Anda di halaman 1dari 15

g 1 to 7 of 7 Articles on page 1 of 1

updated on Tuesday, 24 February 2009


by annas cahyadi
Metode Penelitian Kualitatif: Grounded Theory Approach
PENDAHULUAN

ImagePendekatan grounded teori (Grounded Theory Approach) adalah metode penelitian


kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori dari
kancah. Pendekatan ini pertama kali disusun oleh dua orang sosiolog; Barney Glaser dan
Anselm Strauss. Untuk maksud ini keduanya telah menulis 4 (empat) buah buku, yaitu; "The
Discovery of Grounded Theory" (1967), Theoritical Sensitivity (1978), Qualitative Analysis for
Social Scientists (1987), dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and
Techniques (1990). Menurut kedua ilmuwan ini, pendekatan Grounded Theory merupakan
metode ilmiah, karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi
keriteria metode ilmiah. Keriteria dimaksud adalah adanya signikansi, kesesuaian antara teori
dan observasi, dapat digeneralisasikan, dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian,
serta bisa dibuktikan.
Sesuai dengan nama yang disandangnya, tujuan dari Grounded Theory Approach adalah
teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorientasi
tindakan/interaksi, karena itu cocok digunakan untuk penelitian terhadap perilaku. Penelitian ini
tidak bertolak dari suatu teori atau untuk menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif),
melainkan bertolak dari data menuju suatu teori. Untuk maksud itu, yang diperlukan dalam
proses menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis). Selanjutnya,
metode analisis yang ditawarkan Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data (Grounded
Theory).

Pada dasarnya Grounded Theory dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial,
namun demikian seorang peneliti tidak perlu ahli dalam bidang ilmu yang sedang ditelitinya. Hal
yang lebih penting adalah bahwa dari awal peneliti telah memiliki pengetahuan dasar dalam
bidang ilmu yang ditelitinya, supaya ia paham jenis dan format data yang dikumpulkannya.

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Seperti diketahui, paradigma kualitatif mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu
ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui
penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Asumsi ini dipertegas dalam Grounded Theory,
dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum
dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara
konseptual. Oleh sebab itu, tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang
sangat spesifik 'seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe
hubungan antarvariabelnya. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan Grounded Theory
masih bersifat umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan
kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan mana saja
variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Demikian pula
tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat.

Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan masalah dalam
Grounded Theory disusun secara bertahap. Pada tahap awal 'sebelum pengumpulan data,
dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka), yang kemudian
nanti 'setelah data yang bersifat umum dikumpulkan'rumusan masalahnya semakin dipersempit
dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Intinya adalah, bahwa rumusan
masalah dalam Grounded Theory disusun lebih dari satu kali. Rumusan masalah yang diajukan
pada tahap pertama dimaksudkan sebagai panduan dalam mengumpul data, sedangkan
rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk
menyusun teori. Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan
hipotesis penelitian.

Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah
yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. Ciri rumusan
masalah yang disarankan dalam Grounded Theory adalah; (a) berorientasi pada
pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal
dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan. Contoh rumusan
masalah awal pada Grounded Theory; "Bagaimanakah wanita yang berpenyakit kronis mengatasi
kehamilan?" Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk; (a)
mengenali secara tepat dan mendalam perilaku wanita yang sedang berpenyakit kronis dalam
mengatasi kehamilannya, (b) obyek formal penelitian adalah wanita yang berpenyakit kronis yang
sedang hamil; sedangkan obyek materialnya adalah cara-cara yang dilakukan oleh wanita itu
dalam mengatasi persoalan kehamilan dalam kondisi sakit, dan (c) orientasi utama yang disoroti
adalah tahapan tindakan si wanita dan jenis-jenis atau bentuk-bentuk tindakan yang dipilih.

PENGGUNAAN TEORI TERDAHULU

Sebagaimana penelitian kualitatif pada umumnya, pendekatan Grounded Theory sama sekali
tidak bermaksud untuk menguji teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang
direduksi dari suatu teori. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan Grounded Theory dimulai
dengan teori atau variabel yang telah ada, karena akan menghambat pengembangan rumusan
teori baru. Oleh sebab itu, penelitian Grounded Theory tidak perlu terlalu terpangaruh oleh
literatur karena akan menutupi kreativitas dalam mengumpul, memahami dan menganalisis data.
Inilah yang dimaksudkan dalam pendekatan Grounded Theory, bahwa sesungguhnya peneliti
belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, termasuk jenis data dan kategori-
kategori yang mungkin ditemukan.

Dalam pendekatan Grounded Theory, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan
maksud penelitian yang dikerjakan:

Penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar;

* Jika peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah, membangun
kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara, maka konsep-konsep yang digunakan oleh
teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari
kancah.
* Jika penelitian dengan Grounded Theory menemukan teori yang memiliki hubungan dengan
teori yang sudah dikenal, maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas
teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang
sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu.
* Jika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, maka ia perlu
memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu
memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut, tetapi
bukan untuk mengikutinya. Penelitian yang bermaksud memperluas teori;
* Jika penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada, maka penelitian dapat
dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka
teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun
demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori
sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan,
sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi.
* Jika penelitian sekarang bertolak dari teori yang sudah ada, maka ia dapat dimanfaatkan untuk
menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan /wawancara untuk
mengumpul data awal.
* Jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat
menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.

