Anda di halaman 1dari 25

Peluruhan radioaktif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Simbol trefoil digunakan untuk menunjukkan sebuah material radioaktif.

Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak
stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus
induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah proses acak sehingga sulit untuk
memprediksi peluruhan sebuah atom.

Satuan internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel (Bq). Jika
sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan tiap 1 detik, maka dikatakan
material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena biasanya sebuah sampel material radiaktif
mengandung banyak atom,1 becquerel akan tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah; satuan
yang biasa digunakan adalah dalam orde gigabecquerels.

Daftar isi

[sembunyikan]

• 1 Pendahuluan
• 2 Penemuan
• 3 Mode Peluruhan
• 4 Rantai peluruhan dan mode peluruhan ganda
• 5 Keberadaan dan penerapan
• 6 Laju peluruhan radioaktif
o 6.1 Pengukuran aktivitas

• 7 Waktu peluruhan

[sunting] Pendahuluan

Neutron dan proton yang menyusun inti atom, terlihat seperti halnya partikel-partikel lain, diatur
oleh beberapa interaksi. Gaya nuklir kuat, yang tidak teramati pada skala makroskopik,
merupakan gaya terkuat pada skala subatomik. Hukum Coulomb atau gaya elektrostatik juga
mempunyai peranan yang berarti pada ukuran ini. Gaya nuklir lemah sedikit berpengaruh pada
interaksi ini. Gaya gravitasi tidak berpengaruh pada proses nuklir.

Interaksi gaya-gaya ini pada inti atom terjadi dengan kompleksitas yang tinggi. Ada sifat yang
dimiliki susunan partikel didalam inti atom, jika mereka sedikit saja bergeser dari posisinya,
mereka dapat jatuh ke susunan energi yang lebih rendah. Mungkin bisa sedikit digambarkan
dengan menara pasir yang kita buat di pantai: ketika gesekan yang terjadi antar pasir mampu
menopang ketinggian menara, sebuah gangguan yang berasal dari luar dapat melepaskan gaya
gravitasi dan membuat tower itu runtuh.

Keruntuhan menara (peluruhan) membutuhkan energi aktivasi tertentu. Pada kasus menara pasir,
energi ini datang dari luar sistem, bisa dalam bentuk ditendang atau digeser tangan. Pada kasus
peluruhan inti atom, energi aktivasi sudah tersedia dari dalam. Partikel mekanika kuantum tidak
pernah dalam keadaan diam, mereka terus bergerak secara acak. Gerakan teratur pada partikel ini
dapat membuat inti seketika tidak stabil. Hasil perubahan akan mempengaruhi susunan inti atom;
sehingga hal ini termasuk dalam reaksi nuklir, berlawanan dengan reaksi kimia yang hanya
melibatkan perubahan susunan elektron diluar inti atom.

(Beberapa reaksi nuklir melibatkan sumber energi yang berasal dari luar, dalam bentuk
"tumbukkan" dengan partikel luar misalnya. Akan tetapi, reaksi semacam ini tidak
dipertimbangkan sebagai peluruhan. Reaksi seperti ini biasanya akan dimasukan dalam fisi
nuklir/fusi nuklir.

[sunting] Penemuan

Radioaktivitas pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh ilmuwan Perancis Henri Becquerel
ketika sedang bekerja dengan material fosforen. Material semacam ini akan berpendar di tempat
gelap setelah sebelumnya mendapat paparan cahaya, dan dia berfikir pendaran yang dihasilkan
tabung katoda oleh sinar-X mungkin berhubungan dengan fosforesensi. Karenanya ia
membungkus sebuah pelat foto dengan kertas hitam dan menempatkan beragam material
fosforen diatasnya. Kesemuanya tidak menunjukkan hasil sampai ketika ia menggunakan garam
uranium. Terjadi bintik hitam pekat pada pelat foto ketika ia menggunakan garam uranium
tesebut.

Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa bintik hitam pada pelat bukan terjadi karena peristiwa
fosforesensi, pada saat percobaan, material dijaga pada tempat yang gelap. Juga, garam uranium
nonfosforen dan bahkan uranium metal dapat juga menimbulkan efek bintik hitam pada pelat.
Partikel Alfa tidak mampu menembus selembar kertas, partikel beta tidak mampu menembus
pelat alumunium. Untuk menghentikan gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun karena
penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin menembus pelat
metal

Pada awalnya tampak bentuk radiasi yang baru ditemukan ini mirip dengan penemuan sinar-X.
Akan tetapi, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Becquerel, Marie Curie, Pierre Curie,
Ernest Rutherford dan ilmuwan lainnya menemukan bahwa radiaktivitas jauh lebih rumit
ketimbang sinar-X. Beragam jenis peluruhan bisa terjadi.

Sebagai contoh, ditemukan bahwa medan listrik atau medan magnet dapat memecah emisi
radiasi menjadi tiga sinar. Demi memudahkan penamaan, sinar-sinar tersebut diberi nama sesuai
dengan alfabet yunani yakni alpha, beta, dan gamma, nama-nama tersebut masih bertahan hingga
kini. Kemudian dari arah gaya elektromagnet, diketahui bahwa sinar alfa mengandung muatan
positif, sinar beta bermuatan negatif, dan sinar gamma bermuatan netral. Dari besarnya arah
pantulan, juga diketahui bahwa partikel alfa jauh lebih berat ketimbang partikel beta. Dengan
melewatkan sinar alfa melalui membran gelas tipis dan menjebaknya dalam sebuah tabung
lampu neon membuat para peneliti dapat mempelajari spektrum emisi dari gas yang dihasilkan,
dan membuktikan bahwa partikel alfa kenyataannya adalah sebuah inti atom helium. Percobaan
lainnya menunjukkan kemiripan antara radiasi beta dengan sinar katoda serta kemiripan radiasi
gamma dengan sinar-X.

Para peneliti ini juga menemukan bahwa banyak unsur kimia lainnya yang mempunyai isotop
radioaktif. Radioaktivitas juga memandu Marie Curie untuk mengisolasi radium dari barium; dua
buah unsur yang memiliki kemiripan sehingga sulit untuk dibedakan.
Bahaya radioaktivitas dari radiasi tidak serta merta diketahui. Efek akut dari radiasi pertama kali
diamati oleh insinyur listrik Amerika Elihu Thomson yang secara terus menerus mengarahkan
sinar-X ke jari-jarinya pada 1896. Dia menerbitkan hasil pengamatannya terkait dengan efek
bakar yang dihasilkan. Bisa dikatakan ia menemukan bidang ilmu fisika medik (health physics);
untungnya luka tersebut sembuh dikemudian hari.

Efek genetis radiasi baru diketahui jauh dikemudian hari. Pada tahun 1927 Hermann Joseph
Muller menerbitkan penelitiannya yang menunjukkan efek genetis radiasi. Pada tahun 1947
dimendapat penghargaan hadiah Nobel untuk penemuannya ini.

