Anda di halaman 1dari 24

MEMAHAMI PSIKOSOSIO-SPIRITUAL KORBAN BENCANA

DI NANGGROE ACEH DAARUSSALAAM

Taufik. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Jurnal Psikologi Undip Vol. 2, No. 1, Juni 2005

Penelitian ini memaparkan tentang kehidupan pasca bencana korban gempa bumi dan
gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Daarussalaam (NAD). Untuk membangun kembali
NAD, hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah pemahaman akan kondisi
psikologis-sosiologis dan spiritual masyarakat Aceh, terutama mereka yang secara langsung
menjadi korban bencana.

KONDISI PSIKOSOSIAL
Bencana tentu menimbulkan dampak, terhadap manusia, baik secara fisik maupun
psikologis. Tidak terkecuali korban bencana gempa bumi dan tsunami di NAD. Dampak yang
dialami terbagi dalam tiga kategori berdasarkan periodenya:
1. Impact Periode
pada periode ini korban-korban selalu diliputi perasaan tidak percaya dengan apa
yang mereka alami.
2. Recoil Periode
Periode ini terjadi dua proses coping atau pengatasan masalah. Yang pertama adalah
emotional focus coping. Korban yang mengalami coping ini cenderung untuk lari dari
masalah, pengurangan beban masalah, menyalahkan diri sendiri dan pencarian makna.
Hal ini ditunjukkan dari perilaku termenung, menerawang dikejauhan, dan tidak
bicara.
Proses coping yang kedua adalah problem focused coping. Seperti, korban mulai
menyadari kondisi dirinya, mulai merasakan lapar dan mencari bekal makanan yang
ada untuk dimakan. Mulai sadar memiliki keluarga yang hilang dan kemudian
berusaha mencarinya.

1|Page
3. Post Traumatik
Berlangsung ketika korban bencana berusaha untuk melupakan pengalaman yang
terjadi berupa tekanan, gangguan fisiologis dan psikologis akibat bencana yang
mereka alami.
Karakteristik korban yang mengalami stress pasca trauma bencana ditandai dengan
gejala-gejala rasa takut yang intens, ketidakberdayaan, atau rasa horror yang
menakutkan karena peristiwa yang traumatis.

GEJALA PSIKOLOGIS
Pertama, rasa takut dan cemas. Perasaan ini muncul karena kekhawatiran akan
berulangnya kejadian yang sama, ketidaktahuan kemana harus melangkah dan kekhawatiran
akan keamanan dan masa depan.
Kedua, duka cita yang mendalam (berlarut dalam kesedihan). Keaadaan ini membuat
emosi semakin meningkat, mudah tersinggung, perubahan mood (suasana hati) yang cepat
antara senang dan sedih, sangat cemas dan tegang (nervous), atau bahkan menjadi depresi.
Ketiga, tidak berdaya, putus asa, dan kehilangan control yang ditandai dengan teringat
kembali kejadian traumatic yang telah dialaminya secara berulang ulang.
Keempat, pobia. Tanggal dan hari terjadinyaperistiwa, suara keras, air, orang yang
berkerumun, suara halilintar, laut, angin, apupun yang terkait dengan peristiwa traumatic
(gempa-tsunami) akan memicu ingatan yang meyakinkan, menyedihkan dan menakutkan.
Kelima, frustasi dan depresi. Kebingungan, stress, dan ketidakberdayaan membuat
korban kehilangan kesadaran (eksistensi dirinya) sehingga hubungan interpersonal sering
mengalami ketegangan.
Keenam, psikosomatis dan somatopsikologis. Psikosomatis adalah gangguan psikis
yang berakibat sakit secara fisik, sebaliknya somatopsikologis adalah sakit secara fisik
berakibat pada munculnya gangguan psikologis.

KONDISI SPIRITUAL
Pertama, menjauh. Beberapa korban yang mengungsi disekitar masjid-masjid terlihat
enggan untuk melaksanakan ibadah, padahal sarana-sarana (perlengkapan) ibadah sudah
diberikan. Bahkan ditemukan beberapa pengungsi (muslim) yang tidak mendirikan shalat
meskipun mereka tinggal didalam masjid. Setelah dinasehati dan mereka tetap tidak mau
mendirikan shalat, akhirnya pihak ta’mir (pengurus masjid)-pun mengusir mereka.
Kedua, tetap. Pada kelompok ini beranggapan bahwa bendana yang baru saja mereka
alami tidak memiliki makna secara spiritual. Itu terjadi, karena fenomena alam biasa,
sehingga tidak perlu memuji atau menyalahkan-Nya, tidak perlu mendekatkan atau
menjauhkan diri dari-Nya.
Ketiga, mendekatpada kelompok ketiga ini para korban mengaku tawakal dengan
memasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Mereka beranggapan datangnya musibah ini
sebagai peringatan bagi rakyat Aceh agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT karena
selama ini agama hanya dijadikan simbol, sementara praktek-praktekdalam kehidupan jauh
dari nilai-nilai Islam.

PERAN PROFESIONAL
Penanganan intervensi yang dilakukan pada korban bencana gempa dan tsunami di
NAD memperhatikan kondisi lingkungan, kebiasaan, agama dan bahasa yang digunakan
karena akan turut mempengaruhi kesuksesan intervensi yang dilakukan. Tidak semua orang
akan didengar dan dipercaya ucapannya oleh masayarakat Aceh, apalagi orang-orang yang
belum begitu mereka kenal. Kehidupan masyarakat yang kental dengan dengan nilai-nilai
Islam membuat orang Aceh lebih percaya dengan ulama (da’i) daripada profesional lain,
psikolog misalnya. Karena itulah peran da’i sangat dibutuhkanuntuk memulihkanmental
mereka, mengingat begitu besarnya kepercayaan rakyat Aceh kepada mereka sebagai orang
yang memahami Islam. Atau bisa juga ada kerjasama yang sinergis antara ahli psikologi
dengan para da’i atau sebaliknya, para ahli psikologi yang talah menguasai atau memahami
dasar-dasar Islam.
Kerjasama yang baik oleh semua pihak yang berada dan terlibat dalam intervensi
krisis berbasis komunitas tentunya menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan
program intervensi.

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS DZIKIR


DENGAN PEMAAFAN PADA MAHASISWA

3|Page
H. Fuad Nashori. Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia
Jurnal Psikologi Undip Vol. 2, No. 1, Juni 2005

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas dzikir dengan
pemaafan pada mahasiswa. Subjek penelitian ini adalah 109 orang mahasiswa regular dan
mahasiswa santri yang tinggal di Yogyakarta. Hipotesis yang diajukan adalah: ada hubungan
positif antara kualitas dzikir dengan pemaafan pada mahasiswa. Semakin tinggi kualitas
dzikir semakin tinggi pemaafan mahasiswa.