ANALISIS DATA

Pada esensinya kegiatan pengumpulan dan analisis data dalam Grounded Theory adalah proses
yang saling berkaitan erat, dan harus dilakukan secara bergantian (siklus). Karena itu kegiatan
analisis --yang dibicarakan pada bagian berikut-- telah dikerjakan pada saat pengumpulan data
sedang berlangsung.

Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengkodean (coding). Pengkodean
merupakan proses penguraian data, pengonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru.
Tujuan pengkodean dalam penelitian Grounded Theory adalah untuk; (a) menyusun teori, (b)
memberikan ketepatan proses penelitian, (c) membantu peneliti mengatasi bias dan asumsi yang
keliru, dan (d) memberikan landasan, memberikan kepadatan makna, dan mengembangkan
kepekaan untuk menghasilkan teori.

Terdapat dua prosedur analisis yang merupakan dasar bagi proses pengkodean, yaitu; (a)
pembuatan perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis);
dan (b) pengajuan pertanyaan. Dalam konteks penelitian Grounded Theory, hal-hal yang
diperbandingkan itu cukup beragam, yang intinya berada pada sekitar; (i) relevansi fenomena
atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian, dan (ii) posisi dari setiap
fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu tingkatan garis kontinum.

Pengkodean Terbuka (Open Coding)

Pelabelan fenomena

Pelabelan fenomena merupakan langkah awal dalam analisis. Yang dimaksud dengan pelabelan
fenomena adalah pemberian nama terhadap benda, kejadian atau informasi yang diperoleh
melalui pengamatan dan atau wawancara. Pada hakikatnya, pelabelan itu merupakan suatu
pembuatan nama dari setiap fenomena dengan konsep-konsep tertentu. Jadi pelabelan
fenomena itu tidak lain adalah satu kegiatan konseptualisasi data.

Cara untuk melakukan pelabelan ini ialah dengan membandingkan insiden-insiden, sampai dapat
diberikan nama yang sama untuk fenomena-fenomena yang serupa. Cara ini tidak sekedar
meringkas hasil pengamatan atau wawancara dengan kata-kata kunci sebagai ganti dari sebuah
deskripsi yang panjang, melainkan memberikan konsep baru terhadap fenomena (atau kegiatan
konseptualisasi). Sebagai contoh, jika peneliti melihat sekelompok orang duduk melingkar
mengelilingi sebuah meja besar, di mana masing-masing menyampaikan pendapat secara
bergantian di bawah kordinasi seorang yang mengatur lalu-lintas pembicaraan, maka fenomena
yang berlangsung dalam waktu yang lama ini dapat diberi label dengan diskusi atau rapat.

Penemuan dan penamaan kategori

Pada hakikatnya, setiap fenomena yang sudah diberi label adalah unit-unit data yang masih
berserakan. Kapasitas intelektual manusia tidak cukup kuat untuk sekaligus memproses dan
menganalisis informasi yang jumlahnya besar seperti itu. Untuk menyederhanakan data tersebut
perlu dipisahkan ke dalam beberapa kelompok. Penyederhanaan data itu pada umumnya
dilakukan dengan cara mereduksi data sehingga menjadi lebih ringkas dan padat, kemudian
membagi-baginya ke dalam kelompok-kelompok tertentu (kategorisasi) sesuai sifat dan
substansinya. Proses kategorisasi ini pada dasarnya tergantung pada tujuan penelitian yang
sudah ditetapkan pada rancangan penelitian.

Jika dalam pelabelan fenomena dilakukan proses konseptualisasi, maka dalam pemberian nama
kategori dilakukan proses abstraksi. Kegiatan ini berkaitan dengan logika induktif, di mana
sejumlah unit data yang sama atau memiliki keserupaan dikelompokkan dalam satu kategori
kemudian diberi nama yang lebih abstrak. Kambing, lembu, dan kerbau, misalnya, adalah
konsep-konsep yang memiliki keserupaan dan dapat dikelompokkan jadi satu kategori dengan
nama binatang menyusui (mamalia). Contoh lain, jika anda melihat anak-anak sedang bermain,
lalu ada yang "merebut" mainan, "menyembunyikan mainan", "menjauhi teman", "menangis",
maka semua konsep perilaku itu dapat dijadikan satu kategori, yaitu sebagai "strategi untuk
menghindari pinjaman atas mainan miliknya". Intinya adalah memadukan konsep-konsep 'yang
menurut tujuan penelitian anda memiliki keserupaan'menjadi satu kategori dan kemudian
memberi label (nama) yang lebih abstrak yang mencakup semua konsep tersebut.

