Anda di halaman 1dari 22

Karya Taufiq Ismail genre syair munasibat (occasional poetry), sarat nilai religius.

Dalam
perspektif religiositas sastra ini menempatkan karyanya pada posisi signifikan dalam khazanah
kesusasteraan bagian dari al-fann al-islami (ϲϣϼγϷ΍ Ϧϔϟ΍/ seni Islam). Religositas sastranya
memamsuki dimensi profetik yang sufistik, mengandung majmu¶atun min al-mau¶izhah wa l-
hikmah wa l-irsyad (sekumpulan nilai pengajaran yang indah, hikmah dan panduan ke arah jalan
yang benar).

Abstrak

Keagungan sastra Taufik terletak pada pengisian bahasa naratif dengan pengalaman religius yang
cukup kaya melampaui derjat diskriptifnya terhadap fenomena. Nilai Islami pada puisinya tidak
terletak pada kata-kata simbol Islam, tetapi keagungannya terletak pada makna ajaran dan
keindahan narasi, ada banyak di dalamnya hikmah dan isyarat-isyarat pemahaman ke-
Indonesiaan dan ke-Islaman yang benar. Dari perspektif kedalaman Taufik menyelami peristiwa
akmbn (aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara) untuk bahasa politik dan diskripsinya
dalam narasi diisi makna religiositas sastra yang dalam pada puisinya menempatkan Taufiq pada
posisi penyair Islam terbesar di awal abad ke-21 ini.

Pendahuluan
Tak dapat dipungkiri Taufiq Ismail sebagai ³seorang penyair´ menempati status (kedudukan)
terpandang dalam sejarah kesusasteraan Islam Indonesia modern. Karya sastranya diklasifikasi
refrensi dan bergegsi ditempatkan pada etalase refrensi khazanah Kesusasteraan Islam tepenting.
Di antara alasannya dari perspektif perkembangan kesusasteraan Islam di Indonesia karya sastra
Taufiq khusus genre syair munasibat (occasional poetry) menunjukkan ciri spasifik dibanding
sastra kitab dan syair yang digubah para ulama tradisional ahli metafisik yang sufistik dan
intelektual yang menyair puisi profetik lainnya di abad ini.
Dalam tradisi bersastra khusus genre puisi, nilai Islami yang ditawarkan Taufiq berbasis
pengalaman religius yang kaya sejak kecil. Ia tidak serta merta menggunakan bahasa ramziyah (/
Δϳΰϣέsymbol) Islam dan tidak pula memasang title dan thema Islami namun sarat dengan makna
Islami. Dipastikan Taufiq mempunyai cara berbahasa yang khas. Kalau Dr.Thaha Mahmud
Thaha (1966) menyebut sastra agung itu hanya pada bahasa yang sarat makna melampaui derjat
yang jauh, maka keagungan sastra Taufik terletak pada cara menggunakan bahasa dalam
mendiskripsi, menceritakan fenomena dominan politik dan mengisinya dengan pengalaman
religius.
Puisi Taufiq menunjukan corak tersendiri dalam menyikat esensi kehidupan politik. Ia
menuangkan shurah (ΓέϮλ/ imajinasi), athifah (ΔϔσΎϋ /perasaan(, fikrah (ΓήϜϓ/ide( dan
pengalamannya dapat membuai penikmat sastra bahkan membawa lebih jauh masuk ke dalam
dirinya seolah telah berada dalam peristiwa politik mulai sejak orde lama, orde baru dan era
reformasi. Kalau tidak ada ditemukan berita tentang masa lalu itu, rasanya puisi Taufiq cukup
mewakili mewartakan masa lalu yang tak kering dengan esensi politik.
Mengenai bentuk puisi politik Taufik ini juga dicatat Aguk Irawan Mn (Sinar Harapan, 2004),
katanya ³dalam bersastra, karya Taufik memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan
politik. Bahkan Taufik sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan
hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer,
B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufik sebagai
sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan
berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik´. Namun keagungan sastra puisi politik
Taufiq itu di sana sini penuh dengan esensi penyadaran kepada nilai-nilai Islami. Dimungkinkan
nilai Islami yang dimunculkan Taufiq dalam puisinya dapat sebagai kontrol dalam hiruk pikuk
kehidupan yang nyaris dipanglimai oleh politik.
Nilai sastra Islami yang dimaksud mengutip M.Quthub (dalam Yulizal, 1999) adalah kombinasi
nilai pengajaran yang indah (mau¶izhah/ ΔψϋϮϣ), hikmah (ΔϤϜΣ) dan arah yang lurus menuju
kebenaran atau irsyadah (ΓΩΎηέ΍). Seni sastra Islam itu seperti menyaratkan 3ka yakni estetika,
erotika dan etika. Kalau estetika saja bisa terjebak l¶art for l¶art atau fann li fann ( Ϧϔϟ Ϧϓ/ seni
untuk seni ), demikian pula kalau hanya estetika dan eritika saja tanpa etika bisa terjerembab
kepada fornografi, artinya etika atau akhlak dalam bersastra merupakan kontrol tersosialisasinya
mau¶izhah, hikmah dan irsyadah dalam puisi politik Taufiq. Pemikiran ini dapat digambarkan
sbb.:
Dalam event Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia, saya seperti teman-teman kritikus
sastra lainnya diminta mempresentasikan makalah membahas ³Karya-karya Taufiq Ismail dalam
Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia´ pada seminar di Studio TVRI
Sumatera Barat Padang, siaran langsung jam 17.00-18.30 wib, 28 Mei 2008.
Dalam presentasi ini saya membatasi diri, melihat karya sastra Taufiq Ismail genre puisi dan
posisinya yang signifikan dalam khazanah kesusasteraan Islam serta perubahannya dalam
dimensi perkembangan kesusasteraan Islam di Indonesia bersamaan dengan pilar sejarah bangsa
(orde lama, orde baru, dan era reformasi). Melihat posisi syair Taufiq dalam khazanah
kesesusastraan Islam dimungkinkan mempersandingkannya dengan puisi yang digubah para
ulama dahulu dan intelektual Islam yang menyair di abad-abad modern ini. Melihat bentuk puisi
Taufiq dalam perkembanbangan kesusasteraan Islam di Indonesia, dapat dimunculkan dalam
bentuk perubahannya dalam lima setengah dasawarsa.

