Anda di halaman 1dari 39

TUGAS ILMU PENGETAHUAN SOCIAL

BIOGRAFI SINGKAT PAHLAWAN – PAHLAWAN


REVOLUSI INDONESIA

Disusun oleh :

 Putri aurora
 Nike meilani

SMK YADIKA JAMBI


TAHUN AJARAN 2010/2011
Biografi singkat pahlawan – pahlawan
revolusi
Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada sejumlah perwira militer
yang gugur dalam tragedi G30S yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 30
September 1965.

Para pahlawan tersebut adalah:

 Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani


 Letjen. (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono
 Letjen. (Anumerta) Siswondo Parman
 Letjen. (Anumerta) Suprapto
 Mayjen. (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan
 Mayjen. (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo
 Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun
 Kapten CZI (Anumerta) Pierre Tendean
 Kolonel Inf. (Anumerta) Sugiono - wafat di Yogyakarta
 Brigjen. (Anumerta) Katamso Darmokusumo - wafat di Yogyakarta

Pihak Orde Baru menuding bahwa


Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
yang harus menanggung kematian para
pahlawan ini adalah antek-antek dari
Partai Komunis Indonesia. Namun hal ini
masih menuai banyak kontroversi hingga
hari ini dan isu bahwa PKI (Partai
Komunis Indonesia) yang bersalah pun
kurang dapat dipertanggungjawabkan
karena bukti-bukti yang tidak kuat.

Ahmad Yani
Jenderal TNI Anumerta Ahmad Lahir: Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 1922
Yani (juga dieja Achmad Yani) lahir di
Wafat: Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965
Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni
1922 – meninggal di Lubang Buaya, Makam
TMP Kalibata - Jakarta
Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 :
tahun) adalah seorang pahlawan revolusi
dan nasional Indonesia.

Beliau dikenal sebagai seorang tentara yang selalu berseberangan dengan PKI (Partai
Komunis Indonesia). Ketika menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak tahun
1962, ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh
dan tani. Karena itulah beliau menjadi salah satu target PKI yang akan diculik dan dibunuh di
antara tujuh petinggi TNI AD melalui G30S (Gerakan Tiga Puluh September). Ia ditembak di
depan kamar tidurnya pada subuh 1 Oktober 1965. Mayatnya kemudian ditemukan di
Lubang Buaya.[1]

Jabatan terakhir sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad) sejak


tahun 1962. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Masa Muda

Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah pada tanggal 19 June 1922 dari
keluarga Wongsoredjo, yang bekerja di pabrik gula milik pengusaha Belanda. Tahun 1927,
Yani pindah bersama keluarganya ke Batavia, di mana ayahnya bekerja untuk seorang
jendral Belanda. Di Batavia, Yani menyelesaikan sekolah dasar dan sekolah menengahnya.
Tahun 1940, Yani meninggalkan bangku sekolah tinggi untuk masuk dinas kemiliteran
pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dia masuk Dinas Topografi Militer di Malang, Jawa
Timur, tapi berhenti karena invasi Jepang tahun 1942. Di waktu yang sama keluarganya
pindah kembali ke Jawa Tengah.

Pendidikan

 HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935


 MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
 AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
 Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
 Pendidikan Heiho di Magelang
 PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
 Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat,
tahun 1955
 Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956

Bintang Kehormatan

 Bintang RI Kelas II
 Bintang Sakti
 Bintang Gerilya
 Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
 Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
 Satyalancana G: O.M. I dan VI
 Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
 Satyalancana Irian Barat (Trikora)
 Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain
 Letnan Jenderal Anumerta S. Parman (1918-1965)

Kapten Pierre Tendean


Kapten Pierre Tendean merupakan salah satu korban pembunuhan G30S-PKI yang
juga mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi Indonesia, saat itu menjadi ajudan Jenderal AH.
Nasution.

Pierre Andreas Tendean adalah seorang keturunan Menado. Di rumah A.H. Nasution beliau
biasanya disapa dengan “Pierre”, bukan Tendean. Tendean sendiri adalah nama fam yang
dipakainya– Tendean : Tempat berpijak. Beliau adalah putera dari DR. A.L Tendean yang
berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME.

Beliau lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, dan beragama Protestan. Lulus dari SMA
“B” dilanjutkan ke Akmil Jurtek AD. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak
dan adiknya semua wanita, sehingga sebagai satu-satunya anak lelaki dialah tumpuan
harapan orang tuanya.

Sesudah Pierre tamat dari SD di Magelang, meneruskan ke SMP bagian B dan


kemudian ke SMA bagian B di Semarang. Setelah tamat dari SMA orang tuanya
menganjurkan agar Pierre masuk Fakultas Kedokteran. Akan tetapi Pierre telah mempunyai
pilihan sendiri, ingin masuk Akademi Militer Nasional, dan bercita-cita menjadi seorang
perwira ABRI.

Pierre memasuki ATEKAD Angkatan ke VI di Bandung tahun 1958.


Tahun 1959 ketika sebagai Kopral Taruna, beliau juga ikut dalam operasi Sapta Marga di
Sumatera Utara. Beliau dilantik sebagai Letda Czi tahun 1962. Setelah mengalami tugas,
antara lain sebagai Danton Yon Zipur 2/Dam II Bukit Barisan, dan mengikuti Pendidikan
Intelijen tahun 1963 serta pernah menyusup ke Malaysia masa Dwikora sewaktu bertugas di
DIPIAD, maka pada tahun 1965 diangkat sebagai Ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal TNI
A.H. Nasution ketika pangkatnya masih Letda, kemudian naik menjadi Lettu.

Dalam jabatan sebagai Ajudan Jenderal TNI A.H. Nasution inilah Pierre Tendean
gugur, ketika G 30 S/PKI berusaha untuk menculik/membunuh Jenderal TNI A.H. Nasution.

Di saat gerombolan G 30 S/PKI ingin menculik Pak Nas pada dini hari tanggal 1
Oktober 1965, Pierre yang saat itu sedang tidur di paviliun rumah Pak Nas, segera bangun,
karena mendengar kegaduhan di rumah pak Nas. Ketika ia keluar ia sudah menjinjing
senjata, namun ia ditangkap oleh gerombolan penculik yaitu oleh Pratu Idris dan Jahurup.
Pierre disangka sebagai Pak Nas. Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan
truk ke Lubang Buaya. Waktu itu gerombolan menyangka bahwa Pak Nas berhasil ditangkap
hidup-hidup.

Ketika interogasi di Lubang Buaya, ternyata gerombolan G30S/PKI telah “salah


tangkap”. Pierre yang dikira sebagai Pak Nas, akhirnya dieksekusi pada giliran terakhir. Ini
mungkin karena beliau dianggap bukan orang yg diprioristaskan untuk dieksekusi.
Sebelumnya, para perwira telah terlebih dahulu dieksekusi. Salah satu sumber fakta ini
adalah dari posisi mayat PA. Tendean yg terletak paling atas di dalam Sumur Lubang Buaya,
ketika proses evakuasi jenazah para Pahlawan Revolusi. Yang pertama dimasukkan adalah
jenazah Brigjend Pandjaitan, kemudian Letjend. A. Yani, Mayjend. M.T. Haryono, Brigjend.
Sutoyo, Mayjend. Suprapto yang diikat bersama-sama dengan Mayjend. Siswondo Parman.
Terakhir adalah Jenazah Lettu P.A. Tendean.

Seluruh jenazah dianugerahkan pangkat Anumerta, yaitu gelar kenaikan pangkat


satu tingkat yang diberikan kepada seseorang yang meninggal dunia akibat suatu peristiwa
yang berhubungan dengan bela negara, atau mengangkat dan mengharumkan nama
bangsa. Biasanya gelar ini lazim diberikan kepada seseorang dalam jabatan militer tapi tidak
menutup kemungkinan diberikan juga kepada pegawai negeri sipil yang meninggal dunia
dalam melaksanakan tugasnya.

Maka pangkat/gelar PA. Tendean menjadi KAPTEN CZI Anumerta. Beliau


dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

R. Suprapto

R. Suprapto
Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20
Juni 1920 – meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 45 tahun) adalah
seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam Gerakan 30
September dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini boleh dikata hampir seusia
dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang
Panglima Besar. Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS
(setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.

Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan


dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada
Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai
tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan
dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan diri.

Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus


Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia
bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.

Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan
berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk
menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi
masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan
tentara Jepang seperti di Cilacap, namun perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat
yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.

Selama di Tentara Keamanan Rakyat, ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi


salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu,
pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang
pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.

Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia sering berpindah tugas.


Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro
di Semarang. Dari Semarang ia kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat,
kemudian ke Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam,
ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera yang
bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat sebab harus menjaga agar
pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi.

Mayjen Donald Isac Panjaitan


Nama: Mayor Jenderal Anumerta Donald Isac Panjaitan
Lahir: Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925
Meninggal: Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Agama: Kristen
Pendidikan Formal:

 Sekolah Dasar
 Sekolah Menengah Pertama
 Sekolah Menengah Atas

Pendidkan Militer: Latihan Gyugun


Pendidikan Lain:

 Kursus Militer Atase (Milat), tahun 1956


 Associated Command and General Staff College, di Amerika Serikat

Karier Militer:

 Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), tahun 1962


 Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat
 Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) II/Sriwijaya di Palembang
 Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan
 Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
 Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera
 Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, tahun 1948
 Komandan Batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
 Anggota Gyugun Pekanbaru, Riau

Prestasi:

 Salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR)


 Membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI

Pria kelahiran Balige, Tapanuli yang bernama lengkap Donald Isac Panjaitan, ini
masuk militer pada jaman pendudukan Jepang. Setelah lebih dulu mengikuti latihan Gyugun,
ia selanjutnya ditugaskan di Gyugun Pekanbaru, Riau. Setelah kemerdekaan RI, ia
merupakan salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Di TKR, ia mengawali kariernya sebagai komandan batalyon, selanjutnya ia sering


berpidah tugas. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, ia diangkat menjadi
Kepala Staf Operasi Tentara & Teritorial (T&T) I/Bukit Barisan di Medan. Ia juga pernah
bertugas sebagai Atase Militer di Bonn, Jerman. Terakhir ia bertugas sebagai Asisten IV
Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ketika peristiwa sadis itu menimpa
dirinya.

Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari
Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah
Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam
pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti
latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau
hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya


membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia
pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan
Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf
Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda
melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan
Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh
pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi
Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke
Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai
Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase
Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962,
perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College,
Amerika Serikat  ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S  PKI terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas


keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC)
untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti
bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the
New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan
persiapan melancarkan pemberontakan.

Penganut Kristen ini, terkenal sangat taat beragama. Karenanya, dia juga salah satu
perwira di jajaran TNI AD yang tidak menyukai PKI sekaligus yang menolak pembentukan
Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani sesuai rencana PKI. Dan karena itulah
dirinya dimusuhi dan dibunuh oleh PKI.

Dengan bertameng alasan dipanggil oleh Panglima Tertinggi Presiden Soekarno,


tujuh perwira tinggi TNI AD, pada malam 30 September atau pagi dinihari tanggal 1 Oktober
1965 hendak diculik oleh sekelompok berpakaian Pengawal Presiden yang kemudian
diketahui adalah pasukan PKI. Enam perwira tinggi itu berhasil diculik, namun Jenderal A.H.
Nasution berhasil lolos tapi puteri dan ajudannya menjadi korban peristiwa itu.

Mayjen Anumerta D.I. Panjaitan yang malam dinihari itu merasa heran akan
pemanggilan mendadak itu. Namun karena loyalitasnya pada pimpinan tertinggi militer,
Presiden Soekarno, ia pun berangkat namun terlebih dahulu berpakaian resmi. Namun
firasatnya yang tajam sepertinya merasakan bahaya yang sedang terjadi. Sebelum
memasuki mobilnya, dengan berdiri di samping mobil ia lebih dulu memohon doa kepada
Tuhan. Namun belum selesai menutup doanya, pasukan PKI sudah memberondongnya
dengan peluru.

Ia bersama enam perwira lainnya, lima diantaranya perwira tinggi yakni: Jend. TNI
Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman;
Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S; dan satu perwira
pertama, ajudan Jenderal Nasution yakni Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean pada
malam itu gugur sebagai bunga bangsa demi mempertahankan ideologi Pancasila.

Pencarian yang dilakukan di bawah pimpinan Soeharto (Mantan Presiden RI yang


waktu itu menjabat sebagai Pangkostrad), ditemukanlah jenazah Panjaitan di Lubang Buaya,
terkubur massal di dalam satu sumur tua yang tidak dipakai lagi bersama enam perwira
lainnya. Ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi, kemudian dimakamkan di Taman Makan
Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya
masih Brigadir Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal.

Kini di Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan,
berdiri Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan atas peristiwa itu. Dan pada era
pemerintahan Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari
Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional

Letnan Jenderal Anumerta M.T. Haryono

Nama: Letnan Jenderal Anumerta M.T. Haryono


Lahir: Surabaya, 20 Januari 1924
Agama: Islam
Pendidikan Umum:

 ELS (setingkat Sekolah Dasar)


 HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum)
 Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang)

Perwira kelahiran Surabaya ini pernah menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia
pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk Negeri Belanda dan terakhir sebagai
Deputy III Menteri/ Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Pria yang sebelum masuk
tentara pernah duduk di Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran) ini seorang perwira yang fasih
berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemampuannya itu membuat dirinya
menjadi perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan. 

Letjen Anumerta M.T. Haryono kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya
memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS
(setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko
(Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.

Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera


bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.

Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945


sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor
Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris
dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan
Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan
Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan
Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Tenaga M.T. Haryono memang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan


antara pemerintah RI dengan pemerintah Belanda maupun Inggris. Hal tersebut disebabkan
karena kemampuannya berbicara tiga bahasa internasional yakni bahasa Inggris, Belanda,
dan Jerman.

Terakhir ketika ia menjabat Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat


(Men/Pangad), pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai yang merasa dekat
dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat itu semakin hari semakin berani bahkan
semakin merajalela.

Ide-ide yang tidak populer dan mengandung resiko tinggi pun sering dilontarkan oleh
partai komunis itu. Seperti ide untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang
disebut dengan Angkatan Kelima. Ide tersebut tidak disetujui oleh sebagian besar perwira
AD termasuk oleh M.T. Haryono sendiri dengan pertimbangan adanya maksud tersembunyi
di balik itu yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis. Di samping itu,
pembentukan Angkatan Kelima tersebut sangatlah memiliki resiko yang sangat tinggi.
Namun karena penolakan itu pula, dirinya dan para perwira lain dimusuhi dan menjadi
target pembunuhan PKI dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta M.T. Haryono bersama
enam perwira lainnya yakni: Jend. TNI Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta
Suprapto; Letjen.TNI Anumerta S Parman; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen. TNI
Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil diculik kemudian
dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang
Buaya tanpa prikemanusiaan.
M.T. Haryono yang tewas karena mempertahankan Pancasila itu gugur sebagai
Pahlawan Revolusi. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai
penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal
kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal.

Untuk menghormati jasa para Pahlawan Revolusi sekaligus untuk mengingatkan


bangsa ini akan peristiwa penghianatan PKI tersebut, dengan demikian diharapkan peristiwa
yang sama tidak akan terulang kembali, maka oleh pemerintahan Soeharto ditetapkanlah
tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari
libur nasional. Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur di depan sumur tua tempat
jenazah ditemukan, dibangunlah Tugu Kesaktian Pancasila sebagai tugu peringatan yang
berlatar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut.

Mayjen Sutoyo Siswomiharjo


Mayjen Sutoyo Siswomiharjo adalah salah satu dari ke-7 anggota TNI yang
mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi Indonesia yang wafat mempertahankan kesatuan
NKRI dari PKI pada tanggal 1 Oktober 1965 yang menjadi tragedi berdarah G30S-PKI.

Biografi Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Nama: Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo


Lahir: Kebumen, 23 Agustus 1922
Gugur: Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965

Agama: Islam
Tanda Penghormatan: Pahlawan Revolusi

Pendidikan:

 HIS di Semarang
 AMS tahun 1942 di Semarang
 Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta.

Karir:

 Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo


 Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo dengan pangkat Kapten
(1946)
 Kepala Staf CPMD Yogyakarta (1948-1949)
 Komandan Batalyon I CPM (1950)
 Danyon V CPM (1951)
 Kepala Staf MBPM (1954)
 Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol (1955-1956)
 Asisten ATMIL di London (1956)
 Pendidikan Kursus “C” Seskoad (1960)
 1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD dan tahun 1964
naik pangkat menjadi Brigjen

Menjelang pemberontakan G 30 S/PKI yang ternyata menculik dan membunuh


beliau, Pak Toyo mengalami beberapa hal yang dirasakan kurang enak seperti udara yang
panas walaupun ruang sudah ber AC, dan bahkan memerintahkan untuk membuat rencana
peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1965 secara cermat kepada Ajudannya. Terbukti bahwa
semua firasat yang dialami Brigjen TNI Sutoyo ini ada artinya yaitu tanggal 1 Oktober jam
04.00 Brigjen TNI Sutoyo diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI.

Adapun gerombolan yang bertugas menculik Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo


dipimpin oleh Serma Surono dari Men Cakrabirawa dengan kekuatan 1 (satu) peleton.
Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada pembantu rumah untuk
menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu dibuka oleh Brigjen TNI
Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam rumah, mereka mengatakan
bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden. Kedua orang itu membawa Brigjen TNI
Sutoyo ke luar rumah sampai pintu pekarangan diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan
diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan
meninggalkan tempat untuk selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya, gugur dianiaya di
luar batas-batas kemanusiaan oleh gerombolan G 30 S/PKI

Siswondo Parman

Siswondo Parman
Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman (lahir di Wonosobo, Jawa Tengah,
4 Agustus 1918 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 47 tahun)
atau lebih dikenal dengan nama S. Parman adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia
dan tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh pada persitiwa G30S PKI dan
mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan perwira intelijen, sehingga
banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI karena itulah dirinya termasuk salah satu di antara
para perwira yang menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri
dari buruh dan tani. Penolakan yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban
pembunuhan PKI.

Pendidikan umum yang pernah diikutinya adalah sekolah tingkat dasar, sekolah
menengah, dan Sekolah Tinggi Kedokteran. Namun sebelum menyelesaikan dokternya,
tentara Jepang telah menduduki Republik sehingga gelar dokter pun tidak sampai berhasil
diraihnya.

Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran, ia sempat bekerja pada Jawatan
Kempeitai. Di sana ia dicurigai Jepang sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian
dibebaskan kembali. Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan
pada Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja pada Jawatan
Kempeitai.

Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulan
Desember 1945, ia diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di
Yogyakarta.

Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang dengan melakukan perang gerilya.
Pada bulan Desember 1949, ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta
Raya. Salah satu keberhasilannya saat itu adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan
Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta di bawah pimpinan
Westerling. Selanjutnya, pada Maret 1950, ia diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun
kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police
School.

Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan untuk


beberapa lama kemudian diangkat menjadi Atase Militer RI di London, Inggris pada tahun
1959. Lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I
Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal.

Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) ini,


pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia. Partai Komunis ini merasa dekat dengan
Presiden Soekarno dan sebagian rakyat pun sudah terpengaruh. Namun sebagai perwira
intelijen, S. Parman sebelumnya sudah banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Maka
ketika PKI mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut dengan
Angkatan Kelima. Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat lainnya menolak usul
yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dengan dasar itulah kemudian dirinya dimusuhi
oleh PKI.

Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo dianugerahi penghargaan


sebagai Pahlawan Revolusi. Mantan IRKEHAD kelahiran Kebumen, 23 Agustus 1922, ini
gugur di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 sebagai korban dalam peristiwa Gerakan 30
September/PKI.
Ayahanda Letjen TNI Agus Widjojo ini dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sutoyo
Siswomiharjo mengecap pendidikan HIS dan  AMS di Semarang. Kemudian melanjutkan
pendidikannya di Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. Sebelum menjadi tentara,
Sutoyo bertugas sebagai Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo.

Tugas sebagai seorang Militer dimulai saat perjuangan kemerdekaan 1945. Sutoyo menjabat
Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo dengan pangkat Kapten (1946).
Kemudian menjadi Kepala Staf CPMD Yogyakarta (1948-1949). Pada tahun 1950 Mayor
Sutoyo menjabat sebagai Komandan Batalyon I CPM dan tahun 1951 Danyon V CPM.

Lalu pada tahun 1954 menjabat sebagai Kepala Staf MBPM hingga akhir tahun 1954.
Mulai tahun 1955 sebagai Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol hingga
tahun 1956. Sejak tahun ini diangkat menjadi Asisten ATMIL di London. Setelah kembali di
tanah air dan selesai mengikuti pendidikan Kursus "C" Seskoad tahun 1960. Pada tahun
1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD. Pada tahun 1964
dinaikan pangkatnya menjadi Brigjen.

Menjelang pemberontakan G 30 S/PKI yang ternyata menculik dan membunuhnya, Pak


Toyo, panggilan akrabnya, mengalami beberapa hal yang dirasakan kurang enak seperti
udara yang panas walaupun ruang ber AC. Namun di tengah perasaan kurang enak itu, dia
memerintahkan untuk membuat rencana peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1965 secara
cermat kepada ajudannya.

Firasat itu ternyata terbukti tanggal 1 Oktober jam 04.00 Brigjen TNI Sutoyo diculik
dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI. Adapun gerombolan yang bertugas menculik
Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dipimpin oleh Serma Surono dari Men Cakrabirawa dengan
kekuatan 1 (satu) peleton. Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada
pembantu rumah untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu
dibuka oleh Brigjen TNI Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam
rumah, mereka mengatakan bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden.

Kedua orang itu membawa Brigjen TNI Sutoyo ke luar rumah sampai pintu
pekarangan diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu
Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan meninggalkan tempat untuk
selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya, gugur dianiaya di luar batas-batas kemanusiaan
oleh gerombolan G 30 S/PKI.
Sugiono
Kolonel Anumerta R. Sugiyono Mangunwiyoto (lahir di Gedaran, Gunungkidul, 12
Agustus 1926 - meninggal di Kentungan, Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 39 tahun)
adalah seorang pahlawan Indonesia yang merupakan salah seorang korban peristiwa
Gerakan 30 September.

Kol. Sugiyono menikah dengan Supriyati. Mereka memiliki anak enam orang laki-laki;
R. Erry Guthomo (l. 1954), R. Agung Pramuji (l. 1956), R. Haryo Guritno (l. 1958), R. Danny
Nugroho (l. 1960), R. Budi Winoto (l. 1962), dan R. Ganis Priyono (l. 1963); serta seorang
anak perempuan, Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965), yang lahir setelah ayahnya meninggal.
Nama Sugiarti Takarina diberikan oleh Presiden Sukarno.

Ia dimakamkan di TMP Semaki, Yogyakarta.

Katamso Darmokusumo
Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari
1923 – meninggal di Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 42 tahun) adalah salah satu
pahlawan nasional Indonesia. Katamso termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa
Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di Kusumanegara, Yogyakarta.

Karel Satsuit Tubun


Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Satsuit Tubun, (lahir di Maluku Tenggara,
14 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 36 tahun) adalah
seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah seorang korban Gerakan 30
September pada tahun 1965. Ia adalah pengawal dari J. Leimena. Ia dimakamkan di TMP
Kalibata, Jakarta. Dikarenakan dia adalah korban Gerakan 30 September, maka dia diangkat
menjadi seorang Pahlawan Revolusi.

Di mana K.S Tubun saat penculikan terjadi?


Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September/PKI atau G30S/PKI terjadi.
Organisasi ini menculik , menyiksa, dan membunuh beberapa orang pejabat tinggi Angkatan
Darat. Tujuannya, mengubah ideologi Pancasila menjadi komunisme.

Salah satu tokoh yang menjadi sasaran penculikan adalah Menko Hankam/Kasab
(Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata), Jenderal
A.H. Nasution. Rumah Nasution bersebelahan dengan rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J.
Leimena.

Supaya penculikan mudah, gerombolan PKI menyergap para pengawal di rumah


Leimena. Saat itu salah satu yang sedang giliran jaga adalah Brigadir Polisi Karel Satsuit
Tubun. Karena ia mendapatkan giliran jaga pagi hari, Satsuit Tubun menyempatkan diri
untuk tidur.
AIP TK. II Anum. Karel Satsuit Tubun (1929-1965)

Kedua rekan jaga lainnya sudah disekap gerombolan PKI. Satsuit Tubun pun
dibangunkan paksa. Melihat wajah yang membangunkan bukanlah kedua temannya, Satsuit
Tubun langsung menembak anggota gerombolan yang membangunkannya.

Saat yang sama, si anggota gerombolan pun melepaskan tembakan. Satsuit Tubun
pun rebah berlumuran darah dan meninggal seketika.

Siapa Dia?
K.S Tubun dilahirkan tanggal 14 Oktober 1928 di Rumadian, Pulau Kei Kecil, Maluku
Tenggara. Keputusannya untuk masuk dalam dunia militer dimulai tahun 1951. Saat itu,
Kepolisian Negara (sekarang POLRI), membuka kesempatan bagi para pemuda untuk
menjadi anggota Polisi.

Setelah mengikuti pendidikan polisi, Satsuit Tubun ditempatkan di kesatuan Brimob,


Ambon. Saat dilantik, pangkatnya Agen Polisi Kelas Dua (Prajurit Dua Polisi). Pindah ke
Jakarta, pangkatnya dinaikkan jadi Agen Polisi Kelas Satu (Prajurit Satu Polisi).

Karir Militer
Dalam karir kemiliterannya, Satsuit Tubun seringkali ikut serta mempertahankan keamanan
negara. Khususnya ketika banyak pemberontakan yang terjadi di berbagai pelosok
Indonesia.

Pada peristiwa pembebasan Irian Barat pun, Satsuit Tubun ikut serta. Pada tahun-
tahun inilah pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Polisi (Sersan Polisi).

Selesai tugas di Irian Barat, Satsuit Tubun tidak lagi mendapat tugas ke luar daerah.
Namun ia masih diberi kehormatan untuk menjadi anggota pasukan pengawal kediaman
Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena.

Jasa dan pengorbanan Satsuit Tubun dihargai pemerintah. Ia pun diberi gelar
Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi
Kelas II (Letnan Dua Polisi).
Soekarno

Presiden Indonesia ke-1

Masa jabatan
17 Agustus 1945 – 12 Maret 1967(21 tahun)

Wakil Presiden Mohammad Hatta (1945)

Pendahulu Tidak ada, jabatan baru

Pengganti Soeharto

6 Juni 1901
Lahir
Blitar, Jawa Timur, Hindia Belanda

21 Juni 1970 (umur 69)


Meninggal
Jakarta, Indonesia

Kebangsaan Indonesia

Partai politik PNI

Suami/Istri Oetari (1921-1923)


Inggit Garnasih (1923-1943)
Fatmawati (1943-1956)
Hartini (1952-1970)
Kartini Manoppo (1959-1968)
Ratna Sari Dewi (1962-1970)
Haryati (1963-1966)
Yurike Sanger (1964-1968)
Heldy Djafar (1966-1969)

Guntur Soekarnoputra
Megawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri
Sukmawati Soekarnoputri
Anak Guruh Soekarnoputra (dari Fatmawati)
Taufan Soekarnoputra
Bayu Soekarnoputra (dari Hartini)
Totok Suryawan (dari Kartini Manoppo)
Kartika Sari Dewi Soekarno (dari Ratna Sari Dewi)

Insinyur
Profesi
Politikus

Agama Islam

Tanda tangan

Ir. Soekarno1 (ER, EYD: Sukarno) (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal
di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang
menjabat pada periode 1945 - 1966.[1] Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan
bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.[2] Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia
yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri
yang menamainya Pancasila.[2] Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama
dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang


kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat
- menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan
negara dan institusi kepresidenan.[2] Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto
untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya
yang duduk di parlemen.[2] Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967,
Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa
MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik
Indonesia.

Nama

Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Kusno Sosrodihardjo oleh orangtuanya. [1]
Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya diubah menjadi
Soekarno oleh ayahnya.[1] [3] Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam
kisah Bharata Yudha yaitu Karna.[1] [3] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa
Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik". [3]

Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya
sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah
(Belanda)[rujukan?]. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena
tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah[rujukan?]. Sebutan akrab untuk Soekarno
adalah Bung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno.


Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah
wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?" karena mereka tidak mengerti
kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau
tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama
Achmed di depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti
wikipedia bahasa Ceko, bahasa Wales, bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa
Spanyol.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed di dapatnya ketika menunaikan ibadah


[4]
haji. Dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama
Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi
luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh
negara-negara Arab.

Kehidupan

Masa kecil dan remaja

Rumah masa kecil Bung Karno

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi


Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai.[1] Keduanya bertemu ketika Raden
Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja,
Bali.[1] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu
sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.[1] Mereka telah memiliki seorang putri
yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir.[5] Ketika kecil Soekarno tinggal bersama
kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.[1]
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto,
mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. [1] Di Mojokerto, ayahnya
memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.[5] Kemudian
pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk
memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS).[1] Pada tahun 1915, Soekarno
telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya,
Jawa Timur.[1] Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama
H.O.S. Tjokroaminoto.[1] Tjokroaminot] bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di
pondokan kediamannya.[1] Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin
Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso,
Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.[1] Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan
organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo.[1]
Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.[1]
Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh
Tjokroaminoto.[5]

Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School


(sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan arsitektur dan tamat pada tahun
1925.[6] Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota
Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.[1] Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar
Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan
pemimpin organisasi National Indische Partij.

Kiprah politik

Masa pergerakan nasional

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang
merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo.[1] Organisasi ini
menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927.[6] Aktivitas
Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan
memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali
pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang
merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan
diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun
semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru
Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.

Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
[sunting] Masa penjajahan Jepang

Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak
memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan"
keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr.
Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus


memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain
dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk
Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat
(Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H
Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-
tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai
kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti
Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno diantara Pemimpin Dunia

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks


proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan
Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah


merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk
merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke
Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia
yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima
langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci)
kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan
pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu
dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh
Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang
kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat
Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat


Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus
romusha.

Masa Perang Revolusi

Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang


Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang
(resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan
Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta
mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa


Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk
oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta
Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta
Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan
kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini
disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun
Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai
penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment
tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat
itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan
bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-
an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI
menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945
pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19
September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah
peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan
Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip
Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah
mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha
menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA
(Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November
1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya
memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden
dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden


selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama
revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double
executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana
Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X,
dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh
agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan


Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun
1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil
Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun
sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin
Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap
mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya
kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.
Masa kemerdekaan

Soekarno dan Joseph Broz Tito

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai


Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia
Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden
Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-
Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara
kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik
Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku
jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden
Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah
dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat
dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya
kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang
mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak
jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga
berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di
kalangan Angkatan Udara.

Soekarno dan John F Kennedy


Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional.
Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum
mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno,
pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung
yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan
dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih
mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan
munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia
internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip
Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu,
(Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang
membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang
memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami
konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah,
yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak
penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal
akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional,
Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin
negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy
(Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Kejatuhan

Situasi politik Indonesia menjadi tidak menentu setelah enam jenderal dibunuh
dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September atau G30S pada 1965.
[7] [6]
Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi walaupun
PKI dituduh terlibat di dalamnya.[6] Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan
menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI
dibubarkan.[7] Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena bertentangan
dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).[2] [7] Sikap Soekarno yang
menolak membuabarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik. [6] [2]

Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret yang


ditandatangani oleh Soekarno.[7] Isi dari surat tersebut merupakan perintah kepada Letnan
Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan
pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.[7] Surat tersebut lalu digunakan oleh
Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI
dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. [7] Kemudian MPRS pun mengeluarkan dua
Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS
dan TAP No. XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang
Supersemar untuk setiap saat menjadi presiden apabila presiden berhalangan. [8]

Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya


terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS.[7] Pidato tersebut berjudul
"Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966.[2] MPRS kemudian meminta Soekarno untuk
melengkapi pidato tersebut.[7] Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh
Soekarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS pada 16 Februari tahun
yang sama.[7]

Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan


Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka.[8] Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka
Soeharto de facto menjadi kepala pemerintahan Indonesia.[8] Setelah melakukan Sidang
Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan Presiden Soekarno, mencabut gelar
Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI hingga
diselenggarakan pemilihan umum berikutnya.[8]

Sakit hingga meninggal

Makam Presiden Soekarno di Blitar, Jawa Timur.

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965.[8] Sebelumnya,
ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina,
Austria tahun 1961 dan 1964.[8] Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas
Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan lebih
memilih pengobatan tradisional.[8] Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya
meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat)
Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.[8] [1] Jenazah Soekarno pun
dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi.[8] Sebelum
dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter
Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.[8] Tidak lama kemudian
dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono
beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.[8]

Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:[8]

Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Soekarno
semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.

Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan
kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.
Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno
hingga saat meninggalnya.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis,
Bogor, namun pemerintah memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman
Soekarno.[8] Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970.[8] Jenazah
Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya
bersebelahan dengan makam ibunya.[8] Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh
Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. [8] Pemerintah kemudian
menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.[8]

Peninggalan

Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada 6 Juni 2001, maka
Kantor Filateli Jakarta menerbitkan perangko "100 Tahun Bung Karno".[5] Perangko yang
diterbitkan merupakan empat buah perangko berlatarbelakang bendera Merah Putih serta
menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik
Indonesia.[5] Perangko pertama memiliki nilai nominal Rp. 500 dan menampilkan potret
Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp. 800 dan gambar Soekarno
ketika masih di perguruan tinggi tahun 1920an terpampang di atasnya. Sementara itu,
perangko yang ketiga memiliki nominal Rp. 900 serta menunjukkan foto Soekarno saat
proklamasi kemerdekaan RI. Perangko yang terakhir memiliki gambar Soekarno ketika
menjadi Presiden dan bernominal Rp. 1000. Keempat perangko tersebut dirancang oleh Heri
Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum Peruri. [5] Selain perangko, Divisi
Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima macam kemasan perangko, album koleksi
perangko, empat jenis kartu pos, dua macam poster Bung Karno serta tiga desain kaus Bung
Karno.[5]

Perangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh Pemerintah Kuba pada
tanggal 19 Juni 2008. Perangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan presiden Kuba
Fidel Castro.[9] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan
peringatan kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba.

Gelanggang Olahraga Bung Karno pada 1962.

Nama Soekarno pernah diabadikan sebagai nama sebuah gelanggang olahraga pada
tahun 1958. Bangunan tersebut, yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan sebagai
sarana keperluan penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Pada masa Orde
Baru, komplek olahraga ini diubah namanya menjadi Gelora Senayan. Tapi sesuai keputusan
Presiden Abdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama awalnya yaitu
Gelanggang Olahraga Bung Karno. Hal ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Bung
Karno.[10]

Setelah kematiannya, beberapa yayasan dibuat atas nama Soekarno. Dua


diantaranya adalah Yayasan Pendidikan Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan
Pendidikan Soekarno adalah organisasi yang mencetuskan ide untuk membangun
universitas dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin oleh
Rachmawati Soekarnoputri, anak ketiga Soekarno dan Fatmawati. Pada tahun 25 Juni 1999
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie meresmikan Universitas Bung Karno yang secara resmi
meneruskan pemikiran Bung Karno, Nation and Character Building kepada mahasiswa-
mahasiswanya.[11]

Sementara itu, Yayasan Bung Karno memiliki tujuan untuk mengumpulkan dan
melestarikan benda-benda seni maupun non-seni kepunyaan Soekarno yang tersebar di
berbagai daerah di Indonesia.[12] Yayasan tersebut didirikan pada tanggal 1 Juni 1978 oleh
delapan putra-putri Soekarno yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri,
Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Taufan
Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra dan Kartika Sari Dewi Soekarno.[12] Di tahun 2003,
Yayasan Bung Karno membuka stan di Arena Pekan Raya Jakarta.[5] Di stan tersebut
ditampilkan video pidato Soekarno berjudul "Indonesia Menggugat" yang disampaikan di
Gedung Landraad tahun 1930 serta foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden. [5] Selain
memperlihatkan video dan foto, berbagai cinderamata Soekarno dijual di stan tersebut. [5]
Diantaranya adalah kaus, jam emas, koin emas, CD berisi pidato Soekarno serta kartu pos
Soekarno.[5]

Seseorang yang bernama Soenuso Goroyo Sukarno mengaku memiliki harta benda
warisan Soekarno.[5] Soenuso mengaku merupakan mantan sersan dari Batalyon Artileri
Pertahanan Udara Sedang.[5] Ia pernah menunjukkan benda-benda yang dianggapnya
sebagai warisan Soekarno itu kepada sejumlah wartawan di rumahnya di Cileungsi, Bogor.[5]
Benda-benda tersebut antara lain adalah sebuah lempengan emas kuning murni 24 karat
yang terdaftar dalam register emas JM London, emas putih dengan cap tapal kuda JM
Mathey London serta plakat logam berwarna kuning dengan tulisan ejaan lama berupa
deposito hibah.[5] Selain itu terdapat pula uang UBCN (Brasil) dan Yugoslavia serta sertifikat
deposito obligasi garansi di Bank Swiss dan Bank Netherland.[5] Meskipun emas yang
ditunjukkan oleh Soenuso bersertifikat namun belum ada pakar yang memastikan keaslian
dari emas tersebut.[13]

Penghargaan

Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26


universitas di dalam dan luar negeri.[14] Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan
gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain adalah Universitas Gajah Mada, Universitas
Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin dan
Institut Agama Islam Negeri Jakarta.[14] Sementara itu, Columbia University (Amerika
Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University
(Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang menganugerahi Soekarno dengan
gelar Doktor Honoris Causa.[14]

Pada bulan April 2005, Soekarno yang sudah meninggal selama 104 tahun
mendapatkan penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.[5] Penghargaan
tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of
OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya
dilapisi emas.[5] Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai telah
mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju
serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan
membebaskan diri dari apartheid.[5] Acara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan
di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria dan dihadiri oleh Megawati
Soekarnoputri yang mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan.

Mohammad Hatta
Dr.(H.C.). Drs. H. Mohammad Hatta

Wakil Presiden Indonesia ke-1


Masa jabatan
18 Agustus 1945 – 1 Desember 1956
Presiden Soekarno
Pendahulu Tidak ada, jabatan baru
Pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Perdana Menteri Indonesia ke-3


Masa jabatan
29 Januari 1948 – 5 September 1950
Presiden Soekarno
Pendahulu Amir Sjarifuddin
Pengganti Muhammad Natsir

Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-4


Masa jabatan
29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949
Presiden Soekarno
Pendahulu Amir Sjarifuddin
Pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono IX

12 Agustus 1902
Lahir
Bukittinggi, Sumatera Barat, Hindia Belanda
14 Maret 1980 (umur 77)
Meninggal
Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik Non Partai
Suami/Istri Rahmi Rachim
Meutia Hatta
Anak Gemala Hatta
Halida Hatta
Agama Islam

Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi,
Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77
tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia
mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden
Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional
Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah
seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orangtuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar.
Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Latar belakang dan pendidikan


Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh
pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan
studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia
telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya
menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda.
Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi
ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School". Ia menyelesaikan
studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam,
Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa
inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus). Di Belanda, ia
kemudian tinggal selama 11 tahun.

Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan


akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di
Yogyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul "Lampau dan Datang".

Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karier sebagai aktivis organisasi, sebagai
bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin
berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-
pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah
Abdul Moeis. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat sebagai Bendahara.
Ketika di Belanda ia bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu,
telah berkembang iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische
Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air.
Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh
Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Ernest Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di
Belanda pada 1913 sebagai orang buangan akibat tulisan-tulisan tajam anti-pemerintah
mereka di media massa.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karier sebagai aktivis organisasi, sebagai
bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun
pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca
berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta
mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam
Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri


ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang
menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis
berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh
ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat
menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul
Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan
pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta
Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia
bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School.
Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera,
“Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang
terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah
musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu
miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,”
rutuk Hatta lewat Hindania.
Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan,
pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan
asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota
JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota.
Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air.
Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu.
Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana
Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada
pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan
redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun,
“Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam
Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan
surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia
dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang
mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick
man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan
peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial
tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di
tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.

Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002

Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung


dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan
di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih
dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische
Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes
Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik
mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi
Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh
Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia!
Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di
Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.
Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh
ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang
asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan
kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh
sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.

Hatta mengawali karier pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi,


sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi
pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen
Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa
mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische
Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama
Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan
politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan
bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau
Nederland Indie.

Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan
Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal
Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah
Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang
terkenal: Indonesia Free.

Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club
Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat
Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama
Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta
diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.

Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI,
bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya
disebut Bapak Proklamator Indonesia.

Kehidupan pribadi
Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal 18 Nopember 1945 di
Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia
Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah.
Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil
Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum
Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik

Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah
memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi
begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu
merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ai disebut sebagai
salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.

Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan,
mulai dari masa kecil, remeja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan
kemerdekaan Indonesia. Namun ada hal yang rasanya perlu sedikit digali dan dipahami yaitu
melihat Bung Hatta sebagai tokoh organisasi dan partai politik, hal ini dikaitkan dengan
usaha melihat perkembangan kegiatan politik dan ketokohan politik di dunia politik
Indonesia sekarang maka pantas rasanya kita ikut melihat perjuangan dan perjalanan
kegiatan politik Bung Hatta.

Setelah perang dunia I berakhir generasi muda Indonesia yang berprestasi makin
banyak yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan luar negeri seperti di Belanda,
Kairo (Mesir). Hal ini diperkuat dengan diberlakukannya politik balas budi oleh Belanda.
Bung Hatta adalah salah seorang pemuda yang beruntung, beliau mendapat kesempatan
belajar di Belanda. Kalau kita memperhatikan semangat berorganisasi Bung Hatta,
sebenarnya telah tumbuh sewaktu beliau berada di Indonesia. Beliau pernah menjadi ketua
Jong Sematera (1918-1921) dan semangat ini makin membara dengan asahan dari kultur
pendidikan Belanda / Eropa yang bernafas demokrasi dan keterbukaan.

Keinginan dan semangat berorganisasi Bung Hatta makin terlihat sewaktu beliau
mulai aktif di kelompok Indonesische Vereeniging yang merupakan perkumpulan pemuda-
pemuda Indonesia yang memikirkan dan berusaha memajukan Indonesia, bahkan dalam
organisasi ini dinyatakan bahwa tujuan mereka adalah : “ kemerdekaan bagi Indonesia “.
Dalam organisasi yang keras dan anti penjajahan ini Bung Hatta makin “tahan banting”
karena banyaknya rintangan dan hambatan yang mereka hadapi.

Walau mendapat tekanan, organisasi Indonesische Vereeniging tetap berkembang


bahkan Januari 1925 organisasi ini dinyatakan sebagai sebuah organisasi politik yang
kemudian dinamai Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam organisasi ini Bung Hatta
bertindak sebagai Pemimpinnya. Keterlibatan Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik
bukan hanya di luar negeri tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai
Nasional Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi PNI, Bung Hatta
menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui
pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Karena PNI dinilai sebagai partai
yang radikal dan membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka banyak tekanan dan upaya
untuk mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini dilihat dari propaganda dan profokasi
PNI tehadap penduduk untuk mengusakan kemerdekaan. Hingga akhirnya Bunga Karno di
tangkap dan demi keamanan organisasi ini membubarkan diri.

Tak lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah organisasi
pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia). Mereka memiliki sifat organisasi
yang radikal dan nyata-nyata menentang Belanda. Hal ini tak di senangi oleh Bung Hatta.
Karena tak sependapat dengan Partindo beliau mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional
Indonesia Pendidikan) atau disebut juga PNI Baru. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta
bulan Agustus 1932, dan Bung Hatta diangkat sebagai pemimpi. Organisasi ini
memperhatikan “ kemajuan pendidikan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan
menganjurkan rakyat dalam bidang kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa
dijadakan suatu aksi rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.

Organisasi ini berkembang dengan pesat, bayangkan pada kongres I di Bandung 1932
anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang di Indonesia.
Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang ingin mendapat dan
mengenyam pendidikan. Di PNI Pendidikan Bung Hatta bekerjasama dengan Syahrir yang
merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini makin memajukan organisasi ini di
dunia pendidikan Indonesia waktu itu. Kemajuan, kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan
dilihat Belanda sebagai ancaman baru tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di
Indonesia dan mereka pun mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya:

 Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI Pendidikan.


 27 Juni 1933, pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan.
 1 Agustus 1933, diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh
Indonesia.

Akhirnya ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan


Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama beberapa
organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo dan PSII. Ide-ide PNI
Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut di hancurkan dan surat kabar yang
menerbitkan ikut di bredel. Namun secara keorganisasian, Hatta sebagai pemimpin tak mau
menyatakan organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif dan berjuang untuk kemajuan
pendidikan Indonesia.

Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores diikuti dengan pengasingan Hatta
dan Syahrir. Walau para pemimpin di asingkan namun para pengikut mereka tetap konsisten
melanjutkan perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan kursus-kursus, pelatihan-
pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan kerumah-rumah penduduk.

Dalam sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin


,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul (Papua). Demi
harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau telah mendapat hambatan yang
begitu besar namun perjuangan Hatta tak hanya sampai disitu, beliau terus berjuang dan
salah satu hasil perjuangan Hatta dan para pahlawan lain tersebut adalah kemerdekaan
yang telah kita raih dan kita rasakan sekarang.

Sebagai tulisan singkat mengenai sejarah ketokohan Muhammad Hatta di organisasi


dan partai politik yang pernah beliau geluti, kita haruslah dapat mengambil pelajaran dari
hal ini. Karena sejarah tak berarti apa-apa bila kita tak mampu mengambil manfaat dan nilai-
nilai positif didalamnya. Dari kehidupan Hatta di dunia politik kita bisa melihat bahwa :
Munculnya seorang tokoh penting dan memiliki jiwa patriot yang tangguh dan memikirkan
kehidupan orang banyak serta memajukan bangsa dan negara “bukan hanya muncul dalam
satu malam” atau bukanlah tokoh kambuhan yang muncul begitu saja, dan bukanlah sosok
yang mengambil kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan dan sosok pemerhati
masyarakat. Tapi tokoh yang dapat kita jadikan contoh dan panutan dalam organisasi,
partai, dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesunguhnya adalah seorang sosok
yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat, ia terlatih untuk mampu memahami
keinginan dan cita-cita masyarakat, serta bertindak dengan menggunakan ilmu dan iman.

Seiring dengan meruaknya wacana demokrasi, terutama di era reformasi kita bisa
melihat bahwa di Indonesia berkembang berbagai partai baru yang jumlahnya telah
puluhan. Dalam kenyataanya memunculkan nama-nama baru sebagai tokoh, elit partai, elit
politik yang berpengaruh di berbagai partai tersebut. Ada juga tokoh politik yang merupakan
wajah-wajah lama yang konsisten di partainya atau beralih membentuk partai baru. Apakah
mereka sudah pantas dikatakan sebagai tokoh, elite politik / elite partai?. Sebagai salah satu
sosok tokoh ideal, dengan mencontoh ketokohan Bung Hatta kita harus mampu melihat
berapa persen diantara tokoh-tokoh, orang-orang penting, elite politik / elite partai di
Indonesia sekarang yang telah memperhatikan kehidupan masyarakat, berapa persen
diantara mereka yang sudah melakukan usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat
Indonesia baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.

Dalam kenyataannya, kebanyakan kita melihat tokoh politik, elite politik dan tokoh-
tokoh partai di Indonesia dewasa ini kurang memperhatikan kehidupan dan kemajuan
masyarakat. Mereka hanya mengambil simpati masyarakat disaat-saat mereka
membutuhkan suara dan partisipasi penduduk, seperti saat-saat akan diadakannnya
pemilihan umum (nasional), saat diadakannya pemilihan kepala daerah (Pilkada), setelah
kegiatan itu berlangsung mereka mulai meninggalkan dan melupakan masyarakat. Namun
ada beberapa partai dan tokoh yang sering terlihat dalam berbagai kegiatan social dan
memperhatikan masyarakat.

Apakah kita masih menganggap bahwa seorang penjahat, pemaling (koruptor) yang
lolos dari sergapan hukum sebagai tokoh panutan kita di organisasi, partai politik,
pemerintahan, atau kehidupan sehari-hari?. Jadi pantaslah kita belajar dari ketokohan
Muhammad Hatta dalam kehidupan politiknya yang selalu bertindak demi kesejahteraan
dan kemajuan rakyat Indonesia.

Perpustakaan
Perpustakaan Bung Hatta memiliki lebih dari 8.000 buku, terdiri dari Sejarah, Budaya,
Politik, Bahasa dan lain-lain. Hal inilah yang turut menyumbang kemampuan Beliau dalam
berdiplomasi utnuk memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia

Mohammad Yamin
Mohammad Yamin
Menteri Penerangan ke-14
Masa jabatan
6 Maret 1962 – 13 November 1963
Presiden Soekarno
Pendahulu Maladi
Pengganti Roeslan Abdulgani

Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia ke-8


Masa jabatan
30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955
Presiden Soekarno
Pendahulu Bahder Djohan
Pengganti R.M. Suwandi

Menteri Kehakiman Republik Indonesia ke-6


Masa jabatan
27 April 1951 – 3 April 1952
Presiden Soekarno
Pendahulu Wongsonegoro
Pengganti Lukman Wiriadinata

24 Agustus 1903
Lahir
Sawahlunto, Sumatera Barat, Hindia Belanda
17 Oktober 1962 (umur 59)
Meninggal
Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Agama Islam

Mr. Prof. Muhammad Yamin, SH (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus


1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah seorang
pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Talawi, Sawahlunto
Beliau merupakan salah satu perintis puisi modern di Indonesia, serta juga 'pencipta
mitos' yang utama kepada Presiden Sukarno.

Biografi
Kesusasteraan

Dilahirkan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Yamin memulai karier sebagai seorang
penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan.
Karya-karya pertamanya ditulis dalam bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera,  sebuah
jurnal berbahasa Belanda, pada tahun 1920. Karya-karyanya yang awal masih terikat kepada
bentuk-bentuk bahasa Melayu Klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul buat pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah
Air ; maksud "tanah air"-nya ialah Sumatera. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern
Melayu yang pertama yang pernah diterbitkan. Sitti Nurbaya, novel modern pertama dalam
bahasa Melayu juga muncul pada tahun yang sama, tetapi ditulis oleh Marah Rusli yang juga
merupakan seorang Minangkabau. Karya-karya Rusli mengalami masa kepopuleran selama
sepuluh tahun .

Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928.
Karya ini amat penting dari segi sejarah karena pada waktu itulah, Yamin dan beberapa
orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa,
dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes yang
berdasarkan sejarah Jawa muncul juga pada tahun yang sama. Antara akhir dekade 1920-an
sehingga tahun 1933, Roestam Effendi, Sanusi Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana
merupakan pionir-pionir utama bahasa Melayu-Indonesia dan kesusasteraannya.

Walaupun Yamin melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisi-puisinya, dia


masih lebih menepati norma-norma klasik bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-
generasi penulis yang lebih muda. Ia juga menerbitkan banyak drama, esei, novel sejarah
dan puisi yang lain, serta juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama
Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore.

Politik

Pada tahun 1932, Yamin memperoleh ijazahnya dalam bidang hukum di Jakarta. Ia
kemudian bekerja dalam bidang hukum di Jakarta sehingga tahun 1942. Karier politiknya
dimulai dan beliau giat dalam gerakan-gerakan nasionalis. Pada tahun 1928, Kongres
Pemuda II menetapkan bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Melayu, sebagai bahasa
gerakan nasionalis Indonesia. Melalui pertubuhan Indonesia Muda, Yamin mendesak supaya
bahasa Indonesia dijadikan asas untuk sebuah bahasa kebangsaan. Oleh itu, bahasa
Indonesia menjadi bahasa resmi serta alat utama dalam kesusasteraan inovatif.

Semasa pendudukan Jepang antara tahun 1942 dan 1945, Yamin bertugas pada
Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah
Jepang. Pada tahun 1945, beliau mencadangkan bahwa sebuah Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) diasaskan serta juga bahwa negara yang baru mencakup
Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta juga kesemua wilayah Hindia
Belanda. Sukarno yang juga merupakan anggota BPUPK menyokong Yamin. Sukarno menjadi
presiden Republik Indonesia yang pertama pada tahun 1945, dan Yamin dilantik untuk
jabatan-jabatan yang penting dalam pemerintahannya.

Yamin meninggal dunia di Jakarta dan dikebumikan di Talawi, sebuah kota


kecamatan yang terletak 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat.

Karya-karyanya

Sampul Buku Muhammad Yamin dan cita cita persatuan

 Tanah Air, 1922


 Indonesia, Tumpah Darahku, 1928
 Ken Arok dan Ken Dedes, 1934
 Sedjarah Peperangan Dipanegara , 1945
 Gadjah Mada, 1948
 Revolusi Amerika, 1951