Anda di halaman 1dari 31

TEORI AKUNTANSI

Akuntansi Sebuah Ilmu dengan


Beragam Paradigma

Disusun Oleh:
Fakultas Ekonomi

Universitas Padjadjaran

2010
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Karena dengan
berkat dan rahmat-Nya makalah ini dapat penulis selesaikan. Semoga kita senantiasa berada
dalam berkat dan lindungan Tuhan.
Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terimakasih kepada orangtua yang
sudah mendukung kami dalam menyelesaikan makalah ini, kepada dosen kami Prof. Dr.
Winwin Yadiati, S.E., M.Si., Ak yang telah mebantu menjelaskan kepada kami dalam
perkuliahan dikelas, tak lupa kepada teman-teman kami yang membantu kami berdiskusi
untuk lebih memahami materi dalam makalah ini.
Penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi.
Kiranya makalah ini juga dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca, baik yang
sedang ataupun sudah mengambil mata kuliah Teori Akuntansi maupun yang belum
mengambil mata kuliah tersebut.
Pada makalah ini penulis membahas mengenai “Akuntansi Sebuah Ilmu Dengan Berbagai
Paradigma ”. Didalamnya terdapat konsep paradigma, contoh, gambaran subjek
permasalahan, teori, dan metode yang digunakan. Mudah-mudahan dapat membantu pembaca
dalam memahami materi tersebut.
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kebaikan dan perbaikan
makalah ini. Tidak lupa penulis juga meninta maaf apabila tedapat kesalahan ataupun
kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Bandung, November 2010

Penulis
Pendahuluan

Akuntansi yang kita kenal selama ini telah mengalami metamorfose yang
panjang, dengan seperangkat dan tahapan rekonstruksi sebagai sebuah social
science yang legitimate dengan kemampuannya memberi kemanfataan bagi
praksis business di dunia. Paling tidak melibatkan tiga riset besar, sehingga
akuntansi dapat mendudukkan dirinya berdampingan praksis business seperti
sekarang ini. Mekipun tidak ada catatan yang dapat digunakan untuk
menunjukkan secara langsung kapan akuntansi mulai dipraktikkan, bisa
diperkirakan bahwa akuntansi telah digunakan sejak zaman sebelum masehi
(SM). Berbarengan dengan berkembangnya peradaban manusia, pencatatan,
pengiktisaran, dan pelaporan (propses akuntansi) telah menjadi bagian proses
akuntansi yang melembaga.

Beberapa bukti empiris, dapat dijadikan rujukan dan runutan sejarah


tentang perkembangan akuntansi (asal-muasal), seperti sejarah bangsa Aztec
dan Inca di pedalaman Amerika, bangsa Dravida di Dataran Asia Selaytan,
bangsa Cina dan Jepang dikawasan Asia Timur, bangsa Sumeria, Mesir Kuno, dan
mesopotamia didataran Arab, bangsa Yunani dan Romawi di benua Eropa,
merupakan yang telah maju kuno yang telah mempraktikkan kristalisasi
akuntansi dengan berbagai variasi kesederhanaanya (Ikhsan & Ishak, 2005).
Sejumlah bukti empiris yang berbentuk manuskrip-manuskrip yang ditemukan di
goa-goa prasejarah telah tersebut menunjukkan bahwa manusia di zaman itu
telah mengenal adanya hitung menghitung meski dengan bentuk variasi
kesederhanaanya. Keberadaan akuntansi yang kita kita kenal selama ini, oleh
banyak kalangan lebih didudukkan sebagai satu metode pencatatan yang akan
menghasilkan media pertanggungjawaban yang selanjutnya disebut laporan
keuangan. Melihat posisi tersebut, maka lambat laun akuntansi benar-benar
akan terjadi reduksi nilai dan hanya berupa hamparan angka-angka yang
memaparkan kekayaan dan kinerja perushaan. Wajar, manakala banyak
kalangan memberi kritik bahwa akuntansi bukan merupakan sebuah ilmu
pengetahuan yang dapat memberikan banyak manfaat. Bahkan dampak dari
interpretasi yang mendudukkan akuntansi seperti tersebut diatas, akuntansi
hanya sebagai alat legitimasi sistem ekonomi dimana akuntansi diberlakukan.
Jika hanya sebatas itu, maka peran dan fungsi akuntansi menjadi dis-legitimasi
manakala sistem ekonomi yang ditopangnya mengalami illigitimasi, dan bahkan
the dead of accounting akan muncul, karena peran dan fungsi akuntansi akan
diganti oleh perkembangan tehnologi informasi seperti komputerisasi.
Kenyataan ternyata menunjukkan kondisi yang tidak membenarkan proyeksi
banyak kalangan. Ilmuan dibidang akuntansi, telah memberikan bukti lewat
perkembangan ilmu akuntansi yang bersifat terbuka (open ended) dalam bentuk
keterbukaan dalam berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti masukanya
teori-teori sosial dan eksak dalam perkembangan akuntansi.

Akuntansi yang merupakan satu sistem dan prosedur yang menghasilkan


laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu para pemakai pengambilan
keputusan, ternyata mengandung seperangkat essensi behavioral dan syarat
dengan muatan integrasi dengan berbagai ilmu (teori) sosial lainnya. Tujuan
tersebut tak lain adalah memberi petunjuk dan mempengaruhi para pengguna
dalam memilih tindakan yang paling baik untuk mengalihasikan sumberdaya
yang langka pada aktivitas bisnis (Ikhsan & Ishak, 2005). Perlu diketahui bahwa
dalam penetapan keputusan (decission making) sudah barang pasti akan
melibatkan jugdment yang potret keseluruhannya akan mengaktifkan aspek-
aspek keperilakuan dari para pengambil keputusan maupun pembuat laporan
akuntansi. Dengan kata lain, akuntansi tidak akan dapat dilepas keperilakukan
manusia dan tidak bersifat statis melainkan akan berkembang sejalan
perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan.

Jika hal seperti adanya, pertanyaan yang muncul adalah apa dan
bagaimana tipologi akuntasi keperlakuan, bagaimana adopsi sistemik teori-teori
sosial lain masuk kedalam akuntansi dan sejauhmana nilai aksiologis dari
akuntansi keperilakukan dalam membantu praksis bisnis. Variabilitas Landasan
Epistimologi dalam Riset Dibidang Akuntansi. Penelitian ilmiah merupakan satu
motor inti dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sementara, diskusi tentang
ilmu pengetahuan tak dapat dilepaskan dengan posisi teori yang merupakan
reduksi fenomena lapangan yang universal. Sehingga, posisi teori akan
memudahkan dalam memahami dan memprediksi fenomena. Dengan demikian,
dalam teori yang merupakan produk ilmu pengetahuan mengakui eksistensi
(atau dibangun) atas dasar asumsi-asumsi yang merupakan upaya meniadakan
sekian kondisi yang melingkupi gejala alam. Melihat konteks seperti, dimana
teori merupakan satu produk keilmuan, berarti suatu pengetahuan (knowledge)
dibangun atas dasar asumsi-asumsi filosofis tertentu yang mendasarinya.

