Anda di halaman 1dari 14

Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia.

Istilah "plastik" sendiri digunakan untuk menggambarkan berbagai macam resin atau
polimer dengan karakteristik dan penggunaan yang berbeda. Polimer adalah rantai
molekul panjang, sekelompok unit yang banyak, yang berasal dari bahasa Yunani "poli"
(berarti "banyak") dan "meros" (berarti "bagian" atau "unit"). Istilah “polimer” sering
digunakan sebagai sinonim untuk plastik, tetapi banyak jenis molekul - biologis dan
anorganik - juga polimer.. Sementara semua plastik merupakan polimer, tetapi tidak
semua polimer adalah plastik. Polimer jarang berguna jika berdiri sendiri dan akan lebih
berguna jika diubah atau ditambah dengan aditif (termasuk warna) untuk membentuk
bahan yang bermanfaat. Produk yang dihasilkan umumnya disebut plastik.

Plastik merupakan material yang sangat akrab dalam kehidupan manusia.


Kemajuan teknologi plastik membuat aktivitas produksi plastik terus meningkat. Hampir
setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau bahan dasar. Material plastik
banyak digunakan karena memiliki kelebihan dalam sifatnya yang ringan, transparan,
tahan air, serta harganya relatif murah dan terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik
yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk
kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila
telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan
dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.

Seiring dengan perkembanan teknologi, plastik semakin digemari dan banyak


digunakan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Hal tersebut mengakibatkan jumlah
limbah plastik menjadi terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa
volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun
1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga
dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut
diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai
konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono
(1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga
adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik
menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus
bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat
membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat
berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).

Limbah plastik merupakan material yang sulit diuraikan secara alami, baik oleh
curah hujan dan panas matahari, maupun oleh mikroba tanah. Untuk menguraikan limbah
plastik dibutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna.
Penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi
lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Oleh karena itu,
diperlukannya suatu solusi tepat yang bukan hanya mengurangi penggunaan plastik tetapi
juga dapat menjadikan limbah plastik sebagai sumber daya yang baru jika diolah
kembali. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai beberapa cara pengolahan limbah
plastik :
1. Pengolahan Limbah Plastik dengan cara Air Superkritis
Air pada kondisi superkritis (T= 374 0C dan P > 220 atm) memiliki sifat yang
berbeda dengan air pada kondisi normal atau suhu kamar dan tekanan atmosfer.
Pada kondisi ini, air mampu melarutkan dan mendekomposisi senyawa organik,
termasuk plastik dan gas.
Plastik yang terdekomposisi akan menghasilkan senyawa dasar penyusunnya,
yaitu monomer yang selanjutnya dapat digunakan kembali sebagai bahan baku
plastik dengan kualitas yang sama. Namun, karena memiliki suhu dan tekanan kritis
tinggi, maka sifat air akan berubah menjadi asam dan memiliki daya korosif
terhadap bahan logam reaktornya. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan kajian
lebih lanjut terhadap penerapan air superkritis (ScH2O) pada berbagai penggunaan
industri maupun penanganan berbagai macam limbah.
Ditemukannya air superkritis bermula dari hasil percobaan yang dilakukan
oleh peneliti dari Perancis Baron Charles Cagniard de la Tour, pada tahun 1821.
Setelah itu dilakukan serangkaian penelitian di berbagai perguruan tinggi di dunia
untuk memanfaatkan air superkritis guna mendestruksi bahan berbahaya dan
beracun, termasuk bahan mudah meledak, propelan, dan bahan kimia dari senjata
kimia.
Saat ini, ScH2O mulai dikembangkan untuk reaksi senyawa organik. Beberapa
kelebihan yang dimiliki medium ini antara lain, kemampuan laju reaksinya yang
tinggi, kemampuan mengekstraksi, mendekomposisi, dan menghilangkan polutan
dalam limbah, serta dalam mendekomposisi sampah plastik.
Dalam keadaan suhu dan tekanan tinggi, air superkritis mampu melarutkan
semua senyawa organik, termasuk plastik. Kelarutan senyawa ini sangat tergantung
pada suhu, konstanta dielektrika, dan berat jenisnya.
Upaya untuk mendapatkan kembali senyawa dasar polimer plastik, yaitu
monomer, dilakukan untuk memproduksi plastik kembali dengan kualitas yang
sama melalui proses polimerisasi. Beberapa contoh depolimerisasi adalah PET
menjadi asam terephthalate dab ethylene glycol. Nylon 6 menjadi konstanta
dielektrika caprolactam dan air.
Kelebihan ScH2O sebagai medium untuk depolimerisasi dibandingkan dengan
fluida lain yang dapat digunakan sebagai fluida superkritis antara lain harganya
murah, tidak beracun, serta tidak mudah terbakar dan meledak. Tidak menghasilkan
jelaga atau karbon karena reaksinya dalam sistem tertutup. Reaksi juga dapat
dilakukan tanpa menggunakan bantuan katalis.
Namun, kekurangannya, ScH2O memerlukan suhu dan tekanan kritis yang
lebih tinggi dibandingkan fluida lain. Bandingkan dengan metanol dan toluene yang
memerlukan suhu 239,5 oC dan 318,6 oC serta tekanan 8.10 dan 4.11 Mpa. Di
samping itu, keasaman air akan meningkat pada suhu tinggi, yang ditunjukkan oleh
kenaikan konsentrasi ion hidrogen 30 kali lipat dibandingkan dengan air pada
kondisi normal.