PENDAHULUAN
Ketika berinteraksi dengan sesamanya, manusia menghadapi berbagai kemungkinan,
termasuk kemungkinan interaksi yang lebih akrab maupun yang sebaliknya. Baron dan Byrne
(1991) menyebutkan bahwa ada empat pilihan reaksi yang mungkin dilakukan seseorang
manakala menghadapi konflik dengan orang-orang disekitarnya. Pilihan pertama adalah sikap
aktif menyelesaikan konflik. Pilihan kedua adalah loyalty atau sikap menunggu dengan
harapan konflik dapat terselesaikan dengan sendirinya. Sikap ketiga adalah exit atau
melarikan diri dari penyelesaian konflik. Sikap keempat adalah reject atau berharap masalah
menjadi lebih buruk.
Pilihan sikap yang paling ideal adalah aktif menyelesaikan konflik. Keaktifan
menyelesaikan konflik ditandai oleh kesediaan memaafkan dan adanya silaturahmi yang
berlanjut. Sebuah penelitian yang dilakukan Luskin (Martin, 2003) mengungkapkan bahwa
latihan memberi maaf dapat meningkatkan pemaafan dalam diri mahasiswa. Jika mahasiswa
melatih dirinya memberikan maaf kepada orang lain yang menyakitinya, sekalipun hatinya
belum benar-benar rela, pemaafan itu secara perlahan tumbuh dan berkembang dalam
dirinya. Salah satu hal yang diduga mempengaruhi pemberian maaf adalah kualitas dzikir.
Benarkah kualitas dzikir mempengaruhi pemaafan pada mahasiswa?

TINJAUAN PUSTAKA
Pemaafan (forgiveness) berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka dalam hati
(Shihab, 2001). Pemberian maaf yang ada dalam diri seseorang terjadi dalam serangkaian
proses. Enright (Martin, 2003) mengungkapkan adanya empat fase untuk pemberian maaf.
Pertama, fase pengungkapan (uncovering phase), yaitu ketika seseorang merasa sakit hati dan
dendam. Kedua, fase keputusan (decision phase), yaitu orang tersebut mulai berfikir rasional
dan memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Ketiga, fase tindakan (work phase), yaitu
adanya tingkat pemikiran baru untuk secara aktif memberikan maaf kepada orang yang telah
melukai hati. Keempat, fase pendalaman (outcome/depending phase) yaitu internalisasi
kebermaknaan dari proses memaafkan.
Kalitas dzikir adalah menyebut, menuturkan, mengingat, mengerti, ucapan lisan,
getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan oleh agama, dalam rangka mendekatkan
diri pada Allah SWT (Ash Shiddiqie, 1992). Aspek aspek kulaitas dzikir meliputi tujuh hal
(Ash Siddiqie, 1992), yaitu niat, adanya niat yang kuat untuk melakukan dzikir. Kedua
taqarrub, adalah perasaan dekat sekali dengan Allah ‘azzawajalla sewaktu melakukan dzikir.
Ketiga liqa’, yakni merasa berjumpa dengan Allah saat melakukan dzikir. Keempat ihsan,
yaitu perasaan seakan-akan melihat Allah atauAllah melihatnya saat yang bersangkutan
berdzikir. Kelima tadarru, merasa tenang dan rendah dihadapan Allah. Keenam khauf, merasa
takut dengan kekuasan dan kekuatan Allah dan yang ketujuh. Tawaadhu’, yaitu merendahkan
diri dihadapan manusia atau tidak sombong.

METODE
Data penelitian diambil dari Universitas Islam Indonesia (UII) dan pondok pesantren
UII serta pondok pesantren Kyai Ageng Giring. Alat ukur yang digunakan adalah skala
kualitas dzikir, yang disusun sendiri oleh peneliti. Skala kualitas dzikir dimaksudkan untuk
mengungkap kualitas diri subjek. Serta skala pemaafan, yang bermaksud mengungkap
seberapa besar pamaafan subjek. Adapun sejumlah item dari skala pemaafan ini
menggunakan item dari skala yang disusun oleh Cahyadi (2003).

PEMBAHASAN
Hasil utama penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kualitas
dzikir dengan pemaafan pada mahasiswa reguleh dan mahasiswa santri. Artinya semakin
tinggi kualitas dzikir semakin tinggi pemaafannya. Dzikir adalah aktivitas yang melembutkan
hati nurani seseorang. Kelembutan hati membuatnya berempati pada orang yang berbuat
salah atau dzalim padanya. Empati atau rasa kasihan terhadap orang lain inilah yang akhirnya
mengantarkannya pada fase tindakan (work phase), yaitu adanya perilaku aktif untuk
memberikan maaf kepada orang yang telah melukai hati. Setelah seseorang merasa

5|Page
pengalaman atas tindakan memaafkan, maka ia akan masuk pada fase pendalaman
(outcome/deepening phase), yaitu internalisasi kebermaknaan dari proses memaafkan. Di sini
orang akan menghayati bahwa dengan memaafkan, ia akan memberi manfaat bagi dirinya
sendiri, lingkungan dan juga semua orang.

KESIMPULAN DAN SARAN


Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara kualitas dzikir
dengan pemaafan pada mahasiswa reguler dan mahasiswa santri. Semakin tinggi kualitas
dzikir semakin tinggi pemaafannya, begitupula sebaliknya.
Adapun saran yang diperuntukkan bagi subjek penelitian, hendaknya berupaya
meningkatkan kualitas dzikirnya sehingga kesediaannya untuk memaafkan menjadi lebih
optimal. Saran bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang efek dari
kualitas dzikir. Penelitian ini telah memastikan bahwa kualitas dzikir yang baik memiliki
pengaruh terhadap pemaafan, dari sini disarankan agar peneliti lain bisa meneliti kaitan
antara kualitas dzikir dengan kebahagiaan (happiness, well being), peningkatan suasana hati
positif dan penurunan suasana hati negatif, kewaspadaan dan seterusnya.