Sebelum efek biologi radiasi diketahui, banyak perusahan kesehatan yang memasarkan obat
paten yang mengandung bahan radioaktif; salah satunya adalah penggunaan radium pada
perawatan enema. Marie Curie menentang jenis perawatan ini, ia memperingatkan efek radiasai
pada tubuh manusia belum benar-benar diketahui (Curie dikemudian hari meninggal akibat
Anemia Aplastik, yang hampir dipastikan akibat lamanya ia terpapar Radium). Pada tahun 1930-
an produk pengobatan yang mengandung bahan radioaktif tidak ada lagi dipasaran bebas.

[sunting] Mode Peluruhan

Sebuah inti radioaktif dapat melakukan sejumlah reaksi peluruhan yang berbeda. Reaksi-reaksi
tersebut disarikan dalam tabel berikut ini. Sebuah inti atom dengan muatan (nomor atom) Z dan
berat atom A ditampilkan dengan (A, Z).

Mode peluruhan Partikel yang terlibat Inti anak


Peluruhan dengan emisi nukleon:
Peluruhan alfa Sebuah partikel alfa (A=4, Z=2) dipancarkan dari inti (A-4, Z-2)
Emisi proton Sebuah proton dilepaskan dari inti (A-1, Z-1)
Emisi neutron Sebuah neutron dilepaskan dari inti (A-1, Z)
Sebuah inti terpecah menjadi dua atau lebih atom dengan
Fisi spontan inti yang lebih kecil disertai dengan pemancaran partikel -
lainnya
Inti atom memancarkan inti lain yang lebih kecil tertentu (A-A1, Z-Z1)
Peluruhan cluster
(A1, Z1) yang lebih besar daripada partikel alfa + (A1,Z1)
Berbagai peluruhan beta:
Sebuah inti memancarkan
Peluruhan beta
elektron dan sebuah antineutrino || (A, Z+1)
Emisi positron Sebuah inti memancarkan positron dan sebuah neutrino (A, Z-1)
Sebuah inti menangkap elektron yang mengorbit dan
Tangkapan elektron (A, Z-1)
memancarkan sebuah neutrino
Sebuah inti memancarkan dua elektron dan dua
Peluruhan beta ganda (A, Z+2)
antineutrinos
Tangkapan elektron Sebuah inti menyerap dua elektron yang mengorbit dan
(A, Z-2)
ganda memancarkan dua neutrino
Tangkapan elektron Sebuah inti menangkap satu elektron yang mengorbit (A, Z-2)
dengan emisi positron memancarkan satu positron dan dua neutrino
Emisi positron ganda Sebuah inti memancarkan dua positrons dan dua neutrino (A, Z-2)
Transisi antar dua keadaan pada inti yang sama:
Sebuah inti yang tereksitasi melepaskan sebuah foton
Peluruhan gamma (A, Z)
energi tinggi (sinar gamma)
Inti yang tereksitasi mengirim energinya pada sebuah
Konversi internal (A, Z)
elektron orbital dan melepaskannya

Peluruhan radioaktif berakibat pada pengurangan massa, dimana menurut hukum relativitas
khusus massa yang hilang diubah menjadi energi (pelepasan energi) sesuai dengan persamaan E
= mc2. Energi ini dilepaskan dalam bentuk energi kinetik dari partikel yang dipancarkan.

[sunting] Rantai peluruhan dan mode peluruhan ganda

Banyak inti radioaktif yang mempunyai mode peluruhan berbeda. Sebagai contoh adalah
Bismuth-212, yang mempunyai tiga.

Inti anak yang dihasilkan dari proses peluruhan biasanya juga tidak stabil, kadang lebih tidak
stabil dari induknya. Bila kasus ini terjadi, inti anak tadi akan meluruh lagi. Proses kejadian
peluruhan berurutan yang menghasilkan hasil akhir inti stabil, disebut rantai peluruhan.

[sunting] Keberadaan dan penerapan

Menurut teori Big Bang, isotop radioaktif dari unsur teringan (H, He, dan Li) dihasilkan tidak
berapa lama seteleah alam semesta terbentuk. Tetapi, inti-inti ini sangat tidak stabil sehingga
tidak ada dari ketiganya yang masih ada saat ini. Karenanya sebagian besar inti radioaktif yang
ada saat ini relatif berumur muda, yang terbentuk di bintang (khususnya supernova) dan selama
interaksi antara isotop stabil dan partikel berenergi. Sebagai contoh, karbon-14, inti radioaktif
yang mempunyai umur-paruh hanya 5730 tahun, secara terus menerus terbentuk di atmosfer atas
bumi akibat interaksi antara sinar kosmik dan Nitrogen.

Peluruhan radioaktif telah digunakan dalam teknik perunut radioaktif, yang digunakan untuk
mengikuti perjalanan subtansi kimia di dalam sebuah sistem yang kompleks (seperti organisme
hidup misalnya). Sebuah sampel dibuat dengan atom tidak stsbil konsentrasi tinggi. Keberadaan
substansi di satu atau lebih bagian sistem diketahui dengan mendeteksi lokasi terjadinya
peluruhan.

Dengan dasar bahwa proses peluruhan radioaktif adalah proses acak (bukan proses chaos),
proses peluruhan telah digunakan dalam perangkat keras pembangkit bilangan-acak yang
merupakan perangkat dalam meperkirakan umur absolutmaterial geologis dan bahan organik.

[sunting] Laju peluruhan radioaktif

Laju peluruhan, atau aktivitas, dari material radioaktif ditentukan oleh:

Konstanta:
• Waktu paruh - simbol t1 / 2 - waktu yang diperlukan sebuah material
radioaktif untuk meluruh menjadi setengah bagian dari sebelumnya.
• Rerata waktu hidup - simbol τ - rerata waktu hidup (umur hidup) sebuah
material radioaktif.
• Konstanta peluruhan - simbol λ - konstanta peluruhan berbanding terbalik
dengan waktu hidup (umur hidup).

(Perlu dicatat meskipun konstanta, mereka terkait dengan perilaku yang secara statistik
acak, dan prediksi menggunakan kontanta ini menjadi berkurang keakuratannya untuk
material dalam jumlah kecil. Tetapi, peluruhan radioaktif yang digunakan dalam teknik
penanggalan sangat handal. Teknik ini merupakan salah satu pertaruhan yang aman
dalam ilmu pengetahuan sebagaimana yang disampaikan oleh [1])

Variabel:

• Aktivitas total - simbol A - jumlah peluruhan tiap detik.


• Aktivitas khusus - simbol SA - jumlah peluruhan tiap detik per jumlah
substansi. "Jumlah substansi" dapat berupa satuan massa atau volume.)

Persamaan:

dimana
adalah jumlah awal material aktif.

[sunting] Pengukuran aktivitas

Satuan aktivitas adalah: becquerel (simbol Bq) = jumah disintegrasi (pelepasan)per detik ; curie
(Ci) = disintegrasi per detik; dan disintegrasi per menit (dpm).