Ulama dan Taufiq Ismail dalam Khazanah Kesusastraan Islam


Menarik memperhatikan proses kreativitas Taufik Ismail kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat,
25 Juni 1935 dan selama 55 tahun dalam sastra Indonesia dan sudah cukup banyak mengantongi
penghargaan sastra tingkat nasional dan internasional. Ia melahirkan karya sastra yang tak bisa
dilewatkan begitu saja oleh analis sastra, mahasiswa sastra Islam dan penikmat sastra lainnya.
Justeru karya sastra Taufiq genre puisi peristiwa, posisinya amat signifikan dalam khazanah
kesusasteraan Islam. Dari perspektif puisi peristiwa dengan elegi Taufiq kalau tidak melebihi,
setara dengan rasa` (˯ΎΛέ) penyair besar Arab Adonis (lahir 1930) dewasa ini.
Kepenyairan dan syair-syair Taufiq ini selama proses kreativitasnya sejak 55 tahun lalu sampai
era reformasi Indonesia ini, dalam perspektif historis sastra di Indonesia mengingatkan kita
kepada tradisi kepenyairan tokoh agama menulis syair yang sangat-sangat washfiyah (Δϴϔλϭ -
diskriptif) memotret dan menarasikan fenomena dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan
negara. Dahulu seperti ditemukan pada sejarah ulama di daerah kelahiran Taufiq sendiri
Minangkabau (Sumatera Barat), ulama banyak menulis sastra kitab termasuk syair bernafaskan
Islam. Kelebihan karya sastra mereka -- genre syair (puisi)-- di samping mengajarkan Islam
dengan cara bersastra, juga intens menggerakkan sosialisasi nilai sub kultur Minangkabau ± adat
basandi syara', syara' basandi Kitabullah² dan sangat profetik. Sampai awal reformasi Taufiq
juga menawarkan genre syair yang sarat dengan nilai Islami. Antara ulama dan Taufiq dapat
digambarkan sbb.:

Nilai Islam yang ditawarkan Taufiq dalam bentuk sikap tidak menyukai budaya al-khadzb (ΏάϜϟ΍
/dusta) dan fenomena hilangnya budi pekerti mulia (al-akhlaq al-mahmudah/ ΓΩϮϤΤϤϟ΍ ϕϼΧϷ΍ ) di
bawah payung (tema) iklim budaya politik tak menentu di tanah airnya, lihat baitnya dalam
³Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia´ (1998) yang mirip syair hija` (˯ΎΠϫ) Arab sbb.:

³«ada pula pembantahan terang-terangan


yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
«
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak«´

Demikian pada kepenyairan Taufiq Ismail tidak dapat diabaikan, seperti karya sastra para ulama
itu, deras menghembuskan semangat "profetik", yakni kombinasi nilai dimensi sosial dan
dimensi transendental. Namun Taufiq memperlihatkan ciri spasifik dalam kepenyairannya, di
antaranya dalam menyair kedalaman makna bahasa sudah menjadi pertimbangan dalam
mendiskripsi fenomena. Lihatlah berangkat dari fenomena bangsa ini betapa Taufiq amat dalam
memberi penyadaran makna kalimat ³ lailahaillallah ± Ϳ΍ϻ· Ϫϟ·ϻ´ dalam kaitan berbagai musibah
meski tidak memakai symbol kata itu dalam syairnya "Ketika Burung Merpati Sore Melayang"
(1998) berikut ini:

Ada burung merpati sore melayang


Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Nafas sastra profetik (memakai istilah Kuntowijoyo) seperti ini sebenarnya sudah sejak lama
merupakan akar budaya nusantara lalu tenggelam. Sekarang muncul lagi dalam bentuk baru dan
menjadi ciri post modern. Dalam corak baru sendiri sastra profetik ini dimunculkan Taufiq
Ismail seperti penyair Islam lainnya di Indonesia. Kenapa karya sastara ulama menaruh nilai
Islami yang tinggi dan sangat profetik sufistik?. Justeru para penggubahnya ialah para ulama ahli
"metafisik" Islam dan mendalami metafisik Islam. Dalam lintasan kepengarangan sastra dan
ulama, sejak lama telah melahirkan dan memunculkan tokoh, sebutlah seperti Jalaluddin Rumi,
Fariduddin Attar, lbnu 'Arabi, Abu 'Athahiyah, Maarri, Ibnu 'Atha, lqbal, juga ulama Indonesia
Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Chatib Ali Al-Padani, Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi
(Syeikh Bayang), Sulaiman Arrasuli (Inyiak Candung) dll. Mereka ialah ulama sufi yang dekat
dengan tradisi bersastra, merupakan sumber ilham bagi ulama lainnya menghubungkan tradisi
beragama dengan tradisi bersastra.
Fenomena tadi pun dicatat Abdul Hadi (1985:vi dalam Yulizal, 1999) bahwa ulama dapat
menghubungkan tradisi keagamaan dengan tradisi bersastra. Hal itu dimungkinkan karena karya
sastra ulama memancarkan kesahduan sufistik bahkan mencerminkan "higher sufistik". Ada
kesadaran yang tinggi, sastra itu mempunyai nilai keindahan (ϝΎϤΟ /estetik) dan berpotensi
sebagai canel (wasilah/ ΔϠϴγϭ) mencapai Tuhan.
Keindahan yang ada pada manusia adalah tiruan dari masternya Tuhan. Mengacu teori mimetic
Plato dan Aristoteles, bahwa seni yang kaya dengan keindahan adalah mimesis/ muhakah (ΓΎϛΎΤϣ
/mimetik, tiruan) dari kenyataan sehari-hari. Kenyataan dan kehidupan sehari-hari merupakan
tiruan pula dari kenyataan tertinggi yang disebut dunia ide dan gagasan, sepenuhnya berada di
tangan Tuhan. Artinya, alam ide yang merupakan kenyataan tertinggi di tangan Tuhan itu adalah
master, sedangkan kenyataan sehari-hari adalah gandaanya. Dimisalkan manusia membuat kursi
yang merupakan salah satu perwujudan seni rupa wujud pahat, adalah tiruan dari masternya, di
mana Allah swt. punya Al-'arsyistawa/ tempat bersemayam-Nya (QS 20:5). Pan¬dangan tentang
dunia ide/ gagasan tertinggi yang dianut Aristoteles berbeda dengan Plato. Aristoteles melihat,
keindahan dalam karya seni bukan sekedar mimetik (tiruan) seperti yang dianut Plato, tetapi
adalah kemampuan pesona yang dapat dikembangkan untuk memperluas cakrawala dan
khazanah manusia melebihi kenyataan sehari-hari. Tetapi kedua tokoh ini menempatkan seni di
atas dari fenomena kenyataan sehari-hari dan keindahan merupakan esensi seni termasuk sastra.
Keindahan dalam karya sastra menurut Plato, mengacu kepada dunia ide. Dunia ide mengacu
sifat Ilahi (Tuhan). Berarti keindahan mengacu kepada keindahan Tuhan. Pandangan ini sejalan
dengan Muhammad Quthub (1973:7 dalam Yulizal, 1999), menyebut keindahan itu adalah
"hakikat al-kaun" (ϥϮϜϟ΍ ΔϘϴϘΣ/kenyataan/ realita alam) dan puncak keindahan itu adalah al-haq
(ϖΤϟ΍ /kebenaran). Berarti keindahan adalah ide, lahir dari akal yang jernih. Kebenaran adalah
sesuatu yang dapat diterima akal dan logis secara mutlak dimiliki oleh Tuhan. Karena itu pula
keindahan dan kebenaran merupakan unsur penting dalam seni, yang tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan unsurnya yang lain. Keindahan dimaksud adalah indah yang menaruh
kebenaran, tetapi sesuatu yang indah tidak menaruh nilai kebenaran tidaklah dapat digolongkan
dengan keindahan dari perspektif seni Islam. Karena itu pula Bahauddin Al- Amiry (1982)
beralasan mengatakan, bahwa al-haq (kebenaran) merupakan unsur penting dalam karya seni
yang dicontohkan dalam karya seni jenis sastra genre syair.
Kalau ada budayawan atau da¶i yang menolak hubungan seni dengan Islam dan Tuhan, tentulah
dapat dipahami, bahwa prinsip mereka berangkat dari sisi pandangan relatifitas dan mungkin
beraliran l¶art for l¶art. Mungkin mereka berangapan, keindahan secara mutlak berada di tangan
Tuhan, sedang¬kan keindahan yang ada pada alam termasuk manusia, keindahan itu relatif
bagian terkecil (dari kemahaindahan Tuhan) dan boleh lagi dintervensi agama dan etika. Islam
adalah agama besar yang diredhai. Mereka menganggap Islam itu hanya berhubungan dengan
Tuhan. Di dalam beribadat sebegitu jauh mereka tidak melihat ada hubungannya dengan seni.
Shalat misalnya tidaklah diperlukan musik pengiring, tetapi yang diperlukan intens atau apa yang
disebut istilah khusyuk.
Di dalam Islam mende¬katkan hubungan dengan Allah memerlukan keindahan sebagai unsur
penting dalam seni, karena Allah itu Maha Indah (Jamil/ ϞϴϤΟ). Ulama membangun istana indah
di kalbunya terekspresi dalam tutur kata yang indah seperti doa dan syair sebagai ekspresi
keindahan untuk mencari Tuhan Yang Maha Indah seperti juga lewat tariqat yang dianut dan
dibelanya.
Sebelum Islam datang, manusia telah mempunyai kekayaan budaya juga. Kedatangan Islam pun
tidak meniadakan kebudayan yang ada, tetapi memberikan perubahan, inovasi, rehabilitasi dan
sebagainya. Yang tidak baik diperbaiki dan yang baik direkayasa dan disarati dengan nilai yang
diredhai (Islami). Karena itu pula kebudayaan, khususnya seni dengan esensi keindahannya
merupakan refleksi (pantulan) Islam dalam aspek kebudayaan. Islam menjadi sumber
kebudayaan, khususnya seni dengan esensi keindahan. Akidah dan seni bertemu dalam jiwa
muslim yang intens. Karena kata Muhammad Quthub, tashauwur Islami (ϲϣϼγ· έϮμΗ
/penci¬traan Islam) dalam seni dimulai dari hakikat ilahiyah (ΔϴϬϟ· ΔϘϴϘΣ) yang kemudian
melahirkan segala wujud. Kemudian bersamaan lahirnya wujud itu, muncul bermacam-macam
bentuk gambar dan puspa warna dari wajud yang ada dan ekspresi indah melalui kata-kata
kemudian menjadi sastra. Ini merupakan 'inayah (ΔϳΎϨϋ) secara khusus kepada manusia sebagai
khalifah Allah di bumi. Allah memberikan lapangan yang luas dalam seni termasuk gambar
sebagai seni rupa yang indah. Semua itu kembali kepada semua wajud yang ada. Wajud yang ada
itu kembali kepada hakikat ilahiyah. Karena hakikat ilahiyah itulah masternya dan gan¬daanya
harus kembali pada master.
Ternyata amat diperlukan penghayatan estetik yang dalam mencapai dimensi transendental.
Karya seni yang jauh dari keindahan transendental, disertai pula lemahnya akidah, pengetahuan
agama dan pengalaman religius yang rendah, maka pada giliranya seniman dalam berimajinasi
dalam menuangkan ide dan pengalaman estetiknya sering terperangkap dalam suatu dilematik.
Agaknya persoalan ini yang menimpa "Langit Makin Mendung" Ki Panji Kusmin yang
memenjarakan HB.Yasin dan mengundang Hamka dan Bahrum Rangkuti berpolemik a lot.
Hamka dan Bahrum pun diserang. Aksi menyerang ulama pengarang seperti Hamka sudah
berlangsung sebenarnya tahun 1962 sebelum lahirnya Manifes Kebudayaan ditandai lahirnya
Lembaran Kebudayaan Lentera Surat Kabar Bintang Timur pimpinan Pram, tahun 1962.
Berbeda dengan Najib Mahfuzh sastrawan Mesir yang meraih hadiah Nobel 1988 lalu,
berimajinasi jernih dilandasi akidah yang kuat meski dalam saat tertentu di negerinya
dimarjinalkan juga karena dicap `ilmaniyah (ΔϴϧΎϤϠϋ/sekuler). Dalam ceritanya Masjid di Lorong
Sempit, ia seperti menempatkan iman yang kuat di atas segala-galanya dalam karya sastra. Ia
menarasikan seorang pelacur yang punya setetes iman ³bila masuk masjid aman´, tapi benar-
benar diimaninya, dapat menyelamatkan dirinya di dalam masjid, dibanding seorang pimpinan
mesjid Abd.Rabuh (imam dan da¶i) yang tidak ikhlas dan imannya rapuh, mati dalam keadaan
marah pasca pidatonya yang berapi-api mengusir mengusir pelacur yang terpaksa masuk masjid
untuk berlindung dari ancaman bombardier pesawat tempur. Pelacur tetap tenang dan aman
dalam masjid, karena ia yakin siapa yang masuk masjid aman, sementara iman karena jijik
dengan pelacur disebutnya haram di gang sempit itu, ia lari ke luar masjid dan langsung
disambar serpihan bom dan mati.
Esensi akidah dalam sastra, panjang lebar pernah saya urai dalam buku ³Sastra Islam di
Indonesia (1999)´. Dijelaskan ketika seniman melakukan proses kreatifitas dan akidah imannya
rapuh, maka lahirlah karya seni (rupa, gerak, suara/ sastra) yang bisa terperosot kedalam fiqh al-
batin (kode prilaku) menodai Tuhan.Terkadang agamanya terjual karena "nawaitu" yang kurang
baik, dalam merebut fasilitas dari para pihak yang mungkin zalim. Dalam keadaaan seperti ini
tidak lagi dapat dimasukan ke dalam seni dan keindahan yang bersumber dari Tuhan, bahkan
justru membahayakan akidah dan agama. Kalau membahayakan akidah tentu dilarang dan
banyak ulama mengharamkan. Karena seni seperti itu boleh digo¬longkan kepada "lagha"
(perkataan sia-sia). Di dalam paham awam perbuatan seperti itu adalah prilaku jahil dan Islam
menganjurkan sebaiknya ditinggalkan (QS AL Qashah:55). Untuk contoh kasus ini misalnya
seorang penyanyi, yang nyanyinya berlainan dengan perbuatannya maka hasil yang diperolehnya
diharamkan oleh Nabi Muhammad saw (Nailul Authar VIII:100), karena dipahami pebagai
perbuatan nifaq (kemunafikan) dan penyanyinya digolongkan munafik.
Perinsip Islam kokoh dalam akidah dan syari'atnya, memadukuatkan kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat, dalam arti profetik kokoh memadukan nilai dimensi sosial yang provan dan
dimen¬si transedental memperjelas arah religiositas. Ulama pengarang seperti juga Taufiq
memiliki kesadaran profetik yang cukup luas. Bait ulama misalnya lihatlah "NTS" (Nazam
Thalub Al-Shalah) Muhammad Dalil Bin Muhammad Fatawi sbb:

Orang meninggalkan sembahyang tiap hari


Di atas dunia disiksa ilahi
Sepuluh perkara siksanya diberi
««
Sempurna wudhu' baik sembahyangnya
Apabila mati diterima amalnya
Di dalam kubur lelapnya senang

Taufiq dalam penyadaran ibadatnya mempunya syair ³Sajadah Panjang´, lihat baitnya yang
dipopulerkan group musik Bimbo ssb:
«.
===
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi
=====
Reff:
mencari rejeki, mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba
======
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan ruku¶
hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat DIKAU sepenuhnya

Dari bait tadi penyair bagaikan penyampai ajaran Nabi. Lihat pula penyadaran religius dalam
bait-bait Jalaluddin Rummi sebagi berikut:

««
Lakukanlah pekerjaan dari diri ke dalam diri
Karma dengan perjalanan semacam itulah
bumi akan menjadi tambang emas
««.

Lain pula penyampaian pengalaman religius lqbal dalam baitnya berikut:


Apa arti hari-hari dan malam-malam mu
Jika bukan pekerjaan waktu tanpa siang dan malam
«
Kau adalah karya manusia yang beroleh rahmat Tuhan
O.. masjid kurtubah, keberadaanmu berasal dari cinta
Umat Islam takkan sirna sebab ia punya ajaran kekal

Terasa sekali pengalaman religius penyair dan ulama penyair mempunyai esensi higher sufisme
yang sangat profetik. Ahli metafisika muslim biasa menulis sajak. Seorang sufi sebenarnya dapat
menjadi seorang seniman yang terpikat oleh keindahan (Rusli Marzuki Saria 1988:6 dalam
Yulizal, 1999). Fenomena syair Indonesia yang memancarkan kesyahduan nilai Islami dan tak
mengabaikan sufistik sampai sekarang di Indonesia merupakan trend baru dalam perkembangan
sastra modern di Indonesia era post-modernism.