PERAN AKHLAK TERHADAP KEBAHAGIAAN REMAJA ISLAM

Marcham Darokah & Ahmad Muhammad Diponegoro


Faklultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Humanitas, Indonesian Psychological Journal
Vol. 2, No. 1, Januari 2005
Salah satu bidang psikologi positif adalah menganalisa kebahagiaan, yaitu evaluasi
kognitif dan afektif terhadap kehidupan. Kemajuan telah dibuat dalam memahami komponen
kebahagiaan, pentingnya adaptasi dan tujuan, serta rasa sejahtera yang dapat diatur oleh
ajaran agama, dalam penelitian ini adalah Islam. Dalam penelitian ini diajukan hipotesis:
pengetahuan ajaran Islam dan akhlak secara bersama-sama berhubungan positif dengan
kebahagiaan remaja Islam.

PENDAHULUAN
Pada mulanya disiplin ilmu psikologi, sebelum perang dunia II, memiliki tiga misi
yaitu menyembuhkan penyakit mental, membuat kehidupan manusia lebih baik, dan
mengidentifikasi serta menumbuhkan bakat yang tinggi. Seligman (1998) berpendapat bahwa
psikologi sebenarnya dapat melakukan peran yang penting untuk menolong mencarikan jalan
keluar. Pada konferensi tahunan American Psychology Association (APA) yang bertema
“Prevention: Building strength, resilience and healt in young people”, Seligman
memperkenalkan sebuah paradigma baru dalam keiilmuan psikologi, yaitu psikologi positif.
Psikologi positif dinyatakan sebagai suatu ilmu yang ingin mengubah penekanan dalam
disiplin psikologi dari suatu model penyakit ke suatu model sehat untuk melengkapi apa yang
sudah dikembangkan oleh para ahli psikologi terdahulu.
Berbicara megenai sehat, sehat mental, tentu tak terlepas dari apa yang sebut bahagia.
Mengapa manusia merasa bahagia? Apa yang membuat manusia bahagia?. Penelitian-
penelitian sebelumnya menuai kekecewaan karena rendahnya factor-factor eksternal terhadap
kebahagiaan. Factor-faktor eksternal itu adalah penghasilan, pendidikan, kesehatan, dan
starus sosial. Penelitian kemudian diarahkan pada factor internal, yaitu kepribadian, nilai
hidup, dan keyakinan yang terdapat pada diri individu. Ternyata factor internal inilah yang
berpengaruh besar terhadap kebahagiaan individu. Individu yang ceria, banyak memberi,
memberikan pertolongan, dan jarang mengeluh merupakan individu yang memiliki skor
tinggi dalam kebahagiaan.
Ajaran agama ternyata dianggap sebagai salah salah satu jalan. Seligman (2002)
dalam berbagai pernyataan mengemukakan bahwa nilai moral yang terkandung dalam ajaran
berbagai agama dan budaya merupakan hal yang cukup penting dalam mengatasi berbagai
masalah psikologi, yaitu dengan cara membangun emosi positif. Perhatian yang semakin
meningkat terhadapa akhlak, bukannya tanpa alasan sama sekali. Secara umum dalam

7|Page
berbagai penelitian, moral membawa kehidupan yang lebih baik bagi pelakunya
(McCullough, 1999; McCullough, et al., 2000).

TELAAH TEORI
Kebahagiaan. Terdapat dua aspek dalam indikator subjektif kebahagiaan yaitu afek
dan kepuasan hidup (Diener dan Schollon, 2003). Penelitian ini mengacu pada teori top down
dan botom up yang menyatakan bahwa kebahagian dapat ditingkatkan dengan faktor
eksternal dan faktor internal (Diener dan Diener, 2003). Factor eksternal adalah factor-faktor
dari luar seperti pengetahuan, penghasilan dan kedudukan. Factor internal adalah factor yang
berasal dari dalam individu seperti kepribadian, nilai hidup, dan kepercayaan (Diener et al.,
1999). Dalam penelitian ini pengetahuan ajaran islam sebagai factor eksternal dan akhlak
yang berasal dari dalam diri individu sebagai factor internal.
Menurut teori bottom up, pengetahuan (grade) dapat mempengaruhi afek individu
(Crocker et al., 2003). Banyaknya individu yang membaca kitab Al-Qur’an, doa-doa yang
terkandung didalamnya, dan membaca kisah-kisahnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an
membawa perasaan positif bagi pembacanya. Membaca dan memahami, dan mengulang-
ulang ucapan yang mengandung kata-kata hikmah dapat meningkatkan kebahagiaan.
Kegiatan lain yang secara teori dan temuan empiris berperan meningkatkan kepuasan hidup
adalah membantu fakir miskin, kawan yang berada dalam kesulitan, bekerja bakti untuk
masyarakat sekitar, dan menjenguk orang sakit (Haidt, 2003).
Akhlak lain yang pernah diteliti dalam psikologi terlihat mampu meningkatkan
kepuasan hidup individu adalah mempeerat tali silaturahmi karena dapat mempererat
kohesivitas dan dukungan sosial (Myers, 2003) kegiatan tersebut dilihat sebagai pengaruh
sosial yang memberi kontribusi bagi paningkatan kebahagian para remaja. Ini berarti bahwa
peningkatan kebahagiaan remaja dapat dimotivasi oleh factor-faktor sosial, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif akhlak remaja dengan kebahagiaan remaja.

METODE
Subjek penelitian ini adalah remaja yang menjadi siswa di SMU se Daerah Istimewa
Yogyakarta. Keseluruhan jumlah subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah 207
siswa.
Kepuasan hidup adalah penilaian individu terhadap segala peristiwa yang dialami
dengan harapan dan keiinginannya. Kepuasan hidup diungkapkan dengan skala Life-
satisfaction scale dengan modifikasi. Afek adalah suatu kondisi seseorang yang menunjukkan
adanya afek positif yang maksimal dan afek negative yang minimal. Afek diungkapkan
dengan skala Affect Scale (PANAS scale) dengan modifikasi. Skala Akhlak. Akhlak adalah
merupakan perilaku yang didasari atas pengetahuan ajaran islam. Akhlak diungkap dengan
skala akhlak. Tes pengetahuan ajaran Islam. Pengetahuan ajaran islam adalah pengetahuan
yang berasal dari kitab Qur’an dan hadis. Pengetahuan ajaran Islam diungkap dengan tes
objektif yang dikembangkan oleh Bloom (1956) dan Suryabrata (2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil analisis, maka dapat disimpulkan bahwa memang ada hubungan
yang signifikan antara dependen variabel dengan independen variabel atau, akhlak dan
pengetahuan ilmu agama secara nyata dan secara bersama-sama berhubungan secara
signifikan dengan kepuasan siswa, dan afek siswa. Berkenaan dengan hasil analisis itu maka
hipotesis yang menyatakan bahwa akhlak dan pelajaran agama Islam berhubunagn positif
dengan kepuasan dan afek dapat diterima kebenarannya. Selain itu, semakin tinggi akhlak
dan pelajaran agama Islam, semakin tinggi pula kepuasan dan afeknya. Berkenaan dengan
hasil analisis itu maka dikatakan pula bahwa akhlak dan pelajaran agama Islam secara
individual mempunyai hubungan positif dengan kebahagiaan siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil uji hipotesis, ternyata hipotesis yang menyatakan terdapat
hubungan positif antara pelejaran agama Islam dan akhlak terhadap kebahagiaan yang
diajukan dalam penelitian ini diterima. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pelajaran
agama Islam dan akhlak memiliki hubungan positif denga kebahagiaan.
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, untuk meningkatkan kebahagiaan,
maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi remaja. Remaja hendaknya berupaya memperbaiki akhlak dan meningkatkan
ilmu agamanya dengan teratur, karena peningkatan kedua hal tersebut mengakibatkan
meningkatnya kebahagiaan yang didambakan.
2. Bagi lembaga pendidikan
a. kebijakan lembaga pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang
kondusif dalam rangka mengajak remaja untuk melaksanakan akhlak
atau budi pekerti yang diajarkan dalam agama Islam, antara lain

9|Page
dengan mengajak remaja untuk rukun, bersilaturrohim, dan
menjalankan semua bentuk ibadah sesuai dengan kemampuan mereka
b. Meningkatkan penguasaan ajaran Islam sesuai dengan kemampuan
mereka masing-masing.
3. Bagi peneliti lain
a. Beberapa keterbatasan penelitian ini, antara lain penelitian ini hanya
mengkaji tentang beberapa aspek akhlak, seperti silaturrahim,
menolong orang lain dan yang talah disebutkan dalam alat ukur untuk
meningkatkan kebahagiaan remaja. Masih banyak variabel-variabel
lain yang berhubungan dengan peningkatan kebahagiaan misalnya
penghasilan, pendidikan, dan situasi lingkungan
b. Penelitian ini perlu pengembangan lebih lanjut dengan penelitian
lainnya, sehingga hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai
pembanding dan dapat memberikan manfaat dalam rangka peningkatan
keilmuan.

HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN PROFETIK


DENGAN MOTIVASI KERJA

Arianti Setiadi & Sus Budiharto


Universitas Islam Indonesia

PENGANTAR
Untuk menumbuhkan motivasi kerja dalam diri karyawan dibutuhkan seorang
pemimpin yang mampu mengerti dan memahami setiap karyawan sesuai dengan karakter dan
keunikannya masing-masing. Sejumlah organisasi mengalami perpecahan karena disebabkan
faktor kepemimpinan yang kurang baik. Akan tetapi, tidak sedikit juga organisasi yang
sukses dan berkembang karena didukung kepemimpinan yang baik dan mampu memotivasi
setiap anggota untuk bekerja secara lebih baik dan bertanggungjawab. Kesalahan dalam
menerapkan gaya kepemimpinan pada perusahaan dapat berdampak negatif bagi karyawan.
Kepemimpinan otoriter dalam perusahaan misalnya, dapat memasung kreativitas karyawan.
Karyawan cenderung bekerja sesuai dengan aturan, tanpa berpikir kritis, inovatif, dan kreatif.
Kepemimpinan semacam ini tidak saja memasung kreativitas karyawan tetapi juga dapat
menyebabkan motivasi kerja karyawan menjadi menurun (Yukl, 2006).
Berdasarkan kajian tersebut, penulis ingin mengetahui secara lebih jauh tentang
hubungan antara kepemimpinan profetik dengan motivasi kerja karyawan. Dalam lingkungan
kerja, pemimpin profetik dapat memotivasi karyawan baik secara fisiologis, psikologis,
maupun spiritual. Karyawan dapat lebih loyal terhadap organisasi baik dalam hal
pengorbanan waktu dan tenaga untuk kepentingan organisasi. Hal ini disebabkan pemimpin
profetik selalu memberikan keteladanan sehingga dapat ditiru dan diterapkan oleh karyawan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepemimpinan profetik
dengan motivasi kerja.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara
kepemimpinan profetik dengan motivasi kerja. Semakin positif persepsi terhadap
kepemimpinan profetik atasan, maka motivasi kerja karyawan juga akan semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin negatif persepsi kepemimpinan profetik atasan, maka motivasi kerja
karyawan akan semakin rendah.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Variabel-variabel yang
digunakan dalam penelitian ini, adalah variabel tergantung yaitu motivasi kerja, dan variabel
bebas yakni kepemimpinan profetik. Motivasi kerja adalah dorongan dalam diri individu
yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja ke arah pencapaian tujuan. Motivasi kerja
dalam penelitian ini diukur menggunakan skala motivasi kerja yang disusun berdasarkan
pada konsep motivasi menurut Adz-Dzakiey (2007) yang mencakup motivasi fisiologis,
psikologis, dan spiritual.
Kepemimpinan profetik merupakan proses mempengaruhi yang mengimplementasi
sifat kenabian yaitu mengkombinasikan kemampuan intelektual dan kekuatan kognitif jiwa
manusia untuk mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan Profetik diukur dengan menggunakan
skala kepemimpinan profetik yang disusun oleh Budiharto (2006), meliputi empat dimensi

11 | P a g e
yaitu sidiq (berpedoman pada nurani dan kebenaran / conscience centred), amanah
(profesional, komitmen tinggi / highly committed), tabligh (trampil berkomunikasi /
communication skills), dan fathonah (mampu mengatasi masalah / problem solver).
Responden dalam penelitian ini adalah karyawan Fakultas Ekonomi dan Fakultas
Hukum Universitas Islam Indonesia sebanyak 35 orang.

HASIL PENELITIAN
Dari hasil analisis memperlihatkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara
kepemimpinan profetik dengan motivasi kerja yakni sebesar 0,397 dengan p sebesar 0,009
sehingga p < 0,01. Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara
kepemimpinan profetik dengan motivasi kerja. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan
dapat diterima. Adanya hubungan positif variabel kepemimpinan profetik dengan motivasi
kerja karyawan juga ditunjukkan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) sebesar
0,157. Hal ini berarti bahwa sumbangan variabel kepemimpinan profetik terhadap motivasi
kerja pada karyawan adalah sebesar 0,157 atau 15,7%. Sementara sumbangan variabel lain
yang tidak diteliti sebesar 84,3%

PEMBAHASAN
Kepemimpinan profetik yang semakin tinggi akan mampu meningkatkan motivasi
kerja para responden yang bekerja di organisasi pendidikan berbasis nilai-nilai Agama Islam
di Indonesia. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan profetik merupakan
salah satu model kepemimpinan yang cukup cocok untuk meningkatkan motivasi kerja
pegawai di bidang pendidikan islam, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu
pelayanan dan mutu pendidikan Islam di Indonesia.