2. Pengolahan Limbah Plastik (Proses Plasma Pyrolysis)


Plasma merupakan keadaan keempat materi setelah padat, cair dan gas. Ini
adalah bagian yang paling aktif dari materi. Panas plasma yang dihasilkan
menggunakan obor plasma dan power supply digunakan untuk pembuangan limbah.
Ada dua jenis plasma busur: transfered arc dan non- transfered arc. Non- transfered
arc untuk sampah organik yang digunakan untuk insulator. Grafit obor plasma
digunakan untuk pembuangan limbah plastik. Pirolisis adalah proses dekomposisi
termal organik di lingkungan sedikit oksigen. Proses plasma dilakukan dalam
sistem pirolisis plasma dan obor plasma dan power supply bekerja pada system

3. Pengolahan Limbah Plastik (Grafit Plasma Obor & Power Supply)

Plasma obor memiliki tiga elektroda grafit (satu anoda dan dua katoda).
Elektroda ini dihubungkan dengan listrik. Busur plasma terbentuk di antara
elektroda. Obor plasma mengubah energi listrik menjadi energi panas. Hal ini
digunakan untuk memanaskan ruang utama. Grafit obor plasma yang menghasilkan
busur non-transfer. Operasi seluruh obor ini dikontrol otomatis untuk
mempertahankan reaksi pirolisis kontinu. Grafit obor plasma terdiri dari sebuah
batang anoda dan dua-batang katoda yang diatur agar katoda dapat nergerak secara
linear dan gerakan angular. Elektroda dipasang pada sudut 90°. Elektroda dirancang
untuk menghasilkan 200A dan tegangan 125 V. Keuntungan utama dengan grafit
plasma obor yaitu elektroda tidak memerlukan pendinginan, sehingga
mengeliminasi kerugian panas. Selain itu, dapat menyerang plasma pada keadaan
tidak adanya aliran gas. Grafit obor plasma menghasilkan busur non-transfer.

Feeder: Feeder memiliki dua pintu pengaturan dan digunakan untuk


memasukkan limbah ke dalam ruang utama.
Ruang utama: ruangan berbentuk persegi panjang terbuat dari baja dan
memiliki lapisan tahan panas untuk mengurangi kehilangan panas. Di ruang utama,
limbah dipirolisis pada suhu tinggi. Di ruang utama suhu tinggi yang dihasilkan
oleh plasma obor mencapai: dekat zona plasma > 1500° C dan dekat dinding
ruangan > 650° C. Setelah pre-heating, limbah dimasukkan ke dalam ruang utama
di mana ia terdekomposisi dalam lingkungan kurang Oksigen. Dalam pirolisis
dihasilkan gas seperti Metana, Karbon Monoksida, Hidrogen.