Menurut Burrel dan Morgan (1979), asumsi-asumsi yang mendasari atas


terbangunya suatu pengetahuan (knnowledge) adalah ontologi (ontology),
epistimologi (epistimology), hakikat manusia dan metodologi (methodology).
Ontologi, merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan hakikat atau
sifat dari realitas atau objek yang diinvestigasi. Epistimologi, merupakan cabang
filsafat yang memberi perhatian terhadap bagaimana mendapatkan serta
menyebarkan ilmu pengetahuan.
Berangkat dari kerangka dasar ontologi dan epistimologi, akhirnya menghasilkan
variabilitas cara pandang ilmuan dalam memperoleh kebenaran suatu ilmu
pengetahuan. Dampak yang terjadi adalah munculnya berbagai paradigma riset
dengan berbagai konsekwensi pertentang dan klaim antara pembenaran dan
penyalahan. Kaum Subyektifime (anti-positivism), memberikan penekanan
bahwa pengetahuan bersifat sangat subyektif dan spiritual (transedental), yang
didasarkan pada pengetahuan dan pandangan manusia. Hal itu sejalan dengan
cara pandang pendekatan ideograpik, yang berpandangan bahwa seseorang
akan dapat memahami ”dunia sosial” (social world) dan fenomena yang
diinvestigasi, apabila ia dapat memperolehnya atas dasar ”pengetahuan pihak
pertama” (first hand knowledge). Bebeda dengan kaum Objektivisme
(positivism) yang berpandangan bahwa pengetahuan itu berada dalam bentuk
yang tidak berujud (intangible), terukur dan teramati. Secara ontologis, kaum
objektivism memandang bahwa relaitas merupakan sumber pengetahuan yang
terlepas pada diri manusia (Burrel & Morgan, 1979). Pandangan posivisim
tersebut nampaknya sejalan dengan pendekatan nomotetik yang memiliki
metode yang baku dan protokoler.

Kaum Voluntarisme (voluntarism) memberikan penekanan pada essensi


bahwa keberadaan manusia didunia ini adalah untuk memecahkan fenomena
sosial sebagaimana mahluk yang memiliki kehendak dan pilihan bebas (free will
and choice). Manusia menurut kaum voluntaris dipandang sebagai pencipta dan
mempunyai perspektif untuk menciptakan fenomena sosial dengan daya
kreatifitasnya (Sukoharsono dalam Ishak dan Ikhsan, 2005). Hal itu berbeda
dengan sudut pandang kaum determinisme yang memandang bahwa manusia
dan aktivitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan dimana mereka berada.
Kaum determinis menggap bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan mengubah
social world melainkan manusia memiliki kepekaan dan kemampuan dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana mereka berada. Berdasarkan
asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan (1979) memetakan pentehuan
dalam tiga paradigma, yaitu fungsionalis-interpretif (functionalist-interpretive),
radikal-humanis (radical humanist), dan raduikal strukturalis (radical
structuralist). Paradigma Fungsaionalis, sering disebut sebagai fungsionalis
struktural (ctructural functionalist) atau kontinjensi rasional (rational
contingency). Pradigma ini merupakan paradigma yang umum dan dominan
digunakan dalam penelitian akuntansi atau paradigma utama (mainstream
paradigm). Fungsionalis menganggap bahwa realitas adalah objectif berada
diluar secara bebas dan terposah diliuar manusia. Realitas diukur dan dianalisis
serta digambarkan secara objektif. Dengan demikian, penelitian yang
menggunakan paradigma ini terjadi pemisahan secara jelas antara subjek dan
objek penelitian. Berangkat cara pandang seperti itu, ilmu pengetahuan
akuntansi mendudukkan metode ilmiah (scisntific methode) sebagai media
pengembangan dan penemuan ilmu pengetahuan (teori). Metode penelitian
kuantitatif merupakan perwujudan operasional yang cocok dengan cara
pandangan paradigma fungsionalis. Paradigma interpretif atau disebutnya juga
dengan interacsionis subjektif (subjective interactionist) (Macintosh, 1994). Chua
(1986) menyatakan bahwa paradigma ini berakar dari filusuf Jerman yang
menitik beratkan pada peran bahasa, interpretasi, dan pemahaman dalam ilmu
sosial. Burrel & Morgan (1976) berpendapat bahwa paradigma interpretif
menggunakan cara pandang para nominalis yang melihgat realitas sosial
sebagai sesuatu yang hanya merupakan label, nama, atau konsep yang
digunakan untuk membangun realitas, dan bukanlah sesuatu yang nyata,
melainkan hanyalah penamaan atas sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau
merupakan produk manusia itu sendiri. Dengan demikian, realitas sosial
merupakan sesuatu yang berada pada dalam diri manusia, sehingga bersifat
subjektif bukan objektif. Pada paradigma interpretif, ilmu pengathuan tidak
digunakan untuk menjelaskan (to explain) melainkan untuk memahami (to
understand) (Triyuwono dalam Ihsan & Ishak, 2005). Desain penelitian kualitatif
merupakan bentuk metode yang cocok dengan paradigma ini. Paradigma
interpretif memasukkan aliran etnometodologi dan interaksionis simbolis
fenomenologi yang didasarkan pada aliran sosiologis, hermenetik, dan
fenomenologis. Paradigma strukturalisme radikal, merupakan salah satu
paradigma penelitian akuntansi yang memiliki kemiripan dengan paradigma
fungsionalis. Paradigma ini beranggapan bahwa sistem sosial mempunyai
keberadaan ontologis yang konkret dan nyata (Machinton dalam Ihsan & Ishak,
2005). Fokus dalam paradigma ini adalah bahwa terdapat konflik mendasar pada
hubungan kelas atau kelompok dan struktur pengendalian. Disamping itu,
memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan
terpisah dari manusia tertentu. Umumnya riset dalam demargasi paradigma ini
didasarkan pada teori Marxisme tradisional. Paradigma humanis radikal, diwarnai
oleh teori kritis dari Frankfurt School dan Habermas (Dillard dan Becker dalam
Ihsan dan Ishak, 2005). Pandangan Habermas menytakan bahwa objek studi
sebagai suatu interaksi sosial yang disebut ’du8nia kehidupan” (life world), yang
diartikan sebagai interaksi berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang
melekat dalam diri manusia dan membantu untuk pencapaian saling memahami
(Sawarjuwono, 2002). Macintosh menyatakan bahwa humanis radikal memiliki
visi praktik akuntansi yang berorentasi pada orang yang mengutamakan
idealisme humanistik dan nilai-nilai dibandingkan dengan tujuan organisasi.

10.2 KONSEP PARADIGMA

10.2.1 Perubahan-Perubahan Revolusioner, Teori-Teori, Dan Paradigma Ekuilibrium Tersela

Pakar ilmu alam, Niles Eldredge dan Stephen Gould menwarkan suatu pemikran
mengenai evolusi yang dikenal sebagai ekuilibrium tersela : suatu alternatif diantara periode-
periode waktu yang lama dengan infrastuktur yang stabil dan tambahan adaptasi dan periode-
periode pergolakan revolusioner yang singkat. Pada dasarnya, “garis keturunan memilki
bentuk dasar yang statis (ekuilbrium) di sebagian besar sejarah mereka dan spesies-spesies
baru muncul secara mendadak, melalui ‘penyelaan’ (punctuation) perubahan yang cepat
secara revolusioner dan tiba-tiba (pada titik

10.2.2 Teori umum Kuhn tentang revolusi ilmiah


Suatu teori tentang revolusi ilmiah akan berfokus pada kemajuan dari ilmu
pengetahuan dan motivasi dari kemajuan tersebu. Thomas Kuhn berfokus pada kemajuan
dari ilmu pengetahuan dalam suatu disiplin ilmu tertentu dari ilmu pengetahuan umum. Tesis
mengenai revolusi ilmiah bersandar pada konsep dari paradigma.

Istilah paradigma digunakan dalam dua artian yang berbeda. Di satu sisi, ia memiliki
arti keseluruhan kumpulan keyakinan, nilai, dan teknik yang dibagi bersama oleh para
anggota dari suatu komunitas tertentu. Sedangkan di sisi lain, ia merupakan sejenis
elemen dari kumpulan tersebut, solusi teka-teki yang konkret dimana, jika
dipergunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan aturan-aturan eksplisit
sebagai suatu dasar unutk solusi bagi teka-teki yang asih tersisa dalam ilmu
pengetahuan umum.

Paradigma-paradigma ini tidak tetap dominan untuk selamanya. Terdapata beberapa


anomali yang diketahui. Anomali tersebut merupkan suatu hal yang tidak dapat diperbaiki.
Satu periode ketidakamanan dan krisis muncul dengan danya perselisihan antara mereka yang
melihat anomali tersebut sebagai suatu kontra-contoh dan mereka yang tidak melihatnya
seperti itu.