KESIMPULAN
Hasil analisis data dan pembahasan memperlihatkan bahwa ada hubungan positif antara
kepemimpinan profetik dengan motivasi kerja responden (pegawai). Semakin positif
pegawai memandang kepemimpinan profetik atasan, maka motivasi kerjanya akan semakin
meningkat. Sebaliknya, semakin negatif pegawai memandang kepemimpinan profetik atasan,
maka motivasi kerjanya akan semakin menurun.
WHAT’S LOVE GOT TO WITH IT?
Equality, Equity, Commitment And Women’s Marital Quality

W. Branford Wilcox, University of Virginia


Steven I. Nock, University of Virginia

ABSTRAK
Penelitian ini ingin membuktikan bahwa kesetaraan (egalitarianism) dalam hubungan
(companionate) perkawinan akan meningkatkan kualitas pernikahan pada pasangan wanita,
sedangkan pada pasangan pria akan meningkatkan emosi-emosi positif. Penelitian ini
menemukan ada dua hal yang penting didalam hubungan perkawinan, yang pertama,
menyangkut kebahagiaaan pasangan wanita tentang pembagian tugas-tugas dalam rumah
tangga. Yang kedua adalah tentang komitmen dyadic pada hal hal ideal dialam sebuah

13 | P a g e
perkawinan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara
kondisi emosi pasangan pria dan kebahagiaan pasangan wanita.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebahagiaan perkawinan pada pasangan wanita
diperoleh karena dua hal yaitu adanya kesetaraan jender, dan yang ke dua adalah komitmen
normatif pada lembaga perkawinan itu sendiri.

LATAR BELAKANG
Beberapa abad terakhir ini banyak terjadi perubahan pada fungsi karakter dan stabitas
dala hubungan perkawinan. Khususnya terjadi peningkatan hubungan pada status sosial dan
ekonomi wanita. Hubungan tersebut menurun ketika dihubungkan dengan kondisi keluarga
dan peningkatan budaya individualistis, yang berakibat pada penurunan kepuasan dalam
perkawinan. Maka dari itu kualitas emosi pasangan wanita harus ditempatkan pada posisi
utama. Lebih jauh lagi, bukti-bukti terkini menunjukkan bahwa perceraian, yang dialami oleh
pasangan wanita, dapat terjadi karena kualitas emosi didalam hubungan perkawinan. Hal-hal
tersebut yang mendasari penelitian ini.

KAJIAN TEORI
Dalam penelitian ini, teori hubungan (companionate) dalam perkawinan terkait
dengan tiga asumsi tentang keterkaitan antara egalitarianism dan bentuk emosi pada
pernikahan. Ketiga asumsi tersebut adalah:
1. masing-masing pasangan harus berbagi tugas dan tanggung jawab yang serupa.
Pembagian tersebut dapat meningkatkan kualitas emosi di dalam suatu pernikahan,
contohnya dengan menciptakan kondisi yang dapat membangun percakapan, simpati,
pengertian, dan hal-hal lainnya.
2. pengurangan otoritas yang bersifat patriarchal. Teori sosial klasik telah menunjukkan
berbagai ketegangan antara otoritas dan keintiman.

Hypothesis 1a : Para istri pada pernikahan yang bersifat egalitarian merasa lebih puas akan
pernikahan mereka.
Hypothesis 1b : Para suami pada pernikahan yang bersifat egalitarian akan memiliki lebih
banyak emosi positif pada pernikahan mereka.

SEBUAH TEORI KELEMBAGAAN PADA PERNIKAHAN


Satu alasan yang menyebabkan teori/model companionate memiliki kesulitan dalam
memprediksi kebahagiaan pernikahan para wanita adalah rendahnya keterkaitan gender yang
bersifat egaliter dengan idealisme sebuah lembaga pernikahan, sama rendahnya dengan
tingkat partisipasi kelembagaan yang memberikan dukungan social bagi suatu pernikahan,
contohnya lembaga keagamaan. Para wanita konservatif biasanya akan lebih bahagia dalam
pernikahan mereka karena mereka lebih menghargai pernikahan tersebut dengan kepentingan
moral yang tinggi, dan hal ini biasanya didukung oleh institusi keagamaan yang memberikan
dukungan social bagi pernikahan mereka. Para wanita tersebut biasanya lebih mampu
mengatasi tantangan-tantangan kontemporer dalam suatu pernikahan dan mereka lebih
mampu mengontrol kebahagiaan mereka karena dibantu oleh dukungan-dukungan yang
bersifat social dan normative tersebut.
Pada khususnya, bentuk kelembagaan pada pernikahan dapat memprediksi apakah
para istri merasa lebih bahagia di dalam pernikahan mereka hanya apabila :
1. mereka mampu berkomitmen kuat pada lembaga pernikahan itu sendiri. Karena para
istri yang mempunyai komitmen kuat akan merasakan tekanan yang lebih kuat untuk
mewujudkan “mitos keluarga” yang berkata bahwa mereka bahagia dengan rumah
tangga mereka (menciptakan sugesti). Maka, para istri yang berkomitmen kuat
semacam ini akan lebih meningkatkan pandangan positif akan pernikahan mereka
sendiri.
2. mereka ikut aktif dengan institusi yang mampu memberikan dukungan social pada
suatu pernikahan. Dengan maksud agar mereka dapat melihat pernikahan sebagai
lembaga yang sakral dan suci.
3. mereka berbagi komitmen social dan normative mereka dengan para suami.
Pembagian ini dapat menciptakan rasa keberhasilan pernikahan pada diri sang istri
maupun suami. Para istri yang percaya bahwa suami mereka mempunyai tanggung
jawab yang sama dalam pernikahan akan berkomitmen kepada pernikahan mereka
dan menunjukkan kebahagiaan pernikahan. Ini dapat terjadi karena pembagian
tersebut akan menghasilkan rasa keamanan dalam hubungan suami-istri dan
menghasilkan pandangan jangka panjang akan pernikahan mereka tersebut, yang
nantinya akan membiarkan para istri untuk menghadapi berbagai tantangan dan
konflik rumah tangga yang biasa terjadi tanpa perlu merasa cemas bahwa hal itu akan
mengancam pernikahan mereka. Dengan kata lain, system pembagian tanggung jawab

15 | P a g e
dalam rumah tangga akan menciptakan spirit saling percaya dan membuat para istri
merasa lebih bahagia akan keadaan pernikahan mereka, baik yang sedang berlangsung
saat ini, maupun yang kemungkinan akan terjadi di masa depan dalam pernikahan
mereka tersebut.
Dengan alasan yang serupa, penelitian ini memprediksi bahwa para suami yang
mengadopsi pendekatan kelembagaan pada pernikahan mereka akan lebih memiliki bentuk-
bentuk emosi positif. Penjelasan lebih lanjut :
1. Salah satu standar pada pernikahan modern adalah bahwa para pasangan
suami-istri harus mampu memberikan dukungan emosional terhadap satu
sama lain. Pernikahan sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk
percakapan penuh arti, wujud pengertian akan masing-masing
pasangannya, bentuk kasih sayang, dan menghabiskan waktu senggang
berdua. Bagaimanapun juga, pengertian2 pernikahan tersebut seringkali
sulit dipahami oleh kalangan suami, yang pada kodratnya sebagai pria
harus bersikap rasional daripada emosional. Namun, para suami yang
sudah berkomitmen dalam pernikahan harusnya lebih merasa bertanggung
jawab dengan lebih menanamkan sisi perasa/sensitif mereka dalam
pernikahan.
2. Para pria yang berkomitmen kuat akan pernikahan mereka biasanya akan
menampung masukan dari orang ketiga dengan maksud agar pernikahan
mereka dapat berjalan lebih baik.
3. Para pria yang berbagi tanggung jawab social dan normative dengan istri
mereka biasanya akan dapat menikmati rasa saling percaya antar suami-
istri, yang dapat membuat para pria tersebut tulus menyerahkan hidup
mereka demi kesuksesan pernikahan mereka. Kepercayaan tinggi antar
suami-istri juga mampu menurunkan rasa kekhawatiran akan kestabilan
perekonomian rumah tangga mereka.

Hypothesis 2a : Para istri yang memiliki timgkat komitmen social dan normative yang tinggi
pada pernikahan akan lebih merasa puas akan kehidupan pernikahan mereka, terutama bila
mereka juga berbagi tanggung jawab rumah tangga dengan suami mereka.
Hypothesis 2b : para suami akan lebih menanmkan sikap/emosi positif jika mereka memiliki
komitmen social dan normative yang tinggi pada pernikahan, terutama jika mereka membagi
komitmen ini dengan istri mereka.
SEBUAH TEORI/MODEL KESETARAAN DALAM PERNIKAHAN
Teori kesetaraan menyebutkan bahwa persepsi keadilan di dalam pembagian
tanggung jawab keluarga dibentuk oleh komitmen ideologi wanita. Para wanita konservatif
masih berpegangan pada ideology gender yang menyebutkan bahwa wanita mempunyai
orientasi alamiah dalam melakukan pekerjaan2 yang bersifat mengasuh dan pekerjaan2
rumah lainnya. Oleh karena itu mereka melihat pekerjaan rumah tangga sebagi pekerjaan
wanita, yang membuat mereka sulit untuk melihat ketidaksetaraan yang terjadi pada diri
mereka. Kepasrahan dalam menjalani ketidaksetaraan dalam rumah tangga ini membuat para
wanita konservatif tersebut kurang merasakan derita konflik rumah tangga dan membuat
tingkat kebahagiaan pernikahan mereka rendah. Untuk para istri semacam itu, standar sebuah
kesetaraan menjadi lebih rumit dari sekedar kesetaraan.

Hypothesis 3a : Para istri konservatif memiliki pengharapan rendah terhadap kesetaraan di


dalam pembagian tugas2 rumah tangga dan emosinya; dengan begitu, mereka justru merasa
lebih bahagia dengan pernikahan mereka karena mereka tidak menganggap kesetaraan sama
dengan keadilan.
Hypothesis 3b : Para suami yang menikah dengan istri yang konservatif akan lebih perasa
karena mereka mengalami ketidakbahagiaan yang lebih sedikit dengan pembagian pekerjaan
domestik.
Teori kelembagaan dan kesetaraan dalam pernikahan juga dapat membantu kita untuk
lebih mengerti hubungan antara egalitarianism dengan kebahagiaan di dalam pernikahan.
Salah satu alasan mengapa teori companionate memiliki kesulitan di dalam memprediksi
kebahagiaan pernikahan adalah karena para wanita yang sejalan dengan standar egalitarian
sebuah pernikahan mempunyai pengharapan yang lebih tinggi di dalam pembagian tugas2
rumah tangga yang pada kenyataannya sulit diwujudkan. Dengan menambahkan faktor2 dari
teori kesetaraan dan kelembagaan pada pernikahan, kita dapat melihat bahwa teori
companionate dapat dibenarkan setelah mengontrol factor lain yang dapat merumitkan
keterkaitan antara factor companionate dengan kualitas sebuah pernikahan, begitu juga
dengan keterkaitan antara factor companionate dengan bentuk2 emosi para pria. Terutama, di
hipotesis berikut ini :

17 | P a g e
Hypothesis 4a : setelah mengontrol faktor2 yang berhubungan dengan teori kelembagaan
dan kesetaraan pada pernikahan, indikasi2 pernikahan yang bersifatt companionate akan
secara positif dikaitkan dengan kualitas pernikahan para istri.
Hypothesis 4b : setelah mengontrol faktor2 yang berhubungan dengan teori kelembagaan
dan kesetaraan pada pernikahan, sifat egaliter pada sebuah pernikahan akan secara positif
dikaitkan dengan bentuk2 emosi pernikahan pada para suami.

DATA AND METODE


Penelitian ini menganalisis data yang dikumpulkan dari Survey Nasional pada
Keluarga dan Rumah Tangga/ NSFH2 (1992-1994), secara nasional mengambil sample yang
dapat mewakili yaitu orang dewasa yang berusia 23 ke atas. Penelitian ini menggunakan data
tahun 92-94 karena data survey tahun 87-88 tidak memenuhi tingkat pengukuran tentang
bentuk2 emosi positif dalam suatu pernikahan. NSFH2 mewawancarai ulang 10.008
koresponden dari jumlah awal 13.007 responden pada survey tahun 87-88, dan direspon
sebesar 77 persen koresponden. Penelitian ini mengacu pada subsample dari 5.010 pasangan
yang diambil dari data NSFH2. Statisik dan analisis yang dipakai pada penelitian ini adalah
berdasarkan data yang disesuaikan untuk kalangan Africans-Americans dan Hispanik.