Scrubber : Scrubber ini menghilangkan sebagian besar partikel jelaga.

Induced draft fan: gas seperti CO2, H2O dilepaskan dengan menggunakan
Induced draft fan.

Gas Generator Set: Dalam Gas Generator Set, gas pirolisis bersih dibakar dan
energi listrik dihasilkan.

Dalam percobaan obor plasma grafit, pengumpan limbah memiliki sistem


hidrolik yang tidak memungkinkan udara masuk ke ruang utama. Uap dibersihkan
dalam pengumpan untuk menghindari kebakaran, yang dapat mengakibatkan CO
atau Hidrogen keluar dari ruang utama. Setelah pembersihan, limbah dialihkan ke
ruang utama di mana busur plasma suhu tinggi (inti) diproduksi menggunakan grafit
obor plasma (suhu zona plasma > 1500º C). Pirolisis di ruang utama menghasilkan
sebagian besar gas CO, H2 dan CH4. Gas pirolisis ini dibawa ke ruang sekunder
kemudian dibakar (dioksidasi), suhu naik sampai 1050° C. Setelah pembakaran gas
(CO2 dan H2O) dialirkan melalui sistem pendinginan scrubber cum di mana larutan
basa pH 12 digunakan untuk pendinginan gas panas (dari 700° C ke <70° C) dan
juga untuk menangkap khlor.
Figure 2: Schematic of Graphite Torch based Plasma Pyrolysis & Energy
RecoverySystem

Senyawa yang paling mungkin terbentuk di Plasma pirolisis dari materi


plastik adalah Metan, Karbon Monoksida, Hidrogen, Karbon Dioksida dan molekul
air. Reaksi yang mungkin berlangsung selama pirolisis polietilen, dijelaskan di
bawah ini:

[-CH2-CH2 -]n + H2O + Heat xCH4 + yH2 + zCO + Soot + higher


hydrocarbon … (i)

Polyethylene

CH4 + H2O CO + 3H2 … (ii)

C + H2O CO + H2 ….(iii)

Dalam kasus pirolisis suhu tinggi, tingkat konversi (dekomposisi limbah


plastik) lebih tinggi, dalam waktu kurang dibebaskan gas pirolisis H2, CO, metan
dan C.

Table 1: Concentration of Gases formed when Polyethylene is pyrolysed


using Graphite Plasma Torch
Fast
Pyrolysis
Gases
Volume
(%)
Hydrogen 41,4
Carbon
15,3
monoxide
Methane 17,7
Carbon
1,6
dioxide
Higher
16,7
Hydrocarbon*
Nitrogen 7,3
*Higher Hydrocarbons present in pyrolysis gases where C2 ~ 75%, C3 &
higher HC ~ 25%.

Kondisi pirolisis plasma seperti lingkungan sedikit oksigen, suhu tinggi di


ruang sekunder, waktu yang cukup untuk pemanasan, meminimalkan sebagian
besar pembentukan senyawa aromatik beracun (dioksin dan furan). Pendinginan gas
panas dari 700° C ke <70° C membatasi reaksi rekombinasi dimana emisi berada
dalam batas yang dapat diterima. Residual gas dilepaskan dengan bantuan induced
draft fan and stack.

4. Pengolahan Limbah Plastik (Energi pemulihan dari Pirolisis Plasma)

Dalam sebuah proyek yang disponsori dari CFEES (DRDO, Delhi), FCIPT
mengeksplor kemungkinan pemulihan energi selama pirolisis limbah plastik dan
kapas dan mempelajari efeknya pada ekonomi dari teknologi pirolisis. Dalam
sistem pemulihan energi ruang utama secara langsung dihubungkan dengan unit
scrubbing. Unit scrubbin ini memiliki fungsi ganda. Mengurangi suhu gas pirolisis,
dan juga membantu dalam menghilangkan partikel jelaga. Gas pendingin ini
kemudian mengalami pembersihan lebih lanjut dengan cara melewatkannya melalui
berbagai filter. Proses pembersihan gas dijelaskan di bawah ini secara rinci. Pada
gambar 3, memperlihatkan tingginya nilai kalori gas yang dihasilkan. Untuk
memulihkan energi, gas untuk scrubbing dan cleaning dibakar dalam mesin
pembakaran internal (IC) dan energi yang dihasilkan karena reaksi pembakaran
digunakan untuk menjalankan generator (untuk menghasilkan listrik).

