Anda di halaman 1dari 16

MASALAH RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG

DEMI MENINGKATNYA PENDAPATAN MASYARAKAT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ekonomi pembangunan


Dosen : Drs. Abad Hasyim, M.Si

Disususn Oleh :

HENHEN SUHENDAR
NIM : 1201009039

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


WIBAWA KARTA RAHARJA PURWAKARA
2010
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim.
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke khadirat Allah SWT, atas
berkat rahmat dan karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawalat dan salam semoga tercurahkan ke nabi besa Muhammad SAW.
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah unuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan yang berjudul Rencana
Pembangungan Dan Hubungannya Dengan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
beseranya kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh
karena itu segala saran dan kritik yang sifarnya membangun sangat penulis
harapakan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua. Amien

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Penulisan
1.3. Rumusan Masalah

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bangsa Indonesia
2.2. SDM Indonesia dalam Persaingan Global

BAB III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total
dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
penduduk dan disertaidengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi
suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi
(economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi,
dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan
kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi
apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan
ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi
keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar
pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan
pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan
produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan
alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga,
pengetahuan, dan teknik.

1.2. Tujuan Penulisan


Supaya mahasiswa dapat lebih memahami terhadap situasi ekonomi yang
mana sekarang menjadi topik hangat dan dilema luar biasa bagi seluruh dunia.
Paling tidak mahasiswa dapat memecahkan masalah kecil yang berhubungan
dengan rencana pembangunan di negara kita. Diharapkan pula makalah ini dapat
menjadi acuan belajar dalam mempelajari permasalahan ekonomi
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas maka penulis mencoba membuat
identifikasi permasalahan sebagai berikut :
1) Apa saja Rencana Pembangunan Jangka panjang bangsa Indonesia
2) Siap kah Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam Persaingan
Global?.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang


Reformasi sistem politik di Indonesia baik yang bersifat kelembagaan
maupun perundangan memunculkan model perencanaan dan kebijakan
pembangunan nasional yang baru menggantikan model perencanaan dan
kebijakan lama. Muara dari reformasi ini adalah keinginan untuk melakukan
perbaikan-perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang timbul dari praktik
perencanaan pembangunan maupun kebijakan pembangunan yang sebelumnya
pernah diterapkan demi pencapaian tujuan kesejahteraan rakyat sebagaimana di
amanatkan oleh konstitusi.
Dalam konteks ini, Pemerintah dan DPR menyepakati pengundangan UU
Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
sebagai landasan bagi proses perumusan program pembangunan baik dalam
jangka panjang, menengah maupun tahunan. Berkaitan dengan program
pembangunan jangka menengah, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan
Presiden Nomor 7 tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
tahun 2004-2009 sebagai pedoman bagi penyusunan rencana kerja tahunan
pemerintah.
Secara singkat, model dan alur perencanaan pembangunan sebagaimana
diatur dalam UU Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional dalam dijelaskan dalam diagram berikut ini.
Sejalan dengan amandemen UUD 1945 ketiga tahun 2001, Majelis
Permusyawaratan Rakyat tidak lagi memegang kedaulatan negara tertinggi.
Selain itu, MPR juga tidak lagi memiliki kewajiban untuk menetapkan GBHN.
Dengan berlakunya amandemen Undang-Undang Dasar 1945 hingga
amandemen keempat, telah terjadi perubahan dalam pengelolaan pembangunan,
yaitu:
Penguatan kedudukan lembaga legislatif dalam Penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN); Ditiadakannya Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan
nasional; dan Diperkuatnya Otonomi Daerah dan desentralisasi pemerintahan
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemilihan presiden secara langsung
sebagai hasil perubahan UUD 45 dan ditiadakannya GBHN sebagai pedoman
Presiden untuk menyusun rencana pembangunan serta pemberlakuan UU Nomor
32 tahun 2004, sebagai amandemen UU Nomor 22 tahun 1999, tentang
Pemerintahan Daerah yang memungkinkan penyelenggaraan otonomi daerah
dengan kewenangan yang lebih luas, nyata dan bertanggung jawab kepada
Daerah menjadi landasan perlunya sistem perencanaan pembangunan nasional.
Pemberian kewenangan yang luas kepada Daerah juga membawa konsekuensi
diperlukannya langkah koordinasi dan pengaturan untuk lebih mengharmoniskan
dan menyelaraskan pembangunan, baik pembangunan nasional, pembangunan
daerah, maupun pembangunan antar daerah. Untuk menjawab kebutuhan-
kebutuhan diatas, pada tanggal 5 Oktober 2004 Pemerintah dengan persetujuan
DPR menerbitkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional. Melalui UU Nomor 25 tahun 2004, bangsa
Indonesia memasuki era baru dalam sejarah pembangunan nasional untuk
menjamin kegiatan pembangunan yang berjalan secara efektif, efisien, dan
bersasaran dalam rangka mewujudkan tujuan negara sebagaimana diamanahkan
oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk. Jumlah
penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, meskipun laju
pertumbuhannya dapat dikendalikan sehingga semakin menurun. Berdasarkan
hasil Sensus Penduduk (SP) 1990 dan 2000, jumlah penduduk Indonesia 179,4
juta jiwa dan 206,3 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen per
tahun pada periode 1990-2000, lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk
periode 1980-1990 (1,97 persen). Meskipun telah terjadi penurunan pertumbuhan
penduduk karena menurunnya angka kelahiran, namun secara absolut
pertambahan penduduk Indonesia masih:akan meningkat sekitar 3 sampai 4 juta
jiwa per tahun. Hal ini disebabkan belum terkendalinya angka kelahiran pada
tahun 1970- an, sehingga terjadi peningkatan jumlah penduduk pasangan usia
subur yang relatif lebih cepat dibanding kelompok usia sebelumnya, atau
timbulnya momentum kependudukan.
Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk. Faktor utama yang
mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran.
Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971, angka kelahiran total (Total Fertility
Rate/TFR) diperkirakan 5,6 anak per wanita usia reproduksi, dan saat ini telah
turun lebih 50 persen menjadi 2,6 anak per wanita (Survei Demografl dan
Kesehatan Indonesia-SDKI 2002-2003). Penurunan TFR antara lain karena
meningkatnya penggunaan alat dan obat kontrasepsi (prevalensi) pada
pasangan usia subur pada tahun 1980-an. Pada tahun 1971, angka prevalensi
penggunaan kontrasepsi kurang dari 5 persen, tahun 1980 meningkat menjadi 26
persen, tahun 1987 menjadi 48 persen, tahun 1997 menjadi 57 persen, dan tahun
2002 sebesar 60 persen (SDKI 2002-2003).