HASIL
• Peningkatan kebahagiaan pernikahan para istri ketika para suami mereka
berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga mengindikasikan bahwa
pembagian tanggung jawab mampu menciptakan rasa kepercayaan dan
rasa keamanan hubungan antar suami-istri
• Para wanita yang tidak menganggap penting arti keadilan dalam rumah
tangga akan merasa kurang bahagia dibanding ketika suami mereka lebih
banyak mengerjakan pekerjaan rumah.
• Bentuk2 emosi sang suami dalam suatu pernikahan (dan/atau persepsi para
istri terhadap hal tersebut) memegang peranan penting dalam
mempengaruhi kualitas kehidupan pernikahan sang istri.
• Persepsi wanita tentang kesetaraan dalam pembagian pekerjaan rumah
tangga sangat kuat berhubungan dengan kualitas dalam menghabiskan
waktu bersama suami mereka.
• Para wanita yang tidak merasa puas tentang pembagian pekerjaan rumah
tangga dapat mengalami konflik dengan suami mereka atau secara terpisah
secara emosional dari kehidupan pernikahan mereka, yang kemudian
berdampak pada penumpukan bentuk2 emosi sang suami.
• Kekuatan konsistensi teori kesetaraan yang menyebrangi ukuran2 bentuk
emosi suami dalam pernikahan menunjukkan bahwa persepsi2 dari keadilan
pembagian pekerjaan rumah tangga, dan kualitas pernikahan secara umum,
sangat tergantung dengan kebahagiaan yang dialami sang istri dalam
kehidupan pernikahannya.

Dari sudut panadang kelembagaan, penelitian ini memnemukan bahwa dukungan


normative dari kunjungan keagamaan sangat mendukung suatu pernikahan, yang dapat
berujung pada meningkatnya kebahagiaan pernikahan pada wanita. Makin tradisional
kepercayaandan prakteknya, menpatkan gender di posisi yang penting dan ekspreseif pada
banyk pernikahan dan yang dialami wanita.

THE SIGNIFICANCE OF COLOR IN DREAMS

Robert Hoss, M.S. in collaboration with Curtiss Hoffman Ph.D.


Presented at the International ASD Conference in Copenhagen, June 2004

ABSTRAK
Jika warna dapat merangsang emosi disaat kita terjaga, lalu apakah ingatan secara
emosional dapat mempengaruhi warna didalam mimpi? Makalah ini menyampaikan hasil
penelitian tentang pertanyaan ini. Penelitian ini tidak hanya sekedar membuktikan hipotesis,
bahwa warna, didalam reflek emosi, juga terkandung didalam penciteraan mimpi. Warna
tersebut tampil sesuai dengan respon emosi seseorang ketika sebuah peristiwa, emosional,
terjadi. Tidak hanya itu, lebih lanjut penelitian ini mengungkap bahwa, warna yang tampil
didalam mimpi adalah merupakan gambaran umum dari kepribadian.

PENELITIAN TENTANG TIDUR


Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mimpi itu berwarna. Pada laboratorium

19 | P a g e
tidur, setelah tahap Rapid Eye Movement (REM), 70% melaporkan bahwa mimpi mereka
berwana dan 13% lainnya samar-samar. Kebanyakan yang lainnya tidak ingat apakah mimpi
mereka berwarna atau tidak. Laporan diluar laboratorium (mimpi dalam tidur harian)
menunjukkan bahwa hanya 25-29 % orang yang ingat apakah mimpi mereka berwarna atau
sebagian berwarna.

PENELITIAN TENTANG WARNA


Penelitian yang telah dikembangkan selama kurun waktu 50 tahun terakir terhadap
hewan, terkait dengan penciteraan warna, walaupun kecil, namun berdampak besar terutama
pada bidang psikologi warna. Seperti pada industri periklanan, kemasan makanan, kesenian,
dekorasi ruang, dan sebagainya. Bagi manusia, warna secara umum dapat membangkitkan
respon fisologis yang pada gilirannya membangkitkan asosiasi psikologis.
Jung dan Pearls membahas pengelompokan warna, yang muncul didalam mimpi
kedalam empat kategori yaitu, merah, biru, kuning, dan hijau. Warna-warna tersebut
merupakan warna dasar, bukan warna campuran. Setiap warna didalam mimpi mewakili
simbol simbol tertentu, dari gelap, warna hitam, simbol untuk ketidaksadaran, hingga putih
(Light) untuk kesadaran, dan keempat kategori warna yaitu kuning untuk intuisi, biru untuk
berfikir, merah untuk perasaan, dan hijau untuk sensasi.

METODELOGI
Penelitian ini dilakukan kurang-lebih selama 12 tahun. Dengan menggunakan catatan
data base komputer. Penelitian ini menggunakan Luscher Color Test, yaitu sebuah alat test
warna. Alat ini ini mengelompokkan warna-warna menjadi delapan grup. Alat ini juga
didesain sebagai penggerak dari tingkatan profil emosi terendah sampai pada yang paling
tinggi.
TEMUAN
Ada hubungan yang cukup signifikan antara warna yang hadir dalam mimpi
seseorang dengan kejadian yang berkaitan dengan emosi selama hidup seseorang. Kemudian
75% responden menyatakan benar adanya bahwa ada hubungan antara warna yang tampil
didalam mimpi berkaitan dengan 12 profil kepribadian yang disajikan.
The role of gratitude in the development of social support, stress, and depression:
Two longitudinal studies

Alex M. Wood,*, John Maltby, Raphael Gillett, P. Alex Linley, Stephen Joseph
Department of Psychology, University of Warwick, England CV4 7AL, UK School of
Psychology, University of Leicester, England LE1 9HN, UK Centre for Applied Positive
Psychology, Coventry, England CV4 7EZ, UK School of Sociology and Social Policy,
University of Nottingham, England NG7 2RD, UK
Available online 4 December 2007

ABSTRAK
Dalam dua studi longitudinal, para penulis memeriksa arah hubungan antara sifat
syukur, dengan, dukungan sosial, stres, dan depresi selama transisi kehidupan. Kedua studi
menggunakan silang penuh-lag desain panel, dengan subjek penelitiannya yaitu mahasiswa,
sejak mereka masuk kuliah, hingga selesai. Model persamaan struktural adalah digunakan
untuk membandingkan model langsung, sebaliknya, dan model timbal balik. Kedua studi
didukung model langsung dimana rasa syukur mengarah ke tingkat yang lebih tinggi
dirasakan dukungan sosial, dan menurunkan tingkat stres dan depresi. Sebaliknya, tidak

21 | P a g e
menimbulkan rasa syukur, dan sebagian besar model mediasi itu. Study 2 tambahan
menunjukkan bahwa rasa syukur mengarah yang lain secara variabel independen dari faktor-
faktor Lima Besar kepribadian. Keseluruhan syukur tampaknya langsung mengarah pada
dukungan sosial, dan untuk melindungi orang dari stres dan depresi, memiliki implikasi bagi
intervensi klinis.