Dalam pemberian nama kategori ini, adakalanya peneliti membuat sendiri nama yang sesuai
dengan kelompok unit data, tetapi adakalanya meminjam istilah yang sudah dibuat oleh peneliti
atau ahli lainnya. Kedua-duanya tetap dibenarkan dalam Grounded Theory. Namun demikian,
cara pemberian nama yang paling dianjurkan, adalah dengan menggunakan istilah yang dipakai
oleh subyek yang diteliti, karena cara inilah yang disarankan sesuai dengan pendekatan emic
yang menjadi ciri dari setiap penelitian kualitatif.

Penyusunan Kategori

Dasar untuk penyusunan kategori adalah sifat dan ukurannya. Yang dimaksud dengan sifat di
sini adalah karakteristik atau atribut suatu kategori (yang berfungsi sebagai ranah ukuran,
dimensional range), sedangkan ukuran adalah posisi dari sifat dalam suatu kontinium. Lambang-
lambang Partai Golkar dalam suatu kampanye, misalnya, berupa kaos, jaket, topi, bendera,
spanduk, umbul-umbul, dan sebagainya, semua dikategorikan dengan "warna kuning". "Warna
kuning" (kategori) dari lambang-lambang yang tampak itu sesungguhnya tidak persis sama, di
sana ada perbedaan baik dari segi intensitas coraknya, maupun kecerahannya. Intensitas corak
dan kecerahan itulah sifat dari "warna kuning" tersebut. Masing-masing sifat itu memiliki dimensi
yang dapat diukur. Setiap dimensinya dapat ditempatkan pada posisi tertentu dalam garis
kontinium. Intensitas corak warna itu, misalnya, dapat diberi ukuran mulai dari yang "kuning
tebal" (orange) sampai pada "kuning tipis" (keputih-putihan). Demikian seterusnya, setiap
kategori data bisa ditempatkan di mana saja di sepanjang kontinua dimensional secara
bervariasi. Akibatnya, setiap kategori memiiki profil dimensional yang terpisah. Beberapa profil itu
dapat dikelompokkan sehingga membentuk suatu pola. Profil dimensional ini menggambarkan
sifat khusus dari suatu fenomena dalam kondisi-kondisi yang ada.

Hal penting yang perlu dipahami adalah penentuan sifat umum dari suatu fenomena atau
kategori. Sifat umum dari setiap kategori fenomena tentu tidak sama. Sifat umum dari warna,
adalah intensisitas corak dan kecerahan, sedangkan sifat umum dari perilaku adalah frekuensi,
intensitas, durasi, dan seterusnya.

Pengkodean Terporos (Axial Coding)

Pengkodean terporos adalah seperangkat prosedur penempatan data kembali dengan cara-cara
baru dengan membuat kaitan antarkategori. Pengkodean ini diawali dari penentuan jenis kategori
kemudian dilanjutkan dengan penemuan hubungan antar kategori atau antarsubkategori.

Dalam Grounded Theory, setiap kategori harus dikelompokkan ke dalam satu jenis kategori
berikut; yaitu kondisi kausal, konteks, kondisi pengaruh, strategi aksi/interaksi, dan konsekuensi.
Sistem pengelompokan kategori ini disebut dengan model paradigma Grounded Theory. Tugas
peneliti pada tahap ini adalah memberi kode terhadap setiap kategori data, dengan mengajukan
pertanyaan, "termasuk jenis kategori apa data ini"? Model paradigma inilah yang menjadi dasar
untuk menemukan hubungan antar kategori atau antarsubkategori.

Kegiatan selanjutnya adalah menghubungkan subkategori dengan kategorinya. Sifat pertanyaan


yang diajukan dalam pengkodean terporos mengarah pada suatu jenis hubungan. Alternatif
hubungan-hubungan itu adalah; hubungan antara kondisi kausal dengan strategi aksi/interaksi,
hubungan antara konteks dengan strategi aksi/interaksi, hubungan antara kondisi pengaruh
dengan strategi aksi/interaksi, hubungan antara strategi aksi/interaksi dengan konsekuensi. Pola
hubungan yang perlu ditemukan itu tidak terhenti pada hubungan antara dua kategori, melainkan
harus dapat mengungkap hubungan antara semua jenis kategori, yang dapat digambarkan ke
dalam skema berikut:

Pengkodean Terpilih (Selective Coding)

Mengingat masalah penelitian dalam Grounded Theory masih bersifat umum, mungkin sekali
peneliti menemukan sejumlah besar data dengan kategori dan hubungan
antarkategori/subkategori yang banyak dan bervariasi. Kenyataan ini tentu dapat
membingungkan, karena datanya masih belum terfokus pada titik tertentu. Untuk
menyederhanakannya perlu dilakukan proses penggabungan dan atau seleksi secara sistematis.

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk menyederhanakan data adalah dengan
menggabungkan semua kategori, sehingga menghasilkan tema khusus. Penggabungan tidaklah
banyak berbeda dengan pengkodean terporos, kecuali tingkat abstraksnya. Konsep-konsep yang
digunakan dalam penggabungan lebih abstrak dari konsep pengkodean terporos. Cara ini
merupakan tugas peneliti yang paling sulit. Kepekaan teoritik dari peneliti amat penting di sini. Inti
dari proses penggabungan itu adalah, bagaimana peneliti dapat menemukan spirit teoritis dari
semua kategori. Spirit teoritis itu mungkin saja tidak tampak secara eksplisit, tetapi tertangkap
oleh pikiran peneliti.