Posisi Taufiq dalam Perkembangan Sastra Islam di Indonesia


Sastra Islam di Indonesia, diperkirakan telah ada sejak ma¬suknya Islam ke Indonesia. Abad ke
7 (sekitar tahun 669). Fakta social historis ada disebut-sebut kerajaan Islam di Sabak (kerajaan
Islam di Timur Minangkabau) ketika itu diperintah Sri Maharaja Lokita Warman, telah didatang
ekspedisi Daulat Umaiyah dengan 28 kapal. Di Sabak ini ekspedisi Umaiyah mulai
membebaskan rakyat dari buta huruf, bersama raja yang berhasil di-Islam-kan, ialah dengan
mencanangkan wajib pandai baca tulis huruf Arab, yang kemu¬dian dikenal dengan "Arab
Melayu".
Salah satu bukti sastra telah berkembang bersama masuknya Islam adalah terdapat indikasi,
bahwa Islam itu mudah dan merasuk ke kalbu masyarakat. Para pembawa Islam ketanah air
mengajarkan Islam tidak dengan kekerasan, tidak dengan pidato berapi-api
mengambinghitamkan para pihak yang belum menunjukkan keislamannya dengan benar, tetapi
melalui sentuhan bathin, komunikasi sambung rasa dan perasaan estetik membawa penganut
lebih jauh masuk kesubstansi Islam. Artinya dakwah dilakukan tidak dengan kekerasan tetapi
dengan komunikasi sambung rasa, yakni komunikasi estetika seni. Banyak para muballigh dalam
menyiarkan Islam mengunakan bahasa sastra (Drs. Amron Parkamin dkk, 1973, 2:68). Tidak
sedikit cerita yang bernafaskan Hindu disalin dan disisipi nilai-nilai Islam, yang berakar dari
akidah dan syari'ah yang benar. Cerita disuguhkan sebagai sarana penyiar¬an Islam, mudah
dicerna dan tanpa dipaksakan, dengan sendirinya akidah tertancap dalam di dada masyarakat,
nilai syari'at terpatri di kalbu dan lahir dalam perilaku dan amal perbuatan masyarakat,
sehing¬ga tanpa disadari pula penikmat seni yang diberi nafas Islam itu beru¬bah dari pemeluk
non muslim menjadi Muslim yang kuat tauhid dan baik syari'atnya. Secara kongkrit, penyair
Islam memakai alas komunikasi bahasa sastra dalam wujud kesusas¬traan, seperti syair (puisi),
hikayat (conte), riwayat (novel) dan seba¬gainya.
Sastra dipergunakan sebaik-baiknya sebagai bagian media dakwah. Banyak karya sastra lama
yang non muslim yang di¬sipi nilai-nilai Islam yakni nilai aqidah dan syari'at Islamiyah, seperti
cerita roh yang pulang ke rumah setiap petang kamis malam jum¶at. Dengan cara itu masyarakat
(sekaligus penikmat seni) mudah menerima aqidah dan syari'at Islamiyah lalu memeluk Islam
sebagai agamanya, yakni menukar agamanya dari non Islam ke Islam meskipun belum kaffah.
Di antara fakta sosial, sastra Islam telah mulai dibina abad ke-7 itu cerderung bentuk sastra kitab.
Satu di antaranya tercatat Kitab Badr Al-Hikam. Kitab ini ditulis dengan bahasa Arab Melayu
oleh Sayid Badaruddin (seorang ulama yang datang dari Hadramaut tahun 1050) setelah
mendirikan pesantren di Kuntu. Kemudian abad ke-14 tahun 1380, terdapat pula teks syair yang
bernafaskan Islam, yakni ditulis pada batu nisan tua di Minye Tujoh, Aceh. Sya'ir itu ditulis
dalam bahasa Sumatera Kuno, dengan mempergunakan motif huruf (Arab Melayu. DR.W.F.
Stuterheim dan DR.C. Hooykaas (1951) memcatat sya'ir yang bernafaskan Islam itu (Raihoel
Amar Datoek Besar dalam Yulizal, 1999). Syair ini mengisahkan kematian seorang penguasa
yang memimpin Kedah dan Pasai, tahun 1380 M (781 H).
Sya'ir yang tertua setelah teks yang terdapat pada batu nisan tua di Minye Tujoh Aceh itu, adalah
sya'ir-sya'ir yang ditulis oleh Hamzah Fansuri. la merupakan seorang penyair sufi tertua, hidup
pada masa Sutan Iskandar Muda (1606-1636). Jalan hidup dan karyanya banyak dipengaruhi
ulama sufi, seperti yang banyak disebutnya a.1 : Al-Junaid, Al-Halaj, Jalaluddin Rumi, Syamsu
Tabriz, d1l. Pengaruh ini terlihat di dalam karya sastranya, terutama sya'irnya yang bercorak
ruba'i (ϲϋΎΑέ) dan masnawi (ϱϮϨΜϣ).
Karya sastra dalam bentuk puisi lama yang berakar dari kebudayaan Indonesia purba seperti
dongeng dari mulut ke mulut, sastra pengaruh agama non Islam, diberi nilai serta disarati nafas
Islam. Juga besar pengaruh Persia, Arab, karya sastra yang bersifat sejarah, cerita-cerita panji,
kitab-kitab yang, bersifat undang-undang dan hukum, disalin untuk memperkuat sastra
bertendens dapat digunakan sebagai sarana dakwah. Tidak sedikit karya sastra yang bernafaskan
Islam dan melahirkan sederet nama sastrawannya, antara lain Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-
Sumatran, Syeikh Nurud¬din Al-Raniri, Abdul Rauf Al-Singkel, Amir Hamzah, Muhammad
Ibnu Ahmad Kemas (1719-1763), Abdus Samad Al-Palembani, Kemas Fachruddin, Daud Ibnu
Abdillah Ibnu Idris Pattani dll. Karya sastra yang terkenal diantaranya Kitab Seribu Masalah,
Riwayat (story) Nabi-nabi, sebelum Muhammah saw. Hikayat tentang Nabi Muhammad,
Hikayat tentang Para Sahabat dan Pahlawan Islam, hikayat tokoh seperti syair hikayat Amir
Hamzah dsb. Termasuk karya ulama-ulama seperti "Gurindam 12" oleh raja Ali Haji (1844-
1857) dan syair-syair ulama Minangkabau seperti Darul Mawa'izah dan Talabu Al-Shalah
puitisasi Muhammad Dalil (Syeikh Bayang), syair syeikh Muhammad Taher Jalaluddin Al-
Falaki, syair Yusuf dan Salehan oleh Syeikh Sulaiman Al-Rasuli, syair Muhallil karya Dr. Haka
(ayah Hamka), syair Burhan al-Haq karya Syeikh Chatib Muhammad Ali Al-Padani, syair Nahu,
syair "Nabi Bercukur" dan "Nazam Kanak Kanak" karya Labai Sidi Rajo Sungai Puar; "Kota
Pariaman" yang mengisahkan riwayat ulama Syeikh Muhammad Jamil, pembawa Naqsyabandi
ke Pariaman, Hikayat Hasan Hosen yang melatari kisah "Tabut Pariaman" dll.
Melihat kekayaan sastra lama dan baru, semestinya mahasiswa terajak untuk mempelajari sastra
Islam di samping sastra Arab dan Inggiris dll., tidak boleh membiarkan lewat begitu saja,
termasuk puisi karya Taufiq Ismail. Semestinya menjadikannya bahan utama dalam kajian sastra
Islam di Indonesia. Karena dalam pandangan saya puisi lama dan baru serta modern seperti
karya Taufiq ini ditempatkan pada posisi penting dalam perkembangan kesusasteraan Islam di
Indonesia di era post-modernism ini. Perhatian seperti ini berpotensi menemukan substansi nilai
Islami dalam sastra lama, sastra baru dan sastra modern dan merekat mata rantai sejarah sastra
yang hilang. Ia menyebut sastra Islam sebagai sastra zikir. Taufik dalam perjalanan sastra Islam
di Indoensia dapat digambarkan sbb.:
Dinilai Taufiq Ismail, dkk berpotensi menyambung mata rantai yang hilang itu. Karena penyair
besar nasional kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 ini, juga pendiri majalah
sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968), berobsesi mengantarkan sastra ke
sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu, sudah melahirkan puisi agung cukup banyak
dan menempati posisi penting kaya esensi kebangkitan dan perubahan dalam perkembangan
sastra Islam di Indonesia. Di dalamnya kaya nafas Islamnya, kekuatannya bukan pada simbol-
simbol Islam tetapi pada bahasa naratif mensosialisasikan nilai-nilai Islam dalam diskripsinya
yang detail tentang fenomena tiga zaman (menyambung tradisi bersastra ulama pengarang) yakni
orde lama, orde baru dan era reformasi. Secara kategoris melihat gaya yang sangat diskriptif dan
detail, terkesan mengurangi kedalam makna bahasa, tetapi kalau mencermati cara Taufiq
mengekspresikan perasaan, pengalaman, imajinasinya terasa kaya dan menawan penikmat seni
lebih jauh membawa masuk kedalam dirinya dan suasana peristiwa politik yang dinarasikan dan
didispsikannya itu.
Mungkin Taufiq tak seseru Chairil yang menerjang-nerjang menyuarakan anti kolonialism, atau
tak sekental ulama membahasakan Islam mulai dari symbol, ajaran sampai kepada thema tetapi
Taufiq punya cara sendiri mengikis segala bentuk penjajahan dalam puisinya meskipun dengan
elegi/ ratapan yang terasa melankolis. Ada perubahan dari tradisi bersastra dibanding ulama
dalam menyuarakan Islam dan dengan asas tauhidnya lahir sastra zikir nama lain dari profetik
atau sastra Islam, ia kuat melawan mulhid (ΪΤϠϣ/atheis) yang dihembuskan marxisme dan
cucunya Lekra/ PKI dkk. Ideologi atheis itu merasuki budaya bangsa, menimbulkan iklim
prahara budaya bangsa (baca DS.Moeljanto dan Taufiq Ismail, 1994).
Pandangan berbeda dan kritik dimunculkan Aguk Irawan MN (2004), ´Ketika Indonesia
Dihormati Dunia´ disebutnya, Taufik menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu
yang sudah tenggelam. Taufiq disebut pula memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan
solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di
jalan mengacu Rene Wellek, Aguk menyebut Taufik gagal memakai medium bahasa untuk
institusi sosial. Juga mengacu Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan
ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang
masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani
transformasi dan sintesis, tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali
nilai-nilai masa lalu´. Justru menurut saya dengan memunculkan peristiwa masa lalu di puisi
Taufiq satu di antara setting sejarah jenis waktu referensial, akan memuncul nilai instruktif
sejarah: ³kalau masa lalau jelek lihat benar dan janga ditiru dan terulang lagi, jika baik lihat
betul, tirulah dan maju ke garda terdepan´. Ini bagian dari solusi. Artinya masa lalu yang
digoreskan itu ada nilai peringatan dan dijadikan peringatan. Islam pun mengingatkan
³memperingati itu ada manfaatnya´.
Dari tahun ke tahun sebenarnya terjadi perubahan pandangan Taufik mensosialisasikan nilai
Islam dalam syair naratif diskripti memotret fenomena masa lalu dan yang sedang terjadi masa
hidupnya yang dominant tema politik. Sehingga suatu kali sebagai penyair yang ia juga penganut
Islam yang kuat dan taat, diidentifikasi karya sastranya sebagai sastra zikir dan ada dalam
mapping nama sastra Islam. Tito Yulianto (2007) memetakan (mapping) perkembangan nama
lain dari sastra Islam, yakni sastra sufistik (Abdul Hadi WM), sastra profetik (Kuntowijoyo),
sastra pencerahan (Danarto), sastra zikir (Taufiq Ismail), sastra dunia dalam (M. Fudoli Zaini),
sastra transendental (Sutardji Calzoum Bachri) dan sebagainya yang pada dasarnya hendak
mengatakan bahwa ada karya sastra yang kental dengan nuansa Islam, baik dari ± secara
sederhana ± unsur estetikanya atau ekstra estetiknya (bentuk dan isinya).
Puisi Taufiq sisi bentuk tetap mempunyai ciri sendiri meskipun dalam pemberian topic puisi ada
kemiripan dengan Amir Hamzah, misalnya ³Malu (Aku)«´ pada puisi Taufiq, pada topik Amir
Hamzah terdapat kemiripan gaya misalnya ³Berdiri Aku´, ³Hanyut Aku´ (lihat STA,1977).
Namun sisi isi Taufiq menunjukkan intensitas yang cukup tinggi dinamikanya menyikat esensi
zaman dan peristiwa yang telah/ sedang dialaminya dan disadari atau tidak sarat dengan
sosialisasi nilai Islami. Perkembangan dan perubahan karya Taufiq dapat disiasati dalam tiga era
periodesasi sejarah bangsa Indonesia sbb.:
1. Era orba: kalau sudah 55 tahun Taufiq dalam Sastra Indonesia, berarti sejak tahun 1953 (usia
18 tahun Taufiq) ketika menjadi siswa dan setelah jadi mahasiswa kuliah di Bogor tahun 1957
telah melirik penghayatan keindahan dan memasuki dunia sastra. Namun karyanya zaman itu
belum saya temukan. Ini dimungkinkan, karena dalam pengakuan Taufiq sendiri dalam banyak
sumber, tidak semua karyanya dipublikasi. Namun tema-tema yang dapat disimak menyangkut
esensi kehidupannya sebagai orang muda gelisah mengahadapi situasi negeri, situasi ekonomi
termasuk ekonomi keluarganya di Pandai Sikek (Sumbar) yang sering gagal tanaman kentang
kakeknya, inflasi dan politik yang berselimut agama (Nasakom) dan erosi kepercayaan sampai
dekrit Pressiden 1959 kembali ke UUD 45 serta ancaman perang saudara seperti terbaca dalam
³elegi buat sebuah perang saudara´nya Taufiq (1960) yang mengisyaratkan apa yang sebenarnya
dicegah Islam: ³hentikan dendam, justru dendam membunuh´. Islam justru menyuruh ³jadilah
bersaudara dengan nikmat Allah´.
. Tahun 1963 Taufik menerbitkan buku Manifestasi bersama Goenawan Mohamad, Hartojo
Andangjaya, et.al. dan tahun itu pula ia meraih sarjana dari Fakultas Kedokteran Hewan dan
Peternakan Universitas Indonesia di Bogor. Tahun ini puncaknya pergolakan kebudayaan
Indonesia disusupi ideologi komunis dengan ofensif Lekra/ PKI dkk. Pengarang ulama diserang
satu di antaranya Hamka dan keluarganya diancam bahkan ulama ini dipenjara dipenjarakan.
Muncul prahara budaya, dihadapkan pada pilihan hidup atau mati dalam sejarah pencarian
strategi kebudayaan bagi Indonesia modern. Obat alternatifnya, lahir Manikebu (Manifes
Kebudayaan) 24 Agustus 1963. Intinya pertama, menyatakan kebudayaan hanya perjuangan
menyempurnakan kondisi hidup, kedua melaksanakan kebudayaan nasional dengan jujur dan
mempertahankan martabat bangsa Indonesia, ketiga ditegaskan filsafat kebudayaan adalah
Pancasila. Suasana bangsa, ketidakmenentuan politik dan iklim budaya yang tidak kondusif ini
menjadi bagian tema puisi Manifestasi. Di antaranya puisi ³Almamater´ (1963) di samping
kenangan semasa kuliah dan jasa kampus, juga terisi dengan kata ³«kau telah dilantik jadi
warga republik yang befikir bebas« kami bersyukur pada Tuhan«. pada ibu Bapak´. Ada
sentuhan nilai Islami, yang mengajarkan bersyukur atas nikmat dan berbuat baik kepada orang
tua, meski dalam berada gemuruh zaman yang memusingkan.
Ada juga kesadaan kembali ke Tuhan, terdeteksi pada puisi ³kota, pelabuhan, lading, angin dan
langit (1964). Kalau jalan dunia sudah buntu, Taufiq memberi isyarat jalan kelangit tetap terbuka
lebar dalam puisinya (1965) ³Dengan Puisi, Aku («berdoa)´, bagian dari nilai Allahu l-shamad
(ΪϤμϟ΍ Ϳ΍/ Allah itu tempat meminta), dan do¶a itu mukh al-ibadah (ΓΩΎΒόϟ΍ Φϣ ˯ΎϋΪϟ΍/ doa inti ibadat).
Terasa betul dalam suasana ini sastra itu ibadat dan bagian ibadat penyairnya.
3. Era Orba: Tahun 1966 Taufiq menerbit buku Benteng, juga Tirani, juga mendirikan majalah
sastra Horison. Kemudian dua buku ini digabung diterbitkan tahun 1993. Terasa sekali puisi ini
meliput berbagai peristiwa dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara. Puisi tahun
1966 ini merekam puncaknya peralihan zaman orla kepada orba. Bagaikan konsesus nasional
juga. Ini juga bagian dari hasil tuntutan Taufiq bersama rekannya. Ada rasa syukur kembali
dipatri dengan doa. Tidak saja doa bersyukur, tetapi juga doa mensiasati diri, kesadaran baru,
dimungkinkan para pejuang melahirkan orba dan mungkin kesalahan para pihak orla. Karena
mungkin tak semua kata dan langkah yang benar direspon baik, dan terasa ada salah (disengaja
atau tidak) pada gilirannya mengadu kepada Tuhan, diyakini doa inti ibadat. Lihatlah puisi
Taufiq ³Dao´ (1966):
³Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun-tahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
«´
Dalam era orba ini Taufiq menerbitkan buku puisi, tetap memotret peristiwa politik yang disarati
berbagai aspek kebudayaan seperti sistim sosial, ekonomi, pendidikan, agama dsb. Tahun 1971
terbit puisi Sepi; Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit. Tahun 1972 terbit Buku Tamu
Museum Perjuangan. Tahun 1973 terbit Sajak Ladang Jagung. Tahun 1990 terbit lagi Puisi
Langit dengan naratif diskriptif fenomena yang amat menarik yang dapat dicirikan sebagai syi¶r
munasibat (ΔΒγΎϨϤϟ΍ήόη/ occasional poetry/ sajak peristiwa).
3. Era Reformasi, tahun 1999 Taufiq menerbit buku puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.
Taufiq merekam peristiwa reformasi bergulir di Indonesia tahun 1998. Taufiq sebagai penyair
memotret situasi dan kondisi politik yang terdiskripsi dalam puisinya di antaranya terlihat dalam
puisinya ³Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia´. Malu dengan fenomena iklim budaya yang
dilakoni para pihak yang menjatuhkan martabat bangsa seperti penjilat yang bisa membidani
lahirnya KKN. Sikap menjilat (jilatisme) bisa jadi sogok dalam bentuk lain. Ajaran Islam: ³yang
menyogok dan disogok dilaknat´. Sogok itu tidak saja duit puluhan juta, ratusan juta, milyaran,
trillyunan tetapi sekerling mata, seulas senyum pun yang sengaja menyenang-nyenangkan hati
para pihak yang berkuasa lalu berpihak dan menghimpit kepentingan orang banyak, juga
bermakna sogok. Taufiq dalam puisinya yang menaruh nilai Islami ini dan menyadarkan bangsa
dalam gerakan sederhana menawarkan pemahaman ke-Indonesiaan yang bermartabat, malu
berbuat salah dan malu berbudaya jilatisme, malu berbuat nepotism dengan komersialisasi
jabatan, yang dalam perspektif Islam dilaknat dan dari perspektif kehidupan berbangsa
membahayakan identitas, integritas dan keberlangsungan bangsa. Renungkan baris-barisnya
dalam ³Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia´ (1998) berikut:

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,


anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,

Dalam perspektif intrinsik puisi ini seperti mewartakan peristiwa budaya atau kode prilaku sok
kuasa. Peristiwa dalam teks puisi meminjam ungkapan Maman (2007) dapat ditelusuri dengan
mencermati sekuen-sekuen yang menggelinding jadi peristiwa dan motif-motif di belakangnya.
Dimungkinkan terjadi dalam struktur kekuasaan dan sementara para pihak yang berkuasa.
Fenomena itu jelas memalukan. Dalam ajaran Islam, budaya malu itu bagian dari iman. Malu
membudayakan kode prilaku mazdmumah (ΔϣϮϣάϣ/ budi pekerti tercela). Taufiq seperti berpesan
tanamlah dan biasakan budaya malu, malu bagian dari iman. Malu tidak berbudi bagi bangsa
yang berbudaya. Hidup tak berbudi, menghancurkan budaya, hancur budaya maka hancurlah
bangsa. Betapa jauh Taufiq dalam perspektif kebangsaan memandang, budaya malu melindungi
bangsa bagi keberlanjutan Indonesia yang sudah susah payah diperjuang menjadi Negara yang
medeka. Taufiq malu jadi orang Indonesia, bukan hendak membuang bangsanya justeru
mengingatkan anak bangsa ini bahwa budaya malu berbuat salah adalah manifestasi yang mahal
dari kecintaan terhadap bangsa. Taufiq seperti hendak mensosialisasikan semangat Islam,
hubbub l-wathan min al-iman (mencintai tanah air itu bagian dari iman). Caranya ia sebut yang
salah itu salah, tentu mengingatkan: ³ayo bersama membangun kekuatan untuk menghindarinya,
menyebut yang benar itu benar meski pahit, dan membangun kekuatan bersama untuk
melakukannya dengan baik´. Dari teknik penyiaran nilai Islam di samping pewartaan
kebangsaan dalam puisi, karya sastra puisi Taufiq penting dalam era sastra Islam di Indonesia.
Posisi Taufiq itu dapat digambarkan sbb.:
Pesan lain Islam tentang dijerat hutang istilah Islam ghalabat al-dain (ϦϳΪϟ΍ ΔΒϠϏ) juga disiarkan
Taufiq. Nasib yang dijerat hutang dalam perspektif ketuhanan tercegat mendapatkan rahmat
Allah. Dalam perspektif humanistik, melahirkan bangsa pengemis. Taufiq sangat lugas dalam
³Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan
Beru, Kata Si Toni´ (1998) memperkatakan fenomena hutang disebabkan gengsi disebut miskin,
lalu berhutang dan akibatnya buruk, merusak martabat bangsa, bangsa yang tak lepas
dihutang.Lihat baitnya berikut:

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini


Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta

Taufiq dalam bait yang sangat Islami meningatkan, budaya berhutang membuat malu. Budaya ini
akan melahirkan fiqh al-bathin (kode prilaku baru) yakni budaya pengemis. Islam tak suka.
Sukanya Islam, berusaha keras dengan menggali seluruh potensi yang ada. Tak ada henti.
Sehingga dapat memberi. Diajarkan Islam yad µulya (ΎϴϠϋΪϳ/ tangan di atas) lebih mulia dari yad
sulfa ϰϠϔγΪϳ)/ tangan di bawah). Sekaitan dengan nilai religiositas sastra Taufiq ini mengingatkan
saya kepada sabda Nabi saw: Inna min al-syi¶r hikmah (ΔϤϜΤϟ ήόθϟ΍ Ϧϣ ϥ· / benar-benar, sebagian
besar puisi itu hikmah).

Penutup
Akhirnya diketahui dalam syair-syair naratif diskriptif Taufiq Ismail sarat nilai religius
menempat karyanya pada posisi penting dalam khazanah kesusasteraan sebagai bagian dari al-
fann al-islami (ϲϣϼγϷ΍ Ϧϔϟ΍/ seni Islam). Religositas sastranya memamsuki dimensi profetik yang
sufistik, mengandung ³majmu¶atun min al-mau¶izhah wa l-hikmah wa l-irsyad´ (sekumpulan
nilai pengajaran yang indah, hikmah dan panduan arah lurus ke jalan yang benar).
Keagungungan sastra Taufik terletak pada pengisian bahasa naratif dengan pengalaman religius
yang cukup kaya melampaui derjat diskriptifnya terhadap fenomena. Tegasnya, nilai Islami pada
puisinya tidak terletak pada kata-kata simbol Islam, tetapi keagungannya terletak pada makna
ajaran dan keindahan narasi. Juga ada banyak hikmah dan isyarat-isyarat ke-Indonesiaan dan ke-
Islaman yang benar. Dari perspektif kedalaman Taufik menyelami peristiwa akmbn (aspek
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara) dan diskripsinya dalam narasi serta diisi makna
religiositas sastra yang dalam menempatkan Taufiq pada posisi penyair Islam terbesar di awal
abad ke-21 ini.
Karya besar Taufiq ini pantas dicerna pelajar dan mahasiswa sastra dan dijadikan buku refrensi
sastra ditempatkan dibagian refrensi perpustakaan sekolah mulai dari pendidikan dasar dan
perguruan tinggi, seperti juga bagian harapannya. Sekali lagi perpustakaan di lembaga
pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi, perpustakaan daerah serta perpustakaan
negara di samping arsip Negara tidak boleh lengah dengan karya dan produk bangsa sendiri.
Ada kekhawatiran, berangkat dari pengalaman sejarah naskah lama ulama pengarang, karya
sastra mereka tidak banyak menjadi perhatian kritikus sastra, di samping mereka memang tidak
popular sebagai penyair dibanding keulamaannya dan intelektualnya juga sebagian besar karya
mereka itu tak tersimpan dan lenyap, masih mending terkubur dalam debu tumpukan buku-buku
agama dan sastra atau tersuruk dalam rimba seni budaya modern, sehingga generasi hari ini baik
sastrawan, kritikus dan penikmat sastra di negeri ini nyaris tak mengenalnya lagi.
Fenomena nasib naskah lama tadi berakibat perkembangan sastra modern sebagai mata rantai
penyambung "masa silam" dengan "masa kini" ke ³masa datang´, seperti terputus, disebabkan
perpustakaan tidak cukup lengkap dan tidak rapi dalam memelihara naskah lama atau mungkin --
perubahan sosial terjadi-- maka karya lama dipandang tidak punya nilai lagi dianggap buku
sampah di perpustakaan, atau karena masyarakat cenderung "mem¬barat". Adalah ironis, mereka
lebih akrab dengan nilai karya bangsa asing dibanding nilai yang ada pada karya sastra lama
milik sendiri. Termasuk memprihatinkan perkembangan sastra daerah untuk kasus Minangkabau,
boleh dikatakan ada fenomena langka cipta karya sastra modern yang ditulis dalam bahasa
daerah (Minang) sejak Muhammad Yamin (1903-1962) dkk. memperkenalkan sastra modern dan
mengikrarkan "berbahasa satu, bahasa Indonesia" pada Sumpah Pemuda tahun 1928.

Rujukan

Aguk, Irawan Mn, 2004 Sajak Melankolisme Taufiq Ismail. Jakarta: Sinar Harapan on line.
Ahmad, Mulyadi, terj. 2005 Adonis, Perubahan-Perubahan Sang Pencipta. Jakarta:Grasindo.
A.Kohar Ibrahim, 2007 Pram, Kohar & GM ± Soal Berpura-pura dalam Puisi Manikebu. On line
http://www.bekasinews.com

Maman, S.Mahayana, 2007 Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Moeljanto, DS; Taufiq, Ismail, ed. 1994 Prahara Budaya, Kilas Balik Ofensif Lekra/ PKI dkk.
Jakata: Mizan.

Sutan Takdir Alisjahbana, 1977 Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian
Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Taufiq, Ismail, 1993 Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi Taufiq Ismail. Jakarta: Yayasan
Ananda.
http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail

Thaha, Mahmud Thaha, 1966 Qishshah fi l-Adab Al-Injliziyah (ϯΰϴϠΠϧϹ΍ ΏΩϷ΍ ϲϓ ΔμϘϟ΍/ Cerkan
dalam Sastra Inggiris). Al-Qahirah: Al-Dar Al-Qaumiy.

Tito, Yulianto, 2007 Sastra Bukan Islam. On line.


Yulizal, Yunus, 1999 Sastra Islam di Indonesia, Kajian Syair Apologetik Pembelaan Tareqat
Naqsyabandi Syeikh Bayang. Padang: IAIN-IB Press.____________,

1999 Perkembangan Terakhir Sastra di 15 Negara Arab. Padang: IAIN-IB Press.


____________,

2001 Puisi Mahasiswa Genre Occasional Poetry. Padang: IAIN-IB Press.