Figure 3 : Combustion flame of pyrolysis gas at the exhaust

Sebelum memulai percobaan, beberapa perhitungan dilakukan untuk


mengetahui kemungkinan maksimum energi yang dilepaskan dengan cara disosiasi
limbah. Untuk menyederhanakan perhitungan, awal 'limbah yang akan dipirolisis'
diasumsikan sebagai 100% plastik. Dalam kasus 100% plastik, perhitungan
menunjukkan bahwa energi kimia yang dilepaskan akan menjadi 2 sampai 3 kali
lebih banyak daripada energi yang diperlukan untuk pirolisis limbah mentah (raw
waste).

Pirolisis plasma sampah organik menghasilkan gas CO dan H2 sebagai produk


sampingan (byproducts). Energi listrik melalui plasma digunakan untuk melelehkan
plastik, ikatan terdisosiasi (terdegradasi) dan dalam reaksi endotermik. Pembakaran
gas CO dan H2 dilakukan di generator, reaksi berlangsung secara eksotermik, di
mana energi dilepaskan.

CO + 1/2O2 CO2 H = -67.63 Kcal


(iv)

H2 + 1/2O2 H 2O H = -57.82 Kcal (v)

CH4 + O2 CO2 + 2H2O H = -212.22 Kcal (vi)


Telah diamati pada 12-15 Kg/jam sistem pirolisis plasma FCIPT, bahwa
pirolisis dari 1 kg Polyethylene membutuhkan energi sekitar 1.720 Kcal yang setara
dengan 2 kWhr energi listrik.

Gas pirolisis yang dingin dan bersih dikumpulkan dalam tangki penyangga.
Bahan bakar gas dipasok ke Gas-Generator melalui tangki penyangga ini. Gas
pirolosis yang bersih dan dingin ini dibakar di Gas-Gen yang diatur dengan
kecepatan 1500 rpm. Gas-Generator digabungkan dengan alternator untuk
menghasilkan tenaga listrik 50 Hz. Daya sistem dari 15 kg/jam akan setara dengan
15 kW.

5. Pengolahan Limbah Plastik (Metode Recycle)

Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik


seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan
mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat
dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di
Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah
dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat
yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian
kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan
produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan


oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik
dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu
sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak
terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah
tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana,
yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan
sebagainya (Sasse et al.,1995).
Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di
Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan
secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat
dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga
pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya
tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di
Indonesia (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang


plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat
diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran
dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie,
2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di
pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena
(PP), dan asoi.

Plastik Kode & Tips Membuang Sampah Plastik Yang Aman

Polyethylene Terephthalate (PET, PETE)

PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya dipergunakan sebagai botol


minuman (air mineral, jus, soft drink, minuman olah raga) tetapi tidak untuk air
hangat atau panas. Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihkan dan didaur ulang
dapat digunakan untuk membuat serat benang karpet, fiberfill, dan geotextile.
Nickname: Polyester.

High Density Polyethylene (HDPE).


HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai macam tipe botol. Botol-
botol yang tidak diberi pigmen bersifat tembus cahaya, kaku, dan cocok untuk
mengemas produk yang memiliki umur pendek seperti susu. Karena HDPE
memiliki ketahan kimiawi yang bagus, plastik tipe ini dapat digunakan untuk
mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur ulangnya dapat digunakan sebagai
kemasan produk non-pangan seperti shampo, kondisioner, pipa, ember, dll.

Polyvinyl Chloride (PVC)

Memiliki karakter fisik yang stabil dan tahan terhadap bahan kimia, pengaruh
cuaca, aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini paling sulit untuk didaur ulang dan biasa
digunakan untuk pipa dan kontruksi bangunan.

