Keputusan
Rekan
Kerja/mitra
Kelompok
penentang

Dari tabel diatas kita dapat mengumpulkan nama kelompok atau organisasi bahkan individu
yang menjadi pengambil keputusan, yang dapat menjadi mitra kita maupun yang berpotensi
untuk menghambat advokasi yang direncanakan. Disamping itu kita perlu mengetahui sejauh
mana kelompok ini berada atau skalanya, biasa nasional, propinsi maupun lokal.
Identifikasi pula tingkat pengetahuan dan sikap dari setiap stakeholder terhadap issue atau
masalah yang kita advokasikan. Apabila terdapat kelompok yang dikapnya mendukung akan
tetapi pengetahuannya masih relatif rendah, maka tugas kita adalah menyediakan informasi
terkini yang dapat mendukung sikap yang dimilikinya. Juga sebaliknya apabila
pengetahuannya mengenal issue atau masalah tersebut telah banyak namun sikapnya masih
belum positif benar, maka lobi atau pendekatan untuk menambah keyakinan yang
bersangkutan harus lebih banyak dilakukan.

Disamping itu kita perlu melakukan identifikasi terhadap pengaruh potensial dari setiap
stakeholder terhadap upaya advokasi yang kita rencanakan, termasuk hal-hal yang menjadi
sandungan dalam upaya tersebut serta kemungkinan cara mengatasi. Setelah semua
informasi ini terkumpul, maka dilakukan analisis terhadap hasil identifikasi yang telah kita
lakukan. Analisis dilakukan secara teliti dan hati-hati akan diperoleh suatu informasi mengenai
stakeholder yang tepat bagi upaya advokasi kita. Informasi atau pesan apa yang tepat dan
peran yang tepat dapat kita identifikasikan terlebih dahulu.

Penutup
Analisis stakeholder merupakan suatu langkah yang penting didalam penentuan upaya
advokasi yang akan kita laksanakan. Keberhasilan dalam penentuan kebijakan publik dan
dukungan terhadap penyelesaian satu masalah tertentu sangat tergantung pada stakeholder
yang kita pilih. Kesalahan pemilihan stakeholder dan pesan yang kita sampaikan akan
menentukan keberhasilan advokasi yang akan dilakukan.

Stakeholder adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan
dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi stakeholder menjadi dua: stakeholder
primer dan stakeholder sekunder. Stakeholder primer adalah ‘pihak di mana tanpa
partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah
pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu
perusahaan atau organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem stakeholder primer –
yang merupakan rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang
mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. Stakeholder sekunder
didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi
mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk
kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan berbagai kelompok
kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan
hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu
kelancaran bisnis perusahaan. Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan
definisi yang bahkan lebih sempit lagi di mana stakeholder didefinisikan sebagai suatu
kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah
melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (‘stakeholder
sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut
(‘stakeholder non-sukarela’). Karena itu, stakeholder adalah pihak yang akan dipengaruhi
secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan.