Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH SPEKTRUM HIDROGEN

(disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Teknik Laboratorium 1)

Oleh :

Yoga agung kusuma


(080210192011)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jika sebuah gas diletakkan di dalam tabung kemudian arus listrik dialirkan ke dalam tabung, gas akan
memancarkan cahaya. Cahaya yang dipancarkan oleh setiap gas berbeda-beda dan merupakan
karakteristik gas tersebut. Cahaya dipancarkan dalam bentuk spektrum garis dan bukan spektrum yang
kontinu. Kenyataan bahwa gas memancarkan cahaya dalam bentuk spektrum garis diyakini berkaitan erat
dengan struktur atom. Dengan demikian, spektrum garis atomik dapat digunakan untuk menguji
kebenaran dari sebuah model atom.
Istilah atom pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli filsafat Yunani bernama Democritus (460-
370 SM). Setiap zat dapat dibagi atas bagian-bagian yang lebih kecil, sampai mencapai bagian yang
paling kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Bagian yang tak dapat dibagi itu oleh Demokritus disebut
atom ,dari kata Yunani ”atomos” yang artinya tak dapat dibagi.
Selanjutnya, para filsuf yang muncul kemudian, seperti Plato dan Aristoteles merumuskan sebuah
pemikiran bahwa bisa jadi tidak ada partikel yang tidak dapat dibagi. Berarti, menurut dugaan mereka
atom pun masih dapat dibagi lagi. Bersamaan dengan itu, pandangan mengenai atom berdasarkan
pemikiran Demokritus mulai tersingkir.
Sejak ditemukannya partikel-partikel dasar atom, teori atom banyak mengalami perubahan. hal ini
menggoyahkan teori atom Dalton yang menyatakan bahwa atom tidak dapat dibagi-bagi. Diantara yang
menggoyahkan teori atom ini ialah hasil percobaan yang dilakukan oleh Thomson pada tahun 1897.
Atom dalam suatu unsur dapat menghasilkkan spektrum emisi (spektrum diskret) dengan menggunakan
alat spectrometer, sebagai contoh spectrum hidrogen. Atom hidrogen memiliki struktur paling sederhana.
Spektrum yang dihasilkan adalah atom hidrogen yang merupakan spektum yang paling sedehana.
Spektrum garis atom hydrogen berhasil dijelaskan oleh Niels Bohr pada tahun 1913.

GAMBAR 1. Spektrum garis berbagai gas


Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang gelombang berbeda. Untuk gas
hidrogen yang merupakan atom yang paling sederhana, deret panjang gelombang ini ternyata mempunyai
pola tertentu yang dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis. Seorang guru matematika Swiss
bernama Balmer menyatakan deret untuk gas hidrogen sebagai persamaan berikut ini. Selanjutnya, deret
ini disebut deret Balmer.
1  1 1 
= R 2 − 2 
λ 2 n 
Dimana panjang gelombang dinyatakan dalam satuan nanometer (nm).

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas maka, rumusan masalah yang akan diteliti dalam percobaan ini adalah :
1. Bagaimana adanya spektrum diskrit atom hydrogen ?
2. Bagaimana menggunakan rumus Balmer untuk menentukan konstanta- Rydberg ?
3. Bagaimana menentukan konstanta Plansk dari spektrum atom hydrogen ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk menunjukkan adanya spektrum diskret atom hydrogen
2. Untuk menggunakan rumus Balmer dalam menentukan konstanta- Rydberg
3. Untuk menentukan konstanta Plansk dari spektrum atom hydrogen
BAB 2. DASAR TEORI

Konsep atom mula-mula dikemukakan oleh Democritus, seorang filosof Yunani yang hidup pada
abad ke-3 sebelum masehi (460-370 SM). Pada saat itu berdasarkan pemikirannya tanpa disertai dengan
eksperimen, Democritus menyatakan bahwa atom adalah bagian terkecil dari suatu zat atau materi yang
tidak dapat dibagi-bagi lagi. Berdasarkan eksperimen yang lebih rinci, teori tentang atom mulai
dikembangkan pada abad-abad berikutnya. Barulah pada awal abad ke-19, teori atom berhasil
dirumuskan. Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya, Dalton merumuskan teori tentang atom yang
dikenal dengan teori atom Dalton. Teori atom Dalton menjadi dasar dalam perkembangan ilmu kimia,
ilmu tentang unsur dan perubahannya.
Melalui percobaan tetes minyak, Robert Millikan dapat menentukan besar muatan listrik
fundamental (yang paling kecil) dari zat. Diyakini bahwa muatan total dari zat merupakan kelipatan bulat
dari nilai muatan fundamental ini. Di kemudian hari muatan fundamental ini ditetapkan sebagai muatan
listrik dari sebuah elektron.
Thomson mencoba melihat lebih detail struktur atom dengan menyatakan bahwa atom terdiri atas
materi bermuatan positif yang mengandung elektron di dalamnya. Ini dapat dibayangkan seperti kue
cookies yang ditaburi kismis. Model ini didasarkan pada hasil eksperimen tetes minyak Millikan dan
percobaan Thomson yang menemukan fakta bahwa terdapat elektron yang bermuatan negatif yang
mengisi bagian dari atom.
• Model atom Thomson
Melalui percobaan hamburan partikel alfa, Rutherford melangkah maju dalam usaha untuk
memahami struktur atom. Dalam percobaan hamburan partikel alfa, partikel alfa yang ditembakkan ke
lempeng emas sebagian besar menembus lempeng tersebut dan sedikit saja yang dibelokkan, namun yang
mengejutkan adalah ada juga partikel alfa yang dipantulkan kembali ke arah semula.
Hasil eksperimen dimana ada sebagian partikel alfa yang dipantulkan kembali ditafsirkan oleh
Rutherford dengan menyatakan bahwa terdapat bagian yang sangat masif di dalam atom yang
mengandung sebagian besar massa atom tersebut. Bagian ini disebut inti atom yang memiliki massa 99%
dari massa atom.
Berdasarkan hasil percobaan hamburan partikel alfa, Rutherford mengemukakan gagasannya tentang
struktur atom. Model atom Rutherford menyatakan bahwa atom terdiri atas inti atom dengan elektron
yang berputar mengelilinginya dalam lintasan atau orbit. Ini dapat dibayangkan seperti tatasurya dimana
inti atom sebagai matahari dengan elektron-elektron sebagai planet yang berputar mengelilinginya.
Atom hidrogen memiliki struktur paling sederhana dan spektrum yang dihasilkan oleh atom hidrogen
merupakan spektrum paling sederhana. Oleh karena itu, spektrum hidrogen dijadikan prototipe untuk
mempelajari spektrum atom yang lebih rumit. Untuk menghasilkan spektrum atom hidrogen digunakan
gas hidrogen yang disimpan dalam tabung dengan tekanan yang sangat rendah. Beda potensial diberikan
kepada ujung-ujung tabung tersebut. Molekul-molekul gas hidrogen terurai menjadi atom-atom hidrogen
dan memancarkan energi foton atau cahaya. Cahaya tersebut dilewatkan ke dalam celah sempit dan
diteruskan melewati prisma, cahaya yang keluar dari prisma ditangkap oleh layar. Dilayar akan tampak
spektrum cahaya atom hidrogen tersebut.
Perkembangan teori selanjutnya tentang atom hidrogen dikemukakan oleh Niels Bohr dan dikenal
sebagai teori atom Bohr. Niels Bohr menyusun model atom hydrogen seperti model atom Rutherford
tetapi dengan memasukkan teori kuantum untuk menyempurnakan kelemahan teori atom Rutherford.
Teori atom Bohr berdasarkan dua postulat yaitu,
Postulat 1
Elektron-elektron yang mengelilingi inti mempunyai lintasan tertentu yang disebut lintasan stasioner,
dan tidak memancarkan energi. Dalam gerakannya elektron mempunyai momentum angular sebesar,
l = rp = mvr
mvr = nh