Low Density Polyethylene (LDPE)

Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek (madu,
mustard). Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk
barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan kode
inibisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

Polypropylene (PP)

PP memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia, kuat, dan meiliki
titik leleh yang tinggi sehingga cocok untuk produk yang berhubungan dengan
makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, tempat
obat dan botol minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang menjadi casing baterai,
sapu, sikat, dll.

Polystyrene (PS)

PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum


sekali pakai, tempat CD, karton tempat telor, dll. Pemakaian bahan ini sangat
dihindari untuk mengemas makanan karena bahan styrine dapat masuk ke dalam
makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak
dan sistem syaraf manusia. Bahan ini dibanyak negara bagian di Amerika sudah
melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara cina.

Other

Plastik yang menggunakan kode ini terbuat dari resin yang tidak termasuk
enam golongan yang lainnya, atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan
digunakan dalam kombinasi multi-layer.

Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks

Di Indonesia, plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali


sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur
ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di
Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon
sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang
dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena
ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di Indonesia
masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan komposit
kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder
sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan
pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan
plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam
pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan
partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang
tinggi dibandingkan dengan papan partikel konvensional. Penelitian plastik daur
ulang sebagai matriks komposit kayu plastik dilakukan Setyawati (2003) dan
Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik polipropilena daur ulang. Dalam
pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa polimer termoplastik dapat
digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan
dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200°C).

Jenis-Jenis Plastik Daur Ulang

(i) Degradable plastik

Sejumlah pengecer Inggris baru-baru ini diperkenalkan degradable carrier


bags. Tas ini terbuat dari plastik yang mendegradasi kondisi tertentu atau setelah
jangka waktu yang telah ditentukan. Ada dua jenis plastik degradable: bio-
degradable plastik, yang berisi persentase kecil berbasis minyak non materi, seperti
pati jagung dan photodegradable plastik, yang akan rusak bila terkena sinar
matahari.

Plastik degradable sudah digunakan dengan sukses di Austria dan Swedia, di


mana McDonald telah menggunakan bio-degradable peralatan makan selama tiga
tahun. Hal ini memungkinkan semua limbah katering untuk menjadi kompos tanpa
pemisahan. Tempat untuk bungkus kaleng bir saat ini dibuat di plastik yang foto-
degradasi dalam enam minggu. Ada juga potensi untuk menggunakan plastik seperti
kemasan non-aplikasi seperti komputer atau komponen mobil.
Ada sejumlah kekhawatiran atas penggunaan plastik degradable. Pertama,
plastik ini hanya akan menurunkan jika dibuang ke dalam kondisi yang sesuai.
Sebagai contoh, sebuah produk plastik photodegradable tidak akan menurunkan jika
dipendam di lokasi tempat pembuangan sampah di mana tidak ada cahaya. Kedua,
mereka dapat menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca metana, seperti
metana yang dilepaskan ketika bahan biodegrade anaerobik. Ketiga, campuran
degradable dan non-degradable plastik plastik mungkin menyulitkan sistem
penyortiran. Penggunaan bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan peningkatan
limbah dan sampah plastik jika orang percaya bahwa plastik dibuang hanya akan
menghilang dengan mudah.

(ii) Bio-plastik

Sejumlah produsen telah mengeksplorasi alternatif untuk plastik terbuat dari


non-terbarukan-bahan bakar fosil. Alternatif semacam 'bio-plastik' termasuk
polimer terbuat dari gula dan plastik tanaman tumbuh di dalam rekayasa genetika
tanaman atau mikro-organisme.

Dari segi kesehatan dan keselamatan telah muncul kekhawatiran atas


tambahan bahan kimia berbahaya untuk plastik dan tekanan konsumen telah
berkontribusi agar para produsen beralih ke manufaktur berbasis plastik dalam
kasus seperti itu. Sebagai contoh, produsen mainanterbesar di dunia Mattel
mengumumkan pada tahun 1999 yang PVC akan digantikan dengan plastik berbasis
pabrik-produk baru dari tahun 2001 dan seterusnya. Berbagai perusahaan lain,
termasuk LEGO, IKEA, Nike dan The Bodyshop telah membuat janji serupa.