Ilmu pengetahuan berulang kali salah jalan. Dan ketika hal itu terjadi - yaitu ketika
profesi tidak dapat lagi menghindari anomali-anomali yang mengugurkan tradisi
praktikilmiah yang ada – maka dimulailah penyelidikan besar-besaran yang akhirnya
mengarahkan profesi pada seperangkat komitmen-komitmen baru, suatu dasar yang baru
praktik ilmu pengetahuan.

H. Gilman McCann mengusulkan tingkat karakteriktik teoritis dan pekerjaan


kuantitatif berikut ini yang dikaitkan dengan periode-periode awal dan akhir suatu ilmu
pengetahuan normal :

1. Tingkat dari pekerjaan teoritis akan naik seiring dengan perkembangan


revolusi. Kenaikan ini terdiri atas

(a) peningkatan tingkat pekerjaan teoritis di antara para pengikut dari


paradigma yang ditentukan, dan
(b) suatu tingkat pekerjaan teoritis dari para pengikut paradigma baru yang
pada awalnya tinggi, kemudian selanjutnya diikuti oleh suatu penurunan
setelah ketidakberhasilan dari paradigma baru tersebut telah dapat dipastikan.

2. pergeseran kepada paradigma baru akan lebih dahulu terjadi pada makalah-
makalah teoritis dibandingkan dengan yang lain.

3. tingkat pekerjaan kuanttatif akan meningkat seiring dengan perkembangan


revolusi. Peningkatan ini terdiri atas

(a) peningkatan, kemungkinan selanjutnya diikuti oleh penurunan, pada


tingkat pekerjaan di antara para pengikut dari paradigman yang ditentukan,
dan

(b) suatu tingkat pekerjaan kuantitatif yang tinggi pada awalnya di antara para
pendukung dari paradigma baru, kemudian kemungkinan diikuti oleh suatu
penurunan setelah paradifma baru tersebut berhasil dan masalah-masalah baru
muncul ke permukaan.

4. pergeseran kepada paradigma baru akan lebih dahulu terjadi di antara


makalah-makalah kuantitaif daripada yang lainnya.

5. Peningkatan tingkat pekerjaan kuantitatif akan paling nyata terlihat di antara


makalah-makalah teoritis.

6. Akan terjadi peningkatan jumlah penulis seiring dengan perkembangan


revolusi.

7. Akan terjadi peningkatan produktivitas dari para penulis seiring dengan


kemajuan revolusi.

8. Pergeseran kepada paradigma baru lebih dahulu terjadi diantar makalah-


makalah dari enulis-penulis yang lebih muda dibanding makalah-makalah
penulis yang lebih tua.

9. Para pendukung dari paradigma baru akan lebih muda daripada para pembela
paradigma yang lama.
10. Proporsi dari penghargaan kepada para penulis yang mendukung paradigma
baru akan meningkat selama revolusi terjadi.

11. Akan terdapat beberaoa makalah netral.

10.2.3 Pandangan dari Ritzer mengenai banyaknya paradigma yang diterapkan pada
akuntansi

Hal utama dari teori umum mengenai revolusi ilmiah adalah definisi yang tepat dari
konsep suatu paradigma. George Ritzer berpendapat bahwa munculnya paradigma pada
dasarnya adalah merupakan sebuah fenomena politis.

Dengan berpandangan bahwa paradigma adalah bergantung kepada politik, Ritzer


menawarkan definisi dari suatu paradigma sebagai berikut :

Pradigma adalah suatu gambaran fundamental dari subjek permasalahannya yang


terdapat di dalam suatu ilmu pengetahuan. Ia berfungsi untuk mendefinisikan apa
yang seharusnya ditanyakan, dan aturan-aturan apa sajakah yang harus diikuti dalam
mnginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

Paradigma adalah unit terluas dari konsensus di dalam suatu ilmu pengetahuan dan
berfungsi untuk membedakan satu komunitas ilmiah (atau subkomunitas) dari
komunitas yang lain. Ia menggolongkan, mendefinisikan, dan mengaitkan
eksemplar(contoh), teori, metode, dan instrumen-instrumen yang terdapat di
dalamnya.

Komponen-komponen dasar suatu paradigma yang muncul dari definisi Ritzer:

1. Suatu contoh, atau suatu bagian yang menjadi sebuah model bagi mereka
yang bekerja di dalam paradigma.

2. Suatu gambaran dari subjek permasalahan;

3. Teori; dan

4. Metode dan instrumen.

Bab ini menggunakan definisi Ritzer untuk menganalisis komunitas-komunitas atau


subkomunitas-subkomunitas ilmiah dalam akuntansi dengan asumsi bahwa:
1. Akuntansi tidak memiliki suatu oaradigma tunggal yang komprehensif dan
merupakan suatu ilmu pengetahuan multiparadigma; dan

2. Masing-masing paradigma akuntansi ini berusaha untuk mendapatkan


penerimaan, bahkan dominasi atas disiplin ilmu yang bersangkutan.

10.3 PARADIGMA ANTROPOLOGIS/INDUKTIF

10.3.1 Contoh

Berbagai studi memenuhi syarat sebagai contoh dari paradigma antropologis/induktif


– yaitu, pekerjaan yang dilakukan oleh Gilman,Hatfiield, Ijiri, Litlleton, dan Paton. Para
penulis studi-studi ini berbagi penrjatian yang sama untuk suatu pendekatan desrkriptif-
induktif terhadap penyusunan dari suatu teori akuntansi dan suatu kepercayaan pada nilai dari
praktik-praktik akuntansi yang masih ada.

Ijiri berpendapat bahwa perhatian utama dari akuntansi adalah berfungsinya hubungan-
hubungan akuntabilitas di antara pihak-pihak yang berkepentingan. Pengukuran objektifnya
adalah kinerja ekonomi dari perusahaan. Ijiri menyajikan akuntabiltas, sebagai suatu teori
deskriptif dari akuntansi :

“Apa yang kita tekankan disini adalah bahwa praktik akuntansi yang berlaku sekarang
dapat diintrpretasikan dengan secara lebih baik jika kita memandang akuntabilitas sebagai
sasaran dasar.”

Ijiri juga menyajikan suatu model aksiomatik dan praktik akuntansi yang sedang berjalan
yang mengevaluasi seberapa pentingnya biaya historis jka dilihan dari segi akuntabilitas dan
pengambilan keputusan.

Litlleton mengambil prinsip akuntansinya dari pengamatan praktik akuntasni yang


mengevaluasi signifikansi biaya historis dalam akuntabilitas dan oengambilan keputusan.

Para pengajar pembukuan dan kemudian akuntansi dan audit menemukan bahwa perlu
ditambahkan penjelasan dan justifikasi pada aturan-aturan dan uraian dari prosedur yang
telah terakumulasi. Hal ini dilakuka arag studi yang dilakukan hendaknya lebih daripada
sekedar penghafalan aturan-aturan. Karenanya, tepat dikatakan bahwa baik metode-metode
praktik maupun penjelasan dari teori secara induktif doperoleh dari pengalaman.
Dua studi lain oler Gordon dan oleh Watts san Zimmerman memenuhi prasyarat
sebagai contoh dari paradigma antropologis/induktif. Kedua studi tersebut menyatakan bahwa
manajemen akan memilih aturan akuntansi yang cenderung meratakan laba dan tingkat
pertumbuhannya. Gordon menyatakan teori parataan laba sebagia berikut :

Dalil 1 : kriteria yang digunakan oleh manajemen perusahaan dalam melakukan


pemilhan diantara prinsip-prinsip akuntansi adalah memaksimalkan dari kegunaanya
atau kesejahteraannya.

Dalil 2 : kemampuan dari manajemen akan meningkat seiring dengan meningkatnya :

1. Keamanan jabatannya

2. Tingkatan dan tingkat pertumbuhan penghasilan manajemen

3. Tingkatan dan tingkat pertumbuhan ukuran perusahaan

Dalil 3 : pencapaian sasaran manajemen yang dinyatakan dalam dalil 2 sebagian akan
bergantung pada tingkat kepuasan para pemegang saham terhadap kinerja
perusahaan;yaitu dengan semua hal yang lain diasumsikan sama, semakin para
pemegang saham senang, maka akan semakin besar keamanan jabatan, penghasilan,
dan seterusnya dari pihak manajemen.

Dalil 4 : kepuasan pemegang saham atas suatu perusahaan meningkat seiring dengan
tingkat pertumbuhan rata-rata laba perusahaan (atau tingkat pengembalian rata-rata
atas modalnya) dan stabilitas labanya. Dalil ini dapat segera diverifikasi denga segera
seperti dalil 2.

Teorema : jika keempat dalil di atas dierima atau ternyata ditemukan terbukti benar,
hal selanjutnya yang akan mengikuti akdalah bahwa manajemen berada dalam batasan
kekuasaannya, yaitu ruang gerak yang diperbolehkan oleh atuan-aturan akuntansi,

1. Maratakan laba yang dilaporkan, dan

2. Meratakan tingkat pertumbuhan laba.

Dengan “meratakan tingkat pertumbuhan laba,” kita bermaksud seperti ini :


Jika tingkat pertumbuhan tinggi, maka praktik-praktik akuntansi yang dapat
menguranginya kana diterapkan, dan begitu pula sebaliknya.
Beberapa tes empiris di dalam literatur perataan laba tidak memberikan konfirmasi
bagi model dari Gordon. Untuk menghindari jebakan-jebekan yang mungin ada di dalam
model Gordon, Watts dan Zimmerman mencoba untuk memberikan suatu teori positif dari
akuntansi dengan mengeksplorasi faktor-faktor siakp manajemen laba terhadap standar-
standar akuntansi.

Di awalnya, Watts dan Zimmerman berasumsi bahwa kegunaan dari manajemen


meruoakan suatu fungsi positif dari ekspektasi kompensasi periode-periode masa yang akan
datang dan suatu fungsi negatif dari penyebaran kompensasi si masa yang akan datang.
Analisis yang mereka lakukan menunjukan bahwa pilihan standar akuntansi dapat
mempengaruhi arus kas suatu perusahaan melalui perpajakan, regulasi,biaya-baiaya politis,
biaya pembuatn informasi, dan rencana-rencana kompensasi manajemen.

Empata faktor yang pertama meningkatkan kekayaan material dengan meningkatkan


kas, dan, akibatnya, harga saham. Faktor terakhir da[at meningkatkan kekayaan
manakerial dengan mengubah syarat-syarat dari kompensasi insentif.

10.3.2 Gambaran Subjek Permasalahan

Bagi mereka yang menerapkan paradigma antropologis/induktif, subjek pemrnasalahn


yang mendasar adalah:

1. Praktik-prakti akuntansi yang sudah ada, dan

2. Sikap manajemen terhadap praktik-praktik tersebut.

Para pendukung dari pandangan ini menyatakan secara ujum bahwa teknik-tekniknya
dapat diperleh dan dijustifikasi berdasarkan atas penggunaan mereka yang telah teruji atau
bahwa manajemen memainkan suatu peranan utama dalam menentukan teknik-teknik yang
akan diimplementasikan. Konsekuensinya, tujuan penelitian akuntansi yang dikaitkan dengan
paradigma antropologis/induktif adalah untuk memahami, menjelaskan, dan meramalkan
prakti-praktik akuntansi yang sudah ada.

Ijiri memandang misi dari pendekatan pragmatis ini sebagai berikut:

Jenis pemikiran induktif untuk mendapatkan sasaran yang implisit di dalam perilaku
dari suatu sistem yang sudah tidak dimasukan untuk menjadi pro-kekuasaan untuk
mempromosikan pemeliharaan pihak status quo. Tujuan dari pelaksanaan seperti itu adalah
untuk menyoroti dimana perubaha-perubahan paling dibutuhkan dan dimana mereka layak
untuk dilakukan. Perubahan yang isarankan sebagai suatu hasil dari studi semacam itu
memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk dapat diimplementasikan secara nyata.

10.3.3 Teori

Empat teori dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari dari paradigma antropologi/induktif:

1. Ekonomi informas,

2. Model analitis/keagenan,

3. Perataan laba/hipotesis manajemen penghasilan, dan

4. Teori positif dari akuntansi.

10.3.4 Metode

Mereka yang menerapkan paradigma antropologis/induktif cenderung akan menerapkan salah


satu dari tiga reknik di bawah ini:

1. teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian perataan laba,

2. teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian manajemen penghasilan

3. teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian teori positif.

10.4 PARADIGMA LABA SEBENARNYA/DEDUKTIF

10.4.1 Contoh

Studi-studi yang memenuhi persyaratan sebagai contoh dari paradigma laba


sebenarnya/deduktif adalahhasil karya Alexander, Caning, Edwards dan Bell, MacNeal,
Moonitz, Paton, Sprouse dan Moonitz, dan Sweeney. Para penulis tersebut berbagi suatu
perhatian pada suatu pendekatan normatif-deduktif terhadap penyusunan sebuah teori
akuntansi dan, dengan pengecualian bagi Alexander, suatu keyakinan, bahwa, idealnya, laba
yang diukur dengan menggunakan satu dasar penilaian tunggal akan mampu memenuhi
kebutuhan dari semua anggota. Para peneliti ini juga sepenuhnya menyetujui pendapat bahwa
informasi harga saat ini lebih berguna daripada informasi biaya hostoris yang konvensional
bagi pengguna dalam membuat pengambilan keputusan ekonomi.

Paton menolak pandangan dari teori kepemilikan (propriety theory) atas akun-akun
dengan menyatakan ulang teori akuntansi dengan suatu cara yang konsisten terhadap kondisi
dan kebutuhan dari perusahaan bisnis sebagai suatu entitas atau kepribadian yang berbeda.
Menurut Paton, akuntansi memainkan sebuah peranan yang signifikan dan relevan dalam
perusahaan dan dalam masyarakat.:

Jika kecenderungan dari proses ekonomi seperti yang ditunjukan oleh harga-harga
pasar akan dicerminkan secara rasional dalam keputusan-keputusan dari para manajer
bisnis, mesin utnuk mencatat dan menerjemahkan secara efisien data-data spesifik
semacam itu harus tersedia, dan skema akuntansi yang baik mencerminkan suatu
bagian yang penting dari mkanisme semacam itu.

Teori Paton mengenai sistem akuntansi terdiri atas suatu pembahasan logis dan
justifikasi dari struktur akuntansi dilihat dari segi kelompok-kelompok fundamental dari
akun-akun; kepemilikan dan kewajiban; akun harta dan ekuitas; jenis-jenis
transaksi;pengeluaran,pendapatan, dan akun-akun tambahan; klasifikasi akun; analisis
periodik; serta konsep debit dan kredit.

10.4.2 Gambaran subjek permasalahan

Bagi mereka yang mnerapkan paradigma laba sebenarnya/deduktif, subjek


permasalahna yang mendasar adalah :

1. penyusunan suatu teori akuntansi berdasarkan pada laba pemikiran yang logis dan
normatif dan ketegasan konseptual; dan

2. suatu konsep laba yang ideal berdasarkan pada metode lain di samping metode
biaya historis.

MacNeal menyatakan suatu konsep laba ideal sebagai berikut:

Terdapatsatu definisi yang tepat dari laba dalam artian akuntansi.


“Laba” adalah suatu peningkatan kekayaan bersih. “Kerugian” adalah
penurunan dari kekayaan bersih.

Aleander yang juga mengemukakan konsep laba, menyatakan:


Kita juga harus menemukan apakah laba ekonomi adalah suatu hal
yang ideal, dimana laba akuntansi hanya memiliki perbedaan sampai sejauh
tingkatan bahwa ideal adalah suatu hal yang secara praktik tidak akan dapat
terpenuhi, atau apakah laba ekonomi adalah suatu hal yang pantas bahkan jika
tidak dapat diukur dengan pasti.

10.4.3 Teori

Teori-teori yang muncul dari paradigma laba sbenarnya/deduktif menyajikan


alternatif-alternatif bagi sistem akuntansi biaya historis. Seccara umum, ada lima teori atau
kelompok pemikiran yang dapat diidentifikasikan:

1. akuntansi tingkat harga yang telah disesuaikan (atau daya beli saat ini);

2. akuntansi biaya penggantian;

3. akuntansi nilai pembatasan;

4. akuntansi kotemporer (nilai bersih yang dapat direalisasikan) secara kontinue;

5. akuntansi nilai sekarang.

Masing-masing teori di atas menyajikan metode-metode alternatif dari penilaian


aktiva dan penentuan laba yang diduga dapat mengatasi kelemahan-kelemanah dari sistem
akuntansi biaya historis.

10.4.4 Metode

Bagi mereka yang menerima paradigma laba sebenarnya/deduktif umumnya


menerapkan pemikiran analitis untuk membenarkan penyusunan dari suatu teori akuntansi
atau untuk mengungkapkan mengenai keunggulan-keunggulan dari model penilaian
aktiva/penentuan laba tertentu selai dari akuntansi biaya historis. Para pendukung dari
paradigma ini umumnya melanjutkan dari tujuan dan postulat-postulat mengenai lingkungan
hingga ke metode-metode yang spesifik.
10.9 Ilmu Akuntansi

Penelitian akuntansi telah mengalami peningkatan drastis ditahun-tahun


belakangan ini.Penelitian ini ditujukan untuk menjadikan ilmu akuntansi meraih
dominasi yang dibuktikan oleh transformasi akuntansi menjadi sebuah”ilmu
nomal”yang lengkap dengan paradigma-paradigma. Paradigma-paradigma
tersebut yang membantu dalam penyelesaian masalah dalam praktik akuntansi.
Penelitian-penelitian akuntansi didasarkan pada seperangkat asumsi mengenai
ilmu sosial dan masyarakat yang diakui bersama, dan telah mencetuskan suatu
perdebatan yang sehat mengenai bagaimana memperkaya dan memperluas
pemahaman kita mengenai akuntansi dalam praktiknya.
Selama beberapa kurun waktu yang lalu, akuntansi secara tradisional
telah dipahami dan diajarkan sebagai satu set prosedur rasional yang digunakan
untuk menyediakan informasi, yaitu informasi yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan dan pengendalian (lihat Watts dan Zimmerman 1986;
Hongren dan Foster 1991). Dalam pengertian semacam ini, akuntansi tampak
seperti teknologi kelihatan konkrit, tangible dan bebas dari nilai masyarakat
(value-free) dimana ia dipraktikkan. Pandangan ini dalam studi kontemporer
ternyata mendapat kritik yang keras dari pihak lain terutama kritik dari sisi
asumsi filosofisnya (Sterling 1990; Dillard 1991; Manicas
1993).

Kemudian, sejak tahun 1980-an, mulai ada perhatian yang kuat dari para
peneliti akuntansi dalam upaya memahami akuntansi dalam pengertian yang
lebih luas, misalnya dalam kontes sosial dan organisasi. Adanya perhatian
semacam ini berakibat pehamaman akuntansi menjadi berubah, yaitu akuntansi
mulai dipahami sebagai entitas yang selalu berubah (an ever-changing entity).
Dengan kata lain, akuntansi tidak lagi dipandang sebagai produk jadi atau statis
(a static or finished product) dari suatu masyarakat tetapi dipandang suatu
produk yang selalu mengalami perubahan setiap waktu tergantung pada
lingkungan dimana ia hidup dan dipraktikan.

Perhatian ini sebenarnya telah dimunculkan beberapa tahun lalu ketika


Tricker, misalnya, mengatakan bahwa "bentuk akuntansi sebetulnya tergantung
pada ideologi dan moral masyarakat. Ia [akuntansi] tidak bebas nilai. Ia adalah
anak dari budaya[masyarakat] "(1978, 8). Dengan demikian, pandangan ini jelas
memberikan implikasi terhadap studi akuntansi kontemporer . Beberapa karya
penelitian, tanpa memperhatikan pendekatan yang digunakan, telah
menunjukan bahwa akuntansi memang dibentuk oleh kultur masyarakat
(Hofstede 1987; Gray 1988; Perera 1989; Riahi-Belkaoui dan Picur 1991), oleh
sistem ekonomi (Abdel-Magid 1981; Bailey 1988), oleh sistem politik (Solomons
1978,1983; Tinker 1984; O'leary 1985; Daley and Mueller
1989), dan sistem sosial (Gambling 1974; Burchell et al. 1985).

Pada tingkat mikro (organisasi), akuntansi juga telah berubah sesuai


dengan arah dan pengaruh lingkungan organisasi, seperti restrukturisasi dan
perbaikan organisasi; tugas-tugas organisasi; strategi, struktur dan pendekatan
dalam pembagian kerja, teknologi dan praktek; dan konflik sosial dalam
organisasi (Hopwood 1987). Disamping mengalami perubahan-perubahan seperti
tersebut diatas, akuntansi tidak begitu saja ada (eksis) dibentuk oleh
lingkungannya, tetapi juga secara aktif menebarkan kekuatan (pengaruh)
potensialnya untuk mempengaruhi dan membentuk lingkungan serta realitas
dimana ia hidup dan dipraktekkan. Morgan (1988), dalam hal ini, mengatakan
bahwa akuntansi tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membentuk
realitas. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Hopwood (1990)
menekankan tiga operanan umum akuntansi dalam proses perubahan
organisasi, yaitu bagaimana akuntansi menciptakan visibilitas dalam sebuah
organisasi, bagaimana akuntansi berfungsi sebagai praktek kalkulasi, dan
bagaimana akuntansi menciptakan domain untuk aksi ekonomi.

Akuntansi dalam dunia nyata telah membantu manajemen dan pihak


lainnya dalam organisasi untuk meluhat secara jelah fenomena konseptual dan
abstrak yang belum pernah dipikirkan sebelumnya, seperti biaya (cost), dan laba
(profit), yang dalam praktek akuntansi sekarang dikenal sebagai simbol yang
telah diterima secara umum. Akibatnya, "ia [akuntansi] dapat mempengaruhi
persepsi, mengubah bahasa dan mendorong terjadinya dialog, yang oleh karena
itu mempengaruhi cara-cara dimana prioritas, perhatian dan kekhawatiran, serta
kemungkinan untuk melakukan suatu aksi diekspresikan " (Hopwood 1990, 9).

Fenomena ini dapat dilihat secara konkrit ketika konsep tersebut


dimanifestasikan dalam bentuk kalkulatif. Dengan memperhatikan angka-angka
akuntansi (accounting numbers), akuntan, atau ekonom, atau orang lain(yang
punya perhatian terhadap angka-angka akuntansi) dapat "mengubah dunia".
Oleh karena itu, bukan sesuatu yang aneh bila Hopwood mengatakan bahwa
"kekuatan kalkulatif secara potensial sangat besar" dan "ketika sesuatu telah
masuk dalam kondisi kalkulatif, maka interdependensi organisasi dapat tercipta
baik dengan fenomena kalkulatif melalui pemantapan hubungan alat-tujuan
yang akurat maupun dengan tujuan dan pemikiran yang diartikulasikan untuk
aksi organisasi" (1990, 9-10). Melalui kalkulasi ini, akuntansi berimplikasi pada
pembentukan realitas konkrit ekonomi dan fenomena keuangan, pada
kecendrungan sejauh mana pertukaran ekonomi dapat dibuat, dan pada kondisi
dalam menetapkan objektifitas yang akurat dari
transaksi ekonomi (Hopwood 1990).

Melihat begitu besarnya pengaruh akuntansi dalam membentuk realitas,


Morgan (1988) secara kritis memberikan pandangan bahwa sebaiknya akuntan
tidak melihat dirinya sendiri sebagai agen yang pasif (a passive agent) yang
cuma mempraktekkan bentuk teknik (technical craft) akuntansi, tetapi
hendaknya menganggap dirinya sebagai agen yang merupakan bagian dari, atau
secara aktif terlibvat dalam proses pembentukan realitas sosial, yang mampu
menginterprestasikan akuntansi sebagai realitas di mana maknbanya (the
meanings of realty) pada gilirannya akan menjadi sumber bagi pembentukan
(kembali) realitas sosial. Namun, pandangan apakah akuntan adalah agen yang
aktif atau pasif sangat tergantung pada persepsi akuntan itu sendiri tentang
hakikat dirinya (human nature) dan bagaimana dia melihat realitas.

Burrell and Morgan (1979, 2), dalam hal ini, mengungkapkan bahwa
sebagian individu menganggap diri mereka sendiri dan pengalaman mereka
sebagai produk dari, dan secara mekanis serta deterministik ditentukan oleh,
lingkungan mereka. Dengan demikian, mereka cenderung memahami realitas
sosial (lingkungan) sebagai struktur yang tetap, konkrit dan keras, serta berdiri
secara bebas dari pemikiran dan perasaan individu (manusia), dan memandang
individu sebagai makhluk yang lahir dan hidup dalam realitas yang "sudah ada".
Sebaliknya, yang lain beranggapan bahwa diri mereka adalah individu yang
memiliki free-will, yang mempunyai kapasitas untuk mencipta secara aktif
lingkungan (realitas mereka). Mereka menyadari bahwa dirinya adalah pencipta
dan pengendali dari realitas yang telah diciptakannya. Mereka memahami
realitas sosial ini sesungguhnya tidak lebih dari nama-nama, label-label dan
konsep-konsep yang digunakan secara aktif untuk membangun realitas sosial
(Burrell and Morgan 1979, 4; lihat juga Morgan and Smircich 1980; Tomkims and
Groves 1983). Asumsi ini, di samping yang lain, adalah asumsi yang jelas
mengarahkan perkembangan praktek dan studi akuntansi (lihat, misalnya, Watts
dan Zimmerman 1986, 1990; Tomkins dan Groves 1983; Preston 1986; Francis
1990; Sterling 1990; Dillard 1991; Chua dan Degeling 1993; Schweiker 1993).
Bertolak dari beberapa pandangan dan pemikiran di atas, akhir-akhir ini banyak
bermunculan peneliti akuntansi yang mempelajari akuntansi sebagai
organisationally-situated practice, yaitu praktek yang sangat dipengaruhi
lingkungan (organisasi) (Hopwood 1978, 1983; Chua 1988), termasuk studi
praktek akuntansi yang berhubungan organisasi agama, seperti gereja (lihat,
misalnya, Cunningham and Reensnyder 1983; Boyce 1984; Burckel and Smindle
1988; King 1988; Laughlin 1988, 1990; Booth 1993).

Laughlin (1990), sebagai contoh, dengan menggunakan teori Gidden


tentang structuration theory, mencoba mengetahui praktek akuntabilitas
keuangan (hubungan prinsipal-agen) di Gereja Inggris dalam konteks organisasi.
Laughlin beranggapan bahwa teori tersebut (structuration theory) sebagai
dedikasi untuk "memahami perilaku manusia dalam situasi tertentu dalam
mempertahankan suatu keyakinan (belief) bahwa semua aksi dan interaksi
memiliki pola (yang disebut struktur)" (1990,94). Berdasarkan pada pemahaman
ini, dia mencoba menangkap praktek akuntabilitas keuangan di Gereja Inggris
sebagai cara untuk memberikan isi pada struktur teori, dan dia juga memberikan
perhatiannya pada "pemahaman tentang perbedaan antara bentuk-bentuk ex
ante dan ex post dari akuntabilitas dan pertautan yang mereka miliki dengan
pengendalian" (1990, 96). Dia beragumentasi bahwa, dalam hal hubungan
akuntabilitas di gereja, hubungan akuntabilitas antara parish dan dioces, dioces
dan dewan pusat, dan anggota jamaat dan parish adalah dalam bentuk ex ante.
Yang terakhir ini kurang terstruktur bila dibanding dengan dua yang pertama
dan berpusat di sekitar apresiasi beberapa dewan tentang aktivitas masa
mendatang tetapi ditata dalam konteks tantangan spiritual akan "kebutuhan
pemberi untuk memberi" (1990, 111), sementara dua yang pertama berpusat di
sekitar proses pembuatan anggaran tahunan. Di sisi yang lain, hubungan antara
Komisi Gereja dan Gereja dan Pemerintah lebih luas, seperti yang ditemukan
Laughlin (1990), dilakukan dalam bentuk laporan formal, yaitu laporan tahunan
ex post.

Keterangan di atas merupakan gambaran yang jelas bahwa akuntansi,


pada dasarnya, subuah entitas yang selalu berubah (berkembang),dimana arah
perkembangannya banyak ditentukan oleh faktor lingkungan.

10.10 Dekonstruksi

Isu berakhirnya filsafat modernisme yang terlalu mentotalisasi kehidupan


manusia mempunyai korelasi yang signifikan dengan apa yang disebuut sebagai
proses dekonstrusi.
Dekonstrusi Jacques Derrida pada perkembangannya, menjadi kekuatan utama
dari etos post-strukturalisme. Dekonstruksi ditujukan untuk menentang system
konstruksi strukturalisme beranggapan bahwa fenomena adalah suatu entitas
yang reducible bagi suatu system operasi yang membawa implikasi dunia dapat
dikuasai secara penuh. Metode dekonstruksi jika direkonstruksikan secara
sistematis, terdiri dari pertama, mengidentifikasi hierarki oposisi dalam teks,
dimana biasaya telihat terminology mana yang dispesialkan secara sistematis.
Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik, misalnya dengan menunjukkan adanya saling
ketergantungan diantara yang berlawanan itu, atau dengan mengusulkan
privatisasi secara tebalik. Ketiga, memperkenalkan sebuah teminologi atau
gagasan baru, yang tidak bisa dimasukan kedalam kategori oposisi. Dekonstruksi
pendidikan lebih mefokuskan diri pada bagaimana membongkar hegemoni
institusi, yang selama ini telah dijadikan media dalam mempertahankan status
quo. Tidak itu saja dekonstruksi juga dimasukkan untuk menentang ideology-
ideologi pendidikan yang dominan, praktek-praktek pengajaran yang kaku dan
tidak manusiawi, mengacaukan otoritas institusi dan para pendidik dan akhirnya
menyadari adanya kekeliruan sistematias yang memang sengaja dibuat menjadi
regulasi dan aturan-aturan yang membelegu. Derrida menginginkan adanya
pembebasan naskah atas sebuah teks/naskah.Hal ini dipahami sebagai suatu
upaya dalam membebaskan naskah dari makna tunggal resmi yang mungkin
diberikan oleh kultur yang dominant atau oleh struktur-struktur institusional
yang menetapkan bentuk-bentuk wacana. Oleh sebab itu,tugas dekonstruksi
adalah membebaskan naskah, mengembangkan ambiguitasnya, mengungkap
ambiguitas terpendamnya, memunculkan kontradiksi internalnya dan mengenali
kekurangannya yang terakhir ini merupakan kondisi yang selalu mungkin dalam
setiap naskah.Kekurangan tersebut oleh Derrida dinamakan “aporia”,bukanlah
kontradiksi yang eksplisit,melainkan semacam paradoks atau kesenjangan
dalam pemahaman yang didapati dalam suatu naskah.Tujuan Derrida bukanlah
menunjukkan bagaimana dengan kekurangan itu bisa dihasilkan naskah yang
terpadu dan logis,karena ia berpandangan bahwa
ambiguitas,metaforis,pergeseran makna dan kesenjangan semantic,merupakan
karakteristik dari semua teks atau naskah.

Dengan kata lain, dekonstruksi adalah penafsiran dari naskah untuk


menggambarkan penyusunan arti yang terdapat didalam naskah dan
menumbangkan wewenang hegemonis dari suatu naskah untuk
mengindikasikan”kebenaran” yang berasal dari luar naskah.

10.11 Akuntan Akademik

Satu elemen didalam susunan konfliktual baru adalah suatu kelas baru
akuntan akademik. Proletaria sebagai suatu kelas universal. Walaupun profesi
akuntan dinilai mengalami perkembangan yang demikian cepat, bukan berarti
profesi ini tidak menunjukan hal-hal yang bersifat suram. Disamping itu,
akuntansi tidak hanya memberikan informasi kuantitatif, tetapi juga informasi
kualitatif. Akuntansi konvensional juga sedang menjadi sorotan khususnya
ketidakmampuannya memberikan informasi yang relevan pada situasi di mana
prinsip stable monetary unit tidak berjalan seperti masa inflasi. Akuntansi
konvensional juga mendapat tantangan dari akuntansi islam, akuntansi
pertambahan nilai, akuntansi sumber daya manusia,dan pelaporan pegawai.
Berbeda dengan akuntansi kovensional , akuntansi islam lebih menekan pada
aspek pertanggungjawaban dengan penekan pada keadilan dan kebenaran,
bukan saja mengabdi kepada kepentingan pemegang saham saja, tetapi juga
semua pihak dan menaati semua hokum syriah. Fenomena ini menunjukan
ketidakpuasan terhadap akuntansi konvensional jika tidak ditanggapi akan dapat
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap konvensional saat ini.

Akuntansi manajemen juga dapat mempengaruhi eksistensi akuntansi


keuangan. Fungsi akuntansi keuangan selama ini menekan pada kepentingan
public yang terkait dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi atau
regulator sehingga relevansinya terhadap kepentingan manajemen kurang.
Akuntansi manajemen dianggap memberikan informasi yang lebih relevan untuk
kepentingan pengambilan keputusan. Menurut penelitian proses penurunan porsi
penerimaan kantor akuntan dari jasa audit semakin lama semakin menurun dan
fungsi atau jasa konsultasi justru semakin meningkat.

Ketentuan itu adalah sebagai berikut :

a.Kantor akuntan hanya boleh memberikan jasa information technology (IT) dan
konsultasi lainnya jika Komite Dewan Audit menerimanya.

b. Auditor independen akan dinilai apakah investor yang biasa akan melihat ada
tidaknya konflik.

c. Auditor tidak dapat melakukan tugas internal auditing melebihi 40%.

d. Perusahaan harus mengungkapkan berapa mereka membayar untuk biaya


audit, konsultasi, dan jas pajak.

a. Krisis Akuntansi Menurut Lev

Menurut Lev, akuntan bukan a good eyesight. Apalagi jika ingin melaporkan hal-
hal yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud seperti : ide, merek, cara kerja,
goowill, franchises. Lev mengambil contoh, didalam standart dan poor 500,500
perusahaan memiliki rasio market to net value perusahaan (yang terdapat di
neraca) lebih besar dari 6. Ini berarti bahwa angka neraca yang di-supply oleh
akuntansi keuangan hanya menggambarkan 10-15% dari nilai perusahaan. Pada
tahun 1929 rasio modal intangible business yang cukup spektakuler. Produk
intangible asset dapat berupa

1. Aktiva yang dikaitkan dengan produk inovasi atau hasil R & D.

2. Aktiva yang dikaitan menjual dengan merek (brand) perusahaan dengan mana
perusahaan menjual mereknya. Misalnya nike, reebok, mc Donald, dunhill;

3. Aktiva structural yaitu kemampuannya melebihi perusahaan lain selaku


kompetitornya;

4. Monopoli, perusahaan yang menikmati hak hal monopoli.

b.Krisis menurut Belkaoui

Pada tahun 1989 Belkaoui menulis buku dengan judul The Coming Crisis in
Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari hal-hal
sebagai berikut :
1. Profesi Akuntan

Dalam profesi akuntan terjadi penurunan remunerasi, penurunan jumlah tenaga


kerja, peningkatan porsi jasa konsultasi dan pengurangan jasa akuntan/auditing.
Akuntan yang selama ini dianggap borjius justru menjadi proletar. Di samping
itu, ada juga anggapan bahwa akuntan sebetulnya bukan tergolong sebagai
profesi karena ketidakmampuan menjadi independen dan otonom dari
langganannya dan kehilangan monopolinya atas jasa informasi akuntansi yang
saat ini banyak di-supply oleh IT.

2. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi

Kecurangan adalah tindakan criminal. Banyak tindakan kecurangan yang


dilakukan korporasi maupun kecurangan yang melibatkan akuntan khususnya
melalui laporan keuangan. Public menganggap meningkatnya kecurangan ini
tidak lepas dari kegagalan profesi akuntan. Bahkan di tanah air akuntan sering
juga dicap”tukang angka” yang bias menentukan jumlah laba atau rugi
perusahaan. Kasus factual telah banyak terjadi mendukung anggapan ini
sehingga akuntan berada di ambang krisis.

3.Menurunnya work load dalam proses akuntansi


karena kemajuan computer, tugas-tugas akuntansi sudah bias dilakukan oleh
software yang user friendly sehingga tidak memerlukan keahlian akuntansi lagi.
Dengan demikian, beban kerja dari seorang ahli akuntan semakin terbatas yang
akan menimbulkan krisis profesi akuntan.

4. Iklim organisasi dikantor akuntan

Kantor akuntan adalah fakultas kedua setelah fakultas ekonomi. Kantor akuntan
hanya sebagai batu loncatan untuk memasuki dunia bisnis lain yang lebih
menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan kerja, di kantor akuntan cukup
tinggi, career path tidak jelas, job description yang tidak tegas, semakin kabur,
dan bahkan semakin tingginya konflik internal dalam kantor akuntan itu sendiri.
Bahkan jasa yang akan dibolehkan diberikan oleh akuntan semakin di atur dan
dibatasi seperti baru-baru ini diberlakukan oleh SEC di USA, di mana akuntan
tidak bias bebas memberikan beberapa jasa pada perusahaan yang sama karena
dianggap mengurangi independensi.

5. Problema produksi ilmu pengetahuan dalam akuntansi

Ilmu pengetahuan paling tidak saat ini dari proses akademik sedangkan
akuntansi adalah kebutuhan profesi yang berkembang secara praktik dalam
dunia bisnis. Sering terjadi antara hasil proses ilmu pengetahuan dari proses
akademik sering tidak match atau tidak sesuai dengan keinginan atau
kebutuhan dunia praktik sehingga terjadi gap antara dunia akademis dengan
dunia profesi. Banyaknya keluhan ditemukan pasar bahwa apa yang diajarkan di
bangku kuliah tidak relevan dengan apa yang diinginkan pasar atau user dari
tenaga akuntan yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika hal ini berjalan terus
maka akuntansi juga akan mengalami krisis.
Disamping itu, semua Belkaoui (2006) mempertanyakan apakah akuntan itu
benar sebagai profesi atau tidak . Menurut beliau paling tidak ada persyaratan
jika ingin disebut sebagai suatu profesi, yaitu :

a. Memiliki disiplin ilmu pengetahuan

b. Otonom dalam melaksakan profesinya

c. Memiliki perasaan solidaritas kelompok yang paling setia

d. Bias mengatur sendiri praktik


e. Memerlukan izin praktik

f. Memiliki kekuasaan atas langganannya

g. Memiliki kode etik.

Menurut Belkaoui akuntan saat ini tidak memiliki otonomi yang cukup
kepada langganan dalam melaksanakan profesinya dan tidak memiliki
kekuasaan atas langganan. Kemudian, dengan berkembangnya ilmu computer
maka kompleksitas profesi menjadi berkurang akibat kemampuan computer
menyabot sebagian besar fungsi akuntan terutama dalam penyajian laporan
keuangan. Dari sini Belkaoui menyimpulkan bahwa akuntansi berada dalam
situasi apakah sebagai”yang tidak murni profesi” atau berada pada proses
bertahap”deprofessionalisasi”.

c.Skandal Korporasi

Skandal korporasi ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejarah menunjukan
bahwa manusia dengan segala kemajuan dan perangkat social yang dimilikinya
sudah didesain untuk menghindari kemungkinan skandal itu. Skandal korporasi
itu ada yang menggunakan teknik akuntansi. Skandal korporasi yang terjadi
belakangan ini terungkap, umumnya menyangkut skandal akuntansi. Bahkan
skandal ini sempat meruntuhkan salah satu kantor akuntan besar Arthur
Anderson di Amerika dan mengubah system pertanggungjawaban korporasi di
Amerika. Untuk mengasi itulah tidak kurang presiden George bush jr melakukan
pidato dan mengujungi NYSE dan pada tanggal tangga 30 juli 2002 UU Corporate
Accountability telah diundangkan. UU ini diharapkan untuk dapat
mengembalikan kepercayaan public terhadap perusahaan Amerika yang sudah
jatuh akibat berbagai skandal yang terjadi belakangan ini. UU itu mencakup
sebagai berikut :

1. Peningkatan hukuman bagi pelaku kecurangan dan pemusnahan


dokumen

2. Mewajibkan CEO dan CFO perusahaan public untuk membuat pernyataan


mengenai keakuratan laporan keuangan serta bertanggung jawab jika
terjadi kecurangan
3. Mewajibkan SEC menunjukan badan pengawasan yang bekerja purna
waktu dan

mendisiplinkan akuntan public pasar modal

4. Mencegah KAP memberikan jasa konsultasi kepada perusahaan yang dia


audit, menghentikan setiap kecenderungan pertentangan kepentingan

5. Melarang pinjaman pribadi dari perusahaan kepada pimpinan puncak dan


direksi dan mewajibkan orang dalam perusahaan memberikan informasi
kepada SEC sesegera mungkin jika terjadi pembelian atau penjualan
saham perusahaan.
Respon Amerika terhadap skandal besar 2002 ini cukup cepat
kendatipun kemungkinan terjadinya kasus serupa di masa yang akan
datang masih mungkini. Sejauh ini memang skandal keuangan akibat
kesalahan akuntansi belum banyak terungkap karena dinaungi besarnya
KKN.

d.Alternatif Akuntansi Konvensional

Skandal besar dalam korporasi belakangan ini yang mempengaruhi


industry keuangan, pasar modal, investor, profesi dan karyawan menurut
Bazerman et.al (2002) tidak lepas dari tindakan korupsi, kriminalitas dari
akuntan yang tidak memiliki etika yang memalsukan angka-angka,
melakukan penyelewengan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk
melindungi kliennya. Hal ini tidak terlepas dari factor “unconscious bias” yang
berasl dari sifat subjektif dari akuntansi itu sendiri serta hubungan yang
sangat erat antara akuntan public dan langganannya.
Akuntansi kapitalisme dinilai dituduh hanya sebagai bentuk kesadaran palsu
yang memistikkan. Akuntansi dituduh bukan memberikan informasi yang
benar tentang hubungan social yang harmonis. Ia hanya membungkus
kepentingan ekonominya dalam symbol efisiensi, laba rugi, produktifitas, dan
sebagainya (Harahap,1993). Dalam diri disiplin akuntansi konvensional itu
sendiri lahir beberapa konsep yang keluar dari mainstreamnya seperti
munculnya socio economic accounting, environmental accounting, employee
reporting, human resoures accounting, value added reporting, Islamic
aceounting.Current Cost accounting (Belkaoui, 1984, Harahap, 2003).
e.Bazerman

Menurut Bazerman (2002) akuntan itu memiliki unconscious bias,


sesuatu bias yang terjadi tanpa disadarinya disebabkan adanya “self serving
bias”. Self serving bias ini muncul disebabkan enam factor psikis : (1)
ambiguity dari ilmu akuntansi karena banyaknya persoalan yang memerlukan
pertimbangan dan kebijakan subjektif ; (2) attachement, terhadap
kepentingan nasabah karena akuntan ditunjukan dan dibayar oleh
perusahaan; (3) approval, di mana akuntan selalu cenderung menerima dan
menyetujui judgment perusahaan; (4) familiarity merupakan sifat di mana
kita mengutamakan membela kenalan daripada orang asing yang belum
dikenal; (5) discounting di mana orang cenderung merespons akibat yang
akan muncul segera dan menunda risiko yang masih lama; (6) escalation
merupakan kecenderungan untuk menyembunyikan atau mengabaikan hal-
hal yang bersifat minor. Auditor pada akhirnya ikut menerima laporan
keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan.
f.Albrecht dan Sack Albrecht dan Sack (2000) melakukan penelitian yang
sangat intens tentang nasib pendidikan akuntansi di USA dan mereka
menyimpulkan bahwa profesi ini tengah mengalami bahaya disebabkan tiga
factor:

1. Jumlah dan kualitas mahasiswa yang memilih jurusan akuntansi menurun


secara drastic. Mereka menganggap profesi ini tidak bernilai tinggi lagi
dalam bekerja di dunia bisnis.

2. Praktisi dan akademis akuntansi yang ingin melanjutkan studi memilih


jurusan yang bukan akuntansi.

3. Tokoh akuntan dan praktisinya menyatakan bahwa pendidikan akuntansi


yang sekarang sudah kuno, rusak, dan perlu diubah secara signifikan.
Memang situasi ini belum memasuki profesi di tanah air tetapi biasanya
gelombangnya akan merambah praktisi di Negara lain karena sector
ekonomi dan bisnis dikuasai oleh Amerika.
g.Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga

Desain dari akuntansi yang saat ini dikenal terutama yang diajarkan di
perguruan tinggi lebih banyak untuk kepentingan perusahaan besar dan
perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Padahal sebagian besar
perusahaan banyak tergolong perusahaan kecil dan titik terdaftar di pasar
modal sehingga akuntansinya juga mestinya memiliki perbedaan. Salah
seorang yang bergelut dengan sector usaha kecil dan koperasi Thoby Mutis
menyatakan betapa akuntansi konvensional tidak bias diandalkan untuk
membantu perusahaan UKM dan perusahaan yang tidak terdaftar di pasar
modal. Akuntansi untuk UKM dan koperasi harus memiliki sifat dan ciri
tersendiri.

Kesimpulan

Akuntansi adalah kejadian yang tidak hanya statis. Akuntansi berkembang mengikuti pola
evolusi masyarakat. Sebagaimana yang pernah terjadi, yaitu berkembang dari penyatuan
aspek agama menuju pada upaya pemisahan agama dengan masalah ekonomi, maka akhirnya
terjadi perubahan dari agama menuju ekonomi murni menuju kepda sosio-ekonomi. Ada
enam paradigma yang telah bertarung dalam bidang ekonomi. Keenam paradigma itu adalah

1. Paradigma antropologi/deduktif

2. Paradigma kebenaran pendapatan/deduktif

3. Paradigma agregat-pasar-perilaku

4. Paradigma keputusan model

5. Paradigma individu-pengguna

6. Paradigma ekonomi/informasi

Dengan menggunakan teori filsafat dan sosial,Burrell dan Morgan menjelaskan empat
perbedaan paradigma secara sosiologi dalam bidang akuntans, keeempat paradigma itu
adalah: fungsionalis,intrepretatif,humanis radikal,dan strukturalis radikal. Sementara, ahli lain
melakukan klasifikasi ulang model akuntansi berdasarkan pada suatu perspektif sistem, yaitu
model yang berorientasi pada data,kegunaan keputusan, dan kategori sumber organisasi
dimana akuntansi keuangan nampaknya sebagai data yang dikumpulkan dari suatu organisasi
dn mengubahnya menjadi laporan informasi tertentu yang sesuai dengan lingkungan.

Masing-masing paradigma yang dijelaskan diatas menentukan cara anggota memandang


penelitian,praktek dan pendidikan akuntansi.Tidak ada paradigma yang lebih unggul satu
dengan yang lainnya. Dengan kata lain keberadaan paradigma tersebut didasarkan pada
pengembangan dan interpretsau pemikiran manusia dalam mengkontruksi pengetahuan
akuntansi.