[sunting] Waktu peluruhan

Sebagaimana yang disampaikan di atas, peluruhan dari inti tidak stabil merupakan proses acak
dan tidak mungkin untuk memperkirakan kapan sebuah atom tertentu akan meluruh, melainkan
ia dapat meluruh sewaktu waktu. Karenanya, untuk sebuah sampel radioisotop tertentu, jumlah
kejadian peluruhan –dN yang akan terjadi pada selang (interval) waktu dt adalah sebanding
dengan jumlah atom yang ada sekarang. Jika N adalah jumlah atom, maka kemungkinan
(probabilitas) peluruhan (– dN/N) sebanding dengan dt:
Masing-masing inti radioaktif meluruh dengan laju yang berbeda, masing-masing mempunyai
konstanta peluruhan sendiri (λ). Tanda negatif pada persamaan menunjukkan bahwa jumlah N
berkurang seiring dengan peluruhan. Penyelesaian dari persamaan diferensial orde 1 ini adalah
fungsi berikut:

Fungsi di atas menggambarkan peluruhan exponensial, yang merupakan penyelesaian


pendekatan atas dasar dua alasan. Pertama, fungsi exponensial merupakan fungsi berlanjut, tetapi
kuantitas fisik N hanya dapat bernilai bilangan bulat positif. Alasan kedua, karena persamaan ini
penggambaran dari sebuah proses acak, hanya benar secara statistik. Akan tetapi juga, dalam
banyak kasus, nilai N sangat besar sehingga fungsi ini merupakan pendekatan yang baik.

Selain konstanta peluruhan, peluruhan radioaktif sebuah material biasanya juga dicirikan oleh
rerata waktu hidup. Masing-masing atom "hidup" untuk batas waktu tertentu sebelum ia
meluruh, dan rerata waktu hidup adalah rerata aritmatika dari keseluruhan waktu hidup atom-
atom material tersebut. Rerata waktu hidup disimbolkan dengan τ, dan mempunyai hubungan
dengan konstanta peluruhan sebagai berikut:

Parameter yang lebih biasa digunakan adalah waktu paruh. Waktu paruh adalah waktu yang
diperlukan sebuah inti radioatif untuk meluruh menjadi separuh bagian dari sebelumnya.
Hubungan waktu paruh dengan konstanta peluruhan adalah sebagai berikut:

Hubungan waktu paruh dengan konstanta peluruhan menunjukkan bahwa material dengan
tingkat radioaktif yang tinggi akan cepat habis, sedang materi dengan dengan tingkat radiasi
rendah akan lama habisnya. Waktu paruh inti radioaktif sangat bervariasi, dari mulai 1024 tahun
untuk inti hampir stabil, sampai 10-6 detik untuk yang sangat tidak stabil.

Limbah radioaktif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Limbah radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi radionuklida
pada konsentrasi atau aktivitas yang melebihi batas yang diijinkan (Clearance level) yang
ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Definisi tersebut digunakan didalam peraturan
perundang-undangan. Pengertian limbah radioaktif yang lain mendefinisikan sebagai zat
radioaktif yang sudah tidak dapat digunakan lagi, dan/atau bahan serta peralatan yang terkena zat
radioaktif atau menjadi radioaktif dan sudah tidak dapat difungsikan/dimanfaatkan. Bahan atau
peralatan tersebut terkena atau menjadi radioaktif kemungkinan karena pengoperasian instalasi
nuklir atau instalasi yang memanfaatkan radiasi pengion.

[sunting] Jenis limbah radioaktif

• Dari segi besarnya aktivitas dibagi dalam limbah aktivitas tinggi, aktivitas sedang dan
aktivitas rendah.
• Dari umurnya di bagi menjadi limbah umur paruh panjang, dan limbah umur paruh
pendek.
• Dari bentuk fisiknya dibagi menjadi limbah padat, cair dan gas.

[sunting] Sumber-sumber limbah radioaktif

Limbah radioaktif umumnya berasal dari setiap pemanfaatan tenaga nuklir, baik pemanfaatan
untuk pembangkitan daya listrik menggunakan reaktor nuklir, maupun pemanfaatan nuklir untuk
keperluan industri dan rumah sakit.

[sunting] NORM (naturally occurring radioactive material)

Ada material-material yang secara alami bersifat radioaktif. Mengolah material-material ini
dapat menghasilkan limbah radioaktif dan biasanya dikategorikan dalam NORM. Kebanyakan
limbah ini adalah material pemancar partikel alpha yang berasal dari rantai peluruhan uranium
dan thorium.

Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 384
ISSN : 0854 - 2910
DAMPAK RADIOAKTIF PENGGUNAAN ENERGI FOSIL BATUBARA DAN ENERGI
NUKLIR
DI PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK
Heni Susiati
Pusat Pengembangan Energi Nuklir, BATAN
ABSTRAK
DAMPAK RADIOAKTIF PENGGUNAAN ENERGI FOSIL BATUBARA DAN ENERGI
NUKLIR
DI PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK. Studi ini mengkaji hasil-hasil studi dampak
radioaktif dalam
pembangkitan listrik yang pernah dilakukan, terutama terhadap jenis pembangkit
berbahanbakar
batubara dan pembangkit nuklir. Batubara mempunyai peran penting dalam
pemenuhan
kebutuhan energi di dunia demikian juga di Indonesia. Pembakaran batubara untuk
menghasilkan listrik merupakan satu sumber paparan radiasi primordial yang disebut
material
radioaktif alam (NORM = Naturally Occurring Radioactive Material) yang akan terjadi
peningkatan paparannya terhadap manusia. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
memberikan informasi yang jelas dan menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan
teknologi
yang mantap dan memberikan keuntungan dalam memproteksi lingkungan. Studi
perbandingan
dampak radioaktif oleh PLTU batubara dan PLTN telah banyak diteliti dan beberapa
studi telah
dipublikasikan. Pada prinsipnya PLTU batubara akan mengemisikan radionuklida
seperti radon,
uranium, thorium dan juga kalium, dan PLTN akan melepaskan gas mulia, tritium, dan
halogen.
Hasil studi menunjukkan bahwa dampak operasional pembangkit listrik batubara
(PLTU) lebih
radioaktif daripada pengoperasian PLTN.
Kata kunci : radioaktif, batu bara, nuklir
ABSTRACT
RADIOACTIVE IMPACT OF THE COAL AND NUCLEAR ENERGY IN THE
ELECTRICAL
POWER PLANT. The study discusses the of radiological impact of emission associated
with
different mode of power generations, especially fossil fueled coal power plant and
nuclear
power plant. Coal plays an increasingly important role in meeting the energy needs in
the world
and also in Indonesia. The burning of coal in the electrical power plant is one source of
primordial radioanuclides radiation which exposure to Naturally Occurring Radioactive
Material
(NORM) and it will be technologically enhanced exposure to man. The main objective of
this
paper is to provide clear information and to demonstrate that nuclear power is a mature
technology that has protection environmental advantages. Comparative studies of coal
fired
power plant and nuclear power plant have been reported by many scientists and
several
published reports. Principally, the radionuclides emitted by coal fired power plant such
as radon,
uranium, and thorium, and also kalium. While nuclear power plants emit the noble
gases,
tritium, and halogens. The study result indicate that the impact of operational power
station of
coal more radioactive than the nuclear power plant.
Key words : radioactive, coal, nuclear
PENDAHULUAN
Ujung Lemahabang (ULA) Semenanjung Muria merupakan lokasi terpilih untuk tapak
PLTN yang letaknya berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
batubara
Tanjung Jati. Dalam kegiatannya, PLTU tersebut menggunakan batubara sebagai
bahan bakar
yang berasal dari alam dan mengandung material radioaktif (NORM = Naturally
Occuring
Radioactive Material), sehingga dapat menimbulkan terjadinya pemekatan radionuklida
alam
yang dinamakan TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occuring Radioactive
Materia).
TENORM yang terbentuk dapat terikut dalam produk akhir atau sebagai sisa proses
yang
selanjutnya di daur-ulang ataupun dibuang ke lingkungan. TENORM yang didaur-ulang
dan
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 385
ISSN : 0854 - 2910
dibuang ke lingkungan mempunyai potensi meningkatkan residu radioaktif di
lingkungan,
sehingga dapat meningkatkan paparan radiasi latar (background).
Batubara merupakan bahan tambang yang mengandung unsur-unsur radioaktif alami
berumur paruh panjang. Batubara mengandung uranium-238 (238U), thorium-232
(232Th),
radium-226 (226Ra) dan kalium-40 (40K) yang kadarnya cukup bervariasi antara satu
negara
dengan negara lainnya. Radionuklida radium-226 dan radium-228, berturut-turut
merupakan
hasil peluruhan uranium dan thorium dengan waktu paruh 1.600 tahun. Radionuklida
alami
memang sudah terbentuk bersamaan dengan proses terbentuknya alam ini. Namun,
radionuklida seperti U, Th, dan Ra biasanya terikat kuat dalam matrik batuan.
Radionuklida ini
dalam kadar yang sangat rendah terdapat pada setiap bagian kerak bumi. Kandungan
radionuklida alam di dalam batubara bervariasi tergantung pada jenis dan lokasi
penambangan
batubara. Demikian juga, konsentrasi radionuklida di dalam abunya juga akan
bervariasi dan
cenderung lebih kaya dibandingkan unsur radionuklida yang terkandung di dalam
batubara.
Laju produksi abu batubara pada sistem pembangkit listrik tenaga uap kira-kira 10 %
dari
volume batubara. Lebih kurang 95 % abu akan tertinggal, masing-masing 20 % berupa
bottom
ash dan slag, lainnya 75 % berupa fly ash[1].
Banyak NORM/ TENORM yang dijumpai dengan konsentrasi yang sangat rendah dan
menjadi bagian kehidupan sehari-hari manusia. Namun ada juga NORM/ TENORM
yang
mempunyai konsentrasi radionuklida tinggi dan mampu menaikkan paparan radiasi.
Dampak
lingkungan akibat polutan radioaktif alam dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan
bakar
batubara sudah banyak dilakukan penelitiannya, tetapi pengukuran dosis radiasi
banyak
dipusatkan pada nilai absolut dari paparan radiasi eksternal atau konsentrasi aktifitas
per masa
abu batubara. Sedangkan dampak radiasi yang nyata dari penumpukan/
terakumulasinya
terhadap rona awal lingkungan radioaktif masih belum banyak dilakukan[2].
Dalam pengoperasian PLTN, cemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif terhadap
lingkungan dapat dikatakan hampir tidak ada. Gas radioaktif yang dapat ke luar dari
sistem
reaktor tetap tertahan di dalam sistem pengungkung PLTN, dan akan melewati sistem
ventilasi
yang berlapis-lapis. Gas yang lepas melalui cerobong aktivitasnya sangat kecil (sekitar
2
milicurie/ tahun), sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan[1].
Sehingga
dengan kondisi tersebut, PLTN dapat dipertimbangkan sebagai energi listrik alternatif
yang
ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia.
Makalah ini dibuat untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai problem
lingkungan yang kemungkinan besar akan dihadapi baik di Indonesia maupun
masyarakat di
dunia pada masa mendatang oleh adanya peningkatan emisi radioaktif alam dari
pembakaran
batubara sebagai sumber energi listrik yang berpotensi meningkat risiko radioekologi
terhadap
makhluk hidup. Hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara menyebutkan
bahwa
PLTU batubara cenderung memberikan paparan yang lebih besar per individu kecuali
untuk
organ seperti kelenjar gondok yang hanya mencapai 1,9 mrem/ tahun[3]. Hal ini tentu
berlawanan dengan opini masyarakat berkembang bahwa hanya PLTN saja yang
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 386
ISSN : 0854 - 2910
mengemisikan zat radioaktif. Tulisan ini kiranya dapat memberikan informasi yang
bermanfaat
tentang dampak pencemaran radioaktif pembangkit listrik baik dari industri nuklir
maupun non
nuklir, dalam hal ini pembakaran batubara sebagai bahan bakar pada PLTU. Hasil studi
ini juga
dapat memberikan masukan dalam menentukan langkah kebijakan dalam pengelolaan
lingkungan di lokasi kegiatan pengembangan fasilitas pembangkit listrik di
Semenanjung Muria,
Jepara. Khususnya dalam rangka menekan dampak negatif dan meningkatkan dampak
positif
kegiatan operasional fasilitas pembangkit listrik di daerah tersebut.
SUMBER PENCEMARAN DARI KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK BATUBARA
DAN
NUKLIR
Pembangkit Listrik Tenaga Batubara
Batubara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang banyak digunakan untuk
pembangkit listrik. Listrik dibangkitkan dengan cara batubara dibakar untuk
memanaskan air
dalam bejana guna menghasilkan uap. Uap yang dihasilkan akan memutar turbin dan
menghasilkan listrik. Dampak lingkungan terbesar dari penggunaan bahan bakar
batubara
adalah pelepasan polutan seperti CO2, NOx, CO, SO2, hidrokarbon dan abu serta abu
layang
(bottom dan fly ash) dalam jumlah yang relatif besar. Akibat pelepasan gas pencemar
tersebut
dapat menimbulkan dua masalah utama yaitu efek gas rumah kaca dan hujan asam.
Tabel 1. Konsentrasi Radionuklida (Bq/kg) yang Terukur di Berbagai Residu
Pembakaran Batubara[4].
238U 234U 230Th 226Ra 228Ra 210Pb 210Po 235U 232T 40K Total
Emisi abu layang (Fly ash) dari PLTU di Inggris
Drax 109,7 121,0 34,5 53,0 188,0 171,3 <3,60 39,6
Eggborough 84,9 88,0 30,6 74,0 125,4 139,8 <1,90 19,1
Alberthaw 43,3 47,9 38,2 44,3 98,0 64,2 2,08 28,6
High Mar <200 208,0 74,0
Drakelow <200 220,0 92,0
Burton barat <400 290,0 158,0
PLTU Polish (1195 sampel abu dan 645 sampel slag)
Abu (rata-rata) 146 102 631
Abu (median) 131 101 654
Abu (range) 18- 16- 35-
870 275 1484
Slag (rata-rata) 108 79 549
Slag (median) 9 79 561
Slag (range) 17- 17- 23-
487 261 1103
PLTU di Kroasia
Abu layang 8700 2400 20 400 150 11.700
Bottom ash dan
slag
3400 2000 60 200 290 5.900
Produk dari batubara dan pembakaran batubara Brasil
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 387
ISSN : 0854 - 2910
Batubara 72 72 62 72 62
Bottom ash 156 120 84 70 96
Fly ash 144 192 144 440 80
Limbah pembakaran batubara Amerika
Fly ash 96 96 67 111 96 200 207 5 63 1003
Bottom ash dan
slag
26 26 19 26 22 52 52 1 15 255
Sumber: IAEA, 2003
Selain itu, batubara umumnya mengandung radionuklida alam atau NORM maka
pembakaran batubara akan menyebabkan terjadinya pemekatan radionuklida alam atau
TENORM. Abu batubara dapat meningkatkan paparan radiasi terhadap lingkungan.
Paparan
radiasi yang dihasilkan dari PLTU batubara secara umum lebih besar daripada paparan
radiasi
dari PLTN.
Tabel 2. Konsentrasi Aktifitas (Bq/kg) dalam Residu PLTU[4]
Negara Deret 238U Deret 232Th 40K
Hungaria 200 – 2.000 20 – 300 300 – 800
Amerika Serikat 100 – 600 (fly ash) 30 – 300 (fly ash) 100 – 1.200 (fly ash)
Mesir 16 – 41 (fly ash) 9 – 11 (fly ash)
41 – 90 (slag) 24 – 34 (slag)
Jerman 6 – 166 (fly ash) 3 – 120 (fly ash) 125 – 742 (fly ash)
68 – 245 (slag) 76 – 170 (slag) 337 – 1.240 (slag)
Sumber: IAEA, 2003
Hal ini tentu berlawanan dengan anggapan umum bahwa hanya PLTN yang
menghasilkan radioaktivitas yang berbahaya bagi lingkungan. Pada kenyataannya,
PLTU
batubara cenderung memberikan paparan radiasi yang lebih besar per individu kecuali
untuk
organ seperti kelenjar gondok karena adanya lepasan gas mulia (I-131) yang
dilepaskan pada
operasi normal PLTN. Lepasan radionuklida utama tahunan untuk PLTU batubara
adalah
berupa radium-226 (0,0172 Ci) dan radium-228 (0,0108 Ci)[3].
Beberapa contoh konsentrasi NORM dalam pembakaran batubara di beberapa negara
disajikan dalam Tabel 1 dan Tabel 2. Besarnya konsentrasi sangat bervariasi
tergantung kadar,
jenis, lokasi penambangan, dan negara asal batubara tersebut[4]. Dari tabel tersebut
terlihat
bahwa besarnya konsentrasi NORM dari pembakaran batubara asal negara Kroasia
adalah
relatif paling tinggi di antara batubara asal negara lainnya.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
PLTN memanfaatkan panas yang dihasilkan dari pembelahan inti atom uranium
berbasis
pada reaksi fisi nuklir pada suatu reaktor nuklir. Panas digunakan untuk menghasilkan
uap air
yang berfungsi untuk menggerakkan turbin, yang akan menghasilkan listrik. Uranium
merupakan bahan bakar nuklir. Uranium terdapat di alam dan ditambang dengan teknik
penambangan konvensional, kemudian diproses untuk digunakan sebagai bahan bakar
dalam
reaktor nuklir. Uranium mengandung 2 (dua) isotop utama yaitu U-238 dan U-235,
dimana atom
U-235 merupakan atom fisil dengan kadar hanya sekitar 0,7 % di alam. Beberapa
reaktor nuklir
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 388
ISSN : 0854 - 2910
menggunakan uranium alam untuk bahan bakar, tetapi saat ini sebagian besar telah
menggunakan uranium yang diperkaya. Jenis reaktor thermal yang banyak digunakan
untuk
pembangkit listrik di dunia saat ini adalah reaktor berpendingin ringan (LWR)[1].
Limbah dari PLTN berawal sejak dari ujung muka sampai ujung paling akhir daur bahan
bakar nuklir yaitu dimulai dari penambangan uranium sampai penyimpanan limbah
lestari, dan
juga tidak kalah pentingnya adalah limbah yang dihasilkan selama beroperasinya
PLTN.
Dampak terhadap lingkungan dari proses penambangan adalah limbah radioaktif
berupa air
hasil tambang yang bersifat asam dan mengandung ion logam yang terlarut seperti
uranium,
thorium, radium dan timah. Hilangnya lahan pertanian dan hutan akibat penambangan
dapat
menimbulkan erosi dan berakibat banjir. Pada proses konversi dan pengkayaan
uranium,
limbah yang dihasilkan berupa limbah padat terutama dalam bentuk abu, limbah gas
dari
proses ini mengandung uranium halus. Selain itu dihasilkan pula uranium deplesi dalam
jumlah
sangat besar. Pada tahap fabrikasi bahan bakar, limbah yang dihasilkan berupa
padatan dan
cairan yang telah terkontaminasi dengan uranium dan atau plutonium. Sejumlah kecil
limbah
gas dibangkitkan selama operasi reaktor dan juga limbah padat dalam bentuk
komponen yang
terkontaminasi. Kandungan radioaktif dari limbah olah ulang, berupa produk hasil belah
terkungkung dalam bahan bakar bekas yang diumpankan dalam pabrik olah ulang
(pada sistem
daur tertutup) atau disimpan (daur terbuka). Limbah dekomisioning berupa limbah padat
aktifitas rendah, aktifitas menengah dan limbah aktifitas tinggi atau limbah
transuranium. Emisi
radioaktif rata-rata dari 1.000 MW (e) reaktor nuklir dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Emisi Radioaktif Rata-rata dari 1.000 MW(e) Reaktor Nuklir
Jenis Polutan Emisi Radioaktif (GBq/tahun)
Gas Mulia (218 ± 40). 103
Tritium dalam efluen udara (5,9 ± 2,4). 103
Tritium dalam efluen cairan (27 ± 1,8). 103
C-14 345 ± 80
I-131 1,75 ± 0,33
Partikulat 4,5 ± 2,9
Cairan, kecuali Tritium 132,4 ± 49,5
Sumber: IAEA, 1994[4]
Bukti yang ada mengindikasikan bahwa dampak dari siklus bahan bakar nuklir terhadap
lingkungan (udara, air, tumbuhan, dan manusia) lebih kecil daripada dampak yang
ditimbulkan
oleh PLTU batubara seperti terlihat pada Tabel 4.
Pada Tabel 4, keluaran dari pembangkit PLTU batubara dan PLTN, di mana pelepasan
polutan yang paling besar adalah dari PLTU batubara, sedangkan sejumlah kecil radiasi
dihasilkan dari PLTN adalah dalam bentuk gas mulia (kripton dan xenon). Beberapa
radiasi dari
PLTU batubara terdiri dari logam berat, yang jauh lebih berbahaya daripada dalam
bentuk gas
mulia[1] yang dihasilkan oleh PLTN. Zat radioaktif yang dilepaskan ke lingkungan dari
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 389
ISSN : 0854 - 2910
pengoperasian PLTN adalah gas mulia yang bersifat “inert”, yaitu sukar bereaksi/
bersenyawa
dengan unsur lain, sehingga dampaknya berupa dosis eksternal.
Tabel 4. Perbandingan keluaran (efluen) dari berbagai pembangkit listrik pada
1.000 MW(e)
JENIS BAHAN BAKAR
PLTU BATUBARA PLTN
Konsumsi Bahan Bakar/ tahun 2,3 juta (ton) 30 (ton)*
Pelepasan Polutan (Ton)
Sox 1,4 x 105 0
NOx 20.860 0
CO 522 0
Hidrokarbon 209 0
Aldehyde 54 0
Abu 4.490 0
Pelepasan Nuklida (Ci)
Ra-226 0,0172 0
Ra-228 0,0108 0
Kr-85 + Xe-133 0 -
Gas Mulia (PWR) - 600
Gas Mulia (BWR) - 1,11 x 106
I-131 (PWR) - 0
I-131 (BWR) - 0,85
*≈30 ton bahan bakar nuklir diperlukan untuk pengisian 1/3 dari teras reaktor per tahun.
Sumber: Robert, tahun 1994[5]
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kajian terhadap hasil pembakaran PLTU batubara sebagai sumber listrik perlu
dilakukan, terutama dari aspek radioekologi. Sampai sekarang informasi dari produk
pembakaran batubara khususnya hasil-hasil polutan radioaktif (NORM/ TENORM) di
Indonesia,
khususnya di calon tapak PLTN Ujung Lemahabang, Semenanjung Muria masih belum
dilakukan penelitian secara maksimal. Pembangkit listrik yang menggunakan batubara
menghasilkan volume abu sekitar 10 % dari volume batubara dan permasalahannya di
dalam
abu tersebut mengandung uranium dan thorium serta anak peluruhannya, sehingga
mempunyai
potensi memberikan paparan radiasi. Lebih dari 90% abu yang dihasilkan terdiri dari
20%
bottom ash dan slag, sedang sisanya adalah 75% berupa abu terbang (fly ash). Abu
biasanya
juga mengandung silikon, alumunium, besi dan kalsium. Sekitar 70% - 80% abu
batubara yang
dihasilkan dibuang ke landfill atau kolam. Sebagian abu terbang, bottom ash, dan boiler
slag
seringkali digunakan sebagai pengganti semen dan beton, atau sebagai pengisi
konstruksi
bangunan. Disini perlu diperhatikan adanya potensi dampak negatif jangka panjang
akibat
terakumulasinya NORM/ TENORM tersebut.
Pada prinsipnya jalan masuk paparan material radioaktif dari PLTU dan PLTN adalah
lewat jalur ”ingesti” yaitu melalui bahan-bahan makanan yang telah terkontaminasi
ataupun
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 390
ISSN : 0854 - 2910
melalui pernafasan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan
bahwa
penelitian dampak material radioaktif dari hasil pembakaran PLTU batubara masih
sangat
terbatas. Lain halnya dengan dampak pelepasan efluen dari PLTN yang telah banyak
didokumentasikan.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa paparan radiasi
dari pembakaran batubara pada PLTU secara umum akan mengeluarkan dosis radiasi
lebih
banyak daripada PLTN dengan kapasitas yang sama, seperti terlihat pada Tabel 5.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
Dosis Individu Maksimum
(mrem/th)
badan tulang paru-paru kelenjar
gondok
ginjal hati sumsum
Organ
PLTU batubara PLTN BWR PLTN PWR
Gambar 1. Paparan Radiasi terhadap Manusia (Dosis Individu Maksimum)
dari PLTU batubara dan PLTN 1.000 MW(e)
Gambar 1 menunjukkan data-data hasil perhitungan yang dilakukan oleh Mc Bride dan
kawan-kawan, yaitu hasil perhitungan dosis individu maksimum dan dosis populasi dari
pelepasan material radioaktif PLTU dan PLTN 1.000 MW(e). Dari tabel tersebut
menunjukkan
bahwa dosis individu maksimum PLTU lebih besar jika dibandingkan dengan PWR
(kecuali
dosis pada kelenjar gondok), tetapi lebih kecil bila dibandingkan dengan BWR kecuali
dosis
pada tulang.
Sedangkan untuk dosis populasi PLTU batubara rata-rata mempunyai nilai lebih tinggi
baik dibandingkan dengan PLTN jenis PWR maupun BWR, kecuali dosis pada kelenjar
gondok
pada BWR, Tabel 5. Pelepasan polutan pada PLTU batubara dengan ketinggian
cerobong 50
meter akan memberikan dosisi populasi yang lebih besar jika dibandingkan ketinggian
cerobong pada 100, 200 meter maupun pada ketinggian 300 meter. Sedangkan dosis
populasi
dari PLTN mempunyai nilai lebih kecil dibandingkan dosis populasi dari PLTU
batubara[5],[6].
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 391
ISSN : 0854 - 2910
Tabel 5. Paparan Radiasi terhadap Manusia dari PLTU batubara dan PLTN 1.000
MW(e)
Organ Dosis Populasi** Max. (orang-rem/th)
PLTU batubara PLTN
(BWR)
PLTN
(PWR)
Tinggi Cerobong (m)
50 100 200 300
Seluruh badan 23 21 19 18 13 13
Tulang
24
9
223 192 180 21
20
Paru-paru 34 29 23 21 8 9
Kelenjar Gondok 23 21 19 18 37 12
Ginjal 55 50 43 41 8 9
Hati 32 29 26 25 9 10
Sumsum 37 34 31 29 8 8
Sumber: Mc. Bride, tahun 1977[2]
PLTU batubara menghasilkan produk yang lebih radioaktif dibandingkan dengan PLTN
karena tingginya jumlah radon, uranium dan thorium yang dihasilkan. EPA melaporkan
konsentrasi thorium dan uranium dari pembakaran batubara pada PLTU dalam satu
tahun akan
melepaskan 5,2 dan 12,8 ton thorium di udara. Disamping itu juga akan dilepaskan
unsur-unsur
hasil peluruhan yang juga merupakan unsur-unsur berbahaya seperti radium, radon,
polonium,
bismuth, dan Pb. Sehingga secara akumulasi pemakaian batubara di Amerika sampai
saat ini
akan menghasilkan 477,027,320 millicurie[7].
Sebagai perbandingan, menurut laporan Badan Nasional Amerika untuk Proteksi dan
Pengukuran Radiasi (NCRP) menghitung bahwa radioaktivitas batubara rata-rata
sebesar 4,27
mikrocurie/ton. Menurut laporan NCRP No. 92 dan 95, paparan radiasi terhadap
populasi dari
operasional 1.000 MW(e) PLTN dan PLTU batubara adalah 490 orang-rem/tahun untuk
PLTU
batubara dan 4.8 orang-rem/tahun untuk PLTN. Selanjutnya, dosis radiasi efektif
ekuivalen
populasi di sekitar PLTU batubara adalah 100 kali jika dibandingkan dengan PLTN. Jika
dihitung dosis radiasi per orang yang berada di sekitar PLTU batubara akan menerima
dosisnya
tiga kali lebih besar daripada dosis radiasi yang dikeluarkan PLTN[7][8].
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 392
ISSN : 0854 - 2910
0
10
20
30
40
50
60
70
80
226Ra 228Ra 228Th 230Th 232Th 210Po 210Pb 227Ac
Radionuklida
Organ
badan
tulang
paru-paru
kelenjar gondok
ginjal
hati
sumsum
Gambar 2. Prosentase Kontribusi Radionuklida terhadap Dosis Populasi PLTU
batubara 1.000
M.W(e) (Sumber: Mc Bride dkk., 1997)
Gambar 2 menunjukkan prosentase dari peran paparan radionuklida terhadap dosis
populasi dari PLTU batubara. Hasilnya menunjukkan bahwa nuklida radium (226Ra dan
228Ra)
merupakan kontributor utama paparan radiasi terhadap organ seluruh tubuh.
Sedangkan 210Po
merupakan kontributor utama paparan radiasi terhadap sumsum, sedangkan 210Po
dan 210Pb
keduanya berperan sebagai kontributor utama paparan radiasi terhadap ginjal[1].
Dari Gambar 2 tersebut juga terlihat bahwa tidak hanya PLTN saja yang menghasilkan
radioaktivitas yang berbahaya bagi lingkungan. Pada kenyataannya, PLTU batubara
cenderung
memberikan paparan radiasi yang lebih besar per individu kecuali untuk organ seperti
kelenjar
gondok yang hanya mecapai 1,9 mrem/ tahun. Gambar 2 juga menunjukkan lepasan
radionuklida utama yang dikeluarkan oleh PLTU batubara selama satu tahun adalah
berupa
radium-226 dan radium-228 yang masing-masing mempunyai umur paruh panjang. Hal
ini tentu
berlawanan dengan opini masyarakat bahwa hanya PLTN saja yang menghasilkan
radioaktif.
Dosis individu maksimum yang diterima oleh masyarakat sekitar PLTN terlihat lebih
tinggi yaitu
3,2 mrem/tahun karena adanya lepasan Iodium radioaktif (I-131).
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 393
ISSN : 0854 - 2910
Tabel 6. Prosentase Kontribusi Radionuklida terhadap Dosis Populasi PLTN 1.000
M.W(e)[1]
Organ Prosentase Radionuklida (%)
14C 3H 135mX
e
135Xe 133Xe 88Kr+88
Rb
131I 133I
BWR PWR PWR BWR BWR BWR PWR BWR BWR PWR PWR
Seluruh
badan
65,4 54,6 26,2 10,4 6,6 4,7 17,7 6,0 0,5 0,04 0,2
Tulang 71,7 61,8 17,1 8,0 6,2 5,2 19,9 4,0 0,4 0,03 0,1
Paru-paru 46,7 36,3 39,9 16,1 9,8 6,2 21,6 9,7 0,9 0,07 0,3
Kelenjar
Gondok
10,6 27,8 29,1 3,9 2,3 2,0 23,2 2,0 67,8 17,7 9,5
Sumber: Mc Bride dkk., 1997.
Tabel 6 menunjukkan bahwa prosentase paparan radionuklida terhadap organ populasi,
terlihat jelas bahwa karbon-14 merupakan kontributor utama paparan radiasinya
terhadap
seluruh badan baik untuk PLTN jenis PWR maupun BWR. Sedangkan Tritium dari emisi
PWR
akan sangat berperan terhadap paparan di organ tubuh penduduk. Emisi gas-gas
radionuklida
dari PLTN tersebut akan menghasilkan konsentrasi dosis maksimum apabila gas-gas
tersebut
diemisikan lepasannya pada ketinggian 20 m dalam jangkauan lepasan dari titik sumber
mencapai jarak 500 m[1].
Dengan data-data diatas, McBride, dkk[2] menyimpulkan bahwa masyarakat Amerika
yang tinggal dekat PLTU akan terpapar radiasi lebih tinggi dibandingkan mereka yang
tinggal
dekat dengan PLTN yang memenuhi ketentuan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan
peraturan, emisi yang dikeluarkan oleh PLTN dikendalikan sangat ketat agar tidak
melebihi
batas yang diizinkan, sedangkan emisi dari PLTU batubara dibiarkan bebas. Sumber
radiasi
dari batubara bukan hanya dari uranium dan thorium, tetapi juga dari hasil
peluruhannya seperti
radium, radon, polonium, bismuth, dan timbal. Selain itu juga K-40 yang secara alamiah
ada di
dalam batubara. Oleh karena itu dari data yang ada menunjukkan bahwa operasional
PLTU
batubara juga berperan dalam meningkatkan potensi paparan radiasi terhadap kondisi
alam di
daerah sekitar PLTU, karena fasilitas ini sebagai sumber utama pelepasan material
radioaktif ke
lingkungan[9]. Hal ini tentu akan menyebabkan dampak terhadap kesehatan lebih
berbahaya
daripada dampak yang diakibatkan oleh PLTN. Demikian juga akan meningkatkan
radiasi latar/
background jika dibandingkan dengan PLTN. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengaturan
seperti yang berlaku pada operasional PLTN.
Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat menyatakan bahwa di dalam
batubara kandungan rata-rata uranium adalah 1,3 ppm, dan kandungan thoriumnya
rataratanya
adalah 3,2 ppm. Ini artinya di dalam 1 ton batubara terdapat sekitar 1,3 gram uranium,
dan 3,2 gram thorium[10]. Jika dihitung untuk seluruh batubara yang dibakar di PLTU
batubara,
maka akan didapatkan nilai 28 ton uranium dan 70 ton thorium. Oleh karena itu untuk
satu
PLTU batubara dengan kapasitas 1.000 MW(e) akan dihasilkan sekitar 28 ton uranium
dan 70
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 394
ISSN : 0854 - 2910
ton thorium pertahun. Jika PLTN dengan kapasitas 1.000 MW(e) membutuhkan 30 ton
uranium
selama satu tahun, maka PLTU batubara membakar atau menghamburkan uranium
tiga kali
jumlah yang dibutuhkan PLTN selama satu tahun[7][8].
Meskipun di dalam PLTN terdapat banyak sekali unsur radioaktif yang dihasilkan, tetapi
sistem keselamatan PLTN membuat jumlah lepasan radiasi ke lingkungan relatif kecil.
Dalam
kondisi normal, seseorang yang tinggal di radius 1 – 6 km dari pusat reaktor akan
menerima
dosis radiasi tambahan tidak lebih daripada 0,005 miliSievert pertahun. Nilai ini jauh
lebih kecil
daripada yang diterima dari alam (kira-kira 2 miliSievert per tahun) atau 1/400 nilai
radiasi
alam[11].
Penelitian di Jepang oleh K. Okamoto[12] juga melaporkan bahwa diantara banyak
radionuklida yang dilepaskan dari pembakaran batubara maka radionuklida 210Pb dan
210Po
merupakan radionuklida yang penting untuk dikaji dampaknya terhadap lingkungan
karena sifat
radionuklida tersebut yang sangat volatil dan dilepaskan dengan laju yang lebih tinggi
dibandingkan dengan jenis radionuklida yang lain. Penelitian di Jepang juga
membandingkan
dosis kolektif dari PLTU batubara dan PLTN yaitu dengan data sebagai berikut[12]:
Tabel 7. Perbandingan Dosis Kolektif antara PLTU batubara dan PLTN
(orang-rem/ tahun)[12]
PLTU batubara PLTN
Dosis Populasi Jepang
1,2 ~ 6,7 x 105 1,7 x 104 (terutama dari 3H dan 85Kr)
Per 1.000 MW PLT
(A) 18 ~ 23 13
(B) 2,9 x 105 ~ 1,7 x 104 5,2 ~ 8,2 x 105
Efek PLTU Suess 4,6 x 102 Efek Kecelakaan PLTN Harrisburg 3,3 x 103
Sumber: K. Okamoto
Dari tabel 7 tersebut juga terlihat bahwa dosis kolektif yang dihasilkan oleh PLTU
batubara mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan dosis kolektif dari PLTN,
kecuali
bila terjadi kecelakaan seperti kasus kecelakaan PLTN Harrisburg.
Sehubungan dengan rencana pembangunan PLTN di Ujung Lemahabang yang lokasi
tapaknya tidak jauh dari operasional PLTU Tanjungjati yang mempunyai potensi
meningkatkan
paparan radioaktivitas alam di daerah tersebut maka studi ini dapat digunakan sebagai
masukan dalam menentukan langkah kebijaksanaan dalam pengelolaan lingkungan di
lokasi
kegiatan pengembangan fasilitas pembangkit listrik di Semenanjung Muria, Jepara.
Khususnya
dalam rangka menekan dampak negatif dan meningkatkan dampak positif kegiatan
operasional
fasilitas pembangkit listrik di daerah tersebut. Disamping juga diperlukan suatu
penelitian yang
lebih lengkap mengenai rona awal radioaktivitas guna mendukung perolehan data
tingkat
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 395
ISSN : 0854 - 2910
radioaktivitas di daerah Semenanjung Muria sebagai data background/ baseline
sebelum
beroperasinya PLTU batubara Tanjungjati dan PLTN Ujung Lemahabang.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari studi dampak radioaktif penggunaan PLTU batubara dan PLTN yang
telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Kajian terhadap emisi radioaktif alam yang dihasilkan melalui pembakaran PLTU
batubara sebagai pembangkit listrik perlu dilakukan guna menghindari kesalahpahaman
akibat adanya potensi peningkatan radiasi terhadap lingkungan di sekitar fasilitas PLTU
dan PLTN, khususnya di daerah Ujung Lemahabang, Jepara.
2. Dosis radiasi individu maksimum dari PLTU mempunyai nilai lebih besar dari nilai
dosis
radiasi individu dari PWR kecuali untuk dosis kelenjar tiroid, tetapi lebih rendah nilainya
dibandingkan dengan nilai dosis individu dari PLTN BWR, kecuali pada tulang.
3. Operasi PLTU batubara akan menghasilkan emisi polutan zat radioaktif yang lebih
besar bila dibandingkan dengan operasi PLTN.
4. Emisi polutan radioaktif dari operasi PLTN masih jauh lebih kecil daripada dosisi
yang
diterima dari radiasi alam.
5. Perlu ditetapkan suatu peraturan yang ketat dari emisi radioaktif yang dihasilkan oleh
PLTU batubara.
DAFTAR PUSTAKA
1. MCBRIDE J.P, MOORE R.E., WITHERSPOON J.P., dan BLANCO R.E., Radiological
Impact of Airborne Effluents of Coal–Fired and Nuclear Power Plants, Oak Ridge
National Laboratory, Tennessee, 1977.
2. DJAROT S.W., Studi NORM dan TENORM dari Kegiatan Industri Non Nuklir, Jurnal
Teknologi Pengelolaan Limbah (Journal of Waste Management Technology), Pusat
Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif ISSN 1410-9565, Volume 6 Nomor 2
Desember 2003.
3. L. Mljač1 M. Križman, Radiological impact of Coal-Fired Thermal Power Plant – a
Decade of Systematic Environmental Monitoring, ERICo Velenje, Koroška 58, SI-3320
Velenje, Slovenia.
4. IAEA, Extent of Environmental Contamination by Naturally Occuring Radioactive
Material (NORM) and Technological Options for Mitigation, TRS no. 419, Vienna, 2003.
5. ROBERT G. COCHRAN, The Nuclear Fuel Cycle: Analysis and Management,
American
Nuclear Sociaty, LA. Grange Park, USA, 1992.
6. SUNARKO, Kajian Komparatif Terhadap Pembangkitan Listrik Batubara dan Nuklir,
Jurnal Pengembangan Energi Nuklir, Volume 6, Nomor 3 & 4 September – Desember
2004.
Prosiding Seminar Nasional ke-12 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir
Yogyakarta, 12 -13 September 2006
Heni Susiati, PPEN-BATAN 396
ISSN : 0854 - 2910
7. National Council on Radiation Protection (NCRP), Public Radiation Exposure From
Nuclear Power Generation in the US., Report No.92, 1987.
8. National Council on Radiation Protection (NCRP), Radiation Exposure of the US.
Population from Consumer Products and Miscellaneous Sources, Report No.95, 1987.
9. VLADO VALKOVIC, Radioactivity in The Environment, Elsevier, Amsterdam, First
Edition, 2000.
10. U.S. Environmental Protection Agency, Office of Radiation and Indoor Air, Diffuse
NORM Wastes-Waste Characterization and Preliminary Risk Assessment, Draft, RAE-
9232/1-2, SC&A, Inc., and Rogers & Associates Engineering Corporation, Salt Lake
City, Utah, May 1993.
11. Alex Gabbard, Coal Combustion: Nuclear Resource or Danger,
http://www.orl.gv/info/ornlreview/rev26-34/text/colmain.html.
12. K. Okamoto, Effect of The Foodchain in Radioactivities Released from Thermal
Power
Plants, Department of Applied Mathematics, University of New South Wales,
Kensington, N,S.W., Australia,.
DISKUSI
PERTANYAAN: (Ida NF – PPEN BATAN)
1. Jenis Emisi radioaktif yang dilepaskan oleh PLTU batubara dan PLTN berbeda, apa
bisa dipakai perbandingan/dibandingkan?
JAWABAN:
1. Jenis emisi radioaktif antara 2 PLT tersebut memang berbeda tetapi dampak dari
radionuklida tersebut sama karena radionuklida tersebut akan menghasilkan paparan
atau radiasi yang sama baik radiasi α, β, atau γ dan paparan radiasi merupakan bahaya
radiasi eksternal dan internal terhadap tubuh manusia.
PERTANYAAN: (Teddy A – Teknik Fisika UGM)
1. Data yang digunakan diambil/diacu dari mana?
2. Batubara yang digunakan jenis apa?
JAWABAN:
1. Data-data diambil dari hasil-hasil penelitian yang sudah dipublikasikan dan juga
laporan-laporan seperti USEPA atau NCRP.
2. Kebanyakan batubara yang digunakan untuk PLTU adalah lignit dan sebagian
negara
juga ada yang menggunakan batubara jenis bituminus.