2.2. SDM Indonesia dalam Persaingan Global


Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam
reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan
memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang
selama ini kita abaikan.
Adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja.
Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar
92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar
87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open
unemployment Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan
sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi
lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan
perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta
angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi
lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka
pengangguran sarjana di Indonesia. Menurut catatan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di
Indonesia lebih dari 300.000 orang.
Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya
perguruan tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana
merupakan kritik bagi perguruan tinggi, karena ketidakmampuannya dalam
menciptakan iklim pendidikan yang mendukung kemampuan wirausaha
mahasiswa.
Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang
berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang
memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun
dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari
pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal
asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal
dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi.
Kenyataan ini belum menjadi kesadaran bagi bangsa Indonesia untuk
kembali memperbaiki kesalahan pada masa lalu. Rendahnya alokasi APBN untuk
sektor pendidikan—tidak lebih dari 12% -- pada peme-rintahan di era reformasi.
Ini menunjukkan bahwa belum ada perhatian serius dari pemerintah pusat
terhadap perbaikan kualitas SDM. Padahal sudah saatnya pemerintah baik tingkat
pusat maupun daerah secara serius membangun SDM yang berkualitas. Sekarang
bukan saatnya lagi Indonesia membangun perekonomian dengan kekuatan asing.
Tapi sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan
potensi sumberdaya daya yang dimiliki (resources base).
Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang
tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tidak
bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan pasar kerja. Hambatan
kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja. Sementara
yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah adalah belum adanya standar baku
kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan
mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM
yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi,
merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-
negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi
dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti
dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam
dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan
internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah
persaingan global menurut World Competitiveness Report menempati urutan ke-
45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8),
Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).
Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi yang akan dihadapi bangsa
Indonesia antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: Produksi, di mana
perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi
menjadi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah,
tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim
usaha dan politik yang kondusif.
Pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh
pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun
langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam
memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam
memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan
pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari mancanegara.
Tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja
dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil
dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional dan\atau buruh
diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement
akan semakin mudah dan bebas.
Jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat
mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi,
antara lain melalui: TV, radio, media cetak dan lain-lain. Dengan jaringan
komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai
belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh KFC, Hoka Hoka Bento,
Mac Donald, dll melanda pasar di mana-mana.
Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan
penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan
demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin ketat dan fair.