Ada beberapa tahapan kerja yang disarankan dalam proses pengkodean terpilih ini;

Mereproduksi kembali alur cerita atau susunan data ke dalam pikiran.

Mengidentifikasi data dengan menulis beberapa kalimat pendek yang berisi inti cerita atau data.
Pertanyaan yang perlu diajukan peneliti terhadap dirinya sendiri, adalah "apakah yang tampak
menonjol dari wilayah penelitian ini?", atau "apa masalah utamanya".

Menyimpulkan dan memberi kode terhadap satu atau dua kalimat sebagai kategori inti. Keriteria
kategori inti yang disimpulkan itu ialah bahwa ia merupakan inti masalah yang dapat mencakup
semua fenomena/data. Kategori inti harus cukup luas agar mencakup dan berkaitan dengan
kategori lain. Kategori inti ini dapat diibaratkan sebagai matahari yang berhubungan secara
sistematis dengan planet-planet lain. Lalu kategori inti tersebut diberi nama (konseptualisasi).

Menentukan pilihan kategori inti. Jika ternyata pada tahap "c" ada dua atau tiga kategori inti,
maka mau tak mau harus dipilih satu saja. Kategori inti lainnya dijadikan sebagai kategori
tambahan yang tidak menjadi inti pembahasan dalam penelitian ini.
Pada tahap penggabungan dan atau pemilihan ini, peneliti sebenarnya telah sampai pada
penemuan tema pokok penelitian. Pada umumnya metode kualitatif menganggap penelitian telah
selesai pada penemuan tema ini. Lain hal dalam Grounded Theory, tema utama (yang sudah
ditemukan) dipandang sebagai dasar untuk merumuskan masalah utama dan hipotesis
penelitian. Karena itu, peneliti perlu merumuskan masalah pokok dan hipotesis penelitiannya.
Berdasarkan masalah dan hipotesis itu, peneliti harus kembali lagi ke lapangan untuk
mengabsahkan atau membutikannya. Hasil pembuktian itulah yang menjadi temuan penelitian,
yang disebut sebagai teori.

4. Analisis Proses

Menganalisis proses merupakan bagian penting dalam Grounded Theory. Yang dimaksud
dengan analisis proses adalah pengaitan urutan tindakan/interaksi. Kegiatan analisis ini terdiri
dari penelusuran terhadap; (a) perubahan kondisi, (b) respon (strategi aksi/interaksi) terhadap
perubahan; (c) konsekuensi yang timbul dari respon, dan (d) penjabaran posisi konsekwensi
sebagai bagian dari kondisi.

Pada penelitian Grounded Theory, analisis proses bukan merupakan bagian dari tahapan
kegiatan, tetapi sebagai cara untuk mempertajam analisis dalam pengkodean (khusus pada
pengkodean terporos dan pengkodean terpilih). Hasil analisis proses itu juga perlu ditunjukkan
dalam penulisan laporan penelitian. Maksud analisis proses ini adalah sebagai cara untuk
menghidupkan data melalui penggambaran dan pengaitan tindakan/interaksi untuk mengetahui
urutan dan atau rangkaian data. Dalam pengaitan itu tidak hanya untuk mengenali urutan waktu
atau kronologi suatu peristiwa, melainkan yang lebih penting adalah untuk menemukan
keterkaitan antara stimulus, respon, dan akibat. Kondisi, respon, dan konsekwensi harus dilihat
sebagai tiga hal yang terus bergerak secara dinamis dan berputar mengikuti garis lingkaran.

Dalam prakteknya, proses dapat dilihat sebagai pergerakan progresif dan dapat pula dilihat
sebagai pergerakan nonprogresif. Kedua perspektif proses ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Proses sebagai pergerakan progresif; Jika proses dilihat sebagai pergerakan progresif, maka
peneliti dapat mengkonsepkan data sebagai langkah-langkah, fase-fase, atau tahapan. Cara ini
cukup baik untuk penelitian yang membahas tentang perkembangan, sosialisasi, transformasi
mobilitas sosial, imigrasi, dan peristiwa sejarah. Hal penting yang perlu diingat di sini ialah bahwa
kesemua unsur paradigma Grounded Theory harus berperan dalam menjelaskan rentang waktu
dan variasinya, di mana keterkaitan atau hubungan-hubungan antar unsur tetap dapat
dieksplisitkan.

Proses sebagai pergerakan nonprogresif; Bagaimanapun tidak semua fenomena terjadi secara
kronologis, karena tidak jarang pula ditemukan fenomena yang tidak dapat dinyatakan sebagai
langkah-langkah dan fase-fase progresif yang runtut. Untuk fenomena seperti ini, peneliti
dianjurkan untuk menganalisis penggantian atau perubahan tindakan/interaksi yang terencana
sebagai tanggapan atas perubahan kondisi.

