Anda di halaman 1dari 8

insert pagi 06 30

insert 11.00

insert sore 17.30

Salah satu produk teknologi yang turut mendukung perubahan dan masalah sosial
di masyarakat adalah televisi. Menurut Skomis dalam bukunya Television and
Society; An Incuest and Agenda ( 1985 ), dibandingkan dengan media massa
lainnya ( radio, surat kabar, majalah, buku, dan sebagainya ). Televisi tampaknya
mempunyai sifat istimewa. Ia merupakan gabungan dari media dengar dan gambar.
Bisa bersifat informatif, hiburan, maupun pendidikkan, bahkan gabungan dari ketiga
unsur diatas. Dengan layar relatif kecil diletakkan di sudut ruangan rumah, televisi
menciptakan suasana tertentu dimana pemirsanya duduk dengan santai tanpa
kesengajaan untuk mengikutinya. Penyampaian isi atau pesan juga seolah-olah
langsung antara komunikator ( pembawa acara, pembawa berita, artis ) dengan
komunikan ( pemirsa ). Informasi yang disampaikan mudah dimengerti karena jelas
terdengar secara audio dan terlihat jelas secara visual.[1]

Dengan didasarkan hal itu terbentuklah suatu proses imitasi di masyarakat secara
mentah-mentah dan bulat-bulat. Hampir semua aspek yang keluar dan tayang di
televisi dapat diperagakan dan ditiru secara langsung karena jelas bentuk
peragaannya secara audio-visual, jadi jangan heran bila Indonesia rakyatnya
sebagain besar dapat di dikte oleh televisi.

Tak diragukan lagi, bahwa sebenarnya tujuan diciptakan televisi memiliki banyak
manfaat yang positif. Setidaknya seperti apa yang dikatakan oleh Drs. Wawan
Kuswandi dimana dikatakakan bahwa tujuan dari media televisi seharusnya.
Fungsinya adalah sebagai:

1.Sebagai alat informasi

2. Hiburan

3. Kontrol sosial

4. Penghubung wilayah secara geografis.


Bila ia sebagai alat informasi tak jarang hanya lebih banyak diisi dengan berita
infotainment,berapa banyak berita yang bersifat interaktif dan memperkaya
wawasan seseorang justru tidak ditempatkan pada slot acara yang dikategorikan
prime time, berarti hal ini secara tidak langsung menjadikan sisi hura-hura ( lepas
dari hasrat para pemasang iklan ) lebih banyak diangkat di televisi dibandingkan
dengan sisi yang seharusnya menjadikan rakyat Indonesia lebih merasakan dan
sensitif terhadap permasalahan sosial di sekitarnya. Masyarakat lebih suka dan
lebih peduli dengan siapa selebritis yang hari ini bercerai dibandingkan dengan
kasus mengapa seorang ibu tega membunuh ketiga anaknya.

Terdapat suatu asumsi bahwa televisi memiliki dampak destruktif yang luar biasa,
terlebih pada perusakan sistem budaya. Nilai dan norma budaya masyarakat
Indonesia yang telah diwarisi secara turun-temurun dapat berubah 360 derajat
dengan kehadiran sebuah ‘kotak ajaib’ di rumah-rumah penduduk Indonesia.

Tentang hal ini, Piotr Sztompka memberikan komentar bahwa dalam periode
belakangan ini unifikasi dan homogenisasi kultur pada skala global umumnya
ditampilkan melalui media massa terutama melalui televisi. “ imperialisme media “
makin lama mengubah dunia menjadi ‘ dusun global ‘ dimana lingkup pengalaman
kultural dan produknya pada dasarnya adalah sama

Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton juga melihat media dapat menghaluskan
paksaan sehingga tampak sebagai bujukan. Mereka mengatakan “ kelompok-
kelompok kuat kian mengandalkan teknik manipulasi melalui media untuk
mencapai apa yang diinginkannya, termasuk agar mereka bisa mengontrol lebih
halus