Postulat 2
• Dalam tiap lintasannya elektron mempunyai tingkat energi tertentu (makin dekat dengan inti
tingkat energinya makin kecil dan tingkat energi paling kecil n = 1)
• Bila elektron pindah dari kulit luar ke dalam maka akan memancarkan energi berupa foton.
Sebaliknya bila pindah dari kulit dalam keluar akan menyerap energi. Namun demikian model atom Bohr
masih mempunyai beberapa kelemahan, yaitu
1) Model atom Bohr hanya dapat menjelaskan atom hidrogen, sedangkan untuk atom berelektron
banyak tidak dapat dijelaskan.
2) Lintasan elektron sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diajukan Bohr (lintasan lingkaran),
tetapi juga ellips (menurut Sommerfeld).
3) Tidak dapat menerangkan garis-garis halus pada spektrum yang semula diketahui hanya satu garis
saja.
4) Teori atom Bohr tidak dapat menjelaskan kejadian-kejadian dalam ikatan kimia dan tidak dapat
menjelaskan pengaruh medan magnet terhadap spektrum atom.
Model atom Bohr untuk atom hidrogen diperlihatkan seperti gambar di bawah ini

Model atom Bohr


Jari-jari orbit elektron adalah r, dan massanya m bergerak dengan laju singgung tetap v. Gaya tarik
Coulomb berperan memberikan percepatan sentripetal v2/r, jadi :

1 q1 q 2 1 e 2 mv 2
F= = =
4π ε0 r 2 4π ε0 r 2 r
Sehingga besar energi kinetiknya adalah:
1 2 1 e2
K= mv =
2 8π ε0 r
Besar energi potensial antara elektron dan inti yang merupakan energi potensial Coulomb adalah

1 e2
V =−
4π ε0 r
Dengan demikian,energi total sistem adalah
1 e2 1 e2
E = K +V = −
8π ε0 r 4π ε0 r
1 e2
E=−
8π ε0 r

Menurut teori Bohr, besar momentum anguler elektron sebanding dengan kelipatan bulat dari h, sehingga
mvr = nh
Dengan mensubtitusi persamaan (8) ke persamaan (4), maka diperoleh,
2
1 2 1  nh  1 e2
mv = m  =
2 2  mr  8π ε0 r
Maka kita akan peroleh beberapa nilai r yang tergantung pada n yaitu
4π ε0 h 2 2
rn = n = a0 n 2
me 2
Sehingga diperoleh besar jari-jari Bohr untuk n =1, dan dapat dituliskan dalam bentuk
4π ε0 h 2
a0 = = 0,0529nm
me 2
Dengan mensubtitusi nilai r pada persamaan (9) ke persamaan (7) akan diperoleh:

me 4 1
En = −
32π ε 0 h n
2 22 2

Bohr menjelaskan bahwa jika elektron melompat dari tingkat energi yang lebih besar dengan jari-jari
orbit r B ke lintasan lebih dalam r A, maka energinya akan berkurang berupa radiasi foton.
Sehingga menghasilkan,
hv = E n1 − E n 2

Atau

me 4  1 1 
Jadi, panjang gelombang radiasi yang dipancarkan
v = adalah  −
64π2 3ε h 3  2n 2 n 
2 2 2
c 64π 3ε 0 h 3 c0  n1 n2 2  1 
λ= = n 2 −n 2 
v me 4  1 2 

1  n1 n2 
2 2
me 4 1
=  2
E 2n 
= −
R∞  n1 − n2  32π ε 0 h n 2
2 2 2
Dengan R adalah konstanta Rydberg yang bernilai 1,0973731 x 10 -7 m -1
Pengukuran panjang gelombang dapat dilakukan dengan menggunakan kisi difraksi yang
diletakkan pada meja spektrometer. Saat cahaya melewati kisi, terjadi peristiwa difraksi,

dengan : d = jarak antara celah kisi (m)


n = orde spektrum (n = 1,2,3,....)
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Kisi Difraksi 100 garis/mm
2. Power Supply 3 – 5 KVolt
3. Tabung H2
4. Spektrometer Optik
5. Lampu