PENGUMPULAN DATA DAN PENYAMPELAN TEORITIK

Pada dasarnya instrumen pengumpul data penelitian Grounded Theory adalah peneliti sendiri.
Dalam proses kerja pengumpulan data itu, ada 2 (dua) metode utama yang dapat digunakan
secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth interview). Metode observasi
dan wawancara dalam Grounded Theory tidak berbeda dengan observasi dan wawncara pada
jenis penelitian kualitatif lainnya.
Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian Grounded Theory dari
pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak,
pada Grounded Theory sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang
berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang
bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan "mengapa suatu
kondisi terjadi?", "apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?", dan "seperti apa
tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung"?.

Dalam Grounded Theory, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi,
melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan cara penyampelan teoritik. Penyampelan teoritik adalah pengambilan sampel
berdasarkan konsep-konsep yang terbukti berhubungan secara teoritik dengan teori yang sedang
disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori,
sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian. Sebagai contoh, jika
peneliti sedang meneliti "warna kuning" yang di dimensinya terdiri atas "intensitas corak" dan
"kecerahan", maka peneliti memutuskan untuk mendalami "intensitas corak" saja (tidak lagi
membahas tentang 'kecerahan"), berarti ia sudah melakukan penyampelan. Penegasan ini
memberi makna, bahwa pada dasarnya yang di sampel itu bukan obyek formal penelitian (orang
atau benda-benda), melainkan obyek material yang berupa fenomena-fenomena yang sudah
dikonsepkan. Namun demikian, karena fenomena itu melekat dengan subyek (orang atau
benda), maka dengan sendirinya obyek formal juga ikut di sampel dalam peroses pengumpulan
atau penggalian fenomena.

Berkenaan dengan proposisi terakhir, pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih itulah yang
dicari atau digali oleh peneliti ketika proses pengumpulan data. Karena fenomena itu melekat
dengan subyek yang diteliti, maka jumlah subyek pun terus bertambah sampai tidak ditemukan
lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa subyek yang terakhir. Itulah sebabnya,
penentuan sampel subyek dalam penelitian Grounded Theory, seperti halnya penelitian kualitatif
pada umumnya, tidak dapat direncanakan dari awal. Subyek-subyek yang diteliti secara
berproses ditentukan di lapangan, kaetika pengumpulan data berlangsung. Cara penyampelan
inilah yang disebut dalam penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling.

Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam Grounded Theory
diarahkan dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga pola
penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data; (a)
penyampelan terbuka, (b) penyampelan relasional dan variasional, serta (c) penyampelan
pembeda. Penyampelan ini bersifat kumulatif (di mana penyampelan terdahulu menjadi dasar
bagi penyampelan berikutnya) dan semakin mengerucut sejalan dengan tingkat kedalaman fokus
penelitian. Keterangan yang berkenaan dengan tiga pola penyampelan ini dapat diringkas
sebagai berikut:

Penyampelan Terbuka; Penyampelan ini bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin
sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. Karena pada
tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik, maka
obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga masih belum dibatasi. Data yang
terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean
terbuka.

Penyampelan Relasional dan Variasional; Sebagaimana diutarakan di atas, tujuan pengkodean


terporos adalah menghubungkan secara lebih khusus kategori-kategori dengan sub-
subkategorinya. Untuk maksud ini perlu dilakukan penyampelan yang berfokus pada
pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan tersebut. Kegiatan itu dinamakan
penyampelan relasional dan variasional.

Pada penyampelan relasional dan variasional diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin
perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan
tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti utama penyampelan di sini adalah
memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data
yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.

Penyampelan Pembeda: Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih.


Karena itu tujuan penyampelan pembeda di sini adalah penetapan subyek yang diduga dapat
memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antarkategori.

Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian Grounded Theory berlangsung secara bertahap
dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung
secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus bertambah
sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan. Ketentuan umum dalam Grounded
Theory adalah melakukan penyampelan hingga pemenuhan teoritik bagi setiap kategori tercapai.
Maksudnya, penyampelan dihentikan apabila; (a) tidak ada lagi data baru yang relevan, (b)
penyusunan kategorinya telah terpenuhi; dan (c) hubungan antarkategori sudah ditetapkan dan
dibuktikan.

Dari keterangan tentang prinsip penyampelan di atas, pengambilan kesimpulan dalam penelitian
Grounded Theory tidak didasarkan pada generalisasi, melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari
pola penalaran ini, penelitian Grounded Theory bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi
terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang
merupakan respon terhadap kondisi itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari
tindakan/i nteraksi itu. Jadi, rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis
penelitian ini tidak menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian
kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.

PENUTUP

Grounded Theory Approach adalah satu jenis metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada
penemuan teori dari kancah. Dilihat dari prosedur, prinsip, dan teknik yang digunakan, metode ini
benar-benar bersifat kualitatif murni, tetapi jika dilihat dari kerangka berpikir yang digunakan
ternyata secara implisit pendekatan ini meminjam metode kuantitatif. Paling tidak ada 3 (tiga)
dasar kerangka berpikir kuantitif yang dipinjam Grounded Theory;

Penggunaan hukum kausalitas sebagai dasar penyusunan teori. Seperti diketahui, bahwa dalam
epistemologi ilmiah, prinsip kausalitas adalah salah asumsi dasar bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, karena sangat diyakini bahwa segala hal yang terjadi di alam ini tidak lepas dari
hukum sebab-akibat.

Pengukuran fenomena. penelitian kualitatif pada umumnya tidak melakukan pengukuran


terhadap data yang ditemukannya, melainkan lebih menekankan pada pengelompokan
konfigurasi dari variasinya. Lain hal dengan Grounded Theory, di sini dilakukan pengukuran-
pengukuran, sebagaimana yang lazim dilakukan pada metode kuantitatif.

Penggunaan variabel; Secara eksplisit memang tidak pernah disebut-sebut istilah variabel dalam
Grounded Theory. Tetapi dengan penggunaan paradigma teoritik yang membagi fenomena ke
dalam kondisi kausal, konteks, kondisi pengaruh, tindakan/interaksi, dan konsekwensi, serta
mencari hubungan-hubungan antara unsur-unsur itu merupakan pertanda bahwa di dalam
metode ini digunakan konsep-konsep yang identik dengan variabel.

Perkawinan metode kualitatif dengan kuantitatif dalam Grounded Theory merupakan satu
perkembangan baru yang patut diberi apresiasi positif. Proses perkawinan itu sendiri harus
dimaklumi, tidak saja karena Strauss dan Glaser sebagai dua tokoh penggagas metode ini yang
memiliki latar pemikiran yang berbeda (kualitatif dan kuantitatif), melainkan juga karena tuntutan
perkembangan metode keilmuan yang terus berkembang. Mau tak mau, metode kualitatif harus
menata prosedur dan teknik-teknik penelitiannya agar semakin dipercaya sebagai metode yang
dapat diandalkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
updated on Monday, 23 February 2009
by annas cahyadi
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

1.Observasi : Pengamatan langsung peneliti terhadap objek / lokasi penelitian

2.Identifikasi & rumusan masalah : Menentukan masalah yg paling menarik dan merumuskanya.

3.Theorytical Framework : Penelusuran literature yang bersumber pada buku, media, pakar, dan
hasil penelitian untuk menjadi dasar teori yg akan kita gunakan.

4.Merumuskan Hypotesis : Merumuskan jawaban sementara atas masalah yg kita teliti

5.Dasar penelitian : Suatu model penelitian yg akan

6.Sampling : Apa dan siapa yg di teliti oleh seluruh anggota populasi.

7.Instrument penelitian : Alat yg di gunakan untuk pengambilan data dalam penelitian.

8.Analisis data : Proses pengolahan data yg terkumpul dan dilakukan analisis terhadap data
untuk diambil kesimpulanya.

9.Laporan Penelitian : Untuk refrensi bagi penelitian lain

2. Perumusan Masalah : Menentukan maslah yang paling menarik dan merumuskan nya
berdasarkan beberapa masalahj yang telah teridentifikasi pada saat melakukan observasi.

Contoh : ditemukan masalah kemacetan lalu-lintas sekitar kampus.

Rumusan masalah :

A. Berapa jumlah kendaraan yang melintas di Jl Syahdan dan anggrek setiap jam ?

B. Pada jam berapa saja kemacetan terjadi ?

C. Kendaraan apa yang paling banyak melintas saat terjadi kemacetan ?

D. Bagaimana kedisiplinan sopir mikrolet yang melintas di Jl.Syahdan dan anggrek ?

3. Macam-macam skala pengukuran :

1. Skala nominal : suatu skala yang berfungsi untuk mengelompokan data, tetapi tidak memiliki
arti.

Contoh : jenis kelamin diberi skala


1. Pria

2. Wanita

Angka 2 untuk wanita bukan berarti lebih baik/besar dari angka 1 bagi pria.

2. Skala interval : skala yang memiliki nilai dengan jarak sama.

Contoh : kepuasan seseorang terhadap pelayanan suatu jasa dapat diberi skala interval 1-2-3-4-
5.

Dimana nilai

1: sangat tidak puas

2: tidak puas

3: biasa

4: puas

5: sangat puas

3. Skala ratio : skala yang dapat memberi arti perbandingan/perkalian.

Contoh : berat badan Karina 40 kg

berat badan Rony 60 kg

Ratio berat Rony 3/2 x berat Karina.

Jadi nilai 3/2 memiliki arti

4. Skala ordinal : skala yang memberi arti prioritas/peringkat/ranking.

Contoh : Urutkan pilihan anda dengan memberi angka 1-3.

1 berarti dibutuhkan, 2 biasa, 3 tidak dibutuhkan.

Benda : '.kosmetik/asesoris

'..buku/artikel

'..ticket traveling

Setiap orang akan memiliki prioritas berbeda.