Efek buruk televisi terhadap masyarakat

Seperti yang sebelumnya kita ketahui televisi merupakan alat komunikasi media
publik yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat umum, dibandingkan
dengan radio, surat kabar, maupun majalah. Tetapi, seperti yang telah diutarakan
sebelumnya acara dalam sebuah “ kotak ajaib “ tersebut sangatlah bersifat
destruktif saat ini, setidaknya lebih banyak mengandung unsur eksploitasi
dibandingkan dengan sisi eksplorasi. Sebab acara yang ada bukanlah
menumbuhkan kreativitas dan mengembangkan wawasan keilmuan melainkan
membuat masyarakat stagnan dan cenderung jalan di tempat.
Mekanisme kerja televisi tidak memberikan kemungkinan munculnya kedalaman.
Tidak ada psikolog, sosiolog, apalagi antropolog di dalam suatu tayangan acara
televisi saat ini sebagai konsultan. Bahkan untuk editor bahasa pun tidak ada.
Menonton televisi adalah sebuah kegiatan yang cenderung bersifat conversational,
friendly, emotional and not demanding. Untuk itulah, pada beberapa Negara yang
relatif lebih maju dibandingkan dengan Indonesia ( yang media televisi beroperasi
di wilayah tanpa aturan, tanpa sanksi ) terdapat aturan etik yang ketat. Pihak
pemerintah memiliki UU yang diterapkan di negara tersebut sangat ketat dalam
mengawasi pengoperasian media televisi.[13]

Secara teoritis dampak acara televisi dibagi menjadi tiga :[14]

1. Dampak kognitif, yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan
memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi
pemirsa. Contoh : acara kuis di televisi yang mendidik, Who Wants To be Millionaire,
Siapa Berani, dll.

2. Dampak imitasi ( peniruan ), pemirsa dihadapkan pada trendi aktual yang


ditayangkan televisa. Contoh : style artis di televisi, semisal Rumah Idaman, My
Style, Paranoia, dll.

3. Dampak behavior ( perilaku ) yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya


yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan pemirsa
sehari-hari. Contoh : Sinetron Dai Cilik, dll.

Penjelasan diatas merupakan sebuah teori yang saat ini masih perlu diuji kembali.
Adapun dibawah ini beberapa efek buruk negatif segmentasi secara fakta yang
paling besar menerima dampaknya dari tayangan acara televisi yang ada
belakangan ini.

3. Ibu rumah tangga

Berbicara tentang sejauh mana dampak televisi bagi ibu rumah tangga, pastilah
berbicara betapa segmentasi ini merupakan sasaran yang paling banyak menjadi
korban iklan. Para ibu biasanya menjadikan televisi sebagai acuan dalam suatu
permasalahan, terlebih para ibu biasanya hanya mendapatkan dan memperkaya
wawasannya dengan menonton televisi saja yang dapat dilakukan ketika sambil
memasak, menyetrika pakaian, hingga bersih-bersih rumah. Dan juga para ibu
paling rajin memberikan komentar terhadap suatu tayangan televisi hingga
mengalahkan sutradaranya bahkan tahu ending dari suatu sinetron. Untuk
infotainment biasanya para ibu lebih sering mengkonfirmasikan dengan para
tetangganya ketika berbelanja sayuran didepan rumah sambil iseng mengucapkan
“ sayang banget Ira Maya Sopha mau cerai dengan suaminya… padahalkan usia
pernikahannya sudah lama….sampai… udah tua-tua aja pada cerai kayak pasti
masih laku aja…” dan seterusnya.

Dalam struktur masyarakat yang bertumpu pada ibu sebagai pemegang kunci
perekonomian suatu rumah tangga, bukanlah tak mudah bagi para pemasang iklan
untuk mengerucutkan sasarannya terlebih di program acara yang ditayangkan
paling banyak ditonton oleh para ibu semacam gossip, sinetron, dan info-info
masalah domestik ( tata boga, tata dekorasi, tata busana, hingga tata perabotan
dan acara yang berbau menata lainnya, sayangnya tak ada tata negara ). Para ibu
biasanya menjadi insan-insan yang latah tentang suatu produk yang hampir sama
dengan anak-anak tapi bedanya para ibu bisa membaca, anak-anak tidak. Kalau
sudah begini apakah tidak dapat dikatakan sebagai masalah sosial ?? dimana para
ibu dididik juga oleh mentornya (televisi) menjadi manusia yang konsumtif dan
latah.

Bovee dan Arens dalam Rachmat Kriyantono (2006 : 204)

menjelaskan bahwa media exposure berkaitan dengan berapa banyak orang

melihat program yang ditayangkan di suatu media. Biasanya yang menjadi

kendala dalam media exposure ini adalah hanya sejumlah orang saja dari
keseluruhan pemirsa, pendengar ataupun pembaca yang berkenan untuk

melihat atau mendengar isi pesan yang ada. Seringkali seseorang hanya

membaca satu artikel pada suatu majalah kemudian tidak pernah membaca lagi,

demikian juga dengan televisi, kemungkinan yang sering terjadi adalah

oseseorang akan merubah saluran televisi atau meninggalkannya sejenak jika

acara yang sedang ditontonnya muncul iklan.

Masih dalam Rachmat Kriyantono (2006 : 204), Terpaan media (media


exposure) menurut Rosengren dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang
digunakan dalam berbagai jenis media, isi media yang dikonsumsi dan berbagai
hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau
dengan media keseluruhan

Dalam usaha mencapai kesadaran melalui iklan melalui beberapa tahapan

seperti di terangkan dalam model hierarchy of effect.

Ketidak sadaran (unware)

Kesadaran (aware)

Pemahaman dan citra (comprehensive and image)

Sikap (attitude)

Tindakan (action)

(Kasali, 1993:52)
Didalam teori selective influence dijelaskan prinsip prinsip yang digunakan

khalayak merespon pesan pesan iklan dari media massa, yang terdiri dari :

Selective attention (memilih memperhatikan pesan tertentu)

Cara berpandangan, berpikir, pengetahuan dan kepercayaan setiap orang

terhadap sesuatu yang baru termasuk pesan iklan tidaklah sama. Hal itu bisa

terjadi karena adanya perbedaan struktur kognitif yang mereka miliki,

adanya perbedaan keanggotaan seseorang dalam masyarakat yang turut

membentuk nilai nilai individu dan juga adanya minat yang berbeda pada

setiap individu dalam hal sebuah pesan iklan dapat membangun hubungan

dengan orang lain.

Selective perception (memilih mempersepsi pesan tertentu)

Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesan iklan adalah pilihan terhadap

suatu pesan yang didasarkan pada”persepsi”tertentu. Karena adanya

perbedaan faktor kognitif, minat dan kepercayaan, pengetahuan, sikap dan

kebutuhan dan juga nilai nilai individu maka seseorang akan secara selektif

pula mempersepsi pesan iklan yang menerpanya.

Selective recall (memilih mengingat pesan tertentu)

Yaitu prinsip yang menyatakan bahwa seseorang cenderung memilih kembali

hanya pada pesan pesan yang diingatnya saja. Jadi prinsip ini meskipun

pararel dengan seleksi pada perhatian, namun seseorang memilih pesan

iklan yang paling berkesan saja.


Selective action (memilih membuat tindakan tertentu)

Dimana dalam bertindak soal pesanpun, seseorang akan memilih tindakan

mana yang tepat dan tindakan mana yang tidak. (Liliweri,1992:64-67)

Menurut Melvin DeFleur (Rakhmat,2000:1997) yang mengungkapkan

bahwa media menyajikan stimulus yng berupa kata kata verbal, isyarat non

verbal, gambar, tindakan tertentu yang secara seragam diperhatikan oleh massa

dan disebut dengan “Instinctive Stimulus-Response Theory” dimana stimuli ini

membangkitkan desakan, emosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontol

oleh individu. Stimuli anggota massa memberikan respon yang sama pada

stimuli yang datang pada media massa (DeFluer,1975:159). Teori ini

mengasumsikan massa yang tak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa

hingga disebut juga “Teori Peluru” atau model Jarum Hypodermis

(Rakhmat,2000:198). Model Jarum Hypodermis menyebutkan bahwa media

massa hampir tidak berpengaruh sama sekali dalam mengubah perilaku, tetapi

untuk memperteguh keyakinan yang ada.

Menurut Steven M. Chaffe (Rakhmat, 2000:219) efek media massa

dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada khalayak komunikasi massa

sebagai publik yang terpengaruh. Efek efek tersebut adalah:

Efek kognitif, terjadi bila terjadi perubahan pada apa yang diketahui, dipahami

atau dipersepsi khalayak. Berkaitan dengan transmisi pengetahuan,

ketrampilan, kepercayaan, atau informasi.

Efek afektif, timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau
dibenci oleh khalayak. Berhubungan dengan emosi, sikap atau nilai. Juga

dapat dilihat dari adanya perubahan sikap dan pendapat khalayak.

Efek perilaku atau behavioral, merujuk perilaku nyata yang dapat diamati yang

meliputi pola pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan perilaku. Dapat dilihat

pada tindakan dan gerakan yang tampak dalam kehidupan sehari hari.

Muncul berkaitan dengan adanya gejala peniruan atau peneladanan.