Anda di halaman 1dari 2

Menhut Keluarkan Surat Kebijakan, 4.

100 Karyawan
Intracawood Resah
Laporan:

Para pekerja PT Intracawood Mfg (IM), di Tarakan, Kalimantan Timur, dilanda


keresahan berkaitan dengan surat Menhut No 325/Menhut-1/2003, 23 Mei 2003.
Soalnya kelangsungan hidup 4.100 karyawan PT IM dengan 12.000 a
Jakarta, Pelita

Para pekerja PT Intracawood Mfg (IM), di Tarakan, Kalimantan Timur, dilanda


keresahan berkaitan dengan surat Menhut No 325/Menhut-1/2003, 23 Mei 2003.
Soalnya kelangsungan hidup 4.100 karyawan PT IM dengan 12.000 anggota keluarga
kini ibarat telur di ujung tanduk. Padahal saat ini mencari pekerjaan lain makin sulit.

"Kami mohon Menteri Kehutanan meninjau kembali kebijakannya tersebut.


Bagaimana Pak Menhut, masa depan kami dan sekolah anak-anak kami," ucap Zeth
T Rantesalu, Ketua Serikat Pekerja Kahut didampingi Setijobudi, Ketua PK Hukatan
SBSI, dan Ahmad Sadik, Ketua SP Kahutindo, kemarin. Ketiganya mewakili suara
para pekerja di perusahaan itu.

Sehubungan dengan keresahan karyawan itu, Koordinator Gowa (Government


Watch) Farid Faqih dan sejumlah anggota DPR-RI antara lain Djafar Sidik, Faisal
Baasyir, Alvin Lie, dan Herman Rekso Ageng, Senin (4/8) menyoroti kebijakan
Menteri Kehutanan (Menhut) Prakoso yang mengeluarkan surat No 325/Menhut-
1/2003 tanggal 23 Mei 2003 tentang penghentian kegiatan operasional areal kerja
perusahaan itu.

Kebijakan tersebut dipandang aneh, karena PT IM merupakan perusahaan yang


sehat. Seperti diketahui, untuk tingkat Asia Pasifik tidak lebih dari 2 persen dari total
area hutan yang memperoleh Sertifikat Ekolabel dan untuk tingkat dunia pun baru
PT IM merupakan unit manajemen terluas (di atas 100.000 hektar) yang mampu
mengelola hutan alam tropis basah secara lestari dengan standar FSC (Forest
Steward Council), suatu badan sertifikasi independen yang diakui dan diterima
dunia.

Tinjau kembali

Bahkan Menakertrans Jacob Nuwa Wea dalam surat No 605. KU.01.19.2003 yang
ditujukan kepada Menhut mengakui bahwa hal tersebut bukti PT IM mempunyai
komitmen tinggi melestarikan hutan. "PT Intracawood Mfg merupakan aset nasional
karena menciptakan nama baik bangsa," demikian salah satu isi surat tersebut.
Untuk itu Jacob Nuwa Wea menyarankan Menhut meninjau kembali kebijaksanaan
penghentian kegiatan PT Intracawood, Kalimantan Timur dan mencari jalan keluar
terbaik bagi semua pihak.
Alvin Lie berpendapat, karyawan sering berada dalam posisi sulit bila perusahaan
tempat mereka bekerja dihadapkan persoalan besar. Untuk itu dalam masalah ini
sebaiknya dicarikan jalan keluar, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Herman Rekso Ageng juga menyatakan hal senada dengan Alvin Lie.

Menurut dia, untuk mencapai jalan terbaik harus lebih dulu dirundingkan dan
mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada.

Sebelumnya anggota DPR Faisal Baasyir berpendapat, secara umum para menteri
teknis saat ini memang sering bertindak inefisien dalam mengelola berbagai sumber
yang berpotensi bagi pemasukan negara.

Sedang anggota DPR lainnya, Djafar Sidik memperingatkan, hasil hutan Indonesia
yang sangat kaya jangan sampai kehilangan pasar internasional hanya gara-gara
tidak adanya sertifikat ekolabel (pelabelan produk yang memenuhi standar
lingkungan). PT IM sendiri merupakan perusahaan yang memiliki Sertifikat Ekolabel
dan memenuhi standar internasional. "Jangan sampai kita kehilangan pasar
internasional, karena devisa nasional bisa merosot. Kita harus mengelola hutan
secara serius, jangan hantam kromo. Caranya harus baik, antara lain dengan
memperoleh seritifkat ekolabel," katanya.

Sedangkan Farid Faqih khawatir di balik berbagai kebijakan menteri terhadap para
pengusaha terkandung muatan kepentingan politik. Malah dia cemas terhadap
kemungkinan adanya upaya pengumpulan dana yang dilakukan para menteri
menjelang pemilu melalui cara-cara tidak terpuji. Namun dia berharap hal seperti ini
tidak terjadi. "Dugaan adanya pengumpulan dana yang dilakukan para menteri di
kabinet seharusnya tetap tidak boleh, karena hal itu jelas melanggar," tegasnya.

Menurut rencana areal PT IM akan ditetapkan menjadi Kawasan Hutan dengan


Tujuan Khusus. Dalam Pasal 6 ayat 1 Undang-undang No 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan, dinyatakan hutan punya tiga fungsi, yaitu fungsi konservasi, fungsi
lindung dan fungsi produksi.

Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok yaitu hutan konservasi,


hutan lindung, dan hutan produksi. Pada Pasal 8 ayat 3 ditandaskan bahwa Kawasan
Hutan dengan Tujuan Khusus sebagaimana dimaksud ayat 1, tidak mengubah fungsi
pokok kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, yakni fungsi produksi.
Lebih jauh pada Bab III Pasal 10 ayat 1 ditegaskan kepengurusan hutan bertujuan
untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya serta serbaguna dan lestari
untuk kemakmuran rakyat.

Pasal 19 ayat 2 menggariskan bahwa perubahan peruntukan kawasan hutan


sebagaimana dimaksud ayat 1 yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta
bernilai strategis ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan DPR.

Menurut ketentuan ini masalah PT IM adalah contoh menarik untuk dicermati


berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengurus masalah kehutanan
nasional.(be)

Sumber: http://203.130.198.30//artikel/17207.shtml