LATAR BELAKANG
Secara historis, rasa syukur sangat penting dalam memahami fungsi manusia.
Meskipun studi tentang perbedaan individu dalam bersyukur masih sangat baru-baru ini.
Mungkin karena yang lebih umum penelitian mengabaikan emosi positif . Dalam beberapa
tahun terakhir syukur telah terbukti menjadi prediktor kuat untuk variabel kesejahteraan
sosial. Berdasarkan hubungan ini, syukur intervensi telah dikembangkan, dan ditampilkan
secara substansial menurunkan depresi dan meningkatkan fungsi sosial. Keberhasilan seperti
telah mengakibatkan rasa syukur panggilan untuk intervensi untuk menjadi lebih digunakan
dalam pengaturan klinis. Panggilan ini konsisten dengan gerakan yang lebih umum untuk
mengembangkan kekuatan klien dalam praktek klinis.
Meskipun perkembangan baru-baru ini penelitian pada rasa syukur, sebuah
pertanyaan mendasar yang belum ditangani oleh literatur bagaimana rasa syukur, stres,
depresi, dan dukungan sosial mempengaruhi satu sama lain sepanjang waktu. Metode
longitudinal juga dapat menambahkan gratis berharga bukti yang ada menunjukkan penelitian
eksperimen bahwa rasa syukur intervensi mengarah pada peningkatan tingkat kesejahteraan
emosional. Juga mengetahui bahwa Therapeutically berubah rasa syukur memiliki efek
kausal kesejahteraan, itu akan sangat berharga untuk mengetahui apakah rasa syukur secara
alami mengarah pada peningkatan kesejahteraan dari waktu ke waktu. Mengetahui apakah
syukur mengarah ke tingkat yang lebih rendah stres dan depresi dalam pengaturan naturalistik
seperti transisi kehidupan adalah suatu pertimbangan penting dalam pelaksanaan syukur
intervensi dalam pengaturan klinis. Sebagai contoh, jika rasa syukur dilindungi secara alami
orang-orang dari stres dan depresi, maka ini akan meningkatkan rasa syukur mengisyaratkan
bahwa therapeutically mungkin membangun modal psikologis yang menguntungkan selama
masa-masa sulit kehidupan masyarakat. Hal ini akan mendorong penggunaan syukur
intervensi klinis, konseling, dan pengaturan pembinaan. Meskipun dukungan sosial memiliki
basis penelitian besar-besaran, Peran syukur dalam dukungan sosial belum dianggap, dan
syukur dapat diharapkan untuk menjadi prediktor yang sangat kuat bagi dukungan sosial.
Dukungan sosial dalam mempelajari metode longitudinal sangat berharga. Perkembangan
dukungan sosial adalah proses alami, dengan tingkat dukungan sosial berubah sebagai orang
bergerak melalui situasi-situasi sosial yang berbeda. Variabel kepribadian memiliki nilai
prediksi yang berbeda, baik individu dalam tingkat dukungan sosial bahwa orang-orang
mengembangkan. Bagaimana dukungan sosial secara alami berkembang juga memiliki
signifikansi diterapkan melalui pemberitahuan perencanaan intervensi dukungan sosial

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian adalah masiswa berjumlah 156 orang, terdiri dari 76 laki-laki dan
80 perempuan berusia 18-19 tahun. Subjek penelitian diberikan kuisioner pada awal
perkuliahan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kita melihat studi sebagai memiliki tombol empat implikasi, termasuk membantu
penafsiran penampang menemukan syukur mendukung intervensi, menyarankan pentingnya
unik syukur, dan lebih umum mendemonstrasikan kegunaan SEM dalam menganalisis desain
longitudinal. Pertama, menunjukkan arah hubungan antara rasa syukur, stres, depresi dan
dukungan sosial memungkinkan interpretasi yang lebih baik dari sebelumnya penampang
temuan mengenai peranan syukur dalam kesejahteraan dan kehidupan sosial. Beberapa telah
berspekulasi bahwa sifat bersyukur mengarah pada manfaat emosional, dan penelitian ini
memberikan verifikasi empiris. Kedua, hasil juga mendukung panggilan untuk penggunaan
syukur intervensi dalam praktek klinis Sebelumnya, bukti eksperimental telah menunjukkan
kemanjuran jangka pendek meningkatkan rasa syukur untuk mengurangi depresi dan
meningkatkan kebahagiaan. Menunjukkan bahwa rasa syukur secara alami sehingga
meningkatkan dukungan sosial dan kesejahteraan selama trsisi kehidupan menunjukkan
bahwa intervensi mungkin memiliki efek jangka panjang, dan bahwa meningkatkan adalah
tujuan yang sah terapi. Selain itu, berpotensi memberikan keterampilan-keterampilan untuk
meningkatkan rasa terima kasih mereka dapat bermanfaat sebagai perilaku kognitif seperti
kecakapan hidup sebagai menantang keyakinan negatif .
Study 2 menunjukkan peran yang unik syukur dalam kesejahteraan penampang
hubungan antara rasa syukur dan kesejahteraan adalah independen dari Lima Besar. Saat
hasil memberikan gratis menemukan bahwa dengan berjalannya waktu rasa syukur

23 | P a g e
mengakibatkan stres dan depresi yang lebih rendah dan tingkat yang lebih tinggi dukungan
sosial atas efek dari Lima Besar. Temuan ini membantu mendukung McCullough et al.'s
syukur adalah posisi yang unik penting untuk kesejahteraan dan kehidupan sosial. Keempat,
hasil menunjukkan penggunaan SEM untuk menganalisis desain longitudinal memiliki
sejarah panjang dalam kepribadian dan psikologi sosial dan analisis SEM menjadi
Pendekatan yang penting membandingkan model yang berbeda dapat diterapkan pada
sejumlah besar pertanyaan dalam kepribadian dan psikologi sosial, dan mudah-mudahan
makalah ini akan memberikan sebuah ilustrasi tentang kegunaan pendekatan ini.