3.2 Cara Kerja


1. Pengaturan Spektrometer Optik
a. Mempelajari dengan seksama cara menggunakan dan cara membaca skala spektrometer optik
yang akan digunakan.
b. Menyalakan High Voltage Power Supply tabung Hydrogen dan naikkan tegangannya perlahan-
lahan hingga tabung tampak menyala dengan terang.
c. Mengatur spektrometer optik sedemikian rupa sehingga celah pada ujung kolimator tepat
berhadapan dengan tabung pada jarak + 1cm
d. Tanpa kisi difraksi, meluruskan posisi kolimator dan teleskop spektrometer optik seperti pada
gambar di atas.
e. Melihatlah ke arah teleskop, dan seharusnya melihat sebuah garis cahaya vertikal. Mengimpitkan
garis cahaya tersebut dengan benang vertikal pada teleskop.
f. Jika garis cahaya tersebut terlalu tebal atau terlalu tipis, aturlah lebar celah kolimator dengan
memutar bolak-balik sekrup pada ujungnya. Jika garis cahaya tersebut kurang jelas dan tegas,
mengatur fokus teleskop.
Pada posisi tersebut, putarlah piringan Skala Nonius spektrometer dengan perlahan hingga titik nol
skala nonius tepat berimpit dengan titik nol skala utama pada sisi kanan dan titik nol skala nonius dengan
titik 180 o pada sisi kiri . Masing-masing nilai ini disebut sudut acuan (o ). Spektrometer siap digunakan.

2. Pengumpulan Data
a. Menyusun perangkat eksperimen spektrum atom hidrogen seperti pada gambar berikut.

slit
Focusing
Collimator
grating
Teleskop
source
Teleskop
lens
lens
position
position12

b. Menentukan terlebih dahulu jarak antar celah ( d ) kisi difraksi yang akan digunakan.
c. Menempatkan kisi sedemikian rupa di antara teleskop dan kolimator dan kunci.
d. Mengamati dari arah teleskop, jika berkas garis cahaya terlalu ke bewah atau ke atas, mengatur
meja spektrometer.
e. Memulai dengan memutar teleskop dengan sangat perlahan ke arah kanan dan mengamati
spektrum/garis warna yang nampak. Seharusnya akan terlihat serangkaian garis-garis warna
mulai dari ungu , nila, biru, hijau, kuning, jingga dan merah. Deretan warna ini terlihat berulang
jika teleskop terus diputar ke arah kanan. Rangkaian garis-garis warna pertama yang terlihat
disebut orde 1 ( n=1 ), rangkaian garis-garis warna kedua disebut orde 2 ( n=2) .
f. Mengembalikan teleskop ke posisi normal. Selanjutnya memutar teleskop ke arah kanan secara
perlahan hingga mengamati garis warna pertama ( warna ungu ) pada orde 1 ( n = 1 ).
Mengimpitkan tanda benang vertikal pada teleskop dengan garis warna ungu dan membaca
penunjukan skala spektrometer sebagai kanan.
g. Memutar teleskop ke arah kiri hingga mengamati garis warna pertama (warna ungu ) pada orde 1
( n=1). Membaca sebagai kiri.
h. mengulangi kegiatan (e) dan (f) untuk garis-garis warna berikutnya pada orde yang sama.
i. mengulangi kegiatan (e) dan (f) untuk garis-garis warna pada orde berikutnya.

3.3 GAMBAR KERJA

slit
Focusing
Collimator
grating
Teleskop
source
Teleskop
lens
lens
position
position12

3.4 Tabel Hasil Pengamatan


Orde spektrum (n) Warna spektrum Kanan(o) Kiri(o) Rata-rata (o)
1 Ungu
1 Nila
1 Biru
1 Hijau
1 Kuning
1 Jingga
1 merah

3.5 Identifikasi Variabel


a. Variabel manipulasi : orde (n)
b. Variabel respon : kanan (o) dan kiri (o)
c. Variabel kontrol : Jarak antar celah (d)
3.6 Definisi Operasional Variabel
a. Orde (n) adalah rangkaian garis-garis warna yang terlihat ( misal orde 1 atau n=1 )
kanan (o) dan kiri (o) adalah bacaan yang ditunjukkan pada skala spektrometer yang jika teleskop diputar
ke arah kanan maka pembacaan skala sebagai kanan (o) dan sebaliknya.
b. Jarak antar celah (d) adalah jarak antar celah kisi difraksi.
BAB 4. HASIL dan ANALISIS DATA