Bahkan, transaksi menjadi semakin cepat karena “less papers/documents” dalam
perdagangan, tetapi dapat mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi
yang semakin canggih.
Dengan kegiatan bisnis korporasi (bisnis corporate) di atas dapat
dikatakan bahwa globalisasi mengarah pada meningkatnya ketergantungan
ekonomi antarnegara melalui peningkatan volume dan keragaman transaksi
antarnegara (cross-border transactions) dalam bentuk barang dan jasa, aliran dana
internasional (international capital flows), pergerakan tenaga kerja (human
movement) dan penyebaran teknologi informasi yang cepat. Sehingga secara
sederhana dapat dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti telah
merupakan salah satu kekuatan yang memberikan pengaruh terhadap bangsa,
masyarakat, kehidupan manusia, lingkungan kerja dan kegiatan bisnis corporate
di Indonesia. Kekuatan ekonomi global menyebabkan bisnis korporasi perlu
melakukan tinjauan ulang terhadap struktur dan strategi usaha
Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan
isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan
keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk
Indonesia, tidak akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya
produk impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan kata lain, dalam
pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan
faktor yang desisif dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Oleh karena itu,
upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif bagi
produk Indonesia tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya menjadi
perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi para pelaku bisnis itu sendiri tetapi
juga bagi aparat birokrasi,
Realitas globalisasi yang demikian membawa sejumlah implikasi bagi
pengembangan SDM di Indonesia. Salah satu tuntutan globalisasi adalah daya
saing ekonomi. Daya saing ekonomi akan terwujud bila didukung oleh SDM
yang handal. Untuk menciptakan SDM berkualitas dan handal yang diperlukan
adalah pendidikan. Sebab dalam hal ini pendidikan dianggap sebagai mekanisme
kelembagaan pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan.
Pendidikan merupakan kegiatan investasi di mana pembangunan ekonomi sangat
berkepentingan. Sebab bagaimanapun pembangunan ekonomi membutuhkan
kualitas SDM yang unggul baik dalam kapasitas penguasaan IPTEK maupun
sikap mental, sehingga dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang
handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga
disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing
dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas
SDM melalui pendidikan.
Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan
adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi.
Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu
dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi. Visi
pembangunan yang demikian kurang kondusif bagi pengembangan SDM,
sehingga pendekatan fisik melalui pembangunan sarana dan prasarana
pendidikan tidak diimbangi dengan tolok ukur kualitatif pendidikan.
Problem utama dalam pembangunan sumberdaya manusia adalah
terjadinya missalocation of human resources. Pada era sebelum reformasi, pasar
tenaga kerja mengikuti aliran ekonomi konglomeratif. Di mana tenaga kerja yang
ada cenderung memasuki dunia kerja yang bercorak konglomeratif yaitu mulai
dari sektor industri manufaktur sampai dengan perbankan. Dengan begitu, dunia
pendidikan akhirnya masuk dalam kemelut ekonomi politik, yakni terjadinya
kesenjangan ekonomi yang diakselerasi struktur pasar yang masih terdistorsi.
Kenyataan menunjukkan banyak lulusan terbaik pendidikan masuk ke sektor-
sektor ekonomi yang justru bukannya memecahkan masalah ekonomi, tapi malah
memperkuat proses konsentrasi ekonomi dan konglomerasi, yang mempertajam
kesenjangan ekonomi. Hal ini terjadi karena visi SDM terbatas pada struktur
pasar yang sudah ada dan belum sanggup menciptakan pasar sendiri, karena
kondisi makro ekonomi yang memang belum kondusif untuk itu. Di sinilah dapat
disadari bahwa visi pengembangan SDM melalui pendidikan terkait dengan
kondisi ekonomi politik yang diciptakan pemerintah. Sementara pada
pascareformasi belum ada proses egalitarianisme SDM yang dibutuhkan oleh
struktur bangsa yang dapat memperkuat kemandirian bang sa. Pada era reformasi
yang terjadi barulah relatif tercipta reformasi politik dan belum terjadi reformasi
ekonomi yang substansial terutama dalam memecahkan problem struktural
seperti telah diuraikan di atas. Sistem politik multipartai yang telah terjadi
dewasa ini justru menciptakan oligarki partai untuk mempertahankan kekuasaan.
Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih
belum mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang
memang telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara di sisi lain
Indonesia kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan
globalisasi. Pertanyaannya sekarang adalah bahwa keterlibatan Indonesia pada