4.Metoda Pengambilan Sampling

A. Probability Sampling : Pengambilan sample dr unit populasi dimana setiap unit mempunyai
peluang yg sama.

' Simple Random

' Proportionate stratified


' Disproportionate stratified

' Cluster

B. Non Probability Sampling : Pengambilan sample dr unit populasi demana setiap unit ada
batasan ' batasan nya.

' Sistimatis

' Quota

' Aksidental

' Purposive
' Snowball
updated on Monday, 23 February 2009
by annas cahyadi
Teknik Pengambilan Sampel

Dalam bukunya Riduwan (Skala pengukuran variabel-variabel penelitian, Bandung, CV Alfabeta,


cetakan ke-2) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau hasil unit
pengukuran yang menjadi obyek penelitian. Nawawi menyebutkan bahwa populasi adalah
totalitas semua nilai yang mungkin baik yang diperoleh dari hasil menghitung maupun mengukur.
Nazir menambahkan bahwa populasi adalah data, bukan orang tau bendanya.

Berkaitan dengan jumlah populasi, maka populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu pertama
:populasi terbatas dimana batasnya secara kuantitatif dapat dihitung. Misalnya jumlah siswa SMA
Negeri 8 Jakarta, jumlah penduduk desa tambakmekar dan jumlah guru SMAN 8 Jakarta. Kedua:
populasi tak terbatas dimana banyak populasinya tidak bisa dinyatakan dengan jumlah misalnya
kandungan emas di sungai X, berapa liter pasang surut air laut pada bulan purnama.
Berdasarkan sifatnya maka populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu
1. populasi homogen, sumber data memiliki sifat yang sama
2. populasi heterogen, sumber datanya memiliki sifat yang berbeda.

Apabila kita telah menetapkan masalah penelitian dan kita sudah membatasi populasi,maka
masalah berikutnya yang muncul adalah kita memiliki keterbatasan dalam mengakses seluruh
populasi, sehingga dikembangkanlah teknik untuk dapat mengambil keseimpulan berkaitan
dengan populasi tetapi dengan data yang lebih terbatas. Data terbatas tetapi masih memiliki sifat
atau karakteristik populasi tersebut dinamakan sampel.
Keuntungan menggunakan sampel adalah
1. memudahkan peneliti
2. Penelitian lebih efisien (penghematan uang, waktu dan tenaga)
3. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data.
4. penelitian lebih efektif, sehingga menghemat penggunaan specimen, mengurangi atau
melokalisir efek destruktifd dari perlakuan.
Teknik pengambilan sampel adalah suatu cara mengambil sampel yang representatif dari
populasi. Ada dua macam teknik pengambilan sampel yaitu:
Untuk menentukan jumlah sampel (n) digunakan ketentuan sebagai berikut :
Jumlah sampel menggunakan rumus dari Taro Yamate :
N
n= ------------
N*d^2 + 1
dimana N adalah jumlah populasi dan d adalah tingkat presisi yang ditetapkan.
Misalnya jika diketahui jumlah populasi guru SD sebesar 138 orang dan akan dilakukan
penelitian dengan tingkat presisi 10% maka jumlah sampel yang harus diambil adalah 58 orang.
Surakhmad berpendapat bahwa apabila ukuran populasi kurang lebih 100, maka jumlah sampel
sekurang-kurangnya 50% dari ukuran populasi. Apabila ukuran populasi lebih dari 1000, maka
jumlah sampel sekurang-kurangnya 15%.

1. probability sampling
probability sampling adalah cara pengambilan sampel dengan memberikan kesempatan yang
sama bagi anggota populasi untuk terambil sebagai sampel, yang tergolong teknik ini adalah
1.a simple random sampling
Teknik pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata/tingkatan anggota populasi
tersebut.

1.b Proportionate stratified random samplng


Pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional,
teknik ini digunakan apabila anggota populasi tidak homogen berkaitan dengan karakteristik yang
diteliti. Contohnya guru DKI jakarta yang mengikuti ujian sertifikasi :
guru bahasa Indonesia : 100 orang
guru bahasa Inggris : 70 orang
guru Matematika : 120 orang
guru Biologi : 30 oang
guru Fisika : 50 orang
Jumlah : 370 orang
Jumlah sampel yang diambil harus sama porsinya dengan jumlah guru sesuai dengan bidang
studi. Contohnya jumlah sampel guru bahasa Indonesia menjadi
pertama : tentukan dahulu jumlah sampel dengan presisi 10% menjadi

370
-------------- = 77.24 = 77 orang
370*0.1^2 + 1

kedua : tentukan jumlah sampel untuk masing-masing strata


100
--- x 77 = 20,8 = 21 orang
370

1.c Disproportionate random sampling


Pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata tetapi sebagian ada yangn
kurang proporional, contohnya

guru BP : 1 orang
guru bahasa Indonesia : 100 orang
guru bahasa Inggris : 70 orang
guru Matematika : 120 orang
guru Biologi : 30 oang
guru Fisika : 50 orang
Jumlah : 371 orang

jumlah sampel untuk guru BP satu orang.