4.1 Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan dalam kegiatan ini di tunjukkan dalam di bawah ini.
Jarak antara celah kisi difraksi ( d ) = 0,01 mm = 10-5 m
Nilai skala terkecil alat = 10
Tabel IV. 1. Tabel Hasil Pengamatan untuk orde satu dan dua dengan beberapa warna spektrum.
Orde spektrum (n) Warna spektrum Kanan(o) Kiri(o) Rata-rata (o)
1 Ungu 2,55 2,52 2,54
1 Nila 2,75 2,62 2,69
1 Biru 3,03 2,83 2,93
1 Hijau 3,42 3,03 3,23
1 Kuning 3,57 3,46 3,52
1 Jingga 3,70 3,70 3,70
1 merah 4,03 3,93 3,98

Orde spektrum (n) Warna spektrum Kanan(o) Kiri(o) Rata-rata (o)


2 Ungu 5,20 4,97 5,09
2 Nila 5,52 5,45 5,49
2 Biru 5,72 5,88 5,80
2 Hijau 6,35 6,38 6,36
2 Kuning 6,58 6,53 6,56
2 Jingga 7,65 7,03 7,34
2 merah 7,72 7,82 7,77

4.2 Analisis Data


Berdasarkan data-data yang diperoleh dari praktikum, maka akan dihitung beberapa besaran yang
berkaitan dengan percobaan spektrum atom hidrogen, yaitu:
1) Menentukan panjang gelombang berbagai spektrum warna pada atom hydrogen
2) Menghitung konstanta Ryberg (R)
3) Menentukan konstanta Planck (h)

1. Panjang gelombang berbagai spektrum warna


Untuk menghitung panjang gelombang spektrum warna digunakan persamaan :

Jika :
d = 10-5 m ; θ = sudut rata-rata (o) ; n = orde ke 1, 2, ..
maka panjang gelombang masing-masing warna diperlihatkan dalam tabel IV.2 di bawah ini.
Orde (n) Warna Spektrum rata-rata (o) λ (mm)
1 Ungu 2,54 4,43
1 Nila 2,69 4.69
1 Biru 2,93 5,11
1 Hijau 3,23 5,63
1 Kuning 3,52 6,13
1 Jingga 3,70 6,45
1 merah 3,98 6,94

Orde (n) Warna Spektrum rata-rata (o) λ (mm)


2 Ungu 5,09 4,44
2 Nila 5,49 4.79
2 Biru 5,80 5.05
2 Hijau 6,36 5.54
2 Kuning 6,56 5.71
2 Jingga 7,34 6.39
2 merah 7,77 6.76

Tabel IV. 2. Hasil Analisis panjang gelombang pada setiap warna untuk Orde satu dan dua dengan
beberapa warna spectrum .

2. Menghitung konstanta Rydberg (R)


Penentuan Konstanta Rydberg dihitung dengan menggunakan persamaan di bawah ini

1  1 1 
= R 2 − 2 
λ 2 n 
Dimana:
λ = panjang gelombang setiap warna.
n = 3 (merah), 4 (jingga), 5 (kuning), 6 (hijau), 7 (biru), 8 (nila), dan 9 (ungu)

Setelah nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan, maka hasil yang diperoleh seperti dalam
tabel IV.4 di bawah ini.

Orde (n) Warna Spektrum λ (mm) nB R


1 Ungu 4,43 9 9,491
1 Nila 4.69 8 9,087
1 Biru 5,11 7 8,518
1 Hijau 5,63 6 7,983
1 Kuning 6,13 5 7,753
1 Jingga 6,45 4 8,261
1 merah 6,94 3 10,369

Orde (n) Warna Spektrum λ (mm) nB R


2 Ungu 4,44 9 9,482
2 Nila 4,79 8 8,916
2 Biru 5,05 7 8,617
2 Hijau 5,54 6 8,121
2 Kuning 5,71 5 8,333
2 Jingga 6,39 4 8,346
2 merah 6,76 3 10,647

Tabel IV. 4. Hasil Analisis konstanta Rydberg pada setiap warna untuk Orde satu dan dua dengan
beberapa warna spektrum.
3. Menentukan konstanta Planck (h)
Menentukan konstanta Planck dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
E=hxf
atau

E = h x c/λ

dimana :
E= 3,14 e = 1,602.
c = 3. m/s
λ = panajng gelombang setiap warna.
Setelah nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan, maka hasil yang diperoleh seperti dalam
tabel berikut ini.