liberalisasi perdagangan model AFTA, APEC dan WTO dalam rangka untuk
apa? Bukankah harapannya dengan keterlibatan dalam globalisasi seperti AFTA,
APEC dan WTO masalah kemiskinan dan pengangguran akan terpecahkan.
Dengan begitu, seandainya bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan
terhadap pelbagai kondisionalitas yang tercipta akibat globalisasi, maka yang
akan terjadi adalah adanya gejala menjual diri bangsa dengan hanya
mengandalkan sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah.
Sehingga yang terjadi bukannya terselesaikannya masalah-masalah social
ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi
akan semakin menciptakan ketergantungan kepada negara maju.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya
kebijakan link and match mendapat tempat sebagai sebuah strategi yang
mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pendidikan. Namun sayangnya
ide link and match yang tujuannya untuk menghubungkan kebutuhan tenaga
kerja dengan dunia pendidikan belum ditunjang oleh kualitas kurikulum sekolah
yang memadai untuk menciptakan lulusan yang siap pakai. Yang lebih penting
dalam hal ini adalah strategi pembangunan dan industrialisasi secara makro yang
seharusnya berbasis sumberdaya yang dimiliki, yakni kayanya sumberdaya alam
(SDA). Kalau strategi ini tidak diciptakan maka yang akan terjadi adalah proses
pengulangan kegagalan karena terjebak berkelanjutannya ketergantungan kepada
utang luar negeri, teknologi, dan manajemen asing. Sebab SDM yang diciptakan
dalam kerangka mikro hanya semakin memperkuat proses ketergantungan
tersebut.
Bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan SDA, memiliki posisi
wilayah yang strategis (geo strategis), yakni sebagai negara kepulauan dengan
luas laut 2/3 dari luas total wilayah; namun tidak mampu mengembalikan
manfaat sumber kekayaan yang dimiliki kepada rakyat. Hal ini karena strategi
pembangunan yang diciptakan tidak membangkitkan local genuin. Yang terjadi
adalah sumber kekayaan alam Indonesia semakin mendalam dikuasai oleh asing.
Sebab meskipun andaikata bangsa ini juga telah mampu menciptakan SDM yang
kualifaid terhadap semua level IPTEK, namun apabila kebijakan ekonomi yang
diciptakan tidak berbasis pada sumberdaya yang dimiliki (resources base), maka
ketergantungan ke luar akan tetap berlanjut dan semakin dalam.
Oleh karena itu harus ada shifting paradimn, agar proses pembangunan
mampu mendorong terbentuknya berbagai keahlian yang bisa mengolah SDA
dan bisa semakin memandirikan struktur ekonomi bangsa. Supaya visi tersebut
pun terjadi di berbagai daerah, maka harus ada koreksi total kebijakan
pembangunan di tingkat makro dengan berbasiskan kepada pluralitas daerah.
Dengan demikian harapannya akan tercipta SDM yang mampu memperjuangkan
kebutuhan dan penguatan masyarakat lokal. Karena untuk apa SDM diciptakan
kalau hanya akan menjadi perpanjangan sistem kapitalisme global dengan
mengorbankan kepentingan lokal dan nasional.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.
Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber
daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Sumber daya alam, yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti
kesuburan tanah, keadaan iklim/cuaca, hasil hutan, tambang, dan hasil laut,
sangat mempengaruhi pertumbuhan industri suatu negara, terutama dalam hal
penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dan kewirausahaan
dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang
memiliki nilai lebih tinggi (disebut juga sebagai proses produksi).
Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan
nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar
merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara
kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.
Sementara itu, sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah
bahan mentah tersebut. Pembentukan modal dan investasi ditujukan untuk
menggali dan mengolah kekayaan. Sumber daya modal berupa barang-barang
modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi
karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
Faktor nonekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat,
keadaan politik, dan sistem yang berkembang dan berlaku
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan jika tidak didukung sumber
daya manusia yang memadai. Sebaliknya, pembangunan kualitas sumber daya
manusia juga tidak akan tercapai tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi.
Demikian pula pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kualitas sumber daya
manusia.
Segitiga pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial, pengendalian
pertumbuhan penduduk, serta lingkungan hidup harus dikelola pemerintah secara
bersama-sama dan terintegrasi.
Itulah konsep pembangunan berwawasan kependudukan dalam rangka
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Penduduk harus ditempatkan
sebagai titik sentral kegiatan pembangunan.