1.d Area sampling (sampel kluster )


Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari tiap wilayah
gewografis yang ada. Misalnya penelitian tentang tingkat pendidikan warga di desa tambakmekar
RW 04. RW 04 terdiri dari 5 RT misalnya, maka sampel harus memuat warga dari tiap RT.
2. non propability sampling
Teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada setiap
anggota populasi untuk terambil sebagai sampel.

2.a Sampling sistematis


Pengambilan sampel yang didasarkan pada urutan anggota dalam populasi secara
seragam. Misalnya Diketahui daftar pelanggan PT Telkom yang telah diberi nomor dari 1 sampai
1000. Pelanggan yang diambil sebagai sampel adalah mereka yang memilki no urut kelipatan 1,
10, 20, 30, dan seterusnya.

2.b Sampling kuota


Teknik pengambilan sampel dengan menetapkan jumlah (jatah ) sesaui dengan pertimbanga
peneliti. Selanjnya jatah itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil sampel. Contohnya untuk
menentukan kuota haji penduduk indonesia yang berjumlah 250 jt orang maka diambil jatah
250.000 orang.

2.c sampling aksidental


Teknik pengambilan sampel berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yangsecara tidak
sengaja bertemu dengan peneliti dijadikan sampel. Misalnya untuk meneliti produk sabun yang
diminati konsumen pada supermarket X, maka diambil sampel pelanggan yang datang dan
ditemui peneliti di hari tersebut.

2.d Purposive sampling


Pengambilan sampel dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti.
Misalnya peneliti ingin mengetahui tentang jenis penyakit warga desa tambakmekar maka yang
dipilih menjadi sampel adalah para dokter, bidan atau mantri di puskesmas desa.

2.e sampling jenuh


Yaitu pengambilan sampel dengan cara menjadikan seluruh anggota populasi menjadi sampel.

2.f Snowball sampling (getuk tular)


Teknik pengambilan sampel dengan cara mengambil jumlah sampel sedikit terlebih dahulu, lalu
dari jumlah yang sedikit tersebut berkembang menjadi banyak. Misalnya peneliti ingin
mengetahui latar belakang keluarga para pecandu narkoba di suatu tempat, maka peneliti dapat
memulai dari satu atau dua orang responden dahulu, selanjutnya dari informasi responden
tersebut peneliti dapat menambah jumlah respondennya.

(Ahmad Yani, M.SI)


Sumber :
Riduwan, Drs, MBA (2006), Belajar mudah penelitian untuk guru-karyawan dan peneliti pemula,
Bandung, Alfabeta
updated on Monday, 23 February 2009
by annas cahyadi
Teknik Pengumpulan Data Kualitatif

Data dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu, data kualitatif dan data kuantitatif. Pada
pembahasan teknik pengumpulan data kali ini akan lebih mengarah pada teknik pengumpulan
data kualitatif. Data kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara
langsung. (Amirin 2000).

Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan, yang mirip dengan
pekerjaan detektif (Miles, 1992). Dari sebuah penyelidikan akan dihimpun data-data utama dan
sekaligus data tambahannya. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan
tindakan. Sedangkan data tertulis, foto, dan statistik adalah data tambahan (Moleong, 2007:157).
II. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa teknik dalam mengumpulkan data, seperti yang
dikemukakan Sevilla, dkk (1993) bahwa dalam pengumpulan data penelitian dalam pendidikan
dapat meliputi hal-hal sebagai berikut.

1.

Pengamatan;

Pengamatan dalam istilah sederhana adalah proses peneliti dalam melihat situasi penelitian.
Teknik ini sangat relevan digunakan dalam penelitian kelas yang meliputi pengamatan kondisi
interaksi pembelajaran, tingkah laku anak dan interaksi anak dalam kelompoknya. Pengamatan
dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur. Alat yang bisa digunakan dalam pengamatan
adalah lembar pengamatan, ceklist, catatan kejadian dan lain-lain.

1.

Pertanyaan;

Teknik pertanyaan lebih cocok digunakan dalam pendekatan survei. Pertanyaan yang efektif
akan membantu pengumpulan data yang akurat, karenanya Fox (dalam Sevilla, 1993)
memberikan kreteria karakteristik pertanyaan yang efektif sebagai berikut; (a) bahasanya jelas,
(b) ada ketegasan isi dan periode waktu, (c) bertujuan tunggal, (d) bebas dari asumsi, (e) bebas
dari saran, dan (f) kesempurnaan dan konsistensi tata bahasa.

1.

Angket atau kuesioner (questionnaire)

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti
tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya
juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon
oleh responden. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon
sesuai dengan presepsinya.

(4) Studi dokumenter (documentary study)

Studi dokumenter merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun
dan menganalisis dokumen-dokumen,baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik.
Dokumen yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan
(sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh. Jadi studi dokumenter
tidak sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan
tentang sejumlah dokumuen yang dilaporkan dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap
dokumen-dokumen tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Amirin, Tatang M. 2000. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Miles, Matthew B. & A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Diterjemahkan oleh
Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif: Bandung: Rosdakarya.


Sevilla, Consuelo, G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tuwu.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.