Orde (n) Warna Spektrum Konstanta


Rydberg h(J.s)
1 Ungu 9,491 6.96
1 Nila 9,087 7.06
1 Biru 8,518 7.22
1 Hijau 7,983 7.37
1 Kuning 7,753 7.45
1 Jingga 8,261 7.29
1 merah 10,369 6.76
Rata-rata 8.780 7.16

Orde (n) Warna Spektrum Konstanta h(J.s)


Rydberg
2 Ungu 9,482 6.96
2 Nila 8,916 7.11
2 Biru 8,617 7.19
2 Hijau 8,121
7.33
2 Kuning 8,333 7.27
2 Jingga 8,346 7.27
2 merah 10,647 6.70
Rata-rata 8.923 7.12

Tabel IV. 6. Tabel hasil Analisis konstanta Planck pada setiap warna untuk Orde satu dan dua dengan
beberapa warna spektrum.
BAB 5. PEMBAHASAN

Pada tabel hasil analisis data diperoleh panjang gelombang untuk setiap spektrum warna. Panjang
gelombang terkecil adalah warna ungu yaitu 4,43x10-7 m untuk orde 1 dan 4,18x10-7 m untuk orde 2.
Kemudian warna nila, biru, hijau, kuning, jingga, dan terbesar adalah warna merah yaitu 6,52x10-7 m
untuk orde 1 dan orde 2 6,60x10-7 m.
Hasil perhitungan konstanta Rydberg (R) diperoleh rata-rata 8.78 m-1 untuk orde 1 dan 8.923 m-
1 untuk orde 2. Hasil ini berbeda dengan nilai R yaitu 1,097x . Hal ini disebabkan oleh kesalahan yang
terjadi pada saat pengambilan data, terutama dalam hal penempatan tanda + dalam spektrometer yang
tidak pas dengan warna yang di kehendaki. Hal ini juga disebabkan warna spektrum yang di hasilkan
susah dibedakan untuk beberapa spektrum warna.
Sedangkan hasil perhitungan konstanta Planck (h) secara rata-rata diperoleh 7.16 J.s untuk orde 1
dan 7.12 J.s untuk orde 2. Hasil ini juga berbeda dengan nilai h yaitu 6,625 x10-34 J.s. Perbedaan yang
ada disebabkan oleh kesalahan yang terjadi pada saat pengambilan data, terutama dalam hal penempatan
tanda + dalam spektrometer yang tidak pas dengan warna yang di kehendaki. Hal ini juga disebabkan
warna spectrum yang dihasilkan susah dibedakan untuk beberapa spektrum warna. Adanya perbedaan
hasil praktikum dengan teori disebabkan oleh beberapa kesalahan saat mengambil data, yaitu kurang
ketelitian saat membaca skala dan ketepatan posisi spektrum warna pada garis vertikal saat dilihat
diteleskop.
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
A. Dari hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa
1. Konstanta Rydberg (R) untuk orde 1 rata-rata = 8.780 dan orde 2 rata-rata = 8.923
2. Konstanta Planck (h) untuk orde 1 rata-rata = 7.16 Js dan orde 2 rata-rata = 7.12 Js
4. Terdapat spektrum diskrit atom hidrogen yaitu spektrum warna-warnanya dapat dibedakan

6.2 Saran
Hendaknya pembacaan skala diberi lampu yang terang, agar skala yang terlihar lebih terang dan
jelas.
DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid 2 edisi kelima (Terjemahan).Jakarta: Penerbit Erlangga.
Halliday dan Resnik.1991. Fisika Jilid 2 (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga
http://fisikaher.blogspot.com/2009/07/spektrum-atom-hidrogen.html
Sears dan Zemansky. 1962. Fisika untuk universitas 2 listrik, magnet (terjemahan).Jakarta: Binacipta
Sunardi dan Indra, Etsa. 2006. Fisika Bilingual Untuk SMA/MA kelas XII semester 1 dan 2. Bandung:
Penerbit Yrama Widya
Surya, Yohanes. 2001. Fisika itu Mudah edisi kedua SMU catur wulan kedua kelas 3. Tangerang:
Penerbit PT. Bina Sumber Daya MIPA.
Tim Eksperimen Fisika Modern. 2009. Penuntun Eksperimen Fisika Modern Program S2. Makassar.
Laboratorium Fisika Unit Fisika Modern FMIPA UNM.